LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU PREMENOPAUSE DENGAN GANGGUAN
HAID DI PUSKESMAS MARGADADI INDRAMAYU
TAHUN 2022
Di susun oleh :
Ecih Susilawati
NIM R.21.06.003
YAYASAN INDRA HUSADA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDRAMAYU
2022
Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Premenopause Dengan Gangguan Haid Di Puskesmas Margadadi
Indramayu Tahun 2022
A. Premenopause
1. Pengertian
Premenopause merupakan masa peralihan antara masa reproduksi
dan masa senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pra menopause,
antara usia 46-50 tahun,ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur,
dengan pendarahan haid yang memanjang dan relative banyak.
Premenopause merupakan bagian dari masa klimakterium yang terjadi
sebelum premenopause (kusmiran, 2011 ).
Premeopause adalah masa sekitar usia 46-50 thn dengan dimulainya
dengan siklus haid yang tidak teratur, memanjang, sedikit atau banyak,
yang kadan kadang disertai dengan rasa nyeri. Pada beberapa wanita telah
muncul keluhan vasomotorik atau keluhan sindrom prahaid. Dari hasil
analisa hormonal dapat ditemukan kadar FSH dan estrogen yang tinggi
atau normal. Kadar FSH yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya
stimulasi ovarium yang berlebihan ( hiperstimulasi ), sehingga kadang-
kadang dijumpai kadar estrogen yang tinggi. Keluhan yang muncul dapat
disebabka karena hormon yang normal maupun tinggi. Sedangkan
keluhan yang muncul pada masa pascamenopause disebabkan karena
kadar hormon yang rendah.
Premenopause merupakan masa sebelum menopause dimana mulai
terjadi perubahan endokrin,biologis, dan gejala klinik sebagai awal
perubahan dari menopause dan mencakup juga satu tahun atau dua belas
5
bulan pertama setelah terjadi menopause. Perubahan premenopause dan
proses penuaan itu diantaranya seperti seperti perubahan pola pendarahan,
hot flash, gangguan tidur, perubahan atropik, perubahan psikologi,
perubahan berat badan, perubahan kulit, seksualitas dan perubahan fungsi
tiroid (varney, 2009).
Premenopause; merupakan periode menuju menopause (ketika
muncul keluhan/gejala endokrin, biologis, dan manifestasi klinik dari
menopause) dan satu tahun setelah menopause terjadi. Transisi
menopause/ menopausal transition; periode atau waktu sebelum haid
terakhir (Final Menstrual Period/FMP) ketika terjadi perubahan siklus
menstruasi.
Premenopause; adalah istilah yang digunakan untuk masa
reproduktif sampai dengan terjadinya FMP. Meskipun WHO telah
membuat definisi yang telah diterima luas, namun untuk mempermudah
kepentingan klinis dan riset maka pada tahun 2011 Stage of Reproductive
Aging Workshop (STRAW) mengadakan workshop dan membagi masa
transisi menopause ke dalam beberapa fase.
Gambar 2.1 Bagan pembagian masa transisi premenopause.
2. Fisologis premenopause
Proses menjadi tua pada dasarnya telah dimulai ketika sorang
wanita memasuki usia 40 tahun. Pada waktu lahir, seorang wanita
memiliki jumlah folikel sebanyak ± 750.000 buah dan jumlah ini akan
terus berkurang seiring berjalannya usia hingga akhirnya tinggal beberapa
ribu buah saja ketika mengalami menopause. Semakin bertambah usia,
khususnya ketika memasuki masa perimenopause, folikel-folikel itu akan
mengalami peningkatan resistensi terhadap rangsangan gonadotropin. Hal
ini mengakibatkan pertumbuhan folikel, ovulasi, dan pembentukan korpus
luteum dalam siklus ovarium berhenti secara perlahan-lahan. Pada wanita
diatas 40 tahun, 25% diantaranya mengalami siklus haid yang
anovulatoar. Resistensi folikel terhadap gonadotropin ini mengakibatkan
penurunan peroduksi estrogen dan peningkatan kadar hormon
gonadotropin. Tingginya kadar gonadotropin ini menyebabkan rendahnya
estrogen sehingga tidak ada umpan balik negatif dalam poros hipotalamus
dan hipofisis. Walaupun secara endrokinologi terjadi perubahan
hormonal, namun tidak ada kriteria khusus pengukuran kadar hormon
untuk menentukan fase awal atau akhir dari masa transisi menopause.
Penyebab menopause adalah “matinya” (burning out) ovarium.
Sepanjang kehidupan seksual seorang wanita, kira-kira 400 folikel
primordial tumbuh menjadi folikel matang dan berovulasi, dan beratus-
ratus dari ribuan ovum berdegenerasi. Pada usia sekitar 45 tahun, hanya
tinggal beberapa folikel-folikel primordial yang akan dirangsang oleh FSH
dan LH, dan produksi estrogen dari ovarium berkurang sewaktu jumlah
folikel primordial mencapai nol. Ketika produksi estrogen turun di bawah
nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat produksi gonadotropin FSH
dan LH. Sebaliknya, gonadotropin FSH dan LH (terutama FSH)
diproduksi sesudah menopause dalam jumlah besar dan kontinu, tetapi
ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi estrogen
oleh ovarium turun secara nyata menjadi nol (Guyton, 2011).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen
perempuan sering relatif stabil atau bahkan meningkat di masa
pramenopause. Kadar itu tidak berkurang selama kurang dari satu tahun
sebelum periode menstruasi terakhir. Sebelum menopause, estrogen
utama yang dihasilkan tubuh seorang wanita adalah estradiol. Namun
selama masa premenopause, tubuh wanita mulai menghasilkan lebih
banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang dinamakan estron, yang
dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh. Kadar
testosteron biasanya tidak turun secara nyata selama pramenopause.
Kenyataannya, indung telur pascamenopause dari kebanyakan wanita
mengeluarkan testosterone lebih banyak daripada indung telur
pramenopause. (Wijayanti, 2009).
Menurut Fritz (2010), kadar estradiol serum pada wanita pasca
menopause sekitar 10-20pg/mL dan sebagian besar merupakan hasil
konversi estron, yang diperoleh dari konversi perifer androstenedion.
Kadar estrogen pada wanita menopause sangat bergantung dari konversi
androstenedion dan testosteron menjadi estrogen. Sebuah penelitian di
Australia menemukan bahwa kadar testosteron dalam sirkulasi tidak
berubah sejak 5 tahun sebelum menopause hingga 7 tahun setelah
menopause. Androstenedion adalah androgen utama yang dikeluarkan oleh
folikel yang sedang berkembang. Dengan terhentinya perkembangan
folikuler pada wanita pascamenopause, kadar androstenedion turun 50%.
Setelah menopause, hanya 20% androstenedion yang disekresi oleh
ovarium. Dehidroepiandrosteron (DHEA) dan dehidroepiandrosteron
sulfat (DHEAS) terutama dihasilkan oleh kelenjar adrenal (<25% oleh
ovarium). Dengan penuaan, produksi DHEA turun 60% dan DHEAS turun
80%. Berat badan memiliki korelasi yang positif dengan kadar estron dan
estradiol di sirkulasi dengan adanya konversi androstenedion menjadi
estrogen, namun dengan penuaan, kontribusi adrenal sebagai prekursor
produksi estrogen menjadi tidak adekuat. Hubungan kadar hormon
estrogen dengan usia digambarkan pada grafik dibawah ini:
Gambar 2.2Hubungan kadar Hormon esterogen dengan usia (Fritz,2010).
3. Patofisiologi Sindroma Perimenopause
Sindrom perimenopause adalah sekumpulan gejala dan tanda yang
terjadi pada masa perimenopause. Kurang lebih 70% wanita usia peri dan
pascamenopause mengalami keluhan vasomotor, keluhan psikis, depresi,
dan keluhan lainnya dengan derajat berat-ringan yang berbeda-beda pada
setiap individu. Keluhan tersebut akan mencapai puncaknya pada saat
menjelang dan setelah menopause kemuadian berangsur-angsur berkurang
seiring dengan bartambahnya usia dan tecapainya keseimbangan hormon
pada masa senium
a. Keluhan dan Gejala Vasomotor
Keluhan vasomotor yang dijumpai berupa perasaan/semburan
panas (hot flushes) yang muncul secara tiba-tiba dan kemudian disertai
keringat yang banyak. Keluhan ini muncul di malam hari dan
menjelang pagi kemudian perlahan-lahan akan dirasakan juga pada
siang hari. Semburan panas ini mula-mula dirasakan di daerah kepala,
leher, dan dada. Kulit di area tersebut terlihat kemerahan, namun suhu
badan tetap normal meskipun pasien merasakan panas. Segera setelah
panas, area yang dirasakan panas tersebut mengeluarkan keringat
(night sweats)dalam jumlah yang banyak pada bagian tubuh terutama
seluruh kepala, leher, dada bagian atas, dan punggung. Selain itu, dapat
juga diikuti dengan adanya sakit kepala, vertigo, perasaan kurang
nyaman, dan palpitasi.
Hot flushes pada wanita dalam masa transisi menopause ratarata
mulai dirasakan 2 tahun sebelum Final Menstrual Period (FMP) dan 85
persen wanita akan terus mengalaminya setidaknya selama 2 tahun.
Diantara wanita tersebut, 25 sampai 50 persen mengalami hot flusehes
selama 2 tahun, bahkan ada yang lebih dari 15 tahun.3 Durasi tiap
episode serangan hot flushes bervariasi, hingga mencapai 10 menit
lamanya, dengan rata-rata durasi serangan 10 menit. Frekuensi hot
flushes setiap harinya bervariasi antar individu, dimulai 1-2 kali per
jam. Pada kondisi yang berat, frekuensinya dapat mencapai 20 kali
sehari. Selain itu, jika muncul pada malam hari hal ini dapat
mengganggu kualitas tidur sehingga cenderung menjadi cepat lelah
dan mudah tersinggung. Hot flushes dapat diperberat dengan adanya
stres, alkohol, kopi, makanan dan minuman yang panas. Hal ini juga
dapat terjadi karena reaksi alergi pada kasus hipertiroid, akibat obat-
obatan tertentu seperti insulin, niacin, nifedipin, nitrogliserin,
kalsitonin, dan antiestrogen.
Mekanisme pasti patogenesis keluhan vasomotor belum diketahui
tapi data yang berhubungan dengan fisiologi dan behavior
menunjukkan bahwa keluhan vasomotor dihasilkan karena adanya
defek fungsi pada pusat termoregulasi di hipotalamus. Pada area
preoptik medial hipotalamus terdapat nukleus yang merupakan
termoregulator yang mengatur pengeluaran keringat dan vasodilatasi
yang merupakan mekanisme primer pengeluaran panas tubuh.
Oleh karena keluhan vasomotor muncul setelah terjadinya
menopause alami atau pasca ooforektomi, maka diperkirakan
mekanisme yang mendasarinya adalah bersifat endokrinologi dan
berhubungan dengan berkurangnya jumlah estrogen di ovarium
maupun meningkatnya sekresi gonadrotropin oleh pituitari. Selain itu,
besar kemungkinan keluhan ini timbul karena interaksi antara hormon
estrogen dan progesteron yang fluktuatif pada masa perimenopause.
Keluhan vasomotor dapat muncul pada kondisi kadar estrogen tinggi,
rendah, maupun normal dalam darah. Keluhan vasomotor muncul
sebagai akibat reaksi withdrawl estrogen.
Meskipun estrogen memiliki efek yang signifikan terhadap
munculnya hot flushes, namun masih terdapat faktor lain yang
diperkirakan terlibat dalam patofisiologi hot flushes. Perubahan kadar
neurotransmiter akan mempersempit zona termoregulasi di
hipotalamus dan menurunkan pengeluaran keringat, bahkan perubahan
suhu tubuh yang sangat kecil pun dapat memicu mekanisme pelepasan
panas. Norepinefrin merupakan neurotransmiter utama yang dapat
mempersempit titik pengaturan (setpoint) termoregulasi dan memicu
mekanisme pengeluaran panas tubuh yang berhubungan dengan hot
flushes. Sebagaimana diketahui, estrogen mengatur reseptor adrenergik
pada banyak jaringan. Pada saat menopause, terjadi penurunan kadar
estrogen dan resptor α2 adrenergik di hipotalamus. Penurunan reseptor
α2 adrenergik presinaps akan memicu peningkatan norepinefrin dan
yang selanjutnya akan menyebabkan gejala vasomotor. Selain itu,
penurunan α2 adrenergik reseptor presinaps juga akan memicu
peningkatan serotonin yang mengakibatkan mekanisme pengeluaran
panas yang dipicu oleh perubahan suhu tubuh meski sangat kecil.
b. Keluhan dan Gejala Urogenital
Alat genital wanita serta saluran kemih bagian bawah merupakan
organ yang sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Reseptor
estrogen dan progesteron teridentifikasi di vulva, vagina, kandung
kemih, uretra, otot dasar pelvis serta fasia endopelvis. Struktur tersebut
memilki sebuah persamaan kemampuan untuk mereaksi perubahan
hormonal sebagaimana pada kondisi menopause dan nifas.
Epitel uretra dan trigonum vesika mengalami atrofi. Hal ini akan
menimbulkan uretritis, sistitis, atau kolpitis, sering berkemih dan
inkontinensia urin serta adanya infeksi saluran kemih. Terdapat juga
gangguan miksi berupa disuri, polakisuri, nikturi, rasa ingin berkemih
hebat, atau urin yang tertahan, hal ini sangat erat kaitannya dengan
atrofi mukosa uretra.
Pada usia perimenopause ini, serviks mengalami proses involusi,
berkerut, sel epitelnya menipis sehingga mudah cedera. Kelenjar
endoservikal mengalami atrofi sehingga lendir serviks yang diproduksi
berkurang jumlahnya. Tanpa efek lokal estrogen vagina akan
kehilangan kolagen, jaringan lemak dan kemampuan untuk menahan
[Link] vagina menyusut, rugae menjadi mendatar, dan akan
nampak merah muda pucat. Permukaan epitel vagina menipis hingga
beberapa lapis sel sehingga mengurangi rasio sel permukaan dan sel
basal. Pada akhirnya, vagina menjadi lebih rapuh, kering dan mudah
berndarah dengan trauma minimal. Pembuluh darah di vagina
menyempit sehingga seiring berjalannya waktu vagina akan terus
menegang dan kehilangan fleksibilitasnya. Saat seorang wanita
memasuki usia perimenopause, pH vagina akan meningkat karena
menurunnya estrogen, dan akan terus meningkat pada masa post
menopause sehingga mangakibatkan mudahnya terjadi infeksi oleh
bakteri trikomonas, kandida albikan, stafilo dan streptokokus, serta
bakteri coli bahkan gonokokus. Adanya hormon estrogen akan
membuat pH vagina menjadi asam sehingga memicu sintesis Nitrit
oksid (NO) yang memiliki sifat antibakteri dan hanya dapat diproduksi
bilamana pH vagina kurang dari 4,5. Selain bersifat bakterisid, NO di
vagina juga bersifat radikal bebas bagi sel-sel tumor dan kanker.
Akibat perubahan ini, maka terjadi kekeringan vagina, iritasi,
dispareuni, dan rekurensi infeksi saluran kemih.
c. Keluhan dan Gejala Psikologis
Suasana hati, perilaku, fungsi kognitif, fungsi sensorik, dan kerja
susunan saraf pusat dipengaruhi oleh hormon steroid seks. Apabila
timbul perubahan pada hormon ini maka akan timbul keluhan psikis
dan perubahan fungsi kognitif. Berkurangnya sirkulasi darah ke otak
juga mempersulit konsentrasi sehingga mudah lupa. Pada akhirnya,
akibat berkurangnya hormon steroid seks ini, pada wanita
perimenopause dapat terjadi keluhan seperti mudah tersinggung, cepat
marah, perasaan tertekan. Pada dasarnya kejadian depresi pada pria
dan wanita memiliki angka perbandingan yang sama, akan tetapi
dengan terapi pemberian estrogen keluhan depresi dapat ditekan. Oleh
karena itu, estrogen dianggap sebagai salah satu faktor predisposisi
terjadinya depresi. Penyebab depresi diduga akibat meningkatnya
aktivitas serotonin di otak. Estrogen akan menghambat aktivitas enzim
monoamin oksidase (MAO), suatu enzim yang menonaktifkan
serotonin dan noradrenalin. Berkurangnya jumlah estrogen akan
berdampak pada berkurangnya jumlah MAO dalam plasma. Pemberian
serotonin-antagonis dapat mengurangi keluhan depresi pada wanita
pascamenopause.
Masa transisi menopause memiliki permasalahan sosiokultural
yang kompleks sebagaimana perunahan hormonal yang terjadi. Faktor
psikososial dapat mempengruhi gejala perubahan mood dan kognitif,
bahkan sejak memasuki masa transisi menopause, wanita telah
menghadapi berbagai tekanan seperti halnya penyakit yang dihadapi,
merawat orang tua, perceraian, perubahan karir dan pensiun. Budaya
barat yang menitik beratkan pada kecantikan dan kemudaan menjadi
stressor bagi wanita yang tengah menjadi tua untuk merasa kehilangan
status, fungsi, dan kendali diri.
d. Keluhan Gangguan Haid
1) Polimenorea
Adalah siklus haid yang lebih pendek yaitu kurang dari 21
hari.
2) Oligomenorea
Adalah haid dengan siklus yang lebih panjang yaitu lebih dari
35 hari.
3) Amenorea
Adalah tidak terjadinya haid pada wanita pada kurun waktu
tertentu.
4) Hipermenorea ( menoregia)
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah yang lebih
banyak dan atau lamanya lebih lama dari normal dari siklus
yang teratur.
5) Hipomenorea
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah lebih sedikit dan
atau lamanya lebih pendek dari normal.
B. Perubahan Hormonal Pada Masa Premenopause
Transisi menopause dikarakteristik oleh kadar estrogen yang
berfluktuasi, siklus menstruasi yang tidak regular, dan kadang-kadang
terdapat gabungan manifestasi klinis kelebihan dan defisiensi estrogen.
Karena itu, selama satu minggu wanita bisa mengeluh mastalgia dan
perdarahan yang parah dan minggu berikutnya, mengalami gejala klinis
vasomotor, gangguan tidur dan kelelahan sebagai akibat dari insufisiensi
estrogen. Perubahan hormonal ini memiliki dampak pada hasrat seksual
wanita dan kapasitas untuk mencapai orgasme. Selama masa
perimenopause, wanita biasanya mengeluhkan kekeringan vagina
berhubungan dengan aktifitas seksual. Tanda ini merupakan tanda dari
kegagalan untuk orgasme dan lubrikasi, tetapi bukan karena insufisiensi
estrogen.
pada saat premenopause terjadinya penurunan jumlah folikel
ovarium, sehingga menyebabkan penurunan produksi estrogen. Terjadi
peningkatan Serum Gonadotropin yang menyebabkan FSH dan LH
meningkat juga. Peningkatan FSH ini akan terjad beberapa tahun sebelum
terjadinya menopause. Peningkatan FSH akan menurunkan Inhibin B
sehingga dapat menurunkan jumlah folikel di ovarium. Estrogen tidak
akan hilang sampai akhir dari masa perimenopause dan hal ini merupakan
suatu respon dari peningkatan konsentrasi FSH. Akibat dari fluktuatifnya
hormon selama periode transisi ini, yaitu dari premenopause sampai
menopause maka, pengukuran untuk FSH dan estradiol tidak memiliki
nilai yang reliabel dalam pada penentuan status menopause.
Berlawanan dengan penurunan estrogen selama masa menopause,
kadar testosteron tidak berubah tiba-tiba selama masa transisi menopause,
tetapi menurun secara progresif seiring dengan usia dari tahun pertengahan
reproduksi. Setelah menopause hormon yang mengalami perubahan terdiri
dari empat, yaitu androgen, estrogen, progesteron dan gonadotropin.
Sekitar 50% androstenedion yang beredar mengalami penurunan.
Androgen adrenal akan berkurang sebanyak 60-80% sesuai dengan umur.
Penurunan testosteron lebih minimal. Terjadi konversi dari androstenedion
sebanyak 14%, tetapi mayoritas diproduksi oleh sel stroma hilar dan
terluteinisasi di dalam ovarium yang berespon terhadap meningkatnya
gonadotropin.
Peningkatannya relatif terjadi pada testosteron dibandingkan
androgen lain. Peningkatan relatif testosteron dibandingkan androgen lain
mungkin menyebabkan berkurangnya garis rambut, suara serak dan
rambut di wajah kadang-kadang dapat dilihat pada wanita-wanita yang
lebih tua.
Gambar 2.3 Mekanisme biosintesis steroid sex
Estron merupakan estrogen saat menopause, paling banyak
diproduksi oleh adrenal- meskipun konversi perifer dari androstenedion
meningkat dua kali. Sebagian estron dan testosteron secara perifer
mengalami konversi menjadi estradiol. Hentinya ovulasi menyebabkan
penurunan progesteron karena tidak adanya produksi dari korpus luteum
lagi.
Gambar 2.4 Kadar hormon
C. Disfungsi seksual pada wanita masa premenopause
Menurut Manan (2013), disfungsi seksual merupakan penurunan
libido atau hasrat seksual pada seseorang atau lawan jenisnya, baik pria
maupun wanita. Gangguan ini dapat terjadi karena berbagai hal, baik
secara medis maupun psikologis, serta memberikan efek yang kurang baik
terhadap keharmonisan hubungan suami istri. Sedangkan menurut Elvira
(2016), disfungsi seksual secara luas merupakan ketidakmampuan untuk
menikmati secara penuh hubungan seks dan secara khusus merupakan
gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus
respon seksual yang normal.
Disfungsi seksual secara luas didefinisikan sebagai “sebuah
gangguan dalam proses yang memiliki karakteristik siklus respon seksual
atau rasa sakit terkait dengan hubungan seksual. Disfungsi seksual pada
perempuan sangat umum terjadi di Amerika Serikat, yang mempengaruhi
lebih dari 40% wanita berusia 18-59 tahun. Meskipun disfungsi seksual
tampaknya lebih umum terjadi di wanita dibandingkan pria, penelitian
mengenai gangguan seksual pada perempuan masih sangat sedikit.
Bagan siklus disfungsi seksual pada wanita sebagai berikut :
Gambar 2.5 Siklus Difungsi Seksual Pada Wanita
Disfungsi seksual wanita secara tradisional terbagi menjadi
gangguan minat/keinginan seksual atau libido, gangguan birahi, nyeri atau
rasa tidak nyaman dan hambatan untuk mencapai puncak atau orgasme.
Disfungsi seksual wanita ini dibagi menjadi empat kategori yaitu:
1. Gangguan minat/keinginan seksual (desire disorders)
Yaitu berkurang atau hilangnya pikiran, khayalan tentang seks
dan minat untuk melakukan hubungan seks, atau takut dan
menghindari hubungan seks.
2. Gangguan birahi/perangsangan (arousal disorder)
Yaitu ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan
keterangsangan dan kenikmatan seksual secara subjektif, yang
ditandai dengan berkurangnya cairan atau lendir pada vagina
(lubrikasi).
3. Gangguan orgasme (orgasmic disorder)
Yaitu sulit atau tidak dapat mencapai orgasme, walaupun telah
ada rangsang seksual yang cukup dan telah mencapai fase arousal
4. Gangguan nyeri seksual (sexual pain disorder)
Gangguan nyeri seksual termasuk dispareunia, yaitu merasakan
nyeri saat melakukan senggama dan dapat terjadi saat masuknya
penis ke dalam vagina (penetrasi) atau selama berlangsungnya
hubungan seks, dan vaginismus yaitu terjadinya kontraksi atau
kejang otot-otot vagina sepertiga bawah sebelum atau selama
senggama sehingga penis sulit masuk ke dalam vagina.(Elvira,2016).
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan dan gejala
perimenopause
1. Aktifitas fisik
Tingkat aktifitas fisik berbanding terbalik dengan kadar estradiol pada
wanita di akhir transisi menopause. Tingkat aktifitas juga berbanding
terbalik dengan kadar hormon testoteron. Semakin tinggi tingkat aktifitas
fisik maka kadar estradiol dan testoteron pada wanita yang mengalami
masa transisi menopause akan semakin rendah. Adapaun hormon lainnya
tidak terpengaruh secara signifikan oleh aktifitas fisik yaitu luteinizing
hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Dan hal ini juga
berkaitan dengan gejala pada masa transisi menopause.
2. Jumlah kelahiran
Wanita nullipara akan memasuki masa peimenopause lebih awal
dibandingkan dengan wanita multipara. usia premenopause berkisar antara
46 sampai 50 tahun.
3. Oophorectomy
Wanita yang mangalami oophorectomy unilateral akan mengalami
perimenopause lebih
4. Siklus haid
Wanita dengan siklus haid yang akan memendek lebih awal memasuki
masa perimenopause.
5. Faktor sosial ekonomi
Insiden sindroma perimenopause 1,75 kali lebih tinggi dan umur
rata-rata dimulainya perimenopause 1,2 tahun lebih muda pada wanita
yang memiliki riwayat keadaan ekonomi yang sulit di masa kanak-kanak
dan dewasa dalam hidupnya bila dibandingkan dengan wanita yang tidak
mengalami kesulitan ekonomi dalam hidupnya. Kesulitan ekonomi
seumur hidup dapat mempengaruhi fungsi ovarium lebih kuat daripada
kesulitan ekonomi pada masa kanak-kanak atau dewasa saja21. Pada
wanita yang tidak bekerja dan memiliki tingkat pendidikan yang lebih
rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian menopause
lebih awal. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang lemah tersebut menjadi
faktor pemicu stres fisik dan sosial yang berhubungan dengan amenorea
dan disfungsi seksual.
6. Indeks masa tubuh
Sebuah penelitian pada wanita Spanyol menunjukkan bahwa obesitas
berhubungan dengan munculnya gejala menopause yang berat. Indeks
masa tubuh yang tinggi merupakan faktor predisposisi bagi seorang wanita
untuk lebih sering mengalami hot flushes.
Pada fase premenopause wanita yang mengalami obesitas memiliki
kadar hormon estradiol dan inhibin B yang secara signifikan lebih rendah
daripada wanita yang tidak mengalami obesitas. Kadar FSH pada wanita
obesitas secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang
tidak mengalami obesitas. Namun pada fase akhir transisi menopause
ekadar estradiol lebih tinggi pada kelompok wanita yang obesitas. Pada
wanita postmenopause kadar FSH yang lebih rendah ditemukan pada
kelompok wanita yang obesitas dibandingkan kelompok wanita yang tidak
obesitas. Obesitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi
perubahan hormonal selama masa transisi menopause yang tergantung
pada umur, ras, dan merokok. Namun mekanisme hal ini masih belum
begitu jelas.
Sebuah penelitian cross sectional dengan survey terhadap populasi
menemukan bahwa merokok dan BMI yang tinggi dapat memicu seorang
wanita untuk mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat23.
Penelitian lain menunjukkan wanita dengan Indeks Masa Tubuh 32kg/m2
lebih sering mengalami hot flushes dibanding kan dengan wanita yang
memiliki Indeks Masa Tubuh kurang dari 19kg/m2.
Hubungan antara hot flushes dan indeks masa tubuh mungkin hanya
pada wanita yang usianya lebih muda yaitu di awal memasuki masa
transisi menopause atau sepanjang masa transisi perimenopause (46-50
tahun). Di sisi lain, indeks masa tubuh yang tinggi dapat menjadi faktor
pelindung terhadap hot flushes pada wanita yang usianya lebih tua (usia
51-60) atau postmenopause dimana kadar estrogen telah berkurang secara
nyata dibandingkan wanita pada masa transisi menopause. Hal ini
dikarenakan adanya konversi androgen menjadi estrogen pada jaringan
lemak. Hipotesis klinis yang telah diterima secara luas adalah wanita
dengan berat badan yang lebih rendah akan mengalami hot flushes lebih
sering dibandingkan dengan wanita yang lebih gemuk.
7. Merokok
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa merokok memiliki hubungan
positif dengan gejala vasomotor. Merokok dapat memicu seorang wanita
untuk mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat. Pada wanita
mantan perokok, tidak memiliki peningkatan resiko untuk mengalami hot
flushes sedang atau berat apabila dibandingkan dengan wanita yang tidak
pernah merokok sama sekali. Namun demikian, peningkatan resiko
mengalami hot flushes ditemukan secara bermakna pada wanita yang
masih merokok di saat masa transisi menopause.
8. Status Perkawinan
Sebuah penelitian menemukan bahwa gejala kekeringan vagina secara
signifikan lebih ringan sebagaimana sering dilaporkan pada wanita yang
belum menikah, janda, dan wanita yang bercerai apabila dibandingkan
dengan wanita yang menikah atau masih memiliki suami.
E. Gejala- Gejala pre menopause (Mubarak, 2012)
Gejala- gejala menurt Mubarak di pengaruhi oleh 4 faktor antara lain :
1. Faktor Psikis
Perubahan-perubahan psikologik maupun fisik ini berhubungan
dengan kadar estrogen. Gejala yang menonjol adalah menonjol adalah
berkurangnya tenaga dan gairah berkurangnya kosntrasi dan kemapuan
akademik,serta timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung,
susah tidur,rasa kesepian,ketakutan keganasan, tidak sabar dan lain-lain.
Perubahan psikis ini berbeda-beda bergantung pada kemampuan seorang
wanita untuk menyesuaikan diri.
2. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik,kesehatan dan
pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik,akan mengurangi
beban fisiologis dan fisikologik.
3. Budaya Dan Lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah terbukti sangat
mempengaruhi wanita dalam penyesuaian diri dengan fase klimakterium.
4. Faktor Lain
Wanita yang belum menikah dan wanita karier, baik yang sudah atau
belum berumah tangga, riwayat menarche yang terlambat berpengaruh
terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang [Link] dan gejala
menopause mempunyai ciri-ciri khusus, baik tanda dan gejala
menopause karena mempunyai ciri-ciri khusus,baik tanda dan gejala
menopause karena perubahan fisik maupun karena perubahan psikilogis.
Gejala-gejala menepaouse disebabkan oleh perubahan kadar esterogen
dan progesterone. Karena fungsi ovarium berkurang, maka ovarium
menghasilakn lebih sedikit esterogen dan progesterone dan tubuh
memberikan reaksi. Beberapa wanita hanya mengalami sedikit gejala,
sedangkan wanita lain mengalami berbagai gejala yang sifatnya ringan
sampai berat (Proverawari,2010). Berkurangnya kadar esterogen secara
bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan menyesuaikan diri
terhadap perubahan hormon,tetapi pada beberapa wanita penurunan
kadar esterogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-
gejala yang hebat. Hail ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh
pengangkatan ovarium (Proverawati,2010).
F. Keluhan fisik yang dialami wanita premenopause (Aqila, 2010)
1. Ketidak teraturan siklus haid
Disini siklus pendarahan yang keluar dari vagina tidak teratur.
Pendarahan seperti ini terjadi terutama diawal [Link]
akan terjadi dalam rentang waktu bebarapa bulan yang kemudian akan
berhenti sama sekali. Gejala ini disebut gejala peralihan .
2. Kekeringan vagina
Gejala pada vagina muncul akibat perubahan yang terjadi pada
lapisan dinsing [Link] menjadi kering dan kurang elastis. Isi
disebabkan karena penurunan kadar esterogen. Tidak hanya itu, juga
muncul rasa gatal pada vagina. Yang lebih parah lagi adalah rasa sakit saat
berhubungan seksual, karena erubahan pada vagina, maka wanita
menopause biasanya rentan terhadap infeksi vagina. Intercourse yang
terjadi teratur akan menjaga kelembapan alat kelamin. Kekeringan vagina
terjadi karena leher Rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnta adalah kekuranagn esterom yang menyebabkan liang,vagina
menjadi lebih tipis,lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamian mulai
mengerut,keputihan,rasa sakit pada saat kencing (Aqila 2010)
G. Hal yang dilakukan pada saat melewati masa premenopause
1. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah dan
sayur
2. Berolahraga teratur
3. Makanan yang baik dan bergizi
4. Melakukan hobi
5. Mengurangi mengkosumsi kopi, the, meniman soda dan alcohol
6. Menghindari rokok
7. Tetaplah berkarya dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang
lain.
8. Berfikir bahwa menopause itu adalah sesuatu yang wajar
9. Terlibat dalam aktivitas-aktivitas keagamaan dan sosial.
10. Besilaturahmi dengan teman bersama untuk bertukar fikiran
11. Mengkomunikasikan masalah dengan pasangan
12. Tingkatkan ibadah (Aqila, 2010).
H. Pathway
Saat lahir,wanita memiliki
750,000 folikel ( dipengaruhi
usia,siklus haid,apoptosis)
Jumlah folikel akan
semakin menurun
Penuaan Penurunan
Ovarium tidak mampu
menjawab rangsangan
hipofisis untuk
menghasilkan
hormone steroid
Produksi
esterogen
menurun dan
kadar
gonadotrophim
menurun
Pembentukan folikel, ovulasi, korpus,
luteum, siklus ovarium berhenti secara
perlahan
Gangguan tidur dan Gangguan fungsi kandung kemih
hod flashes Terjadinya dan vagina
gangguan haid
Pathway Gangguan Haid Pada Pre Menopouse (Guyton, 2011)
ASUHAN KEBIDANAN
Hari/Tanggal : Selasa, 30 Juni 2022
Tempat pengkajian : Puskesmas Margadadi
Waktu : 11.00 WIB
A. Data Subjektif
1. Identitas
Istri Suami
Nama : Ny. F Nama : Tn. A
Umur : 49 tahun Umur : 43 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : Swasta
Alamat : [Link] Tahu RT02 Alamat : [Link] Tahu RT02
RW02 RW02
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengalami haid yang sedikit seperti bercak darah yang
lamanya 1-2 hari, badan terasa panas dan sakit disertai dengan pusing,
hal ini sudah terjadi selama 2 tahun terakhir.
38
3. Riwayat Perkawinan
Kawin 2 kali, kawin pertama kali umur 20 tahun, dengan suami sekarang
sudah 10 tahun.
4. Riwayat Haid
a. Menarche umur : 12tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Teratur/tidak : Teratur
d. Lamanya : 5-7 hari
e. Banyaknya : 3-4 kali ganti pembalut / hari
f. Dismenorhoe : Tidak pernah
5. Riwayat Ginekologi
a. Perdarahan diluar Haid : Tidak ditanyakan
b. Riwayat Keputihan : Ada
c. Riwayat perdarahan setelah berhubungan badan : Tidak ditanyakan
d. Riwayat nyeri saat berhubungan badan : Tidak ditanyakan
e. Riwayat adanya [Link] pada payudara dan alat kandungan :
Tidak ditanyakan
f. Lain-lain : Tidak ada
6. Riwayat Obstetri : memilik 1 orang anak dan tidak pernah keguguran.
7. Riwayat Keluarga Berencana
Jenis : Pil kombinasi
Lama : kurang lebih 10 tahun sampai sekarang.
Masalah : Tidak ada
8. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan ibu
Ibu mengatakan tidak menderita penyakit menurun seperti
hipertensi, DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung, serta
penyakit menular seperti hepatitis, TBC, HIV dan AIDS.
b. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dari keluarga ibu dan suami tidak menderita
penyakit menurun seperti hipertensi, DM, asma, dan penyakit kronis
seperti jantung, serta penyakit menular seperti hepatitis, TBC, HIV
dan AIDS.
9. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a. Nutrisi
Jenis yang dikonsumsi : Nasi, tahu, tempe, ikan, ayam, daun
kangkung, wortel, daunbayam.
Frekuensi : 3 x sehari
Porsimakan : 1 piring
Pantangan : Tidak ada
b. Eliminasi
BAB
Frekuensi : 1 kali/hari
Konsistensi : Lembek
Warna : Kuning kecoklatan
BAK
Frekuensi : 4-5 kali sehari
Warna : Kuning jernih
Bau : Pesing
c. Personal Hygiene
Frekuensi mandi : 2 x sehari
Frekuensi gosok gigi : 2 x sehari
Frekuensi ganti pakaian/jenis : Sesuai kebutuhan
d. Aktifitas
Masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mencuci piring, mencuci pakaian, dan memasak.
e. Tidur dan Istirahat
Siang hari : 1-2 jam
Malam hari : 6-7 jam
Masalah : Tidakada
f. Pola Seksual
Frekuensi : Tidak ditanyakan
Masalah : Tidak ada
10. Data Psikososial dan Spiritual
a. Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya : Khawatir
b. Ketaatan ibu beribadah : Shalat
c. Pengetahuan ibu tentang penyakit yang diderita : Tidak mengetahui
d. Hubungan sosial ibu dengan keluarga : Baik
e. Penentu pengambil keputusan dalam keluarga : Suami
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Composmentis
c. Berat badan : 56 kg
d. Tinggi badan : 155 cm
e. Tanda Vital : TD 130/90 mmHg Nadi 80x/menit
Suhu 36,7°C Respirasi 21x/menit
2. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan inspeksi dan palpasi
a. Kepala : Kulit kepala tampak bersih, tidak teraba benjolan yang
abnormal, rambu sedikit putih dan tidak rontok.
b. Muka : Tidak tampak pucat dan tidak tampak oedem
c. Mata : Tampak simetris, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak
ikterik
d. Telinga : Simetris, tidak ada pengeluaran serumen, tidak teraba
benjolan yang abnormal
e. Hidung : Tidak tampak polip dan tidak tampak pernapasan
cuping hidung
f. Mulut : Bibir tidak tampak pucat, tidak ada sariawan, tidak
tampak ada karies gigi
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis
h. Dada : Tampak simetris, tidak ada retraksi dada
i. Mamae : Tampak simetris, tidak ada benjolan yang abnormal
j. Perut : Tidak ada luka bekas operasi, tidak ada benjolan yang
abnormal
k. Ekstrimitas : Tidak teraba oedem dan varises
l. Genetalia : Tampak pengeluaran bercak darah haid
3. Pemeriksaan Penunjang : Tidak dilakukan
C. Analisa Data
1. Diagnosa Kebidanan : Ibu P1A0 dengan hipomenorea
2. Masalah : gangguan haid,panas tubuh,dan pusing.
3. Kebutuhan : Health education dan Konseling
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yaitu :
BB: 56 kg
TD : 130/90 mmHg,
Nadi : 80 x/m,
Respirasi : 21 x/m
Suhu : 36,7°C
Pada pemeriksaan genetalia, tampak bercak darah haid.
”ibu mengetahui hasil pemeriksaan”
2. Memberitahu ibu bahwa bercak darah haid yang di alami ibu adalah hal
yang normal dan menjelas kan penyebab bercak darah haid yang di alami
ibu yaitu karena itu adalah hal yang terjadi pada ibu premenopause
“ ibu mengerti penjelasan yang diberikan”
3. Menjelaskan kepada ibu tentang premenopause adalah Premenopause
adalah masa sekitar usia 46-50 tahun dengan dimulainya dengan siklus
yang tidak teratur,memanjang,sedikit atau banyak, yang kadang disertai
dengan rasa nyeri.
“ ibu mengerti penjelasan yang diberikan “
4. Menjelaskan tentang rasa panas dan pusing yang di alami adalah
merupakan tanda-tanda gejala yang di alami pada saat akan memasuki
masa premenopause.
” ibu mengerti penjelasan yang diberikan ”
5. Menganjurkan ibu untuk mengatasi keluhan dan lebih menjaga
kebersihan diri yaitu dengan cara :
a. Tingkatkan kebersihan mandi 2x sehari
b. Menggunakan pakaian dalam dari bahan katun, tidak ketat, dan
memiliki daya serap
c. Cara cebok yang benar yaitu dari arah vagina kebelakang
d. Selalu keringkan vulva setelah BAB dan BAK
e. Mengganti celana dalam setiap kali basah
f. Mengganti pembalut minimal 3x
“ ibu bersedia menjaga kebersihan diri”
6. Menganjurkan ibu untuk tidak menggunakan pemakaian sabun anti septic
yang berbau atau berbahan kimia.
“ ibu bersedia mengikuti anjuran
7. Menganjurkan pada ibu untuk memakan yang mengandung vitamian
seperti buah apel, anggur, jeruk, dan lain-lain dan sayuran wortel, tomat,
kedelai, slada, brokoli dan laian-lain. serta berolahraga seperti senam
lansia,senam dipagi hari dan menggerakan tangan kaki ketika bangun
tidur untuk mengatasi sakit pada badan ibu.
“ibu mengerti dengan anjuran yang telah disampaikan”
Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik
Jubaedah.S.S.T Mira Aryanti,[Link].,[Link]
Mahasiswa
Ecih Susilawati
DAFTAR PUSTAKA
Aqila, Smart, 2010. Bahagia di Usia Menopause. Yogyakarta: Rohima Press.
Departemen Kesehatan RI. 2012. Survei Demografi Kesehatan Indonesia dan
Angka Kematian Ibu {internet}. {diakses 2019 Maret 5}. Tersedia pada:
[Link]
[Link]
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. 2018. Profil Kesehatan Kota Banjarmasin
Tahun 2018. Banjarmasin: Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin.
Elvira, D. 2016. Disfungsi Seksual pada Perempuan. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Fritz MA, Speroff L. 2010. Clinical Gynecologic Endrocinology and Infertility.
Jakarta: Salemba Medika.
Guyton, Hall JE. 2011. Textbook of Medical Physiology 13th ed. Philadelphia
(PA): Elsevier, Inc.
Hidayat, A, 2010. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Kurmalasari, Andhyantoro. 2012. Kesehatan Reproduksi Untuk Kebidanan Dan
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta:
Salemba Medika.
Lisnani. 2010. Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Ibu Premenopause Dalam
Menghadapi Perubahan Pada Masalah Menopause Di Kelurahan Sari
Kecamatan Medan Denai.
[Link] {Diakses tanggal 03
maret 2019}
Manan E. 2013. Bebas dari Ancaman Disfungsi Seksual Khusus Wanita. Jakarta:
Buku Biru.
Mubarak. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep Dan Aplikasi Dalam
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Muslihatun. 2009. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
55
Nursalam, S. 2010. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: CV.
Agung Seto.
Proverawati, Atikah. 2010. Menopause dan Sindrome Premenopause.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Riwidikdo, H. 2009. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Rohima Press. Sastrawinata, S
.2014. Klimakterium dan Menopause. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Prawiroharjo.
Varney, Helen; Kriebs J.M; Gegor C.L. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume
4. Jakarta: EGC.
Wijayanti, D. 2009. Fakta Penting Seputar Kesehatan Reproduksi Wanita.
Yogjakarta: Rohima Press.
Wiknjosastro. 2010. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Edisi 1. Cet. 12. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawiroharjo.