3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Penelitian Terdahulu
Pada penelitian Quddus (2014) hasil pengolahan air bersih dengan
menggunakan saringan pasir lambat dengan tebal pasir 70 cm dapat menurunkan
kadar kekeruhan dari 65 NTU menjadi 8 NTU. Sedangkan pada penelitian
Perdana & Suhendra (2019) efektivitas penyerapan warna menggunakan media
filter pasir kerang adalah 29,9% yaitu dari 1.420 [Link] menjadi 995 [Link],
sedangkan pH mengalami peningkatan dari 4,23 menjadi 7,38.
Selain itu, dari beberapa penelitian di atas juga terdapat hasil penelitian AF
dan media filter untuk menyisihkan bakteri pada air limbah maupun air bersih.
Tilley et al (2014) menjelaskan pengolahan limbah dengan menggunakan
teknologi AF, penurunan kadar TSS dan BOD bisa mencapai 90%, namun
biasanya antara 50%-80%. Namun pada penelitian Maryani dkk. (2014)
dihasilkan penyisihan Total Coliform pada variasi tebal media 120 cm dan rate
filtrasi 5 m3/m2/jam dengan nilai efisiensi sebesar 99% dan kekeruhan paling baik
terjadi pada variasi tebal media 100 cm dan rate filtrasi 5 m3/m2/jam dengan nilai
efisiensi sebesar 98,27%.
Selain itu, pengolah air bersih bertipe AF memiliki keunggulan
diantaranya desain yang sederhana sehingga mempermudah perawatan dan biaya
operasional yang rendah, dapat digunakan pada lahan sempit dan dibangun di
bawah permukaan tanah, dan tidak membutuhkan energi listrik.
1.2 Air Bersih
Menurut Gani dkk (2015) air bersih merupakan sumberdaya alam yang
biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi maupun melakukan aktifitas
sehari-hari termasuk sanitasi. Pada PMK nomor 32 tahun 2017 air bersih
dibedakan menjadi 4 diantaranya (1) air untuk keperluan higiene sanitasi, (2) air
untuk kolam renang, (3) air untuk SPA, (4) air untuk pemandian umum.
Parameter air bersih dibedakan menjadi 3 yakni parameter fisika, parameter
kimia, dan parameter biologi. Berikut beberapa parameter air bersih untuk
keperluan higiene dan sanitasi yang akan menjadi parameter uji pada penelitian
ini.
2.2.1 Karakteristik Fisik
a. Total Dissolved Solid (TDS)
4
TDS merupakan padatan terlarut yakni mineral, logam, garam, serta
kation-anion yang terlarut dalam air termasuk semua yang terlarut di luar molekul
murni (H2O) (Santoso, 2008). Perubahan dalam konsentrasi TDS dapat
menyebabkan perubahan salinitas, komposisi ion-ion, dan toksisitas pada masing-
masing ion yang mana akan berbahaya jika terlarut dalam air (Rinawati, dkk.,
2016). Padatan-padatan tersebut terlarut dalam air dan menyebaban warna pada
air.
b. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan sifat optik air karena adanya padatan tersuspensi
yang mempengaruhi warna air. Tinggi nilai kekeruhan air berkaitan dengan
padatan terlarut dan tersuspensi, semakin tinggi nilai padatan terlarut dan
tersuspensi maka nilai kekeruhan akan semakin tinggi (Hardiyanti, 2012). Bahan
tersuspensi tersebut berupa mikroorganisme, tanah liat, dan koloid tanah
(Taufiqullah, 2018). Sesuai dengan PMK No. 32 tahun 2017 parameter kekeruhan
air untuk keperluan higiene dan sanitasi kadar maksimum yang diperbolehkan
adalah 25 NTU. Maka dari itu tingkat kekeruhan sebaiknya di bawah 25 NTU.
2.2.2 Karakteristik Kimia
a. pH
Air akan bersifat asam atau basa tergantung pada tinggi rendahnya kadar
pH, bila kadar pH di bawah normal maka air akan bersifat asam, sedangkan air
yang kadar pH-nya normal akan bersifat basa (Warlina, 2004). Air normal yang
memenuhi syarat baku mutu kesehatan air untuk keperluan higiene dan sanitasi
menurut PMK No.32 tahun 2017 mempunyai pH sekitar 6,5-8,5.
b. Kesadahan
Kesadahan adalah sifat air yang mengandung ion-ion logam valensi 2 dan
ion penyebab utama kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg),
kesadahan berasal dari kontak terhadap tanah dan pembentukan batuan (Ristiana,
dkk., 2009). Tingkat kesadahan yang tinggi dapat mengakibatkan salah satu
molekul sabun diikat oleh unsur Ca/Mg sehingga penggunaan sabun dalam rumah
tangga menjadi lebih banyak dan kurang efektif (Marsidi, 2011).
2.2.3 Karakteritik Biologi
a. Total Coliform (TC)
Yuniarti (2007) menyatakan Coliform merupakan bakteri Gram-negatif,
berbentuk batang, aerob sampai anaerob fakultatif, mampu tumbuh aerobik pada
media agar yang mengandung garam empedu, mampu memfermentasikan laktosa
dalam waktu 48 jam pada suhu 37°C dengan membentuk gas dan asam. Pada
peraturan mentri kesehatan tahun 2017 tentang persyaratan air bersih untuk
5
sanitasi menyebutkan bahwa kandungan bakteri Total Coliform maksimum yakni
50 CFU/100ml air. Oleh sebab itu air bersih tidak boleh mengandung bakteri
Total Coliform melebihi persyaratan yang telah ditentukan karena dapat
menyebabkan penyakit diare (Akili, dkk., 2018).
1.3 Definisi Anaerobic Filter (AF)
Anaerobic filter (AF) merupakan salah satu tipe pengolahan air limbah
maupun air bersih dengan media filter terendam dan dalam keadaan tertutup tanpa
ada pencampuran udara. AF memiliki keunggulan yakni pada proses pengolahan
limbah memiliki efisiensi yang tinggi dibandingkan dengan aerob, tidak
membutuhkan energi yang besar dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit
(Amalia, dkk. 2018). Kelebihan dan kekurangan menggunakan AF menurut
Praditya (2016) sebagai berikut.
Kelebihan Kekurangan
- Tidak menimbulkan bau maupun lalat - Membutuhkan start up yang relatif lama
- Tidak membutuhkan lahan yang luas - Perlu pencucian berkala pada media
- Pengelolaan yang mudah filter agar tidak terjadi penyumbatan
- Biaya operasional yang rendah - Memerlukan sumber air yang konstan
- Lumpur yang dihasilkan lebih sedikit - Effluent perlu pengolahan lanjutan
dibandingkan dengan proses lumpur - Pengurangan bakteri patogen, padatan,
aktif dan zat organik rendah
- Dapat menghilangkan nitrogen dan - Tidak diperbolehkan terkena banjir
fosfor yang dapat menyebabkan ataupun air hujan, sehingga lubang
euthropikasi pemeriksaan harus di atas muka air
- Suplai udara untuk aerasi relatif kecil banjir
- Dapat digunakan untuk pengolahan air
limbah dengan kadar BOD yang cukup
besar
- Dapat menghilangkan padatan
tersuspensi (TSS) dengan baik
1.4 Media Filter yang Digunakan dalam Penelitian
a. Ijuk
Ijuk merupakan media filter yang paling terkenal dan banyak digunakan
untuk proses pengolahan air, mulai dari air limbah hingga air bersih. Ijuk dalam
media filter berfungsi sebagai penyaring kotoran yang ukurannya lebih besar
(Sujarwanto, 2014). Ijuk memiliki kelenturan sekaligus kepadatan namun
kepadatannya tetap bisa membuat air mengalir dengan baik, sehingga banyak
digunakan untuk media filter (Antula, 2014).
b. Pasir
6
Saringan pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan
padatan yang terdapat dalam air, ukuran pasir yang lazim dipakai atau
dimanfaatkan yakni pasir berukuran 0,2 mm – 0,8 mm (Rajman, 2015). Pasir aktif
berwarna hitam dipergunakan sebagai pengganti pasir silika yang berfungsi untuk
menyaring partikel besar/kecil dalam air sekaligus menjernihkan air (Supriyono,
dkk., 2015).