0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
217 tayangan4 halaman

Makna Teologis Yesus Anak Allah

Tinjauan ini membahas makna gelar "Anak Allah" dalam Alkitab. Gelar ini awalnya digunakan untuk malaikat dan umat pilihan di Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru diidentifikasi secara khusus pada Yesus sebagai wujud Allah. Pengakuan dari iblis, kepala pasukan Romawi, dan Bapa menunjukkan Yesus sebagai Anak Allah yang berkuasa atas iblis dan diangkat setelah kematian-Nya.

Diunggah oleh

Andreas Yubile
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
217 tayangan4 halaman

Makna Teologis Yesus Anak Allah

Tinjauan ini membahas makna gelar "Anak Allah" dalam Alkitab. Gelar ini awalnya digunakan untuk malaikat dan umat pilihan di Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru diidentifikasi secara khusus pada Yesus sebagai wujud Allah. Pengakuan dari iblis, kepala pasukan Romawi, dan Bapa menunjukkan Yesus sebagai Anak Allah yang berkuasa atas iblis dan diangkat setelah kematian-Nya.

Diunggah oleh

Andreas Yubile
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UTS KRISTOLOGI DAN PNEUMATOLOGI PERSPEKTIF ALKITABIAH

Oleh: Andreas Agung Yubile (216114009)


Dosen Pengampu: Rm. Ant. Galih Arga, Pr dan Rm Bernadus Dirgaprimawan, SJ

MAKNA TEOLOGIS GELAR YESUS ANAK ALLAH


(Tinjauan Kritis Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)
A. Pengantar
Gelar Anak Allah dalam Perjanjian Baru tidak serta merta muncul begitu saja. Sebelum
gelar Anak Allah ini ditujukan secara khusus pada diri Yesus dalam Perjanjian Baru, gelar ini
telah digunakan lebih dulu dalam konteks dan makna yang berbeda di Perjanjian Lama. Secara
singkat dan sederhana, gelar Anak Allah merujuk pada relasi kedekatan dan intimitas dengan
Allah. Hal ini dapat dibuktikkan dengan beberapa figur dalam kisah Perjanjian Lama dan
kemudian berpuncak pada diri Yesus dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu, paper ini akan
menyajikan tinjauan gelar Anak Allah baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dan
makna teologisnya.

B. Gelar Anak Allah Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru


Kata “ben” (Ibrani) dan “bar” (Aram) yang artinya “anak” tidak hanya menunjuk pada
keturunan laki-laki tetapi juga hubungan dengan suatu komunitas, negara, dan lain-lain. 1 Dalam
tradisi Perjanjian Lama, gelar Anak Allah digunakan pertama kali dalam kitab Kejadian. Dalam
kitab Kejadian digambarkan bagaimana anak-anak Allah bergaul dengan anak-anak manusia dan
menjadikan mereka sebagai jodoh (Kej. 6:2). Istilah anak-anak Allah tersebut merujuk pada
makhluk-makhluk surgawi sementara anak-anak manusia merujuk pada ciptaan yang berdosa. 2
Para malaikat disebut sebagai anak-anak Allah. 3 Selain dalam Kejadian 6:2, konsep anak Allah
juga terdapat dalam Ayub 1:6, 2:1; Mzm 82:6. Menarik untuk dipahami bahwa sejak awal,
istilah anak-anak Allah yang diidentifikasi sebagai para malaikat tidak ditujukan dalam arti
personal melainkan komunal atau kolektif.
Dalam Perjanjian Lama, gelar anak Allah ditujukan pula pada umat terpilih. Julukan anak
Allah untuk bangsa Israel mau menunjukkan status istimewa Israel sebagai umat pilihan yang
membedakannya dengan bangsa lain (bdk. Kel. 4:22-23; Hos. 11:1). 4 Umat Allah yang dikasihi
memperoleh julukan anak Allah. Situasi dari umat terpilih yang mendapat julukan anak Allah
juga menunjuk pada raja yang memimpin umat tersebut dan juga menyandang gelar sebagai
anak Allah secara khusus. Konsep anak Allah yang tadinya bermakna kolektif, kini juga
mengacu pada individu tertentu. Para raja Israel setelah kepemimpinan Daud diberi gelar anak
Allah sebagaimana ditunjukkan dalam 2 Sam. 7:14 dan Mal. 1:6. Hal ini menunjukkan makna
bahwa pemimpin tertinggi bangsa Israel ialah hanya Allah sehingga umat dan para raja disebut
anak-anak Allah.5
Istilah anak Allah yang ditujukan untuk menyebut raja Israel juga bersinggungan dengan
konsep Mesias (Māšíaḥ, messiah: “yang diurapi”).6 Pengharapan mesianik dalam perkembangan
gagasan tulisan Perjanjian Baru dikaitkan dengan janji akan hadirnya raja dari keturunan Daud –
1
The Oxford Companion to The Bible, para artikel “Son of God.”
2
David J.A Clines, “The Significance of The Sons of God Episode (Genesis 6:1-4) in The Context of The Primeval
History (Genesis 1-11),” Journal Study of Old Testament Sheffield University 13 (9 Juli 2015): 34.
3
St. Darmawijaya, Gelar-gelar YESUS (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 48.
4
St. Eko Riyadi, Yesus Kristus Tuhan Kita (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 130.
5
Esap Veri, “Studi Apologetik Kristen Terhadap Konsep Anak Allah Yang Diterapkan Pada Pribadi Yesus Kristus,”
Jurnal Misioner 1, No. 2 (2021): 232.
6
Kevin T. Rey, “Konsep Yesus Anak Allah: Suatu Apologetika Terhadap Pandangan ‘Allah Tidak Beranak dan Tidak
Diperanakkan’” Antusias: Jurnal Teologi dan Pelayanan 2, No.3 (2013): 12.
yang dalam Perjanjian Lama digambarkan sebagai anak Allah. 7 Nantinya, gelar ini ditujukan
pada diri Yesus. Sebagai Anak yang dikasihi, Yesus memiliki peran yang istimewa (raja
terurapi) dan relasi ekslusif-Nya dengan Allah (anak-Ku).8
Gelar anak Allah dalam tradisi Perjanjian Lama memiliki kaitan erat dengan konsep anak
sulung. Dalam tradisi Yahudi, anak sulung memiliki hak waris secara penuh dan tanggung jawab
sebagai penjaga nama baik keluarganya. Untuk gagasan anak sulung ini, Perjanjian Lama
menampilkan kisah yang sangat familiar misalnya kisah Esau yang digantikan Yakub (Kej. 27)
ataupun juga Ruben yang digantikan oleh Yusuf (Kej. 4:3). Bangsa Israel sendiri menempatkan
identitas ini (anak sulung) sebagai hal yang penting dimana mereka yakin bahwa Allah sendiri
yang menganugerahkan dan menyebut mereka sebagai anak sulung (bdk. Kel. 4:22).
Konsep gelar anak Allah yang bersifat komunal dalam Perjanjian Lama masih diteruskan
(kontinu) dalam Perjanjian Baru meskipun dalam pemaknaan yang berbeda. Paulus
menunjukkan perbedaan makna tersebut dengan merujuk pada mereka yang percaya kepada
Kristus. Dalam Surat Roma, Paulus menegaskan bahwa semua yang dipimpin oleh Roh Allah
adalah anak-anak Allah (Rm 8:14-16). Ia juga mengajarkan bahwa karena iman kepada Yesus
Kristus, seseorang diangkat menjadi anak Allah (Gal. 3:26). Yohanes merumuskan pula, mereka
yang percaya dalam nama-Nya (sang Anak) diberi kuasa menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12).
Perjanjian Baru pada intinya ingin memusatkan perhatian dari gelar Anak Allah pada diri
Yesus Kristus. Para penginjil mengidentifikasi bahwa Yesus adalah perwujudan Allah Israel
(YHWH).9 Gelar Anak Allah yang berangkat dari tradisi Yahudi dalam Perjanjian Lama (terkait
kedekatan relasi – intimitas dengan Allah dan identitas ilahi) kemudian dipusatkan pada diri
Yesus dengan makna yang baru, dimana Yesus merupakan wujud nyata dari Allah yang hadir.
Hal ini akan sangat tampak jelas dalam pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak
Allah yang hidup (bdk. Mat 16:16).

C. Makna Teologis Gelar Anak Allah


Dalam Perjanjian Baru, Anak Allah adalah gelar yang sering digunakan dalam pengakuan
kristologis.10 Pada pembukaan atau pengantar Injil Markus, gelar Anak Allah sangat jelas
ditujukan pada Yesus, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1).
Pertama-tama, gelar Anak Allah pada Yesus dalam Injil Markus mau menujukkan identitas ilahi
Yesus selain bermakna kedekatan relasi-Nya dengan Bapa. 11 Identitas Yesus sebagai Anak Allah
ini dilihat dalam ketaatan-Nya kepada Allah di dalam kesengsaraan dan kematian-Nya.
Dengan menarik, Injil Markus menunjukkan pengakuan identitas ilahi Yesus ini dari lawan-
lawan Yesus, misalnya iblis. Hal itu dapat dilihat bagaimana iblis tidak berkuasa untuk melawan
Yesus dan bahkan dengan lugas menyatakan pengakuannya atas identitas ilahi Yesus sebagai
Anak Allah. Markus menunjukkan Yesus yang berkuasa atas iblis. Pernyataan ini terbukti
dimana iblis akan selalu jatuh tersungkur ketika berhadapan dengan Yesus dan mengakui kuasa
Yesus dengan menyebut-Nya sebagai Anak Allah (Ho Huios Tou Theou) (bdk. Mrk. 3:11).12

7
St. Eko Riyadi, Yesus Kristus Tuhan Kita, 131.
8
St. Eko Riyadi, Markus: “Engkau adalah Mesias!” (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 29.
9
Richard Bauckham, “Markan Christology According to Richard Hays: Some Addenda,” Journal of Theological
Interpretation 2 No. 1 (2017): 22.
10
The Oxford Companion to The Bible, para artikel “Son of God.”
11
Richard Bauckham, “Markan Christology According to Richard Hays: Some Addenda,” 27.
12
Danny Yencich, “The Centurion, Son of God, and Georgia Board of Pardons and Paroles: Contesting Narrative and
Commemoration with Mark,” Horizon in Biblical Theology 39 (2017): 7.
Pengakuan lain datang dari kepala pasukan dari peristiwa penyaliban Yesus. Setelah Yesus
berseru dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa, kepala pasukan dengan yakin
mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (bdk. Mrk. 15:39). Secara teologis, pengakuan dari
kepala pasukan ini memiliki pesan yang mendalam. Dapat diketahui bahwa kepala pasukan ialah
seorang berkewarganegaraan Roma yang dalam arti ini juga memiliki kepercayaan akan ‘anak
dewa’. Peristiwa kematian Yesus dilihat oleh kepala pasukan dalam kultus kematian yang
menjadikan Yesus sebagai Anak Allah. Hal ini berangkat pula dari keyakinan yang berkembang
bagi orang Roma dimana Julis Caesar diberi nama dewa (divus Iulius) setelah ia meninggal.13
Kemudian Markus dengan sangat cermat merefleksikan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus
menjadi titik tolak teologinya. Dengan demikian, melalui peristiwa kematian dan kebangkitan
Yesus, orang dapat mengenal dan sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pengakuan identitas keilahian Yesus sebagai Anak
Allah diungkapkan secara personal dari mereka yang memiliki kedekatan relasional dengan
Yesus. Misalnya saja Petrus yang dengan sangat tegas menyatakan Yesus adalah bahwa
“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup” (Mat. 16:16; Mrk. 8:29). Markus
menunjukkan pengakuan dan pemahaman Petrus akan identitas Yesus sebagai Mesias, Anak
Allah dengan dasar berbagai peristiwa dalam kisah naratif Injilnya.14
Pernyataan yang paling penting datang dari Allah Bapa sendiri yang menyebut Yesus
sebagai Anak-Nya. Dalam peristiwa pembaptisan Yesus (Mrk. 1:1-11) dan peristiwa
transfigurasi (Mrk. 9:2-8), Bapa menyatakan Yesus sebagai Anak yang dikasihi. Pernyataan
tersebut mau mengungkapkan intimitas relasi yang ada dalam Bapa dan Yesus sehingga juga
memiliki kedalaman relasi dalam identitas ilahi-Nya. 15 Dan puncak dari makna teologis ini ialah
pada peristiwa kebangkitan Yesus dimana Allah meninggikan Yesus dan mengangkatnya ke
dalam kemuliaan bersama Bapa di surga.

D. Kesimpulan
Dalam Perjanjian Lama, gelar anak Allah dapat bersifat kolektif (para malaikat, umat Israel)
maupun personal (para raja Israel). Seiring perkembangan sejarah bangsa Israel, gelar anak
Allah diberikan kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama yang kemudian dikaitkan pula
dengan gagasan anak sulung. Dalam Perjanjian Baru, gelar anak Allah yang berciri komunal
juga diteruskan dengan menunjuk pada mereka yang percaya kepada Kristus. Pada intinya, gelar
Anak Allah dalam Perjanjian Baru merujuk pada pribadi Yesus yang menunjukkan identitas
ilahi-Nya sekaligus dalam relasi dan intimitas-Nya dengan Allah.
Kontinuitas konsep gelar Anak Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ialah
sifatnya yang kolektif maupun personal dan juga menunjuk pada kedekatan relasi dengan Allah.
Sementara itu, diskontinuitasnya ialah gelar Anak Allah dalam Perjanjian Baru dimaknai secara
baru yakni terpusat pada pribadi Yesus dalam konteks identitas ilahi dan ketaatan-Nya kepada
Bapa. Secara khusus dalam Injil Markus mau menekankan bahwa pertama-tama Yesus mesti
dipahami sebagai Anak Allah. Hal ini dapat dilihat pada bagian awal, tengah dan akhir Injil

13
Adela Yarbro Collins, “Mark and His Readers: The Son of God among Greeks and Romans”. Harvard Theological
Review 93, No. 02 (April 2000): 94.
14
Bauckham, Richard. “Markan Christology According to Richard Hays: Some Addenda,” 26.
15
Ibid., 34.
Markus yang menampilkan pengakuan kristologis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Anak
Allah.16

DAFTAR PUSTAKA

Bauckham, Richard. “Markan Christology According to Richard Hays: Some Addenda.”


Journal of Theological Interpretation 2 No. 1 (2017): 21-36.
Clines, David J.A. “The Significance of The Sons of God Episode (Genesis 6:1-4) in The
Context of The Primeval History (Genesis 1-11).” Journal Study of Old Testament
Sheffield University 13 (2015): 33-46.
Collins, Adela Yarbro. “Mark and His Readers: The Son of God among Greeks and Romans.”
Harvard Theological Review 93, No. 02 (April 2000): 85-100.
Darmawijaya, St. Gelar-gelar YESUS. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Muller, Mogens. “Son of God.” dalam The Oxford Companion to The Bible. New York: Oxford
University Press, 1993. 710-711.
Rey, Kevin T. “Konsep Yesus Anak Allah: Suatu Apologetika Terhadap Pandangan ‘Allah
Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan.’” Antusias: Jurnal Teologi dan Pelayanan 2,
No.3 (2013): 2-36.
Riyadi, St. Eko. Markus: “Engkau adalah Mesias!”. Yogyakarta: Kanisius, 2011.
Riyadi, St. Eko. Yesus Kristus Tuhan Kita. Yogyakarta: Kanisius, 2011.
Veri, Esap. “Studi Apologetik Kristen Terhadap Konsep Anak Allah Yang Diterapkan Pada
Pribadi Yesus Kristus.” Jurnal Misioner 1 No. 2 (2021): 226-251.
Yencich, Danny. “The Centurion, Son of God, and Georgia Board of Pardons and Paroles:
Contesting Narrative and Commemoration with Mark.” Horizon in Biblical Theology 39
(2017): 1-15.

16
St. Eko Riyadi, Yesus Kristus Tuhan Kita, 141.

Anda mungkin juga menyukai