0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
147 tayangan41 halaman

Shalawat

Bab ini membahas tentang pengertian dan bentuk shalawat. Pengertian shalawat secara istilahi adalah ungkapan berterima kasih kepada Nabi Muhammad atas segala jasanya. Ada dua bentuk shalawat, yaitu shalawat ma'shurat yang diambil langsung dari contoh Nabi seperti shalawat Ibrahimiyyah, dan shalawat ghair ma'shurat.

Diunggah oleh

Abu Rizal Afandi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
147 tayangan41 halaman

Shalawat

Bab ini membahas tentang pengertian dan bentuk shalawat. Pengertian shalawat secara istilahi adalah ungkapan berterima kasih kepada Nabi Muhammad atas segala jasanya. Ada dua bentuk shalawat, yaitu shalawat ma'shurat yang diambil langsung dari contoh Nabi seperti shalawat Ibrahimiyyah, dan shalawat ghair ma'shurat.

Diunggah oleh

Abu Rizal Afandi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Shalawat

Term kata shalawat adalah bentuk jamak dari kata s}ala>t yang

mempunyai makna do’a untuk selalu mengingat Allah secara terus menerus.34

Sedangkan term kata S{alawa>tu di dalam Al-Qur’an terulang katanya

sebanyak 4 kali yakni di dalam QS. Al-Baqarah ayat 157 dan 238, QS. Al-

Taubah ayat 99, QS. Al-Hajj ayat 40, yang memiliki makna ampunan, semua

shalat, do’a, rumah-rumah ibadah, dari beberapa arti di dalam Al-Qur’an tadi,

maka yang sesuai dengan makna yang dinginkan penulis pada pembahasan

kali ini serta makna shalawat yang cocok secara lughawi yakni ampunan dan

do’a.35Dan makna yang paling relevan dengan pembahasan pada skripsi ini

mengenai shalawat yaitu terdapat pada QS. Al-Ah}za>b ayat 56. Adapun tadi

penulis mengungkapkan di ayat lain hanya sebagai pencarian makna lughawi

saja bukan secara istilahi.

Adapun shalawat secara istilahi merupakan ungkapan berterima kasih

kepada Nabi SAW, atas segala jasa dan pengorbanannya yang telah menuntun

umat manusia ke jalan yang penuh keselamatan yaitu agama Islam. Dengan

cara membaca dan menyebutnya secara rutin membaca shalawat di tengah

kesibukan yang sedang dijalani seorang muslim, biasanya membaca shalawat

tersebut diharapkan menjadi penenang, penyemangat, serta menjadi pelancar

34
Adrika Fitrotul Aini, Living Hadis daalam Tradisi Malam Kamis Majelis Shalawat Diba’ bil
Mustofa Ar-Raniry: Intenatiaonal journal of Islamic Studies Vol. 2, No. 1 Juni 2014. Hlm 21.
35
Lihat : Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras li Al-Fa>z}il Qur’anil Karim, (Kairo,
Dar al-Fikri, 1981) Hlm 345.

27
atas apa yang telah menyibukkan seorang muslim tersebut. 36 Maka sebagai

berikut ayat keterangan di dalam Al-Qur’an surat Al-Ah}za>b ayat 56:

ََ‫َٱَّللَومََٰلئكتهَۥَيصلونََعلىَٱلنَّبََََۚيَي هاَٱلَّذينََءامنواَصلواَعلْيه‬
َّ ‫إ َّن‬
‫وسلَمواتسليماَا‬
ْ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada
Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah
kamu kepada Nabi(Muham mad) dan ucapkanlah salam dengan
sebaik-baiknya penghormatan kepadanya (Muhammad)”.37

Ayat diatas menjadi dalil secara Qat}’i>’38 bahwasanya Allah dan para

Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, dan Allah juga memerintahkan

kepada orang yang mengaku beriman kepada Allah, untuk senantiasa

bershalawat kepada Nabi. Dalam hal ini mufasir Ibnu Katsir yang termuat

dalam kitab tafsirnya, menjelaskan bahwa kata tersebut memiliki makna

bershalawat, kembali kepada objeknya, gambarannya seperti ini, jika shalawat

berasal dari Allah kepada Nabi berarti menunjukkan pujian, atau curahan

rahmat dari Allah kepada Nabi, dan jika shalawat berasal dari Malaikat kepada

Nabi berarti menunjukkan do’a dan jika shalawat dari orang-orang yang

beriman, maka berarti penghimpunan pujian atas Nabi SAW agar diberi

rahmat dan nama Nabi SAW kekal hingga kelak hari kiamat.

Perintah Allah ini sangatlah istimewa, karena dari beberapa perintah

ibadah Allah kepada orang-orang yang beriman yakni dari shalat, zakat, puasa,

haji, tidak ada satupun perintah kepada hambanya yang dikerjakan juga oleh

36
Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah, (Yogyakarta:LkiS, 2008),Hlm
10
37
QS. Al-Ah}za>b :56.
38
Darul Azka dkk, Syarh Al-Wara>qat (penjelasan dan tanya jawab ushul fiqh),( Santri salaf
press:: Kediri), 2016. Hlm 56.

28
Allah melainkan perintah shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun

menurut Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya yakni tafsir Al-Misbah

menyatakan bahwa orang-orang beriman harus bershalawat kepada Nabi

Muhammad SAW. Bershalawat merupakan salah satu cara bagi umat Islam

untuk berterima kasih kepada seluruh jasa Nabi Muhammad yang telah

membawa jalan kebenaran berupa ajaran dan tuntunan untuk mengenal Allah

serta permohonan do’a agar Allah membalas jasa-jasa Nabi Muhammad yang

tidak bisa kita balas secara langsung.39

Esensi dari membaca shalawat adalah mengenang, mencintai, serta

mencontoh Nabi Muhammad SAW, mengidolakannya, serta meneladaninya

dalam setiap perilaku beliau, menerima keputusannya dan menjauhi

larangannya. Shalawat merupakan jembatan agar kita mencintai Nabi

Muhammad, wujud cinta kita kepada Nabi adalah dengan shalawat dan

shalawat menyempurnakan jati diri sebagai seorang muslim. 40 Shalawat

adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasih-Nya.

Shalawat adalah do’a yang ditujukan kepada Rasulullah sebagai bukti rasa

cinta dan hormat kepadanya dari ummatnya. Hal tersebut juga merupakan do’a

dari para malaikat, bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk mendo’akan

mereka yang bershalawat.41

39
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati), 2002. Hlm 313-314.
40
Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah, (Yogyakarta:Lki, 2008), Hlm
134-137.
41
Habib Abdullah Assegaf, Mukjizat Shalawat, (Jakarta: Qultum Media, 2009), hlm 2.

29
B. Bentuk Shalawat

Bentuk redaksi bershalawat kepada Nabi setidaknya memiliki dua bentuk,

yakni shalawat ma’s|u>rat dan shalawat ghai>r ma’s|u>rat.42

1. Shalawat ma’s|u>rat merupakan shalawat yang bentuk redaksinya

langsung dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti shalawat

Ibrahimiyyah yang dibaca dalam tasyahud akhir dalam shalat. Seperti

dalam hadis berikut:

:‫ايرسولَللاَكيفَنصليَعليكَفقالَقلوا‬:
َ ‫اخ َبينَابوَْحيدَالساعديَاهنمَقالوا‬
َ‫اللهمَصلَعلىَحممدَوَعلىَاَٰلَحممدَكماَصليتَعلىَابراهيمَوَعلىَاَٰل‬
َ‫ابراهيمَوِبركَعلىَحممدَوَعلىَاَٰلَحممدَكماَِبركتَعلىَابراهيمَوعلىَاَٰل‬
.َ‫ابراهيمَانكَْحيدَجميد‬

“Sudah berucap Imam Abu Humaid As-Sa’idi, “sahabat-sahabat pernah


bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?
Beliau lalu berkata ucapkanlah, “Alla>humma s}alli ‘alâ Muhammadin wa
‘ala> a>li Muhammadin kama> s}allaita ‘ala> Ibra>him wa ala> a>li
Ibra>him wa waba>rik ‘ala> Muhammadin wa ‘ala> a>li Muhammadin
kama> ba>rakta ‘ala> Ibra>him wa ala> a>li Ibra>him innaka hami>dun
maji>d (Ya Allah semoga engkau curahkan tambahan rahmat kepada Nabi
Muhammad, kemudian kepada para istri, dan keturunan beliau
sebagaimana Engkau telah curahkan rahmat atas Nabi Ibrahim AS. Dan
curahkanlah kepada Nabi Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau
sebagaimana telah Engkau curahkan kepada Nabi Ibrahim AS.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Tinggi.” (H.R. Bukhari
Muslim).43

‫عنَأبَمسعودَعقبةَبنَعمروَاْلنصاريَالبدريَقالَأاتَّنَرسولَللاَفقيل‬
َ‫َاللهمَصلَعلى‬:‫أمرَّنَللاَأنَنصليَعليكَفكيفَنصليَعليكَقالَقولوا‬:‫له‬
َ‫حممدَوعلىَآلَحممدَكماَصليتَعلىَآلَإبراهيمَوِبركَعلىَحممدَوعلىَآل‬
42
Lihat Skripsi karya Lili Maria Asmi yang judulnya Living Qur’a<n Al-Ah{za>b : 56
(Kajian Pemahaman Ayat Shalawat di Majelis Al-Burdatul Mukarromah Berembang).
Hlm 30
43
Hadits shahih riwayat al-Bukhari (3189), Muslim (407), Malik (395), Ahmad (23600),
al-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (59). Lihat di kitab: Al-Bukhari, Abu
Abdullah Muhammad ibn Ismail. 2003. Shahih Bukhari. (Beirut: Dar al-Fikr),2002, Hlm
456.

30
َ‫حممدَكماَِبركتَعلىَآلَإبراهيمَِفَالعاملنيَإنكَْحيدَجميدَوالسالمَكماَقد‬
.‫علمتم‬

“Dari Abu Mas'ud Uqbah bin Amr al-Anshari al-Badri: "Rasulullah


mendatangi kami, lalu beliau ditanya: "Allah telah memerintahkan kami
untuk memberi shalawat kepadamu. Bagaimanakah cara kami memberi
shalawat kepadamu?" Nabi bersabda: "Katakan: Ya Allah limpahkanlah
shalawat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana
Engkau limpahkan shalawat-Mu kepada keluarga Ibrahim. Dan
limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada keluarga Ibrahim. Pada
semesta alam sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Sedangkan memberi salam, seperti telah kamu” (H.R. Riwayat Muslim).44
Dan masih banyak riwayat-riwayat lain shalawat yang derajatnya

shahih yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW di dalam shalat,

sedangkan di dalam dalam tafsir at}-T{abari>, di salah satu kutipannya

sang mufasir juga menguraikan bentuk redaksi shalawat sedemikian rupa

dari hadis hingga atsar para sahabat.45 Sedangkan shalawat di luar shalat

ada beberapa juga yang dicontohkan oleh Nabi SAW seperti :

َ‫َأَياَرجلَمسلمَملَيكنَعندهَصدقة‬:‫درعنَالنيبَقال‬
َ ‫عنَأبَسعيدَاخل‬
َ‫َوصلَعلىَاملؤمنني‬،‫َاللهمَصلَعلىَحممدَعبدكَورسولك‬:‫فليقلَِفَدعائه‬
.َ‫َفإهناَلهَزكاة‬،‫واملؤمناتَواملسلمنيَواملسلمات‬

“Dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi bersabda: "Siapa saja seorang Muslim
tidak yang mampu bersedekah, maka hendaklah berkata dalam doanya:
"Ya Allah limpahkanlah shalawat-Mu kepada Muhammad, hamba dan
Rasul-Mu. Dan limpahkanlah shalawat-Mu kepada orang orang yang
beriman, laki-laki dan perempuan, dan orang-orang Muslim, laki-laki dan
perempuan" maka bacaan itu menjadi sedekah baginya.”46

44
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, Shahih Bukhari. (Beirut: Dar al-Fikr)
Hlm 357.
45
Basya>r ‘Awa>d Ma’ruf, ‘Is}a>m Fa>ris al-H{arsa>ni, Tafsi>r Jami’ al- Baya>n an
Ta’wil Ây al-Qur’a>n Karya Ibnu Jari>r at}-T{abari, Cet 1,Juz 21 Mu’assasah al-
Risalah,Beirut-Lebanon, 1994 M. Hlm 365.
46
Hadits hasan dan dinilai shahih dengan syawahid nya, riwayat al-Bukhari dalam al-
Adab. Al-Mufrad 16401, al-Tirmidzi 12686 Ibn Hibban 1903] al-Hakim dalam al-
Mustainak (7175), al Baihaqi dalam Adab (782) dan Syu'ab al-lman (1176) dan al-
Qudha'i dalam Musnad al-Syihab juz 3 hlm 375. Lihat di kitab: Al-Suyuti, Jalal al-Din

31
Hadis Shalawat di atas merupakan contoh yang dibaca diluar

shalat sebagai ganti sedekah bagi orang yang tidak mampu.

َ‫َإذاَهلاَدخلتَاملسجد‬:َ‫َقالَيلَرسولَللا‬:‫عنَفاطمةَبنتَالنيبَقالت‬
َ،‫َوعلىَآلَحممد‬،‫ اللهمَصلَعلىَحممد‬،‫َبسمَللاَوالسالمَعلىَرسولَللا‬:‫فقويل‬
َ‫َغريَأن‬،‫َفقويلَمثلَذلك‬،‫َفإذاَفرغت‬،‫َوسهلَلناَأبوابَرْحتك‬،‫واغفرَلنا‬
.‫ك‬
َ ‫َوسهلَلناأبوابَفضل‬:‫تقويل‬
“Dari Fathimah putri Nabi, "Rasulullah bersauda kepadaku: "Apabila
kamu memasuki Masjid, maka katakan, "Dengan Nama Allah, salam
sejahtera semoga dilimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, limpahkanlah
shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ampunilah kami
dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu. Apabila kamu telah
selesai, maka katakan seperti itu, hanya saja kamu katakan, "Dan
mudahkanlah bagi kami pintu-pintu anugerah-Mu.”47
Dan tentunya masih banyak lagi riwayat-riwayat shalawat yang

derajatnya shahih-hasan dari Nabi yang oleh penulis hanya ditampilkan

secara parsial saja. Paparan di atas mengantarkan pada beberapa

kesimpulan tentang redaksi shalawat yang diriwayatkan dari Nabi.

Pertama, dalam sebagian besar riwayat di atas, shalawat

Ibrahimiyah dibaca di dalam shalat setelah membaca tasyahud awal dan

akhir.

Kedua, shalawat Ibrahimiyah yang dibaca dalam shalat, berbeda

dengan shalawat yang dibaca di luar shalat, seperti shalawat yang dibaca

ketika akan masuk dan keluar dari Masjid, atau shalawat yang dibaca

‘Abd al-Rahman bin Abu Bakr. Tadrib al-Ra>wi fi Syarh Taqrib al-Nawa>wi, (Dar al-
Kutub al-Ilmiyyah-Beirut) Juz 1, 1996, Hlm 245.
47
Hadits hasan dengan syawahid (penguat eksternal)-nya, diriwayatkan oleh Ismail bin
Ishaq alQadhi dalam Fadhl al-Shalah ala al-Nabi j [82, 83] dan Abu al Abbas al-Tsaqafi
lihat, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Jala' al Afham (Dar al-Fikr-Beirut) 2000 , Cet 1 hlm 54.
Lihat uraian syawahidnya oleh Al-Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-
Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 100.

32
ketika seseorang tidak mempunyai harta untuk disedekahkan, dan atau

shalawat yang dibaca pada hari Jumat. Dengan demikian, pernyataan kaum

Wahabi yang melarang membaca shalawat selain Ibrahimiyah di luar

shalat adalah mengada-ada dan tidak memiliki dasar ilmiah yang dha'if

dan shahih.

Ketiga, shalawat Ibrahimiyah sendiri memiliki beberapa versi

berbeda, seperti dalam riwayat-riwayat di atas. Hal ini terjadi

kemungkinan karena masing-masing perawi meriwayatkan sesuai dengan

apa yang ada dalam ingatannya.

Keempat, perbedaan redaksi shalawat Ibrahimiyah di atas, oleh

para ulama diartikan sebagai isyarat bahwa kewajiban shalawat yang

dibaca dalam shalat adalah sebatas yang diperintahkan dalam al-Qur'an,

dengan memilih salah satu di antara bacaan seperti berikut ini:

.‫اللهمَصلَعلىَحممد‬
.‫صلىَللاَعلىَحممد‬
َ.‫صلىَللاَعلىَرسوله‬
.َ‫صلىَللاَعلىَالنيب‬
Salah satu di antara empat redaksi di atas, adalah bacaan shalawat

yang wajib dibaca dalam shalat. Sedangkan selebihnya adalah dihukumi

sunnah. Demikian keterangan dalam kitab-kitab fiqih.

Kelima, berkaitan dengan perbedaan redaksi dalam banyak riwayat

tentang shalawat Ibrahimiyah di atas, para ulama berbeda pendapat tentang

redaksi shalawat yang paling utama dibaca dalam shalat maupun di luar

shalat. Di dalam kitab tafsir Rawa>i’ al-Baya>n karya Muhammad Ali as}-

33
S{a>buni, sang mufasir menguraikan bahwa shalawat ibrahimiyyah

merupakan yang paling utama dan sangat di anjurkan dalam membacanya

baik di dalam shalat atau di luar shalat.48

Menurut Imam al-Syafi'i, redaksi shalawat yang paling utama dibaca

adalah:

َ‫اللهمَصلَعلىَحممدَوعلىَآلَحممدَكماَصليتَعلىَإبراهيمَوعلىَآل‬
َ‫إبراهيمَوِبركَعلىَحممدَوعلىَآلَحممدَكماَِبركتَعلىَإبراهيمَوعلىَآل‬
‫إبراهيمَإنكَْحيدَجمي َد‬
Menurut Imam al-Nawawi, redaksi shalawat yang paling utama dibaca

adalah redaksi yang menghimpun semua doa yang terkandung dalam

semua riwayat shalawat dari Nabi, yaitu:

َ‫اللهمَصلَعلىَحممدَعبدكَورسولكَالنيبَاْلميَوعلىَآلَحممد‬
َ‫يتهَكماَصليتَعلىَإبراهيمَوعلى‬
َ ‫آلَإبراهيمَوِبركَعلىَحممدَالنيبَ وأزواجهَ َوذر‬
َ‫اْلميَوعلىَآلَحممدَوأزواجهَوذريتهَكماَِبركتَعلىَإبراهيمَوعلىَآلَإبراهيم‬
.‫ِفَالعاملنيَإنكَْحيدَجميد‬
Menurut al-Imam al-Qadhi Husain, redaksi shalawat yang paling

utama adalah:

.‫اللهمَصلَعلىَحممدَكماَهوَأهلهَومستحقه‬
Menurut sebagian ulama, redaksi shalawat yang paling utama

adalah:

َ‫اللهمَصلَعلىَسيدَّنَحممدَالنيبَاْلميَوعلىَكلَنيبَوملكَوويلَعددَالشفع‬
.َ‫والوترَوعددَكلماتَربناَالتاماتَاملباركات‬

Muhammad Ali as}-S}a>buni, Rawa>i’ al-Baya>n Tafsi>r Âya>t al-Ah}ka>m Min Al-
48

Qur’a>n, Cet 3, Maktabah al-Ga>zali, 1980 M. Hlm 371-372.

34
Menurut sebagian ulama, redaksi shalawat yang paling utama

adalah:

َ‫اللهمَصلَعلىَحممدَعبدكَونبيكَورسولكَالنيبَاْلميَوعلىَآلهَوأزواجه‬
.‫ك‬
َ ‫يتهَوسلمَعددَخلقكَورضاَنفسكَوزنةَعرشكَومدادكلمات‬
َ ‫وذر‬

Al-Hafizh Ibnu Hajar condong pada redaksi ini, karena

dianalogikan dengan bacaan tasbih yang diriwayatkan dari Nabi. Menurut

al-Imam Ibrahim al-Marwazi, redaksi shalawat yang paling utama adalah:

َ‫َكلماَذكرهَالذاكرونَوكلهاَسهاَعنه‬،‫َوعلىَآلَحممد‬،‫اللهمَصلَعلىَحممد‬
َ‫الغافلون‬
Demikianlah sebagian pendapat para ulama tentang redaksi

shalawat yang dianggap paling utama untuk dibaca sesuai dengan ijtihad

mereka. Pendapat-pendapat tersebut apabila diamati dengan seksama,

sepertinya bermuara pada dua kelompok. Pertama, kelompok tekstual,

yaitu mereka yang berpendapat bahwa redaksi shalawat yang paling utama

adalah redaksi yang sesuai atau memuat kalimat-kalimat doa yang terdapat

dalam semua riwayat dari Nabi. Demikian yang terbaca dari pendapat

Imam al-Syafi’i dan Imam al-Nawawi. Kedua, kelompok kontekstual atau

rasional, yaitu mereka yang berpendapat bahwa shalawat yang lebih utama

adalah shalawat yang muatan doa di dalamnya lebih berbobot dan lebih

besar untuk disampaikan kepada Nabi, meskipun tidak diriwayatkan dari

Nabi. Tentu masing-masing pendapat memiliki argumentasinya sendiri-

sendiri, dan di sini bukan tempat untuk mengupasnya.

35
Keenam, berhubung tidak adanya keharusan mengikuti satu redaksi

tertentu dalam bacaan shalawat, maka sejak generasi shahabat, orang yang

membaca shalawat dipersilahkan untuk memilih redaksi yang dianggapnya

baik dan sempurna untuk diberikan kepada Rasulullah.

Ketujuh, kalau kita perhatikan, dari sekian riwayat hadis di atas,

redaksi shalawat yang diriwayatkan dari Rasulullah, ada yang dibaca

dalam shalat, ada yang dibaca ketika akan masuk dan keluar dari masjid,

yang dibaca ketika tidak mempunyai harta untuk disedekahkan dan yang

dibaca ketika hari Jum’at. Sedangkan redaksi shalawat yang dibaca ketika

menghadapi kesulitan, kesusahan, musibah, mempunyai hajat dan lain

sebagainya, tidak ada riwayat tertentu yang memberikan penjelasan.49

2. Adapun shalawat ghai>r ma’s|u>rat merupakan shalawat yang bentuk

redaksinya disusun oleh selain Nabi Muhammad SAW. Yakni para sahabat,

tabi’in, auliya’ atau yang lainnya dari kalangan umat Islam. Susunan

shalawat ini mengekspresikan permohonan, sanjungan, dan pujian yang

disusun dalam bentuk syair.50 Dalam membaca shalawat, siapapun tidak

terikat dengan redaksi yang diriwayatkan dari Nabi SAW dan sahabat.

Dalam hal ini ada kebebasan untuk menambah dan mengurangi

susunan shalawat yang dibaca. Dalam hal ini Imam al-Qasthalani

mengutip pernyataan al-Hafizh Abu Bakar Ibnu Masdi al-Azdi al-

Gharnathi yang isinya sebagai berikut: “Telah diriwayatkan sekian banyak

49
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 23-28.
50
Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah, (Yogyakarta:LkiS, 2008),
134-137.

36
hadits mengenai cara bershalawat kepada Nabi. Sekelompok ulama juga

telah menyusun mengenai hal tersebut. Sekelompok sahabat dan generasi

setelahnya telah berpendapat bahwa bacaan shalawat ini tidak terikat pada

redaksi yang datang secara tekstual dari Nabi. Dan bahwa orang yang

diberi karunia oleh Allah dalam kemampuan retorika, lalu mengungkapkan

makna-makna shalawat dengan kalimat-kalimat yang indah susunannya

dan jelas maknanya, dari ungkapan yang dapat mengungkapkan

kesempurnaan Nabi dan keagungan kemuliaannya, maka hal itu bebas

baginya. Mereka berhujjah dengan perkataan Ibnu Mas'ud: "Berikan

shalawat yang baik kepada Nabi kalian. Barangkali bacaan kalian

diperlihatkan kepada beliau."

Berikut ini beberapa redaksi shalawat Nabi SAW yang disusun

oleh para sahabat dan generasi salaf yang salih:

1. Hadits Abdullah bin Mas’ud

َ،‫َإذاَصليتمَعلىَرسولَللاَفأحسنواَالصالةَعليه‬:‫عنَعبدَللاَبنَمسعودَقال‬
َ‫َاللهم‬:‫َقولوا‬:‫َقال‬،‫َفعلمنا‬:‫َفقالواَله‬،‫فإنكمََّلَتدرونَلعلَذلكَيعرضَعليه‬
َ‫اجعلَصلواتكَورْحتكَوبركاتكَعلىَسيدَاملرسلنيَوإمامَاملتقنيَوخامتَالنبيني‬
َ‫َاللهمَابعثهَمقاما‬،‫لكَإمامَاخلريَوقائدَاخلريَورسولَالرْحة‬
َ ‫حممدَعبدكَورسو‬
.‫حمموداَيغبطهَبهَاْلولونَواآلخرون‬

“Abdullah bin Mas'ud telah berkata: "Jika kalian memberi shalawat


kepada Rasulullah, maka susunlah redaksi shalawat yang bagus
kepada beliau, barangkali shalawat kalian itu disampaikan kepada
beliau." Mereka bertanya: “Ajarilah kami cara menyusun shalawat
yang bagus kepada beliau." Beliau menjawab: "Katakan, Ya Allah
jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada sayyid para
rasul, pimpinan orang-orang yang bertakwa, penutup para nabi, yakni
Muhammad, hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan penuntun kebaikan,
dan rasul yang membawa sebab turunnya rahmat. Ya Allah berikanlah

37
beliau kedudukan terpuji yang menjadi harapan orang-orang terdahulu
dan orang-orang terkemudian.”51
2. Hadits Ali bin Abi Thalib

َ‫َاللهم‬:‫كانَعليَيعلمَالناسَالصالةَعلىَالنيبَيقول‬،‫عنَسالمةَالكنديَقال‬
َ،‫القلوب َعلى َفطرها َشقيها َوسعيدها‬،‫َوِبرئَاملسموكات‬،‫داحيَاملذحوات‬
،‫كََورأفةََحتتك‬ َ ‫علىََحممدََعبدكَ اجعلََشرائفََصلواتكََونواميََبركات‬
َ‫ََوالدام َغ‬،‫ََواخلامتََملاََسبقَََواملعلنََاحلقََِبحلق‬،‫ََالفاتحََملاََأغلق‬،‫ورسولك‬
ََ‫َََمستوفراَََِف‬،‫ََفاضطلعََأبمركََبطاعتك‬،‫اْليشاتََاْلِبطيلََكماََْحل‬
َ،‫َحافظاَلعهدك‬،‫َواعياَلوخيك‬،‫َبغريَنكلَِفَقدمَوَّلَوهيَِفَعزم‬،‫مرضاتك‬
َ‫َبَه‬،‫َآَّلءَللاَتصلَبهَأسبابه‬،‫َحتََأورىَقبساَلقابس‬،‫ماضياَعلىَنفاذَأمرك‬
َ‫تََاْلعال َم‬َ ‫ََوأنتجََموضحا‬،‫تََالفنتََواْلمث‬ َ ‫بََبعدََخوضا‬ َ ‫هديتََالقلو‬
َ‫ك‬َ ‫كََاملأمونََوخازنََعلم‬ َ ‫ََفهوََأمين‬،‫واثئراتََاْلحكامََومنرياتََاْلسالم‬
َ‫ك َِبحلق َرْحة َاللهم َافس َح‬
َ ‫ك َنعمة َورسول‬ َ ‫املخزون َوشهيدك َيوم َالدي َن َوبعيث‬
َ‫ت‬َ ‫ت َغري َمكدرا‬ َ ‫ك َله َمهنئا‬
َ ‫ت َاخلري َمن َفضل‬ َ ‫ك َواجزه َمضاعفا‬ َ ‫له َِف َعدي‬
َ‫س‬َ ‫كََاملغلولََاللهمََأعلََعلىََبناءََالنا‬ َ ‫كََاحمللولََوجزيلََعطائ‬ َ ‫منََفوزََثواب‬
َ‫كََلهََمقبو َل‬َ ‫كََونزلهََوأمتمََلهََنورهَََواجزهََمنََابتعاث‬
َ ‫بناءهََوأكرمََمثواهََلدي‬
.‫الشهادةَومرضيَاملقالةَذاَمنطقَعدلَوخطةَفصلَوبرهانَعظيم‬

“Dari Salamah al-Kindi: "Ali bin Abi Thalib mengajarkan orang-orang


cara bershalawat kepada Nabi dengan berkata: "Ya Allah, pencipta
bumi yang menghampar, pencipta langit yang tinggi, dan penuntun hati
yang celaka dan yang bahagia pada ketetapannya, jadikanlah shalawat-
Mu yang mulia, berkah-Mu yang tidak terbatas dan kasih sayang Mu
yang lembut pada Muhammad hamba dan rasul-Mu, pembuka segala
hal yang tertutup, pamungkas yang terdahulu, penolong agama yang
benar dengan kebenaran dan penakluk bala tentara kebatilan seperti
yang dibebankan padanya, sehingga ia bangkit membawa perintah-Mu
dengan tunduk kepada-Mu, siap menjalankan ridha-Mu, tanpa gentar
dalam semangat dan tanpa kelemahan dalam kemauan, sang penjaga

51
Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah [906], Abdurrazzaq (3109], Abu Ya'la
[5267], Al-Hafizh al-Sakhawi berkata, sanad hadits ini jayyid dan shahih. Lihat di dalam
kitab: Al-Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001,
Hlm 100.

38
wahyu-Mu, pemelihara janji-Mu dan pelaksana perintah-Mu sehingga
ia nyalakan cahaya kebenaran pada yang mencarinya, jalanjalan
nikmat Allah terus mengalir pada ahlinya, hanya dengan Muhammad
hati yang tersesat memperoleh petunjuk setelah menyelami kekufuran
dan kemaksiatan, ia (Muhammad) telah memperindah rambu rambu
yang terang, hukum-hukum yang bercahaya dan cahaya-cahaya Islam
yang menerangi, dialah (Muhammad) orang jujur yang dipercaya oleh-
Mu dan penyimpan ilmu-Mu yang tersembunyi, saksi-Mu di hari
kiamat, utusan-Mu yang membawa nikmat, rasul-Mu yang membawa
rahmat dengan kebenaran. Ya Allah, luaskanlah surga-Mu baginya,
balaslah dengan kebaikan yang berlipat ganda dari anugerah-Mu, yaitu
kelipatan yang mudah dan bersih, dari pahala-Mu yang dapat diraih
dan anugerah-Mu yang agung dan tidak pernah terputus. Ya Allah,
berilah ia derajat tertinggi di antara manusia, muliakanlah tempat
tinggal dan jamuannya di surga-Mu, sempurnakanlah cahayanya,
balaslah jasanya sebagai utusan-Mu dengan kesaksian yang diterima,
ucapan yang diridhai, pemilik ucapan yang lurus, jalan pemisah antara
yang benar dan yang batil dan hujjah yang kuat.”52
Para ulama menilai susunan shalawat di atas sangat indah dan

bagus. Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir, redaksi shalawat ini populer dari

Sayidina Ali bin Abi Thalib Al-Hafizh al-Haitami berkata, para perawi

hadits ini adalah para perawi hadits shahih. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

bahwa sanad hadits ini hasan. Hanya saja, Salamah al Kindi tidak pernah

berjumpa dengan Sayyidina Ali. Oleh karena itu, sanad hadits ini mursal.53

3. Hadits Abdullah bin Abbas

َ‫عنَابنَعباسَأنهَكانَإذاَصلىَعلىَالنيبَقالَاللهمَتقبلَشفاعة‬
َ‫لهَِفَاآلخرةَواْلوىلَكما‬
َ ‫حممدَالكبىَوارفعَدرجتهَالعلياَوأعطهَسؤ‬
.‫أتيتَإبراهيمَوموسى‬
َ
52
Hadits ini diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur juz 1 hlm 54, Ibnu Jarir dalam Tahdzib al-
Atsar (352), Ibnu Abi Ashim dalam al-Shalah [23], Ya'qub bin Syaibah dalam Akhbar 'Ali,
Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mus}annaf (29520), al-T{abarani dalam al-Mu'jam al-Ausath
(9089], al-Ajuri dalam al-Syariah (420), Ibnu Baththah dalam al-lbanah (1576), al-Nakhsyabi
dalam al-Hinnaiyat [257] dan lain-lain. Hadits ini juga dikutip oleh ahli hadits sesudah
mereka seperti al-Hafiz al-Qadhi Iyadh dalam al-Syifa, al-Hafiz al-Sakhawi dalam al-Qoul
al-Badi’, al-Hafiz al-Qasthalani dalam Masalik al-Hunafa, Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-
Durr al-Mandhud, dan [Link] dalam kitab: Al-Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul al-Badi',
(Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 106.
53
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 34.

39
“Dari Ibnu Abbas apabila membaca shalawat kepada Nabi SAW
beliau berkata: “Ya Allah kabulkanlah syafa’at Muhammad yang
agung tinggikanlah derajatnya yang luhur, dan berilah
permohonannya di dunia dan akhirat sebagaimana Engkau
kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa”.54
4. Shalawat al-Hasan al-Basri

Al-Hasan al-Basri, ulama generasi ta>bi’i>n terkemuka mengatakan:

“Barangsiapa berkeinginan minum dengan gelas yang sempurna dari

telaga Nabi, maka bacalah:

َ‫اللهمَصلَعلىَحممدَوعلىَآلهَوأصحابهَوأوَّلدهَوأزواجه‬
َ‫وذريتهَوأهلَبيتهَوأصهارهَوأنصارهَوأشياعهَوحمبيهَوأمتهَوعليناَمعهم‬
.‫أمجعنيَايَأرحمَالراْحني‬

"’Ya Allah curahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada


keluarganya, sahabatnya, anak-anaknya, istri-istrinya,
keturunannya, ahli baitnya, keluarga istri-istrinya, para
penolongnya, pendukungnya, kekasihnya dan umatnya dan
kepada kami bersama mereka semuanya ya arhamarrahimin.”55
5. Shalawat al-Imam al-Syafi’i

Abdullah bin al-Hakam berkata: "Aku bermimpi bertemu al-

Imam al-Syafi'i setelah beliau meninggal. Aku bertanya: "Bagaimana

perlakuan Allah kepadamu?" Beliau menjawab: "Allah mengasihiku dan

mengampuniku. Lalu aku bertanya kepada Allah: "Dengan apa aku

memperoleh derajat ini?" Lalu ada orang yang menjawab: "Dengan

shalawat yang kamu tulis dalam kitab al-Risalah:

َ.‫صلىَللاَعلىَحممدَعددَماَذكرهَالذاكرونَوعددَماَغفلَعنَذكرهَالغافلون‬

54
Hadits ini diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam al-Musnad, Abdurrazzaq dalam al-
Mushannaf 13104], Ibnu Khuzaimah dalam al-Tauhid juz 2 hlm 900 Lihat dalam kitab: Al-
Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 46.
55
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Qadhi Iyadh dalam al-Syifa Lihat dalam kitab:
Al-Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 46.

40
“Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Muhammad sejumlah
ingatan orang-orang yang berdzikir kepada-Nya dan sejumlah
kelalaian orang-orang yang lalai kepada-Nya".
Abdullah bin al-Hakam berkata: “Pagi harinya aku lihat kitab al

Risalah, ternyata shalawat di dalamnya sama dengan yang aku lihat

dalam mimpiku”. Kisah ini sangat populer dan diriwayatkan oleh banyak

ulama.56

Demikian lima riwayat tentang shalawat yang disusun oleh

generasi sahabat hingga ulama’ salaf yang salih. Tentu masih banyak lagi

riwayat tentang redaksi shalawat yang disusun oleh kaum salaf, hanya saja

penulis cukupkan dengan mengutip lima riwayat tersebut. Karena lima

riwayat tersebut sangat terkenal di kalangan para ulama dan banyak

dikutip dalam kitab-kitab hadis yang populer.57

Lima riwayat di atas memberikan beberapa pesan kepada kita

berkaitan dengan shalawat kepada Nabi sebagai berikut:

1. Sahabat Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib mengajarkan cara

menyusun shalawat yang baik dan menganjurkan agar kita membaca

shalawat kepada Nabi dengan redaksi dan susunan yang bagus, yang

tidak diajarkan oleh Nabi.

2. Perkataan sahabat Ibnu Mas’ud, “barangkali shalawat kalian

diberitahukan kepada Nabi”, mengisyaratkan bahwa apabila shalawat

yang disusun oleh seorang Muslim itu menggunakaan susunan bahasa

yang indah dan bagus, dengan menyisipkan pujian kepada Nabi, maka
56
Ibnu al-Qayyim dalam Jala' al-Afham hlm 230, Lihat dalam kitab: Al-Hafizh al-
Sakhawi, Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 256.
57
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 36.

41
Nabi akan merasa senang dengannya. Sudah barang tentu, seorang

Muslim harus berkeinginan untuk berbuat sesuatu yang dapat

menyenangkan Rasulullah. Di satu sisi, Rasulullah akan senang jika

ada orang menyusun bacaan doa dengan baik kepada Allah seperti

dalam hadits shahih berikut ini:

“ Dari Anas bin Malik : “Suatu hari Rasulullah bertemu dengan


laki-laki a’rabi (pedalaman) yang sedang berdoa dalam shalatnya
dan berkata: “Wahai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata, tidak
dipengaruhi oleh keraguan, tidak dapat diterangkan oleh para
pembicara, tidak diubah oleh perjalanan waktu dan tidak terancam
oleh malapetaka; Tuhan yang mengetahui timbangan gunung,
takaran lautan, jumlah tetesan air hujan, jumlah daun-daun
pepohonan, jumlah segala apa yang ada di bawah gelapnya malam
dan terangnya siang, satu langit dan satu bumi tidak
menghalanginya ke langit dan bumi yang lain, lautan tidak dapat
menyembunyikan dasarnya, gunung tidak dapat menyembunyikan
terbaikku akhirnya, amal terbaikku pamungkasnya dan hari
terbaikku hari aku bertemu dengan-Mu." Setelah laki-laki a'rabi itu
selesai berdoa, Nabi memanggilnya dan memberinya hadiah
berupa emas dan beliau berkata kepada laki-laki itu: "Aku
memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus kepada Allah”58

Dalam hadits di atas, seorang laki-laki a’rabi berdoa dengan doa

susunannya sendiri, dan didengar oleh Rasulullah. Ternyata Rasulullah

senang dengan doa tersebut dan memberinya hadiah emas, seraya

bersabda, “Aku memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus

kepada Allah.”

Di sisi lain, Rasulullah juga mendengar pujian orang kepada beliau

dan membalasnya dengan pemberian hadiah. Dalam konteks ini,

Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata:

َ‫ومسعَمديحَالشعرَوأاثبَعليه‬
58
Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath 19447
dengan sanad yang jayyid (istimewa). Lihat dalam kitab: Al-Hafizh al-Sakhawi, Al-Qaul
al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 200.

42
Rasulullah juga mendengarkan syair yang memuji beliau dan
memberi hadiah kepada penyairnya.59

Dari banyak keterangan hadits serta riwayat ulama Salaf as-

S}a>lih} yang sudah penulis tampilkan, dapat ditarik kesimpulan

bahwa Rasulullah tidak mempermasalahkan terkait bacaan shalawat

yang redaksinya tidak diperoleh darinya, bahkan Rasulullah

memujinya dan memberikan hadiah kepada si pembuat syair shalawat,

do’a yang memuji keagungan Allah dan Rasulullah. Maka sangat tidak

relevan apabila ada suatu kaum muslim membuat pernyataan yang

memvonis bid’ah terhadap pengamal atau pelaku shalawat yang mana

didalamnya tertuang puji-pujian serta do’a terhadap Allah dan Rasul-

Nya, apalagi pengamal atau pelaku shalawat masih melakukan ibadah-

ibadah mahdah yang lainnya dengan cara tertib, maka sangatlah riskan

pemvonisan bid’ah tersebut karena sama halnya sudah memvonis kafir

terhadap keislaman seseorang. Padahal Nabi SAW sendiri tidak

mempermasalahkan bahkan memuji serta memberikan hadiah kepada

seseorang pada zamannya yang berusaha memuji Allah dan Rasul-

Nya.60

C. Macam-Macam Shalawat

Teks bacaan shalawat sangat banyak macamnya dan setiap teks

memiliki karakteristik tersendiri sesuai pengarang nya, terkadang memiliki

tujuan apa dan kapan harus dibaca. Latar belakang itu yang menyebabkan

59
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Zad al-Ma'ad (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: Beirut-Lebanon)
1999 juz 1 hlm 157.
60
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 42.

43
banyaknya macam teks bacaan shalawat yang masyhur di kalangan ulama dan

kaum muslimin. Cukup banyak sekali karya para ulama mengenai susunan

shalawat yang masyhur menjadi aktivitas rutin setiap hari ataupun setiap

majelis-majelis keislaman, yang mana sengaja penulis tampilkan di skripsi ini

sebagai bagian sub bab yang membantu untuk merumuskan tujuan yang

dikehendaki di skripsi ini, walaupun keterangan seperti ini tidak ada di dalam

kitab tafsir yang penulis kaji, namun bagian ini dapat memperkuat argumen

dari bab-bab sebelumnya yang sudah penulis tampilkan, yang diantaranya

sebagai berikut:

a. Shalawat Al-Barzanji

Shalawat Barzanji merupakan kitab yang berisikan tentang kisah

perjalanan sirah Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, serta do’a-do’a. Bagi

umat nahdiyin barzanji bukan lagi hal yang asing, tidak hanya dibaca ketika

perayaan maulid (kelahiran Nabi) saja, tetapi juga dijadikan rutinitas setiap

malam jum’at oleh sebagian umat nahdiyin. Shalawat Barzanji dikarang oleh

Syaikh Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad bin Rasul

Al-Barzanji, seorang ulama besar keturunan Nabi ‫ ﷺ‬dari keluarga Sadah Al-

Barzanji yang terkenal, berasal dari Barzanj (sebuah daerah di Irak). Beliau

lahir di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 1126H(1714 M). Beliau juga

menjadi mufti Syafi’iyyah di Madinah Al-Munawwarah.

Terdapat perselisihan tentang tahun wafatnya. Sebagian

menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177H(1763 M). Imam Az-

Zubaid dalam al-Mu’jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184H

44
(1770M). Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang terkenal dengan nama

Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama karangannya tersebut

sebagai ‘Iqd al-Jawhar fi Maulid an-Nabiyyil Azhar. Kitab maulid yang di

susun beliau ini termasuk salah satu kitab maulid yang masyhur dan paling

luas tersebar hingga ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik di Timur maupun

Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan

mereka membacanya dalam acara-acara (pertemuan-pertemuan) keagamaan

yang sesuai. Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) sirah

nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai

rasul, hijrah, akhlaq, peperangan, hingga wafatnya.

Sayyid Ja’far selain dikenal sebagai mufti, beliau juga di kenal

sebagai khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia

tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlaq, dan taqwanya, akan

tetapi juga karena karomah dan mustajab doanya. Orang-orang Madinah pada

saat itu sering meminta beliau berdoa untuk mendatangkan hujan pada

musim-musim kemarau. Diceritakan, suatu ketika di musim kemarau, saat

beliau sedang menyampaikan khutbah jum’at nya, ada seseorang meminta

beliau untuk ber-istisqa’ memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau

pun berdoa memohon hujan. Doanya terkabul dan hujan terus turun dengan

lebatnya hingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada

zaman Rasulullah SAW dahulu. Sayyidi Ja’far Al-Barzanji wafat di Madinah

dan dimakamkan di Jannatul Baqi’. Dinamakan Al-Barzanji karena

45
dinisbahkah kepada nama desa pengarang yang terletak di daerah Barjanziyah

kawasan Akrad (Kurdistan).61

b. Shalawat Ad-Diba’i

Sama seperti halnya shalawat Barzanji, Shalawat Diba’i merupakan

kumpulan syair-syair pujian serta do’a kepada Nabi Muhammad, serta sirah

tentang hal-ihwal Nabi dari asal mula penciptaan Nur Muhammad hingga

kelahiran Nabi ‫ ﷺ‬di dunia dan kejadian – kejadian ajaib di dunia ketika

menjelang kelahiran Nabi ‫ ﷺ‬hingga masa kecil sampai Kerasulan Nabi ‫ ﷺ‬.

Shalawat Ad-Diba’i dikarang oleh Syaikh yang bernama lengkap 'Abdur

Rahman bin Muhammad bin 'Umar bin 'Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar

al-Diba>'i as-Syaibani> al-Yamani> al-Zabidi> as-Syafi'i>. Beliau adalah

seorang ulama hadits yang terkenal. Beliau mengajar kitab Shohih Bukhori

lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits

(seorang yang menghafal 100,000 hadits beserta sanadnya).

Guru-guru nya sangatlah banyak diantaranya ialah Imam al-Hafidh al-

Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, Imam

al-Hafidh T{ahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau

merupakan seorang muarrikh, yakni ahli sejarah. Beliau di besarkan oleh

kakek dari ibunya yang bernama Syaikh Syarafuddin bin Muhammad

Muba>riz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu.

Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah

haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn Diba' kembali lagi ke

Zabid. Beliau memperdalam ilmu Hadis dengan membaca S}a>hih Bukhari>,


61
Turats,Urwatil al-Wutsqo, Tamatan 2011 Lirboyo- Kediri, Hlm 104.

46
Muslim, Tirmidzi, Al-Muwatta{' dibawah bimbingan Syaikh Zainuddin

Ahmad bin Ahmad As-Syarji.

Beliau lahir di kota Zabid (suatu kota di Yaman Utara) pada saat sore

hari Kamis 4 Muharram 866 H. Kota ini sangat masyhur dari masa Nabi

Muhammad SAW, tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah. Usianya beliau abdikan

hingga akhir hayatnya sebagai seorang pengajar dan pengarang kitab. Ibn

Diba>'i tutup usia di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944

H.62

c. Shalawat Nariyah

Shalawat ini salah satu shalawat yang cukup populer dikalangan umat

Islam. Shalawat ini biasa juga disebut dengan sebutan nama Shalawat Taziyah

dan Tafrijiyah. Berikut redaksi teks Shalawat nya :

َ‫َعلىَسيدَّنَحممدَالذيَتنحلَبهَالعقدَوتنفرج‬،‫اللهمَصلَصالةَكاملةَوسلمَسالماَاتما‬
َ‫َويستسقىَالغمام‬،‫َوحسنَاخلوامت‬،‫َوتنالَبهَالرغائب‬،‫بهَالكربَوتقضىَبهَاحلوائج‬
.‫ك‬
َ ‫َوعلىَآلهَوصحبهَِفَكلَحملةَونفسَبعددَكلَمعلومَل‬،‫بوجههَالكرمي‬
“Ya Allah, anugerahkanlah shalawat-Mu yang begitu sempurna dan
curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi
Muhammad, yang dengan sebab lantaran beliau semua ikatan dapat
terlepas, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat
terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat
diraih, dan berkat wajahnya yang mulia hujanpun turun, dan semoga
terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik
dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh
Engkau.”
Redaksi Shalawat Nariyah di atas sangat indah dan bagus. Dalam

enam kalimatnya, terkandung fakta-fakta yang menggambarkan keagungan

62
Turats,Urwatil al-Wutsqo, Tamatan 2011 Lirboyo- Kediri, Hlm 104.

47
Nabi. Hanya saja, kaum Wahabi justru mensyirikkan dan mengkafirkan enam

kalimat tersebut, karena ketidaktahuan dan kesempitan akal mereka. Shalawat

ini redaksinya dikarang oleh seorang ulama besar, yakni Al-Imam Abu Salim

Ibrahim bin Muhammad bin Ali al-Tazi al-Wahrani al-Maliki. Beliau seorang

ulama besar yang dikenal waliyullah, zahid, salih, dan mencapai derajat

Quthbiyah dalam kewaliannya, posisi tertinggi dalam dunia spiritual Islam.

Belum ada keterangan tahun berapa beliau dilahirkan. Tetapi yang

pasti beliau dilahirkan di Tazah, suatu desa di Fes, Maroko tempat tinggal

suku Barbar. Karena itu nisbat beliau yang populer adalah al Tazi. Beliau

dikenal sebagai ahli dalam berbagai bidang ilmu seperti tafsir, tashawuf,

hadits, fiqih, ushul fiqih dan memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap

ilmu ushuluddin, yaitu tentang pokok-pokok agama atau ilmu [Link]

mencapai kesempurnaan intelektual dan spiritual, al-Imam al-Tazi banyak

memiliki murid yang menimba ilmu kepada beliau, antara lain al-Hafizh al-

Tanasi, al-Imam al-Sanusi pengarang kitab Umm al-Barahin, Syaikh Ahmad

Zarruq dan lain-lain.

Al-Imam al-Tazi tutup usia pada bulan Sya'ba tahun 866 H/1461 M.

Keterangan sejarah hidup al-Imam al-Tazi dapat dilihat dalam kitab-kitab

biografi para ulama madzhab Maliki, lebih khusus dalam kitab sebagai

berikut : Nail al-Ibtihaj bi-Tat}riz al-Dibaj, Syajarah al-Nur al-Zakiyyah fi

T{abaqat al-Malikiyyah dan lain-lain. Meskipun Al-Imam al-Tazi sudah tiada

sekian ratus tahun lamanya, akan tetapi peninggalannya yang begitu

fenomenal yaitu Shalawat Taziyah masih dikenal dan selalu dibaca oleh umat

Islam hingga hari ini. Shalawat Taziyah ini, di Mesir dan Asia Tenggara

48
dikenal dengan sebutan Shalawat Nariyah. Shalawat ini juga populer dengan

nama Shalawat Tafrijiyah, yaitu shalawat yang dapat memudahkan kesulitan.

d. Shalawat Munjiyat

Shalawat ini redaksinya didapatkan dari seorang ulama yang salih

yaitu Syaikh Musa al-Dharir. Suatu ketika Syaikh Musa al-Dharir naik kapal

di laut bersama banyak orang. Tiba-tiba, ketika dipertengahan laut terjadi

suatu peristiwa angin yang membahayakan kapal datang menyerang. Sedikit

sekali kapal bisa selamat dari karam, apabila angin seperti itu datang. Para

penumpang pun berteriak-teriak karena takut karam. Lalu aku (Syaikh)

tertidur, dalam tidur aku bermimpi bertemu Nabi ‫ ﷺ‬dan bersabda kepadaku:

“Katakan kepada para penumpang kapal, agar membaca bacaan ini seribu

kali":

ْ ‫ا َٰلله َّمَصلَعلىَسيدَّنَحم َّم ٍدَصالةَت ْنجْي ناَِباَم ْنَمجْيع‬


َٰ ْ ‫َاْل ْهوالَو‬
َ‫اَّلفات‬
َ‫َاحلاجاتَوتطهرَّنَِباَم ْنَمجْيعَالسيئاتَوت ْرف عنَاَِباَعْندكَأ ْعلى‬ ْ ‫وت ْقض ْيَلناَِباَمجيع‬
‫ات‬
َ ‫َاخل ْرياتَِفَا ْحلياةَوب ْعدَالْمم‬
ْ ‫الدَّرجاتَوت ب لغناَِب اَأقْصىَالْغاايتَم ْنَمجْيع‬
“Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua
keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu,
Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan
menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau
akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula,
Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna
dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”
Lalu aku terbangun dari tidur. Aku bercerita kepada penumpang kapal,

tentang mimpi tersebut. Lalu kami membaca shalawat tersebut bersama-sama.

Setelah dapat sekitar 300 kali, kami terlepas dari serangan angin yang

49
berbahaya itu. Dan cuaca menjadi tenang dengan berkah shalawat kepada

Nabi”63

Maka dari itu Shalawat ini dinamakan Munjiyat yang memiliki arti

penyelamat karena sang Syaikh mendapatkan redaksi teks dari Nabi melalui

mimpinya ketika menghadapi bencana.64

Shalawat Munjiyat ini biasa dibaca ketika dalam awalan bacaan doa-

doa, khususnya pada saat bacaan doa tahlil. Banyak orang yang meyakini

bahwa ketika doa yang diawali dengan membaca shalawat munjiyat ini akan

cepat terijabah, tentunya atas izin dan kehendak Allah SWT. Selain itu,

membaca shalawat munjiyat juga begitu dianjurkan untuk dibaca sebagai

dzikir pada saat setelah melaksanakan shalat hajat, dengan harapan agar hajat

yang diinginkan segera terwujud.

Shalawat Munjiyat juga biasanya menjadi bagian urutan dalam wirid-

wirid dan hizib-hizib yang biasa diamalkan di berbagai pesantren nusantara.

Hal ini menandakan bahwa begitu ampuhnya keutamaan membaca Shalawat

Munjiyat ini. Namun meski begitu, sebaiknya jika dalam mengamalkan

shalawat munjiyat ini harus ada bimbingan petunjuk dari seorang mursyid

atau guru (mujiz) yang menerangkan kepada kita untuk mengamalkan

membaca shalawat munjiyat, agar ketika kita membaca shalawat ini, kita

mengamalkannya dapat lebih efektif dan proposional.

63
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Tajuddin al-Fakihani dalam kitabnya al-Fajr al-Munir fi
al-Shalah wa al-Salam 'ala al-Basyir al-Nadzir j hlm 48, dan dikutip oleh Majduddin al-
Syirazi dalam al-Shilat wa al-Busyar, al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi', al-
Qasthalani dalam Masalik al-Hunafa dan lain-lain. Lihat dalam kitab: Al-Hafizh al-Sakhawi,
Al-Qaul al-Badi', (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah – Beirut), 2001, Hlm 256.
64
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
[Link] 145-146

50
e. Shalawat Fatih

Shalawat al-Fatih termasuk shalawat yang memiliki reputasi luar biasa

di kalangan umat Islam. Selain karena penyusunnya seorang ulama besar

Shalawat ini terdapat nama-nama dan sifat-sifat Rasulullah yang menjadi

lambang keagungan dan juga karena di dalam Shalawat Fatih terdapat

kesempurnaan kepribadiannya. Berikut redaksi teks Shalawat Fatih:

َ‫ََّنصر‬،‫َواخلامتَملاَسبق‬،‫َالفاتحَملاَأغلق‬،‫اللهمَصلَعلىَسيدَّنَحممد‬
َ‫َوعلىَآلهَوصحبهَحقَقدره‬،‫َواهلاديَإىلَصراطكَاملستقيم‬،‫احلقَِبحلق‬
.‫ومقدارهَالعظي َم‬

“ Ya Allah, anugrahkanlah shalawat-Mu kepada junjungan kami,


Muhammad, pembuka sesuatu yang terkunci, penutup sesuatu
yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran, pemberi
petunjuk ke jalan-Mu yang lurus, serta kepada para keluarga dan
sahabat, sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya dan
kedudukannya yang agung.”
Shalawat Fatih disusun oleh seorang ulama besar dan dikenal sebagai

wali Allah pada abad kesepuluh Hijriyah, yaitu al-Imam Syamsuddin Abu al-

Makarim Muhammad bin Abi al-Hasan Ali bin Muhammad al-Bakri al-

Shiddiqi al-Syafi’i al-Asy’ari. Dari segi nasab al-Bakri bersambung kepada

Khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq. Karena itu nisbat beliau,

al-Bakri al-Shiddiqi. Al-Bakri dilahirkan pada tahun 930H/1524 M. Al-Bakri

sangat dikenal kedalaman ilmunya. Ayahnya, al-Imam Abu al-Hasan Ali al-

Bakri, juga seorang ulama besar yang dikenal kedalaman ilmunya, dengan

menyandang gelar Syaikh al-Islam, Suatu gelar yang hanya disematkan

kepada ulama-ulama tertentu.

51
Selain belajar kepada ayahnya, Abu al-Makarim juga belajar kepada

Syaikh al-Islam al-Qadhi Zakariya al-Anshari. Abu al-Makarim tidak hanya

mencapai puncak dalam ilmu pengetahuan. Bahkan dalam dunia spiritual

kaum shufi, Abu al-Makarim juga tercatat sebagai tokoh shufi yang mencapai

puncak tertinggi, dimana sebagian ulama memberinya gelar Quthb al-‘Arifin,

gelar tertinggi dalam dunia spiritual kaum shufi. Oleh karena itu, dalam kitab-

kitab sejarah, nama beliau terkadang disebut dengan al-Quthb al-Bakri, al-

Bakri al-Kabir atau Sayyidi Muhammad al-Bakri.

Al-Bakri wafat pada tahun 993 H/1586 M di Mesir, meninggalkan

banyak karangan, seperti Syarh Mukhtashar Abi Syuja’ dalam fiqih Syafi’I,

Diwan kumpulan syair-syairnya, dan sudah barang Fatih. Biografinya dapat

dibaca dalam kitab al-Nur al-Safir karya Sayyid tentu, adalah shalawatnya

yang terkenal hingga saat ini, yaitu Shalawat al’Aidarus, al-Kawakib al-

Sairah karya al-Ghazzi dan Syadzarat al-Dzahab karya Ibnu al-‘Imad al-

Hanbali.65

Shalawat Fatih pada dasarnya adalah nama-nama Rasulullah yang

disisipi dengan obyek penjelasannya agar lebih indah dan bagus. Tentu nama-

nama tersebut melambangkan keagungan Rasulullah. Nama-nama tersebut

ada yang diambil dari al-Qur’an dan hadis. Dan ada pula yang diambil dari

kitab-kitab para nabi sebelumnya. Nama-nama tersebut diuraikan oleh para

ulama dalam kitab-kitab hadis dan sirah. Dengan demikian, kalimat-kalimat

65
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 152-153.

52
tambahan yang terdapat pada Shalawat Fatih pada dasarnya adalah lambang

keagungan dan kesempurnaan Rasulullah.

Dan sebenarnya masih banyak lagi macamnya Shalawat yang apabila

penulis tampilkan di skripsi ini mungkin akan berlarut hingga ratusan

halaman, akan tetapi penulis menampilkan hanya 5 Shalawat papuler yang

saat ini sedang viral dan menjadi bahan pembicaraan oleh sebagian kelompok

aliran Islam yaitu Wahabi, yang sangat mengkritik eksistensi pembacaan

Shalawat yang telah penulis tampilkan.66 Sehingga seharusnya kaum Wahabi

melakukan verifikasi dahulu sebelum menyalahkan, menyesatkan hingga

membid’ahkan amalan suatu kelompok lainnya, agar tidak timbul terjadinya

fitnah hingga menghancurkan persatuan umat Islam itu sendiri. Dan kalau

pun terlepas nanti diterima atau tidaknya shalawat seseorang oleh Nabi SAW,

itu tergantung atas izin Allah semata, sehingga shalawat tadi itu hanyalah

sebagai lantaran untuk mengenal Rasulullah dan mendekatkan diri kepada

Allah SWT.

D. Urgensi Membaca Shalawat

Istilah urgensi menunjukkan pemaknaan pada sesuatu yang

mendorong kita, yang memaksa kita untuk diselesaikan. Dengan demikian,

mengandaikan ada suatu masalah dan harus segera ditindaklanjuti. Urgensi

yaitu kata dasar dari “urgen” mendapat akhiran “i” yang berarti sesuatu yang

66
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 1.

53
jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama atau unsur yang

penting.67

Kata urgensi merupakan ungkapan kata yang biasa digunakan oleh

oleh kaum Intelektual dalam hal penulisan ataupun pengucapan yang

ditujukan kepada para akademis, yang kata tersebut lazim diartikan dengan

suatu hal yang mendorong atau sangat penting ataupun mendesak, jadi

penulis menggunakan kata urgensi tak lain hanyalah untuk mencari

keabsahan perintah membaca Shalawat di dalam al-Qur’an serta penafsiran

nya dari ulama atau mufasir era zaman klasik hingga kontemporer. Yang

mana hasil dari pencarian atau identifikasi tersebut akan penulis jadikan dalil

rujukan untuk memperkokoh iman penulis secara khusus, dan kemudian

harapannya juga agar menjadi salah satu sumber literatur keislaman tentang

permasalahan Shalawat secara umum tentunya.

Membaca merupakan suatu aktivitas yang kompleks dengan

mengerahkan sejumlah aktivitas yang terpisah-pisah, meliputi: orang harus

menggunakan pengertian dan fikiran, mengamati dan mengingat-ingat.

Kompleks maksudnya adalah membaca tidak hanya suatu proses untuk

mengenal lambang-lambang fonetis dan proses penafsiran tentang makna dari

lambang-lambang fonetis tersebut, akan tapi membaca juga melibatkan daya

fikiran yang terdiri dari hayal atau imaji.68Menurut Dalman, Membaca adalah

aktivitas atau proses awal untuk mengidentifikasi makna tentang apa yang

dibaca dan apa maksud yang terkandung dari bacaan tersebut. Jadi membaca

68
Harras K.A. Membaca Minat Baca Masyarakat Kita dalam jurnal Mimbar Bahasa dan
Seni, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1995), hal. 104

54
merupakan proses awal dari berfikir dan berbicara. Bahkan membaca juga

diarahkan lebih dalam pemaknaannya, yakni menuntut aktivitas mental yang

dapat terarah dan sanggup menangkap serta memahami sebuah tulisan,

ungkapan ataupun wacana yang sedang dipahami.69

Sedangkan didalam Islam membaca merupakan suatu kewajiban bagi

setiap muslim, dikarenakan wahyu pertama kali turun kepada Nabi

Muhammad ialah perintah untuk membaca yang di abadikan dalam QS. Al-

Alaq ayat 1-5. Pada saat itu ketika malaikat Jibril mengemban suatu mandat

dari Allah untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali yang berbunyi:

َ‫ٱسمَربكَٱلَّذىَخلق‬
ْ ‫ٱقْ رأَْب‬
“Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. QS.
Al-Alaq.” 70
Malaikat Jibril mengulang bacaan ْ‫ ٱ ْق َرأ‬hingga tiga kali, menurut

Syaikh Muhammad Abduh di dalam tafsirnya menerangkan bahwa hal

tersebut terjadi dikarenakan untuk meyakinkan Nabi Muhammad didalam

mengemban tugas seorang Rasul dari Allah.71

Jadi membaca itu merupakan suatu perintah dari Allah yang pertama

kali kepada Nabi Muhammad, yang mana dengan membaca tersebut nantinya

oleh Allah akan diberikan suatu ilmu dan keyakinan yang dikehendaki-Nya.

Maka kita sebagai Muslim sebaiknya juga memperbanyak membaca, dengan

membaca kita akan memperoleh ilmu serta keyakinan yang di ridhai Allah

sebagai bekal kita menjalani kehidupan dunia saat ini hingga nanti di akhirat.

69
Nurhadi, Meningkatan Kemampuan Membaca. (Bandung: CV Sinar Baru, 2001), Hlm 118
70
Kemenag, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019, (Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an) Cet 1, 2019. surat-al-alaq ayat-1-5.
71
Hamka, Buya. Tafsīr al-Azhar, jilid 10. Jakarta: Gema Insani, 2005.

55
Membaca didalam Islam juga lazim dianggap dengan berzikir seperti

halnya membaca kitab suci Al-Qur’an , kitab hadis, kitab para ulama, serta

shalawat kepada Nabi, hal ini semua merupakan rangkaian kegiatan ibadah

mahd}ah yang bertujuan untuk lebih dalam hati dan jiwa mengenal tanda-

tanda serta ber-taqarrub kepada Allah SWT. Membaca Shalawat merupakan

aktivitas ibadah yang sangat relevan pada zaman modern serba efisien serta

efektif seperti sekarang ini, dimana ketika seseorang melakukan hal tersebut

secara ikhlas maka oleh Allah akan memberi kemudahan serta keberkahan

segala urusannya yang sedang dihadapinya.

Maka dari itu, mengetahui ilmu dalam melakukan sebuah ibadah

sangatlah penting bagi pelaku ibadah tersebut. Dikarenakan agar pelaku

ibadah tersebut tidak terjerumus hal-hal yang menyesatkan, sedemikian pula

dalam ibadah membaca shalawat, maka pelaku ibadah tersebut harus

memperoleh nya dari mursyid atau menelusurinya dalam kitab-kitab, baik

secara Qat}’i maupun Dhanni.

Dalil Qat}’i di dalam Al-Qur’an tentang perintah membaca Shalawat

sebagaimana telah tertulis pada QS. Al-Ahzab ayat 56:

ََ‫َٱَّللَومََٰلئكتهَۥَيصلونََعلىَٱلنَّبَََۚ ََٰيي هاَٱلَّذينََءامنَواصلواعلْيه‬


َّ ‫إ َّن‬
َ‫وسلموات ْسليما‬
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi
(Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu
kepada Nabi(Muhammad) dan ucapkanlah salam dengan sebaik-baiknya
penghormatan kepadanya (Muhammad)”.
Ayat diatas menjadi dalil secara Qat}’i bahwasanya Allah dan para

Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, dan Allah juga memerintahkan

56
kepada orang yang mengaku beriman kepada Allah, untuk senantiasa

bershalawat kepada Nabi. Analisis ayat dari segi susunan gramatikal arabnya,

ayat ini di awali dengan lafaz ‫ ِإن‬yang memberikan makna taukid (penguatan)

sesuatu, kemudian lafaz َ‫صلُّون‬


َ ُ‫ ي‬yang berbentuk fi’il mud}a>ri’ yang memiliki

makna istiqbal sekarang dan yang akan datang, dan dalam lafaz ُ‫َّللا َو َم ََلئِ َكتَه‬
َ ‫ِإن‬

َ َ‫صلُّون‬
ِ ‫علَى الن ِبي‬ َ ُ‫ ي‬tarkibnya merupakan jumlah ismiyyah susunan nya terdiri

mubtada’ dan khabar yang kemasukan amil nawasikh yang berupa huruf ‫إِن‬

dan lafaz َ‫صلُّون‬


َ ُ‫ ي‬merupakan khabar yang berupa jumlah fi’liyyah. Yang
72

mana pada hal tersebut mengindikasikan memiliki makna perkara yang tetap

dan terus-menerus yang baru (diperbarui).73

Jadi dapat difahami bahwa Allah dan Malaikat-Nya Senantiasa tetap

dan terus-menerus dan memperbarui Shalawat terhadap Nabi Muhammad

َ ‫صلُّوا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
SAW. Kemudian redaksi lafaz selanjutnya yaitu ‫س ِل ُموا‬ َ ‫َيا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنُوا‬

‫ ت َ ْسلِي ًما‬Pada ayat ini diawali dengan huruf Nida’ yang Munada’ nya tertuju

langsung kepada orang-orang yang beriman. Adapun huruf nida’ yang

lafadznya‫ يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنُوا‬di dalam Al-Qur’an kurang lebih terdapat 90 kali

pengulangan, Menurut Ma’in Taufik Nida’ pada lafaz‫ يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنُوا‬tergolong

dalam Nida’ yang khusus dan setiap ayat yang redaksi nya di awali dengan

Nida’‫ يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنُوا‬maka ayat tersebut terkelompok pada ayat madaniyyah.

Yang berarti diturunkan setelah Rasulullah hijrah ke madinah, karena

72
Lihat dalam kitab: Muh}ammad ‘Ali> al-S{a>bu>ni>, Rawa>i’ al-Baya>n Tafsi>r A<ya>t
al-Ahka>m min al-Qur’a>n, Jilid I (Jakarta : Da>r al-Kutub al-Isla>miyyah, 1422 H/2001
M), Hlm. 8. Dan juga dalam kitab: Aḥmad bin Muḥammad Al-Shawī, Ḥāsyiyah Al-Shāwi,
Jilid 3, Beirut-Beirut-Lebanon: (Dar al-Kutub al-Ilmiyah), 1971, Cet 13, Hlm 246.
73
َ‫َوالفعليةَتدلَعلىَالتجدد‬،‫اْلملةَإْلمسيةَتدلَعلىَالدوامَوالثبوت‬
Lafaz yang berupa jumlah ismiyah itu menunjukan perkara yang tetap dan terus menerus,
Sedangkan lafaz yang menunjukan jumlah fi’liyah menunjukan makna yang baru
(diperbarui), Khalid As-sabt , Kaidah Tafsir,. Hal 255.

57
kebanyakan orang yang beriman berkumpul di kota Madinah. Ketika ada

seruan seperti itu biasanya akan ada kebaikan yang seorang mukmin

diperintahkan untuk melakukannya atau akan ada keburukan yang seorang

mukmin dilarang darinya, sehingga hal tersebut merupakan himbauan kepada

seorang mukmin untuk memperhatikan seruan tersebut. 74 Berkata‘Abdullah

bin Mas’ud : “Jika engkau mendengar Allah berfirman, “Wahai orang-orang

yang beriman,” maka pasanglah pendengaranmu, karena sesunggunhnya

(setelah kalimat tersebut terdapat) kebaikan yang (engkau) diperintahkan

dengannya atau (terdapat) keburukan yang (engkau) dilarang darinya.”

Kemudian lafaz ‫صلُّوا‬


َ yang memiliki makna “bershalawatlah” bentuk

sighat nya merupakan fi’il amr (kata perintah) ala> al-Wuju>b, dan ala> al-

Iba>ahah}75 dan memiliki indikasi perintah langsung dari Allah untuk kaum

muslim agar bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Namun para ulama

dan madhahib al-arba’ masih terjadi perkhilaf atau silang pendapat mengenai

wajib nya seorang mukmin dalam bershalawat kepada Nabi.76

Menurut Al-Qurt}ubi di dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa para

ulama sepakat bahwa membaca shalawat kepada Nabi SAW hukumnya wajib,

satu kali seumur hidup. Ada juga yang mewajibkan membaca shalawat ketika

nama Nabi SAW disebutkan, dan menurut imam al-Syafi’i wajib membaca

shalawat didalam tasyahud awal dan akhir ketika seorang mukmin melakukan

shalat, dan jika seorang mukmin dengan sengaja meninggalkan membaca

74
Ma‘in Taufiq Dahham al-Haya li, Nida’ fi al-Qur’an al-Karim (Bairut: Dar al-Kutub,
2008), 4.
75
Darul Azka dkk, Syarh Al-Wara>qat (penjelasan dan tanya jawab ushul fiqh), Santri salaf
press: Kediri, 2016. Hlm 56.
76
Muhammad Idrus Ramli, Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer;al-Hujjah press,Cet II,
2017. Hlm 6-7.

58
shalawat, maka shalat tidak sah dan harus mengulangi nya lagi, begitu juga

ketika khutbah jum’at maka tidak sah, jika tidak membaca shalawat. Senada

dengan Ali as}-S{a>buni yang diungkapkan dalam kitab tafsirnya.

Sedangkan membaca shalawat yang lebih dari pada itu, maka

hukumnya sunnah mu’akkad (Sunnah yang hukum pelaksanaannya sangat

dianjurkan dan jarang ditinggalkan oleh Nabi SAW) yang hampir mendekati

wajib. Bagi seorang yang beriman, membaca shalawat kepada Nabi SAW

tidak mungkin ditinggalkan atau dilupakan kecuali jika orang tersebut kurang

kebaikannya.77 Jadi secara Qat}’i perintah membaca Shalawat kepada Nabi

Muhammad yang terdapat pada QS Al-Ahzab ayat 56 merupakan hal yang

sangat penting, karena ketika Allah memerintahkan suatu perintah tersebut

pastinya terdapat suatu kebaikan di dalam perintah tersebut.

Hal ini dapat kita kita telusuri melalui penafsiran kitab para mufasir

dari zaman klasik hingga kontemporer. Di zaman klasik misalnya menurut

Ibnu Jari>r at}-T{abari> di dalam kitab tafsir Jami’ al- Baya>n an Ta’wil Ây

al-Qur’a>n bahwasanya Allah dan para malaikat memberkahi Nabi

Muhammad ‫ ﷺ‬, maksudnya Allah memberi rahmat kepada Nabi, dan para

malaikat mendoakan serta memintakan ampun bagi Nabi ‫ ﷺ‬, dan bagi orang-

orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan berilah penghormatan

kepadanya dengan penghormatan Islam. 78 Sedangkan menurut al-Qurt}ubi

mufassir yang zamannya berdekatan dengan at}-T{abari>, pendapatnya

77
Abī Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Ans}āri> al-al-Qurt}ubī , Jāmi li Ah}ka>m Al-
Qur’a>n, Jilid 14, Beirut-Lebanon: (Dar al-Kutub al-Ilmiyah), 1971, Cet 13, Hlm 152.
78
Basya>r ‘Awa>d Ma’ruf, ‘Is}a>m Fa>ris al-H{arsa>ni, Tafsi>r Jami’ al- Baya>n an
Ta’wil Ây al-Qur’a>n Karya Ibnu Jari>r at}-T{abari, Cet 1,Juz 21 Mu’assasah al-
Risalah,Beirut-Lebanon, 1994 M. Hlm 236.

59
hampir sama bahwasanya ayat ini menyebutkan betapa tingginya derajat Nabi

SAW di sisi Allah, setelah sebelumnya disebutkan bahwa Nabi SAW

terpelihara dari perbuatan dan pemikiran yang buruk. Selain itu, beliau diberi

kehormatan dengan cara mengharamkan para istrinya untuk dinikahi oleh

siapa pun setelah beliau. Beliau juga diberi penghormatan dengan shalawat

dari Allah dan para malaikat-Nya. Shalawat dari Allah kepada Nabi SAW

adalah pemberian rahmat dan keridhaan-nya, sedangkan shalawat dari para

malaikat adalah doa dan permohonan ampun untuk beliau, dan shalawat dari

umat beliau adalah doa dan pengagungan terhadap beliau.79

Shalawat secara istilah merupakan pujian atau ungkapan memuliakan

dan mencintai Nabi Muhammad SAW, yang mana hal tersebut juga ungkapan

cinta kepada Allah SWT. Hal tersebut juga selaras dalam surat Ali-Imran ayat

31:

ََ‫ٱَّللَغفور‬
ََّ ‫َٱَّللَوي ْغف ْرَلك ْمَذنوبك َْمََۚو‬
َّ ‫َحيبْبكم‬
ْ ‫َٱَّللَفٱتَّبعوِن‬
َّ ‫ق ْلَإنَكنت ْمَحتبون‬
‫يم‬
َ ‫َّرح‬
“Katakanlah "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu"Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”80
Mencintai Allah dan Rasulullah bagi setiap mukmin merupakan suatu

kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan kenikmatan

lainnya, tidak ada yang mampu menandinginya, dengan rasa cinta tersebut

seseorang akan mampu merasakan manisnya iman. Seseorang yang benar-

benar cinta akan menaati, tunduk dan patuh pada sesuatu yang dicintainya.

79
Abī Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Ansāri al-al-Qurtubī , Jāmi li Ah}ka>m Al-
Qur’a>n, Jilid 14, Beirut-Lebanon: (Dar al-Kutub al-Ilmiyah), 1971, Cet 13, Hlm 149.
80
Kemenag, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019, (Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an) Cet 1, 2019. surat-ali-imran-ayat 31.

60
Begitu juga kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, ketika cinta sudah

tertanam dan tumbuh pada hati seseorang untuk Allah dan Rasul-Nya, maka

seorang mukmin tersebut jiwanya akan patuh serta kuat dalam keikhlasan

menjalankan setiap ibadah dan menjahui segala larangan yang telah

ditetapkan oleh ajaran Islam.

Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dapat menguatkan keikhlasan

dan mengokohkan keyakinan seorang muslim untuk berpegang pada nilai dan

ajaran Islam, muslim tersebut akan senantiasa berada pada jalan ajaran

Rasulullah SAW, baik itu tingkah laku, ucapan ataupun perasaannya dalam

melihat perilaku orang lain ataupun sebuah kejadian akan selalu terjaga, dan

menganjurkan orang lain dengan cara yang ramah tanpa memaksa untuk

mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya yakni agama Islam. Mengikuti Rasul

itu bermacam ragam tindakannya, mengikuti dalam amalan wajib, selanjutnya

mengikuti beliau dalam amalan sunnah muakkad, selanjutnya sunnah-sunnah

yang lain walau tidak muakkad , dan mengikuti beliau, bahkan dalam adat

istiadat dan tata cara kehidupan keseharian beliau, meskipun bukan

merupakan ajaran agama, mengikuti dalam memilih model dan warna alas

kaki bukanlah bagian dari agama, tetapi bila itu dilakukan demi cinta dan

keteladanan kepada Nabi Muhammad, maka Allah tidak akan membiarkan

seseorang yang cinta kepada Nabi Muhammad bertepuk sebelah tangan.81

Ungkapan rasa syukur atas nikmat keislaman yang ditujukan kepada

Rasulullah atas seluruh jasa dan pengorbanannya yang telah menuntun umat

81
Shihab, [Link], Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta:
Lentera Hati, 2002, Hlm 69-70

61
manusia ke jalan yang benar yakni agama Islam. Sekaligus rasa syukur

kepada Allah. Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap kepada

Rasulullah sambil berucap, “dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan

aku dari siksanya”, saat itu, hanya syafaat Rasulullah yang dapat

menyelamatkan umat manusia dari siksa. Syafaat yang merupakan bantuan

dari Nabi ‫ ﷺ‬dengan izin Allah serta menjadi rahmat bagi alam semesta ini,

khusus umat Islam.82 Sebagaimana perintah shalawat dalam al-Qur’an, Maka

shalawat Merupakan hal yang sebaiknya untuk dilakukan oleh semua orang

yang mengaku dirinya beriman. Shalawat atas Nabi itu bukan lantaran Nabi

Saw memerlukannya, karena kalau seandainya ia memerlukan maka shalawat

malaikat pun tidak ada gunanya sebab Allah sudah bershalawat atasnya. Maka

pada hakikatnya, Shalawat atas Nabi itu merupakan perwujudan dari

mengagungkannya agar supaya kita diberi pahala oleh Allah SWT.83 Maka

kesimpulan dari pembahasan sub bab ini adalah :

Pertama, membaca shalawat merupakan suatu ibadah yang sangat

dianjurkan, karena menjalankan perintah Allah dan mengagungkan kekasih-

Nya yakni Nabi Muhammad SAW,

Kedua, membaca shalawat merupakan lantaran untuk dapat

bertaqarrub dan mengenal Allah, serta memuji Nabi SAW, dengan hal itu

juga kita dapat mengenal agama Islam secara lebih baik dan dalam, dan akan

membiasakan diri untuk selalu meneladani dan mengikuti Nabi SAW, baik

Habib Abdullah Assegaf, Mukjizat Shalawat, (Jakarta: Qultum Media, 2009), hlm. 2.
82

Muhammad Ali as}-S}a>buni, Rawa>i’ al-Baya>n Tafsi>r Âya>t al-Ah}ka>m Min Al-
83

Qur’a>n, Cet 3, Maktabah al-Ga>zali, 1980 M. Hlm 364.

62
secara ucapan, tindakan, dan sikap agar lebih terarah dalam mengarungi

kehidupan di dunia hingga akhirat.

Ketiga, membaca shalawat merupakan kebutuhan dari seorang

mukmin sendiri, karena dengan membaca shalawat seorang mukmin akan

mendapatkan beberapa kebaikan dari Allah, diantaranya ialah di do’a kan dan

dimintakan ampunan oleh malaikat.84

Empat, memperbanyak membaca shalawat akan mendpatkan

kedudukan yang utama di sisi Nabi kelak di akhirat, dan akan memperoleh

syafa’at darinya.85

Lima, menurut para ulama membaca shalawat wajib bagi seorang

mukmin ketika mendengar nama Nabi SAW disebutkan, menurut imam al-

Syafi’i juga wajib membaca shalawat di dalam tasyahud awal dan akhir

ketika melakukan shalat dan wajib ketika didalam khutbah jum’at.

Enam, dan menurut sepakat ulama membaca shalawat di selain poin

nomer lima yang telah penulis tulis tadi hukumnya sunnah mu’akkadah.

84
Lihat hadis ini yang di nukil as}-S}a>buni di dalam tafsirnya:

َ‫منَصلىَعليَواحدةَصلىَللاَعليهَِباَعشرا‬
“Barangsiapa yang bershalawat atasku(Nabi Muhammad) sekali, Maka Allah akan
bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Tirmidzi). Muhammad Ali as}-
S}a>buni, Rawa>i’ al-Baya>n Tafsi>r Âya>t al-Ah}ka>m Min Al-Qur’a>n,
Cet 3, Maktabah al-Ga>zali, 1980 M. Hlm 364.
85
Lihat di kitabnya dengan nukilan hadisnya:
‫َإنَأوىلَالناسَبَيومَالقيامةَأكثرهمَصالة‬:َ‫وقالَصلىَللاَعليهَوسلم‬

Nabi Saw. bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling utama dalam pandanganku
pada hari kiamat nanti ialah orang yang paling banyak bershalawat atasku". (HR.
Tirmidzi dan ia berkata hadis ini hasan gharib). Muhammad Ali as}-S}a>buni,
Rawa>i’ Muhammad Ali as}-S}a>buni, Rawa>i’ al-Baya>n Tafsi>r Âya>t al-
Ah}ka>m Min Al-Qur’a>n, Cet 3, Maktabah al-Ga>zali, 1980 M. Hlm 364.

63
Tujuh, membaca shalawat membuktikan bahwa kita orang beriman

mengagungkan Nabi SAW, dan dengan kasih sayang Allah kepada kita, Allah

memberikan pahala kepada kita dengan membaca shalawat tersebut.

Delapan, membaca shalawat merupakan salah satu cara untuk

bersyukur terhadap nikmat iman dan islam yang telah di anugerahkan Allah

kepada hamba pilihan-Nya.

E. Studi Komparatif

1. Hakikat Studi Komparatif

Dari banyak metode penelitian yang digunakan oleh kalangan

akademisi, Komparatif merupakan salah satunya yang cukup populer oleh

mereka para akademis. Begitu juga penggunaannya untuk meneliti al-Qur’an

dan Tafsir, menurut KBBI secara bahasa kata komparatif berarti perbandingan

atau membandingkan. Istilah studi komparatif sebenarnya merupakan suatu

metodologi penelitian dalam ilmu sosial yang bertujuan untuk membuat

perbandingan di berbagai negara atau budaya. 86 Didalam perkembangan

penelitian al-Qur’an dan tafsir juga ditemukan model penelitian seperti

komparatif namun berbeda istilah kata penyebutannya, yang biasa disebut

dengan istilah Muqaran.

Muqaran diambil dari bahasa Arab dari masdar kata Qa>rana -

Yuqa>rinu – Muqa>ranatan. Kata muqaran secara bahasa bermakna

menghubungkan atau menghimpun sesuatu terhadap sesuatu lainnya.87 Secara

86
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, Cet.7. Yogyakarta: Idea Press
Yogyakarta, 2022. Hlm 117.
87
Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006),
Hlm 328.

64
terminologis yaitu menafsirkan surat-surat tertentu atau ayat Al-Qur’an

dengan cara membandingkan ayat Al-Qur’an dengan hadis Nabi Saw,

membandingkan ayat yang satu dengan ayat lainnya, atau membandingkan

pendapat para ulama mufasir dengan cara menunjukan perbedaan-perbedaan

yang mencolok dari objek yang sedang dibandingkan.

Menurut Muin Salim, Metode muqarran merupakan sebuah metode

yang digunakan untuk membahas ayat Al-Qur’an yang didalamnya memiliki

kesamaan redaksi tetapi topik yang ada dalam ayat tersebut berbeda, dan juga

berlaku sebaliknya dengan redaksi berbeda namun topik didalamnya sama.

Tafsir muqaran dikenal dengan tafsir yang menjelaskan Al-Qur’an dengan

memakai cara komparatif atau dikenal dengan metode perbandingan.

Terdapat mufassir yang membandingkan di antara ayat Al-Qur’an dengan

hadis Nabi SAW, meskipun secara lahiriyah keduanya memiliki perbedaan.

Secara teoritik, penelitian ini bisa mengambil beberapa macam

pertama, perbandingan antar tokoh, misalnya tokoh yang masih sezaman

seperti pandangan jilbab menurut tokoh Fazlur Rahman dan Muhammad

Syahrur, kedua perbandingan antar pemikiran mahzab tertentu dengan yang

lain. Misalnya “Konsep Syafaat dalam al-Qur’an menurut Sunni dan Syi’i:

Studi atas Tafsir al-Maragi dan Tafsir al-Mizan”, ketiga, perbandingan antar

waktu. Misalnya membandingkan pemikiran tafsir klasik dengan

modern/kontemporer, keempat, perbandingan satu kawasan tertentu dengan

kawasan lainnya.

65
Secara teknis ada dua cara yang biasa digunakan dalam sebuah

penelitian. Pertama, separated comparative method, yaitu model

perbandingan yang cenderung terpisah. Jadi, ketika membandingkan sesuatu,

cenderung hanya menyanding saja. Kedua, integrated comparative method,

yaitu sebuah cara membandingkan yang lebih bersifat menyatu dan

teranyam. 88 Maksudnya seorang peneliti berusaha mencari artikulasi pada

setiap aspek tertentu yang dapat menjembatani kedua konsep tokoh yang akan

dikaji. Penulis mencoba menggunakan separated comparative method ini

sebagai metode analisis pada skripsi ini.

2. Tujuan Studi Komparatif

Dengan melakukan penelitian komparatif, seorang peneliti dapat

menganalisis suatu konsep dengan lebih jelas secara ontologis. Secara

metodologis, tujuan penelitian komparatif adalah sebagai berikut:

a.) Mencari aspek persamaan dan perbedaan

Seorang peneliti akan mencari dan menganalisis apa saja aspek-aspek

persamaannya, dan juga aspek-aspek perbedaan antara keduanya.

b.) Mencari kelebihan dan kekurangan pemikiran tokoh

Setiap pemikiran suatu tokoh pastinya memiliki pemikiran yang

terlihat lebih atau unggul, dan juga memiliki sisi kekurangannya, maka setiap

peneliti harus dapat menganalisis dan mengungkapkan tabir didalam

keduanya.

c.) Mencari sintesa kreatif dari hasil analisis pemikiran kedua tokoh

88
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, Cet.7. Yogyakarta: Idea Press
Yogyakarta, 2022. Hlm 119.

66
Sintesa kreatif ini bisa diartikan upaya mengkombinasikan dan

menggabungkan aspek-aspek keunggulan dua konsep yang dikaji, yang

kemudian disimpulkan secara sistematik membentuk bangunan pemikiran

yang tersendiri.89

3. Metode Studi Komparatif

Metode Studi Komparatif sebenarnya tidak jauh berbeda dengan riset-

riset yang lainnya. Namun dalam studi komparatif ini lebih nampak uraian-

uraian perbandingannya. Berikut ini langkah-langkah di dalam studi

komparatif:

1) Merumuskan tema pembahasan yang akan di kaji

2) Menetapkan aspek-aspek yang akan diperbandingkan.

3) Melakukan pencarian konsep yang berkaitan dan latar belakang yang

mempengaruhi antar konsep.

4) Menampilkan sesuatu yang khas dari pemikiran tokoh masing-masing,

aliran atau kawasan yang dikaji.

5) Menganalisis penyelidikan teks secara intensif dan kritis disertai

dengan argumentasi data yang akurat.

6) Menarik sebuah kesimpulan setelah melakukan penyelidikan teks

untuk menjawab permasalahan di dalam kajian.90

89
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, Cet.7. Yogyakarta: Idea Press
Yogyakarta, 2022. Hlm 121.
90
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, Cet.7. Yogyakarta: Idea
Press Yogyakarta, 2022. Hlm 122.

67

Anda mungkin juga menyukai