0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan369 halaman

Novel Dunia Maya

Diunggah oleh

paijomangunkarso29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan369 halaman

Novel Dunia Maya

Diunggah oleh

paijomangunkarso29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia.

Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.

Di Pulau Taveuni, Fiji, sejumlah orang tanpa sengaja berkumpul. Setiapdari


mereka diam-diam menyimpan luka di hati. John Spooke, seorang penulis
Inggris, masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli
biologi evolusioner dari Norwegia, kehilangan seorang anak dalam sebuah
kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya.

Di antara mereka, tidak ada yang lebih menarik perhatian daripada Ana dan Jose,
pasangan penuh teka-teki dari Spanyol. Mengapa mereka kerap saling
melontarkan kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan Joker? Mengapa
Ana begitu mirip dengan model lukisan Maja karya Goya yang terkenal? Dan
siapakah Joker itu? Apa hubungannya dengan Maya, “ilusi-dunia”?

Novel Jostein Gaarder ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan


alam semesta, evolusi kehidupan di atas bumi, munculnya manusia, dan tujuan
dari keberadaan

manusia.

Catatan Kesuksesan Dunia Sophie:

• Novel Terlaris di Dunia pada 199S

¦ Telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa

¦ Terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia

¦ Novel yang dipakai sebagai buku pengantar filsafat di berbagai universitas di


dunia

“Pengarang bestseller Dunia Sophie kembali dengan petualangan filosofis yang


menakjubkan … kali ini memasuki dunia makna hidup dan cinta. Sangat
menggoda!” — Tlte Scotsman
mizan

•¦‘i - •• ‘¦ ”’ l*« - :- H ¦¦ •¦
mizan

hJtOSlK £AMA>V ‘ ¦ * ¦
Novel
mizan
JOSTEIN GAARDER
Penulis Bestseller Dunia Sophie

Novel yang sarat gagasan. Menghibur sekai i et penuh hikmah. —Daily Mail

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal.

Kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun.

Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri.

Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah (iba pada pengertian.

Sang mala yang meneliti alam semesta adalah mata alam semesta itu sendiri.

Apakah dongeng benar-benar akan menjadi dongeng jika ia tidak bisa melihat
dirinya sendiri? Apakah kehidupan sehari-hari akan menjadi keajaiban jika ia
terus-menerus berkeliling untuk menjelaskan dirinya sendiri?

la tahu ia akan pergi, maka ia sudah setengah-pergi. Ia akan pergi ke Ketiadaan.


Begitu tiba, ia bahkan tidak akan dapat bermimpi untuk pulang, la menuju dunia
yang di sana bahkan tidak ada tidur.
Maya
Misteri Dunia dan Cinta

MIZAN PUSTAKA: KRONIK ZAMAN BARU adalah

salah satu lini produk (product line) Penerbit Mizan yang menyajikan buku-buku
bertema umum dan luas yang merekam informasi dan pemikiran mutakhir serta
penting bagi masyarakat Indonesia.
Misteri Dunia dan Cinta
JOSTEIN GAARDER
mizan

KKOhIK /MUN BARU

MAYA:

MISTERI DUNIA DAN CINTA Diterjemahkan dari Maya Karya Jostein


Gaarder Copyright © Jostein Gaarder and H. Aschehoug &Co., Oslo, 1999

Diterbitkan oleh Phoenix House, London, Inggris, 2000 Hak terjemahan bahasa
Indonesia pada Penerbit Mizan Penerjemah: Winny Prasetyowati Penyunting:
Andityas Prabantoro Proofreader: Eti Rohaeti Hak cipta dilindungi undang-
undang All rights reserved Cetakan 1, Januari 2008 Diterbitkan oleh Penerbit
Mizan PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI Jin. Cinambo (Cisaranten Wetan) No.
135, Bandung 40294 Telp. (022) 7834310-Faks. (022) 7834311 e-mail:
[email protected] http\//www .mizan .com Desain sampul: Andreas
Kusumahadi ISBN 979-433-491-X

Didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU) Jin. Cinambo (Cisaranten


Wetan) No. 146

Ujungberung, Bandung 40294 Telp. (022) 7815500 -Faks. (022) 7802288 e-


mail: [email protected] Perwakilan: Jakarta: (021) 7661724;
Surabaya: (031) 60050079, 8281857; Makassar: (0411) 871369
Untuk Siri
Isi Buku

Prolog, 11 Surat untuk Vera, 27

Dia yang Terakhir Melihat, Akan Melihat yang Terbaik, 33 Adam yang Tak
Terheran-heran, 69 Amfibi Garda Depan, 97 Seorang Manusia Nyamuk dan
Seekor Tokek, 139

Saudara Tiri Manusia Neanderthal yang Ternama,

179

Konferensi Tropis, 221 Merpati Jingga, 261 Engkau Memilih untuk Membagi
Dua Duka Kita, 299 Bellis Perennis, 323 Kurcaci dan Gambar Ajaib, 371 Logika
Sangat Kekurangan Ambivalensi, 423 Catatan Tambahan, 447 Manifesto, 519
Prolog

AKU TAK AKAN PERNAH MELUPAKAN PAGI YANG LEMBAB DAN


BERANGIN pada Januari 1998 itu, saat Frank mendarat di Taveuni, sebuah
pulau kecil di Fiji. Petir bergemuruh sepanjang malam, dan sebelum waktu
sarapan, para pegawai Maravu Plantation Resort sibuk memperbaiki kerusakan
di pembangkit listrik. Karena seluruh persediaan makanan beku terancam rusak,
aku mengajukan diri mengemudi ke Matei untuk menjemput tamu-tamu baru
yang dijadwalkan mendarat di pulau “dateline” dengan pesawat pagi dari Nadi.
Angela dan Jochen Kiess sangat berterima kasih karena tawaranku itu, dan
Jochen mengatakan bahwa pada waktu krisis, kita selalu dapat mengandalkan
orang Inggris.

Aku memerhatikan orang Norwegia yang serius itu saat ia memasuki Land
Rover. Ia berumur 40-an tahun, bertinggi sedang, dan pirang seperti kebanyakan
orang Skandinavia lainnya, tetapi matanya cokelat dan memiliki aura lesu. Ia
memperkenalkan diri sebagai Frank Andersen, dan aku ingat saat itu aku
menduga-duga bahwa mungkin ia adalah salah satu orang langka yang sepanjang
hidup tertekan oleh kesedihan akan ketiadaan semangat dan keajekan dalam
hidup kita. Dugaan ini menghilang saat pada sore harinya aku mengetahui bahwa
ia adalah seorang ahli biologi evolusioner. Bagi mereka yang

memang berkecenderungan murung, biologi evolusioner sama sekali bukan ilmu


yang membangkitkan semangat.

Di atas meja di rumahku di Croydon, ada secarik kartu pos dari Barcelona yang
telah kusut, tertanggal 26 Mei 1992. Kartu pos itu bergambarkan kastel-pasir
yang belum selesai dari sebuah katedral, La Sagrada Familia, karya Gaudi dan di
belakangnya tertulis:

Frank tercinta,

Aku akan datang ke Oslo hari Selasa. Tetapi, aku tidak akan sendiri. Ada yang
berbeda sekarang. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk menghadapi sesuatu.
Jangan telepon aku! Aku ingin bertemu denganmu sebelum kata mengemuka di
antara kita. Ingatkah engkau tentang ramuan ajaib? Sesaat lagi kau akan dapat
menikmati beberapa tetes darinya. Terkadang aku merasa amat takut. Adakah
langkah yang bisa kita ambil berdua untuk berdamai dengan singkatnya
kehidupan?
Vera tercintamu.

Suatu siang, saat aku dan Frank duduk menghabiskan bir kami di bar di Maravu,
Frank memperlihatkan kartu pos dengan menara-menara tinggi itu. Aku telah
memberitahunya bahwa beberapa tahun sebelumnya aku kehilangan Sheila, dan
ia duduk di sana lama sebelum membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah
kartu pos terlipat yang ia buka dan letakkan di meja di hadapan kami. Salam
pembukanya tertulis dalam bahasa Spanyol, tetapi orang

Norwegia itu menerjemahkannya kata demi kata. Seolah-olah ia membutuhkan


pertolonganku untuk mengartikan apa yang ia terjemahkan sendiri.

“Siapakah Vera?” tanyaku. “Apakah ia istri Anda?”

Ia mengangguk.

“Kami bertemu di Spanyol pada akhir delapan puluhan. Beberapa bulan


kemudian, kami tinggal di Oslo.”

“Tapi kemudian, perkawinan Anda berantakan?” Ia menggelengkan kepala,


tetapi kemudian menambahkan, “Sepuluh tahun kemudian, ia pindah kembali ke
Barcelona. Itu adalah musim gugur yang lalu.”

“Vera bukanlah nama Spanyol yang umum,” aku menambahkan. “Maupun


Catalan.”

“Itu adalah nama sebuah kota kecil di Andalusia,” katanya. “Menurut


keluarganya, Vera dilahirkan di sana.”

Aku menatap kartu pos itu.

“Dan ia pergi ke Barcelona untuk mengunjungi keluarganya?”

Ia menggelengkan kepalanya lagi.

“Ia pergi ke sana selama beberapa minggu untuk mempertahankan tesis


doktoralnya.”
“Oh, begitu?”

“Mengenai migrasi manusia pada zaman kuno dari Afrika. Vera adalah seorang
ahli palaeontologi.”

“Siapakah yang ia bilang akan dibawanya ke Oslo?” aku bertanya.

Ia menunduk menatap gelasnya.

“Sonja,” hanya itu yang ia katakan. “Sonja?”

“Putri kami, Sonja.”

“Jadi, Anda memiliki seorang anak perempuan?” Ia menunjuk ke arah kartu pos
itu. “Begitulah saya mengetahui bahwa Vera tengah hamil.” “

“Bayi Anda?” Aku melihat tubuhnya sekilas mengejang. “Ya, bayi saya.” Aku
merasa bahwa di suatu titik, kisah mereka berkembang buruk dan aku berusaha
menduga-duga bagaimana itu terjadi. Aku masih punya beberapa petunjuk yang
bisa diselidiki.

“Dan ‘ramuan ajaib’ yang Anda rasakan beberapa tetes ini? Terdengar sangat
menggoda.”

Ia ragu-ragu. Lalu ia mengelak dari pertanyaanku dengan senyum malu-malu.

“Tidak, itu terlalu bodoh,” ujarnya. “Itu hanyalah salah satu khayalan Vera.”

Aku tidak memercayainya. Kurasa ini adalah salah satu khayalan Frank dan
Vera.

Aku memberi isyarat kepada penjaga bar dan memesan bir lagi. Frank hampir
tidak menyentuh birnya.

“Silakan lanjutkan,” ujarku. Ia pun melanjutkan. “Kami sama-sama memiliki


dahaga yang tak terpuaskan akan kehidupan. Atau, bisakah saya sebut itu
sebagai ‘dahaga akan keabadian’? Saya tak yakin Anda mengerti apa yang saya
maksud.”

Tentu saja aku mengerti! Aku merasa jantungku berdetak begitu kencang di dada
sehingga aku berpikir sebaiknya aku menenangkan diri sejenak. Aku hanya
mengangkat telapak tanganku untuk mengisyaratkan bahwa aku tidak perlu
penjelasan lebih jauh tentang apa yang ia maksud dengan dahaga akan
keabadian. Ia menuruti isyaratku itu. Jelas ini bukan pertama kalinya Frank
mencoba menjelaskan makna dari kalimatnya itu.

“Saya belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang juga memiliki
kebutuhan yang tak bisa ditawar itu. Vera adalah seseorang yang praktis dan
hangat. Tetapi ia juga cukup lama hidup di dalam dunianya sendiri, atau bisa
saya sebut sebagai dunia palaeontologi. Ia adalah tipe orang yang lebih
cenderung ke arah vertikal ketimbang horizontal.” “Benarkah?”

“Ia tidak terlalu tertarik dengan hiruk pikuk kehidupan. Atau dengan apa yang ia
lihat dalam cermin. Ia cantik, bahkan sangat cantik. Tapi belum pernah saya
melihatnya memegang majalah wanita.” Ia duduk sambil mencelupkan jari ke
dalam birnya.

“Ia pernah bercerita bahwa ketika muda, ia mendapatkan mimpi yang terasa
amat nyata di siang bolong; mimpi tentang ramuan ajaib yang jika diminum
setengahnya dapat memberinya hidup abadi. Lalu, ia akan memiliki waktu tak
terbatas untuk mencari lelaki yang ia inginkan untuk meminum setengahnya
lagi. Jadi, ia bisa yakin bahwa ia bakal bertemu laki-laki yang tepat suatu hari,
jika tidak minggu depan, maka seratus atau seribu tahun lagi.”

Aku menunjuk ke arah kartu itu lagi. “Dan sekarang ia telah menemukan ramuan
kehidupan itu?”

Ia tersenyum pasrah.

“Saat kembali dari Barcelona awal musim panas ‘92, dengan muram ia
menyatakan bahwa tentulah kami telah meneguk beberapa tetes minuman ajaib
yang diimpikannya saat muda itu. Yang ia maksud adalah anak kami yang bakal
lahir itu. ‘Sekarang, sedikit dari diri kita telah memulai kehidupannya sendiri,’
ujarnya. ‘Dan mungkin ia akan berbuah jutaan tahun ke depan.111

“Maksud Anda, keturunan?”

“Betul, itulah yang ia pikirkan. Sebenarnya, setiap manusia di planet ini adalah
keturunan dari satu wanita yang tinggal di Afrika beratus-ratus ribu tahun yang
lalu.”
Ia meneguk birnya dan terdiam selama beberapa waktu. Aku berusaha untuk
membuatnya berbicara lagi.

“Silakan lanjutkan,” aku mendesak. Ia menatap mataku dalam-dalam, seolah-


olah mengukur apakah aku dapat ia percaya.

“Saat Vera tiba di Oslo pada waktu itu, ia meyakinkan saya bahwa ia tidak akan
ragu-ragu untuk membagi ramuan ajaibnya dengan saya jika ia memang
memilikinya. Tentu saja saya tidak mendapatkan ‘ramuan ajaib’ itu, tapi itu tetap
menjadi kenangan yang indah bagi saya. Saya dapat menangkap sekilas sesuatu
yang mulia dalam dirinya karena ia telah berani memilih sesuatu yang tidak akan
bisa ia

ubah lagi.”

Aku mengangguk.

“Zaman sekarang sangat langka orang yang menjanjikan kesetiaan abadi. Orang-
orang tetap bersama hanya pada saat keadaan baik. Bagaimanapun, pasti ada
saat-saat buruk. Saat itulah banyak orang yang melarikan diri.”

Sekarang ia menjadi lebih berapi-api.

“Saya rasa, saya dapat mengulang persis apa yang ia katakan. ‘Bagiku hanya ada
satu laki-laki dan satu dunia,’ ujarnya. ‘Aku merasakannya dengan amat kuat
karena aku hanya hidup sekali.’”

“Itu adalah sebuah pengakuan cinta yang amat dalam,” aku mengangguk.
“Tetapi, apa yang terjadi?

Ia menjelaskan dengan sangat ringkas. Setelah menghabiskan bir, ia bercerita


bahwa mereka kehilangan Sonja saat ia berumur empat setengah tahun, dan
setelah itu mereka tidak dapat hidup bersama lagi. Terlalu banyak kesedihan di
bawah satu atap, ujarnya. Kemudian, ia hanya duduk dan memandang ke luar ke
arah pepohonan palem.

Ia tidak mau membicarakan hal itu lagi, walaupun dengan hati-hati aku mencoba
beberapa kali untuk memancingnya.

Selain itu, perbincangan kami agak terhenti saat seekor kodok besar melompat
naik ke lantai tempat kami duduk. Ada bunyi “Blukl”, dan kodok itu pun
merangkak di bawah meja di antara kaki-kaki kami.

“Seekor kodok tebu,” ujarnya.

“Kodok tebu?”

“Atau Bufo marinus. Mereka didatangkan dari Hawaii pada 1936 untuk
memerangi serangga di perkebunan tebu. Mereka berkembang subur di sini.”

Ia menunjuk ke arah pepohonan palem dan kami pun melihat empat atau lima
ekor lainnya. Beberapa menit kemudian, aku berhasil menghitung sepuluh atau
dua belas kodok di atas rumput yang lembap. Aku sudah tinggal berhari-hari di
pulau ini, tetapi belum pernah melihat begitu banyak kodok sekaligus. Frank
nyaris seolah-olah menarik perhatian mereka, dan tidak lama kemudian, sekitar
dua puluh ekor telah muncul di sekitar kami. Memandangi semua kodok itu
membuatku sedikit jijik. Aku menyalakan sebatang rokok.

“Saya masih berpikir tentang ramuan yang Anda sebutkan tadi,” ujarku. “Tidak
semua orang berani menyentuhnya. Saya rasa, kebanyakan orang akan
membiarkannya saja.”

Lalu, aku menegakkan pemantikku di atas meja dan berbisik, “Ini adalah
pemantik ajaib. Kalau Anda menyalakannya sekarang, Anda akan hidup abadi.”

Ia menatap mataku tanpa senyum sedikit pun. Seolah-olah pupil matanya


bersinar.

“Tapi, renungkan baik-baik,” aku menekankan. “Anda hanya punya satu


kesempatan ini, dan keputusan Anda tak akan pernah dapat diubah.”

Ia mengesampingkan peringatanku. “Itu tidak ada bedanya,” katanya, tapi


bahkan pada saat itu aku masih tidak yakin arah mana yang ia tuju.

“Apakah Anda menginginkan rentang hidup

yang normal?” tanyaku dengan sungguh-sungguh. “Atau Anda berharap tetap


berada di Bumi ini untuk selamanya?”

Dengan perlahan tetapi yakin, Frank memungut pemantik itu dan


menyalakannya.

Aku terkesan. Aku telah menghabiskan hampir seminggu di Pulau Fiji itu, tapi
sekarang aku tidak lagi merasa sendiri.

“Tidak banyak yang seperti kita,” aku berkomentar.

Kemudian, untuk pertama kalinya, ia menyeringai lebar. Kurasa, seperti halnya


diriku, ia pun terkesan akan pertemuan kami.

“Tidak, pasti tidak banyak,” ia sepakat. Kemudian, ia setengah bangkit dari


kursinya dan menjulurkan tangannya kepadaku di atas gelas-gelas bir.

Rasanya seolah-olah kami adalah anggota klub eksklusif yang sama. Frank dan
aku sama sekali tidak takut hidup abadi. Kami justru takut terhadap hal
sebaliknya.

Tidak lama lagi waktu makan malam, jadi aku mengusulkan untuk mengesahkan
solidaritas kami yang baru saja terjalin ini dengan minuman. Ketika aku
menyarankan gin, ia mengangguk senang.

Kodok-kodok terus bermunculan di pepohonan palem, dan sekali lagi aku


merasakan gelombang rasa jijik. Aku mengaku kepada Frank bahwa aku belum
terbiasa dengan adanya tokek di dalam kamarku.

Gin pun datang. Dan saat para karyawan sedang menyiapkan meja-meja untuk
makan malam, kami pun duduk dan bersulang untuk para malaikat di surga.
Kami juga bersulang untuk kelompok kecil kami, yaitu semua orang yang tidak
pernah bisa menghilangkan rasa iri mereka terhadap kehidupan abadi para
malaikat. Sambil menunjuk ke arah kodok-kodok di antara pepohonan palem,
Frank mengatakan bahwa berdasarkan sopan santun, kami juga sebaiknya
bersulang untuk mereka.

“Mereka juga saudara sedarah kita,” ia menjelaskan. “Hubungan kita lebih dekat
dengan mereka ketimbang malaikat.”

Frank memang seperti itu. Kepalanya mungkin tinggi di angkasa, tetapi kakinya
tetap berpijak kokoh di tanah. Sehari sebelumnya ia mengakui bahwa ia tidak
menikmati terbang dengan pesawat ringan yang telah membawanya dari Nadi ke
Matei. Ia menceritakan banyaknya guncangan dan kegelisahannya karena tidak
ada kopilot dalam penerbangan singkat itu. Sambil minum, ia memberitahuku
bahwa pada akhir April, ia akan menghadiri sebuah konferensi di kota
universitas kuno, Salamanca, dan bahwa setelah menelepon pusat konferensi
sehari sebelumnya, ia telah memastikan bahwa Vera juga telah mendaftar untuk
konferensi itu. Masalahnya adalah, ia sama sekali tidak tahu apakah Vera tahu
mereka akan bertemu di Salamanca.

“Tapi Anda berharap begitu?” aku mengambil risiko. “Anda berharap ia akan
ada di sana?” Ia tidak menjawab pertanyaanku. Sore itu, semua meja di restoran
Maravu telah

disusun untuk membentuk satu meja panjang. Itu adalah ide dariku karena
banyak dari para tamu yang datang sendirian. Tepat pada saat Ana dan Jose,
pengunjung yang pertama, memasuki ruangan, aku menatap untuk terakhir
kalinya kartu pos dengan delapan menara Promethea yang menjulang ke angkasa
itu, dan mengembalikannya kepada Frank.

“Simpan saja!” desaknya. “Saya sudah hafal setiap katanya.”

Aku tidak dapat mengabaikan kepahitan dalam suaranya dan mencoba


membujuknya berubah pikiran. Tapi ia bersikeras. Sepertinya ia sudah
mengambil keputusan yang penting.

“Jika saya yang menyimpannya,” ujarnya, “cepat atau lambat mungkin saya
akan merobeknya. Jadi lebih baik jika Anda menyimpannya untuk saya. Dan,
siapa tahu mungkin kita bertemu lagi suatu hari.”

Walaupun demikian, aku memutuskan akan mengembalikan kartu pos itu


sebelum ia meninggalkan pulau dateline itu. Tapi, pada pagi keberang-katan
Frank, sebuah peristiwa di Maravu mengalihkan perhatianku.

Pertemuanku kembali dengan orang Norwegia itu, hampir setahun kemudian,


adalah salah satu kebetulan luar biasa yang menambah bumbu dalam kehidupan
dan kadang-kadang memupuk harapan bahwa memang ada kekuatan gaib yang
mengawasi hidup kita, dan sesekali membenahi benang-benang takdir.

Kebetulan juga telah menggariskan bahwa aku bukan hanya memiliki kartu pos
tua itu. Mulai hari ini, aku juga memiliki surat panjang yang ditulis Frank untuk
Vera setelah pertemuan mereka di bulan April. Fakta bahwa dokumen langka ini
akhirnya jatuh ke tanganku kuanggap sebagai sebuah prestasi pribadi sebuah
prestasi yang tidak mungkin terwujud jika saja aku tidak secara kebetulan
bertemu dengan Frank di Madrid enam bulan kemudian. Kami bahkan bertemu
di Hotel Palace, hotel tempat ia pernah duduk dan menulis untuk Vera. Saat itu
November 1998.

Dalam suratnya kepada Vera itu, Frank menjelaskan beberapa episode yang kami
berdua lewatkan di Fiji. Cukup dimengerti bahwa ia lebih memilih
membicarakan Ana dan Jose, tetapi ia juga menyinggung beberapa percakapan
di antara kami.

Selama menjalankan tugas mengetengahkan secara lengkap surat panjang ini,


ada godaan untuk menambahkan cerita Frank dengan beberapa komentarku
sendiri di sana sini. Akan tetapi, aku memilih untuk mengulang surat kepada
Vera itu seutuhnya, sebelum menambahkan catatanku sendiri yang cukup
panjang.

Tentu aku sangat senang memiliki surat panjang ini, karena memungkinkanku
mempelajari kelima puluh dua manifesto itu. Sehubungan dengan itu,
perkenankan aku menyatakan bahwa sungguh keliru

jika ada yang menduga bahwa aku telah mencuri surat pribadi ini. Sama sekali
bukan itu yang terjadi. Tetapi, itu adalah hal lain lagi dan aku akan
menjelaskannya dalam catatan tambahan.

Dalam beberapa bulan mendatang, kita akan memasuki abad ke-21. Aku merasa
waktu berjalan dengan sangat cepat. Aku merasa waktu berjalan semakin dan
semakin cepat saja.

Sejak masih kanak-kanak masa yang belum lama berlalu aku tahu akan berumur
tepat 67 tahun sebelum menyaksikan milenium berikutnya. Pikiran itu selalu
memesona sekaligus mengerikan bagiku. Aku harus mengucapkan selamat
tinggal kepada Sheila pada abad ke-20. Ia baru berusia 59 tahun saat wafat.

Mungkin aku akan kembali ke pulau dateline itu untuk menyaksikan pergantian
milenium. Aku mempertimbangkan untuk meletakkan surat kepada Vera ini
dalam sebuah kapsul waktu, yang akan tetap tersegel selama seribu tahun. Aku
sangsi surat ini perlu dipublikasikan sebelum seribu tahun, dan hal yang sama
juga berlaku untuk manifesto itu. Seribu tahun bukanlah rentang waktu yang
panjang, terlebih jika dibandingkan dengan jutaan tahun yang tercakup dalam
manifesto itu. Namun, seribu tahun cukup lama untuk menghapus sebagian besar
jejak-jejak kita, makhluk hidup yang fana, dan untuk membuat kisah Ana Maria
Maya menjadi,

paling banter, sebuah mitos dari zaman purba. Kapan tepatnya kata-kata yang
akan kusampaikan ini akan didengar sudah tidak lagi penting pada masa
hidupku. Yang terpenting adalah suatu saat nanti, hal ini harus diceritakan; dan
bahkan tidak harus oleh diriku. Mungkin itulah sebabnya aku mulai berpikir
tentang kapsul waktu itu. Mungkin, setelah seribu tahun, dunia tidak lagi sebuah
tempat yang berisik seperti sekarang.

Setelah membaca ulang surat kepada Vera itu, akhirnya aku merasa siap untuk
mulai mengemasi pakaian-pakaian Sheila. Sudah waktunya. Beberapa orang dari
Bala Keselamatan akan datang besok pagi dan mereka berjanji untuk membawa
semuanya. Mereka bahkan juga akan membawa barang-barang tua yang tidak
akan dapat mereka jual. Rasanya nyaris seperti meruntuhkan sarang burung
walet tua yang sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun.

Sesaat lagi aku akan mapan sebagai seorang duda. Itu juga adalah sebuah
kehidupan. Aku tidak akan lagi terperanjat jika memandang foto Sheila.

Menilik kebiasaanku belakangan ini berkutat dengan segala kenangan lama,


mungkin sepertinya berlawanan jika bahkan sekarang pun aku tidak akan
menolak untuk meneguk ramuan ajaib Vera. Aku akan melakukannya tanpa
berkedip, bahkan jika aku tidak bisa yakin dapat menemukan orang lain

yang akan kuberikan setengah ramuan itu. Toh sudah terlambat bagi Sheila.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan selama setahun lalu hanyalah kemoterapi.

Aku sudah memiliki rencana untuk besok. Aku telah mengundang Chris Batt
untuk makan malam. Chris adalah kepala pustakawan di perpustakaan baru kami
di Croydon. Aku adalah salah seorang pengunjung setia perpustakaan itu.
Menurutku, suatu kehormatan besar bagi kota ini memiliki sebuah perpustakaan
modern yang dilengkapi sejumlah eskalator. Chris adalah seseorang yang
inovatif. Aku yakin ia tidak akan menyalakan pemantik di bar di Maravu itu.
Ataupun merasa jijik saat memandangi kodok-kodok itu.

Aku sudah bertekad untuk bertanya kepada Chris apakah menurutnya kata
pengantar sebuah buku biasanya ditulis sebelum atau sesudah penulisan isinya.
Aku sendiri punya teori bahwa kata pengantar hampir selalu ditulis pada saat
terakhir. Ini sejalan dengan suatu hal lain yang menarik perhatianku, terutama
sesudah membaca surat dari Frank.

Sekian ratus juta tahun telah berlalu sejak amfibi pertama mulai merangkak di
daratan, sampai akhirnya muncul makhluk hidup di planet ini yang dapat
menceritakan kejadian tersebut. Baru sekaranglah kita dapat menulis kata
pengantar bagi sejarah manusia lama setelah sejarah itu terjadi. Ini seperti ular
yang menggigit ekornya sendiri. Mungkin hal ini juga berlaku untuk semua
proses kreatif. Mungkin ini juga berlaku dalam komposisi musik,

contohnya. Aku membayangkan bahwa hal yang paling terakhir ditulis dalam
sebuah simfoni adalah bagian preiude-nya. Aku akan menanyakan kepada Chris
pendapatnya tentang hal ini. Ia sedikit Jenaka, tapi bijaksana. Aku yakin Chris
Batt tidak akan dapat menyebutkan bahkan satu pun opera komedi yang bagian
pembukanya ditulis sebelum bagian-bagian lainnya terselesaikan. Sinopsis dari
cerita apa pun tidak akan muncul sampai ia tidak lagi punya manfaat. Sama
seperti suara guntur tidak pernah dapat memperingatkan kita akan datangnya
kilat.

Aku tidak tahu apakah Chris Batt tahu banyak mengenai astronomi, tetapi aku
juga akan menanyakan pendapatnya tentang rangkuman singkat sejarah alam
semesta berikut ini:

Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun setelah
ledakan itu terjadi.

Berikut ini adalah surat kepada Vera selengkapnya.

Croydon, Juni 1999 John Spooke

Vera Sayang,

Dua minggu telah berlalu sejak kita bertemu, dan karena apa yang terjadi pada
malam itu, mungkin engkau merasa sudah saatnya engkau mendengar kabar
dariku. Aku hanya menunggu agar dapat membereskan segala sesuatu.

Aku tetap tinggal di Salamanca setelah konferensi itu karena aku yakin, benar-
benar yakin, bahwa merekalah yang kulihat di bawah jembatan Sungai Tormes.
Kau pikir aku bercanda, kau pikir aku mengulur waktu hanya untuk membuatmu
tetap terhibur sampai kita kembali ke hotel. Tetapi memang Ana dan Joselah
yang kulihat saat itu, dan aku tidak dapat meninggalkan kota itu sebelum
menghabiskan satu atau dua hari untuk mencari mereka lagi. Tidak sengaja aku
bertemu mereka lagi keesokan harinya di Plaza Mayor. Tapi, aku tidak boleh
terburu-buru. Aku sudah memutuskan akan menceritakan segalanya kepadamu
secara kronologis. Marilah kujelaskan garis besar alasanku duduk dan
menuliskan surat ini untukmu hari ini.

Satu setengah minggu kemudian kemarin lusa aku bertemu dengan Jose di Prado
di Madrid sini. Rasanya hampir seperti ia memang mencariku di antara galeri-
galeri Prado yang luas. Pagi ini kami bertemu lagi. Aku tengah duduk di sebuah
bangku di Taman Retiro, dengan teliti mengingat kembali semua yang telah ia
ceritakan kepadaku sejauh ini, tetapi beberapa potong masih tidak kumengerti.
Tiba-tiba ia telah berdiri di hadapanku seolah-olah

seseorang telah memberitahunya ke mana aku berjalan-jalan setiap hari. Ia pun


duduk, dan kami tetap duduk di situ selama beberapa jam hingga aku
menemaninya berjalan melalui taman menuju Stasiun Atocha. Sekonyong-
konyong ia menjejalkan seikat foto ke tanganku, lalu berlari untuk mengejar
kereta. Setiba di kamar hotel, aku baru tahu bahwa di balik setiap foto tertulis
sesuatu. Itulah manifesto yang dimaksud, Vera! Aku memiliki seluruh set kartu
solitaire dalam genggamanku.

Semua yang Jose ceritakan kepadaku di Taman Retiro, ditambah apa yang ia
berikan kepadaku sebelum menghilang, mencegahku meninggalkan kota ini
sebelum mengirimkan seluruh cerita ini kepadamu. Saat ini pukul dua siang, dan
aku tidak akan dapat banyak tidur malam ini. Akan kupesan kopi dan sedikit
makanan untuk diantar ke kamarku, tapi selain dari itu tidak ada yang dapat
menggangguku dari tugasku satu-satunya, yaitu mengirimkan surat panjang ini
kepadamu sebelum aku berkemas dan berangkat menuju Sevilla hari Jumat pagi.

Aku sedikit khawatir bahwa mungkin engkau tidak akan segera mengakses
internet. Ada pula godaan untuk menuliskan laporan ini dalam beberapa tahap.
Tetapi, engkau harus mendapatkan laporan ini sekaligus semuanya atau tidak
sama sekali. Sempat terpikir bahwa mungkin setidaknya aku seharusnya
mengirimkan sebuah e-mail untuk mem-peringatkanmu bahwa sebuah e-mail
lain yang lebih panjang akan tiba suatu saat besok. Tapi, aku bahkan tidak yakin
apakah engkau ingin mendapat kabar dariku lagi. Pokoknya, aku harus sedikit
keras berupaya membuatmu memercayai cerita ini, dan aku bahkan belum mulai
menuliskannya.
Di Fijilah aku mula-mula terjerat dalam jaring laba-laba ini, tapi sekarang aku
tidak ingat seberapa banyak yang telah kuceritakan kepadamu tentang hal itu.
Kita bertemu hanya beberapa hari, dan kita berdua berpendapat lebih baik saling
menjaga jarak. Namun, saat itu, ketika aku yakin melihat pasangan luar biasa
dari Fiji itu, aku ingat segala cerita langsung mengalir keluar dari mulutku. Aku
hanya tidak dapat mengingat apa yang sudah dan apa yang belum kuceritakan
kepadamu karena engkau terus memotongku dengan gelak tawamu kau pikir aku
hanya mengarang cerita secara spontan, untuk menghiburmu dan membuatmu
betah berkumpul denganku pada malam di tepi sungai itu.

Kau pasti bertanya-tanya apa sangkut pautnya Ana dan Jose dengan dirimu, atau
dalam hal ini dengan kita. Mungkin sebaiknya aku mengingatkanmu tentang
pertanyaan yang pernah kau kirimkan kepadaku dari Barcelona. Engkau
menulis: “Adakah langkah yang bisa kita berdua ambil untuk berdamai dengan
singkatnya kehidupan?” Sekarang aku mengangkat lagi pertanyaan itu, dan
untuk menjawabnya, pertama-tama aku harus membicarakan Ana dan Jose.
Supaya benar-benar memahami misiku, engkau harus melangkah mundur
bersamaku bahkan lebih jauh lagi ke masa lalu, mungkin hingga periode
Devonian ketika amfibi pertama muncul. Kurasa, di sanalah cerita ini dimulai.

Tidak peduli apa yang terjadi di antara kita, aku akan memintamu untuk
melakukan sesuatu untukku. Tapi untuk saat ini, duduk sajalah dan baca. Baca
saja![]

Dia yang Terakhir Melihat, Akan Melihat yang Terbaik

TAHAP TERAKHIR DARI EKSPEDISIKU SELAMA DUA BULAN DI


PASIFIK ADALAH sebuah pulau di Fiji bernama Taveuni. Tugasku adalah
menyelidiki bagaimana spesies-spesies tanaman dan hewan yang didatangkan
dari luar daerah itu telah memengaruhi keseimbangan ekologi. Spesies-spesies
itu mencakup “pendatang gelap”, seperti tikus dan cecurut, serangga dan kadal,
tetapi juga spesies-spesies yang kedatangan mereka relatif direncanakan, seperti
oposum dan luak, untuk membatasi jumlah hewan-hewan lain, terutama hama
yang menyerang bentuk-bentuk pertanian baru. Kelompok ketiga terdiri dari
binatang liar yang telah dijinakkan, seperti kucing, kambing, dan babi, juga tidak
lupa hewan-hewan yang telah dengan gegabah didatangkan sebagai bahan
masakan atau sebagai binatang buruan diwakili oleh binatang-binatang
herbivora, seperti kelinci dan rusa kecil. Sementara untuk tanaman-tanaman
yang didatangkan, baik sebagai hiasan maupun untuk diambil manfaatnya, daftar
spesiesnya terlalu panjang dan bervariasi pada setiap pulau sehingga tidak ada
gunanya menyebutkan namanama mereka.

Bagi penelitian-penelitian semacam ini, bagian

selatan Pasifik itu bagaikan kota harta karun El Dorado. Belum lama yang lalu,
semua pulau yang terisolasi ini memiliki keseimbangan ekologi yang terdiri dari
beragam flora dan fauna asli, yang terjaga sejak zaman purba. Kini, Oseania
memiliki proporsi terbesar hewan yang terancam punah baik dari segi ukuran
maupun populasi. Ini bukan hanya karena didatangkannya spesies-spesies baru;
di banyak tempat, penebangan hutan dan pengelolaan pertanian yang tidak
bijaksana telah menyebabkan erosi tanah yang fatal, yang akhirnya
menghancurkan habitat-habitat tradisional.

Hingga seabad yang lalu, beberapa dari pulau yang kukunjungi itu hampir tidak
pernah tersentuh oleh kebudayaan Eropa. Tetapi, kemudian datanglah
gelombang besar kolonisasi Eropa yang terakhir. Tentunya setiap pulau, setiap
permukiman baru, dan setiap pendaratan memiliki cerita masing-masing.
Namun, dampak ekologisnya selalu mengikuti sebuah pola menyedihkan yang
sama: hewan-hewan dari kapal, seperti tikus, cecurut, dan serangga, adalah
pencemaran ekologis yang datang bersamaan dengan kapal-kapal yang pertama
berlabuh di pulau-pulau itu. Untuk menanggulangi kerusakan yang disebabkan
makhluk-makhluk ini, spesies-spesies hewan baru pun didatangkan. Kucing
didatangkan untuk menekan jumlah tikus, dan katak untuk mengendalikan
beberapa jenis serangga, terutama di perkebunan tebu. Dengan segera, spesies-
spesies ini pun menjadi hama dan pengganggu yang lebih besar daripada tikus
dan serangga-serangga sebelumnya. Maka, predator lain pun diperkenalkan.
Akhirnya, hewan ini juga akan menjadi sebuah bencana ekologi, tidak hanya
bagi sejumlah spesies burung, tetapi juga bagi banyak reptil asli yang unik.
Maka, predator yang lebih besar pun dibutuhkan. Dan seterusnya, Vera, dan
seterusnya.

Akhir-akhir ini, kita lebih memercayai berbagai macam racun, virus, dan zat
sterilisasi dengan kata lain, perang kimia dan biologi. Namun, tidak mudah
menyusun sebuah rantai makanan baru, seandainya itu memang mungkin
dilakukan. Sebaliknya, sungguh mudah untuk menghancurkan sebuah
keseimbangan ekologi yang telah diciptakan oleh alam selama berjuta-juta
tahun. Namun, kesembronoan tidak lagi mengenal batas-batas negara. Yang aku
maksud adalah kecerdikan yang pongah. Terlintas dalam pikiranku kekayaan
sumber daya yang tetap tak tereksploitasi oleh kaum Aborigin, Maori, dan
Melanesia sebelum mereka mulai dididik orang putih. Aku terpikir akan
kegilaan semangat mencari keuntungan dan kerakusan. Sekarang kita
menggunakan eufemisme seperti “globalisasi” dan “perjanjian dagang”. Hal ini
memberi kesan bahwa makanan bukanlah lagi sesuatu untuk dimakan,
melainkan sebuah komoditas. Jika dahulu manusia dapat memuaskan keinginan
mereka dari apa-apa yang dihasilkan tanah, kini semakin bertambah besar
tumpukan benda-benda tak berguna yang terus diproduksi, yang hanya mampu
dibeli oleh mereka yang paling kaya. Kita tidak lagi hidup dari tangan ke mulut.
Zaman surgawi telah berlalu.

Terlepas dari hal itu, engkau pasti tahu benar minatku yang tak pernah sirna
terhadap reptil. Ke-kagumanku yang kekanak-kanakan akan kehidupan di planet
ini pada zaman dahulu menjadikanku seorang ahli biologi. Keputusanku itu
kuambil jauh sebelum dinosaurus tiba-tiba menjadi begitu populer. Aku ingin
tahu mengapa reptil-reptil tingkat tinggi ini tiba-tiba mati. Aku juga tenggelam
dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah henti menghantuiku: apakah yang
akan terjadi seandainya dinosaurus tidak punah? Apakah yang akan terjadi pada
mamalia-mamalia kecil mirip tikus yang merupakan nenek moyang dirimu
maupun diriku? Bahkan lebih penting lagi: apakah yang akan terjadi pada
dinosaurus?

Di Oseania, aku mendapatkan banyak kesempatan untuk mempelajari beberapa


spesies reptil purbakala. Salah satu puncaknya adalah tuatara purba yang hidup
di beberapa pulau kecil yang terpencil di sekitar Selandia Baru. Dengan
mengambil risiko membuatmu sedikit kesal, harus kuakui bahwa aku dipenuhi
kekaguman yang tak dapat dijelaskan ketika aku melihat salah satu reptil hidup
tertua di bumi, yang bertahan di sisa-sisa hutan tua daratan Gondwana. Reptil-
reptil purba ini hidup dalam lubang-lubang di bawah tanah; sering berbagi ruang
dengan burung fulmar. Mereka tumbuh hingga sepanjang 70 sentimeter, dan
dengan suhu tubuh optimal hanya 9°C, mereka dapat hidup lebih dari satu abad.
Jika engkau melihat mereka pada malam hari, rasanya seperti berada di zaman
Jura, saat Laurasia

terpecah dari Gondwana dan dinosaurus-dinosaurus raksasa baru saja mulai


berevolusi. Pada saat itulah Rhynchocephaliae, sebagai sebuah kelas reptil yang
kecil namun sangat ulet, menjadi berbeda dari ordo-ordo kadal lainnya.
Hebatnya, satu-satunya wakil dari ordo itu yang masih bertahan, yaitu tuatara,
tetap tidak berubah selama sekitar dua ratus juta tahun.
Napasku tercekat, Vera. Keberadaan tuatara tidak kurang mengagumkan
daripada jika seekor burung purba ditemukan hidup di salah satu pulau terpencil
ini. Sesungguhnya, pada 22 Desember 1938, tercatat peristiwa yang hampir
seperti itu di lepas pantai Afrika Selatan, ketika sebuah kapal nelayan
menangkap seekor ikan duri berongga dalam jalannya, seekor ikan yang disebut
coelacanth. Kelas ikan duri berongga ini, yang sangat penting bagi evolusi
karena engkau dan aku serta setiap mamalia darat lainnya dapat dilacak
keturunannya dari kelas ini, hingga Natal 1938 hanya ditemukan dalam bentuk
fosil, dan diduga telah punah hampir seratus juta tahun yang lalu. Baik
coelacanth maupun tuatara pantas dinamakan “fosil hidup”, dan mungkin aku
harus menambahkan “sejauh ini”. Tuatara belumlah lama tersebar luas di
Selandia Baru.

Aku tidak pernah merasa senang menggunakan deskripsi rekan sesama


akademisi akan suatu spesies hewan. Minatku selalu terpusat pada
perkembangan spesies-spesies, dan dalam hal ini kita sering harus banyak
bergantung pada sisa-sisa fosil. Tak diragukan lagi bahwa sensasi fosil terbesar
dalam abad terakhir ini adalah penemuan dinosaurus berbulu belum lama ini.
Penemuan baru ini memberikan bukti nyata bahwa burung berasal dari
dinosaurus. Engkau hampir-hampir dapat mengatakan bahwa burung adalah
dinosaurus!

Aku bukan berkata tidak tertarik pada tulang belulang tua dan fosil. Hanya saja,
begitu menangani spesies hidup, aku lebih suka melakukan sendiri penelitian
lapangan sebelum mengambil informasi dari tulisan-tulisan ilmiah orang lain
dan membenamkan diri dalam analisis yang lebih sistematis. Sejauh
berhubungan dengan tuatara demikian pula dengan sejumlah spesies asli lainnya
yang memiliki usia cukup tua habitat mereka bertahan luar biasa utuh selama
berjuta-juta tahun. Ah, memang benar, aku tidak menyangkal bahwa ada saat-
saat aku merasa bagaikan seorang Darwin masa kini, yaitu ketika aku terbang
dari pulau ke pulau di atas karang koral berwarna hijau, biru kehijauan, dan biru
langit.

Di Fiji, aku terutama tertarik untuk mempelajari spesies langka iguana berjambul
yang hanya dapat ditemukan di beberapa pulau di sana dan baru diidentifikasi
pada 1979 (oleh John Gibbons). Fiji memiliki dua spesies iguana, dan ini saja
merupakan hal yang luar biasa karena spesies-spesies itu tidak ditemukan di
mana pun di Asia kecuali di Fiji dan sejauh berhubungan dengan spesies ini juga
di Tonga. Sebelumnya sering diduga bahwa iguana-iguana ini pastilah, secara
ajaib, berhasil menyeberang dari Amerika Selatan di atas sisa-sisa tumbuhan
yang

terapung! Ini adalah sebuah kemungkinan, tentu saja, karena kemampuan untuk
berpindah dari satu benua ke benua lain dengan menaiki batang-batang kayu
balsa dan semacamnya mungkin tidak terbatas pada primata. Namun, Profesor
Peter Newell dari Universitas Pasifik Selatan menyatakan bahwa iguana di Fiji
mungkin memiliki sejarah geologis yang jauh lebih tua daripada yang dipercaya
sebelumnya. Ia menulis: “Penemuan-penemuan terakhir akan subfosil buaya
yang dapat berenang beribu-ribu kilometer jauhnya mungkin menunjukkan
bahwa iguana telah berada di sini jauh lebih lama daripada yang disangka
sebelumnya. Sebelumnya mereka dianggap sebagai peninggalan dari daratan
Gondwana ketika Fiji beserta negara-negara seperti Selandia Baru, Australia,
dan India menjadi bagian dari satu lempeng benua yang besar, yang di kemudian
hari terpecah menjadi bagian-bagian kecil.” Iguana juga dapat ditemukan di
Madagaskar, yang merupakan bagian dari daratan Gondwana lebih dari 150 juta
tahun yang lalu.

Tapi sekarang, aku tidak akan membuatmu bosan dengan penelitianku. Engkau
akan memiliki banyak kesempatan untuk mengetahui lebih banyak saat
laporannya dipublikasikan suatu saat pada sekitar pergantian milenium. Dan,
tentu saja, hanya jika engkau memang tertarik berjanjilah padaku.

Saat itu, aku tengah berada dalam perjalanan pulang dari Auckland. Beberapa
kali dalam seminggu, Air New Zealand menyediakan penerbangan yang nyaman
via Nadi dan Honolulu menuju Los Angeles dengan penerbangan lanjutan ke
Frankfurt. Tidak ada yang menungguku di rumah benar-benar tidak ada jadi aku
memutuskan untuk berhenti di Fiji selama beberapa hari. Sebagian untuk
mencerna seluruh kesan yang kudapat selama aku masih berada di tengah
kepulauan tropis. Sebagian lagi untuk beristirahat dan sedikit meregangkan kaki
sebelum perjalanan pulang yang panjang. Aku sudah menghabiskan seminggu di
Fiji ketika aku tiba di Oseania pada awal November. Namun, aku belum sempat
mengunjungi permata terindah dari kepulauan tersebut. Yang kumaksud adalah
Taveuni, yang sering disebut sebagai “Pulau Taman dari Fiji” karena
kesuburannya yang tak tertandingi dan letaknya yang relatif terpisah dari dunia
luar.
Rute penerbangan dari Nadi menuju Taveuni pagi itu terlalu penuh dan
karenanya, koperku bepergian di atas pesawat yang terlalu penuh tersebut
sementara aku dan empat penumpang lain dijejalkan ke dalam apa yang mereka
sebut sebagai “pesawat kotak korek api”. Bisa kukatakan namanya benar-benar
cocok. Kami hampir-hampir harus merangkak untuk dapat memasuki pesawat
kecil berkursi enam itu. Di dalam kabin, kami segera disambut oleh sang pilot,
yang dengan riang mengumumkan bahwa sayang sekali tidak ada makanan
maupun minuman selama perjalanan. Ia juga meminta kami untuk tidak
berjalan-jalan di gang tengah jika

memang tidak perlu. Ia cukup berhasil menyebabkan suasana hati para


penumpangnya dipenuhi humor gelap. Tambahan lagi, setengah dari dua jari di
tangannya yang memberi hormat kepada kami telah hilang. “Gang tengah” yang
ia sebutkan hanya selebar lima belas sentimeter, dan tidak seorang pun dari kami
yang berada di dalam pesawat itu berani memikirkan makanan karena begitu
lepas landas, pesawat tersebut terguncang ke sana kemari oleh turbulensi hebat
sementara mesinnya bekerja keras mengangkat kami melalui puncak Tomaniivi
yang menjulang di Pulau viti Levu.

Kuduga lelaki itu adalah seorang pensiunan pilot yang pindah ke Fiji hanya
karena ia menolak mengucapkan selamat tinggal kepada tongkat kemudi dan
altimeter. Tetapi, ia orang yang cukup baik. Aku duduk di sana dengan lutut
tertekuk menempel pada punggung kursinya, dan ia terus menoleh ke arah kami
dengan senyum lebar; bertanya dari mana asal kami semua; menunjukkan di
mana kami berada pada peta setiap kali kami bertanya; dengan semangat
menunjuk karang-karang koral, lumba-lumba, dan ikan terbang di bawah sana;
dan berbicara sangat cepat tanpa henti.

Engkau mungkin sudah dapat menebak, aku duduk di sana dengan hati berdebar-
debar. Aku telah terbiasa naik pesawat ringan; beberapa minggu sebelumnya
kuisi dengan berpindah dari satu pulau ke pulau lain dengan pesawat semacam
itu. Tetapi harus kuakui bahwa aku merasa tidak tenang menaiki pesawat yang
hanya memiliki satu pilot. Engkau boleh saja mengatakan bahwa rasa takut ini
tidak rasional, suatu jenis keanehan. Ya, rasanya aku memang pernah
mendengarmu mengatakan hal itu, karena sebuah mobil pun hanya memiliki satu
pengemudi, ujarmu, dan lebih banyak orang yang meninggal di jalanan daripada
di udara. Hal itu mungkin benar, walaupun suatu keresahan yang muncul
mendadak tidaklah dapat diabaikan, terutama jika terjadi di ketinggian lima ribu
kaki, dan dengan seorang pilot berusia akhir enam puluhan. Pingsan di tengah
panasnya hawa tropis bukanlah hal yang tidak mungkin. Itu sangat manusiawi,
hal-hal seperti itu bisa saja terjadi.

Setelah begitu sering bepergian, aku tidak mengkhawatirkan kesalahan teknis.


Sebaliknya, aku mencemaskan kegagalan organis. Aku duduk di dalam pesawat
sambil merasakan kegelisahan sebagai makhluk fana, sesosok vertebrata
berdaging yang saat itu terikat di sebuah kursi pesawat. Dan semua ini pun
berlaku pada seorang lelaki yang duduk dengan gagah berani di hadapan tongkat
kemudi. Dan lelaki itu tiga puluh tahun lebih tua daripada diriku. Sebuah gejala
yang tak terbantahkan dari kesadaran ini adalah denyut nadiku yang lebih mirip
jika aku hampir menyelesaikan sebuah maraton. Dan jika jantungku berdebar
dua ratus kali per menit, pikirku, lalu apa yang terjadi di dalam diri sang pilot;
belum lagi tingkat kolesterol dan keadaan pembuluh nadinya. Aku sama sekali
tidak tahu apa-apa mengenai orang yang ramah ini, aku belum pernah
menelitinya secara medis maupun memenuhi keingintahuanku

tentang apa yang ia makan pagi itu. Yang lebih menyiksa lagi adalah saat
kusadari bahwa aku tidak tahu apa pun mengenai kondisi batin sang pilot yang
sudah lanjut usia itu. Mungkin ia memercayai adanya kehidupan abadi suatu
risiko yang seharusnya dipertimbangkan saat menyeleksi orang-orang yang
memiliki mata pencarian seperti dirinya. Yang kumaksud adalah pilot yang
terbang tanpa kopilot dengan membawa para penumpang yang telah membayar;
tentunya tidak banyak orang seperti mereka. Mungkin ia baru saja dikhianati
oleh seorang wanita. Atau mungkin ia duduk di sana sambil memendam rahasia
mengerikan bahwa siang itu ia harus mengakui suatu penggelapan uang besar-
besaran.

Aku tidak terhibur oleh Gunung Tomaniivi, lumba-lumba, maupun karang-


karang koral. Semuanya tampak begitu jauh di bawahku, aku terperangkap, aku
tidak dapat keluar, aku tidak dapat melarikan diri. Aku merindukan botol ginku,
dan aku tidak akan merasa malu sedikit pun untuk mengangkatnya ke bibirku
jika saja saat itu aku memilikinya. Memang sudah nasib bahwa botol berisi
minuman penenangku itu tersimpan di dalam koper yang telah terkirim dengan
pesawat yang dijadwalkan.

Ini tidak ada hubungannya dengan “penyakit takut terbang”, Vera. Kuharap
engkau menyadari bahwa penjelasanku sejauh ini juga bukan dimaksudkan
sebagai laporan perjalanan. Yang sedang kucoba jelaskan adalah kesadaranku
tentang hidup. Di satu pihak, hidup memang selalu ada bersamaku.
Tetapi, biasanya hidup hanya benar-benar muncul dalam dua situasi: saat aku
bangun pada pagi hari dan pada kesempatan yang lebih jarang, yaitu saat aku
mabuk. Orang bilang “in vino Veritas”; “dalam anggur terkandung kebenaran”.
Aku sendiri percaya bahwa mabuk dapat menimbulkan keadaan mental yang
lebih telanjang, tidak dibuat-buat, dan pada dasarnya jauh lebih tulus daripada
kesadaran sehari-hari yang lebih membingungkan setidaknya jika berhubungan
dengan masalah-masalah yang benar-benar besar. Hal-hal itulah yang kita
maksudkan sekarang. Aku berhasil mendapatkan cara yang jauh lebih seketika,
lebih keren, dan lebih cepat untuk memasuki keadaan jiwa yang sama, yaitu
dengan cara mendelegasikan tanggung jawab atas kelangsungan keberadaanku
atau ketidakberadaanku kepada sang pilot pensiunan dalam pesawat kotak korek
api dengan kaca jendela yang retak dan instrumen-instrumen yang usang. Satu-
satunya perbedaan adalah bahwa indra-indraku lebih tajam dibandingkan dalam
kedua situasi lainnya, karena aku tidak sedang setengah tertidur dan sinapsis-
sinapsis sarafku tidak dikacaukan oleh alkohol.

Saat itu adalah pertama kalinya aku lepas landas dalam sebuah pesawat yang
diterbangkan seorang pilot yang telah pensiun dengan tiga jari masih utuh dan
dua lagi tinggal setengah mengendalikan tongkat kemudi. Selama ini, aku selalu
bangun menyambut hari baru, dan tidak terlalu jarang aku minum-minum untuk
mendapatkan keadaan mental yang lebih jujur, lebih mulia, dan, sesungguhnya,

lebih waras. Jadi, memang ada gunanya menyelami lebih dalam apa yang aku
pikir dan rasakan di atas awan sana selama tujuh puluh lima menit antara Nadi
dan Taveuni. Rasanya penuturanku ini juga pas karena sebentar lagi aku akan
menjelaskan pertemuanku dengan Ana dan Jose, dan tentu saja Gordon, yang
sejauh ini belum pernah aku sebutkan. Padahal, banyak percakapanku
dengannya juga mewarnai masa tinggalku di pulau itu.

Ada satu hal yang selalu urung kubicarakan secara tuntas denganmu, walaupun
aku pasti pernah menyinggungnya beberapa kali. Yang kumaksud adalah sebuah
pengalaman masa kecil di rumahku di dekat Oslo. Saat itu usiaku tujuh atau
hampir delapan tahun, tetapi pokoknya ini terjadi sebelum ulang tahunku yang
kedelapan karena saat itulah keluargaku pindah ke Madrid selama empat tahun.
Aku ingat berlari di sepanjang jalan setapak di hutan dengan saku baju penuh
hazelnut yang kutemukan. Aku ingin segera menunjukkannya kepada ibuku.
Tiba-tiba, aku melihat seekor anak rusa terbaring di sebentang tanah lapang, di
permukaan lembap tanah hutan yang diselimuti permadani dedaunan musim
gugur. Daun-daun itu terus tertera dalam benakku karena kuingat sebagian
dedaunan itu juga terserak di atas anak rusa itu. Kupikir anak rusa itu sedang
tidur, dan walaupun sekarang aku tidak begitu yakin, rasanya aku mengendap-
endap mendekati hewan itu entah untuk mengelusnya atau untuk menyingkirkan
semua dedaunan kuning dan merah itu. Tetapi, anak rusa itu bukan sedang

tidur. Ia sudah mati.

Kenyataan bahwa anak rusa itu sudah mati, atau terlebih lagi bahwa akulah yang
menemukannya, terasa sebagai sesuatu yang memalukan, sesuatu yang tidak
akan pernah dapat kuceritakan kepada ayah atau ibuku, atau bahkan nenek atau
kakekku. Jika rusa kecil itu bisa tergeletak tak bernyawa di hutan, mungkin akan
semudah itulah giliranku berikutnya untuk mati. Dan kesadaran ini yang
biasanya tidak dimiliki kebanyakan anak-anak, walaupun hal ini cukup jelas
menghantui seluruh hidupku sebagai suatu sensasi lahiriah. Aku selalu memiliki
intuisi yang baik mengenai hal-hal seperti didikan kepastoran dan psikiatri krisis,
karena kebungkaman yang kuputuskan sendiri itulah yang pasti mengubah
kejadian itu menjadi sebuah trauma. Jika saja saat itu aku berlari pulang dan
menangis kepada ibuku, hampir dapat dipastikan aku akan mendapatkan bantuan
yang kubutuhkan untuk mengatasi pengalaman tak menyenangkan itu. Tapi, aku
tidak pernah dapat mengungkapkannya kepada siapa aku berlatih setiap saat,
walaupun tidak dapat kukatakan bahwa aku telah mencapai kemajuan yang
membuatku merasa terbebas. Setiap pagi, aku masih terhenyak oleh kenyataan
bahwa diriku hanyalah satu-satunya, bahwa aku berada di sini hanya untuk saat
ini, hanya pada waktu inilah engkau dan aku menjadi penyandang kesadaran
alam semesta akan dirinya sendiri.

Melihat kehidupan kita dari sudut pandang keabadian mungkin dapat dianggap
sebagai upaya

moral atau intelektual yang terhormat, tetapi tidak berarti dapat membawa
ketenangan pikiran. Tidak ada rekonsiliasi yang otomatis dapat ditemukan
dengan menyadari bahwa aku seorang primata besar yang sadar akan dirinya
mampu mencakup seluruh sejarah alam semesta kita ini dalam ingatan, mulai
dari Big Bang hingga Bill Clinton dan Monica Lewinsky sekadar contoh dari
dua primata paling terkenal pada masa kita. Tidak ada ketenangan hati yang
diperoleh dengan menjangkau rentang waktu yang lebih luas. Malah kupikir
sebaliknya: itu hanya menyebabkan yang buruk menjadi semakin buruk.
Mungkin lebih baik jika aku meminta seorang penyembuh pikiran untuk
mengeluarkan hewan mati itu dari alam bawah sadarku yang telah membengkak
walaupun aku yakin sekarang sudah terlambat.

Setelah kuungkap hal ini, sekarang kita dapat kembali ke kabin pesawat yang
sempit itu. Yang terjadi di sana bukan sekadar pencerahan sesaat pada pagi hari
seperti biasanya yang selalu meng-gemerencingkan sel-sel sarafku dan
mengatakan bahwa aku adalah seorang vertebrata terlalu rasional yang dikutuk
untuk menghadapi kenyataan bahwa aku hanya memiliki waktu beberapa bulan
lagi untuk hidup. Bukan, yang terjadi adalah tujuh puluh lima menit penelaahan
yang saksama atas perspektif-perspektif tersebut. Dan bahkan situasi saat itu
bertambah genting karena ada kemungkinan bahwa hanya dalam hitungan detik,
hidupku di Bumi akan berhenti total. Dengan sembrono, sang primata yang
memegang kemudi menoleh dan membuka sebuah peta besar, yang ia tekan
dalam-dalam ke pangkuan seorang primata wanita dari Australia yang duduk di
sebelah kananku, yang tadi memperkenalkan diri sebagai Laura. Aku tidak
menyukai penurunan kualitas navigasi pesawat ini hingga mencapai level yang
lebih santai dan mendekati tidak senonoh. Ceritaku ini tidak semestinya
diterjemahkan bahwa rekan-rekan seperjalananku adalah orang-orang yang tidak
menyenangkan; justru sebaliknya, aku menyukai setiap orang dari mereka, dan
aku dapat saja membaringkan kepalaku di pangkuan setiap dari mereka jika aku
memang ingin mencari belas kasihan dan perlindungan. Aku merasa seperti
seekor kadal yang memelas, sesosok makhluk gugup yang seharusnya tetap
tinggal di atas tanah. Keyakinanku ini ada hubungannya dengan kenyataan
bahwa seorang keturunan kadal yang tua, bosan, dan setengah congkaklah yang
mengemudikan pesawat ini. Karena engkau membaca tulisan ini dan karena
engkau bertemu denganku di Salamanca beberapa bulan kemudian, kau tahu
bahwa pesawat itu berhasil mendarat dengan selamat. Masalahnya dengan
penerbangan itu adalah bahwa pengalamanku itu telah menimbulkan suatu
perasaan yang tak terelakkan, perasaan sebagai makhluk vertebrata biasa yang
rapuh di tengah-tengah kehidupan dan terbukti perasaan ini tidak bisa
kulenyapkan pada hari-hari selanjutnya.

Bandara di Taveuni itu bernama Matei dan sepertinya didesain khusus bagi
pesawat-pesawat kotak korek api. Landasan pacunya hanyalah segaris rumput
sempit yang diapit oleh barisan pohon kelapa, dan bahkan gedung bandaranya
lebih mirip sebuah halte bus dengan bangku-bangku bercat biru dan sebuah kios
miniatur. Koper-koperku akan tiba sejam lagi dengan pesawat yang telah
dijadwalkan. Mobil yang dikirim oleh Maravu Plantation Resort, tempatku akan
menginap selama tiga hari, tiba bersamaan dengan pesawat dan barang
bawaanku.

Aku tidak akan menyimpang dari niatku untuk menceritakan segala sesuatu
secara berurutan. Jadi, jika aku berusaha melukiskan “Pulau Taman” dengan
beberapa sapuan kuas kasar, bukan berarti aku ingin menyimpang dari topik
utama. Aku hanya ingin menempatkan Ana dan Jose dalam sebuah lingkungan
tempat, sejauh yang bisa kuingat, mereka akan terus terkait.

Mengenai nama “Pulau Taman”, seharusnya tempat itu sekalian saja disebut
sebagai “the Last Paradise”, “Surga Terakhir”. Nama ini akan memberi suatu
keuntungan praktis karena kata “Last” (Terakhir) dapat dengan mudah diganti
dengan kata “Lost” (Hilang) dalam beberapa dekade mendatang. Aku yakin
banyak pengunjung yang bahkan tidak akan menyadari perubahan kecil itu.

Spesies kita memiliki ketertarikan aneh terhadap kata “terakhir” dan “hilang”.
Asyiknya suatu pengalaman yang masih dapat dinikmati generasi-generasi
mendatang sama sekali tak sebanding dengan melihat sesuatu yang tidak lama
lagi bakal hancur. Dia yang terakhir melihat, akan melihat yang terbaik. Sama
seperti anggota keluarga yang berkabung berdebat tentang siapa yang terakhir
berbicara dengan sang almarhum.

Perlahan-lahan, dengan semakin sempitnya dunia, dan industri turisme


mengembangkan genre dan sub subgenre lebih lanjut, aku dapat meramalkan
masa depan yang cerah bagi nekroturisme: “Lihatlah Danau Baikal yang tak
memiliki kehidupan!”, “Hanya beberapa tahun lagi sebelum Kepulauan
Maladewa tenggelam” atau: “Anda bisa menjadi manusia terakhir yang melihat
seekor harimau hidup-hidup!” Contoh-contoh semacam ini sangat banyak karena
surga dunia menjadi semakin sedikit saja, semakin mengecil dan juga rusak,
tetapi hal ini tidak akan mencegah turisme, justru sebaliknya.

Ada beberapa alasan mengapa selama ini Taveuni lebih beruntung dalam
perjumpaannya dengan dunia Barat daripada banyak pulau lain yang telah
kukunjungi. Permukaan tanah pulau vulkanis ini yang bergelombang banyak
berpengaruh dalam membatasi baik jumlah pengunjung maupun industri
perkebunan. Pantai-pantai lava hitam juga menahan turisme, dan walaupun sudut
timur laut pulau ini sebenarnya memiliki beberapa pantai berpasir koral putih
yang masih belum tersentuh, masalahnya di sini adalah curah hujan yang tinggi.
Kombinasi dari tanah vulkanis subur dan kelembapan yang tinggi inilah yang,
selama pertengahan abad ke-19, mendorong para penetap Eropa untuk membuka
sejumlah perkebunan. Pada awalnya, kapas kualitas tinggi adalah komoditas
utama, tetapi karena harga kapas turun drastis, perkebunan-perkebunan tebu di
selatan pulau menjadi bertambah penting. Kini, pepohonan palem adalah industri
utama pulau ini, begitu pula turisme yang semakin meningkat. Saat mengatakan
turisme, yang kumaksudkan adalah ekoturis-me, karena benar-benar tidak ada
lagi yang bisa dilakukan di sini kecuali menikmati lingkungan yang permai;
tidak ada pusat perbelanjaan, kehidupan malam, maupun kompleks perhotelan
modern bertingkat empat. Di pulau ini tidak ada siaran TV dan listrik sangatlah
terbatas.

Kedua faktor terakhir itulah yang terutama membantu lestarinya tradisi bercerita
di antara penduduk. Kegelapan menyelimuti pulau pada pukul enam sore,
kemudian kata-kata lisan pun mengambil alih. Mungkin seseorang baru pulang
dari perjalanan memancing, seseorang yang lain memiliki pengalaman jauh di
tengah hutan, orang yang ketiga bertemu seorang Amerika yang tersesat di
pinggir salah satu sungai, dan masing-masing memiliki kisah untuk diceritakan.
Mitos-mitos dan legenda-legenda kuno pun terus dipertahankan karena di
Taveuni tidak ada hiburan selain dari apa yang diciptakan sendiri. Para penyelam
dari seluruh dunia datang ke sini untuk melihat koral dan kehidupan laut dalam
kaleidoskop warna yang mengagumkan. Sebagai tambahan, pulau ini masih
dapat membanggakan diri dengan salah satu populasi burung paling eksotik di
dunia, jenis-jenis kelelawar yang langka, pengem-baraan di dalam hutan dan
semak-semak, dan, tentu saja, berjemur di pantai dan di bawah sejumlah air
terjun yang memikat.

Terdapat lebih dari seratus spesies burung di sini. Beberapa merupakan spesies
khas daerah ini seperti jenis merpati berdada Jingga yang terkenal. Untunglah
bagi mereka, luak India tidak pernah diperkenalkan di sini. Namun, untuk
mengontrol populasi serangga di perkebunan-perkebunan yang ada, burung
magpie dan kodok tebu pun didatangkan. Burung-burung magpie itu telah
merebut habitat alami burung-burung asli, dan kodok-kodok tebu menggusur
katak-katak asli semakin jauh ke dalam hutan. Tetapi, hebatnya, populasi
burung-burung unik di Taveuni masih tetap utuh. Hal menggembirakan yang
sama juga terjadi pada kelelawar, termasuk kelelawar buah raksasa, yang dengan
rentang sayapnya yang mencapai satu setengah meter, juga disebut rubah terbang
atau “beka”. Beka rebus dianggap sebagai makanan lezat oleh para anggota
masyarakat yang lebih tua.
Taveuni memiliki lebih dari seribu spesies tumbuhan yang telah diidentifikasi.
Dari seribu spesies tersebut, banyak yang merupakan endemik. Daerah pantainya
memiliki banyak rawa bakau dan pohon kelapa, sementara lebatnya hutan hujan
yang ditumbuhi paku-pakuan dengan pepohonan lokal yang tak terhitung
banyaknya membentuk daerah pedalaman pulau. Saat ini, ada pula beraneka
ragam tumbuh-tumbuhan tropis, seperti anggrek dan kembang sepatu. Bunga
nasional Fiji, Tagimaucia, adalah sebuah spesies yang hanya ditemukan di sini
dan di pulau tetangganya, Vanua Levu.

Seperti lazim dijumpai di dunia belahan sini, keanekaragaman paling terlihat


pada fauna bawah lautnya. Engkau bahkan tidak perlu menyelam menggunakan
snorkel untuk dapat menemukan banyak sekali ikan, moluska, spons, bintang
laut, dan koral. Sungguh sulit menghindari kata-kata seperti “benar-benar sebuah
kaleidoskop” dan “berwarna-warni seperti pelangi” jika membicarakan
kehidupan laut di Pasifik Selatan, dan aku juga merasa bahwa di sekitar Taveuni,
banyak spesimen yang bahkan memiliki pola lebih indah daripada umumnya.

Kembali pada vertebrata darat asli pulau ini, seluruh kelas terwakili di sini,
walaupun selain burung-burung yang sangat beragam hanya dengan beberapa
contoh. Sebelum kodok diimpor dari Hawaii pada 1936, kelas amfibi paling
banyak terwakili oleh katak. Selain iguana, satu-satunya reptil yang ada adalah
beberapa spesies tokek dan ular. Namun, reptil yang paling mencolok mata
sekarang ini adalah jenis tokek rumah Hemidactyius frenatus yang menghibur,
walaupun jenis ini baru muncul di Fiji pada era 1970-an. Kelelawar adalah satu-
satunya mamalia asli yang dapat dibanggakan, dan mereka menikmati suatu
ekosistem tersendiri yang luar biasa disebabkan adaptasinya yang khas. Tiga ribu
lima ratus tahun yang lalu, manusia pemukim pertama tentunya turut membawa
tikus Polinesia, yang mungkin dibawa untuk dijadikan sumber makanan.

Vertebrata-vertebrata asli Taveuni diwakili

oleh ikan, katak, kadal, burung, kelelawar, dan orang-orang Fiji yang pada saat
ini berjumlah dua belas ribu jiwa. Maka, pulau ini pun menampilkan suatu
gambaran perkembangan vertebrata yang sangat apik dan nyaris transparan. Jika
kita meninjau kembali ke belakang, tidaklah terlalu sulit untuk melihat
bagaimana vertebrata di planet ini berevolusi dalam tahapan-tahapan yang begitu
jelas mulai dari ikan menjadi amfibi; dari amfibi menjadi reptil; dan akhirnya
dari reptil menjadi burung, kelelawar, dan orang-orang Fiji.
Apakah engkau pernah memikirkan bahwa dari segi evolusi semata, betapa
“pasaran” anatomi manusia, atau jika kujelaskan dengan kata-kata lain, betapa
purba banyak hal dari diri kita sebagai vertebrata? Mungkin engkau pernah
memikirkan betapa miripnya kerangka manusia dengan kerangka kadal dan
salamander. Dan jika memikirkan hal itu, engkau juga akan menyadari bahwa
sebaliknya, gajah dan unta misalnya, adalah buah yang cukup eksotis, yang jatuh
lebih jauh dari batang pohonnya, jika batang pohon di sini diartikan sebagai
matriks purba tulang belakang, tulang selangka, dan empat anggota tubuh yang
memiliki lima jari. Jalur cepat yang sejati di antara kehidupan sederhana pada
periode Devon hingga saat manusia menaklukkan bulan dipadati oleh amfibi-
amfibi yang mirip salamander, oleh reptil-reptil yang mirip mamalia, dan pada
babak terakhir, oleh primata. Tentu ada pula jaringan jalan keluar dan masuk
yang mengagumkan.

Aku nyaris seperti dapat mendengar protesmu.

Pikiranku terlalu terpusat pada manusia, teriakmu, evolusi tentunya tidak linear
dan tidak disengaja; evolusi lebih mirip semak-semak dan kembang kol daripada
garis-garis maupun batang pohon. Apa hakku untuk menyebutkan bahwa satu
atau dua spesies dari seluruh kelas hewan lebih representatif dibandingkan
spesies-spesies lain? Tetapi bukan itu yang kumaksud; aku hanya menunjukkan
bahwa entah bagaimana aku merasa memiliki hubungan yang lebih erat dengan
kadal dibanding dengan mamalia seperti kelelawar buah atau paus biru. Aku
tidak diturunkan dari kelelawar maupun paus biru, maupun dari jerapah, dan
tidak juga dari orang utan, tetapi aku adalah seorang keturunan langsung dari
seekor ikan duri berongga, dari seekor amfibi, dan kemudian dari seekor reptil
yang mirip mamalia.

Keanekaragaman vertebrata yang tersebar di pulau ini membuatku melihatnya


sebagai satu gambaran besar dan hidup mengenai evolusi kehidupan di Bumi.
Aku menemukan diriku berada dalam sebuah ruang pameran Darwin, dan yang
kumaksud bukanlah hanya keempat anggota tubuh katak, kadal, kelelawar, dan
orang-orang Fiji, dengan struktur lima jari mereka yang serupa, walaupun kaki
dan jari-jari kaki orang-orang Fiji yang mengagumkan panjangnya sama
menariknya dengan anggota-anggota tubuh kadal.

Mengenai orang-orang Fiji, perlu ditambahkan bahwa, selain dari tikus dan
kelelawar, satu-satunya daging dalam makanan mereka hanyalah diri
mereka sendiri. Kanibalisme telah dipraktikkan secara luas hingga akhir abad
ke-19, jika kita mengabaikan satu-satunya tentara Jepang yang dimakan oleh
seorang Fiji, Viliame Lamasalato, baru-baru ini pada akhir Perang Dunia Kedua.
Dampak tradisi ini tidaklah kecil pada kemampuan pulau ini untuk menjaga
keutuhan hutan hujan dan lingkungannya. Aku bukannya menyarankan
pembatasan populasi dengan sesuatu yang mungkin dapat kita sebut sebagai
konsumsi resiprokal. Namun, fakta menyatakan bahwa kanibalisme memang
berperan sebagai semacam pencegah ekologis melawan penjajahan orang kulit
putih. Baik Abel Tasman (1643) maupun James Cook (1774) berlayar melewati
Kepulauan Fiji, tetapi desas-desus mengenai bahaya “kepulauan kanibal” ini
telah mencegah mereka untuk nekat mendarat. Setelah pemberontakan di atas
kapal Bounty (1789), Kapten Bligh dan para perwiranya berlayar melalui
beberapa dari pulau ini dengan menggunakan sebuah perahu terbuka. Namun,
walaupun sangat lapar dan letih, mereka tidak berani mencuri satu butir kelapa
pun. Pada awal abad ke-19, orang-orang Eropa pertama tiba di kerajaan pulau
ini. Ada cerita yang beredar mengenai para misionaris yang disambut dengan
ramah dan dijamu dengan berbagai makanan yang benar-benar tradisional;
istilah itu benar-benar pantas, karena setelah makanan itu habis disantap,
diumumkan dengan penuh formalitas bahwa makanan pembuka yang disajikan
sebelumnya adalah dada wanita, makanan utamanya adalah paha seorang lelaki,
dan makanan

penutupnya adalah otak yang untuk menikmatinya, para penduduk asli itu telah
menciptakan garpu khusus bermata empat. Salah satu dari para misionaris
tersebut yang ironisnya bernama Pendeta Baker (Pembakar) dijadikan masakan
pada 1867. Maka, meriam, peluru, dan mesiu pun didatangkan, dan sisanya
tinggallah sejarah kolonial. Yang pertama-tama dilakukan orang-orang Eropa di
Fiji adalah menjarah habis pohon-pohon cendana yang berharga. Kemudian,
mereka mengimpor enam puluh ribu pekerja perkebunan dari India. Itulah
mengapa kini lebih dari setengah populasi kepulauan ini adalah keturunan India.
Gelombang kedatangan ini pun membawa serangkaian wabah dan penyakit;
pertama-tama kolera, yang menyebabkan beberapa dari pulau tersebut tak
berpenghuni, dan pada 1890 campak, yang menyebabkan kematian sepertiga
dari populasi Fiji.

Aku melihat suatu paradoks yang mengusik pikiran dalam semua ini: penyebab
tetap relatif utuhnya keseimbangan ekologi di beberapa pulau di Fiji adalah
karena orang-orang kulit putih tidak berani mendarat karena adanya kanibalisme.
Ini adalah suatu paradoks, walaupun aku sedikit bersimpati kepada suatu
masyarakat yang pada saat-saat sulit mampu mengonsumsi salah satu
anggotanya sendiri daripada berkompetisi untuk membunuh spesies-spesies lain.
Aku sepakat bahwa kanibalisme harus dipandang sebagai suatu pelanggaran atas
apa yang kita sebut sebagai “hak-hak alamiah”, tetapi kesembronoan dunia Barat
atas ekologi merupakan suatu pelanggaran tanggung jawab manusia yang sama
buruknya. Istilah “hak-hak alamiah” memiliki sejarah lebih dari dua ribu tahun
lamanya, dan hanya satu hal yang ingin aku tanyakan: kapankah kita akan siap
untuk memiliki istilah “tanggung jawab alamiah”?

Karena aku sudah menyinggung tentang dua ribu tahun itu, izinkanlah aku
akhirnya menunjukkan satu lagi paradoks yang mencolok tentang “Pulau Taman
dari Fiji”. Takdir telah menentukan bahwa pulau ini terletak persis di atas
International Date Line, karena kebetulan saja pulau ini terletak tepat pada garis
bujur ke-180 dari Observatorium Kerajaan di Greenwich. Ini berarti setengah
dari pulau ini berada pada hari ini dan setengah yang lain pada hari kemarin.
Atau tentu saja yang sebaliknya: satu bagian berada pada hari ini dan bagian
yang lain pada esok hari. Alasanku mengatakan hal ini merupakan takdir adalah
karena Taveuni menjadi tempat berpenduduk pertama di dunia yang akan
melihat milenium ketiga. Hal ini tidak akan terlewatkan begitu saja.
V

Aku bukan satu-satunya yang dijemput oleh Land Rover itu. Aku juga ditemani
oleh dua orang tamu yang menuju tempat yang sama. Kami telah bercakap-
cakap sebentar di bandara selama menunggu koper-koper kami tiba dengan
pesawat yang telah dijadwalkan. Salah satu dari tamu tersebut adalah Laura,
yang menunjukkan antusiasme yang begitu

besar terhadap pesawat terbang sembari menggoda pilot lanjut usia kami, saat
aku sibuk membolak-balik album keluarga Bumi adegan demi adegan mulai dari
pembelahan sel pertama pada awal periode Pra-Kambrium terus hingga waktu
yang telah ditetapkan bagiku di Bumi.

Laura berasal dari Adelaide dan adalah seorang wanita cantik di akhir usia dua
puluhan. Dengan kulitnya yang berwarna cokelat keemasan dan rambut hitam
panjangnya yang terkepang, ia agak mirip gadis muda Indian Amerika. Salah
satu keunikannya adalah salah satu matanya berwarna hijau dan yang lain
berwarna cokelat. Mungkin memang ada sedikit berkas warna cokelat di
matanya yang hijau dan mungkin seberkas warna hijau di matanya yang cokelat,
tetapi tetap saja ia memiliki satu mata hijau dan satu mata cokelat. Ini adalah
suatu kelangkaan genetik yang seingatku belum pernah kutemui. Aku juga
memerhatikan ada lencana World Wildlife Fund tersemat di ransel kanvasnya
yang sederhana. Laura memang menarik sekaligus eksentrik sehingga dapat
memancing sedikit perhatianku, tetapi tampak jelas ia tidak tertarik melakukan
basa-basi perkenalan di bandara, karena dengan segera ia menenggelamkan diri
dalam buku panduan Lonely Planet-nya, sibuk membaca tentang pulau itu.

Penumpang yang satu lagi adalah Bill; kurasa ia juga menyebutkan nama
belakangnya, tetapi aku telah lama melupakannya. Ia berusia akhir lima puluhan,
berasal dari Monterey, California, dan tampak

jelas pada masa mudanya ia adalah pencari petualangan yang kaya raya. Dengan
segera terbentuk suatu gambaran di benakku mengenai dirinya. Ia menampilkan
karakteristik tipikal Amerika Utara yang ganjil, yaitu hasrat tak tertahankan
untuk dapat mengalami secara langsung dunia ini sebanyak mungkin, tanpa
terganggu hubungan sosial dengan pasangan hidup, anak, maupun teman dekat.
Bill adalah seorang yang cukup unik. Aku ingat bahwa aku berpikiran sebagian
orang memang tidak pernah benar-benar menjadi dewasa, mereka hanya menjadi
sangat kaya dan seringnya sangat tua.

Lelaki yang menjemput kami adalah seorang Inggris dan memperkenalkan diri
sebagai John. Ia bertubuh sangat kuat dan kekar, berusia pertengahan enam
puluhan, tingginya setidaknya 190 sentimeter, dan memiliki rambut berwarna
kelabu dan jambang pendek yang hampir putih warnanya. Baru kemudian
kusadari bahwa ia bukanlah salah seorang pegawai Maravu, melainkan seorang
tamu seperti kami. John menawarkan diri untuk menjemput kami karena pihak
penginapan tengah berhalangan. Sepertinya ia sangat tertarik untuk sesegera
mungkin mengenal para tamu baru.

Begitu mobil kami berbelok meninggalkan jalan pedesaan dan mendaki menuju
Maravu Plantation Resort, aku terpukau akan keindahan tempat itu. Penginapan
tersebut terdiri dari sepuluh pondok dan satu gedung utama yang tersebar di
tengah perkebunan kelapa tua. Pondok-pondok itu atau di pulau ini disebut
sebagai burs dibangun di atas sebuah bukit dengan pemandangan ke arah laut, di
tengah-tengah semak belukar yang lebat dan pohon-pohon nyiur yang melambai.
Hal ini menyebabkan setiap pondok tidak mungkin terlihat dari pondok-pondok
lainnya, atau setidaknya setiap pintu pondok dari pintu-pintu lainnya. Gedung
utamanya dibangun persis seperti salah satu rumah pertemuan tradisional pulau
itu dengan dinding-dindingnya yang terbuka dan dinding penyangga atap yang
tinggi ditutupi oleh atap dari dedaunan kelapa. Lantai kayunya cukup luas untuk
menampung sebuah area resepsionis yang terbuka, sebuah bar, sebuah restoran
yang sama-sama diberi nama Maravu dan sebuah lantai dansa yang lebar.

Kami disambut di bar dan disuguhi sebutir kelapa yang dilengkapi dengan
rangkaian kembang sepatu yang tertata rumit dan sebatang sedotan, sementara
formalitas untuk check-in dilengkapi. Kami duduk-duduk di sana selama
beberapa saat untuk mengobrol sementara semua orang yang tengah bertugas di
Maravu pagi itu melintas dan menyapa kami satu demi satu. “Bulai” ujar
mereka, “Bulai” Kata sapaan lokal ini begitu sering diulang di Kepulauan Fiji
sehingga hampir menjadi sebuah mantra. Tetapi, kata ini memiliki arti yang lebih
fleksibel daripada padanannya dalam sebagian besar bahasa lain. “Bula” dapat
berarti apa saja, mulai dari “Hai”, “Halo”, dan “Hari yang indah” hingga “Apa
kabar?”, “Selamat menikmati hari Anda”, dan “Selamat tinggal”.

Semua orang di pulau itu tahu bahwa aku

adalah “Frank”, Bill adalah “Bill”, dan Laura adalah “Laura”. Seakan-akan
dalam beberapa minggu sebelumnya, semua orang di tempat itu tidak punya
pekerjaan selain mempersiapkan kedatangan kami, untuk membuat kami merasa
elite dan spesial. Kami telah datang ke Maravu untuk dimurnikan dan dilahirkan
kembali. Bill menemukan bahwa dalam bahasa Fiji, “maravu” berarti “tenang
dan damai”, sementara Laura ingin mengetahui tempat terbaik untuk melihat
burung-burung nuri yang terkenal di pulau ini.

Aku diantar melewati sebuah kolam renang dan menembus pepohonan palem
menuju bure 3. Aku hanya bergerak seminimal-minimalnya sebelum akhirnya
duduk di beranda beratap untuk memandang ke arah laut, dengan kekaguman
yang mendalam, untuk menikmati sebuah sumber daya alami yang teramat
jarang ditemui dalam dunia kita kini. Yang kumaksud adalah keheningan umat
manusia bisa dibilang juga telah memusnahkan hal itu.

Sekali lagi aku telah berada di atas tanah walaupun hampir dapat dikatakan
bahwa aku belum mendarat, apalagi melupakan penerbangan itu, bahkan setelah
ada jaminan bahwa untuk penerbangan kembali ke Nadi, aku akan mendapat
kursi di dalam pesawat yang dijadwalkan. Suasana hatiku tengah diliputi
kepanikan yang menggelisahkan, sebuah keadaan jiwa yang kuyakin tidak akan
dapat kusingkirkan. Seolah aku tengah menikmati gelegak alkohol dalam
tubuhku, namun sambil menyadari pula bahwa sekali ini aku telah meminum
anggur yang

tidak akan pernah keluar dari tubuhku.

Aku pernah mendengar tentang para dokter yang berubah menjadi penderita
hipokondrial, para pendaki gunung yang menjadi takut akan ketinggian, dan para
pendeta yang kehilangan keimanan mereka. Aku pun hampir sama buruknya.
Aku adalah ahli palaeontologi yang terjangkiti rasa takut akan tulang belulang.
Aku adalah ahli zoologi yang hampir tidak dapat mengakui bahwa ia sendiri
adalah seekor hewan. Aku adalah ahli biologi evolusioner yang sulit menerima
bahwa waktunya di Bumi pun terbatas. Separuh dari hidupku telah kuhabiskan
untuk mengamati sisa-sisa tulang belulang dari mamalia; dengan penuh
keingintahuan aku telah menceburkan diri untuk menganalisis sisa-sisa hewan
yang mati, dan sekarang aku terjangkit sebuah ketakutan yang nyaris menjurus
ke kepanikan. Ketakutan bahwa suatu hari aku akan menyumbangkan tumpukan
kecil diriku sendiri ke dalam materi yang selama ini begitu kunikmati. Aku
merasa bangkrut. Tetapi, ini tidak terasa seperti sebuah obsesi, ini hanyalah suatu
pengertian intuitif yang begitu mutlak. Buddha telah melihat seorang yang sakit,
seorang tua, dan jenazah. Pada masa kecil, aku telah menemukan seekor anak
rusa mati di hutan, dan sekarang setelah penerbangan yang berbahaya dari Nadi
ke Matei itu luka lama itu terbuka lagi.

Sekali lagi, aku memutar ulang film panjang yang dimulai dari saat kehidupan
dimulai di Bumi empat miliar tahun yang lalu. Sejarah diriku sendirilah yang
tengah kutonton, nenek moyangku sendiri.

Bukan garis langsung nenek moyangku yang kembali kepada reptil-reptil kecil
mirip mamalia yang hidup di sini beberapa ratus juta tahun yang lalu tetapi lebih
jauh lagi kepada seekor reptil primitif, seekor amfibi, seekor ikan duri berongga,
seekor invertebrata, dan terus kembali kepada sel hidup yang paling awal di
dunia. Bukan saja aku diturunkan dari reptil-reptil mirip mamalia yang hidup di
sini beberapa ratus juta tahun yang lalu, tetapi setiap sel di dalam tubuhku
mengandung gen yang benar-benar setua itu. Aku adalah mata rantai terakhir
dalam sebuah rantai pembelahan sel yang tidak terputuskan, mata rantai terakhir
dari proses-proses biokimia yang kurang lebih telah diketahui, dan dalam
analisis terakhir mata rantai terakhir dari biologi molekuler. Aku tersadar bahwa
pada dasarnya, aku tidaklah berbeda dari organisme-organisme sederhana bersel
satu yang merupakan nenek moyangku yang paling pertama. Singkatnya, aku
tidaklah lebih dari sebuah koloni sel dengan satu perbedaan penting bahwa sel-
sel milikku lebih saling menyatu dibandingkan sel-sel yang terdapat dalam
sebuah kultur bakteri, sel-selku lebih berbeda-beda dan karenanya mampu
melakukan pembagian tanggung jawab yang lebih radikal. Namun, aku pun
terdiri dari sel-sel yang terpisah, dan setiap sel tersebut terbentuk dari sebuah
faktor pemersatu paling sederhana, yaitu kode genetik, sang master plan itu
sendiri, yang tertanam di setiap sel di dalam tubuhku. Kode DNA sendiri
mewakili suatu akumulasi mikroskopik dari beratus-ratus juta tahun permainan
tanpa tujuan

dengan asam nukleat. Dan walau begitu, dari sudut pandang genetik, aku
tidaklah lebih dari sebuah konstruk raksasa dari sel-sel kembar yang identik.
Namun, bagaimana hiperklon-hiperklon ini dapat berkomunikasi satu sama lain,
dan terlebih lagi, menyalakan dan memadamkan gen mereka demi keuntungan
maksimal bagi keseluruhan ini adalah salah satu misteri terbesar di Bumi.

Motor penggerak evolusi yang sesungguhnya adalah suatu kenyataan sederhana


bahwa hanya suatu bagian yang sangat kecil dari setiap generasi mampu tumbuh
dewasa dan bereproduksi; tanpa adanya seleksi, evolusi tidak akan mungkin
terjadi. Pengikisan keturunan secara permanen dan perjuangan demi
kelangsungan hidup yang juga berlangsung selamanya menjadi pilar-pilar
evolusi. Tetapi, nyatanya aku duduk di sini, di sebuah pulau kecil di Oseania
laksana sebuah perkecualian yang luar biasa langka dalam peraturan yang
mengatakan bahwa engkau tidak akan mungkin memenangi hadiah pertama lotre
seribu kali berturut-turut. Aku dan dengan ini yang kumaksud adalah garis nenek
moyangku, pohon silsilahku, garis zigot dan pembelahan sel diriku sendiri yang
tak pernah terputus telah bertahan selama berjuta-juta generasi. Dalam setiap
generasi, pertama-tama aku berhasil membelah sel-selku, kemudian berkembang
biak, membuahi telurku atau bertelur, dan dalam tahap terakhir, menghasilkan
keturunan yang hidup. Jika satu saja dari berjuta-juta nenek moyangku, misalnya
seekor amfibi yang menjalani kehidupan yang dingin dan

lembap pada periode Devon, atau seekor reptil yang merangkak di antara
tumbuh-tumbuhan pteridofita pada zaman Perm, jika satu saja individu itu mati
sebelum matang secara seksual sama seperti anak rusa malang di kampung
halamanku di Norwegia itu aku tidak akan mungkin duduk di beranda ini
sekarang. Dan jangan katakan bahwa aku memandang segalanya dari sudut
pandang yang terlalu jangka panjang, karena aku dapat saja mundur lebih jauh
lagi: jika ada satu saja mutasi yang fatal dalam sebuah pembelahan sel bakteri
tertentu dua atau tiga miliar tahun yang lalu, aku tidak akan pernah melihat dunia
ini. Dari satu bakteri itulah aku berasal, dan khususnya dari satu sel tersebut
marilah kita menyebut sel tersebut sebagai sel ZVG 31.514.
718.120.211.212.091.514 dalam koloni sel KAR 251. 521.118.512.391.414.518
pada 180° garis bujur beberapa derajat sebelah utara dari garis balik selatan. Aku
tidak pernah mendapatkan kesempatan. Maka, aku telah bertahan bermiliar-
miliar kali dari bahaya-bahaya paling mengerikan, tetapi nah, nah, nenek
moyangku selalu berhasil oh ya, oh ya mereka selalu berhasil meneruskan
tongkat estafet genetik mereka. Dan dalam keadaan utuh pula, Vera, selalu dalam
keadaan utuh, walaupun secara berkala mereka sedikit mengubah warisan itu
dengan beberapa variasi teramat kecil yang menguntungkan. Jadi, selalu ada
estafet baru, karena akan masih ada berjuta-juta estafet yang harus dilakukan.
Dan walaupun hanya memiliki peluang yang amat kecil, kini tibalah giliranku.
Tetapi, estafet yang ba-ru telah dimulai, dan demikian selanjutnya, dan mungkin
generasi berikutnya akan tumbuh dewasa walaupun kita tidak akan terlalu
menghargainya. Tetapi begitulah yang akan terjadi, berulang-ulang, karena tidak
ada yang sudi jatuh ke dalam perangkap. Semua orang selalu berjaga-jaga,
tongkat estafet genetik ini telah diteruskan dari generasi ke generasi selama
beratus-ratus juta kali. Buktinya, aku bisa berada di sini.
Demikianlah isi pikiranku. Bisa dibilang bahwa semua ini berkat perusahaan
penerbangan itu, karena mereka telah menempatkan bagasi genetikku yang
berusia jutaan tahun dalam bahaya besar. Aku merenungkan fakta bahwa diriku
pagi ini sudah larut dalam berbagai pemikiran pelik, padahal ikan-ikan duri
berongga yang menjadi nenek buyut dan kakek buyutku yang kebetulan hidup
bertetangga di periode Devon merangkak dari satu kubangan ke kubangan lain
agar tidak kehabisan napas karena kekurangan oksigen. Tetapi dan ini adalah
bagian yang menyakitkan kini, lomba estafet yang luar biasa panjang tetapi amat
jelas dan transparan ini akan berakhir. Permainan domino yang tak berkesudahan
dan terus berlangsung tanpa henti sedetik pun selama lebih dari tiga miliar tahun
kini telah menemui jalan buntu. Aku sudah mulai bersiap menghadapinya.

Aku merasa memiliki latar belakang yang sungguh kaya. Berapa generasi
leluhurku yang dapat kuhitung sejak amfibi pertama? Berapa kali pembelahan
selkah yang berhubungan dengan diriku sejak

zigot paling awal? Aku adalah seorang profesor dengan masa lalu yang sungguh-
sungguh kaya. Tetapi, aku tidak memiliki masa depan. Setelah ini, aku bukanlah
apa-apa.

Demikianlah jalan pikiranku, dan mungkin sebaiknya aku menambahkan bahwa


aku memikirkan kita berdua. Tentu saja, aku juga merenungkan bahwa aku tidak
memiliki seorang anak pun. Lebih menyedihkan lagi, bahwa sejauh ini, dari
garis yang begitu panjang dan banyak yang berjalan selama beratus-ratus juta
generasi sebelum diriku, akulah generasi pertama yang tidak memiliki
keturunan. Karena, telah jelas diketahui bahwa ketidakmampuan memiliki anak
tidak pernah dapat diturunkan. Sudah menjadi hukum biologi evolusioner bahwa
ketidakmampuan menghasilkan keturunan adalah suatu karakteristik yang amat
merugikan sehingga dengan segera disingkirkan. Hanya mereka yang mampu
memiliki anaklah yang dapat mengimpikan memiliki cucu, dan tanpa cucu,
seseorang tidak dapat menjadi seorang nenek buyut atau kakek buyut.

Dan tepat saat segalanya tengah berjalan lancar, pikirku. Dan tepat saat aku
tengah mengagumi harta keluargaku yang tak ternilai. Pada satu sisi, aku sangat
kaya, aku memiliki berjuta-juta batu permata warisan kuno menghiasi dasar
petiku. Tetapi, aku menyanyikan bait yang terakhir. Usiaku hampir empat puluh
tahun, dan aku tidak melihat sedikit pun tanda-tanda bahwa aku akan memiliki
keturunan. Aku begitu sendirian di dunia ini, begitu terasing. []
Adam yang Tak Terheran-heran

Aku mencoba membaca ulang catatan terakhir yang kubuat di Auckland setelah
melakukan berbagai pertemuan dengan orang-orang dari pelestarian lingkungan
hidup. Beberapa kali kudengar suara berdebum pelan. Awalnya kukira itu adalah
gema suara petir di kejauhan, tetapi kemudian kusadari bahwa itu tentulah suara
kelapa yang berjatuhan ke tanah dari puncak pohon-pohon kelapa yang tinggi.

Setelah buah kelapa ketigaberdebum jatuh, tiba-tiba terdengar suara-suara


semakin mendekat, dan aku melihat seorang pria dan seorang wanita berjalan di
samping dinding pondokku dan terus menembus pepohonan palem melalui jalan
setapak kecil yang menurun ke arah laut dan jalanan. Lengan sang pria
merengkuh erat bahu sang wanita, begitu eratnya hingga sebenarnya aku merasa
agak malu berada di situ. Ini membuatku membayangkan seandainya Tuhan
berkeliling di dalam Taman Firdaus sambil mengamati makhluk-makhluk-Nya.
Sekarang aku mengambil alih peran tersebut, walaupun kejadian sekarang ini
tentunya berlangsung setelah kejatuhan mereka, karena tidak saja kedua
makhluk itu berpelukan begitu erat, mereka juga tidak lagi telanjang. Tuhan
telah memakaikan sebuah gaun merah menyala kepada sang wanita, dan sang
pria diberi pakaian dari linen hitam. Aku mendengar

mereka berbicara dalam bahasa Spanyol dan aku pun menajamkan telingaku.

Tiba-tiba sang pria berhenti di tengah jalan setapak itu. Ia mengangkat lengannya
dari bahu Hawa dan menunjuk menembus kebun ke arah lautan. Kemudian ia
berbicara dengan lantang dan jelas: “Sama sekali tidak aneh bahwa Sang
Pencipta beristirahat setelah membentuk manusia dari debu dan meniupkan
kehidupan ke dalam lubang hidungnya, sehingga menjadikannya makhluk hidup.
Yang mengejutkan dari kejadian itu adalah Adam yang sama sekali tidak
keheranan.”

Udara saat itu panas, langit telah menjadi cerah setelah turunnya hujan deras di
pagi hari, tetapi aku dapat merasakan dingin merambati tubuhku. Tidakkah ia
nyaris seperti membaca pikiranku?

Si wanita tertawa. Ia berpaling kepada si pria dan menjawab, mengucapkan


dengan lantang:

“Tidak bisa disangkal, menciptakan dunia seisinya adalah sebuah prestasi yang
patut dikagumi. Walaupun tentu dunia yang mampu menciptakan dirinya sendiri
pantas mendapatkan penghargaan lebih besar. Dan sebaliknya: pengalaman
menjadi sesuatu yang diciptakan tidak ada artinya dibandingkan perasaan yang
meluap-luap karena telah menciptakan diri sendiri dari kehampaan dan berdiri
tegak dengan kedua kakinya.”

Sekarang giliran si pria yang tertawa. Ia mengangguk sambil berpikir dan


melingkarkan lengannya di bahu sang wanita lagi. Ketika mereka kembali
beranjak dan segera akan menghilang di antara pepohonan palem, kudengar si
pria berkata:

“Perspektif-perspektif ini begitu rumit; karenanya kita harus tetap membuka diri
terhadap berbagai kemungkinan. Jika memang ada Sang Pencipta, seperti apakah
dia? Dan jika Sang Pencipta itu tidak ada, apakah hakikat dunia ini?”

Aku sama sekali tidak bisa menduga siapakah sebenarnya kedua peramal ini.
Aku benar-benar terpaku.

Apakah aku baru saja menyaksikan sebuah ritual pagi yang telah berjalan sejak
zaman dahulu kala? Ataukah aku hanya kebetulan menangkap beberapa bagian
dari sebuah percakapan yang lebih panjang? Jika memang begitu adanya, andai
saja aku dapat mendengar semuanya. Aku merogoh buku harian kecilku dan
berusaha mencatat semua yang telah mereka ucapkan.

Tidak lama kemudian, saat berjalan-jalan menjelajah, aku bertemu mereka lagi,
dan sekali ini aku bertemu langsung. Aku menyusuri jalan yang mengikuti garis
pantai, kecuali di bagian-bagian yang paling curam di bagian tenggara. Aku
mengikuti jalan tersebut selama sekitar 1,6 kilometer lalu tiba di suatu tempat
yang menurut peta dinamakan Pantai Pangeran Charles. Sebuah nama yang
terlalu muluk untuk sebuah laguna yang begini kecil, pikirku. Pada hari-hari
tertentu, pantai ini bahkan tidak akan memikat siapa pun untuk berenang di sini.
Tetapi mungkin sang ahli waris takhta Kerajaan Inggris itu pernah diseret ke sini
karena para penduduk ingin menunjukkan pantai yang paling indah di Taveuni

kepadanya. Pilihan mereka memang tepat.

Melalui sela-sela pohon bakau, aku dapat melihat Adam dan Hawa berjalan
tanpa alas kaki di dekat garis air, seakan-akan mereka tengah mengumpulkan
kulit-kulit kerang. Aku merasa diriku tertarik menuju mereka dan aku pun
memutuskan untuk berjalan ke arah pantai, seolah-olah karena kebetulan belaka.
Tepat saat aku keluar dari antara pepohonan, aku mendapat sebuah inspirasi:
mengapa harus menunjukkan bahwa aku bisa berbahasa Spanyol?
Kemampuanku itu adalah sebuah kartu as yang mungkin akan berguna jika
kusimpan, setidaknya untuk saat ini.

Mereka mendengar kedatanganku dan mengamatiku dengan tatapan menyelidik.


Kurasa si wanita mengatakan sesuatu kepada si pria bahwa mereka tidak lagi
sendirian.

Kecantikan wanita itu sebagaimana yang digambarkan dalam kisah Penciptaan


dengan rambut hitam yang tergantung dalam ikal-ikal lebat di atas gaun
merahnya, gigi yang putih bersih, dan mata yang hitam legam. Tubuhnya yang
cokelat terbakar matahari itu semampai, molek, dan mengagumkan, dan
menurutku ia bergerak dengan suatu keanggunan yang tidak biasa. Si pria lebih
pendek dan tampak lebih pendiam, menurut hampir seperti menutup diri,
walaupun sebuah senyum nakal tebersit di wajahnya yang tirus saat aku berjalan
mendekat. Kulitnya pucat dan ia memiliki rambut pirang dan mata biru. Usianya
mungkin sekitar usiaku, dan setidaknya sepuluh tahun lebih tua daripada usia si
wanita.

Bahkan pada pertemuan pertama itu aku merasa pernah melihat wanita muda ini
sebelumnya. Walaupun aku tidak terlalu suka pada ide-ide seperti ini, tetapi
hampir seakan-akan aku pernah bertemu dengannya dalam kehidupan sebelum
ini, atau dalam keberadaan yang lain. Setelah sekilas merunut masa laluku dan
kenalan-kenalanku belakangan ini, aku tidak bisa memastikan pada episode
kehidupanku yang manakah ia hadir. Tetapi aku yakin pernah bertemu dengan
wanita ini sebelumnya, dan mengingat ia masih begitu muda, tentunya itu terjadi
belum terlalu lama.

Aku menyapa mereka dengan menggunakan bahasa Inggris, mengatakan betapa


indahnya cuaca hari itu dan bahwa aku baru saja tiba di pulau itu. Mereka
memperkenalkan diri sebagai Ana dan Jose, dan aku memberi tahu mereka
bahwa namaku Frank. Segera kami tahu bahwa kami sama-sama menginap di
Maravu, karena memang tidak ada akomodasi lain dalam beberapa kilometer di
sekitar tempat itu. Kemampuan bahasa Inggris mereka bagus.

“Liburan?” tanya Jose.

Aku menarik napas. Percakapan ini tidak perlu berpanjang-panjang. Aku


memberi tahu mereka bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang setelah
melakukan penelitian lapangan selama beberapa minggu di Pasifik Selatan.
Ketika aku menambahkan beberapa kata mengomentari ancaman terhadap
tumbuh-tumbuhan dan hewan asli daerah itu, mereka mendengarkan lebih
saksama. Mereka bertukar

tatapan penuh makna dan tampak begitu terikat sebagai pasangan sehingga aku
pun kembali merasa tidak nyaman. Aku sadar bahwa dalam sebuah situasi
seperti ini, beroperasi berpasangan memberikan keuntungan sangat besar.

“Dan Anda berdua?” tanyaku. “Sedang berbulan madu?”

Ana menggelengkan kepalanya.

“Kami bekerja dalam industri perfilman,” ujarnya.

“Dalam industri perfilman?” ulangku.

Aku berusaha menggunakan kalimat itu sebagai upaya terakhir untuk


mengetahui di mana aku pernah bertemu dengan wanita anggun ini. Mungkinkah
ia seorang bintang film terkenal yang tengah menikmati liburan di Lautan
Selatan dengan suaminya yang sedikit lebih tua, sang sutradara atau juru kamera
terkenal Jose entah siapa? Toh bisa saja aku tidak pernah bertemu dengan wanita
itu dalam kehidupan nyata; mungkin aku hanya melihatnya di layar bioskop.
Tidak, ini tidak mungkin, aku tidak pernah gemar menonton film, terutama pada
masa Ana menginjak usia dewasa.

Si wanita menatap suaminya dan tampak ragu sejenak sebelum menoleh ke


arahku lagi. Ia mengangguk dengan gaya menantang.

“Kami bekerja untuk sebuah stasiun TV Spanyol.”

Seakan-akan untuk membuktikan kebenaran pernyataannya, ia mengambil


sebuah kamera kecil dan mulai memotret pemandangan pantai, Jose, dan

diriku. Si wanita tersenyum nakal, dan aku curiga ia tengah menertawakan


diriku. Jika memang itu yang ia lakukan, tidak akan sulit bagiku untuk
memaafkannya, karena aku tengah tersilaukan oleh sesuatu yang melebihi pasir
koral putih dan matahari tengah hari.

Si lelaki bertanya kepada si wanita pukul berapa saat itu, dan aku ingat bahwa
hal itu kuanggap aneh karena kuperhatikan keduanya tidak mengenakan jam
tangan. Aku memberi tahu mereka bahwa saat itu pukul dua belas lewat
seperempat, dan sambil melambaikan tangan, aku berkata akan menjelajahi
pulau itu. Tepat ketika aku berbalik memunggungi mereka dan mulai menuju
jalanan, aku mendengar si wanita membisikkan sesuatu dengan nada seperti
bacaan sakral.

“Ketika kita mati-saat adegan-adegan teiah terekam daiam pita seiuioid dan
dekor teiah dilepas dan dibakar kita ada f ah arwah daiam ingatan keturunan kita.
Kemudian kita ada f ah hantu, Sayangku, kemudian kita adaiah mitos. Tetapi,
kita masih bersama, kita masih merupakan masa iaiu yang bersama, kita adaiah
masa iaiu yang jauh. Di baiik kubah masa iaiu yang misterius, aku masih
mendengar suaramu.”

Aku berusaha terus melangkah ke jalan seolah-olah tidak mendengar apa pun,
atau setidaknya berpura-pura tidak mengerti ucapannya itu. Begitu melewati
sebuah belokan, kukeluarkan buku catatan kecilku dan kucoba menuliskan apa
yang telah ia katakan. “Di balik kubah masa lalu yang

misterius, aku masih mendengar suaramu ….”

Aku menimbang-nimbang apakah Ana telah memberiku sebuah petunjuk untuk


kuikuti. Mungkin aku harus mencari kunci jati dirinya pada suatu masa lalu yang
misterius.

Aku pernah melihat wanita itu sebelumnya; aku benar-benar yakin. Tetapi pada
saat yang sama, terasa ada yang tak beres. Aku memiliki perasaan tidak
menyenangkan bahwa pada suatu waktu, sesuatu pernah terjadi pada dirinya.

Pertemuanku dengan kedua orang Spanyol itu telah membuatku begitu resah
sehingga aku pun memutuskan untuk berjalan sejauh S kilometer sepanjang
pantai menuju garis bujur 180°, tempat kabarnya terdapat sebuah monumen yang
didirikan tepat di garis pemisah dua hari. Perjalanannya ternyata cukup panjang,
tetapi aku jadi berkesempatan untuk melihat-lihat kehidupan sehari-hari di pulau
itu. Aku berjalan melalui beberapa desa yang ramai dan disambut oleh senyuman
para warga yang berpakaian warna-warni. Beberapa sungai dipenuhi anak-anak
yang sedang berenang, ada pula satu atau dua orang dewasa yang berada di
dalam air. Aku memerhatikan bahwa lebih banyak para lelaki yang berkeliaran
sambil menggendong balita. Kaum wanita yang bekerja.

Aku tidak dapat menemukan satu pun wajah yang bersedih, padahal siang itu
aku mendapat

kesempatan untuk mempelajari banyak wajah. Bunga dan buah kelapa, ikan dan
sayuran banyak terdapat di mana-mana, tetapi selain dari hal-hal itu, tidak
banyak yang mereka miliki menurut standar Dunia Barat. Tetapi bukankah
Adam dan Hawa pun hidup dalam kondisi seperti ini dalam Taman Firdaus,
sebelum mereka memakan buah dari pohon pengetahuan? Kemudian mereka
dikutuk untuk bekerja di bumi seumur hidup dan memakan roti hasil kerja keras
mereka? Aku tidak dapat membayangkan bahwa para wanita di pulau ini
membutuhkan gas tawa maupun pethidine untuk membantu kelahiran. Hidup ini
bagaikan sebuah permainan, pikirku, semua ini hanyalah sepotong gula-gula.

Kedua kakiku pegal ketika akhirnya aku mendekati Desa Waiyevo, yang hanya
berjarak 8DD meter dari dateline tersebut. Di sini, aku bercakap-cakap dengan
Libby Lesuma, seorang wanita Australia ramah yang menikahi seorang Fiji dan
memiliki sebuah toko kelontong dan sebuah toko suvenir kecil. Ia dikelilingi
oleh sekawanan anak-anak, dan ketika salah satu dari mereka pergi untuk
mengambil bola dari bawah sebuah pohon kelapa, aku menunjuk ke atas pohon
tersebut dan bertanya apakah ia tidak takut jika anak itu terkena buah kelapa
yang jatuh ke kepalanya. Wanita itu hanya tertawa dan berkata bahwa ia tidak
pernah memikirkan hal itu, ia lebih khawatir akan hiu. Walaupun begitu, ia tidak
pernah dapat menghentikan anak-anak itu berenang di laut. Namun, jika mereka
sedang terluka sedikit saja, mereka tidak boleh memasuki air. Hiu dapat
mencium bau darah dari kejauhan, ujarnya, dan aku mengangguk. Ketika aku
mengatakan bahwa aku telah berjalan jauh dari Maravu, ia bertanya mungkin
masih ada hubungannya dengan hiu tadi apakah aku lapar. Aku menjawab bahwa
aku sangat lapar, tetapi sambil bercanda, kutambahkan bahwa di sepanjang jalan
tadi, aku tidak merasa melewati satu pun restoran cepat saji. Ia pun tersenyum
hangat keibuan, dan bagaikan seorang ibu peri yang baik hati, ia membawaku ke
sebuah bar kecil yang tersembunyi di balik kedua tokonya, tepat di pinggir laut.
Aku menghabiskan makan siang sederhanaku sendirian sambil berusaha
memotivasi diri sendiri untuk melakukan sisa perjalanan yang terakhir. Bar itu
bernama “Kafe Kanibal”, dan sebuah tulisan besar berhuruf merah yang
mencolok mengumumkan: “Kami senang sekali Anda datang untuk makan
malam”.
Sungguh santai sikap cucu buyut para kanibal ini terhadap seni memasak mereka
pada masa lalu, pikirku. Benar-benar tak terbayangkan bahwa orang-orang yang
begitu pengertian, gembira, dan selalu tersenyum ini hanya beberapa generasi
yang lalu akan memasukkan diriku ke dalam panci. Ada sesuatu dalam sikap
mereka yang ramah itu yang menimbulkan asosiasi pikiran semacam itu. Aku
selalu merasa mereka menyukai orang asing, tetapi terkadang aku merinding
memikirkan bahwa mereka mungkin menyukai turis-turis sedikit banyak sama
seperti diriku menyukai bau daging kambing panggang. Ketika orang-orang Fiji
itu menyambutku dengan sapaan “Bula” mereka yang selalu muncul di

segala tempat itu, terkadang aku berpikir apakah mereka akan mulai menjilati
bibir mereka. Aku tidak tahu apakah rasa daging manusia adalah sesuatu yang
pada akhirnya dapat merasuk ke dalam gen. Pertanyaan berikutnya, apakah
mereka yang pada dasarnya memiliki kecenderungan ke arah itu adalah mereka
yang lebih berpeluang bertahan hidup. Mereka yang tidak menyukai daging
manusia mungkin lebih sering kekurangan gizi dan mati karena kekurangan
protein, belum lagi mereka yang dimakan sebelum berhasil memproduksi
keturunan. Orang-orang yang dimakan itu pun telah kehilangan kartu pemilu
genetik mereka.

Monumen yang didirikan di date-iine dipromosikan secara mencolok. Di


belakang sebuah tugu batu merah didirikan sebuah plakat vertikal yang
menunjukkan sebuah peta tiga dimensi Taveuni. Plakat itu menggambarkan
“Pulau Taman” itu dari udara; pemandangan yang tidak berani kunikmati saat
aku duduk di dalam pesawat kotak korek api. Di tengah model pulau tersebut
yang dilukisi jalanan, danau-danau, dan aliran sungai tergambar sebuah garis
dari utara ke selatan, yang dalam dunia nyata merupakan bagian dari sebuah
lingkaran, sebuah potongan dari garis keliling Bumi. Garis ini terus memanjang
melalui kedua kutub, dan garis itu kemudian menjadi meridian utama yang
memotong Greenwich. Di sebelah kanan garis itu di belahan Bumi dari arah aku
datang berjalan kaki adalah hari ini, di sebelah kirinya adalah esok hari. Di
bawah monumen tersebut tertera tulisan: GARIS PENANGGALAN
INTERNASIONAL; TEMPAT SETIAP HARI BARU DIMULAI.

Aku tidak akan mencoba mengusulkan bahwa berdiri dengan satu kaki pada hari
ini dan kaki yang satu lagi pada esok hari adalah sebuah perasaan yang
mengguncang dunia. Tetapi di pantai inilah, pikirku, milenium ketiga akan terbit,
dan kini hanya tinggal dua tahun lagi menuju saat itu. Antena-antena parabola
akan bermunculan bagaikan jamur beracun di salah satu dari begitu sedikit
tempat di dunia berpenghuni yang masih tidak memiliki sambungan televisi.
Liputan-liputan akan ditayangkan dari surga terakhir ini ke dunia luar yang
tengah menemui ajalnya. Dan liputan-liputan yang berasal dari batas luar
ketakutan sebuah dunia yang terluka itu akan menjungkirbalikkan kepolosan
pulau ini yang menyerupai utopia. Aku berpikir: tidak mungkin menyiarkan
liputan dari sebuah mimpi tanpa mengakhiri mimpi itu.

Aku teringat akan berita yang pernah kubaca tentang rencana-rencana Fiji untuk
perayaan milenium. Aku selalu menganggap diriku pandai mengamati hal-hal
yang penting, dan ada satu kalimat yang terus kuingat. Ketua Komite Milenium
Nasional Fiji, Tuan Sitiveni Yaqona, pernah mengatakan: “Karena Fiji terletak
tepat pada garis bujur 180°, kami akan merayakan saat pertama tahun 2000 di
Bumi, dan kami telah mempelajari berbagai cara bagaimana milenium baru
dapat dirayakan di Fiji.” Dan dalam konteks ini, Fiji berarti Taveuni “tepat pada
garis bujur 180°”. Aku khawatir dunia akan

melindas pulau tak berdaya ini dalam perayaan gila— gilaannya tepat pada saat
dan tempat masa depan akan dimulai. Semua itu akan terjadi di sini, tepat pada
papan yang menandai perbatasan antara milenium kedua dan ketiga, “saat
pertama tahun 2000 di Bumi”.

Selain hasrat mencari “yang terakhir” (the last) dan “yang hilang” (the lost), kita
semua memiliki keinginan tidak sehat untuk menjadi “yang pertama”. Walaupun
setelah mempertimbangkan lebih jauh, kusadari bahwa kedua hal itu sama
persis. Ketika Roald Amundsen menjadi orang pertama yang mencapai Kutub
Selatan, ia juga adalah yang terakhir. Ia adalah orang terakhir di Bumi yang
dapat menaklukkan alam liar yang masih murni itu, ini adalah fakta yang
diketahui Scott dengan harga mahal hanya sebulan sesudah Amundsen. Vang
pertama akan menjadi yang terakhir. Hal yang sama juga terjadi pada
penaklukan Bulan yang tidak akan dapat diulang oleh siapa pun oleh Neil
Armstrong. Jadi, bukankah ucapannya yang terkenal kepada Houston mengenai
“satu langkah kecil bagi seseorang, satu lompatan besar bagi umat manusia”,
merupakan suatu perbuatan yang murah hati terhadap spesiesnya sendiri?

Di tempat aku berdiri saat ini, pada 1 Januari 2000, mungkin akan ada
kerumunan banyak orang. Persiapan untuk pesta tersebut telah dimulai; aku telah
mendengar ada beberapa program dokumenter TV dan penayangan pendahuluan
lainnya tentang dateline. Kemudian, para “turis tahun 2000” akan
ramai berdatangan bagaikan tangisan putus asa terakhir dari industri perjalanan
yang sebenarnya sudah terlalu sinis. Aku seolah-olah sudah bisa melihat poster-
posternya: “Rayakan datangnya milenium baru di tiga benua!” Segala jenis tiket
telah lama habis terjual, dan tiket-tiket itu akan semakin mahal. Terlalu banyak
orang di planet ini bersedia membayar beberapa ribu dolar untuk lari dari rasa
malu sosial yang mungkin timbul karena hanya sekali merayakan kedatangan
milenium baru, dan hanya di satu benua.

Aku bersiap-siap memulai perjalanan panjangku kembali ke Maravu. Namun,


ketika baru saja dengan hati-hati melakukan beberapa perhitungan waktu dan
jarak, sebuah jip hitam meluncur mendekati monumen tersebut dan Ana dan Jose
melompat keluar dari dalamnya. Aku merasakan nadiku berdenyut semakin
cepat.

Ana menyapaku hangat. Tangannya menenteng sebuah kamera. Ia berkata,


“Libby berkata kami mungkin dapat menemukan Anda di sini.”

Aku kebingungan. Lalu, aku pun teringat akan sang peri baik hati dari Waiyevo.

Ana menjelaskan lebih terperinci.

“Ada yang harus kami kerjakan di desa itu. Ketika mendengar Anda baru saja
lewat, kami pikir mungkin Anda membutuhkan tumpangan.”

Aku pasti terlihat agak kebingungan. Namun, aku berterima kasih kepadanya
atas tawaran menumpang pulang karena aku telah salah memperkirakan baik
waktu dan berapa kilometer yang dapat

ditempuh kedua kakiku di jalanan yang berdebu itu. Waktu makan malam
tinggal dua jam lagi.

Sekali lagi Ana mulai menekan tombol kameranya berkali-kali ke arah


monumen, jip, Jose, dan diriku.

Jose menjelaskan bahwa mereka tengah berusaha memeriksa kondisi di pulau


itu, melakukan perjanjian, dan menyelesaikan beberapa persiapan sebelum
kembali lagi tahun ini untuk mengambil gambar bagi sebuah program
dokumenter penting mengenai pergantian milenium. Dokumenter ini akan
menjadi bagian dari sebuah program serial tentang berbagai tantangan yang
dihadapi umat manusia saat lahirnya milenium baru.
Ana menunjuk ke sebuah peta pulau itu.

“Di sinilah kita berada sekarang,” ujarnya. “Dan di sinilah tempat milenium
ketiga akan bermula, ‘Satu-satunya tempat Anda dapat berjalan dari hari ini ke
esok hari tanpa memerlukan sepatu salju’.”

Aku pernah mendengar slogan tersebut sebelumnya. Selain dari beberapa buah
pulau lain di Fiji, garis bujur 180° hanya melintasi Antartika dan Siberia Utara.

“Apakah banyak yang tertarik pada film dokumenter semacam itu?” tanyaku.

Jose mengangguk dengan enggan. “Ya, terlalu banyak.”

Aku memiringkan kepalaku sedikit, dan ia pun menambahkan, “Kami akan


memberikan semacam peringatan.”

Aku ingin tahu apa yang ia maksud.

“Mengenai apa?”

“Dengan satu atau lain cara, pergantian milenium ini memengaruhi seluruh
planet, dan semua orang berpikir mereka berhak hadir dalam kesempatan
pertama itu. Namun, kesadaran bahwa perhatian seluruh dunia tertuju kepadanya
dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis bagi sebuah pulau di Lautan
Selatan yang rapuh. Dari sudut pandang itu, akan lebih baik jika date line
terletak di London atau Paris saja. Walaupun pada masa kolonial memang lebih
mudah jika garis tersebut terletak jauh di tengah semak-semak liar di suatu
tempat. Anda mengerti, kan, maksud saya ….”

Aku sangat mengerti. Sungguh mudah mengerti apa yang dimaksud seseorang
jika orang itu begitu mirip denganmu. Namun, sekali lagi aku merasa seakan-
akan pikiranku telah terbaca. Hal ini membuatku menjadi lebih blak-blakan,
karena jika memang benar kami dapat saling membaca jalan pikiran masing-
masing, lebih baik kami berhenti berbicara berputar-putar. “Dan sungguh tidak
membantu,” ujarku, “jika setiap perusahaan TV, selain meliput peristiwa itu,
juga memutuskan membuat program dokumenter spektakuler khusus mengenai
mengapa dan bagaimana kebudayaan dan lingkungan di sini hancur. Hal itu
sendiri bisa memiliki nilai hiburan, bukan?”

Kupikir, jangan-jangan aku telah melewati batas ketika kutambahkan, “Apakah


ada sesuatu yang tidak memiliki nilai hiburan?”

Aku mengatakan hal itu dengan senyum pasrah, dan Ana tertawa. Jose juga
tampak berseri-seri. Kurasa, kami semua berada dalam suatu gelombang
berfrekuensi tinggi.

Ana berlari menuju jipnya dan kembali dengan membawa sebuah kamera video
kecil, kira-kira sebesar model rumah tangga. Diarahkannya kamera tersebut
kepadaku dan ia pun mengumumkan: “Ahli biologi dari Norwegia, Frank
Andersen, baru-baru ini tengah mempelajari ekologi di berbagai kepulauan di
Oseania. Apakah yang dapat Anda ceritakan kepada para pemirsa di Spanyol?”

Aku begitu terkejut dan bingung sehingga tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Bagaimana ia tahu bahwa aku berasal dari Norwegia? Dan bagaimana ia
mengetahui nama belakangku? Mungkinkah ia telah melihat buku tamu di
Maravu? Ataukah ia teringat di mana kami pernah bertemu sebelumnya?

Wanita itu begitu spontan dan kekanak-kanakan sehingga tidak pernah terlintas
dalam benakku keinginan melepaskan diri dari permainan yang ia lakukan ini.
Kurasa aku berbicara selama enam atau tujuh menit, dengan kata lain benar-
benar terlalu lama. Aku memberikan sebuah garis besar dan menyinggung
tentang kerusakan lingkungan di Oseania, keanekaragaman hayati, dan hak-hak
manusia versus tanggung jawab manusia.

Ketika akhirnya aku selesai berbicara, Ana meletakkan kameranya di tanah dan
bertepuk tangan.

“Bravo!” teriaknya. “Sungguh hebat.”

Di belakangnya, aku mendengar komentar Jose: “Dan itulah kurang lebih apa
yang saya maksud

dengan memberi peringatan.”

Sekali lagi aku membiarkan diriku tergoda oleh kedua bola mata hitam itu.

“Apakah tadi Anda merekamnya?” tanyaku.

Wanita itu mengangguk penuh rahasia. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa
kamera sederhana seperti itu memiliki sangkut paut dengan program dokumenter
televisi yang begitu dibangga-banggakan. Secara umum, ada sesuatu yang
menyebabkan aku berhenti menganggap serius industri TV. Aku tadi
mengatakan bahwa aku berada di sini untuk melakukan penelitian, dan mereka
pun berusaha menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan sama menariknya.
Atau mungkin mereka belum memercayaiku; ya, betul, mungkin mereka
menganggap aku hanya membesar-besarkan. Masuk akal jika seseorang yang
bepergian sendirian ke Pasifik memerlukan sebuah aura tujuan yang lebih vital
dari perjalanan panjangnya daripada sekadar berlibur di bawah sinar matahari.

Juga ada sesuatu yang lain. Apakah memang hanya kebetulan bahwa pasangan
dari Spanyol ini melewati pondokku dan mendeklamasikan beberapa buah
pikiran mengenai keberadaan Tuhan dan Adam yang sama sekali tak keheranan?
Dan apakah kemunculan mereka di dateline juga sama-sama tanpa sebab?
Ataukah mereka mempermainkan diriku?

Yang jelas, mereka memang senang bermain-main. Ana telah berpura-pura


tengah menjalankan sebuah tugas jurnalistik di Pasifik, dan aku pun mengikuti
permainan mereka karena aku masih belum

menghapus dugaan bahwa mereka sedang berbulan madu. “Tetapi kita masih
bersama Jika saja mereka tahu bahwa aku mengerti apa yang tadi mereka
katakan, aku pasti akan merasa tidak nyaman, dan tentunya mereka akan merasa
begitu pula.

Jose berjalan menuju laut. Sambil berdiri membelakangi kami, ia mengatakan


sesuatu dalam bahasa Spanyol. Dari intonasinya terdengar ia tengah
menyimpulkan sesuatu, dan sekali lagi ia seolah-olah mengucapkan sesuatu yang
telah ia ucapkan berkali-kali sebelumnya atau telah ia hafalkan:

“Ada sebuah dunia. Dari segi probabilitas, hal ini nyaris mustahil. Akan jauh
lebih mungkin jika, secara kebetulan, tidak ada apa pun. Dengan begitu,
setidaknya tak ada satu orang pun yang akan menanyakan mengapa tidak ada
apa pun.”

Aku berusaha menangkap semua yang ia katakan, tetapi tidak mudah karena si
wanita cantik terus-menerus membalas tatapanku, seolah-olah mengamati apa
reaksiku terhadap Jose yang berpaling dan berganti memakai bahasa yang tak
kumengerti. Tidak diragukan lagi, aku dapat mendengar ucapan lelaki itu, tetapi
apakah aku mengerti? Dan jika tidak: apakah aku akan bertanya apa yang telah
ia katakan?

Sungguh sulit menatap ke dalam kedua mata hitam Ana tanpa menunjukkan
bahwa aku mengerti perkataan Jose, kata-kata yang pada saat yang sama dengan
susah payah berusaha kumengerti. Walaupun pikiranku tengah berkecamuk, aku
tidak dapat melepaskan pandanganku dari tatapan menyelidik Ana.

Kurasa, aku menang dalam konfrontasi itu karena sesaat kemudian, Ana
memungut kamera videonya dan meletakkannya di kursi depan mobilnya.
Sesaat, wanita itu berdiri sambil bersandar pada mobil, seakan merasa pusing.
Apakah wajahnya juga menjadi pucat? Kejadian itu hanya berlangsung selama
beberapa detik, kemudian ia menegakkan tubuh. Mengabaikan diriku, ia berlari
beberapa langkah menuju Jose dan menggamit tangan kanan lelaki itu dengan
tangan kirinya. Mereka berdiri selama beberapa saat di bawah sinar matahari
sore tropis, bagaikan sebuah patung hidup Cupid dan Psyche. Kemudian, Psyche
mengatakan sesuatu dalam bahasa Spanyol, sebuah tanggapan, yang seolah-olah
telah dihafalkan, terhadap perkataan Cupid mengenai adanya sebuah dunia
walaupun lebih mungkin apabila tidak ada apa pun. Si wanita pun berkata:

“Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika
teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran
kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita.
Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng
yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus
berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian

Sementara mereka masih berdiri membelaka-ngiku, aku mengeluarkan buku


catatan kecilku dan berusaha mencatat apa yang mereka ucapkan dengan begitu
lancar dan sensitif itu, tetapi juga begitu tegas dan dogmatis. “Kita adalah apa
yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian ….”

Apakah mereka telah menghafalkan beberapa puisi Spanyol dan kini sibuk
mendeklamasikannya satu sama lain sambil berjalan-jalan? Tetapi, ada sesuatu
dalam sikap mereka yang nyaris formal saat mengutip kata-kata bijak nan aneh
itu sehingga membuatku yakin bahwa ucapan-ucapan mereka tidak mungkin
diciptakan orang selain mereka sendiri. Begitu pula, ucapan-ucapan itu tidak lain
dialamatkan kepada diri mereka sendiri.

Di mobil, dalam perjalanan kembali ke Maravu, kami bercakap-cakap mengenai


berbagai hal, termasuk penelitianku dalam bidang sejarah alam. Matahari hampir
terbenam, perlahan tertarik turun ke arah lautan di sebelah barat oleh gravitasi
hari itu yang tak tergoyahkan. Aku tahu bahwa dalam waktu kurang dari satu
jam, suasana akan menjadi benar-benar gelap. Di bawah sinar keemasan yang
menusuk itu, kami menyaksikan para wanita mengambil pakaian mereka dari tali
jemuran, anak-anak masih mendinginkan tubuh di sungai, anak-anak laki-laki
berusaha memenangi pertandingan rugby mereka.

“Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun ….”

Aku baru tersadar betapa aku selalu terkesima oleh pandangan reduksionis
terhadap dunia pada umumnya, dan terhadap hidupku yang begitu kecil di planet
ini. Ana dan Jose telah membangunkan kembali sebuah perasaan terpendam
mengenai betapa hidup adalah sebuah petualangan. Tidak hanya di sini di firdaus
Laut Selatan ini, tetapi kehidupan di Bumi, juga kehidupan yang kita jalani di
kota-kota besar, walaupun di sana mungkin kita tidak dapat melihat betapa
mengagumkannya dunia manusia ini karena kita selalu membenamkan diri
dalam kegiatan, kesenangan, dan kenikmatan indriawi.

Saat berkendara melintasi Desa Somosomo, Jose berpaling kepada Ana sambil
menunjuk ke arah beberapa orang yang berkumpul di tanah lapang di luar
sebuah gereja Baptis. Sekali lagi ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Spanyol,
dan sekali ini nyaris bertolak belakang dengan pemikiranku yang duduk di kursi
belakang, dengan kepala terus-menerus terbentur ke atap setiap kali kami
melewati lubang di jalan.

“Para peri selalu lebih bersemangat hidup daripada waras, lebih fantastis
daripada dapat dipercaya, lebih misterius daripada yang dapat disadari
pemahaman minim mereka. Seperti lebah-lebah pusing yang berdengung dari
satu bunga ke bunga lain di siang hari yang mengantuk di bulan Agustus, para
peri musim itu tetap tinggal dalam habitat urban mereka di langit. Hanya
Jokerlah yang mampu membebaskan diri.”

“Para peri musim Istilah yang aneh ini membuatku tersentak. Mungkin aku
bahkan mengatupkan tangan ke mulutku untuk mencegah diriku mengulanginya
keras-keras di dalam mobil itu. Mungkin engkau bertanya-tanya mengapa aku
tidak melakukannya saja. Mengapa aku tidak menanyai

Ana dan Jose tentang kebiasaan ganjil mereka berpuisi itu? Jika aku bertanya
apa yang mereka katakan, tentu mereka akan memberitahukan kepadaku
terjemahannya dalam bahasa Inggris dan bahkan mungkin mereka akan
menjelaskan kepadaku tafsi-ran yang lebih memuaskan. Ungkapan-ungkapan
seperti “para peri musim” memerlukan sedikit penjelasan.

Aku pun telah berkali-kali menanyakan hal yang sama kepada diriku sendiri, dan
aku tidak yakin telah menemukan jawaban yang memuaskan, tetapi pada saat itu
aku menganggap bahwa cara komunikasi Ana dan Jose yang aneh itu sebagai
sesuatu yang, di atas segalanya, menyatukan pasangan itu. Mereka adalah
pasangan sejati, Vera mungkin itulah yang berusaha kujelaskan mereka benar-
benar sebuah pasangan, begitu terjerat dalam simbiosis mental mereka yang tak
terpisahkan. Aku menganggap kontak verbal mereka yang aneh itu semata-mata
sebagai sebuah ungkapan dari ikatan pribadi yang mendalam di antara dua
kekasih, dan kita tidak boleh membaca surat cinta orang lain tanpa alasan yang
jelas, setidaknya saat mereka bisa melihat kita. Jika aku melangkah terlalu jauh
dengan mengakui bahwa aku mengerti apa yang mereka katakan, aku juga akan
mengambil risiko menyingkirkan kemungkinan untuk dapat mendengarkan lebih
banyak lagi hal-hal serupa.

Oke, pikirmu sekarang, aku memang tidak perlu mengakui bahwa aku mengerti
bahasa Spanyol, tetapi sesekali bisa saja setidaknya aku bertanya

apa yang mereka bicarakan; bukankah toh lebih aneh jika aku mendengarkan
semua percakapan mereka tanpa bereaksi terhadap tindak-tanduk mereka yang
ganjil itu? Tetapi, tidaklah terlalu aneh bahwa dua orang yang biasa berbicara
bahasa Inggris, ketika bertemu seseorang yang tidak mengerti bahasa mereka,
sedikit bertukar kalimat dalam bahasa mereka. Hal ini disebut kehidupan pribadi,
lingkup lingkaran intim, dan toh memang tidak seharusnya aku mengerti apa
yang mereka katakan. Sejauh yang kutahu, mungkin saja mereka tengah
bercakap-cakap mengenai perut yang sakit atau merasa lapar dan ingin segera
menikmati makan malam. Terlebih lagi, aku memang ingin terus mendengarkan,
aku telah berketetapan hati untuk menyadap sebanyak mungkin yang bisa
kudapatkan. Jika seseorang yang berbagi tempat tidur denganmu tiba-tiba mulai
berbicara dalam tidur, engkau tidak akan terburu-buru membangunkannya
walaupun mungkin itulah yang pantas dilakukan. Tidak, tidak, justru sebaliknya,
engkau akan berusaha berbaring dengan tenang agar sepraimu tidak
bergemeresik, untuk menangkap sebanyak mungkin racauan sang pengi-gau
yang untuk sekali itu saja memberikan versi tanpa sensor dari pikirannya.
Ana mencondongkan tubuhnya ke arah Jose, dan sekarang si lelaki
melingkarkan lengan kirinya di bahu si wanita sementara tangan kanannya
menggenggam kemudi erat-erat. Dengan mata berbinar-binar, si wanita
menatapnya sambil berkata:

“Kini, para peri itu berada daiam dongeng, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Apakah dongeng benar-benar akan menjadi dongeng jika ia tidak bisa meiihat
dirinya sendiri? Apakah kehidupan sehari-hari akan menjadi keajaiban jika ia
terus-menerus berkeliling untuk menjelaskan dirinya sendiri?”

Aku duduk tenang di belakang dan berusaha memikirkan semua katak yang
terlindas di jalan raya. Aku telah melihat lebih dari seratus saat berjalan menuju
dateline, dan mereka benar-benar terlihat seperti kue dadar. Tetapi, bukan katak
yang kupikirkan sekarang. Pertanyaan yang kutanyakan kepada diriku sendiri
adalah apakah aku telah tersesat dalam ilmu pengetahuanku sendiri dan
mengorbankan kemampuanku untuk melihat keajaiban dongeng dalam setiap
saat di Bumi. Aku dapat melihat bahwa agenda ilmu alam sungguh amat besar
karena ia ingin menjelaskan segala sesuatu. Dalam ambisinya ini, terkandung
sebuah bahaya, yaitu menjadi buta terhadap segala sesuatu yang tidak dapat
dijelaskan.

Saat melintasi desa terakhir, kami harus memperlambat kecepatan hingga hampir
berhenti karena kami bertemu dengan beberapa wanita dan anak yang
berkeliaran di tengah jalan. Mereka melambai dan tersenyum, dan kami pun
balas melambai dan tersenyum. “Bula!” seru mereka dari jendela, “bula!” Salah
seorang dari wanita-wanita itu tengah mengandung delapan atau sembilan bulan.

Ana telah lepas dari rengkuhan lengan Jose dan lelaki itu kembali memegang
kemudi dengan kedua tangannya. Sambil menoleh untuk melihat ke

arah para wanita itu, Ana berkata:

“Dalam kegelapan perut yang membesar, selalu ada beberapa juta kepompong
kesadaran dunia baru yang berenang-renang. Para peri yang tak berdaya itu
ditekan keluar satu demi satu setelah mereka matang dan siap untuk bernapas.
Setelah itu, mereka tidak dapat menerima makanan apa pun selain susu peri
manis yang mengalir dari sepasang kuncup lembut daging peri.”

“Daging peri”, Vera. Aku berasumsi bahwa yang dimaksud dengan “para peri”
dalam “semesta Joseana” itu adalah kita, umat manusia di Bumi. Ketika istilah
itu dipakai untuk menyebut orang-orang Fiji, terasa semakin keji betapa nenek
moyang mereka dahulu mampu menjejalkan daging peri dan darah peri ke dalam
diri mereka dengan penuh ketenangan. Bukankah potongan daging makhluk
yang begitu halus seperti itu terlalu langka untuk dimakan?

Kami berbelok menuju Maravu, dan begitu tiba di pondokku, aku berdiri di
berandaku selama beberapa menit untuk menyaksikan matahari terbenam. Aku
merasa hari itu layak mendapat penghormatan dariku karena perjalanan udaraku
yang berbahaya telah berlangsung begitu lancar. Penerbanganku itu berlangsung
di pagi hari tepat setelah matahari terbit. Kini, dengan mataku, aku mengikuti
lingkaran merah pucatnya hingga ia berbalik dan berguling ke balik bibir lautan.
Matahari hanyalah satu dari beratus miliar bintang di galaksi ini, dan ia bahkan
bukan salah satu dari yang terbesar. Tetapi ia adalah

bintangku.

Berapa kali lagikah aku akan menjadi penumpang dalam perjalanan Bumi
mengelilingi bintangnya di Bimasakti? Di belakangku sudah ada hampir empat
puluh putaran, empat puluh perjalanan mengelilingi Matahari. Jadi, setidaknya
separuh dari perjalananku telah berakhir.

Aku membongkar koperku, mandi, dan berganti pakaian dengan sepotong


kemeja putih yang kubeli di Auckland. Sebelum pergi untuk makan malam, aku
menyeruput sedikit gin yang kubawa dan meninggalkan botolnya di atas meja di
samping tempat tidur. Ini adalah sebuah ritual yang selalu kulakukan jika sedang
bepergian. Aku tahu bahwa aku akan meminum satu tegukan yang lebih besar
saat nanti bersiap tidur. Aku tidak pernah memakai obat tidur lain.

Aku teringat betapa aku merindukan botol itu saat terduduk tak berdaya di dalam
pesawat kecil dari Nadi itu. Selama beberapa menit yang dramatis, kami telah
terpisahkan, dan pagi itu, perusahaan penerbanganku menjaga botolku dengan
lebih baik dibandingkan menjaga si empunya.

Saat berjalan keluar menuju pepohonan palem dan menutup pintu di belakangku,
kudengar sesuatu berlari melintas di atas salah satu palang atap. Perasaanku
mengatakan bahwa aku tahu makhluk apa itu, tetapi aku tidak berbalik kembali
untuk mencoba melihat lebih jelas. []
Amfibi Garda Depan

DI LUAR SUASANA GELAP GULITA. TITIK-TITIK CAHAYA YANG


TERDAPAT DI antara pepohonan palem yang luas itu hanyalah beberapa lampu
gas tak mencolok yang kini telah dinyalakan. Tetapi, di atas puncak pohon-
pohon palem itu, berkilauan beribu-ribu cahaya kecil yang bersinar dari
kumpulan padat cahaya bintang. Jika engkau meninggalkan perkotaan, pikirku,
engkau akan menemukan diri jauh di angkasa segera setelah kegelapan turun.
Tetapi, semakin banyak manusia yang membiarkan diri diselimuti efek rumah
kaca optik yang membuatnya lupa siapa dirinya dan dari mana asal mulanya.
Sebagaimana bagi banyak orang alam telah bersinonim dengan gambar di layar
televisi, tanaman di dalam pot, dan burung di dalam sangkar, maka langit pun
adalah sesuatu yang sebaiknya diamati di planetarium.

Tidak mudah menemukan arah menuju restoran, tetapi aku berjalan tersaruk-
saruk ke arah sebuah kilauan cahaya redup di kejauhan, datang dari gedung
utama. Aku memaksakan diri melalui semak-semak di antara pohon-pohon
palem itu dan akhirnya mencapai kolam renang, yang seluruh lampunya
dinyalakan menyorot ke atas. Di dalam kolam itu,

tiga atau empat ekor kodok tebu tengah berenang naik dan turun, naik dan turun.
Mungkinkah mereka tengah mengambil sertifikat renang, pikirku, karena satu
ekor kodok duduk di tepi kolam memerhatikan pertunjukan itu. Semua punya
tempat masing-masing, pikirku. Sepanjang siang, para primata menggunakan
kolam renang itu. Kodok-kodok tidak diperbolehkan muncul di siang hari.
Malam hari adalah giliran para amfibi untuk menggunakan fasilitas itu.

Aku naik menuju restoran terbuka, di sana lilin-lilin menyala di atas kesepuluh
meja. Ada sepuluh pondok atau bure di Maravu, dan jumlah meja di restoran ini
pun sama.

Ana dan Jose sudah duduk di sana. Si wanita masih mengenakan gaun
merahnya, dan kulihat ia telah memakai sepasang sepatu hitam berhak tinggi.
Jose masih mengenakan setelan linen hitam yang sama, satu-satunya perbedaan
hanya kini ada sebuah saputangan merah melingkari lehernya. Warna saputangan
itu persis sama dengan warna gaun Ana, mungkin terbuat dari bahan yang sama.

Aku memilih duduk di meja berikutnya, dan kami pun bertukar beberapa
anggukan singkat. Sebagai seseorang yang biasa berkelana sendirian, aku telah
mempelajari seni menghindari undangan bergabung dengan orang-orang di meja
mereka. Hari telah malam, perjalanan sore itu telah usai, aku tidak lagi berhak
memiliki Ana dan Jose. Sekarang, mereka benar-benar hanya milik satu sama
lain.

Aku juga mengangguk ke arah Laura yang duduk sendirian di ujung lain restoran
itu. Di sebuah

meja lain, duduk seorang pria berambut gelap dengan jenggot dihiasi rambut-
rambut putih; ia mungkin sepuluh tahun lebih tua dariku. Belakangan, malam
itu, aku mengetahui bahwa ia adalah seorang Italia bernama Mario. Dua orang
pasangan muda berusia awal dua puluhan duduk di meja di sampingnya. Mereka
benar-benar menikmati bulan madu mereka. Tidak saja mereka mencondongkan
tubuh di atas meja dengan kedua tangan tergenggam erat, tetapi dari waktu ke
waktu, kedua kepala mereka juga bertemu dan lumer dalam ciuman yang
bergairah. Pada malam berikutnya, aku juga mengobrol dengan muda-mudi
tersebut. Mereka datang dari Seattle dan bernama Mark dan Evelyn.

Sedikit agak jauh, duduklah John, orang Inggris yang telah menjemput kami di
bandara. Ia jelas tengah mencatat sesuatu. Aku mengingat hal itu dengan sangat
jelas karena aku pun sering melakukan hal yang sama: duduk menulis sembari
menunggu makan siang atau makan malam. Aku tidak pernah memiliki
ketenangan pikiran yang diperlukan untuk membenamkan diri dalam sebuah
novel. Kemudian aku mengetahui bahwa ia adalah pengarang dari Inggris.
Namanya John Spooke, dari Croydon, daerah dekat London. Ketika pertama kali
tahu bahwa ia adalah seorang penulis, otomatis aku menganggapnya sebagai
anggota kelompok terbatas para pengarang bestseller yang selama beberapa
bulan musim dingin mampu menikmati kehidupan di sebuah pulau Laut Selatan
sembari mencari inspirasi untuk novel baru. Tetapi, ternyata ia baru tiba di

sana beberapa hari yang lalu, dan ia datang untuk ambil bagian dalam sebuah
program televisi. Ya, kau benar program televisi itu juga mengenai pergantian
milenium, dateline, tantangan bagi dunia, hal-hal seperti itu. Hal-hal seperti itu,
Vera, hal-hal seperti itu!

Aku tidak melihat Bill. Mungkin ia masih di kamarnya sambil melakukan latihan
yoga yang menawarkan prospek untuk hidup enam puluh tahun lagi.

Makan malam disajikan oleh dua orang lelaki pribumi tinggi yang mengenakan
kain tradisional Fiji dan bunga merah tersemat di belakang telinga mereka. Salah
satu dari mereka menyematkan bunganya di belakang telinga kiri-itu berarti ia
belum terikat dengan seorang wanita. Yang satu lagi menyematkan bunganya di
belakang telinga kanannya; berarti ia telah menikah. Jika aku adalah penduduk
Taveuni, aku pasti telah mendapatkan pengalaman sosial yang memalukan
dengan memindahkan bungaku dari telinga kanan ke telinga kiri beberapa bulan
yang lalu.

Aku memesan setengah botol anggur putih Bordeaux dan sebotol air mineral.
Selalu ada dua pilihan sajian di Maravu, dan kami sudah memilih makan malam
pertama kami ketika check in. Saat itu, kepalaku begitu dipenuhi bayangan-
bayangan menakutkan tentang kebiasaan makan masyarakat Fiji sehingga aku
mengambil pilihan yang lebih aman, yaitu ikan.

Ana dan Jose bercakap-cakap dengan suara rendah sehingga pada awalnya aku
hanya dapat

menangkap potongan-potongan pendek pembicaraan mereka. Namun, bahkan ini


telah cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahuku. Mereka terdengar seperti
tengah berdiskusi, atau menyelesaikan sentuhan-sentuhan terakhir dari sebuah
pernyataan bersama tentang sesuatu benar, tentang sesuatu.

Jose berkata, “Kita adalah karya seni tak bercacat yang penciptaannya
membutuhkan waktu bermiliar-miliar tahun. Tetapi, kita terbentuk dari bahan-
bahan yang sangat-sangat murah.” Setelah kalimat ini, sejumlah bagian
percakapan itu luput dari pendengaranku, tetapi kemudian aku menangkap
kalimat Jose yang lain: “Pintu keluar dari dongeng terbuka lebar.” Ana
mengangguk dengan murung: “Kita adalah berlian-berlian kegeniusan di dalam
jam pasir.”

Begitulah kira-kira jalan percakapan itu, atau lebih tepatnya, potongan-potongan


yang berhasil mencapai telingaku dengan cukup jelas untuk dapat kumengerti.

Sementara mereka duduk di sana dan bercakap-cakap, Bill akhirnya muncul


dengan santai dari pepohonan palem dengan mengenakan celana Bermuda
kuning dan sepotong kemeja Hawaii bercorak bunga-bunga biru. Laura tentunya
telah melihatnya sebelum aku, karena begitu lelaki itu muncul, wanita itu
langsung mengambil buku Lonely Planet nya lagi dan mulai membaca dengan
amat serius; begitu seriusnya sehingga aku yakin sebenarnya ia tidak dapat
memahami satu kata pun. Percuma saja. Bill berdiri beberapa saat, dengan

rakus menikmati panorama penempatan makan malam itu, dan kemudian, tanpa
malu sedikit pun, menghenyakkan diri di meja Laura. Si wanita mengerutkan
diri dalam-dalam di balik bukunya sehingga aku tidak lagi dapat melihat
lehernya. Yang jelas, ia tidak mengangkat kepala untuk melihat ke arah lelaki
itu. Ia mengingatkanku akan seekor kura-kura perajuk yang mencari pelipur lara
dalam tempurungnya. Aku ingat bahwa saat itu aku merasa sedikit kasihan
kepadanya, tetapi aku juga merasa bahwa keadaan dapat menjadi lebih baik bagi
dirinya andai saja saat di bandara tadi ia tidak bersikap begitu antipati terhadap
seorang ahli zoologi lapangan. Mungkin perasaan terakhirku itu dibumbui
sedikit rasa senang yang kejam.

Percakapan di meja sebelah berubah menjadi lebih keras terdengar. Ana berkata,
“Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia.
Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.”

Diam-diam kukeluarkan buku catatan dari dalam saku kemejaku. Aku lupa
membawa penaku! Ke-kesalanku bertambah ketika Jose meninggikan suaranya
sedikit dan dengan jelas mengucapkan kata-kata bijak berikut:

“Bagi seorang pengamat yang netral, dunia ini tidak hanya bagaikan sebuah
fenomena nyaris mustahil yang hanya bisa terjadi sekali. Dunia ini juga
senantiasa merupakan sebuah beban bagi akal sehat. Jika memang akal sehat itu
ada, maksudku akal sehat yang netra/. Itulah suara dari dalam

batin. Itulah yang disuarakan Joker.”

Ana mengangguk penuh arti. Kemudian menambahkan ceritanya sendiri:

“Joker merasakan dirinya tumbuh, ia merasakannya pada lengan dan kakinya, ia


merasa dirinya bukanlah sesuatu yang hanya ia bayangkan. Ia merasakan mulut
manusianya menumbuhkan email dan gading. Ia merasakan ringannya tulang-
tulang iga primata di bawah gaun tidurnya, merasakan denyutan teratur yang
berdetak dan berdetak, memompa cairan hangat ke dalam tubuhnya sekarang, “

Dengan pikiran agak kabur, aku bangkit dan bergegas melintasi ruangan menuju
si orang Inggris yang terus menulis dengan bersemangat sembari menunggu
dilayani. Kini ia telah menghabiskan makanan pembukanya, tapi telah
meletakkan pena dan kertasnya. Aku membungkuk dan berkata, “Maaf … saya
lihat Anda menulis sesuatu tadi. Bolehkah saya meminjam pena Anda sebentar?”

Ia mengangkat kepala memandangku dengan tatapan bertanya-tanya dan rasa


ingin membantu.

“Dengan senang hati,” ujarnya. “Silakan pakai

ini!”

Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan sebuah drawing pen Pilot berwarna


hitam dari saku dalamnya. Ia memain-mainkan pena tersebut di hadapanku
selama beberapa saat sebelum memberikannya padaku.

“Pasti akan saya kembalikan,” aku berjanji padanya.

Tetapi, ia hanya menggelengkan kepalanya yang telah mengecap banyak


pengalaman itu. Lalu, ia menyatakan bahwa jika ada sesuatu yang ia jaga
persediaannya, terutama di daerah terpencil seperti ini, itu adalah drawing pen
bertinta hitam. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dengan ramah, dan
kami pun berkenalan lebih jauh daripada ketika kami bertemu di bandara tadi.

Aku berusaha memberinya garis besar bidang penelitianku, dan ia


mendengarkan dengan penuh perhatian; benar-benar penuh perhatian. Kini aku
telah mencapai usia yang membuatku memberikan nilai tambah pada perhatian.
Ia mengulurkan tangannya kepadaku dan memperkenalkan diri:

“John Spooke,” ujarnya. “Penulis, dari Inggris.”

“Apakah Anda tengah menulis sesuatu di sini?” tanyaku.

Ia menggelengkan kepala dan menjelaskan bahwa ia dikirim ke pulau ini atas


biaya BBC untuk ambil bagian dalam sebuah acara televisi mengenai pergantian
milenium. Mereka berpikir bahwa di sinilah masa depan akan dimulai, ujarnya
dengan nada sarkasme, yaitu dua belas jam penuh sebelum milenium muncul di
London. Ia juga menyebutkan beberapa judul novelnya, yang rupanya salah satu
di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Norwegia.

Ketika aku berterima kasih sekali lagi kepadanya atas pena itu dan akan kembali
ke mejaku, ia menyahut dengan riang, “Tulislah sesuatu yang indah ….11
Aku segera berbalik, dan ia pun menambahkan, “… dan sampaikan salamku!”

Aku tidak tahu, Vera, mungkin seharusnya aku memenuhi harapannya dengan
menyampaikan salam dari seorang Inggris yang ramah bahkan walaupun pada
saat itu aku tidak sedang menulis kepadamu.

Tetapi, aku menulis kepadamu sekarang, dan aku menulis tentang pengalamanku
pada malam pertama di Maravu Plantation Resort sehingga engkau akan
mendapatkan bayangan yang lebih jelas mengenai apa yang terjadi di Salamanca
beberapa bulan kemudian.

Bill berusaha untuk memisahkan Laura dari Lonely Pianet-nya. Reaksi yang
minimum dari wanita itu sepertinya berhasil menahan usaha invasi percakapan
teman makannya itu.

Pasangan muda yang baru menikah itu duduk sambil berciuman penuh gairah di
atas mangkuk-mangkuk salad mereka dan sekali lagi membuatku berpikir
mengenai kanibalisme. Aku datang dari sebuah kebudayaan yang menganggap
bahwa menjilat dan mengisap seseorang di depan publik, bahkan di meja makan,
adalah sesuatu yang dapat diterima oleh masyarakat. Batasan dari tabu berawal
dari kegiatan makan-memakan yang lebih susah diubah. Aku dapat
membayangkan, dalam kebudayaan tradisional Fiji tentunya yang terjadi adalah
sebaliknya. Di sana, berciuman di bawah tatapan orang banyak tidak akan dapat
diterima, terlebih saat makan. Di lain pihak, tingkah laku yang lazim di Fiji
membolehkan orang mengonsumsi organ-organ tubuh jenazah.

Si orang Italia menatap dengan sedih ke dalam gelas anggur merahnya. Dari
semua yang hadir di situ, dapat dilihat bahwa ialah yang paling murung. Tatapan
memelas yang ditujukannya kepada pasangan muda dari Amerika itu
membuatku teringat akan seekor anjing tak bertuan.

Aku kembali duduk dan mendengar Jose mengucapkan sebuah komentarnya


mengenai “kejadian-kejadian yang eksotis membosankan” yang diikuti dengan
gumaman panjang yang tidak dapat kudengar. Tetapi kemudian, Jose
mengatakan sesuatu yang tampaknya menarik si wanita berbaju merah karena
detik berikutnya, wanita itu tersenyum lebar, menegakkan tubuh, dan
mengucapkan kalimat berikut dengan penuh keyakinan:

“Sebuah kerinduan menyebar di dunia. Semakin besar dan perkasa sesuatu,


semakin tajamlah terasa kebutuhan akan penebusan. Siapakah yang
mendengarkan penderitaan sebutir pasir? Siapakah yang memasang telinga
untuk menyimak keinginan seekor kutu? Jika tiada satu pun keberadaan, tak
seorang pun akan mendambakan apa pun.”

Beberapa kali memang wanita itu menatap sekilas ke sekeliling ruangan, tetapi
dengan cepat ia menoleh kembali dan tentunya tidak menyadari bahwa aku
tengah mencatat setiap kata yang ia ucapkan. Ia tidak tahu bahwa aku menguasai
bahasa Spanyol dan ia pun tidak bisa yakin bahwa aku dapat mendengarnya
dengan jelas, dan sejauh yang ia tahu, aku mungkin saja tengah berkutat

membuat catatan mengenai berbagai macam spesies kadal yang kuteliti di


Oseania.

Selama beberapa saat, aku harus puas dengan potongan-potongan yang berhasil
kutangkap dari gumaman bernada rendah antara si Merah dan si Hitam.
“Semakin dekat para peri itu kepada kebinasaan abadi, semakin tak bermaknalah
ucapan mereka,” Ana menyatakan sambil memandang suaminya dengan tatapan
bertanya-tanya. Suaminya berkata, “Tanpa adanya anomali berupa si badut yang
tidak dapat dihibur itu, dunia peri akan sama butanya dengan sebuah taman
rahasia.”

Samar-samar aku mencurigai bahwa potongan-potongan lepas yang dapat


kudengar itu pastilah merupakan bagian dari sebuah puzzle yang lebih besar, dan
tentunya akan lebih sulit untuk menyatukan potongan-potongan kecil yang
kumiliki. Tetapi, makanan kini telah diletakkan di atas meja dan aku pun
menyingkirkan buku catatanku. Sedikit bagian yang berhasil kutangkap itu toh
terlalu terpisah-pisah. Saat makanan hampir habis, barulah Jose berbicara lagi,
suaranya sedikit lebih keras:

“Joker menyelinap dengan gelisah di antara para peri bagaikan seorang mata-
mata dalam dongeng itu. Ia telah mengambil kesimpulan, tetapi tidak dapat
melaporkannya kepada siapa pun. Hanya Jokerlah yang ia lihat. Hanya Joker
yang melihat siapa dirinya.”

Ana berpikir selama beberapa saat sebelum menjawab:

“Para peri mencoba memikirkan beberapa gagas an yang sulit sekali


dibayangkan bahwa mereka tidak bisa memikirkannya.

Namun, mereka memang tidak bisa. Gambar-gambar di layar tidak melompat


keluar ke dalam bioskop dan menyerang proyektornya. Hanya Joker yang
menemukan jalan menuju barisan kursi-kursi.” Aku tidak bisa bersumpah bahwa
begitulah persisnya kata-katanya. Tetapi sungguh, memang semacam itulah
percakapan mereka.

Meja-meja mulai dibersihkan, dan kini si orang Italia datang mendekat. Ia


mengangguk penuh tantangan ke arah Ana dan Jose sambil berjalan menuju
mejaku, kemudian mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Betul, ia
adalah Mario, dan sudah lima belas tahun ia menjalankan bisnis sewa
penyeberangan dari Suva menggunakan sebuah kapal yacht yang ia bangun
sendiri. Perusahaan ini bukanlah bagian dari rencana awalnya ketika sekitar dua
puluh tahun yang lalu, ia berlayar melalui Terusan Suez menuju India, Indonesia,
dan Oseania. Tetapi, ia tidak pernah berhasil mengumpulkan cukup banyak uang
untuk dapat pulang ke Napoli.

Ia mengutarakan tujuannya.

“Apakah Anda bisa bermain bridge?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu, karena walaupun aku seorang pemain bridge yang
kompeten, aku tidak yakin bermain kartu ada di puncak agendaku malam itu;
suasana malam tropis itu rasanya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.
Tetapi, ketika ia menambahkan bahwa kami akan bermain melawan pasangan
Spanyol itu, aku pun menyetujuinya tanpa

ragu-ragu lagi. Selama beberapa malam sebelumnya, mereka mendapatkan


jumlah orang yang cukup dengan adanya seorang Belanda, jelasnya. Tetapi
lelaki itu telah melanjutkan perjalanannya dengan sebuah kapal menuju Vanua
Levu hari itu.

Maka, kami pun bergabung dengan orang-orang Spanyol itu dan memainkan
beberapa putaran. Selalu Ana dan Joselah yang melakukan bidding dalam
permainan itu atau melancarkan tipuan terakhir yang menyebabkan kekalahan si
orang Italia dan diriku. Tidak hanya mereka bermain dengan ketepatan yang
begitu mengagumkan, tetapi juga dengan begitu lihai dan santai sehingga selama
permainan mereka dapat menikmati hiburan gila mereka, yaitu bertukar
ungkapan-ungkapan unik dalam bahasa Spanyol. Aku memerhatikan ada kata-
kata dan potongan-potongan kalimat seperti “genderang dari zaman purba itu”,
“kepompong tanpa rasa malu yang tumbuh dan tumbuh ke segala arah”,
“primata yang gaya”, “saudara tiri sang Neanderthal yang ternama”, “kehidupan
sehari-hari yang tak ubahnya seperti tidur karena diguna-gunai”, “sebuah arus
panas halusinasi yang setengah tecer-na”, “plasma jiwa”, “kantung udara dari
festival protein”, “hard disk organik”, dan “agar-agar pengetahuan”.

Dua kali aku menjadi dummy dan mendapatkan kesempatan untuk menyelinap
dari meja itu dan mencatat kata-kata yang berhasil kutangkap. Hanya inilah
potongan-potongan kalimat yang muncul ungkapan-ungkapan lama yang sering
dipergunakan

seperti “plasma jiwa”, “kantung udara dari festival protein”, “agar-agar


pengetahuan”, dan “saudara tiri sang Neanderthal yang ternama”. Aku
mendiagnosis Ana dan Jose sebagai sepasang penyair yang menderita sindrom
Tourette, dan aku tidak akan menyangkal bahwa seharusnya aku dapat bermain
jauh lebih baik jika saja tidak harus memerhatikan apa yang berkali-kali
dilontarkan oleh Utara kepada Selatan dan sebaliknya. Sempat terpikir olehku
bahwa mungkin tujuan utama mereka adalah mengalihkan perhatian Timur dan
Barat.z

Akhirnya, Mariolah yang memutuskan bahwa ia sudah tidak tahan lagi. Mungkin
berlebihan untuk mengatakan bahwa ia melemparkan kartu-kartunya ke atas
meja, tetapi ia menyingkirkan kartu-kartunya dengan begitu dramatis sehingga
membuatku terlompat. Ia menggelengkan kepala tanpa tampak terhibur sedikit
pun.

“Mereka seperti peramal saja!”

Ana mengangkat kepala dengan tatapan puas yang hampir tampak kejam, dan
Mario berusaha mendapatkan dukunganku.

“Lima keriting!” ia hampir berteriak. “Tetapi setelah bidding, Frank bisa saja
memiliki kartu as dengan sama mudahnya. Sepertinya mereka selalu tahu kartu
kita.”

2 Dalam permainan bridge, ada empat pemain yang dibagi menjadi dua
pasangan, masing-masing berjumlah dua pemain. Biasanya disebut Utara Selatan
dan Timur Barat. Utara berhadapan dengan Selatan, Timur berhadapan dengan
Barat—peny.

Mungkin ia lebih mendekati sasaran daripada yang ia duga, pikirku, karena


pasangan yang begitu erat ini, yang jelas tidak sedang dalam bulan madu
pertama mereka, mungkin memang memiliki kemampuan untuk saling membaca
pikiran. Dan mengapa tidak, pikirku lancang. Kami duduk di sini, pada sebuah
malam tropis yang sangat indah, empat orang primata pemerhati yang teliti, di
bawah selimut bintang-bintang gemerlap dari spiral Bimasakti kita. Dari Bumi
ini, tempat kita telah bersusah payah berevolusi dari vertebrata primitif, dari
laguna yang tidak penting dalam kepulauan galaksi ini, rekan-rekan kita sesama
manusia mengirimkan robot-robot penyelidik angkasa luar dan gelombang radio.
Ini semua adalah upaya keras untuk menjalin kontak dengan makhluk-makhluk
biologis lain yang juga berpikiran maju, di pantai lain, di tata surya lain,
bertahun-tahun cahaya jauhnya dari tempat permainan kita ini. Dan semua ini
mereka lakukan tanpa tahu seperti apakah wujud makhluk yang telah berevolusi
sangat maju itu yang bisa saja ternyata berbentuk lebih mirip bintang laut
daripada mamalia. Oleh karenanya, mengapa tidak mungkin pasangan jiwa ini,
yang tidak hanya berbagi satu biosfer, tetapi juga berasal dari spesies dan negara
yang sama, dan ditambah lagi tidak memiliki banyak pekerjaan berharga selain
saling becermin pada pasangan mereka mengapa mereka tidak mungkin dapat
bertukar semacam sinyal elektromagnetik dasar yang berhubungan dengan
warna dan angka dari lima puluh dua kartu di atas meja bridge? Ah ya, aku telah

terinfeksi oleh euforia malam tropis itu, dan ini bukanlah yang pertama kali aku
terbuai oleh kesalahan persis seperti itu.

Kondisiku juga tidak cepat membaik karena berikutnya menyerbu sejumlah


pertanyaan yang berkaitan. Jika semua orang yang bermain sama pandainya
dalam bermain bridge, seberapa besarkah kemungkinan sebuah tim dapat
memenangi delapan putaran berturut-turut? Mario ingin mengetahui hal itu.
Menurutku, itu bergantung kepada siapakah yang memperoleh kartu-kartu
bagus. Tapi, kemungkinan bagi satu tim untuk mendapatkan kartu-kartu terbaik
selama delapan kali berturut-turut tentunya sangatlah kecil sehingga lebih
mudah, setelah mempertimbangkan segalanya, untuk menerima bahwa Ana dan
Jose memang pemain yang lebih andal.

Ana menikmati hal ini. Ia bahkan tidak berusaha menutupi kepuasannya, dan
jelas terlihat bahwa itu bukanlah pertama kalinya ia menang dalam permainan
kartu. Ia bahkan meletakkan tangannya di bahu Mario untuk menenangkannya
sebuah gerakan yang ditepis lelaki itu dengan marah.

Jose mengganti pertanyaan mengenai peluang dan probabilitas dengan sesuatu


yang berkenaan dengan area keahlianku. Seingatku, pertanyaan pertama yang ia
ajukan adalah apakah aku menganggap bahwa evolusi kehidupan di planet ini
semata-mata dipicu oleh sesuatu yang begitu tak terduga seperti serangkaian
mutasi yang kebetulan terjadi, ataukah ada suatu mekanisme yang telah
terlewatkan oleh ilmu alam? Contohnya, apakah

menurutku pertanyaan tentang tujuan atau maksud dari evolusi adalah tidak
masuk akal?

Rasanya saat itu aku menghela napas, bukan karena aku merasa ia menanyakan
sebuah pertanyaan yang naif, melainkan karena, sekali lagi, ia mengarahkan
percakapan kepada masalah-masalah yang kurasakan benar-benar sensitif pada
hari itu. Tetapi, aku memberinya jawaban klasik dari textbook atas pertanyaan-
pertanyaan yang ia utarakan dan menganggap bahwa jawabanku itu akan
mengakhiri pembahasan itu.

Ia berkata, “Kita memiliki dua lengan dan dua kaki. Hal itu terasa cukup masuk
akal ketika kita duduk di sekeliling meja untuk bermain bridge. Dan kondisi itu
juga tidaklah buruk untuk mengemudikan sebuah pesawat ruang angkasa ke
Bulan. Tetapi, apakah kondisi itu terjadi secara kebetulan?”

“Itu tergantung dari apa yang Anda maksud dengan ‘kebetulan’,” jawabku.
“Mutasi-mutasi terjadi secara kebetulan. Setelah itu, lingkunganlah yang selalu
menentukan mutasi mana yang berhak hidup.”

Ia melanjutkan, “Jadi, Anda percaya bahwa segala kebetulan itu kini telah
memberikan kepada alam semesta suatu tingkat pemahaman tentang sejarah dan
cakupan dirinya dalam ruang dan waktu?”

Jose melambaikan lengannya seolah-olah menunjuk ke arah luar angkasa yang


hitam, dan memang ke sanalah sesungguhnya pertanyaannya itu ditujukan.

Aku hendak mengatakan sesuatu mengenai mutasi dan seleksi alam, tetapi
sebelum aku dapat mengucapkannya, ia berkata, “Jika tujuan alam semesta
adalah mencapai sebuah nalar yang kurang lebih objektif, saya tidak yakin
penampilan kita jauh berbeda dari makhluk-makhluk luar angkasa.”

Ana tersenyum penuh misteri. Dilingkarkannya lengannya di sekeliling leher


lelaki itu dan diciumnya pipinya sekilas seolah-olah ingin menyuruhnya
berhenti. Kemudian, ia berpaling kepadaku dan berkata menggoda, “Ia memang
tergila-gila pada ide bahwa kehidupan cerdas di planet lain tentunya sedikit
menyerupai kita.”

“Kalau begitu, menurut saya dia salah,” kataku.

Tetapi, lelaki itu tidak menyerah begitu saja.

“Mereka pasti memiliki sebuah sistem saraf, dan juga sebuah organ untuk
berpikir, tentunya. Kedua hal itu hampir tidak mungkin berkembang jika mereka
tidak memiliki juga dua pasang anggota tubuh untuk digunakan.”

“Mengapa dua?” balasku.

Saat itu, kupikir aku berhasil mengalahkannya, tetapi ia masih balik melawan.

“Karena itu sudah cukup!” ujarnya.

Untuk pertama kalinya, akulah yang merasa terdesak. Idenya sungguh bagus
sehingga, untuk saat itu, membuatku sedikit bingung. Dua lengan dan dua kaki
memang sudah cukup. Walaupun bukan demikian cara ilmu empiris
mempertimbangkannya. Bukankah setengah milenium telah berlalu sejak dunia
filsafat mencampakkan doktrin Aristoteles

mengenai “causa final” (penyebab terakhir)?

“Dan dalam jangka panjang,” ujarnya, “tidak ada gunanya mempertahankan


lebih banyak anggota badan daripada yang diperlukan, tidak setelah berjuta-juta
tahun.”

Tepat pada saat itu, seekor kodok melompat ke atas lantai tempat kami duduk-
duduk; mungkin ia adalah salah satu dari perenang tadi. Aku menunjuk ke arah
kodok itu dan berkata dengan nada bangga, “Sebenarnya, kita memiliki dua
lengan dan dua kaki karena kita diturunkan dari seekor tetrapoda seperti itu. Kita
juga dapat berterima kasih kepada mereka untuk desain dasar sistem saraf kita.
Spesimen ini adalah seekor Bufo, atau tepatnya Bufo marinus.”

Aku pun memungut kodok tersebut dan menunjuk mata, lubang hidung, mulut,
lidah, kerongkongan, dan selaput anak telinganya. Aku menjelaskan secara
singkat mengenai jantung, paru-paru, pembuluh-pembuluh arteri, lambung,
kandung kemih, pankreas, hati, ginjal, testis, dan ureter hewan tersebut. Aku
mengakhirinya dengan beberapa komentar mengenai bentuk tulang, saraf tulang
belakang, tulang-tulang iga, dan kakinya. Sambil melepaskan hewan tersebut
dari genggamanku, aku menambahkan beberapa potong informasi mengenai
evolusi dari amfibi menjadi reptil, dan diteruskan dari reptil menjadi burung dan
mamalia.

Tetapi, aku telah menilai Jose terlalu rendah.

“Jadi amfibi memiliki tangan yang hebat,” ujarnya. “Mereka dapat memenangi
setiap putaran permainan bridge. Dan itu bukanlah karena keberuntungan
semata. Dibandingkan dengan jenis-jenis hewan yang lain, mereka adalah garda
depan. Mereka memiliki semua yang diperlukan untuk menciptakan sesosok
manusia.”

“Mudah untuk menjadi pandai setelah itu terjadi,” ujarku.

“Lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali,” ia bersikeras. “Ada
dua alasan mengapa kita memiliki dua lengan dan dua kaki. Satu karena kita
diturunkan dari tetrapoda seperti itu. Yang lain karena hal itu praktis.”

“Dan jika amfibi memiliki enam kaki?”

“Entah kita tidak akan duduk di sini dan melakukan perdebatan rasional ini, atau
dua dari anggota-anggota tubuh itu tentunya telah mengerut dan hilang. Dulu
kita memiliki ekor, yang bisa berguna bagi sejumlah aktivitas hewan, tetapi ekor
akan menghalangi kita untuk duduk di hadapan komputer atau di dalam pesawat
ruang angkasa.”

Kurasa, aku menyandarkan diri di kursiku selama beberapa saat. Yang Jose
lakukan tidak lebih dari sekadar menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang telah
kuajukan kepada diriku sendiri selama beberapa hari terakhir. Setelah apa yang
terjadi pada kita, Vera, aku telah banyak berpikir. Mengapa kita harus kehilangan
Sonja? Aku tidak dapat menghitung berapa kali aku menanyakan hal itu kepada
diriku. Mengapa kita tidak dapat mempertahankan dia? Jika salah satu muridku
mengajukan pertanyaan itu dalam sebuah ujian, aku harus mempertimbangkan
untuk tidak meluluskannya. Tetapi, kita adalah manusia, dan manusia memiliki
kecenderungan untuk mencari makna, bahkan seandainya pun tidak ada makna.

“Pernyataan Anda tepat sekali bahwa bukan artropoda yang akhirnya


menaklukkan ruang angkasa dan, dalam hal itu, bukan pula moluska.”
“Dan,” ujarnya, “makhluk-makhluk dari tata surya nun jauh yang pada suatu hari
akan mengirimkan kepada kita surat permohonan izin berkunjung yang
terbungkus dalam kode-kode rahasia melalui eter hampir tidak mungkin
memiliki anatomi seperti seekor cumi-cumi maupun kaki seribu.”

Ana mulai tertawa.

“Apa kubilang?” teriaknya.

Ana dan Jose dan tidak lama kemudian juga Mario mulai mengajukan kepadaku
berbagai macam pertanyaan mengenai ilmu alam, dan mungkin karena reaksi
tropis yang kualami membuatku menikmati perhatian tersebut, aku pun
mengocehkan beberapa kuliah singkat mengenai bidang-bidang bermasalah
dalam palaeontologi kontemporer dan biologi evolusioner. Tetapi, semakin lama
aku semakin bertambah waspada terhadap lawanku. Beberapa kali, dengan
humor yang menyenangkan, Jose berhasil memunculkan pertanyaan yang
menimbulkan rasa malu pada diriku sebagai seorang profesional. Aku tidak
bermaksud mengatakan bahwa selama percakapan itu, aku mempelajari sesuatu
yang baru. Tetapi, kupikir, aku mendapatkan pemahaman yang lebih dalam
mengenai banyaknya ketidakpas-tian dalam “ilmu pasti” yang tidak pernah
kuakui sebelumnya.

Jose berkeyakinan bahwa evolusi kehidupan di Bumi bukanlah hanya


merupakan suatu proses fisik, melainkan merupakan proses yang selalu penuh
makna. Ia menunjukkan bahwa sebuah karakteristik yang begitu penting seperti
kesadaran manusia tidaklah mungkin hanya merupakan salah satu dari sekian
banyak karakteristik yang berubah-ubah dalam perjuangan untuk bertahan hidup,
tetapi merupakan objek utama dalam evolusi. Hampir merupakan hukum alam
bahwa sebuah planet akan membentuk sebuah sistem pendeteksi yang semakin
terspesialisasi, dan ia menyebutkan beberapa contoh yang bagus akan proses ini:
bagaimana kehidupan di Bumi telah berevolusi menghasilkan mata dan
penglihatan tanpa adanya hubungan genetik dari dalam dan bagaimana lebih dari
sekali kehidupan menghasilkan makhluk-makhluk yang mampu terbang ke udara
atau berjalan tegak. Maka, tentulah di alam semesta ini ada pula sebuah tujuan
tersembunyi untuk memunculkan makhluk yang mampu membentuk tinjauan
intelektual.

Hal yang sedikit menyakitkan adalah, ketika masih muda, ada masa ketika aku
memiliki pemikiran-pemikiran yang serupa, ketika aku masih dipengaruhi oleh
Pierre Teilhard de Chardin. Kemudian, aku mulai mempelajari biologi dan
otomatis menyingkirkan segala pemikiran mengenai evolusi yang memiliki
tujuan. Demi kepentingan ilmu pengetahuan, aku merasa harus melakukan
sedikit perlawanan terhadap Jose. Aku membela sebuah institusi yang sangat
penting, mungkin terlalu penting.

Aku setuju dengannya bahwa kemampuan untuk melihat, terbang, berenang,


atau berjalan tegak telah berevolusi berkali-kali dalam sejarah kehidupan.
Contohnya, mata telah dibentuk sekitar empat puluh atau lima puluh kali, dan
serangga telah mengevolusikan sayap untuk terbang lebih dari seratus juta tahun
sebelum reptil. Vertebrata pertama yang dapat terbang adalah pterosaurus.
Mereka berevolusi sekitar dua ratus juta tahun yang lalu dan punah bersama-
sama dengan para dinosaurus. Cara pterosaurus terbang agak mirip kelelawar
raksasa, jelasku. Mereka tidak memiliki bulu dan tidak mungkin merupakan
nenek moyang dari burung modern. Burung tertua Archaeopteryx-h\diup 150
juta tahun yang lalu, dan sesungguhnya adalah seekor dinosaurus kecil. Evolusi
sayap dan bulu pada burung terjadi secara terpisah dari pterosaurus ….

“Sayap dan bulu,” potongnya. “Apakah hal-hal seperti itu terjadi dalam
semalam? Atau, apakah alam ‘tahu’ ke arah mana dirinya berkembang?”

Aku tertawa. Sekali lagi, ia telah menyentuh inti renik dari perbedaan pendapat,
titik pusatnya, walaupun sekali ini kurasa pertanyaannya bersifat retoris.

“Nyaris mustahil,” ujarku. “Yang terjadi adalah serangkaian mutasi selama


beribu-ribu generasi. Dan hanya ada satu hukum yang berlaku: individu yang
memiliki keunggulan sedikit saja dalam perjuangan bertahan hidup memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mewariskan gen mereka.”

“Keuntungan apakah yang didapatkan suatu individu dengan menumbuhkan


bakal sayap yang kikuk beberapa generasi sebelum sayap dapat digunakan?”
tanyanya. “Bukankah bakal sayap yang baru mulai akan terbentuk seperti itu
malah akan merepotkan dan mengurangi kemampuan individu itu untuk
menyerang dan membela dirinya?”

Aku berusaha menggambarkan seekor reptil yang memanjat pohon untuk


berburu serangga. Bahkan, sedikit saja ciri-ciri yang menyerupai bulu yang pada
awalnya adalah sisik yang berubah bentuk secara langsung akan memberikan
keuntungan ketika hewan tersebut melompat atau berlari menuruni dahan pohon.
Semakin besar perubahan bentuk sisik makhluk tersebut, semakin baik ia dapat
melompat, berganti arah, atau mengepak, dan semakin besarlah kemungkinan
keturunannya dapat tumbuh. Bahkan, sedikit saja kecenderungan memiliki kaki
yang berselaput juga memberi seekor hewan sebuah keuntungan penting jika ia
hidup baik sebagian maupun sepenuhnya di air. Aku kembali kepada evolusi
bulu dan menunjukkan bahwa perlahan-lahan bulu juga penting untuk menjaga
tubuh burung pada temperatur yang tetap walaupun bukan itu “tujuan” awal dari
adanya bulu. Keuntungan utama dari menumbuhkan bulu kemungkinan besar
berhubungan dengan gerak sang hewan. Tetapi, mungkin saja proses itu terjadi
dalam urutan sebaliknya. Pada awalnya, mungkin bulu telah memberi para nenek
moyang burung keuntungan insulasi

sebelum akhirnya menjadi penting bagi gerakan. Penemuan akan dinosaurus


berbulu baru-baru ini jelas mendukung argumen ke arah itu.

“Kemudian ada kelelawar,” ujar lelaki itu. “Setelah itu, bahkan beberapa
mamalia belajar untuk terbang.”

Seingatku, kemudian aku sedikit membahas tentang betapa burung-burung


begitu mendominasi udara sehingga akhirnya kelelawar terpaksa menjadi
pemburu di malam hari. Tidak hanya kelelawar menumbuhkan sayap, mereka
juga berevolusi sehingga dapat mengindra benda-benda melalui pantulan suara.

“Itu kan situasi ayam dan telur,” Jose berpendapat. “Sebab, apakah yang terlebih
dulu muncul, pengindraan dengan pantulan suara atau kemampuan terbang yang
sesungguhnya?”

Aku tidak sempat menjawabnya karena pada saat itu Laura datang ke meja kami
untuk bergabung. Saat kali terakhir aku menjadi dummy, ia masih belum berhasil
melepaskan diri dari Bill, tetapi ia melirikku dengan pandangan yang hanya
dapat diartikan sebagai tatapan memelas dan di dalamnya tersirat permohonan
maaf karena tidak menghiraukan diriku di bandara. Ia berdiri di bar selama
beberapa menit sambil membawa segelas minuman berwarna merah, dan aku
merasa senang ketika akhirnya ia berjalan melintasi restoran itu lagi, dan aku
mengangkat kepala dan menawarkan kepadanya tempat di meja kami. Mario
mengambilkan sebuah kursi dari meja sebelah.

“Beri saya sebuah planet yang hidup …,” Jose memulai lagi.

“Ini dia!” potong Laura.


Dengan penuh semangat, ia menunjuk ke luar ke arah pepohonan palem,
walaupun di luar begitu gelap sehingga kami tidak dapat melihat apa pun. Aku
teringat akan lencana World Wildlife Fund di ranselnya.

Jose tertawa.

“Beri saya sebuah planet hidup yang lain. Saya sangat yakin bahwa cepat atau
lambat, planet itu akan memunculkan apa yang kita sebut sebagai kesadaran.”

Laura mengangkat bahu, dan Jose pun melanjutkan.

“Untuk menyangkal ide tersebut, kita harus menemukan sebuah planet lain yang
dipenuhi berbagai jenis kehidupan, tetapi tidak pernah menghasilkan suatu
sistem saraf yang cukup kompleks untuk membuat suatu individu bangun suatu
pagi dan berpikir ‘to be or not to be’ atau ‘cogito, ergo sum’.”

“Tidakkah itu sedikit antroposentris?” tanya Laura. “Alam tidak tercipta hanya
untuk kita.”

Tetapi kini Jose sudah menggebu-gebu.

“Beri saya satu planet hidup, dan dengan senang hati akan segera saya tunjukkan
segerombolan penuh lensa hidup. Dan tunggu saja, dalam sekejap, kita akan
menatap jiwa-jiwa sadar yang memiliki kemampuan untuk menjelaskan dirinya
sendiri.”

Sekali lagi Ana membantunya: “Yang ia maksud adalah bahwa setiap planet
yang mampu memunculkan kehidupan, cepat atau lambat akan tiba pada suatu
bentuk kesadaran. Perjalanan dari sel hidup yang pertama hingga organisme
kompleks seperti kita mungkin memiliki banyak cabang, tetapi tujuannya selalu
sama. Alam semesta ini berusaha untuk memahami dirinya sendiri, dan mata
yang meneliti alam semesta adalah mata milik alam semesta itu sendiri.”

“Itu benar,” ujar Laura, dan ia pun mengulang apa yang dikatakan oleh Ana:
“Mata yang meneliti alam semesta adalah mata milik alam semesta itu sendiri.”

Sepanjang malam itu, aku telah berpikir keras untuk mengingat di mana aku
telah bertemu Ana sebelumnya, dan aku masih belum ingat sama sekali. Satu-
satunya jalan adalah dengan mengenalnya lebih baik.
“Apa pendapat pribadi Anda?” tanyaku. “Anda tentunya memiliki keyakinan
sendiri.”

Ia berpikir keras, dan aku ingat kata-katanya dengan pasti:

“Kita tidak mampu untuk memahami diri kita sendiri. Kita adalah teka-teki yang
tak teterka siapa pun.”

“Teka-teki yang tak teterka siapa pun?”

Ia merenungkannya sejenak.

“Saya hanya dapat menjawab mengenai diri saya sendiri,” ujarnya.

Ia menatap mataku sekejap. Kemudian, ia berkata, “Saya adalah suatu


keberadaan ilahiah.”

Selain Jose, mungkin aku adalah satu-satunya

yang menyadari bahwa jawaban ini diiringi oleh seulas senyum penuh misteri.
Mario jelas tidak terlalu memerhatikan karena dengan mata cokelatnya
terbelalak, ia berkata, “Jadi, Anda adalah Tuhan?”

Wanita itu mengangguk yakin.

“Ya,” ujarnya. “Itulah saya.” Ia menjawabnya dengan sambil lalu seolah-olah


menjawab sebuah pertanyaan mengenai apakah ia dilahirkan di Spanyol. Dan
mengapa harus ragu? Ana adalah seorang wanita berwibawa yang tidak perlu
lagi membeberkan garis kebangsawanan-nya.

“Baguslah kalau begitu,” Mario memberikan persetujuannya. “Selamat!”

Sambil mengatakan hal itu, ia berdiri dan berjalan menuju bar. Kurasa ia masih
merajuk karena permainan kartu sebelumnya. Setidaknya kini ia tahu mengapa
ia tidak pernah menang.

Ana tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mengerti apa yang harus ia tertawakan,
tetapi suaranya begitu menular sehingga dengan segera kami semua ikut tertawa.

Kini John datang mendekat dengan membawa segelas bir di tangannya.


Sebelumnya ia bercakap-cakap sebentar dengan pemuda-pemudi Amerika itu,
tetapi ia selalu berdiri di dekat kami dan tentunya mendengar cukup banyak apa
yang telah kami bicarakan.

Kami meletakkan beberapa kursi tambahan di sekeliling meja, dan duduklah


kami berenam setelah Mario kembali sambil membawa segelas brendi dan

menyenandungkan sebuah karya Puccini, kalau tidak salah berjudul Madam


Butterfly. Mario memperkenalkan dirinya kepada Laura, dan si wanita juga
memperkenalkan diri kepada Ana dan Jose.

Sang orang Inggris berkata, “Tanpa sengaja saya mendengar sedikit percakapan
Anda mengenai ‘makna’ dan ‘tujuan’ dari segala sesuatu. Bagus, bagus! Namun,
saya yakin, penting untuk menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu
harus dinilai secara retrospektif sebagai sebuah peraturan.”

Tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang ia maksud, namun itu tampaknya
tidak membuatnya gentar sedikit pun.

“Lebih sering, makna sebuah kejadian baru tampak jelas jauh setelah kejadian
itu berlangsung. Maka, penyebab dari sesuatu tidaklah pasti hingga kemudian
hari. Ini karena setiap proses memiliki poros waktu masing-masing.”

Ia masih tidak mendapatkan lebih dari sebuah anggukan tanda setuju. Bahkan
tidak ada yang memintanya untuk mencoba menjelaskan agar perkataannya lebih
dapat dimengerti.

“Coba bayangkan,” ujarnya, “jika kita menjadi saksi kejadian-kejadian yang


berlangsung di atas Bumi ini, katakan saja tiga ratus juta tahun yang lalu. Saya
yakin, ahli biologi kita ini dapat memberi kita gambaran akan zaman tersebut.”

Aku langsung menyambut tantangan tersebut. Pada saat itu, kita berada di akhir
periode Karbon, ujarku. Kemudian aku pun memberikan rangkuman singkat
tentang kehidupan tumbuh-tumbuhannya,

serangga terbang yang pertama, dan yang paling penting, reptil-reptil paling
awal, yang telah berevolusi secara perlahan karena keadaan di Bumi telah
menjadi lebih kering dibandingkan pada periode Devon dan periode Karbon
Awal. Tetapi, di antara vertebrata darat, para amfibi masih mendominasi.
John memotong: “Di antara paku-pakuan dan tanaman merambat, merangkaklah
amfibi-amfibi besar mirip salamander, dan juga beberapa jenis reptil, termasuk
mereka yang menjadi ayah dari spesies kita. Jika saat itu kita dapat hadir dalam
lingkungan tersebut, hampir pasti kita akan menganggap apa yang kita saksikan
itu tidak masuk akal. Baru pada saat inilah, saat kita melihat ke belakang,
maknanya baru terlihat.”

“Karena tanpa kejadian-kejadian pada saat itu, kita tidak akan berada di sini
sekarang?” tanya Mario.

Si orang Inggris mengangguk singkat, dan aku menambahkan: “Tetapi, Anda


kan tidak mengatakan bahwa kita adalah penyebab dari apa yang terjadi tiga
ratus juta tahun yang lalu?”

Jose tidak dapat menyembunyikan rasa terima kasihnya atas keikutsertaan John.
Kini ia memberinya isyarat untuk melanjutkan.

“Saya hanya berkata bahwa pada tiga ratus juta tahun yang lalu, masih terlalu
dini untuk menyimpulkan bahwa kehidupan di planet ini tidak berarti, dan lebih
tidak berarti lagi tanpa adanya objek. Hanya saja objek itu belum punya waktu
untuk berbuah.”

“Dan apakah yang menjadi objek itu?” tanyaku.

“Periode Devon adalah masa embrio dari akal sehat. Dan saya yakin sah-sah saja
mengatakan bahwa sebuah embrio memiliki tujuan, karena saya tidak serta-
merta percaya pada pemikiran bahwa minggu-minggu pertama dari sebuah
kehamilan memiliki tujuan, tidak bagi sang embrio. Maka, masih terlalu dini
pula untuk percaya bahwa kini kita dapat menjawab dengan benar pertanyaan
tentang makna keberadaan kita.”

“Maksud Anda, kita masih setengah jalan?” tanya Laura.

Lelaki itu mengangguk lagi.

“Kini, kita adalah kaum garda depan, tetapi kita belum melampaui garis akhir.
Hanya seratus atau seribu atau satu miliar tahun lagi, kita akan melihat apa
tujuan kita. Maka, dapat dikatakan, apa yang terjadi pada suatu saat jauh pada
masa mendatang akan menjadi penyebab dari apa yang terjadi di sini sekarang.”
Ia melanjutkan lebih jauh, menjelaskan apa yang ia maksud dengan “masa
embrio dari akal sehat”, dan kurasa mayoritas dari

Ia menatapku dengan pandangan tidak setuju.

“Mungkin di situlah kita salah. Tetapi, marilah kita putar balikkan perspektif ini.
Hanya jika kehidupan di planet ini tidak berevolusi dari amfibi pertama, kita
dapat mengatakan bahwa kehidupan di Bumi ini tidak masuk akal dan tidak
berarti. Tetapi, apa jawaban sang katak terhadap pertanyaan eksistensialis Jean
Paul Sartre?”

Laura tidak sabar menghadapi pemikiran-pemikiran seperti itu. Ia menatap John


berapi-api dan berkata, “Katak akan tetap menjadi katak. Saya tidak dapat
melihat mengapa itu harus lebih tidak berarti dibandingkan manusia menjadi
manusia.”

Si orang Inggris mengangguk penuh simpati.

“Memang, katak akan tetap menjadi katak. Dan mereka akan melakukan apa
yang dilakukan oleh katak. Tetapi kita adalah manusia, dan kita melakukan apa
yang dilakukan oleh manusia. Kita menanyakan apakah ada arti atau tujuan dari
segalanya. Menurut saya, kehidupan pada zaman Devon terasa penuh makna
bagi kita, bukan katak.”

Laura tidak terkesan.

“Pandangan saya benar-benar berbeda. Semua kehidupan di atas Bumi ini sama
berharganya.”

Aku tidak dapat menebak seberapa banyak John benar-benar memercayai apa
yang ia utarakan. Tetapi, ia belum selesai.

“Bisa saja di atas planet ini sama sekali tidak ada kehidupan. Dengan begitu, kita
dapat mengatakan bahwa dunia ini tidak memiliki tujuan lebih daripada
menjalankan kehidupannya sebagaimana adanya. Tetapi, siapakah yang akan
mengatakan hal itu?”

Ketika ia tidak menerima satu jawaban pun, ia pun menyimpulkan:

“Jika Big Bang tidak pernah terjadi, segalanya akan menjadi hampa dan tak
berarti. Tentunya kehampaan ini hanya untuk kehampaan itu sendiri, dan
kehampaan itu akan lebih tidak menyadari ketiadaan arti ini dibandingkan
dengan katak dan salamander.”

Kuperhatikan Ana dan Jose berkali-kali saling melirik dan diam-diam


mengomentari percakapan ini dengan ungkapan-ungkapan aneh berbahasa
Spanyol yang selama ini saling mereka lontarkan sambil berjalan-jalan
berkeliling pulau. Apakah hal ini berkaitan? Apakah ini sebuah permainan yang
telah diatur sebelumnya? Apakah mungkin sang orang Inggrislah yang
mengarang ungkapan-ungkapan ini? Tidakkah sedikit aneh jika hampir semua
tamu di Maravu berkeliling sambil membicarakan hal yang sama?

Untuk melanjutkan perkenalan mereka, Ana bertanya dari mana Laura berasal.
Ia menjawab berasal dari San Francisco dan pernah belajar sejarah seni, tetapi
akhir-akhir ini ia bekerja sebagai seorang jurnalis di Adelaide. Belum lama ini ia
mendapatkan semacam bantuan dana kerja dari sebuah yayasan lingkungan
hidup di Amerika, dan pada dasarnya tugasnya adalah memetakan seluruh
kekuatan yang menentang perjuangan masyarakat melawan penghancuran
lingkungan. Secara lebih spesifik, tugas Laura adalah menyusun dokumen
tahunan mengenai individu, institusi, dan perusahaan besar yang, demi alasan
laba, secara terbuka menganggap remeh ancaman-ancaman terhadap lingkungan
hidup di Bumi.

Mario ingin tahu mengapa keterbukaan informasi seperti itu diperlukan, dan
Laura mengambil kesempatan ini untuk mengungkapkan secara garis besar
gambaran mengenai kondisi Bumi versi dirinya.

Ia percaya bahwa kehidupan tengah terancam, bahwa sumber-sumber daya yang


dapat diolah di planet ini akan menghilang secara perlahan dalam jangka
panjang, dan bahwa hutan-hutan hujan akan habis dibakar dan keanekaragaman
hayati terus-menerus dicemari. Ini adalah sebuah proses yang benar-benar tidak
dapat dibalikkan, ia menekankan.

“Baik,” Mario menyetujui. “Tapi, apa pentingnya menerbitkan sebuah daftar


nama para pelaku dalam satu publikasi?”

“Mereka harus bertanggung jawab,” ujar si wanita. “Hingga kini, beban untuk
mencari bukti selalu terletak pada gerakan pencinta lingkungan hidup. Itulah
yang sedang kami usahakan diubah. Kami menginginkan keterbukaan.”
“Dan kemudian?”

Laura menggerak-gerakkan tangannya.

“Mungkin suatu hari akan ada suatu proses hukum. Seseorang harus mewakili
katak-katak itu.”

“Tetapi, Anda benar-benar memercayai bahwa laporan Anda ini cukup untuk
menghentikan para perusak lingkungan itu?”

Si wanita mengangguk. “Banyak dari orang-orang besar mulut itu terdiam ketika
mendengar mengapa saya mewawancarai mereka, dan kemudian berbalik seratus
delapan puluh derajat begitu menyadari tujuan wawancara saya. Itu dapat
ditunjukkan kepada cucu-cucu mereka: lihatlah saat kakekmu berdiri di barikade
dan melecehkan masalah-masalah polusi lingkungan.”

Akhirnya Mario mengerti.

“Anda ingin membuat mereka bertanggung jawab secara pribadi,” ujarnya.

Rasanya aku terduduk di sana sambil tersenyum kecil kepada diriku sendiri. Ada
sesuatu yang kunikmati dari keberanian Laura.

“Menurut saya, itu adalah sebuah ide yang menarik,” ujarku.

Wanita itu menoleh dan menatapku sambil mencari-cari. Aku pun bertatapan
dengan satu mata hijau dan satu cokelat. Seperti kebanyakan idealis lain, ia
selalu berjaga-jaga.

“Mungkin kita memang memerlukan tiang gantungan di hadapan publik,”


ujarku.

John duduk di sana sambil mengangguk tanda setuju. Ia mengangguk dengan


begitu yakin sehingga sekali lagi menarik perhatian semua orang.

“Manusia,” ia menyatakan, “mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di


seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka,
melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung
jawab global, tetapi merupakan tanggung jawab kosmos. Suatu hari, gelap gulita
mungkin akan menutupi lagi samudra raya. Dan Roh Tuhan tidak melayang-
layang di atas permukaan air.“3

Tidak ada yang menentang kesimpulan ini. Seolah-olah kata-katanya itu telah
menyatukan perkumpulan ini dalam renungan tanpa kata.

Bill mendatangi meja itu dengan membawa tiga botol anggur merah dan segelas
wiski. Di belakangnya, si lelaki yang mengenakan bunga di belakang telinganya
berjalan dengan tergesa-gesa sambil membawa enam buah gelas. Orang Amerika
itu meletakkan botol-botolnya di atas meja dan mengambil sebuah kursi dari
meja sebelah untuk dirinya sendiri. Ia duduk di samping Laura.

Bill memberi setiap orang satu buah gelas dan menunjuk ketiga botolnya.

“Saya yang traktir!” ujarnya.

Sekali lagi aku dapat melihat bagaimana Laura tidak menghiraukan lelaki itu dan
kurasa sekilas aku melihat kebencian terhadap manusia dalam komitmennya
kepada lingkungan. Ia mungkin cantik dan aneh, tetapi ia tidak mudah
melepaskan kacamata kudanya, maupun mengangkat kepala dari buku Lonely
Planet-nya saat disapa dengan ramah di sebuah lapangan udara di suatu daerah
terpencil.

Sementara percakapan di sekitar meja itu terus berlanjut di seputar lingkungan


hidup, aku pun menceritakan secara singkat tugasku, kurasa karena didesak oleh
Ana dan Jose. Sekali ini Laura tidak mencoba menyembunyikan bahwa ia
terkesan, dan akhirnya aku merasa diriku sedikit dihargai. Kurasa, sepertinya ia
menganggap bahwa dirinya adalah satu-satunya orang di dunia yang jelas di sini,
di pulau ini yang memiliki hubungan dengan masalah-masalah lingkungan di
planet ini.

Dan seperti dugaanku sebelumnya, Bill termasuk dalam sekelompok besar


pensiunan Amerika

3 Kutipan, dengan sedikit perubahan, dari Kejadian 1: 2— peny.

yang sehat dan bersemangat. Ia pernah bekerja pada sebuah perusahaan minyak
besar dan merupakan salah satu dari para ahli berkemampuan tinggi yang
memadamkan ledakan-ledakan tak terkendali di ladang-ladang minyak. Tanpa
sedikit pun rasa sombong, ia menyebutkan kepada kami bahwa salah satu rekan
sekerjanya adalah Red Adair yang melegenda itu. Ia juga pernah diberi tugas
oleh NASA, dan dengan rendah hati dapat mengklaim ikut memiliki andil dalam
fakta bahwa Apollo 13 tidak masih mengorbit Bulan. Aku menyebutkan hal ini
karena adanya kejadian berikut:

Kami terus berdiskusi mengenai masalah-masalah lingkungan selama beberapa


saat sebelum percakapan itu lalu melantur dan pembicaraan pun berubah ke arah
hal-hal yang lebih menyenangkan. Setelah didesak oleh kami, Bill mulai
menjelaskan beberapa keahliannya. Ceritanya menyenangkan untuk didengar,
dan juga dialah yang membawa anggur yang kami minum. Tetapi, di saat ia
tengah menjelaskan sebuah ledakan yang dramatis, sebuah luapan kemarahan
menyerang Laura yang meledak dengan melontarkan dirinya ke arah Bill sambil
memukul-mukul dengan kedua tinjunya.

“Terima ini untuk ledakan tak terkendali, dasar anjing minyak kotor!” teriak
wanita itu.

Kurasa, komentarnya ini agak tidak tepat waktu karena si lelaki baru saja
menceritakan bagaimana ia telah mencegah sebuah bencana minyak besar-
besaran dengan mempertaruhkan nyawa dan anggota badannya.

Tidak terlalu mengejutkan bahwa wanita muda itu mudah naik pitam, juga
bahwa tampak jelas ia sulit untuk membedakan antara komitmen dan fanatisme.
Tetapi, ia memukul-mukul Bill dengan kemarahan yang begitu besar sehingga
beberapa kali lelaki itu harus mengerutkan bahu untuk menangkis serangan itu.
Dalam keributan itu, satu botol anggur terguling, dan seperempat liter anggur
yang masih tersisa di dalamnya tumpah memerah di atas taplak meja yang putih.

Kini Bill melakukan sesuatu yang cukup ganjil. Ia meletakkan tangannya di


tengah-tengah leher Laura dan berkata dengan ramah, “Hei, tenanglah.”

Perbuatannya ini menghasilkan perubahan sikap yang paling mengejutkan


malam itu, karena Laura yang saat itu terbakar amarah dengan segera berubah
menjadi tenang secepat ia meledak. Aku ingat saat itu aku berpikir mengenai
seekor harimau dan penjinaknya, dan bagaimana mereka saling bergantung: sang
penjinak membutuhkan harimau itu agar memiliki sesuatu untuk ditenangkan,
dan tanpa sang penjinak, si harimau tidak memiliki apa pun untuk meluapkan
kemarahannya. Perkelahian itu akhirnya berfungsi sebagai monumen keahlian
Bill memadamkan ledakan-ledakan tak terkendali. Yang paling tidak dapat
kumengerti adalah dorongan yang ada di baliknya.
Dapat dikatakan kejadian tersebut mengakhiri malam itu secara alami. Lauralah
yang pertama bangkit berdiri, dan ia mengucapkan terima kasih kepada Bill atas
anggurnya, juga meminta maaf,

sebelum beranjak menuju pondoknya. Sepertinya aku ingat bahwa sekali ia


berbalik dan melakukan kontak mata denganku, seolah-olah aku memiliki
semacam salep untuk mengobati penderitaan jiwanya.

“La donna e mobile,” Mario bergumam sambil menggerak-gerakkan tangannya


ialah yang telah meminum sebagian besar anggur kami kemudian ia bangkit
berdiri dan juga bersiap untuk tidur.

Si orang Inggris yang besar menatap sekelilingnya dan mengangguk puas.

“Sebuah awal yang sangat menjanjikan,” ujarnya. “Tetapi, berapa lamakah Anda
semua akan tinggal di sini?”

Aku menjawab bahwa aku akan tinggal selama tiga malam di pulau itu, begitu
pula dengan Bill, sebelum ia akan bergegas menuju Tonga dan Tahiti. Kedua
orang Spanyol itu akan pergi sehari setelah diriku.

Kedua pengantin muda dari Seattle telah lama kembali ke kamar bulan madu
mereka, dan para karyawan tengah sibuk mematikan lampu dan membersihkan
meja-meja. John menghabiskan gelas birnya sebelum dengan khidmat beranjak
pergi. Setelah Bill juga mengucapkan terima kasihnya atas malam yang
menyenangkan, tinggallah kedua orang Spanyol dan diriku yang masih duduk
sebentar sebelum beranjak berjalan ke antara pohon-pohon palem. Sambil
berjalan, kami memerhatikan kodok-kodok yang berenang ke sana kemari dalam
kolam renang. Aku mengomentari bahwa mereka berenang dengan gaya dada
sama seperti kita.

“Atau sebaliknya,” ujar Jose. “Kita mempelajarinya dari mereka.”

Di atas kami, bintang-bintang berkelap-kelip bagaikan kode Morse dari masa


lalu yang telah hilang. Jose menunjuk ke arah malam di alam semesta dan
berkata, “Dahulu kala, galaksi ini dipenuhi oleh mereka.”

Aku tidak langsung mengerti apa yang ia maksud, mungkin karena pikiranku
masih dipenuhi oleh Laura dan Bill.
“Apa?” tanyaku.

Sekali lagi ia menunjuk ke dalam kolam.

“Kodok. Tetapi aku tidak yakin mereka bahkan menyadarinya. Kuduga mereka
masih memandang dunia secara geosentris.”

Kami berdiri di sana sambil mengagumi kilauan berwarna merah dan putih serta
biru di langit.

“Seberapa besarkah kemungkinan sesuatu tercipta dari ketiadaan?” tanya Jose.


“Atau tentu saja sebaliknya: berapa besarkah kemungkinan sesuatu ada untuk
selamanya? Dan apakah bahkan mungkin untuk menghitung kemungkinan suatu
materi kosmos menyeka tidur berabad-abad dari matanya suatu pagi dan tiba-
tiba terjaga, menyadari dirinya sendiri?”

Aku tidak dapat menentukan apakah pertanyaan-pertanyaan ini ditujukan


kepadaku atau kepada Ana, kepada malam di alam semesta, atau kepada dirinya
sendiri. Aku dapat mendengar jawabanku yang konyol: “Kita semua
menanyakan hal itu. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.”

“Anda tidak seharusnya mengatakan hal itu,” tangkisnya. “Hanya karena sebuah
jawaban tidak dapat dijangkau, bukan berarti jawaban itu tidak ada.”

Sekarang giliran Ana berbicara. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia berbicara


kepadaku dalam bahasa Spanyol. Wanita itu menatap lurus ke dalam mataku dan
berkata:

“Pada awalnya terjadilah Big Bang, dan hal itu telah lama sekali terjadi. Ini
hanyalah sebuah pengingat akan adanya pertunjukan tambahan malam ini. Anda
masih dapat membeli karcis. Singkatnya, pertunjukan tambahan itu berfokus
pada menciptakan pemirsanya sendiri. Walau bagaimanapun, tanpa adanya
pemirsa yang memberi tepuk tangan, tidaklah masuk akal untuk menyebut acara
tersebut sebagai sebuah pertunjukan. Masih ada tempat duduk yang tersisa.”

Aku bertepuk tangan, dan terlambat menyadari kesalahan yang kulakukan.


Untuk menutupi kesalahanku, aku berkata, “Tapi, apa arti semua itu?”

Sebagai jawabannya, ia memberiku sebuah senyuman yang hanya secara samar-


samar dapat kulihat dalam cahaya dari kolam renang.
Jose melingkarkan lengannya memeluk si wanita, seakan melindunginya dari
ruang kosong. Kami pun saling mengucapkan selamat malam dan mulai
melangkah ke arah masing-masing yang berlawanan. Sebelum mereka ditelan
malam, aku mendengar Jose berkata:

“Jika tuhan memang ada, tidak hanya ia uiung meninggalkan jejak. Lebih dari
segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah sesuatu yang
pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak banyak desas-
desus yang beredar di antara bintang-bintang ….”

Ana ikut serta, dan bersama-sama mereka pun mengucapkan sisa pesan Jose
keras-keras seolah-olah kalimat itu adalah sebuah jampi-jampi tua:

“Tetapi, belum ada seorang pun yang melupakan Big Bang. Sejak saat itu,
keheningan meraja, dan semua yang ada di sana pun bergerak menghindar. Kita
masih bisa bertemu dengan sebuah bulan. Atau sbuah komet. Tetapi, jangan
mengharapkan sambutan hangat. Undangan berkunjung tidak ditulis di angkasa
/uar.”[]

Seorang M anusia-Nyamuk dan Seekor Tokek

PERASAANKU TIDAK ENAK SAAT MEMBUKA PINTU BURE 3, DAN


HAL PERtama yang kulihat saat menyalakan lampu adalah gerakan seekor tokek
di atas botol gin. Jadi benar perkiraanku. Mungkin dialah yang berlari melintasi
palang atap ketika aku berangkat untuk makan malam. Tokek itu hampir tiga
puluh sentimeter panjangnya, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia pernah
kekurangan persediaan nyamuk. Kami sama-sama terlompat, kemudian tokek itu
diam tak bergerak, dan baru saat aku maju selangkah ke arahnya, ia mulai
melingkarkan tubuhnya menutupi setengah botol dan aku mulai khawatir ginku
akan tumbang dan terjatuh dari meja. Sudah cukup banyak yang tertumpah
malam ini.

Aku cukup mengenal tokek, dan walaupun kutahu membayangkan mereka tidak
hidup di dalam kamar-kamar tidur di belahan dunia ini hanyalah angan-angan
belaka, aku tetap tidak suka melihat terlalu banyak makhluk hiperaktif ini
berlari-lari di sekeliling ruangan saat aku tengah bersiap untuk tidur. Dan yang
pasti, aku tidak ingin mereka berlari melintasi kain penutup tempat tidur maupun
berdiri diam di tiang tempat tidur.

Aku maju selangkah lagi mendekati mejadi samping tempat tidur itu. Sang tokek
duduk nyaris

tak bergerak dengan sebagian besar berat tubuhnya berada di balik botol itu
sehingga aku dapat mempelajari perut dan anusnya, yang tampak semakin besar
akibat pembiasan. Ia tidak menggerakkan satu otot pun, tetapi kepala dan
ekornya menonjol dari balik botol, dan kadal kecil itu menatapku dengan penuh
perhatian, secara naluriah ia tahu bahwa sekarang hanya ada dua kemungkinan:
terus tidak bergerak sama sekali dan berharap ia menyatu dengan sekelilingnya,
atau cepat-cepat berlari mendaki dinding dan berlindung di langit-langit, atau
lebih baik lagi di balik sebuah palang atap.

Hal yang paradoks adalah pertemuanku dengan seekor spesimen Hemidactylus


frenatus yang cukup bergizi ini bahkan membuatku semakin berketetapan untuk
secepat mungkin memasukkan seteguk besar gin ke dalam tubuhku, dan kini aku
mulai khawatir makhluk ceroboh ini mungkin benar-benar akan mengacaukan
rencana itu, tidak hanya untuk malam ini, tetapi selama sisa masa liburanku di
pulau ini. Botol itu masih hampir penuh dan aku telah menghitung-hitung,
dengan penuh pertimbangan demi kebaikan diriku sendiri, bahwa isi botol itu
akan cukup untuk tiga malam sebelum penerbangan pulangku. Aku telah
memeriksa minibar saat baru tiba, di dalamnya hanya ada bir dan air mineral.

Dengan tangan kiri siap untuk menyelamatkan botol itu jika terjatuh, aku
mengambil satu langkah maju lagi ke arah sang tokek. Tetapi, tamu tak di-
undangku itu masih merasa bahwa kombinasi keras kepala antara pertahanan
pasif dan posesif yang ia

lakukan itu adalah taktik yang lebih baik daripada melarikan diri. Namun,
sebenarnya untuk memadamkan kekhawatiranku yang memuncak tentang nasib
isi botol itu, dapat saja aku masuk kamar mandi dan memberi tokek itu
kesempatan pergi dengan harga diri yang utuh. Walaupun begitu, masih segar
dalam ingatanku saat-saat ketika tokek menjatuhkan botol-botol sampo dan gelas
kumur. Dan kini, seperti melengkapi kekhawatiranku, kulihat tutup botol
tersebut tidak terpasang dengan benar.

Satu langkah lagi dan aku akan dapat meraih botol itu, tetapi dengan begitu aku
juga akan memegang sang tokek, dan harus kuakui bahwa entah bagaimana
hubunganku dengan reptil selalu terbelah dua. Aku mengagumi mereka,
sebagian besar karena hubungan mereka dalam palaeontologi, tetapi aku tidak
suka menghadapi mereka, dan aku benci jika mereka merangkak di rambutku
terutama bila aku baru akan bersiap tidur.

Bagi sebagian besar orang, kadal adalah sebuah mysterium tremendum e t


fascinosum,4 dan walaupun aku menganggap diriku seorang ahli bidang reptilia,
aku bukan sebuah pengecualian bagi peraturan itu. Bagaimanapun, sangat
mungkin seseorang memiliki ketertarikan profesional terhadap bakteri atau
virus, meskipun orang itu tidak menginginkan pertemuan jarak dekat tanpa
pengaman dengan bakteri dan virus itu. Setiap penggemar sinar-X setelah
Madame Curie pun harus mengambil langkah-langkah pencegahan tertentu
dalam permainan menarik mereka dengan isotop-isotop radio-aktif. Tidak ada
kontradiksi antara memiliki rasa takut yang sangat terhadap laba-laba dan
mampu menulis sebuah disertasi yang antusias mengenai morfologi para
artropoda pemakan daging itu.

Berbicara mengenai vertebrata seperti tokek dan iguana, mereka juga harus
dianggap sebagai makhluk-makhluk yang jauh lebih berkesadaran dibandingkan,
misalnya, bakteri atau laba-laba. Sejak menemukan anak rusa yang mati di tanah
airku di Norwegia sana, aku menjadi sadar bahwa hewan-hewan pun dapat
menjadi karakter kecil, dan aku tidak sanggup jika harus memiliki kenalan baru
sekarang. Aku tidak ingin terus-menerus ditatap seekor kadal, tidak pada tengah
malam seperti ini dan tidak di tempat yang kuanggap sebagai daerah privatku,
yang telah kubeli dan kubayar, setelah aku dengan tegas menyatakan tidak
bersedia berbagi fasilitas dengan tamu-tamu lain. Kalau serangga agak berbeda.
Aku tidak pernah merasa gelisah dengan mereka, aku tidak pernah bisa
memandang seekor lalat rumah sebagai suatu kepribadian. Seekor lalat tidak
memiliki wajah, ia tidak memiliki ekspresi khas, tetapi tidak demikian halnya
dengan kadal, dan begitu pula sang tokek yang keras kepala di atas botol gin itu.

Aku hampir yakin bahwa aku dapat mengatasi rasa jijik karena berdekatan
dengan reptil yang berkesadaran ini seandainya sebelumnya aku telah meminum
beberapa tegukan besar gin. Tetapi, ke-4 Misteri yang menggentarkan sekaligus
memesona -peny.

rumitan di sini terletak pada susunan kejadian-kejadian yang berlangsung. Aku


harus menelan sebagian isi botol itu sebelum aku berani menempelkannya ke
bibirku. Situasinya benar-benar terkunci, dan drama horor kecil ini berlangsung
jauh lebih lama daripada yang dapat kubayangkan. Aku lelah, sangat lelah, dan
aku tidak memiliki keberanian untuk berbaring dan tidur di samping seekor
tokek sebelum mendapatkan sedikit obat tidurku.
Tetapi, aku juga tidak dapat berdiri di sana terus, kakiku sakit sekali setelah
perjalanan panjang menuju dateline. Lagi pula, sungguh memalukan bertingkah
demikian di hadapan seekor reptil terbelalak yang tidak pernah melepaskan
pandangannya dariku sedetik pun, dan tentunya tengah menyusun
kesimpulannya sendiri. Maka, hal pertama yang kulakukan adalah duduk
perlahan di atas tempat tidur, cukup dekat untuk menangkap botol itu jika terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan sesuatu yang sangat mungkin, karena spesimen
tokek “berjari setengah” yang sangat besar ini adalah tokek tercepat yang pernah
kulihat. Aku tidak ragu lagi kini bahwa kekuatan dan berat tubuh makhluk ini
cukup untuk mendorong botolku hingga berkeping-keping di lantai, setidaknya
itulah kemungkinan yang terburuk, dan aku tidak punya waktu untuk
merenungkan kemungkinan lain.

Kami pun terduduk di sana untuk waktu yang lama sambil saling menatap, aku
dari tepi tempat tidurku dan sang tokek menduduki singgasananya bagaikan
sphinx di atas jalan masuk menuju toko

obatku. Satu tepukan tangan tentunya cukup untuk membuat tokek itu
meninggalkan perlawanan pasifnya. Tetapi, entah karena terlalu terburu-buru
ingin melarikan diri, atau hanya karena ingin mengacau saja, tindakan ini juga
akan memastikan botolku terjun ke tanah hanya beberapa milidetik setelah kedua
tanganku bertemu untuk menangkap botol itu, dan jauh sebelum seorang primata
yang lamban dapat menyelamatkan isi botol itu dari kehancuran. Tidak ada yang
lebih kukagumi dari makhluk-makhluk ini daripada kekuatan reaksi mereka
yang hampir seperti peramal. Dan individu yang satu ini adalah salah satu
anggota yang waspada dari spesiesnya.

Aku memberinya nama Gordon sesuai dengan label yang ada pada botol itu.
Aku sudah mengetahui jenis kelaminnya sebelum duduk di atas tempat tidur.
Tuan Gordon jelas telah melewati masa jaya dalam hidupnya; dalam usia
manusia mungkin ia beberapa puluh tahun lebih tua daripada diriku, dan
walaupun ia adalah anggota sebuah spesies yang betinanya tidak pernah
menghasilkan lebih dari dua telur setiap kali bertelur, sepertinya ia memiliki
banyak keturunan. Gordon sudah lama menjadi seorang kakek dan seorang
kakek buyut, aku yakin akan hal itu, dan karena spesiesnya baru didatangkan ke
Fiji pada era 1970-an, bisa jadi kakeknya sendirilah yang datang ke Taveuni
sebagai imigran generasi pertama.

Aku memutuskan bahwa tentunya pengalaman hidupnya sendirilah yang telah


mengajarinya untuk

tetap diam di atas botol itu, karena kini ia tahu pasti bahwa kami sama-sama
saling menahan diri. Tentunya ia telah mengetahui bahwa primata yang
berpakaian dan memiliki rambut di kepala mereka tidak menimbulkan ancaman
yang berarti, walaupun ia tentunya juga telah menyadari bahwa mundur juga
tidak menimbulkan risiko yang lebih besar. Tetapi juga ada satu kemungkinan
yang lain: Gordon mungkin memiliki sifat ingin tahu, atau mungkin
kecenderungan untuk bersosialisasi.

Hasratku untuk mengambil sebuah tegukan besar kini begitu akut sehingga aku
menatap ke dalam pupil vertikal milik hewan tersebut dan berbisik keras, “Ayo,
sekarang pergi kau!”

Kurasa tarikan napasnya sedikit semakin cepat, dan mungkin tekanan darahnya
juga meningkat sedikit, tetapi selain itu ia tetap sangat tenang. Ia berlaku seperti
para demonstran pasif yang harus digotong pergi para polisi, entah apakah
mereka berdemo tentang pembangunan jalan atau dalam kasus ini menentang
undang-undang perizinan minuman keras yang terlalu liberal. Tidak seperti
diriku, demonstran spontan ini bahkan tidak perlu berkedip, dan kenyataan
bahwa tokek tidak memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan benar-benar
membuatku kesal. Bukan hanya karena aku tidak akan mungkin dapat
memanfaatkan sedetik pun kelengahannya, tetapi juga karena untuk beberapa
periode pendek, ia dapat memerhatikan aku tanpa aku dapat membalas
tatapannya. Sekejap adalah masa yang jauh lebih pendek bagi manusia daripada
bagi tokek, jadi ia dapat menatapku untuk waktu yang lebih lama sambil
melihatku yang dengan malas tertidur dan lagi-lagi tertidur.

“Oke,” ujarku keras-keras. “Sudah cukup sekarang!” Gordon tidak bergerak. Ia


tidak hanya semakin menjadi-jadi, tetapi jelas sudah bahwa aku berhadapan
dengan seekor tua bangka yang sinis dan sudah bosan hidup, yang mungkin
tidak punya kesenangan lain selain mengecoh primata yang lebih maju sehingga
ia tidak bisa mendapatkan obat penenang yang begitu dibutuhkannya.
Pengecohan ya, di situlah letak petunjuknya karena bukankah ada orang lain
yang harus mengaku bersalah atas penggelapan uang hari itu, orang yang
percaya akan kehidupan abadi, yang baru saja ditinggalkan oleh seorang wanita?
Itulah saat aku mengenali sang pilot pesawat kotak korek api. Gordon si Tokek
memiliki ekspresi wajah yang persis sama dengan sang penerbang tua, tatapan
tajam yang sama, leher berkeriput yang sama dengan kulit yang menggantung di
bawah dagu, tidak lupa tangan sang tokek yang berbentuk sekop dengan lima
jari yang pendek-pendek. Hemidactylus berarti “berjari setengah”, dan sang pilot
pun memiliki dua buah jari yang hanya setengah. Semuanya mulai dapat
dimengerti. Ini bukan untuk pertama kalinya hari itu aku disandera dalam sebuah
film horor, dan sekali lagi situasi yang tegang ini menimbulkan rasa haus yang
menggila, dan situasinya mencegahku untuk dapat meredakannya.

Aku begitu marah sehingga sekali lagi kuanali—

sis kemungkinan untuk melakukan gerakan secepat kilat. Akhirnya, aku


memutuskan untuk menolak ide itu semata-mata atas dasar walaupun jelas
bahwa mungkin aku dapat menyelamatkan botol itu dalam operasi komando
blitzkrieg, tetapi masih ada kemungkinan bahaya sebagian besar isinya tidak
akan terselamatkan, terutama jika dan aku tidak dapat menyingkirkan
kemungkinan ini reaksi Gordon tidaklah sesuai. Aku tidak memiliki persediaan
gin yang cukup sehingga aku tidak bisa kehilangan setitik pun cairan itu.

“Dengar,” ujarku, sambil menatap ke dalam tatapan gigih seorang saudara jauh.
“Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah mencekikmu; dan kupikir, kalau kita
sama-sama jujur, kau pun tahu itu. Aku bahkan tidak akan memintamu pergi.
Yang kuinginkan hanyalah botol yang kau duduki itu.”

Aku tidak ragu bahwa ia mengerti apa yang kukatakan karena seolah-olah ia
menjawabku. Dan ia sudah paham hal itu sejak lebih dari seperempat jam yang
lalu. Tapi, ia telah duduk di atas botol itu untuk menangkap nyamuk lama
sebelum aku muncul. Oleh karena itu, aku tidak punya hak menuntutnya pergi;
sebaliknya, akulah yang telah memasuki wilayah kekuasaannya. Ia belum pernah
melihatku di sini sebelumnya, jadi jika aku tidak pergi secepatnya, atau
setidaknya membiarkan dirinya tanpa diganggu, terpaksa ia harus memastikan
bahwa tidak akan ada lagi botol yang perlu diperselisihkan. Dan aku juga
mencatat dalam hati bahwa ia memegang sabuk cokelat dalam ilmu
mengibaskan

ekor.

“Aku tidak bermaksud seperti itu,” ujarku. “Jika aku bisa minum beberapa teguk
saja dari cairan itu, tidak akan lebih dari beberapa detik, kemudian engkau bebas
untuk menaiki botol itu lagi. Aku sendiri pemegang sabuk hitam dalam ilmu
melumatkan reptil. Dan karena tidak ada kepercayaan seratus persen dari kedua
belah pihak, aku sarankan engkau turun dan berdiri di meja sebentar sementara
aku minum. Aku juga harus mengencangkan tutup botolnya, kalau tidak,
kesalahpahaman mungkin akan mengakibatkan kita berdua berbau buah beri
juniper dari gin itu.”

Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi kemudian ia berkata, “Aku pernah mendengar


yang seperti itu sebelumnya.”

“Apa?”

“Kau hanya akan melarikan diri dengan botol

ini.”

“Sepertinya engkau tidak menyadari betapa hausnya aku.”

“Sedangkan aku kelaparan,” jawabnya. “Dan aku hanya makan pada malam hari
seperti ini. Dan tahukah kau, nyamuk suka botol. Mereka sering mendarat di
sini, dan aku tinggal menjulurkan lidahku, dan slurp tamat, deh.”

Ia benar juga, walaupun pemikiran bahwa ia dapat mengAjariku segalanya


tentang kebiasaan tokek sedikit membuatku kesal. Kecuali gara-gara isi botol
dengan tutup yang longgar itu, kami dapat saja berbagi kamar dalam simbiosis
yang sempurna.

Gordon bisa duduk di atas botol dan mengatasi nyamuk-nyamuk serta


membiarkanku tidur tanpa terganggu dan bangun tanpa ruam-ruam yang gatal
pada pagi hari. Pada masa lalu, para kepala suku Fiji memiliki seorang “manusia
nyamuk” yang duduk telanjang di samping mereka sementara mereka tidur
nyenyak. Ia membiarkan diri digigiti nyamuk, dan sang kepala suku pun
terbebas dari ketidaknyamanan itu. Permintaan akan manusia-manusia nyamuk
tentunya menurun setelah tokek rumah yang efisien tersebar di seluruh
kepulauan. Kini tokek-tokek itu sudah hampir merupakan penghuni tetap. Aku
mendapat akal.

“Aku akan mengambil sebuah botol lain,” ujarku. “Engkau boleh menggunakan
botol bir dingin dari kulkas. Itu pasti akan menarik banyak sekali nyamuk.”

Ia duduk di sana mempertimbangkan saran tersebut. Kemudian setelah beberapa


saat, ia berkata, “Terus terang, aku juga mulai lelah dengan perselisihan ini. Aku
bersedia menerima pertukaran itu.”

“Engkau sungguh hebat!” teriakku. Selama beberapa saat aku senang, dan
teringat untuk memuji gagasanku sendiri.

“Kalau begitu, turunlah dari botol itu. Engkau akan mendapatkan yang baru
sebentar lagi.”

Tetapi, monster cilik itu berkedut sedikit. Ia berkata dengan keras kepala,
“Ambil birnya dulu, lalu aku akan turun dari botol ini.” Aku menggelengkan
kepala.

“Sementara itu, mungkin saja engkau menggulingkan botol yang kuinginkan


sebagai pengganti botol bir itu. Bukankah amat mudah untuk menjadi ceroboh,
terutama jika kau sedang tidak diamati.”

“Botol ini hanya akan jatuh jika engkau tidak memenuhi janjimu. Tapi sekarang
lupakan saja segala pertukaran ini.”

“Kenapa?”

“Aku baik-baik saja di sini.”

Aku belum kehilangan harapan untuk membujuknya pindah, sehingga aku


berkata, “Jika di sini masih ada nyamuk, aku yakin mereka lebih suka bir dingin.
Semua nyamuk suka embun yang keluar dari botol bir dingin.”

Ia hanya memandangku dengan tatapan mengejek.

“Oh, tentu, dan apa yang kau pikir akan terjadi padaku jika aku duduk di atas
benda sedingin es? Itu sama saja bunuh diri bagi makhluk sensitif se-pertiku.
Tapi, mungkin alasan itulah sebenarnya yang menimbulkan ide itu dalam
benakmu?”

Bukan itu alasannya. Sebenarnya, aku tidak mempertimbangkan fakta mencolok


bahwa Gordon adalah seekor makhluk berdarah dingin yang akan kehilangan
kesadaran jika menghabiskan waktu lima menit saja di atas permukaan yang
bersuhu dua derajat Celsius.

“Akan kuhangatkan birnya untukmu. Dengan senang hati akan kulakukan.”


“Bodoh!”

“Ha?”

“Kalau begitu, bir itu tidak akan dingin lagi, dong. Jadi lebih baik aku tetap di
sini saja.”

Kini aku benar-benar marah. “Kau sadar bahwa aku dapat saja menyerang dan
meremasmu dengan tangan kosong?”

Aku hampir-hampir dapat mendengarnya tertawa.

“Kurasa kau takkan berani. Juga kau tak akan mampu. Baru saja engkau memuji
kecepatan reaksiku, bukan? Hampir seperti peramal, katamu.”

“Itu adalah sesuatu yang kupikirkan, bukan sesuatu yang kukatakan, jangan
campur adukkan keduanya.”

Sekarang ia benar-benar tertawa.

“Kalau kami peramal, berarti kami memang peramal, jadi tidak ada bedanya apa
yang kudengar kau katakan dan apa yang hanya kutebak kau pikirkan. Aku
membayangkan dapat melihat kedua tanganmu dalam gerak lambat menggapai-
gapai diriku jauh, jauh sebelum kau mampu mencapaiku. Dan pada saat yang
sama, aku punya banyak waktu untuk mengucapkan selamat tinggal dengan
kibasan ekorku yang kuat dan kemudian mencapai langit-langit dalam keadaan
sehat walafiat.”

Aku tahu ia benar.

“Ini tidak lucu lagi,” aku hampir berteriak. “Tidak biasanya aku berdebat dengan
reptil, tetapi sebentar lagi aku dapat kehilangan kesabaran.”

“Berdebat dengan reptil,” ulangnya. “Tinggalkan saja sarkasme.”

Aku merebahkan diri di tempat tidur sejauh ini

untuk pertama kalinya selama beberapa detik, aku tidak punya peluang untuk
menyelamatkan botolku jika ia benar-benar melaksanakan ancamannya.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” ujarku dengan nada membujuk.
“Sesungguhnya, aku sangat menghargai makhluk-makhluk seperti dirimu, lebih
dari yang kau kira.”

“Makhluk-makhluk seperti dirimu,” ia mengolok-olok. “Pra-sangka yang paling


berbahaya terkadang tertanam begitu dalam sehingga engkau tidak dapat
melihatnya.”

“Aku benar-benar tidak ingin bertengkar,” aku berusaha meyakinkan dirinya.


“Tetapi, kurasa engkau mengidap rasa minder yang berat.”

“Tentu tidak. Ketika spesiesmu baru berupa hewan-hewan tak berarti sebesar
tikus, paman-paman dan bibiku merajai seluruh kehidupan di Bumi, dan banyak
dari mereka yang menjulang tinggi di atas daratan bagaikan kapal-kapal yang
gagah.”

“Oke, oke,” ujarku. “Aku tahu segalanya mengenai dinosaurus dan aku dapat
membedakan antara sinapsid dan diapsid. Tetapi ketahuilah: aku juga dapat
membedakan antara Lepidosauria dan Ar-chosauria, jadi jangan membanggakan
hubungan yang terlalu dekat dengan dinosaurus. Itu hak para merpati dan burung
nuri di bagian tengah pulau ini.”

Kurasa, aku telah membuatnya terdiam gara-gara namanama taksonomi yang


kugunakan; ia terduduk di sana dalam waktu lama tanpa mengatakan apa pun.
Mungkin ia bahkan tidak dapat berbicara Latin maupun Yunani. Setelah lama
terdiam,

ia berkata, “Jika kita menelusuri lebih ke belakang lagi, garis nenek moyang kita
bertemu. Jadi kita masih saudara. Pernahkah kau memikirkan hal itu?”

Pernahkah aku memikirkan hal itu! Sungguh sebuah pertanyaan yang konyol
sehingga aku tidak ingin menjawab. Tetapi, ia tidak mau melupakannya begitu
saja.

“Jika kita kembali ke akhir zaman Karbon, engkau dan aku berdua memiliki
orangtua yang sama. Intinya adalah engkau saudara laki-lakiku. Dapatkah kau
melihatnya?”

Semua ini terasa terlalu intim bagiku, tetapi tujuan utamaku masih agar tidak
kehilangan ginku.
“Tentu saja aku melihat,” ujarku. “Dan engkau melihatnya hanya karena aku
melihatnya. Atau apakah di pulau ini ada sebuah universitas khusus bagi tokek?”

Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu karena itu membuatnya marah. Pada
awalnya ia hanya menatapku dan wajahnya mengeras; seolah-olah ia
mengencangkan seluruh ototnya. Kemudian, apa yang dari awal kutakutkan pun
terjadi. Tiba-tiba, ia melontarkan tubuhnya dua setengah kali di sekeliling botol
gin itu, dan aku menyaksikan sendiri bagaimana botol tersebut berguncang
beberapa inci, tetapi yang terburuk adalah bagaimana guncangan itu melepaskan
tutupnya yang jatuh ke atas meja lalu bergulir ke lantai. Aku merasakan air mata
mulai merebak di mataku karena sekarang naga murka itu telah menunjukkan
kekuasaannya atas diriku, dan ia tidak perlu berbuat banyak untuk

membuat seluruh duniaku runtuh berkeping-keping dan mengutukku untuk


duduk semalaman meminum bir Fiji. Ia telah memutuskan untuk menentangku,
pikirku, sejak aku memberinya lirikan-lirikan tak setuju karena membuka peta
besar itu di atas pangkuan Laura saat keadaan memburuk di atas sana di udara
tipis di atas Tomaniivi.

Aku memungut tutup botol itu dari lantai, darahku mendidih di dalam dadaku,
tetapi aku menunjukkan air muka berani dan berkata dengan nada menenangkan.
“Kuakui, komentar mengenai universitas tokek tadi memang sedikit sembrono.
Dapatkah engkau memaafkanku?”

Kini ia berada di depan botol gin, memung-gungiku, sehingga ia hanya dapat


melihatku dengan satu mata.

“Dan engkau benar tentang era reptil-reptil yang gagah di zaman Jura dan zaman
Kapur,” lanjutku. “Engkau memang lebih tinggi dibandingkan mamalia-mamalia
pertama yang primitif, dan di ambang akhir zaman Kapur bahkan lebih tinggi
dibandingkan hewan-hewan marsupial dan mamalia ber-plasenta. Aku sungguh-
sungguh mengerti akan hal itu. Itulah mengapa meteorit maut yang menandai
dimulainya periode Tersier benar-benar tidak adil.” “Mengapa begitu?”

“Saat itu, kalian memiliki masa depan yang begitu gemilang. Banyak dari kalian
yang telah mulai berjalan dengan dua kaki, beberapa di antara kalian berdarah
panas seperti kami, dan aku benar-benar yakin bahwa kalian sudah berada di
jalan menuju

pengembangan kebudayaan yang maju dengan universitas-universitas dan


fasilitas-fasilitas riset. Beberapa spesies bahkan hanya membutuhkan beberapa
juta tahun untuk mencapai hal itu, dan itu tidaklah lama jika engkau mengingat
bahwa dinosaurus mendominasi kehidupan di atas daratan kering selama hampir
dua ratus juta tahun. Sebagai perbandingan, pertimbangkan saja kemajuan begitu
besar yang dilakukan oleh jenisku selama tidak sampai dua juta tahun
belakangan ini, dan dengan mengatakan hal itu, yang kumaksud adalah
kemajuan genetika. Prestasi kebudayaan diukur dalam hitungan abad dan dekade
sehingga hal-hal itu hampir tidak layak disebutkan.”

Aku dapat mendengar kata-kataku dan sekali lagi takut bahwa mungkin aku
telah bersikap sedikit tidak hati-hati dalam memilih sudut pandangku. Tidakkah
sekali lagi aku telah menikmati lepas kendali dalam memamerkan spesiesku
dengan menunjukkan kekurangan para reptil? Aku berusaha menjernihkan
suasana.

“Seperti halnya dirimu, aku percaya bahwa pada zaman Jura dan zaman Kapur,
nenek moyang-mulah yang paling maju. Kemudian segalanya hancur akibat
benturan tak disangka-sangka dengan sebuah benda langit lain. Hal itu tidaklah
adil, benar-benar tidak adil. Itu adalah usaha paling awal, dan mungkin hingga
saat ini adalah yang paling besar, yang pernah dilakukan planet kita untuk
memunculkan perspektif intelektual, sebuah ide mengenai sejarah evolusinya
dan suatu wawasan mengenai alam semesta. Dan itu semua gagal total hanya
karena sebuah meteor menyimpang keluar dari jalurnya dan tanpa ampun ditarik
oleh gravitasi planet kita. Hal ini membuat kalian kehilangan berjuta-juta tahun.”

Tatapan Gordon seakan menembus diriku, dan aku tidak berani mengalihkan
pandanganku sedetik pun. Aku mencoba menggunakan suaraku yang paling
manis, dan kurasa aku telah membuatnya sedikit melembut.

“Apa maksudmu kami kehilangan berjuta-juta tahun?” ujarnya.

Ia lebih mau berdamai sekarang, sedikit banyak seperti seorang anak tengah
merajuk yang ingin ayahnya melanjutkan dongengnya, walaupun ia tidak
mendapatkan cokelat seperti yang diinginkannya.

“Kalian kalah dalam pertandingan mencapai Bulan untuk pertama kalinya.


Keturunan sang tikuslah yang memenangi kompetisi itu.”

Aku menggigit bibirku. Sekali lagi aku kelewatan.


“Terima kasih, dan lupakan saja hinaan-hinaan yang lain,” ujarnya, dan aku
sadar itu adalah sebuah ultimatum terakhir sebelum sebuah bencana yang
sebanding dengan meteorit yang telah kami bicarakan mungkin akan terjadi lagi,
dan pada malam ini juga.

“Sepertinya engkau salah paham lagi,” ujarku. “Dan itu seluruhnya salahku
karena aku tidak selalu dapat berpikir dengan jelas pada tengah malam,

apalagi jika aku dihalangi untuk mendapatkan … yah, ehm, yah. Tetapi seperti
yang telah begitu tepat engkau tunjukkan, kita adalah saudara sedarah. Malahan,
dengan adanya serangkaian gen yang identik dalam tubuh kita, kita sama-sama
makhluk tetrapoda berjari lima, dan aku yakin kita akan mencapai saling
pengertian yang lebih baik jika saja kita dapat belajar memandang planet yang
kita huni ini sebagai sebuah arena bersama atau lingkaran kepentingan. Planet ini
sendirilah, dan bukan dirimu maupun diriku atau lebih tepat lagi, kita berdualah
yang kehilangan berjuta-juta tahun karena benturan tak direncanakan dengan
meteor yang menyimpang itu. Kita harus mengerti bahwa bahkan sebuah planet
tidak memiliki kehidupan abadi, dan suatu hari, waktu akan berakhir bagi planet
Bumi. Jika bukan karena gumpalan batu tak terduga itu, engkau pasti kini duduk
di tepi tempat tidur ini dan aku berlari-lari di sekeliling ruangan untuk berburu
serangga. Dan hal itu dapat terjadi lagi. Mungkin itulah yang sebenarnya
kumaksud. Hal itu dapat terjadi lagi! Keseimbangan kekuatan antara kesadaran
universal dan ketidaksadaran universal yang serupa adalah sesuatu yang labil,
suatu keseimbangan terorisme kosmos yang menyebabkan perdebatan kecil kita
ini akan memudar menjadi tak berarti.

Dan mungkin aku harus menambahkan bahwa dalam keseimbangan ini, akal
sehat adalah Daud yang membawa katapel mungil melawan Goliat perlambang
ketidakrasionalan yang membawa persenjataan lengkap komet dan meteor yang
ganas.

Intelektualitas adalah sebuah adaptasi yang jarang terjadi, sementara es dan api
dan batu begitu banyak terdapat, dalam jumlah yang sangat banyak, karena
masih ada beribu-ribu asteroid impulsif berkerumun dalam orbit-orbit mereka
yang tidak stabil antara Mars dan Yupiter. Dan hanya dibutuhkan satu saja
kebetulan celaka dan satu asteroid lagi akan keluar dari lintasannya dan melesat
menuju Bumi. Jadi tunggu saja, berikutnya primata mungkin akan meninggalkan
hidup ini dan famili Gekkoni-dae dari subordo Saurialah yang mungkin akan
memimpin usaha alam berikutnya untuk mengumpulkan secuil remah-remah
pengetahuan mengenai alam semesta. Tetapi, apakah saat itu sudah terlambat
bagi dunia, itulah pertanyaannya. Karena siapakah yang dapat mengetahui
berapa lama lagi sebelum matahari menjadi sebuah raksasa merah? Tetapi, aku
tidak seharusnya menghakimi; aku hanya akan memberimu ucapan semoga
sukses. Suatu hari, mungkin, engkau akan mengambil satu langkah kecil bagi
seekor kadal, satu lompatan besar bagi Alam, dan kemudian engkau harus ingat
bahwa kita pun adalah bagian dari perjalanan ini.”

“Engkau bicara terlalu banyak,” ujarnya.

“Benar-benar terlalu banyak,” aku mengakui. “Itu disebut sebagai kegelisahan


kosmik.”

“Apakah engkau memiliki pujian bagi keluargaku sebagaimana adanya


sekarang?”

Aku bersimpati atas keberatan yang ia ajukan.

“Oh, tentu, pujian yang sangat tinggi. Contohnya, aku benar-benar terkesan
dengan bagaimana

kalian berhasil menghindari minuman beralkohol selama berjuta-juta tahun.


Mungkin itulah mengapa hidup kalian begitu panjang. Aku yakin, menjadi
seekor reptil tidak selalu mudah-aku dapat berkata bahwa kehidupan seorang
hominid pun kadang bisa menjadi beban. Mungkin kami menderita suatu
anomali kecil dengan memiliki kelebihan satu atau dua lipatan otak; dan aku
tidak melihatnya dari sisi rasa kasihan terhadap diri sendiri, karena siapa yang
tahu apabila ada satu reptil entah di mana yang menjalani hidup dengan
menderita suatu kelainan yang diturunkan? Tapi seperti yang tadi kukatakan,
alkohol bisa didapat dengan begitu bebas, contohnya dari berbagai macam buah
yang telah jatuh, tetapi tidak ada dari kalian yang memiliki ketergantungan pada
zat itu, dan itu mencakup setiap ordo, Rhynchocephaliae, reptil dan buaya
bersisik, jika membicarakan reptil-reptil diapsid. Walaupun malu mengakui
bahwa aku tidak tahu banyak mengenai kebiasaan makan kura-kura, aku
berasumsi bahwa seluruh spesies kura-kura dapat bertahan tanpa alkohol,
setidaknya untuk jangka waktu yang panjang, dan mereka pun hidup hingga usia
sangat tua, beberapa jenis bahkan hidup hingga dua ratus tahun. Seperti kura-
kura darat Yunani, misalnya. Konon uskup Katedral St. Petersburg pernah
memiliki seekor kura-kura yang hidup hingga usia 220 tahun, dan walaupun
mungkin ada yang sedikit dilebih-lebihkan, tulisan itu menyebutkan adanya
seekor kura-kura raksasa yang ditangkap sebagai seekor spesimen dewasa di
Seychelles pada 1766 dan

yang terus hidup dalam penangkaran dan mati di Mauritius karena suatu
kecelakaan pada 1918, walaupun pada saat itu ia telah buta selama 110 tahun.
Tetapi, umur panjang tidak hanya dimiliki kura-kura. Aku tahu bahwa tentu saja
secara umum reptil hidup hingga usia sangat tua. Tetapi, ini tidak membuatmu
rentan terhadap berbagai macam kecanduan alkohol yang berhubungan dengan
usia. Yang menyedihkan, spesiesku memiliki kecenderungan akan hal itu,
setidaknya dalam masyarakat yang mengagungkan lipatan-lipatan tambahan
dalam otak itu, yang memang berlebihan, atau lebih tepatnya terlalu banyak
memberikan hal yang baik, yang sekaligus membawa serta begitu banyak
ketakutan akan kosmos, akan hidup kami yang terlalu singkat di Bumi, dan akan
jangkauan waktu dan ruang yang begitu besar.”

“Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, engkau terlalu banyak bicara.”

Pidatoterakhirku yang berapi-api itu bertujuan membuatnya lebih terbuka, dan


jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, aku tidak ragu bahwa sebentar lagi aku
akan kehilangan satu botol gin. Untuk amannya, aku pun memutuskan untuk
menyerah.

“Tuan Gordon. Mengenai botol itu, aku memutuskan untuk mengibarkan


bendera putih.”

“Sebuah tindakan bijaksana.”

“Maka, kita tidak perlu membicarakannya lebih lanjut.

“Sudah sejam penuh aku ingin melakukan hal

itu.”

“Tetapi, tentunya engkau tidak akan keberatan jika aku sekadar mengembalikan
tutupnya lagi. Itu adalah hal yang harus selalu diingat untuk dilakukan.”

Ia tidak menjawab.

“Aku yakin hal ini tidak akan memengaruhi perburuanmu. Sebaliknya, aku yakin
pernah mendengar bahwa nyamuk tidak tahan bau gin, orang-orang bilang gin
adalah pengusir nyamuk sejati. Bukankah itu alasan para penjajah Inggris
minum begitu banyak gin, untuk melindungi diri dari malaria?”

Mendengar hal ini, ia menggeser posisinya sedikit, mungkin untuk memasukkan


diriku ke dalam pandangan teropongnya, yang bagi tokek terbatas hanya sekitar
25 derajat.

“Coba saja,” ujarnya.

Jawaban pendek ini memiliki dua arti, maka aku bertanya, “Apakah itu berarti
ya?”

“Tidak. Itu juga berarti bahwa engkau harus lebih berhati-hati dalam memilih
kata-kata. Karena tentu saja engkau benar, sebuah botol tanpa tutup harus
ditangani dengan jauh lebih hati-hati dibanding yang disumbat dengan erat.”

“Tidakkah engkau merasa lelah?”

“Aku adalah seekor tokek malam. Engkau tahu benar hal itu.”

Aku sudah tidak lagi mengkhawatirkan malam-malam berikutnya di Maravu.


Mungkin aku dapat membeli sebotol gin di hotel atau di toko di Somosomo,
walaupun aku tidak tahu sedikit pun mengenai peraturan dan undang-undang Fiji
mengenai jual

beli alkohol. Satu-satunya yang kutahu adalah bahwa aku memerlukan beberapa
tegukan besar dari botol milik Gordon untuk membuatku tidur malam ini. Kini
aku bersedia untuk mempertaruhkan setengah liter isi botol itu hanya untuk
mendapatkan sejumlah yang kuperlukan, dan mulai mempertimbangkan sebuah
serangan mendadak dengan pendekatan yang benar-benar berbeda, pendekatan
yang mungkin akan berujung pada sebuah tumpahan besar, tetapi pastinya dapat
menyelamatkan jumlah yang diperlukan untuk malam ini. Tetapi kemungkinan
terburuk, operasi itu dapat berakhir dengan botol pecah di lantai, dan bayangan
akan rasa maluku jika Gordon melihatku merangkak di lantai menjilati sisa-sisa
cairan penenangku yang telah kotor sebelum semuanya meresap di antara papan-
papan lantai kayu membuatku berpikir dua kali.

Di tengah ruangan, sekitar satu setengah langkah dari tempatku duduk,


tergeletak tas kabinku yang berwarna hitam, dan tiba-tiba aku teringat bahwa di
dalamnya terdapat sekotak jus dari salah satu penerbanganku, dengan sebatang
sedotan menempel padanya ya, setidaknya saat sang pramugari memberikannya
kepadaku, ada sedotan yang menempel pada kotak itu. Mungkin itu dapat
menjadi senjata terakhirku, dan sekali ini aku memutuskan untuk tidak memberi
tahu sang teroris congkak itu apa yang ada dalam pikiranku, baik ia peramal atau
bukan.

Dengan tangan kiri menjulur ke arah meja di samping tempat tidur dan kedua
mataku tertuju

pada botol dan Gordon, aku berhasil meraih tas kabinku, dan beberapa detik
kemudian, aku sudah kembali duduk di atas tempat tidur.

“Apa yang kau lakukan?” ia bertanya.

“Aku hanya bersiap akan tidur,” ujarku berbohong. “Aku makhluk siang hari,
kau tahu itu.”

“Tikus-tikus yang menjadi nenek moyangmu tidak begitu,” ujarnya. “Mereka


merangkak keluar untuk berburu di malam hari saat udara sejuk karena para
predator berdarah dingin harus berdiam diri pada saat itu.”

Sambil membuka tas kabinku, aku berkata, “Aku tahu itu. Aku tahu semua itu.
Aku juga sudah berkata bahwa jika saja bukan gara-gara meteorit enam puluh
lima juta tahun yang lalu itu mungkin engkaulah yang akan berangkat tidur,
sementara aku berlari-lari di lantai mencari serangga. Engkau tidak akan bisa
mengetahui lebih banyak, ataupun hal selain apa yang telah kuketahui.”

Tindakanku yang terakhir itu adalah untuk menguji kesabarannya, tetapi juga
untuk menyembunyikan kenyataan bahwa aku tengah mengutak-atik sebuah
kotak jus. Dengan segera sedotan itu berada di dalam genggamanku.

Aku tidak cukup bodoh untuk meminta restu Gordon untuk mengambil sebagian
cairan terkutuk itu dari tempatnya bertengger. Aku hanya mencondongkan tubuh
ke arah botol dan berkata, “Tahu

tidak, aku adalah seorang ahli dalam bidang reptil ii

“Betul, aku menyadari hal itu. Engkau adalah


seorang monomaniak.”

“Tetapi, mungkin aku belum cukup jelas mengatakan bahwa aku selalu suka
tokek. Dan terutama ketiga puluh lima spesies tokek ‘berjari setengah1 ….”

Kemudian, aku meletakkan sedotan tersebut di mulutku dan menurunkannya ke


dalam botol tanpa menyentuhnya dengan tanganku, dan satu hal yang luar biasa
adalah bahwa Gordon tetap diam. Mungkin ia tidak berani melakukan apa pun,
pikirku, mungkin ia bingung.

Aku yakin aku mengisap kira-kira sebanyak dua kali takaran ganda sebelum
akhirnya harus berhenti untuk menarik napas. Tetapi aku berhasil, aku berhasil
melakukan tipuan langka minum dari botol tanpa mengangkat botol itu ke
bibirku. Kini telur Columbus tidaklah lagi terkesan begitu luar biasa.

“Aaah, lezat,” ujarku, lalu bersendawa dengan

keras.

Aku tidak bermaksud berlaku tidak sopan, maupun mempertontonkan tingkah


laku kurang ajar karena alkohol itu keluar begitu saja. Walaupun begitu, harus
kuakui bahwa aku merasakan suasana hatiku membaik dan keberanianku
seketika kembali. Jika mempertimbangkan hal ini, Gordon memang memiliki
alasan yang bagus untuk sedari awal berlaku begitu keras kepala mencegahku
mendapatkan botolku.

Detik berikutnya, Hemidactylus frenatus itu mulai bergerak cepat mengelilingi


botol itu, dan

walaupun aku berusaha menahannya dengan satu jari, aku tidak dapat mencegah
beberapa tetes yang berharga tepercik keluar dan mengalir turun membasahi
meja. Tetapi aku telah memperhitungkan hal ini, dan aku melepaskan botol itu
hanya karena aku tahu ia akan berlari ke arahku begitu mendapat kesempatan,
dan perasaanku yang bercampur aduk mengenai tokek tidak berubah walaupun
telah berkenalan dengan Gordon.

“Aku akan berterus terang,” ujarnya. “Jika kau mencoba melakukan hal itu
sekali lagi, kuyakinkan engkau akan menyesalinya.”

Aku merasa simpati dengan nasihatnya ini karena jauh di dalam hati, kutahu
bahwa jika aku sekali lagi berhasil memasukkan dua takaran ganda ke dalam
tubuhku, keberanianku karena pengaruh alkohol akan meningkat mencapai
tahapan yang membuatku mampu mengkhianatinya. Bahkan kini dosis pertama
itu telah membuat jemariku gatal.

“Aku mengerti,” ujarku. “Aku tidak tahu bahwa engkau keberatan aku menguji
sedotan cerdik ini sedotan ini benar-benar kedap air dan tidak pernah sedetik pun
aku mempertimbangkan ingin membunuhmu.”

“Mungkin sebaiknya engkau hentikan juga banyak omongmu itu.”

Memang, tidak ada yang perlu kukatakan kepada Gordon si Tokek saat itu, sama
seperti seorang psikolog kepolisian tidak perlu mengatakan apa pun kepada
seorang penyandera, walaupun ia berpura-pura ada sesuatu yang harus
dibicarakan.

Memang itulah intinya, ia perlu mengulur-ulur waktu, itulah mengapa ia terus


bercakap-cakap. Di sinilah sering timbul kesamaan di antara keduanya, karena
ketika situasi menemui jalan buntu dan sang penyandera tahu bahwa untuk
sementara ia terkepung oleh sebuah kekuatan yang lebih besar, ia pun perlu
mengulur-ulur waktu.

Ia berkata, “Atau, engkau harus membicarakan sesuatu yang lebih masuk akal.”

“Kau menginginkan itu? Kau ingin membicarakan sesuatu yang masuk akal?”

“Malam baru dimulai, lebih besar kemungkinan nyamuk-nyamuk akan


berdatangan jika kau ada di sekitar sini, dan mungkin mereka pun akan lebih
gemuk dan lebih bernutrisi pada saat aku menelan mereka.”

Aku tidak menyukai gagasan menjadi seorang manusia nyamuk untuk seekor
tokek, dan aku nyaris merasa ia menjadi terlalu berani ketika menambahkan,
“Sebenarnya aku berharap engkau tidak terlalu terburu-buru menutup pintu di
belakangmu setelah menyalakan lampu.”

Sesungguhnya, aku menutup pintu sebelum menyalakan lampu. Aku telah


tinggal di daerah tropis selama hampir dua bulan, dan walaupun tidak terlalu
sensitif terhadap nyamuk, aku masih berhati-hati untuk tidak membawa mereka
masuk ke kamar bersamaku, sekadar untuk mencegah banyak tokek tertarik
masuk ke kamarku.
“Kita bisa membicarakan apa pun yang kau suka,” ujarku. “Apakah engkau
tertarik pada sepak

bola?”

“Tidak sama sekali.” “Bagaimana dengan kriket?” “Tidak.”

“Prangko langka?” “Berhenti!”

“Kalau begitu, aku sarankan kita berbicara mengenai realitas.” “Realitas?”

“Tentu, mengapa tidak? Atau, apakah menurutmu topik itu terlalu


sembarangan?”

“Hmm … lanjutkan saja, toh aku tidak akan pergi tidur sebelum matahari terbit.”

“Di atas segalanya, hal itu begitu besar dan luar biasa tua. Walaupun tidak ada
yang tahu pastinya dari mana ia berasal.”

“Matahari?”

“Bukan, realitas. Hal itulah yang sedang kita bicarakan sekarang. Kurasa, kita
harus berusaha berkonsentrasi pada satu demi satu hal saja, dan tata surya
hanyalah sebuah potongan mikroskopik dari apa yang kita tahu sebagai realitas.
Secara keseluruhan, realitas terdiri dari kurang lebih seratus miliar galaksi, salah
satunya adalah Bimasakti, persimpangan milik kita dengan ‘jalur susu1 di
tikungan jalan. Di dalamnya, Matahari hanyalah satu dari lebih dari seratus
miliar bintang yang lain. Dialah yang akan terbit beberapa jam lagi, dan
kemudian sebuah hari baru akan dimulai di Bumi, karena kita berada di atas
dateline, ‘tempat setiap hari baru dimulai’.”

“Kalau begitu, realitas sungguh besar,” komentar Gordon, sehingga membuat


dirinya terlihat lebih bodoh daripada pendapatku mengenainya sebelumnya.

“Tetapi, kita berada di sini hanya untuk waktu yang sangat singkat,” ujarku,
“kemudian, syuut kita akan menghilang untuk selamanya; suatu masa yang
cukup panjang. Contohnya, diriku akan menghilang beberapa tahun atau
beberapa dekade lagi dan kemudian, aku tidak akan mungkin mencari tahu
bagaimana keadaan berlanjut di sini. Jelas, aku juga tidak akan hadir pada
seratus juta tahun dari sekarang. Pada saat itu, aku telah tiada tepat selama
seratus juta tahun minus beberapa minggu dan bulan, tak lupa pula termasuk sisa
malam ini.”

“Kupikir, engkau tidak perlu membebani dirimu dengan kekhawatiran seperti


itu,” ujarnya hampir menghibur, seolah-olah bukan dirinya yang menyebabkan
kemurunganku.

“Yang paling menggangguku bukanlah pendeknya hidup,” aku melanjutkan.


“Bahkan aku pun memerlukan istirahat, dengan sedikit tidur, karena terus terang
aku merasa sedikit lelah bahkan sekarang. Yang membuatku kesal adalah bahwa
aku tidak akan pernah diizinkan kembali setelah istirahat itu kembali ke realitas.
Aku tidak akan memaksa untuk kembali ke tempat ini, ke Bimasakti. Maksudku,
jika ada masalah kepadatan penduduk, aku bersedia untuk mempertimbangkan
sebuah galaksi yang sama sekali berbeda. Dengan syarat, di sana ada bar dan aku
diinkarnasikan sebagai salah satu dari dua jenis

kelamin planet-planet yang seperti biara tempat reproduksi merupakan sebuah


proses hermafrodit tidak pernah membuatku tertarik, sehingga aku pun
menghindari planet-planet seperti itu jauh-jauh. Bukan proses meninggalkan
yang menjadi masalah, melainkan tidak adanya kemungkinan untuk dapat
kembali. Bagi kami yang memiliki dua atau tiga lipatan otak yang sepertinya
berlebih ini yang sebenarnya memang lebih daripada yang dibutuhkan, atau
engkau dapat menyebutnya cadangan bagi kami, perasaan seperti ini terkadang
dapat menghancurkan seluruh kebahagiaan dalam hidup, dan tidak semata-mata
secara emosional. Aku tidak hanya memaksudkan serangan terhadap perasaan,
tetapi juga terhadap rasionalitas itu sendiri. Engkau mungkin dapat mengatakan
bahwa apa yang dipengaruhi oleh kedua atau ketiga lipatan otak yang berlebih
ini adalah lipatan-lipatan itu sendiri: mereka menggigit ekor mereka sendiri.
Tidak hanya secara bermain-main, tetapi dengan ganas; dengan kata lain, mereka
memiliki sifat menghancurkan diri sendiri, dan tidaklah mudah untuk
menyingkirkan mereka. Sementara itu, bagi kadal mudah saja mencopot ekornya
yang diserang. Pada primata yang lebih tinggi, tidak ditemukan bagian otak yang
memungkinkan kemampuan kadal memutuskan anggota tubuhnya. Tentunya,
sinapsis-sinapsis yang diserang dapat diberi anestesi selama beberapa jam,
dengan beberapa tenggak gin, misalnya, tetapi hal itu hanyalah suatu penahanan
gejala-gejala sementara dan bukanlah sebuah solusi bagi dilema itu sendiri.”

“Aku tahu,” hanya itu yang ia katakan, dan kini aku benar-benar mulai bertanya-
tanya apakah ia hanya melebih-lebihkan, karena aku tidak percaya bahwa ia
mengerti satu kata pun yang kuucapkan.

“Daerah-daerah otak yang tidak benar-benar diperlukan untuk melakukan


fungsi-fungsi dasar kehidupan, dengan kata lain daerah-daerah yang berlebihan,
menyebabkan kami dapat memperoleh serpih-serpih pemahaman tentang evolusi
kehidupan di Bumi, beberapa hukum alam mendasar, dan yang terpenting,
sejarah alam semesta itu sendiri, mulai dari Big Bang hingga masa kini. Kami
tidak mengisi kepala kami dengan barang rongsokan.”

“Aku terkesan.”

“Kami mengerti cukup banyak untuk mendapatkan beberapa gagasan yang jelas
mengenai sejarah realitas, geografinya dan sifat-sifat dari massa itu sendiri.
Tetapi tidak ada yang tahu apakah sebenarnya inti dari massa, setidaknya tidak di
dalam wilayah kami, dan jarak di dalam alam semesta tidak hanya besar, tetapi
sangat-sangat besar. Pertanyaannya adalah, dapatkah kami lebih memahami
mengenai apakah sesungguhnya dunia ini pada tingkatan yang paling mendasar
jika otak kami, sebut saja, sepuluh persen lebih besar atau lima belas persen
lebih efektif?

“Bagaimana menurutmu? Apakah engkau percaya kami telah mencapai sejauh


yang bisa kami capai tak peduli seperti apa otak yang kami miliki, tanpa peduli
berapa ukurannya? Karena ada beberapa hal tak terbantahkan yang
mengungkapkan

fakta bahwa pada prinsipnya, kami tidaklah mungkin memahami lebih banyak
daripada yang telah kami mengerti. Jika memang hal inilah yang terjadi,
merupakan sebuah keajaiban kecil bahwa kami memiliki otak yang ukurannya
benar-benar tepat untuk memahami hal-hal seperti teori relativitas, hukum-
hukum fisika kuantum, dan genom manusia. Jika ditinjau dari perspektif ini,
tidak banyak terdapat mata rantai yang hilang. Aku tidak yakin bahwa bahkan
seekor simpanse yang paling pandai memiliki secuil saja pengetahuan tentang
Big Bang, berapa tahun cahaya yang dibutuhkan untuk menuju galaksi terdekat,
atau bahwa Bumi ini bulat.

“Sebuah faktor menarik adalah bahwa jika otak manusia lebih besar daripada
sekarang, wanita tidak akan dapat berdiri tegak. Nah, harus segera kutegaskan
bahwa tanpa posisi tubuh manusia yang tegak lurus, otak mereka tidak akan
pernah berkembang hingga ukuran pada saat ini. Di sini aku menunjukkan
sebuah keseimbangan yang begitu apik, jadi izinkanlah aku mengungkapkannya
dalam kalimat lain: seberapa banyak yang dapat kami mengerti mengenai misteri
yang menyelubungi diri kita mungkin bergantung pada panggul wanita.
Menurutku tidak mungkin bahwa kepandaian di semesta ini dibatasi oleh suatu
keterbatasan anatomi yang begitu biasa. Tetapi, tidakkah aneh bahwa persamaan
bagian tubuh ini tampaknya bertahan dengan baik? Sepertinya ¦/. dalam
persamaan ini adalah quantum satis (jumlah yang mencukupi), dan karenanya
quantum satis bagi alam semesta ini untuk

suatu saat menyadari dirinya sendiri. Ukuran panggul manusia amat tepat untuk
memungkinkan kami memahami apakah tahun cahaya itu, berapa tahun cahaya
jarak yang dibutuhkan untuk menuju galaksi-galaksi terjauh dan bagaimana,
contohnya, partikel-partikel zat terkecil bereaksi baik di dalam laboratorium
maupun selama beberapa detik pertama setelah Big Bang.”

“Tetapi, apa tidak mungkin ada otak-otak yang lebih besar di suatu tempat di
luar angkasa?” Gordon memotong.

Aku menahan tawa.

“Itu tentu saja mungkin, dan aku tidak keberatan mempertimbangkan suatu otak
yang mungkin, contohnya, dapat mengingat seluruh isi Ensiklopedia Britannica.
Bahkan aku tidak kesulitan membayangkan sebuah otak yang mampu menyerap
seluruh pengetahuan manusia yang dikumpulkan menjadi satu. Yang kuragukan
adalah apakah, secara teoretis, mungkin untuk memahami jauh lebih banyak
rahasia alam semesta daripada yang telah dipahami manusia. Jadi, setiap
pertanyaan yang kuajukan pada akhirnya berujung pada satu permasalahan:
apakah semesta ini sendiri masih memiliki rahasia lain untuk diungkapkan.
Maksudku, jika menemukan sepotong meteorit, engkau dapat mulai menghitung
berapa beratnya, gravitasinya secara spesifik, dan yang paling penting,
komposisi kimianya. Tetapi, setelah itu semua selesai, tidaklah mungkin untuk
memeras lebih banyak rahasia dari batu tersebut. Setelah itu, batu itu hanyalah
sebuah batu, dan

memang dari dulu adalah batu. Jadi, ia bisa disingkirkan, mungkin untuk
menimbun debu dalam sebuah museum. Tetapi, kita tidak akan bertambah ilmu.
Karena apalah artinya sebuah batu?”

“Kurasa, aku tidak terlalu paham,” Gordon menghela napas. Ia nyaris tampak
kelelahan sekarang.

“Nah itulah, kau lihat sendiri. Aku hanya mengatakan bahwa mungkin era sains
sudah hampir berakhir. Kita telah mencapai tujuan kita; tujuannya adalah
kesadaran akan adanya jalan panjang menuju tujuan itu sendiri. Kita telah
memperkenalkan diri kepada alam semesta, dan alam semesta telah berpayah-
payah menunjukkan dirinya kepada kita. Mungkin sains memang sudah berakhir,
itulah maksudku, mungkin kita sudah mengetahui segalanya yang perlu
diketahui. Dan dengan kata ‘kita1, mohon dimengerti bahwa yang kumaksud
bukan hanya kita berdua. Aku memasukkan segala jenis otak yang mungkin ada
di seluruh semesta ini. Jika memang inilah yang terjadi dan saat ini aku
cenderung memercayai teori ini jika memang inilah yang terjadi, realitas akan
mengalami suatu anonimitas yang tak tertanggulangi. Siapakah diriku? tanya
realitas. Tetapi tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang melihat maupun
mendengar kita. Kita hanya melihat diri kita sendiri.”

“Andai saja aku dapat lebih membantu,” gumam Gordon kebingungan, dan ia
seharusnya dapat membantu jika saja ia cukup pintar untuk meninggalkan botol
yang didudukinya.

“Tetapi, tadi katamu engkau percaya ada kehidupan abadi,” aku menambahkan.
“Maka, tidak seharusnya engkau membawa penumpang ketika terbang tanpa
didampingi seorang kopilot; tetapi sudahlah, kita dapat melupakan hal itu.”

“Apakah normal bagi individu seperti dirimu untuk memercayai kehidupan


abadi?” tanyaku.

“Aku tidak pernah bertemu tokek yang memiliki argumen kuat yang mendukung
pendapat sebaliknya.”

“Dapatkah engkau lebih spesifik?” “Tidak ada satu tokek pun yang menyangkal
adanya suatu kehidupan abadi. Kurasa tidak pernah terpikirkan oleh seekor reptil
pun bahwa suatu hari kehidupan akan berakhir. Pemikiran itu tidak pernah
tebersit dalam benak kami.”

Dan saat ia melanjutkan, seolah-olah ia mencoba meniru cara bicaraku.

“Dan dengan mengatakan hal itu, yang kumaksud adalah semua spesies dari
setiap genus dan famili dalam keempat ordo vertebrata kelas Reptilia. Tidak ada
satu pun dari kami yang sedikit pun berpikir bahwa hidup berakhir pada suatu
saat.”

Terpikir olehku bahwa jika aku mundur beberapa generasi dalam sejarah
manusia, hal yang sama terjadi pada primata. Getir angin dingin dari kehampaan
akbar adalah sebuah fenomena baru. Dan siapa tahu, mungkin rasa takut akan
kematian juga tidak dikenal di planet-planet lain di seluruh alam semesta. Ia
berkata:

“Ada sebuah dunia. Dari segi probabilitas, hai ini

nyaris mustahil. Akan jauh lebih mungkin jika, secara kebetulan, tidak ada apa
pun. Dengan begitu, setidaknya tak ada satu orang pun yang akan menanyakan
mengapa tidak ada apa pun.”

Karena aku tidak menjawab, ia menambahkan, “Apakah kau mendengar apa


yang kukatakan?”

“Ya, tentu saja, dan kini mungkin engkau dapat memberitahuku apakah kalian
semua di pulau ini memang senang berjalan-jalan sambil mengarang hal itu atau
apakah kau menemukannya dalam sebuah buku tua tentang ungkapan bijak.”

Ia tidak menjawab sehingga aku pun berusaha membuatnya terus bicara.

“Apakah engkau sudah memikirkan hal itu sejak lama? Atau, apakah kalian
semua memang semacam pujangga yang senang berkelana?”

Tetapi, ia sudah memulai aksi penutupnya karena kini ia menyatakan:

“Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika
teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran
kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita.
Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng
yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus
berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian

“Mungkin kini giliranmu untuk bersiap tidur,” ujarku. “Aku mulai merasa tidak
sabar.”

“Silakan pergi tidur kapan pun engkau suka,” ujarnya tak peduli. “Akan kujaga
botolmu.”
“Langkahi dulu mayatku!” teriakku, karena kini saatnya telah tiba. Sinapsis-
sinapsis sarafku benar-benar harus diberi anestesi.

Bersamaan dengan itu, aku melompat menerjang dirinya dan botol tersebut.

Gordon merayap dengan marah melintasi tanganku, kemudian berlari secepat


kilat ke atas dinding sementara botol itu terguling dan jatuh ke lantai,
menyebabkan obat penenang yang vital itu mengalir keluar dan menghilang ke
dalam celah-celah yang menganga di antara lantai-lantai kayu. Saat aku berhasil
memungutnya dan mengangkatnya ke arah cahaya, hanya ada sekitar dua
takaran ganda yang tersisa, atau paling banyak tiga. Kuletakkan botol itu di
mulutku dan aku mengosongkannya dengan sekali tenggak.

“Dasar bajingan!” ia berkata dari atas dinding. “Tetapi, kita akan bertemu lagi!”

Hal terakhir yang kuingat sebelum diriku terle-lap adalah Gordon yang
mengulang kalimat-kalimat ini dalam bahasa Spanyol, yang diambil dari
berbagai deskripsi Ana dan Jose mengenai realitas:

“Jika tuhan memang ada, tidak hanya ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari
segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah sesuatu yang
pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak banyak desas-
desus yang beredar di antara bintang-bintang. Tetapi, belum ada seorang pun
yang melupakan Big Bang. Sejak saat itu, keheningan meraja, dan semua yang
ada di sana pun bergerak menghindar. Kita masih bisa

bertemu dengan sebuah bulan. Atau sebuah komet. Tetapi, jangan mengharapkan
sambutan hangat. Undangan berkunjung tidak ditulis di angkasa.”

Hanya ada ingatan yang kabur, dan terkadang sulit dimengerti, mengenai hal-hal
yang dikatakan Gordon untuk mencoba membuatku terjaga sepanjang malam,
tetapi kurasa ia membangunkanku sekitar pukul lima dengan ungkapan berikut:

“Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia.


Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.”[]

Saudara Tiri Manusia Neanderthal yang Ternama

BEGITULAH HARI PERTAMAKU DI PULAU FIJI BERLANGSUNG, DAN


AKU tidak perlu melanjutkan lagi dengan lebih terperinci. Aku menjelaskannya
kepadamu agar engkau memahami reaksiku di Salamanca.

Aku baru akan mulai berbicara mengenai kita ketika tiba-tiba aku melihat Ana
dan Jose di tepi Sungai Tormes, dan pada saat itu juga aku merasa seolah
kembali berada di Pantai Pangeran Charles. Maka, aku pun tidak pernah
memulai pembicaraan mengenai kita, atau apa yang terjadi pada Sonja, karena
engkau tertawa begitu keras kau kira diriku menceritakan kisah yang tidak
masuk akal hanya untuk menahanmu di sana. Tetapi memang menyenangkan
mendengarmu tertawa lagi. Seharusnya aku menciptakan lebih banyak omong
kosong hanya untuk membuatmu tertawa. Tetapi memang Ana dan Joselah yang
kulihat, aku yakin akan hal itu, dan buktinya muncul keesokan harinya. Hanya
sepuluh hari berlalu sebelum aku bertemu dengan Jose lagi, kali ini di Madrid.
Ketika ia menceritakan keseluruhan kisah yang luar biasa mengenai El Planeta
dan kedua lukisan di Prado, menjadi sangat jelas bagiku bahwa ada sebuah
pelajaran penting yang

harus saling kita sampaikan dan satu-satunya kesempatan untuk membuka dialog
baru di antara kita adalah dengan mengirimkan surat kepadamu.

Vera aku akan memintamu melakukan sesuatu untukku, walaupun ini akan
menjadi hal terakhir yang akan kau lakukan untukku. Aku akan berusaha
mengirimkan segala yang telah kutulis kira-kira pada Kamis sore, dan pada
Jumat engkau harus ikut denganku ke Sevilla. Aku berutang janji kepada Ana
dan Jose untuk pergi ke Sevilla hari itu, dan aku hampir yakin kau pun akan
berpikiran sama setelah membaca kisah mengenai Ana dan gambar ajaib itu.

Tentunya engkau belum melupakan kartu yang kau kirimkan kepadaku dari
Barcelona bertahun-tahun yang lalu. “Ingatkah engkau ramuan ajaib itu?”
tulismu. Ketika tiba di rumah, engkau memberitahukan bahwa jika menemukan
minuman itu, kau tidak akan ragu untuk memberiku setengah darinya. Engkau
amat berharap kita dapat selalu bersama. “Bagiku hanya ada satu lelaki dan satu
dunia,” ujarmu. Ingatkah engkau? Kemudian, engkau melanjutkan: “Aku
merasakan hal ini begitu kuat karena aku hanya hidup sekali.” Kemudian, takdir
datang dan mengatakan yang sebaliknya.

Untuk saat ini, yang kuminta hanyalah agar dirimu menyisihkan satu hari dalam
hidupmu demi kepentinganku. Aku tidak bisa pergi ke Sevilla tan-pamu. Aku
benar-benar tidak bisa.
Setelah mengingat-ingat kembali pertemuan pertamaku yang menyebalkan
dengan Gordon, aku turun menuju Rotunda dan membaca El Pais serta membeli
secangkir kopi dan kue-kue kecil. Lega rasanya dapat beristirahat total setelah
berkonsentrasi penuh menulis dan hanya mendengarkan musik harpa ditemani
dengungan konferensi-konferensi mini yang berlangsung di bawah kubah itu.
Aku tahu tagihan hotelku semakin menumpuk, tetapi aku telah memutuskan
untuk tidak meninggalkan Madrid hingga aku usai menceritakan segalanya
kepadamu. Seperti yang dapat kau lihat, aku memuaskan diri dengan tinggal di
the Palace lagi. Para karyawan di sini sudah mengenalku, dan tempat ini hanya
selangkah dari Prado, dua langkah dari Kebun Raya, dan tidak lebih dari lima
menit jalan kaki menuju Retiro atau Puerta del Sol.

Kembali ke Fiji. Ketika terbangun keesokan harinya, dengan segera aku dicekam
oleh “kegelisahan pagi hari” karena semalam telah membuka diri dengan begitu
terus terang terhadap seseorang yang tak kukenal dan yang tidak ingin kujadikan
teman. Penyesalan seperti itu selalu memiliki dua sisi, karena walaupun
seseorang memang telah berlaku sedikit sembrono, sakit kepala akibat alkohol
selalu membesar-besarkan tindakan gegabah yang begitu kecil dan jarang terjadi
seperti itu. Dalam derita sebuah penye salan, engkau tidak pernah benar-benar
tahu apa saja yang telah kau katakan dan apa yang hanya kau simpan dalam hati.
Selama pagi berikutnya, engkau dibebani keyakinan bahwa

engkau telah mendapatkan seorang musuh atau lebih buruk lagi, seorang teman
seumur hidup, dan dengan ini yang kumaksud adalah seorang sahabat, seseorang
yang mengetahui rahasia terdalammu. Aku tahu, ia ada di suatu tempat di dalam
kamar itu, tetapi sebagai seorang ahli tokek, aku juga tahu bahwa pada pukul
sekian, kecongkakannya tentunya jauh berkurang dibandingkan pada malam
hari.

Tidak lama kemudian, aku menghadapi cermin di kamar mandi, dan walaupun
aku tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang selalu memulai hari mereka
dengan mematut-matut diri di depan cermin, semakin tua diriku dan semakin
dekat aku dengan akhir hayatku semakin jelas aku dapat melihat ekspresi wajah
hewan yang terpantul menyambutku pada pagi hari. Aku melihat seekor katak
yang telah bermetamorfosis, seekor kadal yang berdiri tegak, seorang primata
yang berduka. Tetapi, aku juga melihat sesuatu yang lain, dan hal itulah yang
paling meresahkan. Aku melihat seorang malaikat yang terperangkap oleh
kekurangan waktu yang akut, dan jika ia tidak dapat menemukan jalannya
kembali ke surga sekarang juga, jam biologisnya akan berdetak semakin cepat
dan semakin cepat, dan terlambatlah sudah untuk kembali kepada keabadian.
Semua ini disebabkan sebuah kesalahan fatal yang terjadi jauh pada masa
lampau, ketika sang malaikat yang tengah dilanda kepanikan menjelma ke dalam
tubuh yang terdiri dari darah dan daging. Jika sekarang ia tidak bisa menggapai
keselamatannya, ia tidak akan dapat kembali.

Dalam perjalanan menuju sarapan, aku bertemu dengan John di tengah


pepohonan palem. Ia berdiri di bawah sebuah pohon kelapa sambil mempelajari
sebuah papan pengumuman yang bertuliskan: AWAS! BANYAK KELAPA
JATUH. Mungkin ia menderita rabun dekat karena berdiri begitu dekat dengan
batang pohon, tepat di bawah mahkota pohon itu.

“Apakah Anda sedang bermain rolet Rusia?” tanyaku.

Ia berjalan mendekatiku.

“Apa yang Anda katakan?”

Tetapi, aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut karena tepat pada saat itu,
sebutir kelapa besar jatuh ke tanah tepat di tempat ia berdiri beberapa detik
sebelumnya.

Ia berpaling untuk melihat. “Sepertinya Anda telah menyelamatkan nyawa


saya,” ujarnya.

“Terima kasih kembali.”

Aku tidak tahu harus membicarakan apa selanjutnya, tetapi kutahu aku
memerlukan seseorang untuk diajak bicara seseorang untuk diajak bicara
mengenai Ana dan Jose. Sejak memandang ke dalam cermin, aku telah
memutuskan bahwa hari ini aku akan melakukan sedikit penyelidikan. Walaupun
kemungkinannya kecil, aku tidak dapat menyingkirkan pemikiran bahwa
pasangan dari Spanyol itu mungkin mampu membantu seorang malaikat
menderita yang telah terlalu lama berinkarnasi ini.

“Apakah Anda sudah melihat kedua orang Spanyol itu?” tanyaku.

Ia menggelengkan kepalanya. “Bukankah Anda kemarin bertemu dengan mereka


di date line?”
Sekali lagi aku mendapat perasaan bahwa ia memiliki hubungan dengan Ana dan
Jose. Siapa yang telah memberitahunya bahwa aku bertemu dengan mereka di
date line? Apakah itu sesuatu yang biasa dibicarakan oleh orang-orang?

Aku mengangguk.

“Mereka pasangan yang menarik,” ujarku. “Apakah Anda dapat berbahasa


Spanyol?”

Apakah aku melihat sebuah senyuman sekilas? Dari semua kejadian yang
kualami, aku punya perasaan bahwa ia tahu alasanku bertanya. Tetapi, ia
menggelengkan kepala.

“Sedikit sekali. Tetapi, mereka dapat berbahasa Inggris dengan lancar.”

“Oh, tentu. Tetapi, kadang-kadang mereka juga berbicara satu sama lain dengan
bahasa Spanyol.”

Ia mendengarkan dengan saksama; kewaspadaannya hampir membuatku takut.


Seolah-olah ia memiliki ketertarikan khusus terhadap segala pengamatanku.
Apakah ketertarikannya ini entah bagaimana terkait dengan kedua orang
Spanyol itu?

“Dan Anda mengerti apa yang mereka katakan?”

Kini aku menghadapi masalah. Aku tidak ingin memberi tahu John bahwa aku
berkeliling pulau sambil mencuri dengar pembicaraan Ana dan Jose.

“Yang jelas mereka tidak bercakap-cakap mengenai sepak bola maupun kriket,
itu yang saya mengerti,” ujarku. “Pembicaraan di antara keduanya menyangkut
hal-hal yang cukup aneh.”

Ia berdiri sambil menghirup udara.

“Konon wanita itu salah satu dari penari flamenco yang paling terkenal di
Sevilla,” ujarnya.

Flamenco! Sekali lagi otakku mendapat kesempatan untuk mencari kata kunci
yang mungkin dapat membantu mengarahkan kepada suatu pertemuanku di
masa lalu dengan Ana. Aku pernah beberapa kali mendatangi sebuah bar
flamenco di Madrid, tetapi itu beberapa tahun yang lalu, dan jika aku memang
melihat Ana di sana, tentunya ingatanku tidak akan mampu membedakan dirinya
di antara segala irama yang bergairah, kostum yang berputar-putar, dan lagu
yang sensual. Juga, jauh di dalam benakku, tersimpan bayangan Ana yang
tentunya kukenal dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan hanya
satu pertunjukan flamenco. Tetapi, informasi mengenai flamenco itu tetap saja
berguna.

“Saya punya perasaan pernah bertemu Ana sebelumnya,” ujarku.

Ia terkejut.

“Di mana?”

“Itulah masalahnya. Saya tidak dapat mengingat di manakah saya pernah


bertemu dengannya.”

“Menarik,” ujarnya. “Bahkan luar biasa. Saya sendiri menghadapi masalah yang
persis sama. Ada sesuatu yang tidak asing tentang dirinya sehingga

nyaris terasa menyebalkan ….”

Jadi kini jelas bahwa kami berdua merasakannya, dan aku dapat melupakan
gagasan bahwa aku pernah memimpikan Ana, atau bahwa aku pernah menikah
dengannya dalam kehidupan yang lampau. Kini, mungkin, aku juga tahu alasan
mengapa John begitu ingin tahu apakah aku pernah, atau tidak pernah, bertemu
dengan kedua orang Spanyol itu di dateline.

“Wajahnya tidak mudah dilupakan,” ujarku. Kurasa jawaban singkatku itu


terdengar dangkal. Ia berdiri sambil berpikir keras sebelum menjawab,
“Mungkin. Tetapi nyatanya juga bukan wajah

yang dapat diingat. Masih ada kemungkinan ketiga ii

Aku begitu tegang menunggu apa yang akan ia katakan.

“Kita berdua pernah melihat wanita ini sebelumnya. Maka, mungkin ia telah
menjalani semacam … metamorfosis.”

Aku pun telah memikirkan gagasan yang mirip dengan itu dan sekarang
kepalaku mulai terasa pening. Udara yang panas dan lembap tidak membantu.
Tetapi kini kami diganggu oleh suara wanita marah yang datang dari arah kolam
renang. Itu suara Laura, yang berteriak di tengah pepohonan palem. “Kubilang
jangan terus-menerus membuntutiku!”

Detik berikutnya kami mendengar suara ceburan, dan menyadari bahwa Laura
telah mendorong Bill ke dalam air. Aku menganggukkan kepala kepada John dan
berkata bahwa aku harus segera pergi

sarapan sebelum terlambat.

Saat melewati pinggir kolam renang, aku memerhatikan bekas-bekas kejadian


sebelumnya yang masih tampak. Bill tengah memanjat keluar dari kolam setelah
tanpa terencana jatuh dengan perut terlebih dulu menyentuh air. Ekspresi
wajahnya menunjukkan amarah ala Buster Keaton, tetapi biarpun basah kuyup,
pakaiannya tetap keren dengan celana pendek kuning dan kaus biru muda
bermotif pohon-pohon kelapa. Laura tengah sibuk menempatkan diri untuk
berjemur di atas sebuah kursi panjang, dan ia pun menunjukkan ekspresi puas
yang kejam seperti dalam film bisu. Ketika ia mengangkat kepala dan melihatku
berjalan ke arah restoran, ia menutupi tubuhnya dengan handuk dan bertanya
apakah aku hendak pergi sarapan. Aku mengangguk.

“Saya akan minum teh dengan Anda,” ia mengumumkan. Sepertinya ia telah


selesai membaca Lonely Planet-nya.

Diletakkannya handuknya kembali di atas kursi, lalu ia mengenakan sebuah


gaun merah menutupi bikini hitamnya dan memasukkan kakinya ke dalam
sepasang sandal. Aku berdiri menunggunya. Kemudian kami pun pergi ke
restoran.

Para karyawan membagikan kopi dan teh. Aku baru sempat mengambil roti dan
selai ketika mereka mulai membereskan makanan-makanan yang disajikan. Aku
menatap ke dalam satu mata hijau dan satu mata cokelat Laura.

“Apakah lelaki itu mengganggu Anda?” tanyaku.

Ia hanya mengangkat bahu. “Oh, tidak, tidak juga.”

“Tetapi, Anda kan mendorongnya ke dalam kolam?”


“Ceritakan tentang penelitian Anda,” pintanya.

Dan aku tidak keberatan mengganti topik. Dengan cepat kujelaskan tentang
penelitian lapanganku, dan segera kusadari bahwa ia pun bukan seorang amatir
mengenai topik itu. Ia juga punya latar belakang di bidang itu dan dapat
memberiku informasi yang tidak kuketahui mengenai masalah-masalah serupa di
Benua Australia.

Aku mengajukan beberapa pertanyaan mengenai yayasan lingkungan yang


menyediakan dana untuk laporan tahunan yang ia ceritakan kepada kami malam
sebelumnya. Pada awalnya Laura sedikit menghindar, tetapi akhirnya ia
menyebutkan fakta bahwa yayasan tersebut sesungguhnya adalah sebuah hibah,
karena seluruh dananya berasal dari sumbangan dari satu orang Amerika saja.

“Seorang idealis?” tanyaku.

“Seorang kaya,” ia membenarkan. “Uangnya berlimpah.”

Aku bertanya apakah ia optimistis atau pesimistis mengenai masa depan Bumi
dan umat manusia dalam jangka panjang.

“Saya seorang yang pesimis mengenai masa depan manusia, tetapi optimis
mengenai Bumi.”

Aku mulai memahami sudut pandangnya, dan dengan segera ia pun menjelaskan
segalanya. Minat Laura terhadap lingkungan ternyata memiliki akar

ideologi yang lebih dalam daripada yang kubayangkan. Ia percaya bahwa Bumi
adalah sebuah organisme, yang pada saat ini tengah menderita serangan demam
yang akut, tetapi serangan ini adalah sebuah demam yang memurnikan dan akan
memastikan bahwa sang Ibu itu akan segera membaik. “Sang Ibu?”

“Gaia. Kecuali jika sesuatu yang luar biasa terjadi, akhirnya ia akan
menghancurkan mikroba-mikroba yang telah membuatnya sakit.”

“Gaia?” ulangku sambil menghela napas pelan. “Itu hanyalah sebuah nama yang
kami berikan kepada ‘Ibu Pertiwi1; tentu kita dapat saja memanggilnya Eartha.
Tetapi yang penting adalah menyadari bahwa dunia ini adalah sesuatu yang
hidup.”
“Yang akan menghancurkan mikroba-mikroba.” “Berjuta-juta tahun yang lalu,
dinosauruslah yang disingkirkan,” ia memulai. “Dan mungkin hal itu terjadi
bukan disebabkan jatuhnya meteor. Mungkin mereka menyebarkan penyakit di
dunia dan menghancurkan diri mereka sendiri. Saya pernah mendengar sebuah
teori bahwa kepunahan itu ada hubungannya dengan gas buangan yang
dihasilkan para dinosaurus. Tetapi Bumi berhasil memulihkan dirinya sendiri, ia
terlahir kembali. Kini umat manusia mengancam kehidupan di Bumi. Kita
tengah menghancurkan habitat kita sendiri, dan Gaia ingin menyingkirkan kita.”

“Dan kemudian … kemudian dunia akan bangkit kembali?”

Laura mengangguk. Aku menatap ke dalam

satu mata cokelatnya dan berkata, “Tidakkah Anda beranggapan bahwa


kemanusiaan juga memiliki nilai intrinsik?”

Ia hanya mengangkat bahu, dan aku mengerti bahwa ia tidak terlalu menghargai
nilai manusia. Secara pribadi, aku selalu sulit menemukan nilai sebuah dunia
yang tidak dapat menghasilkan kehidupan selain organisme-organisme rendah.
Tetapi aku lebih bersimpati pada pemikiran mengenai kelahiran kembali.
Walaupun, seperti yang telah kuakui kepada Gordon malam sebelumnya, sudah
terlambat bagi dunia ini dan tidak ada jaminan bahwa akal sehat akan
mendapatkan kesempatan lagi, setidaknya untuk planet ini, karena hal ini
mungkin akan memakan waktu sangat lama.

“Saya selalu beranggapan setiap individu manusia tak ternilai harganya,” ujarku.

“Begitu pula setiap panda.”

Aku menatap ke dalam satu mata hijaunya.

“Bagaimana dengan Anda?” aku berkata. “Tidakkah Anda takut mati?”

Ia menggelengkan kepala.

“Saya hanya akan mati dalam wujud saya yang sekarang.”

Aku ingat bahwa saat itu aku berpikir betapa cantiknya wujud itu.

“Tetapi, saya juga merupakan bagian dari planet hidup ini,” ia melanjutkan.
“Saya lebih takut bahwa ia akan mati. Karena saya memiliki identitas yang lebih
mendalam dan permanen dalam dirinya.”

“Identitas yang lebih mendalam dan lebih permanen,” ulangku.

Ia tersenyum menantang.

“Anda tentunya pernah melihat foto Gaia yang diambil dari luar angkasa ….”
“Tentu saja.”

“Tidakkah ia begitu indah?”

Aku tidak memercayai satu pun kata-katanya. Walau bagaimanapun, aku tidak
pernah memiliki banyak waktu untuk meladeni monisme ekstrem seperti ini
digabung dengan perhatian kepada lingkungan yang agak diwarnai kebencian
terhadap manusia. Dan walaupun hal ini membuatku sedikit tidak nyaman, harus
kuakui bahwa pada saat yang sama, aku menyukai Laura. Ia seseorang yang
berpikiran tajam, menarik, dan dalam beberapa hal, seseorang yang terluka.

Aku berusaha menimbang pertanyaan retorisnya. Baiklah, pikirku, kita memang


menjalani hidup kita yang singkat di Bumi, tetapi semuanya tidak berakhir di
situ karena kita akan kembali. Kita kembali sebagai bunga lili dan pohon kelapa,
sebagai panda dan badak, dan semua ini adalah Gaia, identitas kita yang
terdalam dan termurni.

Wanita itu duduk sambil mengetuk-ngetukkan sandalnya. Aku dapat melihat


sekilas bagian atas bikini hitamnya di sela-sela gaun merahnya.

“Bagaimanakah kehidupan di Bumi berawal?” tanyanya.

Aku menganggap pertanyaan ini retoris, tetapi aku tetap memberikan jawaban
tradisional bahwa seluruh kehidupan di Bumi bisa jadi berasal dari satu

buah makromolekul karena semua materi genetik menunjukkan suatu hubungan


yang tak terbantahkan.

“Jadi, Bumi adalah sebuah organisme hidup,” ia menyimpulkan. “Dan hal ini
bukan hanya sebuah metafora. Saya benar-benar memiliki hubungan saudara
dengan kembang sepatu itu.”
Ia menunjuk ke arah taman, dan aku melihat Bill telah mengambil handuk yang
ditinggalkan Laura di atas kursi tempatnya berjemur. Aku memutuskan untuk
tidak mengungkit-ungkit hal itu.

“Sesungguhnya,” wanita itu melanjutkan, “hubungan saya dengan kembang


sepatu itu lebih dekat daripada setetes air dengan tetesan air yang lain. Dan jika
seluruh kehidupan memang muncul dari satu buah makromolekul yang sama
….”

Ia ragu sejenak, dan sekali lagi aku menatap ke dalam matanya yang hijau.

“Ya?”

“… maka molekul itu sungguh fantastis. Saya tidak akan ragu menyebutnya
bersifat ilahiah. Molekul itu adalah sebuah benih tuhan. Dan oleh karenanya,
saya juga tidak akan ragu memanggil Gaia seorang dewi.”

“Dan Gaia adalah diri Anda?”

“Dan diri Anda. Dan kembang sepatu itu.”

Aku sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya, dan seperti yang telah
kukatakan, aku tidak percaya bahwa ia sungguh-sungguh bermaksud
mengatakan setengah dari apa yang ia katakan.

“Tetapi, Bumi juga memiliki masa hidup yang

terbatas,” potongku. “Ia hanyalah sebuah ‘planet kesepian’ di tengah kehampaan


akbar.”

“Atau di tengah Segala Sesuatu!”

Bersamaan dengan kata-kata ini, ia meraih kedua tanganku, dan membuatku


begitu kebingungan sehingga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bahkan
tidak tahu apakah aku dapat membedakan antara “segala sesuatu” dan
“kehampaan”. Bukankah keduanya hampir sama?

Ia meremas tanganku lembut. Kemudian ia berkata, “Bersama-sama kita adalah


satu.”
Aku terpaku oleh rasa terkejut karena mendadak diikat menjadi suatu pasangan.
Tetapi, setelah membicarakan segala sesuatu atau kehampaan memang
menyenangkan dapat menggenggam sebuah tangan yang hangat. Jikalau pun
segala sesuatu bukanlah satu, setidaknya kami berdua. Aku tidak bermaksud
mengatakan bahwa ada kemungkinan sedikit pun aku akan mengubah dasar-
dasar ideologiku, karena aku juga tahu bahwa jika malam benar-benar gelap,
semua garis dan bentuk akan lenyap.

Kami duduk di sana selama beberapa saat sambil berpegangan tangan. Laura
adalah seorang wanita memikat dan sekaligus seorang idealis keras kepala.
Bagaimanapun, hingga taraf tertentu, apa yang ia katakan hampir tak
terbantahkan. Sama tak terbantahkannya dengan individualismeku yang tanpa
semangat. Dan bersama kami adalah satu.

“Apakah hal itu juga berlaku pada sang insinyur perminyakan?” tanyaku, dan
baru pada saat

itulah ia menarik kedua tangannya.

Ia menggelengkan kepala dan mengatakan dengan sebuah senyuman hangat, “Ia


berasal dari sebuah semesta lain.”

Walaupun begitu, tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi menuju tempatnya
berjemur di tepi kolam renang, mungkin untuk melontarkan kepada orang
Amerika itu kata-kata pedas karena telah mengambil handuknya.

Aku memutuskan menyewa sebuah mobil dan pergi ke Taman Nasional Tavoro
di sebelah timur pulau untuk mencoba melihat burung-burung nuri yang terkenal
dan air-air terjun yang deras. Aku juga harus melakukan hal lain, yang lebih
disebabkan oleh alasan kesehatan.

Jochen Kiess, sang pemilik Maravu Plantation Resort, berasal dari Jerman. Ia
sangat membantuku dalam memesan mobil, tetapi misiku berikutnya tidak dapat
diselesaikan dengan begitu mudah. Tempat itu memiliki sebuah bar, yang tentu
saja sepenuhnya sah, tetapi undang-undang nasional melarangnya menjual satu
botol penuh minuman keras. Aku berkata bahwa aku cukup mengerti
keadaannya, karena kami pun memiliki peraturan yang sama persis di Norwegia.
Tetapi, ini bukanlah penjualan biasa, lebih merupakan kompensasi yang sah atas
kerusakan yang disebabkan oleh salah satu dari banyak tokek yang terdapat di
penginapan tersebut. Namun, aku juga menjelaskan bahwa aku bersedia
membayar botol itu, per takaran dengan harga yang sama per takaran seperti
yang dijual di bar. Aku

tidak yakin ia memercayai alasanku, tetapi akhirnya kebaikan hatinya


mendorongnya membiarkan diriku bersiul-siul kembali ke bare 3 dengan sebotol
Gordon’s Dry Gin yang masih utuh. Dalam perjalananku kembali, aku memetik
setangkai kecil kembang sepatu yang telah ditunjuk Laura, yang lebih memiliki
hubungan saudara dengannya dibandingkan hubungan antara dua tetes air. Tentu
saja ia benar mengenai tetes air itu, tetapi itu hanya karena dua tetes air sama
sekali tidak memiliki hubungan saudara. Mereka hanya sangat mirip satu dengan
yang lain.

Aku mengisi botol gin yang telah kosong dengan air, memasukkan tangkai
kembang sepatu ke dalamnya dan meletakkan botol itu di atas sebuah meja kecil
di depan jendela yang menghadap ke arah pepohonan palem. Selanjutnya, aku
membuka tutup botol yang baru dan meletakkan botol itu di bibirku. Aku
menelan seteguk kecil, hanya untuk menyatakan kepemilikanku atas botol itu
dan memastikan botol itu tidak dapat dibawa kembali ke bar. Kubuka tas
kabinku, dan dengan hati-hati kuletakkan botol itu di dalamnya dan kemudian
menguncinya.

Pada saat itulah aku melihatnya lagi. Gordon sedang tidur siang di bingkai di
atas tirai. Pada awalnya kupikir ia tengah tertidur, walaupun sulit untuk
membedakan pada reptil yang dilahirkan dengan sepasang kacamata yang
menyatu sebagai kelopak matanya. Mungkin ia telah melihatku masuk dengan
sebotol gin baru. Apa pun yang sebenarnya

terjadi, kini aku menatap lurus ke matanya yang terbuka.

“Obat untuk sakit kepala?” tanyanya. Sial! Ia mulai lagi.

“Aku hanya membilas mulutku,” aku meyakinkan dirinya. “Lagi pula, apa yang
kulakukan dalam privasi kamarku sendiri bukanlah urusanmu.”

“Engkau tidak bermaksud untuk melanjutkan percakapan kita tadi malam, kan?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya mengatakan bahwa sebaiknya engkau tidak berlaku
melebihi derajatmu. Engkau hanyalah seekor tokek.”

“Sebenarnya ya dan tidak, Tuan.”


“Apa maksudmu?”

“Mungkin itulah yang terlihat di sini saat ini, tetapi pada kenyataannya ….”

Aku punya dugaan apa yang akan ia katakan.

“Silakan!” ujarku. “Aku tidak akan menghalangi kebebasan berbicara.”

“Sesungguhnya, aku adalah ruh dunia. Ia telah bersemayam di dalam seekor


tokek. Jadi, jika ada apa pun yang ingin kau ketahui, engkau hanya perlu
bertanya.”

“Kurasa, aku tidak peduli,” ujarku. “Aku sudah tahu apa pun yang kau katakan.”

“Aku meragukan hal itu. Aku adalah ruh dunia yang mengetahui segalanya.”

“Baiklah, ungkapkan saja kalau begitu. Apa yang kau tahu?”

“Engkau menghabiskan sarapan dengan seorang primata betina dari Australia.”

“Oke. Baiklah, katakan saja engkau telah lulus tes. Sekarang dapatkah engkau
memberitahuku apakah aku jatuh cinta kepadanya?” Ia tertawa.

“Tidak. Hal itu sungguh konyol dalam waktu yang begitu singkat, bahkan bagi
seorang primata laki-laki sepertimu. Tetapi, jika tidak dapat menjinakkan naluri
hewanimu, engkau akan tersesat.”

“Wanita itu adalah sesosok ruh dunia juga.”

“Itu benar, Tuan. Aku ada di mana-mana di sekelilingmu. Engkau hidup,


bergerak, dan mengada dalam diriku.”

Masih ada beberapa perkampungan terpencil yang tidak tergoda untuk menjual
jiwa mereka demi uang. Para penghuni desa kecil Bouma di sebelah timur
Taveuni tahu bahwa mereka dianugerahi salah satu hutan hujan terindah di dunia
sebagai hak mereka sejak lahir; hutan itu telah menjadi magnet bagi pencinta
alam dan para pembuat film-film mengenai daerah surgawi seperti Return to the
Blue Lagoon. Maka, ketika para penduduk desa ditawari sejumlah besar uang
agar mereka mengizinkan pinggiran hutan mereka ditebang, timbullah
perdebatan ramai karena modal dalam bentuk uang tunai bukanlah sesuatu yang
berlimpah di Bouma, maupun di Fiji. Tetapi, pada akhirnya mereka menolak
penebangan dan menyetujui sebuah gagasan fleksibel untuk mengubah
lingkungan mereka yang rimbun menjadi sebuah taman alam, yang juga akan
menjadi sumber penghasilan bagi desa miskin itu sebuah sumber penghasilan
yang dapat diperbarui, yang akan bertahan jauh lebih lama daripada pembayaran
tunai yang pernah ditawarkan bagi desa itu untuk tebang bersih. Kini, lima ribu
hektar taman yang dilindungi telah dibangun untuk menerima para ekoturis yang
datang ke sini, dan para penduduk desa itu sendirilah yang membangun jalan
setapak dan memagari bagian-bagian yang paling curam, juga menyediakan
toilet dan fasilitas untuk piknik dan berkemah. Dan contoh yang mereka berikan
telah menyebar. Beberapa proyek yang serupa kini tengah direncanakan pada
bagian-bagian lain di pulau ini.

Setelah melewati desa mereka dan menyeberangi Sungai Bouma yang indah,
dengan hati yang ringan aku pun membayar lima dolar Fiji untuk tarif masuk
taman firdaus yang dilindungi ini. Di dalam sebuah gubuk kecil, aku diberi
informasi-informasi berguna mengenai jalan setapak sepanjang delapan
kilometer yang telah dipersiapkan, dan membeli sebungkus biskuit dan sebotol
air. Aku juga meyakinkan mereka bahwa aku sadar penggunaan api sekecil apa
pun dapat mengakibatkan bencana yang hebat.

Aku berjalan menyusuri Sungai Bouma sejauh hampir satu kilometer. Jalan
setapak yang kuikuti ditanami dengan begitu lebat sehingga menjadi sebuah
lorong panjang yang diapit oleh pohon-pohon palem dan semak-semak
berbunga. Inilah yang kusebut sebagai lanskap kultural, Vera. Andai saja engkau
ada di sana!

Tidak lama kemudian, kudengar deru air terjun besar yang pertama. Aku pernah
membaca bahwa air terjun ini memiliki ketinggian dua puluh meter dan
membentuk sebuah kolam gelembung yang sangat besar. Aku juga diberi tahu
bahwa tempat ini jarang dikunjungi, maka aku telah meninggalkan pakaian
renangku dan memutuskan untuk melompat masuk telanjang bulat ke dalam
kolam alami ini jika aku memang sendirian, dan jika tidak, aku akan mendatangi
air terjun yang lain. Air terjun itu berjarak satu setengah jam perjalanan dari sini,
tingginya hampir lima puluh dua meter, walaupun kolamnya tidak sebesar yang
ini.
Begitu aku melihat air terjun itu aku masih teringat akan deru lembutnya
terdengar suara-suara yang tidak asing menyambutku, dan sesaat kemudian aku
pun melihat Ana dan Jose di dalam kolam. Aku tidak tahu apakah aku kecewa
karena tidak lagi sendiri atau hanya terkejut melihat siapa yang kutemui. Tidak
ada bedanya, tetap saja aku bertemu rintangan tak terduga, karena walaupun
tidak dapat disangkal aku senang bertemu kembali dengan mereka, aku harus
menghadapi kenyataan bahwa mereka memiliki ide yang persis sama denganku
dan tengah berenang tanpa busana. Sekali lagi mereka mengingatkanku akan
Adam dan Hawa, laki-laki dan wanita pertama yang diciptakan oleh Tuhan,
suatu bentuk paling awal dari kepuasan hidup setidaknya sebelum adanya
penderitaan karena buah apel yang berlanjut dengan pengusiran dari taman.
Tetapi, pengusiran hanya akan terjadi dalam

bab berikutnya karena kini mereka masih berendam diri dalam keadaan polos.
Sebelum memalingkan muka, aku sempat melihat bahwa Ana memiliki sebuah
tanda lahir besar di perutnya.

Terus-menerus berpura-pura tidak memahami apa yang dibicarakan Ana dan


Jose adalah satu hal, tetapi aku belum terjerumus begitu rendah sehingga
memata-matai ketelanjangan mereka. Tingkah laku yang rendah seperti itu hanya
dapat diserahkan kepada Tuhan sendiri ia adalah sebuah prototipe yang
sempurna sebagai Tukang Intip. Masalahnya, aku tidak dapat melanjutkan
perjalanan ke air terjun berikutnya tanpa menunjukkan diri karena tidak ada
jalan selain jalur resmi, dan jalur tersebut membentang tepat melewati kolam
pemandian itu. Maka, aku pun harus kembali ke arahku semula.

Namun, aku tidak berbalik, karena tepat pada saat itu aku mendengar Jose
mengatakan sesuatu kepada istrinya. Walaupun tidak menangkap keseluruhan
kalimatnya, aku akan mendengarnya lagi diulang secara keseluruhan di
kemudian hari:

“Joker terbangun dari mimpi-mimpi tak terbelenggu untuk menghadapi kulit dan
tulang. Ia bergegas memetik buah-buah beri malam sebelum siang hari
menyebabkan mereka terlalu masak. Sekarang atau tidak akan pernah sama
sekali. Sekarang, atau tidak akan pernah lagi. Joker menyadari bahwa ia tidak
akan pernah bangun dari tempat tidur yang sama dua kali.”

Mungkin, pikirku, mungkin aku dapat mendengar apa yang ingin diungkapkan
Ana pagi ini jika
aku tetap tinggal di tempatku di jalan setapak itu dan tidak maju maupun
mundur. Wanita itu berkata:

“Apakah yang dipikirkan para peri saat mereka terbebas dari rahasia tidur dan
tiba dengan bentuk utuh pada suatu hari baru? Apa yang dikatakan statistik?
Inilah pertanyaan Joker. Ia selalu terlompat dengan kekaguman yang sama setiap
kali keajaiban kecil ini terjadi. Ia terperangkap oleh hal ini sama seperti salah
satu permainan sulapnya sendiri. Ini adalah caranya untuk merayakan
dimulainya penciptaan. Ini adalah cara dirinya menyambut diciptakannya fajar
pagi ini.”

Aku sering bertanya-tanya siapakah “Joker” ini, dan kini aku diberi semacam
penjelasan, saat Jose berkata:

“Joker berjalan di antara para peri dalam penyamaran primata. Ia memerhatikan


sepasang tangan yang ganjil, mengusap pipi yang tidak ia kenal, memegang
alisnya, dan tahu bahwa di dalamnya terdapat sebuah teka-teki menghantui
tentang dirinya, plasma jiwanya, agar-agar dari pengetahuan. Lebih mendekati
inti dari hal-hal tidak akan pernah ia capai. Ia memiliki sebuah perasaan samar
bahwa tentunya ia adalah sebuah otak yang dicangkokkan. Oleh karenanya, ia
tidak lagi merupakan dirinya sendiri.”

Atau seorang malaikat biokimia, pikirku, wakil dari keabadian yang amat ingin
mengetahui riuh rendahnya kehidupan dunia makhluk darah dan daging,
sehingga dalam keangkuhannya, ia lupa menyiapkan jalan untuk kembali. Tidak
hanya primata

yang harus berhati-hati saat mengenakan sayap yang terbuat dari lilin sehingga
tidak menarik kesimpulan terlalu cepat bahwa ia dapat terbang ke surga seperti
malaikat. Sebaliknya juga sama gegabahnya. Seorang malaikat yang percaya
dapat hidup sebagai primata tanpa melepaskan statusnya sebagai malaikat adalah
sama tidak bijaksananya. Sang malaikat tentu saja kehilangan jauh lebih banyak
daripada sang primata, walaupun bisa dibilang keduanya kehilangan satu hal
yang sama: diri mereka sendiri. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa
sang malaikat telah salah beranggapan bahwa hidupnya akan abadi.

Mungkin saat itu aku menduga Ana dan Jose telah melihatku sehingga mereka
pun mulai memamerkan potongan-potongan kebijaksanaan filosofis mereka. Jika
memang itu yang terjadi, sungguh konyol jika aku mundur. Tetapi, apakah aku
punya perhitungan seperti itu atau tidak, aku hanya ingat menampakkan diriku di
jalan setapak itu, dengan satu tangan menutupi mataku, dan peringatan untuk
diriku sendiri bahwa tentu saja aku harus bersikap seolah tidak mendengar satu
kata pun yang baru saja mereka ucapkan.

“Apakah masih ada tempat bagi orang asing?” tanyaku. “Saya telah membayar
lima dolar untuk mendapatkan visa di taman surga.”

Mereka tertawa dan keluar dari kolam sementara aku berdiri dengan tangan
kutunjukkan menutupi kedua mataku. Walaupun demikian, sekejap dua jariku
sempat bergeser sedikit saja, cukup untuk memberiku kesempatan melirik tubuh
telanjang mereka sebelum mereka mengenakan celana hitam dan selembar gaun
musim panas berwarna merah.

Mereka telah berpakaian, dan kami pun duduk di atas sebuah bangku di bawah
keteduhan sambil makan biskuit dan berusaha untuk saling mengalahkan dalam
memberikan pujian terhadap perlindungan alam itu, juga penduduk Bouma,
karena kami adalah tamu mereka. Ana mulai sibuk dengan kameranya, dan aku
membantu mengambil foto mereka berdua beberapa kali. Sementara si wanita
sibuk memotret, sekali lagi Jose mulai mengujiku tentang berbagai macam
hipotesis evolusi. Sebagai seseorang yang bukan ahli, ia benar-benar tahu
banyak mengenai topik tersebut, ini adalah fakta yang telah kuperhatikan malam
sebelumnya. Ia menggunakan istilah-istilah teknis seperti gra-dualism dan
punctualism tanpa kesulitan sedikit pun.

Mereka telah membuat perjanjian dengan seorang pengemudi yang menunggu di


pondok resepsionis, dan kami pun memutuskan bahwa sekarang adalah giliranku
untuk menikmati taman surga ini sendirian. Setelah berendam di dalam kolam,
aku pun berjalan menuju air terjun yang satu lagi.
w

Kali berikutnya aku berpapasan dengan Ana dan Jose adalah di tengah
pepohonan palem di Maravu beberapa jam kemudian. Dan di sini pun Ana terus
mengambil foto. Aku secara khusus menyebutkan

fakta ini karena sepertinya fotografi juga merupakan bagian yang sama
pentingnya dengan pertukaran kalimat-kalimat rahasia yang terus-menerus
saling mereka lontarkan.

Saat itu aku sedang sendirian di antara pepohonan, dan tiba-tiba aku mendengar
suara-suara yang tidak asing. Ternyata aku berada di dekat pondok Ana dan Jose,
dan aku menyadari tentunya mereka tengah duduk di beranda luar. Hampir tidak
mungkin mereka melihatku, dan aku yakin tempatku berdiri saat itu terhalang
dari penglihatan mereka walaupun aku begitu dekat dengan mereka, sedekat
kemarin saat aku tengah duduk di berandaku dan mereka berjalan di antara
pepohonan. Aku pasti akan pergi menjauh jika saja tidak mendengar curahan
berkepanjangan kalimat-kalimat amat menarik yang mulai mengalir.

Joselah yang memulai deklamasi.

“Siapakah yang dapat menikmati pertunjukan kembang api kosmos jika bangku-
bangku penonton di iangit hanya dipenuhi es dan api? Siapakah yang bisa
menduga bahwa amfibi pemberani pertama tidak hanya merangkak satu tangkah
kecii ke pantai, tetapi juga melakukan satu lompatan raksasa di atas jalan
panjang yang mengantarkan primata dapat memandangi panorama evolusi
mereka yang membanggakan dari awal jalan yang sama itu? Tepuk tangan bagi
Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun setelah ledakan itu terjadi.”

“Atau mungkin sebaiknya kita mengerjakan yang ini lebih dulu,” ujar Ana.
“Sesuatu menajamkan telinga dan membuka sebelah mata: naik dari dalam
jilatan api, naik dari dalam sup purba yang kental, naik melalui gua-gua labirin,
dan naik, naik melintasi ufuk stepa.”

“Menurutku bagus. Tetapi tidakkah sebaiknya kita menyebutnya ‘sup purba


bertimah’?”

“Mengapa? Sup tidak pernah seperti timah.”


“Maksudku, secara metaforis, sup itu berat. Benar-benar nyaris mustahil
makhluk hidup dapat merangkak keluar ke daratan.”

“Tidakkah itu akan merusak iramanya?”

“Justru sebaliknya: ‘bangkit dari dalam sup purba yang berat ….”’

“Hmm, kita lihat saja.”

Kini giliran Jose. Jelas bahwa ia berhenti sejenak untuk berpikir sebelum
memutuskan, tetapi kemudian keluarlah dari mulutnya:

“Seperti kabut sihir, panorama itu muncul, melalui kabut, di atas kabut. Saudara
tiri dari Neanderthal yang ternama memegang alisnya karena tahu bahwa di
belakang dahi primatanya, melayanglah materi otaknya yang lembut, auto pilot
evolusi, kantung udara festival protein antara khayalan dan materi.”

Dan sekali ini Ana tidak perlu memikirkan jawabannya, karena jawabannya
telah tercakup dalam dramaturgi ritual tersebut.

“Terobosan itu muncul dalam arena sirkus otak sang tetrapoda. Di sinilah
kemenangan-kemenangan terbaru spesies itu diumumkan. Di dalam sel-sel saraf
milik vertebrata hangat itu, sumbat botol sampanye yang pertama terbuka.
Primata postmodern akhirnya mencapai wawasan menyeluruh. Dan mereka tak
takut: alam semesta memandang dirinya sendiri dalam sudut pandang yang
lebar.”

Selanjutnya hening sejenak dan kupikir narasi itu telah selesai, terutama karena
terdengar suara botol anggur yang dibuka. Tetapi, kemudian Jose berkata:

“Sang vertebrata tiba-tiba menoleh ke belakang dan melihat ekor penuh misteri
milik sanak saudaranya dalam perenungannya tentang malam tahun-tahun
cahaya yang telah berlalu. Barulah sekarang jalan rahasia itu mencapai titik
akhir. Dan akhir itu adalah kesadaran tentang perjalanan panjang menuju titik
akhir itu sendiri. Yang dapat ia lakukan hanyalah bertepuk tangan: ujung-ujung
yang disimpannya bagi para ahli waris spesiesnya.”

“Perenungan tentang malam tahun-tahun cahaya yang telah berlalu,” ulang Ana.
“Tidakkah itu sedikit terlalu berat?”
“Tapi, memerhatikan alam semesta sama artinya dengan menengok kembali
sejarahnya.”

“Kita bisa kembali lagi ke situ nanti. Lalu, mungkin, kita bisa memakai yang ini:
Dari ikan dan reptil serta tikus-tikus kecil yang manis, sang primata yang modis
mendapat warisan sepasang mata yang bagus dengan pandangan meneropong.
Para ahli waris dari ikan duri berongga ini mempelajari lintasan-lintasan galaksi
di angkasa, dan tahu bahwa diperlukan beberapa miliar tahun untuk
menyempurnakan penglihatan mereka. Lensa-lensa mereka dipoles dengan
makromolekul. Pandangan mereka difokuskan dengan protein dan asam-asam
amino yang sangat terintegrasi.” Kini giliran Jose lagi.

“Di dalam bola mata, terjadi benturan antara penciptaan dan cerminan. Bola
penglihatan dua arah ada/ah pintu berputar ajaib tempat jiwa pencipta bertemu
dirinya sendiri di dalam jiwa ciptaan. Sang mata yang meneliti alam semesta
adalah mata alam semesta itu sendiri.”

Selama beberapa detik, mereka terdiam. Kemudian, si lelaki berkata, “Keriting


atau wajik?”

“Wajik! Itu sudah jelas.”

Dua gelas diisi, dan aku berdiri di sana selama beberapa saat. Ketika tidak
terdengar apa-apa lagi, aku meninggalkan tempat itu sepelan mungkin.

Aku sungguh terguncang, tetapi juga telah menemukan jawaban dari segala
pertanyaanku, karena kini jelas sudah bahwa kalimat-kalimat janggal itu
diciptakan Ana dan Jose bersama-sama di beranda rumah mereka. Tentunya
mereka juga memiliki keberanian yang luar biasa, karena kuyakin rentetan
panjang kalimat yang baru saja tidak sengaja kudengar itu juga menunjukkan
sesuatu yang tanpa ragu-ragu kusebut sebagai kleptomania intelektual, juga
pencurian gagasan. Kenyataan bahwa kalimat-kalimat Ana dan Jose semakin
lama semakin menyerupai pemikiranku sendiri tentang evolusi nyaris tak bisa
disebut kebetulan tidak setelah percakapan kemarin, atau setelah pembicaraan
singkatku dengan Jose beberapa jam yang lalu. Sejak pertemuan pertama kami,
mereka telah menyelidiki diriku dan menyerap hampir setiap gagasan yang
kumiliki.

Walaupun begitu, beberapa pertanyaan masih tak terjawab. “Wajik! Itu sudah
jelas.” Dan memang sudah jelas wajik, Vera, bukan keriting maupun sekop, tentu
saja bukan. Tetapi, apakah artinya? Apakah hubungannya dengan kartu? Dan
siapakah “Joker” dan “para peri”?

Aku juga tidak yakin apakah “lokakarya” sore itu dimaksudkan sebagai
pertunjukan rutin bagi turis kesepian yang mengendap-endap di sekitar
pepohonan palem. Contohnya, aku tidak bisa yakin mereka tidak melihatku
beberapa menit sebelum aku tiba di belakang beranda mereka. Lalu ada pula
Ana. Keluarlah dari kealpaan diriku, Ana!

Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Pertama-tama aku kembali ke


pondokku, mengeluarkan pena dan kertas, kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Aku menulis: “Semakin dekat Joker dengan ketiadaan abadi, semakin jelas pula
ia melihat sang hewan yang menemuinya dalam cermin setiap kali ia bangun
menghadapi hari baru. Ia tidak dapat menemukan kedamaian dalam tatapan
memelas seorang primata yang berduka. Ia melihat seekor ikan yang tersihir,
seekor katak yang telah bermetamorfosis, seekor kadal yang berubah bentuk. Ini
adalah akhir dunia, pikirnya. Di sinilah perjalanan panjang evolusi terhenti
mendadak.”

Aku membacanya keras-keras, dan tiba-tiba

datang sebuah jawaban dari bingkai jendela.

“Aku suka bagian tentang ‘kadal yang berubah bentuk’,” ujar Gordon.
“Kenapa?”

“Entah bagaimana, bagian itu menekankan bahwa kamilah sesungguhnya yang


asli.”

“Omong kosong! Engkau juga seekor ikan yang tersihir.”

“Tetapi, aku tidak berubah bentuk. Aku tidak memiliki lipatan otak yang terlalu
banyak. Aku memiliki sistem saraf yang benar-benar cukup untuk melakukan
tugasnya, tidak lebih dan tidak kurang.”

“Baiklah, kalau begitu, aku ganti saja menjadi ‘seekor kadal yang berdiri
tegak’.”

“Menurutku, sebaiknya engkau tetap menggunakan ‘berubah bentuk’, dan tidak


hanya karena adanya lipatan-lipatan yang berlebihan itu di dalam otakmu, tetapi
juga demi ritme bahasanya. Juga demi hubungan yang baik dengan tetangga.”

“Aku punya yang lain lagi,” ujarku, dan aku membacanya keras-keras sambil
menulis:

“Joker adalah seorang malaikat yang tengah menderita. Adalah sebuah


kesalahpahaman yang fatal yang menyebabkannya mengenakan tubuh dari darah
dan daging. Ia ingin hidup sebagai seorang primata hanya selama beberapa detik
kosmos, tetapi ia telah mencopot tangga surga di belakang punggungnya. Jika
tidak ada yang menjemputnya sekarang, jam biologisnya akan berdetak semakin
cepat dan lebih cepat, dan terlambatlah untuk kembali ke surga.”

Aku melihat ke atas.

“Omong kosong yang romantis, kalau kau ingin tahu pendapatku.”

“Aku belum bertanya apa pun kepadamu.”

“Bagaimana jika keabadian itu tidak ada?” “Itulah persisnya yang membuatku
begitu gusar. Tetapi juga sedih. Aku adalah seorang primata yang berduka.”

“Tetapi, engkau mengasumsikan bahwa ada sebuah surga tempat malaikat dapat
berinkarnasi, hanya untuk suatu hari menyadari bahwa mereka begitu
terperangkap dalam jerat alam duniawi sehingga tidak dapat menyeret diri
mereka pulang kembali.”

“Apakah sebaiknya aku memasukkan kalimat itu? begitu terperangkap dalam


jerat alam duniawi sehingga tidak dapat menyeret diri mereka pulang
kembali1?”

“Tentu saja tidak. Hampir tidak mungkin ada dunia selain dunia ini, dan dunia
ini berjalan dalam waktu dan ruang.”

“Aku tahu itu!” aku hampir menjerit.‘“Dan itu satu-satunya alasan mengapa
engkau mengatakan hal itu. Tetapi dalam kiasanku itu, ada sebuah “jika” yang
tersirat, kau tahu? Aku memang seperti seorang malaikat yang berduka dan
hanya jika malaikat memang ada. Engkau harus mencoba membayangkan
seorang malaikat yang tengah berduka tersesat di tengah kubangan daging yang
berguncang-guncang. Malaikat itu tiba-tiba menyadari bahwa ia telah melakukan
sesuatu yang mengerikan
sekaligus tak terhindarkan karena tidak dapat menemukan jalan untuk kembali
ke surga. Tidakkah kau lihat betapa fatal hal ini bagi sang malaikat? Sebelumnya
ia beranggapan bahwa berdasarkan aturan alamiah penciptaan, keberadaannya
tidak akan pernah berakhir. Selama ini ia selalu ada dan memiliki kontrak
surgawi bahwa itulah yang akan selalu terjadi, dunia tanpa akhir. Tetapi
terjadilah sebuah kesalahan, sebuah kesalahan tragis sama seperti buah apel di
Taman Firdaus menyebabkan kesalahan kini akhirnya sang malaikat menyadari
bahwa statusnya telah sangat terpuruk, karena dengan satu gebrakan, ia telah
diubah menjadi malaikat biokimia, yaitu seorang manusia, yang merupakan
sebuah mesin kehidupan yang dijalankan dengan protein, hampir sama dengan
seekor ikan atau seekor katak. Ia berdiri di hadapan cermin dan menyadari
karena kesalahan yang bodoh itu, ia kini tidak lebih berharga daripada seekor
tokek.”

“Seperti yang telah kukatakan, kami tidak pernah mengeluh tentang status
keberadaan kami.”

“Tetapi aku tidak seperti itu!”

“Karena engkau memiliki satu lipatan terlalu banyak.”

“Ya, ya. Dan tidak demikian halnya dengan sang malaikat. Mungkin ia memiliki
daya pemahaman yang persis sama dengan manusia, maksudku cukup untuk
memahami konsep-konsep tertentu mengenai alam semesta; tempat ia akan terus
ada untuk selamanya berbeda dengan manusia. Di situlah letak perbedaan yang
sangat besar, hanya di situ. Jika

dilihat dari sudut pandang ini, sang malaikat memiliki daya pemahaman yang
cukup, sesuai dengan statusnya dalam kosmos. Secara pribadi, aku mengetahui
jauh terlalu banyak mengingat aku berada di sini hanya untuk waktu yang
singkat.”

“Tidak ada gunanya membahas pemahaman seorang malaikat setelah engkau


baru saja mengakui tidak percaya bahwa mereka ada.”

Aku tidak memedulikannya.

“Aku berasal dari rumah sang salamander,” lanjutku. “Dan bertentangan dengan
latar belakang berupa pendeknya masa keberadaanku di sini, aku memiliki satu
atau dua lipatan otak yang berlebih. Jadi yang aku diskusikan ini bukanlah
sebuah topik intelektual, melainkan sebuah pertanyaan yang berhubungan
dengan perasaan, juga sebuah pertanyaan mengenai moral. Aku merasa sungguh
sesak sekaligus sedih dihadapkan dengan betapa pendeknya hidup ini dan berapa
banyak yang sudah harus kutinggalkan. Ini tidak adil.”

“Mungkin sebaiknya engkau menggunakan waktu yang disediakan untukmu


dengan melakukan sesuatu selain menyesali kenyataan bahwa waktumu itu
begitu pendek.”

“Bayangkan engkau berada dalam perjalanan panjang,” ujarku. “Tiba-tiba,


engkau diundang ke dalam sebuah rumah milik seorang baik hati yang kau
temui, tetapi hanya untuk sebuah kunjungan singkat. Pada saat yang sama, kau
juga tahu bahwa engkau tidak akan pernah dapat kembali ke rumah itu, atau
dalam hal ini, ke negara atau kota

itu.”

“Engkau masih bisa duduk dan menikmati percakapan yang menyenangkan.”

“Tentu saja. Tetapi, aku tidak perlu mengetahui segalanya tentang bagaimana
rumah itu berfungsi. Aku tidak perlu tahu letak semua sendok sup dan panci,
tempat gunting rumput dan seprai disimpan. Aku tidak perlu tahu bagaimana
perkembangan kedua anak di sekolah atau apa yang disajikan oleh ayah dan ibu
kepada tamu mereka pada ulang tahun pernikahan perak mereka tahun lalu.
Memang menyenangkan jika sang tuan rumah menunjukkan keadaan rumahnya
sedikit. Aku tidak menyepelekan ramah tamah seperti itu, tetapi sudah
keterlaluan jika sang tuan rumah menjelaskan segala sesuatu tentang rumah itu,
dari bawah tanah hingga loteng, padahal engkau hanya datang untuk minum
kopi.”

“Sama seperti dua atau tiga lipatan itu.”

Aku tidak membiarkan perhatianku dialihkan.

“Jika aku tinggal selama beberapa bulan, tentu masalahnya akan sedikit berbeda.
Karena pastilah mereka adalah orang-orang yang menarik untuk dikenal jika
tidak, aku hampir tidak mungkin akan singgah di tempat mereka, walaupun aku
tidak menyadari bahwa mereka akan menggunakan begitu banyak waktu dalam
persinggahan singkatku itu untuk membangga-banggakan kehidupan sempurna
mereka, rumah mereka yang juga sempurna, lengkap dengan pemanas di bawah
lantainya dan Jacuzzi baru. Aku harus mengejar pesawat, aku akan berangkat ke
belahan dunia yang lain. Aku gelisah,

karena dalam waktu singkat, aku akan bangkit dan meninggalkan tempat itu,
taksi mungkin akan segera datang, dan aku tidak akan pernah kembali ….
Apakah engkau sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang kumaksud?”

“Aku benar-benar mulai mengerti bahwa engkau terlalu banyak mengerti.”

“Terlalu banyak, tepat sekali, itulah yang kumaksud selama ini. Hampir sembilan
puluh sembilan persen dari genku sama dengan gen simpanse dan masa hidup
kami hampir sama tetapi kurasa engkau tidak tahu sama sekali berapa banyak
lagi yang kumengerti, namun kutahu bahwa aku harus memisahkan diri
dengannya. Contohnya, aku memiliki cukup pengetahuan mengenai betapa luar
angkasa begitu luas tanpa batas dan bahwa ia dibagi menjadi galaksi dan
kumpulan galaksi, spiral dan bintang-bintang yang berdiri sendiri, dan bahwa
ada bintang-bintang yang sehat dan raksasa merah yang sedang demam, katai
putih dan bintang neutron, planet-planet dan asteroid. Aku tahu segalanya
mengenai Matahari dan Bulan, mengenai evolusi kehidupan di Bumi, mengenai
para Fir’aun dan dinasti-dinasti di Cina, negara-negara di dunia dan rakyat
mereka sebagaimana terlihat saat ini. Belum lagi segalanya yang telah kupelajari
mengenai tumbuh-tumbuhan dan hewan, kanal dan danau-danau, sungai dan
celah-celah gunung. Tanpa harus berhenti untuk berpikir, aku dapat
menyebutkan kepadamu namanama beberapa ratus kota, aku dapat menyebutkan
kepadamu namanama hampir semua negara di dunia, dan aku tahu perkiraan
jumlah populasi di setiap negara tersebut. Aku memiliki pengetahuan tentang
latar belakang sejarah dari berbagai kebudayaan yang berbeda, agama dan mitos-
mitos mereka, dan hingga taraf tertentu, juga sejarah bahasa mereka, terutama
hubungan etimologinya, khususnya dalam kelompok bahasa Indo-Eropa. Tetapi,
aku juga yakin dapat menyebutkan cukup banyak istilah dari bahasa-bahasa
Semit, dan beberapa dari bahasa Cina dan Jepang, ditambah lagi seluruh
topografi dan namanama pribadi yang kutahu. Sebagai tambahan, secara pribadi
aku mengenal beberapa ratus individu, dan hanya dari negara kecilku sendiri aku
dapat dalam waktu singkat menyebutkan kepadamu beberapa ribu nama rekan
senegaraku yang masih hidup bahkan data-data biografis yang cukup lengkap
dari beberapa orang di antara mereka. Dan aku tidak perlu membatasi diriku
dengan orang-orang Norwegia saja, kita hidup di desa yang semakin lama
semakin global, dan dengan segera, batas desa itu akan melingkupi seluruh
galaksi. Pada tingkatan yang lain, ada orang-orang yang sungguh-sungguh
kusukai, walaupun orang tidak hanya membentuk ikatan dengan orang-orang,
tetapi juga tempat. Pikirkan saja semua tempat yang kutahu dengan sangat baik,
dan aku dapat menyebutkan apakah seseorang telah memangkas sebuah semak-
semak atau memindahkan sebuah batu. Lalu ada buku, terutama semua buku
yang telah begitu banyak mengajariku tentang biosfer dan angkasa luar, tetapi
juga karya-karya

sastra. Melalui buku-buku tersebut, aku juga mengenal kehidupan orang-orang


khayalan yang, terkadang, begitu berarti bagiku. Dan kemudian, aku tidak dapat
hidup tanpa musik, dan pilihanku sangat beragam, segalanya mulai dari musik
tradisional dan musik Renaissance hingga Schbnberg dan Pende-recki. Tetapi
harus kuakui, dan hal ini punya bobot dalam perspektif yang sedang kita
upayakan, harus kuakui aku memiliki kesukaan khusus akan musik romantis,
dan hal ini, jangan lupa, juga dapat ditemukan di antara karya Bach dan Gluck,
juga Aibi— noni. Tetapi, musik romantis telah muncul pada setiap zaman, dan
bahkan Plato menyarankan untuk menghindarinya karena ia percaya bahwa
perasaan melankolis dapat melemahkan diri. Dan jika engkau mendengarkan
Puccini dan Mahler, akan sangat jelas bahwa musik telah menjadi sebuah
perwujudan langsung dari apa yang sedang kucoba sampaikan kepadamu, bahwa
hidup ini terlalu pendek dan fakta bahwa manusia tercipta memiliki arti bahwa
mereka harus meninggalkan terlampau banyak hal. Jika engkau pernah
mendengar Abschied dari Das Lied von der Erde ciptaan Mahler, engkau akan
tahu maksudku. Semoga engkau mengerti bahwa aku membicarakan perpisahan
itu sendiri, saat kepergian, dan hal itu terjadi di dalam organ sama yang menjadi
tempat penyimpanan segala yang kutinggalkan.”

Aku menghampiri tas kabinku dan membukanya, mengeluarkan botol ginku dan
meletakkannya ke mulut. Sungguh tidak perlu dikomentari karena aku hanya
menelan seteguk kecil, dan sebentar lagi

waktu makan malam.

“Kau sudah akan memulai?” ujarnya.

“Memulai? Kurasa, penggunaan kata-katamu itu terlalu berat sebelah. Aku


hanya minum sedikit karena aku haus, dengan kata lain untuk menyegarkan diri,
dan engkau berkata aku memulai.”

“Aku hanya khawatir kebiasaan minummu itu dapat semakin memperpendek


usiamu, jika hal yang terburuk terjadi.”

“Mungkin, dan aku dapat melihat letak paradoks itu, tetapi aku tidak berbicara
tentang menjadi tua, aku berbicara mengenai keabadian, dan sehubungan dengan
itu, beberapa tahun saja tidaklah penting.”

“Untung aku terbebas dari kekhawatiran mengenai keabadian.”

“Ya, aku tidak!” ujarku. Aku menyambar catatan yang telah kutulis, lalu
bergegas keluar dari kamar dan membanting pintu di belakangku keras-keras.

Dengan sengaja aku berjalan ke arah pondok Ana dan Jose, walaupun saat
semakin mendekat, aku sengaja memperlambat langkahku. Jadi, ketika aku
melewati beranda itu, seakan-akan, dengan sedikit keberuntungan, tampak
seperti kebetulan saja. Aku melipat kertasku dan menyelipkannya di saku
belakang.

“Anda ingin segelas anggur putih?” terdengar suara Ana.

“Ya, terima kasih.”

Ia mengambilkan sebuah kursi dan sebuah

gelas dari dalam, dan ketika kami telah duduk dan gelas-gelas telah terisi, aku
berpura-pura memandang penuh pemikiran ke arah pepohonan palem sambil
bergumam sesuatu kepada diriku sendiri, bagaikan tengah meresapi kalimat-
kalimat kuno:

“Semakin dekat Joker dengan ketiadaan abadi, semakin jelas pula ia melihat
sang hewan yang menemuinya dalam cermin setiap kali ia bangun menghadapi
hari baru. Ia tidak dapat menemukan kedamaian dalam tatapan memelas seorang
primata yang berduka. Ia melihat seekor ikan yang tersihir, seekor katak yang
telah bermetamorfosis, seekor kadal yang berubah bentuk. Ini adalah akhir
dunia, pikirnya. Di sinilah perjalanan panjang evolusi terhenti mendadak.”

Kau mungkin bisa mendengar jika ada jarum yang terjatuh, karena keadaan
langsung sunyi senyap di beranda itu sehingga membuatku takut. Aku yakin Ana
dan Jose saling berpandangan, tetapi tidak ada satu kalimat pun yang terucap
hingga akhirnya Ana bertanya apa pendapatku tentang anggur itu.
Aku telah menduga tanggapan semacam itu akan datang, karena apa yang
kukatakan hanya dapat diterjemahkan sebagai reaksi atas pertunjukan verbal
mereka sendiri beberapa hari terakhir ini. Tetapi, kami hanya duduk di sana
selama seperempat jam untuk membahas mengenai Fiji dan beberapa topik
umum lainnya.

Aku ingat sempat tercekat oleh kemungkinan teoretis yang mengerikan bahwa
semua yang kudengar terlontar di antara Ana dan Jose tidaklah berbeda dengan
percakapan khayalanku dengan Gordon. Tetapi, jika memang seperti itu
masalahnya, mengapa Ana dan Jose tidak berkomentar apa pun tentang
pernyataanku yang begitu tiba-tiba mengenai ikan yang tersihir dan primata yang
berduka? Peran kami secara tiba-tiba terbalik sepenuhnya.

Atau, apakah mereka merasa menjadi korban curi-dengar dan pengintaian karena
tak pernah ingin aku memahami kutipan-kutipan mereka? Kepercayaan diri
sepasang kekasih yang berenang tanpa busana di bawah sebuah air terjun tropis
mungkin tidak dimaksudkan bagi telinga pihak ketiga, dan tentunya tidak
menjamin akan adanya jawaban. Ditambah lagi, aku tidak memiliki alasan untuk
merasa terhina jika mereka terinspirasi untuk mengadaptasikan topik-topik
diskusi kami ke dalam gaya yang lebih puitis.

Aku harus mendapatkan lebih banyak kepastian. Setelah berterima kasih kepada
mereka atas anggur itu, sebutir kelapa terjatuh dari salah satu pohon, dan sekali
lagi aku berkata kepada diri sendiri dengan cukup keras untuk memastikan
mereka dapat mendengarnya:

“Joker adalah seorang malaikat yang tengah menderita. Adalah sebuah


kesalahpahaman yang fatal yang menyebabkannya mengenakan tubuh dari darah
dan daging. Ia ingin hidup sebagai seorang primata hanya selama beberapa detik
kosmos, tetapi ia telah mencopot tangga surga di belakang punggungnya. Jika
tidak ada yang menjemputnya

sekarang, jam biologisnya akan berdetak semakin cepat dan lebih cepat, dan
terlambatlah untuk kembali ke surga.”

Sekali lagi keadaan menjadi sunyi senyap, dan aku merasakan suatu atmosfer
kejengahan meliputi beranda itu. Aku tidak mendapatkan tanggapan sedikit pun
dari Vera, bahkan tidak dalam bentuk nonverbal. Dan aku harus menambahkan
bahwa sejak sore itu, segalanya telah berakhir. Setelah itu, tidak sekali pun Ana
dan Jose berdiskusi berdua di hadapanku. Sesuatu telah mati, mati tanpa dapat
dibangkitkan kembali seperti sang malaikat yang kehilangan kunci menuju
keabadian.

Kami berjalan bersama-sama memasuki pepohonan palem. Ana mengeluarkan


kameranya dan mulai mengambil foto-foto lagi. Aku juga mengambil foto
mereka di sini, misalnya ketika mereka berdiri di bawah pohon kelapa yang
dipasangi papan peringatan tentang bahaya buah kelapa.

Selain malaikat yang berduka, ada sesuatu mengenai kepala dan buah kelapa
berjatuhan yang membuatku berpikir betapa mudahnya mengubah sebuah foto
dan memasang foto-foto telanjang palsu seorang kenalan di internet. Tetapi aku
yakin sebelumnya pernah melihat wajah Ana dan bukan dalam foto. Aku benar-
benar yakin akan hal itu, begitu yakin sehingga aku harus bertanya kepada diriku
sendiri mengapa aku bisa begitu yakin mengenai sesuatu yang tidak dapat
kuingat.[]
Konferensi Tropis

KETIKA KAMI TIBA UNTUK MAKAN MALAM, MEJA-MEJA KECIL


TELAH DI dorong menjadi satu membentuk satu meja besar. Malam
sebelumnya, begitu selesai makan, para tamu berkumpul bersama, dan kuduga
para penjamu kami ingin membantu kami duduk berdekatan sejak awal makan
malam. Baru kemudian kuketahui inisiatif pengaturan tempat yang tidak biasa
ini ternyata datang dari Tuan Spooke, karena seperti yang diungkapkan Jochen
Kiess, Ma-ravu Plantation Resort ingin tetap menjadi tempat berlindung bagi
para individualis.

Aku tiba lebih awal dan punya cukup waktu untuk minum bir di bar dengan si
orang Inggris. Kami bercakap-cakap mengenai reptil-reptil di Oseania, dan
terutama mengenai tokek rumah, karena John juga menemukan beberapa di
antara mereka di kamarnya. Aku tidak mengatakan apa-apa mengenai kejadian
botol gin itu. Kasus itu akan tetap menjadi rahasia antara diriku dan sang pemilik
penginapan. Sebaliknya, harus kuakui aku bercerita kepadanya sedikit tentang
Oslo, termasuk tentu saja beberapa hal mengenai kita. Aku juga bercerita tentang
itu kepadanya. Aku bercerita bahwa kita telah kehilangan seorang anak dalam
sebuah kecelakaan lalu lintas.

Pada pagi itu, aku telah menelepon pusat konferensi di Salamanca untuk
memastikan namaku ada dalam daftar peserta, dan aku tidak dapat menahan diri
untuk menyebutkan kepada John bahwa aku telah mendapat informasi kalau
engkau juga akan ada di sana. Hanya saja aku tidak dapat memastikan apakah
engkau tahu aku akan datang. John menanggapi dengan bercerita bahwa ia
kehilangan istrinya beberapa tahun lalu karena sakit yang cukup lama. Namanya
Sheila, dan aku menduga lelaki itu memiliki ikatan batin yang sangat dalam
dengannya. Kami setuju bahwa hidup tidaklah mudah. Setelah bertahun-tahun
tidak aktif menulis, orang Inggris ini tengah mulai menulis catatan-catatan kecil
untuk sebuah novel baru. Hal itu membawa pembicaraan kami ke arah seni dan
kebudayaan secara umum, dan aku mengaku bahwa aku sangat mengagumi para
maestro dari Spanyol, terutama koleksi mereka yang sangat indah di Prado.
Mendengarnya, matanya membelalak seakan-akan ia teringat akan sesuatu yang
sangat penting.

Sementara kami duduk dan berbincang-bincang, para tamu mulai berdatangan.


Saat makan malam, Laura duduk di sebelah kananku dan Evelyn di sebelah kiri.
Mark, yang telah menjadi seorang pengacara penuh, duduk di samping Evelyn,
dan di kepala meja, di sebelah kiri Mark, duduklah Bill. John menempatkan
dirinya di depanku, dan di sebelah kirinya, di hadapan Laura, duduk Mario. Di
sisi lain sang orang Inggris duduklah Ana dan di sebelahnya Jose.

Aku akan mencoba menyebutkan hal-hal utama yang terjadi malam itu, dan
langsung menceritakan bagian-bagian yang penting saja. Sebelum puding
disajikan, John mengetuk gelasnya dan mengucapkan beberapa komentar singkat
mengenai pengaturan duduk yang kami lihat malam itu, inspirasi-inspirasi
intelektual langka yang sering dapat ditemui pada malam-malam tropis seperti
ini manusia sebenarnya memang makhluk tropis dan lebih khusus lagi, betapa
menyenangkannya dapat bertemu dengan kami semua, entah apakah kami
datang dari Eropa nun jauh di sana, Amerika, maupun Australia. Nyonya rumah
kami di Maravu, Nyonya Angela Kiess, juga memberitahunya sambil lalu bahwa
untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, tamu-tamu yang sama datang
untuk makan malam dua malam berturut-turut; biasanya sebagian orang datang
atau pergi pada siang hari. Terlebih lagi dan ini adalah niat sang orang Inggris
untuk malam ini ia percaya bahwa semua orang di meja ini, dengan
menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil kami, memiliki suatu persamaan, ya,
sebuah kelipatan persekutuan terkecil, kalau ia boleh meminjam istilah
matematika. Pendeknya: ia telah melakukan percakapan singkat dengan setiap
orang dari kami, dan menyadari bahwa dengan cara masing-masing, kami semua
menaruh minat khusus terhadap apa yang ia sebut sebagai dilema manusia
modern. Hal ini tampak jelas pada makan malam sebelumnya. Dan ia
mengharapkan bahwa diskusi yang akan berlangsung malam ini akan lebih
terfokus ketimbang

percakapan kemarin yang melebar. Bahkan, sebuah pertemuan nonformal pun


bisa mendapat manfaat dari adanya seorang pemimpin forum. Kemudian, ia
menyebutkan nama kami semua sambil berusaha bukannya tanpa kesulitan
untuk membentuk kami menjadi semacam perwakilan seluruh umat manusia
yang bertemu di bawah langit luas yang berbintang.

Rapat malam ini pun dimulai, dan John memberinya nama “konferensi tropis”.
Kemudian, ia mengucapkan pidato berikut. Tentunya ia telah merenungkan kata-
kata ini cukup lama:

“Ketika bertemu orang lain, baik di sebuah konferensi profesional atau di sebuah
pulau di Laut Selatan, sudah menjadi bagian kebiasaan kita untuk menyebutkan
nama Anda dan mengatakan tempat Anda tinggal, dan mungkin juga
menyebutkan informasi yang lain, terutama jika Anda akan bertemu dengan
orang itu selama beberapa hari. Mungkin Anda akan menyebutkan detail-detail
mengenai status pernikahan, pekerjaan, dan negara atau kota asal Anda. Dan
mungkin saja Anda menyadari bahwa Anda dapat berkenalan lebih dekat dengan
mereka, bahwa Anda memiliki minat yang sama, atau dalam hal ini, beberapa
masalah yang sama, seperti pasangan hidup yang terlalu pencemburu, atau
sebuah kekurangan fisik, suatu fobia yang langka atau orangtua yang belum
lama meninggal. Itu bagus!”

Aku melirik ke sekeliling meja, dan sebagian besar para tamu terlihat seperti
tanda tanya hidup. Laura yang malam itu mengenakan sebuah blus hitam dan
celana jins yang dipotong dengan sobekan-sobekan panjang meletakkan
tangannya di lenganku dan berbisik, “Ia benar-benar seorang badut.”

“Itu bagus!” ulang si orang Inggris. “Kebutuhan nyata yang mendorong


dilakukannya perkenalan seperti itu adalah keinginan untuk memamerkan diri
demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, apakah dalam segi jenis
kelamin, status, keadaan keuangan, koneksi sosial, atau prestasi dan keahlian-
keahlian khusus. Seni dalam hal ini adalah dengan tidak langsung menampakkan
aspek-aspek paling menguntungkan yang kita miliki, tetapi melakukannya
dengan cara yang paling wajar, tersamar, atau seperti tak disengaja. Karena,
manusia tidak semata-mata makhluk sosial. Di atas segalanya, manusia adalah
makhluk yang besar kepala, lebih besar kepala, menurut saya, dibandingkan
semua vertebrata lainnya. ‘Lihatlah betapa mengagumkan dan pintarnya diriku,’
demikian kata kita. Saya harap, Anda semua menyadari bahwa saya bukan orang
kebanyakan. Saya punya dua orang putra yang sudah dewasa, keduanya tengah
kuliah, dan seorang putri remaja yang ingin menjadi aktris atau seniman. Itu
benar! Nah, putri kami baru saja menikah dengan putra wali kota Liverpool,
lelaki itu benar-benar tergila-gila kepadanya. Anda juga dapat melihat bahwa
saya cukup kaya. Ya, benar, nama kami sama dengan perusahaan baja itu,
pendirinya adalah kakek buyut saya. Oh, saya telah membaca sebagian dari
Derrida tentu saja, dan selama beberapa hari terakhir ini, ada sebuah buku

karangan Baudrillard di samping tempat tidur saya. Saya juga meminati karya
seni; kami punya sebuah lukisan kecil karya Monet di kamar tidur dan sebuah
karya Miro di ruang duduk, dan sesungguhnya, kami baru saja menggantungkan
sebuah cermin baroque di atas perapian ….”
Ia memotong dirinya sendiri dengan berseru: “Baiklah! Bagus!”

Aku menatap sekelilingku lagi dan melihat beberapa orang lain juga tengah
melakukan hal yang sama, karena pada saat itu tidak ada yang benar-benar tahu
arah pidatonya ini. Setidaknya itulah yang saat itu kupikirkan, walaupun
kemudian aku bertanya-tanya apakah ia punya kaki tangan di antara kita.

“Udaranya panas,” kata Bill. “Mungkin sebaiknya kita memesan beberapa botol
anggur putih? Atau apakah sebaiknya saya membuka sampanye?”

Tetapi, John terus melanjutkan.

“Di samping semua ini, di samping segala gaun dan makan malam, bedak dan
penjepit dasi, rekening bank dan cermin baroque di atas perapian di samping
segala embel-embel sosial kita mungkin memiliki dua atau sepuluh tahun, atau
paling banyak beberapa puluh tahun lagi untuk hidup di planet ini. Dan karena
itu, ya, karena itu, umumnya kita diserang serentak oleh sejumlah sudut pandang
tentang eksistensi, walaupun kita jarang membicarakan hal itu. Oleh karena itu,
saya menyarankan agar malam ini kita mencoba meninggalkan minat dan
aktivitas-aktivitas kita sehari-hari, dan berkonsentrasi pada sesuatu yang
memengaruhi kita semua.”

Pada saat itu, karena aku teringat akan sesuatu yang kubicarakan dengan Gordon
malam sebelumnya, tiba-tiba aku mengucapkan, “Contohnya alam semesta.”

Aku hanya menggumamkan kata-kata itu kepada diriku sendiri, tetapi John
bertanya, “Apa yang Anda katakan?”

“Contohnya alam semesta,” ujarku.

“Bagus sekali, benar-benar bagus sekali. Jadi sekarang, kita telah mendapatkan
usul agar mencoba mengonsentrasikan percakapan malam ini pada alam
semesta. Oleh karenanya, kita akan menyingkirkan politik partai ke satu sisi,
begitu juga Linda Tripp dan Monica Lewinsky, walaupun saya tidak pernah
mengerti bagaimana skandal sebesar itu dapat tercipta dari potensi erotis
sebatang cerutu Havana tetapi cukup mengenai hal itu, lebih dari cukup. Kita,
dan dengan mengatakan hal itu yang saya maksud adalah setiap orang dari kita,
bukanlah produk dari masyarakat yang dibentuk manusia semata. Kita juga
hidup di bawah sebuah langit yang sangat misterius, penuh dengan bintang dan
galaksi, dan bahkan satelit-satelit kita sendiri hampir tidak dapat membedakan
cerutu Havana yang dilarang dengan cerutu Brasil yang tidak berbahaya.”

Aku merasakan berputarnya aura penuh kegelisahan di sekeliling meja. Ana dan
Jose benar-benar meresapi semangat dari semua ini, walaupun mereka bisa saja
adalah bagian dari komite yang mengorganisasi acara ini. Kurasa, kini Laura
juga mulai tertarik, walaupun hanya beberapa menit yang lalu ia menyebut John
seorang badut. Di pihak lain, kurasa Mark dan Mario hanya mengikuti
permainan ini sambil menderita, dan Evelyn, yang kuliah farmasi di Seattle,
dengan segera mengatakan bahwa ia tidak tahu apa pun mengenai astronomi dan
lebih baik mundur saja. Bill tampak benar-benar apatis; bahkan saat John tengah
berbicara, ia memanggil sang lelaki dengan bunga di belakang telinga kirinya
dan memesan sesuatu. Sedangkan aku menerjunkan diri ke dalam situasi itu, dan
ke dalam Maravu Plantation Resort sebagai tempat berlindung bagi pertanyaan-
pertanyaan besar selain juga bagi para individualis.

John mulai berusaha mencairkan pertemuan itu dengan bertanya berapa banyak
dari kami percaya akan adanya kehidupan di planet lain. Karena Evelyn tidak
ingin menjawab pertanyaan itu sedikit pun, perkumpulan itu pun terbagi menjadi
dua pihak yang sama besar, dan John telah siap untuk menarik kesimpulan
pertama kalinya malam itu.

“Luar biasa! Saya harus mengatakan bahwa saya terkesan dengan pendapat yang
muncul dalam forum ini. Saya mengemukakan pertanyaan paling fundamental
mengenai kondisi alam semesta dan dapat menyatakan bahwa, hanya dalam
waktu beberapa menit, saya telah mendapatkan empat jawaban yang benar-benar
tepat dari pertanyaan tersebut. Walaupun keempat jawaban yang lain

sama sekali salah.”

“Jadi, Anda tahu jawabannya?” komentar Mario. Sang ketua tidak


memedulikannya. Ia melanjutkan:

“Karena mungkin saja ada kehidupan di alam semesta atau mungkin tidak ada.
Tertium non da-tur! Tentu saja, sekadar gagasan bahwa angkasa luar di atas sana
dipenuhi kehidupan sudah cukup membuat kepala kita pusing. Tetapi, mungkin
juga bahwa kehidupan hanya terbatas ada di planet kita, walaupun hal itu tidak
membuat kenyataan lebih mudah diterima; memikirkan hal itu pun bisa
membingungkan. Maka, jelas bahwa empat dari kita yang hadir telah
memberikan jawaban yang tepat dan benar atas pertanyaan yang kita ajukan.
Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan yang sulit tidaklah harus begitu
rumit.”

“Anda belum mengatakan yang mana di antara kita yang memberikan jawaban
yang benar,” Mario merajuk.

“Hal itu tidak penting,” John menekankan. “Sejauh yang saya tahu, adalah
keberhasilan yang luar biasa bahwa ada empat orang yang duduk di sekeliling
meja ini memberikan jawaban yang benar mengenai keberadaan kehidupan di
luar sana.”

Saat itulah secara memalukan aku bertindak terlalu terburu-buru.

“Sudah pasti ada kehidupan di luar sana,” ujarku. “Di alam semesta ini mungkin
ada seratus miliar galaksi, dan setiap galaksi memiliki seratus miliar bintang.
Sungguh sia-sia ruang teramat luas itu

jika kita memang sendirian.”

“Itu adalah sebuah komentar yang menarik,” jawab Jose.

“Mengapa?”

“Kemarin malam, Anda sangat menekankan bahwa tidak ada kesengajaan di


balik proses alam.” “Saya masih berpendapat demikian,” aku menegaskan.

Ia pun menyerangku: “Dan hari ini, Anda bilang sungguh sia-sia ruang teramat
luas itu jika kita memang sendirian di sini ….”

Aku mengangguk karena belum menyadari kerancuan pemikiranku. Tetapi


perangkap telah terpasang, Vera, karena ia berhasil menjebakku: “Lalu mungkin
Anda dapat mengatakan kepada kami siapakah, atau siapakah yang tidak,
menyia-nyiakan ruang itu?”

Aku hanya bisa menelan rasa malu dan mengakui bahwa ia telah membuktikan
kalau aku tidak konsisten. Pada saat yang sama, terpikir olehku, orang-orang
pertama yang menggunakan argumen “ruang yang tersia-sia” untuk mendukung
pendapat bahwa alam semesta ini dipenuhi kehidupan sering juga merupakan
orang-orang yang begitu berapi-api menyangkal adanya makna lebih mendalam
di balik proses-proses alam. Tetapi, jika penciptaan kehidupan di Bumi ini
memang tidak lebih dari sebuah kebetulan yang gila, semakin tidak masuk akal
untuk mempertahankan kebetulan gila yang sama itu sebagai suatu prinsip
kosmos.
John melanjutkan dengan membahas beberapa

pertanyaan lain mengenai kosmologi. Setiap pertanyaannya selalu membagi para


peserta menjadi dua kubu. Ia ingin tahu apakah energi kosmik memang selalu
ada, dan jika tidak, kami harus memutuskan apakah energi itu sepenuhnya
melakukan evolusi dengan sendirinya atau diciptakan oleh suatu kekuatan
internal atau eksternal. Kemudian ia ingin tahu apakah alam semesta akan terus
meluas, atau jika massanya begitu besar, apakah ia akan menyatu kembali dan
lalu menyebabkan banyak Big Bang baru yang tak terhitung jumlahnya berikut
alam-alam semesta lain yang tercipta karenanya. Ia berusaha untuk mencari tahu
apakah ada kesadaran transenden ataukah semesta fisik adalah satu-satunya yang
ada. Lalu ia tertarik untuk mendengar pendapat kami mengenai apakah manusia
memiliki ruh yang bertahan setelah otaknya mati, atau apakah segalanya di alam
ini berusia pendek. Apakah fenomena-fenomena adi indriawi benar-benar ada,
tanyanya, ataukah setiap fenomena tersebut hanyalah fantasi belaka, tidak lebih
dari sisa-sisa cara memandang dunia melalui mitos atau bahkan animisme yang
masih tertinggal dalam pikiran manusia modern? Setiap kali John selalu
mengomentari bahwa pertemuan itu terbagi menjadi dua kubu yang
bertentangan, dan mengingatkan kami bahwa setidaknya sebagian dari kami
yang hadir telah memberikan jawaban yang benar dari pertanyaan-pertanyaan
yang ia tanyakan, karena tidak pernah sekalipun kami semua memiliki
pandangan yang sama.

“Ya atau tidak!” John Spooke menegaskan dengan suaranya yang berlogat
Inggris Oxford sebelum menutup persamaan-persamaan kuadrat mengenai
keberadaannya dengan sebuah istilah Latin: Tertium non datur1.

Tidak lama kemudian, lelaki dengan bunga di belakang telinga kirinya


meletakkan dua botol sampanye pesanan Bill di atas meja, dan kini percakapan
sepenuhnya memasuki sebuah fase baru. John ingin berkeliling meja sehingga
setiap orang dapat bergantian memberikan sebuah rangkuman singkat mengenai
filosofi hidup mereka. Kini kami semua tertarik; bahkan Evelyn pun mulai
menyambut ide ini.

Jose memulai lebih dulu, dan mengambil kesempatan itu untuk mengeluarkan
argumen yang dapat kusebut sebagai sudut pandang antroposentris. Ia percaya
bahwa ukuran alam semesta tidak mungkin pernah jauh lebih kecil, atau
susunannya terlalu berbeda, daripada yang ada sekarang, untuk memungkinkan
kemunculan manusia di alam semesta ini. Kesimpulan yang ia ambil selalu jauh
melebihi argumen-argumen yang ia kemukakan. Tetapi, ia mengingatkan kami
bahwa otak manusia mungkin adalah benda paling rumit di seluruh alam
semesta, dan pada dasarnya jauh lebih sulit untuk dimengerti dibandingkan
bintang-bintang neutron dan lubang hitam. Terlebih lagi, otak tersusun dari
atom-atom yang pernah mendidih dalam bintang-bintang yang telah lama
padam, dan jika alam semesta tidak sebesar ini, ia tidak akan mungkin
menciptakan bintang dan planet-planet, atau bahkan mikro organisme sekalipun.
Bahkan, sebuah planet “tanpa inteligensi” seperti Yupiter memiliki peran vital
sehingga kami dapat duduk di sini dan bercakap-cakap dengan begitu rasional.
Jika bukan berkat medan gravitasi yang begitu besar dari planet raksasa itu,
Bumi akan terus-menerus dihujani meteor dan asteroid. Tetapi, Bapa Jove
(Yupiter) berperan seperti sebuah pengisap debu terhadap kekuatan chaos. Jika
tidak, tidak mungkin di planet Tellus (Bumi) terbentuk sebuah biosfer dan,
akhirnya, kehidupan manusia. Ia menjelaskan semua ini dengan sikap yang
membuatku teringat tentang kebiasaan para kepala suku Fiji zaman dahulu yang
menggunakan seorang manusia nyamuk untuk tidur nyenyak. Jika Bumi adalah
sang kepala suku dan meteor-meteor adalah kumpulan nyamuk, Yupiterlah yang
menyediakan jasa sebagai manusia nyamuk. Kita pun tidak boleh lupa bahwa
selama ini Yupiter telah menderita beberapa gigitan nyamuk yang parah, satu
saja, menurut Jose, akan cukup untuk menghabisi seluruh kehidupan di atas
Bumi.

“Beri saya sebuah planet yang hidup!” demikian ia menutup orasinya. “Dan
sejauh yang saya tahu, ada kemungkinan hanya Bumi yang memenuhi syarat
untuk disebut demikian, asalkan, tentu saja, tidak ada suatu kekuatan yang
memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan ruang. Walaupun dapat dimengerti jika
ternyata seluruh massa alam semesta hanya cukup untuk menciptakan satu
kesadaran yang mampu untuk mengajukan teori-teori seperti ini. Dapat
dimengerti pula jika diperlukan banyak

waktu untuk menciptakan apa pun yang serumit pikiran manusia, tidak hanya
sekadar tujuh hari. Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas miliar
tahun setelah ledakan itu terjadi.”

Bill berargumen bahwa hanya tinggal menunggu waktunya bagi sains untuk
mengungkap semua rahasia zat dan alam semesta. Mark mengisyaratkan bahwa
semakin banyak riset mendasar akan dibiayai perusahaan-perusahaan
multinasional. Sedangkan, Evelyn memegang teguh kepercayaan terhadap Yesus
sebagai juru selamat umat manusia dan alam semesta.

Kemudian giliran Laura. Laura tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia


mengambil banyak inspirasi bagi pandangan hidupnya dari filsafat India,
terutama vedanta, satu dari enam aliran ortodoks, atau lebih tepatnya kevai
advaita, sebuah istilah yang dikutip dari sang filosof Shankara, yang hidup di
India pada awal abad ke-19. “Keval advaita” berarti “nondualisme absolut” ujar
Laura kepada kami. Ia meneruskan dengan memberitahukan bahwa hanya ada
satu kenyataan, yang disebut oleh orang-orang India sebagai brahman atau
mahatman, yang artinya adalah “jiwa dunia” atau lebih harfiahnya “jiwa besar”.
Brahman hidup kekal, tidak dapat terbagi dan tidak berwujud. Jadi, semua
pertanyaan John memiliki satu jawaban, dan hanya satu jawaban, karena
brahman lah jawaban dari semua pertanyaan yang ia lontarkan.

“Ya ampun, Laura,” terdengar Bill yang baru saja mengungkapkan optimisme
ilmiah yang hampir

naif menghela napas panjang.

Tetapi, Laura tidak membiarkan perhatiannya dialihkan. Ia menjelaskan bahwa


segala keanekaragaman hanyalah sebuah ilusi. Sebuah ilusi yang menyebabkan
kehidupan sehari-hari kita menunjukkan sebuah dunia yang memiliki banyak
sisi, ujarnya sebuah ilusi yang selama beribu-ribu tahun oleh orang-orang India
disebut maya. Karena dunia yang sesungguhnya bukanlah dunia luar yang
tampak atau dunia materi. Itu hanyalah sebuah ilusi, dan tampak nyata bagi
mereka yang terpengaruh. Namun, bagi orang-orang bijak, hanya brahman atau
sang jiwa dunialah yang sejati. Jiwa manusia identik dengan brahman, ia
melanjutkan, dan hanya ketika kita menyadari hal ini, ilusi realitas eksternal
lenyap. Jiwa manusia pun menjadi brahman, yang sebenarnya selalu begitu
adanya, tetapi tak disadari.

“Kurasa, kita memang mengharapkan hal itu,” komentar John. “Dunia eksternal
tidak ada dan semua keanekaragaman hanyalah sebuah ilusi.”

Laura tidak terpancing oleh umpan tersebut. Ia meraba rambut hitamnya yang
terkepang dan tersenyum nakal ke sekeliling meja sambil menjelaskan dengan
lebih terperinci.

“Ketika Anda bermimpi, Anda berpikir menjadi bagian dari sebuah kenyataan
yang memiliki banyak sisi dan bahwa Anda berada di dunia eksternal. Tetapi,
segala sesuatu di dalam dunia mimpi yang penuh ilusi itu adalah produk dari
jiwa Anda sendiri, mimpi itu adafah jiwa Anda dan tidak lebih. Masalahnya
adalah Anda tidak menyadari hal ini hingga

Anda terbangun, dan kemudian mimpi itu tidak lagi ada. Ketika semua topeng
kepalsuan dalam mimpi itu telah dilucuti, muncullah apa yang sebenarnya ada
selama ini, yaitu tidak lain diri Anda sendiri.”

“Saya tidak mengenal teori itu,” ketua kami mengakui. “Walaupun teori itu
menarik sekaligus radikal. Tentunya hampir tidak mungkin untuk
membuktikannya salah ….”

Ia menimbang-nimbang sesaat, kemudian berkata, “Apakah Anda benar-benar


mengatakan ‘maya’?”

Si wanita mengangguk, dan si orang Inggris kemudian mengalihkan lirikannya


kepada Ana yang duduk di sebelah kanannya. Kuperhatikan wanita itu
menunduk, dan pada saat yang sama, Jose melingkarkan lengannya memeluk si
wanita dan menariknya mendekat.

“Kita percaya bahwa kita adalah sembilan jiwa yang duduk di sekeliling meja
ini,” Laura menunjukkan. “Dan hal itu disebabkan oleh maya. Pada
kenyataannya, kita adalah aspek dari jiwa yang satu dan sama. Ilusi maya lah
yang membuat kita berpikir bahwa orang lain adalah sesuatu yang berbeda dari
diri kita. Itulah mengapa kita tidak perlu khawatir akan kematian. Tidak ada
yang bisa mati. Satu-satunya yang menghilang ketika kita mati adalah imajinasi
kita sendiri yang merasa terpisah dari seluruh dunia begitu kita memercayai
bahwa mimpi kita bukanlah bagian dari jiwa kita sendiri.”

John berterima kasih kepada Laura atas kontribusinya, dan kini adalah giliran
Mario.

“Saya seorang Katolik,” hanya itu yang diucapkannya, dan ia melambaikan


tangan untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat ia tambahkan.

Tetapi, John tidak mengizinkannya mengelak dengan begitu mudah, dan


akhirnya sang pelaut kesepian itu pun menjelaskan.

“Anda semua duduk di sini dan bercakap-cakap dengan begitu entengnya


tentang sesuatu yang dapat Anda lihat, sementara pada kenyataannya kedua mata
Anda buta. Anda berkata dapat melihat semua bintang dan galaksi, evolusi
kehidupan di Bumi, dan bahkan materi genetik. Anda melihat keteraturan
muncul dari kekacauan dan Anda bahkan menyombongkan diri dapat melihat
masa lalu hingga saat terjadinya penciptaan. Dan pada akhirnya, Anda
menyatakan telah membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada! Bravo!”

Karena ia tidak melanjutkan, John berusaha membujuknya agar memulai lagi,


dan setelah terdiam sejenak, Mario pun berkata, “Kita sudah pernah datang ke
hampir segala tempat sekarang, dan belum pernah sekalipun menemukan adanya
suatu bentuk ketuhanan. Tidak ada Tuhan yang menunggu kita di atas Puncak
Everest. Tidak ada meja yang telah disiapkan bagi kita di permukaan Bulan.
Bahkan, kita belum pernah melakukan kontak radio dengan Roh Kudus. Tetapi,
jika kita bermain petak umpet, petak umpetlah yang kita dapatkan. Yang saya
coba katakan adalah: siapakah yang memiliki filsafat tentang dunia yang paling
naif? Para teolog?

Atau para reduksionis?”

Ketika Evelyn bertepuk tangan singkat, Mario melanjutkan, dan segera menjadi
lebih antusias. Ia menyebutkan bahwa saat muda, ia adalah seorang guru fisika,
dan hingga kini masih mengikuti informasi dengan membaca majalah dan buku-
buku mengenai subjek itu.

“Kita telah lama melihat menembus biosfer. Segalanya hanyalah makromolekul,


hanya protein bahkan tidak hanya itu, tetapi tidak lebih dari campuran asam-
asam amino. Luar angkasa juga tidak terlalu menarik. Hanya sebuah Ledakan
Dahsyat yang memulai segalanya. Tidak ada yang misterius mengenai apa pun:
efek Doppler, radiasi latar belakang kosmik, ruang melengkung, atau apa pun di
atas sana. Itulah yang disebut fisika, atau fisika teoretis. Hanya kesadaranlah
misteri yang tersisa, walaupun jika Anda menguraikannya, tidak banyak yang
dapat dikagumi mengenainya, sama seperti hal-hal lainnya di alam semesta ini.
Kesadaran juga hanya tersusun dari atom-atom dan molekul-molekul. Filsafat
mungkin akan mendapatkan libur panjang. Karena tidak ada lagi teka-teki yang
tersisa untuk ditebak. Atau, apakah ilmu pengetahuan yang memerlukan istirahat
untuk berpikir? Mungkin ilmu pengetahuanlah yang hampir mati. Satu-satunya
yang membuat kita khawatir sekarang dan dengan mengatakan “kita”, harus saya
tambahkan bahwa kita adalah kaum minoritas adalah dunia itu sendiri. Tetapi,
beri saja beberapa argumen yang rumit, dan kami tidak akan bertanya lebih
lanjut.”
Evelyn bertepuk tangan lagi, dan Jose dan Bill mengangguk-angguk.

Setelah Mario adalah giliran John.

“Saya telah ungkapkan keyakinan saya bahwa sebenarnya banyak masalah besar
yang kita ajukan dapat diselesaikan dengan satu jawaban sederhana.
Kesulitannya adalah tidak mudah memilih di antara jawaban-jawaban yang ada.
Saya juga berusaha untuk menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan mengenai
kosmos mungkin lebih cocok diajukan dalam permainan-permainan saat pesta
dibandingkan untuk analisis ilmiah. Ilmu pengetahuan telah memberi kita teori
evolusi, teori relativitas, fisika kuantum, juga teori Big Bang yang menarik.
Baiklah, bagus! Semua itu bagus. Pertanyaannya lalu apakah ilmu alam telah
mulai mendekati akhir. Walaupun dalam waktu dekat kita akan dapat memetakan
seluruh genom manusia dengan beratus-ratus ribu gen yang ada di dalamnya
sepertinya tetap tidak mungkin hal ini membuat kita menjadi lebih bijak. Peta itu
sendiri hampir pasti akan memajukan bioteknologi dan mungkin membantu
menyembuhkan berbagai penyakit, tetapi kemungkinan besar tidak akan
menunjukkan apakah sesungguhnya kesadaran itu atau menjawab mengapa
kesadaran itu ada. Dan kita dapat terus bertahan dalam situasi seperti itu.
Jawaban untuk pertanyaan apakah ada kehidupan di sebuah galaksi yang jauhnya
beberapa ratus juta tahun cahaya dari kita adalah sesuatu yang tidak akan pernah
kita tahu, karena jaraknya terlalu jauh. Dan walaupun kita selalu

memperdalam pemahaman kita tentang evolusi alam semesta, kita tidak akan
pernah bisa memberikan penjelasan ilmiah mengenai apakah alam semesta itu.

Tetapi, izinkan saya meminjam sebuah perumpamaan dari Laura, yang


membandingkan dunia luar sebagai sebuah mimpi. Ini adalah sebuah alegori
yang luar biasa. Jika dunia ini adalah sebuah mimpi, ilmu pengetahuan berusaha
menganalisis apakah sesungguhnya zat-zat dari mimpi itu sendiri. Ilmu
pengetahuan berusaha mengukur jarak dari satu ujung mimpi ke ujung lainnya.
Tetapi, semua orang juga setuju bahwa waktu dan ruang runtuh jika kita
mengintip ke sisi-sisi luar alam semesta dan jika kita menengok ke belakang
hingga saat terjadinya Big Bang, walaupun sesungguhnya kita membicarakan
dua sisi dari sebuah koin yang sama. Karena, semakin jauh kita melihat ke dalam
alam semesta, semakin jauh pula kita melihat kembali ke dalam sejarahnya.
Maka, kita pun mencoba sedapat mungkin untuk mencari jalan kita dalam mimpi
itu. Dan bagus, semua ini memang baik. Tetapi, kita tidak dapat keluar dari
mimpi itu. Kita tidak akan pernah dapat melihatnya dari luar. Kepala kita
terantuk pada batas terakhir mimpi itu sama seperti seseorang yang autis
mungkin membenturkan kepalanya ke dinding.”

Aku menuangkan sampanye lagi ke dalam gelas Laura.

“Apakah Anda benar-benar menyingkirkan kemungkinan bahwa suatu hari kita


akan dapat jauh

lebih memahami dunia yang kita huni ini?” tanyaku. Ia menggelengkan kepala.

“Justru sebaliknya. Saya punya keyakinan penuh pada intuisi manusia. Tetapi,
jika kita ingin memecahkan teka-teki alam semesta, mungkin seharusnya kita
mencari jawabannya dalam hati, dan siapa tahu teka-teki itu sebenarnya sudah
pernah terpecahkan. Saya sama sekali tidak akan terkejut jika solusi atas misteri
alam semesta telah tersimpan dalam suatu tulisan Yunani, Latin, atau India
Kuno. Dan jawabannya sama sekali tidak perlu begitu rumit, mungkin hanya
sepanjang sepuluh atau dua puluh kata. Sama seperti saya yakin bahwa teori
maya milik Laura dapat disingkat menjadi beberapa kalimat saja. Malam ini kita
mendapatkan jawaban-jawaban eksplisit atas seluruh rangkaian pertanyaan yang
tidak memiliki lebih dari dua alternatif. Saya yakin, tidak ada peralatan modern
yang dapat membuktikan di antara jawaban-jawaban yang kita berikan mana
yang benar dan mana yang benar-benar salah. Bagaimana pendapat Anda, Ana?”

Kini adalah gilirannya. Selama beberapa saat, wanita itu hanya memandang ke
luar ke arah malam tropis. Kemudian, ia menegakkan duduknya dan berkata
dengan bersungguh-sungguh, “Ada sebuah kenyataan lain di balik kenyataan
yang kita saksikan ini. Ketika saya mati, saya tidak akan mati. Anda semua akan
meyakini bahwa saya telah mati, tetapi saya tidak mati. Tidak lama lagi kita akan
bertemu kembali di sebuah tempat lain.”

Kata-kata ini mengumumkan akhir dari pesta ini. Arti dari percakapan ini telah
berubah total. Suasana ngeri terasa di sekeliling meja, dan kurasa bukan aku
sendiri yang melihat sebutir air mata mengalir dari mata Jose. Ana melanjutkan,
“Anda semua akan berpikir kalian tengah berada di sebuah pemakaman, tetapi
kenyataannya Anda akan menyaksikan sebuah kelahiran baru ….” Kini Ana
menatapku lurus-lurus.

“Ada sesuatu di balik semua ini,” ia berkeras. “Di sini kita hanyalah ruh yang
melayang-layang dalam peralihan.”
“Sudahlah, cukup,” Jose berbisik dalam bahasa Spanyol. “Engkau tidak perlu
melanjutkan.”

Semua mata tertuju kepada Ana sementara ia berbicara. Saat itulah hal itu
terjadi, Vera, kejadian yang membuatku begitu banyak menceritakan “konferensi
tropis” di Maravu Plantation Resort.

“Kita hanyalah ruh yang melayang-layang dalam peralihan,” ulang sang ketua.

Sambil mengatakan hal itu, ia meletakkan satu jarinya di dahi Ana dan berkata,
“Dan ruh yang ini bernama Maya!”

Jose menggelengkan kepalanya dengan gelisah dan merangkul Ana untuk


melindunginya. Tampak jelas bahwa komentar yang terakhir telah membuatnya
tidak senang. Atau mungkin ia hanya tidak suka cara orang Inggris itu
menyentuh Ana dengan jari telunjuknya? Bagiku, reaksinya sulit untuk ditebak.

“Kurasa cukup sudah,” ujarnya.

John menggigit bibirnya seolah-olah tiba-tiba sadar bahwa ia telah bertindak


tanpa berpikir. Walaupun begitu, ia berkata, setengah kepada dirinya sendiri,
sambil sekali lagi melirik sekilas ke arah Ana, “Dan juga ada sebuah karya besar
yang terlibat di sini.”

Jose menanggapinya dengan menarik Ana dari kursinya.

“Terima kasih!” ujarnya. “Cukup sudah!”

“Ayo, kita pergi!” ujarnya kepada Ana dalam bahasa Spanyol.

Dan mereka pun menghilang ke dalam pepohonan palem. Itu adalah kala
terakhir kami melihat kedua orang Spanyol itu malam itu, tetapi saat itu sudah
lewat tengah malam.

Kurasa, setelah satu menit penuh barulah orang-orang mulai berbicara. Kami
hanya duduk di sana memikirkan apa yang telah terjadi di antara John dan Jose.
Bill adalah yang pertama memecah keheningan.

“Anda semua tahu apa yang saya pikirkan?” ujarnya dengan sebuah cengiran
lebar. “Saya berpendapat ada sekitar enam miliar orang yang suka bercakap-
cakap di planet ini, dan kita hanya berada di sini selama delapan puluh hingga
sembilan puluh tahun maksimal. Dan Anda dapat menemukan begitu banyak hal
menyenangkan untuk dikatakan dan begitu banyak omong kosong.”

Perlahan Laura bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari
kelompok itu. Di atas sebuah meja samping terletak sebuah teko berisi air

es. Diangkatnya teko itu dan ia berjalan ke belakang orang Amerika itu.
Kemudian, ia menuangkan seluruh isi teko, air dan es batu, di atas kepalanya.

Lelaki itu duduk terpaku selama setidaknya dua detik, tanpa bergerak sedikit
pun. Kemudian, ia melompat berdiri dari kursinya, mencengkeram lengan kiri
Laura, menariknya mendekat, lalu memukulnya.

Aku bersimpati terhadap si lelaki hingga saat itu, dan walaupun pukulan itu tidak
keras, lebih seperti sebuah tamparan dengan tangan terbuka, tetap saja semua
ada batasnya. Jelas bahwa orang Amerika itu telah membuat semua orang tidak
bersimpati kepadanya, dan bahkan memandang kedua botol Veuve Clicquot
yang kosong tidak membantu. Laura hanya berjalan dengan tenang kembali ke
meja dan duduk di sampingku tanpa sepatah kata pun.

John mulai berterima kasih kepada kami atas sebuah malam yang
menyenangkan. Ia menambahkan, “Besok, kita tidak harus berpikir terlalu
melangit.”

Bill meninggalkan meja, begitu pula Mark dan Evelyn kurasa, kedua orang
Amerika muda itu hampir melarikan diri membayangkan akan terjadinya
perkelahian lagi. Mario telah meninggalkan meja bahkan sebelum Laura
mengosongkan teko air esnya.

Aku meletakkan tanganku di pipi kiri Laura.

“Sakitkah?” tanyaku.

Ia menggelengkan kepalanya.

“Kelihatannya tidak baik.”

Ia berkata, “Kau harus belajar membebaskan dirimu, Frank.” “Apa?”


“Tetapi, apa yang kau hilangkan tidak berarti dibandingkan apa yang kau
dapatkan.”

Diterangi cahaya lilin dari atas meja, aku menatap ke dalam satu mata cokelat.
Jauh di dalam pigmen yang gelap, sebuah garis berwarna hijau berjuang agar
tidak terkalahkan oleh warna cokelat.

“Dan apa yang aku dapatkan?”

“Engkau akan mendapatkan seluruh dunia.”

“Seluruh dunia,” ulangku.

Ia mengangguk.

“Apa yang kau hilangkan mungkin terasa besar dan penting. Tetapi, hal itu tidak
lebih dari sebuah ilusi yang dipaksakan.”

“Diri sendiri, maksudmu. Itukah yang merupakan ilusi?”

“Hanya diri kecil. Hanya diri ilusi. Sebenarnya, diri itu sama seperti tidak ada.
Tetapi, engkau memiliki sebuah diri yang lebih besar.”

Aku mendengar seseorang mendekat dalam kegelapan, dan detik berikutnya


sebuah teko berisi air dikosongkan di atas kepala kami. Aku tidak percaya
bahwa secara tidak sengaja sebagian besar air tersebut mendarat padaku,
walaupun kami duduk begitu dekat saat hal itu terjadi. Sebelum kami sempat
berpikir, siapa pun yang telah melakukan hal itu telah menghilang.

“Si bodoh itu,” ujar Laura penuh kebencian.

Aku berdiri dan menggoyangkan kepalaku. Kemejaku basah kuyup. Begitu pula
blus Laura, dan aku hampir tidak dapat berpikir jernih melihat betapa blus itu
menempel pada kulitnya.

“Mungkin sebaiknya kita kembali saja,” ujarku. Ia menatapku dengan mata


hijaunya, “Engkau yakin?”

“Yakin sekali,” ujarku.


Setelah kami pergi ke arah yang terpisah, barulah kusadari pertanyaannya tadi
tentunya merupakan sebuah undangan.

Malam itu, aku hampir tidak sabar untuk kembali kepada Gordon. Sebenarnya
hatinya baik, dan mungkin ia benar saat mengatakan tidak banyak gunanya aku
meminum begitu banyak gin hanya agar dapat tidur pada malam hari.

Ia telah mengambil posisi di atas sebuah cermin besar di sebelah kanan meja
tempat tidurku, dan begitu aku menutup pintu di belakangku, aku mendengarnya
berlari dari satu sisi ke sisi yang lain. Tentu saja aku tidak dapat benar-benar
yakin bahwa itu adalah Gordon, karena tentunya ada beberapa tokek di dalam
kamar tidurku, dan aku tidak terlalu bersemangat untuk harus mulai dari awal
dan memperkenalkan diri kepada seekor tokek baru. Tetapi begitu menyalakan
lampu, aku dapat melihat bahwa itu memang dirinya. Aku selalu memiliki
semacam bakat untuk membedakan ciri-ciri setiap

vertebrata, dan tentu saja tokek adalah sebuah individu, sama seperti manusia,
pikirku. Mereka memiliki tingkatan individualitas yang persis sama dengan kita.
Hal itu setidaknya adalah sebuah pendapat yang kuyakin akan didukung oleh
perwakilan WWF yang ada di pulau ini. Selain itu, Gordon adalah seekor tokek
jumbo, mungkin ia adalah yang terbesar dalam kelasnya.

“Aku akan langsung tidur,” aku mengumumkan. “Aku mengatakan ini hanya
agar engkau tidak tersinggung jika aku tidak duduk-duduk dulu dan bercakap-
cakap hingga lewat tengah malam.”

Aku membuka tas kabinku dan memutar tutup botol gin. Aku menelan satu
tegukan besar, satu tegukan yang cukup besar untuk meyakinkan agar aku
tertidur.

“Terus terang, itu sulit kupercaya,” ujar Gordon.

“Ha?”

“Bahwa engkau akan pergi tidur. Aku juga yakin engkau akan minum lagi dari
botol itu.”

“Aku sama sekali tidak berencana melakukan hal itu.”


“Apakah malammu menyenangkan?”

“Aku tidak ingin membicarakannya. Jika mulai berbicara sekarang, aku tidak
tahu apakah akan bisa berhenti. Lalu, semuanya akan sama seperti kemarin. Kau
tahu, kan, maksudku?”

“Aku hanya bertanya apakah malammu menyenangkan.”

“Laura adalah seorang panteis,” ujarku. “Dan

ia juga seorang penganut monisme yang ekstrem. Aku dapat saja menyebutnya
sebagai penganut monisme vulgar.”

“Dengan kata lain, seorang wanita yang cerdas. Ia tidak berputar-putar setengah
tidur seperti beberapa orang yang kutahu. Dan aku yakin, ia juga tidak
membersihkan giginya dengan gin.”

“Kemudian, ia membahas tentang maya. Aku pernah mendengarnya


sebelumnya, jadi aku tidak perlu dikuliahi.”

“Maya adalah sebuah ilusi tentang dunia,” ujar Gordon. “Maya menciptakan
ilusi menyakitkan bahwa diri hanyalah sebuah ego semata, yang terpisah dari
Diri yang Besar dan hanya memiliki beberapa bulan atau tahun untuk hidup.
Maya juga merupakan nama sebuah bangsa di Amerika Tengah, tetapi

hal itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda ii

“Sudah kubilang aku tidak perlu diberi penjelasan. Tetapi Jose bereaksi begitu
aneh ketika orang Inggris itu meletakkan jarinya di dahi Ana dan seakan-akan
mengungkap dirinya yang sebenarnya. ‘Ruh yang ini bernama Maya,’ ujarnya,
dan kemudian ia bergumam tentang suatu ‘karya besar’. Apa yang ia katakan
memang aneh, sangat aneh. Tetapi wanita itu juga bereaksi dengan sangat
mengherankan. Seolah-olah ia tidak tahan diberi tahu secara terang-terangan.”

“Ada sebagian orang yang begitu kuat berada dalam cengkeraman maya
sehingga terasa menyakitkan untuk bangun. Ham pir seperti terbangun dari

mimpi buruk.”

“Omong kosong. Engkau tidak tahu apa yang kumaksud. Engkau bahkan tidak
ada di sana.”

“Aku ada di mana-mana, Frankie. Hanya ada satu diriku.”

“Kumohon, hentikan omong kosong ini.”

“Aku hanya mengutarakan pernyataan paling sederhana dan paling nyata dari
alam semesta.”

“Yaitu?”

“Hanya ada satu dunia.”

“Baiklah, aku mengerti itu. Hanya ada satu dunia.”

“Dan itu adalah dirimu.” “Oh, diamlah.”

“Engkau harus keluar dari kungkungan diri, Tuan. Cobalah melihat lebih tinggi
dari pusarmu dan ke luar, ke luar ke arah hasil karya alam di sekelilingmu, ke
luar, ke curahan tanpa henti kenyataan yang ajaib.”

“Aku berusaha.”

“Dan apa yang kau lihat?”

“Aku melihat pepohonan palem di belahan bumi selatan.”

“Itu adalah dirimu.”

“Kini aku melihat Ana keluar dari dalam pemandian bergelembung di bawah Air
Terjun Bouma.” “Itu adalah dirimu.”

“Aku mengenali kepalanya, tetapi tidak badannya.”

“Sekarang berkonsentrasilah.”

“Aku melihat sebuah planet yang hidup.”

“Itu adalah dirimu.”

“Dan aku melihat sebuah alam semesta yang mengagumkan dengan bermiliar-
miliar galaksi dan kumpulan galaksi.”

“Semua itu adalah dirimu.”

“Tetapi ketika aku melihat ke luar, ke alam semesta, aku juga melihat ke masa
lalu, ke dalam sejarahnya. Aku benar-benar mempelajari kejadian-kejadian yang
mungkin saja berusia beberapa miliar tahun. Banyak dari bintang yang kulihat
sekarang, pada saat ini juga telah lama berubah menjadi raksasa merah atau
supernova. Sebagian dari mereka telah berubah menjadi katai putih, bintang
neutron yang membara, dan lubang hitam.”

“Engkau melihat ke masa lalu dirimu sendiri. Itulah yang disebut sebagai
memori. Engkau berusaha mengingat sesuatu yang telah kau lupakan. Tetapi, itu
adalah dirimu, semua itu.”

“Aku melihat sebuah sistem tidak teratur yang terdiri dari bulan-bulan dan
planet, asteroid-asteroid dan komet.”

“Itu semua adalah dirimu. Karena hanya ada satu realitas.”

“Betul. Sudah kubilang aku setuju akan hal itu.”

“Hanya ada satu materi dunia, hanya ada satu

zat.”

“Dan itu adalah aku?” “Itu adalah dirimu.”

“Berarti, aku bukanlah seseorang yang lemah?” “Hanya jika engkau menyadari
hal itu. Hanya jika engkau dapat meninggalkan dirimu.”

“Betul, tepat sekali. Dan mengapa hal itu begitu sulit?”

“Karena engkau tidak ingin melepaskan dirimu sendiri. Sebenarnya sesederhana


itu.”

“Bahkan sebuah solusi yang mudah bisa saja sulit dipraktikkan. Contohnya,
mudah sekali bunuh diri.”

“Engkau tidak primitif seperti itu.” “Primitif?”


“Hal itu juga mensyaratkan engkau kehilangan

ego.”

“Benar juga, dan yang menjadi paradoks adalah bahwa aku mungkin saja
melakukan bunuh diri hanya karena rasa takut akan kematian yang datang
dengan perlahan. Terkadang seorang anak kecil memakan cokelat hanya karena
ia khawatir orang lain memakan cokelatnya. Tetapi kita sudah pernah
membicarakan hal ini sebelumnya. Engkau dengan mudah dapat melepaskan
ekormu bila diserang. Aku tidak dapat melepaskan kedua atau ketiga lipatan
otakku. Aku tidak dapat begitu saja mendatangi sebuah klinik dan meminta
dibedah otak hanya karena menderita kegelisahan kosmik.”

“Lagi pula itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membawamu
kembali ke kondisi semula dan engkau tidak akan mendapat kesempatan untuk
sadar kembali. Menurutku, engkau memerlukan seluruh lapisan otakmu untuk
proses ini.”

“Tidakkah kata-kata itu sedikit terlalu berat diucapkan olehmu?”

“Dengan kata lain, engkau harus mati. Engkau

harus memiliki komitmen terhadap perbuatan berani itu.”

“Bukankah baru saja kau katakan bahwa itu bukanlah sebuah solusi?”

“Tetapi, engkau hanya harus mati dalam arti kiasan. Bukan dirimu yang harus
mati. Konsep mengenai ‘aku1 yang terlalu dibesar-besarkan yang harus
dihilangkan.”

“Aku mulai bingung dengan berbagai kata ganti yang kau gunakan.”

“Mungkin sekali. Mungkin kita memerlukan sebuah kata ganti yang lain.”

“Ada saran?”

“Engkau pasti pernah mendengar jenis kata ganti yang disebut ‘pluralis
majestatis’.”

“Tentu saja, yaitu ketika seorang raja atau kaisar merujuk kepada dirinya sendiri
dengan kata ganti ‘kami’. Itu disebut kata ganti ‘kami’ kebangsawanan.”

“Menurutku, kita juga memerlukan kata ganti ‘aku’ kebangsawanan.”

“Dan apakah gunanya?”

“Ketika engkau berkata ‘aku’, engkau hanya bergantung pada konsep ego, yang
sebenarnya salah.”

“Sekarang engkau mulai berbicara berputar-putar.”

“Tetapi cobalah berpikir mengenai planet ini secara keseluruhan, dan juga
seluruh alam semesta, yang di dalamnya planet ini adalah sebuah bagian yang
organik.”

“Aku coba.”

“Engkau memikirkan segalanya yang ada.” “Aku memikirkan segalanya yang


ada.” “Dan seluruh galaksi, segalanya yang meledak lima belas miliar tahun
yang lalu.” “Segalanya, betul.” “Sekarang katakanlah ‘aku’.” “Aku.”

“Apakah sulit?”

“Sedikit. Tetapi juga sedikit menghibur.” “Pikirkan segalanya yang ada.


Kemudian, katakanlah keras-keras kepada dirimu sendiri: ‘Ini adalah aku!’”

“Ini adalah aku

“Tidakkah itu terasa melegakan?” “Sedikit.”

“Itu karena engkau menggunakan kata ganti baru ‘singularis majestatis’.”


“Benarkah?”

“Kurasa, engkau sudah hampir bisa, Frank.”

“Bagaimana bisa? Aku hanya berterima kasih akan pelajaran ini, itu saja.”

“Kurasa, engkau bisa menjadi seperti aku. Dengan kata lain terselamatkan, dan
benar-benar terbebas dari segala penyakit kejiwaan mengenai keberadaan.”

“Tidak, tidak juga. Engkau sedikit ceroboh di


sini.”

Aku membuka tas kabinku lagi dan menelan seteguk besar isi botol gin. Aku
tahu ia pasti akan mengucapkan komentar sinis, dan beberapa saat

kemudian, ia berkata, “Engkau harus mengakui bahwa engkau tidak mengenal


dirimu sendiri dengan baik.”

“Itu tergantung kata ganti jenis apa yang kau gunakan saat ini.”

“Belum lama ini engkau mengumumkan akan pergi tidur dan pasti tidak akan
menyentuh minuman lagi.”

“Kemudian engkau mulai berbicara. Dan hampir saja kau memperdayaku.


Engkau hampir membuatku berharap diriku adalah seekor tokek.” “Apa
katamu?”

“Kubilang, engkau mulai berbicara.”

“Maksudku, kata ganti mana yang kau gunakan? Siapakah yang mulai
berbicara?”

Sungguh lihai. Ia telah membuatku salah langkah lagi. Sebenarnya, memang aku
yang terus melanjutkan percakapan.

“Jadi, engkau tidak banyak mengetahui dirimu sendiri,” ujarnya. “Dan engkau
juga punya masalah besar dalam menentukan apa yang kau inginkan.”

“Aku mengakui punya beberapa kelemahan sepele,” aku mengaku.

Aku merasa tidak kehilangan apa pun dengan melakukan pengakuan ini.
Bagaimanapun, kita tidak perlu terlalu menyembunyikan diri dari seekor tokek.

“Tetapi ada hal lainnya.”

“Katakanlah!”

“Engkau berbicara kepada diri sendiri.” “Haruskah engkau mengingatkanku?”


“Kini engkau menggigit ekormu sendiri, Frank.

Aku menyarankan agar kau putuskan saja ekor itu segera.”


“Kalau begitu diamlah!”

“Engkau berbicara kepada diri sendiri.”

“Apa?”

“Ruh dunia juga berbuat begitu.” “Apa?”

“Ruh dunia berbicara kepada dirinya sendiri. Karena hanya ada satu ruh dunia.”
“Dan nama sang ruh dunia ini?” “Dirimu sendiri.”

Aku terduduk sambil merenungkan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Dalam kehidupanku yang selanjutnya, kurasa aku akan mendalami tata


bahasa,” ujarku. “Apa pendapatmu jika tema ini kujadikan disertasi gelar
doktorku: ‘Identitas dan Status Ontologi. Sebuah Analisis Tentatif mengenai
Kata Ganti Baru Singularis Majestatis’?”

“Bagus sekali, menurut pendapatku. Hanya pada saat itulah bidang linguistik
akan mencapai taraf yang positif. Semua kata ganti yang lain benar-benar maya.”

“Dan Ana adalah maya.”

“Betul, begitu pula dirinya.”

“Karena ia berbicara kepada dirinya sendiri.” “Dan siapakah, contohnya, yang


berbicara pada abad ke-4 sebelum Masehi?”

“Pada awalnya Sokrates dan para pengikutnya,” ujarku. “Kemudian datanglah


Plato dan murid-muridnya, kemudian Aristoteles dan Theophrastus

yang tentunya melakukan percakapan-percakapan menarik mengenai tokek


“berjari setengah” di sebuah pulau Yunani Lesbos ….”

“Apakah engkau memercayai hal itu?”

“Tentunya engkau tidak akan mengatakan bahwa sejarah pun hanyalah ilusi
belaka?”

“Sejarah adalah ruh dunia yang berbicara kepada dirinya sendiri. Ia juga
melakukan hal itu di masa lalu walaupun saat itu ia masih bingung. Saat itu, ia
baru saja terbangun.”

“Mereka berjalan-jalan di pasar di Athena. Sokrates adalah seseorang yang


memiliki darah dan daging, manusia yang dihukum mati hanya karena ia
mencari kebenaran. Teman-temannya berdiri mengelilinginya dan menangis.
Tidakkah kau memiliki sedikit pun rasa empati?”

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa ruh dunia selalu puas dengan dirinya
sendiri. Aku juga tidak mengatakan bahwa ia selalu sebahagia itu.”

“Benar-benar omong kosong.”

“Kalau begitu, pergilah lebih jauh ke masa lalu. Siapakah yang berkumpul di
pasar seratus juta tahun yang lalu?”

“Engkau tahu benar jawabannya. Para dinosaurus.”

“Dapatkah kau sebutkan nama mereka?” “Tentu saja. Ya, banyak nama.”
“Sebutkan saja!”

“Maksudmu, nama spesies, genus, dan famili?” “Bukan, kau gila? Maksudku,
dapatkah engkau menyebutkan nama masing-masing individual.”

“Tidak. Itu kan masa prasejarah.” “Tapi, toh hal itu tidak relevan karena mereka
hanyalah sebuah wahana berjalan dari ruh dunia. Zaman itu berlangsung
sebelum konsep maya benar-benar beredar, sebelum adanya dua atau tiga lipatan
yang berlebihan ini. Maka, itu terjadi sebelum manusia berkhayal akan adanya
suatu engkau dan suatu aku. Pada masa-masa itu, ruh dunia masih utuh dan tidak
terbagi, dan segalanya adalah brahman.”

“Dinosaurus adalah brahman. Tidakkah mereka terpesona oleh maya?”

“Betul, itulah yang kumaksud.”

“Kini mereka menjadi minyak bumi Shell dan Texaco. Para tetrapoda tak
bernama itu telah menjalani putaran penuh mereka, mereka adalah darah hitam
ruh dunia. Pernahkah engkau memikirkan hal itu? Pernahkah engkau
memikirkan bahwa mobil yang kita kendarai berjalan dengan darah zaman
Kapur di dalam tangkinya?”
“Engkau adalah seorang reduksionis tidak kenal jera, Frank. Tetapi yang kau
bilang ada benarnya.”

“Ayolah! Aku juga ingin memahami hal ini.”

“Jika engkau ada di planet ini seratus juta tahun yang lalu, engkau akan
mengalami ilusi palsu akibat lipatan otakmu yang berlebihan itu bahwa reptil-
reptil itu adalah sekumpulan individu. Engkau akan menganggap yang terbesar
di antara mereka sebagai monster ego raksasa.”

“Aku memang pandai membedakan setiap individu, itu benar. Tapi, ‘monster’
adalah istilahmu

sendiri.”

“Tetapi, kini mereka telah berubah menjadi sebuah danau minyak yang besar.
Kini mereka menjadi Shell dan Texaco. Tujuh puluh pence seliter, Tuan!” “Itu
kalimat dariku.”

“Dan nasib yang persis sama menunggumu. Tujuh puluh pence seliter!”

“Aku tahu jika aku tidak menggunakan akal sehat dan mengubah cara
pandangku terhadap situasi.”

“Betul, jika engkau tidak melakukannya.”

“Dan waktuku hampir habis. Tempatku bukan di sini. Aku adalah seorang
malaikat menderita yang telah terlalu lama berinkarnasi.”

Sekali lagi aku berjalan menuju tas kabin hitamku.

“Tetapi semoga,” ujarku, “esok adalah hari baru.”

Kuletakkan botol itu di bibirku dan menenggak satu atau dua tegukan besar.
Sekali ini aku merasa ingin bermurah hati sekaligus menderita karena rasa
bersalah. Aku tidak punya pilihan lain, mengingat berbagai panorama yang telah
diungkapkan oleh Gordon. Apa pun yang terjadi, apalah artinya sakit kepala
kecil besok pagi dibandingkan dengan segala perspektif yang membentang
selama berjuta-juta dan bermiliar-miliar tahun? Satu-satunya jalan keluar yang
mungkin dari wawasan yang begitu kompleks pada malam ini adalah tidur.
Kemudian, hari yang baru akan muncul, baik disertai sakit kepala maupun tidak.

Aku telah bersiap menerima teguran keras. Tetapi, ia hanya berkata, “Aku
merasa kecewa, Frank. Maksudku, engkau merasa kecewa. Engkau kecewa
dengan dirimu sendiri.”

“Kalau begitu, kita berdua memang harus sedikit kecewa. Dan berbagi tanggung
jawab.”

“Aku akan langsung tidur, ujarmu. Kemudian, engkau berkata bahwa engkau
tidak akan menyentuh botol itu lagi.”

“Ya, memang betul. Dan engkau berkata bahwa engkau tidak terlalu percaya
akan kata-kataku.”

“Tetap saja aku merasa kecewa.”

“Hal itu mudah saja kau ucapkan. Memang mudah untuk menjadi seorang
puritan jika engkau tidak tergoda oleh kenikmatan yang berlebihan, dan juga
tidak memiliki akses untuk hal itu. Bukan engkau yang diberi Big Bang sebagai
hadiah pembap-tisan. Bukan engkau yang dikutuk untuk mengukur tahun cahaya
alam semesta dengan ujung neuron-neuron yang tumbuh terlalu besar. Bukan
engkau yang merasakan jarak-jarak dalam alam semesta menekan otakmu
bagaikan seekor unta yang berusaha melewati lubang jarum.”

Aku membuka kemejaku dan membaringkan diri di atas tempat tidur. Kemudian
aku berkata, “Apakah menurutmu aku akan mendapat kekayaan di surga jika aku
menjual seluruh galaksi dan membagi hasilnya dengan orang miskin?”

“Aku tidak tahu,” ujarnya. “Tetapi, mungkin tidak lebih mudah bagi seorang
primata postmodern untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia

ini dibandingkan seorang rabi Yahudi pada zaman dahulu yang berusaha
menyelamatkan dunia.”

“Baiklah kalau begitu. Rhubarb, rhubarb, rhubarb … Sekarang aku akan pergi
tidur.”

“Tetapi engkau tidak pernah sepenuhnya tertidur.”


“Kurasa aku pasti bisa. Targetku adalah dapat tidur dengan empat takaran ganda.
Tetapi malam ini aku mendapatkan delapan penuh. Dengan begitu pasti bisa.”

“Maksudku, aku bangun bahkan ketika engkau

tidur.”

“Silakan.”

“Maka, tidak seluruh dirimu tertidur.” “Cih!”

“Karena tidak ada ‘aku1 dan ‘kamu’. Kita hanyalah satu.”

“Bangunkan aku saat waktu sarapan, ya.”

“Baiklah, Tuan. Tetapi pada kenyataannya, engkau akan dibangunkan oleh


dirimu sendiri.”

Sambil mengucapkan kalimat itu ia berlari melintasi cermin, memanjat dinding,


dan ke langit-langit di atas bantalku.

“Ada apa sekarang?” tanyaku.

“Bukankah aku harus membangunkanmu untuk sarapan?”

Aku hanya berbalik dan memikirkan betapa panjangnya hari itu. Tetapi, aku
tidak menikmati adanya kemungkinan ruh dunia buang air di atasku. []
Merpati Jingga

KEMBALI HARUS MENGAKUI MASIH KESULITAN MENGOREK-


NGOREK KEMBALI segala pertengkaranku dengan Gordon si Tokek,
walaupun sebenarnya aku masih belum benar-benar kehilangan kontak
dengannya; bahkan di sini di Madrid, aku masih berkesempatan untuk
melakukan percakapan panjang di tengah malam dengannya. Hal ini sering
terjadi dengan kenalan yang pernah menggugah sesuatu dalam dirimu. Mereka
bisa kembali lagi bertahun-tahun setelah pertemuan fisik terputus.

Aku telah duduk dan menulis semalam suntuk. Setelah tertidur beberapa jam,
aku berjalan-jalan singkat melalui Ritz dan melewati Taman Retiro sebelum
menyantap sarapan di Rotunda. Aku hanya perlu berdiri di jendela kedai omelet,
dan beberapa menit kemudian aku akan mendapatkan dua telur goreng, dimasak
pada kedua sisinya, beberapa potong daging babi asin, dan seporsi kacang
panggang.

Aku menghabiskan hari terakhirku di Taveuni dengan sebuah pertemuan hangat


dengan para tetua Desa Somosomo. Aku belum sepenuhnya melupakan
penelitianku, dan aku memerlukan data terbaru tentang langkah-langkah yang
telah diambil selama beberapa tahun terakhir untuk melindungi habitat-habitat
lama di pulau itu, juga berbagai

macam spesies flora dan fauna. Aku diberi tahu bahwa gubernur Inggris yang
pertama di Fiji adalah Sir Arthur Gordon yang melegenda, yang
kepemimpinannya berlangsung dari 1875 hingga 1880. Mungkin aku pernah
mendengar namanya disebut sebelumnya, tetapi hal itu tidaklah diharapkan
karena kini “Pulau Taman” atau “Garden Island” dengan segera berubah menjadi
“Gordon Island”. Seperti yang kau tahu, kesukaanku akan Gordon’s London Dry
Gin jauh mendahului kunjunganku ke sini. Ya, Vera, aku sungguh menyadari hal
itu, dan aku yakin engkau tidak akan memercayaiku jika kukatakan bahwa aku
hampir tidak pernah menyentuh minuman itu kecuali jika tengah bepergian. Aku
tidak terlalu tahan dengan kesendirian. Engkau telah mendelegasikan sebagian
dari fungsimu kepada Gordon. Rasanya hampir seperti mendengar suaramu.

Aku sedikit terhuyung-huyung saat menyerbu masuk ke toko desa untuk mencari
tahu apakah mereka menjual vitamin. Tetapi, aku benar-benar hampir terpeleset
ketika bertemu dengan Ana dan Jose di dalam toko kecil itu, sebuah toko
pedesaan kecil yang penuh sesak dengan penduduk lokal. Bersama-sama kami
berusaha keluar, dan karena ini mungkin terakhir kalinya kami bertiga dapat
bersama-sama tanpa adanya orang lain, aku pun mengumpulkan keberanian
untuk melakukan konfrontasi terakhir. Mereka berdua benar-benar tampak lesu
sore itu, jelas akibat dari tingkah laku aneh si orang Inggris malam sebelumnya,
tetapi aku merasa tidak memiliki pilihan lain. Aku akan meninggalkan

tempat itu keesokan paginya, dan mungkin tidak akan pernah bertemu Ana dan
Jose lagi.

Di luar toko itu, Jose menyalakan sebatang rokok, sementara Ana membuka
tutup sebuah botol plastik berisi air. Aku menganggapnya sebagai sebuah
undangan untuk percakapan singkat sebelum kami menempuh jalan kami
masing-masing. Aku bertanya tanpa basa-basi. Kutatap mata hitam Ana dan
berkata sambil lalu, “Mungkin ini terdengar aneh, tetapi saya selalu merasa
pernah bertemu dengan Anda sebelumnya.”

Reaksi pertama Jose adalah menarik si wanita mendekat ke arahnya. Hal ini
mengingatkanku akan kejadian yang kusaksikan di meja makan malam
sebelumnya. Si wanita menatap ke arahnya, hampir seakan meminta izin untuk
boleh menjawab sendiri pertanyaanku.

“Tetapi Anda tidak ingat di mana?” ujarnya.

“Saya sesekali berkunjung ke Spanyol.”

“Spanyol memiliki lima puluh dua provinsi.”

“Tepat sama dengan jumlah kursi dalam parlemen Fiji,” komentarku.

“Saya yakin Anda pergi ke Kepulauan Canary,” ujarnya bergurau.

Aku menggelengkan kepala.

“Paling sering saya tinggal di Madrid. Mungkin saya pernah melihat Anda di
sana?”

Jose jelas berpendapat bahwa percakapan singkat ini telah berubah menjadi
sebuah interogasi.
“Ada banyak wanita berambut gelap di Spanyol,” ujarnya. “Itu kenyataan,
Frank. Bahkan di

Madrid.”

Aku tidak melepaskan tatapan Ana. Apakah ada secercah reaksi? Apakah iris
matanya yang sedikit membesar menandakan bahwa ingatanku tidak menipuku?

“Apakah orang-orang sering merasa mengenal Anda?” tanyaku.

Sekali lagi wanita itu menatap Jose. Seolah-olah ia memohon izin untuk
membagikan sebuah rahasia kepada diriku, dan si lelaki, tanpa menggerakkan
satu otot pun, menolak. Namun, si wanita tersenyum ramah saat menjawab,
“Mungkin Anda pernah melihat saya di Madrid. Mohon maaf, saya tidak ingat
Anda.”

Aku menganggap ini sebagai sebuah jawaban yang diplomatis. Ia tahu benar
mengapa aku bertanya.

Mereka membawa mobil dan akan pergi ke Vu-na Point di ujung barat daya
pulau itu. Mereka menawarkan untuk mengantarku kembali ke Maravu. Aku
berterima kasih atas tawaran mereka, tetapi berkata bahwa aku lebih suka
berjalan kaki menempuh jarak empat kilometer itu.

Setelah melewati Desa Niusawa, aku berpapasan dengan seorang wanita


berpakaian sporty dengan rambut hitam terkepang dan sebuah ransel kanvas.
Laura mengenakan celana baggy berwarna khaki, sebuah sweater ketat, dan
semacam helm pelindung matahari. Ia tampak lembap dan kotor, tetapi ia telah
berjalan ke Puncak Des Voeux Peak, gunung kedua tertinggi di Taveuni yang
tingginya

lebih dari 1.150 meter. Ia tampak lelah. Walaupun begitu, ia tersenyum lebar
kepadaku ketika aku mendekatinya, dan komentar pertamanya adalah, “Aku
telah melihatnya!”

Ia melompat-lompat, seperti anak kecil, dari satu kaki ke kaki lainnya, wajahnya
bersinar bagaikan seseorang yang baru saja menemukan agama. Diam-diam aku
bertanya-tanya apakah ia memang mendapatkan pencerahan. Atau mungkin
semak-semak yang terbakar?
“Ia sungguh luar biasa,” ujarnya. “Aku melihatnya di atas gunung sana sesaat
setelah matahari terbit.”

Aku bahkan masih tidak tahu dari mana ia datang, tetapi ia melanjutkan, “Aku
telah melihat merpati Jingga!”

“Kau yakin?”

“Cukup yakin.”

“Di Puncak Des Voeux?”

Ia mengangguk, dan hampir terengah-engah saat berbicara.

“Dan aku … memotretnya … dengan telefotoku.”

Kini segalanya menjadi jelas, dan jika apa yang dikatakannya memang benar, itu
adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Merpati Jingga yang diselubungi mitos
tidak saja sangat langka, tetapi aku juga mendengar bahwa hewan itu belum
pernah di-foto sebelumnya.

“Kalau begitu, kau mungkin menjadi orang yang pertama memotretnya,” ujarku.

“Aku tahu.”

“Mungkin juga akan menjadi yang terakhir.” “Aku tahu.”

“Kau harus mengirimkan satu buah kopinya kepadaku,” ujarku iri.

Ia menanggapi dengan menjabat tanganku, yang kuanggap sebagai sebuah janji.


Hal ini berarti bahwa nanti aku harus memberinya alamatku, satu hal yang selalu
kulakukan dengan penuh kewaspadaan saat berada di luar negeri.

Kami mulai berjalan lagi.

“Engkau bisa saja bertanya kepadaku apakah aku juga ingin ikut,” ujarku. Ia
tertawa.

“Aku tidak sempat! Cepat sekali engkau meninggalkan meja dan pergi tidur.”

Laura menjelaskan bagaimana ia bangun pada fajar pagi itu saat keadaan masih
gelap. Ia telah memesan sehari sebelumnya sebuah mobil untuk menuju Desa
Wairiki. Ia berangkat menjalani pendakian sejauh enam setengah kilometer satu
jam sebelum matahari terbit, dibekali dengan sebilah pisau hutan dan sebuah
senter yang dipasang di kepala. Ia memang datang ke pulau ini untuk melihat
merpati Jingga, dan itulah yang ia lakukan.

Dari Puncak Des Voeux, ia mengamati Danau Tagimaucia, yang terbentang di


dalam kawahnya yang telah mati di tengah pulau. Danau itu sebagian besar
dipenuhi tumbuh-tumbuhan yang terapung-apung. Di situlah satu-satunya tempat
tumbuhnya bunga nasional Fiji, tagimaucia atau Medi—

nilla waterhousei, yaitu bunga berwarna merah menyala dengan mahkota


berwarna putih.

“Tahukah engkau bagaimana bunga tagimaucia pertama kali muncul?” tanyanya


saat kami menempuh jalan yang berdebu, sambil terus-menerus menghindari
kodok-kodok gepeng.

Aku menggelengkan kepala, dan ia menceritakan kepadaku legenda Tagimaucia.


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri Taveuni. Ayahnya, sang kepala
suku, memutuskan bahwa putrinya harus menikahi seorang lelaki yang telah ia
pilihkan untuknya. Tetapi, sang putri mencintai orang lain, dan dalam
keputusasaannya, ia melarikan diri dari desanya ke atas pegunungan. Karena
benar-benar kelelahan, akhirnya ia tertidur di pinggir danau luas tersebut. Dalam
tidur, ia menangis sedih, dan selagi ia bermimpi, air matanya mengalir menuruni
pipinya dan berubah menjadi bunga merah yang indah. Bunga-bunga itu adalah
bunga tagimaucia yang pertama, dan tagimaucia berarti “menangis dalam tidur”.

Kupikir, ia hanya menceritakan sebuah cerita romantis kepadaku, tetapi ia


berkata, “Sesuatu yang persis sama pernah terjadi kepadaku.”

“Menangis dalam tidur?”

Ia menggelengkan kepalanya.

“Kawin paksa.”

“Engkau pernah menikah?”

Ia mengangguk singkat.
“Tetapi, ada juga versi lain dari legenda mengenai tagimaucia.”

Dan kini ia menuturkan cerita yang lain. Pada suatu hari, tinggallah seorang
gadis di Taveuni yang tidak menuruti perintah ibunya dan bermain-main saat
seharusnya ia bekerja. Tiba-tiba, sang ibu kehilangan kesabaran terhadap anak
gadisnya dan mulai memukulinya dengan seikat daun kelapa. Ia mengatakan
kepada putrinya agar pergi dan jangan menampakkan dirinya lagi. Gadis itu
berlari pergi sejauh mungkin dari rumah sambil menangis dan terluka hatinya.
Di tengah hutan, ia menemukan sebatang pohon ivi yang ditumbuhi oleh
tanaman merambat. Ia pun memanjat sulur-sulur tanaman tersebut, tetapi
tanaman itu memerangkapnya dan pada akhirnya ia tidak dapat bergerak. Gadis
itu menangis dan menangis, dan air mata yang mengalir di wajahnya berubah
menjadi darah yang terjatuh ke atas tanaman sulur-suluran dan membentuk
bunga yang paling indah. Akhirnya, gadis itu berhasil membebaskan diri dan
berlari pulang kembali. Pada saat itu, ibunya sudah kembali tenang, dan cerita
itu pun berakhir bahagia. Tetapi, para penduduk Taveuni percaya bahwa bunga
yang langka ini berasal dari air mata sang gadis.

“Apakah hal itu juga pernah terjadi pada dirimu?” aku bertanya main-main.

Ia mengangguk dengan serius, tanpa adanya tanda-tanda ironi.

“Terperangkap oleh tanaman merambat?”

Ia menggelengkan kepalanya.

“Dibenci ibuku.”

Saat itu ia berhenti dan berpaling ke arahku.

“Akan kuberi tahu sebuah rahasia, Frank.” “Ya?”

“Aku adalah seorang anak yang tidak diinginkan.”

Dirimu dan setidaknya setengah dari populasi dunia, pikirku.

Tanpa dapat dihindari, aku melihat air mata merebak dari matanya yang hijau.
Maka aku pun mendekatkan diriku kepadanya dan meletakkan kepalanya di
leherku. Kami berdiri seperti itu beberapa lama dan kemudian ia mengangkat
kepalanya dan menatap ke dalam mataku. Kupeluk dirinya erat dan tidak
melepaskannya hingga naluri alamiahku mengatakan bahwa aku harus
melepaskannya.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan itu, dan kini giliranku untuk
menceritakan beberapa legenda yang pernah kudengar di Kepulauan Oseania.
Contohnya, ada banyak kisah berisi peringatan bahwa seorang wanita tidak
boleh berada terlalu dekat dengan seekor tokek, karena jika terlalu dekat, wanita
itu dipercaya dapat melahirkan seekor tokek. Aku juga menceritakan kepadanya
legenda tragis mengenai Verana.

Verana adalah seorang wanita cantik jelita yang memiliki begitu banyak
pengagum sehingga ia tidak dapat memilih di antara mereka. Sebagai akibatnya,
ia selalu mengeluh bahwa ia tidak memiliki cukup waktu untuk memutuskan.
Suatu hari, ia diberi sebuah ramuan ajaib oleh seorang penyihir. Jika meminum
setengahnya, sang penyihir menjelaskan, ia akan dapat hidup selamanya. Lalu, ia
akan memiliki cukup waktu untuk menemukan lelaki yang ia inginkan untuk
hidup bersama. Setelah menemukan orang yang menurutnya tepat untuk menjadi
pasangannya, ia hanya perlu memberikan sisa ramuan kepadanya, dan suaminya
juga akan hidup abadi. Verana pun meminum ramuan yang menjadi bagiannya
dan hidup selama bertahun-tahun tanpa pernah dapat menetapkan hati untuk satu
lelaki pun. Seratus tahun telah berlalu, dan Verana masih tetap muda dan cantik
jelita, tetapi dengan berlalunya waktu, semakin sulit bagi dirinya untuk memilih
kepada siapa ia akan menyerahkan dirinya. Ia menyadari bahwa ramuan ajaib itu
telah membuatnya semakin sulit untuk memutuskan. Tidak saja kini terlalu
banyak lelaki yang dapat dipilih, tetapi ia juga memiliki begitu banyak waktu
untuk mengambil keputusan. Terlebih lagi, ia tahu bahwa pilihan terakhirnya
akan selalu berada di sisinya, tidak hanya seumur hidup, tetapi selama-lamanya.
Setelah dua ratus tahun, Verana telah bertemu begitu banyak pengagum sehingga
tidak dapat lagi mencintai pria mana pun. Walaupun begitu, ia telah terkutuk
untuk hidup di bumi selama-lamanya. Ia masih hidup di dunia hingga hari ini.
Jika seorang pria jatuh cinta kepada seorang wanita yang tidak dapat
memutuskan, lelaki itu harus berhati-hati karena bisa saja wanita yang ia cintai
itu adalah Verana yang dingin dan tidak dapat ditaklukkan. Banyak lelaki yang
telah kehilangan hati dan masa mudanya karena Verana, tetapi tidak seorang pun
yang akan pernah bisa mendapatkannya.

Laura menatapku.

“Oh, sungguh sebuah cerita yang menyedihkan!”


Ketika tiba di Pantai Pangeran Charles, kami berjalan-jalan di atas pasir,
menanggalkan sepatu, mengumpulkan kulit-kulit kerang untuk saling kami be
rikan, dan berdiri mengagumi seekor bintang laut berwarna biru tua. Laura
berpendapat bintang laut itu tentunya berasal dari spesies yang namanya dipakai
kelas Asteroidea, karena ia benar-benar menyerupai sebuah bintang. Mungkin,
menurutnya, ada sebuah legenda mengenai sebuah bintang yang terjatuh dari
langit dan diubah menjadi seekor bintang laut. Jika tidak, kami bisa saja
menciptakan sebuah kisah baru. Tidak pernah terlambat untuk menciptakan
sebuah mitos.

Hari ini tidak banyak maya maupun ilusi dunia yang keluar dari dirinya. Bagian-
bagian dalam pikirannya seakan begitu berbeda, seperti warna kedua matanya,
dan aku membayangkan mungkin mata hijaunyalah yang telah melihat sang
merpati berdada Jingga dan mata cokelatnya yang membaca filsafat India. Atau,
tentunya mata hijaunyalah yang menemukan bintang laut biru dan mata
cokelatnya yang tidak menghargai nilai seorang manusia.

Saat kami mendaki tebing terjal menuju pepohonan palem, Laura menjelaskan
bahwa malam itu akan ada sebuah pesta besar di Maravu dengan lebih dari
seratus tamu dari pulau itu. Pesta itu mereka sebut sebagai gunusede sebuah
makan malam yang ditarik bayaran, dan keuntungannya akan di—

salurkan untuk kegiatan sosial. Pesta nanti malam bertujuan membantu


membayar uang sekolah bagi anak-anak di desa-desa miskin. Para tamu di Mara-
vu tentu saja juga diundang.

“Engkau harus duduk di sebelahku,” ujar Laura.

Beberapa jam kemudian, aku telah berbagi meja dengan Laura, John, dan Mario.
Semua meja kecil telah dipenuhi, dan banyak lagi hadirin yang diharapkan akan
datang.

Bill, orang Amerika yang ceria itu, tiba di restoran itu tepat saat Laura cepat-
cepat menawarkan satu tempat kosong di meja kami kepada sang pelaut Italia.
Sehingga, si orang Amerika itu tidak hanya harus menghadapi fakta bahwa meja
kami sudah penuh, tetapi harus duduk di antara orang-orang yang belum pernah
ia temui. Keadaan yang tak menyenangkan ini segera berbalik menguntungkan
bagi dirinya setelah ia tahu bahwa ia semeja dengan Kapena yang terkenal, yang
berasal dari Hawaii; istrinya, Roberta; dan seorang pria menyenangkan bernama
Harvey Stolz.

Kapena, seorang berbadan kekar dengan wajah berotot yang terbakar matahari,
tulang pipi yang tinggi, dan gigi-gigi besar berwarna putih, adalah salah satu
pusat perhatian malam itu. Ia adalah seorang nelayan perairan dalam yang
terkenal, yang pada saat berusia dua puluh tiga tahun telah memenangi hadiah
pertama dalam Turnamen

Jackpot Lahaina dengan menyeret seekor ikan marlin besar seberat 545 kilogram
ke atas kapalnya. Kini ia berusia pertengahan empat puluhan, telah pensiun dari
kariernya sebagai seorang nelayan perairan dalam, dan pindah ke Taveuni. Di
sini, aktivitasnya adalah mengantarkan para turis memancing di Selat Somosomo
dengan kapalnya yang berteknologi canggih, Makaira. Pagi itu, ia berlayar untuk
menangkap semua ikan yang akan kami makan malam itu; itu adalah bentuk
kontribusinya untuk gunusede tersebut. Koki dari Maravu, Kai, juga ikut
berlayar dan telah memastikan bahwa semua ikan tersebut dibersihkan dan
disiapkan dengan baik. Pada saat acara makan malam itu, Bill memperkenalkan
kami kepada Kapena, Roberta, dan Harvey, sang kepala kelasi di Makaira. Kami
pun akhirnya terlibat, dengan agak enggan, dalam diskusi-diskusi teknis yang
mungkin menarik bagi seorang insinyur minyak dan seorang nelayan perairan
dalam.

Ana dan Jose duduk di ujung lain dari restoran itu bersama Mark dan Evelyn.
Kedua orang dari Spanyol itu tampak bersemangat untuk berbagi meja dengan
pasangan muda dari Amerika itu. Mungkin ini adalah cara mereka untuk
melepaskan diri.

Setelah makan malam, sebuah paduan suara dan orkestra kecil berkumpul.
Sebagian dari para anggotanya bekerja di Maravu seperti tukang kebun Sepo,
Sai, dan Steni, sang bartender Enesi, dan staf rumah tangga Kay dan Vere tetapi
ada pula musisi-musisi dari desa. Dengan diiringi gitar dan

ukulele, mereka menyanyikan lagu-lagu polifonik yang membuai mengenai


Tagimaucia, Maravu, dan semua orang yang telah menempuh perjalanan
melewati awan dari tempat-tempat yang begitu jauh untuk mengunjungi pulau
itu. Beberapa pertunjukan meke juga digelar. Meke adalah sebuah tahan rakyat
tradisional yang dilakukan sambil duduk. Tahan itu menceritakan legenda-
legenda Fiji kuno, dengan menggunakan campuran antara lagu, peniruan yang
dilebih-lebihkan, dan gerakan tangan yang penuh semangat.

Setelah tarian-tarian rakyat, Jochen Kiess mendatangi meja kami dan


mengundang kami untuk ikut serta dalam upacara kava. Kava atau yaqona
adalah minuman memabukkan yang terbuat dari akar tumbuhan yang termasuk
dalam keluarga lada Piper methysticum yang mengandung narkotika ringan.
Minuman itu disajikan dalam sebuah mangkuk kayu besar dan diminum dengan
menggunakan tempurung kelapa yang dibelah dua. John sudah pernah mencoba
kava sebelumnya dan menolak tawaran tersebut, tetapi Laura pernah membaca
dalam Lonely Planet bahwa menolak undangan untuk ikut serta dalam upacara
kava adalah perbuatan yang tidak sopan-bukan hal yang baik untuk dilakukan.
Tidak lama kemudian, aku, Laura, dan Mario telah duduk di lantai mengelilingi
mangkuk kava. Setiap kali seseorang ditawari setengah tempurung minuman
tersebut, orang-orang bertepuk tangan dan berseru: “Bula!”

Kava tidaklah menyenangkan. Bentuknya seperti air keruh dan rasanya pun tidak
jauh dari itu. Setelah dua gelas, aku merasa sekitar bibirku sedikit mati rasa, dan
setelah tiga gelas, aku merasa lebih santai daripada sebelumnya, tetapi juga agak
mengantuk. Aku ingat melihat Bill berjalan-jalan tanpa rasa hormat di sekitar
kerumunan kava tersebut, dan sekali waktu bahkan memberi tahu Laura bahwa
kava hanyalah sebongkah omong kosong dan gadis baik-baik seharusnya
menghindarinya.

Laura menatap ke dalam mataku, dan kurasa ia menggunakan mata cokelatnya.

“Bagaimana rasanya?” tanyanya.

Aku ingin mengatakan bahwa rasanya seperti lima miligram valium dan tidak
banyak lagi yang lain.

“Dapatkah engkau merasakan ilusimu runtuh?” ujarnya.

“Secuil, mungkin,” ujarku bercanda. “Hanya

ada satu dunia.”

“Hanya ada satu kesadaran, purusha

“Ini adalah biokimia,” ujarku. “Ini adalah ‘agama


instan’.”

Aku tidak tahu apakah ia mengerti apa yang kumaksud, tetapi ia berkata, “Begitu
pula kesadaran sehari-hari. Hanya biokimia. Dan itu membuat kita percaya akan
ilusi materi, prakriti.”

“Kata yang aneh.”

“Artinya hampir sama dengan maya. Untungnya, beberapa zat kimia dapat
membius bagian-bagian otak yang membuat kita memercayai ilusi dunia.”

Bagian-bagian itu tentunya kedua atau ketiga

lipatan otak yang berlebihan itu, pikirku, tetapi kurasa aku tidak benar-benar
mengucapkannya.

Laura terus berbicara banyak, walaupun aku tidak dapat mengingat ucapannya
kalimat demi kalimat, tetapi aku ingat ia mengatakan kepadaku bahwa setelah
vedanta, filsafat samkhya adalah yang paling cocok dengan hatinya.

Aku menyadari kava juga memiliki efek diuretik yang kuat dan berpengaruh
terhadap baik pria maupun wanita, karena Lauralah yang pertama kali
mengatakan bahwa ia perlu pergi ke kamar kecil. Kami berdua menganggap
agak lucu bahwa ruh dunia ingin buang air kecil segera setelah ia berhasil
menemukan jalannya kembali kepada dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian, kami kembali di meja kami. John duduk bersama birnya.
Ia beranggapan betapa baiknya jika ada tamu yang menginap di Maravu yang
menyumbangkan hiburan.

“Tahukah Anda, Ana adalah seorang penari flamenco yang terkenal,” ujarnya.
“Saya melihatnya di internet, dan walaupun bahasa Spanyol saya tidak terlalu
bagus, saya masih dapat mengetahui bahwa ia adalah bintang besar di Sevilla
saat ini, ‘La Estrella de Sevilla’.”

Aku tidak tahu apakah kava tadi telah mengubah persepsiku akan waktu, tetapi
rasanya sekejap kemudian kami telah berada di meja pasangan Spanyol itu.
Lauralah yang mengajukan permintaan kami: maukah Ana berbaik hati untuk
menyumbangkan sebuah tahan flamenco? Itu tidak hanya akan menjadi
pengalaman menyenangkan bagi kami semua, tetapi juga semacam ucapan
terima kasih kepada para penari Fiji malam itu.

“Jawabannya adalah tidak,” ujar Jose.

“La Estrella de Sevilla John memulai. Tetapi, Jose tidak tergugah oleh bahasa
Spanyolnya itu.

“Saya bilang jawabannya adalah tidak,” ia menggeram.

Sementara itu, Ana menunjukkan ekspresi wajah terluka dan sedih. Tetapi
mengapa? Mengapa ia begitu terganggu oleh permintaan baik-baik agar ia
menari flamenco? Ataukah Jose telah membuatnya marah karena telah menolak
dengan tegas mewakili dirinya? Aku tidak menemukan jawaban bagi
pertanyaan-pertanyaan ini hingga beberapa bulan kemudian.

Kami pun berusaha mencairkan suasana dan kembali ke meja kami.

Tidak lama kemudian, pasangan-pasangan mulai berdansa. Situasinya tidak jauh


berbeda dengan acara dansa di hotel-hotel pedesaan di Norwegia, dengan
seorang penyanyi solo yang membawakan lagu-lagu populer internasional-
sebenarnya hanya karaoke lagu-lagu Barat. Banyak dari para penduduk desa
yang memenuhi lantai dansa, jadi tidak diragukan lagi gunusede malam ini
sukses besar. Dan dengan adanya sedikit tanda-tanda pertengkaran dan
perkelahian di antara kaum pria, rasanya hampir seperti kembali berada di
T0nsberg pada suatu malam musim panas yang ramai. Perbedaannya adalah
langit terang benderang sepanjang malam pada

pesta musim panas di T0nsberg. Malam di Taveuni gelap gulita.

John dan Mario, Laura dan aku duduk di sekeliling meja kami. Kemudian, Mark
dan Evelyn datang dengan membawa kursi mereka karena meja mereka telah
disingkirkan untuk memberi lebih banyak tempat untuk berdansa. Ana dan Jose
telah mengambil tempat di lantai dansa di depan mangkuk kava. Tidak lama
kemudian, Bill datang membawa botol-botol anggur merah.

“Saya yang traktir!” ujarnya. Saat itu waktu sudah mendekati tengah malam, dan
Laura berpaling kepadaku.

“Mari kita pergi!” ujarnya.


Aku tidak berniat menolak tawaran tersebut. Aku masih merasa sedikit pusing
akibat pengaruh air kubangan yang mengandung obat bius itu. Aku telah
melewati hari yang sangat melelahkan dan tidak ada alasan untuk membuang-
buang waktu di tengah kumpulan manusia yang ribut itu. Terlebih lagi, esok
paginya, aku akan memulai perjalananku pulang ke sudut lain dari belahan
dunia. Kami pun bangkit dan berterima kasih kepada semua orang untuk malam
yang menyenangkan.

“Engkau akan pergi?” tanya Bill.

“Yap,” ujar Laura. “Kami akan pergi.”

“Ke mana?”

Sungguh sebuah pertanyaan yang aneh, pikirku. Dan sebuah pertanyaan yang
bahkan belum ada jawabannya. Terkadang kau hanya tahu bahwa kau ingin
pergi, tanpa tahu ke mana tujuanmu. Akankah

kami berjalan-jalan di tengah pepohonan palem? Atau berendam tengah malam


di Pantai Pangeran Charles? Atau memuaskan diri dengan melanjutkan minum
di pondok Laura atau pondokku? Bagaimanapun, itu bukanlah urusan Bill. Ia
memang berbaik hati selalu membelikan kami anggur, walaupun seseorang yang
pernah bekerja dengan Red Adair dan menyelamatkan Apollo 13 dari bencana di
luar angkasa tentunya mampu untuk membeli itu semua. Tetapi tidak seharusnya
ia beranggapan dapat membeli teman, pikirku, apalagi Laura.

“Kami akan melihat herbarium, Frank,” ujar si wanita.

“Menurutku, sebaiknya engkau tidak melakukannya,” jawab Bill.

“Menurutku, ini tidak ada hubungannya denganmu,” Laura menjawab balik.

Caranya mengucapkan kalimat ini lebih seperti bergurau dengan sesama teman
dibandingkan mengugat.

“Engkau bisa saja melanjutkan mengobrol di sini,” si lelaki berkeras.

“Kami akan mengobrol di mana pun kami mau,” Laura menyatakan dan pada
saat itu kupikir ia hampir tertawa menghadapi kenekatan lelaki itu.
“Di sini ada anggur,” lanjut si orang Amerika. “Ngomong-ngomong, ini adalah
Rioja yang sangat enak.”

“Kami hanya memerlukan satu botol saja,” ujar Laura sambil menyambar satu
botol dan berjalan keluar memasuki pepohonan palem.

“Masukkan saja itu ke dalam tagihanku,” ujarku sambil berlari mengejar Laura.

Tidak lama kemudian, kami telah duduk-duduk di berandaku, dan Bill memang
benar; Rioja itu enak. Udara tropis yang hangat dan lembap terasa bagaikan
belaian kain lembut.

“Ia benar-benar seorang yang unik,” aku memulai.

Laura menggelengkan kepalanya. “Tingkah lakunya tipikal, sungguh tipikal.”


“Apakah kalian bertemu di Bandara Nadi?” “Tidak usah kau pikirkan orang itu,
Frank. Ia tidak begitu menarik.”

“Yang jelas, ia sangat blak-blakan.” Ia menimbang-nimbang selama beberapa


saat, kemudian berkata, “Bill adalah ayahku.” Aku meletakkan gelasku dan
bersiul. “Tentu saja!” seruku. “Sungguh bodoh aku selama ini.”

Ia tidak menjawab, tetapi memalingkan mukanya dengan cepat dan aku pun
menatap ke dalam satu matanya yang hijau. Ada sesuatu yang membuatku
membayangkan bahwa ia telah dilahirkan dengan dua mata hijau, tetapi sedikit
demi sedikit satu telah berubah menjadi semakin cokelat saat ia semakin besar.
Mungkin mata yang satu lagi juga berisiko memiliki nasib yang sama.

Aku merasa kesal karena tidak mampu menerka bahwa Bill dan Laura adalah
ayah dan anak yang tengah berlibur bersama di Oseania. Itulah mengapa si
wanita duduk dengan begitu tekun membaca Lonely Planet, dan mengapa si
lelaki duduk di meja si wanita pada malam pertama. Itu juga menjelaskan
kemurahan hatinya membelikan anggur, dan bagaimana si lelaki dapat
menenangkan Laura hanya dengan meletakkan tangannya di Laura, dan
mengapa Laura mendorongnya ke dalam kolam, mengapa Bill duduk di kursi
dengan handuk Laura, dan mengapa Laura menyiramkan satu teko air ke atas
lelaki itu ketika ia tidak dapat menyembunyikan ketidaksabarannya
mendengarkan Laura lagi-lagi memberikan kuliah mengenai maya dan ruh
dunia. Itu pula alasan mengapa lelaki itu memperingatkan Laura tentang kava
dan tentu saja mengapa si lelaki mencoba mencegahnya pergi denganku.
“Apakah ia yang mengatur pernikahanmu?”

“Ialah yang mengatur segalanya. Ia mengatur seluruh hidupku sejak aku masih
kecil. Kemudian ia menemukan seorang pengusaha yang benar-benar hebat
untukku, salah seorang rekannya, seorang pengusaha minyak. Untukku. Ia
menemukannya untukku. Dan aku adalah seorang anak yang baik. Pesta
pernikahan tradisional serbaputih dan dua ratus enam puluh tamu, sebagian besar
dari perusahaan miliknya.”

“Aku tidak menyangka hal seperti itu masih

ada.”

“Tetapi, aku adalah seorang anak yang baik. Aku tidak ingin mengecewakan
ayahku.”

“Walaupun engkau seorang anak yang tidak diinginkan?”

“Aku tidak pernah memiliki ibu. Hanya ayah.”

“Bukankah kau bilang engkau ditolak oleh ibumu sama seperti Tagimaucia?”

“Itulah mengapa aku tidak pernah memiliki ibu.”

“Tetapi, ia masih hidup?”

Ia mengangguk.

“Hidup bersama ayahmu?”

Ia mengangguk lagi.

“Sudah berapa lama engkau berpisah dengan suamimu?”

“Dua minggu.”

“Sejak kalian berdua berpisah?”

“Sejak aku meninggalkannya. Aku pindah ke Australia. Kemudian Ayah datang


ke Adelaide. Ia beranggapan sebaiknya kami berlibur bersama.”
“Ia ingin engkau kembali kepada suamimu lagi?”

“Tentu saja. Ia menjualku kepadanya.” “Dan ayahmulah yang memberimu dana


penelitian itu? Apakah dia yayasan itu?”

Ia mengangguk.

“Apakah engkau menyayanginya?”

Ia mengangkat gelasnya dan menyeruput seteguk anggur. Kemudian berkata


dengan penuh keyakinan, “Sangat.”

Ia menyeruput lagi, dan kemudian, dengan tersenyum kecil, menambahkan


sesuatu yang membuatku sadar betapa ia sangat mencintai ayahnya.

“Tetapi, ia sungguh konyol. Ia benar-benar menyebalkan.”

Aku menyimpulkan bahwa Bill dan Laura menunjukkan contoh kasus serius
sikap overprotektif, fiksasi ayah, dan Elektra kompleks yang tersamar.

Bayangan mengenai penjinak hewan dan harimaunya ternyata tidak terlalu jauh
dari kenyataan.

Sambil duduk menikmati Rioja, kami bercakap-cakap mengenai ruh dunia.


Sepanjang waktu ia menatapku dengan mata cokelatnya. Aku menduga, baik
komitmennya terhadap lingkungan maupun konsep-konsep filsafat holistiknya
tidaklah tertanam begitu dalam. Tetapi, toh ia bermata satu. Ia adalah seorang
penganut absolutisme filsafat bermata satu. Dan ia adalah seorang gadis ceria
dan sensual bermata satu yang mengagumi burung langka, legenda kuno, dan
bintang laut biru. Baik mata yang cokelat maupun yang hijau telah menantangku
dengan caranya masing-masing, dan membuatku berpikir keras.

Setelah botolnya kosong, kami pun masuk ke pondok. Dan, ya Laura


menghabiskan malam itu bersamaku.

Sebelumnya, ketika mengambil gelas dari dalam kulkas, aku melihat Gordon di
dinding. Sementara Laura sedang berada di kamar mandi, aku mendatanginya,
menatap matanya dengan tegas dan berkata, “Malam ini, diamlah! Mengerti?
Malam ini aku libur tidak berurusan denganmu.”
Aku tidak menyentuh botol ginku, dan itu bukan hanya untuk mencegah
memprovokasi Gordon.

Mungkin engkau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan Laura. Jangan lupa,


engkaulah yang berkata kita tidak saling terikat lagi. Akulah yang berpendapat
bahwa sebaiknya kita membiarkan tahun perpisahan kita berlalu sebelum
memulai hubungan yang baru.

Setelah menghadapi berbagai perspektif mendalam yang terus-menerus


dipaksakan oleh Gordon kepadaku, sungguh indah untuk dapat menyerahkan diri
kepada seorang manusia. Aku tidak mampu membayangkan menjalani satu
malam lagi dengan ditemani Gordon. Dan sebenarnya, aku baru akan
menceritakan kepadamu kejadian di Salamanca itu, ketika tiba-tiba engkau mulai
tertawa tak terkendali saat aku menunjuk Ana dan Jose dan memberitahumu
bahwa aku bertemu dengan mereka di Fiji.

Ketika aku terbangun keesokan harinya, Laura telah pergi, dan aku tidak pernah
melihatnya lagi. Saat sarapan, kudengar pagi-pagi sekali ia dan Bill telah
berangkat menuju Tonga. Namun, aku telah memberinya alamat rumah dan e-
mail ku, dan beberapa hari sebelum berangkat menuju Salamanca, aku menerima
sebuah foto yang sangat tajam menggambarkan sang merpati langka dengan
dadanya yang berwarna Jingga. Harus kuakui, aku selalu menyimpan foto itu di
mejaku, bahkan di sini di the Palace. Surat yang menyertainya memberitahuku
bahwa Laura telah kembali kepada sang pengusaha, menurutnya karena
suaminya telah berubah menjadi seseorang yang sama sekali baru. Ia bahkan
telah mulai mempelajari Bhagavadgita.

Aku akan berangkat dengan menggunakan pesawat pukul 14.00 dari Matei ke
Nadi, kemudian

dilanjutkan dengan Air New Zealand menuju Los Angeles pada pukul 08.30
malam itu. Aku mulai membereskan barang-barangku sebelum pergi sarapan.
Tentu saja, Gordon harus muncul lagi; mungkin juga karena aku telah mencuri-
curi seteguk kecil gin setelah berpuasa malam sebelumnya. Ia masih berdiam di
tempat yang persis sama seperti saat aku melihatnya ketika kami akan pergi
tidur.

“Nah, benar, kan,” ia memulai.

Aku tahu persis apa yang ia pikirkan, dan aku benar-benar tidak suka
membayangkan ia mungkin terpaku di dinding dan memandang kami semalam
suntuk dengan tatapannya yang terbuka. Tidak hanya ia memiliki kemampuan
melihat di malam hari yang fenomenal, ia juga terlahir tidak dapat menutup
matanya terhadap apa pun. Walaupun begitu, aku berkata, “Dapatkah engkau
sedikit lebih mendetail?”

“Kalian semua sama saja dengan kami.”

“Aku tidak pernah menyatakan sebaliknya. Aku selalu membiarkan kartuku


terbuka di meja dan menekankan bahwa aku tidak lebih dari seorang vertebrata.
Aku selalu benar-benar terbuka akan hal itu. Aku adalah seorang primata yang
semakin tua.”

“Maksudku, seberapa jauh sebenarnya engkau mengenal dirinya?”

“Aku memang harus mengenalnya.”

“Bukankah ia telah menikah?”

“Tetapi, pernikahan itu adalah sebuah kesalahan yang menyedihkan.”

Ia berkata, “Spesiesmu sungguh pintar membuat alasan.”

“Omong kosong.”

“Secara umum, spesiesmu pintar menutup-nutupi.”

“Kusangka kita tengah membicarakan hal yang sebaliknya.”

“Tetapi, kau tahu apa yang kumaksud.”

“Aku tahu semua yang kau maksud.” “Apa yang benar-benar membedakan
dirimu dari kami yaitu hampir semua yang kau lakukan adalah semacam
penyamaran.”

“Jika engkau ingin percakapan ini berjalan selayaknya, kusarankan engkau lebih
spesifik lagi.”

“Tetapi, penyamaran luarmu ini hanya sekadar usaha untuk menyembunyikan


keprimitifan dirimu. Engkau terlahir telanjang sama seperti kami, dan engkau
juga tidak akan terlalu lama lagi berada di atas Bumi ini, sebelum engkau
diambil kembali.”

“Engkau tidak perlu begitu blak-blakan.”

“Engkau akan dipilin kembali ke dalam rahim Gaia untuk menjadi pupuk bagi
cacing dan kecoak.”

“Kurasa, aku adalah orang terakhir yang perlu diingatkan tentang hal itu.”

“Tetapi yang kalian semua lakukan hanyalah berusaha melupakan hal itu.”

“Aku tidak termasuk.”

“Tidakkah aneh bahwa kau menyebut dirimu sendiri sebagai ‘kera telanjang’?”
“Betul.”

“Maksudku, hewan paling diperlengkapi di dunia, dengan segalanya mulai dari


gaun malam dan

jas putih hingga gelar yang bermacam-macam dan cermin untuk dipamerkan di
atas perapian. Belum lagi segala diploma dan keunggulan, etika dan etiket,
upacara dan ritual. Yang aku maksud adalah segala lapisan luar itu, lapisan luar
yang terlalu tebal yang dinamakan kebudayaan, ‘peradaban’, ‘keti-
dakalamiahan’.”

“Engkau benar juga.”

“Kurasa, engkau pernah mendengar cerita tentang baju baru sang raja?”

“Jangan coba-coba melucu.”

“Bahkan seekor tokek dapat melihat bahwa semua itu adalah omong kosong.
Kami berkata: Tetapi tentu saja engkau telanjang! Engkau telanjang sama seperti
kami. Tetapi, engkau hanya berbicara dan berlaku sombong, Tuan! Meskipun
demikian, di balik segala omong besar itu, jam biologis terus berdetak tanpa
ampun hingga akhirnya seluruh dunia tiba-tiba berhenti.”

“Engkau juga banyak bicara.”


“Dalam keadaan yang paling lazim, ujarmu, dan pada semua kejadian yang
terjadi pada waktu ini, engkau menambahkan, selalu penting bagi kita untuk
menekankan bahwa walaupun banyak ciri Picasso muda dapat ditemukan pula
dalam karyanya saat ia lebih dewasa, banyak hal di sini yang mengingatkan akan
Schonberg, dan sayang sekali Puccini tidak pernah menyelesaikan Turandot,
karena itu benar-benar opera terbaik yang ia ciptakan. Dan ngomong-ngomong,
tahukah kau bahwa Verdi menulis La Traviata hanya dalam beberapa minggu.

Dibandingkan dengan Puccini, aku hampir-hampir mengelompokkannya ke


dalam musik ringan ….” Ia berhasil memancingku.

“Kami dilahirkan dalam sebuah kebudayaan,” potongku, “dan kami kemudian


terasing darinya. Kami bukan sekadar tamu di Bumi. Kami juga tamu di dalam
ruangan-ruangan yang disebut sebagai Bach dan Mozart, Shakespeare dan
Dostoyevsky, Dante dan Shankara. Kami masuk ke dalam dan terusir dari Zaman
Kuno dan Abad Pertengahan, Masa Renaisans dan Rococo, Era Romantisme dan
Modern. Dalam hal itu, jelas kami berbeda dengan tokek karena sepanjang yang
kuingat, sampai sekarang belum ada universitas untuk tokek, dan yang jelas
tidak ada fakultas pertokekan.”

“Jangan keterlaluan.”

“Jika meninggal, kami tidak hanya kehilangan seluruh kosmos walaupun itu
sendiri dapat menjadi suatu kehilangan yang menyakitkan kami juga
mengucapkan selamat tinggal kepada beribu-ribu jiwa manusia yang kami kenal.
Itu jika memang ada seribu jiwa manusia, karena mungkin kami tak lain dan tak
bukan hanyalah berbagai sisi dari ruh dunia ….”

“Terima kasih, dengan tulus aku berharap engkau belum berubah menjadi seperti
para penganut monisme yang vulgar. Hal itu tidak menular, kan? Maksudku,
menular melalui kedekatan. Aku hanya berusaha menjelaskan bahwa kami lebih
harmonis dengan lingkungan kami, kami puas menjadi seperti apa adanya,
alami, benar-benar alami. Kami memakan nyamuk, buang air, dan bereproduksi.
Dan kami

melakukan itu semua dengan penuh sukacita. Kami tidak terbujuk oleh emas
palsu maupun omong kosong intelektual. Kami tidak mulai memberi kuliah
tentang khazanah seni maupun perbandingan musik hanya karena usia kami
mendekati usia pensiun dan belum memiliki cucu.”
“Seperti yang telah kukatakan, engkau terlalu banyak bicara. Terkadang engkau
hampir puitis.”

“Segala yang kau katakan tentang diriku memantul kembali kepadamu sendiri,
Tuan.”

“Aku sering bertanya-tanya, apakah para penyair minum karena mereka penyair,
atau apakah mereka menjadi penyair karena mereka minum.”

“Intinya adalah mereka terlalu banyak berpikir. Tidakkah mungkin untuk


berhenti berpikir? Maksudku, tidak bisakah engkau matikan saja pikiranmu?”

“Tidak, tidak semudah itu. Manusia dikutuk untuk terus berpikir sepanjang
hidupnya. Mungkin dalam skala yang terbatas, kami dapat mengontrol pikiran
kami, tetapi kami tidak dapat mematikan proses berpikir itu sendiri. Untuk dapat
melakukannya, kami harus mengurung diri di sekolah meditasi dengan segala
hiasan struktur keagamaan palsunya yang tolol. Kami bahkan tidak dapat tidur
tenang di malam hari. Kami menjadi sasaran apa pun yang mungkin hadir dalam
bentuk mimpi. Tidak hanya kami hidup dalam masyarakat pencari kesenangan
yang ingar-bingar, tetapi saat kami tidur, alam juga mendirikan bagi kami sebuah
panggung untuk pentas drama kegilaan.”

“Memang akhirnya engkau tertidur, tetapi tidak sang primata betina itu. Maaf
jika aku harus mengatakannya begitu blak-blakan, tetapi ia pergi begitu engkau
tertidur.”

“Aku tidak menyalahkan dirinya.”

“Dapatkah engkau mengingat apa yang kau mimpikan semalam?”

“Ya, kebetulan bisa. Aku bermimpi bahwa aku tidak dapat mengingat apakah
usiaku enam belas atau dua puluh empat, dan itu membuatku khawatir. Aku
khawatir karena aku tidak dapat mengingat berapa usiaku. Pada akhirnya, aku
memutuskan tidak banyak berbeda apakah usiaku enam belas atau dua puluh
empat, karena aku masih memiliki hidup yang panjang di hadapanku. Kemudian,
tiba-tiba aku terbangun dan menyadari bahwa usiaku mendekati empat puluh
tahun.”

“Jadi, engkau keliru menganggap dirimu berumur enam belas atau dua puluh
empat tahun? Itukah yang kau maksud?”
“Cukup sudah,” hanya itu yang kukatakan.

Aku terkoyak oleh rasa bersalah karena sekali lagi telah terperangkap.
Seharusnya, aku tidak terlibat lagi dengan pemikiran-pemikiran tokek semacam
itu setelah malam yang kulalui bersama Laura. Aku toh dapat berfungsi dengan
baik tanpa minuman itu.

“Tidakkah kau pikir mungkin ada elemen rekonsiliasi dalam sebuah pertemuan
antarkekasih?” tanyaku.

“Dalam sebuah apa?”

“Ini agak sulit untuk dijelaskan. Aku tidak yakin

tokek memiliki banyak kisah cinta. Mungkin ini adalah sesuatu yang hanya
terjadi pada manusia, atau setidaknya primata tingkat tinggi.”

“Aku tidak tahu apakah yang kusaksikan semalam pantas disebut sebagai
‘tingkat tinggi’ apa pun.”

“Maksudku, satu-satunya yang dapat menaklukkan kedua atau ketiga lipatan


otak yang berlebih itu dan karenanya menekan kesadaran akan adanya kematian
adalah cinta. Mungkin cinta memiliki efek simpati yang sama seperti gin dan
kava, hanya jauh lebih kuat dan tahan lama.”

“Engkau mungkin mengungkapkan sedikit kebenaran. Cinta adalah candu bagi


orang-orang.”

“Maksudku, kenyataan sederhana yaitu menjadi pasangan sangatlah berbeda


dengan seorang yang sendiri saja.”

“Benarkah? Apakah itu suatu aritmetika yang canggih?”

“Bukan.”

“Kita juga sudah setuju bahwa ia telah menikah. Jadi, kini jumlahnya naik
menjadi bertiga.” “Laura sudah berpisah.” “Bukankah engkau juga sudah
berpisah?” “Betul.”

“Maka, kita punya empat sekarang. Apakah ada lagi yang terlibat dalam
hubungan dua orang ini?”

“Aku dan Vera sudah tidak hidup bersama lagi.” “Jadi, akhirnya engkau sudah
melupakannya? Engkau berkata akan benar-benar meninggalkannya

begitu kembali dari perjalanan Pasifikmu yang panjang ini. Engkau belum lupa,
kan, perjanjian yang kau buat dengan dirimu sendiri?” “Tidak, tidak.”

“Tetapi sekarang sudah berakhir dengan Vera.”

“Bukan itu yang kukatakan.”

“Bukan yang kau katakan? Engkau tidak mengatakan bahwa mulai saat ini
dalam kepalamu hanya ada tempat bagi seorang penganut monisme vulgar yang
terfiksasi kepada ayahnya, seorang wanita dengan rambut hitam yang terkepang
dan satu mata yang hijau dan satu mata yang cokelat?”

“Tidak.”

“Maka, ini seperti apa yang telah kuduga.” “Apa itu?”

“Engkau tidak setia, sama seperti kami.”

“Omong kosong. Engkau mengambil kesimpulan terlalu cepat.”

“Engkau harus tahu apa yang ada dalam dirimu jika ingin kembali kepada Vera.”

“Tidak semudah itu. Emosi manusia sedikit lebih tinggi daripada naluri reptil.
Emosi manusia tidak dapat dikontrol oleh logika biner.”

“Maka izinkanlah aku membantumu. Sungguh menyenangkan memiliki


seseorang untuk diajak berbicara, bukan?”

“Sebaiknya aku tidak menjawabnya.”

“Jika sekarang engkau dapat memilih antara Vera dan Laura, siapakah yang akan
kau pilih?”

“Maksudmu untuk seumur hidupku?”

“Untuk seumur hidupmu. Ataukah segala tun—


tutan idealmu itu sudah mulai memudar?” “Vera atau Laura?”

“Betul, ayolah! Pilihan ada di tanganmu, Tuan!” “Laura hanyalah kisah


percintaan saat liburan.” “Dan Vera?”

“Aku akan bertemu Vera dalam sebuah konferensi di Salamanca.”

“Mungkin ia akan menjadi kisah percintaan saat konferensi. Mana yang lebih
bergengsi di antara dua percintaan itu?”

Sebelumnya, aku bergerak ke sekeliling ruangan untuk membereskan barang-


barangku sambil berbicara dengan Gordon. Kini aku memukulkan tinjuku pada
koper yang baru saja kututup. Aku benci diriku sendiri karena telah menenggak
gin itu. Aku tahu benar ke mana hal itu akan berujung.

“Cukup!” ujarku. “Sekarang aku akan pergi sarapan.”

“Dan aku akan duduk di sini dan menunggu. Aku punya banyak waktu.”

“Aku akan pergi dalam beberapa jam.”

“Sungguh menyenangkan. Jadi, kini manusia berusaha melarikan diri dari


dirinya sendiri?”

“Bagaimanapun, aku akan pulang ke rumah.”

“Dan aku akan ada di dalam kopermu. Aku tidak ingat apakah aku pernah
memperkenalkan diri. Tidakkah aku pernah berkata bahwa aku adalah kembaran
dari kesusilaanmu?”

“Aku yakin tidak pernah.”

“Saudara kembar seperti diriku benar-benar dapat bergerak ke mana pun, Tuan.
Mereka begitu mudah bergerak bagaikan bayangan seseorang yang berusaha
melarikan diri dari dirinya sendiri.”

Saat sarapan, aku bertemu si orang Inggris dan kedua orang Spanyol itu. John
memberitahuku bahwa Laura dan Bill telah pergi, dan aku hanya mengatakan
bahwa aku telah tahu hal itu. Tidak ragu lagi John sudah tahu mereka adalah
ayah dan anak, terutama setelah melihat sikap Bill ketika aku dan Laura pergi.
Tetapi tidak ada yang membicarakan hal itu sekarang, dan untungnya ia tidak
mengolok-olok aku dengan menyinggung bagaimana aku dan Laura
menghabiskan sebotol Rioja di berandaku.

Pasangan Spanyol itu lebih ceria daripada hari sebelumnya, dan mungkin itu ada
hubungannya dengan kepergianku. Mereka tertawa dan bercanda, dan dengan
segera mulai mengingat-ingat kejadian-kejadian menarik dalam pesta semalam
yang mereka hadiri hingga sekitar pukul 2 pagi. Aku memutuskan untuk
mencoba berbicara secara serius dengan mereka untuk terakhir kalinya sebelum
kepergianku, dan sekali ini menggunakan bahasa Spanyol. Apa pun akibatnya.

Tetapi, hal itu tidak terjadi. Sementara Jose tengah mengalihkan perhatian
selama beberapa saat, tiba-tiba kulihat wajah Ana mulai memucat.
Diletakkannya mangkuk telurnya ke atas piringnya, kulitnya kini pucat pasi, dan
kemudian ia terpuruk ke depan ke atas meja sehingga menyenggol secangkir
kopi.

Jose melompat berdiri.

“Ana!” teriaknya, dengan nada menyayat hati bagaikan Rodolfo memanggil


Mimi dalam adegan terakhir La Boheme.

Ia menegakkan si wanita di kursinya dan pertama-tama menamparnya pelan.


Kemudian ia memukulnya sekali lagi.

“Ana! Ana!”

Setelah beberapa saat, rona di wajah Ana mulai kembali, kemudian ia mulai
menangis. Ia menyandarkan diri kepada Jose, dan si lelaki mendukungnya
sementara ia berjalan terhuyung-huyung menuju pepohonan palem. Kemudian,
seakan-akan dalam gerak lambat, mereka pun melayang pergi di antara
pepohonan palem menuju pondok mereka.

Itu adalah terakhir kalinya aku melihat mereka di Fiji. Ketika beberapa jam
kemudian aku kembali ke meja resepsionis untuk keluar, John tengah menulis di
salah satu meja. Aku bertanya apakah ia telah mendengar kabar mengenai kedua
orang Spanyol itu. Ia memberitahuku bahwa seorang dokter telah datang, dan
kondisi wanita itu telah jauh lebih baik.

“Terlalu banyak kava?” tebakku.


“Mungkin,” hanya itu yang ia katakan.

Seseorang datang untuk memberi tahu bahwa mobilku telah datang.

“Ke mana Anda akan pergi?” tanya John.

“Pulang,” ujarku.

Aku menjelaskan seluruh rencana penerbanganku dari Nadi ke Oslo.

“Tetapi, bukankah Anda akan pergi ke konferensi di Salamanca itu beberapa


bulan lagi?” “Lalu?”

Aku tidak mengerti mengapa ia bertanya.

“Bagaimana dengan Vera?”

Aku hanya mengangkat bahu. Ia berkata:

“Anda akan pergi melalui Madrid, tentu saja?”

“Tentu, tentu.”

Tiba-tiba ia mencecarku.

“Dan ketika Anda berada di Madrid, mungkin Anda akan mampir di Prado?”

Dengan pertanyaan terakhir ini, seluruh percakapan kami terasa berubah menjadi
ganjil. Kemudian aku teringat pernah menyebutkan bahwa aku menyukai seni,
bahwa Madrid memiliki sebagian dari koleksi seni terbesar di dunia, dan bahwa
aku terutama menyukai Prado.

“Mungkin saja,” ujarku.

“Anda harus,” ia berkeras. “Anda kan tidak bisa datang ke Madrid tanpa
mengunjungi Prado.”

“Saya tidak menyadari bahwa minat kita sama,” komentarku. “Mengapa Anda
tidak mengatakan hal ini sebelumnya?”

“Tolong sebutkan, apakah Anda lebih suka El Greco atau Bosch, Velazquez atau
Goya?”

Aku merasa percakapan yang terlalu menggebu-gebu ini tidak sesuai untuk
dilakukan pada saat-saat perpisahan terakhir kami, karena setelah ini mungkin
kami tidak akan pernah bertemu lagi. Aku akan segera menjalani dua
penerbangan antar-benua dan sopir sudah mulai mengangkut tasku.

Aku memikirkan percakapan pendek yang kulakukan dengan Gordon pagi tadi.
Aku memikirkan baju baru sang raja. Aku juga memikirkan kejadian kecil yang
dialami Ana dan pertolongan pertama Jose yang kasar.

“Saya menyukai seluruh tempat itu,” ujarku.

“Kalau begitu, menurut saya, Anda sebaiknya meluangkan waktu untuk melihat
seluruh koleksi yang ada dengan teliti.”

Sopir menunjuk ke arah jam. Pesawatku akan tinggal landas setengah jam lagi.

“Tolong sampaikan salam hangat saya kepada Ana dan Jose,” pintaku.

“Dengan senang hati, Tuan. Dan jika suatu hari Anda ke London

“Sama halnya. Anda akan dapat menemukan nama saya dalam buku telepon.
Tetapi berjanjilah Anda akan menyampaikan salam hangat saya kepada mereka.
Dan semoga cepat sembuh untuk Ana!”

Sopir kini mulai membunyikan klaksonnya, dan beberapa jam kemudian aku
sudah duduk di tingkat atas sebuah pesawat jumbo jet menuju Honolulu dan Los
Angeles.[]

Engkau Memilih untuk Membagi Dua Duka Kita

BEGITU TIBA DI RUMAHKU DI OSLO, AKU MENENGGELAMKAN DIRI


ME ngerjakan laporanku, dan dua minggu yang lalu aku tiba di Salamanca. Aku
begitu penasaran apakah engkau benar-benar akan muncul, tetapi bahkan lebih
penasaran untuk mengetahui apakah engkau sadar bahwa aku juga akan
mengikuti konferensi tersebut. Aku masih tidak tahu siapa di antara kita yang
lebih dulu mendaftar, tetapi aku telah mengirimkan semacam pendaftaran
sebelum pergi ke Pasifik. Dan ketika aku menelepon dari Taveuni untuk
memastikan kedatanganku, namamu sudah tertera dalam daftar peserta. Barulah
setelah kembali ke Oslo, aku diminta membawakan makalah mengenai migrasi
dan keanekaragaman hayati.

Apakah mungkin engkau mendaftarkan diri dalam konferensi ini karena dengan
demikian kita akan mendapatkan kesempatan bertemu? Atau, apakah engkau
memutuskan untuk pergi berdasarkan alasan-alasan profesional, walaupun ada
kemungkinan secara tak sengaja engkau akan bertemu denganku? Toh engkau
masih punya kesempatan membatalkan keikutsertaanmu jika kau memang benar-
benar tidak ingin kita bertemu.

Aku tidak tahu apakah sudah mengungkapkan alasan yang jelas, tetapi seperti
yang mungkin akan kau mengerti, aku tidak berani beranggapan kita benar-benar
akan bertemu. Surat pendek yang kau tulis di bulan November masih segar
dalam ingatanku, dan aku masih mengingat percakapan kita berikutnya melalui
telepon. Itu adalah terakhir kalinya kita melakukan kontak.

Tetapi, engkau sungguh-sungguh datang, dan engkau tidak tahu akan bertemu
denganku sebelum membaca jadwal acara terakhir. Kemudian, engkau
berpikiran sama dengan diriku. Bahkan walaupun kita tidak dapat hidup bersama
lagi, setidaknya kita berbagi sebuah duka yang mendalam, dan kita terkutuk
untuk terus berbagi hal itu selamanya. Terkutuk, menurutmu, tetapi terkutuk
untuk berbagi. Delapan bulan telah berlalu sejak kita kehilangan Son-ja, dan
setengah tahun sejak engkau membawa barang-barangmu pergi dari Sognsveien
untuk kembali ke keluargamu di Barcelona.

Tentunya engkau juga berpikir bahwa, sekali lagi, kita ditakdirkan bertemu di
sebuah konferensi ilmiah. Segalanya telah berjalan satu putaran penuh. Hampir
sepuluh tahun telah berlalu sejak pertama kali kita bertemu dalam kongres besar
di Madrid itu, dan hanya beberapa bulan kemudian kita memiliki rumah di Oslo.

Ketika melihatmu di lobi Hotel Gran, aku berpendapat engkau tampak lebih
bersinar daripada biasanya. Yang jelas, engkau adalah orang yang berbeda dari
yang kuingat saat minggu-minggu terakhir

yang suram di Oslo itu. Awalnya kita hanya berdiri dan saling menatap, dan
kemudian seperti biasa engkau berkomentar bahwa aku tidak bercukur dengan
benar. Setelah itu, engkau membawaku ke sebuah sudut, dan kita pun saling
berpelukan dan menangis. Aku yakin tidak semua air mata itu hanya untuk
Sonja.
Engkau menjelaskan telah mendapatkan sebuah dana riset, dan entah karena
dana ini, atau hanya karena menurutku engkau begitu cantik, aku beranggapan
bahwa engkau telah bersama seorang lelaki lain. Engkau juga mengatakan
sesuatu saat pertama kita bertemu, sesuatu yang kau putuskan harus dinyatakan
sejelas-jelasnya sejak awal. Engkau berkata, sungguh menyenangkan bertemu
denganku lagi, tetapi kita tidak boleh mengungkit kemungkinan untuk bersama
lagi karena engkau yakin kita tidak akan dapat lagi hidup bersama sebagai
sepasang suami-istri. Dan aku ingat bahwa aku menyetujui saja apa yang kau
katakan, karena aku begitu bahagia dapat bertemu denganmu lagi. Aku juga
menyadari, tidak ada jalan bagi kita untuk kembali. Aku berbohong.

Aku tidak tahu apakah sebaiknya menggambarkan situasi ini sebagai jalan
buntu. Apakah dua orang yang setuju sepenuhnya untuk tidak mengambil suatu
rute bisa dibilang menghadapi jalan buntu? Satu-satunya persoalan mungkin
hanya seberapa tulus niat kami masing-masing. Apakah situasinya akan berbeda
jika saja salah seorang dari kami berani mengungkapkan hal yang lain?
Seandainya ada sifat kami berdua yang mirip, tentunya sifat itu adalah harga diri
yang tinggi.

Aku tidak perlu bercerita banyak mengenai konferensi itu sendiri, walaupun aku
belum cukup berterima kasih kepadamu atas dukungan yang kau berikan ketika
si pendukung bioliberal dari Amerika itu mulai berargumen bahwa tidak ada lagi
gunanya mencoba mencegah migrasi spesies-spesies tanaman dan hewan.
Biarkan alam yang mengaturnya! ujarnya. Selama ini alam yang selalu
melakukannya. Kemudian, engkau pun menyumbangkan pendapat. Manusia
adalah bagian dari alam, katamu, dan engkau memang akan mengaturnya.
Engkau berkata bahwa Dr. Gibbons tidak memahami makalahku. Engkau
menyarankan mungkin akan baik baginya untuk mengulang kembali kurikulum
ekologi SMU nya. Engkau menekankan bahwa manusia telah menunda
terjadinya seleksi alam. Dan bahwa tidak ada penerbangan antar benua pada saat
zaman Jura dan zaman Kapur, bahkan tidak ada lalu lintas kapal antara
Gondwana dan Laurasia. Ingatkah engkau bagaimana ia menjawab? Laissez
faire, uj a rn y a. Laissez passer!

Banyak dari para peserta konferensi yang tahu bahwa kita pernah menikah, dan
juga apa yang menyebabkan perpisahan kita. Tetapi jumlahnya tentunya
meningkat tajam setelah pembelaanmu yang gigih atas makalahku. Kita berdua
merasa bahwa tidak seharusnya kita terlalu sering muncul berdua begitu cepat
setelah perpisahan kita. Hal itu dapat menyebabkan gosip-gosip konferensi yang
ingin kita

hindari. Semakin sering kita terlihat berdua, semakin banyaklah pembicaraan


yang muncul, dan semakin banyak spekulasi mengenai keadaan di seputar
kecelakaan itu. Kurasa, kita cukup bijaksana dengan berlaku tidak mencolok
pada saat itu, dan sekarang aku hanya ingin menceritakan sedikit mengenai
bagaimana aku menjalani sore dan malam kita yang terakhir.

Aku telah beberapa kali mengunjungi Salamanca sebelumnya, tetapi kota ini
benar-benar baru bagimu. Maka, sebelum makan malam, engkau mendesakku
untuk mengajakmu berjalan-jalan keliling kota universitas tua itu. Aku tinggal
lebih lama di kota itu daripada dirimu, dan kuakui keesokan sorenya aku
berjalan mengikuti rute yang sama lagi. Kita berangkat dari Plaza Mayor, yang
menurutmu tentunya adalah Plaza Mayor tertua dan terindah di Spanyol, dan
berjalan menuju Palacio Monterrey, yang kini dimiliki oleh Duchess of Alba.
Bahkan, saat berjalan melintasi lapangan kecil antara Istana Renaissance dan
Iglesia de la Purisima, kita mulai berbicara mengenai kejadian-kejadian kecil
dalam hidup Sonja. Kita tidak banyak bicara mengenai bangunan-bangunan tua
yang terbuat dari batu pasir berwarna karat yang kini memancarkan warna merah
jambu keunguan yang lembut ditimpa sinar sore yang keemasan. Pada sore itu,
istana-istana kuno penuh sejarah kebudayaan itu tidak lebih dari sebuah latar
belakang bagi sebuah percakapan pelan mengenai seorang putri yang sudah tidak
lagi ada di dunia ini.

Aku ingat saat itu aku berpikir jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, kau dan aku
mungkin berjalan-jalan seputar Salamanca dengan seorang gadis cilik berusia
lima tahun di antara kita. Konferensi ini tentunya menarik perhatian kita bahkan
dengan adanya seorang anak kecil yang harus dipikirkan dan mengapa Sonja
tidak ikut saja?

Kemudian, kita akan berjalan dari lapangan di antara gereja dan Istana
Renaissance terus hingga Casa de las Conchas dengan bagian depannya yang
luas terukir dengan lima ratus kulit kerang. Dan tentu saja Sonja akan berlari ke
dalam tamannya yang indah dan mulai memanjat ke atas sumur sementara
engkau dan aku melihat-lihat ke dalam perpustakaan dan ruang baca. Tidak
berapa lama kemudian, ia mungkin akan berlari menyeberang jalan dan menaiki
tangga Biara Jesuit La Clericia, dan di saat kita melintasi Plaza de San Isodoro,
ia mungkin akan menengadahkan kepalanya dan menunjuk ke puncak-puncak
menara yang tinggi sebelum kita mulai berusaha membujuknya melewati Calle
de los Liberos yang sempit dalam perjalanan kita menuju universitas tua. Ia
tentunya akan menyukai Patio de las Escuelas dan mungkin bertanya patung
siapakah yang ada di tengah lapangan. Engkau akan mengatakan ia adalah Fray
Luis de Leon dan bahwa pada zaman dahulu, ia adalah seorang pengajar di
universitas itu, tetapi ia dimasukkan ke penjara selama lima tahun karena
memercayai sesuatu yang berbeda dengan apa yang diajarkan gereja. Ketika
dilepaskan dari penjara dan

mulai mengajar kembali, ia memulai kuliah pertamanya dengan: “Seperti yang


kita bicarakan kemarin Ketika Sonja mendengarnya, ia akan tertawa terbahak-
bahak karena lima tahun telah berlalu sejak Fray Luis terakhir mengucapkan
sesuatu kepada murid-muridnya, bukan kemarin. Lima tahun adalah sama
panjang dengan hidup Sonja, dan itu adalah waktu yang sangat, sangat lama,
hampir selama-lamanya, tetapi selama itulah lelaki itu berada di penjara. Dan
engkau, Vera, mungkin akan menjawab dengan mengajukan kepada Sonja
sebuah pertanyaan lain. Itulah yang biasanya kau lakukan jika ada sesuatu yang
tidak ia mengerti. Mungkin engkau akan bertanya: Menurutmu, mengapa ia
memulai dengan kalimat “Seperti yang kita bicarakan kemarin” jika ia berada di
penjara selama lima tahun? Dan Sonja mungkin akan menjawab bahwa lelaki itu
berusaha melupakan tahun-tahun kesedihan yang ia habiskan di dalam penjara.
Atau mungkin Sonja akan mengajukan pertanyaan lain, itu jika ia belum mulai
menunjuk segala medali, perisai, dan gambar-gambar hewan yang terdapat di
sisi depan universitas yang mengesankan itu. Ia akan melihat lambang tengkorak
dengan katak di atasnya jauh sebelum kita melihatnya, tetapi engkau mungkin
tidak akan memberitahunya bahwa motif tersebut adalah simbol dari analogi
antara kematian dan hasrat seksual. Engkau juga tidak akan menceritakan bahwa
lambang itu diletakkan di sana untuk memperingatkan mahasiswa-mahasiswa
muda agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan asusila, melainkan

bahwa karena katak begitu lincah dan suka bermain-main, sama seperti sebagian
orang, tetapi su-atu hari mereka harus berhenti bermain.

Sebelum engkau dan aku selesai mengagumi sisi depan Plateresquenya yang
mewah, Sonja tentunya telah berlari mendahului menuju taman La Escuelas
Menores yang khas dari abad ke-15. Engkau dan aku mungkin akan berjalan dan
berbincang-bincang, sementara dirinya, berdasarkan inisiatifnya sendiri, akan
memasuki Museo de las Universidad dan berdiri dengan khidmat di bawah
langit-langit melengkungnya yang berwarna biru langit yang menunjukkan
semua rasi bintang. Ia mungkin tidak akan mau dibujuk untuk masuk ke ruang
kuliah Luis de Leon, jadi kita tidak akan dapat melihat Ruang Paraninfo dengan
Gobelin Belgianya dan lukisan diri Carlos V karya Goya, tidak lupa
perpustakaannya yang terkenal dengan seluruh incunabulanya yang berharga.
Tetapi, kurasa ia akan membawa kita dengan penuh aksi ke dalam kedua
katedral, dan kemudian meminta es krim sehingga keluarga kita harus menunggu
hingga esok lusa untuk mengunjungi Convento de San Esteban dengan sarang-
sarang burung besar jauh di atas dindingnya, Convento de las Duenas dengan
taman-tamannya yang indah, dan Istana Renaissance Fonseca yang mengelilingi
halaman dengan gaya tak bercacat yang dulu digunakan untuk adu banteng.

Kita setuju bahwa membicarakan begitu banyak tentang Sonja sore itu di
Salamanca berdampak baik bagi kita, dan kurasa kita dapat menikmati

pembicaraan itu tanpa adanya penghalang karena kita dikelilingi oleh berabad-
abad kehidupan yang telah lalu. Engkau berkeras ingin aku memperlihatkan
seluruh isi kota universitas tua itu walaupun kita sebenarnya hanya
membicarakan Sonja, tetapi engkau ingin aku melakukannya. Maka, Sonja
memang seperti ikut bersama kita ke Salamanca. Tidak, ia memang tidak lagi
hidup, Vera, bukan itu yang kumaksud, aku bahkan tidak bermaksud mengatakan
bahwa kita harus belajar untuk menerima hal itu. Namun, jika memori kita yang
amat berlimpah tentang gadis kecil itu memiliki sebuah tempat untuk hidup,
sebuah lingkaran tempat bergaung, sebuah unsur dalam sesuatu yang terpelihara,
hanya engkau dan akulah yang dapat menciptakannya.

Engkau menuturkan kepadaku beberapa kisah pendek mengenai putriku sendiri


yang belum pernah kudengar sebelumnya, dan hal ini menyakitkan karena aku
menyesal tidak berada bersamanya setiap saat dalam hidupnya di Bumi,
walaupun ini juga memberi harapan untuk dapat belajar mengenalnya lebih baik.
Engkau sering berpaling dan mengusap matamu, Vera, aku melihatnya, dan
mungkin engkau juga menyadari bahwa aku bukan berusaha melihat relief-relief
itu dengan lebih jelas ketika aku memalingkan muka ke arah dinding universitas
kuno tempat engkau baru saja menunjuk ke arah katak dan tengkorak itu. Tetapi,
beberapa kali dalam perjalanan panjang kita itu, terlintas dalam benakku bahwa
engkau masih ibu dari Sonja. Mungkin menyakitkan untuk mengingatkanmu
seperti ini, tetapi sore

itu aku berjalan dengan ibu dari seorang gadis kecil. Gadis itu tidak pernah hidup
lebih dari empat setengah tahun, hanya ibu dan ayahnyalah yang akan terus
bertambah tua. Mereka akan menjadi empat puluh dan lima puluh dan enam
puluh, tetapi seorang Sonja berusia empat setengah tahunlah yang akan hidup
bersama mereka sepanjang hidup mereka. Engkau masih ibunya, Vera, dan aku
masih ayah dari anakmu.

Setelah acara makan malam penutupan resmi konferensi, kita meninggalkan


perayaan itu, dan sekali lagi engkaulah yang ingin berjalan-jalan ke luar, dan
tentunya engkau tidak lupa betapa engkau berkeras untuk menunjukkan sungai
itu kepadaku? Engkau berkata bahwa engkau berjalan-jalan sendirian menyusuri
tepi Tormes pada sore hari engkau tiba. Dari jembatan Romawi tua, engkau
memandang burung-burung, angsa-angsa, dan bebek-bebek itu, dan tiba-tiba
engkau terpukau oleh keindahan segalanya ketika mendengar burung bulbul
bernyanyi saat matahari tengah terbenam dan Salamanca terhampar di
belakangmu bagaikan sebuah permata merah.

Hari telah benar-benar gelap saat kita meninggalkan hotel dan mulai berjalan
menuju sungai, dan Sonja tidak lagi menjadi topik pembicaraan kita. Bahkan
pada awalnya kita tidak banyak bercakap-cakap, tetapi dengan segera aku mulai
berbicara mengenai dirimu dan kehidupanmu, dan kau mengenai aku dan
kehidupanku. Engkau banyak bertanya tentang persinggahan panjangku di
Oseania,

dan aku mungkin telah mulai menceritakan sesuatu mengenai kejadian-kejadian


di Taveuni. Kurasa setidaknya aku menyebutkan dan tidak tanpa sedikit
menyesali diri cerita mengenai betapa aku tidak berani mengusir seekor tokek
dari botol gin karena aku terlalu takut makhluk itu menjatuhkannya. Aku
bertanya kepadamu mengenai proyek penelitianmu, dan seingatku pada akhirnya
aku mengatakan bahwa engkau dapat dikatakan sebagai ahli palaean-tropologi
terbaik di Spanyol, setidaknya dalam hal-hal yang berhubungan dengan migrasi
prasejarah. Engkau tersenyum saat itu, Vera, engkau tidak menyanggahnya.
Engkau begitu bangga mendapatkan dana itu.

Setelah tiba di tepi sungai, kita berjalan menuju jembatan yang berusia dua ribu
tahun. Mungkin angsa-angsa itu yang membuatmu memikirkan Sonja lagi.
Pokoknya, engkau mulai mengingat-ingat kehidupan keluarga kita di rumah di
Oslo, dan kini hal itu hampir seperti sesuatu yang mistik. Engkau berbicara
tentang perjalanan-perjalanan kita ke Danau Sognsvann dan Ullevilseter, tentang
pertama kalinya Sonja membawa pelampung-lengan ke pantai di Huk, dan
tentang saat ia menghabiskan waktu hampir satu jam untuk keluar dari labirin
besar di Taman Vigeland. Ia menuntut hadiah untuk itu, dan ia pun mendapatkan
sebuah es krim besar di kafe di sana.

Aku membiarkanmu terus melanjutkan, tetapi aku berdiri di sana sambil


memikirkan perjanjian yang kita buat mengenai tidak mengungkit-ungkit

kemungkinan penyatuan kembali dua pertiga bagian yang masih tersisa dari
keluarga kita. Aku menyadari mungkin memang tidak ada jalan untuk kembali
bagi kita. Tetapi, aku masih beranggapan betapa pengecutnya kita karena tidak
mencoba sesuatu yang baru. Keinginanku sendiri terbagi dua, dan gagasan untuk
memulai kembali hidup kita dalam kebersamaan juga tidak sepenuhnya
menggoda bagiku. Tetapi, sementara engkau bercerita bagaimana Sonja keluar
dari labirin itu, aku berpikir bahwa kita harus berbicara dengan menggunakan
akal sehat.

Engkau tentu menyadari aku tidak berkata-kata karena kemudian engkau


bertanya apa yang kupikirkan, dan berdasarkan pengalamanmu, engkau tahu jika
aku diam sambil termenung, artinya aku tengah tenggelam dalam kesedihan.
Aku berkata tengah memikirkan kita, dan engkau berkata bahwa kau pikir tidak
seharusnya aku memikirkan hal itu. Engkau menyebutkan bahwa satu-satunya
alasan segalanya berjalan begitu lancar di Salamanca adalah karena Sonja. Aku
menjawab bahwa karena Sonjalah aku memikirkan kita, tetapi dengan segera
engkau menyibukkan diri dengan sebuah kisah panjang mengenai bagaimana
Sonja hampir tertukar dengan bayi lain ketika engkau akan keluar dari klinik
persalinan. Terakhir engkau berkata: Jika itu yang terjadi, bukan anakku yang
meninggal. Ia akan masih berada di sini.

Sesekali aku teringat bagaimana engkau menceritakan kepadaku mengenai apa


yang terjadi di Sognesveien, dan selalu dengan begitu mendetail

walaupun hal itu terjadi dengan begitu cepat. Engkau juga harus memberikan
dua atau tiga pernyataan kepada polisi. Sejak saat itu, rentetan kejadian itu
menjadi sebuah topik yang tabu, sebuah “itu” atau “yang terjadi”, dan aku
merasa kita berdua ketakutan bahwa di sana di Salamanca, kita mungkin akan
mengunjungi kembali adegan-adegan mengerikan itu. Itu akan seperti membuka
kembali luka-luka lama, dan yang kumaksud di sini tidak hanya sakitnya
kehilangan Sonja bagi kita, tetapi juga luka-luka yang saling kita torehkan.

“Yang terjadi” adalah suatu hal yang begitu biasa-biasa saja dan sering terjadi
sehingga membuat segalanya bahkan semakin mengerikan. Engkau menjemput
Sonja dari taman bermain, kau dudukkan dirinya di mobil, dan engkau telah
menyalakan mesin, tetapi kemudian engkau teringat bahwa sandal miliknya
tertinggal di ruang mantel. Engkau pun mematikan mesin dan mencabut
kuncinya, tetapi lupa memasang rem tangan maupun memasukkan gigi
persneling. Tidak lama engkau pun kembali dengan membawa sandal itu. Baru
saat itulah mobil mulai bergulir karena, seperti yang selalu kau katakan, takdir
telah menikmati kekejamannya dengan membuatmu melihat segalanya bermula,
hanya untuk menyadari kemudian bahwa engkau tidak mampu berbuat apa-apa.
Dan kita tahu apa yang terjadi di tikungan 275 meter kemudian. Kita tahu apa
yang terjadi tiga hari kemudian. Dan kita tahu bahwa terlepas dari hal lain apa
pun yang mungkin menimpa kita, rentetan kejadian itu adalah sesuatu

yang tidak akan pernah kita bicarakan lagi.

Aku telah mengatakannya berkali-kali, tetapi aku harus mengatakannya sekali


lagi, dan sekali ini berbentuk tulisan, agar engkau dapat menyimpannya
selamanya: ini sudah tidak ada lagi hubungannya dengan pengampunan. Engkau
telah kumaafkan berkali-kali. Semuanya telah berlalu dan berakhir, selesai. Aku
mengakui bahwa dalam kesedihanku, aku telah menyalahkanmu. Sekali waktu
bahkan aku menyuruhmu untuk membawa barang-barangmu dan pergi,
walaupun aku tak kuasa menahan tangis saat melakukannya. Kemudian, aku
memohon maaf kepadamu atas dukaku yang merusak segalanya, dan akhirnya
engkaulah yang memutuskan untuk meninggalkanku. Terlalu sering aku
menanyakan hal-hal yang sama, pertanyaan-pertanyaan yang sama yang
ditanyakan oleh polisi. Mengapa engkau meninggalkan Sonja sendirian?
Mengapa engkau tidak memasang rem tangan? Mengapa engkau tidak
setidaknya memasukkan gigi persneling? Dan mengapa begitu penting untuk
membawa sandal itu pulang? Ya, demi Tuhan, mengapa engkau begitu
menginginkan sandal itu?

Lalu, ada sesuatu yang lain. Engkau datang langsung dari perayaan akhir tahun
di Institut dan di sana engkau minum tiga atau empat gelas sampanye, dan ketika
berangkat, kondisimu melampaui batas yang diperbolehkan untuk menyetir.
Engkau tidak dituntut. Alasan yang diberikan polisi adalah karena engkau telah
terlalu banyak menderita. Itulah kalimat mereka persisnya, engkau telah terlalu

banyak menderita. Jadi, kepolisian ternyata lebih manusiawi dalam menjalankan


tugas mereka dibandingkan orang terdekat dan tersayangmu ini. Jika engkau
masih menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, atas teralihnya
perhatianmu sesaat ketika engkau lupa memasang rem tangan, izinkanlah aku
berkata bahwa engkau memiliki lebih banyak alasan untuk menyalahkanku
karena terus-menerus menuangkan garam ke dalam lukamu. Aku memang
sengaja, terkadang terencana.

Tetapi, yang berusaha kukatakan adalah bahwa dapat dikatakan kita telah
mengatasi hal itu, dan pada akhirnya kita berbaikan. Engkau pergi ke Barcelona
bukan karena aku belum memaafkan dirimu. Aku bahkan mengatakan bahwa
aku pun bisa sama mudahnya melakukan kecerobohan itu, sama seperti siapa
pun dalam keadaan terburu-buru seperti itu, dan prestasimu sungguh
membanggakan di Institut. Kejadian-kejadian seperti ini kadang terjadi. Sebuah
kesialan mengerikan yang secara acak menimpa sebuah keluarga kecil seperti
sambaran kilat.

Kita benar-benar telah berbaikan, Vera. Bukan karena engkau merasa tak
dimaafkan sehingga akhirnya engkau berkemas dan pergi. Kesedihankulah yang
membuatmu pergi, itulah yang tidak dapat kau hadapi, kau sudah cukup
kesulitan menghadapi kesedihanmu sendiri. Karena engkau pun terbebani duka
yang sama, walaupun tidak mudah untuk melarikan diri darinya. Engkau tidak
bisa memisahkan ketidakbahagiaanku yang berkepanjangan dari tuduhan yang
dulu kulontarkan. Tetapi, aku pun tidak terlalu pintar pada minggu-minggu itu,
dan jika saja aku punya keluarga di negara lain, mungkin aku juga akan pergi ke
sana. Dan ada untung pula bagiku bahwa perjalanan panjangku ke Oseania tiba
tidak lama kemudian. Terlalu banyak kesedihan tersimpan di dalam rumah itu,
terlalu banyak kesedihan di bawah atap yang sama, dan engkau memilih untuk
membagi dua duka kita.

Kita berdiri di atas jembatan kuno itu sambil melihat ke bawah ke dalam arus
yang deras. Ketika engkau selesai bercerita kepadaku tentang saat Sonja pulang
ke rumah sambil menggenggam uang seratus kroner yang ia temukan dalam
saku mantel salah satu asisten taman bermain, aku nyaris mengingkari janji tulus
yang kita ucapkan satu sama lain di hotel. Aku hampir mengatakan bahwa kita
tidak perlu membicarakannya sekarang, tetapi suatu hari kita berdua harus
bertanya kepada diri sendiri apakah kita tidak akan sedikitnya mencoba mencari
jalan untuk kembali bersama lagi, sebuah jalan baru, tentu saja. Kita tidak perlu
meniti ulang jalan lama yang menyakitkan itu.

Kita berdua menganggap kejadian-kejadian setelah Sonja meninggal adalah hal


yang tak terhindarkan. Tetapi, apakah setiap akhir dan tujuan hanya menunjuk ke
satu arah? Dapatkah suatu kejadian pada saat ini menunjuk ke masa lalu dan
memberi arti yang sama sekali baru terhadap sesuatu yang telah terjadi? Aku
tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan yang kutanyakan ini memang berani,

tetapi tidakkah ada kemungkinan kita bersama-sama melakukan sesuatu yang


dapat memberi arti pada kematian Sonja?

Satu-satunya yang berhasil kutanyakan di atas jembatan itu adalah apakah


engkau memiliki seorang teman. Dan engkau bahkan tidak berkesempatan
menjawab karena pada saat itu aku melihat dua sosok di tepi sungai. Mereka
berjalan sambil berpelukan erat, bagaikan dua sosok yang melebur menjadi satu.
Aku dapat melihat mereka dengan jelas karena selama beberapa saat mereka
berjalan di depan lampu sangat terang yang menyinari jembatan itu, sehingga
melemparkan bayang-bayang besar di atas kami; tetapi aku dapat melihat bahwa
mereka adalah seorang wanita berpakaian merah dan seorang pria berpakaian
hitam. Aku yakin mereka adalah Ana dan Jose. Aku pernah melihat mereka
bersama sebelumnya, dan kini rasanya hampir seperti kembali ke tengah
pepohonan palem di Maravu.

Aku meletakkan tanganku di bahumu dan menunjuk.

“Itu Ana dan Jose,” ujarku, hampir berbisik karena penuh semangat. Engkau
menatapku dengan sebuah senyuman nakal. Sesudah itu, aku bertanya-tanya
apakah senyuman hangat dan menggoda itu merupakan reaksi terhadap
namanama yang belum pernah kau dengar itu, ataukah karena pertanyaan yang
baru saja kulontarkan.

Hingga saat itu, sepanjang malam aku hampir tidak mengucapkan sepatah kata
pun, tetapi kini

giliranku telah tiba, dan aku pun mulai berceloteh mengenai pasangan aneh yang
kutemui di Taveuni. Dan semakin banyak aku bercerita, semakin lebar
senyumanmu merekah dan semakin keras engkau tertawa.

Alangkah indahnya mendengar tawamu lagi, sejak pagi itu aku belum
mendengarnya. Pagi tadi, engkau begitu bersemangat karena akan ambil bagian
dalam tinjauan musim panas di Institut. Tetapi aku menceritakan kepadamu
segala ungkapan yang mereka deklamasikan satu sama lain di Fiji, aku bercerita
mengintip mereka saat mereka berenang di bawah Air Terjun Bouma, aku
menyebutkan bahwa Ana adalah seorang penari flamenco terkenal, dan bahwa ia
tiba-tiba jatuh sakit, dan tentunya aku juga menceritakan banyak hal lain. Tetapi
yang jelas, aku memberitahumu bahwa Ana dan Jose adalah peramal dan itulah
mengapa mereka selalu memenangi permainan kartu. Juga, yang paling penting,
aku memberitahumu bahwa aku yakin pernah bertemu Ana sebelumnya, aku
hanya tidak ingat di mana. Tetapi, engkau hanya tertawa dan tertawa,
kelihatannya hampir seperti engkau telah menyimpan tawamu begitu lama dan
hanya menunggu alasan untuk dapat mengeluarkannya, engkau yakin aku hanya
mempermainkanmu. Pertama-tama, engkau menyatakan bahwa aku menunjuk
pasangan itu karena aku ketakutan setelah bertanya kepadamu mengenai
kemungkinan adanya seorang teman, dan tidak berani menunggu jawabannya.
Kemudian, engkau berkata bahwa aku mulai mengarang cerita-cerita aneh hanya
untuk menahanmu tetap di situ di tepi sungai. Teori ketiga adalah bahwa aku
tiba-tiba mengalihkan perhatian kepada sepasang kekasih sebagai pembuka yang
baik untuk mengingkari janji tulus kami. Tetapi, engkau juga memiliki
penjelasan keempat, yang paling kau sukai dan yang kau percayai sepanjang
malam itu. Engkau berkata bahwa aku mulai mengarang cerita-cerita tidak
masuk akal hanya untuk membuatmu tertawa. Dan tawamu akhirnya kau
menyinggung bagian itu tawamu membuatmu begitu senang, seakan-akan
engkau memancarkan kebahagiaan karena mendapatkan kembali harta karun
yang kau pikir telah hilang selamanya. Mungkin, ngomong-ngomong, engkau
menyadari bahwa semua penjelasanmu memiliki satu hal yang sama. Semua
menunjukkan bahwa engkau malu.

Aku ingat mempertimbangkan untuk mengejar Ana dan Jose karena tidak lama
kemudian, mereka meninggalkan tepi sungai dan berjalan menjauh ke arah kota.
Tetapi, saat itu aku bersamamu, dan dugaanmu agak benar bahwa aku ingin
menahanmu di sana di tepi Sungai Tormes selama mungkin, di bawah langit
malam yang cerah. Malam itu adalah malam terakhir kita bersama dan aku baru
akan memulai salah satu percakapan terpenting dalam hidupku, aku bahkan
hampir mengingkari sebuah sumpah. Tetapi, ada sesuatu yang lain. Aku tidak
mau mengganggu keintiman hangat yang sekali lagi kusaksikan. Dan lagi, jika
tiba-tiba aku berlari pergi, engkau tentunya akan mengajukan setidaknya empat
dugaan motif dari tindakanku itu, dan mungkin akan kembali tertawa terbahak-
bahak.

Engkau tertawa, Vera. Aku tentu sangat kebingungan dan terlihat benar-benar
konyol. Tetapi engkau tertawa!

Hanya sekali aku berhasil menghentikan rentetan tawa yang terus-menerus itu.
Ketika Ana dan Jose menghilang ke kota dan aku mengulang dengan sungguh-
sungguh bahwa aku benar-benar mengenali mereka, engkau berkata, “Mereka
hanyalah sepasang orang gipsi, Frank.”

Kita mulai berjalan kembali ke hotel, dan kini ada dua topik yang tabu. Satu
adalah Ana dan Jose. Yang satu lagi adalah Frank dan Vera.

Keesokan harinya, engkau naik kereta pagi menuju Madrid dan terus ke
Barcelona, tetapi aku memberitahumu bahwa aku mungkin akan tinggal satu
malam lagi di Salamanca. Engkau masih tidak memercayaiku, dan engkau
tentunya punya dugaan-dugaan mengapa aku memilih tinggal lebih lama
daripada yang kurencanakan.

Aku mengantarmu hingga ke depan pintumu malam terakhir itu. Hanya beberapa
bulan yang lalu kita berbagi tempat tidur yang sama, dan kini rasanya begitu
menyedihkan dan hampa karena kita tidak lagi tinggal dalam satu kamar yang
sama. Maka, dapat dikatakan bahwa kita kini menjadi lebih asing dibandingkan
jika kita belum pernah bertemu sebelumnya.

Keesokan harinya, aku bangun siang. Kemudian berangkat ke kota untuk


mencari Ana dan Jose.

Pada awalnya aku mengambil jalan secara acak, dengan bertanya di beberapa
tempat jika saja ada yang mengenal seorang Ana dan seorang Jose, seorang
penari flamenco terkenal dan seorang wartawan TV, tetapi tentu saja hal itu tidak
ada gunanya tanpa nama keluarga mereka.

Aku tidak sarapan sehingga tidak lama kemudian, aku pun memasuki kafe yang
ramai di Plaza Mayor tempat kita makan siang bersama pada hari engkau
menyatakan pikiranmu mengenai kritik Gibbons atas seminarku. Aku memesan
tortilla dan bir, dan nasib baik tentunya tengah tersenyum lebar kepadaku karena
tidak lama kemudian aku melihat Ana bergegas masuk. Ia tidak melihatku, dan
ketika aku berpaling, kulihat Jose duduk di balik sebuah pilar di bagian belakang
kafe tersebut tengah menunggu istrinya. Mungkin ia juga belum melihatku.

Aku menajamkan telingaku dan mendengar mereka saling berbisik dengan


penuh semangat, tetapi mereka terlalu jauh bagiku untuk menangkap apa yang
mereka katakan. Aku memutuskan untuk menyelesaikan omeletku dan pergi
untuk menyapa mereka. Bagaimanapun, itu adalah sebuah kebetulan yang luar
biasa bahwa kami dapat bertemu begitu jauh dari Maravu. Tetapi, tidak lama
kemudian, musik flamenco mulai mengalun dari pengeras suara, dan aku
menebak mungkin itu adalah penghormatan kepada sang penari. Terdengar lagu-
lagu bersuara berat mengenai cinta dan pengkhianatan, hidup dan mati, dan aku
menoleh ke arah belakang kafe untuk melihat. Tubuh Ana hampir seperti
bergerak mengikuti musik, dan aku teringat bahwa kupikir mungkin ia harus
menahan diri agar tidak melompat berdiri dan menari mengikuti irama penuh
gairah itu.

Kemudian, wanita itu bangkit, tetapi tidak untuk menari. Secepat ia memasuki
ruangan itu, secepat itu pula ia berlari keluar. Ia berbalik sekali kepada Jose dan
berteriak sepenuh hati: “Aku ingin pulang! Kau dengar? Aku ingin pulang ke
Sevilla!”

Rasanya saat itu aku berpikir bahwa ledakan emosi bisa terjadi dalam keluarga-
keluarga terbaik sekalipun, tetapi aku tidak dapat memikirkannya terlalu lama
karena kini giliran Jose yang bergegas melintasi kafe. Aku melompat ke
hadapannya.

“Jose?” aku berkata.

“Frank!” ia berseru.

Ia menatapku putus asa dan mengangkat tangannya seolah-olah untuk


mengatakan “Apa yang bisa kulakukan!” atau sesuatu seperti itu. Tetapi, ia
tengah terburu-buru, dan satu-satunya yang ia katakan sambil terus berlari
adalah: “Kita harus bicara, Frank! Pernahkah engkau pergi ke Prado?”

Hanya itu, Vera. Setelah itu, aku berjalan-jalan mengelilingi Salamanca seharian,
tetapi tidak melihat Ana dan Jose lagi.

“Kita harus bicara, Frank! Pernahkah engkau pergi ke Prado?”

Apa maksudnya? Ada apa dengan Prado? Tetapi aku tahu hal ini
mengingatkanku akan sesuatu. Tiba-tiba aku teringat akan percakapan terakhirku
dengan John di Maravu Plantation Resort. Ucapan

selamat tinggalnya pun memuat desakan agar aku melihat Prado. Tetapi tentunya
aku tidak memerlukan dorongan seperti itu, karena akulah yang pertama kali
memberi tahu sang pengarang Inggris itu bahwa aku benar-benar menyukai
koleksi Prado.
Tetapi, beberapa hal dapat diartikan secara harfiah. Ketika aku meninggalkan
Maravu setelah kejadian yang tiba-tiba menimpa Ana, John telah berjanji untuk
menyampaikan salamku kepadanya dan Jose. Tentunya John menyinggung
kecintaanku akan karya-karya seni dari Spanyol Ana dan Jose tentunya suka dan
senang mendengar aku menyukai karya-karya seni dari negeri mereka. Tetapi
mengapa Prado? Mengapa tidak Thyssen atau Reina Sofia? Dan mengapa aku
harus memilih siapa yang paling kusuka, Goya atau Velazquez, El Greco atau
Bosch? Aku harus berusaha meluangkan waktu untuk melihat semuanya dengan
teliti, itulah yang dikatakan John.

Keesokan hari, pagi-pagi sekali aku mengambil kereta pagi menuju Madrid. Saat
kereta mendaki dataran tinggi, aku duduk sambil menatap dinding-dinding batu
itu. Ada sesuatu di tempat ini yang membuatku teringat akan peternakan-
peternakan musim panas di pegunungan Norwegia.

Ketika melihat dinding-dinding Kota Avila yang bagaikan berasal dari negeri
dongeng, aku teringat akan Santa Teresa, dan kemudian Laura di Maravu
Plantation Resort. Garis asosiasi ini berawal dari aliran agama mistik, lalu ke
mata cokelat Laura walaupun harus kuakui bahwa mata hijau dan kelembutan

yang ia tunjukkan kepadakulah yang paling lama terkenang. Khayalan manis ini
dengan segera tergantikan oleh sebuah ingatan yang tidak pernah dapat
kusingkirkan. Dalam kunjunganku ke Salamanca sebelumnya, aku telah
mengunjungi kapel biarawati di Alba de Tormes, tempat sisa-sisa tubuh Teresa
tersimpan secara cukup mengerikan. Aku melihat salah satu lengannya di balik
sebuah pintu di sebelah kiri sakristi dan jantungnya di balik pintu sebelah kanan.
Di kloster Teresa Centre, aku juga mengamati jari telunjuk Santo John of the
Cross, satu lagi mistikus terkenal dari Spanyol. Mereka berdua memiliki
pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan yang hebat, dan kini mereka
telah beristirahat untuk selamanya. “Beristirahat dalam bentuk potongan-
potongan,” pikirku.

Ketika tiba di Stasiun Chamartin di Madrid, aku menaiki kereta menuju


Terminal Atocha. Dari sana, aku berjalan menuju Hotel Palace dan menyewa
sebuah kamar untuk waktu yang tak terbatas. Aku merasa tidak dapat kembali ke
Norwegia hingga aku berhasil menenangkan diri. Dan, tidaklah mudah
meninggalkan Spanyol karena kutahu engkau ada di sana, di Barcelona. Di
rumah, hanya ada diriku sendiri yang kupikirkan: dengan kata lain, tidak ada
yang dipikirkan.[]
Bellis Perennis

AKU ADALAH SEBUAH TEKA-TEKI BAGI DIRIKU SENDIRI KARENA


AKU TIDAK mengunjungi Prado hingga hampir dua minggu berlalu. Aku
merasa bahwa komentar yang kebetulan kulontarkan mengenai betapa aku
sangat menikmati berjalan-jalan dalam galeri-galerinya yang luas setiap kali aku
berada di Madrid sudah terlalu banyak dimanfaatkan orang. Dan aku juga tidak
suka didikte, apalagi digiring langsung. Namun, aku pergi mengunjungi baik
Thyssen dan Reina Sofia dalam dua minggu itu. Telah bertahun-tahun aku tidak
mengunjungi kedua tempat itu.

Aku membawa banyak bahan makalah untuk seminar yang kuberikan di


Salamanca, dan di the Palace aku melanjutkan mengerjakan laporanku yang
telah menghabiskan waktu beberapa bulan. Aku mengambil kesempatan itu
untuk mencari beberapa rekan di Universitas Complutense, menghabiskan pagi-
pagiku membaca di Perpustakaan Nasional, dan untuk pertama kalinya
mengunjungi kebun binatang di Casa de Campo.

Aku mengunjungi dua bar flamenco pada malam yang berbeda, bukan dengan
harapan untuk melihat Ana menari, melainkan karena aku terus berharap akan
melihat namanya pada sebuah poster atau brosur. Cepat atau lambat aku harus
berusaha untuk bertemu dengan mereka lagi, tetapi entah mengapa aku tidak
ingin mulai untuk mencari mereka, setidaknya bukan sekarang; rasanya lebih
baik hanya berjalan-jalan berkeliling Madrid saja. Tetapi, mungkin saja aku akan
bertemu dengan seorang wartawan TV di bawah kubah Rotunda di the Palace.

Gaji satu bulan tidak bertahan lama di the Palace, dan alasanku tinggal di tempat
mewah itu bukanlah hanya karena kebiasaan lama atau bahkan bukan karena kita
berdua memiliki kenangan yang sangat istimewa tentang tempat itu, melainkan
karena itu adalah satu-satunya hotel di kota itu tempat engkau mungkin
menanyakan diriku, meskipun kemungkinan itu hanya kecil. Harus kuakui, aku
memang berharap engkau akan mencoba meneleponku di Oslo, setelah apa yang
terjadi malam terakhir itu di Salamanca. Saat itu, setidaknya, aku membuatmu
tertawa lagi. Jika engkau gagal menghubungiku di rumah, mungkin engkau akan
menelepon Institut, walaupun itu akan membuatmu sedih. Mereka akan
memberitahumu bahwa aku berada di Madrid saat ini. Setelah minggu pertama
berlalu, aku memastikan sekretaris di Institut juga mengetahui nama hotelku.
Kemudian, seketika, aku terbangun dari apa yang kini kuanggap sebagai sebuah
mati suri berkepanjangan. Tiba-tiba, pada suatu pagi, aku tersadar betapa
bodohnya diriku selama ini dan betapa buruknya aku telah membiarkan
segalanya berlalu.

Aku telah didesak secara khusus untuk pergi ke Prado, tidak hanya untuk
berjalan tanpa tujuan dari satu ruangan ke ruangan lain, tetapi untuk mencari
sesuatu yang khusus. Orang Inggris itu hanya mengungkapkannya seperti sebuah
isyarat, tetapi Jose terdengar hampir seperti memohon. Tentunya Prado adalah
sebuah petunjuk, bukan hanya sebuah tanggapan dari percakapan ringanku
mengenai Prado sebagai sebuah museum yang megah di kamar tidur kami
memiliki sebuah Monet, dan di atas perapian kami telah menggantung sebuah
cermin baroque ….

Peristiwa ini terjadi pada Selasa, tepat dua hari sebelum saat penulisan surat ini.
Aku melangkah dengan yakin mengelilingi Plaza Canovas del Castillo, atau
“Neptuno”, sebagaimana lapangan itu dikenal oleh penduduk lokal karena
adanya air mancur dan patung Neptunus. Saat berjalan ke arah pintu masuk, aku
menengadah ke arah patung Goya yang terpigura oleh kemegahan Ritz di latar
belakangnya dan pada saat itu, tepat pada saat itu, aku merasa bahwa diriku
semakin hangat.

Perjalananku kumulai dari lantai dasar, tanpa terburu-buru, sambil melihat-lihat


para pengunjungnya selain melihat-lihat berbagai hal lain. Tidak lama kemudian,
aku mulai mengamati “El Jardin de las Delicias”-atau “Taman Kesenangan
Duniawi” sebuah karya kaleidoskopis karya Hieronymus Bosch. Jika harus
memilih satu lukisan yang merangkum seluruh perasaanku akan kehidupan dan
status manusia sebagai makhluk vertebrata, aku akan memilih lukisan ini.
Sebagai tambahan dari lebih dari seratus sosok

manusia yang begitu menarik, sang pelukis telah meletakkan banyak pula
vertebrata lain dalam komposisinya. Jika aku bermain kata bersambung dan
diberi kata “fantasi”, dengan segera aku akan mengatakan Bosch. Jika kata yang
diberikan adalah “Bosch”, aku akan berkata “Taman Kesenangan Duniawi”. Jika
kata pancingannya adalah “Taman Kesenangan Duniawi”, aku akan menjawab
dengan “rapuh” dan jika diizinkan menjawab dengan menggunakan sebuah
kalimat utuh, atau bahkan sebuah percakapan kecil, aku akan menyebutkan
betapa luar biasa dan misterius hidup ini, tetapi oh, betapa rapuh dan halus.
Aku berdiri di hadapan “Taman Kesenangan Duniawi” selama setidaknya
setengah jam, dan itu belum apa-apa lukisan itu pantas mendapatkan setidaknya
satu minggu. Aku mempelajari beberapa detailnya yang paling kecil, walaupun
terkadang aku harus membiarkan orang-orang lain mendekat untuk melihat. Dan
kemudian tiba-tiba, Vera, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang tidak asing
di belakangku.

“Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia,”


suara itu berkata. “Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.”

Sambil berbalik perlahan menghadap Jose, dengan segera aku merasa bahwa
kalimat ini tidak hanya dimaksudkan sebagai sebuah komentar atas lukisan
berusia lima ratus tahun itu, tetapi sebagai sebuah pengumuman bahwa Ana
telah meninggal.

Ana telah meninggal, Ana yang tidak mau mengungkapkan di mana aku telah
melihatnya sebelumnya, Ana yang tidak mau menari flamenco, Ana yang tiba-
tiba jatuh sakit di meja sarapan, dan Ana, Ana yang baru beberapa hari
sebelumnya meninggalkan kafe makan siang di Salamanca dengan berteriak
ingin pulang ke Sevilla.

Bukan hanya kata-kata bijak itu yang membuatku menyadarinya. Aku menatap
sebuah wajah pucat dan letih yang tampak begitu jauh, jauh sekali dan belum
mulai mencari jalan untuk kembali. Sebuah ingatan visual tebersit dalam
kepalaku: Jose, di Salamanca, memandangku dengan panik dan berseru, “Kita
harus bicara, Frank! Pernahkah engkau pergi ke Prado?” Kini ia meneliti lukisan
itu dan menunjuk ke sebelah kiri pada sepasang kekasih yang terbungkus di
dalam bola kaca. Penuh gairah dan kemarahan, ia berbisik, “Kebahagiaan sama
rapuhnya dengan kaca.”

Tidak ada yang berkata-kata dalam waktu lama, tetapi aku yakin ia tahu bahwa
aku mengerti. Kami mulai berjalan perlahan melalui galeri demi galeri, dan naik
menuju lantai pertama. Pada satu saat ia berkata, “Selama ini kami tidak
terpisahkan.”

Aku tidak kuasa berkata-kata, tetapi aku melihat ekspresinya yang pasrah, dan
aku yakin menggeleng-gelengkan kepala karena rasa terkejut dan simpati yang
silih berganti. Tetapi, selama itu pula aku merasa semakin hangat. Kini Jose
membawaku mendekati koleksi Goya, dan tiba-tiba kami sudah berdiri di
hadapan “Maja Telanjang” dan “Maja Berbusana”. Hampir saja aku jatuh
pingsan. Jose tentunya menyadari hal itu, karena tiba-tiba ia menggenggam
lenganku erat-erat. Itu adalah Ana!

Itu adalah Ana, Vera! Di sinilah aku pernah melihatnya sebelumnya, dan berkali-
kali. Selama ini aku bertanya-tanya apakah melihat dirinya dalam sebuah film
atau bertemu dengannya dalam mimpi. Aku bahkan membayangkan bahwa
mungkin aku telah bertemu dengannya dalam sebuah realitas lain. Tetapi, di
sinilah ia berada. Di sini Ana berbaring di atas sebuah sofa panjang dalam studio
milik Goya, di sini ia tergantung di dinding Prado, sementara turis-turis yang
ingin tahu berkeliaran di sekitarnya.

Saat Jose menggenggam lenganku, aku terbawa kembali ke Air Terjun Bouma di
Taveuni, ketika sekilas aku melihat tubuh Ana. Di sanalah aku menyadari bahwa
aku hanya mengenali mukanya, dan kini aku mengerti mengapa. Ana jauh lebih
langsing daripada maja milik Goya, dan mungkin itulah mengapa aku tidak
pernah menghubungkan mereka, mengapa aku tersesat. Tetapi, bahkan ketika
aku melihat Ana mengenakan gaun merah, aku mendapat dua pikiran sekaligus:
satu adalah keyakinan bahwa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya,
sementara yang lain mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Kini, banyak hal menjadi jelas. John menyinggung tentang internet, dan tentunya
ia tidak mendapat banyak kesulitan dalam mencari gambar karya-karya terbesar
Goya. Kemudian, ia menyarankan agar aku mengunjungi Prado. Tetapi,
mengapa ia tidak menceritakan segalanya kepadaku

saat di Fiji?

Kini aku dan Jose berdiri di hadapannya, dan kami mundur beberapa langkah.
Aku terkejut, aku kewalahan, aku ketakutan. Jika saja kedua lukisan itu tidak
dibuat dua abad yang lalu, aku pasti bersumpah Analah yang menjadi modelnya,
setidaknya sebagai wajah sang wanita.

Dan ada hal lain lagi. Ana tidak suka dikenali, dan jelas Jose sama sekali
membenci hal itu. “Ada banyak wanita berambut gelap di Spanyol. Itu
kenyataan, Frank. Bahkan di Madrid.” Jawaban itu tertanam dalam ingatanku.
Sekarang, saat berdiri di sini, aku dapat membayangkan betapa menyebalkan
bagi Ana untuk terus-menerus dikenali. Tentunya sulit dianggap sebagai wanita
yang hidup di Spanyol dua ratus tahun yang lalu.
Keadaan semakin buruk ketika John Spooke meletakkan jarinya di dahi Ana dan
mengatakan, “Dan ruh yang ini bernama Maya!” Saat itu, John tengah
memikirkan filsafat Vedanta, tentang bayang-bayang tak nyata, tentang ilusi dan
tipuan, tetapi mungkin ia juga memikirkan maja milik Goya, karena bukankah ia
juga menggambarkan Ana sebagai sebuah “karya besar”? Sebenarnya, aku
berdiri di sana di Prado sambil menyaksikan ilusi terbesar yang pernah
dijalankan kepada diriku.

Sebuah pikiran mengerikan tebersit dalam kepalaku. Mengapa Ana terkena


serangan tiba-tiba itu di Maravu? Dan mengapa ia meninggal beberapa bulan
kemudian? Apakah ada hubungan antara kemiripannya dengan maja milik Goya
dan fakta bahwa ia

meninggal pada usia yang sangat muda? “Ia benar-benar mirip.” Jose
menggelengkan kepalanya. “Itu memang dia,” ujarnya. “Tapi, itu tidak
mungkin.”

“Tentu saja itu tidak mungkin. Tetapi ini adalah Ana.”

Kami berdiri lama sekali di belakang ruangan itu sambil berbincang-bincang


pelan.

“Tahukah engkau sejarah dari lukisan-lukisan ini?” tanyanya.

“Tidak,” ujarku.

Kurasa, aku masih belum pulih dari rasa terkejut. Ia melanjutkan.

“Tidak ada yang benar-benar tahu, tidak yang sebenarnya, tetapi memang hanya
sedikit yang diketahui.”

Aku tidak sabar.

“Dan apakah itu?”

“‘La Maja Desnuda1 pertama kali disebutkan oleh Agustin Cean Bermudez dan
pemahat Pedro Gonzales de Sepulveda, yang mendeskripsikannya pada 1800,
saat lukisan itu tergantung di sebuah lemari pribadi dalam istana milik Manuel
Godoy bersama-sama dengan beberapa sketsa klasik lainnya yang
menggambarkan ketelanjangan, seperti ‘Venus dan Cupid’ karya Velazquez
bersama sebuah Venus abad ke-16 dari Italia. Kedua lukisan ini adalah hadiah
dari Duchess of Alba kepada Godoy.”

“Godoy memiliki minat khusus terhadap lukisan telanjang?”

“Dapat dikatakan begitu. Dalam lemari ini pula ia memiliki sebuah tiruan patung
Venus karya Titian. Namun, pada saat itu, lukisan mengenai wanita tanpa busana
dilarang, walaupun sketsa-sketsa yang menggambarkan makhluk-makhluk
mitologi yang dibuat lebih idealis seperti Venus sedikit lebih dapat diterima
dibandingkan ‘Maja Telanjang’.” “Mengapa?”

“Seperti yang dapat kau lihat, maja milik Goya sama sekali tidak tampak seperti
makhluk mitologi. Ia adalah seorang wanita hidup yang terdiri dari darah dan
daging, dan tentu saja, dilukis dari aslinya. Oleh karenanya, lukisan ini lebih
menjurus atau bobrok, dapat dikatakan daripada Venus karya Titian atau
Velazquez, contohnya. Lukisan ini dianggap sebagai pornografi.”

“Oh, begitu.”

“Baik Carlos III maupun Carlos IV mempertimbangkan untuk menghancurkan


semua lukisan seperti itu dari koleksi seni kerajaan, walaupun Godoy tentunya
telah dianugerahi suatu hak istimewa untuk dapat menyimpan lukisan-
lukisannya, tetapi hanya di dalam apartemen pribadinya.”

“Apakah ia juga memiliki ‘Maja yang Berpakaian’?”

Ia mengangguk.

‘“La Maja Vestida’ kemungkinan besar dilukis setelah ‘La Maja Desnuda’ karena
karya ini pertama kali disebut dalam sebuah katalog pada 1808, sebuah katalog
yang disusun oleh seorang pelukis Prancis, Frederic Quilliet, yang merupakan
agen Jose

Bonaparte. Di situlah untuk pertama kalinya ‘La Maja Vestida’ dihubungkan


dengan ‘La Maja Desnuda’.”

Pada saat ini ia harus merendahkan suaranya untuk mencegah ceritanya


terdengar oleh orang lain.

“Apakah engkau tahu apa arti maja? Goya melukis beberapa dari mereka.”
“Wanita desa?” aku menebak.

“Atau seorang gadis petani muda, seorang wanita yang menarik dan berpakaian
warna-warni. Persamaannya bagi lelaki adalah majo.”

“Mungkinkah Ana disebut sebagai maja?”

Ia menggelengkan kepala dengan tegas.

“Ana adalah seorang gipsi, seorang gitana. Lagi pula, sangat diragukan bahwa
‘Maja’ adalah judul yang diberikan oleh Goya. Ketika Ferdinand VII menyita
harta milik Godoy pada 1813, sebuah katalog mendeskripsikan subjek dari
kedua lukisan itu sebagai ‘Gitanas’, wanita-wanita gipsi, dan itu agak berbeda
dari maja. Pada 1808 pun wanita dalam kedua lukisan itu disebut sebagai
seorang gipsi. Kita tidak boleh melupakan bahwa 1808 hanya berjarak beberapa
tahun setelah karya-karya itu dibuat, dan sang pelukis sendiri masih hidup, dan
baru bertahun-tahun kemudian ia harus melarikan diri dari Spanyol ke Prancis.
Wanita itu pertama kali dianggap sebagai seorang maja pada 1815. Sejak saat
itu, judul itu terus menempel pada kedua lukisan itu.”

Jose berhenti sejenak, tetapi aku memberinya isyarat agar ia melanjutkan. Aku
tidak dapat mengerti arti penting apakah wanita dalam kedua lukisan itu adalah
seorang maja atau seorang gitana. Hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa
sesungguhnya Goya melukis sebuah wajah dua abad penuh sebelum wajah itu
terlahir.

“Pada Maret 1815,” ia melanjutkan, “Goya dipanggil ke hadapan Dewan


Inkuisisi untuk mempertanggungjawabkan kedua lukisan itu. Ia ditanya apakah
ia yang melukis keduanya, alasannya melakukan hal itu, siapa yang
menyuruhnya, dan apa tujuannya. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah
dijawab, dan hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti siapa yang memerintahkan
pembuatan kedua lukisan itu.”

Kerumunan di sekitar maja telah menipis, dan aku mendekat untuk sekali lagi
melihat dengan lebih jelas.

“Tidak sulit untuk melihat mengapa engkau mempelajari sejarah kedua lukisan
ini dengan begitu teliti

“Seperti yang telah kusebutkan tadi, ada alasan kuat untuk memercayai bahwa
versi yang telanjang diciptakan terlebih dulu. Kedua lukisan itu tergantung di
istana Godoy, dan ia, walau bagaimanapun, tidak sepenuhnya kebal terhadap
Inkuisisi. Mungkin maja yang mengenakan pakaian dilukis untuk digantung di
atas versi yang telanjang. Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa kedua
lukisan itu diatur sebagai sebuah lelucon, dengan menunjukkan versi yang
mengenakan pakaian terlebih dulu dan kemudian, dengan menggunakan
semacam

mekanisme, memperlihatkan versi yang telanjang. Menelanjangi wanita memang


sebuah kegemaran yang sangat tua.”

Sekali lagi aku merasa kembali berada di Air Terjun Bouma. Dengan sengaja
aku telah mengintip melalui jari-jari yang menutup mataku. Ia melanjutkan.

“Sejak 1836 hingga 1901, kedua lukisan ini tergantung di Akademi San
Fernando, walaupun yang telanjang tidak pernah dipertontonkan. Sejak 1901,
keduanya dipindahkan ke Prado, tetapi bahkan di sini pada awalnya ‘Maja
Telanjang’ ditampilkan dalam sebuah ruangan terpisah dengan izin masuk yang
terbatas.”

Aku tidak sabar untuk mengetahui lebih banyak karena walaupun aku
mendengarkan semua yang ia katakan, aku hanya dapat memikirkan Ana.

“Apakah kita tahu siapa yang menjadi model bagi lukisan-lukisan itu?” aku
bertanya.

Ia mengangkat alis.

“Atau model-model,” ujarnya.

Aku melihat kedua lukisan itu lagi.

“Mereka persis sama.”

“Pergilah mendekat dan teliti keduanya dengan baik sebelum engkau


memutuskan.”

Aku melakukan apa yang ia suruh. Mungkin “Maja Berpakaian” telah dikerjakan
dengan lebih terburu-buru dan lebih tidak berhati-hati dibandingkan yang
telanjang. Sang subjek tampak lebih arogan dan terlukis lebih baik ketimbang
saudarinya yang telanjang. Jika “Maja Telanjang” telah terlebih dulu

diabadikan ke atas kanvas, mungkin Goya cepat-cepat menciptakan versi yang


mengenakan pakaian untuk menutupi yang telanjang. Tetapi, mereka adalah
wanita yang sama, dan keduanya adalah Ana, bahkan jika hanya kepalanya yang
milik Ana, hanya wajah dan rambut Ana. Lalu ada tonjolan kecil itu, tentu saja.
Kini aku dapat melihat dengan jelas betapa pertama-tama Goya telah melukis
tubuh telanjang seorang wanita, dan kemudian menambahkan wajah wanita lain
pada tubuh itu. Dengan sedikit kesabaran, semua orang dapat melihat bahwa
sosok wanita itu terdiri dari dua bagian, tubuh dan kepala, dan hal ini tampak
jelas terutama pada wanita yang telanjang.

Memang kepala Ana yang kulihat saat ini, tetapi bukan tubuh Ana. Seolah-olah
kepala Ana telah dicangkokkan ke atas tubuh telanjang itu.

Aku berjalan kembali ke Jose.

“Ia menggunakan dua orang model,” ujarku. “Satu untuk tubuhnya dan satu
untuk kepala.”

Ia mengangguk, tetapi tanpa tersenyum. Hal ini bukanlah permainan bagi Jose.

“Model telanjang itu mungkin adalah seorang wanita terhormat,” ia berkata,


“sehingga jelas Goya tidak dapat melukis wajahnya.”

Maka, ia pun melukis wajah Ana, pikirku.

“Dan apakah kita mengetahui apa pun tentang wanita terhormat ini?” tanyaku.

“Ada beberapa teori. Salah satu yang populer adalah bahwa lukisan ini
diperintahkan dibuat oleh Godoy, yang merupakan favorit sang ratu, dan bahwa
sang model-model yang telanjang adalah wanita simpanannya, Pepita Tudo. Jika
memang ini yang terjadi, semakin pentinglah untuk menutupi identitasnya.
Tetapi, ada juga teori lain.” “Lanjutkanlah!”

“Kita tahu bahwa Duchess of Alba memiliki hubungan dekat dengan Goya
selama beberapa waktu, dan bahwa selama 1796 hingga 1797, yaitu saat
pembuatan ‘Maja Telanjang’, Goya tinggal di tanah pedesaannya di Sanlucar de
Barrameda di dekat muara Guadalquivir. Sejak tahun-tahun pertama abad ke-19,
terdengar desas-desus berkepanjangan bahwa Duchess of Alba sendirilah yang
menjadi model bagi ‘La Maja Desnuda’. Desas-desus ini mungkin muncul dari
orang pertama, dan semakin tua sebuah desas-desus, semakin banyak alasan
untuk memercayai kebenarannya.”

“Oh, begitu,” aku berkata. “Oh, begitu!”

“Jika seseorang meneliti lukisan-lukisan Goya lainnya yang menggambarkan


sang Duchess, seperti potret dirinya yang terkenal dari 1797, atau lukisan sang
Duchess tengah menata rambutnya, juga dari 1796 atau 1797, dari bentuk
tubuhnya tidak ada yang akan mencegahnya menjadi model bagi ‘La Maja
Desnuda’.”

“Apakah mereka memiliki hubungan erotis?”

“Hal itu tidak diketahui, walaupun banyak hal yang menunjukkan bahwa Goya
tidak akan berkeberatan untuk itu. Dalam sebuah surat yang ditulis pada 1795, ia
menceritakan sang Duchess yang mengunjunginya di studio untuk dirias. Dan
sang

pelukis menambahkan: ‘Hal ini memberiku lebih banyak kesenangan daripada


melukisnya di atas kanvas.’ Dalam sebuah potret cat minyak sang Duchess di
Sanlucar, ia melukisnya mengenakan pakaian hitam dengan sebuah jubah
pendek, dan sang Duchess mengenakan dua buah cincin bertuliskan ‘Alba
Goya’. Dan terlebih lagi, lukisan itu menggambarkan sang Duchess dengan tegas
dan otoritatif menunjuk ke bawah ke pasir yang di situ tertulis ‘Solo Goya’. Tak
disangkal lagi, Duchess of Alba adalah seorang wanita yang cantik dan menarik,
dan ia menjadi janda saat Duke of Alba, yang jauh lebih tua darinya, meninggal
di Sevilla pada 9 Juni 1796.”

“Jadi, apa yang mencegah mereka memiliki hubungan erotis?”

“Lukisan sang Duchess berada dalam kepemilikan pribadi Goya, sehingga


alasannya mungkin lebih karena fantasi dan harapan daripada kenyataan.
Walaupun sang Duchess sangatlah liberal, aku menduga ia tidak akan
mengingini sebuah potret dirinya yang begitu angkuh. Dan lagi, seberapa besar
sih kemungkinan seorang yang relatif cantik berusia tiga puluh empat akan jatuh
cinta kepada seorang pria sedikit renta berusia lima puluh tahun, yang juga tuli
total?”

“Ya, memang Goya menderita suatu penyakit


ii

“Walaupun demikian, tidak ada yang menutup kemungkinan bahwa sang


Duchess mungkin adalah model bagi ‘La Maja Desnuda’. Kenyataan bahwa

sang pelukis telah begitu sering melukisnya menyiratkan bahwa Goya hampir
sepenuhnya bebas untuk datang dan pergi sesuka hati dalam lingkungan pribadi
sang Duchess. Tetapi, fakta sesungguhnya mengenai hubungan antara Goya dan
sang Duchess tidak akan pernah diketahui dan sudah tidak lagi relevan. Untuk
sementara, mereka adalah kawan yang sangat dekat.”

Sambil mengisi waktu, aku terus-menerus menatap wajah sang wanita. Aku
tidak dapat melepaskan Ana dari benakku.

“Hingga sekarang kita hanya membicarakan siapakah orang yang sebenarnya


menjadi tubuhnya,” ujarku. “Kita belum membicarakan sedikit pun tentang siapa
yang mungkin menjadi model bagi wajahnya.”

Aku tida k bisa yakin apakah aku menangkap secercah kecil senyuman saat ia
berkata, “Itu adalah sebuah cerita yang jauh lebih panjang, dan juga lebih rumit.
Tetapi, lebih dari itu, juga jauh lebih sulit untuk dipahami. Mari kita pergi.”

Aku mengangguk.

“Apakah engkau sudah cukup melihat?”

Aku mendekati kedua lukisan itu untuk terakhir kalinya. Aku menatap wajah
Ana. Ekspresinya persis sama seperti yang begitu sering kulihat di Taveuni
dengan bibir tipisnya yang terkatup rapat dan mata hitam yang menatapku
dengan curiga.

Aku menemani Jose keluar dari koleksi Goya, menuruni tangga menuju lantai
dasar dan keluar ke Plaza de Murillo. Ia berjalan dengan mantap melintasi
lapangan ke arah pintu masuk Kebun Raya. Ia mengeluarkan 200 peseta dan
membeli sebuah tiket, dan aku pun berbuat yang sama. Aku hanya mengikuti di
belakangnya.

Kami mulai berjalan melalui Kebun Raya dan segera diserang oleh simfoni
berbagai aroma tanam-tanaman dan pohon-pohonan yang kini, di awal Mei,
tengah mengembang dengan sempurna. Burung-burung pun dalam puncak
kesibukan mereka, hampir tidak mungkin untuk membedakan satu nyanyian
burung dari yang lainnya.

Pada awalnya, Jose berjalan beberapa langkah di depan, tetapi setelah beberapa
lama, ia membiarkanku menyusulnya.

“Ana suka sekali pada oasis ini,” ia berkata tanpa menoleh untuk melihat ke
arahku. “Setiap kali kami berada di Madrid, ia berkeras untuk berjalan-jalan ke
sini bersamaku, setidaknya sekali sehari, tanpa peduli musim apa. Jika aku
menghadiri rapat, ia mungkin akan menghabiskan setengah hari di sini sendirian,
dan jika rapatku dimulai pukul sepuluh, mungkin baru berjam-jam kemudian aku
datang menjemputnya untuk makan siang. Ia akan selalu menemukan sesuatu
yang baru. Mencari dirinya di Kebun Raya ini adalah semacam permainan kami.
Di manakah aku akan dapat menemukannya hari ini? Berapa lama aku harus
mencari? Dan lebih penting lagi: berita apa yang akan ia bawa untukku? Jika ia
melihatku duluan, terkadang ia menghibur diri dengan bersembunyi dariku dan
bahkan membuntutiku sementara aku berkeliling mencari dirinya. Satu

demi satu, ia mempelajari nama pohon-pohon dan semak-semak yang ada, dan
pada akhirnya ia tahu persis di pohon yang mana setiap burung bersarang.”

“Tetapi, engkau kebanyakan bermukim di Sevilla?”

Ia mengangguk, kemudian menggelengkan kepala dan berkata, “Tujuh atau


delapan tahun yang lalu, aku mulai mengerjakan sebuah serial televisi mengenai
sejarah para gipsi di Andalusia. Aku ingin mencoba memunculkan sesuatu yang
baru mengenai evolusi kebudayaan flamenco dalam kuali kuno tempat
bercampurnya tradisi Iberia, Yunani, Romawi, Kelt, Moor, Yahudi, dan tentu
saja, Kristen. Begitulah bagaimana aku bertemu Ana di Sevilla; ia adalah
seorang penari flamenco yang luar biasa dan telah menjadi seorang bailaora
yang tersohor sejak berusia enam belas tahun. Hanya dalam waktu beberapa
minggu, kami sudah tak dapat dipisahkan, dan sejak saat itu, kami tidak pernah
menghabiskan satu malam pun terpisah.”

Aku masih begitu tersihir oleh kemiripan yang begitu luar biasa antara Ana dan
maja milik Goya sehingga mengalami kesulitan menyerap apa yang ia ceritakan.
Tetapi, ia terus melanjutkan tanpa menatapku.

“Namanya adalah Ana Maria. Itulah yang tertera pada papan iklan, dan begitulah
ia dipanggil oleh seluruh keluarganya. Aku memanggilnya Ana hanya sebagai
panggilan sayang khususku.”

“Dan ia juga memiliki nama belakang, tentunya?”

Ia mengangguk mantap, seolah-olah ia telah menunggu pertanyaan itu


dilontarkan. “Maya,” ujarnya. “Apa katamu?”

“Nama lengkapnya adalah Ana Maria Maya.”

Aku benar-benar tak mampu berkata-kata. Tidak hanya setiap detail dari Ana
menyerupai maja karya Goya, tetapi ia juga bernama Maya. Sekali lagi aku
berada kembali di Taveuni ketika John Spo-oke meletakkan jarinya di alis Ana,
menyatakan dengan caranya yang tiada duanya bahwa ia telah berhasil
menemukan bahwa nama Ana adalah Maya. Jose tidak dapat menerima hal itu.

“Ini tidak mungkin benar,” ujarku.

Sekali lagi ia mengangguk.

“Nama itu cukup umum di antara para seniman flamenco dari Andalusia. Yang
paling terkenal, tentu saja, adalah sang baitaor Mario Maya. Tetapi putrinya,
Belen Maya, juga memiliki reputasi, begitu pula keponakannya, Juan Andres
Maya. Dinasti flamenco mereka sering disebut sebagai ‘Los Maya’. Ana datang
dari keluarga Maya yang lain, atau setidaknya sebuah cabang yang lain.”

“Apakah kata itu memiliki arti?”

“Maya adalah nama rempah-rempah dari famili Compositae, bunga aster atau
Bellis perennis. Aku tidak tahu pasti bagaimana bunga cantik itu mendapatkan
nama maya dalam bahasa Spanyol, tetapi mungkin itu adalah sebuah perubahan
dari nama bulan mayo. Di beberapa negara, bunga aster juga

dikenal sebagai ‘mayflower1, bunga bulan Mei. Nama Latinnya itu menjelaskan
bahwa tanaman itu berbunga hampir sepanjang tahun. Terlebih lagi, dalam
bahasa Spanyol, maya juga dapat berarti gadis muda, ratu bulan Mei, atau wanita
berkostum atau bertopeng.”

“Hampir sama dengan kata yang satu lagi,” aku membandingkan. “Hampir sama
artinya dengan maja.”
“Tepat sekali. Dan kedua kata itu memiliki asal-usul Indo-Eropa yang sama.
Engkau akan menemukan akar yang sama dari kata untuk bulan Mei atau untuk
dewi Romawi Maia, dalam semua turunan dari kata bahasa Latin magnus atau
maior, sama seperti Plaza Mayor, dalam turunan dari kata bahasa Yunani megas,
dalam berbagai kata Indo-Eropa untuk much, seperti kata maha dalam bahasa
Sanskerta.”

“Seperti mahatman, sang jiwa dunia?”

Ia mengangguk.

“Itulah yang begitu banyak dibicarakan oleh Laura di Maravu,” aku


berkomentar. “Ia membicarakan Gaia dan maya, dan di sini di Spanyol menjadi
Goya dan maja. Rasanya hampir seperti ada semacam hubungan.”

“Segalanya berhubungan,” ujar Jose, dan ketika ia mengatakan hal itu seolah-
olah aku dapat mendengar suara Laura lagi.

Ia masih tidak melihat ke arahku. Sambil berjalan mengelilingi salah satu air
mancur yang terbuat dari marmer, ia berkata, “Ana Maria adalah putri bungsu
dalam sebuah keluarga gipsi terhormat yang telah tinggal di distrik Triana di
Sevilla sejak awal abad ke-19; dan orangtuanya yang malang masih tinggal di
sana, begitu pula dua dari kakek dan neneknya. Salah satu cabang dari
keluarganya dikabarkan merupakan keturunan dari seorang penyanyi cante jondo
terkenal, El Planeta, pencipta dari apa yang kemudian menjadi gaya menyanyi
khusus Aliran Triana. Ia aslinya berasal dari Cadiz dan hidup mulai dari sekitar
1785 hingga 1860. Mungkin ia mendapatkan namanya karena konon ia
memercayai pengaruh bintang dan planet-planet; yang jelas, lagu-lagunya
banyak sekali menyebutkan tentang benda-benda angkasa. Namanya mungkin
juga merupakan sebuah referensi dari dirinya sebagai seorang ‘pengembara’ atau
seorang ‘bintang yang mengembara’. Ia tiba di Sevilla pada awal abad ke-19 dan
bekerja di sebuah peleburan logam di Triana, yang merupakan tempat bekerja
yang sangat umum bagi kaum gipsi pada masa itu. Menurut keluarganya, ia
adalah kakek buyut Ana, walaupun aku tidak dapat menemukan adanya bukti
selain dari tradisi keluarga itu sendiri. Tetapi, setelah tujuh generasi, tentunya
kini ia memiliki beberapa ratus keturunan, mungkin beberapa ribu, dan mengapa
tidak mungkin Ana adalah salah satu di antaranya?” “Lalu?”

“Hanya dalam beberapa minggu, kami menjadi sangat terikat satu dengan yang
lain, sangat terikat, engkau mengerti, tidak seperti biasanya. Dan

ia memperkenalkanku pada sebuah tradisi keluarga yang tidak hanya sangat


menghiburku, tetapi juga yang kupikir dapat berguna dalam serial televisi yang
saat itu mulai aku kerjakan. Ngomong-ngomong, serial itu tidak pernah
membuahkan hasil.” “Mengapa tidak?”

“Aku sendiri menjadi seorang gipsi Andalusia. Seorang aficionado, seorang


pencinta sejati dan yang diterima ke dalam misteri kebudayaan flamenco. Aku
merasa telah diadopsi sebagai menantu oleh keluarga yang berpikiran sangat
tradisional, dan aku tidak dapat memproduksi serial televisi mengenai
keluargaku sendiri. Aku mulai tahu terlalu banyak, karena seperti yang telah aku
isyaratkan, dalam tradisi keluarga ini ada juga sisi-sisi rahasianya. Jika ada
sesuatu yang dipelihara para gipsi Andalusia, yang mereka jaga selama lebih dari
lima ratus tahun, itu adalah rahasia mereka. Selama waktu yang lama, mereka
harus bersembunyi dari Inkuisisi. Nah, keluarga Ana memiliki satu kisah
istimewa yang telah diceritakan secara turun temurun selama beberapa generasi,
sebuah kisah luar biasa yang bersumber dari El Planeta dan juga berhubungan
dengan kematian kakek buyut Ana setelah sebuah perkelahian pada 1894.
Pertanyaannya adalah apakah kisah gipsi ini sebutlah ini sebuah legenda jika kau
mau dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Ana. Yang jelas, cerita ini terus
membayang-bayanginya selama ia hidup.”

“Ini benar-benar menarik.”

Ia berhenti di sebuah jalan setapak berbatu—

batu dan menatap mataku lurus-lurus.

“Pertama-tama, sebaiknya aku menceritakan apa yang terjadi.”

Kami mulai berjalan lagi.

“Dua tahun setelah aku bertemu Ana, ia didiagnosis mengidap suatu kelainan
jantung. Para dokter tidak dapat mengoperasinya dengan mudah, tidak tanpa
menimbulkan risiko yang cukup besar, tetapi kelainan ini awalnya tidak
mengancam hidupnya bahkan tanpa harus mengubah rutinitas sehari-harinya.
Namun, setelah beberapa tahun, terkadang sirkulasi darahnya begitu memburuk
sehingga wajahnya akan kehilangan darah, walaupun biasanya hal ini hanya
berlangsung selama semenit atau dua menit dan menurut para dokter, tidaklah
terlalu berbahaya. Namun, hal itu cukup menakutkan bagi Ana, dan juga diriku.
Pukulan berat baginya pertama kali datang kurang dari setahun yang lalu ketika
ia jatuh pingsan di atas panggung dan harus dibawa ke rumah sakit. Para dokter
terus meyakinkan kami, walaupun kini mereka berkata bahwa ia harus berhenti
menari flamenco. Tahan itu menuntut stamina yang sangat tinggi, engkau tahu,
stamina yang sangat tinggi. Pada saat yang sama dan aku tidak tahu pukulan
mana yang lebih berat mereka menyarankan agar Ana tidak memiliki anak.”

“Bagaimana ia menerima semua ini?”

Ia mendengus marah.

“Sangat buruk. Flamenco adalah jiwa Ana. Dan ia juga menginginkan memiliki
anak, bahkan terkadang ia membeli baju bayi jika melihat yang benar—

ia memperkenalkanku pada sebuah tradisi keluarga yang tidak hanya sangat


menghiburku, tetapi juga yang kupikir dapat berguna dalam serial televisi yang
saat itu mulai aku kerjakan. Ngomong-ngomong, serial itu tidak pernah
membuahkan hasil.” “Mengapa tidak?”

“Aku sendiri menjadi seorang gipsi Andalusia. Seorang aficionado, seorang


pencinta sejati dan yang diterima ke dalam misteri kebudayaan flamenco. Aku
merasa telah diadopsi sebagai menantu oleh keluarga yang berpikiran sangat
tradisional, dan aku tidak dapat memproduksi serial televisi mengenai
keluargaku sendiri. Aku mulai tahu terlalu banyak, karena seperti yang telah aku
isyaratkan, dalam tradisi keluarga ini ada juga sisi-sisi rahasianya. Jika ada
sesuatu yang dipelihara para gipsi Andalusia, yang mereka jaga selama lebih dari
lima ratus tahun, itu adalah rahasia mereka. Selama waktu yang lama, mereka
harus bersembunyi dari Inkuisisi. Nah, keluarga Ana memiliki satu kisah
istimewa yang telah diceritakan secara turun temurun selama beberapa generasi,
sebuah kisah luar biasa yang bersumber dari El Planeta dan juga berhubungan
dengan kematian kakek buyut Ana setelah sebuah perkelahian pada 1894.
Pertanyaannya adalah apakah kisah gipsi ini sebutlah ini sebuah legenda jika kau
mau dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Ana. Yang jelas, cerita ini terus
membayang-bayanginya selama ia hidup.”

“Ini benar-benar menarik.”

Ia berhenti di sebuah jalan setapak berbatu—


batu dan menatap mataku lurus-lurus.

“Pertama-tama, sebaiknya aku menceritakan apa yang terjadi.”

Kami mulai berjalan lagi.

“Dua tahun setelah aku bertemu Ana, ia didiagnosis mengidap suatu kelainan
jantung. Para dokter tidak dapat mengoperasinya dengan mudah, tidak tanpa
menimbulkan risiko yang cukup besar, tetapi kelainan ini awalnya tidak
mengancam hidupnya bahkan tanpa harus mengubah rutinitas sehari-harinya.
Namun, setelah beberapa tahun, terkadang sirkulasi darahnya begitu memburuk
sehingga wajahnya akan kehilangan darah, walaupun biasanya hal ini hanya
berlangsung selama semenit atau dua menit dan menurut para dokter, tidaklah
terlalu berbahaya. Namun, hal itu cukup menakutkan bagi Ana, dan juga diriku.
Pukulan berat baginya pertama kali datang kurang dari setahun yang lalu ketika
ia jatuh pingsan di atas panggung dan harus dibawa ke rumah sakit. Para dokter
terus meyakinkan kami, walaupun kini mereka berkata bahwa ia harus berhenti
menari flamenco. Tahan itu menuntut stamina yang sangat tinggi, engkau tahu,
stamina yang sangat tinggi. Pada saat yang sama dan aku tidak tahu pukulan
mana yang lebih berat mereka menyarankan agar Ana tidak memiliki anak.”

“Bagaimana ia menerima semua ini?”

Ia mendengus marah.

“Sangat buruk. Flamenco adalah jiwa Ana. Dan ia juga menginginkan memiliki
anak, bahkan terkadang ia membeli baju bayi jika melihat yang benar—

ia memperkenalkanku pada sebuah tradisi keluarga yang tidak hanya sangat


menghiburku, tetapi juga yang kupikir dapat berguna dalam serial televisi yang
saat itu mulai aku kerjakan. Ngomong-ngomong, serial itu tidak pernah
membuahkan hasil.” “Mengapa tidak?”

“Aku sendiri menjadi seorang gipsi Andalusia. Seorang aficionado, seorang


pencinta sejati dan yang diterima ke dalam misteri kebudayaan flamenco. Aku
merasa telah diadopsi sebagai menantu oleh keluarga yang berpikiran sangat
tradisional, dan aku tidak dapat memproduksi serial televisi mengenai
keluargaku sendiri. Aku mulai tahu terlalu banyak, karena seperti yang telah aku
isyaratkan, dalam tradisi keluarga ini ada juga sisi-sisi rahasianya. Jika ada
sesuatu yang dipelihara para gipsi Andalusia, yang mereka jaga selama lebih dari
lima ratus tahun, itu adalah rahasia mereka. Selama waktu yang lama, mereka
harus bersembunyi dari Inkuisisi. Nah, keluarga Ana memiliki satu kisah
istimewa yang telah diceritakan secara turun temurun selama beberapa generasi,
sebuah kisah luar biasa yang bersumber dari El Planeta dan juga berhubungan
dengan kematian kakek buyut Ana setelah sebuah perkelahian pada 1894.
Pertanyaannya adalah apakah kisah gipsi ini sebutlah ini sebuah legenda jika kau
mau dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Ana. Yang jelas, cerita ini terus
membayang-bayanginya selama ia hidup.”

“Ini benar-benar menarik.”

Ia berhenti di sebuah jalan setapak berbatu—

batu dan menatap mataku lurus-lurus.

“Pertama-tama, sebaiknya aku menceritakan apa yang terjadi.”

Kami mulai berjalan lagi.

“Dua tahun setelah aku bertemu Ana, ia didiagnosis mengidap suatu kelainan
jantung. Para dokter tidak dapat mengoperasinya dengan mudah, tidak tanpa
menimbulkan risiko yang cukup besar, tetapi kelainan ini awalnya tidak
mengancam hidupnya bahkan tanpa harus mengubah rutinitas sehari-harinya.
Namun, setelah beberapa tahun, terkadang sirkulasi darahnya begitu memburuk
sehingga wajahnya akan kehilangan darah, walaupun biasanya hal ini hanya
berlangsung selama semenit atau dua menit dan menurut para dokter, tidaklah
terlalu berbahaya. Namun, hal itu cukup menakutkan bagi Ana, dan juga diriku.
Pukulan berat baginya pertama kali datang kurang dari setahun yang lalu ketika
ia jatuh pingsan di atas panggung dan harus dibawa ke rumah sakit. Para dokter
terus meyakinkan kami, walaupun kini mereka berkata bahwa ia harus berhenti
menari flamenco. Tahan itu menuntut stamina yang sangat tinggi, engkau tahu,
stamina yang sangat tinggi. Pada saat yang sama dan aku tidak tahu pukulan
mana yang lebih berat mereka menyarankan agar Ana tidak memiliki anak.”

“Bagaimana ia menerima semua ini?”

Ia mendengus marah.

“Sangat buruk. Flamenco adalah jiwa Ana. Dan ia juga menginginkan memiliki
anak, bahkan terkadang ia membeli baju bayi jika melihat yang benar-benar ia
suka.”

“Maka, kalian pergi ke Fiji?”

Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung. “Kemudian, engkau dan aku


bertemu di Salamanca,” ujarnya. “Ana dan aku saat itu tinggal di Madrid, tetapi
kami tengah menghabiskan beberapa hari di Salamanca untuk mengunjungi
keluargaku. Musik flamenco tiba-tiba mulai diputar di kafe di Plaza Mayor itu.
Yang memainkan adalah grup yang bekerja dengan Ana di Sevilla beberapa
tahun sebelumnya. Aku dapat melihat bagaimana musik itu mulai memikat
tubuhnya. Ia mulai mengetuk-ngetukkan tangannya ke atas meja dan
menjentikkan jarinya, dan akhirnya aku menyuruhnya untuk berhenti, aku
berkata bahwa tidak seharusnya ia menyiksa diri tanpa guna. Itulah ketika ia
tiba-tiba melompat berdiri dan berkata bahwa ia ingin pulang ke Sevilla. Aku
khawatir tidak akan dapat mencegahnya menari, tetapi akhirnya kami
mengunjungi Sevilla dan tinggal dengan orangtua Ana selama beberapa hari di
Triana. Kami belum ke sana selama enam bulan, dan selama beberapa hari kami
melakukan perjalanan panjang ke Taman Maria Luisa, Plaza de Espana, Taman
Alcazar, dan kawasan lama Yahudi di Santa Cruz. Tetapi, ia tidak mau ikut
denganku ke Plaza Santa Cruz, tempat selama beberapa tahun terakhir ia menari
setiap malam. Dari sana pulalah ia dilarikan dengan ambulans, saat terakhir kali
melakukan pertunjukan. Ia tidak pernah mengatakan apa pun mengenai hal itu,
mengenai penyakit jantungnya maupun flamenco. Tetapi, setiap kali kami
mendekati lapangan itu, dengan salib tua dari besi yang menandai tempat pernah
berdirinya sebuah gereja yang kental dengan tradisi, ia akan menarikku
memasuki sebuah gang menuju arah lain.”

Kami tiba di sisi lain Kebun Raya itu di mana sebuah lereng penuh tanaman
membatasi kebun itu dengan Claudio Moyano dan barisan panjang toko-toko
buku bekas. Bertahun-tahun lalu, di salah satu toko itu, engkau pernah membeli
sebuah buku tua terjemahan, Victoria, karangan Hamsun. Jose duduk di atas air
mancur marmer, dan aku mengikuti perbuatannya.

“Kami berdua sangat menyukai Taman Alcazar,” ia melanjutkan. “Dan akulah


yang memperkenalkan Ana pada taman itu karena walaupun dibesarkan di
Sevilla, ia belum pernah menginjakkan kaki ke dalamnya sebelum aku
membawanya ke sana. Sejak saat itu, tempat itu menjadi tempat pelarian khusus
bagi Ana di Sevilla, dan terkadang kami berjalan-jalan di sana setidaknya dua
kali seminggu. Nah, lalu datanglah hari itu. Pada hari ketiga kunjungan kami ke
Sevilla, kami tengah melakukan tur di taman-taman itu, sebagaimana begitu
sering kami lakukan sebelumnya. Kami merasa bahwa kompleks taman yang
tertutup itu bagaikan sebuah dunia yang terpisah, dan hari itu kami berkelakar
bahwa kami dapat mengunci diri di dalam Taman Alcazar dan menghabiskan
sisa hidup kami di sana. Mungkin tidak seharusnya kami mengatakan hal itu.
Tidak seharusnya kami mengatakan hal itu!”

“Dan kemudian,” ujarku. “Ada apa kemudian?”

“Kami duduk di sebuah bangku di depan kafe ketika tiba-tiba Ana melihat
seorang kurcaci. Pertama-tama ia menunjuk ke arah Puerta de Marchena dan
berkata ia melihat si kurcaci mengeluarkan kepalanya dari Galeria del Grutesco.
‘Ia memotretku,’ ujarnya, seolah-olah hal itu adalah sebuah penghinaan yang tak
termaafkan. Detik berikutnya, kami berdua melihat sosok kecil itu mengintip
kami dari salah satu celah di dinding panjang yang memisahkan Taman Alcazar
menjadi dua, bagian yang lama dan yang baru. Ia memotret kami lagi. ‘Itu dia!’
Ana berseru. ‘Itulah sang kurcaci dengan lonceng-lonceng yang
bergemerencing!’”

“Tetapi, siapakah dia?” aku memotong. “Kurcaci apa?”

Ia tidak menjawab, hanya melanjutkan narasinya.

“Ana melompat berdiri dari kursinya dan berlari mengejar sang kurcaci. Saat itu,
kami melihatnya lagi di bawah Puerta de Marchena. Kurasa, aku berusaha untuk
menahannya, tetapi bahkan akhirnya aku pun ikut mengejar karena sejak
mengenalnya, aku selalu mendengar Ana menyebut-nyebut tentang seorang
kurcaci. Awalnya ia mengejar kurcaci itu dengan berputar ke kiri, melalui pintu
gerbang besi dan kolam tempat patung Merkurius berdiri, kemudian menuruni
undak-undakan menuju Taman Tahan dan terus turun menuju Taman para
Wanita, melalui air mancur Neptunus, melalui pintu gerbang besar dan
mengelilingi paviliun Carlos V, ke

dalam Labirin dengan pagar tanamannya yang setinggi satu meter, dan keluar
dari dalamnya lagi, naik ke sepanjang Galeria del Grutesco, menuju sebelah
kanan melalui Puerta del Privilegio, dan akhirnya turun ke Taman para Penyair.
Baik Ana maupun si kurcaci berlari lebih cepat dariku, ditambah lagi aku
tertahan oleh protes para pengunjung yang berpikir bahwa Ana tengah menyiksa
seorang kurcaci malang, walaupun sesungguhnya yang terjadi adalah yang
sebaliknya ia mengejar kurcaci itu hanya untuk mengakhiri segala gangguannya.

Di Taman para Penyair, Ana terjatuh di atas pagar tanaman yang mengelilingi
kolam bagian bawah, sesungguhnya berjarak sangat dekat dari Plaza Santa Cruz
karena kini hanya ada sebuah dinding tinggi yang memisahkan dirinya dari
tabtao flamenco “Los Gallos”, tempat sekian lama ia menjadi seorang baitaora
yang hebat. Kerumunan orang telah mengelilinginya sebelum aku berhasil tiba
di sana. Ia masih sadar, tetapi wajahnya hampir biru dan ia bersusah payah untuk
bernapas. Aku mengangkatnya ke atas air mancur marmer yang besar di antara
kedua kolam dan meletakkan dirinya di air selama beberapa menit untuk
mendinginkan tubuhnya yang demam. Aku berhasil berteriak bahwa ia
mengidap penyakit jantung, dan tidak lama kemudian, petugas-petugas ambulans
datang dengan membawa tandu.”

Jose terduduk untuk waktu yang lama sambil hanya menatap Kebun Raya
Madrid. Tidak ada orang di sekitar kami, tetapi kami dapat mendengar

burung-burung berkicau, dan kini begitu nyaring sehingga hampir


menenggelamkan suara lalu lintas yang datang dari Paseo del Prado. Seolah-olah
burung-burung itu pun tengah bernyanyi tentang kawan mereka yang telah
meninggal.

“Bagaimana dengan kurcaci itu?” tanyaku. “Tidak ada yang memikirkan dirinya.
Seolah-olah ia telah ditelan bumi.”

“Dan Ana?”

“Di rumah sakit, mereka memberinya beberapa suntikan, dan selama beberapa
jam kemudian ia sedikit membaik, tetapi ia tidak pernah turun dari tempat tidur
lagi. Para dokter berkata akan mencoba mengoperasinya bila denyut nadinya
telah kembali normal, tetapi ia tidak bertahan selama itu. Belum seminggu ia
meninggal, dan Jumat ini kami mengadakan sebuah misa perkabungan di Gereja
Santa Ana di Triana.”

Ia mengangkat kepala untuk menatapku. “Alangkah baiknya jika engkau dapat


meluangkan waktu untuk datang,” ujarnya.

“Tentu saja aku akan datang.”

“Baiklah!”
“Tapi, apa yang dikatakan Ana selama ia berada di rumah sakit? Apakah selama
itu ia sadar?”

“Sangat sadar. Ia menceritakan banyak hal kepadaku yang belum pernah


kudengar sebelumnya mengenai sang kurcaci dan El Planeta serta kakek
buyutnya yang meninggal setelah malam yang sial itu, ditambah dengan begitu
banyak rahasia flamenco. Hal terakhir yang ia katakan sebelum jantungnya
akhirnya berhenti berdetak adalah: ‘Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun
untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik
untuk mati.’ Itu adalah kalimatku, sebuah ungkapan perasaanku tentang
kehidupan, tetapi perasaan itu telah memengaruhi dirinya setelah aku menjadi
seorang aficionado flamenco. Kata-kata terakhir yang diucapkan Ana ini adalah
ucapan selamat tinggal dan juga sebuah pernyataan cinta.”

Aku tidak sempat bertanya apa yang ia maksud dengan hal itu karena ia bangkit
dengan terburu-buru dan mulai berjalan kembali ke dalam Kebun Raya. Aku
mengikuti di belakangnya.

Sementara aku mendengarnya bercerita mengenai Ana, mata hatiku terus-


menerus melihat kedua lukisan di Prado itu. Apakah ada hubungan antara apa
yang ia ceritakan kepadaku mengenai kurcaci yang dikejar Ana di Taman
Alcazar dan kemiripan luar biasa antara dirinya dan maja Goya?

“Ketika pertama kali engkau bertemu dengan Ana bertahun-tahun yang lalu

Tetapi, ia menyadari ke mana arah bicaraku karena ia mendahuluiku.

“Tidak, aku tidak berpikir mengenai Goya. Kurasa, reaksiku sama denganmu.
Aku merasa yakin pernah bertemu Ana sebelumnya, tetapi perasaan itu mungkin
hanyalah sebuah perwujudan dari cintaku yang penuh gairah terhadapnya.”

“Mungkin kita memiliki semacam mekanisme pertahanan yang mencegah kita


menghubungkan seseorang yang kita temui dalam kehidupan nyata

dengan seseorang yang hidup dua ratus tahun yang lalu.”

Ia hanya mengangkat bahu. “Dan apa pendapatmu sekarang?” tanyaku.


Wajahnya berubah memancarkan suatu ketegasan.

“Mereka tidak hanya mirip,” ia berkata. “Perlahan-lahan mereka berubah


menjadi sama persis. Sejak masih remaja, Ana harus menghadapi kekha-sannya
yang ganjil itu, yang semakin hari semakin menjadi, dan akhirnya di Sevilla ia
mendapatkan nama panggilan ‘La Nina del Prado’.”

“Engkau berkata ‘semakin hari semakin menjadi’?”

“Semakin hari ia semakin menyerupai gitana Goya.”

Aku menutup mulutku dengan tangan, dan Jose melanjutkan:

“Dan ia meninggal segera setelah ia menjadi persis sama dengan model sang
seniman. Saat itu, pekerjaan itu telah terselesaikan dan ia tidak meneruskan
hidupnya satu hari pun.”

“Tetapi, bagaimana engkau dapat menjelaskan kemiripan yang begitu janggal


ini?”

“Ada beberapa penjelasan yang mungkin. Atau lebih tepatnya: seseorang dapat
mengajukan berbagai penjelasan walaupun semuanya hampir sama
mustahilnya.”

“Aku ingin mendengar semuanya.”

Ia berbelok ke kanan, ke arah Paviliun, sambil berkata:

“Nenek buyut-buyut-buyut-buyut Ana mungkin pernah dilukis wajahnya di atas


lukisan yang telanjang

“Benarkah?”

“Tetapi, berapa besarkah kemungkinan dirinya begitu mirip dengan salah satu
keturunannya? Atau sebaliknya tentu saja: seperti apakah kemungkinan seorang
wanita menjadi persis sama dengan nenek buyut-buyut-buyut-buyutnya?
Andalah sang ahli biologi. Apakah hal itu bahkan mungkin?”

Aku menggelengkan kepala.

“Tidak setelah tujuh generasi. Jika ayah Ana juga diturunkan dari nenek buyut-
buyut-buyut-buyut yang sama yang bukannya mustahil bisa saja dijumpai
sejumlah kemiripan dalam ciri-ciri tertentu. Tetapi sama persis? Lebih mungkin
untuk memenangi hadiah utama lotre tujuh kali berturut-turut lebih besar. Dan
hal seperti itu tidak pernah terjadi.”

“Jadi, hal ini tentunya adalah sebuah kebetulan besar,” ia berkomentar. “Ana dan
sang gitana Goya benar-benar identik. Kemiripan mereka adalah fakta, seperti
yang kita tahu.”

Sekali lagi aku menggelengkan kepala tak percaya.

“Tidak ada dua individu yang benar-benar identik. Kita sudah menyingkirkan ide
itu. Apakah engkau memiliki teori-teori lain?”

“Ya, banyak teori lain, dan aku telah memikirkan semuanya dengan saksama.”

Aku tidak dapat membayangkan kemungkinan apa yang masih tersisa, tetapi
kemudian ia berkata,

dengan seseorang yang hidup dua ratus tahun yang lalu.”

Ia hanya mengangkat bahu. “Dan apa pendapatmu sekarang?” tanyaku.


Wajahnya berubah memancarkan suatu ketegasan.

“Mereka tidak hanya mirip,” ia berkata. “Perlahan-lahan mereka berubah


menjadi sama persis. Sejak masih remaja, Ana harus menghadapi kekha-sannya
yang ganjil itu, yang semakin hari semakin menjadi, dan akhirnya di Sevilla ia
mendapatkan nama panggilan ‘La Nina del Prado’.”

“Engkau berkata ‘semakin hari semakin menjadi’?”

“Semakin hari ia semakin menyerupai gitana Goya.”

Aku menutup mulutku dengan tangan, dan Jose melanjutkan:

“Dan ia meninggal segera setelah ia menjadi persis sama dengan model sang
seniman. Saat itu, pekerjaan itu telah terselesaikan dan ia tidak meneruskan
hidupnya satu hari pun.”

“Tetapi, bagaimana engkau dapat menjelaskan kemiripan yang begitu janggal


ini?”
“Ada beberapa penjelasan yang mungkin. Atau lebih tepatnya: seseorang dapat
mengajukan berbagai penjelasan walaupun semuanya hampir sama
mustahilnya.”

“Aku ingin mendengar semuanya.”

Ia berbelok ke kanan, ke arah Paviliun, sambil berkata:

“Nenek buyut-buyut-buyut-buyut Ana mungkin pernah dilukis wajahnya di atas


lukisan yang telanjang

“Benarkah?”

“Tetapi, berapa besarkah kemungkinan dirinya begitu mirip dengan salah satu
keturunannya? Atau sebaliknya tentu saja: seperti apakah kemungkinan seorang
wanita menjadi persis sama dengan nenek buyut-buyut-buyut-buyutnya?
Andalah sang ahli biologi. Apakah hal itu bahkan mungkin?”

Aku menggelengkan kepala.

“Tidak setelah tujuh generasi. Jika ayah Ana juga diturunkan dari nenek buyut-
buyut-buyut-buyut yang sama yang bukannya mustahil bisa saja dijumpai
sejumlah kemiripan dalam ciri-ciri tertentu. Tetapi sama persis? Lebih mungkin
untuk memenangi hadiah utama lotre tujuh kali berturut-turut lebih besar. Dan
hal seperti itu tidak pernah terjadi.”

“Jadi, hal ini tentunya adalah sebuah kebetulan besar,” ia berkomentar. “Ana dan
sang gitana Goya benar-benar identik. Kemiripan mereka adalah fakta, seperti
yang kita tahu.”

Sekali lagi aku menggelengkan kepala tak percaya.

“Tidak ada dua individu yang benar-benar identik. Kita sudah menyingkirkan ide
itu. Apakah engkau memiliki teori-teori lain?”

“Ya, banyak teori lain, dan aku telah memikirkan semuanya dengan saksama.”

Aku tidak dapat membayangkan kemungkinan apa yang masih tersisa, tetapi
kemudian ia berkata,
“Teori yang paling sederhana adalah bahwa Ana sendirilah yang berpose untuk
lukisan yang kau pelajari dengan begitu saksama di museum.”

“Tetapi, lukisan itu berusia dua ratus tahun.”

“Itu yang mereka katakan.”

Ia ragu sejenak, kemudian menambahkan:

“Aku harus memaksa diri untuk mempertimbangkan setiap kemungkinan yang


mungkin maupun tidak mungkin. Jadi selalu ada kemungkinan bahwa Ana
memang benar-benar sudah setua itu ketika ia meninggal.”

Aku menatap wajah yang pucat itu. Jika bukan karena kenyataan bahwa aku
baru bertemu Ana dua minggu yang lalu, tentunya aku mencurigai Jose
mengalami masalah kejiwaan serius, atau setidaknya sulit berpikir jernih.

“Ini bukan lelucon,” ujarku. “Aku tidak bercanda. Walaupun aku tidak akan
membantah bahwa aku sendiri tidak yakin, lebih tidak yakin daripada yang dapat
kau bayangkan. Akulah yang duduk bersama Ana di atas bangku itu di Taman
Alcazar pada hari ia menjadi serupa persis dengan gitana Goya. Pagi itu ia
bahkan menyisir rambutnya seperti wanita dalam lukisan itu, bahkan riasannya
pun sama. Dapatkah engkau mengerti?”

“Kurasa ya.”

“Pengalaman mengatakan bahwa tidaklah mungkin Ana adalah model sang


Maestro Tua, tetapi secara logika hal itu bukan tidak mungkin.”

“Dengan dasar pemikiran yang begitu liberal seperti ini, tentunya engkau
memiliki beberapa teori

lain?”

Ia menyentuh dahinya dan berdehem beberapa kali sebelum menjawab.

“Jika gitana milik Goya dilukis pada akhir abad ke-18, mungkin saja, entah
bagaimana, Ana dibentuk sesuai sosok sang model,” ia berkata.

“‘Dibentuk1 bagaimana?”
“Aku hanya mencoba menata pikiranku. Engkau tentunya tahu cerita mengenai
Pygmalion?”

“Metamorfosis karya Ovid,” jawabku. “Pygmalion jatuh cinta kepada patung


wanita cantik yang ia ciptakan sendiri. Kemudian, Aphrodite mengasihani-nya
dan menghidupkan patung tersebut. Ada teori lain?”

Ia berhenti sejenak dan merenung sambil menatapku.

“Penampilan mereka begitu mirip sehingga mereka dapat disangka kembar


identik.”

“Tentu saja,” ujarku, walaupun aku tidak terlalu mengerti apa yang ia tuju.

“Apakah engkau berpendapat,” ia menambahkan, “bahwa benar-benar tidak


mungkin seorang lelaki yang terlahir dua ratus tahun dari sekarang, persis sama
denganku, bahkan hingga sidik jari dan segala macamnya?”

“Tidak,” aku berkata. “Itu tidak mungkin. Beri aku beberapa sel hidup dan
sebuah lemari pembeku yang baik, dan kita dapat membuat klon dirimu dalam
dua abad lagi. Aku harus menekankan bahwa engkau tidak akan mengalami
kebahagiaan ‘terlahir kembali’ itu sendiri.”

Aku sendiri tidak melihat pentingnya komentarku itu.

“Maka, mungkin saja sebuah sampel jaringan diambil dari model Goya, dan
jaringan ini secara ajaib diawetkan selama hampir dua abad sebelum sekitar tiga
puluh tahun yang lalu, materi genetik dari salah satu selnya dimasukkan ke
dalam sebuah sel telur tanpa gen.”

Seluruh tubuhku terasa merinding, hampir sama seperti ketika Ana dan Jose
berjalan di antara pepohonan palem dan berbicara mengenai penciptaan manusia
dan betapa Adam tidak keheranan.

“Aku tahu maksudmu,” ujarku. “Dan tentu saja, itu merupakan sebuah
kemungkinan. Tetapi, banyak yang telah terjadi dalam bidang mikrobiologi dan
perawatan fertilitas selama tiga puluh tahun belakangan.”

“Oleh karenanya, itu hampir tidak mungkin,” ia menyimpulkan.


“Hampir tidak mungkin, betul. Lebih baik kita tetap pada gagasan mengenai
kebetulan sepenuhnya, walaupun itu cukup menyebalkan. Hal itu
mengindikasikan sesuatu yang biasanya kutolak: bahwa alam menemukan
beberapa rute paralel untuk menuju tujuan yang persis sama. Tetapi, alam tidak
bekerja seperti itu. Alam tidak mengambil lompatan tiba-tiba dan tidak
bertujuan.”

“Kita pernah membicarakan hal ini sebelumnya.”

“Apa itu?”

“Sejauh mana alam memiliki tujuan; sesuatu yang harus dicapai oleh alam,
sesuatu yang ingin

ditunjukkan atau dimunculkannya. Kita juga membicarakan apakah sesuatu yang


terjadi saat ini dengan suatu cara dapat dilihat sebagai penyebab dari sebuah
kejadian jauh di masa lalu.”

Semua itu terjadi dalam “konferensi tropis” yang diprakarsai John Spooke.
Banyak yang telah terjadi setelah itu, dan kini aku teringat akan sesuatu yang
lain.

“Mungkin kita semua salah menganggap Goya menggunakan seorang model


hidup untuk wajah dalam lukisannya. Ia hanya perlu menggambar sebuah wajah
di atas tubuh yang telanjang untuk menutupi identitas sang model hanya untuk
kamuflase.”

Jose tersenyum mantap, karena tentu saja ia pun telah mempertimbangkan hal
itu.

“Jadi?”

“Jadi, mungkin saja sebuah kebetulan bahwa beberapa abad kemudian, muncul
seorang wanita yang persis sama dengan khayalan sang seniman.”

Ia menggelengkan kepala dengan putus asa.

“Sama saja kita kembali kepada Pygmalion. Suatu hari, Tuhan menghidupkan
khayalan Goya.”
“Aku sudah menyatakan dengan tegas bahwa itu tentunya adalah sebuah
kebetulan. Walaupun dapat dipastikan ini adalah sebuah kebetulan yang sangat
luar biasa.”

“Maka, ‘kebetulan’ adalah sebuah kemungkinan. Tetapi, bagaimana jika Goya


mampu melihat rencana Tuhan? Maksudku, mungkinkah seorang seniman
visioner seperti dia juga dapat sedikit meramal?”

Kami tiba di patung dada Carolus Linnaeus.

“Ada teori lain?” tanyaku. “Atau hanya itu?”

Ia mengangguk sedih, seakan menyerah. “Ya, hanya itu,” ia mengakui. “Aku


sudah kehabisan ide.”

Ia berhenti selama beberapa saat sebelum menambahkan, “Tetapi, ada sebuah


penjelasan yang sama sekali berbeda, yang diyakini baik Ana maupun
keluarganya. Itu karena mereka telah menjadi orang gipsi selama beberapa
generasi. Aku baru menjadi gipsi selama beberapa tahun.”

Ia melirik sekilas ke arah jam, dan tepat saat aku mengira akan mendengarnya
menuturkan penjelasan Ana sendiri mengenai kemiripannya yang tanpa cela
dengan seorang wanita yang hidup di planet ini dua ratus tahun yang lalu, Jose
berkata, “Sayangnya, aku harus pergi sekarang. Aku sudah seperempat jam
terlambat menghadiri sebuah janji penting.”

Aku merasa dicurangi, dan tentunya ia dapat membaca perasaanku, karena


sambil berbalik ia meletakkan tangannya di bahuku dan berkata, “Ada banyak
yang perlu kuurus sekarang. Sebagian tugasku begitu berat, tetapi sebagian
cukup menyenangkan. Menjelajahi Prado untuk mencarimu adalah salah satu
tugasku yang menyenangkan. Tetapi, aku harus memikirkan hal-hal lain.”

Setelah mengatakan itu, ia pun bergegas menuju pintu keluar.

Begitu banyak yang masih belum terjawab. Aku tidak mengetahui siapakah
kurcaci di Sevilla

itu. Aku tidak mendengar pendapat Ana sendiri mengenai lukisan aneh yang
mirip dengan dirinya. Aku belum mendengar banyak mengenai El Planeta
maupun mengenai kakek buyut Ana. Aku juga memerlukan penjelasan mengenai
segala ungkapan aneh yang terus dikutip oleh Ana dan Jose di Taveuni. Kami
belum mengatur janji untuk bertemu lagi. Atau apakah ia telah mengetahui
bahwa aku menginap di the Palace? Apakah aku telah menyebutkan hal itu?

Satu-satunya yang dapat kuandalkan adalah misa berkabung di Sevilla, Jumat


mendatang, di Gereja Santa Ana. Sekali lagi, kemiripan nama yang muncul
hampir terasa mengesalkan.

Tiba-tiba, aku merasa begitu sedih. Aku mendapat ide bahwa mungkin aku dapat
memintamu menemaniku ke Sevilla akhir minggu ini. Kurasa, engkau berutang
kepadaku, setelah tawamu yang begitu menggelegar ketika aku mengenali Ana
dan Jose di tepi Sungai Tormes. Setidaknya, engkau dapat membantuku dengan
mendampingiku dalam sebuah misa berkabung yang sepertinya penting untuk
kuhadiri.

Betapa engkau tertawa, Vera. Tetapi, peralihan dari tawa menjadi tangis sungguh
merupakan sebuah perjalanan yang pendek, karena kebahagiaan sama rapuhnya
dengan gelas. Tidak ada yang lebih memahami hal itu daripada kita berdua.

Aku menatap Linnaeus. Mungkin ialah yang memberi nama bunga aster Bellis
perennis. Setidaknya ia mencoba untuk mengerti lebih banyak mengenai dunia
yang luar biasa ini, yang di atasnya

kita semua hanya “numpang lewat”.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, aku kembali ke Prado dan koleksi Goya.
Sekali lagi aku mempelajari bagaimana rupa Ana Maria Maya pada hari ia
mengejar seorang kurcaci di Taman Alcazar. “La Nina del Prado” tidak berubah
banyak dalam beberapa bulan sejak aku bertemu dengannya di Taveuni. Aku
hanya melihatnya sekilas di Salamanca saat ia berlari keluar dari kafe. Tetapi,
kurcaci itu, kurcaci itu memfoto Ana dari Galeria del Grutesco.

Apa yang ia inginkan dengan foto itu?

Aku membeli sedikit makanan di sebuah bar dan berjalan-jalan berkeliling


sebelum akhirnya kembali ke hotelku. Ketika akhirnya tiba di kamarku, aku
berjalan ke jendela, menatap Neptuno di bawah, lalu ke arah Ritz dan gedung
Prado di sisi seberang Paseo del Prado. Dua lukisan mengenai Ana Maria Maya
tergantung di dalamnya.
Pada saat itulah aku memutuskan untuk melakukan segala yang kumampu untuk
membuatmu ikut ke Sevilla. Untuk dapat meyakinkan hal itu, pertama-tama aku
harus menyampaikan seluruh cerita panjang yang telah kususun selama lebih
dari empat puluh delapan jam ini, dengan mengetiknya di lap-topku di hotel ini.

Aku duduk di mejaku, menyalakan komputerku, mencatat bahwa hari itu adalah
Selasa S Mei 1998, dan memulai mengerjakan tulisan ini paragraf demi paragraf.
Yang pertama kali kulakukan adalah memberikan gambaran kasar mengenai apa
yang telah kulihat dan alami di Oseania sejak November hingga Januari; aku
menuliskan mengenai penerbangan dari Nadi ke Matei, aku memberikan
gambaran singkat mengenai Taveuni dan Maravu Plantation Resort, dan aku
menjelaskan pertemuan pertamaku dengan Ana dan Jose. Aku memulai suratku
sehari sebelum aku bertemu Jose di Taman Retiro, sebelum aku mendengar apa
yang terjadi pada El Planeta di Marseilles pada musim panas 1842, dan sebelum
aku menemukan apa yang terjadi di tepi dermaga di Cadiz pada suatu hari pada
musim dingin 1790.

Hari ini adalah Kamis, 7 Mei, pukul 4 sore, dan tidak lama lagi aku akan berada
dalam kereta menuju Sevilla. Aku memiliki seikat foto di hadapanku, dan yang
paling menakjubkan dari foto-foto ini bukanlah subjeknya, melainkan apa yang
telah ditulis oleh Ana di belakang tiap foto. Aku juga menyimpan sebuah cerita
tentang alasan mengapa Ana begitu mirip dengan sebuah lukisan yang berusia
dua ratus tahun.

Dua hari telah berlalu sejak aku kembali ke kamar hotelku setelah berjalan-jalan
dengan Jose di Kebun Raya. Dalam selama selang waktu itu, menjadi semakin
penting bagiku untuk mengirim surat panjang ini kepadamu. Aku tidak dapat
mengambil risiko tidak dapat menemukanmu sekarang, karena engkau harus,
pokoknya engkau harus ikut denganku ke Sevilla besok. Semoga saat membaca
suratku ini, engkau telah memutuskan untuk pergi. Aku memutuskan untuk
meneleponmu saat ini juga, maka

surat yang panjang ini juga mencatat upayaku untuk mengontakmu, sebelum aku
mengirimkan semua yang telah kutulis melalui e-mait. Engkau harus memilih
kalimatmu dengan hati-hati. Dalam beberapa jam lagi, kata-katamu itu akan
muncul lagi di layar komputermu.

Aku duduk di mejaku, mengangkat telepon dan memutar nomormu di Barcelona


….
Tentu saja aku tidak dapat mengingat setiap kata yang terlontar di antara kita.
Namun, demikianlah ingatanku mengenai pembicaraan kita itu.

“Ya, ini Vera.”

“Ini aku.”

“Frank?”

“Ana telah meninggal.” “Aku tahu.” “Apa katamu?”

“Aku tahu Ana telah meninggal.” “Tetapi, kamu kan tidak kenal Ana?” “Tidak,
tepat sekali! Aku tidak pernah mengenalnya.”

“Tetapi, engkau tahu ia telah meninggal?”

“Apa-apaan semua ini, Frank?”

“Bagaimana engkau tahu ia meninggal?”

“Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu mengapa engkau mengarang semua ini.”

“Aku tidak … maksudku, aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan ‘semua
ini’.”

“Sudahlah!”

“Aku sendirian dalam sebuah kamar hotel, aku berada di sini sudah hampir dua
minggu. Aku hanya

ingin seseorang untuk diajak bicara. Aku harus memberi tahu seseorang bahwa
Ana telah meninggal.”

“Tidakkah kau memberinya nomor teleponku?” “Ia siapa?”

“Ia menyebut dirinya Jose.” “Apa?”

“Seorang lelaki baru saja menelepon dan mengatakan ia telah bertemu


denganmu di Taman Re-tiro. Dan bahwa ia telah memberimu sebuah hadiah
untuk kita bagi bersama.” “Ia berkata begitu?”
“Dan kemudian, ia mengatakan bahwa Ana telah meninggal.”

“Ia berkata begitu kepadamu?” “Tidakkah kau tahu ia menelepon?” “Tidak!”

“Kalau begitu, bagaimana dengan ‘hadiah’ ini?” “Memang ia pernah


menyinggung hal itu. Bahwa benda itu untuk kita berdua.”

“Dengar, aku akan menutup telepon “Halo?”

“Aku akan menutup telepon jika engkau tidak memberitahuku apa yang ia
maksud dengan ‘hadiah’ ini.”

“Aku tidak mengerti mengapa engkau begitu agresif.”

“Aku tidak agresif.”

“Mudah terpancing, kalau begitu.” “Aku juga tidak mudah terpancing. Aku
hanya bertanya ‘hadiah’ apa itu.”

“Hadiahnya berupa beberapa foto. Lalu ada semacam manifesto.” “Semacam


apa?” “Manifesto.”

“Baiklah. Ya, kau saja yang simpan, Frank.” “Aku benar-benar tidak tahu bahwa
ia meneleponmu.”

“Setidaknya engkau pasti tahu bahwa engkau memberinya nomor teleponku.”

“Aku tidak memberinya apa pun.”

“Apakah engkau memberi tahu namaku?”

“Itu mungkin saja.”

“Sebuah ‘manifesto’?”

“Bukan itu sebabnya aku menelepon.” “Jadi, mengapa engkau menelepon? Aku
punya pekerjaan lain.”

“Ingatkah engkau bagaimana engkau tertawa pada waktu itu? … Engkau tidak
mengatakan apa-apa.”
“Malam itu memang indah, Frank. Dengarlah, maafkan aku karena sedikit kesal.
Maksudku, barusan tadi. Aku otomatis berpikir bahwa engkaulah yang
menyuruhnya menelepon. Mengenai hadiah untuk kita berdua. Engkau mengerti,
kan? Kemudian, setengah jam setelahnya, engkau menelepon.”

“Aku sama sekali tidak tahu ia meneleponmu.”

“Aku ingat aku tertawa saat itu. Tentu saja kupikir engkau mengarang segala hal
itu. Dua-duanya begitu tipikal dirimu.”

“Keduanya?”

“Mengarang cerita kemudian menyuruh seorang kenalan untuk meneleponku


mengenai sebuah hadiah.”

“Kita kan sudah selesai membahasnya tadi. Jika tidak, aku yang akan menutup
telepon “Halo?”

“Aku sudah duduk di sini siang malam menulis surat untukmu.”

“Mengenai kita?” “Mengenai Ana dan Jose.” “Kirimkan saja kepadaku. Tentu
saja akan kubaca.”

“Tetapi tidak banyak waktu, kau tahu. Apakah engkau akan menyalakan internet
malam ini? Aku memerlukan waktu beberapa jam lagi.” “Tentu saja.”

“Dalam surat yang panjang ini, aku akan memohon bantuanmu. Bahkan jika itu
adalah hal terakhir yang akan pernah kau lakukan untukku.” “Apakah yang
begitu penting itu?” “Jika kuberi tahu sekarang, engkau pasti menolak.”

“Katakan saja apa itu.”

“Aku ingin memintamu ikut denganku ke misa perkabungan Ana besok malam.
Di Sevilla.”

“Engkau sudah menanyakannya kepadaku.” “Sudah?”

“Orang yang meneleponku yang menanyakannya. Aku merasa keduanya pada


dasarnya sama saja.”
“Ia memintamu datang ke Sevilla?”

“Engkau mengatakan bahwa kau tidak tahu

apa pun mengenai hal ini?”

“Tidak! Maksudku, ya. Aku tidak tahu apa-apa. Tentunya ia menelepon


Penerangan.”

“Aku berkata bahwa Jumat ini aku tidak bisa pergi. Aku tidak mengenal wanita
itu, Frank.”

“Engkau mengenalku.”

“Ya, tetapi untungnya bukan engkau yang meninggal.”

“Aku ingat banyak orang yang menghadiri pemakaman Sonja belum pernah
bertemu dengannya.” “Itu berbeda.”

“Tidak jika aku mengatakan kepadamu bahwa Ana adalah teman dekatku.”

“Aku menyadari hal itu. Tetapi, kita tidak lagi tinggal bersama.”

“Apakah engkau akan hadir pada pemakaman ibuku?”

“Sekarang kupikir kelakuanmu mengerikan.”

“Kita tidak perlu berdebat mengenai siapa di antara kita yang kelakuannya
paling mengerikan.”

“Aku tidak berdebat. Aku sudah lelah melakukannya. Kita telah mengucapkan
selamat berpisah, Frank. Kapankah engkau menyadari hal itu?”

“Apakah engkau menjalin hubungan dengan lelaki lain?”

“Menurutku, engkau tidak berhak menanyakan

itu.”

“Sekarang engkau membuat harga dirimu turun. Aku hanya bertanya apakah
engkau memiliki seorang kekasih.”
“Tidak.”

“Apa?”

“Aku tidak akan menikah lagi.”

“Bagaimana engkau bisa begitu yakin?”

“Tetapi, aku punya banyak sekali teman baik. Dan kuharap engkau pun begitu.”

“Tidak terlalu banyak di sini di Spanyol. Itulah mengapa akan sangat berarti
bagiku jika engkau datang ke Sevilla. Tentu saja aku yang akan membayar
segala pengeluaran.”

“Aku tidak tahu, Frank. Aku benar-benar tidak tahu.”

“Baiklah, kita biarkan saja pertanyaan ini menggantung untuk saat ini. Tetapi,
berjanjilah engkau akan membaca apa yang akan kukirim malam ini.”

“Aku sudah bilang akan membacanya. Aku akan meluangkan waktu untuk
melakukannya.”

“Baiklah. Kita lihat nanti apakah engkau akan berubah pikiran.”

“Apakah yang tengah kau tulis ini? Yang waktu itu engkau ceritakan kepadaku
di atas jembatan?”

“Sebagian di antaranya, tetapi pada saat itu aku masih belum tahu apa-apa.”

“Engkau membuatku penasaran. Tidak dapatkah kau memberiku versi


pendeknya?”

“Tidak, itu tidak mungkin. Aku ingin agar engkau mendapatkan keseluruhannya
sekaligus, semua atau tidak sama sekali.”

“Kalau begitu, aku akan menunggu hingga malam ini.”

“Engkau bisa mendapatkan sebuah teka-teki.

Agar ada sesuatu yang dapat kau pikirkan.” “Teka-teki?”


“Bagaimana seseorang yang hidup pada masa sekarang bisa persis sama dengan
seseorang yang pernah hidup dua ratus tahun yang lalu?”

“Aku tidak tahu. Lagi pula, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana rupa
orang-orang yang hidup dua ratus tahun yang lalu.”

“Ada banyak lukisan.”

“Tetapi, tidak ada dua orang yang persis sama, Frank. Kupikir, engkau
mempelajari genetika?”

“Kubilang itu adalah sebuah teka-teki.”

“Apakah engkau habis minum-minum?”

“Jangan mulai lagi hal-hal histeris itu.”

“Menurutku, alkohol tidak terlalu cocok untukmu.”

“Tahukah kau, engkau mengingatkanku kepada siapa?”

“Aku bertanya apakah engkau habis minum-minum.”

“Engkau mengingatkanku akan seekor tokek.” “Oh, berhentilah!”

“Maksudku, seekor tokek yang sangat khusus.” “Apakah sekarang kau


menderita gangguan saraf?”

“Apakah engkau percaya akan kurcaci?”

“Apakah aku percaya akan kurcaci?”

“Lupakan saja. Misa perkabungan itu diadakan di Triana, di Gereja Santa Ana,
pukul tujuh malam.”

“Kita lihat saja nanti. Tetapi akan kubaca apa yang telah kau tulis.”

“Aku tinggal di the Palace.”

“Engkau gila. Aku bersyukur kita tidak lagi memiliki rekening bersama.”
“Aku tidak akan menulis surat maupun meneleponmu jika aku tidak masih
sayang kepadamu.”

“Dan aku tidak akan membiarkan sebuah percakapan telepon yang begitu tidak
masuk akal seperti ini berlangsung begitu lama jika aku tidak punya perasaan
yang sama.”

“Bye, Vera.”

“Bye. Engkau benar-benar gila, tahukah kau. Tetapi, engkau memang selalu
begitu.”[]
Kurcaci dan Gambar Ajaib

PADA RABU PAGI, AKU TIBA DI PRADO PADA PUKUL SEMBILAN


LEWAT SEDIKIT, beberapa menit setelah galeri itu dibuka. Aku pergi dengan
harapan dapat bertemu Jose lagi karena kami belum menentukan tempat
pertemuan yang lain. Kesempatan berikutnya adalah di Gereja Santa Ana di
Sevilla, tetapi di sana tentunya akan ada banyak orang di sekeliling kami.

Sekali lagi aku melewati “Taman Kesenangan Duniawi” dan menunggu sebentar
di sana, karena di situlah aku telah bertemu Jose sehari sebelumnya. Aku naik
menuju lantai pertama dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan kedua maja.
Lama aku berdiri sambil menatap ke dalam mata Ana, dan hampir menyeramkan
betapa ia menatapku kembali tanpa berkedip. Aku tidak akan terkejut jika ia
mengedipkan mata ke arahku.

Setelah satu jam, aku meninggalkan galeri itu dan berjalan ke arah Calle de
Felipe IV, menyeberangi Calle Alfonso XII yang hiruk pikuk, dan memasuki
Taman Retiro. Seluruh permukaan rumput di taman itu diselimuti oleh bunga-
bunga maya berwarna kuning, putih, dan merah, oleh bunga aster,

oleh Bellis perennis. Aku menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekeliling taman


yang luas itu sambil menonton anak-anak berseragam sekolah, pasangan-
pasangan pelajar, para pensiunan, dan segerombolan kakek dan nenek membawa
balita, banyak dari mereka membawa kantung-kantung makanan untuk tupai.
Terdapat kontras yang begitu besar antara keindahan yang sesungguhnya dari
kehidupan sehari-hari dan betapa biasa hal itu dianggap oleh mereka yang
melakukannya. Aku teringat sesuatu yang pernah dikatakan oleh Ana dan Jose di
Taveuni: “Kini, para peri itu berada dalam dongeng, tetapi mereka tidak
menyadarinya. Apakah dongeng benar-benar akan menjadi dongeng jika ia tidak
bisa melihat dirinya sendiri? Apakah kehidupan sehari-hari akan menjadi
keajaiban jika ia terus-menerus berkeliling untuk menjelaskan dirinya sendiri?”

Aku memutuskan untuk kembali ke Prado lagi, tetapi sebelumnya aku duduk di
sebuah bangku di atas El Parterre yang memiliki banyak petak bunga dan
tanaman yang dipangkas menyerupai berbagai bentuk. Tiba-tiba Jose sudah
berdiri di hadapanku. Seolah-olah seseorang telah memberitahunya tentang
tempatku berjalan-jalan setiap hari di Taman Retiro.

Ia duduk di sampingku di bangku, dan kami tetap di sana selama beberapa jam.
Ia menggenggam selembar koran dan sebuah amplop kuning besar. Ia berkata
akan mengambil kereta tengah hari untuk menuju Sevilla, dan sekali lagi aku
meyakinkannya bahwa aku akan menghadiri misa perkabungan pada Jumat itu.
Aku sama sekali tidak menyebutkan sedikit pun mengenai harapan rahasiaku
bahwa engkau mungkin juga akan datang. Tetapi, mungkin aku pernah
menyebutkan namamu di Fiji. Dan seandainya aku belum menyebutkan nama
belakangmu kepadanya, jelas aku pernah menyebutkannya di hadapan si orang
Inggris, yang masih tinggal di Maravu setelah aku pergi.

Jose duduk di sana selama beberapa menit tanpa berkata-kata. Tidak hanya
wajahnya pucat pasi, tetapi seluruh keberadaannya tiba-tiba hampir menyerupai
hantu. Aku ingat saat itu aku terbayang akan Orpheus yang kembali dari neraka
tanpa Eurydice.

Akhirnya, aku memecahkan keheningan.

“Sekarang-sekarang ini tentunya merupakan masa yang sangat sulit bagimu,”


ujarku.

Ia mencengkeram apa yang ada di tangannya kuat-kuat.

“Aku telah memikirkan lebih jauh mengenai kemiripan luar biasa antara Ana
dan wanita dalam lukisan Goya,” aku melanjutkan. “Aku masih berusaha
menerima pendapat bahwa hal itu merupakan satu kebetulan yang luar biasa.”

Ia cepat-cepat mengangguk. Seolah-olah ia berusaha menyusun jalan pikirannya


untuk memberikan penjelasan.

“Tetapi, bukankah engkau mengatakan bahwa Ana dan keluarganya memiliki


penjelasan yang sangat berbeda?”

Sekali lagi ia mengangguk.

“Penjelasan mereka berhubungan dengan sebuah cerita lama, menurutku sih


tidak lebih dari sekadar kepercayaan lama. Semua bermula dengan sesuatu yang
terjadi pada El Planeta di Prancis.”

“Lanjutkanlah,” ujarku. “Kumohon lanjutkanlah!” “Pada musim semi 1842, ia


dikabarkan berangkat untuk menjalani perjalanan suci dari Cadiz menuju Les
Saintes Maries de la Mer di lie de la Carmargue di antara kedua muara Sungai
Rhone. Pada 26 Mei tahun itu, dilaporkan bahwa ia telah tiba di Marseilles. Di
sana ia bekerja sebagai kuli dermaga selama beberapa saat, mengumpulkan uang
untuk perjalanan pulangnya. Beberapa minggu kemudian, ia mengalami sesuatu
yang sejak saat itu dituturkan dari generasi ke generasi, terus hingga saat ini. Ini
adalah sebuah cerita yang diceritakan kepadaku ketika aku pertama kali
berkenalan dengan Ana dan keluarganya. Dan sebaiknya aku menjelaskan dari
awal bahwa kisah yang akan kuceritakan ini memiliki banyak versi yang
berbeda, bahkan di dalam keluarga Maya sendiri. Di sini yang kita hadapi adalah
sebuah tradisi verbal, dapat dibilang sebuah lingkaran mitos tersendiri. Aku
belum pernah dapat menemukan dokumentasi tertulis mengenai tradisi
Andalusia ini, bahkan tidak ditemukan materi-materi dari masa yang lebih
belakangan. Tetapi, kabarnya ada sebuah tradisi Swiss yang sama sekali tidak
berhubungan yang konon sama tuanya dengan tradisi Andalusia ini. Akan
kucoba untuk menceritakannya secara singkat. Oleh karenanya, aku hanya akan
menyebutkan fakta-fakta dasarnya.”

“Silakan lanjutkan!”

“Pada suatu sore di awal Juni 1842, El Planeta tengah menunggu di tepi dermaga
di Marseilles agar dapat naik ke kapal layar yang berlabuh untuk menurunkan
muatannya. Kapal layar tersebut, yang ngomong-ngomong merupakan sebuah
kapal Norwegia, tampak jelas telah mengalami cuaca buruk. Bahkan, sebelum
mereka selesai memperbaiki jembatan kapal, seorang kerdil memanjat menuruni
rantai kapal dan melompat ke darat. Ia berlari di antara beberapa gudang di tepi
dermaga lalu menghilang.”

“Seorang kerdil?”

“Ia adalah seorang kurcaci, benar-benar berpakaian seperti seorang bufon atau
badut istana. Dikisahkan, kostum yang ia kenakan berwarna ungu dan ia
memakai sebuah topi hijau dan merah ditempeli telinga keledai. Baik topi
maupun kostumnya dipenuhi lonceng kereta kecil yang bergemerencing keras
saat ia melesat di antara gudang-gudang untuk bersembunyi. Oleh karenanya,
luar biasa bahwa ia menghilang cukup cepat. Banyak orang di dermaga itu
melihatnya, dan berbagai pertanyaan pun diajukan kepada para pelaut di atas
kapal itu untuk mengetahui identitas kurcaci itu.”

“Apa yang mereka katakan?”


“Kapal itu datang dari Teluk Meksiko, dan di suatu tempat di selatan Bermuda,
mereka menyelamatkan kurcaci itu dan seorang pelaut Jerman dari dalam sebuah
perahu. Pelaut itu berkata bahwa sebelumnya mereka berlayar dalam sebuah
kapal layar Maria, yang terbalik beberapa hari sebelumnya, dan

diduga hanya merekalah yang selamat dari antara puing-puing kapal.”

“Ia tidak mengatakan apa-apa lagi?”

“Pelaut Jerman tersebut tidak banyak bicara, dan sore itu, di tepi dermaga di
Marseilles, terjadi masalah komunikasi yang serius karena sang orang Jerman
tidak dapat berbahasa Prancis maupun Spanyol. Dengan segera ia pun
menghilang seperti sang kurcaci. Sebuah versi mengatakan bahwa setelah itu, ia
menetap sebagai seorang pembuat roti di sebuah desa di pegunungan Swiss.”

“Apakah mereka pernah terlihat lagi?”

“Kurcaci itu, ya. El Planeta hidup susah di antara gudang-gudang di dermaga,


yang ia inginkan hanyalah pulang ke kampung halamannya di Cadiz begitu
mendapatkan uang yang cukup. Setelah muatan kapal layar tersebut selesai
diturunkan, ia pun meninggalkan tempat itu untuk pergi tidur, tetapi dengan
segera ia menyadari ada seseorang yang bersembunyi di antara tong-tong anggur
kosong, seseorang yang tengah menangis sedih. El Planeta mendekat dan di sana
ia menemukan si kurcaci yang tidak bahagia.”

“Apakah yang ia katakan?”

“Ia hanya dapat berbahasa Jerman, dan bahasa itu tidak dapat dimengerti oleh
sang gipsi dari Cadiz, sama seperti bahasa Spanyol tidak dimengerti oleh orang
kecil itu. Tetapi, setidaknya sebuah versi kisah pertemuan El Planeta dengan
sang kurcaci menunjukkan bahwa kurcaci itu berusaha menyembunyikan
identitasnya.”

“Menyembunyikan apa?”

“Ia menyembunyikan kostum badutnya. Sepertinya sungguh penting bagi sang


kurcaci untuk menyembunyikan pakaiannya, sama seperti seorang narapidana
yang melarikan diri berusaha menyembunyikan seragam penjaranya. Ia tidak
ingin dikenali, tidak sebagai badut. Konon El Planeta meminjamkan sebuah
man-tel pendek, dan setelah itu, segala jejak kurcaci itu menghilang dari
Marseilles.”

“El Planeta tidak pernah melihatnya lagi?”

“Di bagian itu, tradisi terbagi dua. Sebagian mengatakan bahwa El Planeta dan
kurcaci itu hidup bersama selama beberapa hari di antara gubuk-gubuk di tepi
dermaga Marseilles. Dan pada suatu malam, si kurcaci berusaha menceritakan
kisahnya dengan menggunakan bahasa isyarat dan gambar-gambar yang ia
buat.”

“Gambar-gambar?”

“Ia menggambar satu set kartu, satu pak kartu tipe Prancis dengan hati, wajik,
keriting, dan sekop. Kemudian-walaupun masih dalam bahasa Jerman kabarnya
ia mengutip sebuah puisi pendek untuk setiap kartu dari lima puluh dua kartu di
dalam set tersebut. El Planeta berhasil mengingat beberapa dari puisi itu
walaupun dalam bahasa yang tidak dapat ia mengerti. Dalam satu-satunya potret
El Planeta yang masih ada saat ini, yaitu sebuah ukiran pada lempengan tembaga
karya D.F. Lame-yer, banyak orang yang percaya bahwa ia meniru seorang
joker, atau seorang badut istana. Namun yang pasti, ia membawa sebuah kisah
mengenai

kurcaci yang penuh teka-teki ke Sevilla, dan cerita itu masih sangat terkenal
ketika sebuah nasib yang aneh menimpa kakek buyut Ana tepat lima puluh dua
tahun kemudian, pada Juni 1894.”

“Seratus empat tahun yang lalu,” ujarku.

“Seratus empat tahun yang lalu, benar. Kakek buyut Ana bernama Manuel, dan
sama seperti kakek buyutnya sendiri, ia adalah seorang cantaor yang dihormati.
Ia tinggal di Triana, dan distrik itu lama-kelamaan dikenal sebagai el barrio
gitano. Manuel hidup dalam apa yang disebut sebagai zaman keemasan
flamenco dengan berkembangnya ios cafes cantantes di Sevilla. Ia pun menjadi
sebuah sosok yang diselimuti oleh mitos dalam keluarganya, dan diberi nama
julukan “El Solitario”, atau Manuel el Solitario. Mungkin ia mendapatkan nama
itu karena dianggap penyendiri, orang luar atau pemikir, dan mungkin juga
sebagai orang yang sangat kesepian. Banyak lagunya bertemakan kesendirian
manusia. Dikabarkan, ia juga adalah seorang pemain kartu yang andal dan gemar
bermain solitaire. Ia adalah seorang penghibur serbabisa yang ahli meramal
dengan kartu. Dan mungkin karena kartu itulah ….”
Jose tiba-tiba terdiam seakan-akan ada sesuatu hal penting yang ia lupakan.

“Ada apa dengan kartu?” aku bertanya, untuk membujuknya melanjutkan


kisahnya.

“Mungkin sebaiknya kita memulai dari sisi lain.”

“Tidak masalah dari mana engkau memulai, asalkan semuanya menjadi satu
pada akhirnya,” ujarku.

“Pada suatu malam di musim panas 1894, Manuel el Solitario berjalan di


sepanjang tepian Guadalquivir. Tidak ada yang aneh hari itu: ia selalu berjalan-
jalan melalui daerah Sevilla itu setiap malam setelah menyanyi di cafe cantante
milik Silverio Franconetti. Ibu Silverio adalah seorang gipsi tulen, walaupun
Silverio sendiri dianggap sebagai bukan orang Romani atau orang payo oleh
para gipsi di Sevilla, dan para payo mulai menyanyikan cante gitano baru-baru
saja

“Suatu malam di musim panas 1894, Manuel berjalan-jalan di tepian


Guadalquivir,” aku mengulangi.

“Dan malam itu mereka berkata bahwa ia melihat sesosok aneh bergerak dalam
kegelapan di tepi sungai, di sisi sebelah Triana, di antara jembatan Puente de
Triana dan jembatan Puente San Telmo, tidak jauh dari Gereja Santa Ana.
Mungkin aku akan berkesempatan untuk menunjukkan lokasi tepatnya
kepadamu akhir minggu nanti, karena Betis masih merupakan tempat yang baik
untuk berjalan-jalan pada sore hari, dengan pemandangannya yang indah jika
kita menatap ke seberang sungai ke arah arena banteng, Torre del Oro dan La
Giralda. Tetapi pokoknya, sosok dalam kegelapan itu konon adalah seorang
kurcaci.”

“Ada lagi?” aku berseru.

“Kau harus ingat bahwa Manuel sangat mengenal cerita lama mengenai El
Planeta yang bertemu dengan kurcaci di Marseilles ….”

“Walaupun tentunya bukan kurcaci yang

sama.”
Jose duduk di sana selama beberapa saat, hanya menatap ke arah El Parterre.
Kemudian ia berkata pelan mungkin ditujukan kepada dirinya selain kepadaku
“Bukan, tentunya bukan kurcaci yang sama.”

“Pada waktu itu tentunya ia sudah sangat

tua.”

Jose menggelengkan kepalanya.

“Ia belum tua. Tetapi, Manuel berdiri di sana sambil menatapnya, karena
menurut nenek Ana, ia mulai berpikir tentang pengalaman El Planeta ke
Marseilles. Tepat pada saat itu, sang kurcaci mengisyaratkan kepadanya untuk
mendekat dengan menggunakan telunjuk kirinya persis seperti yang dilakukan
El Planeta dalam lempengan tembaga tua itu. Manuel pun mendekati si kurcaci
yang mengenakan sebuah kostum sederhana yang biasa dikenakan oleh para
payo pada saat itu. ‘Anda sedang menghirup udara segar, ya?’ ujar si kurcaci,
dan dimulailah sebuah percakapan menarik antara si kurcaci dan Manuel el
Solitario.”

“Kurcaci yang ini dapat berbahasa Spanyol?”

“Ia bahkan berbicara dengan aksen Andalusia, tetapi dengan sikap yang jelas
menunjukkan bahwa ia tidak dilahirkan di Sevilla, Andalusia, atau di mana pun
di Semenanjung Iberia.”

“Dan apakah yang mereka bicarakan?”

“Janganlah berharap terlalu banyak dalam hal ini. Ingat bahwa peristiwa ini
terjadi lebih dari seabad yang lalu, dan aku harus menekankan bahwa

aku telah mendengar banyak versi berbeda tentang percakapan yang terjadi
walaupun ‘percakapan’ bukanlah kata yang benar-benar tepat. Yang kumaksud
adalah cerita sang kurcaci mengenai asal-usulnya. Aku pernah mendengar kisah
ini diceritakan para sepupu dan sepupu jauh Ana, tetapi sejauh ini aku belum
pernah mendengar cerita yang persis sama dua kali.”

“Kalau begitu, pilihlah salah satu! Atau ceritakan saja semuanya.”

“Akan kugabungkan semuanya. Versi singkatku hanya akan menyebutkan


bagian-bagian yang ada dalam semua penuturan yang berbeda-beda itu. Toh kita
tidak memiliki banyak waktu.”

Sebenarnya, aku ingin mendengar sebanyak mungkin, dan sudah mulai khawatir
bahwa ia mungkin kehabisan waktu, sama seperti yang terjadi di Kebun Raya.
Orang Spanyol berkulit putih dengan rambutnya yang pirang dan matanya yang
biru ini semakin menjadi sebuah teka-teki, dan aku tidak terlalu yakin seberapa
jauh dapat memercayai dirinya. Jika ia berusaha membohongiku, aku ingin dapat
menghentikannya sebelum ia menjadikanku bahan tertawaan.

“Lanjutkanlah!” ujarku.

“Kurcaci itu menjelaskan bahwa ia adalah orang yang sama yang telah diberi
mantel oleh El Planeta lima puluh dua tahun sebelumnya, dan sejak awal
sepertinya ia tahu bahwa ia berbicara dengan cucu buyut El Planeta. Selanjutnya,
ia membuka sebuah karung dan mengeluarkan sebuah

mantel sangat tua yang kemudian ia berikan kepada Manuel, mungkin sebagai
tanda ketulusannya. Saat kurcaci itu membuka karungnya, Manuel dapat
mendengar suara lonceng-lonceng yang teredam.”

“Tetapi, kurcaci itu belum tua!”

Jose menggelengkan kepalanya.

“Ia berusia kira-kira 40-an.”

“Aku mulai dapat memahami mengapa cerita ini membuat Ana tertarik. Tetapi,
apakah yang dikatakan sang kurcaci?”

“Kapal layar yang membawanya ke Marseilles memang menyelamatkannya dari


sebuah perahu di tengah lautan luas di selatan Bermuda dan di dalam perahu itu
juga terdapat seorang pelaut Jerman. Tetapi, mereka bukan dipungut dari laut
setelah kapal mereka tenggelam.”

“Kalau begitu, mengapa mereka duduk dalam sebuah perahu di tengah lautan?”

“Sang kurcaci itu berasal dari sebuah pulau vulkanis yang tiba-tiba tenggelam. Si
pelaut Jerman baru tiba di pulau itu selama beberapa hari setelah kapalnya
tenggelam, kapal layar Maria.”
“Dan kurcaci itu?”

“Kurcaci itu tiba di pulau tersebut dengan seorang pelaut lain setelah
tenggelamnya sebuah kapal pada 1790. Di sana ia hidup selama lima puluh dua
tahun penuh sebelum berperahu pergi dari pulau itu, karena pada saat itu
retakan-retakan mulai bermunculan dan pada akhirnya pulau itu tenggelam
ditelan ombak.”

Pada saat itu aku tertawa penuh sarkasme.

“Oh begitu, jadi kurcaci itu datang ke sebuah pulau di Samudra Atlantik tepat
seratus empat tahun sebelum ia bertemu Manuel di Sevilla. Dan pada saat
bertemu Manuel, ia masih dalam usia puncak!”

Tetapi, Jose tidak tersenyum sedikit pun, justru sebaliknya, karena ia


melanjutkan:

“Lima puluh dua tahun kemudian, pada suatu malam di bulan Juni 1946, sekali
lagi ia terlihat, kali ini di Plaza Virgen de los Reyes di luar katedral di Sevilla.
Paman buyut Ana bersumpah bahwa ia telah melihatnya di sana. Karena adanya
La Giralda dan dinding-dinding tinggi yang mengelilingi Alcazar, Plaza Virgen
de los Reyes memiliki gema yang sangat baik, dan ia mendengar denting-denting
bel bergemerencing saat badut kecil itu berlari melintasi lapangan menuju
Archivo de Indias dan Puerta de Jerez.”

Ia masih bersikap sangat serius, tetapi untuk sekejap aku merasa telah dibohongi.
Mungkin Jose telah menjadi gila, atau setidaknya membual, dan karenanya
mungkin saja Ana tidak benar-benar mati.

“Sekarang mungkin engkau akan memberitahuku bahwa kurcaci yang ini adalah
orang yang sama yang dikejar Ana di Taman Alcazar?”

Ia meletakkan jari telunjuk kanannya di mulutnya dan menggelengkan kepala.

“Tetapi, Ana beranggapan begitu, ia yakin akan hal itu. Hal pertama yang ia
katakan ketika aku berhasil mengejarnya di Taman para Penyair adalah: ‘Aku
mendengar lonceng-loncengnya!’ Itu adalah kalimat yang ia ulang berkali-kali
sebelum ia

meninggal. Kini tahun 1998, tepat lima puluh dua tahun sejak 1946.”
Aku telah menghitungnya sendiri. Selalu ada cerita mengenai kurcaci ini setiap
lima puluh dua tahun.

“Jadi, kita harus menunggu dan melihat apa yang akan terjadi pada 2050,” aku
berucap ringan. “Tetapi tentunya engkau sendiri tidak memercayai cerita-cerita
ini?”

Seolah-olah tidak mau memberiku sebuah jawaban langsung, ia hanya


mengulangi, “Ana memercayai setiap kata dalam cerita itu. Selama hidupnya ia
telah mengantisipasi apa yang akan terjadi di Sevilla tahun ini.”

“Engkau berkata bahwa Manuel meninggal karena sebuah perkelahian?”

“Dua tahun setelah bertemu si kurcaci di Sevilla, ia tengah bermain kartu dengan
beberapa teman, dan Manuel terus memenangi setiap permainan. Ia suka
menggembar-gemborkan bahwa ia adalah seorang penyihir dengan kekuatan
khusus yang membuatnya mudah menang dalam permainan kartu. Ia
melanjutkan dengan menceritakan seluruh kisah si kurcaci sejak pulau itu
tenggelam hingga pertemuannya dengan El Planeta, dan mengenai
pertemuannya sendiri dengan sang kurcaci di tepi Sungai Guadalquivir.”

“Apakah ia bercerita lebih banyak daripada yang telah kau ceritakan?”

“Ia juga menceritakan penciptaan sang kurcaci

“Oh?”

“… dan bagian ceritanya yang itulah yang telah menimbulkan perkelahian sial di
Triana itu. Pihak kepolisian telah mengon-firmasi bahwa seorang Manuel telah
dipukuli hingga mati di Triana pada waktu itu. Maka kita berhadapan dengan
sebuah fakta sejarah, setidaknya sehubungan dengan perkelahian itu.”

“Ayo lanjutkan!”

“Aku memberitahumu bahwa kurcaci itu datang ke pulau itu setelah sebuah
kapal tenggelam pada 1790. Pernyataan itu hanya sebagian benar.”

Aku tertawa.

“Seseorang bisa datang ke sebuah pulau pada 1790 atau tidak datang sama
sekali. Ia tidak dapat datang atau pergi sebagian saja.”

“Tenanglah. Aku hanya ingin menceritakan sebuah kisah kuno. Sebuah kisah
yang diceritakan oleh si kurcaci kepada Manuel el Solitario. Setelah sebuah
kapal tenggelam pada 1790, seorang pelaut tiba di pulau tersebut sendirian. Ia
pun seorang Jerman, dan satu-satunya yang ada di dalam saku bajunya ketika ia
merangkak menuju daratan adalah satu kotak kartu. Ia benar-benar tinggal
seorang diri di pulau itu selama lima puluh dua tahun yang panjang, dan tidak
ditemani siapa pun kecuali sekotak kartunya. Kartu-kartunya itu dibuat dengan
sangat indah. Setiap kartunya berlukiskan sesosok makhluk dari kepala hingga
kaki, tetapi hampir sepertinya mereka adalah tokoh-tokoh dongeng, karena
setiap karakter itu pendek dan terlihat seperti

para peri yang biasa kau dengar dalam dongeng.”

“Mungkin mereka menyerupai orang-orang dalam ‘Taman Kesenangan


Duniawi’,” aku mengusulkan. “Apa katamu?”

Aku mengulangi pendapatku, dan ia menjawab: “Mungkin saja, walaupun


orang-orang dalam lukisan karya Bosch itu telanjang. Para peri dalam kartu itu
mengenakan kos-tum-kostum yang sangat indah dari Zaman Pencerahan di
Prancis. Dan konon si kurcaci tergambar dengan mengenakan sebuah setelan
berwarna ungu dan sebuah topi dengan telinga keledai. Pakaiannya ditempeli
lonceng-lonceng kecil sehingga akan berbunyi jika si badut itu bergerak walau
sekecil apa pun.”

“Aku tidak tahu apakah

“Sang pelaut dari kapal yang karam mengisi hari-hari panjangnya dengan
bermain solitaire, sama seperti yang dilakukan Napoleon dalam pengasingannya
di St. Helena. Setelah beberapa lama, ia mulai memimpikan tokoh-tokoh di
dalam kartunya; merekalah satu-satunya yang telah menemaninya dalam tahun-
tahun yang panjang itu. Begitu nyata ia memimpikan para peri dalam kartu
permainan yang menyerupai manusia itu hingga ia membayangkan bahwa ia
juga dapat melihat mereka pada siang hari. Seolah-olah mereka melayang-layang
di sekelilingnya bagaikan makhluk-makhluk halus. Dengan begitu, ia dapat
melakukan percakapan-percakapan panjang dengan mereka walaupun pada
kenyataannya, tentu saja, pelaut kesepian itu hanya berbicara kepada dirinya
sendiri. Tetapi, kemudian pada suatu hari “Ya?”
“… pada suatu hari, peri-peri itu berhasil menemukan jalan keluar dari imajinasi
sang pelaut ke dalam dunia nyata, yaitu di sebuah pulau kosong di Karibia yang
ia huni setelah kapalnya karam. Mereka berhasil membuka portal antara ruang
kreatif dalam alam sadar sang pelaut dan ruang tercipta di bawah langit. Maka,
mereka pun muncul, satu demi satu, seolah-olah mereka melompat keluar dari
dahi sang pelaut, dan setelah beberapa bulan, seluruh tokoh dalam set itu pun
muncul. Yang terakhir muncul adalah sang Joker, ia adalah apa yang sering
disebut sebagai ‘pemikiran ulang’. Pelaut itu pun tidak lagi sendirian, dengan
segera ia hidup di dalam sebuah desa dengan dikelilingi oleh lima puluh dua
orang peri dalam ukuran yang sesungguhnya, begitu pula sang badut kecil.”

“Ia tentu berhalusinasi. Bertahun-tahun sendirian di pulau itu telah mengacaukan


otaknya. Kurasa, hal itu tidak sulit untuk dipahami.”

“Ia pun menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri, apakah ia
berhalusinasi. Tetapi kemudian, pada 1842, sang pelaut muda tiba di pulau
tersebut setelah Maria tenggelam. Anehnya, ia pun dapat melihat kelima puluh
dua peri tersebut di pulau itu. Walaupun begitu, ia menyadari bahwa sepertinya
mereka tidak sadar siapa diri mereka sebenarnya dan dari mana mereka berasal.
Mereka hanya ada di pulau itu, dan bagi mereka, dunia yang mereka huni itu
tidaklah luar biasa, sama seperti

anggapan kebanyakan manusia. Satu pengecualian adalah sang Joker. Ia tidak


seperti peri-peri yang lain. Ia berhasil menembus tirai ilusi dan akhirnya
mengerti siapakah dirinya dan dari mana ia berasal. Ia menyadari bahwa ia telah
memasuki dunia ini dengan sebuah cara yang luar biasa dan bahwa ia adalah
bagian dari sebuah petualangan yang tidak dapat dijelaskan. Berada di situ
adalah sebuah keajaiban besar bagi sang Joker. Atau jika menggunakan kata-
katanya sendiri, seperti yang dikisahkan oleh Manuel el Solitario: ‘Tiba-tiba
engkau berada di sebuah dunia, dan engkau melihat surga dan bumi.’ Karena
para peri yang lain menganggap keduanya sebagai hal biasa begitu mereka ada
di sini. Tetapi sang Joker berbeda, ia adalah orang luar yang melihat apa yang
tidak dapat dilihat oleh mereka yang lain. Atau menggunakan kata-katanya
sendiri: ‘Joker menyelinap dengan gelisah di antara para peri bagaikan seorang
mata-mata dalam dongeng itu. Ia telah mengambil kesimpulan, tetapi tidak dapat
melaporkannya kepada siapa pun. Hanya Jokerlah yang ia lihat. Hanya Joker
yang melihat siapa dirinya.’”

“Kemudian, engkau mengatakan bahwa pulau itu tenggelam ke dalam laut?”


Jose menatapku dengan matanya yang biru, dan aku harus menyingkirkan segala
pikiran bahwa ini hanyalah karangannya.

“Si pelaut tua dan kelima puluh dua peri ikut tenggelam bersamanya. Hanya si
pelaut muda dan Jokerlah yang berhasil keluar dari pulau itu dengan
menggunakan sebuah perahu dayung. Tetapi, ada

suatu hal lain yang harus kau ketahui agar engkau mengerti apa yang terjadi di
kemudian hari.” Aku melirik jam.

“Ceritakanlah,” ujarku. “Ceritakanlah kepadaku!” Tetapi, waktu berlalu hingga


akhirnya ia berkata, “Baik Joker maupun para peri itu tidak ada yang berubah
sedikit pun selama bertahun-tahun mereka tinggal dengan sang pelaut. Si pelaut
sendiri menjadi semakin tua, tetapi para peri itu tidak ada yang mendapatkan
sedikit pun kerutan maupun noda kotor pada kostum mereka yang berwarna
cerah. Itu karena mereka adalah ruhruh. Mereka bukanlah darah dan daging
seperti kita manusia biasa.”

“Dan perkelahian itu?”

“Manuel el Solitario selalu memenangi permainan kartu, dan ketika ditanya


mengapa, ia berkata bahwa ia mempelajari beberapa tipuan dari kurcaci yang
juga bertemu dengan El Planeta di Marseilles. Hal ini cukup untuk membuat
salah satu pemain lain, yang pada saat itu telah kalah banyak dan juga mabuk
berat setelah minum manzanilla, memukul Manuel, dan beberapa hari kemudian,
Manuel pun meninggal akibat luka-luka yang ia derita. Ia meninggalkan seorang
istri dan dua orang anak yang masih kecil, seorang laki-laki dan seorang
perempuan. Sebagian orang percaya bahwa Manuel baru mendapatkan
julukannya itu setelah ia menceritakan kisah mengenai sang pelaut dan sekotak
kartu ajaibnya itu. Solitario tidak hanya berarti ‘kesepian’. Kata itu juga berarti
‘pertapa’. Dan Solitario adalah bahasa Spanyol dari ‘solitaire’, seperti jika

kami mengatakan hacer un solitario.”

“Aku tidak tahu apakah harus bertepuk tangan atau mengatakan ‘dan mereka
pun hidup bahagia selama-lamanya’.”

“Engkau tidak perlu melakukan keduanya. Tetapi, engkau sendiri yang


mengatakan betapa engkau terkagum-kagum akan kemiripan Ana dengan maja
milik Goya.”
Aku lupa bahwa segala yang telah ia ceritakan itu berhubungan dengan Ana.
Dan, kusadari sekarang, entah bagaimana, cerita itu juga berhubungan dengan
sepotong misteri yang telah kusaksikan sendiri.

“Tadi engkau akan menceritakan kepadaku apa penjelasan Ana, dan


keluarganya, mengenai kemiripan itu,” ujarku.

“Tetapi, kini setelah engkau mendengar tentang badut istana kecil yang datang
dan pergi dalam cerita ini, mungkin engkau dapat menebak hubungan antara
keduanya. Engkau telah mendengar bahwa baru beberapa hari yang lalu si
kurcaci mengambil foto Ana di Taman Alcazar … sebentar lagi aku harus pergi
mengejar keretaku.”

“Tunggu sebentar,” ujarku. “Jadi, kurcaci itu pergi ke Marseilles pada 1842,
bertemu dengan Manuel di Triana pada 1894, dan berlari melintasi Plaza Virgen
de los Reyes pada 1946. Dan Ana yakin bahwa ini adalah kurcaci yang sama
yang muncul lagi di Taman Alcazar pada 1998.” “Begitulah ceritanya, betul.”

“Tetapi, toh kurcaci itu tidak mungkin bertemu

dengan Goya. Pelukis itu meninggal jauh sebelum El Planeta datang ke


Marseilles.”

“Goya meninggal tahun 1828.”

“Dan bahkan jika si kurcaci itu berhasil bertemu dengan Goya, ia baru melihat
Ana jauh setelah orang terkenal itu melukis maja-nya yang telanjang dan
berpakaian.”

“Kita harus mencernanya satu demi satu.”

“Baik, mari mencernanya satu demi satu! Engkau berjanji bahwa semua yang tak
kuketahui akan menjadi jelas.”

“Si pelaut yang membawa kartu permainan ajaib ke pulau yang hilang ditelan
lautan itu berlayar dari Cadiz pada awal 1790. Kapalnya adalah kapal Spanyol
bernama Ana, itu adalah sebuah nama yang cukup umum untuk sebuah kapal
pada waktu itu. Pertama-tama, Ana berlayar ke Veracruz di Meksiko, dan baru
pada perjalanan pulangnya ke Cadiz, kapal itu tenggelam dengan membawa
muatan besar berupa perak. Semua fakta ini benar, aku telah memeriksa
dokumen-dokumen tua dan berkas-berkas kapal.”

“Engkau telah memeriksa bahwa sebuah kapal bernama Ana memang karam
dengan membawa muatan besar berupa perak pada 1790, dan pada saat itu kapal
tersebut tengah menuju Cadiz?”

“Betul, walaupun diberitakan kapal tersebut tenggelam dengan seluruh awaknya


dan tidak ada desas-desus mengenai adanya orang yang selamat.”

“Ya, dapat dikatakan memang tidak ada, karena sang pelaut tenggelam lagi
bersama pulau ger—

sang itu lima puluh dua tahun kemudian dan tidak pernah kembali ke
peradaban.”

“Aku bersyukur engkau mengikuti cerita ini dengan begitu teliti. Tetapi, ketika
berlayar dari Cadiz pada 1790, ia membawa sekotak kartu. Aku tidak tahu
apakah aku perlu menceritakan tradisi yang berhubungan dengan kartu-kartu
aneh ini, atau lebih tepatnya bagaimana si pelaut mendapatkan kartu-kartu itu.”

“Oh, tentu,” aku mendesaknya. “Aku harus mendengar hal itu juga.”

“Sebelum mereka berlayar dari Cadiz pada 1790, kapal itu berlabuh di dermaga
beberapa lama karena ia baru saja berlayar dari Sanlucar de Barrameda. Di tepi
dermaga itu, seperti biasa segerombolan gipsi menjual segala macam barang,
mulai dari jeruk dan buah zaitun hingga cerutu, korek api, dan kartu permainan
kepada para pelaut yang akan menyeberangi lautan. Pelaut kita ini konon
membeli sekotak kartu yang aneh dari seorang anak gipsi berusia lima atau enam
tahun bernama Antonio yang di kemudian hari dikenal sebagai sang cantaor
legendaris El Planeta.”

“Apakah ia memang benar-benar setua itu?”

“El Planeta dilahirkan di Cadiz pada sekitar 1785. Engkau dapat memeriksanya
di dalam ensiklopedia.”

“Cerita ini masih agak sulit dipercaya,” aku menyatakan. “Para gipsi ini tentunya
orang-orang yang penuh imajinasi.”

“Pada waktu itu, ada pula seorang kurcaci di


tepi dermaga. Ia sendiri tidak tampak terlalu luar biasa, tetapi tradisi menyatakan
dengan jelas bahwa di balik pakaiannya, ia mengenakan beberapa lonceng yang
bergemerencing, seperti seorang bu-fdn atau badut istana.”

Aku menatap wajah pucatnya sambil bertanya-tanya.

“Kurasa, bagian yang terakhir itu seharusnya dibuang saja dari keseluruhan
cerita,” ujarku.

“Mengapa?”

“Dia kan ada di dalam kotak kartu itu! Ia ada di dalam saku sang pelaut. Tidak
mungkin ia berdiri di tepi dermaga untuk menyaksikan kapal itu mulai berlayar.
Dan lagi pula ….”

Tiba-tiba aku merasa dihantam dengan sebuah kapak besar, dan kalimatku
terhenti.

“Dan lagi pula?” ulang Jose.

“Bahkan jika kita bersedia memercayai bahwa kurcaci dari kumpulan kartu ajaib
ini tidak bertambah tua seperti halnya makhluk-makhluk hidup lainnya, karena
ia adalah sebuah ruh halus dan bukan darah dan daging ….”

“Ya?”

“Tetap saja ia tidak dapat bergerak mundur dalam waktu. Ia baru tiba di Eropa
pada 1842.” Ada kilatan cahaya dalam mata birunya.

“Tidak dapatkah sesuatu semacam ruh menembus waktu, menuju masa lalu?” ia
bertanya.

“Ya, bisa dibayangkan bahwa sesuatu yang bersifat seperti ruh dapat menembus
waktu ke depan maupun ke belakang.”

Jose mengangguk dengan ekspresi yang apresiatif.

“Engkau semakin mendekati kebenaran. Tetapi masih ada sedikit kejutan, kau
tahu. Jika kau mau, sebut saja ini adalah lingkaran pusat dari sebuah epik. Dalam
cerita ini selalu disebutkan bahwa si kurcaci adalah semacam fantasi, dan ia
tidak menjadi tua seperti kita. Itulah mengapa kurcaci itu bisa hidup sangat lama.
Tetapi juga dikabarkan bahwa kurcaci ini dapat menembus waktu ke masa lalu,
tetapi tidak lebih jauh dari sejak masa penciptaannya. Oleh karena itu, tidak ada
cerita tentang Pangeran Kecil maupun Alice di Wonderland sebelum Saint
Exupery dan Lewis Caroll menulisnya, walaupun setelah itu banyak sekali
referensi dan referensi silang mengenai kedua cerita tersebut.”

“Kupikir tadi si kurcaci ‘dilahirkan’ oleh seorang pelaut di seberang lautan, atau
setidaknya setelah kapal layar Ana mengarungi laut.”

Ia menerima keberatanku ini: “Joker datang dari sekotak kartu yang dibuat di
Prancis pada akhir 1780-an. Sejak saat itu, setidaknya ada satu orang di Dunia
Lama melihatnya, dan itu adalah tepatnya sejauh mana ia dapat menembus
waktu. Terlebih lagi

“Lanjutkan, lanjutkanlah!”

“Orang-orang berkata bahwa mereka melihatnya di dermaga di Cadiz pada


musim dingin 1790, tetapi semua jejak berakhir di sana. Tidak ada referensi
mengenai penampakannya sebelum hari itu. Tidak ada jejak dirinya sebelum
itu.”

“Dan Ana sungguh-sungguh memercayai semua ini?”

Jose menjawab dengan menggelengkan kepala. “Ia mengetahui semua kisah


yang menyangkut El Planeta, Manuel el Solitario, dan paman buyutnya, yang
meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku tidak mengatakan bahwa ia
memercayai semua itu, ia bahkan menunjukkan semacam rasa malu akan
‘dongeng-dongeng Romani’ yang selalu ia dengar sejak kecil, karena kaum gipsi
hampir bersinonim dengan tipu daya dan kecurangan. Tetapi ia yakin bahwa ia
mengejar sang kurcaci dengan lonceng-lonceng yang bergemerencing di Taman
Alcazar. ‘Aku mendengar lonceng-loncengnya,’ ia berkata. Itulah mengapa ia
berlari mengejarnya. Seolah-olah ia berusaha menyelamatkan kehormatan
keluarganya.”

“Dan maja milik Goya?”

“Kita baru akan sampai ke sana. Saat Joker berdiri di dermaga di Cadiz dan
menyaksikan Ana mulai berlayar, ia memegang sesuatu yang aneh dalam saku
mantelnya, sesuatu yang konon telah ia gunakan beberapa kali untuk melindungi
dirinya dari para pemuda mabuk yang merampoknya karena ia seorang kurcaci.”

“Benda apakah itu?”

“Itu adalah sebuah gambar kecil seorang wanita muda.” “Oh?”

“Gambar itu adalah sebuah miniatur yang dilukis dengan suatu teknik yang sama
sekali belum dikenal saat itu. Gambar itu bukanlah sebuah lempengan tembaga,
juga bukan lukisan minyak jenis apa pun, dan permukaannya begitu halus
bagaikan sutra. Yang paling penting, gambar luar biasa ini begitu hidup sehingga
si kurcaci pun dianggap sebagai seniman genius dengan kemampuan
supernatural. Gambar yang ia tunjukkan itu sama realistisnya dengan benda-
benda yang kau lihat langsung.”

Aku kembali berada di Prado tempat terdapat dua lukisan seorang wanita yang
tengah duduk di atas sebuah bangku di Taman Alcazar hanya beberapa jam
sebelum ia meninggal. Kemudian, seorang kurcaci datang dan mengambil
fotonya ….

“Aku tahu gambar apa yang kau maksud. Tetapi, foto itu baru berusia beberapa
hari.”

“Benar, bagi kita. Bagi orang-orang di tepi dermaga di Cadiz, gambar itu bahkan
lebih baru lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Foto itu berasal dari masa depan yang begitu jauh. Itulah mengapa mereka
menganggapnya sebagai sihir. Tentunya diciptakan oleh setan, kata mereka.”

“Dan memang benar-benar ada kisah-kisah tua mengenai seorang kurcaci yang
memiliki sebuah potret sempurna seorang wanita cantik?”

“Dongeng, betul. Cerita rekaan, kepercayaan gipsi. Hanya sedikit dari cerita-
cerita seperti itu yang dipercaya orang. Tetapi, legenda selalu memiliki pesona
tersendiri. Kisah mengenai ‘Kurcaci dan gambar ajaib’ adalah salah satu dari
legenda itu. Walaupun baru sekarang kita menyadari betapa luar

biasa sesungguhnya mitos lama mengenai kurcaci dan gambar ajaib, karena
cerita itu sendiri jauh lebih tua dibandingkan seni fotografi.” “Dan Goya?”
“Goya adalah penggemar berat seorang pelukis abad ke-17, Velazquez, yang
datang dari Sevilla dan di kemudian hari diangkat menjadi pelukis istana oleh
Philip IV. Maestro tua itu banyak melukis kurcaci dan bufon. Orang-orang
semacam itu banyak ditemukan di sekitarnya pada saat itu, karena umum bagi
keluarga-keluarga kerajaan pada masa Velazquez untuk mempekerjakan orang-
orang seperti itu.”

“Benarkah?”

“Jadi, ketika Goya kebetulan bertemu dengan sang badut mungil itu di Sanlucar
de Barrameda pada musim semi 1797, ia berusaha menyeretnya dengan paksa ke
studio agar dapat melukisnya.”

“Tetapi kurcaci itu menolak?”

“Ia berteriak dan menjerit serta berusaha sekuat tenaga melawan. Tapi, seniman
besar itu tuli total, dan tidak dapat mendengar apa yang dikatakan si kurcaci.
Barulah setelah ia mengeluarkan gambar Ana Maria Maya yang misterius itulah,
sang seniman melepaskannya, karena ia belum pernah melihat sesuatu seperti itu
sebelumnya. Ia sudah hampir selesai melukis ‘La Maja Desnuda’, dan kini ia
menambahkan wajah Ana di atas tubuh telanjang itu untuk menyembunyikan
identitas sang model yang sesungguhnya.”

Kami duduk di sebuah bangku ganda yang

memiliki penyangga punggung di tengah-tengahnya, dan seorang lelaki tua kini


datang dan duduk di sisi lain bangku tersebut. Jose menunggu sebentar sebelum
meneruskan ceritanya, dan kemudian dengan nada berbisik ia melanjutkan: “Ana
tidak pernah merasa senang dikenali sebagai sang wanita dalam lukisan itu, dan
terkadang beban itu cukup berat baginya. Tetapi, aku yakin engkau dapat
membayangkan bahwa tentunya seorang model yang hidup pada zaman Goya
pun tidak akan menganggapnya mudah. Seorang wanita gipsi yang membiarkan
dirinya dilukis telanjang pada masa itu mungkin mempertaruhkan nyawanya.”

Aku duduk di sana selama beberapa saat sambil berpikir keras. Kemudian aku
bertanya, “Apakah memang benar-benar ada tradisi gipsi yang menceritakan
Goya dan si kurcaci dengan gambarnya yang misterius?”

Jose menatapku, dan untuk pertama kalinya dengan secercah senyuman. Ia


menggelengkan kepalanya nyaris tak terlihat.
“Kisah-kisah itu hanya menceritakan bahwa kurcaci dengan lonceng-loncengnya
yang bergemerencing berdiri di tepi dermaga di Cadiz saat Ana mulai berlayar
dan bahwa ia menunjukkan sebuah gambar wanita yang begitu mendetail dan
tampak hidup sehingga orang-orang di dermaga terkagum-kagum. Salah satu di
antara mereka adalah Antonio, yang di kemudian hari menjadi kakek buyut-
buyut-buyut-buyut Ana. Maka, ada alasan untuk menduga bahwa foto Ana telah
berada di Andalusia

sejak 1790, dan karenanya beberapa tahun sebelum Goya melukis gitana atau
maja yang telanjang. Kupikir itu cukup.”

Pada saat itu, ia melihat ke arah jam dan berkata harus mulai berjalan ke stasiun
kereta. Aku menawarkan diri berjalan bersamanya melalui Taman Retiro.

Kami berjalan perlahan menyusuri Paseo Paraguay menuju Plaza Honduras di


tengah-tengah taman besar itu. Jose menggenggam koran dan amplop kuningnya
erat-erat. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa apa yang ia bawa itu
ternyata untukku. Sambil berjalan, aku memikirkan kembali semua yang telah ia
ceritakan mengenai kedua kapal yang karam, El Planeta, Manuel el Solitario,
dan sang badut mungil yang muncul di mana-mana.

Jadi, seorang kurcaci berdiri di tepi dermaga di Cadiz pada 1790 untuk
mengucapkan selamat tinggal kepada sebuah kapal layar yang berangkat menuju
Meksiko. Di dalam sakunya, ia memiliki sebuah gambar mini dari seorang
wanita gipsi muda. Sepertinya sang seniman berhasil melukis wanita itu persis
seperti bagaimana matanya telah melihatnya dalam sebuah taman besar atau
halaman, karena warna-warna dan detail yang terdapat dalam gambar itu tampak
lebih jelas daripada sutra Gobelin yang terbaik. Tetapi, teknik apakah yang
digunakan sang seniman, karena kertas itu hanya setebal satu milimeter?
Tentunya bukan cat air, bukan pula cat minyak, dan tidak mungkin lempeng
tembaga berwarna jenis apa pun. Mungkin yang paling mengejutkan dari gambar
kecil itu adalah permukaannya yang benar-benar mengilap, seolah-olah telah
dilapisi dengan lilin atau damar. Di tepi dermaga itu pula, seorang anak gipsi
cilik berusia sekitar lima atau enam tahun berlari-lari. Ia adalah kakek buyut-
buyut-buyut-buyut dari sang wanita dalam gambar itu dan ialah, bertahun-tahun
kemudian, yang akan membawa gaya menyanyi flamenco ke Sevilla. Juga,
sekitar lima puluh tahun kemudian, ia akan bertemu dengan sang kurcaci itu lagi
di Marseilles. Pada saat itu, ia tidak ingat pernah melihat kurcaci yang sama
sebelumnya, tetapi mungkin sang kurcaci ingat. Dan di sana, di atas dek kapal,
para awak kapal mulai mengembangkan layar. Tetapi, salah seorang pelaut itu
menoleh dan melambaikan tangan ke arah si kurcaci dan anak gipsi itu. Ia telah
membeli sekotak kartu dari anak kecil itu, dan pada salah satu kartu itu terdapat
gambar mini kurcaci yang sama yang berdiri di tepi dermaga. Ketika si pelaut
membuka pak kartu itu beberapa minggu kemudian, setelah kapalnya mengalami
kecelakaan, ia melihat gambar itu. Selama bertahun-tahun ia terus
mempelajarinya lagi dan lagi. Tetapi, akankah ia pernah menyadari bahwa
kurcaci itu adalah orang yang sama dengan yang berdiri di atas dermaga saat ia
berlayar pergi dari Cadiz?

Jose berkata, “Sejak kecil, Ana telah mendengar semua legenda mengenai si
kurcaci yang berdiri di tepi dermaga di Cadiz, si kurcaci yang memanjat turun
dari kapal di Marseilles, si kurcaci

yang bertemu dengan Manuel el Solitario di Triana, dan si kurcaci yang berlari
melintasi Plaza Virgen de los Reyes dengan begitu cepat sehingga lonceng-
lonceng di kostumnya terdengar seperti sebuah grup musik beranggotakan satu
orang.”

“Tentunya ia belum pernah mendengar adanya legenda mengenai kurcaci yang


sama di Taman Alcazar?”

Ia menggelengkan kepalanya sambil berpikir. “Tetapi, beberapa tahun


belakangan ini, ia sangat mengkhawatirkan apa yang mungkin akan terjadi pada
1998. Dari seluruh cerita itu, yang selalu paling disukai Ana adalah mengenai si
kurcaci yang menyelamatkan dirinya dengan menunjukkan sebuah gambar ajaib
seorang wanita muda. Dari deskripsi tentang gambar itu dalam kisah-kisah lama,
Ana membayangkan bahwa gambar itu tentunya sebuah foto, walaupun insiden
di dermaga itu terjadi jauh sebelum adanya fotografi. Lalu ada pula sesuatu yang
lain, sesuatu yang cukup berbeda ….”

“Ya?”

“Sejak remaja, Ana Maria sering mendengar komentar bahwa wajahnya mirip
dengan salah satu lukisan Goya. Ia bangga akan hal ini. Sebagai seorang gadis
muda, ia menganggapnya sebagai sebuah pujian, walaupun terkadang ia malu
karena ia menyerupai sebuah lukisan telanjang. Tetapi, ia tumbuh semakin dan
semakin mirip sang wanita gipsi dalam lukisan tersebut walau bagaimanapun ia
berdandan atau mengatur rambutnya. Ia telah menjadi ‘La Nina del Prado’, ia
tidak lagi dapat dibe-dakan dari lukisan itu.”

“Tunggu sebentar,” aku berkata. “Ada sebuah hal penting yang kau lewati
dengan sedikit terburu-buru.”

“Apa itu?”

“Jika Ana berhasil membuat dirinya tampak berbeda, dengan mengganti


dandanan atau gaya rambutnya, penampilannya tetap tidak akan berbeda sedikit
pun dengan wajah dalam lukisan Goya.”

“Dan mengapa tidak?”

“Karena dengan begitu, lukisan Goya akan jadi berbeda.”

Ia berpikir sebentar, kemudian berkata, “Engkau tentu saja benar. Takdir tidak
akan membiarkan dirinya diubah. Takdir hanyalah sebuah bayang-bayang dari
kenyataan. Dan mungkin aku harus menambahkan … Oh, aku tidak tahu.”

“Mengapa engkau ragu?”

“Pagi itu, saat Ana mengejar sang kurcaci di Taman Alcazar, selama aku
mengenalnya, itu adalah satu-satunya hari ia menggunakan perona pipi yang ia
simpan untuk digunakan sekali-sekali untuk menari.”

Aku langsung berhenti. Kemudian aku berkata, “Itulah yang selama ini
menghilang! Ia tidak memiliki rona merah di pipinya.”

Ia menatapku hampir ketakutan, dan aku menambahkan, “Jika Ana mengenakan


perona pipinya di Fiji, tentunya aku akan langsung teringat lukisan Goya.”

Kami mulai berjalan kembali.

“Tetapi, mengapa ia mengenakan perona pipi pada hari itu?” ia berkata.


“Dapatkah kau memahaminya? Perona pipi itu membuatnya semakin mirip
dengan wanita dalam lukisan tua itu, membuatnya persis sama malahan.”

“Ada sesuatu yang disebut ‘hal-hal yang pasti terjadi’,” aku berkomentar. “Dan
lagi pula, pertanyaan yang kau ajukan itu bagaikan pertanyaan mana yang ada
lebih dulu, ayam atau telur.”
“Dan kemudian, ada yang disebut sebagai ‘bermain dengan takdir’.”

“Apakah Ana tidak pernah menghubungkan kemiripannya dengan maja milik


Goya dengan kisah dari Cadiz mengenai kurcaci dan gambar ajaib?”

“Terkadang, ya. Salah satu pamannya adalah orang pertama yang mengartikan
bahwa lukisan sempurna yang dibawa sang kurcaci dalam legenda itu adalah apa
yang ia yakini sebagai sebuah foto berwarna modern. Tetapi, dalam hal ini,
tentunya itu adalah foto seseorang yang hidup lama setelah sang kurcaci
memamerkan gambar ajaibnya di tepi dermaga di Cadiz. Foto tidak pernah
berbohong karena selalu memiliki subjek hidup. Dan sejak saat itu, elemen itu
menjadi bagian dari cerita itu sendiri. Sudah sejak lama keluarga itu tahu bahwa
kurcaci itu tidak menjadi tua seperti kita, makhluk-makhluk hidup biasa. Tetapi
bahwa ia juga dapat berjalan menembus waktu adalah sesuatu yang cukup baru.
Dalam tahun-tahun belakangan ini, bahkan ada spekulasi tentang manakah anak
perempuan dari banyak keturunan El Planeta yang menjadi sang

wanita dalam foto itu, dan diperkirakan foto itu akan diambil pada 1998. Sekali
lagi orang-orang mulai memasang mata mencari kurcaci.”

“Dan saat Ana tumbuh menjadi begitu mirip dengan lukisan Goya ….”

Ia mengangguk yakin. “Benar, sebagian dari mereka yakin bahwa cerita itu telah
selesai, cerita-cerita yang sama sekali baru mulai bermunculan mengenai
bagaimana sang kurcaci telah menjual gambarnya yang aneh kepada sang
seniman besar. Salah satu dari cerita ini menyatakan bahwa model Goya yang
asli telah dipenggal kepalanya oleh keluarganya karena telah membiarkan
dirinya dilukis telanjang. Menurut tradisi ini, kepalanya yang telah dipenggal
ditancapkan pada sebatang tombak sebagai objek cacian masyarakat. Semua ini
tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan, dan terutama tidak di hadapan
Ana.”

“Tetapi ia tidak pernah merasa curiga?”

“Ia tidak menghiraukannya. Ia dapat menertawakan semua ini. Tetapi ya, ia


memang merasa curiga. Walau bagaimanapun, ini tidak lantas membuatnya lebih
mudah menerima fakta bahwa dirinya begitu mirip dengan model Goya yang
terkenal itu. Terkadang sulit untuk mengajaknya pergi. Mungkin di Sevilla tidak
terlalu parah, tetapi di Madrid orang-orang sering berhenti dan menunjuk ke
arahnya, beberapa bahkan tampak terguncang. Aku tidak tahu, mungkin itulah
salah satu alasan mengapa ia begitu menyukai berada dalam Kebun Raya. Ia
dapat bersembunyi di sana. Ana telah diberi tanda.

Seolah-olah ia berjalan-jalan dengan sebuah tanda lahir besar di wajahnya.”

“Juga tanda kematian,” ujarku.

Tiba-tiba wajahnya yang pucat mengejang penuh emosi.

“Ada lagi. Selama lebih dari setengah abad, telah diramalkan bahwa gadis dalam
gambar ajaib itu akan meninggal segera setelah ia mencapai usia yang sama
dengan maja milik Goya, tetapi ….”

Ia ragu-ragu, dan aku memberinya isyarat untuk melanjutkan.

“Hal itu hanya akan terjadi jika ia menyerahkan dirinya kepada seorang lelaki.
Ini adalah sebuah hukuman karena ia telah tanpa malu membiarkan dirinya
dilukis telanjang. Ia telah menyerahkan dirinya kepada begitu banyak lelaki,
itulah yang diramalkan. Ia bukan lagi seorang wanita terhormat, maka takdir
akan menghukumnya jika ia mencoba untuk juga menikmati cinta.”

Aku berpaling kepadanya.

“Itu adalah sebuah pemikiran yang sangat tidak masuk akal. Belum lagi tidak
adil. Bukan wanita dalam foto itu yang telah membiarkan dirinya dilukis
telanjang. Bukankah Goya yang melukis kepalanya di atas tubuh telanjang
seorang wanita lain?”

Ia memiringkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lainnya seolah-olah


mempertimbangkan komentarku.

“Takdir tidak dapat dikatakan adil maupun tidak adil,” ia menyatakan. “Takdir
hanya tidak dapat dihindari. Takdir adalah takdir. Oleh karenanya, takdir juga
selalu benar.”

Sekali lagi pikiranku kembali ke masalah jantung yang diderita Ana.

“Engkau telah mengemukakan kemungkinan bahwa Ana meninggal karena ia


telah menjadi persis sama seperti wanita dalam lukisan Goya, karena saat itu hal
itu telah tercapai. Tidakkah kita dapat juga mengatakan bahwa wanita sang Goya
adalah tiruan Ana, karena foto dirinya kebetulan diambil beberapa jam sebelum
ia meninggal?”

“Itu sama saja. Ini juga seperti pertanyaan tentang ayam dan telur, sebuah teka-
teki yang tidak akan pernah terpecahkan, tak peduli dari mana kita memulai.
Tetapi, ketika si kurcaci mengambil foto Ana yang terakhir itu, cerita mengenai
gambar sang kurcaci dan cerita mengenai kemiripan Ana dengan maja milik
Goya pun menyatu. Ceritanya telah selesai. Dapat dikatakan, segala mitos
berbelit-belit yang mengagumkan mengenai kurcaci ini bermula di Taman
Alcazar. Dan berakhir di sana pula.”

Aku mencoba lagi.

“Aku belum bilang bahwa aku memercayai

cerita-cerita ini, dan engkau sendiri mungkin tidak ii

Ia memberiku isyarat agar melanjutkan.

“Tanyakan saja,” ia berkata. “Ana menderita penyakit jantung. Ia tidak


seharusnya menari maupun memiliki anak. Tetapi, ia mengejar seorang kurcaci
melalui Taman Alcazar. Dan itulah yang telah membunuhnya. Jantungnya
bekerja terlalu berat. Tidakkah pengejaran melalui

taman itu sama melelahkannya dengan menari flamenco?”

“Itu adalah tariannya dengan kematian. Tetapi, mengapa ia mengejar kurcaci itu?
Karena ia memotretnya. Tidak seorang pun kecuali Ana yang akan berlari
mengejar seorang kurcaci hanya karena kurcaci itu menjepretkan kamera. Tetapi,
foto yang ia ambil itu telah menghantui Ana selama hidupnya. Ia tumbuh dengan
foto itu.”

Kami berhenti hampir setiap dua langkah sejak meninggalkan bangku di El


Parterre, dan setiap kali berpapasan dengan para pejalan kaki di taman itu, Jose
dengan hati-hati merendahkan suaranya. Kini kami terus berjalan sebentar
sebelum ada di antara kami yang berkata-kata lagi. Akulah yang pertama
berbicara.

“Engkau berkata bahwa di Marseilles, kurcaci itu menggambar satu set kartu
untuk El Planeta dan juga mengutip sebuah puisi pendek untuk setiap kartu
dalam set itu.”

Ia mulai berjalan sedikit lebih cepat. “El Planeta mengingat-ingat beberapa dari
puisi ini, walaupun dituturkan dalam bahasa yang tidak dapat ia mengerti, dan ia
menuliskan cara mengucapkannya di atas secarik kertas. Potongan kertas ini
konon masih disimpan oleh keluarga mereka pada masa Manuel.”

“Ya?”

“Dan ketika kurcaci itu bertemu dengan Manuel di Triana, ia mengeluarkan


sebuah mantel tua yang dipinjamkan El Planeta kepadanya, dan juga

beberapa lembar kertas yang di atasnya ia menuliskan kelima puluh dua puisi
itu, sekali ini dalam bahasa Spanyol. Di kemudian hari, diceritakan bahwa
Manuel el Solitario menemukan bahwa puisi-puisi berbahasa Jerman yang telah
dicatat oleh El Planeta sama persis dengan puisi-puisi yang telah diberikan
kepadanya dalam bahasa Spanyol.”

“Tetapi puisi-puisi tersebut tidak ada yang bertahan hingga kini?”

Jose mengangguk penuh rahasia.

“Sekarang,” ia berkata, “jalan kita mulai bertemu.”

Pada awalnya aku tidak melihat apa yang ia maksud. Tetapi kemudian ingatanku
kembali ke Taveuni. Aku tengah duduk di beranda di depan pondokku di
Maravu, ketika aku mendengar suara-suara dari pepohonan palem. Aku berkata,
“Pengalaman menjadi sesuatu yang diciptakan tidak ada artinya dibandingkan
perasaan yang meluap-luap karena telah menciptakan diri sendiri dari
kehampaan dan berdiri tegak dengan kedua kakinya.”

Ia terbelalak.

“Bravo!” teriaknya. “Tidak saja ingatanmu mengagumkan, tetapi bahasa


Spanyolmu juga lumayan.”

Aku menggigit bibirku. Barulah saat itu aku tersadar bahwa selama ini kami
selalu berbicara dalam bahasa Spanyol, sama seperti yang kami lakukan ketika
bertemu di Salamanca.
“Kalian berdua dapat melihat diriku yang sebenarnya?” tanyaku.

Ia tertawa.

“Hampir dari awal. Tetapi sekali lagi, izinkanlah aku memulai lagi dari sisi lain.
Kelima puluh dua puisi yang diberikan kurcaci itu kepada Manuel di Triana
sebelum ia menghilang kembali telah disimpan keluarga Manuel sejak saat itu.
Selama bertahun-tahun, sebagian dari puisi itu bahkan menjadi lirik flamenco
yang dinyanyikan di seluruh Spanyol. Ana mengenal puisi-puisi itu sejak ia
kecil.”

“Apakah puisi-puisi itu yang kalian ….”

Ia memotong kalimatku.

“Setiap puisi berhubungan dengan sebuah kartu dalam set itu. Aku dan Ana
sering bermain kartu dengan teman-teman. Kami selalu berpasangan, dan begitu
aku menguasai ungkapan-ungkapan kuno itu, kami memiliki sebuah bahasa
rahasia yang berhubungan dengan identitas setiap kartu.”

“Kalian curang dalam permainan kartu?”

“Kadang-kadang, ya. Dengan menggumamkan beberapa kalimat yang tidak


saling berhubungan selama permainan berlangsung, dengan cepat kami dapat
saling memberi tahu kartu-kartu apa saja yang ada di tangan masing-masing.”

“Itu adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah kudengar. Jadi, orang Italia
itu benar?”

“Tidak sepenuhnya. Mario memiliki penjelasan yang lebih mistis mengenai


kemenangan kami yang berulang-ulang. Ia menyebut kami peramal.”

“Tetapi sesungguhnya, segalanya hanyalah kecurangan belaka?”

Ia tidak memberi jawaban.

“Terkadang kami bermain kartu dengan teman-teman hingga jauh tengah malam,
terutama setelah

Ana dilarang untuk menari lagi. Ia selalu mendapatkan semacam kegembiraan


seperti anak kecil jika memenangi permainan, dan, ya setelah ia tidak
diperbolehkan menari, aku merasa bahwa ia pantas menang. Aku tidak dapat
menolak memberinya sedikit kesenangan itu walaupun aku sendiri agak terbawa
oleh permainan itu. Kami tidak memiliki anak, tetapi kami sama-sama memiliki
sifat kekanak-kanakan. Kami memiliki sebuah bahasa rahasia yang hanya
dimengerti olehku dan dirinya.”

“Kalian tidak pernah ketahuan?”

“Kami harus sering mengganti banyak hal. Kami tidak dapat menggunakan kata-
kata sandi yang sama untuk waktu yang lama. Hal ini dan ada pula hal lain
menyebabkan kami selalu menambal sulam puisi-puisi yang lama atau
menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.”

“Apakah hal lain itu?”

“Bahkan sejak saat penyakit jantungnya pertama kali didiagnosis, kami berdua
menjadi sangat menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan hidup. Setiap
detik yang kami jalani bersama adalah sebuah anugerah. Ketika kemudian ia
dilarang dokter menari flamenco, dan juga disarankan untuk tidak memiliki
anak, pencarian penjelasan akan arti hidup menjadi suatu hal yang penting.”

“Apakah Ana menemukan arti yang baru dari kehidupan?”

“Ia tidak mulai merajut, jika itu yang kau maksud; pembawaannya terlalu tidak
sabaran untuk hal itu. Tetapi, kami masih memiliki satu sama lain, dan kami
sama-sama memiliki suatu perasaan yang sangat dalam akan hidup. Para dokter
telah berusaha untuk meyakinkan kami, tetapi ketika seorang baitaora terkenal
tiba-tiba diperintahkan untuk tidak menari lagi, itu sama saja artinya ia diberi
tahu bahwa dirinya telah berada di tepian eksistensi. Dan Ana Maria pun begitu
kami berdua begitu meskipun di antara kami ada satu perbedaan penting: Ana
yakin bahwa kehidupan ini bukanlah satu-satunya. Ia sangat percaya bahwa ada
kehidupan lain setelah kehidupan ini. Persamaan di antara kami adalah perasaan
yang amat tajam tentang betapa kehidupan ini amat ajaib, dan kami menciptakan
sebuah permainan menemukan kata-kata dan ungkapan-ungkapan baru
mengenai apa yang kami pikirkan dan alami. Maka, kami pun menambahkan
ungkapan-ungkapan baru kepada ungkapan-ungkapan lama yang berhubungan
dengan setiap kartu dalam set itu. Kami menyimpan sebagian dari susunan sang
kurcaci dan menolak sebagian yang lain. Itulah bagaimana kami menciptakan
manifesto hidup kami sendiri. Dan mungkin aku harus menambahkan bahwa
kami ingin bersama-sama menciptakan sesuatu yang mungkin bahkan terus
hidup setelah kami mati. Manifesto itu juga merupakan sebuah wasiat spiritual
kami.”

“Jadi, sepanjang waktu kalian terus menciptakan ungkapan-ungkapan itu?”

“Ya, sepanjang waktu, setiap hari. ‘Manifesto’

kami terus-menerus berubah, ini adalah sebuah proses yang meledak-ledak.


Sampai saat-saat terakhir, kami terus menciptakan ungkapan-ungkapan baru dan
menggunakannya untuk menggantikan sebagian dari yang lama.”

“Ini hampir sedikit … gila.”

Ia menggelengkan kepala.

“Jauh dari itu. Dan tidak seaneh yang mungkin terdengar. Para gipsi dari
Andalusia memang selalu menggunakan ungkapan-ungkapan pendek mengenai
hidup dan mati dan cinta. Sejak masa El Planeta, begitulah cara lagu-lagu
flamenco tercipta.”

Aku mengutip: “Jika tuhan memang ada, tidak hanya ia ulung meninggalkan
jejak. Lebih dari segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah
sesuatu yang pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak
banyak desas-desus yang beredar di antara bintang-bintang ….”

Aku harus berhenti di sana karena tidak dapat mengingat lebih jauh apa yang
dikatakan Ana dan Jose di antara pepohonan palem di Maravu pada malam
pertama itu. Tetapi, Jose ikut serta dan menyelesaikannya:

“Tetapi, belum ada seorang pun yang melupakan Big Bang. Sejak saat itu,
keheningan meraja, dan semua yang ada di sana pun bergerak menghindar. Kita
masih bisa bertemu dengan sebuah bulan. Atau sebuah komet. Tetapi, jangan
mengharapkan sambutan hangat. Undangan berkunjung tidak ditulis di angkasa
luar.”

Aku memberinya sebuah tepuk tangan pelan,

kemudian bertanya, “Kuduga, bagian mengenai ‘Big Bang’ itu tidak diambil dari
si kurcaci yang bertemu dengan El Planeta di Marseilles?” “Mengapa tidak?”

“Baik istilah maupun teori itu baru muncul lama setelah pertengahan abad ke-
19.”

Kini ia memberikan sebuah senyum penuh rahasia.

“Aku yakin si berandal lihai itu dapat menyelundupkan potongan apa pun ke
abad-abad yang lalu maupun yang akan datang. Bagiku, ia mlwakili kehausan
manusia yang terus-menerus incjjin lebih memahami arti dunia ini. Lega rasanya
mengetahui bahwa kita memiliki perwakilan seperti diijinya yang dapat
bepergian dari abad ke abad dejhgan membawa pesan-pesan dan informasi.”

Aku hanya berdiri dengan mulut ternganga, dah cepat-cepat ia menambahkan,


“Tetapi engkau benar. Dalam manifesto sang kurcaci itu sendiri, kafni hanya
menemukan kalimat-kalimat yang per-tafna: ‘Jika tuhan memang ada, tidak
hanya ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, ia ahli
mlnyembunyikan diri.’”

Kami telah melewati Plaza Honduras dan kini bergerak menuruni Paseo de la
Republica de Cuba.

“Mungkin ini waktunya untuk merangkum semulanya,” ujarku. I “Silakan!”

“Ketika aku tiba di Taveuni pada hari di bulan Januari itu, yang pertama kali
kulakukan adalah duduk di beranda. Tiba-tiba ada sepasang suami-istri

berjalan di antara pepohonan palem, dan berhenti di tengah jalan setapak untuk
saling mengutip ungkapan-ungkapan aneh dalam bahasa Spanyol. Aku pun
menajamkan telingaku. Kalian kan tidak tahu aku sedang ada di beranda?” Ia
meringis.

“John memberi tahu kami bahwa seorang tamu Norwegia yang baru datang
mungkin dapat menjadi pasangan bermain bridge yang baik. Seorang Belanda
telah meninggalkan pulau itu hari itu, dan ia dan Mario telah bermain melawan
kami selama beberapa hari sebelumnya. John memberi tahu pondok mana yang
engkau tempati dan bahwa ia telah melihatmu di beranda.”

“Tetapi, tentunya kalian tidak tahu bahwa aku dapat berbahasa Spanyol?”
“Tidak, tidak pada saat itu. Tetapi, bahasa Spanyol bukanlah bahasa minoritas.
Setengah dari dunia dapat berbahasa Spanyol.”

“Itu sedikit dilebih-lebihkan. Setengah dari seni dunia menggunakan bahasa


Spanyol, aku mungkin akan mengatakan begitu, tetapi tidak lebih.”

Selama beberapa saat, seolah-olah sebuah ekspresi terhibur tampak di wajahnya


yang pucat bagaikan topeng.

“Lalu, aku bertemu kalian di pantai.”

“Dan engkau menjelaskan sedikit mengenai apa yang telah membawamu ke


bagian dunia itu. Engkau menimbulkan rasa ingin tahu kami, dan karena kami
selalu menciptakan ungkapan-ungkapan baru bagi manifesto kami, terlintas
dalam benak kami

bahwa kami mungkin dapat meminjam beberapa perspektif eksistensial dari


seorang ahli biologi evolusioner. Hal ini semakin menarik karena engkau
memilih untuk terus berbicara dengan kami dalam bahasa Inggris, walaupun
jelas sekali bahwa engkau juga dapat berbahasa Spanyol.” “Jelas sekali?”

“Hal terpenting bagi seorang aktor adalah terus memainkan perannya.” “Dan aku
tidak?”

“Engkau membuka kedokmu sebelum meninggalkan pantai. Baik Ana maupun


aku tidak mengenakan jam tangan, tetapi Ana tetap menanyakan jam berapa saat
itu, dalam bahasa Spanyol. Dengan segera engkau melihat jam tanganmu dan
mengatakan saat itu pukul dua belas lewat seperempat.” Aku tidak dapat
berkata-kata.

“Tentu saja, hal itu sendiri tidak cukup untuk meyakinkan kami bahwa engkau
memang mengerti bahasa Spanyol. Tetapi selanjutnya, ada banyak contoh serupa
akan kurangnya konsentrasimu. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa
seorang pembohong yang baik memerlukan ingatan yang baik. Engkau harus
ingat bahwa aku dan Ana adalah pemain kartu berpengalaman, juga jago
berkhayal.”

“Mengapa kalian tidak menghentikan kepura-puraanku?”

“Ana berpendapat sungguh menarik untuk memiliki seorang … yah.” “Seorang


apa?”

“Seorang penonton, mungkin? Kami bangga

akan manifesto yang telah kami susun. Atau lebih tepatnya, manifesto yang
terus-menerus kami sempurnakan. Kami menikmati terlihat sedikit misterius.”
“Ya, kalian berhasil.”

“Dan kemudian, kami ingin menanyaimu tentang teori evolusimu. Oleh


karenanya, kami harus membuat diri kami tampak menarik. Kami harus
mengeluarkan beberapa umpan ….”

“Teori evolusi bukanlah ciptaanku.”

“Tepat sekali. Aku dan Ana setuju bahwa ilmu alam mungkin memiliki blind
spot.”

“Aku menyadari hal itu. Dan apakah blind spot-nya menurut pendapatmu?”

“Kita sudah pernah membahas hal itu. Teori tersebut buta akan konteks. Akan
arti kehidupan, di segala penjuru. Big Bang bukanlah sebuah kejadian yang tidak
disengaja.”

“Maaf, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau coba jelaskan.”

“Itu karena engkau tidak dapat melihat bahwa dunia ini adalah sebuah misteri.”

“Oh ya, aku mengetahui hal itu dengan jelas. Tetapi, apa yang dapat kulihat
adalah bahwa kita berbicara mengenai sebuah teka-teki, sebuah teka-teki yang
tidak dapat dipecahkan oleh siapa pun di antara kita berdua.”

“Kita bisa saja menemukan makna dalam sesuatu yang tidak kita mengerti.”

“Tetapi, tidakkah engkau juga menyatakan bahwa ada sebuah alasan, padahal
sesungguhnya sama sekali tidak ada alasan di dunia ini?”

Dengan sebuah kilatan di matanya, ia berkata, “Kembalilah ke zaman Devon.


Apakah yang kau lihat?”

Pikiranku sedang dalam kondisi yang begitu buruk setelah mendengar semua itu
sehingga aku langsung masuk perangkapnya. “Aku melihat amfibi-amfibi yang
pertama,” ujarku.

Ia mengangguk.

“Hanya sekarang kita dapat melihat betapa pentingnya yang terjadi pada saat itu.
Jika kita menyaksikan kehidupan di Bumi empat ratus juta tahun yang lalu, kita
akan berpendapat bahwa apa yang kita lihat adalah sebuah pertunjukan besar
mengenai ketiadaan makna. Tetapi, misteri juga memiliki sebuah sumbu waktu,
dan dengan berkembangnya daya pikir manusia, kehidupan pada zaman Devon
pun dipenuhi oleh makna. Itu semua adalah sebuah pembuka bagi kita itu adalah
sebuah pembuka bagi setiap bentuk kehidupan pada zaman Devon. Jika bukan
karena berudu-berudu itu, di Bumi tidak akan mungkin ada kesadaran akan
kehidupan, saat ini maupun di masa datang. Kita tidak hanya harus menghormati
orangtua kita. Kita juga harus menghormati anak-anak keturunan kita.”

“Jadi, manusia adalah pengukur segala sesuatu?”

“Aku tidak berkata begitu. Tetapi, kesadaran kitalah yang memutuskan apa yang
bermakna bagi intelektualitas kita. Penciptaan sebuah tata surya tampak seperti
sebuah proses yang menyedihkan ketika tengah berlangsung. Tetapi, itu
hanyalah

sebuah pembukaan.”

“Sebuah pembukaan?”

“Betul, sebuah pembukaan. Dan paradoks yang terjadi adalah bahwa kita mampu
menghargai pembukaan ini walaupun kita baru muncul lama, lama sesudahnya.
Maka, sejarah mengenai tata surya pun menggigit ekornya sendiri.”

“Seperti cerita mengenai maja milik Goya? Yang bermula di Taman Alcazar
hanya beberapa hari yang lalu-dan juga berakhir di sana.”

“Tetapi, kita bisa melontarkan komentar yang sama mengenai seluruh alam
semesta. Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun
setelah ledakan itu terjadi.”

Aku terus berjalan bersamanya sambil menggelengkan kepala.


“Sungguh cara yang aneh untuk memandang segala sesuatu.”

“Tetapi, kita berdua-yang baru muncul setelah lima belas miliar tahun kemudian
sesungguhnya ‘ingat’ akan apa yang terjadi lima belas miliar tahun yang lalu.
Maka, alam semesta pun pada akhirnya, dengan sangat lambat, memunculkan
kesadaran, hampir sama dengan suara sebuah sambaran kilat di kejauhan yang
tidak akan mencapai kita hingga lama setelah kilatan itu membelah langit.”

Aku berusaha tertawa, tetapi tawaku tercekat di tenggorokan.

“Engkau menjadi bijaksana setelah kejadian itu,” komentarku.

Ia melirik ke dalam mataku dengan sebuah

tatapan yang nyaris bersinar-sinar.

“Bahkan sebuah pandangan ke belakang adalah bagian dari kebijaksanaan.


Terkadang memang bijaksana untuk melihat kembali ke belakang. Toh
sesungguhnya, diri kita terbentuk dari masa lalu kita daripada dari masa depan
kita.”

“Aku dapat memahami gagasan bahwa sesuatu yang terjadi di sini pada saat ini
hanya mendapatkan arti dari kejadian-kejadian di masa depan.”

“Itu pun jika memang ada ‘sebelum’ dan ‘sesudah’. Apa yang dapat kita lihat
jauh di luar angkasa dan karenanya bermiliar-miliar tahun ke belakang dalam
sejarah alam semesta juga merupakan penyebab dari kejadian-kejadian masa
kini. Alam semesta adalah ayam juga telur, dan keduanya sekaligus.”

“Seperti Ana,” komentarku. “Atau foto dirinya yang diambil si kurcaci.”

Ia tidak memberikan jawaban, tetapi berkata, “Kita tidak tahu ke mana kita akan
pergi. Kita hanya tahu bahwa kita telah memulai sebuah perjalanan panjang.
Baru setelah tiba di akhir perjalanan, kita akan tahu mengapa kita melakukan
perjalanan besar itu, walaupun perjalanan itu mungkin telah berlangsung selama
banyak generasi. Maka, kita selalu menemukan diri kita dalam tahap embrio.
Banyak hal yang tidak kita ketahui artinya saat ini, mungkin akan tampak jelas
tujuannya di perlintasan jalan berikutnya. Bahkan, kejadian yang paling tidak
berarti mungkin akan terbukti penting. Maksudku, pada saat itu, siapa yang akan
memerhatikan seorang
anak lelaki gipsi yang menjual sekotak kartu kepada seorang pelaut muda?”

Tiba-tiba aku berhenti, dan untuk pertama kalinya merasakan ada sesuatu yang
mencurigakan dalam semua ini. Bukankah penuturannya ini persis sama dengan
pendapat yang diungkapkan si orang Inggris di Taveuni? Bukankah ia
menggambarkan periode Devon sebagai “masa embrio akal sehat”? Mungkinkah
Jose masih berhubungan dengannya? Apakah mereka terus berkolusi, tidak saja
di Fiji, tetapi juga setelahnya? Aku tidak lagi dapat membedakan satu pemikiran
dari pemikiran yang lain.

Kami telah tiba di Calle de Alfonso XII, dan kami berdua melihat ke arah jam.
Saat itu pukul dua belas kurang seperempat.

Aku terus berjalan bersamanya ke stasiun.

“Akhirnya kalian berdua menyingkir dari kami,” aku berkomentar. “Kalian


sepenuhnya menjauhkan diri.”

“Ya, begitu orang-orang mulai membicarakan kemiripan Ana dengan seseorang.


Juga jika mereka mulai mendesaknya menari flamenco, kami memang
menjauhkan diri. Aku yakin engkau menyadari betapa besar keinginannya untuk
tampil.”

“Kemudian ia jatuh pingsan saat sarapan, dan engkau hanya menamparnya?”

Ia berdehem beberapa kali sebelum menjawab.

“Kejadian seperti itu selalu membuatku takut setengah mati.”

“Aku dapat membayangkan.”

Kini kami berada tepat di pintu masuk menuju

kereta AVE, dan sekali lagi aku meyakinkan dirinya bahwa kami akan bertemu
lagi di Sevilla dalam dua hari. Saat itulah ia menyerahkan amplop kuning itu
kepadaku.

“Ini untukmu dan Vera.”

“Untuk Vera?”
“Ya, untuk kalian berdua.”

Jadi benar bahwa ia memang telah berbicara dengan John. Tidak dapat diragukan
lagi sekarang. Aku tidak bercerita kepada siapa pun mengenai dirimu secara
mendetail kecuali kepada John.

“Tapi, apa isi amplop ini yang bisa diperuntukkan bagi Vera?”

Ia menatap kedua mataku dengan bersungguh-sungguh.

“Engkau belum mengerti?” ujarnya, dan sekarang ia benar-benar heran.

Aku hanya dapat menggelengkan kepala.

“Ini adalah sebuah hadiah, tetapi juga sebuah beban. Ini adalah sesuatu yang
harus dibagi di antara dua orang. Ini adalah sesuatu yang tidak sehat untuk
dipikul sendirian oleh seseorang di usiamu.”

Ia melirik ke arah jam lagi. Dan kemudian ia berlari mengejar keretanya.

Aku membuka bungkusan itu sambil berjalan kembali ke hotel. Di dalam


amplop kuning itu terdapat sekumpulan foto mengagumkan yang telah diambil
oleh Ana di Taveuni. Baru setelah kembali ke kamar, aku membalik foto-foto
tersebut dan menemukan ada sesuatu yang tertulis di belakang setiap foto. Itulah
manifesto mereka, Vera. Itulah yang

harus dibagi di antara dua orang. Itulah manifesto yang tidak sehat untuk dipikul
sendirian oleh seseorang seusiaku.[]
Logika Sangat Kekurangan Ambivalensi

BEGITULAH AKHIR DARI SURAT UNTUK VERA. SURAT ITU DIKIRIM


SEBAGAI sebuah e-mait pada malam hari Kamis 7 Mei 1998, dan setahun
penuh telah berlalu sebelum aku berhasil mendapatkan sebuah salinannya.

Aku telah berjanji untuk menambahkan sebuah catatan tambahan yang lengkap,
dan hal itu akan kulakukan, tetapi pertama-tama kita harus mencari tahu
bagaimana reaksi Vera terhadap surat Frank ini. Kita dapat melakukan hal ini,
karena Frank telah mengirimkan sebuah e-maif setelah Vera membaca surat
panjangnya dan akhirnya menelepon kamar hotel Frank.

Duduk di sini pada suatu malam musim panas di Croydon dengan sebuah surat
panjang di meja di hadapanku, akan sangat ceroboh jika tidak kusebutkan bahwa
aku bertemu dengan Frank di Hotel Palace pada November tahun itu, hanya
enam bulan sesudah ia duduk di hotel yang sama menulis surat untuk Vera. Aku
ingat dengan jelas betapa tertekan dirinya menghadapi kesempatan bertemu
dengan wanita itu di Salamanca. Dan ketika aku bertemu dengannya pada
November, aku tidak tahu sama sekali apakah mereka benar-benar sudah
bertemu

atau, jika sudah, bagaimana hasil pertemuan mereka. Aku tidak mengontak
orang Norwegia itu lagi sejak perpisahan kami di Fiji.

Apakah mungkin Frank dan Vera telah menemukan jalan untuk bersatu kembali?
Atau Frank hanya berkunjung sebentar ke Madrid dan kunjungannya itu tidak
ada hubungannya sama sekali dengan Vera?

Aku duduk di bawah kubah Rotunda sambil minum teh, mengunyah biskuit, dan
mendengarkan petikan harpa yang menggoda memainkan Sleeping Beauty dari
Tchaikovsky, tepat seperti yang dilakukan Frank sebelumnya. Dari mejaku persis
di luar bar, tiba-tiba aku melihat orang Norwegia itu sedang memasuki Rotunda.
Aku merasakan suatu getaran menjalari tubuhku, bukankah sebuah kebetulan
yang luar biasa aku dapat bertemu dengannya di sini, di the Palacedan begitu
jauh baik dari Fiji maupun London. Lebih besar kemungkinan bagi kami untuk
kebetulan bertemu di Oslo, dan sesungguhnya aku pernah berkunjung sebentar
ke sana hanya beberapa minggu sebelumnya.

Menurutku, Oslo adalah sebuah kota yang menawan, dan apa yang kuanggap
benar-benar menyenangkan adalah bahwa kampung halaman Frank itu adalah
sebuah ibu kota Eropa yang modern tetapi juga hanya beberapa ratus meter dari
pedesaan yang belum terjamah. Aku melakukan perjalanan kaki yang panjang
hingga mencapai sebuah pondok hutan yang indah bernama Ullevilseter dan dari
sana terus ke Frognerseter, hampir-hampir tidak

bertemu satu orang pun.

Bertemu dengan Frank di the Palace agak terasa seperti tepergok tengah berbuat
sesuatu yang tak pantas. Aku begitu terkejut sehingga aku malah tidak langsung
melompat berdiri untuk menyambutnya. Lagi pula, jelas tampak bahwa ia tengah
mencari seseorang di dalam Rotunda. Namun, dengan segera ia melihatku dan
berjalan mendekati mejaku.

“John!” serunya. “Sungguh suatu kejutan.”

Ia pun duduk selama beberapa menit hingga akhirnya wanita yang akan ia temui
melihatnya. Aku merasa yakin wanita itu bukanlah Vera, tetapi baru setelah satu
jam kemudian aku mendapat kepastian. Pada saat itu, dan disebabkan beberapa
alasan tertentu, aku sudah memiliki gambaran yang jelas tentang Vera dalam
pikiranku, tanpa pernah melihatnya sekalipun. Hal ini mungkin terdengar sedikit
misterius, tetapi aku akan menjelaskan semuanya secara mendetail dalam catatan
tambahan.

Frank telah mengatakan bahwa ia menginap di hotel itu selama beberapa hari,
dan kami pun berjanji untuk bertemu sambil minum bir malam itu.

“Kita harus mengobrol,” ujarnya. “Saat-saat seperti itu begitu mudah


terlupakan.”

Begitu ia menghilang memasuki restoran, ada sesuatu dalam komentarnya yang


mengusik pikiranku, dan dengan segera aku pun menyusun sebuah rencana yang
cerdik. Yang harus kulakukan hanyalah melakukan beberapa percakapan
strategis melalui telepon, salah satunya lebih kurang ajar dibandingkan yang
lain. Pertanyaannya adalah, apakah

aku benar-benar dapat melakukannya, dan yang lebih sulit adalah, apakah
mungkin membujuk Frank untuk ikut serta? Aku sangat menyadari bahwa aku
mungkin akan menyebabkan sebuah kekacauan besar, dan tidak hanya bagiku
sendiri, tetapi juga bagi semua orang yang tak terelakkan lagi pasti terlibat.
Aku tidak akan mengatakan bahwa pertemuan kebetulan seperti ini adalah hasil
“kerja” takdir atau bentuk apa pun dari kesadaran yang tidak natural. Namun,
bagaimanapun ini adalah sebuah kesempatan yang mungkin hanya kudapat
sekali saja, dan aku tidak dapat membiarkannya lepas. Aku berada dalam sebuah
situasi yang rumit, tetapi harus segera kutegaskan bahwa aku tidak akan
memiliki surat Frank di hadapanku sekarang ini jika saja aku melewatkan
kesempatan yang tiba-tiba muncul pada siang itu di Madrid.

Nah, sekarang panggung kuserahkan untukmu, Frank. Engkau telah menulis


sebuah surat lain untuk Vera, dan setelah itu hanya tersisa babak terakhir. Setelah
surat yang terakhir ini, tidak akan ada lagi korespondensi. Tetap saja, salah satu
dari kita harus menjelaskan apa yang terjadi di Sevilla. Kurasa, sebaiknya aku
yang melakukan hal itu nanti, dalam catatan tambahan.

Vera Sayang,

Setelah suratku yang panjang itu, ini ada satu lagi dariku.

Setelah aku meninggalkan stasiun kereta dengan menggenggam amplop kuning


itu dan kembali ke kamar hotelku pada Rabu siang, kepalaku dipenuhi dengan
segala hal yang harus kuceritakan kepadamu. Aku memutuskan tidak akan
meninggalkan kamarku sebelum menuliskan segalanya di atas kertas, karena aku
memerlukan setiap menit sejak saat itu hingga Kamis malam agar engkau
memiliki cukup waktu untuk membaca semua yang telah kutulis sebelumnya dan
kuharap, kau sudah menyiapkan diri untuk bepergian ke Sevilla.

Aku menyalakan komputerku, tetapi sebelum duduk di depan meja, sekali lagi
aku membuka amplop berisi semua foto dari Fiji itu. Ada tiga belas foto dari
Pantai Pangeran Charles, tiga belas dari dateline, tiga belas dari Air Terjun
Bouma, dan tiga belas dari pepohonan palem di Maravu. Kurasa, tentunya
kesamaan jumlah yang begitu jelas itulah yang membuatku membalik salah satu
dari foto tersebut.

Di bawah judul SEMBILAN HATI tertera berikut: Bereoneon setelah matahari


berubah menjadi sebuah raksasa merah, terkadang sinyal radio masih dapat
ditangkap dalam kabut bintang. Apakah engkau sudah berpakaian, Antonio? Ayo
datang ke Ibu sekarang juga! Sekarang tinggal empat minggu lagi sebelum
Natal.
Aku membalik foto berikutnya dalam tumpukan itu, dan ternyata tertulis TIGA
KERITING: Di sini dan sekarang, suara itu telah diucapkan keturunan para
amfibi. Dilontarkan oleh keponakan para kadal darat dalam hutan aspal.
Pertanyaan yang diajukan keturunan para vertebrata berbulu itu adalah apakah
ada alasan di balik kepompong tak tahu malu ini yang tumbuh dan tumbuh ke
segala arah.

Nadiku berdenyut dengan cepat. Di balik foto ketiga tertulis LIMA SEKOP, dan
tertulis di bawahnya: Joker terbangun di dalam sebuah hard disk organik yang
tergolek di atas bantal. Ia merasakan dirinya berusaha merangkak mencapai
pantai sebuah hari baru, beranjak keluar dari sebuah arus panas halusinasi yang
hanya mampu dicernanya sebagian. Tenaga nuklir apakah yang telah membakar
otak para peri? Apakah yang menyebabkan kembang api kesadaran berdesis?
Tenaga atom apakah yang mengikat sel-sel otak jiwa menjadi satu?

Aku terus membalik kelima puluh dua foto itu. Inilah manifesto mereka, Vera,
aku memiliki seluruh manifesto itu di tanganku. Manifesto ini adalah untuk kita
berdua, maka aku pun segera duduk dan meneruskan menulis surat yang panjang
itu untukmu. Aku menulis dan menulis, dan aku tidak meninggalkan mejaku
kecuali untuk tidur selama beberapa jam, menikmati secangkir teh dengan
terburu-buru di bawah kubah dan sebuah jalan-jalan singkat ke Taman Retiro
saat petugas kebersihan datang membersihkan kamarku. Kemudian, aku
mengirimkan segalanya kepadamu dalam sebuah e-mail pada Kamis malam.
Aku juga menyertakan sebuah salinan manifesto itu dan memberitahukan bahwa
aku memutuskan untuk menyusun tulisan-tulisan tersebut

dalam empat kolom yang mewakili keempat gambar dalam set kartu itu, dengan
urutan keriting, wajik, hati, dan sekop. Namun, setelah mengirimkan suratku
yang panjang itu kepadamu, aku menemukan sebuah cara lain untuk menyusun
manifesto itu, yang jauh lebih memuaskan, tetapi kita dapat kembali ke situ nanti
saat kita bertemu.

Dalam sebuah catatan pendek yang terlampir pada surat itu, aku telah
memintamu untuk meneleponku di hotel ini begitu engkau selesai membaca
semuanya, tetapi kau tidak boleh meneleponku sebelumnya. Dan ternyata
engkau meneleponku pada tengah malam.

Aku belum tidur, tetapi aku tidak meninggalkan kamarku sama sekali malam itu
walaupun setelah terperangkap terus-menerus selama tiga puluh enam jam, satu
kunjungan saja ke bar tentunya tidak akan sia-sia. Aku berjalan mondar-mandir
antara kamar mandi dan kamar tidur, dan, terus terang, saat akhirnya engkau
menelepon, kedua botol kecil gin dari kulkas telah tandas, begitu pula botol-
botol kecil vodka.

Hal pertama yang kau katakan adalah:

“Engkau memang setan, Frank. Tahukah kau?”

“Apakah engkau sudah membaca semuanya?” tanyaku.

“Sudah, setiap kata di dalamnya. Engkau memang setan.”

“Mengapa begitu?”

“Siapakah ‘Ana’ dan ‘Jose’?”

“Kau pikir aku telah menciptakan mereka?”

“Tidak, tidak juga. Kupikir engkau berkolusi.” “Berkolusi? Bagaimana


caranya?” “Ada sesuatu yang tidak kuceritakan kepadamu di Salamanca.”

“Kurasa, ada banyak yang tidak saling kita ceritakan di Salamanca.”

“Seperti apa misalnya?” “Tidak, kau dulu.” “Kenapa?”

“Engkau yang pertama kali mengatakan ada sesuatu yang tidak kau ceritakan
kepadaku di Salamanca.”

“Aku hanya tidak terlalu yakin apakah engkau terlibat di dalamnya atau tidak.”

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Aku akan pergi ke sebuah misa
berkabung besok, Vera. Apakah engkau akan ikut?”

“Ya, Frank. Aku akan ikut ke Sevilla. Dan awas kalau kau tidak muncul.
Pesawatku berangkat pukul sepuluh tiga puluh.”

Aku sangat senang mendengarnya.”

Tetapi, aku merasa telah ditipu.”


Apa maksudmu?”

Ia menelepon lagi.”

Siapa?”

‘Jose’ itu.”

Oh, itu keterlaluan. Aku setuju bahwa itu keterlaluan. Apa yang ia katakan?”

“Sama seperti dirimu. Ia selalu mengatakan persis sama seperti dirimu. Itulah
masalahnya. Ia bertanya lagi apakah aku akan datang untuk misa

berkabung ini. Dan sekali ini ia yakin bahwa engkau juga akan datang.”

“Ia juga mengatakan bahwa manifesto itu untuk kita berdua. Tentunya ia
memiliki suatu alasan untuk itu.” “Alasan?”

“Oh, aku tidak tahu, Vera. Aku benar-benar tidak tahu.”

“Bukan engkau yang memintanya untuk menelepon?”

“Engkau sungguh-sungguh berpikiran seperti itu?”

“Tetapi di Salamanca engkau terlibat?” “Aku sama sekali tidak tahu apa yang
kau bicarakan.”

“Engkau tidak mengerti mengapa aku tertawa. Marilah kita mulai dari sana.”
“Aku mulai penasaran.” “Oh, aku benar-benar tidak tahu “Ayolah, teruskan. Aku
benar-benar tidak sabar untuk bertemu denganmu.”

“Aku pernah bertemu Ana dan Jose sebelumnya … Frank? Kau di sana?”

“Engkau pernah bertemu mereka sebelumnya?” “Dan kau tidak menyadarinya?”


“Tapi, terakhir kali kita bicara, engkau berkata tidak akan pergi ke misa
berkabung itu karena kau tidak mengenal Ana.”

“Aku percaya kepadamu, Frank. Aku percaya kepadamu.”

“Engkau percaya kepadaku?”


“Mereka memintaku untuk merahasiakannya. Bagaimanapun, engkau tidak
boleh tahu bahwa aku pernah berbicara dengan mereka.”

“Kapan, demi Tuhan? Di mana?” “Di Salamanca. Tunggu sebentar. Pada malam
yang sama saat kita berjalan ke tepian sungai … Mereka datang ke hotel petang
itu. Tiba-tiba saja mereka datang ke resepsionis dan bertanya apakah aku adalah
Vera.”

“Bagaimana mereka bisa tahu?”

“Ah, Frank.”

“Jawaban macam apa itu?”

“Engkau dan aku makan siang bersama di kafe itu di Plaza Mayor tempat yang
sama engkau bertemu dengan mereka keesokan harinya. Mereka telah melihat
kita di sana dan mereka datang ke hotel untuk mencari tahu apakah aku adalah
Vera.”

“Semacam itu pulalah tindakan mereka di Fiji. Pasangan yang aneh, hampir
seperti bersekongkol … Pikir saja, kejadian itu hanya berselang beberapa hari
sebelum si wanita meninggal.”

“Aku berpikir, kok terus-menerus.”

“Dan kau berkata engkau adalah Vera?”

“Saat itu, mereka mengatakan bahwa mereka bersama denganmu di Fiji. Dan
kemudian, mereka memintaku untuk menolong mereka sedikit … Hei, kau
masih di sana?”

“Aku hanya menunggumu untuk melanjutkan.”

“Mereka pikir sungguh aneh bertemu denganmu di Salamanca, dan mereka


berkata ingin mempermainkanmu sedikit. Aku harus membawamu berjalan-jalan
ke tepian sungai malam itu, dan mereka akan muncul sehingga engkau akan
melihat mereka. Tetapi, aku harus berjanji untuk tidak mengatakan sepatah kata
pun bahwa mereka telah berbicara kepadaku. Sepertinya, sesuatu yang sangat
buruk akan terjadi jika engkau sampai mendengarnya. Maka, aku pun menepati
janjiku ….”
“Itu adalah hal terburuk yang pernah kudengar.”

“Engkau sama sekali tidak tahu?”

“Tidak sedikit pun, tidak.”

“Ngomong-ngomong, mereka sangat manis. Juga ada sesuatu yang lain. Ketika
mereka datang ke meja resepsionis, hal pertama yang kupikir adalah bahwa si
wanita sangatlah mirip dengan maja karya Goya.”

“Tetapi, engkau tidak mengatakan apa pun kepadaku mengenai hal itu?”

“Tidak”

“Jadi, selama ini engkau memikirkan hal ini tanpa mengatakan apa pun?” “Aku
telah berjanji.”

“Dan di tepi sungai, aku tidak dapat mengucapkan satu patah kata pun. Aku
tidak dapat memberitahumu apa-apa.”

“Aku benar-benar ingin tertawa. Perutku hampir pecah. Dan aku tidak dapat
mengatakan apa pun.”

“Engkau berkata bahwa kau pikir aku hanya mengarang cerita untuk
menahanmu.”

“Dan engkau menjadi benar-benar putus asa.

Engkau berbicara tanpa henti. Tetapi, mungkin memang lebih baik aku tidak
mendengarkan dirimu.” “Kenapa?”

“Jika tidak, engkau tidak akan menuliskannya.” “Dan apakah penilaianmu?”


“Mengagumkan … Tetapi, aku tidak memercayainya, Frank. Sekarang pun aku
masih tidak percaya, sama seperti ketika di Salamanca.” “Apa yang tidak kau
percaya?” “Aku setuju wanita itu serupa dengan ‘La Maja Desnuda’. Tetapi, aku
tidak percaya tentang badut-badut yang berlarian maju dan mundur beberapa
abad. Kau pun tidak memercayainya.”

“Tetap saja aku percaya wanita itu telah meninggal di Sevilla.” “Kau percaya?”
“Tidakkah engkau?”
“Tadinya aku akan membiarkan hari esok yang membuktikannya.”

“Aku melihat serangan yang ia alami di Taveuni. Aku melihat betapa


semangatnya tersulut di Salamanca. Aku melihat betapa hancurnya Jose ketika
aku bertemu dengannya di Prado. Maksudku, orang kan tidak mungkin
berbohong mengenai kematian istrinya.”

“Tidak, mungkin memang tidak

“Tidak, memang tidak.”

“Aku tidak terlalu terkesan dengan primata betina dari Australia itu. Seharusnya,
engkau menahan dirimu, Frank.”

“Aku begitu kesepian. Itulah yang berusaha

kukatakan. Aku memang begitu kesepian.” “Bukan seperti itu yang kumaksud.”
“Seperti apa?”

“Aku tidak keberatan. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak peduli terhadap
‘Laura’ ini.”

“Jangan khawatir tentang dia.”

“Tidakkah kau merasa ia benar-benar seperti anak kecil?”

“Tentu saja. Terkadang aku pun merasa seperti anak kecil.”

“Tapi, aku tidak menyukai dirinya. Aku merasa sebenarnya ia agak kurang
menyenangkan.”

“Aku telah menyadari hal itu.”

“Aku tidak mengerti mengapa engkau harus menulis mengenainya. Apakah


engkau berusaha untuk membuatku cemburu?”

“Tidak juga. Aku merindukanmu.”

“Tetapi, aku suka manifesto itu.”

“Itu memang untuk kita berdua.”


“Aku ada di sini. Tunggu sebentar … Aku sangat suka yang satu ini: Jerat laba-
laba rahasia keluarga terentang mulai dari teka-teki mikro di dalam sup purba
hingga ikan duri berongga peramal dan amfibi tingkat tinggi. Dengan hati-hati,
tongkat estafet telah diteruskan oleh reptilia berdarah panas, prosimian yang
piawai berakrobat, dan kera mirip manusia yang muram. Apakah persepsi diri
secara laten telah tersembunyi jauh di dalam otak sang reptilia? Tidak pernahkah
ada di antara makhluk-makhluk eksentrik mirip manusia yang mendapatkan
firasat membuai tentang master plan itu sendiri?”

“Oh ya, mereka memang senang mengutil bagaikan sepasang burung magpie.”

“Jangan terlalu sombong … Atau bagaimana dengan yang ini: Di dalam bola
mata, terjadi benturan antara penciptaan dan cerminan. Bola penglihatan dua
arah adalah pintu berputar ajaib tempat jiwa pencipta bertemu dirinya sendiri di
dalam jiwa ciptaan. Sang mata yang meneliti alam semesta adalah mata alam
semesta itu sendiri.” “Aku sudah lupa yang satu itu.”

“Tentunya mereka adalah orang-orang yang luar biasa.”

“Itulah yang kupikirkan sejak pertama kali aku melihat mereka.”

“Tetapi, tentu saja, aku tidak percaya pada ide-ide ini.”

“Apakah kau punya alasan khusus?”

“Engkau belum lupa bahwa engkau mempunyai tanggung jawab profesional,


bukan, Frank? Maksudku, dari segi teori ilmiah, sebagian besar dari kisah ini
adalah omong kosong.”

“Aku sudah tidak terlalu yakin lagi.”

“Engkau kan tidak percaya bahwa sesuatu yang terjadi pada hari ini dapat
memiliki dampak terhadap kejadian-kejadian pada masa lalu? Ataukah engkau
telah berpaling kepada ilmu klenik?”

“Tentu saja tidak. Tetapi, kini aku merasa bahwa kehidupan memiliki makna.”

“Engkau membuatku kaget.”

“Jika seseorang yang hidup saat ini terlihat


persis sama dengan seseorang yang hidup dulu sekali, aku sama sekali tidak
yakin bahwa ini benar-benar sebuah ‘kebetulan’.”

“Seperti yang kubilang, engkau membuatku kaget.”

“Tidak ada yang lebih mengejutkan daripada adanya sebuah dunia itu sendiri.
Kita hidup, Vera! Itu luar biasa!”

“Aku setuju akan hal itu, tentu saja.”

“Tetapi, bukankah sesungguhnya kita telah menyepakati dogma mendasar bahwa


keberadaan alam semesta ini sesungguhnya adalah suatu kebetulan yang sangat
besar? Dan bahwa hal itu tentunya tidak memiliki ‘makna’?”

“Engkau mulai agak arogan sekarang.”

“Menurutku, alam semesta ini disengaja.”

“Apakah kini engkau menjadi religius?”

“Dapat dikatakan begitu. Tetapi, tanpa keimanan tertentu, selain bahwa aku
mulai menyadari adanya maksud dalam kehidupanku maupun dunia di
sekitarku.”

“Itu saja dapat berarti banyak. Tetapi, dapatkah engkau menjelaskan ‘maksud’ ini
dengan lebih terperinci?”

“Aku tidak bergurau, Vera. Kita tahu bagaimana hidup telah berevolusi selama
bermiliar-miliar tahun, walaupun otoritas ilmu alam tidak pernah lelah
menyatakan bahwa hasil karya penciptaan yang tak terkira ini pada dasarnya
adalah serangkaian panjang proses-proses fisik dan biokimia yang buta, acak,
dan tidak bermakna. Aku sudah tidak

berpandangan demikian.”

“Kalau begitu, engkau harus dididik ulang sebagai seorang pendeta atau penjual
obat.”

“Kalau begitu, dengarkan yang satu ini: manusia adalah sebuah proses biokimia
yang kompleks, yang sebaik-baiknya akan bertahan selama delapan puluh
hingga sembilan puluh tahun, dan pada dasarnya bukanlah apa-apa selain
semacam wadah yang menipu tempat makromolekul-makromolekul bersaing
untuk bereproduksi. Satu-satunya objek yang dapat ditemukan dalam kehidupan
manusia adalah apa yang berlangsung dalam setiap sel, yaitu gen-gen yang
melakukan reproduksi massal diri mereka sendiri. Oleh karenanya, seorang
‘manusia’ tidaklah lebih dari sebuah mesin bagi gen-gen untuk bertahan hidup.
Objek yang sesungguhnya di sini adalah gen-gen secara individual dan bukan
organismenya. Tujuan dari keberadaan adalah keberlangsungan gen-gen, dan
bukan keberlangsungan mereka yang dikontrol oleh gen-gen tersebut. Objeknya
adalah telur dan bukan ayamnya, karena ayam hanyalah produk dari telur. Ayam
tidaklah lebih dari sel seksual sang telur. Maka, bisa saja kami masukkan engkau
sekalian ke dalam kandang ayam!”

“Kurasa, pikiranmu sedikit terganggu, tetapi akan kubiarkan saja itu sebagai
sebuah kesimpulan yang mungkin bisa diterima.”

“Tidak seharusnya engkau begitu. Dalam lima puluh tahun, kebanyakan orang
akan mengolok-olok ide tentang dunia seperti itu. Kita adalah bagian dari
generasi ahli biologi yang hampir semuanya

bersalah karena melakukan reductio ad absurdum.”

“Dan apakah arti dari keberadaan?”

“Seperti yang telah kusebutkan, aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan bahwa
alam semesta ini tidaklah tanpa makna. Evolusi kehidupan adalah sebuah proses
yang lebih spektakuler dibandingkan dengan apa yang dapat dijelaskan oleh
mitos penciptaan yang paling aneh sekalipun.”

“Engkau aneh. Engkau benar-benar aneh.”

“Apakah engkau setuju bahwa engkau memiliki

jiwa?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku akan menggunakan kata itu.”

“Tetapi engkau setuju bahwa engkau memiliki suatu kesadaran?”

“Tentu saja. Jika kukatakan bahwa aku tidak punya kesadaran, akan terjadi suatu
kontradiksi istilah.”

“Oleh karenanya, engkau memiliki kesadaran akan alam semesta ini

“Dan akan diriku sendiri. Cogito, ergo sum.” “Tentu saja kita dapat kembali
sejauh itu, ke masa Descartes, maksudku, karena di sanalah seluruh proses mulai
keluar dari jalurnya. Ada materi, dan ada pula kesadaran akan materi. Aku
percaya bahwa kesadaran adalah sebuah bagian penting dari sifat alam semesta
yang paling mendasar sehingga tentunya alam semesta tidak mungkin hanya
merupakan sebuah produk sampingan yang terjadi secara tidak disengaja.”

“Tetapi, materi terlebih dulu ada.”

“Itu mungkin saja.”

“Aku belum pernah melihat suatu kesadaran yang muncul dengan sendirinya
dalam bentuk materi, tetapi aku pernah melihat yang sebaliknya.”

“Tunggu sebentar. Engkau belum pernah melihat suatu kesadaran yang muncul
dengan sendirinya dalam bentuk materi?”

“Betul.”

“Bagaimana dengan dunia, Vera, bagaimana dengan dunia?”

“Engkau mungkin benar juga. Tetapi, engkau tidak lagi berbicara sebagai
seorang ilmuwan.”

“Dalam kasus ini, mungkin memang penting untuk membicarakan sesuatu selain
ilmu pengetahuan. Bagiku, kesadaran adalah sebuah bagian yang lebih esensial
dalam hakikat alam semesta dibandingkan semua bintang dan komet
dikumpulkan menjadi satu.”

“Tetapi, materi muncul lebih dulu daripada kesadaran. Itu adalah sebuah prinsip
yang menentukan dalam diskusi seperti ini.”

“Mungkin saja, seperti yang telah kukatakan. Tetapi telah menjadi semakin jelas
bagiku bahwa materi kosmik dipenuhi oleh kesadaran. Kesadaran adalah sebuah
aspek dari realitas di alam semesta yang tidak kalah nyatanya dengan reaksi-
reaksi nuklir yang terjadi di dalam bintang-bintang.”
“Aku benar-benar tidak tahu. Jelas engkau telah jauh lebih banyak memikirkan
hal ini daripada aku,” ujar Vera.

“Darah ada sebelum cinta.”

“Apa barusan yang kau bilang?”

“Darah harus mengalir terlebih dulu dalam pembuluh darah sebelum kita dapat
saling mencintai. Ini tidak berarti bahwa darah lebih penting daripada cinta.”

“Mungkin ini juga sebuah teka-teki ayam dan

telur.”

“Bagaimana bisa?”

“Jika tidak ada darah, tidak mungkin ada cinta. Dan jika tidak ada cinta, tidak
mungkin ada darah.”

“Benar, itulah yang kumaksud.”

“Tapi, kita bisa melanjutkan percakapan ini di Sevilla. Sekarang hampir pukul
tiga pagi.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah bosan dengan reduksionisme
berlebihan yang telah menghinggapi abad ini bagaikan sebuah mimpi buruk.
Sudah waktunya memasuki milenium baru,” ujarku.

“Dan aku hanya mengatakan bahwa gagasan-mu terlalu kabur. Kita tidak punya
pijakan apa pun dalam ilmu alam kecuali kekuatan-kekuatan alam.”

“Ha! Kita menarik kesimpulan jauh lebih banyak dari apa yang ditunjukkan oleh
keempat elemen alam.”

“Adakah contohnya?”

“Matahari bukanlah sekadar sebuah bintang, Bumi bukanlah sekadar sebuah


planet, seorang manusia bukanlah sekadar seekor hewan, dan seekor hewan
bukanlah sekadar debu, debu bukanlah sekadar lava, dan Ana belum
meninggal.” “Apa yang kau bilang terakhir itu?”
“Aku tidak tahu. Hanya terucap olehku, rasanya begitu cocok dalam kalimat
itu.”

“Hanya agar iramanya pas, ya?”

“Betul, hanya agar iramanya pas.”

“Dan aku juga menyukai yang ini: Joker hanya setengah berada dalam dunia
para peri. Ia tahu ia akan pergi, maka ia tunaikan kewajibannya. Ia tahu ia akan
pergi, maka ia sudah setengah pergi. Ia telah muncul dari segala yang ada dan
akan pergi ke Ketiadaan.

Begitu tiba, ia bahkan tidak akan dapat bermimpi untuk pulang. Ia menuju dunia
yang di sana bahkan tidak ada tidur,” ujar Vera.

“Jadi, engkau cukup yakin bahwa Dunia Ketiadaan ini benar-benar ada?”

“Sayangnya, iya. Sejauh ‘ketiadaan’ dapat dikatakan ada.”

“Oleh karena itu, bahkan semakin penting bagi kita untuk bertemu. Hidup kita
begitu pendek.”

“Aku tidak akan menyangkal yang satu itu.”

“Kurasa, itulah yang dimaksud oleh seluruh manifesto itu.”

“Bagiku, manifesto itu mengatakan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang
sangat besar.”

“Akan kutemui engkau di bandara Sevilla.”

“Apakah engkau sudah memesan kamar hotel?”

“Aku telah memesan tempat di Dona Maria. Letaknya di Plaza Virgen de los
Reyes, di depan La Giralda dan katedral.”

“Apakah engkau sudah memesan untukku juga?”

“Ya. Aku menebak bahwa engkau akan datang

setelah aku menceritakannya dengan begitu bermanis-manis.”


“Bermanis-manis?”

“Mungkin seharusnya kusebut saja dengan berpanjang lebar. Apakah engkau


mencetaknya?”

“Aku segera membuat sebuah salinan. Aku benci membaca dari layar
komputer.”

“Aku juga.”

“Sekarang aku tahu mengapa engkau berkata bahwa aku mengingatkanmu pada
seekor tokek. Aku suka Gordon.”

“Aku dapat membayangkan hal itu.”

“Engkau memerlukan seseorang untuk mema-rahimu.”

“Tetapi bukan engkau yang mirip dengan Gordon. Gordonlah yang mirip
denganmu. Sebab dan akibat, Vera!”

“Sangat menarik … Jadi, engkau sudah memesan dua kamar?”

“Aku memesan dua-duanya.” “Apa maksudmu?”

“Aku memesan satu kamar dan dua kamar … Halo?”

“Aku tidak mampu berkata-kata.” “Mengapa?”

“Engkau begitu tolol. Dan engkau sungguh mengabaikan prinsip-prinsip


rasional.”

“Dapatkah engkau menjelaskan lebih lanjut?”

“Tidaklah mungkin untuk memesan satu kamar dan dua kamar. Dalam hal ini
berarti engkau telah memesan dua kamar.”

“Logika memang sangat kekurangan ambivalensi. Itulah mengapa logika tidak


banyak gunanya dalam penyelesaian konflik, atau proses-proses pada umumnya.
Logika benar-benar mati, Vera.”

“Tetapi, itu hampir sama dengan tidak dapat tiba ‘sebagian saja’ di sebuah pulau
terpencil. Datang dan pergi adalah sesuatu yang dikerjakan seseorang secara
sekaligus. Seharusnya, engkau memikirkan hal itu. Seharusnya, engkau
memikirkan hal itu, Frank.”

“Aku sudah tidak terlalu yakin lagi sekarang. Dapat dikatakan bahwa si kurcaci
memang datang ke pulau itu dengan sang pelaut. Di lain pihak, ia memang tidak
muncul hingga kemudian hari.”

“Kurasa, kita saling salah paham. Aku adalah pulau terpencil itu.”

“Vera?”

“Tetapi, kita akan bertemu besok.” “Dan dengan segera kita akan mengetahui
bagaimana kita akan bertemu.”

“Apakah hal itu punya makna?”

“Mungkin ada langit lain di atas langit yang ini.”

“Apakah itu punya makna yang lebih dalam?”

“Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya kuucapkan.
Seakan-akan ada seseorang yang menjejalkan kata-kata itu ke dalam mulutku.”

“Itu disebut melarikan diri dari tanggung jawab.”

“Tetapi, tiba-tiba barusan aku teringat akan sesuatu yang dikatakan Ana di Fiji.”

“Apa itu?”

“Ia berkata, ‘Ada sesuatu di balik semua ini.’” “Ya Tuhan, itu benar. Tunggu
sebentar “Apa yang kau lakukan?”

“Tunggu, kataku, aku sedang membolak-balik halaman … ‘Anda semua akan


berpikir tengah berada di sebuah pemakaman, tetapi kenyataannya Anda akan
menyaksikan sebuah kelahiran baru ….’ Apakah kau pikir ia seorang peramal?”

“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu. Yang kutahu adalah bahwa aku
akan menaiki kereta AVE pada pukul delapan pagi.”

“Kau tahu aku telah mempelajari lukisan Goya itu lagi. Ia benar-benar
membuatku terkejut ketika aku melihatnya di Salamanca.”

“Mungkin itu baik untukmu.”

“Apanya?”

“Terkejut sedikit.”

“Selamat tinggal untuk sekarang.”

“Sampai bertemu lagi!11 []


Catatan Tambahan
oleh John Spooke

AKU SERING TERHENYAK JIKA MELIHAT FOTO BERWARNA SHEILA


YANG berukuran besar, tergantung dalam pigura hitam di atas meja kerjaku.
Foto itu telah terpasang di situ sejak aku memotretnya beberapa tahun yang lalu,
di depan balai kota Croydon yang tua. Tentunya ia memandang lurus ke dalam
lensa saat aku menekan tombol kameraku, karena seolah-olah ia menatap ke
arahku. Terkadang rasanya seperti ia telah berencana untuk menjagaku jika ia
telah dibawa pergi.

Aku selalu menganggap bahwa menatap dalam-dalam foto berwarna yang tajam
dari orang-orang yang telah meninggal memang meresahkan. Bayangkan saja
betapa mengejutkan tentunya dua ratus tahun yang lalu bagi para penduduk
Andalusia saat berhadapan dengan foto milik si kurcaci yang menggambarkan
sang wanita gipsi cantik di Taman Alcazar.

Bahkan setelah tiga tahun, aku masih tidak dapat memercayai bahwa aku tidak
akan dapat bertemu Sheila lagi. Meskipun demikian, mengapa pula aku begitu
yakin kami tidak akan pernah dipertemukan kembali? Aku merasa cukup yakin,
tetapi tidak yakin seratus persen. Keberadaan dunia ini saja telah menembus
batas ketidakmungkinan. Jika dunia ini memang ada, mengapa tidak mungkin
ada sebuah dunia lain setelahnya?

Frank mungkin akan berkata: karena kita adalah darah dan daging seperti katak
dan kelelawar. Ya, memang, aku setuju akan hal itu, dan jika ada satu hal yang
membuatku sakit, itu adalah pereda—

ran darahku. Aku adalah seorang primata yang semakin tua. Tetapi, bukankah
aku juga seorang makhluk ruhaniah?

Aku tidak pernah dapat menerima pemikiran yang menyatakan bahwa jiwa
manusia tidaklah lebih dari sebuah fenomena surealis yang terbentuk dari
protein, seperti leher jerapah atau belalai gajah. Kesadaranku membuatku dapat
meneliti seluruh alam semesta. Aku tidak lagi yakin bahwa jiwa hanyalah sebuah
hasil dari proses biokimia.

Kita tahu tentang keberadaan galaksi-galaksi lain. Mungkin, seperti yang


dipercaya oleh banyak ahli astronomi, juga ada alam-alam semesta yang lain.
Jadi, mengapa suatu kemajuan dari satu tingkat realitas menuju tingkat realitas
yang lain harus lebih tidak mungkin dibandingkan kemajuan dalam waktu dan
ruang? Atau dengan kata lain: mengapa suatu kemajuan dari ranah menuju
metaranah begitu tidak dapat terbayangkan? Terbangun dari mimpi adalah hal
yang mungkin.

Kita tidak tahu apakah dunia ini. Kubayangkan bahwa sangat mudah kita
terkelabui oleh batasan-batasan tingkat realitas tempat kita berada pada saat ini.
Dan Ana belum meninggal.

Saat tiba di Taveuni untuk ambil bagian dalam program televisi mengenai masa
depan manusia itu, aku belum menulis satu buah novel pun selama bertahun-
tahun. Aku merasa tidak mampu menulis sementara Sheila sakit, dan aku tidak
dapat memulai

karya baru apa pun dalam tahun-tahun sepeninggal dirinya. Aku tidak pernah
pandai menyimpan lebih dari satu pikiran dalam benakku sekaligus. Sungguh
aneh bagaimana seseorang seusiaku dapat begitu terikat dengan seorang wanita.
Dan yang lebih mengerikan adalah betapa suatu kehilangan dapat mengurangi
daya hidup seseorang.

Aku harus bertemu dengan orang-orang baru agar dapat mulai menulis lagi, dan
di Taveuni aku banyak bertemu dengan orang-orang yang cukup berbeda dengan
yang ada di kota asalku, Croydon. Aku memerlukan pemantik ide dan konsep-
konsep baru. Mungkin itulah mengapa aku mengundang para tamu di Maravu
untuk menghadiri “konferensi tropis” itu.

Aku sering memberi novel-novelku latar belakang berupa kejadian-kejadian


sesungguhnya. Tentu saja aku tidak pernah kekurangan imajinasi, tetapi aku
sering kesulitan untuk dapat menghidupkan karakter-karakter fiktif.

Bahkan sebelum bertemu Frank, aku telah memilih Ana dan Jose untuk novel
berikutnya yang akan kutulis. Ana adalah seorang wanita yang sangat menarik
berusia akhir dua puluhan. Ia hampir lebih tinggi setengah kepala dari Jose,
memiliki rambut hitam yang panjang, mata hitam, dan bergerak bagaikan
seorang dewi. Si lelaki lebih tua dibandingkan si wanita, dengan mata biru dan
kulit yang agak terlalu putih bagi seorang Spanyol. Mereka memperkenalkan diri
sebagai wartawan televisi, tetapi sekali waktu Jose pernah menyebutkan bahwa
Ana adalah seorang penari flamenco yang terkenal. Sedangkan aku dikirim ke
pulau itu oleh BBC untuk berdiri di atas dateline dan mengucapkan beberapa
patah kata yang telah dipilih dengan cermat mengenai etika global dan masa
depan Bumi. Pasangan Spanyol itu ternyata ada di sana untuk membuat sebuah
film dokumenter serupa untuk sebuah saluran televisi Spanyol, dan beberapa kali
secara kebetulan kami bertemu di garis bujur 180°. Sudah banyak kru TV yang
membanjiri pulau itu, walaupun perayaan yang sesungguhnya baru akan terjadi
dua tahun lagi.

Ada beberapa alasan mengapa aku memilih pasangan dari Spanyol itu. Saat
sedang berduaan, atau tepatnya saat mereka berpura-pura sedang berduaan,
mereka sering mengutip kalimat-kalimat aneh satu sama lain. Mereka
mengingatkanku akan orang-orang yang berjalan-jalan sambil berbicara kepada
diri sendiri walaupun dalam kasus ini mereka berdua karena tidak banyak yang
menunjukkan bahwa ucapan salah seorang dari mereka belum diketahui
pasangannya. Walaupun tidak dapat berbahasa Spanyol, aku ingat telah
memerhatikan gumaman-gumaman aneh mereka itu dengan penuh perhatian.
Frank sepertinya juga terpikat oleh hal yang sama. Perbedaan antara Frank dan
diriku adalah bahwa Frank mengerti apa yang mereka ucapkan. Itu adalah
sebuah perbedaan yang penting. Aku telah bereaksi terhadap bentuk, bukan isi.
Bahkan pada hari pertama Frank di pulau itu, aku sudah dapat melihatnya
mencuri dengar kedua orang

Spanyol itu pada saat makan malam. Ketika ia bertanya apakah ia dapat
meminjam sebuah pena, dengan senang hati aku memberikannya. Aku merasa
bahwa dengan cara ini, aku telah membuatnya antusias tanpa ia sadari.

Juga ada sesuatu yang lain, dan inilah yang sesungguhnya menyebabkan diriku
bereaksi terhadap jika tidak memburu-pasangan Spanyol tersebut: sejak pertama
kali bertemu, aku memiliki perasaan kuat pernah bertemu dengan Ana
sebelumnya. Kemudian, Frank tiba di pulau itu. Ketika ia juga berkata bahwa
dirinya merasa Ana tidak asing baginya, aku pun melakukan penyelidikanku
sendiri. Aku tidak akan menyangkal bahwa aku cukup terguncang ketika pada
akhirnya berhasil menemukan hubungannya. Aku benar-benar terkejut, dan sejak
saat itu, aku menghadapi Ana dengan perspektif yang sama sekali baru.

Aku memutuskan untuk tidak terburu-buru. Aku juga tidak akan mengatakan apa
pun kepada Frank, hal itu hanya akan membuatnya semakin bingung. Aku hanya
memberi Frank sedikit petunjuk saat ia keluar dari Maravu. Kemudian, aku akan
menunggu dan memerhatikan. Aku ingin membawa pulang hal ini bersamaku.

Aku tidak pernah suka membicarakan apa yang tengah kukerjakan, dan yang
jelas tidak sebelum aku memulai proses untuk menuliskannya. Aku khawatir
semua ini hanya akan menjadi gagasan yang diomongkan jika menjadi topik
pembicaraan pada makan malam di Pulau Fiji tersebut.

Ketika Frank tiba di Taveuni, ia telah berada di Pasifik Selatan selama dua bulan
penuh. Hampir semua yang sekarang kuketahui mengenai bagian dunia itu
kuperoleh dari dirinya. Semakin jauh aku mengenalnya, semakin jelas bagiku
bahwa Frank harus menjadi narator dalam novel yang ingin kutulis. Kurasa,
kami memulai perkenalan kami dengan baik walaupun ada perbedaan yang
cukup besar dalam usia kami. Di sini aku harus menekankan bahwa mimpi yang
diceritakan Frank kepada Gordon sesungguhnya dipinjam dariku. Akulah yang
mendapatkan sebuah mimpi buruk pada suatu malam di Maravu. Aku bermimpi
tidak dapat mengingat apakah usiaku delapan belas atau dua puluh delapan.
Kemudian aku terbangun, dan jauh dari berusia empat puluh tahun yang
menakutkan Frank, usiaku sesungguhnya adalah enam puluh lima tahun fakta
yang jauh lebih mengerikan lagi. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan
berdiri di hadapan cermin kamar yang besar. Akulah sang primata yang semakin
tua.

Tidak ada dua orang yang persis sama, dan tentu saja, ada begitu banyak
keanekaragaman ciri-ciri manusia. Walaupun sejauh yang kuyakini,
sesungguhnya hanya ada dua jenis manusia. Satu kategori, yaitu mayoritas yang
besar, terdiri dari mereka yang puas untuk hidup tujuh puluh atau delapan puluh
atau sembilan puluh tahun. Alasan yang mereka berikan beraneka ragam.
Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa setelah delapan

puluh atau sembilan puluh tahun, mereka telah menjalani hidup yang panjang
dan dipenuhi dengan berbagai kejadian, dan pada saat itu, mereka tidak akan
keberatan untuk tergeletak dan mati dalam keadaan renta. Yang lain mengatakan,
mereka tidak menginginkan menjadi tua dan tergantung kepada orang lain dan
karenanya menjadi beban. Yang lain lagi menekankan bahwa menginginkan
kehidupan lebih dari delapan puluh atau sembilan puluh tahun tidaklah masuk
akal karena secara alami kita tidak dirancang untuk hidup lebih lama daripada
masa itu. Lalu ada pula mereka mungkin subkelompok yang paling besar yang
jika kondisi telah memungkinkan mereka hidup di planet ini selama beratus-
ratus atau beribu-ribu tahun, mereka akan menganggapnya sebagai hal yang
terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Cukup masuk akal! Pendapat ini baik,
dan benar-benar selaras dengan alam. Tetapi, ada pula segolongan orang lain
yang sangat berbeda: sebagian kecil orang yang ingin hidup selamanya. Mereka
menderita karena tidak dapat mengerti bagaimana dunia akan berlanjut setelah
mereka pergi. Frank adalah salah satu di antaranya, dan itulah mengapa timbul
ketertarikanku yang begitu besar kepadanya sejak pertama kali kami bertemu.
Lagi pula, itu adalah syarat yang diperlukan untuk menjadikannya narator novel
ini.

Aku tidak pernah merasa punya banyak kesamaan dengan orang-orang penakut
yang tidak mau membayangkan hidup abadi di dunia. Saat masih muda, itu
adalah salah satu hal pertama yang kucoba ketahui jika bertemu seseorang untuk
pertama kalinya. Aku biasa bertanya, jika engkau dapat memilih, akankah
engkau memilih untuk hidup selamanya? Atau engkau pasrah dengan kenyataan
bahwa pada suatu hari engkau tidak akan ada lagi? Aku mengadakan sebuah
survei singkat informal dengan cara itu. Hasil yang kudapatkan yaitu mayoritas
besar ingin mati saja. Oke, baiklah! Untungnya, alam telah teratur dengan begitu
tepat.

Tetapi, tidak selalu mereka yang paling menikmati kehidupanlah yang paling
sulit melepaskan kehidupan ini. Justru sebaliknya: mereka yang lebih menikmati
kehidupan sering hanya sedikit sekali memikirkan fakta bahwa pada suatu hari
nanti, hidup mereka akan berakhir. Hal ini mungkin terdengar seperti sebuah
paradoks, tetapi tidak demikian jika ditelaah lebih lanjut. Orang-orang yang
menolak untuk menyerah kepada akhir kehidupan sudah merasa berada di
wilayah tak bertuan. Mereka menyadari bahwa tidak lama lagi mereka akan
pergi untuk selamanya. Maka, kini mereka sudah setengah pergi. Tidaklah
penting apakah mereka masih memiliki lima atau lima puluh tahun lagi untuk
hidup. Di sinilah mereka berbeda dari semua orang lain yang menerima
ketidakabadian hidup asalkan hal itu tidak terjadi dengan segera. Mereka yang
ingin hidup selamanya bukanlah tergolong orang-orang pertama yang ngotot
beraksi di lantai dansa. Mereka bukanlah orang yang kita sebut sebagai
“penikmat kehidupan”. Para raja di lantai dansa begitu terbuai dalam tahan
kehidupan itu sendiri sehingga mereka

tidak membiarkan perhatian mereka teralihkan oleh pikiran bahwa suatu hari,
tahan mereka akan berakhir.
Dalam suratnya untuk Vera, Frank menceritakan penerbangan pendeknya dari
Viti Levu menuju Taveuni. Kurasa, bahkan dalam bagian ini sudah tampak jelas
ia termasuk ke dalam jenis yang mana. Setelah beberapa lama, barulah aku dapat
membaca segala pemikiran yang mencengkeram dirinya pada pagi pertamanya
di pulau itu. Tetapi bahkan pada saat itu, aku sudah punya dugaan tentang arah
pikirannya. Pada hari-hari berikutnya, lebih banyak lagi yang dapat kuketahui.
Frank adalah salah satu orang yang langka. Ia adalah jenis yang merasa tertindas
oleh kesedihan karena ketiadaan semangat eksistensial dan rasa keabadian.

Dalam deskripsinya mengenai penerbangannya dari Nadi, Frank menyimpulkan


dengan menyatakan bahwa “pengalamanku itu telah menimbulkan suatu
perasaan yang tak terelakkan, perasaan sebagai makhluk vertebrata biasa yang
rapuh di tengah-tengah kehidupan.” Ya, ia dapat saja mengatakan hal itu,
pikirku. Dan aku tidak merasa kesulitan memahami perasaannya. Perbedaannya,
yang bagiku terasa besar, adalah kenyataan bahwa aku hampir tiga puluh tahun
lebih tua daripada dirinya, dan karena itu seusia dengan sang pilot. Sementara
aku duduk di sini menghadap mejaku di Croydon, dari waktu ke waktu aku
tersiksa oleh sakit pinggang yang datang dan pergi. Maka, aku hampir tidak
perlu menjadi seorang ahli vertebrata untuk mengetahui bahwa aku menyandang
tulang belulang berpenyakit. Aku juga mendapatkan pengobatan untuk nyeri
dadaku dan aku menyadari bahwa setiap saat yang kumiliki di dunia ini harus
dianggap sebagai suatu bonus. Rasanya seperti hidup dengan sebuah pistol
tertodong ke kepalamu. Seolah-olah seluruh sisa waktuku di Bimasakti ini harus
dihabiskan dalam sebuah pesawat kotak korek api dengan instrumen-instrumen
yang rusak. Bahkan, aku tidak memiliki seorang kekasih di sisiku untuk
membantuku membaca peta dalam perjalanan terakhir ini.

Tiga tahun telah berlalu sejak Sheila meninggal, dan bahkan sudah lebih lama
lagi sejak ia mampu berjalan melintasi ruangan dan meletakkan tangannya yang
menenangkan di leherku. Ketika Sheila meninggal, kami telah saling mengenal
selama lebih dari empat puluh tahun. Aku menyinggung masalah-masalah
pribadi ini hanya untuk menunjukkan alasan mengapa aku bisa bertindak begitu
yakin ketika bertemu dengan Frank di Madrid hampir satu tahun kemudian.

Ketika kedua orang Spanyol itu muncul untuk sarapan pada pagi setelah aku
menjemput Frank dari bandara, aku menyinggung bahwa seorang Norwegia
telah tiba dengan pesawat pagi dan ada anggapan bahwa kebanyakan orang
Norwegia jago bermain kartu. Aku menjelaskan bahwa hal ini tentu
berhubungan dengan musim dingin mereka yang panjang. Aku tahu mereka
terus bermain kartu malam sebelumnya sebagian besar hanya demi Ana. Ia
selalu yang paling bersemangat untuk mengumpulkan lawan bermain. Seorang
Belanda yang telah bermain melawan mereka baru saja meninggalkan pulau
tersebut pagi itu, dan siapakah yang akan menggantikannya di meja bridge?
Yang jelas bukan aku, karena aku tidak dapat bermain kartu maupun punya
keinginan sedikit pun untuk mempelajarinya.

Aku selalu menghubungkan kartu poker dengan Sheila. Ia dapat menghabiskan


waktu semalaman sambil bermain solitaire sementara aku bekerja di loteng. Ia
selalu begitu senang ketika aku turun ke ruang duduk setelah pekerjaanku
selesai. Untuk menjaga perasaan maupun harga dirinya, aku harus duduk dan
menontonnya menyelesaikan permainannya, dan jika ia sedang ingin
menggodaku, aku harus mengocok kartu untuknya agar ia dapat memainkan satu
permainan lagi. Baru setelah itulah ia akan melihat ke arahku.

Aku mengingat-ingat pondok mana yang diperuntukkan bagi Frank saat


kedatangannya. Dan kemudian, saat resepsionis tengah kosong, aku mengambil
kesempatan untuk mencatat alamat rumahnya, tanggal lahirnya, dan fakta bahwa
paspornya dibuat di Oslo. Tidak berapa lama kemudian, aku memberi tahu kedua
orang Spanyol itu bure mana yang ditempati orang Norwegia itu dan juga bahwa
aku melihatnya duduk di beranda. Kurasa, ia sedikit kesepian, ujarku.
Sesungguhnya aku bermaksud baik.
Aku berusaha menunjukkan bahwa secara

umum, sebagian kejadian di Maravu pada hari-hari di bulan Januari itu tidak
seluruhnya kebetulan. Aku tidak mengatakan bahwa aku menjalankan sebuah
permainan Jenaka. Tetapi, aku memang sedikit mengatur beberapa hal. Aku
membantu terjadinya proses sosial yang janggal, yang dalam situasi berbeda
mungkin memerlukan waktu seminggu penuh.

Akulah yang memberi tahu Ana dan Jose bahwa Frank mungkin mau
menggantikan si orang Belanda bermain kartu. Itu adalah yang pertama, dan hal
itu sebagian besar kulakukan untuk Ana. Akulah yang, setelah sarapan,
menunjukkan pondok yang baru saja dimasuki orang Norwegia itu—itu adalah
yang kedua. Yang ketiga adalah saranku kepada kedua orang Spanyol itu bahwa
malam itu kami bisa mencoba menginterogasi seorang ahli biologi evolusioner
tentang sejauh mana perkembangan ilmu pengetahuannya sekarang, hampir 150
tahun setelah Origin karya Darwin terbit. Kupikir, kesempatan tersebut terlalu
baik untuk dilepaskan. Malam sebelumnya, aku dan Jose sependapat mengenai
sebuah teori cerdas bahwa manusia modern sangat kekurangan apa yang kami
sebut sebagai “imajinasi kognitif.

Jika surat untuk Vera itu berikut catatan tambahan yang dilampirkan benar-benar
berakhir di dalam kapsul waktu di dateline, selama seribu tahun mendatang,
diriku akan dituduh melakukan tipuan-tipuan, dan lokasi eksekusinya telah
ditetapkan. Tetapi, jika itu yang terjadi, semua tuduhan itu akan terhalang oleh
waktu, bahkan termasuk

apa yang kulakukan di Sevilla hampir setahun kemudian. Karena kisah


mengenai Ana dan Jose masih belum selesai, begitu pula kisah Frank dan Vera.

Aku dapat berlega hati karena adanya satu kenyataan bahwa, terlepas dari apa
yang kami rencanakan, semua ini akan segera terlupakan. Bagi Anda semua
yang membaca tulisan ini dalam seribu tahun mendatang, aku hanya memohon
satu hal: hendaknya kisah tentang Ana tidak lagi tenggelam dalam euforia
memasuki sebuah milenium baru.

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca di Daily Telegraph mengenai


“Monumen Milenium” yang direncanakan untuk didirikan di Taveuni. Dengan
lima ratus dolar, semua orang dapat menuliskan kata-kata sambutan untuk
milenium keempat dan meletakkannya di dalam sebuah tabung kaca. Tabung itu
kemudian diletakkan di dalam rongga pada sebuah batu bata. Rongga ini
kemudian ditutup dan batu bata itu digunakan untuk membangun monumen
tersebut. Selama milenium berikut, sebuah yayasan akan memelihara dinding itu
dan juga menjamin bahwa kapsul waktu pribadi Anda akan dibuka pada 3000.

Seribu tahun akan berlalu, dan kemudian kisah mengenai Ana Maria Maya akan
dibacakan pada tempat garis bujur 180° melintasi Taveuni. Setiap kali aku
berusaha membayangkan orang-orang yang berdiri di dateline seribu tahun
mendatang, aku selalu membayangkan seorang kurcaci duduk di atas monumen
sambil membacakan baris-baris tulisan ini.

Surat untuk Vera dibuka dengan penggamba—

ran Frank yang mendetail tentang pulau yang ia kunjungi, dan aku tidak
mengerti bagaimana ia dapat menemukan waktu untuk melakukan hal itu.
Maksudku, ia duduk di dalam sebuah kamar hotel di Madrid hanya selama dua
hari untuk memberi tahu Vera mengenai Ana dan Jose, dan ia menghabiskan
waktu menjelaskan katak dan kelelawar! Aku tidak tahu seberapa besar tabung-
tabung yang dapat dibeli dengan lima ratus dolar itu. Aku hanya tahu bahwa
tabung-tabung itu dapat dimasukkan ke sebuah lubang di dalam batu bata. Jika
pesan dalam botol milikku untuk masa depan tidak dapat menampung semua
yang ditulis Frank, aku harus merobek beberapa halaman. Di pihak lain, ketika
surat untuk Vera dibacakan di Taveuni pada 1 Januari 3000 dan aku telah
mengerahkan seluruh tenagaku untuk meyakinkan hal itu akan terjadi para
keturunan kita akan mendapatkan gambaran lengkap seperti apakah “Pulau
Taman” seribu tahun sebelumnya. Dasar orang-orang malang! Mungkin mereka
akan membenci kita. Aku ragu apakah pada zaman itu merpati Jingga masih
akan terbang pada pagi hari melintasi Danau Tagimaucia. Aku ragu apakah akan
masih banyak yang tersisa dari hutan hujan yang rimbun. Itulah alasanku belum
merobek semua halaman yang ditulis Frank mengenai kehidupan alam di
Taveuni. Kemungkinan yang terburuk, aku harus puas dengan meletakkan
sebuah disket di dalam bata yang tertutup itu. Tetapi, masalahnya adalah apakah
disket itu kompatibel dengan teknologi seribu tahun mendatang. Supaya lebih
aman, aku juga

harus memasukkan sebuah cetakan dari manifesto itu. Tentunya itu tidak akan
memakan banyak ruangan.

Terkadang, pada saat-saat aku bertanya-tanya apa yang terjadi jika Vera memang
benar-benar menerima surat itu dari Frank, aku merasakan getaran di sepanjang
tulang punggungku. Walaupun demikian, begitu menyelesaikan catatan
tambahan, aku akan memastikan bahwa suatu hari Vera akan membacanya.
Mungkin itu akan membuatnya lebih memahami apa yang terjadi di Sevilla. Jika
ia bersikeras bahwa orang-orang lain harus mendapatkan kesempatan untuk
membaca kisah tentang Ana, aku mungkin harus mengurungkan niatku tentang
kapsul waktu. Tidak ada gunanya meletakkan sebuah karya tulis di dalam kapsul
waktu selama seribu tahun jika karya tulis itu telah beredar. Tinggallah dunia
yang memutuskan apa yang akan diwariskan kepada keturunan kita dan apa
yang hanya akan dilupakan. Jejak langkah manusia selalu dipenuhi banyak
suara, terlalu banyak suara. Jika kita juga mendengarkan suara generasi-generasi
sebelumnya dalam sebuah latar belakang verbal yang akbar, situasinya akan
tidak tertanggungkan. Harus ada orang yang mampu menjaga sebuah rahasia
selama seribu tahun, atau tidak sama sekali.

Akulah yang mulai membahas mengenai tokek dengan Frank, karena aku
menduga bahwa ketidaksu-kaanku terhadap mereka, setidaknya jika aku harus

melakukan kontak fisik misalnya saat tidur tentunya lebih besar daripada
dirinya. Aku menyangka bahwa Frank, yang memperkenalkan dirinya sebagai
semacam ahli mengenai makhluk-makhluk seperti itu, akan menawarkan
beberapa kalimat menenangkan bahwa reptil dapat hidup secara tenang bersama
manusia, bahkan dengan seorang Inggris yang selalu berkeluh kesah seperti
diriku. Tetapi, malahan aku mendapatkan kesan bahwa ia lebih menginginkan
kamarnya dibersihkan dari tokek, walaupun ia tidak menyebutkan alasannya. Ia
menyinggung bahwa sejauh itu ia baru melihat satu tokek, tetapi ia selalu
berhati-hati untuk tidak meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka dan
membiarkan nyamuk-nyamuk masuk ke kamar hal yang tidak pernah
kuperhatikan sama sekali. Tokek itu kemudian dipanggilnya sebagai Gordon,
nama yang diambil dari sebuah minuman keras terkenal dari London yang selalu
dekat di hatiku, begitu dekat sehingga Sheila selalu berkomentar mengenainya.
Jika membuka tutup botol minuman itu terutama sebuah botol baru aku masih
mendapatkan perasaan bahwa Sheila tengah mengamatiku.

Frank bukan hanya merasa dirinya tertindas oleh kesedihan karena ketiadaan
semangat eksistensial dan rasa keabadian dalam dirinya. Ia adalah seseorang
yang terus menerus mendengar suara-suara di dalam benaknya.

Aku pun mendengar suara-suara dalam benakku, terutama setelah meninggalnya


Sheila. Itu membuatku dapat melakukan percakapan panjang

dengan dirinya bahkan hingga saat ini, dan aku tidak selalu yakin berapa banyak
yang terucapkan dengan lantang, atau apakah semua ini berlangsung di dalam
diriku sendiri. Aku tahu bahwa terkadang aku berbicara keras-keras, dan ia
menjawab di dalam benakku.

Bahkan saat ia masih hidup, percakapan dengan Sheila selalu transparan. Jika
mengemukakan pendapatku mengenai apa pun, aku selalu tahu apa yang akan ia
katakan, dan tidak hanya apa yang ia pikirkan mengenai ini dan itu, tetapi kata
demi kata. Kami saling mengenal dengan sangat baik.

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki pola bicara sendiri-sendiri dan
mungkin pemilihan kata-kata dan ungkapan yang kita ucapkan sehari-hari begitu
khas, seperti “Ini dia,” “Hampir saja,” “Begini saja,” “Kau tahu maksudku,”
“Aku selalu berpikiran begitu,” “Apa kau tak bisa lihat betapa bodohnya hal itu”
dan sebagainya. Saat sedang bersama orang-orang lain, terkadang potongan-
potongan kalimat milik Sheila terasa masih melekat dalam benakku dan
menjadikan dirinya tetap dekat denganku.

Terkadang, bila aku merasa terganggu oleh perkataan Sheila, aku menjawab
dengan lantang. Ini terjadi bahkan ketika aku tahu sejak awal bahwa ia akan
mengatakan sesuatu yang akan membuatku resah. Dalam hal ini, hidupku belum
berubah banyak. Mungkin terasa aneh bagi orang seusiaku, tetapi aku
merindukan tubuhnya. Sebagian besar elemen kehidupan kami nyaris tetap utuh,
tidak hanya karena kami masih bercakap-cakap, tetapi karena

ada begitu banyak memori di antara kami berdua. Sheila menduduki posisi
sentral dalam segala memori itu, tentu saja. Terkadang bahkan aku rindu dirinya
memintaku mengocok kartu untuknya.

Sheila selalu bermain solitaire, dan ketika ia masih muda, itulah salah satu hal
kecil yang membuatku begitu jatuh cinta kepadanya. Pada tahun-tahun
berikutnya, kadang-kadang aku membenci kebiasaannya menghabiskan waktu
berjam-jam di depan perapian pada malam hari untuk bermain solitaire. Aku
ingat pernah mengatakan kepadanya sekali waktu bahwa permainan solitaire
dapat dianggap sebagai hiburan yang tak berotak. Perkataan itu sangat menyakiti
dirinya. Terkadang aku bahkan menjadi kesal jika memergokinya
mempermainkan kartu-kartu itu dengan jemarinya agar permainannya berjalan
lancar. Namun, sekarang sekarang setelah ia pergi aku begitu merindukannya
karena hal-hal yang pernah kubenci itu. Jadi, segala sesuatu telah mencapai satu
putaran penuh, dan itu bukanlah sebuah perputaran yang tidak menyenangkan.
Lebih mudah mencintai seseorang yang selalu berada di luar jangkauan kita
dibandingkan seseorang yang darinya kita tidak dapat melarikan diri.

Beberapa kali seorang tetanggaku menuduhku berbicara sendiri. Ia memang


mudah terkelabui. Sejauh ini aku lega ia tidak pernah mendengar apa yang
dikatakan Sheila. Tetapi, suatu hari aku akan tidak mampu lagi menyimpan
ucapan-ucapan Sheila hanya untuk diriku. Aku tahu aku semakin tua. Mungkin
sekarang ini masih sangat terlalu dini, tetapi aku sudah mulai mengalami apa
yang mungkin dapat kusebut sebagai kelepasan bicara. Ini mungkin akan
semakin parah.

Selama suara-suara ini hanya muncul di dalam kepalaku, aku tidak perlu malu.
Aku tidak pernah merasa bersalah tentang Sheila hanya karena aku masih terus
bercakap-cakap dengannya. Hal itu hanya akan membuat segalanya berjalan
keliru. Dialah yang telah meninggalkan begitu banyak gaung sepeninggal
dirinya. “Saatnya minum teh, John. Apakah engkau akan segera datang?” “Kau
tidak akan mengenakan setelan itu, kan?” “Aku sudah menyuruhmu
membawanya ke tukang cuci dua bulan yang lalu.” “Kupikir, sebaiknya kita
mengundang Jeremy dan Margaret untuk makan malam bersama. Sudah lama
mereka tidak pernah berkunjung!”

Aku tidak akan berkomentar terlalu jauh mengenai deskripsi Frank tentang
konferensi tropis yang kudatangi dengan begitu tanpa malu. Pada umumnya, aku
berpendapat bahwa ia memberi gambaran yang memadai tentang jalannya
percakapan kami. Hanya ada satu hal penting dari rangkuman Frank yang
mungkin pantas kuperbaiki.

Frank menuliskan bahwa Ana menyimpulkan konsepnya tentang realitas dalam


tiga komentar. Pertama-tama, Ana mengatakan: “Ada sebuah kenyataan lain di
balik kenyataan yang kita saksikan ini. Ketika saya mati, saya tidak akan mati.
Anda semua akan meyakini bahwa saya telah mati, tetapi

saya tidak mati. Tidak lama lagi kita akan bertemu kembali di sebuah tempat
lain.” Kemudian wanita itu mengatakan: “Anda semua akan berpikir tengah ber
ada di sebuah pemakaman, tetapi kenyataannya Anda akan menyaksikan sebuah
kelahiran baru.” Dan yang terakhir: “Ada sesuatu di balik semua ini. Di sini kita
hanyalah ruh yang melayang-layang dalam peralihan.”

Ia memang mengucapkan sesuatu semacam itu, aku tidak menyangkal hal itu,
walaupun tentu saja tidak mungkin mengingat persis kalimat yang diucapkan
lebih dari setahun yang lalu. Keadaan memaksaku untuk menunjukkan bahwa
Frank yang baik itu agak terlalu berlebihan dalam menekankan bahwa Ana
menggambarkan pandangan dualismenya akan dunia ini dengan kehidupan,
kematian, dan pemakaman-nya sendiri. Pada saat itu, wanita itu mengucapkan
dalam kalimat yang jauh lebih umum tentang kepercayaannya akan adanya
kenyataan lain di balik kenyataan sekarang ini dan adanya keberadaan setelah
kehidupan kita saat ini. Aku ingat ia menghubungkannya dengan sesuatu yang
telah disinggung Laura dan diriku, karena aku ingat pasti bahwa ia berkata:
“Mungkin kita akan bertemu kembali di sebuah tempat lain dan teringat bahwa
ini hanyalah sebuah mimpi.”

Jika saja aku tidak bertemu Frank di Madrid berbulan-bulan kemudian, surat
untuk Vera ini tidak akan perlu menjadi bahan perdebatanku. Tetapi, kalimat Ana
yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada yang dapat kami berdua duga.
Aku juga

yakin begitu pula dengan Frank bahwa Ana memang membandingkan sebuah
pemakaman dengan sebuah kelahiran. Selain dari itu, aku hanya dapat
menekankan bahwa Jose memang menitikkan air mata ketika Ana tengah
berbicara, dan aku juga tidak berpendapat bahwa itu karena ada debu di
matanya. Setelahnya, aku bertanya-tanya apakah munkin ada suatu hubungan
antara air mata tersebut dan serangan yang tiba-tiba dialami Ana satu setengah
hari kemudian.

Frank benar saat mengatakan bahwa aku meninggalkan tempat itu tidak lama
setelah pasangan Spanyol itu memasuki pepohonan palem, dan karenanya aku
tidak tahu berapa lama Frank tinggal di sana. Walaupun demikian, aku memiliki
alasan untuk berpikir bahwa ia memang membiarkan dirinya tergoda oleh aura
mistis Laura yang alami; hal itu tampak nyata dari percakapannya pada malam
hari dengan Gordon. Bagiku, sepertinya di dalam hatinya ia berjuang untuk
membebaskan diri dari pandangannya terhadap dunia yang terlalu mekanistis.
Oleh karenanya, pandang-pandang yang menyejukkan hati yang ditawarkan
seorang wanita muda dengan rambut hitam terkepang dan matanya yang unik
mungkin menjadi sebuah godaan yang menyenangkan.
Di dalam suratnya, Frank menceritakan bagaimana ia meninggalkan tempat itu
pada malam terakhir sebelum kepergiannya. Aku ingat pandanganku terus
mengikuti Frank dan Laura hingga mereka duduk di beranda. Dan supaya tidak
ada kesalahpahaman, mungkin harus kutegaskan bahwa aku sama sekali tidak
tahu-menahu apa yang kemudian terjadi pada malam itu, selain dari apa yang
tertulis dengan jelas dalam surat Frank untuk Vera.

Aku pulang ke London sehari setelah Frank, tetapi tidak seperti dirinya, aku
menempuh perjalanan ke barat melalui Sydney dan lalu Singapura dan Bangkok.
Penerbangan-penerbangan panjang itu memberiku kesempatan untuk pertama
kalinya menyusun semua yang kualami di Maravu dalam sebuah perspektif
tersendiri.

Dan ada pula sebuah kejadian lain, setelah orang Norwegia itu pergi, ketika Ana
tiba-tiba jatuh pingsan. Kejadian itu berlangsung di tengah pepohonan palem di
depan kolam renang, tepat setelah aku menyampaikan salam Frank. Serangan itu
berlangsung selama beberapa menit, dan sekali lagi reaksi Jose dipenuhi
kepanikan. Ia mencubit lengan sang wanita, meneriakkan namanya beberapa
kali, dan berusaha menyandarkan si wanita ke salah satu batang pohon palem.
Pada batang pohon tersebut terdapat sebuah papan pengumuman yang dengan
jelas memperingatkan orang tentang bahaya buah-buah kelapa yang berjatuhan.

Aku menyampaikan kekhawatiran Frank terhadap Ana dan berkata bahwa Frank
memintaku untuk menyampaikan semoga Ana lekas sembuh. Aku juga
mengatakan beberapa kalimat mengenai betapa ia sangat menyukai seni lukis
Spanyol dan bahwa ia menyebut Prado sebagai salah satu koleksi seni lukis
terbaik di dunia. Aku mungkin juga telah menambahkan sebuah komentar
singkat bahwa Goya adalah salah satu favorit sang orang Norwegia di antara
pelukis-pelukis Spanyol yang lain. Tetapi, aku tidak mendapatkan reaksi yang
kuharapkan, Jose malah menjadi kesal. Ia berkata, “Oh, begitu. Tetapi, maukah
Anda meninggalkan kami sendiri sebentar?”

Ana tampak lebih mau menerima kenyataan bahwa aku berinisiatif untuk
membicarakan Goya, walaupun dialah yang terjatuh ke atas rumput di dekat
kolam renang seperempat jam kemudian. Saat makan malam, aku hanya
mengangguk ke arah mereka beberapa kali, dan pada saat itu beberapa tamu baru
telah berdatangan.

Frank tidak menceritakan apa yang ia lakukan di Oslo hingga akhir April. Jika ia
masih tinggal di Sognsveien, tentunya sungguh berat baginya untuk berjalan
mendaki bukit terjal terakhir dalam perjalanan pulangnya dari universitas. Dan
jika ia mengendarai mobil, tentunya ia harus melewati tempat terjadinya
kecelakaan itu, mungkin beberapa kali sehari. Jika aku menjadi dirinya, kurasa
aku mungkin akan pindah rumah, hanya karena alasan itu saja. Di Croydon, aku
sering mengambil jalan berputar yang panjang supaya aku tidak harus berjalan
melalui rumah sakit tempat Sheila menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Frank dan aku memiliki rasa pasrah yang sama terhadap kehidupan. Tetapi, aku
merasa hampir terhina oleh kenyataan bahwa ia dan Vera tidak dapat berbicara.
Mereka memang telah kehilangan

seorang anak, tetapi mereka juga pernah memiliki anak bersama-sama. Aku dan
Sheila telah berusaha selama bertahun-tahun, tetapi kami tidak pernah memiliki
anak. Sheila memiliki solitairenya. Dan aku memiliki novel-novelku.

Kini aku telah menjelaskan bahwa sejauh ini yang diceritakan oleh Frank
mengenai Fiji memang berdasarkan kejadian-kejadian yang sesungguhnya.

Jika aku memang memiliki sebuah filsafat kesusastraan, maka itu adalah sebagai
berikut: Selama mampu, aku selalu mengembangkan ceritaku dari kejadian-
kejadian asli. Tetapi, aku tidak dapat menggali data tentang segala sesuatu, dan
dalam area abu-abu inilah imajinasi mendapatkan kebebasan. Sementara untuk
hal-hal seperti sejarah seperti model-model Goya, koleksi seni Manuel Godoy,
maupun para pelopor flamenco ada batasan tertentu mengenai apa saja yang bisa
menjadi kajian penelitian sejarah. Di pihak lain, kurasa harus kutambahkan
bahwa ada pula kemungkinan bagi seorang novelis untuk memunculkan sebuah
sumber yang hingga saat itu tak diketahui para sejarahwan profesional. Dan
tidak hanya itu. Penulis bahkan mungkin cukup beruntung untuk mendapatkan
akses ke sumber-sumber yang nyaris tak dikenal yang dapat menampilkan sisi
baru dari suatu peristiwa sejarah. Pada kesempatan ini, aku mengalami beberapa
keberuntungan seperti itu, dan aku menekankan kenyataan ini untuk
menunjukkan bahwa banyak dari

apa yang diceritakan dari Fiji dan Spanyol memang cukup autentik.

Aku merasa betapa mengagumkan kemiripan Ana dengan maja milik Goya, dan
dalam buku penuntun resmi Prado, ada keterangan mengenai “Maja yang
Telanjang” bahwa “gambar ini, yang teka-tekinya belum terpecahkan, adalah
sebuah lukisan rahasia”. Di situ tertulis “belum terpecahkan”. Buku itu tidak
mengatakan “tidak pernah terpecahkan”. Tetapi, buku itu menggunakan kata
“rahasia”. Tepat dua abad telah berlalu sejak lukisan itu diselesaikan dan masih
ada banyak laci tua di Spanyol, di Sanlucar de Barrameda, misalnya, yang kelak
sesuatu mungkin akan muncul darinya.

Hal yang menjadi sebuah jeda yang mengganggu dalam karyaku ini adalah
bahwa aku bertemu dengan Frank di Madrid. Tepat di tengah-tengah novelku,
sang tokoh utama sendiri muncul di the Palace di lokasi, tepatnya. Aku
menginap di hotel eksklusif tersebut hanya karena aku membayangkan Frank
duduk di sini sambil menulis surat panjangnya untuk Vera.

Seminggu sebelumnya, aku telah bertindak terlalu gegabah dan berkunjung ke


Sevilla. Itu adalah sebuah kesalahan. Di sana pun ada kejadian yang sedikit tidak
sesuai bagi novelku.

Aku terpaksa menghindari misa berkabung itu, dan sesungguhnya niat awalku
tidaklah demikian, justru sebaliknya. Kini, setelah Ana Maria Maya meninggal
setelah mengejar seorang kurcaci yang telah memotretnya, aku sangat ingin
dapat menuturkan tentang sekumpulan kaum gipsi yang tengah berduka.

Jadi, apakah yang terjadi di Sevilla?

Terkadang dalam hidup kita, di tengah segala kegiatannya yang monoton, terjadi
sesuatu yang begitu luar biasa sehingga tidak ada karya fiksi yang dapat
melebihinya.

Ketika aku memasuki bar di the Palace, Frank telah duduk di sana dengan
segelas bir. Saat itu pertengahan November dan hampir setahun setelah kami
bertemu di Fiji. Masih jelas kesan dalam benakku mengenai dirinya sebagai
seseorang yang agak pendiam yang kujemput di bandara mungil, bersama dua
orang Amerika itu.

Kini sudah hampir enam bulan berlalu sejak ia duduk di Hotel Palace sambil
menulis surat panjangnya untuk Vera, atau, lebih tepatnya lagi, sejak aku
membayangkan Frank duduk di sebuah kamar hotel di Madrid dan menulis surat
panjang untuk Vera setelah mereka bertemu di konferensi di Salamanca. Penting
untuk memisahkan kedua cerita itu. Pada November ‘98, aku telah cukup
panjang menuliskan surat itu walaupun belum sempurna.
Aku bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinanku bertemu Frank di hotel
yang sama. Aku tahu ia tinggal di Oslo, dan walaupun sebelumnya ia memang
memiliki hubungan dengan Spanyol, kemungkinan untuk bertemu dengannya di
Madrid tentunya kecil. Bukan Frank yang memberiku petunjuk mengenai the
Palace. Petunjuk itu datang dari Chris Batt di perpustakaan baru di Croydon.

Begitu aku duduk, orang Norwegia itu tersenyum penuh antisipasi dan
mengeluarkan sebuah drawing pen Pilot berwarna hitam dari saku dalamnya.

“Saya lupa mengembalikan pena Anda,” ujarnya. “Ini dia!”

Aku tertawa, tetapi tawaku bermakna ganda karena pada kenyataannya, akulah
yang seharusnya berterima kasih kepadanya.

“Saya sudah bilang Anda boleh mengambilnya saja,” jawabku, tetapi tetap
mengambil pena tersebut. Aku merasa benda itu memiliki suatu nilai sentimentil.

“Bagaimana kemajuan laporan Anda?” aku bertanya.

“Baik. Sudah hampir selesai. Dan bagaimana dengan novel Anda?”

“Saya dapat mengatakan hal yang sama.”

“Anda tengah berlibur di Spanyol?”

Sebenarnya, inilah pertanyaan yang kutung-gu-tunggu.

“Tidak juga.”

“Mungkin melakukan penelitian?” “Dapat dikatakan begitu, ya.” “Menulis


sesuatu mengenai Spanyol?” Aku meletakkan jariku di bibir. “Saya tidak pernah
membicarakan apa yang sedang saya tulis. Dan Anda?”

“Saya tidak keberatan membicarakan laporan saya.”

“Maksud saya, mengapa Anda berada di Madrid.”

Karena ia tidak segera menjawab, aku menambahkan, “Apakah Anda sedang


mengunjungi Vera?” “Ia tinggal di Barcelona.”

“Ah ya, saya ingat Anda pernah menyebutkan hal itu. Apakah Anda bertemu
dengannya di konferensi di Salamanca itu?” Ia mengangguk singkat.

“Tetapi, Anda berdua tidak banyak melakukan banyak kontak?”

“Kita lihat saja nanti,” hanya itu yang ia katakan.

“Betul, kita lihat saja nanti,” aku mengulangi. “Ia tidak pergi makan siang
dengan Anda hari ini, bukan?”

Ia menggelengkan kepalanya. Jelas terlihat bahwa ia memikirkan semua yang


sudah kami bicarakan.

“Wanita itu adalah seorang kawan lama dari universitas. Saya kuliah di Madrid
selama beberapa lama.”

“Dan kini, Anda di sini untuk liburan singkat?” Ia mulai menggeliat di kursinya,
tetapi kemudian berkata, “Untuk sebuah akhir minggu panjang yang tak
terencana. Saya menghabiskan beberapa tahun di sini saat masih kecil. Ayah
saya adalah seorang koresponden surat kabar di sini selama empat tahun. Selalu
ada sesuatu yang menarik saya untuk

kembali.”

“Juga Vera, mungkin? Apakah Anda akan menghubunginya?”

Sejauh ini, ia bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku, tetapi tidak lebih


jauh lagi. Sekarang ia tersenyum dan berkata, “Ini sudah menjadi semacam
interogasi, bukan?”

Ah, memang benar, ini sudah menjadi semacam interogasi. Tetapi, aku harus
berusaha mencari tahu secara garis besar seperti apa medan yang kuhadapi. Juga,
jika mungkin, aku harus memancingnya untuk mencari tahu apakah ia punya
hari luang. Aku pun mengambil jalan memutar.

“Apakah Anda sudah ke Prado dan tempat-tempat seperti itu?”

Kini ia menjadi bersemangat, dan kurasa bukan hanya karena aku telah
mengganti topik.

“Sebenarnya, saya berencana untuk pergi ke sana besok,” ujarnya. “Kita dapat
pergi bersama-sama, jika Anda ada waktu. Tahukah Anda, ada satu atau dua
lukisan yang ingin saya tunjukkan kepada Anda.”

Begitu ya, pikirku, satu atau dua lukisan.

“Goya atau Velazquez?”

Ia tampak menyimpan rahasia.

“Goya,” ujarnya.

“Dan, lukisan-lukisan yang manakah khususnya yang Anda maksud?”

Ia menatap lurus-lurus ke dalam mataku. Aku dapat melihat pupil matanya


membesar dipenuhi semangat.

“Anda harus melihat lukisan-lukisan itu,” ujarnya. “Saya benar-benar yakin akan
menikmati reaksi Anda ketika melihatnya.”

Ekspresi wajahnya mendekati kebanggaan, seolah-olah ia memang ikut berjasa


dalam hal yang akan ia ungkapkan. Kemudian, tiba-tiba, ia berjaga-jaga.

“Atau, apakah Anda tahu apa yang saya maksud?”

Tentu saja aku sudah bisa menebak lukisan-lukisan mana yang ingin ia
tunjukkan kepadaku di Prado. Ketika kami di Taveuni, aku mendapatkan
keuntungan. Aku berhasil meminjam sebuah laptop dan modem dari Jochen
Kiess, dan dalam waktu beberapa menit saja aku dapat menemukan gambar-
gambar yang jelas dari karya-karya Goya yang paling terkenal. Saat gambar-
gambar itu mulai muncul, aku begitu terperanjat melihatnya sehingga hampir
saja aku membuka lebar-lebar pintuku yang menghadap pepohonan palem dalam
keadaan hanya mengenakan pakaian dalam dan berteriak “Eureka!” Tetapi, aku
berhasil menahan diri dan kemudian mencari situs-situs web untuk mencari
informasi mengenai flamenco di Sevilla. Tidak memerlukan waktu lama untuk
menemukan bahwa Ana adalah seorang penari flamenco terkenal dan bahwa
namanya adalah Ana Maria Maya. Setelah itu, keadaan mulai membentuk
momentumnya sendiri. Tidakkah aneh bahwa Laura mulai membicarakan
konsep India kuno maya pada hari yang sama saat aku menemukan nama
keluarga Ana? Kemudian, aku tidak dapat
menahan diri dari godaan untuk meletakkan telunjukku di dahinya dan
memanggilnya dengan namanya yang sesungguhnya. Aku bahkan menyebutnya
sebagai sebuah “karya agung”. Dan hasilnya persis seperti yang diceritakan
Frank dalam suratnya untuk Vera. Ana begitu mirip maja milik Goya sehingga
tentunya ia sangat muak terus-menerus dihubungkan dengannya, dan mungkin
itulah mengapa Jose bereaksi begitu keras ketika aku menemukan nama keluarga
Ana. Sejak saat itu, mereka menjadi semakin tertutup. Kemudian mendadak Ana
jatuh pingsan, dan sekali lagi pingsan setelah Frank pergi. Aku mulai bertanya-
tanya apakah ia memang benar-benar sakit.

“Ada banyak sekali karya Goya di Prado,” ujarku.

Jawabanku itu membuat Frank mengira aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
Ia menghela napas lega.

“Saya rasa, Anda akan sangat kagum,” ujarnya.

Percakapan pun berlanjut sebentar. Kami berdua berbicara berputar-putar, dan


bahkan bukan mengenai satu yang sama. Aku pun memutuskan untuk
mengatakannya secara langsung.

“Saya akan pergi ke Sevilla besok,” ujarku. “Sebenarnya, saya baru pulang dari
sana seminggu yang lalu, tetapi saya akan ke sana lagi untuk berakhir pekan
sebelum kembali ke Inggris.”

“Anda harus menyampaikan cinta saya. Sampaikan cinta saya kepada pohon-
pohon jeruk di

sana.”

“Tentu saja, saya berjanji.”

Aku bahkan tidak tahu bahwa ia pernah pergi ke sana, tetapi sekarang ia berkata,
“Tentunya pada bulan-bulan ini, Andalusia sangatlah indah.”

Ini dia, kupikir. Sekarang!

Aku menatap kedua matanya yang cokelat.

“Anda tidak ingin ikut?”


Ia menatapku sedikit heran. Seakan-akan ia berpikir: ada apa ini?

“Ada sesuatu yang sangat ingin saya tunjukkan kepada Anda di sana.”

Ia tertawa keras.

“Dan apakah itu?” ia bertanya.

Aku meletakkan jariku di bibir lagi.

“Anda harus melihatnya sendiri, Frank.”

Sejauh menyangkut hasrat ingin menunjukkan sesuatu kepada yang lain, skor di
antara kami satu-satu sekarang. Frank menatap ke arah jam dan beringsut dengan
gelisah di kursinya lagi.

“Saya pikir mungkin tidak,” ujarnya. “Baik karena alasan waktu maupun uang.”

Kurasa ia telah terpancing sekarang.

“Saya akan menangani masalah biaya,” ujarku. “Tidak menjadi masalah.”

“Terus terang,” ujarnya, “sesungguhnya saya telah berencana melakukan


perjalanan pulang melalui Barcelona. Saya hanya harus menelepon terlebih
dahulu, dan Anda tahu, kan, … saya menunda keputusan saya hingga saat-saat
terakhir.”

“Anda dapat melakukan keduanya,” aku meyakinkan dirinya. “Pertama-tama


sehari atau dua hari di Sevilla, dan kemudian Anda dapat terbang ke Oslo
melalui Barcelona. Kulit Anda mungkin akan menjadi menarik karena terbakar
matahari Sevilla. Orang-orang biasanya menyenangi hal seperti itu.”

Si orang Norwegia itu memesan segelas bir lagi dan duduk menimbang-
nimbang. Sementara ia sibuk berpikir, aku menambahkan sambil lalu, “Saya
rasa, saya dapat menjanjikan bahwa Anda tidak akan kecewa, bahkan Anda akan
sangat kagum.”

Seluruh wajahnya menunjukkan ekspresi bertanya-tanya, kuyakin karena


sandiwara yang kujalankan.
“Atau Anda tahu apa yang saya rencanakan?”

Ia meringis, tetapi menggelengkan kepalanya. Aku melanjutkan,


“Pemandangannya sungguh menawan. Saya akan terkejut jika Anda tidak
menganggapnya sebagai salah satu pemandangan terindah yang pernah Anda
temui dalam hidup.”

Ia mengangkat bahu, dan sekarang, sekarang ia sudah hampir memutuskan.

“Kapankah Anda berencana untuk pergi?”

“Besok pagi. Kereta AVE berangkat hampir setiap jam. Jadi kita bisa makan
siang di atas kereta.”

Ia berdehem-dehem beberapa kali.

“Bukan ide yang buruk. Sebenarnya, saya belum pernah pergi ke Sevilla. Tetapi
tentu saja, saya tidak dapat membiarkan Anda membayari saya.”

“Tentu saja Anda bisa. Bukan saja dengan senang hati saya akan melakukannya;
ini bisa menjadi sebuah penelitian yang sangat berharga.”

Sekali lagi ia tertawa keras-keras khas orang-orang Skandinavia.

“Saya harap, Anda akan tidak mengatakan bahwa sayalah objek penelitian itu.”

Aku menyalakan sebatang rokok.

“Jangan berkata begitu. Kita mungkin akan sedikit bercakap-cakap mengenai


reptil dan semacamnya, atau spesies terancam di Oseania. Ada banyak yang
harus saya ingat kembali.”

“Tentu saja. Silakan tanyakan saja.”

Kami tinggal di bar itu hingga larut malam dan bahkan sempat sedikit membahas
biologi evolusi. Aku juga mendengar keseluruhan cerita mengenai kecelakaan
tragis yang telah merenggut nyawa putrinya.

Beberapa jam kemudian, kami ada di atas kereta menuju Sevilla. Aku merasa
memainkan sebuah taruhan yang besar, dan aku harus jujur mengakui bahwa
entah bagaimana aku merasa terperangkap dalam jeratku sendiri. Tetapi kini
roda-roda telah berputar.

Ketika kereta itu berhenti di Cordoba, tiba-tiba ia mengangkat kepala dan


menepuk dahinya, seakan-akan ada sesuatu yang terlupa.

“Saya belum menunjukkan lukisan-lukisan itu kepada Anda!” serunya.

Tetapi, ia menolak memberitahuku lukisan-lukisan mana yang ia maksud. Ia


hanya mengulang bahwa aku harus melihat lukisan-lukisan tersebut dengan
kedua mataku sendiri.

Aku telah memesan tiga kamar di Hotel Dona Maria, dan Frank berkomentar
tentang hal ini. Tetapi, aku menjelaskan bahwa kamar yang satu itu untuk
seorang teman yang akan datang malam itu. Aku tidak begitu yakin apakah
ruangan ketiga akan diperlukan. Aku memberitahunya bahwa ia harus menunggu
hingga malam itu untuk mendapatkan pengalamannya yang tak terlupakan.
Sementara itu, kami memiliki banyak waktu untuk melihat-lihat sekitar.

Aku membawanya melihat katedral dan Patio de los Naranjos, dan sementara
kami berjalan-jalan di antara barisan rapi pohon-pohon jeruk yang sedang
dipenuhi buah-buah yang sudah masak, Frank mengatakan kepadaku bahwa
Laura telah mengirimkan kepadanya sebuah foto merpati langka dengan dada
berwarna Jingga yang ia ambil di Taveuni. Menurutku, hal ini sungguh menarik
karena ia sama sekali tidak tahu apa yang telah kutulis mengenai percintaan kecil
mereka di Pulau Fiji itu.

Kami pergi ke puncak La Giralda, yang aslinya adalah sebuah menara


peninggalan peradaban Islam sebelum akhirnya ditambahi dan diubah menjadi
sebuah menara lonceng. Dari sini, kami mendapatkan pandangan yang sangat
indah ke arah kota putih di kedua tepi Sungai Guadalquivir itu. Kami
menyeberangi Plaza virgen de los Reyes dengan barisan panjang kereta-kereta
kuda sewaan dan berjalan menuju kolam-kolam dan air mancur menyejukkan di
dalam Taman Alcazar. Pohon-pohon palem tumbuh di mana-mana, dan sungguh
aneh untuk memikirkan

bahwa sekali lagi aku dan Frank berjalan-jalan melalui pepohonan palem.
Rasanya hampir seperti kembali di Maravu.

Setelah menjelajahi bagian tertua dari taman itu, kami berjalan menembus Puerta
del Privilegio dan melihat ke seberang Jardin de los Poetas yang romantis
dengan kedua buah kolamnya yang dikelilingi pagar semak setinggi satu meter.
Frank berhenti tiba-tiba dan berseru dengan napas tercekat: “Begitu … indah di
sini.”

Aku melihat air mata mulai merebak di matanya dan aku pun meletakkan
tanganku di bahunya. Mungkin ia tidak dapat memercayai keindahannya,
pikirku, karena dengan segera ia menyeka air matanya. Mungkin untuk menutupi
reaksinya yang emosional, ia berkata, “Saya seperti merasa mengalami deja vu.”

Kami pergi ke podium pengamatan di atas tembok dan kemudian duduk di atas
bangku di dalam petak beralas kerikil di hadapan Puerta de Marchena. Hari itu
benar-benar panas, dan aku pun pergi ke kafe dan membeli minuman untuk
kami.

Tidak lama kemudian, sesuatu yang aneh terjadi, dan di satu pihak, di sinilah
segalanya dimulai walaupun di pihak lain semua ini dimulai di luar sebuah
sekolah di Oslo, di bandara kecil di sebuah Pulau Fiji bernama Taveuni, di atas
jembatan yang melintasi Tormes, di antara gudang-gudang tua di tepi dermaga
Marseilles, di Barrio Triana di tepi barat Rio Guadalquivir, di dermaga Cadiz
hampir satu abad sebelumnya atau di rumah pedesaan

Duquesa de Alba di Sanlucar de Barrameda belum lagi apa yang akan terungkap
pada malam itu di Sevilla. Untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan
bagiku sangat penting bahkan kita perlu kembali ke periode Devon ketika amfibi
pertama merangkak ke daratan kering dengan keempat kaki mereka yang
primitif, tetapi, oh, begitu maju. Tetapi, mengapa tidak terus kembali ke Ledakan
Besar lima belas miliar tahun yang lalu ketika ruang dan waktu tercipta? Pada
suatu waktu, penciptaan dari semua cerita terkandung di dalam sebuah nukleus
padat yang berisi kekuatan penciptaan yang belum diledakkan.

Yang terjadi adalah sebagai berikut. Seorang kerdil tiba-tiba datang berlari-lari
kecil melintasi Puerta de Marchena. Kostum aneh yang dikenakannya
membuatnya tampak seolah-olah ia baru saja datang dari sebuah karnaval.
Setelah itu, tanpa ragu-ragu ia berdiri di hadapan kami dan menatap kami
dengan bersungguh-sungguh. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan sebuah kamera
dan mengambil beberapa foto kami, pertama-tama diriku dan kemudian Frank.

“Kau lihat itu?!” teriak Frank.


Orang kerdil itu melarikan diri dan setengah menit kemudian, ia mengintip kami
dari sebuah celah di podium pengamatan. Sekali lagi, ia mengarahkan
kameranya kepada kami dan mengambil satu atau dua foto.

“Orang yang aneh,” ujar Frank. “Jelas tingkah laku yang aneh,” aku
berkomentar.

Tetapi, orang Norwegia itu tidak puas begitu saja. Ia melompat berdiri dari
bangkunya dan berlari mengejar si orang kerdil. Melalui celah-celah di dinding,
aku dapat melihatnya berlari melintasi Puerta del Privilegio, dan ketika ia
kembali beberapa menit kemudian, ia hanya dapat membentangkan lengannya
lebar-lebar dan berkata, “Ia menghilang begitu saja.”

Saat itu pukul setengah lima, dan Alcazar sudah hampir tutup. Kami berjalan
keluar dan sekali lagi memasuki Plaza virgen de los Reyes, masuk ke ganggang
sempit di permukiman lama Yahudi di Santa Cruz, sambil mengintip ke dalam
halaman yang sejuk dan ke atas ke arah deretan kisi-kisi dan balkon-balkon yang
terbuat dari besi tempa. Aku baru seminggu sebelumnya datang ke sana dan
dapat menceritakan kepada Frank bahwa jeruji besi tempa yang mengamankan
semua jendela dan taman itu memiliki dua fungsi. Satu, untuk meningkatkan
baik pandangan maupun pengertian, untuk mencegah kriminalitas dengan
mendirikan sebuah masyarakat yang lebih transparan, tetapi di pihak lain kisi-
kisi itu selalu dalam keadaan terkunci, dan karenanya memberikan keamanan.
Pada masa lalu, gadis-gadis muda dapat duduk di balik kisi-kisi itu, sementara
para pengagum mereka berdiri di luar selama berjam-jam sambil membisikkan
kata-kata manis, tetapi jika kemesraan itu menjadi semakin serius, para
pengagum itu harus “memakan besi”. Aku menjelaskan bahwa pada setengah
tahun saat

udara lebih hangat, kehidupan sebagian besar masih berlangsung di halaman


rumah, dan jika matahari memancar terik, sebuah atap tenda sering didirikan di
atasnya.

Kami minum bir di Plaza de la Alianza dan menatap ke atas ke arah banyak
bugenvil yang menjalari salah satu dinding luarnya. Di belakang dinding luar ini
tumbuh sebuah pohon palem yang gagah, dan di belakangnya lagi kami melihat
La Giralda. Seperti halaman-halaman lainnya di permukiman lama Yahudi itu,
halaman itu dibatasi dengan pohon-pohon jeruk.
Satu jam kemudian, kami meneruskan perjalanan ke Plaza Dona Elvira dengan
bangku-bangku keramiknya yang elegan, dan dari sini aku membawa Frank ke
dalam gang sempit yang disebut “Susona”. Aku berkata akan menunjukkan
kepadanya rahasia Santa Cruz. Kami muncul di sebuah lapangan kecil, yang
aslinya adalah sebuah halaman dalam, dan di sini aku menunjuk ke atas ke
sebuah ubin keramik yang bergambar sebuah tengkorak. Ubin ini terletak di
dinding di atas sebuah jendela, dan di bawah tengkorak itu tertulis kata
SUSONA.

“Inikah rahasia Santa Cruz?” tanya orang Norwegia itu.

Aku mengangguk.

“Susona adalah seorang gadis Yahudi yang hidup pada abad ke-15,” aku
menjelaskan. “Diam-diam ia jatuh cinta kepada seorang pemuda Kristen, tetapi
kemudian Susona mendengar bahwa keluarganya sendiri tengah merencanakan
sebuah pemberontakan berdarah melawan orang-orang Kristen terpenting di kota
itu. Di antara mereka yang akan dibunuh adalah kekasih Susona. Maka, Susona
pun mendatangi kekasihnya dan memperingatkannya tentang rencana tersebut.
Hasilnya adalah ayahnya dihukum mati dan Susona kemudian dicampakkan
kekasihnya. Kemudian, setelah menjalani hidup yang penuh penderitaan,
akhirnya ia meninggal. Ia memberikan instruksi di dalam surat wasiatnya bahwa
kepalanya harus dipotong dari tubuhnya dan dipertontonkan di luar rumahnya,
sebagai peringatan bagi orang lain. Tengkoraknya tergantung di sana terus
hingga akhir abad ke-18, dan kemudian ubin keramik itu pun dipasang di tempat
yang sama.”

Di lapangan itu terdapat dua buah pohon jeruk, dan Frank bertanya kepadaku
apakah aku tahu cara menentukan sebuah pohon memiliki buah yang manis atau
asam. Ketika aku menjawab tidak tahu, ia mematahkan sehelai daun dari salah
satu pohon tersebut dan menunjukkan kepadaku bahwa di bawah daun itu
terdapat sebuah daun kecil yang tumbuh pada tangkai yang sama. Itu artinya
pohon ini memiliki buah yang asam.

Kami terus berjalan menuju Plaza de los Vene-rables. Di sana pernah berdiri
sebuah rumah sakit untuk para pendeta yang telah pensiun. Ada dua buah
restoran di lapangan itu dan dua pohon jeruk. Kami duduk di salah satu meja di
luar dan memesan segelas manzanilla sebelum memesan makan malam. Sekali
lagi kami memulai topik mengenai evolusi kehidupan; kurasa, Franklah yang
memulai percakapan

itu, mungkin agar uang yang kuinves-tasikan dalam perjalanan ke Sevilla ini
membuahkan hasil. Banyak dari apa yang kami diskusikan malam itu berguna
untukku sejak saat itu. Di sinilah ia menceritakan kepadaku tentang tuatara di
Selandia Baru.

Sejauh ini, kupikir, pertemuanku dengan Frank di Madrid tidak lain merupakan
kesempatan menggembirakan yang murni dan tak ternoda. Tetapi, saat yang
menentukan hampir tiba, karena saat itu hampir pukul sembilan. Setelah
membayar makan malam, aku membawa Frank melalui ganggang sempit dan
keluar ke Plaza Santa Cruz. Aku menunjukkan kepadanya betapa dekat kami
dengan dinding tinggi yang memisahkan kami dari Taman Alcazar, dan
khususnya dengan Jardin de los Poetas.

“Saya rasa, Anda punya sisik di depan mata,” ujarku.

Ia tidak mengerti apa yang kumaksud, maka aku menyuruhnya untuk


memerhatikan sekelilingnya baik-baik. Ia menunjuk ke arah salib besi besar di
tengah-tengah lapangan, dan aku memberitahunya bahwa Prancis telah
membakar gereja tua yang pernah berdiri di situ. Itulah asal-usul nama lapangan
dan distrik itu. Kami berjalan mengitari lapangan yang mengelilingi salib
baroque tersebut. Kemudian, tiba-tiba ia melihat sesuatu. Ia menatapku dengan
kilatan di matanya, lalu menghilang ke dalam tabtao flamenco itu, Los Gallos.

“Pikiran saya begitu dipenuhi oleh lukisan-lukisan Goya itu!” ia berseru sambil
menepuk dahinya. “Saya lupa bahwa ia adalah salah satu penari

flamenco yang terkenal di Sevilla!”

Sambil bermain-main, aku memukul bahunya. “Ini akan menyenangkan!”


ujarnya, tetapi aku tidak terlalu yakin ia tidak akan menarik kembali kata-
katanya nanti.

Selain sekelompok turis Jepang, bar flamenco itu tidak terlalu penuh, dan kami
pun duduk di sebuah meja yang telah kupesan tepat di depan panggung. Kami
masing-masing memesan segelas brendi, dan Frank tidak mengatakan apa pun,
hanya mengangkat gelasnya ke arahku dengan penuh harap.

Dengan segera acara pun dimulai. Pertama-tama, tiga lelaki yang mengenakan
celana panjang hitam dan kemeja putih datang berbaris menuruni tangga dari
sebuah galeri di ujung lain ruangan itu. Mereka berjalan melalui para penonton
dan mengambil posisi di atas panggung. Salah seorang dari mereka membawa
sebuah gitar, sementara dua yang lain tidak membawa instrumen apa pun kecuali
suara mereka yang penuh perasaan dan irama yang dibawakan oleh kelima jari
mereka. Sang pemain gitar mulai memainkan gitarnya, sementara kedua
rekannya bertepuk tangan dan menjentikkan jari mereka.

Kemudian, wanita itu pun muncul, dengan gemulai dan anggun bagaikan
seorang dewi. Ana turun menuju panggung melalui sebuah tangga melingkar,
diiringi tepuk tangan meriah dari orang-orang Jepang itu, yang tampak jelas
mengenali dirinya sebagian besar karena dirinyalah mereka telah melakukan
perjalanan jauh dari Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Ana mengenakan rok merah, syal
merah jambu, dan sepatu merah menyala. Rambut hitamnya diikat membentuk
ekor kuda dan dihiasi dengan sekuntum mawar.

“Ana!” Frank berbisik saat wanita itu melangkah ke atas panggung.

Aku mengangguk. “Ana Maria Maya.”

“Itukah namanya?”

Aku mengangguk sekali lagi.

“Maya?”

“Ssst!”

Ana mulai menari. Tariannya sungguh enerjik dan lebih rumit daripada yang
kulihat minggu sebelumnya. Aku memerhatikan adanya kontras yang tajam
antara ekspresi muka yang kaku dan penuh konsentrasi dengan gerakan tangan
yang gemulai, ditambah lagi permainan jari yang elegan, yang mengingatkanku
akan sebuah tahan kuil dari India yang pernah kusaksikan di Orissa.

Acara dilanjutkan dengan tarian-tarian lain, dengan penari-penari yang lain,


tetapi Ana Maria Mayalah yang menjadi bintang terbesar malam itu. Ana menari
dengan lengan dan tangannya, kaki dan jemarinya, perut dan pinggul. Ia tampak
angkuh, ia kejam, ia menggoda, ia jinak. Analah yang paling ingin kutunjukkan
kepada Frank di Sevilla. Aku ingin menunjukkan kepadanya keanggunan
anggota-anggota tubuh sang vertebrata pasca hewan yang elastis. Sang amfibi
pertama seharusnya menyaksikan ini, pikirku tahan flamenco cucu buyutnya di
Sevilla dengan menggunakan setiap anggota dari tetrapodanya, setiap otot dan
tulang belakang, setiap sinapsis yang bekerja sama dalam otak. Tetapi, para
amfibi pertama itu tidak banyak tahu ke mana mereka menuju ketika, dalam
remang-remang Devon, mereka merayap tanpa curiga melalui tumbuhan paku-
pakuan dan lumut-lumutan menuju kencan cinta mereka di tepi kolam-kolam
dan kubangan-kubangan besar. Yang kami saksikan adalah sebuah tahan
kemenangan yang penuh kebanggaan, angkuh dan flamboyan, dan Proto
Amphibia dan Proto Amphibius memiliki alasan yang kuat untuk ikut
bergembira bagi semua berudu yang tidak lama lagi akan memenuhi Danau
Paku-Pakuan dan Kolam Ilalang, karena benih mereka tidak tertanam dengan
sia-sia. Yang kami saksikan itu bukan hanya sebuah tahan kemenangan,
melainkan juga derita kematian seorang vertebrata yang hidupnya singkat,
karena tidak lama lagi sebuah lagu yang rendah, serak, dan mendesakpun
dimulai, sebuah lagu mengenai cinta dan kematian, pengkhianatan dan
penindasan.

Kemudian, datanglah waktu istirahat. Setelah mendapatkan tepuk tangan, Ana


mengikuti para pemain musiknya ke galeri atas, tetapi tepat pada saat itu, Jose
mendatangi meja tempat kami duduk. Ia menggendong seorang bayi kecil di
tangannya, dan mata Frank pun terbuka lebar karena keheranan. Bayi itu baru
berusia dua atau tiga bulan. Tanpa menyapa Jose, Frank menatap si bayi lalu ke
Jose.

“Apakah dia … anak Anda?” tanyanya. Jose mengangguk dengan bangga dan
meringis. “Ini Manuel,” ujarnya, lalu ikut duduk di meja

kami.

Tidak lama kemudian, Ana datang dan bergabung dengan kami.

“Senang sekali bertemu dengan Anda, Frank! Ini suatu kejutan.”

Frank duduk di sana dengan wajah tanpa ekspresi.

“Berapa usianya?” Pertanyaannya ini seakan ditujukan kepada dirinya sendiri


sekaligus kepada kedua orangtua yang berbahagia itu.

“Sepuluh minggu,” ujar Ana.


Ahli biologi itu mulai menghitung dengan jarinya. “Apakah kalian mengetahui
hal ini di Taveuni?”

Pertanyaannya tidak terjawab karena tepat pada saat itu, seorang wanita elegan
membawa sebuah tas selempang besar memasuki ruangan dan berjalan ke arah
meja kami. Itu adalah Vera. Perutnya yang besar jelas-jelas menunjukkan
kehamilan yang hanya tinggal dua bulan lagi akan berakhir.

“Vera?”

Untuk kedua kalinya hari itu, Frank menggosok-gosok kepalanya dan tampak
terperangah. Mungkin ia mengalami sebuah deja vu lain, karena bukan pertama
kalinya ia melihat Vera dengan perut membuncit.

Vera membungkukkan badan dan memberinya sebuah pelukan. Aku berkata,


“Namanya telah ada di dalam bukuku sejak aku kembali dari Fiji. Kemudian,
aku meneleponnya beberapa kali dari Madrid setelah kita berdua bertemu
kemarin siang. Menurutku, kita berlima harus bertemu. Atau kita berenam. Atau
tujuh. Baru tadi malam aku mengundangnya ke Sevilla.”

Aku tahu Frank tidak pernah bertemu Vera sejak pertemuan mereka di
Salamanca. Tatapannya kini berkali-kali kembali mengarah ke perut si wanita
yang tengah hamil, dan saat ia memalingkan tatapannya dari Vera, aku dapat
melihat kesedihan yang mendalam di wajahnya. Ia berusaha keras untuk
mempertahankan ketenangan sosialnya saat menoleh kepada Vera dan
menganggukkan kepala ke arah perut si wanita.

“Selamat,” ujarnya lemah.

Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arahku dan menatap kedua mataku


dengan tatapan marah. Aku tidak dapat mengatakan dengan pasti apakah ini
karena aku telah mengundang sang ibu hamil itu ke Sevilla, atau karena aku
telah merahasiakan hal ini kepadanya.

Vera tersenyum tidak nyaman. Hal itu membuatku sedikit tidak enak karena
akulah yang menyebabkan dirinya berada di situ. Ia bahkan tidak mendapat
kesempatan untuk menjawab ucapan selamat Frank karena sang gitaris dan
kedua cantaor yang berdiri tegak itu sekali lagi turun dari galeri, berjalan
melintasi ruangan itu, dan menaiki panggung. Setelah mereka menempati posisi
mereka, barulah sang ratu flamenco sendiri berjalan ke atas panggung. Ia
menuruni tangga melingkar itu bak

seorang diva ex machina.

Vera duduk di antara Frank dan aku dan menatap kami berdua sebelum akhirnya
berbisik, “Kurasa, aku pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.”

Walaupun jelas mengalami trauma mental, Frank tidak kuasa untuk tidak
tersenyum. Ia menatap ke arahku di seberang meja, tidak diragukan lagi kami
berdua teringat betapa, secara terpisah, kami telah berkeliling Maravu sambil
berusaha mengingat-ingat di mana kami pernah melihat Ana sebelumnya.

Ia memandang Vera, dan sekarang, baru sekarang, ia berkata, “Coba pikirkan


tentang Prado.”

“Tentang Prado?”

“Tentang Goya, kalau begitu.”

Mata Vera terbelalak. Kemudian dengan suara begitu keras sehingga aku
khawatir suaranya dapat didengar dari atas panggung, ia berkata, “La Maja
Desnuda!”

Baik Frank maupun diriku mengangguk dengan bangga, seolah-olah kamilah


yang bertanggung jawab telah mereinkarnasikan model Goya yang diselubungi
mitos itu. Maka, sekarang Frank bahkan tidak perlu membawaku ke Prado.

“Ia benar-benar persis sama!” bisik Vera.

“Ssst!” ujarku, dan tahan pun dimulai kembali.

Ketika pertunjukan itu berakhir satu setengah jam kemudian, saat itu pukul
setengah dua pagi. Kini sebuah meja panjang di bar telah dipenuhi dengan

tapas dan manzanilla. Ana dan Jose tetap tinggal di belakang sementara Frank,
Vera, dan aku mendapat kesempatan yang benar-benar dibutuhkan untuk
melakukan analisis situasi. Aku merasa bertanggung jawab atas kejadian yang
telah kudalangi ini dan juga merasa bahwa mereka mungkin membutuhkan
seorang ketua.

“Sekarang janganlah merasa malu dengan kehadiran saya di sini,” ujarku.


“Walau bagaimanapun, saya adalah satu-satunya orang yang mengetahui latar
belakang dari kedua belah pihak. Itu sering terjadi ketika ada dua orang dewasa
yang tidak dapat berbicara kepada satu dan yang lain.”

Mereka berdua sama-sama gugup, seperti anak sekolah yang digiring ke hadapan
seorang kepala sekolah yang galak. Aku tidak akan menyembunyikan kenyataan
bahwa aku sedikit menikmati situasi yang kulihat ini.

“Mungkin engkau benar mengenai hal itu,” komentar Frank.

Sekali lagi ia mengangguk ke arah perut Vera.

“Hanya beberapa minggu yang lalu kita berbicara di telepon, dan itu adalah
sebuah percakapan yang sangat menyenangkan. Menurutku, alangkah baiknya
jika engkau saat itu memberitahuku bahwa engkau hamil.”

Mendengar hal ini, si wanita berubah menjadi sangat serius.

“Aku terlalu pengecut,” si wanita mengakui. “Aku takut.”

Si lelaki melirik ke arahku sebelum sekali lagi

mengalihkan pandangannya ke si wanita.

“Kuyakin anak ini memiliki seorang ayah.” “Frank ….”

“Tapi memang periode perpisahan kita telah berakhir. Maka aku baik-baik saja.
Engkau bebas untuk menikah lagi.”

Si wanita menatapku kebingungan, tetapi aku tidak ingin lagi membantunya;


mereka harus bisa mengatasinya sendiri. Aku hanya mengangguk kembali ke
arahnya dengan yakin.

Ia meraih tangan Frank, dan si lelaki dengan segera menariknya kembali, tetapi
mata si wanita memohon pengertian saat menatapnya. “Ini adalah anakmu,
Frank.”
Selama beberapa saat, rona wajah si lelaki mengingatkanku akan rona wajah
Ana, sebelum ia jatuh pingsan di atas meja sarapan di Taveuni. Kemudian, kedua
pipinya memerah dan napasnya sedikit memburu. Seakan-akan aku dapat
mendengar tekanan darahnya meningkat, dan untuk sesaat, aku khawatir ia akan
menampar si wanita. Kemudian, ia berkata dengan tegas, “Itu tidak mungkin.”

Si wanita menggelengkan kepalanya.

“Apakah engkau tidak dapat menghitung?” ujarnya.

“Tapi … kau bercanda!”

Kira-kira pada saat ini aku memanggil seorang pelayan dan memesankan segelas
brendi lagi untuk Frank. Ia perlu ditenangkan.

Kini Vera mulai menjelaskan segalanya.

“Tentunya engkau belum lupa saat kita menghabiskan malam itu bersama di
Salamanca. Engkau kan tidak menghabiskan begitu banyak anggur.”

Si lelaki menoleh ke arahku. “Apakah engkau benar-benar ingin mendengarkan


semua ini?”

“Ya,” hanya itu yang kuucapkan.

Si wanita melanjutkan, “Tidak, aku tidak berani memberitahumu, Frank. Kita


telah membuat sebuah janji tulus untuk tidak bersama lagi. Dan kemudian kita
menyadari bahwa kita berdiri mematung di depan pintu kamar hotelku.
Pilihannya adalah engkau pergi ke kamarmu sendiri atau masuk bersamaku.
Engkau masih ingat? Kita benar-benar setuju bahwa apa yang kita namakan
sebagai selingan ini tidak akan menjadi sebuah awal dari sebuah penyatuan
kembali. Karena kita sudah benar-benar berpisah.”

“Setidaknya itulah yang kita katakan,” Frank mengakui.

“Kemudian, aku meyakinkanmu bahwa tidak akan ada masalah dengan


kontrasepsi malam itu. Bagiku, saat itu adalah salah satu hari teraman dalam
bulan itu. Ketika, entah bagaimana, aku menjadi hamil, aku pun langsung
memikirkan Sonja. Aku menginginkan bayi ini, aku yakin akan hal itu. Aku siap
untuk menjadi seorang ibu tunggal, dan tentu saja aku akan memberitahumu
segera setelah kelahiran. Tetapi, aku harus menunggu, masih ada kemungkinan
sesuatu yang salah terjadi, maksudku … Tadinya aku akan membiarkanmu
memutuskan berapa banyak kontak yang kau inginkan dengan anak ini. Aku
sungguh-sungguh bermaksud demikian.”

Frank tidak berusaha menyembunyikan ta—

ngisnya.

“Lanjutkanlah,” ujarnya.

“Kemudian, seorang bernama John Spooke menelepon dan berkata bahwa ia


pernah bertemu denganmu di Fiji dan bahwa tanpa disangka-sangka ia telah
bertemu denganmu lagi di Madrid. Ia berkata bahwa engkau mungkin akan
menghabiskan akhir minggu ini di Sevilla, dan ia pun mengundangku kemari
untuk menghadiri apa yang ia sebut sebagai ‘pertunjukan flamenco terbesar abad
ini’. Dan ia tidak melebih-lebihkan, wanita itu sungguh luar biasa. Kupikir,
mungkin ini akan memberiku kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Itu
terjadi kemarin sore, tetapi kemudian ia menelepon lagi di tengah malam, hanya
untuk memberitahukan bahwa engkau pasti akan datang ke Sevilla. Ia telah
memesan sebuah tiket pesawat yang dapat kuambil di Bandara Barcelona. Ia
juga mengatakan bahwa menurutnya engkau masih mencintaiku. Kemudian, ia
memarahiku atas tingkah laku kita berdua setelah kecelakaan itu di Oslo.”

Karena si lelaki tidak langsung menjawab, Vera pun berkata, “Dapatkah engkau
memaafkanku, Frank? Kehamilanku ini tidak memiliki ikatan apa pun, tidak
dengan dirimu. Tetapi, dapatkah engkau memaafkanku?”

“Berapa lama engkau akan tinggal di sini?” tanya si lelaki.

“Aku tidak tahu. Tiket pulangku untuk hari Minggu pukul setengah empat. Dan
kau?”

“Aku tidak tahu. Hingga Senin mungkin.”

Ternyata mereka masih membutuhkan seorang perantara.

“Kalian berdua harus tinggal di sini tepat untuk jangka waktu yang sama, dan
kemudian kalian harus memutuskan apakah kalian akan kembali ke Oslo atau
Barcelona. Jika tidak, saya ingin seluruh biaya yang saya keluarkan
dikembalikan.”

Kami tidak dapat membahasnya lebih lanjut karena tepat pada saat itu, kami
dipanggil untuk mendatangi meja besar yang dipenuhi dengan piring dan gelas,
tapas dan manzanilla. Namun, aku melihat Frank meletakkan telapak tangan
kanannya di atas perut Vera yang bulat dan si wanita pun meletakkan tangannya
di atas tangan si lelaki.

Hal ini mengingatkanku akan sesuatu yang dikatakan Ana di dalam mobil yang
berjalan dari dateline menuju Maravu, menurut surat Frank: “Dalam kegelapan
perut yang membesar, selalu ada beberapa juta kepompong kesadaran dunia baru
yang berenang-renang. Para peri yang tak berdaya itu ditekan keluar satu demi
satu setelah mereka matang dan siap untuk bernapas. Setelah itu, mereka tidak
dapat menerima makanan apa pun selain susu peri manis yang mengalir dari
sepasang kuncup lembut daging-peri.”

Sebuah pemikiran lain muncul di benakku. Ketika kami semua duduk-duduk di


pepohonan palem di Maravu dan semua orang mengutarakan keyakinan mereka,
Ana mengungkapkan keyakinannya akan adanya sebuah realitas di balik realitas
ini. “Mungkin kita akan bertemu kembali di sebuah

tempat lain dan teringat bahwa ini hanyalah sebuah mimpi,” ujarnya. Jadi,
mungkin aku bisa dibenarkan untuk memanfaatkan kebebasan menulis dengan
membiarkan Frank mengubah sedikit pernyataannya itu di dalam surat
panjangnya untuk Vera. Karena sekarang kami semua berkumpul di sini, dan
Ana belum meninggal.

Kami minum banyak manzanilla malam itu dan menghidupkan kembali banyak
memori akan Fiji. Di antara kami ada seseorang yang tidak hadir di sana, yaitu
Vera, dan ia ingin mendengar segalanya dari semua orang. Ia sangat terhibur
ketika kami menjelaskan tentang Bill dan Laura, tetapi aku menahan diri untuk
tidak menceritakan kepadanya bahwa Frank dan Laura pergi ke pondok Frank
dengan sebotol anggur yang mereka ambil dari pesta.

Ana dan Jose mengunjungi Taveuni untuk membuat sebuah film dokumenter
mengenai abad ke-21, dan salah satu klipnya direkam pada dateline di pulau itu.
Program itu telah lama dibuat dan disiarkan, dan Jose memberikan satu buah
kopi kepada Frank. Dengan bangga, Ana menambahkan bahwa serial mengenai
Fiji tersebut mengikutsertakan sebuah wawancara pendek dengan Frank. Ia
membicarakan keanekaragaman hayati dan ancaman terhadap habitat-habitat
tradisional di Oseania.

Aku dan Frank menjelaskan bahwa kami berdua sama-sama memiliki suatu
perasaan kuat bahwa kami pernah melihat Ana sebelum bertemu dengannya di
Taveuni.

“Oh, tidak, jangan!” Ana tertawa.

Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya dan berkata, “Anda


pasti tidak tahu betapa sering orang-orang mengatakan hal itu kepadaku.”

Aku menjelaskan bagaimana aku mengakses internet dan hanya dalam beberapa
menit menemukan beberapa gambar maja milik Goya yang begitu jernih. Aku
juga menggali beberapa materi mengenai bailaora terkenal Ana Maria Maya.

“Kemudian, Anda meletakkan jari Anda di dahi Ana dan secara tidak langsung
mengumumkan bahwa Anda telah menemukan sebuah artikel internet mengenai
dirinya,” komentar Jose. “Saya menghubungkan sikap Anda ini dengan
komentar Anda berdua kemudian yang cukup berlebihan bahwa Anda pernah
melihat dirinya sebelumnya, dan saya tahu betapa Ana sangat tidak suka
dikenali, baik sebagai bailaora dari Sevilla maupun sebagai maja milik Goya.
Saya rasa, Anda bahkan sudah mulai mendeskripsikan Ana sebagai sebuah
‘karya agung’? Tapi, kita kan tengah berada di Fiji, di Fiji, demi Tuhan! Bahkan
internet pun dapat disalahgunakan.”

“Apakah saat itu kalian tahu bahwa Ana hamil?” Frank bertanya lagi.

Mereka berdua menggelengkan kepala.

“Tetapi, mungkin itulah mengapa Anda pingsan di meja sarapan?”

Joselah yang memberi jawaban.

“Benar, kami menyadari hal itu setelahnya. Saya begitu ketakutan ketika ia
mendapatkan serangan itu. Saya pikir, Ana terkena syok anaphylactic

karena ia memang selalu alergi terhadap gigitan serangga. Saat itu memang saya
tidak berpikir terlalu rasional, tetapi saya rasa sebuah tamparan keras mungkin
dapat mengalirkan adrenalinnya.”
Maka, percakapan pun mengalir ke sana-kemari, dan botol-botol di atas meja
terus-menerus ditambah. Frank bahkan didenda karena mengintip Ana melalui
sela-sela jarinya ketika Ana tengah berenang di Air Terjun Bouma.

“Saat itulah saya menyadari bahwa hanya wajah Andalah yang saya kenali,” ia
menyatakan. “Sehari-hari saya bukanlah seorang tukang intip.”

Ana tertawa.

“Saya menjadi bertambah mirip maja milik Goya beberapa minggu kemudian.”

Pesta itu berakhir sekitar pukul empat pagi, dan aku harus mengantarkan Frank
dan Vera kembali melalui ganggang sempit menuju Hotel Dona Maria. Ketika
kami bertemu dengan penjaga malam hotel, ia memberitahukan bahwa tidak
seorang pun muncul untuk mengklaim kamar ketiga yang telah aku pesan. Frank
dan Vera saling berpandangan selama beberapa saat; mungkin mereka berpikir
bahwa mereka pernah menghadapi masalah serupa di luar sebuah kamar hotel di
Salamanca tiga perempat masa kehamilan yang lalu. Kemudian tawa mereka pun
meledak.

“Kurasa, kamarnya cukup untuk kita semua,” ujarku. “Tetapi, mungkin kalian
dapat mencarikan seorang istri untuk saya?”

Hal terakhir yang kuucapkan kepada Frank dan

Vera sebelum kami pergi tidur adalah bahwa aku memiliki sebuah kartu pos
bergambar pemandangan La Sagrada Familia yang telah kumal di atas mejaku di
rumah di Croydon, dan bahwa aku harus ingat untuk mengembalikannya pada
suatu hari.

Matahari telah tinggi di atas kota itu ketika kami berangkat untuk melakukan
perjalanan panjang pagi itu sebagai satu keluarga besar. Ana dan Jose menemui
kami di Dona Maria dengan Manuel di dalam sebuah kereta bayi bergaris-garis
merah dan hitam, dan dengan segera kami berjalan melintasi Plaza Virgen de los
Reyes, melalui Archivo de Indias ke Puerta Jerez, dan terus ke Paseo de las
Delicias yang mengikuti Guadalquivir. Kemudian, kami memasuki Taman Maria
Luisa, oasis hijau terbesar di antara banyak taman yang dimiliki Sevilla. Pada
awalnya taman itu disumbangkan kepada kota itu oleh Putri Maria Luisa pada
1893 dan di kemudian hari menjadi lokasi pameran besar Ibero Amerika pada
1929. Dengan jalan-jalan setapaknya yang bagai labirin, rumah-rumah musim
panas dan paviliun, gua-gua kecil dan bukit-bukit buatan, bunga-bunga dan
semak-semak, pepohonan yang teduh dan pohon-pohon yang tak terhitung
banyaknya, Maria Luisa kini adalah salah satu taman paling rimbun di Eropa.

Dari paviliun-paviliun yang ada, sebuah paviliun Meksiko yang terinspirasi oleh
Maya menarik perhatian kami. Jose menjelaskan bahwa paviliun itu

telah digunakan sebagai klinik bersalin setelah Pameran Dunia, dan sang ibu
muda dan sang calon ibu mendengarkan fakta itu dengan penuh perhatian. Frank
berkomentar bahwa “maya” adalah kata yang digunakan baik oleh kaum Indian
Amerika maupun India di Asia, walaupun tentu saja tidak ada hubungan
linguistik sedikit pun. Jose mengatakan bahwa pernyataan Frank cukup tidak
berperasaan dan menjawab bahwa kata dalam bahasa Spanyol “flamenco” juga
berarti flamingo, tanpa ada hubungan etimologi sedikit pun. Ana dan Jose
menceritakan ziarah yang pernah mereka lakukan ke Saintes Mariesdela Mer. Di
sana Ana menari flamenco dalam sebuah konvensi besar para gipsi dari seluruh
Eropa. Di Carmargue, mereka juga berhasil melihat flamingo-flamingo dari delta
Rhone.

Kami berjalan menuju Plaza de America di depan Museum Arkeologi. Seluruh


tempat itu dipenuhi burung merpati putih, dan Ana membawa sekantung biji-
bijian untuk makanan burung. Dengan segera ia pun hilang di tengah awan putih
keturunan para dinosaurus yang sibuk mengepak-ngepakkan sayap, dan sekali
lagi Frank menyinggung tentang foto burung merpati berdada Jingga yang
berhasil diambil oleh Laura.

Dari Plaza de America, kami pun memasuki taman itu sendiri. Ana dan Jose
bergantian mendorong kereta bayi mereka, sementara Frank dan Vera
menunjukkan lebih banyak perhatian terhadap satu sama lain. Namun, mereka
sama-sama tak menyadarinya karena Frank selalu menatap Vera ketika si

wanita tengah memalingkan muka, dan Vera hampir selalu mencuri pandang ke
arah si lelaki saat gilirannya untuk mengintip ke dalam kereta bayi atau
berpaling kepada Ana dan Jose. Satu-satunya yang mereka hindari adalah saling
menatap ke dalam mata masing-masing.

Akulah yang meminta Ana dan Jose untuk menceritakan sedikit mengenai asal
mula flamenco di Andalusia. Mereka menjelaskan tentang El Planets dan sang
aficionado terkenal Serafin Esteba-nez Calderon, yang mendapat nama
panggilan El Solitario, “Si Penyendiri”. Dalam buku Andalucian Stories yang
ditulis pada pertengahan abad yang lalu, ia memberikan banyak gambaran yang
sangat hidup mengenai lingkungan flamenco di Sevilla pada masa itu, dan tidak
hanya dalam kisah Un baiie en Triana, atau “Sebuah Perayaan di Triana”. El
Solitario memang layak disebut sebagai flamencologis yang pertama.

“El Planeta dan El Solitario?” ulang Frank.

Ana mengangguk penuh arti, tetapi Frank terbukti pandai mengenali adanya
suatu hubungan.

“Mengingatkanku akan Laura,” ujarnya. “Ia selalu membaca buku Lonely


Planet.”

“Mengagumkan,” Jose mengakui, karena ia pun dapat menemukan hubungan itu.

Kami berdiri sambil menatap sebuah papan pengumuman yang memuat daftar
semua burung penghuni taman itu, dan kurasa di tempat inilah Frank
menyinggung tentang orang kerdil aneh yang kami lihat di Taman Alcazar.

Ana meringis.

“Ia memang tinggal di sana,” ujarnya.

“Tinggal di sana?” “Ya, setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang. Ia


berjalan-jalan mengelilingi taman dan mengambil foto-foto Polaroid para turis,
kemudian menjual foto-foto itu dengan harga mahal di pintu keluar. Kata
mereka, ia tinggal di Galeria del Grutesco. Ia telah beroperasi di taman itu
selama yang dapat kuingat dan tidak ada yang tahu berapa usianya.”

Kami masuk ke Plaza de Espana yang dibangun untuk pameran besar Ibero-
Amerika. Plaza berbentuk bulan sabit ini dikelilingi kanal-kanal dengan
jembatan-jembatan yang terinspirasi dari Venesia dan sebuah istana bulan sabit
yang dibangun untuk menyimpan hasil industri dan kerajinan tangan Spanyol
pada saat Pameran Dunia. Gedung yang megah ini, yang menghadap matahari
dan Guadalquivir, terpisahkan dari plaza oleh empat buah barisan tiang, yang
masing-masing memiliki tiga belas pilar ganda.

Kami melintasi salah satu jembatan itu, dan Ana dan Jose membawa kami
mendekati barisan tiang di sebelah kiri. Mereka menunjukkan bahwa di bawah
pagar pembatas terdapat mozaik keramik rumit yang menggambarkan kejadian-
kejadian sejarah paling penting di setiap provinsi di Spanyol lengkap dengan
peta dan lambang provinsi itu. Jose memberi tahu kami bahwa Spanyol memiliki
lima puluh provinsi ditambah dua buah kota otonomi Spanyol, Ceuta dan Melilla
di Moroko.

“Jadi, ada lima puluh dua,” ujar Frank. “Sama dengan jumlah kursi di Dewan
Perwakilan Rakyat Fiji.”

Permainan mencari hubungan yang dilakukan Frank dan Jose ini telah berubah
menjadi semacam kompetisi, dan Jose pun menjawab:

“Atau jumlah kartu dalam satu set. Kami me-ngalahkanmu tanpa ampun.”

Aku memiliki alasan untuk merasa bahwa segala perbincangan mengenai maya
dan kini angka lima puluh dua ini benar-benar menghibur. Dan kurasa, aku
mengalahkan mereka semua ketika mengatakan: “Atau dalam penanggalan
Maya kuno. Tahun astronomi memiliki 365 hari, tetapi mereka juga memiliki
tahun ritual yang berlangsung selama 260 hari. Maka, agar angka-angkanya
cocok, penanggalan mereka memiliki siklus lima puluh dua tahun.”

Ana menatapku, dan sekali lagi aku merasa seolah-olah melakukan kontak mata
dengan maja milik Goya.

“Anda bercanda, kan?” ujarnya.

Tetapi, aku menggelengkan kepala.

“Lima puluh dua tahun astronomi sama dengan 18.980 hari, dan jika
membaginya dengan 260 hari penanggalan festival, Anda akan mendapatkan
tujuh puluh tiga tahun ritual. Dua ratus enam puluh hari itu juga dibagi menjadi
tiga belas bulan.”

Kini, saat kami tengah membicarakan penanggalan dan perhitungan waktu, dan
karena aku masih memegang kendali pembicaraan, aku pun melanjutkan,
“Kalian ingat bagaimana orang-orang telah mulai merencanakan milenium yang
baru di Fiji?”

“Itulah mengapa kami pergi ke sana,” Jose berkomentar. “Selain Antartika dan
sepetak kecil Siberia, Fiji adalah satu-satunya potongan daratan yang terbagi dua
oleh garis bujur 180°. Tempat itu adalah satu-satunya tempat di Bumi yang di
sana Anda dapat menyeberang dari satu hari ke hari lain tanpa harus
mengenakan sepatu salju.”

Aku mengangguk sabar.

“Tetapi, apakah Anda sudah mendengar kabar terakhir?”

Jose menggelengkan kepalanya, dan aku berkata, “Karena adanya kerumitan


dalam dateline, waktu musim panas, dan waktu terbit matahari, telah timbul
kompetisi yang sengit antara beberapa pulau di Pasifik mengenai siapa yang
akan menjadi yang pertama memasuki tahun 2000. Sesungguhnya, hanya
Taveuni dan beberapa pulau di Fiji lainnya yang benar-benar terletak pada garis
bujur 180°. Namun, hanya demi mengalahkan Tonga dan Pulau Little Pitt yang
sangat kecil, sejak tahun ini untuk pertama kalinya mereka memajukan waktu
mereka satu jam. Tetapi tidak hanya itu ….”

“Ayo, lanjutkanlah!” ujar Frank. “Kuharap, Anda tidak akan mengatakan bahwa
mereka telah membangun sebuah hotel mewah di dateline?”

“Tidak, tidak juga. Tetapi, mereka akan mendirikan sebuah ‘Monumen


Milenium’ pada garis bujur 180° tepat di tempat Ana mewawancarai Frank
mengenai spesies hewan yang terancam di Oseania. Siapa pun yang ingin, dapat
memasukkan sebuah

kapsul waktu di dalamnya, yang tidak akan dibuka selama seribu tahun. Anda
dapat menuliskan sambutan untuk milenium keempat dan meletakkannya di
dalam sebuah wadah yang terbuat dari gelas. Wadah tersebut dimasukkan ke
sebuah rongga di dalam batu bata. Rongga itu kemudian ditutup dan batu bata itu
dipakai untuk menyusun monumen tersebut. Satu kapsul waktu hanya berharga
lima ratus dolar, dan ada sebuah organisasi yang akan menjaga monumen itu
selama seribu tahun mendatang. Mereka juga menjamin bahwa kapsul-kapsul
waktu itu akan dibuka dengan sebuah upacara yang layak pada hari Tahun Baru,
tahun 3000.”

“Saya tidak tahu apakah ada sesuatu yang ingin saya sampaikan melalui kapsul
waktu itu,” ujar Jose. “Saat itu masih lama sekali. Bagaimana dengan Anda?”

“Saya merencanakan untuk menyimpan sebuah manifesto dari abad ke-20,”


ujarku.
“Sebuah manifesto?” tanya Jose. “Sebuah pernyataan politik?”

Aku menggelengkan kepala.

“Saya telah menyusun semacam abstraksi dari konferensi tropis yang kita
laksanakan di Maravu Plantation Resort. Tidakkah Anda semua berpikir bahwa
kita berutang kepada Fiji untuk meninggalkan sebuah resume singkat?” Mereka
tertawa.

Ana menjelaskan bahwa provinsi-provinsi di Spanyol dipertunjukkan secara


berurutan dari Alava hingga Zaragoza, dan sementara kami semakin

mendekati barisan tiang-tiang itu, ia menunjuk ke arah pagar dan mulai


menyebutkan: “Alava, Alba-cete, Alicante, Almeria, Avila

Kalimatnya terputus oleh Vera.

“Saya dilahirkan di Almeria!” teriaknya, “di sebuah kota kecil bernama Vera.
Itulah mengapa saya dinamai sesuai dengan kota itu.”

Kemudian ia bergegas mendekati peta Almeria dan menunjuk ke arah kota yang
bernama Vera.

Sementara kami berdiri di hadapan potongan yang menceritakan Alava, Ana


menatap ke arah Jose dan berkata, “Bolehkah aku memberi tahu mereka sebuah
rahasia?”

Kami masih ingat betapa Jose terus-menerus mencegah Ana menjawab beberapa
pertanyaan kami di Taveuni. Kini yang ia lakukan hanya mengangkat bahu
sebagai tanda bahwa si wanita tidak perlu lagi membungkam.

“Kami berjalan-jalan ke sini hampir setiap Minggu,” ujar si wanita. “Dan,


selama bertahun-tahun, kami menciptakan cerita-cerita pendek bagi setiap
provinsi di Spanyol. Ketika bepergian, kami mencoba mengingat-ingat semua
cerita itu dalam urutan yang tepat. Atau kami akan menciptakan cerita yang
sama sekali baru.”

Frank dan aku saling bertatapan penuh arti. Bahkan gumaman kedua orang
Spanyol yang tanpa henti itu akhirnya mendapatkan penjelasan. Aku masih tidak
dapat mengerti apa yang mereka katakan, tentu saja, itu adalah satu alasan yang
sangat bagus mengapa aku membutuhkan Frank sebagai

seorang penerjemah dan perantara, ini adalah sebuah fungsi yang untungnya
masih tidak ia sadari.

Kami mulai berjalan perlahan melalui provinsi-provinsi di Spanyol. Ana dan


Jose menunjuk ke arah mozaik-mozaik tersebut dan menceritakan dongeng
pendek, legenda, atau anekdot dari setiap provinsi.

Kini Frank dan Vera mulai bergantian mendorong kereta bayi Manuel. Aku
merenungkan bahwa jika saja bukan karena meteor yang menabrak Bumi enam
puluh lima juta tahun yang lalu, mereka mungkin akan mendorong sebuah kereta
telur sekarang, karena dinosaurus pun pada akhirnya akan menciptakan roda.

Saat kami tiba di Zamora tepat di sisi plaza yang berlawanan, mereka berdua
mendorong kereta itu. Namun, barulah saat kami berdiri di hadapan Zaragoza
dan Jose menceritakan katedral Nuestra Senora del Pilar yang cantik dengan
lukisan-lukisan dinding karya Goya, mereka mengambil keputusan. Saat
mengembalikan kereta bayi itu kepada Ana, mereka bergandengan tangan dan
menatap dengan yakin ke dalam mata masing-masing. Kini setengah dari
lingkaran telah sempurna. Setengah sisanya adalah surat Frank untuk Vera.
Bukan niatku untuk menyatukan kedua potong setengah lingkaran itu agar
menjadi utuh. Aku tidak menyangka akan bertemu Frank di Rotunda di Hotel
Palace. Begitu terjadi, hal itu menimbulkan banyak sekali sakit kepala bagiku,
tetapi juga memberiku banyak ide baru.

Jose menanyakan kepadaku bagaimana kemajuanku dengan buku yang baru


mulai kubuat cata—

tannya saat kami bertemu di Fiji, dan sekali lagi aku mengangkat jariku ke bibir
dan menyatakan bahwa aku tidak pernah membicarakan apa yang sedang
kukerjakan.

“Saya hanya bertanya bagaimana kemajuannya,” Jose mengulangi.

Kini, dengan semua tatapan mengarah kepadaku, aku menyadari betapa tidak
masuk akal, sementara mereka semua telah saling terbuka, aku adalah satu-
satunya orang yang belum menambahkan informasi baru apa pun sejak
pertemuan terakhir kami. Vang lain bahkan telah berhasil menghasilkan dua
penduduk baru dunia.
“Buku itu adalah sebuah kisah nyata, yang juga merupakan karya fiksi. Tetapi,
saya tidak tahu yang mana dari keduanya yang lebih mengagumkan. Mungkin
itu karena, dapat dikatakan, keduanya saling tergantung. Mereka bagaikan ayam
dan telur. Tanpa adanya kisah nyata, kisah yang fiksi tidak akan mungkin
muncul, dan tanpa ada kisah yang dikarang, kisah yang nyata tidak akan
mungkin terpikirkan. Juga, tidak mungkin mengatakan di mana awal dan akhir
kedua kisah itu. Tidak hanya permulaannya yang menentukan akhirnya.
Akhirnya juga menentukan permulaannya. Ini sudah pernah kita bicarakan
sebelumnya. Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun
setelah ledakan itu terjadi.”

“Tetapi mengenai apakah kedua kisah tersebut?” Vera ingin tahu.

Aku berpikir keras.

“Keduanya mengenai vertebrata.” Mata Frank terbelalak. “Vertebrata?” Aku


mengangguk.

“Keduanya mengenai sinapsis-sinapsis saraf, dan terutama kuntum terakhir pada


ranting itu. Yang saya maksud adalah primata-primata pasca-hewan. Saya adalah
salah satu dari makhluk luar biasa itu, dan saya telah hidup hingga enam puluh
lima tahun. Maka, sungguh aneh pemikiran bahwa saya diturunkan dari seekor
hewan kecil mirip tikus yang hidup di sini enam puluh lima juta tahun yang lalu
atau, sekalian saja, dari seekor amfibi yang hidup di sini 365 juta tahun yang
lalu. Baiklah, itu bagus! Tetapi, mungkin saja kita baru mencapai tahap
kepompong.”

Dan kemudian aku menunduk, pertama-tama ke arah kereta bayi yang berisi
Manuel, dan kemudian ke perut Vera.

“Lomba estafet garis keturunan yang sangat besar ini masih belum selesai.
Pengejaran itu akan berlanjut, kawan-kawan, ia akan menjauhkan diri dari kita
dan akan terus berjalan. Tetapi, ke manakah perjalanan panjang ini membawa
kita, masih sangat terlalu dini untuk mengatakannya.”

Ana mengangguk tanpa berkata-kata, dan aku mendapatkan perasaan bahwa ia


tidak akan bergegas membaca bukuku jika telah diterbitkan. Tetapi, itu tidak
mengapa.

Surat Frank untuk Vera disertai dengan empat kelompok foto dari Taveuni,
masing-masing berisi

tiga belas foto. Di balik setiap foto, Ana telah menuliskan manifesto yang selama
ini mereka deklamasikan sambil berkeliling. Sementara kami berjalan dari satu
sisi Plaza de Espana ke sisi yang lain dan dari Alava ke Zaragoza aku berusaha
mengutip apa yang kuingat dari manifesto itu kepada diriku sendiri; satu
ungkapan untuk setiap provinsi di Spanyol. Terpikir olehku bahwa Jose harus
ingat untuk memberi tahu bahwa manifesto itu ditulis untuk dibagi di antara dua
pasangan hidup, karena segala perspektif yang diungkapnya hampir tidak
mungkin dipikul siapa pun yang tidak memiliki seseorang sebagai tempatnya
bersandar.

Frank tidak lagi begitu berduka seperti saat kami berbicara di pepohonan palem
di Maravu Plantation Resort. Aku membayangkan mungkin sekarang ia merasa
sedikit lebih mudah untuk menerima bayangan tentang keabadian yang hilang.
Setidaknya ia sudah tidak sendirian lagi menghadapi malam kosmik. Kini ia
memiliki seseorang untuk menjalani jalan yang melelahkan itu bersamanya. Ia
memang masih seorang malaikat yang menderita, tetapi keharusan telah
mengajarkan malaikat tak bersayap untuk mencinta.

Di Plaza de Espana kami pun berpisah. Ana dan Jose pulang bersama Manuel,
sementara Frank dan Vera mengaku bahwa mereka memerlukan sisa akhir
minggu di Sevilla itu untuk berdua saja.

Maka, sekali lagi aku menemukan diriku sendirian saja. Aku merasakan adanya
suatu ikatan dengan setiap kawan mudaku itu, sebuah ikatan yang

jauh lebih besar daripada yang dapat mereka ketahui.

Sebelum menaiki kereta AVE untuk kembali ke Madrid dan kemudian pulang
dengan pesawat ke Gatwick, aku berjalan-jalan di tepi Guadalquivir,
menyeberang di Puente San Telmo, dan tiba-tiba menemukan diriku telah berdiri
di hadapan Gereja Santa Ana di Triana. Pintu-pintu gereja itu terbuka, dan tiba-
tiba, akulah yang merasa mengalami deja vu yang kuat.

Saat aku berdiri di tengah lapangan di hadapan gereja lokal berwarna kuning tua
itu, sekelompok orang berpakaian hitam perlahan mulai berkumpul. Aku
menduga bahwa sebuah misa berkabung akan berlangsung, dan ketika mereka
mulai berbaris memasuki gereja itu, aku pun mengikuti mereka. Aku tidak
banyak mengerti apa yang dikatakan sang pendeta, tetapi jelas bahwa sang
almarhumah adalah seorang wanita muda karena aku dapat dengan jelas
menemukan orangtua dan suaminya.

Tanpa berkata-kata, selama sang pendeta melaksanakan tugasnya, aku mulai


bertanya-tanya kepada diriku sendiri siapakah wanita yang telah direnggut
nyawanya ini, mengapa ia telah dipanggil dan apakah mungkin hal itu adalah
akibat kesalahanku.

Saat kami berdiri dan meninggalkan gereja itu, aku melihat si orang kerdil dari
Taman Alcazar. Saat aku melewati pintu gereja, ia mengangkat kepalanya ke
arahku dan mengedipkan mata. Mungkin ia mengenaliku, pikirku, dan walaupun
aku tidak ingat pasti apakah aku membalas kedipan matanya, jelas ia
memanggilku dengan jarinya dan menarikku ke samping dari tengah kerumunan
massa. Ia memasukkan tangannya ke saku dalam mantelnya, mencari-cari di
antara setumpuk kecil foto berwarna, dan kemudian menyodorkan sebuah foto
kepadaku. Itu adalah foto diriku yang tengah duduk di lapangan di depan Puerta
de Marchena di Taman Alcazar. Aku merogoh-rogoh ke dalam kantongku
dengan kalut untuk mencari uang kecil, tetapi orang kerdil itu menolak dengan
“De nada, de nada!” Aku berterima kasih sebesar-besarnya, tetapi sebelum aku
dapat memerhatikan dirinya dengan baik, ia dan orang-orang yang lain telah
pergi.

Aku berdiri untuk waktu yang lama di lapangan di depan Gereja Santa Ana,
sambil menatap fotoku. Aku hanya melihat apa yang telah kuketahui dan apa
yang selama ini selalu kuketahui. Aku melihat seorang primata yang berduka,
dan aku tidak dapat menemukan kedamaian dalam tatapan tak terhibur yang
balik menatapku di foto itu. Maka, akhirnya aku menyadari bahwa novel yang
mulai kutulis ini sesungguhnya bukanlah mengenai Frank dan Vera maupun Ana
dan Jose. Ini adalah mengenai Sheila dan solitairenya. Dan mengenai diriku.

Hampir dipicu oleh naluri, aku membalikkan foto yang baru saja diberikan
kepadaku itu dan di baliknya, sang orang kerdil telah menuliskan sesuatu dengan
tinta merah. Di situ terbaca: Manusia

mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang


memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka, melindungi lingkungan hidup di
planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung jawab global, melainkan merupakan
tanggung jawab kosmos. Suatu hari, gelap gulita mungkin akan menutupi lagi
samudra raya. Dan sekali ini, Roh Tuhan tidak melayang-layang di atas
permukaan air. []

*1—

Ada sebuah dunia. Dari segi probabilitas, hal ini nyaris mustahil. Akan jauh
lebih mungkin jika, seO cara kebetulan, tidak ada apa pun. Dengan begitu,
setidaknya tak ada satu orang pun yang akan menanyakan mengapa tidak ada
apa pun.

Bagi seorang pengamat yang netral, dunia ini tidak hanya bagaikan sebuah
fenomena nyaris mustahil yang hanya bisa terjadi sekali. Dunia ini juga
senantiasa merupakan sebuah beban bagi akal sehat. Jika memang akal sehat itu
ada, maksudku akal sehat yang netral. Itulah suara dari dalam batin. Itulah yang
disuarakan Joker.

*3.

* 5.

Di sini dan sekarang, suara itu telah diucapkan keturunan para amfibi.
Dilontarkan oleh keponakan para kadal darat dalam hutan aspal. Pertanyaan
yang diajukan keturunan para vertebrata berbulu itu adalah apakah ada alasan di
balik kepompong tak tahu malu ini yang tumbuh dan tumbuh ke segala arah.

* 4.

Seseorang bertanya: Seberapa besarkah kemungkinan sesuatu tercipta dari


ketiadaan? Atau tentu saja sebaliknya: berapa besarkah kemungkinan sesuatu
ada untuk selamanya? Dan apakah bahkan mungkin untuk menghitung
kemungkinan suatu materi kosmos menyeka tidur berabad-abad dari matanya
suatu pagi dan tiba-tiba terjaga, menyadari dirinya sendiri?

Jika tuhan memang ada, tidak hanya ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari
segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah sesuatu yang
pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak banyak desas-
desus yang beredar di antara bintang-bintang. Tetapi, belum ada seorang pun
yang melupakan Big Bang. Sejak saat itu, keheningan meraja, dan semua yang
ada di sana pun bergerak menghindar. Kita masih bisa bertemu dengan sebuah
bulan. Atau sebuah komet. Tetapi, jangan mengharapkan sambutan hangat.
Undangan berkunjung tidak ditulis di angkasa luar.
Pada awalnya terjadilah Big Bang, dan hal itu telah lama sekali terjadi. Ini
hanyalah sebuah pengingat akan adanya pertunjukan tambahan malam ini. Anda
masih dapat membeli karcis. Singkatnya, pertunjukan tambahan itu berfokus
pada menciptakan pemirsanya sendiri. Walau bagaimanapun, tanpa adanya
pemirsa yang memberi tepuk tangan, tidaklah masuk akal untuk menyebut acara
tersebut sebagai sebuah pertunjukan. Masih ada tempat duduk yang tersisa.

+ 7.

* 9-

*10.

Sama sekali tidak aneh bahwa Sang Pencipta beristirahat setelah membentuk
manusia dari debu dan meniupkan kehidupan ke dalam lubang hidungnya,
sehingga menjadikannya makhluk hidup. Yang mengejutkan dari kejadian itu
adalah Adam yang sama sekali tidak keheranan.

Siapakah yang dapat menikmati pertunjukan kembang api kosmos jika bangku-
bangku penonton di langit hanya dipenuhi es dan api? Siapakah yang bisa
menduga bahwa amfibi pemberani pertama tidak hanya merangkak satu langkah
kecil ke pantai, tetapi juga melakukan satu lompatan raksasa di atas jalan
panjang yang mengantarkan primata dapat memandangi panorama evolusi
mereka yang membanggakan dari awal jalan yang sama itu? Tepuk tangan bagi
Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun setelah ledakan itu terjadi.

Tidak bisa disangkal, menciptakan dunia seisinya adalah sebuah prestasi yang
patut dikagumi. Walaupun tentu dunia yang mampu menciptakan dirinya sendiri
pantas mendapatkan penghargaan lebih besar. Dan sebaliknya: pengalaman
menjadi sesuatu yang diciptakan tidak ada artinya dibandingkan perasaan yang
meluap-luap karena telah menciptakan diri sendiri dari kehampaan dan berdiri
tegak dengan kedua kakinya.

Joker merasakan dirinya tumbuh, ia merasakannya pada lengan dan kakinya, ia


merasa dirinya bukanlah sesuatu yang hanya ia bayangkan. Ia merasakan mulut
manusianya menumbuhkan email dan gading. Ia merasakan ringannya tulang-
tulang iga primata di bawah gaun tidurnya, merasakan denyutan teratur yang
berdetak dan berdetak, memompa cairan hangat ke dalam tubuhnya sekarang.

+ 11.
4> 13.

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika
teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran
kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita.
Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng
yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus
berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian.

Joker berjalan di antara para peri dalam penyamaran primata. Ia memerhatikan


sepasang tangan yang ganjil, mengusap pipi yang tidak ia kenal, memegang
alisnya, dan tahu bahwa di dalamnya terdapat sebuah teka-teki menghantui
tentang dirinya, plasma jiwanya, agar-agar dari pengetahuan. Lebih mendekati
inti dari hal-hal tidak akan pernah ia capai. Ia memiliki sebuah perasaan samar
bahwa tentunya ia adalah sebuah otak yang dicangkokkan. Oleh karenanya, ia
tidak lagi merupakan dirinya sendiri.

*«¦

Sebuah kerinduan menyebar di dunia. Semakin besar dan perkasa sesuatu,


semakin tajamlah terasa kebutuhan akan penebusan. Siapakah yang
mendengarkan penderitaan sebutir pasir? Siapakah yang memasang telinga
untuk menyimak keinginan seekor kutu? Jika tiada satu pun keberadaan, tak
seorang pun akan mendambakan apa pun.

? 1.

Sesuatu menajamkan telinga dan membuka sebelah mata: naik dari dalam jilatan
api, naik dari dalam sup purba yang kental, naik melalui gua-gua labirin, dan
naik, naik melintasi ufuk stepa.

? 2.

Jalan rahasia itu tidak berputar ke dalam, tapi berputar ke luar, tidak memasuki
labirin tapi keluar dari labirin. Keluar, menuju ke atas dari uap hidrogen, belitan
yang berputar-putar, dan supernova yang meledak, jalan rahasia itu telah berlalu.
Tahap terakhirnya adalah jeratan makromolekul yang dibuat sendiri.

? 3-
? 4.

Seperti kabut sihir, panorama itu muncul, melalui kabut, di atas kabut. Saudara
tiri dari Neanderthal yang ternama memegang alisnya karena tahu bahwa di
belakang dahi primatanya, melayanglah materi otaknya yang lembut, auto-pilot
evolusi, kantung udara festival protein antara khayalan dan materi.

Jerat laba-laba rahasia keluarga terentang mulai dari teka-teki mikro di dalam
sup purba hingga ikan duri berongga peramal dan amfibi tingkat tinggi. Dengan
hati-hati, tongkat estafet telah diteruskan oleh reptilia berdarah panas, prosimian
yang piawai berakrobat, dan kera mirip manusia yang muram. Apakah persepsi
diri secara laten telah tersembunyi jauh di dalam otak sang reptilia? Tidak
pernahkah ada di antara makhluk-makhluk eksentrik mirip manusia yang
mendapatkan firasat membuai tentang master plan itu sendiri?

? 5.

? 6.

Sang vertebrata tiba-tiba menoleh ke belakang dan melihat ekor penuh misteri
milik sanak saudaranya dalam perenungannya tentang malam tahun-tahun
cahaya yang telah berlalu. Barulah sekarang jalan rahasia itu mencapai titik
akhir. Dan akhir itu adalah kesadaran tentang perjalanan panjang menuju titik
akhir itu sendiri. Yang dapat ia lakukan hanyalah bertepuk tangan: ujung-ujung
yang disimpannya bagi para ahli waris spesiesnya.

? 7.

? 8—

Dari ikan dan reptil serta tikus-tikus kecil yang manis, sang primata yang modis
mendapat warisan sepasang mata yang bagus dengan pandangan meneropong.
Para ahli waris dari ikan duri berongga ini mempelajari lintasan-lintasan galaksi
di angkasa, dan tahu bahwa diperlukan beberapa miliar tahun untuk
menyempurnakan penglihatan mereka. Lensa-lensa mereka dipoles dengan
makromolekul. Pandangan mereka difokuskan dengan protein dan asam-asam
amino yang sangat terintegrasi.

Terobosan itu muncul dalam arena sirkus otak sang tetrapoda. Di sinilah
kemenangan-kemenangan terbaru spesies itu diumumkan. Di dalam sel-sel saraf
milik vertebrata hangat itu, sumbat botol sampanye yang pertama terbuka.
Primata postmodern akhirnya mencapai wawasan menyeluruh. Dan mereka tak
takut: alam semesta memandang dirinya sendiri dalam sudut pandang yang lebar.

Sang gajah tentulah merasa malu, betapa nenek moyangnya tiba-tiba berbelok ke
sebuah gang buntu tak berujung. Jauh lebih terhormat sang prosimian (primata
purbakala). Mungkin ia memang tampak menggelikan, tetapi setidaknya
kemampuannya mencari arah dapat diandalkan. Tidak semua jalan menuju sang
Joker.

? 9.

Di dalam bola mata, terjadi benturan antara penciptaan dan cerminan. Bola
penglihatan dua-arah adalah pintu berputar ajaib tempat jiwa pencipta bertemu
dirinya sendiri di dalam jiwa ciptaan. Sang mata yang meneliti alam semesta
adalah mata alam semesta itu sendiri.

? 10.

Para peri bukanlah virtual, melainkan vertebrata. Mereka adalah telur ikan,
kecebong, keturunan reptil yang termutasi. Para peri adalah vertebrata berjari
lima, pewaris sah dari tikus-tikus purba, primata tak berekor yang merambat
turun dari pohon, mewakili dentuman terpendam genderang purba.

? 11.

? 12.

Pada saat ini, planet hidup ini diperintah oleh beberapa miliar hiperindividu
mamalia-master. Mereka semua berasal dari teluk yang sama dan dari perut ikan
duri berongga yang sama. Tidak pernah ada dua orang dari mereka yang persis
sama. Dua orang peri tidak pernah berakhir di planet yang persis sama.

Para peri tidak datang dari luar, tapi dari dalam. Mereka adalah jaring laba-laba
yang mendapatkan inspirasi mikro dari laba-laba DNA yang riang. Para peri
bukanlah sosok-sosok bayangan di dinding gua. Mereka adalah koloni sel yang
terlalu terdiferensiasi. Mereka bukanlah fantasi. Tetapi, mereka adalah dongeng,
sepenuhnya dongeng.

? 13.
Joker berdiri di ujung jalan rahasia. Ia tahu bahwa dirinya membawa sebuah
muatan kuno, bukan di dalam kotak dan karung, melainkan di dalam setiap sel di
dalam tubuhnya. Ia melihat betapa Bumi terus mengembangkan pahatan DNA-
nya yang sangat rumit mengikuti ukuran-ukuran yang mendapatkan inspirasi
mikro dari dalam. Siapakah gajah tahun ini? Di manakah burung unta tahun ini?
Siapakah, pada saat ini, yang merupakan primata paling terkenal?

¥1

V 2.

Para peri selalu lebih bersemangat hidup daripada waras, lebih fantastis daripada
dapat dipercaya, lebih misterius daripada yang dapat disadari pemahaman minim
mereka. Seperti lebah-lebah pusing yang berdengung dari satu bunga ke bunga
lain di siang hari yang mengantuk di bulan Agustus, para peri musim itu tetap
tinggal dalam habitat urban mereka di langit. Hanya Jokerlah yang mampu
membebaskan diri.

Kini, para peri itu berada dalam dongeng, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Apakah dongeng benar-benar akan menjadi dongeng jika ia tidak bisa melihat
dirinya sendiri? Apakah kehidupan sehari-hari akan menjadi keajaiban jika ia
terus-menerus berkeliling untuk menjelaskan dirinya sendiri?

¥ 3.

Para peri mengarahkan teleskop radio mereka kepada kabut-kabut di kejauhan di


perbatasan-dongeng yang tertutup. Tetapi, keajaiban itu tidak dapat dipahami
dari dalam, dan para peri itu adalah orang-orang dalam. Para peri hidup di dalam
dunia mereka. Mereka terkungkung oleh beban ontologis teka-teki ini. Mereka
adalah apa yang ada, dan karena itu mereka tak mendapat pemahaman, hanya
perluasan dan kelanjutan.

¥ 4.

Pada ketinggian empat puluh ribu kaki, sepupu kelima para ikan duduk dengan
mapan, mengintip lampu-lampu dari rumah-rumah Hansel dan Gretel di bawah.
Bahkan jika listrik mati, masih ada yang keluar masuk di bawah sana dalam
remang-remang. Bahkan jika semua bola lampu putus, sebuah aura masih akan
muncul dari tanah.
¥ 5—

Suatu dini hari di Dunia Peri, dan masih setengah gelap, walaupun seratus ribu
cahaya dari dalam menyala dengan api kecil sebelum bola-bola lampu listrik
dinyalakan. Para peri telah mulai terbangun dari mimpi mereka yang lembam,
tetapi sel-sel otak mereka masih saling memutar film satu sama lain. Film
tersebut duduk di bioskop dan menyaksikan dirinya sendiri di layar.

¥ 6.

Para peri mencoba memikirkan beberapa gagasan yang sulit sekali dibayangkan
bahwa mereka tidak bisa memikirkannya. Namun, mereka memang tidak bisa.
Gambar-gambar di layar tidak melompat keluar ke dalam bioskop dan
menyerang proyektornya. Hanya Joker yang menemukan jalan menuju barisan
kursi-kursi.

V 7.

Para peri memainkan peranan yang merupakan hasil improvisasi bebas di teater
kebudayaan yang ajaib. Mereka semua begitu terhanyut dalam peran mereka
sehingga pertunjukan itu tidak pernah memiliki pemirsa. Tidak ada orang luar,
tidak ada pandangan yang netral. Hanya Jokerlah yang mundur selangkah dan
merenungkan pertunjukan itu.

V 8.

Ibu peri berdiri di hadapan cermin sambil memeriksa rambut pirang yang
tergerai melewati bahunya yang ramping. Ia pikir, dirinyalah primata betina
tercantik di dunia. Anak-anak peri merangkak di lantai, tangan mereka penuh
dengan balok-balok plastik kecil berwarna-warni. Ayah peri berbaring di atas
sofa, kepalanya tersembunyi di balik selembar surat kabar merah jambu. Ia pikir,
kehidupan sehari-hari selalu memuaskan.

V 9—

Bereoneon setelah matahari berubah menjadi sebuah raksasa merah, terkadang


sinyal radio masih dapat ditangkap dalam kabut bintang. Apakah engkau sudah
berpakaian, Antonio? Ayo datang ke Ibu sekarang juga! Sekarang tinggal empat
minggu lagi sebelum Natal.
V 10.

Dalam kegelapan perut yang membesar, selalu ada beberapa juta kepompong
kesadaran dunia baru yang berenang-renang. Para peri yang tak berdaya itu
ditekan keluar satu demi satu setelah mereka matang dan siap untuk bernapas.
Setelah itu, mereka tidak dapat menerima makanan apa pun selain susu peri
manis yang mengalir dari sepasang kuncup lembut daging peri.

v 11.

Balita-manis yang mengenakan baju bayi biru itu tampak cukup enak untuk
dimakan. Ibu peri memerhatikannya berayun maju dan mundur di atas sebuah
papan yang diikat dengan dua buah tali kokoh dan dipasang pada sebuah dahan
pohon pir besar. Oleh karenanya, ia mengamati percikan siang ini dari api
unggun besar yang ajaib itu. Ia mempelajari segalanya yang ada di dalam kebun
kecil itu, tetapi tidak dapat melihat sinar menyilaukan yang menyatukan semua
kebun menjadi satu.

V 12.

Ratu Hati adalah bunga bagi dirinya sendiri. Jika ia ingin menghias ruang
tamunya atau bertemu dengan kekasihnya, ia pun memetik dirinya sendiri.
Sungguh suatu keunikan, ia tahu bahwa ia adalah jenis yang langka. Bunga-
bunga tulip pun berlomba-lomba untuk melakukan hal yang sama. Bunga-bunga
aster menatapnya dengan iri. Bunga-bunga lili mengangguk dengan hormat.

¥13

Ketika kita mati saat adegan-adegan telah terekam dalam pita seluloid dan dekor
telah dilepas dan dibakar kita adalah arwah dalam ingatan keturunan kita.
Kemudian kita adalah hantu, Sayangku, kemudian kita adalah mitos. Tetapi, kita
masih bersama, kita masih merupakan masa lalu yang bersama, kita adalah masa
lalu yang jauh. Di balik kubah masa lalu yang misterius, aku masih mendengar
suaramu.

* 1.

Joker menyelinap dengan gelisah di antara para peri bagaikan seorang mata-mata
dalam dongeng itu. Ia telah mengambil kesimpulan, tetapi tidak dapat
melaporkannya kepada siapa pun. Hanya Jokerlah yang ia lihat. Hanya Joker
yang melihat siapa dirinya.

*2.

Apakah yang dipikirkan para peri saat mereka terbebas dari rahasia tidur dan tiba
dengan bentuk utuh pada suatu hari baru? Apa yang dikatakan statistik? Inilah
pertanyaan Joker. Ia selalu terlompat dengan kekaguman yang sama setiap kali
keajaiban kecil ini terjadi. Ia terperangkap oleh hal ini sama seperti salah satu
permainan sulapnya sendiri. Ini adalah caranya untuk merayakan dimulainya
penciptaan. Ini adalah cara dirinya menyambut diciptakannya fajar pagi ini.

Joker terbangun dari mimpi-mimpi tak terbelenggu untuk menghadapi kulit dan
tulang. Ia bergegas memetik buah-buah beri malam sebelum siang hari
menyebabkan mereka terlalu masak. Sekarang atau tidak akan pernah sama
sekali. Sekarang, atau tidak akan pernah lagi. Joker menyadari bahwa ia tidak
akan pernah bangun dari tempat tidur yang sama dua kali.

*4.

Joker adalah sebuah boneka mekanik yang lepas berkeping-keping setiap malam.
Ketika terbangun, ia mengumpulkan lengan dan kakinya dan menyusunnya
kembali sehingga boneka itu kembali seperti kemarin. Berapa buah lengankah
yang ada? Berapa buah kaki? Dan kemudian ada pula kepala, dengan sepasang
mata dan telinga. Baru setelah itulah ia bisa bangun.

*5

Ia merasa melayang di ruang yang kosong. Ia tidak bisa terus-menerus seperti


ini. Tidakkah setiap orang layak untuk maju selangkah? Joker melakukan
beberapa gerakan menantang di cermin kamar, berusaha untuk menyingkirkan
tatapan tajam dari hantu dirinya. Tetapi, segalanya memang demikian adanya. Ia
menggeretakkan giginya, mencubit dirinya dalam keajaiban itu.

* 7.

*8

Joker begitu dipenuhi asumsi sehingga pada suatu saat yang memusingkan, ia
merasa sangat kuat. Menurutnya, berapa generasi telah berlalu sejak pembelahan
sel yang pertama itu? Berapa banyak kelahiran yang dapat ia hitung sejak
mamalia yang pertama? Inilah saatnya untuk angka-angka besar. Bukankah ia
telah setengah jalan untuk mempersiapkan renungan pagi ini ketika ikan
berparu-paru yang pertama keluar dari permukaan air? Kemudian, sekonyong-
konyong, badut mungil itu merasa muak terhadap kefanaannya. Ia memang
memiliki latar belakang yang kaya. Tetapi, ia tidak memiliki masa depan. Ia
memang kaya akan masa lalu. Tetapi, tidak memiliki apa-apa di kemudian hari.

Tiba-tiba ia telah duduk di atas pelana sebuah perjalanan terkutuk, dari alfa
menuju omega. Ia tidak ingat pernah menaikinya, tetapi kini ia merasakan kuda
liar keberadaan berpacu di bawahnya, dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan
misterius menuju sebuah pemberhentian yang tergesa-gesa.

Joker terbangun di dalam sebuah hard disk organik yang tergolek di atas bantal.
Ia merasakan dirinya berusaha merangkak mencapai pantai sebuah hari baru,
beranjak keluar dari sebuah arus panas halusinasi yang hanya mampu dicernanya
sebagian. Tenaga nuklir apakah yang telah membakar otak para peri? Apakah
yang menyebabkan kembang api kesadaran berdesis? Tenaga atom apakah yang
mengikat sel-sel otak jiwa menjadi satu?

Joker adalah seorang malaikat yang tengah menderita. Adalah sebuah


kesalahpahaman yang fatal yang menyebabkannya mengenakan tubuh dari darah
dan daging. Ia ingin hidup sebagai seorang primata hanya selama beberapa detik
kosmos, tetapi ia telah mencopot tangga surga di belakang punggungnya. Jika
tidak ada yang menjemputnya sekarang, jam biologisnya akan berdetak semakin
cepat dan lebih cepat, dan terlambatlah untuk kembali ke surga.

*10.

Pintu keluar dari dongeng terbuka lebar. Seseorang harus melaporkan hal itu,
tentu saja, tetapi tidak ada yang berwenang untuk dilapori. Joker terseret tanpa
ampun ke arah angin dingin dari segala sesuatu yang tidak ada di luar sana. Ia
menyeka setitik air mata. Tidak, kini ia benar-benar menangis. Maka, sang badut
yang cekatan itu pun mengucapkan selamat tinggal dengan sedih. Ia tahu tidak
bisa melakukan tawar-menawar. Ia tahu bahwa dunia tidak akan kembali.

? n.

Joker hanya setengah berada dalam dunia para peri. Ia tahu ia akan pergi, maka
ia tunaikan kewajibannya. Ia tahu ia akan pergi, maka ia sudah setengah-pergi. Ia
telah muncul dari segala yang ada dan akan pergi ke Ketiadaan. Begitu tiba, ia
bahkan tidak akan dapat bermimpi untuk pulang. Ia menuju dunia yang di sana
bahkan tidak ada tidur.

*12.

Semakin dekat Joker dengan ketiadaan abadi, semakin jelas pula ia melihat sang
hewan yang menemuinya dalam cermin setiap kali ia bangun menghadapi hari
baru. Ia tidak dapat menemukan kedamaian dalam tatapan memelas seorang
primata yang berduka. Ia melihat seekor ikan yang tersihir, seekor katak yang
telah bermetamorfosis, seekor kadal yang berubah bentuk. Ini adalah akhir
dunia, pikirnya. Di sinilah perjalanan panjang evolusi terhenti mendadak.

? 13.

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia.


Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.

Novel-Novel yang Tak Kalah Menarik Karya Jostein Gaarder

“Kata banyak orang, filsafat itu sulit. Siapa bilang? Bacalah Dunia Sophie ini,
dan Anda akan tahu, filsafat itu amat mudah dipahami.” —Dr. Sindhunata

Sophie, seorang pelajar sekolah menengah, mendapat sebuah surat misterius


yang hanya berisikan satu pertanyaan: ” Siapa kamu?” Belum habis
keheranannya, pada hari yang sama, dia mendapat surat lain yang bertanya: ”
Dari manakah datangnya dunia?” Seakan tersentak dari rutinitas hidup sehari-
hari, surat-surat itu membuat Sophie mulai mempertanyakan soal-soal mendasar
yang tak pernah dipikirkannya selama ini. Dia mulai belajar filsafat.

Pada usianya yang kelima belas tahun, Georg Roed menerima sebuah surat dari
mendiang ayahnya. Dia tak habis pikir mengapa sang ayah, di kala menjelang
wafat, memutuskan untuk menuliskan kisah cintanya dengan seorang gadis
misterius. Si Gadis Jeruk, demikian dia menyebutnya. Seiring Georg membaca
surat itu, dia dituntun untuk menjelajahi alam semesta dan akhirnya mampu
menjawab sebuah pertanyaan yang amat penting yang diajukan ayahnya.

Novel ini akan mempertemukan Anda dengan Petter ” si Laba-Laba”, tokoh


ciptaan Gaarder yang paling membuat penasaran setelah Sophie dari Dunia
Sophie. Sejak kecil, Petter tak berkawan dan lebih suka menyendiri di dalam
dunia yang dia ciptakan. Dia terobsesi dengan cerita-cerita, terutama dengan
cerita Panina Manina sang Putri Sirkus yang dikarangnya sendiri. Namun, dia
tak mau memublikasikan cerita-ceritanya. Petter memilih menjadi ” Penjual
Dongeng” yang memberikan gagasan-gagasan cerita untuk para penulis terkenal.

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk
berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi
dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius,
Bibbi Bokken, yang mengincar buku surat itu. Bersama komplotannya,
tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils.
Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi
dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad
mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Dalam petualangan keduanya, kita akan mendapatkan banyak pengetahuan
tentang dunia perbukuan.
JOSTEIN GAARDER

Sebelum menjadi penulis profesional, Jostein Gaarder adalah seorang guru


filsafat di sekolah menengah. Kecintaannya pada filsafat membuatnya mulai
menulis buku-buku filsafat dalam gaya yang populer. Pada 1991. tanpa
disangka-sangka novel filsafatnya. Dunia Sophie (Mizan, 1996), menjadi
bestseller internasional dan pada 1995 menjadi novel terlaris di dunia. Sejak
kesuksesannya itu, Gaarder beralih profesi menjadi penulis profesional.

Selain menulis, Gaarder giat mengampanyekan upaya mewujudkan masa depan


yang berkelanjutan melalui Sofie Foundation yang didanainyadari royalti Dunia
Sophie. Kini Gaarder tinggal di Oslo,Norwegia,bersama istrinya.Siri.

“Berani dan imajinatif.” — Waterstones Quarterly

“Anda akan selalu menemukan kejutan setiap kali membaca buku Jostein
Gaarder, Maya tidak terkecuali. Sebuah novel yang filosofis, misterius, dan
mengejutkan. Sungguh memikat.” —Bookcrossing

Anda mungkin juga menyukai