0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
281 tayangan28 halaman

Asuhan Keperawatan Acute Coronary Syndrome

Pasien pria berusia 57 tahun mengalami nyeri dada, sesak napas, dan mual setelah aktivitas berat. Diagnosis awalnya sindrom koroner akut berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
281 tayangan28 halaman

Asuhan Keperawatan Acute Coronary Syndrome

Pasien pria berusia 57 tahun mengalami nyeri dada, sesak napas, dan mual setelah aktivitas berat. Diagnosis awalnya sindrom koroner akut berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH CASE BASED LEARNING

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


ACUTE CORONARY SYNDROME

Diajukan Sebagai
Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen Pengampu:
Yesi Hasneli, [Link]., MNS

Disusun Oleh:
Kelompok 1 (A 2020 2)

Abel Aprilia Putri (2011110484) Dinda Wulandari (2011110911)


Aliya Triliani (2011126851) Diva Adesyahpuri (2011126068)
Angeli Silvia Wati (2011135227) Diva Febrina Wilya (2011113511)
Angelina Victoria S (2011114356) Ega Minalita (2011126765)
Archel Olivia (2011113203) Ella Biisnilla (2011114359)
Avira Berlianna Salsa (2011136837) Fadila Agita Oktaviani (2011135225)
Bunga Aprilia (2011113561) Fadillah Andi Putri (2011135938)
Calvin Khan Nolip S (2011113469)

PRODI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
2023
KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum [Link]

Puji syukur atas kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat
dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Acute Coronary Syndrome
(Sindrom Koroner Akut)”. Hanya kepada-Nya penulis memohon pertolongan dan
kemudahan dalam segala urusan. Salawat dan salam penulis ucapkan kepada Nabi
Muhammad saw. yang telah membimbing pada jalan yang diridhai oleh Allah Swt.
Adapun tujuan penulis dalam membuat makalah ini adalah untuk melengkapi nilai
pada mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat Program A 2020 2. Harapan dari
penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, terutama dalam
meningkatkan pemahaman tentang Keperawatan Gawat Darurat. Adapun
penyusunan makalah ini masih ada kekurangan. Untuk itu, penulis memohon maaf
apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini. Penulis berharap kepada pembaca
makalah dapat memberikan kritik dan saran.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Pekanbaru, 21 Februari 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...........................................................................................4


B. Rumusan Masalah ......................................................................................5
C. Tujuan ........................................................................................................5
BAB II: PEMBAHASAN
A. STEP I Identidikasi Istilah .........................................................................6
B. STEP II Identifikasi Masalah .....................................................................8
C. STEP III Analisa Masalah .........................................................................9
D. STEP IV Skema .......................................................................................10
E. STEP V Learning Objectif .......................................................................11
F. STEP VI Mandiri .....................................................................................11
G. STEP VII Analisis Learning Objectif ......................................................11
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................26
B. Saran ...........................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................27

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Acute Coronary Syndrome (ACS) atau Sindrom koroner akut mengacu pada
konstelasi tanda dan gejala klinis yang disebabkan oleh iskemia miokard yang
memburuk. Tidak adanya kerusakan miokard, dinilai dengan mengukur kadar
biomarker jantung sehingga pasien dapat diklasifikasikan sebagai mengalami
angina tidak stabil (Griffin & Menon, 2018)

Data nasional yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan (2019)


menyebutkan bahwa prevalensi Sindrom koroner akut yang terdiagnosis oleh
prefesional kesehatan mencapai 1,5% dari penyakit tidak menular lainya, dengan
prevalensi kematian mencapai 12,9% dari penyebab kematian lainya (Kementerian
Kesehatan RI, 2019). Data Rumah Sakit Daerah dr Haryoto Lumajang
menunjukkan bahwa sepanjang bulan Januari – Agustus 2020 tercatat kasus jantung
sebesar 377 kasus serta kasus STEMI sebanyak 84 kasus (Rusdianti, 2019).

Uji klinis telah menyatakan manfaat terapi reperfusi dini pada pasien dengan
STEMI dan strategi invasif dini pada pasien dengan NSTEMI risiko tinggi oleh
karena itu, penilaian yang cepat dan akurat dari pasien dengan dugaan MI akut
sangat penting untuk manajemen yang optimal (Jeremias & Brown, 2019). Sindrom
koroner akut merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara maju.
Penyakit Jantung Koroner jenis infark miokard sendiri 3 merupakan penyebab
utama kematian di sebagian besar negara Barat. Prevalensi yang meningkat pesat
di negara berkembang, khususnya Asia Selatan dan Eropa Timur ditambah dengan
peningkatan insiden penyalahgunaan tembakau, obesitas, dan diabetes diprediksi
akan membuat penyakit kardiovaskular semakin meningkat. penyebab kematian
global utama pada tahun 2020.

Meskipun Penyakit Jantung Koroner pada pasien dengan arteri koroner normal
semakin dikenali, pembentukan plak aterosklerotik dalam arteri koroner dengan
gangguan lesi berikutnya, agregasi trombosit, dan pembentukan trombus tetap
menjadi penyebab utama sindrom koroner akut di manusia (Jeremias & Brown,

4
2019). Keberhasilan pertolongan penyakit jantung koroner sangat bergantung
kecepatan pertolongan pertama baik di tingkat masyarakat maupun petugas
kesehatan. Kesadaran penderita mengenal gejala-gejala serangan dan kecepatan
mendapat pertolongan sangat dibutuhkan sehingga mampu meminimalisir angka
kematian dan kecacatan yang diakibatkan oleh penyakit jantung koroner.

Risiko kematian tergantung pada banyak faktor termasuk usia penderita,


riwayat penyakit jantung koroner sebelumnya, adanya penyakit lain dan luasnya
infark. Luas infark miokard dapat diukur dengan beberapa metode. Pemakaian
metode yang paling sering digunakan sekarang adalah metode skoring QRS yang
dikembangkan oleh Selvester. Metode ini menggunakan kompleks QRS yang
didapat dari gambar hasil 5 rekaman 12-lead EKG standar dengan melihat
perubahan progresif komplek QRS. Selain gambaran abnormalitas
elektrokardiografi diagnosis pada sindrome koroner akut dapat ditegakkan minimal
dua kriteria dari tiga kriteria klinis diantaranya anamnesis dan peningkatan enzime
jantung yang salah satunya adalah troponin (Jeremias & Brown, 2019)

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi Acute Coronary Syndrome (ACS)?
2. Apa etiologi Acute Coronary Syndrome (ACS)?
3. Apa saja Manifestasi Klinis Acute Coronary Syndrome (ACS)?
4. Bagaimana Patofisiologi dan WOC Acute Coronary Syndrome (ACS)?
5. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gawat Darurat(Berdasarkan Teori dan
Berdasarkan Skenario CBL)?
C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui apa definisi Acute Coronary Syndrome (ACS)?
2. Untuk mengetahui apa etiologi Acute Coronary Syndrome (ACS)?
3. Untuk mengetahui apa saja Manifestasi Klinis Acute Coronary Syndrome
(ACS)?
4. Untuk mengetahui bagaimana Patofisiologi dan WOC Acute Coronary
Syndrome (ACS)?
5. Untuk mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat(Berdasarkan Teori dan Berdasarkan Skenario CBL)?

5
BAB II
PEMBAHASAN

SKENARIO

Owh..., Jantungku

Seorang pria, usia 57 tahun mengeluh nyeri dada seperti tertindih benda
berat yang tidak bisa dijelaskan lokasinya. Rasa nyeri menjalar hingga ke rahang
dan lengan, berlangsung 25 menit dan tidak membaik dengan istirahat. Keringat
dingin, sesak napas, sakit kepala dan pusing seperti ingin pingsan, mual dan muntah
2 kali, gelisah. Klien di diantar keluarga ke IGD. Hasil anamnesa di IGD: Tanda-
tanda vital BP: 190/130 mmHg, P: 125 x/i, RR: 37 x/i, T: 38. 9 C. denyut jantung
tidak teratur (aritmia). Klien dipasang monitor Holter untuk mencatat aktivitas
listrik jantung selama 24 jam. Klien memiliki riwayat merokok sejak SMA, obesitas
dan jarang olahraga.

Klien dilakukan pemeriksaan labor (enzim jantung dan iso enzim) CKMB,
Troponin I dan T. Trigliserida serum 488 mg/dl. Hasil EKG terlihat depresi ST dan
inversi T. Pasien mendapatkan terapi: morfin, oksigen, Nitrat sub lingual, Aspirin
160-325 mg. Rencana akan dilakukan pemeriksaan Angiografi Jantung dan akan
dilakukan kateterisasi jantung.

A. STEP I Identifikasi Istilah


1. Nyeri dada
Arti: Kondisi ketika dada terasa seperti tertusuk, perih, atau tertekan.
2. Keringat dingin
Arti: Kondisi berupa keluarnya keringat berlebih dari dalam tubuh dan
bukan diakibatkan oleh aktivitas fisik maupun temperatur udara.
3. Sesak napas
Arti: Kondisi yang terjadi saat pernapasan terasa sulit, tidak nyaman, atau
cepat.
4. Sakit kepala

6
Arti: Rasa sakit atau nyeri di kepala yang bisa muncul secara bertahap
atau mendadak.
5. Pusing
Arti: Sensasi seperti berputar, kliyengan, melayang, atau kondisi ketika
kamu merasa akan pingsan.
6. Pingsan
Arti: Hilang kesadaran sementara yang terjadi secara tiba-tiba selama
beberapa detik atau menit.
7. Mual
Arti: Rasa ingin muntah dan tidak nyaman di perut.
8. Muntah
Arti: Kondisi ketika isi lambung keluar secara paksa melalui mulut.
9. Gelisah
Arti: Rasa tidak nyaman saat ada yang menghalangi kamu untuk
melakukan sesuatu, baik itu istirahat maupun berkegiatan.
10. Aritmia
Arti: Detak jantung yang tidak normal, tidak beraturan, terlalu cepat, atau
terlalu lambat.
11. Monitor Holter
Arti: Suatu pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas jantung
selama 24-48 jam atau lebih menggunakan perangkat portabel.
12. Merokok
Arti: Suatu kebiasaan menghisap rokok yang dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari
13. Obesitas
Arti: Kondisi yang menggambarkan seseorang memiliki badan berlebih,
kegemukan, dan mengandung banyak lemak pada tubuhnya.
14. Troponin
Arti: Protein yang menjadi bagian dari otot jantung dan otot rangka,
seperti troponin I dan T.
15. Morfin

7
Arti: Obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan intensitas sedang
hingga parah, seperti nyeri pada serangan jantung.
16. Terapi oksigen
Arti: Pengobatan yang dapat membantu orang bernapas dan
mendapatkan asupan oksigen cukup.
17. Aspirin
Arti: Obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik,
antipiretik, dan anti-inflamasi.
18. Angiografi jantung
Arti: Pemeriksaan untuk melihat kondisi pembuluh darah koroner di
jantung.
19. EKG
Arti: Pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik
jantung.
20. Kateterisasi jantung
Arti: Prosedur medis yang bertujuan untuk mendeteksi kondisi jantung
dengan menggunakan alat menyerupai selang tipis yang dimasukkan ke
dalam pembuluh darah vena atau arteri di daerah leher, selangkangan,
dan tangan kemudian diarahkan ke jantung.
21. Enzim jantung
Arti: Enzim yang berperan dalam bagian dari kerja otot jantung. Saat
terjadi kerusakan pada otot jantung, seperti serangan jantung, infeksi
pada jantung maka kadar enzim jantung ini akan meningkat dalam aliran
darah.
22. Isoenzim
Arti: Produk dari gen-gen yang homolog sehingga belum tentu berasal
dari lokus yang sama.

B. STEP II Identifikasi Masalah


1. Mengapa nyeri di dada rasa sakitnya dapat menjalar ke rahang dan
lengan?
2. Apa penyebab terjadinya denyut jantung tidak teratur?

8
3. Apa alasan dipasangnya monitor holter pada pasien tersebut?
4. Apa yang dilakukan jika hasil ekg pasien depresi ST dan investi T?
5. Bagaimana cara pemeriksaan angiografi jantung?

C. STEP III Analisis Masalah


1. Mengapa nyeri di dada rasa sakitnya dapat menjalar ke rahang dan
lengan?
Jawaban: karena banyak penyebab rasa sakitnya hingga menjalar ke
lengan dan rahang salah satunya yang sering diketahui terdapat masalah
pada jantung dan juga akibat aliran darah tidak mendarai arteri coronaria.
2. Apa penyebab terjadinya denyut jantung tidak teratur?
Jawaban: banyak penyebab denyut jantung tidak teratur diantaranya
karena ada masalah pada jantung tersebut, terjadinya keseimbangan
kadar elektrolit dalam darah, adanya perubahan pada otot jantung, dll.
3. Apa alasan dipasangnya monitor holter pada pasien tersebut?
Jawaban: tadi dikatakan bahwasannya pasien mengalami denyut jantung
tidak teratur atau disebut aritmia, jadi monitor hotler adalah salah satu
alat yang dapat merekam aktivitas jantung seperti EKG dan biasanya
dilakukan kepada pasien yang mengalami masalah irama jantung.
4. Apa yang dilakukan jika hasil ekg pasien depresi ST dan investi T?
Jawaban: dengan segera memberikan terapi dyslipidemia, analgesic:
morfin, pemberian obat, management pasien dengan istirahat yang
nyaman, pemberian oksigen
5. Bagaimana cara pemeriksaan angiografi jantung?
Jawaban: Angiografi jantung atau angiografi koroner dilakukan
dengan menyuntikkan cairan kontras ke dalam pembuluh darah jantung.
Dengan bantuan cairan kontras, mesin foto Rontgen dapat menangkap
rangkaian gambaran pembuluh darah jantung secara jelas, beserta aliran
darahnya, dan menampilkannya di monitor.

9
D. STEP IV Mind Mapping

Pria berusia 57 tahun

Di antar keluarga ke IGD

Data Subjektif: Data Objektif:

• Klien mengatakan nyeri di dada • Klien tampak berkeringat dingin


• Klien mengatakan rasa nyerinya • Klien tampak gelisah
hingga menjalar ke rahang dan • Klien tampak sesak napas
lengan • Hasil anamnesa: TTV (BP: 190/130
• Klien mengatakan sakit kepala, mmHg, P: 125x/I, RR: 37x/I, S:
sesak napas, mual dan muntah, dan 38,9 C), denyut jantung aritmia
pusing seperti ingin pingsan • Hasil pemeriksaan labor: (CKMB,
Troponin I dan T, Trigliserida
serum 488 mg/dl)
• Hasil EKG: terlihat depresi ST dan
Inversi T

Riwayat Klien:

• Perokok
• Jarang olahraga
• obesitas

Terpasang monitor Holter

Pengobatan yang diberikan untuk klien:

• Terapi: morfin, oksigen


• Nitrat sub lingual, aspirin 160-325 mg

Acute Coronary Syndrome (Sindrom Koroner Akut)

Tindakan selanjutnya

Pemeriksaan Angiografi jantung Kateterisasi jantung

10
E. STEP V Learning Objectif
1. Definisi Acute Coronary Syndrome (ACS)
2. Etiologi Acute Coronary Syndrome (ACS)
3. Manifestasi klinis Acute Coronary Syndrome (ACS)
4. Patofisiologi & WOC Acute Coronary Syndrome (ACS)
5. Asuhan Keperawatan Gawat Acute Coronary Syndrome (ACS)
a) Pengkajian keperawatan
b) Diagnosa keperawatan
c) Intervensi & rasional keperawatan

F. STEP VI Mandiri
Mandiri

G. STEP VII Analisis Learning Objective


1. Definisi
Sindrom koroner akut atau acute coronary syndrome adalah kondisi
di mana aliran darah menuju ke jantung berkurang secara tiba-tiba. Nyeri
dada seperti tertindih benda berat merupakan bentuk gejala paling umum
dari kondisi ini.

2. Etiologi
Etiologi terjadinya SKA atau disebut juga dengan Acute Coronary
Syndrome (ACS) adalah aterosklerosis yang ruptur sehingga
menyebabkan trombosis intravaskular dan gangguan suplai darah
miokard. Aterosklerosis adalah kondisi patologis dengan ditandai oleh
endapan abnormal lipid, trombosit, makrofag, dan leukosit diseluruh
lapisan tunika intima dan akhirnya ke tunika media (Majid 2008; Myrtha
2012 dalam Prihandana, 2013). Sumbatan pada arteri koroner ini yang
menyebabkan terhambatnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung.
Jika terhambatnya aliran darah ini berlansung lebih dari beberapa menit,
maka jaringan jantung akan mati (Nugroho & Putri, 2016).

11
3. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari SKA adalah adanya nyeri dada yang khas,
perubahan EKG, dan peningkatan enzim jantung. Nyeri dada khas SKA
dicirikan sebagai nyeri dada di bagian substernal, retrosternal dan
prekordial. Karakteristik seperti ditekan, diremas, dibakar, terasa penuh
yang terj adi dalam beberapa menit. Nyeri dapat menjalar ke dagu, leher,
bahu, punggung, atau kedua lengan. Nyeri disertai rasa mual,
sempoyongan, berkeringat, berdebar, dan sesak napas. Selain itu
ditemukan pula tanda klinis seperti hipotensi yang menunjukkan adanya
disfungsi ventrikular, hipertensi dan berkeringat yang menunjukkan
adanya respon katekolamin, edema dan peningkatan tekanan vena jugular
yang menunjukkan adanya gagal jantung (Muttaqin, 2009; Pramana, 2011
dalam Prihandana 2013).

4. Patofisiologi & WOC


Sindrom Koroner Akut disebabkan karena ketidakseimbangan
pasokan dan kebutuhan oksigen miokard yang menyebabkan nekrosis
miokard. Penyebab utama hal ini terjadi karena adanya faktor yang
mempengaruhi arteri koroner, tetapi juga dapat terjadi sebagai akibat dari
proses sekunder seperti hipoksemia atau hipotensi dan faktor-faktor yang
meningkatkan kebutuhan oksigen miokard. Penyebab yang paling umum
adalah pecah atau erosi plak aterosklerotik yang mengarah pada
penyelesaian oklusi arteri atau oklusi parsial dengan embolisasi distal dari
bahan trombolitik.
Banyak episode dari iskemia miokard umumnya dipercaya berasal
dari penurunan mutlak dalam aliran darah miokard regional dibawah
level-level paling dasar, dengan subendokardium membawa sebuah
beban terbesar dari defisit aliran dari epikardium, apakah dipicu oleh
sebuah penurunan besar dalam aliran darah koroner atau sebuah
peningkatan dalam kebutuhan oksigen. Beragam sindroma koroner akut
membagikan sebuah substrat patologi yang lebih-atau-kurang umum.
Perbedaan-perbedaan presentasi klinis dihasilkan secara besar dari

12
perbedaan-perbedaan dalam besaran oklusi koroner, durasi oklusinya,
pengaruh berubahnya aliran darah lokal dan sistemik, dan kecukupan
kolateral-kolateral koroner.
Pada pasien dengan angina tak stabil, banyak episode iskemia saat
beristirahat yang muncul tanpa perubahan-perubahan diatas pada
kebutuhan oksigen miokardium namun dipicu oleh penurunan primer dan
episodik dalam aliran darah koroner. Perburukan gejala gejala iskemik
pada pasien dengan penyakit arteri koroner stabil bisa dipicu oleh faktor
faktor ekstrinsik seperti anemia parah, tirotoksikosis, takia ritmia
akut,hipotensi, dan obat-obat yang mampu meningkatkan kebutuhan
oksigen miokardium; bagaimanapun dalam banyak kasus, tidak ada
pemicu eksternal yang jelas yang dapat diidentifikasi. Pada pasien-pasien
ini yang merupakan mayoritas evolusi dari angina yang tak stabil dan
komplikasi komplikasi klinisnya adalah hasil dari sebuah kompleks yang
saling mempengaruhi yang melibatkan plak aterosklerosis koroner dan
stenosis, pembentukan trombus trombosis fibrin, dan bunyi vaskular
abnormal. Beberapa studi menunjukkan bahwa plak ateroskelosis
menyebabkan sindroma koroner akut tak stabil dengan ciri memiliki
sebuah fisura atau ruptur dalam topi fibrosa-nya, sangat sering dibagian
bahu (persimpangan bagian dinding arteri yang normal dan segmen
bantalan-plak). Plak-plak ini cenderung memiliki topi-topi fibrosa
aselular yang diinfiltrasikan dengan sel-sel busa atau makrofag dan kolam
eksentrik inti lipid yang lembut dan nekrotik. Studi-studi klinis dan
angiografi menunjukkan bahwa plak fisura mengakibatkan angina tak
stabil atau infark miokard akut yang tidak hanya muncul pada area
stenosis aterosklerosis parah, namun juga lebih umum pada stenosis
koroner minimal. Rentetan observasi angiografi telah menunjukkan
bahwa perkembangan dari angina stabil ke tak stabil berkaitan dengan
perkembangan penyakit aterosklerosis pada 60-75% pasien. Hal ini
mencerminkan episode-episode yang berlanjut dari mural trombosis dan
penggabungan dalam plak-plak yang mendasar. Studi-studi ini dan studi-
studi lainnya telah menunjukkan bahwa awalnya lesi-lesi koroner

13
menutupi area arteri koroner kurang dari 75% dan mengakibatkan angina
yang tak stabil atau infark miokard; lesi-lesi menutupi lebih dari 75%
yang kemungkinan mengakibatkan oklusi total, namun kurang mungkin
mengakibatkan infark miokard, mungkin karena kemungkinan
perkembangan darah vesel kolateral dalam arteri-arteri stenotik yang
parah. Lebih lanjut lagi, pemodelan positif kembali keluar (efek glagov)
dari segmen-segmen arteri koroner yang mengandung plak-plak
aterosklerosis besar dapat meminimalkan kompromi luminal dan
menaikkan kerentanan terhadap gangguan plak (Rampengan, 2015).

14
5. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat (Berdasarkan Teori & Berdasarkan
Skenario CBL)
a) Pengkajian keperawatan
1) Pengkajian primer dan sekunder
1. Identitas Pasien
• Nama : Tn. X
• Usia : 57 tahun
• Jenis kelamin : laki-laki
• Diagnosa medis : Acute Coronary Syndrome (Sindrom
Jantung Akut)
2. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri dada
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh nyeri dada seperti tertindih benda berat yang
tidak bisa dijelaskan lokasinya. Rasa nyeri menjalar hingga ke
rahang dan lengan,berlangsung 25 menit dan tidak membaik
dengan istirahat.
4. Respirasi
• Pasien terlihat sesak napas
• Denyut jantung tidak teratur (aritmia)
• RR: 37 x/i
5. Sirkulasi:
• Pasien mengeluhkan sakit kepala dan pusing seperti ingin
pingsan
• Pasien tampak keringat dingin
• Pasien tampak gelisah
• TD: 190/130 mmHg
• P: 125 x/i
• T: 38. 9 C
• Hasil EKG terlihat depresi ST dan inversi T
6. Head to toe
Jantung: auskultasi denyut jantung tidak teratur (aritmia)

15
7. Aktivitas/istirahat
Rasa nyeri menjalar hingga ke rahang dan lengan, berlangsung
25 menit dan tidak membaik dengan istirahat.
8. Makanan/cairan
Pasien mual dan muntah 2 kali
2) Pola kebiasaan sehari-hari
Memiliki riwayat merokok sejak SMA, obesitas, pasien
mengatakan jarang olahraga.
3) Hasil pemeriksaan labor (enzim jantung dan iso enzim) CKMB,
Troponin I dan T. Trigliserida serum 488 mg/dl
4) Terapi dokter : morfin, oksigen, Nitrat sub lingual, Aspirin 160-
325 mg

b) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul menurut Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia (SDKI) tahun 2016 adalah :
1. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan
frekuensi jantung
2. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen pencedera
fisiologik/biologic
3. Intoleran aktifitas berhubungan dengan penurunan suplai dan
kebutuhan oksigen

c) Intervensi & rasional keperawatan

N Diagnosa Rencana Keperawatan


O Keperawa Tujuan dan Intervensi Rasional
tan Kriteria Hasil
1. Resiko Tujuan: Perawatan 1. penurunan
penurunan Jantung (I curah jantung
Setelah
curah 01075) dapat
dilakukan
jantung ( Observasi diidentifikasi
intervensi

16
D0011) keperawatan 1.1. Identifikasi melalui gejala
berhubung selama 3 x tanda/gejala yang muncul
an dengan 24 jam primer meliputi
Perubahan Curah penurunan dyspnea,
frekuensi jantung curah kelelahan,
jantung (L02008) jantung edema,
Meningkat (meliputi ortopnea, dan
dengan dispnea, adanya
kriteria hasil kelelahan, peningkatan
: edema, cvp
ortopnea, 2. tekanan
1. Kekuatan
darah pada
nadi perifer paroxysmal n
pasien dengan
meningkat octurnal
curah jantung
dyspnea,
2. Ejection
perlu untuk
peningkata
fraction dimonitor
n CVP
(EF) karena penting
meningkat 1.2. Identifikasi untuk
tanda/gejala membantu
3. Cardiac
sekunder menegakkan
Index (CI)
penurunan diagnostic
meningkat
curah 3. nyeri dada
4. Left
jantung ( yang muncul
ventricular meliputi pada pasien
Stroke Work peningkata curah jantung
Index n berat biasanya
(LVSWI) badan, memicu
meningkat hepatomega adanya
5. Stroke li, distensi kelainan yang
Volume vena tejadi berkaitan
Index (SVI) jugularis, dengan system
meningkat palpitasi, coroner.

17
6. Palpitasi ronkhi 4. nilai
menurun basah, laboratorium
oliguria, sangat
7. Tekanan
batuk, kulit diperlukan
darah
pucat untuk
membaik
menegakkan
1.3. .Monitor
diagnostic
tekanan
5. posisi semi
darah
fowler atau
(termasuk
fowler
tekanan
diberikan agar
darah
klien nyaman
ortostatik,
dan membuat
jika perlu
sirkulasi darah
1.4. .Monitor lancar
intake dan 6. gaya hidup
output yang sehat
cairan dapat

1.5. Monitor membantu

berat badan perubahan pola

setiap hari hidup,

pada waktu sehingga

yang sama pasien dapat


tetap ada dalam
1.6. Monitor saturasi
ruang lingkup
oksigen
sehat jika gaya
1.7. Monitor hidup diubah
keluhan menjadi lebih
nyeri dada sehat.
(mis, 7. antiaritmia
intensitas, adalah obat
lokasi, yang

18
radiasi, digunakan
durasi, untuk
presivitasi menangani
yang kondisi
mengurangi aritmia.
nyeri)

Terapeutik

1.8. Posisikan
klien semi-
fowler atau
fowler
dengan kaki
ke bawah
atau posisi
nyaman

1.9. Berikan diet


jantung
yang sesuai
(mis, batasi
asupan
kafein,
natrium,
10kolestero
l dan
makanan
tinggi
lemak)

1.10. Berikan
terapi
relaksasi

19
untuk
menguran
gi stres,
jika perlu

1.11. Berikan d
ukungan
emosional
dan
spiritual

1.12. Berikan
oksigen
untuk
memperta
hankan
saturasi
oksigen
>94%

Edukasi

1.13. Anjurkan
beraktivita
s fisik
sesuai
toleransi

1.14. .Anjurkan
berhenti
merokok

Kolaborasi

1.6. .Kolaborasi
pemberian

20
antiaritmia,
jika perlu

2. Nyeri Tujuan: Menejemen Nyeri NIC Label:


akut(0077) (I08238) [Link]
telah
berhubung Nyeri
dilakukan Observasi
an dengan
intervensi
Agen 2.1. Identifikasi, 1)Memberikan
keperawat
cedera lokasi nyeri, perawatan
an selama
biologik karekteristik, dengan tepat
3 x 24
durasi, frekwensi 2)Membantu
jam maka
kualitas pasien dalam
skala nyeri
intensitasnyeri pemenuhan
menurun
dengan 2.2. Identifikasi skala terapi obat yang
nyeri telah ditentukan
kriteria
3)Memberi
hasil : 2.3. Identifikasi respon
informasi
1 Keluhan nonverbal
tentang nyeri
nyeri 2.4. Identifikasi agar pasien/
menurun faktor Keluarga

2 .Meringis yang mengetahui

menurun memperberat dan penyebab,


memperingan berapa lama
3 Gelisah
nyeri nyeri dirasakan.
menurun
4)Mengatasi
2.5. Identifikasi
4 kesulitan nyeri
berpengaruh
tidur menggunakan
nyeri pada
menurun teknik
kualitas hidup
nonfarmakologi
5 Frekwens
Terapeutik dengan
i nadi
membaik 2.6 Berikan teknik mendistraksi
relaksasi napas dalam
6 Polanapa

21
s contoh BENSON 5)Agar
membaik kebutuhan
2.7. Fasilitasi istirahat
istirahat/tidur
Tekanan darah tidur
terpenuhi
membaik
Edukasi

2.8. Anjurkan [Link]

memonitor nyeri Obat

secara mandiri
1)Pemberian
Kolaborasi
obat-obatan
Kolaborasi pemberian terhadap pasien
analgesic dengan
mengikuti
standar SOP
yang ada
2)Agar menjaga
keakuratan
dalam
pemberian obat
dengan
kepatuhan lima
benar
3)Sebelum
pemberian obat
penting untuk
mengecek
kembali apakah
obat yang
diberikan sesuai
dengan
identitas dan

22
resep obatyang
akan diberikan
4)Memberi
informasi
mengenai jenis
serta alasan
pemberian obat
pasien dalam
pemberian
terapifarmakolo
gi
5)Membantu
kliendalam
memenuhi
kebutuhan
terapi
farmakologi
6)Untuk
mencegah
terjadinya salah
pemberian obat
dan efek
samping yang
mungkin terjadi
dari obat yang
tidak diberi
label
3. Intoleran Setelah Manajemen Energi (I. 1. Untuk
aktifitas dilakukan 05178) mngindariterjad
berhubung intervensi inya letih.
3.1 Identifikasi
an dengan keperawat 2. Membantu
gangguan fungsi
an selama derajat

23
immobilita 3 x 24 tubuh yang dekompensasi
s fisik jam, maka, mengakibatkan jantung
toleransi kelelahan pulmonal
aktifitas penurunan TD,
3.2 Monitor kelelahan
meningkat takikardia,
fisik dan emosional
dengan disritmia,
kriteria 3.3 Monitor pola dan takipnea adalah
hasil: jam tidur indikasi

3.4 Monito lokasi dan intoleransi


1. Kemud
ketidaknyamanan jantung
ahan
selama melakukan terhadap
melaku
aktivitas aktivitas
kan
aktivita 3.5 Terapeutik
[Link]
s sehari-
3.6 Sediakan yang berlebihan
hari
lingkungan yang akan
mening
nyaman dan memperburuk
kat
rendah stimulus keadaan klien.
2. Toleransi (mis. Cahaya, 2. Jika
menaiki suara, beraktivitas
tangga kunjungan) dengan teratur

3. Kekuatan maka terhindar


3.7 Lakukan
tubuh dari cidera
latihan
bagian rentang gerak
atas 1. Untuk
pasif dan/atau
bertanggung
4. Kekuatan aktif
jawab terhadap
tubuh 3.8 Berikan
kesehatan
bagian aktivitas
sendiri tentang
bawah distraksi
tehnik
5. Keluhan yang perawatan diri
lelah menenang
yang akan

24
6. Dispnea kan meminimalkan
saat konsumsi
3.9 Fasilitasi duduk
aktivitas oksigen.
di sisi tempat
[Link]
7. Dispnea tidur, jika tidak
bertanggung
setelah dapat berpindah
jawab terhadap
aktivitas atau berjalan
kesehatan
Edukas
8. Aritmia sendiri tentang
saat 3.10 Anjurkan tirah manajemen
aktivitas baring waktu untuk

9. Aritmia 3.11 Anjurkan mencegah

setelah melakukan kelelahan.

aktivitas aktivitas
secara 1. Dengan
10. Sianosis
bertahap melakukan
11. Perasaan terapi fisik
3.12 Anjurkan
lemah dapat
menghubungi
menghilangkan
12. Frekuensi perawat jika
rasa letih dan
nadi tanda dan
lemah pada
13. Tekanan gejala
klien.
darah kelelahan
2. Diet adalah
tidak
14. Saturasi salah satu cara
berkurang
oksigen penatalaksanaa
Kolaborasi n yang
Frekuensi
dilakukan untuk
napas 3.13 Kolaborasi dengan
mengatasi klien
ahli gizi tentang cara
dengan masalah
meningkatkan asupan
pada jantung
makanan diet jantung

25
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Acute Coronary Syndrome (ACS) atau Sindrom koroner akut
mengacu pada konstelasi tanda dan gejala klinis yang disebabkan oleh
iskemia miokard yang memburuk. Tidak adanya kerusakan miokard, dinilai
dengan mengukur kadar biomarker jantung sehingga pasien dapat
diklasifikasikan sebagai mengalami angina tidak stabil (Griffin & Menon,
2018). Uji klinis telah menyatakan manfaat terapi reperfusi dini pada pasien
dengan STEMI dan strategi invasif dini pada pasien dengan NSTEMI risiko
tinggi oleh karena itu, penilaian yang cepat dan akurat dari pasien dengan
dugaan MI akut sangat penting untuk manajemen yang optimal (Jeremias &
Brown, 2019). Sindrom koroner akut merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas di negara maju. Penyakit Jantung Koroner jenis
infark miokard sendiri 3 merupakan penyebab utama kematian di sebagian
besar negara Barat. Prevalensi yang meningkat pesat di negara berkembang,
khususnya Asia Selatan dan Eropa Timur ditambah dengan peningkatan
insiden penyalahgunaan tembakau, obesitas, dan diabetes diprediksi akan
membuat penyakit kardiovaskular semakin meningkat. penyebab kematian
global utama pada tahun 2020.

B. Saran
Makalah ini diharapkan mampu menambah pengetahuan pembaca
tentang Asuhan Keperawatan pada Pada Pasien Acute Coronary Syndrome.
Penulis menyadari banyak sekali kesalahan dan jauh dari kata
kesempurnaan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
dosen dan pembaca mengenai pembahasan dan penulisan dalam makalah.

26
DAFTAR PUSTAKA

Asikin, M., Nuralamsyah, M. & Susaldi. (2016). Keperawatan Medikal Bedah


Sistem Kardio Vaskular, Jakarta: Erlangga.

Ariyanto & Putri, Novi. (2019). Laporan Studi Kasus Pada Pasien Dengan Sindrom
Koroner Akut Di Ruang ICCU RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah

Klaten. [Link]

Aspiani, Reni Yuli. (2017). Buku Ajar Keperawatan Klien Gangguan


Kardiovaskuler Aplikasi NIC dan NOC. Jakarta: EGC.

Erita, Mahendra, Donni., & Adventus. (2018). Buku Petunjuk Praktikum


Keperawatan Gawat Darurat Lanjutan 1. Prodi Diploma Tiga

Keperawatan Fakultas Vokasi UKI. [Link] :ES-036-KGDMB-PKIV-


2018.

Fauziyah, Hikmatul., Sudirman., & Sudiarto. (2021). Asuhan Keperawatan

Intoleransi Aktivitas Pada Klien Congestive Heart Failure (CHF) Di


RSUD Soewondo Kabupaten Pati. DIII Keperawatan Semarang.
[Link]

Goyal, Amandeep., Zeltser, Roman., dan Gunn, Anya A. (2022). Unstable Angina
(Nursing). In: StatPearls [online]. Treasure Island (FL). PMID:

33760544. Bookshelf ID: NBK568785.

[Link]
article17559_s2_

Juzar, D. A., Danny, siska S., Irmalita, Tobing, D. P., Firdaus, I., & Widyantoro,

B. (2018). Pedoman Tatalaksana Sindrom Koroner Akut. Pedoman

Tatalaksan Sindrome Koroner Akut (p.76).

[Link]

27
Kasan, Nur., dan Sutrisno. (2020). Efektifitas Posisi Semi-fowler terhadap
Penurunan Respiratori Rate Pasien Gagal Jantung Kronik (CHF) Di

Ruang Lily RSUD Sunan Kalijaga Demak. Journal of TSCNers. Vol.5

No.1. ESSN: 2503-2453.

[Link]
iew/208

Lemone, Priscilla., Burke, Karen. M., & Bauldoff, Gerene. (2016). Buku Ajar.
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Luhtfiyah, Sari., Wijayanti, Anggia Riske., Kuntoadi, Gama Bagus.,


Sulistiawati, Febrina., Arma, Nuriah., Mustamu, Alva Cherry.,
Kushayati, Nuris., Rubiyanti, Rani., Kaseger, Henny., & Avelina,
Yuldensia. (2021). Penyakit Sistem Kardiovaskuler. Yayasan penerbit
Muhammad Zaini Anggota IKAPI. E-book.

Majid, Abdul. (2018). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskuler. Yogyakarta : Pustaka Baru.

Muhibbah, M., Wahid, A., Agustina, R. & lliandri, O. (2019). Karakteristik


Pasien Sindrom Koroner Akut Pada Pasien Rawat Inap Ruang Tulip Di
RSUD Ulin Banjarmasin. Indonesian Journal for Health Sciences,
vol.3, no.1,pp.6-12

Mutarobin, M. (2018). Modul Sistem Kardiovaskular Acute Coronary

Syndrome (ACS). Polekkes Kemenkes Jakarta 1.

[Link]

Padila. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.
ISBN: 978-602-9129-66-3.

28

Anda mungkin juga menyukai