Ajaran Susila dalam Bhagavad Gita
PENGERTIAN SUSILA
Kata Susila terdiri dari dua suku kata “Su” dan “Sila”. “Su” berarti baik, indah, harmonis.
“Sila” berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar
sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
Pengertian Susila menurut pandangan Agama Ilindu adalah tingkah laku hubungan timbal
balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan)
yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang
AJARAN SUSILA YANG TERDAPAT DALAM Kitab BHAGAVAD GITA
Penekanan tentang Susila dalam Bhagavad Gita, pala Bab XVI, dimana Sri Krsna memberikan
pelajarannya pada Arjuna, yaitu menjelaskan tentang sifat-sifat baik ataupun buruk manusia.
Orang-orang yang bersifat rendah hanya memandang alam semesta ini sebagai kumpulan
material.
Dalam pandangan mereka, makhluk hidup ada hanya karena hubungan seksual tanpa ada
campur tangan Tuhan. Bagi mereka, Tuhan dianggap tidak ada. Hidup orang-orang semacam
ini hanya dipenuhi oleh pemusan nafsu dan amurah. Dan amarah muncul ketika nafsu tak
terpuaskan.
Sri Krsna menjelaskan tiga pintu gerbang menuju neraka yaitu Kama (hawa nafsu, keinginan),
Krodha (amurah), dan Lobha (keloban, rakus) yang harus dihindari apabila orang
menginginkan pencapaian kebahagiaan sejati.
Dalam Bab ini disampaikan sifat rohani dan sifat jahat. Sifat rohani yang dimiliki oleh orang
suci, terperinci dengan jelas, Sifat rohuni menguntungkan bagi pembebasan, sedangkan sifat
jahat mengakibatkan ikatan. Ikatan yang terlalu kuat akan menjadikan orang jatuh ke neraka.
Disebutkan pula oleh Sri Krsna kepada Arjuna, bahwa manusia dilahirkan dengan sifat-sifat,
oleh karena itu mereka harus mematuhi aturan yang tertulis dalam kitab suci yang dapat
dipercaya.
Ajaran tentang Susila dalam Bhagavad Gita juga terdapat pada Bab XVII, yaitu Krsna
menjelaskan pada Arjuna bahwa alam ini dipengaruhi oleh Tri Gunaya, yaitu tiga sifat alam
material yang terdiri dari Sattva-guna (kebaikan), Raja-guna (kenafsuan), Tamas- guna
(kegelapan, kebodohan). Karakter manusia ditentukan oleh unsur mana atau sifat ulum yang
mana yang dominan didalam dirinya.
Pada pembahasan ini kami mencantumkan tiga loka yang menekankan tentang ajaran Susila
dalam Bhagavad Gita, yaitu pada Bab XVII Sloka 14, 15, dan 16.
Bab XVII Sloka 14:
Deva-dvija-guru-prajna Pujanam soucam orjuvam Brahmacaryam ahimsa ca Sariram tapa
ucyate
Artinya:
Melakukan pemujaan sepantasnya kepada para Dewa, para Brahmana, guru spiritual (hupak,
ibu), menjaga kebersihun, kesederhanaan, berpantang hubungan seksual dan tidak
melakukan kekerasan, semua ini dikatakan sebagai pertapaan badan.
Bah XVII Sloka 15:
Anudvega-karam vakyam Satyam priya-hitam ca yat Svadhyayabhyasanam caiva Van-
trayam lupu ucyate
Artinya:
Kata-kata yang tidak menyebabkan perasaan orang lain terganggu, jujur, menyenangkan
dan mengandung kebaikan serta kata-kata yang dipergunakan untuk belajar serta
mempraktekkan pembacaan kitab suci Veda, semua itu dikatakan sebagai pertapaan kata.
Bab XVII Sloka 16:
Manah-prasadah saunyatvam
Mounam atma-vinigrahah
Bhava-samuddhirity etat
Tapo manasam ucvate
Artinya:
Pikiran yang puas dalam segala keadaan, kesadaran yang menyejukkan, saka merenung,
suka mengendalikan pikiran, berusaha sepenuhnya menyucikan pikiran, semua itu
dikatakan sebagai pertapaan pikiran