Etprof
Etprof
Nim : 210200102
Matkul : Etika Profesi Hukum (F)
Dosen pengampu : Yati Sharfina Desiandri,SH, MH
(28 MEI 2023)
1) Polisi
menurut KBBI, Polisi adalah badan pemerintahan yang bertugas memilahara keamanan dan
ketertiban umum.
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri ) adalah Kepolisian Nasional di Indonesia, yang
bertanggung jawab langsung di bawah Presiden. Polri mengemban tugas-tugas kepolisian di
seluruh wilayah Indonesia.Polri dipimpin oleh seorang Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Kapolri).
Untuk menegakkan Etika Profesi Polri maka setiap pimpinan disetiap tingkatan Polri (Polsek,
Polres, Polwil, Polda dan Mabes), dituntut mampu memberikan sanksi kepada Anggota Polri
yang melakukan pelanggeran melalui Sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) maupun Sidang
Disiplin. Penegakan etika dan disiplin kepada Anggota Polri diharapakan dapat dilaksanakan
oleh setiap Kepala Satuan Organisasi Polri selaku Atasan Yang Berhak Menghukum (Ankum)
di-seluruh tingkatan sehingga pelanggaran sekecil apapun harus ditindak lanjuti dengan tindakan
korektif atau sanksi. Kode Elik Profesi Polri (KEPP) adalah norma-norma atau aturanaturan yang
merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis yang berkaitan dengan perilaku maupun ucapan
mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, patut, atau tidak patut dilakukan oleh Anggota Polri
dalam melaksanakan tugas, wewenang,T5G dan tanggung jawab jabatan. (Pasal 1 angka 5
Perkap Nomor 14 Tahun 2011, Tentang Kode Etik Profesi Polri). Penyelesaian pelanggaran
disiplin terhadap jajaran anggota Polri telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah
No 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Kode Etik Profesi Kepolisian yang diatur di dalam Konsiderans Peraturan Kapolri Nomor 14
Tahun 2011:
a. Bahwa pelaksanaan tugas, kewenangan, dan tanggung jawab anggota KepolisianNegara
Republik Indonesia harus dijalankan secara profesional, proporsional, dan prosedural yang
didukung oleh nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Tribrata dan Catur Prasetya dijabarkan
dalam kode etik profesi kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai norma
berperilaku yang patut dan tidak patut.
b.Bahwa penegakan kode etik profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia harus dilaksanakan
secara obyektif, akuntabel, menjunjung tinggi kepastian hukum dan rasa keadilan (legal and
legitimate), serta hak asasi manusia densan memperhatikan jasa pengabdian anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia yang diduga melangar kode etik profesi Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
c. Bahwa selaras dengan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mengamanatkan pengaturan Kode Etik
Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia;
d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c,
perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Kode Etik
Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia;
Anggota Polri yang melakukan pelanggaran atau tindak pidana diadukan atau dilaporkan
oleh masyarakat, yang disampaikan kepada pimpinan Polri, Unit Provos atau Unit Pelayanan
Kepolisian.
Unit Provos kemudian menindaklanjuti laporan atau aduan tindak pidana tersebut dengan
melakukan pemeriksaan pendahuluan (penyelidikan). Dalam pemeriksaan pendahuluan
(penyelidikan) ini apabila alat bukti dirasa belum lengkap oleh Unit Provos maka. kewenangan
penyelidikan diambil alih oleh Unit Paminal. Unit Paminal tidak hanya melakukan penyelidikan
untuk mencari alat bukti tetapi juga mengamankan segala sesuatu yang berhubungan dengan
kasus tindak pidana tersebut dalam kaitannya dengan ada atau tidaknya kode etik profesi Polri
yang dilanggar sehingga kasusnya tidak menjadi melebar atau agar masalah tidak berkembang
menjadi lebih parah.
Unit Reskrim melakukan penyelidikan hanya untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti
yang berhuhungan dengan tindak pidana tersebut. Alat bukti yang didapatkan oleh Paminal dan
Reskrim telah diperoleh suatu dugaan kuat telah terjadi pelanggaran kode etik dan adanya findak
pidana, maka selanjutnya unit Paminal memberikan laporan kepada Unit Provos untuk kemudian
dilanjutken pada proses penyidikan terhadap adanya pelanggaran kode etik dan Unit Reskrim
melanjutkan pada proses penyidikan terhadap tindak pidana yang telah terjadi sesuai dengan
yang telah diatur pada KUHAP.
Penyidikan yang dilakukan oleh Provas benar-benar telah terbukti hahwa terjadi adanya
pelanegaran kode etik. dalam hal ini juga diperkuat dengan adanya bukti yang diperoleh penyidik
reskrim bahwa telah teriadi suatu tindak pidana, maka selanjutnya Provos
menyerahkan/mengirimkan berkas perkara kepada pejabat yang berweriang (Kapoiri, Kapolda,
Kapoires) dan mengusulkan untuk dibentuk Komisi Kode Etik Poiri,
Setelah menerima berkas perkara tersebut, kemudlan pejabat yang berwenang (Kapoiri, Kapolda,
Kapolres) meminta saran dari pengemban fungsl Pembinaan Hukum terhadap berkas perkara
adanya pelanggaran kode etik tersebut dan selanjutnya pejabat vang berwenang membentuk
Komisi Kode Etik. Suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang anggota Polri dikatakan sebagai
pelanggaran kode etik, apabila anggota
Poiri tersebut telah melakuker perbuatan tidak sebagaimana yang diatur dalam peraturan Kode
Etik Profesi Polri.
Dalam Kode Elik Profesi Polri diatur. mengenal adanya suatu kesadaran moral dalam hati
nurani setlap anggota
Poiri sehingga setlap anggota Poiri yang telah memilah kepolisian sebagai profesinya, dengan
rasa sadar dan penuh tanggung jawab menjalankan kewajibannya sesual dengan aturan stau
norma yang mengikat baginya, 4 (empat) kelompok nilai moral vaitu:
1. Etlka Kepribadian
2. Etika Kenegaraan
3. Etika. Kelembagaan
4. Etika Kerasyarakatan
Sidang Komisi Kode Etik terhadap anggota Polri yang melakukan tindak pidana dapat
dilaksanakan apabila telah ada putusan dari pengadilan umum yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap. Apabila sidang Komisi Kode Etik dilaksanakan terlebih dahulu sebelum sidang di
peradilan umum, maka putusan dari sidang Komisi Kode Etik akan menjadi cacat. Sehingga
dapat dikatakan bahwa sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri yang dilaksanakan terlebih dahulu
sebelum sidang peradilan umum terhadap anggota Polri yang dapat melakukan tindak pidana
tidak akan menunjukkan nilai-nilai keadilan. Pelanggaran Kode Etik Profesi Poiri berupa
melakukan tindak pidana akan dikenakan sanksi sebaraimana yang diatur dalam PP No. 1 Tahun
2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri yaitu sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat
(PTDH).
Contoh (kode etik polisi)
Ketika polisi melakukan hal yang berlawanan dengan prinsip, wewenang atau norma –
norma yang berlaku, maka sudah dapat dikategorikan sebagai pelanggaran kode etik
profesi. Sebenarnya prinsip pelanggaran kode etik hampir sama di setiap profesi, yakni
mencederai citra dari profesi tersebut.
Ketika polisi melanggar kode etik misalnya, maka bukan hanya jati diri profesi tersebut
yang dijera, tetapi juga membuat nama baik atau citranya jadi buruk di masyarakat.
Banyaknya kasus polisi yang dilaporkan ke propam menjadi salah satu bukti banyak
polisi yang melanggar kode etik.
Pelanggaran kode etik umumnya terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap tujuan
dan prinsip kode etik tersebut. Polisi tidak sadar akan tugas utama dan kewajibannya,
sehingga tanpa sadar sudah melakukan hal yang melanggar kode etik.
Polisi yang melakukan korupsi, menggunakan narkoba, memeras, menipu, dan lainnya
merupakan contoh pelanggaran kode etik profesi dan juga tindakan melanggar hukum.
2) Jaksa
Jaksa adalah pegawai negeri sipil dengan jabatan fungsional yang memiliki kekhususan
dan melaksanakan tugas, fungsi, dan kewenangannya berdasarkan Undang-Undang.
Kode Perilaku Jaksa adalah serangkalan norma penjabaran dari Kode Etik Jaksa, sebagai
pedoman keutamaan mengatur perilaku Jaksa baik dalam menjalankan tugas profesinya, menjaga
kehormatan dan martabat profesinya, maupun dalam melakukan hubungan kemasyarakatan di
luar kedinasan.
Dalam Kode Etik Profesi Jaksa itu atau dalam istilah lainnya Kode Perilaku Jaksa itu dimuat apa
yang menjadi kewajiban dan larangan bagi seorang Jaksa dalam menjalankan fungsinya.
Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: PER-067/A/JA/07/2007,
kewajiban dan larangan bagi seorang Jaksa adalah sebagai berikut:
Dalam melaksanakan tugas profesi, Jaksa wajib:
mentaati kaidah hukum, peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku;
menghormati prinsip cepat, sederhana, biaya ringan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan;
mendasarkan pada keyakinan dan alat bukti yang sah untuk mencapai keadilan dan kebenaran;
bersikap mandiri, bebas dari pengaruh, tekanan /ancaman opini publik secara langsung atau tidak
langsung;
bertindak secara obyektif dan tidak memihak;
memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka /terdakwa maupun
korban;
membangun dan memelihara hubungan fungsional antara aparat penegak hukum dalam
mewujudkan sistem peradilan pidana terpadu;
mengundurkan diri dari penanganan perkara yang mempunyai kepentingan pribadi atau keluarga,
mempunyai hubungan pekerjaan, partai atau finansial atau mempunyai nilai ekonomis secara
langsung atau tidak langsung;
menyimpan dan memegang rahasia sesuatu yang seharusnya dirahasiakan;
menghormati kebebasan dan perbedaan pendapat sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan
perundang-undangan;
menghormati dan melindungi Hak Asasi Manusia dan hak-hak kebebasan sebagaimana yang
tertera dalam peraturan perundang-undangan dan instrumen Hak Asasi Manusia yang diterima
secara universal;
menanggapi kritik dengan arif dan bijaksana;
bertanggung jawab secara internal dan berjenjang, sesuai dengan prosedur yang ditetapkan;
bertanggung jawab secara eksternal kepada publik sesuai kebijakan pemerintah dan aspirasi
masyarakat tentang keadilan dan kebenaran.
3). Advocad
Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar
pengadilan yang memenuhi persvaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini.(Pasal 1
angka 1 UU Advokat).
* bahwa Negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bertujuan mewujudkan tata kehidupan
bangsa yang sejahtera, aman, tenteram, tertib, dan berkeadilan
* bahwa Advokat sebagai profesi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam
menegakkan hukum, perlu diamin dan dilindungi oleh undang-undana demi terselenagaranva
upava penegakan supremasi hukum;Meniaga kewibawaan para advokat.
Advokat dan Officium Nobile Advokat merupakan. satu-satunya Profesi yang diberikan gelar
profesi yang mulia (officium nobile), secara professional Advokat bukan membela yang salah,
namun untuk mengembalikan fitrah/hakikat kebenaran, mencapai esensi keadilan, untuk
mengembalikan sesuatu agar berjalan on the track dan on the rule.
Pasal 5 huruf (g) Kode Etik Advokat Indonesia menyatakan bahwa Advokat harus senantiasa
menjunjung tinggi profesi Advokat sebagai profesi terhormat (officium nobile)
Kewenangan Pengawasan Advokat Pasal 6 huruf UU Advokat, Advokat dapat dikenai tindakan
dengan alasan : "melanggar sumpah/janji Advokat dan/atau kode etik profesi Advokat".
Pasal 12 ayat (1) UU Advokat "Pengawasan terhadap Advokat dilakukan oleh Organisasi
Advokat
* Pasal 26 ayat:
(1) Untuk menjaga martabat dan kehormatan profesi Advokat, disusun kode etik profesi
Advokat oleh Organisasi Advokat.
(2) Advokat waib tunduk dan mematuhi kode etik profesi Advokat dan ketentuan tentangDewan
Kehormatan Organisasi Advokat
(3) Kode etik profesi Advokat sebagaimana dimakud pada ayat (1) tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan.
(4) Pengawasan atas pelaksanaan kode etik profesi Advokat dilakukan oleh Organisast Advokat
(5) Dewan Kehormatan Organisasi Advokat memeriksa dan mengadili pelanggaran kode etik
profesi Advokat berdasarkan tata cara Dewan Kehormatan Organisasi Advokat.
(6) Keputusan Dewan Kehormatan Organisasi Advokat tidak menghilangkan tanggung jawab
pidana apabila pelanggaran terhadap kode etik profesi Advokat mengandung unsur pidana.
(7) Ketentuan mengenai tata cara memeriksa dan mengadili pelanggaran kode etik: profesi
Advokat diatur lebih lanjut dengan Keputusan Dewan Kehormatan Organisasi Advokat.
Advokat Sebagai profesi, tidak boleh rangkap jabatan negara kode etik Advokat Indonesia:
Seorang. advokat yang kemudian diangkat untuk menduduki suatu jabatan negara (eksekutif,
legislatif dan judikatif) tidak dibenarkan untuk berpraktek sebagai advokat dan tidak
diperkenankan namanya dicantumkan atau dipergunakan oleh siapapun atau oleh kantor
manapun dalam suatu perkara yang sedang diproses/berialan selama ia menduduki jabatan
tersebut.
Kode Etik Advokat, Menolak Memberi Nasihat dan bantuan hukum (Pasal 3 huruf a)
~ Bebas dan mandiri serta tidak dipengaruhi oleh siapapun (Pasal 3 huruf c)
Advokat dalam perkara-perkara perdata harus mengutamakan penyelesaian dengan jalan damai
(Pasal 4 huruf a)
~ Advokat tidak dibenarkan menjamin kepada kliennya bahwa perkara yang ditanganinva akan
menang (Pasal 4 huruf c)
~ Profesi Advokat adalah profesi yang mulia dan terhormat (officium nobile), dan karenanya
dalam menjalankan profesi selaku penegak hukum di pengadilan sejajar dengan Jaksa dan
Hakim, yang dalam melaksanakan profesinya berada dibawah perlindungan hukum, undang-
undang dan Kode Etik ini (Pasal 8 huruf a)
Pemasangan iklan semata-mata untuk menarik perhatian orang adalah dilarang termasuk
pemasangan papan nama dengan ukuran dan/atau bentuk yang berlebihlebihan (Pasal 8 huruf b).
Sanksi Terhadap Pelanggaran Kode Etik Advokat Indonesia Pasal 16 ayat (1) Kode Etik
Advokat Indonesia, Hukuman yang diberikan dalam keputusan dapat berupa:
* Peringatan biasa.
* Peringatan keras.
4). Hakim
Kode Etik Profesi Hakim,Seorang hakim tidak hanya berkewajiban untuk bertindak adil
pada orang yang berperkara dalam memberikan putusan untuk menvelesaikan sengketa yang
terjadi, tapi juga terkait tugas untuk berlaku adil dalam proses peradilan dengan memperlakukan
mereka yang bersengketa dengan sikap yang sama secara absolut. Pada tanggal 8 April
Desember 2009, Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial membuat Surat Keputusan
Bersama (SKB) Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan Nomor02/SKB/P.KY/IV/200 tentang Kode
Etik danPerilakuHakim. Surat Keputusan Bersama ini mengatur tentang prinsip-prinsip dasar
Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
10 (sepuluh) aturan perilaku Hakim
1. Berperilaku Adil
2. Berperilaku Jujur
3. Berperilaku Arif dan Bijaksana
4. Bersikap Mandiri
5. Berintegritas Tinggi
6. Bertanggung Jawab
7. Menjunjung Tinggi Harga Diri
8. Berdisiplin Tinggi
9. Berperilaku Rendah Hati
10. Bersikap Profesional
Terkait penanganan pengaduan dugaan pelanggaran etik oleh hakim, MA dan KY telah
mengeluarkan Peraturan Bersama Nomor 02/PB/MA/IX/2012-02/PB/P.KY/09/2012 tentang
Panduan Penegakan Kode Etika dan Pedoman Perilaku Hakim (Peraturan Bersama Kode Etik
Hakim). perneriksaan bersama MA-KY juga diperuntukan salah satunya terhadap laporan yang
menarik perhatian publik dan masing-masing lembaga memandang perlu untuk melakukan
pemeriksaan bersama. Terhadap hasil pemeriksaan yang menyatakan terdapat pelanggaran Kode
Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH), KY bisa mengusulkan sanksi kepada MA. Selain
langsung ke MA, laporan dugaan kode etik bisa diadukan kepada, KY mengusulkan ke MA
untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Jika MA menimbang layak, maka dalam waktu 60 hari
sejak hasil telash diterima, MA memberitahukan hasilnya ke KY. Sementara, jika tidak layak
ditindaklänjuti, dalam waktu 30 hari sejak hasil telaah diterima MA wajib memberitahukan ke
KY. Pasal 18 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) masing-masing merinci pelanggaran mulai
pelanggaran ringan, sedang, hingga pelanggaran berat, Aturan yang dirujuk antara lain ketentuan
yang dilarang pada Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 11, dan Pasal 13 Peraturan
Bersama Kode Etik Hakim.
Sementara, khusus untuk pelanggaran terhadap Pasal 12 dan Pasal 14 diklasifikasikan
sebagai pelanggaran ringan, sedang atau berat tergantung dari dampak yang ditimbulkannya.
Sebagai ganjarannya, Pasal 19 ayat (1) membedakan tingkat dan jenis sanksi, mulai sanksi
ringan, sanksi sedang, dan sanksi berat. Keputusan penjatuhan sanksi pelanggaran kode etik dan
pedoman perilaku hakim tidak dapat diajukan keberatan. Sedangkan berdasarkan Peraturan
Bersama MA dan KY Nomor 04/PB/MA/IX/2012 - 04/PB/P.KYIX/2012 tentang Tata Cara
Pembentukan, Tata Kerja, dan Tata Cara Pengambilan Keputusan Majelis Kehormatan Hakim
(Peraturan Bersama MKH), diatur tahapan-tahapan sebelum menjatuhkan sanksi terhadap hakim
selaku pihak terlapor. Pasal 8 ayat (1) Peraturan Bersama MKH menyatakan bahwa pengambilan
keputusan MKH dilakukan secara musyawarah untuk mufakat. Musyawarah majelis MKH itu
sendiri dilakukan dalam sidang yang tertutup. Dalam hal, musyawarah mufakat tidak tercapal,
maka pengambilan keputusan difakukan dengan suara terbanyak. Dan apabila masih belum
tercapai keputusan, maka yang terakhir diambil keputusan yang menguntungkan bagi terlapor.
"Keputusan Majelis Kehormatan Hakim bersifat mengikat dan tidak dapat diajukan keberatan,"
demikian bunyi Pasal 9 ayat (2) Peraturan Bersama MKH..
Pasal 1 angka 1 Peraturan Bersama MKH mendefinisikan MKH sebagai forum pembelaan
diri bagi hakim yang berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan terbukti melanggar ketentuan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta diusulkan untuk dijatuhi sanksi
berat berupa pemberhentian. Meski musyawarah majelis MKH dilakukan dalam sidang yang
tertutup, namun Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa sidang MKH bersifat terbuka untuk umum
kecuali dinyatakan tertutup oleh majelis. Selain itu, paling lama 14 hari kerja sejak ditetapkan
pembentukan MKH, perneriksaan usul pemberhentian oleh majelis wajib diselesaikan. "Setelah
sidang dibuka oleh Ketua Majelis, Terlapor dipanggil masuk ke ruang sidang." sebagaimana
tertulis di Pasal 6 ayat (2).
Untuk diketahui, majelis MKH bersifat tidak tetap. Dalam arti, pembentukan majelis MKH
ini berdasarkan penetapan bersama Ketua MA dan Ketua KY ketika diterima usul pemberhentian
dari MA atau KY. Keanggotaan majelis MKH terdiri dari tiga orang Hakim Agung dam empat
orang Anggota KY. Selain itu, penunjukan ketua majelis MKH sendiri bergantung darimana
datangnya usulan pemberhentian penjatuhan sanksi. Pasal 3 ayat (5) Peraturan Bersama MKH
menyebutkan jika usulan penjatuhan sanksi berasal dari MA, maka Ketua MA menunjuk salah
satu Hakim Agung sebagai Ketua majelis MKH dan satu orang pegawai Badan Pengawas MA
sebagai sekretaris MKH yang bertugas mencatat jalannya persidangan dan membuat berita acara
persidangan. Begitu halnya dengan usulan yang berasal dari KY, nantinya Ketua KY menunjuk
salah satu Anggota KY sebagai Ketua majelis MKH dan satu orang pegawai KY sebagai
Sekretaris MKH Pasal 7 ayat (2) Peraturan Bersama MKH juga menyebutkan, terlapor dapat
didampingi oleh tim pembela dari organisasi profesi Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI). Selain
itu, terlapor juga dapat mengajukan saksi-saksi dan bukti-bukti lain untuk mendukung pembelaan
diri. Tak hanya itu, biaya transport dan akomodasi terlapor dibebankan kepada DIPA (daftar
isian pelaksanaan anggaran) MA atau KY tergantung berdasarkan lembaga mana yang
mengusulkan pelaksanaan MKH.
Contoh (kode etik hakim)
M. Akil Mochtar terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dan Perilaku Hakim Konstitusi. Hal
ini disampaikan oleh Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi Harjono ketika
membacakan Keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) dengan Hakim
Terlapor M. Akil Mochtar pada Jumat (1/11).
“Menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat kepada Hakim Terlapor M. Akil
Mochtar,” ucap Harjono didampingi oleh empat anggota MKMK; Bagir Manan, Moh. Mahfud
MD, Abbas Said dan Hikmahanto Juwana.
Dalam pertimbangan hukum sebagai dasar pengambilan keputusan yang dibacakan oleh Wakil
Ketua Komisi Yudisial Abbas Said, MKMK menyimpulkan perilaku Hakim Terlapor yang
menggunakan kewenangannya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi dalam menentukan
pendistribusian perkara Pemilukada kepada masing-masing Panel Hakim, telah menetapkan
pembagian penanganan perkara Pemilukada yang jumlahnya lebih banyak kepada Panel Hakim
Terlapor daripada Panel Hakim lainnya. Hakim Terlapor selaku Ketua MK mempunyai tugas-
tugas struktural dan administratif lainnya, maka seyogyanya Hakim Terlapor mendistribusikan
perkara kepada masing-masing Panel Hakim sesuai dengan perimbangan dan proporsionalitas
yang diajukan oleh Panitera.
“Dalam praktik yang berlaku sebelumnya, Ketua Mahkamah Konstitusi menangani perkara-
perkara dalam jumlah yang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Panel Hakim yang lain.
Oleh sebab itu, Majelis Kehormatan berkeyakinan bahwa Hakim Terlapor mempunyai motif
untuk mengendalikan perkara ke arah putusan tertentu,” urainya.
Kemudian, terkait dengan perilaku Hakim Terlapor yang saat itu menjabat sebagai Ketua MK
memerintahkan secara langsung Panitera MK untuk berkirim surat yang isinya memerintahkan
penundaan pelaksanaan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). Hal
ini, menurut Abbas, adalah perbuatan yang melampaui kewenangan karena tanpa
dimusyawarahkan dengan para Hakim Konstitusi melalui rapat yang sah terlebih lagi isinya
bertentangan dengan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945, Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2011 yang menentukan putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan
mengikat. “Terhadap perilaku Hakim Terlapor tersebut, Majelis Kehormatan berpendapat bahwa
Hakim Terlapor terbukti melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik dan Perilaku Hakim
Konstitusi yaitu Prinsip Ketiga: Integritas, Penerapan angka 1,” urainya.
Sementara itu, terkait pertemuan dengan Anggota DPR berinisial CHN di ruang kerja Hakim
Terlapor pada 9 Juli 2013 dan dihubungkan dengan peristiwa penangkapan anggota DPR
tersebut yang berada di tempat yang sama dengan Akil pada saat keduanya ditangkap oleh KPK
di rumah jabatan Hakim Terlapor pada 2 Oktober 2013 karena dugaan penyuapan, menimbulkan
keyakinan Majelis Kehormatan bahwa pertemuan tersebut berhubungan dengan perkara yang
sedang ditangani oleh Hakim Terlapor. “Terhadap perilaku Hakim Terlapor tersebut, Majelis
Kehormatan berpendapat bahwa Hakim Terlapor terbukti melanggar Kode Etik dan Perilaku
Hakim Konstitusi yaitu Prinsip Pertama: Independensi, Penerapan angka 1,” mantan Ketua MK
Moh. Mahfud MD sebagai anggota MKMK menjelaskan.
Tidak Terkait Proses Hukum
Untuk menguatkan putusan MKMK tersebut, Harjono menjelaskan pertimbangan juga diambil
berdasarkan ketentuan Pasal 23 ayat (2) UU MK mengenai pemberhentian hakim konstitusi.
Terkait proses hukum yang masih berlangsung bagi Akil di KPK, Harjono menjelaskan
pemberhentian tidak hormat hasil putusan MKMK tidak terkait dengan proses hukum mengenai
tindak pidana. “Jika menunggu sampai adanya putusan tetap (incraht), maka akan memakan
waktu lama. Pemberhentian harus dilakukan karena pelanggaran sudah terbukti,” ujarnya.
Harjono juga mengungkapkan keputusan MKMK akan diberikan kepada Presiden untuk
mengganti SK pemberhentian yang telah dikeluarkan sebelumnya. Menurut Harjono,
pemberhentian karena surat pengunduran diri Akil yang diberikan pada 5 Oktober 2013,
merupakan pemberhentian dengan hormat. “Maka dengan adanya Keputusan MKMK ini
diharapkan Presiden mengeluarkan SK untuk memberhentikan dengan tidak hormat M. Akil
Mochtar dalam waktu 14 hari sesuai peraturan perundang-undangan,” tandasnya.
5) Notaris
Sumpah/Janji Jabatan
Pasal 4 ayat 1 UUJN = Sebelum menjalankan jebatannya, Notaris wajib mengucapkan
sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Menteri atau pejabat yang ditunjuk
Pasal 4 ayat 2 UUJN = Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berbunyi sebagai
berikut: “Saya bersumpah/berjanji:
bahwa saya akan patuh dan setia kepada Negara Republik Indonesia, Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang
Jabatan Notaris serta peraturan perundang-undangan lainnya.
bahwa saya akan menjalankan jabatan saya dengan amanah, jujur, saksama, mandiri, dan
tidak berpihak.
bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan kewajiban
saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya
sebagai Notaris.
bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam
pelaksanaan jabatan saya.
bahwa saya untuk dapat diangkat dalam jabatan ini, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dengan nama atau dalih apa pun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau
menjanjikan sesuatu kepada siapa pun.”
Organisasi Notaris
Pasal 82 ayat 1 UUJN = Notaris berhimpun dalam 1 (satu) wadah Organisasi Notaris
Pasal 1 angka 5 UUJN = Organisasi Notaris adalah organisasi profesi jabatan Notaris yang
berbentu perkumpulan berbadan hukum
Pasal 82 ayat 2 UUJN = Wadah Organisasi Notaris sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah
Ikatan Notaris Indonesia Indonesia.
Perkumpulan berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia
Perkumpulan berdiri sejak tanggal 01 juli 1908
Perkumpulan mempunyai alat perlengkapan:
Rapat anggota
Kepengurusan
Dewan kehormatan
Mahkamah perkumpulan
Dewan kehormatan terdiri dari:
1. Dewan kehormatan pusat
2. Dewan kehormatan wilayah
3. Dewan kehormatan daerah
Tugas dan wewenang dewan kehormatan
Melakukan bimbingan, pengawasan, pembinaan anggota dalam penegakan dan
menjunjung tunggi kode etik notaris
Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan kode etik
notaris
Memberikan saran dan pendapat kepada majelis pengawas dan/atau mejelis kehormatan
notaris atas dugaan pelanggaran kode etik notaris dan jabatan notaris
Melakukan koordinasi, komunikasi dan berhubungan secara langsung kepada anggota
maupun pihak-pihak yang berhubungan dengan pelaksanaan dan penegakan kode etik
notaris
Membuat peraturan dalam rangka penegakan kode etik notaris bersama sama dengan
pengurus pusat
Dewan kehormatan melakukan upaya upaya untuk menegakkan kode etik notaris
Dewan kehormatan dapat bekejarsama dengan pengurus perkumpulan dan berkoordinasi
dengan majelis pengawas dan/atau majelis kehormatan notaris untuk melakukan upaya
penegalkan kode etik notaris
Pengawasan atas notaris dilakukan oleh menteri. Menteri membentuk mejelis pengawas
untuk melakukan pengawasan yang dimaksud.
Majelis pengawas notaris yang selanjutnya disebut majelis pengawas adalah suatu badan
yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan
pengawasan terhadap notaris
Majelis pengawas berjumlah 9 orang, terdiri atas unsur
a. Pemerintah sebanyak 3 orang
b. Organisasi notaris sebanyak 3 orang
c. Ahli atau akademisi sebanyak 3 orang
Majelis pengawas terdiri atas
a. Majelis pengawas daerah
b. Majelis pengawas wilayah
c. Majelis pengawas pusat
Salah satu kewenangan majelis pengawas daerah adalah menyelenggarakan sidang untuk
memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran pelaksanaan
jabatan notaris.
Kode Etik Notaris
Kode Etik Notaris dan untuk selanjutnya disebut Kode Etik adalah kaidah moral yang ditentukan
oleh Perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia yang selanjutnya akan disebut "Perkumpulan"
berdasar keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib
ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas
jabatan sebagai Notaris, termasuk didalamnya para Pejabat Sementara Notaris, Notaris Pengganti
pada saat menjalankan tugas jabatan.
Kewajiban Bagi Notaris
Pasal 3 Kode Etik Notaris menentukan bahwa Notaris maupun orang lain (selama yang
bersangkutan menjalankan jabatan Notaris wajib:
1. Memiliki moral, akhlak, serta kepribadian yang baik;
2. Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat Jabatan Notaris;
3. Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan.
4. Berperilaku jujur, mandiri, tidak berpihak, amanah, seksama, penuh rasa
tanggung jawab berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi
sumpah jabatan notaris;
5. Meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahlian profesi yang telah dimiliki
tidak terbatas pada ilmu pengetahuan hukum dan kenotariatan;
6. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan Negara:
7. Memberikan jasa pembuatan akta dan kewenangan lainnya untuk
masyarakat yang tidak mampu tanpa memungut honorarium;
8. Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut
merupakan satu-satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam
melaksanakan tugas jabatan sehari-hari;
9. Memasang 1 (satu) papan nama di depan/di lingkungan kantornya dengan
pilihan ukuran yaitu 100 cm x 40 cm, 150 cm x 60 cm, 200 cm x 80 cm,
yang memuat:
a. Nama lengkap dan gelar yang sah;
b. Tanggal dan nomor Surat Keputusan pengangkatan yang terakhir sebagai Notaris
c. Tempat kedudukan;
d. Alamat kantor dan nomor telepon/fax.
Dasar papan nama bewarna putih dengan huruf bewarna hitam dan tulisan di atas papan nama
harus jelas dan mudah di baca: Kecuali di lingkungan kantor tersebut tidak dimungkinkan untuk
pemasangan papan nama dimaksud;
10. Hadir, mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang
diselenggarakan oleh perkumpulan;
11. Menghormati, mematuhi, melaksanakan peraturan-peraturan dan
keputusan-keputusan perkumpulan;
12. Membayar uang iuran perkumpulan secara tertib;
13. Membayar uang duka untuk membantu ahli waris teman sejawat yang
meninggal dunia;
14. Menjatuhkan dan mematuhi semua ketentuan tentang honorarium yang
ditetapkan oleh Perkumpulan;
15. Menjalankan jabatan Notaris di kantornya, kecuali karena alasan-alasan
tertentu;
16. Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan
tugas jabatan dan kegiatan sehari-hari serta saling memperlakukan rekan
sejawat secara baik, saling menghormati, saling menghargai, saling
membantu serta selalu berusaha menjalin komunikasi dan tali silaturahim;
17. Memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak membedakan
status ekonomi dan/atau status sosialnya;
18. Membuat akta dalam jumlah batas kewajaran untuk menjalankan
peraturan perundang- undangan, khususnya Undang-Undang tentang
Jabatan Notaris dan Kode Etik.
Larangan Bagi Notaris
Pasal 4 Kode Etik Notaris menentukan bahwa Notaris maupun orang lain (selama yang
bersangkutan menjalankan jabatan. Notaris dilarang:
1. Mempunyai lebih dari 1 (satu) kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan;
2. Memasang papan nama dan/atau tulisan yang berbunyi "Notaris/Kantor Notaris" di luar
lingkungan kantor;
3. Melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama,
dengan mencantumkan nama dan jabatannya, menggunakan media cetak dan atau
elektronik, dalam bentuk:
a. iklan:
b. ucapan selamat:
c. ucapan belasungkawa
d. ucapan terima kasih;
e. kegiatan pemasaran;
f. kegiatan sponsor, baik dalam bidang sosial, keagamaan, maupun olah
raga.
4. Bekerja sama dengan biro jasa/orang/Badan Hukum yang pada hakekatnya bertindak
sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien
5. Menandatangani akta yang proses pembuatannya telah dipersiapkan oleh pihak lain;
6. Mengirimkan minuta kepada klien untuk ditandatangani.
7. Berusaha atau berupaya dengan jalan apapun, agar seseorang berpindah dari Notaris lain
kepadanya, baik upaya itu ditujukan langsung kepada klien yang bersangkutan maupun
melalui perantara orang lain:
8. Melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumen yang telah
diserahkan dan/atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar klien tersebut
tetap membuat akta padanya;
9. Melakukan usaha-usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung yang menjurus ke
arah timbulnya persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan Notaris;
10. Menetapkan honorarium yang harus dibayar oleh klien dalam jumlah yang lebih rendah
dari honorarium yang telah ditetapkan Perkumpulan;
11. Mempekerjakan dengan sengaja orang yang masih berstatus karyawan Notaris lain tanpa
persetujuan terlebih dahulu dari Notaris yang bersangkutan, termasuk menerima
pekerjaan dari karyawan Notaris lain;
12. Menjelekkan dan/atau mempersalahkan rekan Notaris atau akta yang dibuat olehnya.
Dalam hal seorang Notaris menghadapi dan/atau menemukan suatu akta yang dibuat oleh
rekan sejawat yang ternyata di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan yang serius
dan/atau membahayakan klien, maka Notaris tersebut wajib memberitahukan kepada
rekan sejawat yang bersangkutan atas kesalahan yang dibuatnya dengan cara yang tidak
bersifat menggurui, melainkan untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan
terhadap klien yang bersangkutan ataupun rekan sejawat tersebut;
13. Tidak melakukan kewajiban dan melakukan melakukan Pelanggaran terhadap larangan
sebagaimana dimaksud dalam Kode Etik dengan menggunakan media elektronik,
termasuk namun tidak terbatas dengan menggunakan internet atau media sosial;
14. Membentuk kelompok sesame rekan sejawat yang bersifat eksklusif dengan tujuan untuk
melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga, apalagi menutuo kemungkinan bagi
Notaris lain untuk berpartisipasi;
15. Menggunakan dan mencantumkan gelar yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
16. Membuat akta melebihi batas kewajaran yang batas jumlahnya ditentukan oleh Dewan
Kehormatan;
17. Mengikuti pelelangan untuk mendapatkan pekerjaan/pembuatan akta.
Pengecualian Yang Dapat Dilakukan Oleh Notaris
Pasal 5 menentukan bahwa Hal-hal yang tersebut di bawah ini merupakan pengecualian oleh
karena itu tidak termasuk pelanggaran, yaitu:
1. Memberikan ucapan selamat, ucapan berdukacita dengan mempergunakan kartu ucapan,
surat, karangan bunga ataupun media lainnya dengan tidak mencantumkan Notaris, tetapi
hanya nama saja;
2. Pemuatan nama dan alamat Notaris dalam buku panduan nomor telepon, fax dan telex,
yang diterbitkan secara resmi oleh PT. Telkom dan/atau instansi-instansi dan/atau
lembaga-lembaga resmi lainnya;
3. Memasang 1 (satu) tanda penunjuk dengan ukuran tidak melebihi 20 cm x 50 cm, dasar
bewarna putih, huruf bewarna hitam, tanpa mencantumkan nama Notaris serta dipasang
dalam radius maksimum 100 m dan kantor Notaris;
4. Memperkenalkan diri tetapi tidak melakukan promosi diri selaku Notaris.
Sanksi
Sanksi yang dikenakan terhadap anggota yang melakukan pelanggaran Kode Etik dapat berupa:
a. Teguran;
b. Peringatan;
c. Pemberhentian sementara dari keanggotaan pekumpulan
d. Pemberhentian dengan hormat dari keanggotaan perkumpulan;
e. Pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan.
Pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh orang lain (yang sedang dalam menjalankan
jabatan Notaris), dapat dijatuhkan sanksi teguran dan/atau peringatan.
Keputusan Dewan Kehormatan berupa teguran atau peringatan tidak dapat diajukan
banding.
Keputusan Dewan Kehormatan Daerah/Dewan Kehormatan Wilayah berupa
pemberhentian. sementara atau pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian
dengan tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan dapat diajukan banding ke Dewan
Kehormatan Pusat.
Keputusan Dewan Kehormatan Pusat tingkat pertama berupa pemberhentian sementara
atau pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan tidak hormat dari
keanggotaan Perkmumpulan dapat diajukan banding ke Kongres.
Dewan Kehormatan Pusat berwenang pula untuk memberikan rekomendasi disertai
usulan pemecatan sebagai Notaris kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia.
Pengurus Pusat wajib mencatat dalam buku daftar anggota Perkumpulan atas setiap
keputusan Dewan Kehormatan Daerah/Dewan Kehormatan Wilayah/Dewan Kehormatan
Pusat/Kongres yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pengenaan sanksi pemberhentian sementara atau pemberhentian dengan hormat atau
pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan Perkumpulan terhadap pelanggaran
yang dimaksud wajib diberitahukan oleh Pengurus Pusat kepada Majelis Pengawas
Daerah dan tembusannya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia.
Contoh ( kode etik notaris )
“PELANGGARAN JABATAN NOTARIS Sri, SH TERKAIT DENGAN TIDAK MENJAGA
MARTABAT DAN NAMA BAIK NOTARIS SEBAGAI PEJABAT UMUM ”.
Notaris Sri, SH dalam melakukan jabatannya tidak sesuai dengan kewajiban-kewajiban dan
kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh negara kepada Notaris sesuai dengan Undang-
Undang Jabatan Notaris, Kode Etik notaris, dan Sumpah/Janji Jabatan notaris sebelum notaris
tersebut melakukan jabatannya sebagai notaris. Notaris Sri, SH tersebut terbukti telah melanggar
pasal :4 ayat 2 Undangundang Jabatan Notaris (UUJN), pasal 9 ayat 1 huruf c Undang-undang
Jabatan Notaris (UUJN), pasal 15 ayat 1 Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN), pasal 15 ayat
2, pasal 16 ayat 1 huruf i Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN) juncto pasal 1874 dan 1874a
BW, pasal 16 ayat 1 huruf a Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN), pasal 52 Undang-undang
Jabatan Notaris (UUJN). 2. Bagi Notaris yang melakukan pelanggaran kode etik, Dewan
Kehormatan dapat menjatuhkan sanksi kepada pelanggarnya, sanksi yang dikenakan terhadap
anggota Ikatan Notaris Indonesia yang melakukan pelanggaran kode etik tersebut dapat berupa :
Teguran, Peringatan, Schorzing (pemecatan) dari keanggotaan Perkumpulan, Onzetting
(pemecatan) dari keanggotaan Perkumpulan dan Pemberhentian dengan tidak hormat dari
keangotaan Perkumpulan. Namun sanksi pemecatan yang diberikan terhadap Notaris yang
melakukan pelanggaran kode etik bukanlah berupa pemecatan dari jabatan Notaris melainkan
pemecatan dari keanggotaan Ikatan Notaris Indonesia sehingga walaupun Notaris yang
bersangkutan telah terbukti melakukan pelanggaran kode etik, Notaris tersebut masih dapat
membuat akta dan menjalankan kewenangan lainnya sebagai Notaris, dengan demikian sanksi
berupa pemecatan dari keanggotaan perkumpulan tentunya tidak berdampak pada jabatan
seorang Notaris yang telah melakukan pelanggaran kode etik, karena sanksi tersebut bukanlah
berarti secara serta merta Notaris tersebut diberhentikan dari jabatannya, karena hanya Menteri
yang berwenang untuk memecat Notaris dari jabatannya dengan mendengarkan laporan dari
Majelis Pengawas. Sehingga sanksi tersebut terkesan kurang mempunyai daya mengikat bagi
Notaris yang melakukan pelanggaran kode etik. Notaris yang diberikan sanksi atas pelanggaran
kode etik dapat melakukan upaya pembelaan diri dan dapat mengajukan banding secara
bertingkat terhadap putusan Dewan Kehormatan Daerah kepada dewan Kehormatan Wilayah dan
Dewan Kehormatan Pusat sebagai pemeriksaan tingkat akhir.