0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
256 tayangan10 halaman

Peran Bidan dalam Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas peran bidan dalam implementasi kebijakan stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di Kabupaten Pekalongan. 2. Kurangnya cakupan deteksi tumbuh kembang anak disebabkan belum optimalnya kerjasama lintas program dan masih kurangnya peran pihak terkait serta beban kerja bidan. 3. Pemerintah daerah mengambil ke

Diunggah oleh

evita juniar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
256 tayangan10 halaman

Peran Bidan dalam Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas peran bidan dalam implementasi kebijakan stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di Kabupaten Pekalongan. 2. Kurangnya cakupan deteksi tumbuh kembang anak disebabkan belum optimalnya kerjasama lintas program dan masih kurangnya peran pihak terkait serta beban kerja bidan. 3. Pemerintah daerah mengambil ke

Diunggah oleh

evita juniar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2131

JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

STUDI KUALITATIF: PERAN BIDAN DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN STIMULASI


DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK

Oleh
Diah Atmarina Yuliani
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
E mail : [email protected]

Abstract: Deteksi Dini Tumbuh Kembang merupakan


Article History: upaya meningkatkan kualitas hidup anak. Penelitian
Received: 09-03-2022 ini menguraikan penyebab kurangnya cakupan Deteksi
Revised: 15-03-2022 Tumbuh Kembang Anak pada kebijakan yang
Accepted: 19-04-2022 ditetapkan pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan
dan pelaksanaan peran bidan merupakan penanggung
jawab program. Penelitian kualitatif ini berlokasi di
Keywords: Kabupaten Pekalongan. Data penelitian ini meliputi
Peran Bidan, Implementasi kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan,
Kebijakan, Deteksi Dini peran tenaga kesehatan ( bidan ), hambatan –
Tumbuh Kembang. hambatan dan upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasinya. Sumber data dari pandangan informan
pada implementasi program. Pengambilan sampel
dengan purposive sampling. Pengumpulan data
dilakukan dengan observasi, wawancara,
dokumentasi, dan gabungan / triangulasi. Analisis
data meliputi reduksi data, sajian data dan penarikan
kesimpulan atau verifikasi.Peran bidan sudah
dilakukan secara optimal sesuai dengan tugas pokok
dan fungsi yang telah ditetapkan, kurangnya cakupan
karena belum optimalnya kerjasama lintas program
dan masih kurangnya peran pihak – pihak terkait serta
beban kerja. Pemerintah daerah mengambil kebijakan
dengan melaksanakan pelatihan, pemeriksaan Deteksi
Tumbuh Kembang Anak, penyediaan APE, dan
mengoptimalkan buku KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak )
sebagai upaya meningkatkan pengetahuan ibu dan
keluarga

PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi – tingginya. Dalam kerangka tersebut, pembangunan kesehatan
dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan mulai dari tingkat pusat sampai ke
daerah. Untuk menyatukan gerak langkah Para pelaku pembangunan di bidang kesehatan,
maka Departemen Kesehatan Republik Indonesia menetapkan visi pembangunan kesehatan
Indonesia adalah “Indonesia Sehat 2010” ( Depkes R1, 2006 ).
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2132
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10 persen dari seluruh
populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di
Indonesia perlu mendapat perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang
memadai sesuai tumbuh kembangnya serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas
termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang. Selain hal – hal
tersebut, pelbagai faktor lingkungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak juga
perlu di eliminasi( Kemenkes RI, 2010 ).
Melakukan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining
atau melakukan deteksi dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk
menindaklanjuti keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya. Kegiatan
stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita yang
menyeluruh dan terkoordinasi harus diselenggarakan dalam bentuk kemitman antara
keluarga ( orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya ), masyarakat ( kader,
tokoh masyarakat, organisasi profesi, lembaga swadana masyarakat ) dengan tenaga
profesional ( kesehatan, pendidikan, sosial ) serta kebijakan yang berpihak pada pelaksanaan
program deteksi, stimulasi dan intervensi dini tumbuh kembang anak akan lebih
meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak usia dini.
Upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di dalamnya termasuk kegiatan deteksi dini
tumbuh kembang anak dilakukan enam bulan sekali untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan anak sesuai dengan usia balita dan anak prasekolah. Kegiatan ini masuk
dalam upaya promotif dan preventif, dengan melakukan deteksi dini terhadap tingkat
pertumbuhan dan perkembangan balita dan anak usia prasekolah di harapkan dapat
mengoptimalkan intervensi dini terhadap penyimpangan tumbuh kembang. Sehingga angka
kejadian status gizi buruk, keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak
sesuai usia dapat diminimalkan. Fakta yang tampak di lapangan dampak dari adanya krisis
ekonomi yang terjadi mengakibatkan semakin tingginya angka gizi buruk pada balita di
karenakan keterlambatan diagnosis dan intervensi dini.
Berdasarkan SK Menkes No. 1457/SK/Menkes/X/2003 tentang UW – SPM ( Urusan
Wajib Standard Pelayanan Minimal ) sektor kesehatan yang harus dilaksanakan Kabupaten
dan Kota, didukung SK Menkes No. 091/Menkes/SK/X/2004 tentang petunjuk teknis
standart pelayanan minimal dan Peraturan Pemerintah R.I. No. 65 tahun 2005 tentang
Pedoman penyusunan dan penerapan Standard Pelayanan Minimal telah disebutkan
pelayanan kesehatan anak salah satu kegiatannya adalah upaya deteksi dan stimulasi dini
tumbuh kembang balita dan prasekolah, dari hasil evaluasi pelaksanaan UW – SPM pada
tahun 2006 oleh Puslitbang Depkes salah satu kegiatan yang masih harus mendapat
perhatian khusus adalah upaya stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang balita dan anak
usia prasekolah. Didukung hasil analisis kebijakan pelayanan kesehatan pada tabun 2006
dalam rangka akselerasi penurunan AKI ( Angka Kematian lbu ) dan AKB ( Angka Kematian
Bayi ) alokasi anggaran kesehatan hanya mencapai 1,24 % - 8,49 % dari APBD ( Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah ) Kabupaten Kota, untuk program kesehatan keluarga masih
sangat rendah yaitu 0,08 % 1,9 % dari anggaran kesehatan, hal ini dapat menghambat
penyediaan fasilitas, akomodasi, sarana dan prasarana penyelenggaraan upaya peningkatan
kesehatan keluarga. Deteksi dan stimulasi dini pada balita dan anak usia prasekolah
merupakan salah satu kegiatan dalam upaya peningkatan kesehatan keluarga karena balita

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2133
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

dan anak usia prasekolah merupakan masa emas perkembangan anak sehingga perlu
perhatian lebih dalam penilaian, stimulasi dan deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan.
Indikator keberhasilan kegiatan stimulasi dan deteksi dini pertumbuhan dan
perkembangan balita salah satunya dapat dilihat dari cakupan Stimulasi, Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak ( SDIDTK ) yang dicapai dalam tiap tahunnya. Untuk
menuju Indonesia sehat 2010 pemerintah mencanangkan pencapaian target cakupan
stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang mencapai 90 %, yaitu balita dan anak
para sekolah terjangkau oleh kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang. Dari total populasi, untuk tahun 2010 target yang harus dicapai adalah
sebesar 90 %. Hasil evaluasi dokumentasi pelaporan hasil pencapaian indikator kinerja SPM
( Standar Pelayanan Minimal ) dinas kesehatan Kabupaten Pekalongan pelaksanaan deteksi
dini tumbuh kembang hanya mencapai 80 % dari populasi balita dan anak usia prasekolah.
Hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan pencapaian target yang sudah ditetapkan.
Sesuai hasil evaluasi Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Propinsi Jawa Tengah
terhadap pelaksanaan UW – SPM di Kabupaten dan Kota secara random, di dapatkan hasil
bahwa pelaksanaan UW – SPM pada dasarnya telah dilakukan cukup baik oleh Kabupaten
dan Kota yang diteliti bila dibandingkan dengan target – target Indonesia Sehat 2010. Secara
umum kendala yang ditemukan adalah penentuan prioritas dan alokasi anggaran daerah
bidang kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak masih relatif kecil. Ada beberapa upaya
yang mesti mendapat perhatian dalam penentuan prioritas dan kebijakan dari masing –
masing kabupaten dan kota. Lima upaya yang perlu mendapat perhatian antara lain : rujukan
ibu hamil dengan resiko tinggi, deteksi dini tumbuh kembang anak balita, pelayanan
gangguan jiwa, perawatan anak gizi buruk.
Pada survey awal di Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, kendala yang lazim
ditemui di lapangan adalah pada pelaksana stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh
kembang anak hal ini adalah bidan selaku penanggungjawab pelayanan kesehatan ibu dan
anak. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurang optimalnya bidan dalam
pelaksanaan SDIDTK antara lain, beban kerja bidan yang overload, format penilaian SDIDTK
dan sistem pelaporan yang kurang user friendly sehingga menyebabkan keengganan petugas
dalam melaksanakan SDIDTK.
Banyak upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan hasil pencapaian kegiatan
deteksi dini tumbuh kembang balita salah satunya dengan mengadakan evaluasi faktor –
faktor yang potensial menghambat keberhasilan program. Evaluasi dapat dilakukan secara
berkala untuk mengetahui kinerja suatu kabupaten sehingga penentuan alokasi sumber daya
daerah dapat lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan sebenarnya. Selain itu dapat
dilakukan evaluasi besar anggaran yang dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan
program disamping penetapan kebijakan pemerintah daerah dalam tehnis pelaksanaan dan
target cakupan SDIDTK pada Kabupaten sesuai potensi yang dimiliki tiap – tiap daerah itu
sendiri.

METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang disusun secara
lentur dan terbuka untuk bisa disesuaikan dengan kondisi sebenarnya yang dijumpai di
lapangan studi. Penelitian kualitatif lebih mementingkan deskripsi proses tentang mengapa
dan bagaimana sesuatu bisa terjadi, yang mengarah pada pemahaman makna. Penelitian

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2134
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

yang akan dilakukan adalah bentuk studi kasus tunggal dengan studi kasus terpancang
(embedded research). Studi kasus tunggal artinya penelitian hanya dilakukan pada satu
sasaran dengan satu karakteristik (satu lokasi atau satu subjek). Dalam penelitian ini studi
kasus dilakukan pada satu lokasi di Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan dan subjek
adalah bidan
Sumber data yang dipilih mengutamakan perpektif emic, artinya mementingkan
pandangan informan, yakni bagaimana mereka memandang dan menafsirkan dunia dari
pendiriannya. Peneliti tidak bisa memaksakan kehendak untuk mendapatkan data yang
diinginkan. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kecenderungan
peneliti untuk memperoleh informannya berdasarkan posisi dengan akses tertentu yang
dianggap memiliki informasi yang berkaitan dengan permasalahan secara mendalam dan
dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap, atau yang lebih tepat disebut
criterion – based selection. Jenis interview yang digunakan peneliti adalah wawancara semi
terstruktur. Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview, yaitu
dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur.
Triangulasi yang dilakukan adalah triangulasi sumber yaitu dengan Ka. Bid Yankes, Ka. Sie
Yankes, Ketua IBI Cabang Kabupaten Pekalongan, dan Bidan Pelaksana Program. Proses
analisis penelitian kualitatif ini bersifat induktif, dilakukan bersamaan dengan proses
pengumpulan data, seperti pengamatan, wawancara, dokumentasi, diskusi kelompok
terfokus, dan melakukan beragam teknik refleksi bagi pendalaman dan pemantapan data.
Model analisis ini meliputi reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau
verifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Panduan wawancara yang digunakan meliputi bagaimana peranan bidan dalam
pelaksanaan SDIDTK, kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan dalam
Pelaksanaan SDIDTK dan hambatan – hambatan dalam pelaksanaan program SDIDTK serta
upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kurangnya cakupan program SDIDTK
1. Mengenai peranan bidan / personil yang berperan dalam pelaksanaan SDIDTK di
Kabupaten Pekalongan hampir semua informan menyatakan bahwa bidan telah
melaksanakan perannya dengan baik sudah sesuai dengan tugas pokok fungsi yang telah
ditentukan. Meskipun ada seharusnya ada peran dari pihak – pihak lain. Hal ini dapat
disimak dari beberapa pendapat informan.
2. Kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pemerintah pusat yang
mendukung dalam pelaksanaan SDIDTK tumbuh kembang balita dan usia anak pra
sekolah antara lain : Ada beberapa informasi yang di sampaikan oleh responden
berkaitan dengan kebijakan yang di ambil pemerintah daerah dalam melaksanakan
program deteksi dini, yaitu dalam pelaksanaannya sesuai dengan juknis / protap Pusat
melalui Dinkes provinsi Jawa Tengah. Dan ditentukan skala prioritasnya dalam
pelaksanaannya yang lebih urgen guna mendukung program SDIDTK. Hal tersebut
terlihat dalam pernyataan responden.
3. Hambatan – hambatan dalam pelaksanaan stimulasi deteksi dini dan stimulasi tumbuh
kembang balita dan anak usia prasekolah di Kabupaten Pekalongan. Dari wawancara
yang telah dilakukan pada semua informan dapat disajikan sebagai berikut : Pelaksanaan

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2135
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

SDIDTK mengalami hambatan seperti tenaga ( SDM ) masih terbatas dari segi kualitas
karena belum semua telah dilatih untuk SDIDTK, sarana prasarana, dan dana masih
belum mencukupi / masih minim dalam pelaksanaannya.
4. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kurangnya cakupan SDIDTK balita dan usia
pra sekolah antara lain : Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya, pada saat
rapat pembinaan bidan dilakukan sosialisasi SDIDTK, walaupun tidak ada dana khusus.
Sekarang sudah mulai di sosialisasikan kelas ibu balita dan kelas ibu hamil. Bekerjasama
dengan PAUD, Posyandu, dan ibu – ibu balita di anjurkan untuk membawa buku KIA
bersama – sama dengan kader dan bidan bedah buku. Penganggaran dari pemda untuk
pelatihan SDIDTK dan mencukupi alat penunjang untuk SDIDTK.
Setelah melakukan analisis data yang didapatkan dengan model analisis interaktif dapat
diketahui bahwa :
1. Personil yang berperan / peranan bidan dalan SDIDTK
Personil yang berperan dalam pelaksanaan SDIDTK adalah bidan sebagai pelaksana
utamanya dan sesuai dengan tupoksinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soepardan (
2007 ) yang mengatakan bahwa bidan dikenal sebagai professional yang
bertanggungjawab yang bekerja sebagai mitra perempuan dalam memberikan dukungan
yang diperlukan, asuhan dan saran selama kehamilan, periode persalinan dan postpartum,
melaksanakan pertolongan persalinan di bawah tanggung jawabnya sendiri, serta
memberikan perawatan pada bayi baru lahir dan bayi.
Meskipun sebenarnya tidak hanya bidan saja yang berperan akan tetapi
bekerjasama dengan masyarakat serta keluarga. Hal ini sesuai dengan buku Pedoman
Pelaksanaan SDIDTK dalam Kemenkes RI ( 2010 ) mengatakan bahwa Kegiatan stimulasi,
deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita yang menyeluruh dan
terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga, ,masyarakat
dengan tenaga professional.
Dalam program pemerintah juga diperlukan kerjasama lintas sektor yaitu dengan
rekan sejawat seperti dokter umum, dokter SpA, dan perawat. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Handoko ( 2009 ) bahwa untuk meningkatkan kualitas pelayanan perlu adanya
peningkatan kemampuan tenaga medis dalam bidang kesehatan dalam memperhatikan
faktor koordinasi dan mampu bekerjasama dengan rekan kerja.
2. Kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pemerintah pusat
Pemerintah daerah dalam hal ini adalah Dinas Kesehatan Kabupaten melaksanakan
program SDIDTK sesuai protap / juknis dari pusat melalui provinsi. Kebijakan yang
dilaksanakan ini sesuai dengan Peraturan pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang
Kewenangan pemerintah dan kewenangan popinsi sebagai daerah otonom dalam dephut
( 2010 ), menyebutkan bahwa peran pemerintah pusat di era desentralisasi ini lebih
banyak bersifat menetapkan kebijakan makro, melakukan standarisasi, supervise,
monitoring, evaluasi, pengawasan dan pemberdayaan ke daerah sehingga otonomi dapat
berjalan optimal.
Dalam Undang – undang Nomor 32 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dalam
Mahkamah Agung ( 2004 ) telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu
urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. Penyelenggaraan.
Pelaksanaan program dilaksanakan sesuai dengan program dari provinsi akan tetapi
dalam pelaksanaannya dilaksanakan pengembangan sesuai dengan kondisi yang ada dan

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2136
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

sesuai skala prioritas yang di hadapi.


3. Dalam pelaksanaan SDIDTK di Kabupaten Pekalongan ada beberapa hambatan –
hambatan yang menyebabkan kurangnya cakupan program tersebut.
Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan SDIDTK yaitu SDM kuantitas
mencukupi akan tetapi secara kualitas belum baik. Menurut Simamora ( 2008 ) hasil kerja
karyawan yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang
telah di tentukan.
Beban kerja bidan di puskesmas yang banyak yaitu melaksanakan 9 tugas dan fungsi
pokoknya antara lain: Melaksanakan asuhan kebidanan kepada ibu hamil (Ante Natal
Care), melakukan asuhan persalinan fisiologis kepada ibu bersalin (Post Natal Care),
menyelenggarakan pelayanan terhadap bayi baru lahir (kunjungan neanatal),
mengupayakan kerjasama kemitraan dengan dukun bersalin di wilayah kerja puskesmas,
memberikan edukasi melalui penyuluhan kesehatan reproduksi dan kebidanan,
melaksanakan pelayanan Keluarga Berencana (KB) kepada wanita usia subur (WUS),
melakukan pelacakan dan pelayanan rujukan kepada ibu hamil risiko tinggi (bumil risti),
mengupayakan diskusi audit maternal perinatal (AMP) bila ada kasus kematian ibu dan
bayi, dan melaksanakan mekanisme pencatatan dan pelaporan terpadu pelayanan
puskesmas.
Tugas dan beban kerja yang banyak tersebut yang menyebabkan pelaksanaan
program pemerintah tidak terlaksana dengan baik. Menurut Sugianto dalam Setiawan (
2007 ) Pekerja yang mempunyai beban kerja yang berlebihan akan menurunkan
produktifitas dan kualitas hasil kerja dan ada kemungkinan dalam pelaksanaan pekerjaan
tidak tepat waktu, kurang memuaskan dan mengakibatkan kekecewaan dengan hasil yang
diharapkan.
Pada pelaksanaannya tidak ada biaya / anggaran secara khusus dari pemerintah.
Anggaran di dapat dari DAK untuk keseluruhan kegiatan dinas kesehatan. Dana yang
didapatkan dari DAK tersebut dapat untuk membiayai kegiatan yang ada kaitannya
dengan SDIDTK yaitu pelatihan untuk bidan, akan tetapi belum semua bidan hanya
perwakilan dari setiap puskesmas karena anggaran dana yang terbatas.
Hal tersebut berdasarkan data dari Dinkes Kabupaten Pekalongan ( 2009 ) bahwa
anggaran kesehatan di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2009 bersumber pada APBD
Kabupaten Pekalongan dan APBN. APBD Tahun 2009 mengalokasikan dana
Rp.53.091.709.000,00 termasuk Dana Alokasi Khusus Bidang kesehatan. Sedangkan dari
APBN yang terdiri dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp.7.439.000.000,00 dan dana
Jamkesmas sebesar Rp. 4.752.804.000,-
Sarana prasarana / alat yang masih sangat terbatas juga menyebabkan hambatan
pelaksanaan program SDIDTK. Menurut Sota ( 2003 ) dalam penelitiaannya salah satu
faktor pendukung yang tidak boleh dilupakan dalam pelayanan adalah faktor sarana atau
alat dalam pelaksanaan tugas pelayanan. Sarana yang dimaksud di sini adalah segala jenis
peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama /
pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan.
Format yang digunakan di lahan masih terlalu banyak dan rumit untuk pelaksanaan
program belum praktis. Menurut penelitian tentang kinerja Bidan Desa oleh Syafani (
2010 ) bahwa format yang praktis dan ringkas dapat mempermudah kerja bidan di lahan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2137
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

4. Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal ini adalah Dinas
Kesehatan untuk mengatasi kurangnya cakupan SDIDTK.
Pada pelaksanaan program tersebut dengan mengupayakan adanya sosialisasi dan
pelatihan baik untuk tenaga kesehatannya maupun kader. Menurut Handoko ( 2009 )
dalam penelitiannya menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah
melalui peningkatan keahlian tenaga medis.
Kerjasama berbagai pihak baik tenaga kesehatan, kader, guru, masyarakat. Hal ini
sesuai dengan Kemenkes RI ( 2010 ) yaitu kegiatan SDIDTK yang menyeluruh dan
terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga, masyarakat (
kader, tokoh masyarakat ) dengan tenaga professional ( tenaga kesehatan, pendidikan,
sosial ) akan meningkatkan kualitas tumbuh kembang.
Dalam pelaksanaan program pemerintah tersebut terdapat peranan kader. Yang
dalam pelaksanaannya telah di upayakan untuk mendapatkan insentif bagi kader,
walaupun tidak ada anggaran secara khusus dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan.
Dana insentif tersebut di dapatkan dari swadaya masing – masing puskesmas. Sehingga
insentif bagi kader ini dari segi nominal memang tidak banyak hanya sebagai pengganti
transport saja. Dan tidak di pungkiri lagi bahwa kader banyak membantu bidan dalam
melaksanakan tugas dan programnya. Sehingga insentif ini diberikan sebagai
penghargaan bagi kader, walupun belum bisa dikatakan cukup.
Menurut Gibson ( 1995 ) Jika karyawan melihat bahwa kerja keras dan kinerja yang
unggul dan diberikan imbalan oleh organisasi, mereka mengharapkan hubungan seperti
itu akan terus berlanjut di masa depan, oleh karena itu mereka akan menentukan tingkat
kinerja yang lebih tingi dan mengharapkan tingkat kompensasi yang tinggi pula.
Format yang ada yaitu Kuesioner Pra Skrinning Perkembangan ( KPSP ), Tes Daya
Lihat ( TDL ), dan Tes Daya dengar ( TDD ) mudah di pahami akan tetapi dalam
pelaksanaannya masih terlau rumit dan menyita waktu yang banyak, di lahan disiasati
memakai Kartu Kembang Anak ( KKA ). Kemenkes RI ( 2010 ) menyatakan Pembinaan
tumbuh kembang anak memerlukan perangkat instrument untuk stimulasi, deteksi dan
intrevensi dini penyimpangan tumbuh kembang termasuk format rujukan kasus dan
pencatatan – pelaporan kegiatan. Pelbagai metoda stimulasi dan deteksi dini telah banyak
di kembangkan oleh para ahli dan lintas sektor terkait.

KESIMPULAN
Bidan merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah
Kabupaten Pekalongan. Pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan
pelatihan – pelatihan dan menyediakan APE untuk menunjang program. Besarnya jumlah
sasaran, beban kerja banyak, belum ada kerjasama lintas sektor merupakan hambatan dalam
pelaksanaan program. Upaya untuk menunjang program yaitu dengan mengotimalkan buku
KIA dan mengenalkan KKA ( Kartu Kembang Anak ) yang lebih sederhana kepada kader dan
guru.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Bungin, B. 2007. Peneltian Kualitatif. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
[2] BP7. 2007. Undang – undang Perlindungan dan Pengadilan Anak. Jakarta: Trinity
[3] Dapriatna, N dan Setiawan, R. 2005. Pengantar Statistika, Yogyakarta : Graha Ilmu

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2138
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

[4] Depkes RI. 2006 . Visi dan Misi Departemen Kesehatan RI. www.depkes.go.id.
Diakses 25 Juni 2010
[5] ___________. 2010. Instrumen Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan Pada Balita dan
Anak Prasekolah. Jakarta
[6] ___________. 2010. Pedoman Pelaksanaan : Stimulasi dan Deteksi Dini Tumbuh Kembang
Anak Di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta
[7] ___________. 2006. Policy Memoranda, Analisis Kebijakan Pelayanan Kesehatan Dalam
Rangka Akselerasi Penurunan AKI dan AKB. www.p3k.litbang.depkes.go.id. Diakses 25
Juni 2010
[8] Gibson dan James L Jhon M Ivancevichjh Doelly. 1995. Organization Behavior Structure
and Processes. Fith Edition. Texas Business Publications Inc
[9] Handoko. 2009. Analisis pengaruh Kinerja Tenaga Medis / Paramedis Terhadap Kualitas
Pelayanan Kesehatan Puskesmas Simpang Pematang kabupaten Tulang Bawang.
http://pustakailimiah.unila.ac.id. Diakses 29 Desember 2010
[10] Hurlock, E.B. 2006. Perkembangan Anak (Edisi terjemahan oleh Meitasari Tjandrasa, dr.
Med, Muslichah Zarkasih, Dra.). Jakarta : Erlangga

[11] Makmur, S. 2006. Masukan RPP Pembagian Urusan Bidang Kesehatan dan Revisi /
Penyempurnaan SPM Bidang Kesehatan. Puslitbang Sistem & Kebijakan Kesehatan
Surabaya. www.litbang,depkes.go.id. Diakses 1 Juli 2008
[12] Moleong, L.J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi, Bandung : Remaja
Rosdakarya
[13] Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Peneltian Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta : Rineka Cipta
[14] Pratiwi, N.L dan Suparmanto, P. 2006. Pengembangan Peran Dalam Peningkatan Kinerja
Jhc, Dhc untuk Pengembangan Kesehatan Daerah. www.litbang.depkes.go.id. Diakses
28 Juni 2010
[15] __________ . 2009. Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan Tahun 2009. Pekalongan
[16] Setiawan, Wawan. 2007. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Bidan Desa
Dalam Pertolongan Persalinan di Kabupaten Tasikmalaya.
http://eprints.undip.ac.id/1768/1/wawan_setiawan.pdf. Diakses 29 Desember 2010
[17] Simamora. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi ke Dua. Cetakan ke III. Bagian
Penerbitan STIE YKPN. Yogyakarta
[18] Soepardan, S. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC
[19] Soetjingsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC
[20] Soewarta Kosen. 2006. Assesmen Kinerja dan Pelaksanaan Urusan Wajib Standar
Pelayanan Minimal ( UW – SPM ) Sector Kesehatan Kabupaten dan Kota.
www.litbang.depkes.go.id. Diakses 25 Juni 2010
[21] Sota. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Airlangga University Press. Surabaya
[22] Sugiono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
[23] ___________. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta
[24] Sukmadinata, N.S. 2007. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
[25] Sutopo, H. B. 2006. Metodologi Peneltian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam
Penelitian. Edisi 2. Surakarta : Universitas Sebelas Maret
[26] Syamsu Yusuf LN. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja Bandung : Remaja

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2139
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

Rosdakarya
[27] Wong, D.V. 2004. Pedoman Klinis Keperawatanu Anak (Edisi terjemahan oleh Monica
Ester, S. Kp. Jakarta : EGC
[28] Yin, R.K. 2008. Study Kasus Desain dan Metode. Jakarta ; Raja Grafindo Persada
[29] Yupi, S. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta ; EGC

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI
2140
JCI
Jurnal Cakrawala Ilmiah
Vol.1, No.8, April 2022

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
http://bajangjournal.com/index.php/JCI

Anda mungkin juga menyukai