0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
317 tayangan116 halaman

Kegunaan Kriminalistik dalam Penyidikan

Mata kuliah Kriminalistik dan Ilmu Forensik membahas teknik dan taktik penyidikan kejahatan dengan menggunakan ilmu-ilmu alam, kedokteran, dan lainnya. Mata kuliah ini membahas pengertian kriminalistik, hubungannya dengan ilmu lain, dan ilmu pelacakan untuk mengungkap kejahatan dan pelakunya.

Diunggah oleh

Valiant
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
317 tayangan116 halaman

Kegunaan Kriminalistik dalam Penyidikan

Mata kuliah Kriminalistik dan Ilmu Forensik membahas teknik dan taktik penyidikan kejahatan dengan menggunakan ilmu-ilmu alam, kedokteran, dan lainnya. Mata kuliah ini membahas pengertian kriminalistik, hubungannya dengan ilmu lain, dan ilmu pelacakan untuk mengungkap kejahatan dan pelakunya.

Diunggah oleh

Valiant
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATA KULIAH : KRIMINALISTIK DAN IKK

SKS : 2
SEMESTER GENAP

DOSEN
HARTANTO,SH.MHum
FAKULTAS HUKUM UMS
1. Presentasi kehadiran mahasiswa minimal 75 % dari
kehadiran Dosen.
2. Toleransi keterlabatan Dosen & Mahasiswa max. 15
menit, kecuali Dosen ada tugas kedinasan.
3. Berpakaian rapi dan sopan (dilarang pakai sandal &
kaos oblong); Khusus wanita memakai jilbab >>
keputusan Dekan
4. Mahasiswa tidak diperbolehkan menggunakan HP
DI ruang kelas. Jika ada yang main HP maka akan
disita 1 tahun Hp di simpan di Fakultas.
LITERARURE
1. Kiminalistik dan ilmu Forensik Oleh :
Sudjono.D. SH
2. Kriminalistik pengetahuan tentang teknik dan
taktik penyidikan Oleh : drs A. Gumilang
3. Ilmu Kedokteran Kehakiman Oleh : R. Atang
Ranoemihardja,SH.
4. Ilmu Kedokteran Kehakiman Oleh : Djoko
Prakosa,SH
Pengertian Kriminalistik
Adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
kejahatan sebagai masalah teknik untuk
mengadakan penyelidikan dalam rangka
menemukan pelakunya.
Di sini akan disampaikan beberapa pendapat dari
para ahli yang memberikan batasan pengertian
tentang Kriminalistik antara lain :
I. Prof. Gunawan mengatakan: Kriminalistik
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
masalah kejahatan sebagai suatu masalah
teknik yang antara lain meliputi ilmu kedokteran
forensic, ilmu alam forensic dll
II. Prof Noach.
Kriminalistik adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari kejahatan sebagai masalah teknik,
sebagai alat untuk mengadakan penyidikan
kejahatan secara teknis dengan menggunakan
ilmu-ilmu alam, kimia, sidik jari, ilmu racun dll.
III. Dedeng suriasaputra.
Kriminalistik yaitu suatu pengetahuan yang
berusaha untuk menyelidiki/mengusut kejahatan
dalam arti seluas-luasnya, berdasarkan bukti-
bukti dan keterangan-keterangan dengan
mempergunakan hasil yang ditemukan oleh ilmu
pengetahuan lain.
IV. Drs. A. Gumilang
Kriminalistik adalah teknik dan taktik untuk
membuat terang suatu perkara kejahatan
dengan menggunakan ilmu-ilmu modern.
V. Rumusan dari The California Association of
Criminalistic : Kriminalistik adalah ilmu
pengetahuan dan disiplin yang bertujuan
untuk mengenal, mengetahui ciri-cirinya
(identitas) individunya dan menilai bukti fisik
dengan menggunakan cara penyelidikan alam
untuk hal-hal dari ilmu pengetahuan hukum
dan sosial.
VI. Buku tangan kriminalistik yang
dipergunakan oleh Polri kriminalistik adalah:
a. Pengetahuan dalam menyelidiki kejahatan
dengan menggunakan pengetahuan fisika,
kimia, ilmu alam, matimatika dll.
b. Ilmu pengetahuan yang menentukan
terjadinya atau tidak terjadinya suatu
kejahatan dengan mencari/menyidik
pelakunya dengan menggunakan ilmu alam,
kimia, ilmu racun (taxicologi), penyakit jiwa
dll
Dengan demikian secara singkat dapat kita katakan
bahwa : Kriminalistik adalah ilmu pengetahuan
dari berbagai ilmu yang mempelajari kejahatan
sebagai masalah teknik.
Dengan kata lain:
Kriminalistik adalah ilmu untuk mengusut dan
untuk penyidikan kejahatan dengan
menggunakan hasil-hasil kerja ilmu pengetahuan
lainnya guna menemukan kejahatan dan
pelakunya. Misalnya:
- Ilmu kedokteran Forensik
- Ilmu kimia Forensik atau
- Ilmu alam Forensik.
Kriminalistik adalah sustu ilmu yang masih muda
usia, baru berkembang awal abad ke-20, yang
dipelopori oleh ahli-ahli ; Hans Grosz dari
Australia, Lucard dari Perancis, De Rechter dari
Belgia dll, dan masih banyak kelemahan-
kelemahan, sehingga definisi/pengertiannya
masih berbeda-beda, tetapi ada hal yang sama
yaitu mengenai tugas dan sasaran yang
ditujukan ialah berupa mengusut dan
membuktikan bahwa telah terjadi suatu
kejahatan, siapa pelakunya, bagaimana
kejahatan itu dilakukan, cara bagaimana
(penjahat) dapat ditangkap.
Hubungan Kriminalistik dengan Ilmu Ilmu Lain:
1. Kriminalistik mrpk ilmu yang menunjang
Kriminologi.
2. Ilmu-ilmu lain mrpk penunjang dalam
menentukan keberhasilan kriminalistik yaitu:
a. Ilmu Alam
b. Ilmu Kimia
c. Ilmu Kedokteran Kehakiman
d. Ilmu taxicologi (racun)
e. Ilmu Balistik,
F. Ilmu Hukum
g. Ilmu Matematika, dll
Landasan Hukum
1. Penyidik ; pengertian penyidikan, tindak pidana,
penyidik, penyidik pembantu, penyelidik, tersangka,
saksi, tertangkap tangan, tempat kejadian perkara
terdapat dalam UU No. 8 / 1981.
2. Asas-asas dalam melaksanakan penyidikan untuk
membuat terang suatu perkara (Kriminalistik) adalah:
a. Praduga tak bersalah (presumption of Innocence)
b. Persamaan dimuka hukum (Equality before the law)
c. Hak pemberian bantuan hukum (legal aid/assistence)
d. Peradilan cepat, sederhana, bebas, jujur tidak
memihak dan biaya ringan.
e. Penindakan hanya sah kalau dilakukan menurut
ketentuan Undang-undang.
Kegunaan mempelajari Kriminalistik :
1. Agar bisa mengikuti proses
pemeriksaan/ penyidikan secara benar,
2. Untuk menghindari kesalahan dan
penyelewengan penyidikan,
3. Dapat bertindak secara jujur dan benar
dalam bertindak selaku pembela.
Sekian dan
terimakasih
Kriminalistik atau ilmu penyidikan kejahatan meliputi bidang yang
dapat dibagi atas teknik krimial dan taktik kriminal.
Teknik kriminal yaitu teknik penyidikan yg mengajarkan tentang
menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pengusutan
perkara kejahatan, misalnya:
a. Pengetahuan hukum,
b. Ilmu Kepolisian,
c. Ilmu Pembuktian,
d. Cara Pengusutan,
e. Pengetahuan tentang bekas-bekas kejiwaan: stres, ingatan,
debar-debar, dan bekas-bekas fisik; cakaran, luka-luka pukulan
dsb,
f. Pengetahuan tentang alat: fotografi, mikroskop dsb,
g. Pengetahuan identifikasi; daktiloskopi dan sinyalemen,
h. Ilmu jiwa; Psykology dan Psikhiater.
Pengetahuan tentang teknik Kriminal ini dapat dicapai dengan
pendidikan kepolisian yang seluas-luasnya.
Taktik Kriminal disebut juga taktik penyidikan adalah
pengetahuan yg mempelajari problema-problema taktis
dalam bidang penyidikan perkara pidana, yang termasuk
dalam bidang ini misalnya:
1. Tindakan pertama di tempat kejadian perkara,
2. Ilmu jiwa kriminal, khususnya yg dipergunakan dalam
memeriksa atau mendengar keterangan saksi-saksi dan
tersangka,
3. Pengusutan,
4. Menghubungi spion atau informan,
5. Taktik penangkapan, penggeledahan badan, rumah dan
tempat-tempat lain, konfrontasi dan menyamar,
6. Pembunhan,
7. Modus operandi, metode kerja,
8. Mass media,
9. Bahasa sandy penjahat,
Di negara-negara yg sudah maju ilmu-ilmu pengetahuan yg
dipergunakan dalam kriminalistik dapat digolongkan dalam
4 lapangan Besar yaitu:
1. Lapangan ilmu alam dibagi atas:
a. klasifikasi senjata api,
b. Pemeriksaan terhadap senjata api,
c. Pemeriksaan terhadap peluru,
d. Pemeriksaan terhadap mesiu,
e. Pemeriksaan terhadap kecepatan kendaraan bermotor
dalam kecelakaan lalulintas,
f. Penyelidikan dengan mempergunakan sinar ultra Violet,
2. Lapangan Ilmu Kimia:
a. Pemeriksaan terhadap darah dan bintik darah,
b. Pemeriksaan tehadap bahan peledak.
3. Lapangan Ilmu Kedokteran :
a. Pemeriksaan terhadap luka-luka, mayat, tanda-
tanda kematian,
b. Ilmu keracunan (taxicology),
c. Pemeriksaan terhadap pembunuhan.
4. Lapangan ilmu-ilmu lain yg tidak termasuk dalam
ketiga nomor tersebut di atas:
a. Pemeriksaan telapak jari (dactiloscopy),
b. Pemeriksaan pemalsuan uang dan tulisan,
c. Ilmu menentukan watak dan tabiat seseorang dari
tulisannya,
d. Pengetahuan membuat dan menemukan kembali
tulisan rahasia,
e. Ilmu sinyalemen.
ILMU TENTANG PELACAKAN :
Adanya peristiwa hukum (kejahatan) perlu
dilakukan penyelidikan dan penyidikan guna
mengetahui dan menangkap pelakunya untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tujuannya untuk menyakinkan siapa pelaku
kejahatan yg sebenarnya. Hal ini dilakukan guna
menghidari kesalahan menentukan tersangka,
menahan, dan menghukum seseorang (kenyataan
dilapangan sering terjadi kesalahan).
Pelaksanaan fungsi penyelidikan dan penyidikan itu
lazim dilakukan oleh seorang detektif/serse, di
kalangan penegak hukum hal ini dilakukan oleh
para anggota kepolisian.
BEBERAPA TOKOH DALAM ILMU PELACAKAN INI:
1. Francis Galton, telah memberikan sumbangan yg sangat
berarti dalam studi ilmu sidik jari (Fingerprints) dan
pengklasifikasian bekas sidik jari untuk file.
2. Kolonel CalvinGoddard, telah memberi sumbangan dng
menciptakan dan mengembangkan ilmu Balistik untuk
mempelajari senjata api dng keseluruhan bagian-
bagiannya untuk penyidikan kejahatan yg
mempergunakan senjata api.
3. Sir Bernard john Spilsburg, memberikan sumbangan dalam
merintis dan mengembangkan ilmu Kedokteran
Kehakiman (Forensik), untuk menyidik sebab-sebab
kematian seseorang itu wajar atau korban kejahatan.
4. Dr. Karl Landsteiner, memberi sumbangan dalam studi
tentang bekas darah di TKP, dan berbagai bekas lainnya yg
dapat dijumpai di TKP.
5. Hans Gross, telah merintis dan mengembangkan ilmu
pengetahuan tentang penyidikan kejahatan.
Ilmu lacak yaitu suatu pengetahuan yg berusaha untuk
mengusut kejahatan dalam arti yg seluas-luasnya,
berdasarkan bukti-bukti dan keterangan-keterangan dng
mempergunakan hasil yg ditemukan oleh ilmu
pengetahuan lainnya terutama ilmu pengetahuan alam.
Tugas ilmu pelacakan adalah untuk melakukan penyelidikan
terhadap identifikasi lacak yg ditinggalkan oleh pelaku
tindak pidana, termasuk alat-alat bantu yg dipergunakan
untuk melakukan kejahatan. Termasuk dalam ilmu ini
adalah penyelidikan terhadap alat yg dipakai identitas
pejahat seperti :
a. Daktiloscopy, ilmu yg mempelajari tentang sidik jari
b. Grafologi, yaitu ilmu yg mempelajari tentang huruf,
c. Balistik, ilmu yg mpljari penggunaan snjt api dan amunisi.
PENGARUH PENGHARGAAN FINANSIAL, PERTIMBANGAN PASAR
KERJA DAN PELATIHAN PROFESIONAL TERHADAP

PEMILIHAN KARIR SEBAGAI AKUNTAN PUBLIK

(Studi Empiris Pada Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas


Muhammadiyah Surakarta

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar


Sarjana Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun Oleh:

BARROTUL I’LMIYANI

B 200 190 389

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu penelitian

yang melibatkan teori, desain, hipotesis dan penentuan subjek yang

didukung dengan pengumpulan data dan melakukan analisa sebelum

kesimpulan dengan bentuk data statistik atau angka. Pendekatan penelitian

merupakan pendekatan asosiatif, yaitu pendekatan dengan dua atau lebih

variabel yang memungkinkan saling mempengaruhi suatu variabel.

Kategori dari penelitian ini termasuk ke dalam penelitian survey

karena data atau informasi diperoleh dengan menggunakan kuesioner atau

angket yang disebarkan kepada responden .

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian dilakukan pada mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas

Muhammadiyah Surakarta, sehingga tempat dalam penelitian dilakukan

di Universitas Muhammadiyah Surakarta lebih tepatnya dalam lingkup

Prodi Akuntansi, dengan subjek penelitian yaitu Mahasiswa Akuntansi.

2. Waktu Penelitian

Penelitian direncanakan akan dilakukan pada bulan Maret hingga

bulan April untuk memperoleh data sebanyak mungkin.


C. Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel

1. Variabel Dependen

Variabel Dependen adalah sebuah variabel atau lebih atau suatu

karakteristik yang seringkali dipengaruhi dengan adanya variabel lain.

Menurut Widiyanto (2013) mengemukkan bahwa variabel dependen

adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel lain.

Dalam penelitian ini variabel dependen yaitu “pemilihan karier sebagai

akuntan publik (Y)”.

Karier merupakan kemajuan seseorang dalam kehidupan dengan

lingkup pekerjaan atau jabatan.

Dalam variabel dependen yang dipakai dalam penelitian ini diketahui

bahwa pemilihan karier sebagai akuntan publik dipengaruhi oleh banyak

variabel lain.

2. Variabel Independen

Variabel independen merupakan variabel yang memunculkan dan

mempengaruhi variabel dependen atau variabel yang menjadi sebab

variabel dependen mengalami perubahan atau terpengaruh.

Variabel independen yang ada pada penelitian ini yaitu :

a. Penghargaan Finansial (X1)

Penghargaan Finansial merupakan hasil dari kinerja baik

yang dilakukan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaannya.


Penghargaan finansial diuji menggunakan kuesioner dari

Stolle (1976) dengan 3 (tiga) butir pernyataan yaitu penghargaan

finansial/ gaji awal yang tinggi, potensi kenaikan penghargaan

finansial/ gaji, dan tersedianya dana pensiun.

b. Pertimbangan Pasar Kerja (X2)

Pertimbangan pasar kerja merupakan analisis dan observasi

yang dilakukan untuk mencari prospek kerja yang memiliki banyak

peluang.

Pertimbangan pasar kerja meliputi 2 (dua) pernyataan yaitu

keamanan kerja dan tersedianya lapangan kerja atau kemudahan

mengakses lowongan kerja. Keamanan kerja merupakan faktor

dimana karir yang dipilih dapat bertahan dalam jangka waktu yang

lama.

c. Pelatihan Profesional (X3)

Pelatihan professional merupakan pendidikan non formal

yang ditempuh untuk mengembangkan ilmu yang didapatkan ketika

menempuh pendidikan formal agar seseorang siap menjadi tenaga

kerja yang handal untuk mencapai tujuan dalam suatu pekerjaan

dengan baik.

Pelatihan profesional diuji menggunakan kuesioner dari

Stolle (1976) dengan 4 (empat) butir pernyataan yaitu pelatihan

sebelum mulai bekerja, sering mengikuti pelatihan profesional,

pelatihan rutin, dan pengalaman kerja.


D. Populasi, Sampel dan Metode Pemilihan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini mahasiswa Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Prodi Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk

angkatan 2019-2020, yang telah menempuh mata kuliah pengauditan.

2. Sampel dan Metode Pemilihan

Sampel dipilih dari banyaknya objek populasi yang akan digunakan

dalam penelitian, pemilihan sampel dalam penelitian ini dengan sistem

Simple Random Sampling atau sistem sampel acak sederhana, dimana

pengambilan sampel yang akan dilakukan dipilih dan ditentukan secara

acak. Untuk itu sampel yang dipilih merupakan responden acak dari

mahasiswa akuntansi angkatan 2019 dan 2020.

3. Teknik atau Metode Pengumpulan Data

Penggunaan Angket atau Kuesioner dipilih untuk menjadi teknik

dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian. Kuesioner

akan dibuat dalam bentuk Google Form atau formulir yang dibuat dalam

bentuk elektronik dan kuesioner dalam bentuk print out, formulir yang

berisi pertanyaan-pertanyaan disusun kemudian disebarkan kepada

responden untuk memperoleh jawaban sebagai data yang akan

digunakan dalam penelitian. Responden yang akan menjadi sasaran

untuk sampel penelitian dipilih secara acak dengan penyebaran angket

atau kuesioner, namun untuk penyebaran kuesioner dalam bentuk


Google Form disebarkan melalui via media sosial agar cakupan

responden semakin luas dan efisien waktu.

4. Data dan Sumber Data

a. Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan data Primer,

merupakan data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti melalui

sumbernya dan melakukan ke obyek yang diteliti (Umar, 2003: 56).

Data primer berasal dari angket atau kuesioner yang akan disebarkan

kepada responden. Data primer biasanya berasal dari dokumen yang

telah ada terkait dengan penelitian tersebut.

b. Sumber Data

Penelitian menggunakan data primer berupa kuisioner,

sehingga dalam penelitian ini sumber data berasal dari kuesioner

yang telah disebarkan dan diisi oleh responden yang memiliki

ketentuan sesuai dengan pembatasan masalah yaitu mahasiswa

akuntansi angkatan 2019-2020 yang telah mengambil mata kuliah

pengauditan.

E. Metode Analisis Data

Penelitian merupakan jenis kuantitatif, Analisis data dilakukan

dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SPSS (Statistical

Package For Sosial Science). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda
digunakan untuk menentukan signifikansi pengaruh variabel penghargaan

finansial yang berupa penghasilan jangka panjang dan jangka pendek,

pelatihan professional, dan pertimbangan pasar keja terhadap pemilihan

karir mahasiswa menjadi akuntan publik.

Model persamaan regresi yang digunakan untuk menguji Hipotesis

ini adalah :

PK = α + 𝛽1. PF + 𝛽2. PPK + 𝛽3. PP + e

Keterangan :

PK : Pemilihan Karir menjadi Akuntan Publik

α : Konstanta

e : Error / Residual

PF : Penghargaan Finansial

PPK : Pertimbangan Pasar Kerja

PP : Pelatihan Profesional

𝛽1 - 𝛽3 : Koefesien regresi masing-masing variabel

Penelitian dengan penyebaran kuesioner berisi pertanyan yang telah

disesuaikan dengan cakupan penelitian, pertanyaan dasar meliputi identitas

responden dan jenis profesi yang akan dipilih responden, kemudian terdapat

pertanyaan seputar 3 variabel independen yang akan diteliti.

Pengukuran variabel penghargaan Finansial (X1) yang meliputi gaji,

bonus, reward, fee, dan lainnya yang dianggap penting dan mempengaruhi

mahasiswa akuntansi dalam memilih karir sebagai akuntan publik.


Pengukuran variabel pertimbangan pasar kerja (X2) yang meliputi

berapa banyak lowongan pekerjaan yang tersedia, pesaing, dan analisis dari

karir yang akan dijalani dianggap penting dan mampu mempengaruhi

mahasiswa akuntansi dalam pemilihan karir sebagai akuntan publik.

Pengukuran variabel peatihan professional (X3) yang meliputi

pengembangan ketrampilan untuk menjadi seorang professional dianggap

pentinmg dan mempengaruhi mahasiswa akuntansi dalam pemilihan karir

sebagai akuntan publik.

Pertanyaan dalam kuesioner Skala yang dipakai dalam penyusunan

kuesioner adalah skala likert, di mana penelitian terhadap responden diberi

skor tertentu yaitu skor 1 (satu) sampai dengan skor 5 (lima) dengan

ketentuan untuk pernyataan yang terdiri dari:

a. Tidak Setuju (TS) diberi skor 1

b. Kurang Setuju (KS) diberi skor 2

c. Setuju (S) diberi skor 3

d. Sangat Setuju (SS) diberi skor 4

e. Sangat Setuju Sekali (SSS) diberi skor 5

1. Uji Asumsi Klasik

1.) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang

digunakan untuk penelitian mempunyai ditribusi yang normal atau

tidak, rumus yang digunakan dalam uji normalitas ini dengan metode
Kolmogorof Smirnov. Pengujian ini digunakan karena memiliki

beberapa keunggulan yaitu lebih fleksibel.

Beberapa kategori yang ada pada Kolmogorof Smirnov menurut

Imam Ghozali (2011:32).

Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

Ho : Data X berdistribusi normal

Ha : Data X tidak distribusi normal

Pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:

Jika Sig. (p) > 0,05 maka Ho diterima

Jika Sig. (p) < 0,05 maka Ho ditolak

2.) Uji multikolinearitas

Uji multikolinearitas dimaksudkan untuk menguji apakah dalam

model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen,

model regresi yang baik seharusnya tidak ada gejala korelasi atau

gejala multikolinieritas di antara variabel independen. Multikolinearitas

dapat dilihat dari Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai Tolerance

(Imam Ghozali, 2011: 105).

Multikolinieritas dapat dilihat dari VIF, Jika nilai VIF ≤ 10 dan nilai

Tolerance ≥ 0,1 maka tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam

penelitian ini atau tingkat kolinieritas dapat ditoleransi.

3.) Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji ada tidaknya korelasi

antara kesalahan pengganggu pada periode sekarang (t) dengan periode


sebelumnya (𝑡−1 ) pada persamaan regresi linier. Untuk mendiagnosis

adanya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan melalui uji

Durbin Watson (DW). Uji Durbin Watson hanya digunakan untuk

autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta)

dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel bebas,

Dw dapat dilihat dengan statistik berada diantara -2 sampai 2, maka

tidak terjadi autokorelasi. Jika DW berada diantara -2, maka terjadi

autokorelasi positif. Jika DW berada diantara 2, maka terjadi

autokorelasi negatif.

4.) Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidak samaan viariance dari residual satu pengamat ke

pengamat yang lain tetap, maka itu disebut homoskedastisitas dan jika

berada disebut heterokedastisitas. Untuk model regresi yang baik yaitu

jika tidak terjadi heteroskedastisitas dikarenakan data ini menghimpun

data yang mewakili berbagai ukuran. Salah satu cara mendeteksi ada

atau tidak gejala heteroskedastisitas yaitu dengan malukakan uji glejser.

Glejser ini meregresi nilai absolute residual terhadap variabel

independen, dengan melihat nilai signifikan yaitu:

Jika nilai signifikannya diatas tingkat kepercayaan 0,05 atau nilai

signifikan > 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.


2. Uji Hipotesis

Metode pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dilakukan

menggunakan pengujian secara parsial dan pengujian secara simultan serta

menggunakan analisis koefisien determinan (Ghozali, 2012). Untuk

mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel-variabel independen

terhadap variabel dependen, maka dilakukan uji t dan uji F.

1.) Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui hipotesis diterima atau

tidak. Pengmbilan kesimpulan adalah dengan membandingkan t

hitung dengan t tabel pada tarif signifikansi 5%.

Pedoman yang dipergunakan adalah (Sugiyono, 2008:251):

a. Dengan menggunakan nilai probabilitas signifikansi

- Jika tingkat signifikansi ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa HA diterima, sebaliknya H0 ditolak. Berarti variabel

independen mempunyai pengaruh terhadap variabel

dependen.

- Jika tingkat signifikansi ≥ 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa HA ditolak, sebaliknya H0 diterima. berarti variabel

independen tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel

dependen.

b. Dengan membandingkan t hitung dengan t tabel

- Jika t hitung ≥ t tabel maka X (variabel bebas) berpengaruh

secara signifikansi terhadap Y (variabel terikat).


- Jika t hitung < t tabel maka X (variabel bebas) tidak

berpengaruh secara signifikansi terhadap y (variabel terikat).

2.) Uji F

Menguji keberartian atau signifikansi regresi berganda melaui

uji F

a. Dengan menggunakan nilai probabilitas signifikansi.

- Jika tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 maka dapat

disimpulkan bahwa H0 diterima dan sebaliknya Ha ditolak.

- Jika tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka dapat

disimpulkan bahwa H0 ditolak dan sebaliknya Ha diterima.

b. Dengan membandingkan F hitung dengan F tabel.

- Jika F hitung ≥ F tabel maka H0 ditolak dan sebaliknya Ha

diterima.

- Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan sebaliknya Ha

ditolak.
Daftar Pustaka

Adi Irawan Setianto, & Yusri Ahmad Harahap. (2019, April 16). factors
affecting the interests of accounting students study program
selection career public accountants.

Ariyani, M., & Jaeni, J. (2022). Persepsi Mahasiswa Akuntansi Mengenai


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Pemilihan Karir
Menjadi Akuntan Publik. Owner, 6(1), 234–246.

Bere Laka, J. K. P. (2019). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Mahasiswa Dalam Pemilihan Karir Sebagai Akuntan Publik
(Studi Empiris Pada Perguruan Tinggi Swasta Di
Surakarta). JIFA (Journal of Islamic Finance and
Accounting), 2(2).

Dary, A. W., & Ilyas, F. (2019). pengaruh gender, penghargaan finansial


dan pertimbangan pasar kerja terhadap minat mahasiswa
akuntansi untuk berkarir menjadi akuntan publik dan non
akuntan publik. Jurnal Akuntansi, 7(1), 51–60.

Dody Hapsoro, & Dhenayu Tresnadya Hendrik. (2018). analisis faktor-


faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa akuntansi
berkarir sebagai akuntan publik (Studi Kasus Terhadap
Mahasiswa Akuntansi STIE YKPN Yogyakarta). Akuntansi
Dewantara, 2(2), 142–156.

Fadrul, & Nifia. (2019). analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat


mahasiswa akuntansi terhadap profesi akuntan(studi pada
universitas riau pekanbaru). Bilancia : Jurnal Ilmiah
Akuntansi, 3(2), 175–187.

Febriyanti, F. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat


Mahasiswa Akuntansi Dalam Pemilihan Karir Sebagai
Akuntan Publik. Jurnal Akuntansi : Kajian Ilmiah Akuntansi
(JAK), 6(1), 88.

Irman, M., & Silvi, S. (2020). analisis faktor-faktor yang mempengaruhi


pemilihan karier mahasiswa akuntansi sebagai auditor.

Iswahyuni, Y. (2018). analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan


karir menjadi akuntan publik oleh mahasiswa program studi
akuntansi stie aka semarang. Jurnal Akuntansi : Kajian Ilmiah
Akuntansi (JAK), 5(1), 33.
Norlaela, A., & Muslimin, M. (2022). Pengaruh Pelatihan Profesional,
Penghargaan Finansial, dan Pertimbangan Pasar Kerja
terhadap Minat Berkarir Akuntan Publik. Al-Kharaj : Jurnal
Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah, 5(2), 636–652.

Putra, A. (2021). analysis of factors affecting accounting students in career


selection as public and non-public accountants. Jurnal
Ekonomi : Journal of Economic, 12(01), 56–67.

Sapariyah, R. A., Putri, I. S., & Fujianto, R. L. (2020). pengaruh


penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan
profesional, dan pertimbangan pasar kerja terhadap pemilihan
karir akuntan publik pada mahasiswa akuntansi di perguruan
tinggi surakarta”. financial: jurnal akuntansi, 6(1), 98–104.

Saputra, A. J. (2019). Pengaruh Minat, Motivasi, Pelatihan Profesional,


Gender, Lingkungan Pekerjaan Terhadap Pilihan Karir
Akuntan. JAD : Jurnal Riset Akuntansi & Keuangan
Dewantara, 1(2), 67–76.

Sekarini, G. D., & Khoiriawati, N. (2021). factors that influence accounting


student’s interest in a career as public accountant. balance:
journal of islamic accounting, 2(01), 59–72.

Sri Fitria Jayusman, & Siregar, H. (2019). pengaruh penghargaan finansial,


dan pertimbangan pasar kerja terhadap pemilihan karir sebagai
akuntan publik pada mahasiswa akuntansi universitas muslim
nusantara al-washliyah. Bisnis-Net Jurnal Ekonomi dan
Bisnis, 2(1).

Stevanus Gatot Supriyadi, Dodik Jatmika, & Asnawi. (2020). factors


affecting career selection of accounting students to become
publik accountants. International Journal Vol-4, Issue-3, 2020
(IJEBAR).

Suharti Suharti, & Akhirinsi Putri Irman. (2020). analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan karir sebagai akuntan publik (studi
empiris pada mahasiswa akuntansi perguruan tinggi pelita
indonesia di kota pekanbaru). Kurs : Jurnal Akuntansi,
Kewirausahaan dan Bisnis, 5(1), 85–101.

Susanti, M. (2019, October 17). Factors Affecting The Selection Of Student


Career As A Public Accountant. pertimbangan pasar kerja dan
pelatihan profesional terhadap pemilihan karir akuntan
publik. Jurnal Akuntansi Bisnis Pelita Bangsa, 5(02), 109–
120.

Timporok, A. J., Sondakh, J. J., & Gerungai, N. Y. T. (2019). Analisis


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi
Terhadap Pemilihan Karir Sebagai Akuntan Publik Pada
Mahasiswa Akuntansi Universitas Sam Ratulangi Manado.
Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan
Akuntansi, 7(4).

Triwibowo, E. (2021). pengaruh penghargaan finansial, pertimbangan pasar


kerja dan pelatihan profesional terhadap pemilihan karir
akuntan publik. Jurnal Akuntansi Bisnis Pelita Bangsa, 5(02),
109–120.

Victoria, N., Beoang, N., Kristina, N., Beoang, V., & Nursanita. (2020)
(n.d.). factors affecting accountant career in public accounting
firm. Jurnal EMBA, 9(3), 1296-1205.

Wahyuni, S., Askandar, N. S., & Mawardi, M. C. (2019). Pengaruh


profesional, pertimbangan pasar kerja, peran gender,
lingkungan dan Keluarga dalam pemilihan karier akuntan
publik (Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi di
Universitas Islam Malang dan Universitas Negeri Malang). E-
Jra, 8(4), 124–134.

Widyanti, R., & Dedi Saputra. (2018). pengaruh penghargaan finansial,


pertimbangan pasar kerja dan lingkungan keluarga terhadap
minat menjadi akuntan publik (Studi Empiris Mahasiswa S1
Akuntansi Universitas Ekasakti). Jurnal Menara Ekonomi :
Penelitian dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi, 4(2).

Yurmaini, & Anshari, K. (2019). faktor-faktor yang mempengaruhi


pemilihan karir mahasiswa jurusan akuntansi sebagai akuntan
publik (studi kasus pada mahasiswa jurusan akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Al Washliyah Medan). Ihtiyath:
Jurnal Manajemen Keuangan Syariah, 3(1), 3–22
PENANGANAN VISUM ET REPERTUM
Visum et repertum pada hakikatnya adalah
keterangan ahli yg dibuat oleh dokter mengenai
seorang korban (korban pembunuhan, perkosaan,
penganiayaan dll) atas permintaan tertulis kepolisian
yg berisi keterangan fakta-fakta yg ditemukan pada
korban dan kesimpulan dokter tsb atas fakta yg
diketemukannya.
Kegunaan V et R:
V et R sangat penting gunanya dan peranannya
dlm bidang peradilan, karena sangat membantu bagi
hakim dalam usaha membuat terang suatu perkara.
Dasar hukum V et R ;
1. Ordonansi 1937 / stb 1937 LN NO:350 tanggal
22 Mei 1937.
a. V et R mempunyai daya bukti di sidang
Pengadilan.
b. Vet R dibuat di atas sumpah jabatan ahli.
2. KUHP : - 216 tdk boleh menolak
- 224 tdk memberi kesaksian
- 522 kelalaian
- 322 rahasia jabatan
3. KUHAP Pasal 133 ayat 1 keterangan ahli.
JENIS VISUM ET REPERTUM
1. V et R untuk orang hidup, terdiri dari :
a. V et R bisa diberikan kepada pihak peminta (polisi)
untuk korban yg tdk memerlukan perawatan lebih
lanjut.
b. V et R sementara diberikan apabila korban
memerlukan perawatan lebih lanjut karena belum
dpt membuat diagnosis dan menentukan derajat
lukanya, apabila sembuh dibuatkan V et R lanjutan.
c. V et R lanjutan, dlm hal ini korban tdk memerlukan
perawatan lagi krn sudah sembuh, pindah dirawat
dokter lain, atau meninggal dunia.
2. V et R untuk orang mati (Jenazah) Apabila
korbannya mati, maka penyidik mengajukan
permintaan tertulis kepada pihak kedokteran
kehakiman untuk bedah jenazah/korban
(Otopsi)
Bagian kesimpulan V et R memuat :
a. jenis luka yg ditemukan.
b. penyebab terjadinya luka.
c. kualitas luka pada orang hidup atau sebab
kematian pada mayat sebagai hasil otopsi.
Prosedur permintaan Visum Et Repertum:
1. V et R diajukan oleh Penyidik secara tertulis wkt korban diantar ke RS,
2. Utk korban mati pada ibu jari kanan diberi label yg memuat identitas,
tgl kejadian, ket. Singkat kejadian & identitas pemohon,
3. Tdk dibenarkan meminta V et R atas kejadian yg lampau krn
bertentangan dng rahasia jbt dokter ybs.
4. Utk korban hidup, korban hrs pergi ke dr. yg ditunjuk polisi utk meminta
V et R.
5. Utk korban mati tdk dibenarkan minta V et R luar saja,
6. Jika kel. Korban menolak cara mengatasi diberi penjelasan:
- kalau sudah dikubur kemungkinan nanti akan digali lagi
- diancam sanksi krn menghalang-halangi pemeriksaan
korban/mayat.
7. Utk memudahkan pemeriksaan permintaan V et R hrs dicantumkan ket.
Lengkap tentang korban,
8. Apabila di suatu tempat tdk ada RS , puskesmas, tdk ada pegawai
kesehatan, apalagi dr., maka utk korban dibuat surat keterangan atau
berita acara pemeriksaan yg dibuat olrh para pejabat pemerintah
lurah dsb.
Kasus-kasus yang memerlukan V et R :
1. Kasus yg berhubungan dengan kematian,
2. Kasus yang berhubungan dengan luka,
3. Kasus yang berhubungan dengan seks,
4. Kasus yang berhubungan dengan percobaan pembunuhan.
Visum Et Repertum terdiri atas bagian-bagian:
1. Bagian atas memuat, Proyustitia,
2. Bagian tengah memuat, Judul Visum Et Repertem
3. Pendahuluan, memuat ; tgl, jam dan tempat pemeriksaan.
4. Pemberitaan atau hasil pemeriksaan: memuat segala
sesuatu yg dilihat dan ditemukan pd wkt pemeriksaan,
5. Kesimpulan, berisi pdpt dari si pembuat V et R.
6. Penutup, berisi pernyataan V et R dibuat berdasarkan
sumpah jabatan.
1. tempat suatu tindak pidana terjadi/dilakukan atau
akibat yang ditimbulkannya.
2. Tempat-tempat lain yg dijadikan temuan barang-barang
bukti atau korban yg berhubungan dng tindak pidana.
adalah tindakan penyidik yg dilakukan di
TKP yg berupa: tindakan pertama yaitu tindakan
penyelidik atau penyidik kepolisian di TKP segera setelah
terjadi tindak pidana, utk melakukan pertolongan pada
korban, penutupan dan pengamanan TKP guna
penyidikan lebih lanjut, serta tindakan untuk mencari,
mengumpulkan, menganalisis, mengevaluasi petunjuk-
petunjuk, keterangan-keterangan, bukti-bukti, serta
identitas tersangka, guna memberi arah kepada
penyidikan selanjutnya.
yaitu sistem yg digunakan oleh
Kepolisian RI, untuk mengusahakan dan
mengungkapkan pokok-pokok masalah sebagai
berikut:
1. Siapa korban, pelaku, saksi dll,
2. Apa yg terjadi, tindak pidana apa,
3. Di mana telah terjadi,
4. Dengan alat apa yg digunakan,
5. Mengapa, apa motifnya, alasannya,
6. Bagaimana caranya,
7. Bilamana kejadian tersebut dilakukan (waktu
kejadian.
Hal tersebut di negara barat dikenal dengan 7 Wyakni:
who, what, why, when, with, what time, where
Dalam penanganan TKP Penyidik melakukan urutan tindakan sebagai berikut:
A. Tindak pidana diketahui dari:
a. Laporan,
b. Pengaduan,
c. Tertangkap tangan
d. Diketahui langsung oleh penyidik.
B. Penyidik yg menerima laporan segera menuju TKP dan mengambil tindakan pertama:
1. Mengamankan TKP yakni; membuat batas TKP, memberi tanda-tanda, dari mana
masuknya pelaku, letak korban, barang bukti dll, melarang orang lain selain petugas
memasuki TKP, mencari pelaku, saksi-saksi,dll yg mungkin masih ada disekitar TKP,
minta bantuan Rt/RW mengawasi TKP serta identifikasi sinyalemen pelaku.
2. Membuat BAP untuk dilaporkan pda satuan Reserse.
3. Memberikan perlidungan dan pertolongan pada korban yg masih hidup dng
pertolongan pertama:
a. Korban luka B/R dng PPPK atau dibawa ke RS
b. Korban dlm keadaan kritis, usahakan mdpt ket. seperlunya, sbg petunjuk tindakan
selanjutnya.
c. Korban mati biarkan pada posisi semula, setelah benar-benar diketahui mati. Dalam
Kecelakaan LL,mayat bisa dipindahkan dng memberikan tanda pada tempatnya.
4. Mengadakan pencarian pelaku,
5. Pencarian barang bukti, pencarian ini di TKP
bisa menggunakan metode:
a. Metode spiral.
b. Metode Zone.
c. Metode strip atau strip ganda.
d. Metode Roda atau jari.
6. Pemotretan dimaksudkan untuk
memberikan gambaran nyata situasi TKP.
7. Pembuatan sketsa ini sebagai bahan untuk
melakukan rekonstruksi di kemudian hari.
8. Pembuatan BA pemeriksaan
3. Penanganan barang bukti (BB) :
A. Pengumpulan, dan pengambilan BB hrs dilakukan dng cara yg benar sesuai dng
bentuk/macam BB, yg akan diambil yg dpt berupa benda padat, cair dan gas.
Hal-hal yg perlu diperhatikan dlm pengambilan dan pengumpulan BB di atas:
a. TP disertai pembongkaran dan memasuki tempat tertutup.
1) pada jalur masuk/keluar pelaku:
(a) bekas ban kendaraan,
(b) bekas kaki/sepatu/sandal,
(c) ceceran barang tertentu, rokok, saputangan,
2) pada tempat masuk/keluar jendela;
(a) sidik jari,
(b) Bekas kaki,
(c) bekas alat pembongkar (obeng, linggis dll),
(d) Rambut
3) di dalam TKP:
(a) sidik jari,
(b) bekas kaki,
(c) barang-barang yg tertinggal,
(d) bekas gigitan makanan/buah-buahan,
(e) darah,
(f) peluru, senjata tajam, tali, alat pemukul dll
4) Pada korban mati :
(a) darah,
(b) pakaian,
(c) Bekas-bekas perlawanan seperti rambut, hasil
goresankuku, serat pakaian,
(d) Luka-luka atau cedera pada korban,
(e) benda-benda asing bukan berasal dari tubuh,
(f) bekas gigitan,
(g) pengambilan sidik jari.
5) pada pelaku/orang yg dicurigai (tempat kediamannya)
(a) darah,
(b) pakaian, sepatu, sandal,
(c) sidik jari, cakaran kuku, dan bekas gigitan,
(d) rambut dan bekas-bekas luka,
(e) kendaran tersangka,
(f) alat-alat atau senjata yg ada kaitannya dng pelaku/
tersangka yg dicurigai.
B. Pembakaran serta Kebakaran al hrs diambil dan dikumpulkan BB sbb:
1) Di jalur mendekat/keluar
(a) ceceran bahan bakar,
(b) ceceran alat pembakar seperti korek api, kayu, kain,
(c) ceceran tempat bahan bakar seperti, kaleng, botol, plastik,
(d)jejak kaki, sepatu, sandal, puntung rokok.
2) Di tempat kejadian perkara
(a) bekas/ sisi bahan bakar,
(b) bahan/sisi obat pembakar, korek api, detonator,
(c) Potongan kawat listrik yg sambungannya tdk sempurna, sekring,
(d) sambungan pipa gas/klep pengaman yg bocor,
(e) gas, sisa/hasil bakar,
(f) sisa kompor/lampu/ obat nyamuk,
3) Tersangka (termasuk tempat kediaman)
(a) bekas/sisa dan bau bahan bakar,
(b) sisa alat pembakar,
(c) cetakan tapak kaki, sepatu, sandal,
(d) rokok
C. Tindak pidana narkotika/obat bius:
1) Korban
(a) bahan/obat-obatan baik jenis maupun wujudnya,
(b) obat-obatan yg diduga berbahaya (daftar G),
(c) alat-alat suntikan,
(d) bekas-bekas suntikan.
2) Di TKP
(a) bahan/obat-obatan baik jenis maupun wujudnya,
(b) obat-obatan yg diduga berbahaya (daftar G),
(c) alat-alat suntikan,
(d) bekas bungkus/sampul obat.
3) Tersangka (termasuk tempat kediamannya)
(a) bahan/obat-obatan baik jenis maupun wujudnya,
(b) obat-obatan yg diduga berbahaya (daftar G),
(c) alat-alat suntikan,
(d) bekas bungkus/sampul obat.
D. Kasus yg ada hubungannya dng Racun
1) Korban
(a) muntah,
(b) data kesehatan, yg bisa didapat pada dkter/rumah sakit,
(c) obat-obatan/racun
2) Di TKP
(a) obat-obatan berbahaya (Daftar G),
(b) sisa makanan/minuman,
(c) sisa racun termasuk racun tikus,
(d) disinfektas (karbol, lisol)
3) Tersangka
(a) obat-obatan berbahaya (daftar G)
(b) Sisa racun.
E. Kajahatan kesusilaan
1) pada korban
(a) Noda darah, Sperma,
(b) rambut, serat pakaian,
(c) pakaian termasuk pakaian dalam,
(d) bekas-bekas perlawanan di kuku, tangan,
2) Di TKP
(a) Noda darah, Sperma,
(b) rambut, serat pakaian,
(c) sidik jari, bekas kaki,
(d) Rumput, tanah yang tercecer,
(e) barang-barang yg tertinggal, korek api, putung rokok, kertas,
(f) bekas-bekas perlawanan,
3) Tersangka
(a) noda darah, sperma, rambut,
(b) pakaian yg dicurigai
(c) rokok dan korek api,
(d) bekas-bekas perlawanan korban,
(e) rumput, tanah yg melekat pada pakaian, sepatu
(f) sidik jari, cetakan kaki/sepatu sandal.
Bedah jenazah dibedakan menjadi dua macam yaitu:
A. Bedak jenazah fisiologis adalah untuk mengetahui susunan
tubuh/ anatomi tubuh manusia.
B. Bedah jenazah patologis dibedakan menjadi 2 :
1. bedah Jenazah patologi klinis, dilakukan di RS di mana
penderita meninggal sebelum diagnosa dpt dilakukan. Bedah
jenazah ini dilakukan setelah ada ijin keluarga korban, hal ini
dilakukan dlm rangka untuk pengembangan ilmu pengetahuan
yaitu untuk mengetahui jenis penyakit apa yang diderita orang
itu sehingga meninggal dunia.
2. Bedah jenazah patologis forensik dilakukan terhadap orang yang
meninggal dunia secara tdk wajar atau mencurigakan, dan hal
ini dilakukan atas permintaan aparat penegak hukum yaitu
Polisi, misalnya : karena kecelakaan, penganiayaan /
pembunuhan.
Tujuannya:
• Untuk mencari sebab kematian yg pasti dan hubungannya dng
pelaku tindak pidana.
• Membantu demi tegaknya hukum.
Tetapi tujuan yang baik dari bedah jenazah ini, pada kalangan
masyarakat sering merupakan suatu hal yang menakutkan,
sehingga mendapatkan habatan-hambatan.
Hambatan itu antara lain :
a. Adat istiadat.
b. Kurang pengertian akan pentingnya V et R.
c. Keagamaan.
d. Biaya autopsi yg mahal, karena ini ditanggung
oleh keluarga korban.
e. Ketidak tahuan masyarakat.
Untuk memeriksa jenazah, kita perlu mengetahui mengenai hal-
hal yg menentukan bahwa orang tersebut sudah meninggal
atau belum.
Tanda kematian ini ada 2 macam yaitu :
I. Tanda kematian primer: pada keadaan ini semua
proses hidup telah berhenti a.l:
1. Detik jantung tidak ada lagi ( dng Electro Cardio
Graph),
2. Denyut darah pada pergelangan tidak ada/berhenti.
3. Suara Napas (dng Electro Encephalo Gram ).
4. Muka Pucat,
5. Mata suram,
6. Tidak ada reaksi bila mata atau bibir disentuh,
7. Biji mata tdk mengecil bila diberi sinar terang
8. Tidak ada uap di mulut., Tanda kematian primer ini
disebut juga tanda-tanda klinis.
II. Tanda kematian sekunder adalah tanda-tanda
kematian absolut yaitu timbul beberapa saat
setelah kematian primer. Tanda-tanda kematian
sekunder tsb al.:
1. Dingin jenazah.
2. Bercak jenazah, ini kelenjar-kelenjar pada
pembuluh darah akan rusak/pecah, shg butir-butir
darah merah itu akan mengendap dibagian/ posisi
jenazah yg paling rendah. Hal ini akan napak
setelah 3-4 jam kemudian, pada waktu ini jika
bercah jenazah itu ditekan bekasnya akan pucat
dan bila dilepaskan, maka bercak jenazah itu akan
muncul kembali. Tetapi setelah 7 jam bercah
jenazah itu akan hilang dalam penekanan.
3. Kaku jenazah

0 3 6 18 24
• Kaku jenazah ini akan dimulai setelah 3 jam kematian dan
berawal dari atas yaitu kepala, rahang terus kebawah.
• Setelah 6 jam jenazah akan kaku semua (tingkat
kekakuannya sampai maximal).
• Kaku maximal itu dipertahankan sampai 12 jam.
• Kekakuan itu mulai menurun setelah jam ke 18, sejak
kematian dan kekakuan itu mulai hilang dan diwali dari
rahang sampai pada ujung kaki, kekakuan itu hilang total
setelah jam ke 24.
diartikan mati lemas, yaitu oleh suatu sebab
oksigen tdk dapat sampai ke jaringan tubuh.
Selanjutnya dibagi dalam 4 jenis :
1. Anoxic anoxia yaitu kematian oleh suatu sebab
oksigen tdk dapat masuk ke dalam paru-paru.
2. Stagnatt anoxia yaitu kematian karena terjadi
gangguan pada jatung/pembuluh darah, sehingga
oksigen tdk sampai ke jaringan tubuh.
3. Anemix anoxia yaitu kematian oleh karena
kekurangan haemoglobin, maka pengangkutan
oksigen juga terganggu.
4. Histotoxic anoxia yaitu kematian oleh karena terjadi
keracunan pada jaringan tubuh, maka oksigen tidak
dapat dipakai.
c. Jeratan tali (strangulation by ligature). Jika pada peristiwa
gantung diri kekuatan jeratnya berasal dari berat badan,
maka pada jeratan tali kekuatan jeratnya berasal dari tarikan
pada kedua ujungnya. Dengan kekuatan tersebut pembuluh
darah atau jalan nafas dapat tersumbat.
1. Kematian yg terjadi pada peristiwa jeratan dapat
disebabkan oleh :
- tertutupnya jalan nafas shg terjadi anoksia,
- tertutupnya vena shg terjadi anoksia otak,
- tertutupnya pembuluh darah karotis shg otak kekurangan
darah.
2. Kelainan Posmortem / Jejas cekikan.
- memar yang bentuknya bulat atau lonjong akibat
tekanan jari-jari orang yang melakukannya.
- lecet berbentuk bulan sabit, karena kuku orang yang
mencekiknya.
1. Memar adalah kerusakan jaringan yg tdk disertai
lukanya kulit luar tetapi terjadi pecahnya jaringan
pembuluh darah kapiler, sehingga darah yang
keluar dari pembuluh darah tersebut meresap
kejaringan disekitarnya, akibatnya terjadi
pembengkaan berwarna merah kebiruan.
Sesudah 4-5 hari warna tsb akan berubah
menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari
seminggu menjadi kekuningan. Hal tsb karena
terjadi benturan benda-benda tumpul yg tdk
begitu kuat.
2. Luka lecet/abrasi adalah luka akibat rusaknya
atau lepasnya lapisan kulit luar dari kulit.
3. Luka robek adalah luka yg disebabkan karena
perwsentuhan dengan benda tumpul dng kekuatan
yg cukup mampu merobekkan seluruh lapisan dari
kulit dan jaringan dibawahnya.
4. Luka iris adalah dapat terjadi akibat persentuhan dng
benda tajam sesuai dng gerakan ketajaman benda
itu.
5. Luka tusuk adalah luka yg disebabkan oleh obyek
berujung runcing yg ditusukkan kesuatu bagian dari
tubuh dng arah tegak lurus atau miring.
6. Luka bacok adalah luka yg disebabkan oleh benda
tajam atau setengah tajam yang besar dengan
kekuatan besar.
7. Luka bakar adalah luka yg disebabkan oleh benda;
cair, padat atau gas yg panas, api atau zat-zat kimia
tertentu.
8. Luka tangkisan adalah luka akibat korban
menangkis serangan senjata, bentuk luka
tergantung pada senjata yg digunakan, tetapi
distribusi lukanya pada tangan atau lengan
bawah bagian luar.
Aspek hukum dari luka :
Dari sudut hukum untuk penentuan berat ringannya
luka itu didasarkan pada pengaruh luka terhadap
kesehatan jasmani, rochani, kelangsungan janin
di dalam kandungan maupun juga pengaruhnya
luka itu terhadap pekerjaannya.
Tanda-tanda orang yang mati karena gantung
diri atau mati digantung adalah:
1. Lidah menjulur atau tdk tergantung letak ikatan,
2. Mengeluarkan kotoran dari dubur,
3. Laki-laki akan keluar spermanya,
4. Jejas ikatan tidak penuh,
5. Lebam jenasah akan terjadi di ujung-ujung jari
tangan ataupun ujung kaki, karena setelah 3 jam
akan terjadi pecah pembuluh darah kapiler, maka
darah itu akan mengalir ke bagian tubuh yang
posisinya paling rendah, dan leher di atas ikatan.
6. Kalau diotopsi akan diketahui mungkin terjadi patah
tulang leher, atau tulang pangkal lidah.
MATI TENGGELAM/DROWNING
Drowning adalah kematian seseorang karena
tenggelam dalam air baik seluruh tubuhnya maupun
hanya sebagian tubuh tapi di mana hidung dan
mulutnya masuk dalam genangan air.
banyaknya air yg dapat mematikan jika dihirup
oleh paru-paru adalah 2 liter untuk orang dewasa dan ½
liter untuk bayi.
Tanda-tanda mati tenggelam adalah :
1. Paru-paru : menjadi besar, ada bekas tulang rusuk,
dijumpai air didalamnya.
2. Dalam lambung dapat ditemukan : air, pasir, lumpur,
plankton.
3. Matanya : terdapat bintik-bintik pendarahan/
tradicspot
4. Di genggaman tangan ada benda-benda yg
terdapat dalam air, seperti rumput, potongan
kayu, maka ini menandakan orang itu benar-
benar mati tenggelam.
5. Busa halus dari hidung dan mulut, tanda ini
menun jukkan adanya mati lemas.
6. Luka-luka lecet sering terdapat padam bagian-
bagian yg menonjol, karena setelah mati mayat
berada di dasar air dan karena terseret arus
terjadi luka-luka itu.
7. Kulitnya akan keriput (washer’s women hand)
8. Pori-pori kulitnya kelihatan jelas karena
buluhnya menjadi berdiri (cutis Anserina).
Hal tersebut di atas merupakan tanda-tanda
kematian itu baru.
Kalau sudah lama maka akan terjadi pembusukan
dengan ciri-ciri :
- matanya melotot,
- lidah keluar
- muka bengka hitam,
- kelamin laki-laki membesar,
- rambut mudah dicabut,
- posisinya sikap koitus.
-Mayat akan mengapung setelah 2-3 hari kematian,
karena terjadi pembusukan.
Kompresi : kematian seseorang karena adanya
tekanan, sehingga seseorang tidak dapat
bernafas karena tertekannya perut dan dada ;
Contohnya :
- karena desak-desakan, seperti nonton konser,
- kejadian di trowongan mina.
- gedung bioskop terjadi kebakaran dsb.
diartikan mati lemas, yaitu oleh suatu sebab
oksigen tdk dapat sampai ke jaringan tubuh.
Selanjutnya dibagi dalam 4 jenis :
1. Anoxic anoxia yaitu kematian oleh suatu sebab
oksigen tdk dapat masuk ke dalam paru-paru.
2. Stagnatt anoxia yaitu kematian karena terjadi
gangguan pada jatung/pembuluh darah, sehingga
oksigen tdk sampai ke jaringan tubuh.
3. Anemix anoxia yaitu kematian oleh karena
kekurangan haemoglobin, maka pengangkutan
oksigen juga terganggu.
4. Histotoxic anoxia yaitu kematian oleh karena terjadi
keracunan pada jaringan tubuh, maka oksigen tidak
dapat dipakai.
c. Jeratan tali (strangulation by ligature). Jika pada peristiwa
gantung diri kekuatan jeratnya berasal dari berat badan,
maka pada jeratan tali kekuatan jeratnya berasal dari tarikan
pada kedua ujungnya. Dengan kekuatan tersebut pembuluh
darah atau jalan nafas dapat tersumbat.
1. Kematian yg terjadi pada peristiwa jeratan dapat
disebabkan oleh :
- tertutupnya jalan nafas shg terjadi anoksia,
- tertutupnya vena shg terjadi anoksia otak,
- tertutupnya pembuluh darah karotis shg otak kekurangan
darah.
2. Kelainan Posmortem / Jejas cekikan.
- memar yang bentuknya bulat atau lonjong akibat
tekanan jari-jari orang yang melakukannya.
- lecet berbentuk bulan sabit, karena kuku orang yang
mencekiknya.
asphyxia
Jenis kematian yang tergolong dalam asphyxia adalah :
1. Terjadi sumbatan pada pangkal mulut (choking).
2. Manual strangulation (cekikan dng tangan)
3. Bekapan ( smothering )
4. Bolus (masuknya benda asing ke dalam saluran nafas)
5. Kompresi ( terjadinya tekanan pada dada/perut.)
6. Ruang hampa oksigen ( memasukan kepala dlm
kantong plastik )
7. Strangulation with ligature (cekikan dengan ikatan).
8. Tenggelam / drowning.
I. Choking/sumbatan pada pangkal mulut adalah
suatu kematian yg mana rongga pernafasan
bagian bawah tersumbat. Kematian ini biasanya
terjadi karena kecelakaan. Hal ini dapat
diketahui jika dilakukan dengan otopsi.
misalnya : - gigi palsu lepas
- makan tersentak
- makan daging, dll.
II. Stragulation dapat terdiri dari :
a. hanging (gantung) adalah suatu peristiwa di
mana seluruh atau sebagian dari berat badan
ditahan atau ditekan oleh sesuatu benda,
biasanya berupa tali pada daerah leher.
Tanda-tandanya adalah :
- lembam mayat ditemukan pada ujung-ujung dari
anggota badan yg berada di bawah, ujung jari
tangan, kaki.
- lidah terlihat menjulur keluar,
- mengeluarkan air mani, air seni dan tinja (kotoran).
cara kematian :
- Letak tali, jika bunuh diri, letak simpul tali ada
dibelakang,
- Pembunuhan, biasanya sebelum digantung dibunuh
lebih dulu dengan cara lain,
- Kecelakaan, misal waktu jatuh dari pohon leher
baju bagian belakang tersangkut dahan, waktu
terjun payung leher terlilit oleh tali.
Hal-hal yg perlu diperhatikan di TKP :
(1) keadaan lokasi, perlu dilihat ada tidaknya
penumpu misal; kursi, meja atau tangga.
(2) posisi korban, perlu dipikirkan kemungkinannya
korban dapat melakukan gantung diri dengan
posisi seperti yg ditemukan,
(3) keadaan tali; simpul tali terbuka atau tertutup
(mati).
(4) keadaan korban; lembam mayat sesuai atau tidak.
misal: lidah, air mani
air seni ada atau tidak
kotoran
b. Manual Stragulation ( Cekikan)
pada pembunuhan, cekikan dapat dilakukan dengan
menggunakan satu tangan atau dua tangannya untuk
menekan leher, kadang-kadang digunakan lengan
bawah untuk menekan leher dari samping..
1. sebab-sebab kematian, kematian pada peristiwa
pencekikan dapat terjadi karena :
- tertutupnya jalan nafas sehingga oksigin tdk
dapat masuk ke paru-paru (Anoksia)
- tertutupnya pembuluh balik sehingga aliran
darah tdk dapat menyalurkan oksigin ke Otak.
- tertutupnya pembuluh nadi sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah Otak.
2. Kelainan posmortem / jejas jeratan
- tidak sejelas jejas gantung,
- arahnya horisontal,
- kedalamanya jejas jeratan sama,
- tinggi kedua ujun jejas tidak sama.
3. Lecet atau memar.
pada peristiwa pembunuhan sering
ditemukanadanya lecet-lecet atau memar-
memar sisekitar jejas. Kelainan tersebut
terjadi karena korban berusaha membuka
jeratan.
III. Sufokasi yaitu kematian seseorang yang
berada didaerah/tempat yang oksigennya tdk
cukup memadai, misal ; ditempat-tempat
seperti :
Gua, Tempat penambangan, Masuk sumur yg
dalam, Ruang tertutup, Ruang sempit, dan
Ruang tersebut kemasukan asap.
Hal tersebut menyebabkan kematian orang.
Matinya orang itu perlahan-lahan, lemas dan
akhirnya mati, karena kekurangan Oksigen.
pada pemeriksaan jenasah itu akan dapat
dilihat adanya tanda-tanda asfiksia, seperti
misalnya bintik-bintik perdarahan pada kulit.
IV. Pembekapan/Smothering adalah kematian
seseorang yg disebabkan oleh penutupan lobang
hidung dan mulut. Penutupan ini dapat dilakukan
dengan tangan atau oleh suatu benda.
peristiwa ini bisa terjadi karena:
- Kecelakaan,
- Pembunuhan,
- Bunuh diri.
Kecelakaan yg sering terjadi pada anak-anak
adalah karena main-main dengan memasukkan
kepala kekantong plastik. Hal ini juga sering
digunakan oleh orang dewasa untuk bunuh diri.
Kematian yg terjadi pada smothering lebih cepat
daripada sufokasi, dengan tanda-tanda asfeksia yg
jelas. Benda yang lunak seperti bantal yg
digunakan untuk membekap sering tdk
meninggalkan bekas luka.
Tanda kematiannya: terdapat bekas kuku pada sekitar
mulut korban. Perhatikan tanda perlawanan pada
tangan korban biasanya berupa:
- meronta barang-barang
-mencakar/bekas cakaran bukti ini disebut
-kulit korban yg menempel trace Evident
-rambut .
V. Overlaying pasif : suatu modifikasi dari
Smothering ( proses tertutupnya hidung dan
mulut).
Kasus ini banyak terjadi pada bayi, hal ini
terjadi karena bayi tersebut mulut dan hidungnya
tertutup oleh payudara ibunya pada waktu
menyusuhi.
selain hal tersebut; dapat juga bayi mati
karena tertutup bantal dahinya, dapat juga terjadi
terhadap orang dewasa yg mabuk dan
tertelungkup.
Overlaying itu suatu keadaan matinya seseorang
karena tertutupnya saluran nafas yg tdk
disengaja.
Jenis kematian yang tergolong dalam
asphyxia adalah :
1. Terjadi sumbatan pada pangkal mulut (choking).
2. Manual strangulation (cekikan dng tangan)
3. Bekapan ( smothering )
4. Bolus (masuknya benda asing ke dalam saluran
nafas)
5. Kompresi ( terjadinya tekanan pada dada/perut.)
6. Ruang hampa oksigen ( memasukan kepala dlm
kantong plastik )
7. Strangulation with ligature (cekikan dengan ikatan).
8. Tenggelam / drowning.
Sebab kematian karena kekurangan
Oksigin/Oksigin tidak sampai Paru-paru
I. Choking/sumbatan pada pangkal mulut adalah suatu
kematian yg mana rongga pernafasan bagian bawah
tersumbat. Kematian ini biasanya terjadi karena
kecelakaan. Hal ini dapat diketahui jika dilakukan dengan
otopsi.
misalnya : - gigi palsu lepas
- makan tersentak
- makan daging, dll.
II. Stragulation dapat terdiri dari :
a. hanging (gantung) adalah suatu peristiwa di
mana seluruh atau sebagian dari berat badan
ditahan atau ditekan oleh sesuatu benda,
biasanya berupa tali pada daerah leher.
Tanda-tandanya adalah :
- lembam mayat ditemukan pada ujung-ujung dari
anggota badan yg berada di bawah, ujung jari
tangan, kaki.
- lidah terlihat menjulur keluar,
- mengeluarkan air mani, air seni dan tinja (kotoran).
cara kematian :
- Letak tali, jika bunuh diri, letak simpul tali ada
dibelakang,
- Pembunuhan, biasanya sebelum digantung dibunuh
lebih dulu dengan cara lain,
- Kecelakaan, misal waktu jatuh dari pohon leher
baju bagian belakang tersangkut dahan, waktu
terjun payung leher terlilit oleh tali.
Hal-hal yg perlu diperhatikan di TKP :
(1) keadaan lokasi, perlu dilihat ada tidaknya
penumpu misal; kursi, meja atau tangga.
(2) posisi korban, perlu dipikirkan kemungkinannya
korban dapat melakukan gantung diri dengan
posisi seperti yg ditemukan,
(3) keadaan tali; simpul tali terbuka atau tertutup
(mati).
(4) keadaan korban; lembam mayat sesuai atau
tidak.
misal: lidah, air mani
air seni ada atau tidak
kotoran
b. Manual Stragulation ( Cekikan)
pada pembunuhan, cekikan dapat dilakukan dengan
menggunakan satu tangan atau dua tangannya untuk
menekan leher, kadang-kadang digunakan lengan
bawah untuk menekan leher dari samping..
1. sebab-sebab kematian, kematian pada peristiwa
pencekikan dapat terjadi karena :
- tertutupnya jalan nafas sehingga oksigin tdk
dapat masuk ke paru-paru (Anoksia)
- tertutupnya pembuluh balik sehingga aliran
darah tdk dapat menyalurkan oksigin ke Otak.
- tertutupnya pembuluh nadi sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah Otak.
2. Kelainan posmortem / jejas jeratan
- tidak sejelas jejas gantung,
- arahnya horisontal,
- kedalamanya jejas jeratan sama,
- tinggi kedua ujun jejas tidak sama.
3. Lecet atau memar.
pada peristiwa pembunuhan sering
ditemukanadanya lecet-lecet atau memar-
memar sisekitar jejas. Kelainan tersebut
terjadi karena korban berusaha membuka
jeratan.
III. Sufokasi yaitu kematian seseorang yang berada
didaerah/tempat yang oksigennya tdk cukup
memadai, misal ; ditempat-tempat seperti :
Gua, Tempat penambangan, Masuk sumur yg
dalam, Ruang tertutup, Ruang sempit, dan Ruang
tersebut kemasukan asap.
Hal tersebut menyebabkan kematian orang.
Matinya orang itu perlahan-lahan, lemas dan
akhirnya mati, karena kekurangan Oksigen.
pada pemeriksaan jenasah itu akan dapat
dilihat adanya tanda-tanda asfiksia, seperti
misalnya bintik-bintik perdarahan pada kulit.
IV. Pembekapan/Smothering adalah kematian
seseorang yg disebabkan oleh penutupan lobang
hidung dan mulut. Penutupan ini dapat dilakukan
dengan tangan atau oleh suatu benda.
peristiwa ini bisa terjadi karena:
- Kecelakaan,
- Pembunuhan,
- Bunuh diri.
Kecelakaan yg sering terjadi pada anak-anak
adalah karena main-main dengan memasukkan
kepala kekantong pla stik. Hal ini juga sering
digunakan oleh orang dewasa untuk bunuh diri.
Kematian yg terjadi pada smothering lebih cepat
daripada sufokasi, dengan tanda-tanda asfeksia yg
jelas. Benda yang lunak seperti bantal yg
digunakan untuk membekap sering tdk
meninggalkan bekas luka.
Tanda kematiannya: terdapat bekas kuku pada sekitar
mulut korban. Perhatikan tanda perlawanan pada
tangan korban biasanya berupa:
- meronta barang-barang
-mencakar/bekas cakaran bukti ini disebut
-kulit korban yg menempel trace Evident
-rambut .
V. Overlaying pasif : suatu modifikasi dari
Smothering ( proses tertutupnya hidung dan
mulut).
Kasus ini banyak terjadi pada bayi, hal ini
terjadi karena bayi tersebut mulut dan hidungnya
tertutup oleh payudara ibunya pada waktu
menyusuhi.
selain hal tersebut; dapat juga bayi mati
karena tertutup bantal dahinya, dapat juga terjadi
terhadap orang dewasa yg mabuk dan
tertelungkup.
Overlaying itu suatu keadaan matinya seseorang
karena tertutupnya saluran nafas yg tdk disengaja.
Jenis kematian yang tergolong dalam
asphyxia adalah :
1. Terjadi sumbatan pada pangkal mulut (choking).
2. Manual strangulation (cekikan dng tangan)
3. Bekapan ( smothering )
4. Bolus (masuknya benda asing ke dalam saluran
nafas)
5. Kompresi ( terjadinya tekanan pada dada/perut.)
6. Ruang hampa oksigen ( memasukan kepala dlm
kantong plastik )
7. Strangulation with ligature (cekikan dengan ikatan).
8. Tenggelam / drowning.
Sebab kematian karena kekurangan
Oksigin/Oksigin tidak sampai Paru-paru
I. Choking/sumbatan pada pangkal mulut adalah suatu
kematian yg mana rongga pernafasan bagian bawah
tersumbat. Kematian ini biasanya terjadi karena
kecelakaan. Hal ini dapat diketahui jika dilakukan dengan
otopsi.
misalnya : - gigi palsu lepas
- makan tersentak
- makan daging, dll.
II. Stragulation dapat terdiri dari :
a. hanging (gantung) adalah suatu peristiwa di
mana seluruh atau sebagian dari berat badan
ditahan atau ditekan oleh sesuatu benda,
biasanya berupa tali pada daerah leher.
Tanda-tandanya adalah :
- lembam mayat ditemukan pada ujung-ujung dari
anggota badan yg berada di bawah, ujung jari
tangan, kaki.
- lidah terlihat menjulur keluar,
- mengeluarkan air mani, air seni dan tinja (kotoran).
cara kematian :
- Letak tali, jika bunuh diri, letak simpul tali ada
dibelakang,
- Pembunuhan, biasanya sebelum digantung dibunuh
lebih dulu dengan cara lain,
- Kecelakaan, misal waktu jatuh dari pohon leher
baju bagian belakang tersangkut dahan, waktu
terjun payung leher terlilit oleh tali.
Hal-hal yg perlu diperhatikan di TKP :
(1) keadaan lokasi, perlu dilihat ada tidaknya
penumpu misal; kursi, meja atau tangga.
(2) posisi korban, perlu dipikirkan kemungkinannya
korban dapat melakukan gantung diri dengan
posisi seperti yg ditemukan,
(3) keadaan tali; simpul tali terbuka atau tertutup
(mati).
(4) keadaan korban; lembam mayat sesuai atau
tidak.
misal: lidah, air mani
air seni ada atau tidak
kotoran
b. Manual Stragulation ( Cekikan)
pada pembunuhan, cekikan dapat dilakukan dengan
menggunakan satu tangan atau dua tangannya untuk
menekan leher, kadang-kadang digunakan lengan
bawah untuk menekan leher dari samping..
1. sebab-sebab kematian, kematian pada peristiwa
pencekikan dapat terjadi karena :
- tertutupnya jalan nafas sehingga oksigin tdk
dapat masuk ke paru-paru (Anoksia)
- tertutupnya pembuluh balik sehingga aliran
darah tdk dapat menyalurkan oksigin ke Otak.
- tertutupnya pembuluh nadi sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah Otak.
2. Kelainan posmortem / jejas jeratan
- tidak sejelas jejas gantung,
- arahnya horisontal,
- kedalamanya jejas jeratan sama,
- tinggi kedua ujun jejas tidak sama.
3. Lecet atau memar.
pada peristiwa pembunuhan sering
ditemukanadanya lecet-lecet atau memar-
memar sisekitar jejas. Kelainan tersebut
terjadi karena korban berusaha membuka
jeratan.
III. Sufokasi yaitu kematian seseorang yang berada
didaerah/tempat yang oksigennya tdk cukup
memadai, misal ; ditempat-tempat seperti :
Gua, Tempat penambangan, Masuk sumur yg
dalam, Ruang tertutup, Ruang sempit, dan Ruang
tersebut kemasukan asap.
Hal tersebut menyebabkan kematian orang.
Matinya orang itu perlahan-lahan, lemas dan
akhirnya mati, karena kekurangan Oksigen.
pada pemeriksaan jenasah itu akan dapat
dilihat adanya tanda-tanda asfiksia, seperti
misalnya bintik-bintik perdarahan pada kulit.
IV. Pembekapan/Smothering adalah kematian
seseorang yg disebabkan oleh penutupan lobang
hidung dan mulut. Penutupan ini dapat dilakukan
dengan tangan atau oleh suatu benda.
peristiwa ini bisa terjadi karena:
- Kecelakaan,
- Pembunuhan,
- Bunuh diri.
Kecelakaan yg sering terjadi pada anak-anak
adalah karena main-main dengan memasukkan
kepala kekantong pla stik. Hal ini juga sering
digunakan oleh orang dewasa untuk bunuh diri.
Kematian yg terjadi pada smothering lebih cepat
daripada sufokasi, dengan tanda-tanda asfeksia yg
jelas. Benda yang lunak seperti bantal yg
digunakan untuk membekap sering tdk
meninggalkan bekas luka.
Tanda kematiannya: terdapat bekas kuku pada sekitar
mulut korban. Perhatikan tanda perlawanan pada
tangan korban biasanya berupa:
- meronta barang-barang
-mencakar/bekas cakaran bukti ini disebut
-kulit korban yg menempel trace Evident
-rambut .
V. Overlaying pasif : suatu modifikasi dari
Smothering ( proses tertutupnya hidung dan
mulut).
Kasus ini banyak terjadi pada bayi, hal ini
terjadi karena bayi tersebut mulut dan hidungnya
tertutup oleh payudara ibunya pada waktu
menyusuhi.
selain hal tersebut; dapat juga bayi mati
karena tertutup bantal dahinya, dapat juga terjadi
terhadap orang dewasa yg mabuk dan
tertelungkup.
Overlaying itu suatu keadaan matinya seseorang
karena tertutupnya saluran nafas yg tdk disengaja.
ABORTUS
Abortus yaitu setiap keluarnya janin sebelum
berakhirnya masa kehamilan yang lengkap.
Menurut hukum : abortus adalah keluarnya
janin yang belum mampu hidup diluar kandungan.
Tetapi jika pengeluaran janin dilakukan pada saat
janin itu sudah mampu hidup diluar kandungan
disebut pembunuhan bayi.
Abortus dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Abortus spontaneus,
2. Abortus Provocatus :- legal
- illegal
1. Abortus Spontaneus adalah abortus yg terjadi dng
sendirinya karena penyakit atau karena sebab lain,
misalnya karena jatuh naik kendaraan.
2. Abortus prvocatus adalah abortus yang sengaja dibuat
dengan menggunakan cara-cara apa saja, ini ada 2
macam :
a. abortus legal : karena alasan-alasan medis
yaitu jika tidak dilakukan abortus ibunya akan
terancam jiwanya, janin sudah tdk berkembang dll.
b. abortus illegal : karena hanya alasan-alasan yang
bukan medis yaitu;
- hamil tidak punya suami / kecelakaan
- karena serong.
- korban perkosaan.
Abortus provocatus illegal atau disebut juga abortus
provocatus Criminalis ini dapat dilakukan sendiri atau
dilakukan dengan bantuan orang lain
1. Dilakukan sendiri ;
a. dengan kegiatan fisik seperti:
- dengan cara meloncat-loncat,
- naik kuda, atau olah raga berat.
b. dengan obat-obatan seperti :
- jamu-jamuan anti hamil,
- obat terlambat datang bulan,
- nanas muda dll.
2. Dilakukan dengan bantuan orang lain:
- kedukun untuk dipijat,
- menginjak-injak perut bagian bawah,
- memukul perut bagian bawah dll
3. Dengan alat medis :
- sonder / alat penyedot,
- kateter,
- dicuret dll.
4. Dengan alat non medis :
-kawat,
-tongkat/batang kayu dll.
5. Dengan alat-alat zat kimia:
-air hangat,
-air sbun,
-air dicampur kreolin/lysol dll.
Kasus abortus ini akan terungkap sampai ke
pengadilan biasanya kalau sampai terjadi korban
yaitu Wanita itu menderita sakit yang tidak sembuh-
sembuh atau sampai mati.
Abortus Provocatus Criminalis ini baik orang yang melakukan
maupun wanita yang menghendaki pengguguran dapat
dipidana. Oleh karena itu abortus provocatuscriminalis
hanya akan diketahui jika wanita itu meninggal dunia
atau sakit keras.
Dalam hal ini, maka pemeriksaan yg perlu dilakukan ialah:
1. Menentukan wanita tsb dalam keadaan hamil atau tdk,
dan yg perlu dilakukan pemeriksaan :
a. payu dara, b. ovarium,
c. besarnya uterus pada abortus yg tidak sukses dapat
ditemukan janin
2. Mencari tanda-tanda adanya tindakan abortus
provocatus :
a. tanda kekerasan lokal:
- Memar, pendarahan pada alat kelamin dlm dan
sekitarnya
- Mencari tanda-tanda infeksi sebagai akibat
digunakannya alat-alat yg tidak steril,
b. Menganalisa cairan yg ditemukan pada liang
senggama atau cacum uteri.
3. Mencari sebab-sebab kematiannya.
misal : - pendarahan
- gagal reflex,
- kegagalan ginjal akut dan sebagainya, ini
perlu adanya otopsi.
PEMBUNUHAN BAYI
PEMBUNUHAN BAYI
Pembunuhan terhadap bayi yang belum berumur 1
tahun oleh ibunya sendiri disebut infanticide
(pembunuhan bayi sendiri). Nukumannya
dibedakan lebih ringan dari hukuman pada
pembunuhan biasa (murder). Perbedaan ini
didasarkan pada pertimbangan bahwa status
mental pada wanita yang sedang hamil, bersalin
atau sedang menyusui sangat labil dan mudah
terganggu.
Di Indonesia hukuman itu dibedakan, tetapi
cara pembedaannya amat berlainan dengan yang
berlaku di inggris.
Di Indonesia pertimbangannya adalah motif takut
ketahuan melahirkan anak dan pembunuhannya
dilakukan pada saat dilahirkan atau tidak lama
kemudian.
Motif takut ketahuan melahirkan anak dikaitkan
dengan kultur di dalam masyarakat indonesia yang
masih menganggap tabu melahirkan anak tanpa suami.
Andaikata seorang wanita membunuh bayinya
sendiri yg baru dilahirkan dr hasil perkawinan yang sah,
maka pembunuhan tersebut tdk dpt dikategorikan sbg
infanticide, tetapi pembunuhan biasa (mueder), sebab
ia tdk mempunyai alasan yg kuat utk takut ketahuan
bahwa ia melahirkan anak.
Jadi yg dikatakan infaticide adalah pembunuhan bayi yg
dilakukan oleh seorang wanita tanpa suami atau wanita
yg bersuami tetapi bayinya itu hasil hubungan gelap/
serong.
Untuk dikatakan sebagai infaticide di Indonesia
harus memenuhi syarat-syarat sbb:
1. Pelaku ibu kandung
2. Korban anak kandung,
3. Wkt pembunuhan ; saat dilahirkan atau tdk lama
kemudian,
4. Motif : takut ketahuan melahirkan anak.
Jika satu saja dari syarat tersebut di atas tidak
dipenuhi, maka pembunuhan tersebut bukan sebagai
infaticide melainkan pembunuhan biasa.
Menurut KUHP, pembunuhan bayi sendiri dibagi menjadi 2 :
1. kinderdoodslag, dilakukan tanpa rencana ( Psl 341 ).
2. Kindermoord, dengan rencana ( Psl 342)
Pemeriksaan korban /bayi.
Dokter yang diminta melakukan pemeriksaanan Jenazah
bayi tidak perlu mempersoalkan apakah pembunuhan itu
Kinderdoodslag atau Kindermoord. Yang perlu dipersoalkan
dalam kaitannya dengan proses peradilan yaitu:
A. Apakah bayi itu Viabel atau tidak, yaitu suatu perkiraan
bahwa bayi akan mampu hidup diluar kandungan setelah
dilahirkan.
B. Bayi itu lahir hidup atau mati,
C. Apakah yang menjadi sebab kematian,
D. Berapa lama bayi sempat hidup di luar kandungan.
Bayi itu viabel jika sudah berusia 28 minggu atau lebih di
dalam kandungan ibunya, dan jika lahir bayi itu akan
mampu hidup di luar kandungan ibunya.
Untuk mengetahui itu perlu dilakukan pemeriksaan luar dan
dalam.
Pada pemeriksaan luar terlihat tanda-tanda sbb:
-panjang badan 35 cm atau lebih,
- berat badan 1.5 kg,
- rambut sudah tumbuh ( alis, bulu mata,
rambut badan)
- kuku sudah melewati ujung jari.
Pada pemeriksaan dalam terlihat tanda-tanda sbb:
- adanya inti penulangan,
-pertumbuhan gigi sudah sampai pada tingkat klasifikasi
FUNGSI KETERANGAN DOKTER
SEBAGAI AHLI DI SIDANG PENGADILAN
Pasal 6 ayat 2 UU No 14/1970 jo Psl 183 KUHAP; tidak
seorangpun dapat dijatuhi pidana kecuali apabila
pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut
UU, dan mendapat keyakinan bahwa seseorang yang
dianggap salah dapat bertanggung jawab telah
bersalah atas perbuatan yang dituduhkannya atas
dirinya.
Dari ketentuan Pasal tersebut dapat disimpulkan:
1. Untuk dapat menjatuhkan pidana kpd seseorang
terdakwa diperlukan keyakinan Hakim,
2. Keyakinan Hakim tsb harus muncul dari alat bukti,
3. Jumlah minimal alat bukti yg dapat dipakai untuk
membentuk keyakinan hakim ialah 2 buah.
Untuk menyiapkan alat bukti disidang pengadilan adalah
tugas penyidik dan penuntut umum. Alat bukti tersebut
sebagaimana tercamtum dalam Pasal 184 KUHAP:
1. Keterangan Saksi,
2. Keterangan Ahli,
3. Surat,
4. Petunjuk dan,
5. Keterangan terdakwa.
yang menjadi pertanyaan ialah apakah ket. Dari dokter,
dalam kapasitasnya sebagai ahli dpt berlaku sbg alat bukti?
Hal ini menurut KUHAP ada 4 kemungkinan :
1. Sebagai alat bukti – kategori Surat dan,
_ kategori ket. Ahli.
2. Sbg ket. Yg disamakan nilainya dengan alat bukti.
3. Sbg ket yg hanya menguatkan keyakinan hakim.
4.Sebagai ket. Yg tidak berfungsi apa-apa.
Agar supaya ket. Dokter dapat berlaku sebagai alat bukti atau yg disamakan
nilainya dengan alat bukti dibutuhkan syarat baik formil maupun materiil.
1a. Alat bukti kategori surat :
syarat formilnya adalah:
- diberikan secara tertulis,
- dengan sumpah / janji.
syarat materiilnya adalah:
- isi ket. Sesuai dng kenyataan yg ada pada obyek yg diperiksa.
-tdk bertentangan dng teori kedokteran yg telah teruji
kebenarannya.
1b. Alat bukti kategori keterangan Ahli:
syarat formil adalah :
- diberikan secara lisan disidang pengadilan.
- dng mengucapkan sumpah/janji sebelumnya dan jika hakim
memandang perlu juga sesudah memberikan keterangan.
syarat Materiil adalah ;
- isi ket. Sesuai dng kenyataan yg ada pada obyek yg diperiksa,
- tidak bertentangan dengan teori kedokteran yang telah teruji
kebenarannya.
2. Keterangan yg disamakan nilainya dng alat bukti:
Syarat formalnya adalah :
a. ket. Dokter yg pernah diberikan secara lisan
didepan penyidik dibacakan didepan sidang.
b. alasan dibacakan disidang PN adalah karena
dokter meninggal dunia/ karena berhalangan yg sah tdk
dapat hadior/ karena tugas Negara.
c. ketika dokter wkt memberikan ket. Lisan didepan
penyidik, sudah mengucapkan sumpah / janji.
Syarat materiilnya adalah:
a. isi ket. Sesuai dng kenyataan yg ada pada obyek yg
diperiksa,
b. Tdak bertentangan dng teori kedokteran yg telah teruji
kebenarannya.
3. Keterangan yg dapat menguatkan keyakinan Hakim
a. syarat Formalnya adalah:
- diberikan secara lisan di sidang Pengadilan,
- tidak dng mengucapkan sumpah/janji karena dokter tanpa
alasan yg sah menolak untuk mengucapkannya,
- keterangan tersebut diberikan setelah ia selesai menjalani
penyandraan di Rumah tahanan Negara selama 14 hari,
b. Syarat Materiilnya adalah;
- isi keterangan sesuai dng kenyataan yg ada pada obyek yg
diperiksanya,
- tidak bertentangan dng teori kedokteran yg telah teruji
kebenarannya.
Jika keterangan dokter tdk memenuhi syarat formal dan atau
syarat materiil maka ket. Dokter tsb tdk dpt berfungsi apa-
apa.

Anda mungkin juga menyukai