Korupsi tidak saja terjadi pada negara-negara maju, tapi sekarang ini melanda hampir semua
negara. Ada ahli yang mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi budaya, di Indonesia
perbuatan korupsi pada semua cabang kekuasaan negara, adanya karena sifatnya memang
tamak, ada juga karena lingkungan. Hasil korupsi supaya tidak kelihatan, kemudian
disamarkan.
Sehubungan dengan itu:
1. Berikan analisis mengenai beberapa ciri-ciri dari tindak pidana korupsi dan mengapa
tindak pidana tersebut dikatagorikan sebagai luar biasa atau extraordinary crime !
2. Berikan ulasan mengenai modus operandi pencucian uang dan mengapa harus diperangi
serta dampaknya terhadap penyelenggaraan pemerintahan, berikan contoh dan dasar
hukumnya?
Jawaban:
1. Ciri – ciri tindak pidana Korupsi sebagian dirumuskan secara khusus dan sebagian
lagi masih menggunakan pendekatan Tindak Pidana KUHP. Hal ini dipertegas pada
Pasal 1 Ayat (2) UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 bahwa ada beberapa ketentuan delik korupsi yang semula
mengacu pada KUHP , diubah menjadi ketentuan delik tersendiri.
Dengan demikian untuk mengetahui ciri-ciri tindak pidana korupsi secara normatif
dapat ditelusuri pada :
1. Pasal 2, 3, 13, 14, 15,16, 21, 23 dan 24 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi beserta penjelasan Pasal 2 tentang Keadaan tertentu
yang diubah dengan UU No 20 Tahun 2001;
2. Pasal 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 12A, 12B, 12C UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Dari rumusan delik tindak pidana korupsi tersebut, maka secara operasional dapat
ditemukan ciri – ciri tindak pidana korupsi adalah :
CIRI – CIRI TINDAK PIDANA KORUPSI
1. Melibatkan lebih dari satu orang. Seseorang itu memiliki perannya tersendiri atau
berada diluar negeri, pejabat berwenang;
2. Tindakan dilakukan secara rahasia, bisa saja tidak saling kenal, menggunakan bahasa
sandi, bahkan menghindari jejak pertemuan terbuka;
3. Mengandung seduction (pendapat Fockema Andrea) yakni adanya suatu barang/uang/
memperkaya diri sesuatu yang menarik membuat seseorang berkenan untuk melakukan
penyelewenangan agar maksud nya dapat terwujud;
4. Mengelak peraturan atau memanipulasi hukum dengan berlindung pada imunitas atau
previeliege yang dimiliki para pelaku dan kroninya;
5. Biasanya ditemukan adanya dukungan berupa keputusan atau memo dari pemegang
peran eksekutif, yudikatif, maupun legislatif ;
6. Pelaku dan Kroni mengetahui perbuatannya harus melanggar kepercayaan baik yang
bersumber dari nuraninya juga yang bersumber dari sumpah jabatan profesinya.
7. Tindakan lainnya menghalangi proses penyidikan, dan pemberian keterangan dimuka
pengadilan yang berhubungan dengan tindak pidana korupsi.
Oleh karena perbuatan tindak pidana korupsi telah disusun secara khusus melalui
undang-undang khusus. Maka Perbuatan Korupsi merukan tindak pidana khusus.
Karakter khusus tindak pidana korupsi pun terlihat dari bagaimana ciri-ciri tindak
pidana korupsi tidak lah cukup disebut dengan delik pencurian, pemalsuan dokumen,
penipuan atau mal administrasi pemerintah.
Ciri – Ciri Tindak Pidana Korupsi melibatkan banyak orang penting yang memegang
jabatan publik dan peran pengaruh dan bisa jadi dimensi asing turut terlibat dalam
kegiatannya, Misalnya, ternyata Menteri KKP Edi Prabowo barulah mewujudkan
penyelewengannya diluar negeri. Kemampuan Penyidik KPK maupun kejaksaan
harus memiliki pemahaman hukum nasional dan internasional. Lebih tepat TIndak
Pidana Korupsi disebut sebagai Extra Ordinary Crime.
Tindak pidana korupsi merupakan salah satu bagian dari tindak pidana khusus di
samping mempunyai spesifikasi tertentu yang berbeda dengan tindak pidana umum.
Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi merupakan aturan yang mempunyai sifat
kekhususan, baik menyangkut Hukum Pidana Formal (Acara) maupun Materil
(Substansi). Akibat hukum suatu tindak pidana
menjadi tindak pidana korupsi, antara lain : Lembaga yang menangani tindak pidana
korupsi, sistem pembuktiannya Pembuktian dalam tindak pidana korupsi menerapkan
sistem pembuktian terbalik yang bersifat terbatas atau berimbang, dan dari segi
pemidanaannya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana
implikasi penanganan perkara suatu tindak pidana sebagai tindak pidana korupsi.
Dengan tolak ukur bahwasanyatindak pidana korupsi bersifat tindak pidana
yang luar biasa (extra ordinary crimes) karena bersifat sistemik, endemik yang
berdampak sangat luas (systematic dan widespread) yang tidak hanya merugikan
keuangan negara tetapi juga melanggar hak sosial dan ekonomi masyarakat luas
sehingga penindakannya perlu upaya comprehensive extra ordinary measures
sehingga banyak peraturan, lembaga dan komisi yang di bentuk oleh pemerintah
untuk menanggulanginya.
Menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang
perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Pada dasarnya, secara normatif bahwa tindak pidana korupsi
merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime). Apabila dikaji dari
pandangan doktrina, Romli Atmasasmita menekankan, bahwa:
dengan memperhatikan perkembangan tindak pidana korupsi, baik dari sisi kuantitas
maupun dari sisi kualitas, dan setelah mengkajinya secara mendalam, tidaklah
berlebihan jika dikatakan bahwa korupsi di Indonesia bukan merupakan kejahatan
biasa (ordinary crimes) melainkan sudah merupakan kejahatan yang sangat luar biasa
(extra-ordinary-crime). Selanjutnya, jika dikaji dari sisi akibat atau dampak negatif
yang sangat merusak tatanan kehidupan bangsa Indonesia sejak pemerintahan Orde
Baru sampai saat ini, jelas bahwa perbuatan korupsi merupakan perampasan hak
ekonomi dan hak sosial rakyat Indonesia.
2. Modus Pencucian Uang
Ada beberapa cara untuk melakukan pencucian uang oleh pelaku. Pertama, disimpan di
bank dengan mengatasnamakan orang lain. Kedua, disetorkan secara tunai atau
ditransfer ke beberapa rekening yang berbeda dengan nama penerima berbeda.
Kedua, uang digunakan untuk menambah modal atau bisnis ilegal. Setelah dicuci,
harta kekayaan hasil kejahatan tersebut disamarkan agar terlihat sah dan kemudian
dapat lebih leluasa digunakan oleh pelaku.
Tindak Pidana Pencucian
Uang harus diberantas karena pencucian uang merupakan suatu kejahatan yang
menghasilkan
harta kekayaan dalam jumlah yang sangat besar atau asal usul harta kekayaan itu
merupakan
hasil kejahatan, kemudian disembunyikan atau disamarkan dengan berbagai cara yang
dikenal dengan pencucian uang.
dampak pencucian uang juga akan merusak integritas sistem keuangan suatu negara.
Jika kejahatan tersebut tidak terdeteksi, maka akan mengganggu hal lain, misalnya
investasi dan ekonomi.
Contoh tindakan pencucian uang :
1. Pencucian Uang yang Dilakukan oleh Dirut PT Jiwasraya
PT Jiwasraya merupakan salah satu perusahaan asuransi yang dikelola oleh BUMN
(Badan Usaha Milik Negara). Ada banyak nasabah yang memilih untuk mendaftar ke
PT Jiwa Saraya.
Namun ternyata, beberapa petinggi dari PT Jiwasraya ini melakukan pelanggaran
TPPU. Total kerugian Negara ini mencapai 16 triliun rupiah. Selain itu, klaim asuransi
dari nasabah juga tidak dapat dipenuhi.
Akibatnya, PT Jiwasraya dianggap gagal bayar terhadap klaim polis dari nasabah.
Beberapa pejabat dari asuransi Jiwasraya juga didakwa dengan undang-undang
pencucian uang. Sehingga, tersangka diancam hukuman diatas 10 tahun penjara.
Dasar Hukum :
Dasar Hukum UU 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang, adalah Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang
memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas
penegakan hukum serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak
pidana.
Untuk memenuhi kepentingan nasional dan menyesuaikan standar internasional, perlu
disusun Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang sebagai pengganti UndangUndang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang. Materi muatan yang terdapat dalam Undang-Undang ini, antara lain:
1. redefinisi pengertian hal yang terkait dengan tindak pidana Pencucian Uang;
2. penyempurnaan kriminalisasi tindak pidana Pencucian Uang;
3. pengaturan mengenai penjatuhan sanksi pidana dan sanksi administratif;
4. pengukuhan penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa;
5. perluasan Pihak Pelapor;
6. penetapan mengenai jenis pelaporan oleh penyedia barang dan/atau jasa lainnya;
7. penataan mengenai Pengawasan Kepatuhan;
8. pemberian kewenangan kepada Pihak Pelapor untuk menunda Transaksi;
9. perluasan kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap pembawaan uang
tunai dan instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean;
10. pemberian kewenangan kepada penyidik tindak pidana asal untuk menyidik dugaan
tindak pidana Pencucian Uang;
11. perluasan instansi yang berhak menerima hasil analisis atau pemeriksaan PPATK;
12. penataan kembali kelembagaan PPATK;
13. penambahan kewenangan PPATK, termasuk kewenangan untuk menghentikan
sementara Transaksi;
14. penataan kembali hukum acara pemeriksaan tindak pidana Pencucian Uang; dan
15. pengaturan mengenai penyitaan Harta Kekayaan yang berasal dari tindak pidana.