Hukum Administrasi Negara
Nama : Thalia Polii
NIM. : 044169814
Soal
Dua Warga Binaan Rutan Batam Dapat Pendampingan Hukum dari LBH Mawar Saron
Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum. Negara
memberikan bantuan hukum kepada warga negara yang kurang mampu atau tidak bisa
membayar pengacara. Untuk wilayah Provinsi Kepri, Kanwil Kemenkumham bekerja sama
dengan dua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk mendampingi setiap warga binaan yang
membutuhkan bantuan hukum. Kedua LBH yang sudah bekerja sama dengan Kanwil
Kemenkumham Kepri adalah LBH Mawar Saron dan LBH Anisa.
Dalam hal memberikan bantuan hukum kepada warga miskin, Kemenkumham tidak bekerja
sendiri tetapi menjalin kerja sama dengan LBH yang sudah disertifikasi. LBH akan
melaksanakan pendampingan terhadap masyarakat miskin yang berhadapan dengan
hukum, mulai dari penyidikan di Kepolisian, dan Kejaksaan, sampai persidangan di
pengadilan.
Untuk pendampingan hukum yang dilakukan oleh LBH, masyarakat tidak perlu memikirkan
biaya apapun.
Berdasarkan pada artikel diatas dapat kita pahami bahwa negara dalam fungsinya memiliki
hubungan yang saling mengatur antara pemerintah dengan masyarakatnya.
Pertanyaan:
1). Korelasikan kasus di atas antara bantuan hukum yang diberikan dengan substansi ilmu
hukum administrasi negara secara umum!
2). Bantuan hukum yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatakan sebagai salah satu
fungsi utama hukum administrasi negara. Berikan analisis dan penjelasan saudara termasuk
ke dalam fungsi yang manakah yang telah dijalankan oleh pemerintah?
Jawab
1). *Menurut OC Kaligis Perlindungan hukum adalah mencerminkan kewajiban dan
tanggung jawab yang diberikan dan dijamin oleh negara untuk menghormati, melindungi,
menegakkan dan memajukan hak asasi manusia berdasarkan undang-undang dan peraturan
hukum.
Dalam aspek kemanusiaan, tujuan dari program bantuan hukum ini adalah untuk
meringankan beban (biaya) hukum yang harus ditanggung oleh masyarakat tidak mampu di
depan Pengadilan dan diluar pengadilan, Dengan demikian, ketika masyarakat golongan
tidak mampu berhadapan dengan proses hukum di Pengadilan, mereka tetap rnemperoleh
kesempatan untuk memperoleh pembelaan dan perlindungan hukum.
Dalam proses peradilan pidaaa, baik yang menyangkut hukum material
dan formil, dikenal asas-asas yang bertujuan untuk mendudukkan hukum pada tempat yang
sebenarnya. Untuk itu, ada ketentuan-keteotuan hukum dalam UU No.4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman yang wajib dipenuhi ketika seseorang harus didakwa dan
dihukum melalui pengadilan, misalnya:
Pasal 6 (1): Tidak seorang pun dapat dihadapkan di depan pengadilan selain daripada yang
ditentukan oleh undang-undang.
Pasal 6 (2): Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan, karena alat
pembuktian yang sah menurut undang- undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang
yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan
atas dirinya.
Pasal 8: Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dan/atau dihadapkan di depan
pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang
menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap (presumption of
innocense).
Pasal 3: Setiap orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum.
Berdasarkan asas-asas hukum tersebut di atas, dalam hubungannya dengan ketentuan pasal
56 ayat (1) dan (21 KUHP, maka program Bantuan Hukum bagi Masyarakat tidak mampu
rnempunyai arti penting bagi terselenggara dan terpelihalnya prinsip-prinsip hukum dalam
proses peradilan pidana. Dalam proses peradilan perdata, baik yang menyangkut hukun
materil dan formil, dikenal asas-asas yang bertujuan untuk melindungi kepentingan hukum
dari para pihak (penggugat dan tergugat) yang berperkara di pengadilan.
Adapun asas-asas hukum tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1). Bahwa UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menganut asas peradilan
berbiaya ringan dan asas persamaan perlakuan terhadap pihak-pihak yarg berperkara, yaitu:
Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan orang (Pasal 5 ayat 1).
Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan
rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan (pasal
5 ayat 2).
2). Bahwa Hukum Acara Perdata (HIR/RBG) menganut beberapa asas yang menyangkut
kepentingan keperdataan para pihak yang berperkara, yaitu:
Para pihak dalam perkara perdata (penggugat dan tergugat) dapat memilih salah satu dari
upaya penyelesaian sengketa perdata, yaitu upaya yang dilakukan melalui pengadilan atau
upaya yang dilakukan di luar pengadilan (melalui upaya perdamaian).
Dalam hal penyelesaian sengketa dilakukan melalui pengadilan :
a. Para pihak berperkara dapat menghadap sendiri proses persidangan atau memlnta
bantuan hukum dari Advokat. (pasal
118 HIR / 142 RBG).
b. Ketua Pengadilan Negeri memberi nasehat dan pertolongan kepada
orang yang menggugat atau kepada wakilnya tentang hal memasukkan tuntutannya. (Pasal
119 HIR / 143 RBG).
c. Jika orang yang menggugat tidak pandai menulis, maka tuntutannya boleh dilakukan
dengan lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Ketua itu mencatat tuntutan tersebut atau
menyuruh mencatatnya. (Pasal 120 HIR / 144 RBG).
d. Sebelum memeriksa perkara dalam sidang pertama, Ketua Majelis Sidang atau Hakim
yang menyidangkan diwajibkan untuk mengusahakan tercapainya suatu perdamaian
diantara mereka yang berperkara. (Pasal 130 HIR / 154 RBG).
e. Dalam hal penggugat atau tergugat tidak mampu menanggung biaya perkara, mereka
dapat memperoleh izin untuk berperkara dengar cuma-cuma. (Pasal 237 HIR / 273 RBG).
Berdasarkan asas-asas hukum perdata tersebut di atas, khususnya asas yang termuat dalam
Pasal 237 HIR/273 RBG, maka Program Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak mampu
mempunyai arti penting bagi terselenggara dan terpeliharanya prinsip-prinsip hukum dalam
proses peradilan perdata.
UUD NRI 1945 Pasal 28 D ayat 1 mengatakan “Setiap orang berhak atas pengakuan,
jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama
dihadapan hukum”. Ketentuan tersebut rnenjamin bahwa setiap orang termasuk orang yang
tidak mampu, mempunyai hak untuk mendapatkan akses terhadap keadilan agar hak-hak
mereka atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama dihadapan hukum dapat diwujudkan. Karena sangat sulit bisa
dipahami secara konstitusional, bahwa orang miskin dapat memperoleh jaminan
terhadap hak pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama dihadapan hukum, tetapi mereka orang yang tidak mampu dan tidak
pula diberi akses terhadap keadilan, melalui lembaga-lembaga pengadilan Negara (litigasi )
maupun proses non litigasi.
*Kehidupan negara modern yang cenderung berusaha memenuhi kebutuhan rakyat,
khususnya dalam masalah pelayanan dan kesejahteraan masyarakat, membutuhkan
instrumen untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Instrumen yang digunakan oleh negara
untuk mengelola pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraan masyarakat
tersebut adalah administrasi negara.
Instrumen tersebut berusaha menata segala aspek kehidupan negara melalui birokrasi, tata
kelola, penyiapan, pelaksanaan, dan pengawasan segala tindakan pemerintah agar sistem
pemerintah tersebut stabil dan terukur dengan baik. Keterukuran dan kestabilan tersebut
sangat diperlukan agar hasil yang dituju oleh kegiatan pemerintahan dapat tercapai dengan
kualitas dan kuantitas yang terukur, sebagaimana rancangan awal pada proses perencanaan
kegiatan pemerintahan itu.
Administrasi negara mempunyai tujuan untuk membantu dan mendukung pemerintah
melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk menyejahterakan masyarakatnya.
Hal Tersebut sesuai pendapat Leonard D. White Yang menyatakan bahwa administrasi
negara terdiri atas semua kegiatan negara untuk menunaikan dan melaksanakan
kebijaksanaan negara (public administration consist… all those operations having for the
purpose the fulfillment and enfprcement of public policy).
KESIMPULAN
Kesimpulan hubungan antara bantuan hukum yang diberikan dan substansi ilmu hukum
administrasi negara secara umum, yang diambil penulis adalah bantuan hukum diberikan
kepada masyarakat yang tidak mampu yang memenuhi syarat untuk supaya mendapat
bantuan hukum yang dibutuhkan kemudian di dukung oleh administrasi negara yang pada
fungsinya yaitu melaksanakan dan menyelenggarakan kehendak-kehendak (strategy, policy)
Serta keputusan-keputusan pemerintah secara nyata (implementasi dan menyelenggarakan
undang-undang menurut pasal-pasalnya) sesuai dengan peraturan-peraturan pelaksanaan
yang ditetapkan.
2). Secara spesifik, fungsi Hukum Administrasi Negara dikemukakan oleh
Philipus M. Hadjon, yakni fungsi normatif, fungsi instrumental, dan fungsi jaminan. Ketiga
fungsi ini saling berkaitan satu sama lain. Fungsi normatif yang menyangkut penormaan
kekuasaan memerintah jelas berkaitan erat dengan fungsi instrumental yang menetapkan
instrumen yang digunakan oleh pemerintah untuk menggunakan kekuasaan memerintah
dan pada akhirnya norma pemerintahan dan instrumen pemerintahan yang digunakan
harus menjamin perlindungan hukum bagi rakyat.
Bantuan hukum yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatakan sebagai fungsi jaminan
hukum.
Fungsi jaminan hukum administrasi negara, menurut Sjachran Basah, perlindungan terhadap
warga diberikan bilamana sikap tindak administrasi negara itu menimbulkan kerugian
terhadapnya. Sedangkan perlindungan terhadap administrasi negara itu sendiri, dilakukan
terhadap sikap tindaknya dengan baik dan benar menurut hukum, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis. Dengan perkataan lain, melindungi administrasi negara dari
melakukan perbuatan yang salah menurut hukum. Di dalam negara hukum Pancasila,
perlindungan hukum bagi rakyat diarahkan kepada usaha-usaha untuk mencegah terjadinya
sengketa antara pemerintah dan rakyat, menyelesaikan sengketa antara pemerintah dan
rakyat secara musyawarah serta peradilan merupakan sarana terakhir dalam usaha
menyelesaikan sengketa antara pemerintah dengan rakyat. Dengan adanya UU No. 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menurut Paulus E. Lotulung, sesungguhnya tidak
semata-mata memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan, tetapi juga
sekaligus melindungi hak-hak masyarakat, yang menimbulkan kewajiban- kewajiban bagi
perseorangan. Hak dan kewajiban perseorangan bagi warga masyarakat harus diletakan
dalam keserasian, keseimbangan, dan keselarasan antara kepentingan perseorangan
dengan kepentingan masyarakat, sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam falsafah
negara dan bangsa kita, yaitu Pancasila.
Berdasarkan pemaparan fungsi-fungsi Hukum Administrasi Negara ini, dapatlah disebutkan
bahwa dengan menerapkan fungsi-fungsi Hukum Administrasi Negara ini akan tercipta
pemerintahan yang bersih, sesuai dengan prinsip-prinsip negara hukum. Pemerintah
menjalankan aktifitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau berdasarkan asas
legalitas, dan ketika menggunakan freies Ermessen, pemerintah memperhatikan asas-asas
umum yang berlaku sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum.
Ketika pemerintah menciptakan dan menggunakan instrumen yuridis, maka dengan
mengikuti ketentuan formal dan material penggunaan instrumen tersebut tidak akan
menyebabkan kerugian terhadap masyarakat. Dengan demikian, jaminan perlindungan
terhadap warga negarapun akan terjamin dengan baik.
Sumber referensi:
BMP ADPU4332
https://jdih.surabaya.go.id/pdfdoc/na_28.pdf
https://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/102585/ADETYA
%20BAGUS%20WIRAWAN%20-%20080710101055.pdf?
sequence=1&isAllowed=y