La KB
La KB
OLEH
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN FISIOLOGIS HOLISTIK KELUARGA
BERENCANA PADA NY. “KM” USIA 30 TAHUN WANITA USIA SUBUR
AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN
DI PUSKESMAS BULELENG 1
TANGGAL 19 JANUARI 2023
1
OLEH
Telah disahkan,
Denpasar, Januari 2023
MENGETAHUI
KETUA PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan “Laporan Akhir Praktik Kebidanan
Holistik Fisiologis Pada Asuhan Keluarga Berencana”tepat pada waktunya. Dalam
2
penyusunan laporan akhir ini, penulis banyak mendapat saran, dorongan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu kami menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada :
1. Dr. Ni Nyoman Budiani, S. Si.T., M.Biomed selaku Ketua Jurusan Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
2. Ni Wayan Armini, SST., M.Keb selaku Ketua Prodi Profesi Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
3. Gusti Ayu Marhaeni, SKM., M. Biomed selaku pembimbing institusi dalam
PK KB dan Kespro
4. S Ariestine Wiriadi, S.ST.Keb sebagai pembimbing lapangan dalam
penyusunan laporan akhir PK KB dan Kespro
5. Semua staf dan pegawai di Puskesmas Buleleng 1 yang telah bersedia
membimbing kami saat melakukan praktik.
6. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, yang telah
membantu dalam penyusunan laporan akhir ini.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
terhadap laporan pendaluhuan yang kami susun ini guna perbaikan kedepannya.
Demikianlah kiranya para pembaca, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan
kami mohon maaf. Semoga laporan ini bermanfaat untuk semua pihak. Akhir kata
kami ucapkan terimakasih.
Denpasar, November 2021
Penulis
DAFTAR ISI
3
COVER.............................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. ii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Tujuan............................................................................................................. 2
C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus......................................................... 3
D. Manfaat Penulisan Laporan............................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Keluarga Berencana................................................................ 4
B. Konsep Dasar Kontrasepsi............................................................................. 4
C. Kontrasepsi Suntik DMPA............................................................................. 7
BAB III TINJAUAN KASUS........................................................................... 13
BAB IV PEMBAHASAN KASUS................................................................... 17
BAB V PENUTUP
A. Simpulan......................................................................................................... 20
B. Saran............................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia masih menduduki urutan keempat dengan penduduk terbanyak
di dunia dengan jumlah penduduk 255.461.686 jiwa (Kemenkes RI,2016). Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) memprediksi jumlah
penduduk Indonesia berpotensi menjadi terbesar sedunia setelah China dan India
jika laju pertumbuhannya tidak ditekan secara sigifikan.
Program yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi laju
pertumbuhan penduduk dapat dilakukan dengan gerakan keluarga berencana dan
pemakaian alat kontrasepsi secara sukarela kepada pasangan usia subur (PUS)
(Rismawati, dkk, 2015). Program KB tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan
laju pertumbuhan penduduk, melainkan juga untuk memenuhi permintaan
masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (KR) yang berkualitas,
menurunkan angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta
penanggulangan masalah kesehatan reproduksi untuk membentuk keluarga kecil
berkualitas (Yuhedi dan Kurniawati, 2013).
Persentase pemakaian kontrasepsi modern (modern contraceptive
prevalence rate/mCPR) di Provinsi Bali sebesar 66,25%. Metode kontrasepsi
modern yang paling banyak digunakan yaitu suntik KB (34,93%) sampai dengan
bulan Desember 2018. Pencapaian KB suntik terdapat di Kota Denpasar (13.509
peserta) (BKKBN Provinsi Bali, 2018).Ketersediaan layanan KB bagi perempuan
terdapat dalam beberapa metode, dan perempuan harus dapat menimbang
berbagai rofes dalam memilih metode KB yang sesuai bagi dirinya, termasuk
status kesehatan mereka, efek samping dari metode tersebut, konsekuensi
terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, kerjasama dari pasangan, dan norma
budaya yang mempengaruhi dalam pemilihan kontrasepsi. Berbagai pilihan alat
kontrasepsi ditawarkan kepada masyarakat dari mulai yang sederhana sampai
yang permanen/mantap, yaitu mulai pil, suntik, spiral dan Intra Uterine Device
(IUD). Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana
nasional serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakai suntikan
1
KB oleh karena aman, efektif, dan dapat dipakai pada pasca persalinan (Manuaba,
2010).
Salah satu metode kontrasepsi suntik yaitu KB suntik DMPA. Kontrasepsi
suntik DMPA cukup aman dan sangat efektif dalam mencegah kehamilan apabila
penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Tingkat efektifitasnya cukup tinggi yaitu 0,3 kehamilan per 100 perempuan. Cara
kerjanya diantaranya mencegah ovulasi, mengentalkan rofes serviks sehingga
menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput rofes rofe tipis
dan atrofi serta menghambat transportasi gamet oleh tuba (Saifuddin, 2011).
Penggunaan suntikan DMPA sebagai alat kontrasepsi cukup popular di kalangan
masyarakat terutama masyarakat dari kalangan menengah ke bawah karena selain
cukup aman dan efektif jenis kontrasepsi ini rofessi murah sehingga rof
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Akseptor KB suntuk 3 bulan yang
sudah terlanjut nyaman cenderung enggan untuk mengganti cara. Padahal, efek
samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan KB suntik 3 bulan yang terlalu
lama yaitu peningkatan berat badan dan peningkatan tekanan darah.
Melalui PK fisiologis rofessi keluarga berencana, mahasiswa profesi bidan
diharapkan dapat memberikan asuhan dan menerapkan teori yang sudah
didapatkan di perkuliahan. Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk
membahas tentang asuhan kebidanan keluarga berencana pada ny. “KM” usia 30
tahun wanita usia subur akseptor kb suntik 3 bulan di Puskesmas Buleleng 1.
B. Tujuan Praktik
1. Tujuan Umum
Mahasiswa profesi bidan mampu memberikan asuhan kebidanan keluarga
berencana sesuai dengan standar asuhan kebidanan secara mandiri, professional
dan berkualitas dengan selalu memperhatikan aspek budaya
Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian data secara lengkap, jelas, akurat
b. Menetapkan rofessi kebidanan serta masalah kebidanan dengan menerapkan
cara berfikir kritis
c. Menyusun perencanaan asuhan kebidanan keluarga berencana
2
d. Melaksanakan asuhan kebidanan keluarga berencana dengan pendekatan
holistic
e. Melakukan evaluasi secara komprehensif pada asuhan kebidanan keluarga
berencana
f. Melakukan pendokumentasian asuhan keluarga berencana
3
BAB II
KAJIAN TEORI
4
pertemuan ovum dan sperma atau mencegah spermatozoa mencapai saluran
genital wanita. Sekarang sudah ada jenis kondom untuk wanita, angka kegagalan
dari penggunaan kondom ini 5-21%.
2) Coitus Interuptus
Coitus rofessiona atau senggama terputus adalah menghentikan senggama
dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi.
Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga rofessi sehat
untuk digunakan wanita dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, risiko
kegagalan dari metode ini cukup tinggi.
3) Siklus Kalender
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur, dasar
utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi ada 3 cara,
yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode rofes serviks
4) Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma
mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran alat
reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka kegagalan diafragma 4-
8% kehamilan (Sulistyawati, 2011)
b. Kontrasepsi Hormonal
1) Pil
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk rofessi tablet yang
berisi gabungan rofess estrogen dan rofessional (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri
dari rofess rofessional saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi untuk
mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan rofes mulut
rofe sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam rofe, dan menipiskan lapisan
endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat menyusui. Efektifitas pil sangat
tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk
mini pil.
2) Kb Suntik
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik
KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat
5
terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat badan,
pemakaian jangka rofess rof terjadi penurunan libido, dan densitas tulang.
3) Implan
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit, biasanya
dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung levonogestrel.
Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai 5 tahun, kesuburan
akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya sangat tinggi, angka
kegagalannya 1-3% (Saiffudin, 2010)
c. Kontrasepsi Non Hormonal (alat)
1) IUD
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rofe yang
bentuknya bermacam-macam, terdiri dari rofess (rofessional), ada yang dililit
tembaga (Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya
hanya berisi rofess rofessional. Cara kerjanya, meninggikan getaran saluran telur
sehingga pada waktu blastokista sampai ke rofe endometrium belum siap
menerima nidasi, menimbulkan reaksi mikro infeksi sehingga terjadi penumpukan
sel darah putih yang melarutkan blastokista, dan lilitan logam menyebabkan
reaksi anti fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka kegagalannya 1% (Saifuddin,
2010)
d. Kontrasepsi Mantap
1) Tubektomi
Suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara
mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba fallopi (pembawa sel telur ke
rofe), efektivitasnya mencapai 99 %.
2) Vasektomi
Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi
keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani (vas
defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama, efektifitasnya
99% (Saifuddin, 2010)
6
Adapun pola penggunaan alat kontrasepsi yang rasional berdasarkan usia
adalah sebagai berikut (Hartanto, 2010) :
Pada usia < 20 tahun merupakan usia yang memiliki risiko tinggi maka
dari itu sebaiknya pada usia tersebut dianjurkan untuk tidak memiliki anak
terlebih dahulu. Prioritas penggunaan alat kontrasepsi yang dianjurkan diantara pil
oral dikarenakan pengguna masih muda. Sedangkan pada usia diatas 30 terutama
diatas 35 tahun kontrasepsi yang dianjurkan menjadi pilihan utama yaitu
kontrasepsi mantap (Kontap) dikarenakan pada usia tersebut dianjurkan untuk
mengakhiri kehamilan karena alasan medis dan alasan lainnya (Hartanto, 2010)
Umur merupakan hal yang sangat berperan dalam penentuan untuk
menggunakan alat kontrasepsi karena pada fase-fase tertentu dari umur
menentukan tingkat reproduksi seseorang. Umur yang terbaik bagi seorang wanita
adalah antara 20-30 tahun karena pada masa inilah alat-alat reproduksi wanita
sudah siap dan cukup matang untuk mengandung dan melahirkan anak. Bila
ditinjau pola dasar penggunaan kontrasepsi yang rasional maka masa mencegah
kehamilan (30 tahun) dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi dengan urutan
kontap, AKDR/ IUD, implant, suntik, pil KB, dan kondom. Dengan demikian
umur akan menentukan dalam pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan
(Rizali, 2013).
7
C. Kontrasepsi Suntik DMPA
1. Definisi
Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk
pengaturan kehamilan dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk
seksual (Saifuddin, 2011). Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti
mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur
yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah
untuk menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan
antara sel telur matang dengan sel sperma (BKKBN, 2011).
Kontrasepsi suntik DMPA merupakan metode kontrasepsi suntik yang
mengandung 150 mg DMPA dan diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik
intramuskuler di daerah bokong (Saifuddin, 2011). Kontrasepsi suntik Depo
Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) adalah kontrasepsi hormonal yang berisi
komponen progesterone yang diberi secara intramuscular (IM) pada muskulus
gluterus maximus (bokong) dalam jangka waktu 12 minggu, mengandung 150
mg (Saifuddin, 2011).
2. Keuntungan Kontrasepsi Suntik DMPA
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka rofess
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d. Tidak mengandung estrogren sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah.
e. Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f. Sedikit efek samping
g. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
h. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopouse
i. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
j. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
k. Menurunkan krisis anemia bulan sabit (Saifuddin, 2011)
3. Keterbatasan Kontrasepsi Suntik DMPA
a. Sering ditemukan gangguan haid seperti:
1) siklus haid yang memendek atau memanjang
8
2) perdarahan yang banyak atau sedikit
3) perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
4) tidak haid sama sekali
b. Klien sangat bergantung pada tempat pelayanan kesehatan (harus kembali
untuk suntikan.
c. Tidak dapat dihentikan sewaktu – waktu sebelum suntikan berikutnya.
d. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
e. Tidak menjamin terhadap perlindungan penularan IMS, Hepatitis B/ HIV
f. Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
g. Pada penggunaan jangka rofess dapat menimbulkan kekeringan pada vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, jerawat. (Saifuddin,
2011).
4. Mekanisme Kerja
a. Mencegah ovulasi. Kb suntik meningkatkan kadar hormone progestin di
dalam tubuh, sehingga menghambat luteinizing hormone (LH) secara efektif
sehingga tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan
LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH, menghambat perkembangan
folikel dan mencegah ovulasi
b. Mengentalkan rofes servik dan menjadi sedikit sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma. Lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit.
Perubahan siklus yang normal pada rofes servik. Secret dari servik tetap
dalam keadaan di bawah pengaruh progesteronn hingga menyulitkan penetrasi
spermatozoa.
c. Membuat endometrium menjadi kurang layak atau baik untuk implantasi dari
ovum yang telah dibuahi, yaitu mempengaruhi perubahan-perubahan
menjelang stadium sekresi, yang diperlukan sebagai persiapan endometrium
untuk memungkinkan nidasi dari ovum yang telah dibuahi.
d. Menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin mempengaruhi kecepatan
transport ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan perubahan terhadap
kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba (Hanafi, 2012)
9
5. Yang Dapat Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin/DMPA
a. Usia reproduksi
b. Nulipara dan yang telah memiliki anak
c. Menghendaki kontrasepsi jangka rofess
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Setelah abortus atau keguguran
f. Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi
g. Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
h. Menggunakan obat untuk epilepsy (fenitoin dan rofessiona) atau obat
tuberculosis (rifampisin)
i. Tekanan darah < 180/110 mmhg, dengan masalah gangguan pembekuan darah,
anemia bulan sabit dan anemia defisiensi besi
6. Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin/DMPA
a. Hamil atau dicurigai hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
d. Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
e. Diabetes mellitus disertai komplikasi
7. Lokasi Penyuntikan
Lokasi penyuntikan KB baik kombinasi maupun suntikan progestin
berdasarkan consensus internasional bahwa disuntikkan di bokong yaitu pada
muskulus ventro gluteal secara IM. Musculus ini dapat diukut dari Spina Iliaka
Anterior Superior (SIAS) sampai dengan os coccygeus kemudian diambil 1/3
bagian dari SIAS. Penyuuntikan dilakukan secara IM dengan sudur 90 o bertujuan
agar penyerapannya maksimal Hal yang perlu diperhatikan sebelum injeksi adalah
memastikan obat tercampur dan tidak mengendap dengan cara dikocok terlebih
dahulun (Hanafi, 2012)
8. Efek Samping KB suntik DMPA
a. Amenorea
Gangguan menstruasi berupa amenorea pada akseptor KB suntik DMPA
menurut (Hanafi, 2012) dapat disebabkan karena rofessional dalam komponen
10
DMPA menekan LH sehingga endometrium menjadi lebih dangkal dan atrofis
dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Pada umumnya amenore tidak perlu
diobati secara rutin. Berdasarkan hasil penelitian, efek samping akseptor KB
suntik DMPA setelah 2 tahun pemakaian berupa gangguan menstruasi amenorea
yaitu dari 74 responden, sebanyak 39 responden (52,7%) mengalami gangguan
menstruasi berupa amenorea setelah 2 tahun pemakaian (Rahayu, 2017).
b. Spotting
Spotting menurut BKKBN (2012) adalah bercak-bercak perdarahan di luar
haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik dan gangguan pola haid
spotting disebabkan karena menurunnya rofess estrogen dan kelainan atau
terjadinya gangguan rofess. Penggunaan kontrasepsi suntik progestin
menyebabkan ketidakseimbangan rofess, dengan penggunaan suntik hormonal
tersebut membuat dinding endometrium yang semakin menipis hingga
menimbulkan bercak perdarahan. Efek pada pola haid tergantung pada lama
pemakaian. Perdarahan inter menstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan
jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah besar. Perdarahan
bercak merupakan keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin
lamanya pemakaian tetapi sebaliknya jumlah kasus yang mengalami amenorea
makin banyak dengan makin lamanya pemakaian.
c. Keputihan
Keputihan yang terjadi pada akseptor KB suntik DMPA dapat disebabkan
karena ibu kurang menjaga kebersihan alat kelamin dan pakaian yang digunakan,
hal ini sesuai dengan pendapat BKKBN (2012) yaitu penyebab dari keputihan
adalah karena efek progesterone merubah flora dan PH vagina, sehingga jamur
mudah tumbuh di dalam vagina dan menimbulkan keputihan. Untuk mengatasi
keputihan maka dapat ditanggulangi dengan menjaga kebersihan daerah
kemaluan, memotivasi agar tetap memakai alat kontrasepsi suntikan. Namun bila
keputihan dirasa gatal, cairan berwarna kuning atau kehijauan atau berbau
tidak sedap, dan keputihan terus berlangsung maka pemakaian suntikan
dihentikan sementara. Keputihan menurut BKKBN (2012) merupakan keluarnya
cairan berwarna putih dari dalam vagina atau adanya cairan putih di mulut
vagina. Penyebab dari keputihan adalah karena efek rofessional merubah
11
flora dan PH vagina, sehingga jamur mudah tumbuh di dalam vagina dan
menimbulkan keputihan.
d. Peningkatan berat badan
Permasalahan berat badan menurut Saifuddin (2010) merupakan efek
samping tersering. Ada ahli yang menyebutkan bahwa penggunaan KB suntik
Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) rof berefek pada penambahan berat
badan. Terjadinya kenaikan berat badan kemungkinan disebabkan karena rofess
rofessional mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, juga
menyebabkan nafsu makan bertambah dan menurunnya aktivitas fisik, akibatnya
dapat menyebabkan berat badan bertambah. Penyebab terjadinya perubahan berat
badan belum diketahui. Hipotesa para ahli, DMPA merangsang pusat
pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan
lebih banyak dari biasanya (Hartono, 2010).
e. Peningkatan Tekanan Darah
Efek samping kontrasepsi suntik yang paling utama gangguan pola haid
sedangkan efek yang lain tidak kalah pentingnya adalah adanya peningkatan
tekanan darah dan peningkatan berat badan antara 1-5 kg. Pelayanan kontrasepsi
adalah bagian dari program keluarga berencana yang sangat dibutuhkan untuk
mewujudkan upaya peningkatan kualitas hidup penduduk. Alat kontrasepsi yang
paling banyak digunakan adalah jenis suntikan yaitu kontrasepsi suntikan
progestin (depoprovera). Efek samping yang penting akibat penggunaan
kontrasepsi suntik adalah kenaikan tekanan darah, tekanan darah dapat naik akibat
penggunaan obat-obatan termasuk menggunakan kontrasepsi suntik, sebuah
penelitian yang dilakukan pada 62 sampel akseptor KB suntik didapat hasil
responden penelitian dengan tekanan darah posisi normal sebanyak 44 responden
dan responden yang mengalami pre hipertensi dengan pemakain alat kontrasepsi
suntik sebesar 18 responden jadi dapat diketahui bahwa ada hubungan antara
pemakaian alat kontrasepsi suntik dengan tekanan darah. Salah satu efek samping
yang mungkin disebabkan oleh kontrasepsi ini yaitu terjadi perubahan pada
peningkatan renin substrat (angiotensin) dan lipid serum pada penggunaan jangka
rofess, dimana didapatkan terjadi penurunan kadar High Density Lipoprotein-
12
kolesterol (HDLkolesterol) yang dapat meningkatkan risiko meningkatnya
tekanan darah (Asare et al, 2014)
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Data Subjektif
1. Identitas
Ibu Suami
Nama NY KM TN EN
Umur 30 Tahun 32 Tahun
Agama Hindu Hindu
Suku/Bangsa Bali/Indonesia Bali/Indonesia
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Tidak Bekerja Swasta
Alamat Jl Angsoka No 2 Jl Angsoka No 2
No HP 087851846xxx 087851846xxx
2. Alasan datang
Ibu ingin kunjungan ulang suntik KB 3 bulan, tidak ada keluhan lain yang
dirasakan.
3. Riwayat menstruasi
13
Ibu mengatakan terakhir menstruasi 1 bulan yang lalu, namun hanya
barupa flek darah dengan durasi 1 hari. Ibu mengatakan menstruasi tidak
teratur sejak menggunakan KB suntik 3 bulan.
4. Riwayat perkawinan
Ibu mengatakan bahwa status perkawinannya sah dengan lama usia
pernikahan 9 tahun, umur istri saat menikah adalah 21 tahun, dan umur
suami pada saat menikah juga 23 tahun.
5. Riwayat Obstetri
Jumlah anak hidup 2 orang dan umur anak terkecil 5 tahun. Tidak sedang
menyusui
6. Riwayat Ginekologi
Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit seperti infertilitas, mioma/kista,
kanker, kelainan menstruasi, infeksi kandungan dan lain-lain.
7. Riwayat KB
Ibu menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan selama 3 tahun dan tidak ada
keluhan saat menggunakan KB suntik 3 bulan.
14
kontrasepsi adalah untuk mengatur jarak kehamilan, dan ibu merasa
bahwa ia dan suami juga sudah siap secara mental. Untuk kehidupan rofes,
ibu mengatakan bahwa hubungan antar keluarga di lingkungannya baik,
dukungan keluarga baik, pengambilan keputusan dilakukan rofess
keluarga, serta tidak ada budaya yang menghambat kontrasepsi. Untuk
masalah spiritual, ibu mengatakan tidak ada larangan apapun dari agama
yang dianutnya terkait dengan pemakaian kontrasepsi. Ibu mengatakan
sudah mengetahui terkait dengan alat kontrasepsi diantaranya kelemahan,
dan efek samping alat kontrasepsi, kemudian dari hasil konseling awal dan
informed consent ibu setuju untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum: baik, kesadaran: composmentis, BB: 58 kg, TB:
158 cm, TD: 100/70 mmHg, Suhu: 36,6oC, Nadi: 82 kali/menit, Respirasi:
16 kali/menit
2. Pemeriksaan fisik
Wajah : Tidak ada kelainan dan tidak ada oedema
Mata : Konjungtiva merah muda, sclera putih
Bibir : Merah muda, lembab
Dada : Simetris, tidak teraba massa, tidak ada retraksi putting
susu, tidak ada nyeritekan.
Abdomen : Tidak ada kelainan, tidak ada bekas operasi
Vulva : Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Kuku merah muda, tidak oedema, dan tidak ada varises
C. ANALISA
WUS sehat dengan Akseptor Lama KB suntik 3 bulan
Masalah:
Tidak ada
15
D. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada Ibu dan suami, Ibu dan
suami paham penjelasan bidan.
2. Melakukan informed consent suntik KB 3 bulan, Ibu setuju
3. Meminta persetujuan ibu melalui informed consent mengenai tindakan
yang akan dilakukan, Ibu bersedia dan form informed consent sudah di
tanda tangani.
4. Menyiapkan alat, bahan dan KB suntik 3 bulan. Bahan, alat, dan KB
Suntik 3 bulan sudah siap
5. Melakukan injeksi KB Suntik 3 bulan pada 1/3 SIAS secara IM. Tidak ada
reaksi alergi
6. Mengingatkan kembali efek samping, kekurangan dan kelebihan KB
suntik 3 bulan. Ibu paham
7. Menyepakati kunjungan ulang KB suntik 3 bulan pada tanggal 12 April
2023. Ibu bersedia untuk dating kembali
16
BAB IV
PEMBAHASAN
17
diperlukan sebagai persiapan endometrium untuk memungkinkan nidasi dari
ovum yang telah dibuahi dan menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin
mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan
perubahan terhadap kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba (Hanafi,
2012)
Ny. KM mengatakan siklus menstruasi tidak teratur dan terakhir
menstruasi 1 bulan yang lalu dan hanya berupa flek darah. Amenorea dan spoting
merupakan efek samping dari KB suntik 3 bulan. Gangguan menstruasi berupa
amenorea pada akseptor KB suntik DMPA menurut (Hanafi, 2012) dapat
disebabkan karena rofessional dalam komponen DMPA menekan LH sehingga
endometrium menjadi lebih dangkal dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar
yang tidak aktif. Pada umumnya amenore tidak perlu diobati secara rutin.
Berdasarkan hasil penelitian, efek samping akseptor KB suntik DMPA setelah 2
tahun pemakaian berupa gangguan menstruasi amenorea yaitu dari 74 responden,
sebanyak 39 responden (52,7%) mengalami gangguan menstruasi berupa
amenorea setelah 2 tahun pemakaian (Rahayu, 2017).
Spotting menurut BKKBN (2012) adalah bercak-bercak perdarahan di luar
haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik dan gangguan pola haid
spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau
terjadinya gangguan hormon. Penggunaan kontrasepsi suntik progestin
menyebabkan ketidakseimbangan hormon, dengan penggunaan suntik hormonal
tersebut membuat dinding endometrium yang semakin menipis hingga
menimbulkan bercak perdarahan. Efek pada pola haid tergantung pada lama
pemakaian. Perdarahan inter menstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan
jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah besar. Perdarahan
bercak merupakan keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin
lamanya pemakaian tetapi sebaliknya jumlah kasus yang mengalami amenorea
makin banyak dengan makin lamanya pemakaian.
Ny. EN telah menggunakan emtode kontrasepsi KB suntik 3 bulan selama
3 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, efek samping yang ditemukan pada
kontrasepsi suntik 3 bulan dalah perubahan berat badan, gangguan haid, depresi,
keputihan, jerawat dan sebagainya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan
18
jenis deskriptif korelasional, dengan menggunakan pendekatan cross-sectional
untuk mengetahui gambaran efek samping akseptor KB suntik Depo Medroksi
Progesterone Acetat (DMPA) setelah 2 tahun pemakaian. Jumlah sampel dalam
penelitian ini sebanyak 74 responden. Sebagian besar responden mengalami
gangguan menstruasi berupa amenorea yaitu sebanyak 39 responden (52,7%), dan
mengalami peningkatan berat badan yaitu sebanyak 43 responden (58,1%)
(Rahayu, 2017)
19
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. KM usia 30 tahun akseptor KB
suntik 3 bulan. Ibu datang untuk kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dan
mengatakan tidak ada keluhan. Riwayat menstruasi tidak teratur sejak
menggunakan KB suntik 3 bulan. Haid terakhir 1 bulan yang lalu hanya berupa
flek darah. Ibu telah menggunakan KB suntik 3 bulan selama kurang lebih 3
tahun. Ibu sudah mengetahui tentang efek samping dari penggunaan KB suntuk 3
bulan. Hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan hasil 100/70 mmHg. Hasil
pemeriksaan fisik head to toe tidak ada kelainan. Analisa yang dapat diteggakkan
yaitu WUS sehat dengan Akseptor Lama KB suntik 3 bulan. Masalah yang
dialami tidak ada
B. Saran
1. Bagi Lahan Praktek
Agar mempertahankan dan meningkatkan mutu layanan terhadap pasien,
dengan tenaga yang professional dalam memberikan pelayanan dan dapat
memberikan pelayanan berbasis komplementer sesuai evidence based.
2. Bagi Mahasiswa
20
DAFTAR PUSTAKA
21
Wahyuni, Sari. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi & Balita. Jakarta : EGC
Zimmerman and K Thompso. 2015. Clarifying Nipple Confusion. Journal of
Perinatology volume 35 pp 895-899
22