TUGAS 1
KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
Oleh :
Ganjar Nugraha
041995671
PROGRAM STUDY PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TERBUKA
2023
1
1. Kawan-kawan mahasiswa, kita telah mengenal beberapa konsep dasar
dalam komunikasi antarpribadi. Jelaskan konsep dasar pada komponen
komunikasi, serta gambarkan dalam bentuk skema komunikasi.
Jawab:
Konsep dasar pada komponen komunikasi sebenarnya adalah proses
komunikasi yg memiliki tujuan menyampaikan informasi dan pesan sampai
informasi dan pesan tersebut bisa di terima oleh penerimanya seakurat mungkin,
dengan berbagai macam cara penyampaian.
Ditengah prosesnya tentu ada saja kekeliruan, atau miskomunikasi maka dari itu
agar konsep dasar ini bisa dilaksanakan dengan baik maka harus sesuai dengan
skema komunikasi antar manusia (DeVito, 2013).
Skema komunikasi Antarmanusia terdiri dari 8 komponen dari proses
komunikasi yang perlu di cermati oleh kita sebagai komunikator atau
penyampai informasi dan pesan, antara lain:
(1). Konteks (Lingkungan). Faktor ini sangat penting kita pahami, karena
kenyamanan ruangan, peranan seseorang dan tafsir budaya serta hitungan waktu
merupakan salah satu unsur lingkungan komunikasi.
Maka menurut saya kita harus melihat dan memperhatikan lingkungan tempat
kita memberikan informasi dan pesan. Contohnya ketika kita menyampaikan
informasi ditempat yg ramai dan banyak orang tentu akan sedikit sulit karena
kita harus membesarkan volume suara kita, atau contoh lain ketika kita
menginformasikan berita duka alangkah baiknya dilakukan di tempat yg sepi
atau kondisi yg tenang, karena itu mempengaruhi psikis si penerima informasi.
(2). Sumber-penerima. Komponen sumber-penerima memperlihatkan
keterlibatan seseorang ketika berkomunikasi bahwa ia adalah sumber yang juga
penerima. Maka dalam berkomunikasi kita harus menunjukkan bahwa kita
sendiri mengirim pesan, misalnya melalui berbicara, menulis, memberikan
isyarat tubuh atau tersenyum. Pada saat kita mengirim pesan, secara bersamaan,
ia juga menerima pesan. Pada saat kita berbicara dengan orang lain, maka
peneriam berusaha memandangnya untuk memperoleh tanggapan: dukungan,
pengertian, simpati, dan sebagainya; dan pada saat individu menyerap syarat-
isyarat non-verbal, ia juga sekaligus menjalankan fungsi penerima dalam
berkomunikasi.
2
Menurut saya kita sebagai informan harus saling mempunyai feedback positif,
jadi jangan hanya satu arah. Ketika kita berbicara usahakan penerima informasi
juga paham apa yg kita bicarakan, itu bisa dilihat dari gesture atau bisa juga
ditanyakan juga paham atau tidak apa yg kita katakan.
(3). Enkoding-dekoding. Ketika kita menjadi informan atau penerima, tentu saja
mengawali dengan proses komunikasi dengan mengemas pesan atau membuat
suatu idenya, setelah itu dijadikan ke gelombang suara bisa dengan suara yg
lembut, berapi-api, tegas, marah dan sebagainya. Kode yg dihasilkan ini
berlangsung melalui proses pengkodean atau dekoding.
Menurut saya pemberian kode ini merupakan hal yg penting ketika kita
memberikan informasi atau pesan, karena kita harus membedakan berbagai
macam penyampaian, ada kala ketika kita memberikan motivasi tentu harus
dengan nada yg tegas, agar penerima informasi tau dan merasakan semnangat
yg kita punya. Lalu ketika kita menyampaikan informasi duka tentu kita harus
menyampaikan dengan pelan dan lembut sebagai bentuk duka cita dari kita dan
agar penerima juga tau bahwa kita sedang berduka.
(4). Kompetensi Komunikasi. Ini menjadi gambaran terhadap kemampuan kita
berkomunikasi secara efektif, kompetensi ini mencakup pengetahuan tentang
peran lingkungan dalam mempengaruhi isi dan bentuk pesan komunikasi.
Menurut saya, kompetensi komunikasi ini terkait dengan skill kita sendiri, kita
harus mengembangkan komunikasi kita dengan belajar tentunya, agar apa yg
kita sampaikan bisa di terima dan tepat sasaran.
(5). Pesan dan Saluran. Pesan merupakan bentuk fisik yg kita sampaikan, ketika
kita berbicara maka yg dibicarakan itu adalah pesan, ketika kita menulis maka
apa yg ditulis kita itu adalah pesan.
Sementara saluran adalah media dari pesan tersebut, lewat mana suatu pesan itu
berjalan, saluran itu dipilih oleh sumber komunikasi.
Intinya menurut saya, ketika menyampaikan informasi pesan dan saluran ini
harus sesuai, contohnya ketika kita memberikan pesan himbauan gotong
royong, maka salurannya harus tepat yaitu menginformasikan kepada khalayak
umum bisa lewat speaker yg didengar oleh masyarakat banyak. Lalu contoh lain
3
apabila kita menjadi seoranh guru dan akan memberikan informasi yg berisi
tentang kekurangan dan kejelekan dari seoranh siswa, maka salurannya adalah
informasi secara pribadi, bisa dengan tatap mata atau telepon langsung, jari
tidak disampaikan secara umum.
(6). Umpan Balik dan Maju. Ini merupakan salah satu cara untuk menghindari
dan mengoreksi terjadinya salah paham dalam menerima informasi, disarankan
untuk menggunakan komunikasi interpersonal dan menghidupkan proses umpan
balik secara efektif. Umpan balik merupakan pengecekan tentang sejauh mana
sukses dicapai dalam mentransfer makna pesan sebagaimana dimaksudkan
semula.
Menurut saya umpan balik ini harus dilakukan, karena dengan umpan balik kita
bisa mengkoreksi diri atau mengkoreksi sejauh mana keakuratan penyampaian
kita, setelah itu kita bisa melakukan evaluasi dan pembelajaran diri.
(7). Gangguan. Ini merupakan komponen yang memberikan penyimpangan
sebuah pesan, Gangguan tentu akan menjadi rintangan dalam mengirim pesan
dan merintangi penerima dalam menerima pesan. Gangguan ini dapat berupa
fisik, psikologis dan semantik. Bukankah desingan suara mobil, pandangan atau
pikiran yang sempit dan penggunaan istilah yang menimbulkan arti yang
berbeda-beda, merupakan contoh dari masing-masing jenis gangguan yang
dapat mendistorsi pesan yang dimaksudkan dalam komunikasi.
Menurut saya gangguan ini akan sangat berpengaruh kepada informasi,
contohnya ketika kita sedang memberikan persentasi dan lewatlah sebuah motor
dengan knalpot bising, tentu itu akan memecah konsentrasi para pendengar.
(8). Efek Komunikasi. Di setiap peristiwa komunikasi selalu mempunyai
konsekuensi atau dampak atas satu atau lebih yang terlibat. Dampak itu berupa
perolehan pengetahuan, sikap-sikap baru atau memperoleh cara-cara/gerakan
baru sebagai refleksi psiko-motorik.
Menurut saya ini bisa disebut hasil dari apa yg kita sampaikan dari informaai
tersebut, apakah bermanfaat dan terlaksana atau tidak contohnya ketika kita
sebagai guru memberikan informasi bahwa setiap hari sabtu, diwajibkan
memakai seragam olahraga dari sekolah. Nah itu bisa dilihat ketika hari sabtu,
4
apakah para siswa memakai baju olahraga sekolah, atau tidak. Bisa dilihat
efeknya seperti apa.
2. Judi Brownell mengembangakn model HURIER untuk menjelaskan
tahapan dalam mendengarkan efektif, Jelaskan dan berikan contohnya
model HURIER tersebut.!
Jawab:
Judi Brownell mengembangkan model HURIER untuk menjelaskan tahapan
dalam mendengarkan efektif, tahap ini tidak perlu dilakukan secara berurutan,
kita tinggal konsisten melaksanakan dan mengulang tahapan ini apabila ingin
mendengarkan secara efektif berikut ini enam tahapan tersebut:
(1). Hearing atau Mendengarkan
Hearing ini adalah proses fisiologis dari penerimaan rangsangan suara. Kita
tidak dapat melakukan listening tanpa proses hearing terlebih dahulu, tapi kita
bisa saja melakukan hearing tanpa mendengarkan listening.
Contoh: Ketika kita sedang fokus menonton bola, ada teman kita yg berbicara,
kita tentu saja hearing terhadap pembicaraan tersebut namun kita tidak benar
benar mendengarkan (listening). Jadi kita hanya mendengar tapi tidak benar2
menyimak dan fokus mendengarkan.
(2). Understanding atau Memahami
Dalam tahap ini kita berusaha mengerti dan mendalami apa yang disampaikan
oleh orang lain, baik pikiran maupun intonasi penyampaian pesan yang
mewakili emosi. Hal-hal yang diperlukan dalam memahami adalah sebagai
berikut (DeVito, 2016):
a. Menghubungkan informasi terbaru dari komunikator dengan apa yang terjadi
saat ini di lapangan (fakta).
b. Memahami pesan komunikator dari inti pesan yang [Link]
menyimpulkan pesan sebelum komunikator selesai menyampaikan seluruh
pesannya.
5
c. Pertanyaan untuk mengklarifikasi. Jika memungkinkan, tanyakan contoh
nyata dari penjelasan atau pesan yang disampaikan komunikator.
d. Mengubah kalimat komunikator menjadi kalimat sendiri yg lebih mudah
dipahami.
Intinya menurut saya mendengarkan secara efektif bisa diukur dengan kita bisa
paham atau mengerti apa yg kita dengar, terkadang kita hanya mendengar saja
tapi tidak paham dengan apa yg di bicarakan, nah berarti kita belum
mendengarkan secara efektif.
Contoh: Ketika kita sedang mengikuti seminar, kita mendengarkan tentang
seminar bullying dan cara menangani anak yg terdampak bullying. Dan setelah
selesai seminar kita langsung bisa memberikan penanganan kepada anak yg
dibully ini. Berartti kita bisa paham apa yg disampaikan diseminar dan bisa
mempraktekannya sepulang seminar.
(3). Remembering atau Mengingat
Ketika mendengarkan, kita memerlukan ingatan agar setiap perkataan dan pesan
dari informan bisa kita ingat. Ingatan ini berguna ketika melakukan komunikasi
agar yang disampaikan sesuai, tidak keliru, atau rancu.
Hal yg dibutuhkan dalam mengingat, adalah (DeVito, 2016):
a. Identifikasi sumber ide dan referensi yg mendukung
b. Ringkasan pesannyg mudah diingat, namun perlu kehati-hatian dalam
meringkas, jangan sampai menghilangkan detail atau inti pesan atau bagian-
bagian lain yg penting.
c. Pengulangan nama dan kata kunci untuk mengingatkan diri sendiri, bila
memungkinkan, dengan suara yg keras.
Intinya menurut saya, ketika mendengarkan efektif, kita harus mengingat poin-
poin penting yg disampaikan, bagusnya mengingat persis seperti yg
disampaikan, namun apabila tidak bisa, minimal kita ingat poinnya dan bisa
mendeskripsikan dengan bahasa kita sendiri.
Contoh: Ketika kita akan mengajar, tentu kita akan membaca buku sebagai
bahan referensi kita mengajar, dan kita pasti akan mengingat poin penting dari
buku tersebut dan akan disampaikan ketika mengajar. Disisi lain, murid sebagai
6
pendenngar yg baik harus mendengar efektif dengan mengingat juga apa yg
disampaikan oleh pengajar tersebut.
(4). Interpreting atau Mengartikan
Proses ini terdiri dari dua bagian. Pertama, memperhatikan segala prilaku verbal
dan non verbal orang yg berbicara sehingga kita dapat menetapkan arti dari
pesan yang dikatakan orang tersebut.
Intinya kita harus bisa melihat dan memahami apa arti dari gesture dan cara
penyampaian dari pembicara, kita harus tahu dulu kondisinya, setelah itu baru
kita bisa melakukan interaksi selanjutnya.
Contoh: Ketika teman kita mengatakan "ATM ku isinya penuh sekali" dan
dengan gestur ceria dan berseri-seri, itu menandakan bahwa teman kita memang
sedang banyak uang, sehingga respon kita pun bisa dengan gestur senang.
Lalu ketika teman kita mengatakan "ATM ku isinya penuh sekali" dan dengan
gestur yg sedih, kesal dan sampai nangis, itu bisa jadi ungkapan sarkasme yg
bisa diartikan bahwa teman kita tidak punya uang, kita bisa memberi respon
dengan simpati dan mengajak sabar dengan kondisi yg ada.
(5). Evaluating atau Evaluasi
Evaluasi terdiri dari pengambilan kesimpulan. Kita harus mencoba untuk
mengevaluasi niat atau motif dari komunikator. Seringkali evaluasi ini terjadi
dalam keadaan tidak sadar atau muncul secara alami dalam bentuk kritik atau
analisis. Evaluasi merupakan upaya untuk menyamakan pesan dengan realitas
dan fakta yang terjadi. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi adalah:
a. Berikan evaluasi ketika telah benar-benar memahami inti pesan yang
disampaikan.
b. Asumsikan komunikator sebagai orang yang berniat baik dan berikan pula
sikap baik ketika meminta klarifikasi tentang hal-hal yang ingin kita ketahui
lebih detail.
c. Bedakan fakta dari kesimpulan, opini, dan interpretasi dari individu
komunikator.
7
d. Temukan segala bentuk kecurigaan, hal-hal yang menarik, atau anggapan
yang membuat komunikator terkesan tidak fair terhadap apa yang disampaikan.
Intinya ketika kita selesai mendengarkan, kita harus bisa mengevaluasi dari
perkataan tersebut, ya namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan,
sekalipun dari komunikator, pasti ada titik salahnya, nah itu yg harus di
evaluasi.
Contoh: Ketika kita sedang menyimak pernyataan dari pembawa berita, dan
pembawa berita menyampaikan bahwa semarang merupakan daerah di jawa
timur, kita secara naluri akan langsung mengkoreksi dan mengevaluasi, bahwa
semarang adalah daerah di jawa tengah. Itu merupakan bentuk dari hasil
mendengarkan secara efektif.
(6). Responding atau Tanggapan
Responding adalah proses dimana kita memberikan tanggapan kepada orang
yang berbicara. Terdapat dua fase dalam tahapan ini, Pertama, respons yang
ditunjukkan ketika orang tersebut masih berbicara. Biasanya berupa bentuk
komunikasi face-to-face non-verbal seperti menganggukkan kepala, tersenyum,
atau mengerutkan dahi. Fase lainnya adalah respons yang diberikan setelah
orang tersebut selesai berbicara. Biasanya dilakukan dengan komunikasi verbal
seperti mengajukan pertanyaan klarifikasi, memberikan saran dan kritik, atau
kata-kata yang memberikan dukungan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada
tahapan ini antara lain:
a. Memberi dukungan kepada pembicara dengan memberikan respons baik
berupa non-verbal maupun verbal. Respons lain dapat juga ditunjukkan melalui
media sosial seperti memberi komentar atau jempol “like” di Facebook.
b. Berani untuk memberikan komentar menurut pemikiran Anda sendiri dan
bertanggung jawab atas segala yang Anda katakan.
c. Hindari memberikan respons yang mencampuri urusan orang lain kecuali jika
Anda dimintai saran. Jangan mengambil insiatif untuk menyelesaikan masalah
orang lain karena sifatnya sensitif dan dapat menyinggung perasaan.
d. Berikan fokus Anda hanya pada orang yang sedang berbicara. Jangan
bermain handphone, melihat-lihat keadaan sekitar, dan melakukan tindakan
lainnya yang dapat mengalihkan perhatian Anda dari pembicara. Tataplah
matanya dan tunjukkan bahwa Anda memberikan seluruh perhatian untuk
mendengarkannya.
8
e. Jangan menganggap diri Anda sebagai pendengar serba tahu yang hanya
mendengar sedikit lalu mengetahui apa yang pembicara pikirkan dan akan
katakan selanjutnya. Tunjukkan rasa hormat Anda dengan mendengarkan
pembicara sampai selesai menyampaikan pikirannya.
Untuk sampai pada tahap responding, seorang pendengar yang baik harus
memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Membedakan bunyi-bunyi.
b. Membentuk suku-suku kata menjadi kata.
c. Mengidentifikasi kelompok-kelompok kata.
d. Mengidentifikasi unsur-unsur pragmatik, seperti ekspresi, teman bicara,
tempat, waktu, dan tujuan.
e. Memperhatikan aspek-aspek linguistik dan paralinguistik (intonasi atau
tekanan) dan aspek-aspek di luar linguistik.
f. Memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki yang berhubungan dengan isi
ujaran yang sedang disimak sehingga dapat memprediksi dan menangkap
makna dengan tepat.
g. Memahami kata-kata dan gagasan atau ide-ide pokok yang disampaikan
secara tersurat maupun tersirat.
Intinya menurut saya, respon adalah tanggapan dari kita baik itu lewat bahasa
tubuh, atau lewat perkataan langsung
Contoh: Ketika kita sedang mendengarkan perkataan dosen, dan ada perkataan
yg tidak sesuai dengan pikiran kita, otomatis secara gestur kita akan
mengernyutkan dahi, dan gestur selanjutnya tentu bertanya untuk memastikan
perkataan tersebut. Itu merupakan contoh respon.
Sumber:
9
Nurbani (2021) Komunikasi Antarpribadi. Universitas Terbuka: Tangerang
Selatan
10