Jawaban :
1. Perbedaan wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum :
Sederhananya, wanprestasi itu adalah ingkar janji atau tidak menepati janji. Menurut Abdul R
Saliman (Saliman : 2004, hal. 15), wanprestasi adalah suatu sikap dimana seseorang tidak
memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang telah ditentukan dalam
perjanjian yang dibuat antara kreditur dan debitur.
PMH bisa terjadi di ranah hukum pidana, maupun hukum perdata. Dalam tulisan ini yang
dimaksud PMH adalah yang dalam ranah hukum perdata.
PMH diatur dalam Pasal 1365 KUHPer, berbunyi “Tiap perbuatan yang melanggar hukum
dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian
itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut ”.
Dahulu perbuatan melawan hukum hanya terbatas pada perbuatan yang melanggar undang-
undang tertulis saja. Namun sejak tahun 1919, Hoge Raad Belanda dalam perkara
Lindenbaum v Cohen memperluas penafsiran perbuatan melawan hukum sehingga perbuatan
melawan hukum tidak lagi terbatas pada perbuatan yang melanggar undang-undang tapi juga
mencakup salah satu perbuatan sebagai berikut (Fuady : 2013, hal.6):
1. Perbuatan yang bertentangan dengan hak orang lain
2. Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri
3. Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan;
4. Perbuatan yang bertentangan dengan kehati-hatian atau keharusan dalam pergaulan
masyarakat yang baik.
Ditinjau dari Wanprestasi PMH
– Pasal 1238, 1239, 1243
KUHPerdata – Pasal 1365 sd 1380 KUHPer.
Sumber hukum
– Timbul dari – Timbul akibat perbuatan orang
Persetujuan/perjanjian
Unsur-unsurnya a. Ada perjanjian oleh para pihak; a. Adanya suatu perbuatan;
b. Perbuatan tersebut melawan
hukum;
b. Ada pihak melanggar atau
c. Adanya kesalahan pihak
tidak melaksakan isi perjanjian
pelaku;
yang sudah disepakati;
d. Adanya kerugian bagi
c. Sudah dinyatakan lalai tapi
korban;
tetap juga tidak mau melaksanakan
isi perjanjian.
e. Adanya hubungan kausal
antara perbuatan dan
kerugian.
Hak menuntut ganti rugi dalam
Hak menuntut ganti rugi dalam
PMH tidak perlu peringatan
wanprestasi muncul dari Pasal 1243
Timbulnya hak lalai. Kapan saja terjadi PMH,
KUHper, yang pada prinsipnya
menuntut pihak yang merasa dirugikan
membutuhkan pernyataan lalai
berhak langsung menuntut ganti
(somasi)
rugi.
Pengugat harus mampu
Penggugat cukup menunjukan membuktikan semua unsur PMH
Pembuktian
adanya wanprestasi atau adanya terpenuhi selain itu mampu
dalam gugatan
perjanjian yang dilanggar membuktikan adanya kesalahan
yang dibuat debitur.
KUHper sudah mengatur
tentang jangka waktu
KUHPer tidak mengatur
perhitungan ganti rugi yang
bagaimana bentuk dan
dapat dituntut, serta jenis
rincian ganti rugi.
dan jumlah ganti rugi yang
Sehingga dapat
dapat dituntut dalam
Tuntutan ganti menggugat kerugian
wanprestasi.
rugi materil dan imateril.
Gugatan wanprestasi tidak
Dapat menuntut
dapat menuntut
pengembalian pada
pengembalian pada
keadaan semula.
keadaan semula (restitutio
in integrum)
Jika pada wanprestasi mengacu pada Pasal 1238, 1239, 1243 KUH Perdata dan berdasarkan sebuah
perjanjian antara beberapa pihak.
Maka perbuatan melawan hukum didasari oleh Pasal 1365 sd 1380 KUH Perdata yang menyebutkan
bahwa tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain. Oleh karena itu,
diwajibkan untuk mengganti kerugian tersebut. Ini dapat timbul tanpa adanya perjanjian yang
mengikat.
bentuk bentuk perbuatan melawan hukum dalam kontrak adalah : pembatalan perjanjian secara
sepihak, pengalihan perjanjian secara sepihak dan perjanjian dalam klausula baku, sehingga
gugatan yang didasari oleh kontrak dapat memajukan gugatan perbuatan melawan hukum.Jenis
perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam kasus di atas adalah pemebrian cek kosong dan
korupsi.
b. Dalam hal ini terdapat dua pandangan mengenai persoalan concursus:
1. Hazewinkel Suringa memandang concursus sebagai masalah dalam pemberian pidana.
2. Pompe, Mezger dan Mulyatno memandang concursus sebagai bentuk khusus dari tindak
pidana.
Pengaturan Dalam KUHP
Di dalam KUHP diatur dalam Pasal 63 sampai dengan 71 yang terdiri dari:
1. Perbarengan peraturan (Concursus Idealis) yang terdapat dalam Pasal 63 KUHP.
2. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum/ Voortgezette Handeling) yang terdapat dalam
Pasal 64 KUHP.
3. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) yang terdapat dalam Pasal 65 sampai Pasal 71
KUHP.
2.a. Pengaturan hukum terhadap tindak pidana pembayaran melalui cek giro kosong diatur dalam
Pasal 378 KUH Pidana. Artinya tindak pidana pembayaran melalui cek giro kosong tersebut
dimasukkan ke dalam klasifikasi tindak pidana penipuan sebagaimana diatur
dalam Pasal 378 KUH Pidana. Pihak yang terlibat dalam penanganan tindak pidana
pembayaran melalui cek giro kosong adalah kepolisian. Karena Fungsi
kepolisian adalah salah satu fungsi pemerinatahan negara di bidang
pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum,
perlindungan, penganyoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban hukum bagi pelaku tindak pidana pembayaran melalui cek
giro kosong tersebut dipidana atas perbuatannya tersebut. Apabila perbuatan
pengancaman tersebut dilakukan secara sengaja, selanjutnya dilakukan secara
sadar oleh seseorang yang waras serta diketahui perbuatan penipuan tersebut
ada diatur di dalam perundang-undangan yaitu Pasal 378 KUHP, maka pada
kapasitas ini pelaku penipuan dapat dimintakan pertanggungjawaban hukumnya.
Pengertian ‘melawan hukum’ baru kembali disebut lagi secara khusus
sebagai salah satu unsur tindak pidana korupsi di dalam Pasal 1 ayat (1) sub
a Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Rumusan delik yang kurang lebih sama, hanya dengan
sedikit perubahan saja, dapat dijumpai pula di dalam undang-undang yang
berlaku saat ini, tepatnya di dalam Pasal 2 ayat (1) UU PTPK
b. bentuk bentuk perbuatan melawan hukum dalam kontrak adalah : pembatalan perjanjian
secara sepihak, pengalihan perjanjian secara sepihak dan perjanjian dalam klausula baku, sehingga
gugatan yang didasari oleh kontrak dapat memajukan gugatan perbuatan melawan hukum.
Terhadap gugatan perbuatan melawan
hukum tersebut yang sebelumnya terdapat
hubungan kontraktual antara para pihak yang
melakukan perjanjian, dapat dilakukan jika dari
gugatannya mendukung adanya perbuatan melawan hukum yaitu mengenai pelanggaran
Undang-Undang baik hak orang lain maupun
kewajiban pihak pelaku dan bertentangan
dengan tata susila atau kepatutan, ketelitian,
serta kehati-hatian yang sudah ditetapkan sejak
adanya kasus Lindenbaum melawan Cohen yang
mengubah pengertian sempit atas perbuatan
melawan hukum. Hubungan kontraktual yang
dilanggar oleh seseorang disebut dengan
wanprestasi, sehingga yang menjadi alasan
dapat dilakukannya gugatan perbuatan melawan
hukum tersebut karena hubungan kontraktual
yang mengikat para pihak yang melakukan
perjanjian sudah diatur dalam KUHPerdata
apabila dalam hal perjanjiannya salah satu pihak melanggar dari adanya kontrak tersebut
maka sama saja dengan melanggar kewajiban
Undang-Undang yang sudah ditentukan.
3.a Asas legalitas memiliki makna bahwa setiap penyelenggaraan administrasi pemerintahan itu harus
mengedepankan dasar hukum dari sebuah keputusan maupun tindakan yang dibuat oleh badan dan
pejabat pemerintahan.
Dengan begitu, baik dalam keputusan maupun tindakannya badan dan pejabat pemerintahan tersebut
tidak dapat dilakukan dengan semena-mena.
Hukum administrasi negara merupakan bagian dari hukum publik, yaitu hukum yang mengatur
tindakan pemerintah dan mengatur hubungan antara pemerintah dengan warga negaranya atau
hubungan antara organ pemerintah, sehingga hukum administrasi negara memuat keseluruhan
peraturan yang berkenaan dengan cara bagaimana organ pemerintah itu dapat melaksanakan tugasnya.
B. Tata kelola (governance) tidak dapat dilepaskan dari prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan
pemerintahan yang baik, yaitu transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas sebagai unsur utama. Tata
kepemerintahan yang baik secara umum ditandai dengan diterapkannya prinsip transparansi,
partisipasi dan akuntabilitas sebagai landasan awalnya. Prinsip tersebut kini lebih dikenal dengan
prinsip Tata Kelola Yang Baik (Good Governance) yang mengatur hubungan antara pemerintan,
masyarakat dan dunia usaha.
4.a Penyelesaian sengketa melalui proses litigasi dalam pengadilan pada dasarnya dilakukan secara
sederhana, cepat dan biaya ringan. APS adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat
melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. UU Arbitrase tidak memberikan batasan
hanya perkara wanprestasi antar para pihak saja yang dapat diselesaikan melalui proses arbitrase.
Adanya Perbuatan Melawan Hukum (“PMH”) yang dilakukan oleh salah satu pihak juga dapat
diselesaikan melalui proses arbitrase.
Namun demikian, suatu gugatan PMH yang diajukan ke pengadilan negeri oleh pihak yang terikat
dengan perjanjian arbitrase berpotensi ditolak oleh majelis hakim dengan alasan adanya permasalahan
kompetensi absolut dalam gugatan tersebut.
Proses penyelesaian melalui arbitrase tidak menghalangi pihak ketiga yang merasa hak-hak dan
kepentingannya terganggu untuk turut serta dalam proses penyelesaian tersebut.
Pada prinsipnya apabila para pihak telah mengadakan suatu perjanjian dan dalam perjanjian tersebut
telah dipilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase, maka berdasarkan Undang-Undang
Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (“UU
Arbitrase”), pengadilan negeri tidak lagi berwenang untuk mengadili sengketa terkait perjanjian
tersebut.1[1]
UU Arbitrase sendiri tidak memberikan pembatasan hanya perkara wanprestasi yang dapat
diselesaikan melalui arbitrase. Namun, dalam hal terjadi Perbuatan Melawan Hukum (“PMH”)
yang dilakukan oleh salah satu pihak yang terikat dengan perjanjian tersebut, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui arbitrase. Hal ini diatur dalam Pasal 2 UU Arbitrase yang
berbunyi:
Undang-undang ini mengatur penyelesaian sengketa atau beda pendapat antar para pihak
dalam suatu hubungan hukum tertentu yang telah mengadakan perjanjian arbitrase yang
secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau beda pendapat yang timbul atau yang
mungkin timbul dari hubungan hukum tersebut akan diselesaikan dengan cara arbitrase atau
melalui alternatif penyelesaian sengketa.
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 2 UU Arbitrase tersebut, dengan adanya frasa yang berbunyi
yang mungkin timbul dari hubungan hukum tersebut, dijadikan dasar bagi pihak yang merasa
dirugikan atas PMH untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui arbitrase.
Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dalam konteks perdata diatur dalam Pasal
1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) yang berbunyi:
Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan
orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Sehingga suatu permasalahan yang masuk dalam kategori PMH sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1365 KUH Perdata antara para pihak yang terikat dengan suatu perjanjian yang memuat
klausula arbitrase, juga menjadi kewenangan arbitrase untuk menyelesaikannya. Ini
menunjukkan bahwa penyelesaian melalui arbitrase tidak serta merta hanya untuk menyelesaikan
sengketa wanprestasi saja.
Menurut Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum (hal. 117), dalam
menentukan suatu perbuatan dapat dikualifisir sebagai melawan hukum, diperlukan 4 syarat:
1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku
2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain
3. Bertentangan dengan kesusilaan
4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian.
Lalu apa syarat agar gugatan dapat dikabulkan? Dalam artikel Merasa Dirugikan Tetangga
yang Menyetel Musik Keras-keras dijelaskan antara lain bahwa Mariam Darus
Badrulzaman dalam bukunya “KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan Dengan Penjelasan”,
1
seperti dikutip Rosa Agustina dalam buku “Perbuatan Melawan Hukum” (hal. 36) menjabarkan
unsur-unsur perbuatan melawan hukum sebagai berikut:
1. Harus ada perbuatan (positif maupun negatif);
2. Perbuatan itu harus melawan hukum;
3. Ada kerugian;
4. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu dengan kerugian;
5. Ada kesalahan.
Bentuk-Bentuk PMH yang Mungkin Timbul dalam Perjanjian
Contoh bentuk-bentuk PMH yang mungkin timbul dari adanya suatu perjanjian antar para pihak
yaitu:
1. Terkait hal-hal esensi atau dasar suatu perjanjian yang baru diketahui kemudian setelah
perjanjian tersebut ditandatangani. Salah satu contohnya yaitu terkait obyek dalam
perjanjian tersebut. Jika ternyata diketahui salah satu pihak memperjanjikan obyek yang
ternyata bukan miliknya atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, maka pihak lainnya dapat mengajukan permohonan pembatalan atas perjanjian
tersebut. Adapun dasar yang digunakan yaitu adanya PMH yang dilakukan salah satu
pihak pada saat proses penyusunan perjanjian tersebut;
2. Terkait adanya tindakan-tindakan yang dilakukan salah satu pihak sehingga
menimbulkan kerugian bagi pihak lain, yang mana tindakan tersebut secara langsung
ataupun tidak langsung berkaitan dengan perjanjian yang ada.
Dalam beberapa contoh preseden yang ada, suatu perkara gugatan PMH yang diajukan ke
pengadilan negeri, pada hakikatnya berkaitan dengan suatu perjanjian yang memuat klausul
arbitrase mengakibatkan gugatan tersebut ditolak oleh majelis hakim dengan alasan kompetensi
absolut. Majelis Hakim dalam pertimbangannya menyatakan pengadilan negeri tidak berwenang
memeriksa perkara tersebut dikarenakan dalam perjanjian yang menjadi dasar hubungan hukum
para pihak yang berperkara, memuat klausul arbitrase.
2 Salah satu alasan yang umumnya digunakan oleh pihak yang mengajukan gugatan PMH ke
pengadilan negeri dan bukan ke arbitrase yaitu karena adanya keterkaitan pihak ketiga dengan
permasalahan yang ada.
Namun demikian, Pasal 30 UU Arbitrase telah mengakomodir adanya kemungkinan proses
pemeriksaan di arbitrase melibatkan pihak ketiga di luar perjanjian, yaitu:
Pihak ketiga di luar perjanjian arbitrase dapat turut serta dan menggabungkan diri dalam
proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase, apabila terdapat unsur kepentingan yang
terkait dan keikutsertaannya disepakati oleh para pihak yang bersengketa serta disetujui oleh
arbiter atau majelis arbiter yang memeriksa sengketa yang bersangkutan.
UU Arbitrase sendiri tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keikutsertaan pihak
ketiga dalam proses penyelesaian di arbitrase. Namun, jika hanya merujuk kepada ketentuan
dalam Pasal 30 UU Arbitrase tersebut, maka masuknya pihak ketiga dimungkinkan dalam suatu
proses pemeriksaan arbitrase. Dengan syarat, masuknya pihak ketiga tersebut memperoleh
persetujuan baik dari pihak arbiter atau majelis arbiter dan para pihak (Pemohon dan Termohon).
Dengan diterimanya pihak ketiga tersebut sebagai salah satu pihak, maka pihak ketiga memiliki
kedudukan yang setara dengan Pemohon dan Termohon dalam mengutarakan dan
mempertahankan kepentingan-kepentingannya tersebut. Berdasarkan Peraturan Prosedur
Arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) (“Peraturan BANI”), pihak ketiga
tersebut juga memiliki kewajiban untuk membayar biaya administrasi dan biaya-biaya lainnya
sehubungan dengan keikutsertaannya tersebut.2[2]
2
Lalu apakah dimungkinkan masuknya pihak ketiga karena ditarik masuk oleh salah satu pihak
yang berperkara? Menurut kami, hal tersebut dimungkinkan sepanjang telah disetujui oleh para
pihak yang terlibat dalam proses arbitrase tersebut yaitu pihak arbiter, pihak lawan, dan pihak
ketiga yang bersangkutan. Sebagaimana esensi dari penyelesaian melalui arbitrase itu sendiri
yaitu didasarkan pada adanya kesepakatan antar para pihak yang berkepentingan.
b. Arbitrase merupakan salah satu upaya penyelesaian sengketa yang termasuk dalam kategori
nonlitigasi. Penyelesaian masalah melalui jalur ini masih terasa asing di telinga. Kendati demikian,
tidak sedikit pula yang bahkan belum memahami penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi.
Litigasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan, dengan hakim sebagai pemimpin
sidang dan pengambil putusan utama. Litigasi disinyalir sebagai jalur hukum tertua dalam
menyelesaikan pertikaian. Kasus yang ditangani berkaitan dengan perselisihan antara dua pihak,
bukan seseorang yang melakukan pelanggaran hukum.
Sementara itu, arbitrase mengaitkan dua pihak dalam satu perselisihan; keduanya setuju untuk
bekerja sama dengan pihak ketiga yang tidak memihak siapa pun dalam mendengarkan masalah dan
mengambil keputusan. Metode ini memungkinkan adanya lebih dari satu orang arbiter. Meskipun
demikian, pengambilan keputusan tetap dilakukan oleh satu arbiter saja.
Lalu, apa saja perbedaan dari litigasi dan arbitrase? Berikut ulasannya:
1. Status Proses
Proses arbitrase sebagai jalur penyelesaian masalah bersifat pribadi, hanya meliputi kedua belah
pihak yang bermasalah dan satu atau dua orang arbiter sebagai pembuat keputusan. Proses ini pun
bersifat informal dan dapat dilakukan di mana saja. Berbeda dengan proses litigasi yang bersifat
formal, dengan hakim sebagai pembuat keputusan dan dilakukan di ruang sidang pengadilan.
2. Lama Waktu Penyelesaian
Dalam proses litigasi atau pengadilan, suatu permasalahan baru bisa diselesaikan jika pihak
pengadilan telah memproses kasus tersebut, menunjuk hakim, dan melakukan panggilan. Artinya,
penyelesaian kasus akan memakan waktu berbulan-bulan. Belum lagi jika pihak yang kalah
mengajukan banding dan kasasi.
Di sisi lain, proses penyelesaian masalah dengan arbitrase memakan waktu yang lebih singkat. Jika
kedua belah pihak telah memilih arbiter, permasalahan pun akan langsung diproses. Keputusan pun
bisa segera diambil.
3. Biaya yang Dikeluarkan
Perbedaan berikutnya adalah persoalan biaya yang akan dikeluarkan selama pelaksanaan proses
penyelesaian. Proses arbitrase umumnya tidak menggunakan tempat dan tahapan yang panjang. Oleh
karena itu, biaya yang dikeluarkan pun tidak akan terlalu tinggi. Biaya ini hanya meliputi pembayaran
arbiter yang sesuai dengan keahlian dan pembayaran pengacara.
Sementara itu, dalam proses litigasi dibutuhkan tahapan yang cukup panjang, mulai dari pendaftaran
berkas ke pengadilan, pembayaran pengacara, dan biaya pengadilan. Biaya tersebut akan terus
bertambah seiring dengan pengajuan banding dan kasasi. Tentunya, biaya yang dikeluarkan untuk
penyelesaian masalah secara litigasi akan lebih banyak.
4. Penggunaan dan Peran Pengacara
Dalam proses arbitrase, pihak-pihak yang berselisih diperbolehkan menggunakan pengacara. Namun,
peran pengacara dalam proses ini sangat terbatas, karena semua keputusannya ada pada arbiter.
Sementara itu, peran pengacara dalam proses litigasi amat luas, mulai dari mengumpulkan bukti
hingga menunjukkan hasil riset dan kasus mereka ke jajaran hakim di pengadilan untuk melakukan
pembelaan.
5. Batasan Barang Bukti
Bukti menjadi salah satu hal paling penting dalam menyelesaikan perselisihan dan melakukan
pembelaan. Namun, aturan mengenai barang bukti ini tidak berlaku dalam proses arbitrase. Kalaupun
diberlakukan, prosesnya terbatas dan dikendalikan oleh arbiter. Hal ini karena tidak ada panggilan
pengadilan atau interogator dalam proses arbitrase.
Sementara itu, barang bukti adalah hal yang wajib ada dan ditunjukkan oleh kedua belah pihak dalam
proses litigasi. Barang bukti ini berguna untuk menguatkan pembelaan dan argumen masing-masing
pihak di hadapan majelis hakim saat persidangan.
6. Proses Banding sebagai Upaya Hukum
Semua putusan hukum bersifat mengikat, tak terkecuali arbitrase. Meskipun demikian, pihak-pihak
yang terlibat tidak memiliki pilihan banding, kecuali hal tersebut diatur dalam pasal undang-
undangnya. Berbeda dengan litigasi yang bisa mengajukan banding dan kasasi setelah putusan
dikeluarkan.
5.a. Tindak pidana penyuapan termasuk dalam bagian Korupsi dimana dalam UU Nomor 20 tahun
2001 disebutkan bahwa “Penyuapan meliputi janji, menawarkan atau memberikan sesuatu keuntungan
yang seharusnya tidak pantas untuk mem pengaruhi tindakan atau keputusan seorang pejabat publik.
Suap dalam berbagai bentuk,
banyak dilakukan di tengah-tengah
kehidupan masyarakat. Bentuk suap antara
lain dapat berupa pemberian barang, uang
sogok dan lain sebagainya. Adapun tujuan
suap adalah untuk mempengaruhi
pengambilan keputusan dari orang atau
pegawai atau pejabat yang disuap.
Ketentuan baru yang mengatur
tentang penyuapan dalam UU TPK yang
mulai diundangkan dengan UU No 3 Tahun
1971 dan kemudian diganti dengan UU No.
31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001.
Tetapi semua ketentuan tentang suap
tersebut dioper dari KUH Pidana dalam
kaitan dengan tindak pidana jabatan (ambs
delicten). Pembuktian unsur melawan hukum
dalam tindak pidana penyuapan harus
memenuhi unsur-unsur dalam Undang-
undang No. 31 tahun 1999 jo Undang-
undang No. 21 tahun 2001 tentang tindak
pidana korupsi, karena penyuapan
merupakan bagian dari Korupsi, unsur-
unsur nya yaitu:
a. Melawan Hukum.
b. Memperkaya diri sendiri atau orang lain /
korporasi.
c. Dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara.
d. Bertujuan menguntungkan diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi.
e. Menyalahgunakan kewenangan, ke
sempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan.
Pembuktian unsur tindak pidana
penyuapan, khususnya bagi penyuap aktif
dan pasif bertentangan dengan sifat
melawan hukum formil dan materiil,
dimana melawan hukum formil perbuatan
tersebut sudah diatur dalam Undang-
undang, sedangkan melawan hukum
materiil, perbuatan tersebut dianggap
meresahkan masyarakat.
b.
Tindak Pidana Korupsi adalah kejahatan yang dilakukan oleh seseorang maupun badan hukum yang
disengaja perbuatan tersebut melawan hukum dan didasari untuk memperkaya diri sendiri, kelompok
maupun badan hukum yang secara merugikan perekonomian negara. Hukuman terhadap para pelaku
tindak pidana korupsi seringkali tidak diputuskan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan,
seperti pada kasus Binahati B Baeha dan Muhir. Sebagaimana seperti aturan mengenai pemberatan
yang terdapat dalam Pasal 52 KUHP dan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif. Adapun bahan hukum penelitian
ini bersumber dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Penelitian ini bersifat deskriptif.
Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan konseptual dan pendekatan
perundang-undangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Aturan dalam Pasal 2 ayat (2)
sebenarnya sudah cukup kuat untuk mengikat hakim dalam memutuskan kasus tindak pidana korupsi
dengan pemberatan. Namun pada kenyataan hakim tidak pernah memutuskan suatu perkara korupsi
dengan hukuman mati sekalipun kasus tersebut telah memenuhi unsur pemberatan. Hakim juga dinilai
tidak tegas dalam memutuskan hukuman terhadap pelaku tindak pidana korupsi dengan pemberatan,
hakim cenderung memutuskan suatu perkara hanya berlandaskan pada dakwaan yang diberikan oleh
jaksa. Melihat dua kasus yang telah diputuskan, terlihat bahwa kedua kasus telah memenuhi unsur-
unsur perbuatan yang dapat dijatuhi hukuman dengan pemberatan, namun tidak terdapat adanya
pemberatan didalam hukuman yang dijatuhkan hakim kepada dua pelaku yang melakukan tindak
pidana korupsi bantuan sosial. Disarankan kepada hakim agar dapat menjatuhkan hukuman kepada
seseorang yang melakukan tindak pidana korupsi bantuan sosial sesuai dengan ketentuan pemberatan
mengingat kejahatan yang dilakukan telah memenuhi unsur pemberatan dan diharapkan juga agar
hakim lebih mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan pada saat menjatuhi hukuman.
Berdasarkan penelitian tentang pemberatan pidana dalam tindak pidana korupsi dana
bantuan sosial, maka kesimpulan yang dapat diberikan adalah Aturan dalam Pasal 2 ayat (2)
sebenarnya sudah cukup kuat untuk mengikat hakim dalam memutuskan kasus tindak pidana
korupsi dengan pemberatan. Namun pada kenyataan hakim tidak pernah memutuskan suatu
perkara korupsi dengan hukuman mati sekalipun kasus tersebut telah memenuhi unsur
pemberatan. Hakim juga dinilai tidak tegas dalam memutuskan hukuman terhadap pelaku
tindak pidana korupsi dengan pemberatan, hakim cenderung memutuskan suatu perkara
hanya berlandaskan pada dakwaan yang diberikan oleh jaksa. Melihat dua kasus yang telah
diputuskan, terlihat bahwa kedua kasus telah memenuhi unsur-unsur perbuatan yang dapat
dijatuhi hukuman dengan pemberatan, namun tidak terdapat adanya pemberatan yang di
dalam hukuman yang dijatuhkan hakim kepada dua pelaku yang melakukan tindak pidana
korupsi bantuan sosial. Disarankan kepada hakim, diharapkan agar putusan yang dijatuhkan
terhadap pelaku sesuai dengan ketentuan pemberatan, seperti yang tercantum pada pasal 2
ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 52 KUHP, Pasal 78 Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2007, dan aturan lain yang mengatur tentang pemberatan. Dan juga
diharapkan dalam memutuskan hukuman terhadap pelaku, hakim tidak hanya
mempertimbangkan hal-hal yang meringankan saja, namun juga harus mempertimbangkan
hal-hal yang memberatkan karena menyangkut kehidupan masyarakat banyak.