0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan11 halaman

Sesi 5

Dokumen tersebut membahas tentang wanprestasi dan langkah yang dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan akibat wanprestasi. Wanprestasi adalah kelalaian debitur dalam memenuhi perjanjian yang dapat berakibat ganti rugi yang harus diberikan oleh pihak yang melakukan wanprestasi sesuai ketentuan KUH Perdata.

Diunggah oleh

oi er
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan11 halaman

Sesi 5

Dokumen tersebut membahas tentang wanprestasi dan langkah yang dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan akibat wanprestasi. Wanprestasi adalah kelalaian debitur dalam memenuhi perjanjian yang dapat berakibat ganti rugi yang harus diberikan oleh pihak yang melakukan wanprestasi sesuai ketentuan KUH Perdata.

Diunggah oleh

oi er
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

penerapan asas retroaktif bertentangan dengan asas legalitas

menurut saya, iya. Asas retroakti dapat bertentangan dengan asas legalitas. Hal
tersebut terbukti dalam dalam Pasal 43 ayat (1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan
Hak Asasi Manusia (“UU Pengadilan HAM”) disebutkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang
terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang ini, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad
hoc. Jika melihat pada ketentuan tersebut, memang asas berlaku surut dikenal dalam pengadilan
HAM. Terhadap asas berlaku surut yang dikenal dalam Pasal 43 ayat (1) UU Pengadilan HAM itu
pernah diajukan permohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (“MK”) oleh Abilio Jose Osorio
Soares, mantan Gubernur Timor Timur pada waktu itu (tahun 2004). Asas retroaktif ini dianggap
bertentangan dengan asas legalitas yang diatur dalam Pasal 1 ayat 1 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (“KUHP”) yang berbunyi: “Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali
berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada”, dan juga
bertentangan dengan ketentuan konstitusi Pasal 28I ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang
berbunyi; “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan
hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai
pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang
berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun”. Meski demikian, MK kemudian menolak permohonan judicial review Abilio Osario Soares
terhadap Pasal 43 ayat (1) UU Pengadilan HAM melalui putusan MK No. 065/PUU-II/2004 yang
dibacakan oleh Ketua MK pada waktu itu, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H.

Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan asas retroaktif dapat bertentangan dengan asas legalitas
dalam penegakkan HAM. Melalui Putusan MK No. 065/PUU-II/2004, Pengadilan HAM ad
hoc dinyatakan tidak bertentangan dengan UUD 1945. Pengadilan tersebut
merupakan pengesampingan terhadap asas non-retroaktif yang dilakukan dengan
sangat hati-hati, hal itu tertuang dalam pertimbangan hukum Putusan MK tersebut
sebagai berikut.

(a) pembentukannya hanya terhadap peristiwa-peristiwa tertentu dengan locus


delicti dan tempus delicti yang terbatas, bukan untuk semua peristiwa
secara umum; dan

(b) Pengadilan HAM ad hoc hanya dapat dibentuk atas usul DPR karena
menurut UUD 1945 DPR adalah representasi rakyat Indonesia, yang berarti
bahwa pada dasarnya rakyatlah yang menentukan kapan pelanggaran
HAM yang berat sebelum pembentukan UU Pengadilan HAM telah terjadi
yang penyelesaiannya membutuhkan pembentukan Pengadilan HAM ad
hoc.

Perdebatan penerapan asas retroaktif memang bukan hal yang baru. Sebelumnya,
penerapan asas retroaktif telah dipertimbangkan oleh majelis hakim ad
hoc pengadilan HAM untuk beberapa terdakwa kasus Timor Timur dalam putusan
sela. Di mana dalam putusan sela tersebut disebutkan asas retroaktif digunakan
berdasarkan kajian terhadap praktik pengadilan pidana internasional yang
mengesampingkan asas non-retroaktif demi tegaknya keadilan.

Referensi:

BMP Interpretasi dan Penalaran Hukum UT.

UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

Pasal 1 ayat 1 KUHP.

Pasal 28I ayat 1 UUD 1945.

https://www.hukumonline.com/klinik/a/peradilan-ham-bersifat-retroaktif-cl4833

Putusan kasasi adalah sebuah putusan akhir dari mahkamah agung yang memiliki kekuatan
hukum yang tetap. Untuk membaca cepat putusan kasasi yaitu dengan mengawali
dengan melihat amar putusan kasasi yang terletak pada bagian akhir
putusan. Jika amar putusan kasasi menyatakan mengabulkan permohonan
kasasi diikuti dengan “mengadili sendiri” dan isi amar putusan. Jika amar
putusan kasasi menyatakan menolak permohonan kasasi, lalu dilanjutkan
dengan membaca amar putusan banding dan atau putusan tingkat
pertama. Jadi, untuk mengetahui ada tidaknya nilai-nilai penting dalam
putusan, membacanya dengan melihat langsung bagian pertimbangan
putusan MA. Karena biasanya jumlah halaman putusan kasasi di MA bisa
mencapai 10 sampai 300 halaman sehingga cara tersebut lah dapat
digunakan untuk mudah membaca atau mengetahui dengan cepat dari
putusan Kasasi. Dalam membaca putusan kasasi, yang terpenting adalah memahami
isi/kesimpulan putusan hakim dan alasan hukum yang digunakan.

Referensi:
BMP Bahasa dan Interpretasi Hukum UT.

Berikut jenis-jenis asuransi dan contohnya yang saya ketahui:

1. Asuransi jiwa
Pengertian asuransi jiwa adalah produk asuransi yang memberikan uang pertanggungan (UP) kepada ahli
waris apabila nasabah/tertanggung meninggal dunia.

Contoh: Sequis Life Financial Smart Life, BCA Life Proteksi Jiwa Optima, Prudential PRUsafe Guard

2. Asuransi kesehatan
Asuransi kesehatan adalah jenis asuransi yang memberikan penggantian biaya perawatan medis akibat
sakit ataupun kecelakaan.

Contoh: BRI Life Simply HealthCare, Manulife MiUltimate HealthCare, BNI Life Optima Cash Plan

3. Asuransi mobil
Asuransi mobil adalah produk asuransi yang memberikan ganti rugi apabila terjadi kerusakan/kehilangan
pada mobil karena kecelakaan, baik menabrak atau ditabrak.

Contoh: Asuransi Sinarmas, Asuransi Adira Syariah, Asuransi Adira Autocillin

4. Asuransi motor
Asuransi motor adalah produk asuransi yang memberikan ganti rugi apabila terjadi kerusakan atau
kehilangan motor.
Contoh: Adira MotoPro, Sinarmas Simas Motor, Asuransi Kendaraan Bermotor ACA

5. Asuransi kecelakaan
Asuransi kecelakaan adalah produk asuransi yang memberikan pertanggungan risiko kecelakaan (akibat
dari luar).

Contoh: BRI Life Acci Care, BCA Life b-SAVE Accident Protection, Cigna Proteksi Diri Ekstra

6. Asuransi pendidikan
Asuransi pendidikan adalah produk asuransi yang memberikan jaminan dana pendidikan bagi anak apabila
orangtua mengalami risiko meninggal dunia atau cacat tetap total.

Contoh: AXA Mandiri – Mandiri Sejahtera Cerdas, Manulife Education Protector, Prudential PRULink
Edu Protection

7. Asuransi properti
Asuransi properti adalah jenis asuransi yang memberikan ganti rugi apabila terjadi insiden tertentu pada
properti/rumah beserta aset di dalamnya.

Contoh: Brins Asri, Avrist Property All Risk, AIG Property All Risk

8. Asuransi kebakaran
Jenis asuransi ini hampir mirip dengan asuransi property all risk, yaitu sama-sama menanggung kerugian
pada aset properti tetapi akibat risiko kebakaran saja.

Contoh: Asuransi Kebakaran Jasindo, Asuransi Kebakaran CHUBB, Asuransi Kebakaran Sinar Mas

9. Asuransi perjalanan
Asuransi perjalanan adalah jenis asuransi yang menanggung risiko yang terjadi saat kamu melakukan
perjalanan bisnis atau traveling. Risiko tersebut bisa berupa kecelakaan, sakit, atau kehilangan barang.

Contoh: Asuransi Perjalanan Adira, Asuransi Perjalanan Sompo, Asuransi Perjalanan Sinar Mas

10. Asuransi bisnis


Asuransi bisnis memberikan pertanggungan terhadap aset bisnis, mulai dari peralatan kerja hingga asuransi
karyawan. Sesuai dengan namanya, asuransi ini ditujukan bagi pebisnis, baik UMKM maupun korporasi.

Contoh: BCA Life Health Protection, Allianz Smarthealth Classic Premier, Avrist Group Health Care
Silver

11. Asuransi kredit


Asuransi kredit adalah jenis asuransi yang melunasi utang/sisa kredit tertanggung apabila mengalami risiko
meninggal dunia, cacat tetap total, atau bahkan di-PHK.
Contoh: Asuransi Kredit Sinarmas, Asuransi Jiwa Kredit CHUBB, Asuransi Kredit Serbaguna Askrindo

12. Asuransi dana pensiun


Asuransi dana pensiun kadang disebut pula sebagai Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Contoh: BRI Life, AXA Mandiri, Allianz, Manulife

13. Asuransi sosial


Asuransi sosial adalah jenis asuransi bersifat wajib yang biasanya diselenggarakan oleh pemerintah.

Contoh:

Di Indonesia, jenis-jenis asuransi sosial meliputi:

a. BPJS Kesehatan: jenis asuransi sosial yang berfokus untuk proteksi kesehatan.
b. BPJS Ketenagakerjaan: jenis asuransi sosial yang berfokus pada jaminan sosial ketenagakerjaan
(pensiun, kecelakaan kerja, hari tua, kematian).
c. Jasa Raharja: jenis asuransi sosial yang berfokus untuk proteksi kecelakaan lalu lintas.
d. PT TASPEN dan PT Asabri: jenis asuransi sosial yang berfokus pada program pensiun dan
tabungan hari tua untuk pegawai negeri sipil dan angkatan bersenjata

Referensi:

BMP Hukum Dagang dan Kepailitan UT.

https://lifepal.co.id/media/jenis-asuransi/

Wanprestasi adalah kelalaian debitur dalam memenuhi perjanjian. Terkait


hal ini, ada sejumlah langkah yang bisa ditempuh oleh pihak yang merasa
dirugikan. Ganti rugi pun wajib diberikan pihak yang melakukan
wanprestasi. Beriktu penjelasannya.

Berdasarkan Pasal 1234 KUH Perdata, prestasi yang dituntut umumnya


berupa tiga hal, yakni memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan untuk
tidak berbuat sesuatu. Seperti yang sudah disebutkan, kegagalan dalam
memenuhi prestasi disebut wanprestasi. Kemudian, ketentuan atau dasar
hukum wanprestasi dimuat dalam KUH Perdata.
Wanprestasi sebagaimana diterangkan Pasal 1238 KUH Perdata adalah
kondisi di mana debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau
dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri,
yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan
lewatnya waktu yang ditentukan.

Selanjutnya, terkait unsur wanprestasi, Subekti dalam Hukum


Perjanjian menerangkan empat unsur dalam wanprestasi, antara lain:

1. Tidak melakukan apa yang disanggupi atau tidak melakukan apa


yang dijanjikan.
2. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana yang
dijanjikan.
3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat.
4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Akibat Wanprestasi
Bila melakukan wanprestasi, pihak yang lalai harus memberikan
penggantian berupa biaya, kerugian, dan bunga. Akibat atau sanksi
wanprestasi ini dimuat dalam Pasal 1239 KUH Perdata yang
menerangkan bahwa tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak
berbuat sesuatu, wajib diselesaikan dengan memberikan penggantian
biaya, kerugian dan bunga, bila debitur tidak memenuhi kewajibannya.

Penggantian biaya merupakan ganti dari ongkos atau uang yang telah
dikeluarkan oleh salah satu pihak. Kemudian, yang dimaksud dengan
penggantian rugi adalah penggantian akan kerugian yang telah ditimbulkan
dari kelalaian pihak wanprestasi. Selanjutnya, terkait bunga, J. Satrio
dalam Hukum Perikatan menerangkan bahwa bunga dapat diklasifikasikan
menjadi tiga jenis.

1. Bunga Moratoir, yakni bunga terutang karena debitur terlambat


memenuhi kewajibannya.
2. Bunga Konvensional, yakni bunga yang disepakati oleh para pihak.
3. Bunga Kompensatoir, yakni semua bunga di luar bunga yang ada
dalam perjanjian.

Apabila pihak debitur melakukan wanprestasi, pihak kreditur umumnya


memberikan surat perintah atau peringatan yang menerangkan bahwa
pihak/debitur telah melalaikan kewajibannya. Surat ini dikenal dengan surat
somasi. Terkait somasi, ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata menerangkan
bawa debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau dengan akta
sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila
perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya
waktu yang ditentukan.
Apabila setelah pemberian somasi pihak debitur tidak juga melakukan apa
yang dituntut, pihak kreditur dapat menuntut atau menggugat wanprestasi
yang telah dilakukan. Ada tiga kemungkinan bentuk gugatan yang mungkin
diajukan oleh pihak yang merasa dirugikan akibat dari wanprestasi, yakni
sebagai berikut.

1. Melalui parate executie

Kreditur melakukan tuntutan sendiri secara langsung tanpa pengadilan.


Pihak kreditur bertindak secara eigenrichting atau menjadi hakim sendiri
secara bersama-sama. Dalam praktiknya, langkah ini berlaku pada
perikatan ringan dengan nilai ekonomis kecil.

2. Melalui arbitrase atau perwasitan

Kreditur dan debitur sepakat untuk menyelesaikan persengketaan melalui


wasit atau arbitrator. Saat arbitrator memutuskan sengketa tersebut, baik
kreditur dan debitur harus tunduk pada putusan. Kendati putusan tersebut
merugikan atau menguntungkan salah satu pihak, keduanya wajib
menaatinya.

3. Melalui rieele executie

Penyelesaian sengketa antara kreditur dan debitur melalui hakim di


pengadilan. Umumnya langkah ini diambil saat masalah yang
dipersengketakan cukup besar dan nilai ekonomisnya tinggi atau di antara
pihak kreditur dan debitur tidak ada penyelesaian sengketa meski
cara parate executie telah dilakukan.

Referensi:

BMP Hukum Perjanjian UT.

https://www.hukumonline.com/berita/a/unsur-dan-cara-menyelesaikan-wanprestasi-
lt62174878376c7/?page=all
JAKARTA - Setelah berhari-hari menjadi perbincangan publik karena kebijakan
privasi barunya, WhatsApp akhirnya buka suara terkait rumor kerawanan data yang
menjadi salah paham dari penggunanya.

WhatsApp menegaskan melalui laman Twitter-nya @WhatsApp bahwa kebijakan


privasi baru tersebut tidak mempengaruhi enkripsi end-to-end serta keamanan
privasi pesan pengguna dengan siapapun.

"Kami ingin meluruskan rumor dan 100 persen jelas bahwa kami melindungi pesan
probadi dengna enkripsi end-to-end. Pembaruan kebijakan privasi kami tidak
mempengaruhi privasi pesan Anda dengan teman atau keluarga," cuit @WhatsApp,
Rabu 13 Januari

Head of WhatsApp, Will Cathcart juga mengungkapkan hal serupa. Cathcart


menjelaskan bahwa pesan yang dikirimkan antar pengguna tetap akan terlindungi.
Tetapi, kebijakan privasi baru dan penggunaan layanan yang dilakukan WhatsApp
tersebut berlaku untuk chat yang dilakukan dengan akun bisnis, bukan personal.

"Penting bagi kami untuk menjelaskan bahwa pembaruan ini diperuntukkan pada
komunikasi dengan (akun) bisnis. Tidak memengaruhi bagaimana pengguna
berkomunikasi secara privat dengan teman atau keluarga," tweet @wcathcart.

Menurut Cathcart, pihaknya memang harus segera menggulirkan pembaruan


WhatsApp. Terlebih platform ini sudah mulai merambah komunikasi bisnis dan tidak
mengubah praktik berbagi data WhatsApp dengan Facebook.

Kebijakan privasi terbaru ini, dikatakan WhatsApp, hanya akan berlaku untuk
percakapan dengan akun WhatsApp Business. Di mana layanan ini menggunakan
API WhatsApp Business untuk memilih penyedia hosting di luar WhatsApp.

Bisnis bisa menggunakan infrastruktur hosting Facebook, percakapan dengan akun


WhatsApp Business akan disimpan di server Facebook. Jika pengguna
berkomunikasi dengan akun Business yang menggunakan penyimpanan di luar
WhatsApp, platform akan menampilkan pemberitahuan di obrolan tersebut.

"Pengguna kemudian berhak dan bebas memilih apakah mereka mau berinteraksi
dengan bisnis tersebut atau tidak. Percakapan dengan akun Bisnis yang
menggunakan aplikasi gratis WhatsApp Business, maupun yang menggunakan
WhatsApp Business API, tapi, tetap menggunakan layanan hosting WhatsApp,
masih terlindungi enkripsi end-to-end seperti biasa," katanya dalam postingan blog
WhatsApp.

Selain itu, anak perusahaan milik Mark Zuckerberg ini juga memastikan tidak akan
menyimpan catatan pengiriman pesan maupun telepon penggunanya. WhatsApp
juga tidak dapat melihat lokasi smartphone, selain yang dibagikan oleh
penggunanya.
Platform berlogo hijau itu juga menyarankan agar pengguna menyetel penghapusan
pesan otomatis guna keamanan. Pengguna juga bisa mengunduh datanya sendiri di
layanan tersebut.

(https://voi.id/teknologi/26726/whatsapp-i-blak-blakan-i-tak-akan-berbagi-data-
dengan-facebook)

Berdasarkan berita di atas, mari diskusikan kaitannya dengan hak kebebasan


pribadi dan hak rasa aman, dalam bentuk komunikasi dan informasi di era
cyber ini!

Di dalam dunia digital yang dimana berkaitan dengan komunikasi


dan informasi, setiap orang memiliki hak kebebasan pribadi dan
hak rasa aman. Hak kebebasan pribadi dalam berkomunikasi dan
memperoleh informasi yang dimiliki oleh setiap orang berhak
menggunakannya dalam dunia digital seperti berinteraksi dengan
orang lain tanpa dibatasi atau dilarang dan berhak mengakses
informasi yang dianggap penting yang tentu tersebut masih sesuai
dengan aturan yang berlaku yang tidak mengandung tindakan
kejahatan. Kemudian Hak atas rasa aman di dalamnya termasuk
hak untuk bebas dari kejahatan di internet, antara lain pencurian
dan penyebarluasan data pribadi, perundungan secara online,
bahkan penguntitan dan pengawasan.
Saat hak privasi seseorang dirampas dan menyebabkan seluruh
data dirinya dipergunakan oleh orang yang tidak bertanggung
jawab, maka amat sangat mungkin dia akan menjadi target
kejahatan dan dapat mengalami kerugian secara sadar maupun
tidak sadar. Oleh karena itu, hak-hak digital setiap orang menjadi
penting supaya kehidupan berdigittal yang aman dan nyaman dapat
terwujud. Pada era yang sangat modern seperti ini setiap pihak
dapat dengan mudah mengumpulkan data pribadi atau melakukan
pelanggaran hak digital dalam bentuk apapun.

Kemudian, terkait dengan hak kebebasan pribadi dan hak rasa aman, dalam bentuk
komunikasi dan informasi di era cyber ini yaitu dalam penggunaan whatsapp yang
dijabarkan pada kasus di atas, berikut tanggapan saya:
Aplikasi Whatsapp dibekali dengan sistem enkripsi end-to-end yang mampu melindungi
percakapan pengguna dengan siapapun. Whatsapp sudah menjamin keamanan privasi bagi
pengguna dengan tidak menyimpan catatan pengiriman pesan maupun telepon
penggunanya. Dari kebijakan-kebijakan di dalam aplikasi Whatsapp di atas, sudah sesuai
dengan peraturan yang berlaku seperti:

 Pasal 28G ayat (1) yaitu : Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga,
kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas
rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasi.
 Dengan layanan tersebut pengguna whatshap merasa aman dalam berbincang tanpa
takut ada pihak ketiga yang mengintai percakapannya. Hal tersebut merupakan
perwujudan dari UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 30, yaitu
menyebutkan : Setiap orang berhak atas rasa aman dan tentram serta perlindungan
terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
 Terkait hubungannya dengan kejahatan cyber, dengan adanya layanan enkripsi end-to-
end Whatshap dapat meminimalisir penyadapan data, kebocoran informasi, ataupun lain
terkait cyber crime. Sehingga pengguna merasa aman, nyaman dan terlindungi hak
pribadinya. Dalam UU ITE layanan enkripsi end-to-end Whatshap merupakan
perwujudan dari Pasal 4 UU No 11 Tahun 2008 poin e, yaitu manfaat dari teknologi
informasi adalah untuk “memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi
pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.”

Referensi:

BMP Hukum dan Hak Asasi Manusia UT.

Pasal 28G Ayat 1 UUD 1945.

UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.


Di dalam kedua kasus tersebut, tindakan yang dilakukan WNA atas nama Lady Rock tersebut
merupakan upaya pinjam nama untuk menguasai sebidang tanah dan memiliki sebuah PT.
Sebagaimana diketahui bahwa pada ketentuan pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia
No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang selanjutnya disebut UU No. 5
Tahun 1960, menyatakan bahwa warga negara asing tidak dapat memiliki tanah dengan hak milik
atas tanah. Maka warga negara asing yang tinggal di Indonesia hanya memiliki hak pakai atas tanah
negara atau hak pakai yang berada diatas lahan atau tanah hak milik, terhadap hunian atau tempat
tinggal yang ditempatinya di Indonesia. Selain itu, berdasarkan pada pasal 21 ayat (1) UU No. 5
Tahun 1960 hanya warga negara Indonesia yang dapat memperoleh hak milik atas tanah di
Indonesia. Syarat sahnya suatu perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Tindakan pinjam
nama terrsebut dikenal sebagai perjanjian nominee yaitu antara Lady Rock dan suaminya serta Lady
Rock dengan karyawannya. Perjanjian Nominee tersebut merupakan tindakan penyelundupan
hukum. Alasannya adalah di dalam sistem hukum di Indonesia sama sekali tidak dikenal mengenai
perjanjian nominee, sehingga dengan demikian tidak ada pengaturan secara khusus dan tegas
mengenai perjanjian nominee ini. Perjanjian nominee di bidang pertanahan dalam praktek adalah
memberikan kemungkinan bagi warga negara asing memiliki tanah yang dilarang UUPA adalah
dengan jalan ”Meminjam nama (nominee)” warga negara Indonesia dalam melakukan jual beli.
Keabsahan dan kekuatan mengikat dari perjanjian nominee, tidak terlepas dari ketentuan Pasal
1320. Dalam pasal tersebut menentukan adanya 4 (empat) syarat sahnya perjanjian, yang dimana
dengan hal ini maka, perjanjian nominee tidak memenuhi unsur suatu sebab yang halal karena
menyangkut pemindahan hak atas tanah dari warga negara Indonesia kepada warga negara asing
secara tidak langsung yang dilarang dalam Pasal 26 ayat (2) UUPA. Sehingga mengakibatkan
perjanjian nominee menjadi tidak sah/absah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat bagi para
pihaknya.

Jadi kesimpulannya adalah, tindakan pada kedua kasus di atas merupakan penyelundupan hukum.

Referensi:

BMP Hukum Perdata Internasional UT.

KUHPerdata.

UUPA.

Anda mungkin juga menyukai