0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
518 tayangan5 halaman

Amsal

Makalah ini membahas tentang kitab Amsal yang berisi hikmat dan ajaran untuk hidup dengan benar. Teologi utama kitab ini adalah takut akan Tuhan yang berarti mengenal dan menghormati Dia.

Diunggah oleh

Ayub Boana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
518 tayangan5 halaman

Amsal

Makalah ini membahas tentang kitab Amsal yang berisi hikmat dan ajaran untuk hidup dengan benar. Teologi utama kitab ini adalah takut akan Tuhan yang berarti mengenal dan menghormati Dia.

Diunggah oleh

Ayub Boana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KITAB AMSAL

Kelompok : III
Nama Kelompok : * Sastri Gea * Ronaulina
*Ayub * Labora Sastri

Mata Kuliah : Kitab-Kitab Puisi


Dosen Pengampu : Yupiter Mendrofa ., M.Th

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BINA MUDA WIRAWAN MEDAN


SUMATERA UTARA T.A 2023/2024
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 Pengantar Full Life/Amsal


Penulis : Salomo dan Orang Lain
Tema : Hikmat untuk Hidup dengan Benar
Tanggal Penulisan: Sekitar 970-700 SM

PL Ibrani secara khusus terbagi atas tiga bagian: Hukum, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-Tulisan
(bd. Luk 24:44). Termasuk dalam bagian ketiga ialah kitab-kitab Syair dan Hikmat seperti Ayub,
Mazmur, Amsal, dan Pengkhotbah. Demikian pula, Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba
Tuhan: para imam, para nabi, dan para bijak ("orang berhikmat"). Kelompok orang bijak
khususnya dikaruniai hikmat dan nasihat ilahi mengenai masalah-masalah kehidupan yang
praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan.

 Sifat-sifat kitab Amsal


Kitab Amsal bersifat hikmat dan ajaran serta nasihat. Kitab Amsal biasanya membuat
kita teringat akan perkataan- perkataan pendek yang memuat nasihat-nasihat praktis
tentang bagaimana seseorang dapat hidup dengan baik. Memang kitab ini penuh
dengan ajakan, larangan, serta pengamatan seperti ini. Hikmat merupakan pusat dari
kitab amsal, namun kata ini juga didukung oleh lumayan banyak ide dan kata lain
yang saling terkait. Berdasarkan hasil studi para pakar terhadap berbagai kata yang
berhubungan erat dengan kata Ibrani bagi “hikmat” (hokma), kita dapat memperoleh
pemahaman yang lebih lengkap tentang hakikat hikmat.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Teologi Kitab Amsal

Teologi Kitab Amsal adalah takut akan Tuhan, konsep ini berkaitan dengan pengenalan akan
Allah yang berbeda dengan agama-agama kafir kuno yang diselimuti kegentaran terhadap dewa
mereka tanpa mengenalnya. Takut akan Tuhan bukan hanya masalah teoritis, tetapi hanyalah
praktis dan di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. “Takut akan TUHAN adalah permulaan
pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. (Ams. 1:7) Alkitab
menggunakan beberapa kata untuk mengartikan takut atau ketakutan. Yang paling umum ialah
Ibrani “yir’a” dan “pakhad” Yunani “fobos”. “Secara teologis dapat dikemukakan empat yang
utama ialah ketakutan yang kudus, takut diperbudak, takut kepada manusia, dan yang disegani1.
Takut akan TUHAN berarti merasa gentar (ngeri) atau segan terhadap yang Mahatinggi,
Mahamulia, Mahakudus, dan Mahakuasa. “takutakan TUHAN merupakan ketakutan yang kudus,
dimana sikap ini adalah dampak dari pengenalan orang percaya akan Allah yang hidup. Takut
dalam arti ‘perasaan takut’, maupun ‘ketakutan yang amat sangat’. Dalam Luk. 21:11, TB LAI
memilih kata ‘mengejutkan’. Namun, dalam Ibr. 10:31, TB LAI menterjemahkan ‘ngeri.2
1
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995), 438-439.
2
W.R.F. Kamus Alkitab, (Jakarta: PT.BPK. Gunung Mulia, 2007), 434
Ada banyak hal yang seringkali membuat manusia mengalami rasa takut seperti takut akan
kegelapan. Takut akan kematian. Takut akan ketinggian. Takut akan kehilangan orang-orang
yang dicintai dan banyak lagi jenis ketakutan lainnya. Sebagian bahkan membutuhkan terapi
untuk mengatasi semua rasa takut tersebut. Takut akan TUHAN bukan seperti itu. Takut akan
Tuhan adalah kesadaran akan kekudusan, keadilan dan kebenaran-Nya sebagai pasangan
terhadap kasih dan pengampunanNya, yaitu: mengenal Dia dan memahami sepenuhnya siapakah
Dia (bd. Ams 2:5). Takut akan Tuhan berarti memandang Dia dengan kekaguman dan
penghormatan kudus serta menghormati-Nya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan,
keagungan, dan kuasa-Nya yang besar (Flp 2:12).3 Takut akan TUHAN adalah wujud ketakutan
yang sehat. Artinya manusia menghormati Dia, patuh dalam penghakiman-Nya atas dosadosa,
berpegang pada Dia, mengenali Dia sebagai TUHAN yang Absolut dan memuliakan-Nya. Takut
akan TUHAN akan membawa manusia lebih dekat kepada TUHAN, bukan menjauh dari-Nya.
Orang-orang Kristen yang percaya kepada TUHAN memilki rasa takut yang berbeda dengan rasa
takut yang dimiliki oleh orang di luar TUHAN. Rasa takut yang dimiliki oleh orang percaya
lebih mengarah kepada “penghormatan” akan Dia bukan takut karena adanya suatu “hukuman”
yang akan diterimanya. Banyak orang Kristen mempunyai persepsi yang salah tentang arti takut
akan TUHAN. Kebanyakan orang Kristen mendefinisikan takut akan TUHAN dengan ketaatan
melakukan perintah TUHAN karena rasa takut akan hukuman padahal rasa takut akan TUHAN
yang benar harus lahir karena hubungan bukan karena rasa takut akan hukuman, seharusnya
takut akan TUHAN bukan karena takut TUHAN marah bila kita tidak taat melainkan kita takut
karena kita mengasihi Dia.

 Argumentasi kanonik

Setiap orang harus mengetahui dan mengenal tentang TUHAN, terlebih dahulu setiap
orang harus mengetahui dan mengenal tentang TUHAN atau Allah yang sedang dan
akan dibicarakan selanjutnya. Siapakah Dia? Bagaimanakah keberadaan-Nya?
Mengapa harus takut terhadap Dia? Apa yang dapat Dia lakukan bagi manusia?
Seperti apakah Dia? Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas sangat penting
dipertanyakan oleh setiap orang Kristen yang percaya kepada TUHAN. Bahkan masih
banyak lagi pertanyaan-pertanyaan penting lainnya. Oleh karena itu, perlu mengenal
Dia terlebih dahulu lewat keberadaan diri-Nya sebelum mengetahui konsep tersebut.

3
Ibid
BAB III
Kesimpulan

Sebagai umat Allah, manusia telah dikaruniakan akal budi serta berbagai hal untuk
dapat melakukan setiap hal yang benar dalam dunia ini. Manusia perlu melihat dan
memahami dengan betul setiap tindakan atau sikap yang akan dilakukan dalam
memutuskan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya. Hikmat, yang merupakan
anugerah besar dari Allah telah disediakan untuk dapat dihidupi oleh UmatNya
dengan tepat. Dengan hikmat, manusia dapat mengenal dan merasakan akan
kehadiran Allah. Mungkin sepintas, hikmat ini terlihat sulit untuk kita berlakukan
dalam kehidupan kita, namun kita dapat belajar tentang hikmat itu sendiri melalui
tulisan-tulisan yang terdapat dalam Alkitab yang banyak berbicara tentang hikmat.

Common questions

Didukung oleh AI

'Fear of the Lord' contributes to personal life by fostering individual integrity and ethical behavior through a conscious recognition of God's presence. In community life, it creates a moral framework that underpins social interactions and justice, enhancing communal harmony and collective dedication to divine principles .

'Fear of the Lord' is a holy reverence, distinct from irrational fears like fear of darkness or heights. It involves awe and respect for God's holiness, justice, and power, driving believers towards closeness with God rather than away due to fear of punishment . It is not fear in the punitive sense but a relational and respectful acknowledgment of God’s nature .

In ancient Israel, the wise people, also known as 'orang berhikmat', were a group of servants of God endowed with divine wisdom and guidance on practical and philosophical life issues. This group complemented the priests and prophets, offering insights into living a rightful life based on wisdom, as reflected in the Book of Proverbs .

Wisdom in Proverbs is practical as it provides guidance on day-to-day living, offering pithy maxims for ethical conduct, such as avoiding folly and embracing hard work. Philosophically, it addresses life's deeper questions by integrating fear of the Lord into understanding existence and morality. This dual nature ensures wisdom encompasses both daily actions and existential reflections .

Distinguishing 'fear of the Lord' from punishment-based fear is crucial because it reframes religious adherence from mere compliance to a deeper, respectful relationship with God. This shift encourages sincere devotion out of love and recognition of God's majesty, rather than dread of punitive consequences .

The document argues that equating 'fear of the Lord' with fear of punishment misconstrues the relationship between believers and God. True fear of the Lord arises from love and awe, recognizing God's majesty rather than reacting out of fear of retribution. This understanding shifts the focus to genuine worship and faithful obedience rooted in respect .

Understanding God's attributes—such as holiness, justice, and omnipotence—is crucial for developing 'fear of the Lord'. Such knowledge cultivates an informed awe and respect, encouraging believers to align their actions with God’s will, thus deepening their wisdom and righteousness rather than adhering out of fear of punishment .

Proverbs illustrates human wisdom as an attainable reflection of divine wisdom when one aligns with God’s principles, primarily through fear of the Lord. Divine wisdom transcends human understanding, providing an objective moral compass for humans to emulate through respect, reverence, and ethical living .

The Book of Proverbs is part of the Writings, the third section of the Hebrew Bible. Its significance lies in offering practical wisdom through short sayings predominantly ascribed to Solomon. These proverbs provide divine insight and guidance for living rightly, underpinning its theological message of fearing God .

Proverbs positions 'fear of the Lord' as the beginning of knowledge by emphasizing that understanding and wisdom stem from a reverential awareness of God’s character and authority. This foundational fear is depicted as essential for approaching life with discernment and righteousness .

Anda mungkin juga menyukai