0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan2 halaman

Batasan Diskresi Pejabat Administrasi

Dokumen ini membahas tentang batasan kemerdekaan bertindak (freies ermessen) seorang pejabat administrasi negara dalam mengeluarkan keputusan untuk kepentingan umum. Freies ermessen harus berdasarkan hukum dan peraturan, hanya untuk kepentingan umum, dapat dipertanggungjawabkan, serta memperhatikan kepentingan masyarakat.

Diunggah oleh

Wahyu Nuri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan2 halaman

Batasan Diskresi Pejabat Administrasi

Dokumen ini membahas tentang batasan kemerdekaan bertindak (freies ermessen) seorang pejabat administrasi negara dalam mengeluarkan keputusan untuk kepentingan umum. Freies ermessen harus berdasarkan hukum dan peraturan, hanya untuk kepentingan umum, dapat dipertanggungjawabkan, serta memperhatikan kepentingan masyarakat.

Diunggah oleh

Wahyu Nuri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bagaimana batasan kemerdekaan bertindak (freies ermessen) 

seorang pejabat administrasi


negara mengeluarkan sebuah keputusan dalam menyelenggarakan kepentingan umum adalah
keputusan yang diambil harus berdasarkan pada hukum dan peraturan yang berlaku. Hal ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan atau detournement de
pouvoir oleh pejabat administrasi negara.
Pemberian wewenang freies Ermessen atau diskresi (discretion) adalah suatu wewenang
untuk bertindak atau tidak bertindak atas dasar penilaiannya sendiri dalam melaksanakan
kewajiban [Link] prinsipnya setiap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah
berdasarkan asas freies Ermessen selalu memperhatikan batasan batasan yang diatur oleh
hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Menurut Muchasan dalam buku (Sadjijono,
2008) pembatasan-pembatasan freies Ermessen adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan freies Ermessen tidak boleh bertentangan dengan sistem hukum yang
berlaku (kaedah hukum positif)
2. Penggunaan freies Ermessen hanya ditujukan demi kepentingan umum
Basah dalam (Ridwan, 2011) berpendapat bahwa pelaksaan freies Ermessen harus dapat
dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan
persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
Adapun yang dikemukan oleh Panjaitan bahwa freies Ermessen mempunyai unsur dan
sekaligus merupakan batas toleransi sebagai kunci tolak ukur dari freies Ermessen yaitu:
1. Adanya kebebasan atau keluasaan administrasi negara untuk bertindak atas inisiatif
sendiri.
2. Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendesak yang belum ada aturannya
untuk itu.
3. Harus dapat dipertanggungjawabkan
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat di simpulkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan
administrasi negara atau pemerintah melalaui asas freies Ermessen harus berdasarkan
undang-undang yang berlaku, memeparhatikan kepentingan umum, dapat dipertanggung
jawabkan baik secara moral maupun secara hukum dan memperhatikan asas-asas umum
pemerintah yang baik, dan untuk mengindari tindakan sewenang-wenang dan
penyalahgunaan wewenang dari administrasi negara atau pemerintah.
Dalam contoh kasus bengkel yang akan didirikan di sebelah rumah sakit, pejabat administrasi
negara harus mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul, seperti dampak negatif dari
kegiatan bengkel terhadap rumah sakit dan pasien yang sedang dirawat di sana contoh
dampak negatifnya ialah polusi suara yang timbul. Selain itu, pejabat administrasi negara
harus mempertimbangkan apakah izin mendirikan bengkel tersebut sesuai dengan peraturan
yang berlaku.

Sumber referensi :

Ridwan, H. R. (2011). Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. Sadjijono. (2008). Memahami beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi Negara.
Makassar: Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Hassanudin.

Anda mungkin juga menyukai