0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
599 tayangan5 halaman

Diskusi

Diskusi ini membahas aktor-aktor yang terlibat dalam proses formulasi kebijakan permukiman di Provinsi DKI Jakarta, yakni aktor formal seperti Gubernur DKI Jakarta, BAPPEDA Provinsi DKI Jakarta, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta, Tim Gubernur Upaya Percepatan Pembangunan, serta aktor informal seperti Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Urban Poor Consortium. Interaksi antar aktor diperluk

Diunggah oleh

Heni Lestari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
599 tayangan5 halaman

Diskusi

Diskusi ini membahas aktor-aktor yang terlibat dalam proses formulasi kebijakan permukiman di Provinsi DKI Jakarta, yakni aktor formal seperti Gubernur DKI Jakarta, BAPPEDA Provinsi DKI Jakarta, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta, Tim Gubernur Upaya Percepatan Pembangunan, serta aktor informal seperti Jaringan Rakyat Miskin Kota dan Urban Poor Consortium. Interaksi antar aktor diperluk

Diunggah oleh

Heni Lestari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SILAKAN ANDA SIMAK WACANA BERIKUT UNTUK DISKUSI 5 Kepemimpinan

1. Pak A melakukan penertiban dan pendisiplinan warganya dengan menggusur daerah


kumuh untuk kemudian didirikan prasarana dan sarana untuk warga kota. Berdasarkan
wacana di atas, cobalah Anda identifikasi gaya kepemimpinan apa yang diterapkan
oleh Pak A dalam melakukan pembangunan wilayahnya.

(Untuk dapat menjawab pertanyaan dalam latihan ini, silakan Anda cermati
bagaimana sifat dari gaya kepemimpinan otoriter. Bagaimana seorang pimpinan
otoriter dalam mengambil keputusan untuk mencapai tujuan organisasinya,
meskipun hasilnya sesuatu hal yang pahit dan dapat dinikmati oleh semua pihak
meski dengan sikap kesal)

2. Nilai-nilai terminal yang membuat kepemimpinannya (Ali Sadikin) berhasil antara lain
keras kepala, mengenal medan, strategi kebijakan, integritas, mengutamakan
kepentingan umum, nilai-nilai kemanusiaan, kemauan untuk belajar, bertanggung jawab
dunia dan akhirat, disiplin, kerja keras, menerima kritik, berani menanggung risiko,
kreatif, dan inovatif dalam membangun (Disarikan dari Wirawan, Teori Kepemimpinan:
Pengantar untuk Praktek dan Penelitian). Silakan Anda identifikasi gaya kepemimpinan
apa yang diterapkan oleh Pak Ali Sadikin dalam menjalankan kepemimpinannya
sebagai Gubernur.

(Untuk dapat menjawab pertanyaan dalam latihan ini, Anda perlu mencermati
bagaimana sifat dari gaya kepemimpinan yang ada dalam materi kemudian
disesuaikan dengan kegiatan Ali Sadikin sebagai Gubernur seperti diuraikan
pada contoh)

SELAMAT BERDISKUSI........

Jawaban :

1. Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia. Oleh
karena itu, gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau
sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa.
Kepemimpinan dengan gaya otoriter banyak ditemui dalam pemerintahan Kerajaan Absolut
sehingga ucapan raja berlaku sebagai Undang-undang atau ketentuan hokum yang mengikat.

Menurut hasil identifikasi yang saya lakukan, gaya kepemimpinan Pak A dalam melakukan
penertiban dan pendisiplinan warganya dengan menggusur daerah kumuh untuk
kemudian didirikan prasarana dan sarana untuk warga kota ialah gaya atau perilaku
kepemimpinan Oktorat (Autocrat). Gaya kepemimpinan otokrat atau autocrat adalah gaya di
mana seorang pemimpin mengambil keputusan sendiri tanpa banyak melibatkan partisipasi atau
masukan dari warganya atau bawahan. Dalam kasus ini, Pak A tampaknya mengambil inisiatif
untuk melakukan penertiban dan pendisiplinan warganya, termasuk menggusur daerah kumuh
dan membangun prasarana dan sarana tanpa keterlibatan aktif dari warga atau penduduk
setempat dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin otokratis cenderung memiliki
kontrol yang kuat atas keputusan dan tindakan yang diambil dalam lingkup kepemimpinan
mereka.

karakteristik gaya atau perilaku kepemimpinan ini meliputi:


a. Berorientasi pada pelaksanaan tugas sebagai perilaku yang terpenting dalam
mewujudkan kepemimpinan yang efektif. Menurut versi gaya kepemimpinan ini, tidak
boleh terjadi kesalahan dalam melaksanakan tugas yang ditetapkan oleh pimpinan
dan diberikan melalui instruksi-instruksi, agar hasil yang ditetapkan dapat dicapai.
b. Pelaksanaan tugas tidak boleh keliru/salah atau menyimpang dari instruksi
pimpinan. Setiap ada kesalahan diancam dengan sanks atau hukuman yang berat.
c. Pemimpin bertolak dari prinsip bahwa "manusia lebih suka diarahkan tapa
memikul tanggung jawab, daripada diberi kebebasan merencanakan dan
melaksanakan sesuatu yang berarti harus memikul tanggung jawab".
d. Tidak ada kesempatan bagi anggota organisasi untuk menyampaikan inisiatif,
kreativitas, saran, pendapat, dan kritik karena fungsinya adalah melaksanakan
tugas, bukan berpikir untuk menciptakan dan mengembangkan tugas/organisasi.
e. Tidak berorientasi pada hubungan manusiawi dengan anggota organisasi, yang
dinilai sebagai kondisi yang membuat anggota-organisasi menjadi lalai.
Berprasangka negatif bahwa hubungan manusiawi antar anggota organisasi dalam
bekerja, hanya dipergunakan untuk bercengkrama atau bergunjing yang berakibat
tugas terganggu dan/atau terbengkalai.
f. Tidak percaya pada anggota organisasi/orang lain, karena prasangka pemberian
kepercayaan cenderung akan disalahgunakan/diselewengkan. Oleh karena itu,
cenderung tidak memberikan pelimpahan wewenang.

2. Menurut saya, gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Pak Ali Sadikin dalam
menjalankan kepemimpinannya sebagai Gubernur, ialah Gaya Kepemimpinan
Demokratis dan Gaya kepemimpinan tranformasional. Mengapa demikian? Karena
Yang mana beliau menempatkan manusia sebagai factor utama dan terpenting dalam
setiap kelompok/organisasi. Gaya kepemimpinan beliau mendekatkan hubungan antara
gubernur dengan warganya. Dan ini sangat cocok dengan kepemimpinan demokratis.
Gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai
pelindung dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan
mengembangkan organisasi/kelompok.

Para pemimpin dalam perilaku atau gaya kepemimpinan demokratis selalu berusaha
untuk memanfaatkan kelebihan anggota organisasi melalui kebebasan menyampaikan
gagasan/ide, pendapat, kreativitas, inovasi, kritik dan saran-saran yang dilakukan
secara bertanggung jawab. Dan ini sangat cocok sekali dengan Nilai-nilai terminal yang
membuat kepemimpinan beliau berhasil. Beliau selalu mewujudkan dan
mengembangkan hubungan manusiawi (human relationship) yang efektif, berdasarkan
prinsip saling menghormati, dan menghargai antara yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan untuk Gaya kepemimpinan transformasional juga sangat cocok dengan


gaya kepemimpinan Ali Sadikin, karena yang membuat keberhasilan kepemimpinannya
ialah keras kepala, mengenal medan, dan mempunyai strategi kebijakan. Hal ini cocok
dengan pendekatan yang diterapkan pada kepemimpinan transformasional. Menurut
Scott Burd ada tiga unsur penggabungan Gaya kepemimpinan transformasional, yakni
Strategi, Kepemimpinan, dan Budaya Organisasi.

Strategi, mencakup kemampuan dalam menetapkan arah yang akan dituju organisasi,
dengan membangun visi dan kesamaan visi, merumuskan Rencana Strategik
(RENSTRA), menerjemahkan visi dan misi ke dalam tindakan, mengembangkan
komitmen pada prestasi dan kualitas kerja, serta merumuskan dan menerapkan
Rencana Operasional (RENOP).

Kepemimpinan, mencakup kegiatan merealisasikan strategi melalui tindakan


kepemimpinan transformasional yang sesuai dengan fungsi dan situasi, menjadi
pemimpin yang dapat mempengaruhi dan diakui bawahan/anggota organisasi,
memotivasi bawahan/anggota organisasi untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin
pada semua jenjang, menciptakan lingkungan yag kondusif untuk pertumuhan
organisasi, memimpin untuk mempertahankan kejayaan (eksistensi) organisasi, dan
menciptakan cara kerja yang lebih mudah.

Budaya Organisasi, Realisasi kepemimpinan transformasional mencakup kemampunan


memotivasi bawahan/anggota organisasi untuk menerap strategi, memahami budaya
kerja yang tumbuh dan berkembang di dalam organisasi, berlaku adil pada semua
bawahan/anggota organisasi, cepat menerima perubahan yang bersifat inovatif,
menjadi teladan bagi bawahan/anggota organisasi, membangkitkan, dan membina
semangat team kerja.

Kesimpulannya Gaya kepemimpinan Ali Sadikin pada saat menjadi Gubernur DKI, ialah
Gaya Demokratis dan Gaya Kepemimpinan Transformasional.
Pada diskusi 5 ini kita akan membahas mengenai kasus formulasi kebijakan
permukiman di Provinsi DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan berbagai kebijakan untuk megatasi
permasalahan permukiman. Setiap kebijakan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta
tersebut tentunya tidak selalu berjalan mulus dan memperoleh penerimaan dari
masyarakat sasaran kebijakan. Karena di dalam kebijakan permukiamn sering kali
dijumpai perbedaan kepentingan antara aktor pemerintah dengan masyarakat.
Pemerintah dalam kasus ini adalah Pemprov DKI Jakarta hendak melakukan
permukiman untuk membuat penatan kota yang lebih baik, walaupun terkadang harus
melakukan penggusuran terhadap permukiman yang berdiri di lahan yang ilegal.
Namun di sisi lain, masyarakat menolak kebijakan tersebut karena merasa mereka
telah menempati sebuah permukiman dari puluhan tahun silam dan lingkungan sosial
mereka telah terbentuk.

Sehingga dalam perumusan kebijakan permukiman melibatkan berbagai aktor. Adapun


aktor-aktor yang terlibat di dalam proses perumusan kebijakan publik adalah sebagai
berikut: Gubernur DKI Jakarta, BAPPEDA Provinsi DKI Jakarta, Dinas Perumahan
Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta, Tim Gubernur Upaya
Percepatan Pembangunan, Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Urban Poor
Consortium (UPC), dan Warga Kampung.

Interaksi yang kooperatif dan akomodatif antar aktor yang terlibat di dalam proses
perumusan kebijakan cenderung efektif menghasilkan kebijakan permukiman tanpa
melakukan penggusuran di Provinsi DKI Jakarta.

Sumber: Mahmud, F.L. 2020. Interaksi Aktor dalam Proses Perumusan Kebijakan
Publik (Studi Kasus Kebijakan Permukiman di Provinsi DKI Jakarta). Journal of Politic
and Government Studies. Vol. 9. No 02.

Pertanyaan Diskusi :

1. Lakukan identifikasi, siapa saja aktor perumus kebijakan formal dan aktor
perumus kebijakan informal dalam proses formulasi kebijakan permukiman di
Provinsi DKI Jakarta? (sertakan argumen anda dengan teori aktor-aktor dalam
arena perumusan kebijakan yang terdapat pada modul 6 BMP);
2. Kemukakan bagaimana peran pemerintah, kelompok kepentingan dan warga
dalam proses formulasi kebijakan permukiman di Provinsi DKI Jakarta?
(sertakan argumen anda dengan teori aktor-aktor dalam arena perumusan
kebijakan yang terdapat pada modul 6 BMP);
3. Belajar dari kasus formulasi kebijakan permukiman di Provinsi DKI Jakarta,
mengapa diperlukan keterlibatan aktor lain diluar dari aktor pemerintah dalam
formulasi kebijakan? (sertakan argumen anda dengan teori desain, adopsi, dan
legitimasi kebijakan yang terdapat pada modul 6 BMP).

Kriteria Penilaian:

1. Mengemukakan argumen berdasarkan analisis sendiri dengan berdasar pada


teori yang terdapat pada modul 6 BMP;
2. Dapat menambahkan referensi dari sumber lain setelah mengemukakan teori
dari modul 6 BMP (untuk tambahan teori hanya diperkenankan dari buku dan
jurnal);
3. Mencantumkan daftar pustaka;
4. Plagiarism tidak akan mendapatkan nilai.

Anda mungkin juga menyukai