Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
PERATURAN
KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
NOMOR 31 TAHUN 2014
TENTANG
STANDAR KOMPETENSI JABATAN FUNGSIONAL ANALIS KEBIJAKAN
Menimbang
Mengingat
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA,
bahwa untuk menghasilkan Analis Kebijakan yang
berkualitas dan profesional di bidangnya
diperlukan adanya penjaminan mutu Analis
Kebijakan;
bahwa untuk melakukan penjaminan mutu
sebagaimana dimaksud pada huruf a dipandang
perlu adanya standar kompetensi Analis
Kebijakan;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan b, perlu menetapkan
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara
tentang Standar Kompetensi Jabatan Fungsional
Analis Kebijakan;
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5494);
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994
tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994
Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3547) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5121);3. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000
tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan
Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 198, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4019);
4. Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1972
tentang Tanggung Jawab Fungsional Pendidikan
dan Latihan;
5. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999
tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai
Negeri Sipil;
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 57
Tahun 2013 tentang Lembaga Administrasi Negara
(Berita Negara Republik Indonesia Nomor 127);
7. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 45 Tahun
2013 tentang Jabatan Analis Kebijakan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor1342);
8. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara
Nomor 14 Tahun 2013 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Administrasi Negara (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor
1245);
9. Peraturan Bersama Kepala LAN dan Kepala BKN
Nomor 16 Tahun 2014 dan Nomor 16 Tahun 2014
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi
Birokrasi Republik Indonesia Nomor 45 Tahun
2013 Tentang Jabatan Fungsional Analis
Kebijakan dan Angka Kreditnya (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 796);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI
NEGARA TENTANG STANDAR KOMPETENSI JABATAN
FUNGSIONAL ANALIS KEBIJAKAN.
BABI
KETENTUAN UMUM.
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Analis Kebijakan adalah Pegawai Negeri Sipil untuk yang selanjutnya
disingkat PNS, yang diberikan tugas, tanggung jawab, dan wewenang
untuk melaksanakan kajian dan analisis kebijakan dalam
lingkungan Instansi Pusat dan Daerah.2. Standar Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan adalah
kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh seorang Analis
Kebijakan untuk dapat melaksanakan tugas, tanggung jawab dan
wewenangnya secara profesional, efektif dan efisien.
3. Instansi Pembina Jabatan Fungsional Analis Kebijakan yang
selanjutnya disebut Instansi Pembina adalah Lembaga Administrasi
Negara.
4. Nilai rata-rata tertimbang adalah rata-rata jumlah nilai kompetensi
Analis Kebijakan yang memperhitungkan bobot relatif mereka dalam
data masing-masing kompetensi.
BAB II
TUJUAN DAN SASARAN
Pasal 2
Tujuan penetapan standar kompetensi jabatan fungsional Analis
Kebijakan adalah untuk:
a. memberikan kejelasan karir bagi jabatan fungsional Analis
Kebijakan;
b. meningkatkan keahlian dan keterampilan bidang analisis kebijakan
dan perencanaan pengembangan Analis Kebijakan _berbasis
Kompetensi; dan
c. memberikan jaminan kualitas profesi Analis Kebijakan.
Pasal 3
Sasaran penetapan standar kompetensi jabatan fungsional Analis
Kebijakan sebagai berikut:
a. pengangkatan dalam dan dari jabatan fungsional Analis Kebijakan
yang berbasis kompetensi;
b. pembinaan dan pengembangan karier bagi jabatan fungsional Analis
Kebijakan yang efektif dan akuntabel;
c. tersedianya acuan dalam pelaksanaan tugas Analis Kebijakan;
d. tersedianya Analis Kebijakan yang profesional; dan
¢. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional di
bidang kebijakan yang berkualitas.
Pasal 4
(1) Analis Kebijakan berkedudukan sebagai pejabat fungsional keahlian
di bidang Kajian dan Analisis Kebijakan.
(2) Jabatan Fungsional Analis Kebijakan merupakan jabatan karier
yang diduduki oleh PNS.
Pasal 5
(1) Tugas pokok Analis Kebijakan yaitu melaksanakan kajian dan
analisis kebijakan.(2) Kajian dan analisis kebijakan adalah kegiatan mengkaji dan
menganalisis kebijakan, dengan menerapkan _ prinsip-prinsip
profesionalisme, akuntabilitas, integritas, efisiensi dan efektivitas
untuk mencapai tujuan tertentu dan/atau menyelesaikan masalah-
masalah publik.
(3) Analis Kebijakan wajib memenuhi standar kompetensi sesuai dengan
jenjang jabatannya.
(4) Penjaminan pemenuhan standar kompetensi dalam pengangkatan
Jabatan Fungsional Analis Kebijakan baik melalui proses
pengangkatan pertama kali, pengangkatan dari jabatan lain,
maupun dari proses penyesuaian/inpassing dilakukan melalui uji
kompetensi.
BAB IV
STANDAR KOMPETENSI JABATAN FUNGSIONAL ANALIS KEBIJAKAN
Pasal 6
(1) Standar Kompetensi Analis Kebijakan meliputi
a. Standar Kompetensi bagi Analis Kebijakan Pertama;
b. Standar Kompetensi bagi Analis Kebijakan Muda;
c. Standar Kompetensi bagi Analis Kebijakan Madya; dan
d. Standar Kompetensi bagi Analis Kebijakan Utama.
(2) Standar Kompetensi Analis Kebijakan terdiri atas:
a. Kemampuan analisis; dan
b. Kemampuan politis.
(3) Kemampuan analisis adalah kemampuan untuk menghasilkan
informasi kebijakan yang berkualitas.
(4) Kemampuan politis adalah kemampuan untuk mengadvokasi
informasi kebijakan.
Pasal 7
(1) Standar Kompetensi bagi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) terdiri atas
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Kompetensi Keahlian.
(2) Kompetensi Inti adalah kompetensi yang harus dimiliki semua
Analis Kebijakan yang mencerminkan pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang kebijakan agar mampu melaksanakan
kajian dan analisis kebijakan secara efektif.
(3) Kompetensi Dasar adalah kompetensi yang harus dimiliki semua
Analis Kebijakan yang mencerminkan kemampuan mengenai
prinsip-prinsip dasar dalam melakukan kajian dan analis kebijakan
(4) Kompetensi Keahlian adalah kompetensi yang harus dimiliki Analis
Kebijakan yang mencerminkan kemampuan dalam melakukan kajian
dan analisis kebijakan agar organisasi dapat menghasilkan informasi
kebijakan yang berkualitas sesuai dengan jenjang jabatan tertentu.Pasal 8
(1) Kompetensi pada tingkat atau jenjang jabatan yang lebih tinggi
merupakan kumulatif dari penguasaan Kompetensi Inti, Kompetensi
Dasar dan Kompetensi Keahlian satu tingkat atau jenjang jabatan
dibawahnya.
(2) Uraian Standar Kompetensi Jabatan Analis Kebijakan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) tercantum dalam Lampiran I
Peraturan ini yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan ini.
BAB V
PEMBOBOTAN DAN PENILAIAN
Pasal 9
Pembobotan uji kompetensi Analis Kebijakan sebagai berikut :
a. Kemampuan analisis : 50% (lima puluh perseratus)
b, Kemampuan politis (political skil) : 50% (lima puluh perseratus)
Pasal 10
(1) Capaian level Kompetensi Inti dan Dasar disesuaikan dengan
kategori nilai capaian kompetensi pada setiap jenjangnya.
(2) Kategori nilai capaian kompetensi inti dan dasar terdiri atas:
a. Tidak memenuhi : < 70 ;
b. Memenuhi : 70-80 ; dan
c. Melebihi : > 80.
(3) Capaian level kompetensi keahlian disesuaikan dengan jenjang
jabatan tertentu.
(4) Kategori nilai capaian kompetensi keahlian terdiri atas:
a. Tidak memenuhi : <70 ; dan
b, Memenuhi : >70.
(5) Capaian level kompetensi dan kategori nilai capaian kompetensi
sesuai jenjang Jabatan Fungsional Analis Kebijakan tercantum
dalam Lampiran II Peraturan ini yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan ini.
Pasal 11
Seorang Analis Kebijakan dinyatakan memenuhi standar kompetensi
apabila mendapatkan nilai rata-rata tertimbang minimal 70 (tujuh
puluh).Pasal 12
(1) Instansi Pembina melakukan kaji ulang Standar Kompetensi Analis
Kebijakan.
(2) Kaji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk
memelihara validitas, reliabilitas dan keperluan perubahan standar
kompetensi analis kebijakan.
(3) Kaji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling
sedikit satu kali dalam 5 (lima) tahun.
(4) Kaji ulang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
berdasarkan hasil monitoring, evaluasi dan/atau usulan pemangku
kepentingan.
(5) Kaji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
memperhatikan aspek kesesuaian:
a. perubahan kebijakan penyelenggaraan urusan pemerintahan;
b. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
c. perubahan cara kerja; dan
d. perubahan lingkungan kerja dan persyaratan kerja.
BAB V
PENUTUP
Pasal 13,
Peraturan ini berlaku sejak tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 21 Agustus 2014
KEPALA.
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA,
ttd.
AGUS DWIYANTO
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 5 Nopember 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ted.
YASONNA H. LAOLY
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1769
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BAGIAN HI DAN ORGANISASI,
ze
RUSMA DWIYANAOLNVAIMG SDV
pn
VAVOGN ISVALSININGY VOVEINST
Vvivdot
blOz stusnsy 1z [essue3 epeg
eyeyer rp uexdeyoy 1d
WNVAIMG WSN
‘ISVSINVOAO SIH NVIOVE VIVday
‘eAurse ueSuap Tensas teuTeS
djyssaunod ‘2
anuana sexnsuoy *t |
Ueyeligay ueses ueunsnAuiag “T
wy unBuequiaW “2
ig vaurafeuew *T
ysenuasaag
(Supoman) Buvefal unBuequieW,
sequnwioy
89] ep 1sejnB=y
ueetsaxag
Suepig Suequay uenyera8uag
ngnd uep synuaw uendusewis
ue yelgay sisiieuy uep 91U43]
2s apo1aW
urgng wexetiqar
rsueysqns Suequ9y uenyeaBuag
swersads suaradwioy
seseq |suayadwoy
‘nu jsuarsdwoy,
NVVIIGIy SOWNV TWNOISONNA NVLVAVIE ISNALAd WOW YVONVLS
NVXVIIGA SITVNV TVNOISON!
[Link]
107 NOHVL I YOWON
ININGY VOVEINAT VIVE
INVUldNV'I
siseuy
uendwewayVNVAIMa VIS
OLNVAIMG SNOV
zZ
pn
‘ISVSINVONO NVC WOXAH KVIOWa VivasXt
VaVOGN ISVALSININGY VOVENGT ‘eAUIISe UBSUap TeNsas UeUTTES
VWivday
vlog stsnay [z [es3ue} eped
emer ip ueyderay iq.
vat “open eden menses
— ~ ae aT
>| ee ar mune ol 4 | =| Mnwawow a I aI 5 [Tsai mamwsteai|
= aa
EC RRS UT Se
= 7 z ewe ee
nme t—] iene ms
= ona -
SS SS ee ae pe a SS
7 FI zi a ng wea z ad paar
_ hecatmnanstinaie musi Teen) ewowey
ao =
[| fr a loaner ay pp unghopednne indo ngpLaRna an ipo UR eS RRR :
J J zi "I "I ees ener "i ia sma a
iE enn er =
(verona veto I
a vense | sexton |“ renene | ween sere
convene | M2 | davies |, | ening | a |mewimaon] A788 | ep” | ours | ARPS | wenn some | | pone
— mint ena gen | anomie | REM, | versuri | pH monn
oes eed
va soy | seas ay a coy mean oaponann
Nod & SriFeuy uote ‘smog uerdisowny | “yeu uendwewey
NVAVIIG3) SIIYNY TVNOISONNA NVLVaVl ISNIL3d WO 1337
NVNVPIaaM SITVNY
WNOISONN NVLVAVE ISNSLLAdWOM AVONVIS NVINOCGd
ONVINAL
107 NOHVL 1€ NOWON
ValVOAN ISVALSININGY VOVEINGT VIvdaH
NANA
TE NVaId WT