0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
191 tayangan26 halaman

La KB

Laporan ini memberikan ringkasan tentang asuhan kebidanan fisiologis holistik keluarga berencana pada Ny. KM usia 30 tahun akseptor suntik KB 3 bulan di Puskesmas Buleleng 1. Laporan ini berisi tentang latar belakang pentingnya KB, tujuan pelaporan kasus, tinjauan pustaka tentang KB dan suntik DMPA, tinjauan kasus, pembahasan kasus, dan kesimpulan.

Diunggah oleh

Desak Devi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
191 tayangan26 halaman

La KB

Laporan ini memberikan ringkasan tentang asuhan kebidanan fisiologis holistik keluarga berencana pada Ny. KM usia 30 tahun akseptor suntik KB 3 bulan di Puskesmas Buleleng 1. Laporan ini berisi tentang latar belakang pentingnya KB, tujuan pelaporan kasus, tinjauan pustaka tentang KB dan suntik DMPA, tinjauan kasus, pembahasan kasus, dan kesimpulan.

Diunggah oleh

Desak Devi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN FISIOLOGIS HOLISTIK KELUARGA


BERENCANA PADA NY. “KM” USIA 30 TAHUN WANITA USIA SUBUR
AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN
DI PUSKESMAS BULELENG 1
TANGGAL 19 JANUARI 2023

OLEH

DESAK MADE DEVI PRASETYANINGSIH


NIM P07124322041

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PRODI PROFESI BIDAN
2023

LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN FISIOLOGIS HOLISTIK KELUARGA
BERENCANA PADA NY. “KM” USIA 30 TAHUN WANITA USIA SUBUR
AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN
DI PUSKESMAS BULELENG 1
TANGGAL 19 JANUARI 2023

1
OLEH

Desak Made Devi Prasetyaningsih


P07124322041

Telah disahkan,
Denpasar, Januari 2023

Pembimbing Institusi Pembimbing Lapangan

Gusti Ayu Marhaeni, SKM., M. Biomed S. Ariestine Wiryadi, S.ST. Keb


NIP. 196512311986032008 NIP. 19780324 200604 2 019

MENGETAHUI
KETUA PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR

Ni Wayan Armini, S.ST., M.Keb


NIP. 19810130 200212 2 001

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan “Laporan Akhir Praktik Kebidanan
Holistik Fisiologis Pada Asuhan Keluarga Berencana”tepat pada waktunya. Dalam

2
penyusunan laporan akhir ini, penulis banyak mendapat saran, dorongan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu kami menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada :
1. Dr. Ni Nyoman Budiani, S. Si.T., M.Biomed selaku Ketua Jurusan Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
2. Ni Wayan Armini, SST., M.Keb selaku Ketua Prodi Profesi Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
3. Gusti Ayu Marhaeni, SKM., M. Biomed selaku pembimbing institusi dalam
PK KB dan Kespro
4. S Ariestine Wiriadi, S.ST.Keb sebagai pembimbing lapangan dalam
penyusunan laporan akhir PK KB dan Kespro
5. Semua staf dan pegawai di Puskesmas Buleleng 1 yang telah bersedia
membimbing kami saat melakukan praktik.
6. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, yang telah
membantu dalam penyusunan laporan akhir ini.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
terhadap laporan pendaluhuan yang kami susun ini guna perbaikan kedepannya.
Demikianlah kiranya para pembaca, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan
kami mohon maaf. Semoga laporan ini bermanfaat untuk semua pihak. Akhir kata
kami ucapkan terimakasih.
Denpasar, November 2021

Penulis

DAFTAR ISI

3
COVER.............................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. ii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Tujuan............................................................................................................. 2
C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus......................................................... 3
D. Manfaat Penulisan Laporan............................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Keluarga Berencana................................................................ 4
B. Konsep Dasar Kontrasepsi............................................................................. 4
C. Kontrasepsi Suntik DMPA............................................................................. 7
BAB III TINJAUAN KASUS........................................................................... 13
BAB IV PEMBAHASAN KASUS................................................................... 17
BAB V PENUTUP
A. Simpulan......................................................................................................... 20
B. Saran............................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia masih menduduki urutan keempat dengan penduduk terbanyak
di dunia dengan jumlah penduduk 255.461.686 jiwa (Kemenkes RI,2016). Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) memprediksi jumlah
penduduk Indonesia berpotensi menjadi terbesar sedunia setelah China dan India
jika laju pertumbuhannya tidak ditekan secara sigifikan.
Program yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi laju
pertumbuhan penduduk dapat dilakukan dengan gerakan keluarga berencana dan
pemakaian alat kontrasepsi secara sukarela kepada pasangan usia subur (PUS)
(Rismawati, dkk, 2015). Program KB tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan
laju pertumbuhan penduduk, melainkan juga untuk memenuhi permintaan
masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (KR) yang berkualitas,
menurunkan angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta
penanggulangan masalah kesehatan reproduksi untuk membentuk keluarga kecil
berkualitas (Yuhedi dan Kurniawati, 2013).
Persentase pemakaian kontrasepsi modern (modern contraceptive
prevalence rate/mCPR) di Provinsi Bali sebesar 66,25%. Metode kontrasepsi
modern yang paling banyak digunakan yaitu suntik KB (34,93%) sampai dengan
bulan Desember 2018. Pencapaian KB suntik terdapat di Kota Denpasar (13.509
peserta) (BKKBN Provinsi Bali, 2018).Ketersediaan layanan KB bagi perempuan
terdapat dalam beberapa metode, dan perempuan harus dapat menimbang
berbagai rofes dalam memilih metode KB yang sesuai bagi dirinya, termasuk
status kesehatan mereka, efek samping dari metode tersebut, konsekuensi
terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, kerjasama dari pasangan, dan norma
budaya yang mempengaruhi dalam pemilihan kontrasepsi. Berbagai pilihan alat
kontrasepsi ditawarkan kepada masyarakat dari mulai yang sederhana sampai
yang permanen/mantap, yaitu mulai pil, suntik, spiral dan Intra Uterine Device
(IUD). Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana
nasional serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakai suntikan

1
KB oleh karena aman, efektif, dan dapat dipakai pada pasca persalinan (Manuaba,
2010).
Salah satu metode kontrasepsi suntik yaitu KB suntik DMPA. Kontrasepsi
suntik DMPA cukup aman dan sangat efektif dalam mencegah kehamilan apabila
penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Tingkat efektifitasnya cukup tinggi yaitu 0,3 kehamilan per 100 perempuan. Cara
kerjanya diantaranya mencegah ovulasi, mengentalkan rofes serviks sehingga
menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput rofes rofe tipis
dan atrofi serta menghambat transportasi gamet oleh tuba (Saifuddin, 2011).
Penggunaan suntikan DMPA sebagai alat kontrasepsi cukup popular di kalangan
masyarakat terutama masyarakat dari kalangan menengah ke bawah karena selain
cukup aman dan efektif jenis kontrasepsi ini rofessi murah sehingga rof
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Akseptor KB suntuk 3 bulan yang
sudah terlanjut nyaman cenderung enggan untuk mengganti cara. Padahal, efek
samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan KB suntik 3 bulan yang terlalu
lama yaitu peningkatan berat badan dan peningkatan tekanan darah.
Melalui PK fisiologis rofessi keluarga berencana, mahasiswa profesi bidan
diharapkan dapat memberikan asuhan dan menerapkan teori yang sudah
didapatkan di perkuliahan. Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk
membahas tentang asuhan kebidanan keluarga berencana pada ny. “KM” usia 30
tahun wanita usia subur akseptor kb suntik 3 bulan di Puskesmas Buleleng 1.

B. Tujuan Praktik
1. Tujuan Umum
Mahasiswa profesi bidan mampu memberikan asuhan kebidanan keluarga
berencana sesuai dengan standar asuhan kebidanan secara mandiri, professional
dan berkualitas dengan selalu memperhatikan aspek budaya
Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian data secara lengkap, jelas, akurat
b. Menetapkan rofessi kebidanan serta masalah kebidanan dengan menerapkan
cara berfikir kritis
c. Menyusun perencanaan asuhan kebidanan keluarga berencana

2
d. Melaksanakan asuhan kebidanan keluarga berencana dengan pendekatan
holistic
e. Melakukan evaluasi secara komprehensif pada asuhan kebidanan keluarga
berencana
f. Melakukan pendokumentasian asuhan keluarga berencana

C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus


Praktik Klinik dilaksanakan di Puskesmas Buleleng 1 dari tanggal 16
Januari 2023 sampai 31 Janauri 2023. Pengambilan kasus dilaksanakan pada
tanggal 19 Januari 2023.

D. Manfaat Penulisan Laporan


1. Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan teori yang diperoleh secara nyata di lapangan dalam hal
melaksanakan asuhan kebidanan pada keluarga berencana dengan tetap
memeperhatikan aspek budaya.
2. Bagi Instansi
Sebagai metode untuk mengevaluasi seberapa jauh mahasiswa
menerapkan teori yang di peroleh selama perkuliahan dikelas dan menerapkannya
dilahan praktek.

3
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Konsep Dasar Keluarga Berencana


1. Definisi
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengatur jumlah anak dan jarak
kelahiran yang diinginkan. Maka dari itu, pemerintah mencanangkan program
atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2013)
2. Tujuan Keluarga Berencana
Tujuan dilaksananakan program keluarga berencana yaitu untuk
membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan rofes ekonomi suatu keluarga
dengan cara pengaturan jumlah dan jarak kelahiran anak. Tujuan program KB
lainya yaitu untuk menurunkan angka kelahiran yang bermakna, untuk mencapai
tujuan tersebut, maka diadakan kebijakan yang dikategorikan dalam 3 fase yaitu
menjarangkan, menunda dan menghentikan (Sulistyawati, 2013).

B. Konsep Dasar Kontrasepsi


1. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘melawan’ atau ‘mencegah’
dan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang
mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel
telur yang matang dengan sel sperma. Untuk itu, maka yang membutuhkan
kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan intim/seks dan
kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan
(Saifuddin, 2011)
2. Macam-Macam Kontrasepsi
a. Kontrasepsi Sederhana
1) Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penis
sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama
sehingga tidak tercurah pada vagina. Cara kerja kondom yaitu mencegah

4
pertemuan ovum dan sperma atau mencegah spermatozoa mencapai saluran
genital wanita. Sekarang sudah ada jenis kondom untuk wanita, angka kegagalan
dari penggunaan kondom ini 5-21%.
2) Coitus Interuptus
Coitus rofessiona atau senggama terputus adalah menghentikan senggama
dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi.
Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga rofessi sehat
untuk digunakan wanita dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, risiko
kegagalan dari metode ini cukup tinggi.
3) Siklus Kalender
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur, dasar
utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi ada 3 cara,
yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode rofes serviks
4) Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma
mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran alat
reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka kegagalan diafragma 4-
8% kehamilan (Sulistyawati, 2011)
b. Kontrasepsi Hormonal
1) Pil
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk rofessi tablet yang
berisi gabungan rofess estrogen dan rofessional (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri
dari rofess rofessional saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi untuk
mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan rofes mulut
rofe sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam rofe, dan menipiskan lapisan
endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat menyusui. Efektifitas pil sangat
tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk
mini pil.
2) Kb Suntik
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik
KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat

5
terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat badan,
pemakaian jangka rofess rof terjadi penurunan libido, dan densitas tulang.

3) Implan
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit, biasanya
dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung levonogestrel.
Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai 5 tahun, kesuburan
akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya sangat tinggi, angka
kegagalannya 1-3% (Saiffudin, 2010)
c. Kontrasepsi Non Hormonal (alat)
1) IUD
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rofe yang
bentuknya bermacam-macam, terdiri dari rofess (rofessional), ada yang dililit
tembaga (Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya
hanya berisi rofess rofessional. Cara kerjanya, meninggikan getaran saluran telur
sehingga pada waktu blastokista sampai ke rofe endometrium belum siap
menerima nidasi, menimbulkan reaksi mikro infeksi sehingga terjadi penumpukan
sel darah putih yang melarutkan blastokista, dan lilitan logam menyebabkan
reaksi anti fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka kegagalannya 1% (Saifuddin,
2010)
d. Kontrasepsi Mantap
1) Tubektomi
Suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara
mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba fallopi (pembawa sel telur ke
rofe), efektivitasnya mencapai 99 %.
2) Vasektomi
Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi
keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani (vas
defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama, efektifitasnya
99% (Saifuddin, 2010)

3. Pola Pemilihan Alat Kontrasepsi berdasarkan Usia

6
Adapun pola penggunaan alat kontrasepsi yang rasional berdasarkan usia
adalah sebagai berikut (Hartanto, 2010) :

Fase Reproduksi Kelompok Umur Metode Kontrasepsi

Menunda Kehamilan <20 tahun Pil, IUD dan metode


sederhana

Menjarangkan 20-30 tahun IUD, suntik minipil, pil,


Kehamilan implant dan metode
sederhana

Menghentikan kehamilan 30-35 tahun ke atas IUD, suntik, minipil, pil,


kontrasepsi mantap dan
metode sederhana

Pada usia < 20 tahun merupakan usia yang memiliki risiko tinggi maka
dari itu sebaiknya pada usia tersebut dianjurkan untuk tidak memiliki anak
terlebih dahulu. Prioritas penggunaan alat kontrasepsi yang dianjurkan diantara pil
oral dikarenakan pengguna masih muda. Sedangkan pada usia diatas 30 terutama
diatas 35 tahun kontrasepsi yang dianjurkan menjadi pilihan utama yaitu
kontrasepsi mantap (Kontap) dikarenakan pada usia tersebut dianjurkan untuk
mengakhiri kehamilan karena alasan medis dan alasan lainnya (Hartanto, 2010)
Umur merupakan hal yang sangat berperan dalam penentuan untuk
menggunakan alat kontrasepsi karena pada fase-fase tertentu dari umur
menentukan tingkat reproduksi seseorang. Umur yang terbaik bagi seorang wanita
adalah antara 20-30 tahun karena pada masa inilah alat-alat reproduksi wanita
sudah siap dan cukup matang untuk mengandung dan melahirkan anak. Bila
ditinjau pola dasar penggunaan kontrasepsi yang rasional maka masa mencegah
kehamilan (30 tahun) dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi dengan urutan
kontap, AKDR/ IUD, implant, suntik, pil KB, dan kondom. Dengan demikian
umur akan menentukan dalam pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan
(Rizali, 2013).

7
C. Kontrasepsi Suntik DMPA
1. Definisi
Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk
pengaturan kehamilan dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk
seksual (Saifuddin, 2011). Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti
mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur
yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah
untuk menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan
antara sel telur matang dengan sel sperma (BKKBN, 2011).
Kontrasepsi suntik DMPA merupakan metode kontrasepsi suntik yang
mengandung 150 mg DMPA dan diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik
intramuskuler di daerah bokong (Saifuddin, 2011). Kontrasepsi suntik Depo
Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) adalah kontrasepsi hormonal yang berisi
komponen progesterone yang diberi secara intramuscular (IM) pada muskulus
gluterus maximus (bokong) dalam jangka waktu 12 minggu, mengandung 150
mg (Saifuddin, 2011).
2. Keuntungan Kontrasepsi Suntik DMPA
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka rofess
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d. Tidak mengandung estrogren sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah.
e. Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f. Sedikit efek samping
g. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
h. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopouse
i. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
j. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
k. Menurunkan krisis anemia bulan sabit (Saifuddin, 2011)
3. Keterbatasan Kontrasepsi Suntik DMPA
a. Sering ditemukan gangguan haid seperti:
1) siklus haid yang memendek atau memanjang

8
2) perdarahan yang banyak atau sedikit
3) perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
4) tidak haid sama sekali
b. Klien sangat bergantung pada tempat pelayanan kesehatan (harus kembali
untuk suntikan.
c. Tidak dapat dihentikan sewaktu – waktu sebelum suntikan berikutnya.
d. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
e. Tidak menjamin terhadap perlindungan penularan IMS, Hepatitis B/ HIV
f. Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
g. Pada penggunaan jangka rofess dapat menimbulkan kekeringan pada vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, jerawat. (Saifuddin,
2011).

4. Mekanisme Kerja
a. Mencegah ovulasi. Kb suntik meningkatkan kadar hormone progestin di
dalam tubuh, sehingga menghambat luteinizing hormone (LH) secara efektif
sehingga tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan
LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH, menghambat perkembangan
folikel dan mencegah ovulasi
b. Mengentalkan rofes servik dan menjadi sedikit sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma. Lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit.
Perubahan siklus yang normal pada rofes servik. Secret dari servik tetap
dalam keadaan di bawah pengaruh progesteronn hingga menyulitkan penetrasi
spermatozoa.
c. Membuat endometrium menjadi kurang layak atau baik untuk implantasi dari
ovum yang telah dibuahi, yaitu mempengaruhi perubahan-perubahan
menjelang stadium sekresi, yang diperlukan sebagai persiapan endometrium
untuk memungkinkan nidasi dari ovum yang telah dibuahi.
d. Menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin mempengaruhi kecepatan
transport ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan perubahan terhadap
kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba (Hanafi, 2012)

9
5. Yang Dapat Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin/DMPA
a. Usia reproduksi
b. Nulipara dan yang telah memiliki anak
c. Menghendaki kontrasepsi jangka rofess
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Setelah abortus atau keguguran
f. Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi
g. Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
h. Menggunakan obat untuk epilepsy (fenitoin dan rofessiona) atau obat
tuberculosis (rifampisin)
i. Tekanan darah < 180/110 mmhg, dengan masalah gangguan pembekuan darah,
anemia bulan sabit dan anemia defisiensi besi
6. Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin/DMPA
a. Hamil atau dicurigai hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
d. Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
e. Diabetes mellitus disertai komplikasi
7. Lokasi Penyuntikan
Lokasi penyuntikan KB baik kombinasi maupun suntikan progestin
berdasarkan consensus internasional bahwa disuntikkan di bokong yaitu pada
muskulus ventro gluteal secara IM. Musculus ini dapat diukut dari Spina Iliaka
Anterior Superior (SIAS) sampai dengan os coccygeus kemudian diambil 1/3
bagian dari SIAS. Penyuuntikan dilakukan secara IM dengan sudur 90 o bertujuan
agar penyerapannya maksimal Hal yang perlu diperhatikan sebelum injeksi adalah
memastikan obat tercampur dan tidak mengendap dengan cara dikocok terlebih
dahulun (Hanafi, 2012)
8. Efek Samping KB suntik DMPA
a. Amenorea
Gangguan menstruasi berupa amenorea pada akseptor KB suntik DMPA
menurut (Hanafi, 2012) dapat disebabkan karena rofessional dalam komponen

10
DMPA menekan LH sehingga endometrium menjadi lebih dangkal dan atrofis
dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Pada umumnya amenore tidak perlu
diobati secara rutin. Berdasarkan hasil penelitian, efek samping akseptor KB
suntik DMPA setelah 2 tahun pemakaian berupa gangguan menstruasi amenorea
yaitu dari 74 responden, sebanyak 39 responden (52,7%) mengalami gangguan
menstruasi berupa amenorea setelah 2 tahun pemakaian (Rahayu, 2017).
b. Spotting
Spotting menurut BKKBN (2012) adalah bercak-bercak perdarahan di luar
haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik dan gangguan pola haid
spotting disebabkan karena menurunnya rofess estrogen dan kelainan atau
terjadinya gangguan rofess. Penggunaan kontrasepsi suntik progestin
menyebabkan ketidakseimbangan rofess, dengan penggunaan suntik hormonal
tersebut membuat dinding endometrium yang semakin menipis hingga
menimbulkan bercak perdarahan. Efek pada pola haid tergantung pada lama
pemakaian. Perdarahan inter menstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan
jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah besar. Perdarahan
bercak merupakan keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin
lamanya pemakaian tetapi sebaliknya jumlah kasus yang mengalami amenorea
makin banyak dengan makin lamanya pemakaian.
c. Keputihan
Keputihan yang terjadi pada akseptor KB suntik DMPA dapat disebabkan
karena ibu kurang menjaga kebersihan alat kelamin dan pakaian yang digunakan,
hal ini sesuai dengan pendapat BKKBN (2012) yaitu penyebab dari keputihan
adalah karena efek progesterone merubah flora dan PH vagina, sehingga jamur
mudah tumbuh di dalam vagina dan menimbulkan keputihan. Untuk mengatasi
keputihan maka dapat ditanggulangi dengan menjaga kebersihan daerah
kemaluan, memotivasi agar tetap memakai alat kontrasepsi suntikan. Namun bila
keputihan dirasa gatal, cairan berwarna kuning atau kehijauan atau berbau
tidak sedap, dan keputihan terus berlangsung maka pemakaian suntikan
dihentikan sementara. Keputihan menurut BKKBN (2012) merupakan keluarnya
cairan berwarna putih dari dalam vagina atau adanya cairan putih di mulut
vagina. Penyebab dari keputihan adalah karena efek rofessional merubah

11
flora dan PH vagina, sehingga jamur mudah tumbuh di dalam vagina dan
menimbulkan keputihan.
d. Peningkatan berat badan
Permasalahan berat badan menurut Saifuddin (2010) merupakan efek
samping tersering. Ada ahli yang menyebutkan bahwa penggunaan KB suntik
Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) rof berefek pada penambahan berat
badan. Terjadinya kenaikan berat badan kemungkinan disebabkan karena rofess
rofessional mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, juga
menyebabkan nafsu makan bertambah dan menurunnya aktivitas fisik, akibatnya
dapat menyebabkan berat badan bertambah. Penyebab terjadinya perubahan berat
badan belum diketahui. Hipotesa para ahli, DMPA merangsang pusat
pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan
lebih banyak dari biasanya (Hartono, 2010).
e. Peningkatan Tekanan Darah
Efek samping kontrasepsi suntik yang paling utama gangguan pola haid
sedangkan efek yang lain tidak kalah pentingnya adalah adanya peningkatan
tekanan darah dan peningkatan berat badan antara 1-5 kg. Pelayanan kontrasepsi
adalah bagian dari program keluarga berencana yang sangat dibutuhkan untuk
mewujudkan upaya peningkatan kualitas hidup penduduk. Alat kontrasepsi yang
paling banyak digunakan adalah jenis suntikan yaitu kontrasepsi suntikan
progestin (depoprovera). Efek samping yang penting akibat penggunaan
kontrasepsi suntik adalah kenaikan tekanan darah, tekanan darah dapat naik akibat
penggunaan obat-obatan termasuk menggunakan kontrasepsi suntik, sebuah
penelitian yang dilakukan pada 62 sampel akseptor KB suntik didapat hasil
responden penelitian dengan tekanan darah posisi normal sebanyak 44 responden
dan responden yang mengalami pre hipertensi dengan pemakain alat kontrasepsi
suntik sebesar 18 responden jadi dapat diketahui bahwa ada hubungan antara
pemakaian alat kontrasepsi suntik dengan tekanan darah. Salah satu efek samping
yang mungkin disebabkan oleh kontrasepsi ini yaitu terjadi perubahan pada
peningkatan renin substrat (angiotensin) dan lipid serum pada penggunaan jangka
rofess, dimana didapatkan terjadi penurunan kadar High Density Lipoprotein-

12
kolesterol (HDLkolesterol) yang dapat meningkatkan risiko meningkatnya
tekanan darah (Asare et al, 2014)

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN FISIOLOGIS HOLISTIK KELUARGA


BERENCANA PADA NY. “KM” USIA 30 TAHUN WANITA USIA SUBUR
AKSEPTOR LAMA KB SUNTIK 3 BULAN
DI PUSKESMAS BULELENG 1
TANGGAL 19 JANUARI 2023

Tanggal pengkajian : 19 Januari 2023


Tempat pelayanan : Puskesmas Buleleng 1

A. Data Subjektif
1. Identitas

Ibu Suami
Nama NY KM TN EN
Umur 30 Tahun 32 Tahun
Agama Hindu Hindu
Suku/Bangsa Bali/Indonesia Bali/Indonesia
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Tidak Bekerja Swasta
Alamat Jl Angsoka No 2 Jl Angsoka No 2
No HP 087851846xxx 087851846xxx

2. Alasan datang
Ibu ingin kunjungan ulang suntik KB 3 bulan, tidak ada keluhan lain yang
dirasakan.

3. Riwayat menstruasi

13
Ibu mengatakan terakhir menstruasi 1 bulan yang lalu, namun hanya
barupa flek darah dengan durasi 1 hari. Ibu mengatakan menstruasi tidak
teratur sejak menggunakan KB suntik 3 bulan.

4. Riwayat perkawinan
Ibu mengatakan bahwa status perkawinannya sah dengan lama usia
pernikahan 9 tahun, umur istri saat menikah adalah 21 tahun, dan umur
suami pada saat menikah juga 23 tahun.

5. Riwayat Obstetri
Jumlah anak hidup 2 orang dan umur anak terkecil 5 tahun. Tidak sedang
menyusui

6. Riwayat Ginekologi
Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit seperti infertilitas, mioma/kista,
kanker, kelainan menstruasi, infeksi kandungan dan lain-lain.

7. Riwayat KB
Ibu menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan selama 3 tahun dan tidak ada
keluhan saat menggunakan KB suntik 3 bulan.

8. Riwayat penyakit ibu


Ibu tidak memiliki riwayat penyakit seperti DM, penyakit jantung,
hipertensi, hepatitis, asma, vertigo, PMS, dan tidak ada riwayat alergi.

9. Bio, psiko, sosial, spiritual


Ibu tidak ada keluhan saat bernapas, eliminasi tidak ada keluhan biasanya
BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lembek dan juga BAK kurang lebih
6 kali sehari warna bening keuningan, istirahat tidak ada keluhan biasanya
tidur malam 8 jam dan istirahat siang kurang lebih 1 jam sehari, aktivitas
sehari-hari sedang hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan tidak
ada keluhan saat berhubungan seksual. Ibu mengatakan tujuan pemakaian

14
kontrasepsi adalah untuk mengatur jarak kehamilan, dan ibu merasa
bahwa ia dan suami juga sudah siap secara mental. Untuk kehidupan rofes,
ibu mengatakan bahwa hubungan antar keluarga di lingkungannya baik,
dukungan keluarga baik, pengambilan keputusan dilakukan rofess
keluarga, serta tidak ada budaya yang menghambat kontrasepsi. Untuk
masalah spiritual, ibu mengatakan tidak ada larangan apapun dari agama
yang dianutnya terkait dengan pemakaian kontrasepsi. Ibu mengatakan
sudah mengetahui terkait dengan alat kontrasepsi diantaranya kelemahan,
dan efek samping alat kontrasepsi, kemudian dari hasil konseling awal dan
informed consent ibu setuju untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum: baik, kesadaran: composmentis, BB: 58 kg, TB:
158 cm, TD: 100/70 mmHg, Suhu: 36,6oC, Nadi: 82 kali/menit, Respirasi:
16 kali/menit
2. Pemeriksaan fisik
Wajah : Tidak ada kelainan dan tidak ada oedema
Mata : Konjungtiva merah muda, sclera putih
Bibir : Merah muda, lembab
Dada : Simetris, tidak teraba massa, tidak ada retraksi putting
susu, tidak ada nyeritekan.
Abdomen : Tidak ada kelainan, tidak ada bekas operasi
Vulva : Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Kuku merah muda, tidak oedema, dan tidak ada varises

C. ANALISA
WUS sehat dengan Akseptor Lama KB suntik 3 bulan
Masalah:
Tidak ada

15
D. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada Ibu dan suami, Ibu dan
suami paham penjelasan bidan.
2. Melakukan informed consent suntik KB 3 bulan, Ibu setuju
3. Meminta persetujuan ibu melalui informed consent mengenai tindakan
yang akan dilakukan, Ibu bersedia dan form informed consent sudah di
tanda tangani.
4. Menyiapkan alat, bahan dan KB suntik 3 bulan. Bahan, alat, dan KB
Suntik 3 bulan sudah siap
5. Melakukan injeksi KB Suntik 3 bulan pada 1/3 SIAS secara IM. Tidak ada
reaksi alergi
6. Mengingatkan kembali efek samping, kekurangan dan kelebihan KB
suntik 3 bulan. Ibu paham
7. Menyepakati kunjungan ulang KB suntik 3 bulan pada tanggal 12 April
2023. Ibu bersedia untuk dating kembali

16
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengkajian data, Ny. KM usia 30 tahun datang untuk


melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan. Umur merupakan hal yang sangat
berperan dalam penentuan untuk menggunakan alat kontrasepsi karena pada fase-
fase tertentu dari umur menentukan tingkat reproduksi seseorang. Umur yang
terbaik bagi seorang wanita adalah antara 20-30 tahun karena pada masa inilah
alat-alat reproduksi wanita sudah siap dan cukup matang untuk mengandung dan
melahirkan anak.
KB suntik 3 bulan merupakan salah satu metode kontrasepsi hormonal
yang banyak digunakan oleh masyarakat. Kontrasepsi suntik DMPA merupakan
metode kontrasepsi suntik yang mengandung 150 mg DMPA dan diberikan setiap
3 bulan dengan cara disuntik intramuskuler di daerah bokong (Saifuddin, 2011).
Kontrasepsi suntik Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) adalah
kontrasepsi hormonal yang berisi komponen progesterone yang diberi secara
intramuscular (IM) pada muskulus gluterus maximus (bokong) dalam jangka
waktu 12 minggu, mengandung 150 mg (Saifuddin, 2011).
Mekanisme KB suntik 3 bulan yaitu dengan mencegah ovulasi. Mencegah
ovulasi. Kb suntik 3 bulan meningkatkan kadar hormone progestin di dalam
tubuh, sehingga menghambat luteinizing hormone (LH) secara efektif sehingga
tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan LH menurun
dan tidak terjadi lonjakan LH, menghambat perkembangan folikel dan mencegah
ovulasi. Selain itu, kadar progesterone yang tinggi dapat mengentalkan rofes
servik dan menjadi sedikit sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma.
Lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit. Perubahan siklus yang normal
pada rofes servik. Secret dari servik tetap dalam keadaan di bawah pengaruh
progesteronn hingga menyulitkan penetrasi spermatozoa. Membuat endometrium
menjadi kurang layak atau baik untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi,
yaitu mempengaruhi perubahan-perubahan menjelang stadium sekresi, yang

17
diperlukan sebagai persiapan endometrium untuk memungkinkan nidasi dari
ovum yang telah dibuahi dan menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin
mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan
perubahan terhadap kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba (Hanafi,
2012)
Ny. KM mengatakan siklus menstruasi tidak teratur dan terakhir
menstruasi 1 bulan yang lalu dan hanya berupa flek darah. Amenorea dan spoting
merupakan efek samping dari KB suntik 3 bulan. Gangguan menstruasi berupa
amenorea pada akseptor KB suntik DMPA menurut (Hanafi, 2012) dapat
disebabkan karena rofessional dalam komponen DMPA menekan LH sehingga
endometrium menjadi lebih dangkal dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar
yang tidak aktif. Pada umumnya amenore tidak perlu diobati secara rutin.
Berdasarkan hasil penelitian, efek samping akseptor KB suntik DMPA setelah 2
tahun pemakaian berupa gangguan menstruasi amenorea yaitu dari 74 responden,
sebanyak 39 responden (52,7%) mengalami gangguan menstruasi berupa
amenorea setelah 2 tahun pemakaian (Rahayu, 2017).
Spotting menurut BKKBN (2012) adalah bercak-bercak perdarahan di luar
haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik dan gangguan pola haid
spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau
terjadinya gangguan hormon. Penggunaan kontrasepsi suntik progestin
menyebabkan ketidakseimbangan hormon, dengan penggunaan suntik hormonal
tersebut membuat dinding endometrium yang semakin menipis hingga
menimbulkan bercak perdarahan. Efek pada pola haid tergantung pada lama
pemakaian. Perdarahan inter menstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan
jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah besar. Perdarahan
bercak merupakan keluhan terbanyak, yang akan menurun dengan makin
lamanya pemakaian tetapi sebaliknya jumlah kasus yang mengalami amenorea
makin banyak dengan makin lamanya pemakaian.
Ny. EN telah menggunakan emtode kontrasepsi KB suntik 3 bulan selama
3 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, efek samping yang ditemukan pada
kontrasepsi suntik 3 bulan dalah perubahan berat badan, gangguan haid, depresi,
keputihan, jerawat dan sebagainya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan

18
jenis deskriptif korelasional, dengan menggunakan pendekatan cross-sectional
untuk mengetahui gambaran efek samping akseptor KB suntik Depo Medroksi
Progesterone Acetat (DMPA) setelah 2 tahun pemakaian. Jumlah sampel dalam
penelitian ini sebanyak 74 responden. Sebagian besar responden mengalami
gangguan menstruasi berupa amenorea yaitu sebanyak 39 responden (52,7%), dan
mengalami peningkatan berat badan yaitu sebanyak 43 responden (58,1%)
(Rahayu, 2017)

19
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. KM usia 30 tahun akseptor KB
suntik 3 bulan. Ibu datang untuk kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dan
mengatakan tidak ada keluhan. Riwayat menstruasi tidak teratur sejak
menggunakan KB suntik 3 bulan. Haid terakhir 1 bulan yang lalu hanya berupa
flek darah. Ibu telah menggunakan KB suntik 3 bulan selama kurang lebih 3
tahun. Ibu sudah mengetahui tentang efek samping dari penggunaan KB suntuk 3
bulan. Hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan hasil 100/70 mmHg. Hasil
pemeriksaan fisik head to toe tidak ada kelainan. Analisa yang dapat diteggakkan
yaitu WUS sehat dengan Akseptor Lama KB suntik 3 bulan. Masalah yang
dialami tidak ada

B. Saran
1. Bagi Lahan Praktek
Agar mempertahankan dan meningkatkan mutu layanan terhadap pasien,
dengan tenaga yang professional dalam memberikan pelayanan dan dapat
memberikan pelayanan berbasis komplementer sesuai evidence based.
2. Bagi Mahasiswa

Agar mahasiswa mengaplikasikan teori sesuai dengan evidence based serta


asuhan kebidanan komplementer pada praktik dan pelayanan kebidanan termasuk
pada asuhan kebidanan keluarga berencana.

20
DAFTAR PUSTAKA

Christy, M. 2016. Feeding Neonates by Cup : A Systematic Review of The


Literature. Maternal and Child Health Journal volume 20(8) pp 1620-
1633
Devriany Ade, Zenderi Wardani, Yunihar. 2018. Perbedaan Status Pemberian ASI
Eksklusif terhadap Perubahan Panjang Badan Bayi Neonatus Jurnal
Kesehatan volume 14 nomor 1 pp 44-51
Dewi, V.N. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta :
Salemba Medika
Handayani, Lina. 2014. Hubungan Pengetahuan dan Teknik Menyusui dengan
Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Pengasih II
Kabupaten Kulonprogo. Jurnal Kesmasindo, Volume 6, Nomor 3 pp 232-
239
Isnaeni Ely, Yanuar Eka, Puji A. 2015. Efektivitas Terapi Musik Klasik Mozart Dan
Kanguru Method Terhadap Peningkatan Berat Badan Pada Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Gambiran Kota Kediri. Jurnal Nusantara
Medika volume 1 no 2
Kemenkes RI. 2017. Health Statistic. Jakarta : Kemenkes RI
Muslihatin, W. N. 2010. Asuhan Kebidanan Neoantus, Bayi dan Balita.
Yogyakarta: Fitramaya
Nurhasiyah, Siti. 2017. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan
Anak pra sekolah. Jakarta : Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Nurul, Yulian. 2016. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ASI Ekslusif. Skripsi.
Fakultas Ilmu Kesehatan UMP
Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka
Rusyantia, Anggun. 2017. Hubungan Teknik Menyusui dengan Keberhasilan
Menyusui Pada Bayi Usia 0-6 Bulan yang Berkunjung di Puskesmas
Kedaton Tahun 2017. Jurnal Kesehatan Holistik (The Journal of Holistic
Healthcare), Volume 11, No.2, pp 90-94
Sari, D.A. 2013. Pengaruh Pijat Bayi Baru Lahir terhadap Bounding Attachment.
Skripsi. PSIK UR
Setiyani, Astuti. 2016. Asuhan Kebidanan Neoantus, Bayi, Balita dan Anak Pra
Sekolah. Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan BPPSDMK
Slusher M., Hendrik, J., Verman, P., Bolajoko, O. 2014. Safety and Efficacy of
Filtered Sunlight in Treatment of Jaundice in African Neonates.
PEDIATRIC. Volume 133 pp 1568-1574
Tando, Naomy Marie. (2016). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak
Balita. Jakarta : EGC

21
Wahyuni, Sari. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi & Balita. Jakarta : EGC
Zimmerman and K Thompso. 2015. Clarifying Nipple Confusion. Journal of
Perinatology volume 35 pp 895-899

22

Anda mungkin juga menyukai