0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan12 halaman

Makalah Kelompok 6

Makalah ini membahas tentang demokrasi di Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Beberapa poin utama yang dijelaskan adalah pengertian demokrasi dan pilar-pilar demokrasi, prinsip-prinsip demokrasi Pancasila, serta sumber-sumber historis demokrasi di Indonesia."

Diunggah oleh

Doli Armando
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan12 halaman

Makalah Kelompok 6

Makalah ini membahas tentang demokrasi di Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Beberapa poin utama yang dijelaskan adalah pengertian demokrasi dan pilar-pilar demokrasi, prinsip-prinsip demokrasi Pancasila, serta sumber-sumber historis demokrasi di Indonesia."

Diunggah oleh

Doli Armando
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila Dan


UUD 1945

Makalah ini disusun sebagai tugas terstruktur mata kuliah


Kewarganegaraan
Dosen Pengampu : Hafid Ismail

Disusun Oleh :
1. Meiliana Diah Safitri ( 225720025 )
2. Suci Nur Cahya ( 225720005 )

PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI


STMIK KOMPUTAMA MAJENANG
ANGKATAN 2022 / 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala rahmatnya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini hingga selesai dengan tepat waktu. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak – pihak yang telah berkontribusi, baik dengan
memberikan sumbangan secara materi maupun pikiran.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang
Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila Dan UUD 1945. Untuk kedepannya kami
berharap semua bisa mengkoreksi dan memperbaiki apa yang kurang dari makalah kami baik
itu pengantar, isi, dan cara penulisan maupun penyampaiannya. Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekuranga dalam makalah
kami, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah kami ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam menyusun makalah ini dari awal sampai akhir, semoga Tuhan selalu meridhai segala
urusan kami. Aamiin.

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 2
A. Pengertian Demokrasi dan Pilar-Pilar Demokrasi .......................................................... 2
B. Prinsip – Prinsip Demokrasi Pancasila ........................................................................... 2
C. Sumber Historis, Sosial, dan Politik Demokrasi Pancasila............................................. 4
D. Fungsi dan Peran Legislatif dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah .......................... 6
BAB III PENUTUP ................................................................................................................... 8
A. Kesimpulan ..................................................................................................................... 8
B. Saran ............................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap warga negara mendambakan Pemerintahan demokratis yang menjamin
tegaknya kedaulatan rakyat. Hasrat ini diladasi pemahaman bahwa pemerintahan
demokratis memberi peluang bagi tumbuhnya prinsip menghargai keberadaan individu
untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara secara maksimal. Karena itu, demokrasi
perlu ditumbuhkan, dipelihara, dan dihormati oleh setiap warga negara.
Setiap negara mempunyai ciri khas dalam pelaksanaann kedaulatan rakyat atau
demokrasinya. Hal ini ditentukan oleh sejarah negara yang bersangkutan, kebudayaan,
pandangan hidup, serta tujuan yang ingin dicapainya. Dengan demikian pada setiap negara
terdapat corak khas demokrasi yang tercermin pada pola sikap, keyakinan dan perasaan
tertentu yang mendasari, mengarahkan, dan memberi arti pada tingkah laku dan proses
berdemokrasi dalam suatu system politik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian demokrasi dan apa saja pilar-pilar demokrasi ?
2. Apa yang menjadi ciri khas demokrasi di Indonesia ?
3. Apa saja sumber-sumber historis demokrasi Indonesia ?
4. Apa saja peran anggota-anggota legislatif di Indonesia ?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Demokrasi dan Pilar-Pilar Demokrasi
Prinsip demokrasi secara umum sangat terkait dengan implementasi ( penerapan )
demokrasi oleh negara tersebut kepada rakyatnya. Hal inilah yang kemudian membuat
prinsip demokrasi antara satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Akan tetapi, ada beberapa
prinsip demokrasi yang sama, diantarannya:
1. Adanya pengakuan dan perlindungan terkait hak asasi manusia serta adanya jaminan
hukum dari penguasa (pemerintah).
2. Adanya sikap proaktif dari masyarakat terhadap penyelenggaraan negaara (politik)
sesuai aturan konstitusi yang berlaku
3. Adanya suatu pemerintah yang terbuka.
Ketiga prinsip diatas merupakan prinsip demokrasi yang pada umumnya ada dalam
suatu negara yang demokratis. Selebihnya prinsip-prinsip demokrasi seperti adanya
kebebasan pers, adanya pembagian kekuasaan negara, adanya supermasi spill terhadap
militer, adanya prinsip kesukarelaan dalam kegiatan masyarakat serta adanya penegakan
suatu keaddilan sossial dapat berlaku berbeda-beda aantar satu negara dengan negara
lainnya.
Demokrasi Pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber dari
pandangan hidup atau filsafah hidup bangsa Indonnesia yang digali berdasarkan
kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan
timbul dasar falsafah negar yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin,
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
B. Prinsip – Prinsip Demokrasi Pancasila
Prinsip demokrasi Pancasila ini telah ditulis oleh Bpk. Ahmad dalam buku yang
berjudul Memberdayakan Masyarakat dalam pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi (2006:193-
205) dimana memuat 10 Prinsip demokrsi yang menurut Pancasila dan UUD 1945, yaitu:1
1. Demokrasi Ketuhanan Yang Maha Esa

1
https://www.suara.com/news/2021/12/26/114010/10-pilar-demokrasi-indonnesia-lengkap-dengan-
penjelasannya

2
3

Demokrasi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yakni seluk beluk system
perilaku dalam menyelenggarakan NKRI harus taat dengan asas, konsisten, atau nilai
dan kaidah dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Demokrasi dengan Kecerdasan
Demokrasi dengan kecerdassan yakni mengatur dan menyelenggarakan demokrasi
sesuai dengan UUD 1945 yang semata mata bukan karena kekuatan naluri, kekuatan
otot atau kekuatan massa semata mata. Demokrasi lebih menuntut kecerdasan rohania,
aqliyah, raisonal, daan emosional.
3. Demokrasi yang Berkedaulatan Rakyat
Demokrasi yang berkedaulatan rakyat yakni kekuasaan tertinggi berada ditangan
rakyat ddengan prinsip rakyatlah yang memiliki dan memegang kekuatan itu.
Kedaulatan rakyat tersebut dipercayakan pada wakil-wakil rakyat.
4. Demokrasi dengan Rule of Law
Demokrasi dengan Rule of Law memliki 4 makna penting, yakni:
a. Kekuasaan Negara Republik Indonesia harus mengandung, melindungi, serta
mengembangkan kebenaran hukum (legal truth) bukan demokrasi ugal-ugalan,
demokrasi degelan, atau demokrasi manipulative.
b. Kekuasaan Negara memeberikan keadilan hukum, bukan demokrasi yang terbatas
pada keadilan formal dan pura-pura.
c. Kekuasaan Negara menjamin kepastian hukum, bukan demokrasi membiarkan
kesemrawutan atau anarki.
d. Kekuasaan Negara mengembangkan manfaat atau kepentiingan hukum, seperti
kedamaian dan pembangunan, bukan dmokrasi yang justru mempopulerkan fitnah
dan hujatan atau menciptakan perpecahan, permusuhan, dan kerusakan.
5. Demokrasi dengan Pembagian Kekuasaan Negara
Demokrasi dengan pembagian kekuasaan negara harus diserahkan kepada badan-
badan negara yang bertanggung jawab sebagai pemisah kekuasaan dengan system
pengawasan dan perimbangan.
6. Demokrsi dengan Hak Asasi Manusia
Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia bertujuan untuk meningkatkan martabat dan
derajat manusia seutuhnya.
7. Demokrasi dengan Pengadilan yang Merdeka
Demokrasi dengan peengadilan yang merdeka menghendaki pemberlakuan siistem
pengadilan yang merdeka yakni memebrikan peluang seluas-luasnya pada semua pihak
4

yang berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum seadil-adilnya. Didepan


pengadilan yang merdeka, baik penggugat dengan pengacaranya, penuntut umum dan
terdakwa dengan pengacaranya, mempunyai hak yang sama untuk mengajukan
konsideran (pertimbangan), dalil-dalil, fakta-fakta, saksi, alat pembuktian, dan
petitumnya.
8. Demokrasi dengan Otonomi Daerah
Demokrasi dengan otonomi daerah memberlakukan pembatasan terhadap
kekuasaan negara legislatif dan eksekutif. Dalam UUD 1945, memerintahkan
dibentuknya daerah otonom pada kabupaten/kota dan provinsi.
Dengan adanya peraturan pemerintah, daerah-daerah otonom itu dibangun dan
disiapkan untuk bisa mengatur dan menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah
sebagai urusan rumah tangganya sendiri, yang diserahkan oleh pemerintah pusat.
9. Demokrasi dengan Kemakmuran
Demokrasi dengan kemakmuran ditujukan dalam membangun negara yang Makmur
untuk rakyat Indonesia. Hal ini bertujuan untuk membangun negara yang Makmur
dalam segala aspek mulai dari hak dan kewajiban, kedaulatan rakyat, pembagiann
kekuasaan, otonomi daerah ataupun keadilan hukum.
10. Demokrasi dengan Kemakmuran
Demokrasi yang berkeadilan sosial menggariskan keadilan sosial dari berbagai
kelompok, golongan maupu lapisan masyarakat.
C. Sumber Historis, Sosial, dan Politik Demokrasi Pancasila
1. Sumber Historis
Kata “Demokratis” dapat dipahami dari Bahasa Yunani yang terdiri dari kata
“Demos” yang mengandung arti “Rakyat” dan “Kratos” yang dapat dipahami berarti
“Pemerintahan”. Secara harfiah, demokrasi dapat dipahami memiliki arti sebagai
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Saat orde baru lahir, Demokrasi terpimpin mendapat sebuah penolakan keras.
Suharto yang kemudian menjadi Presiden RI setelah Soekarno, dalam pidato
keneggaraan tanggal 16 Agustus 1967 menyatakan bahwa Demokrasi Pancasila berarti
demokrasi kedaulatan rakyat yang dijiwai dan diintegrasikan dengan sila-sila lainnya.
Hal ini berarti bahwa dalam menggunnakan hak-hak demokrasi harus selalu disertai
dengan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Sumber Sosiologis
5

Sosiologis dipahami sebagai ilmu tentang kehidupan antar manusia.


Didalamnya mengkaji, antara lain; susunan dan pola kehidupan sosial dari berbagai
golongan dan kelompok masyarakat juga mengkaji masalah–masalah sosial, perubahan
dan pembaharuaan dalam masyarakat.
Gejala sosiologis fundamental yang menjadi sumber terjadinya beberapa
gejolak dalam masyarakat kita:
Pertama, suatu kenyataan yang memprihatinkan bahwa setelah tumbangnya
struktur kekuasaan “otokrasi“ yang dimainkan Rezim Orde Baru ternyata bukan
demokrasi yang kita peroleh melainkan oligarki dimana kekuasaan terpusat pada
sekelompok kecil elit, sementara sebagian besar rakyat (demos) tetapi jauh dari sumber-
sumber kekuasaan (wewenang, uang, hukum, informasi, Pendidikan, dan sebagainya).
Kedua, sumber terjadinya berbagai gejolak dalam masyarakat kita saat ini
adalah akibat munculnya kebencian sosial budaya terselubung (soocio-culltural
animosity). Gejala ini muncul dan semakin menjadi-jadi pasca runtuhnya Rezim Orde
Baru. Socio-cultural animosity adalah suatu kebencian sosial budaya yang bersumber
dari perbedaan ciri budaya dan perrbedaan Nasib yang diberikan oleh sejarah masa lalu,
sehingga terkandung unsur keinginan balas dendam.
Ciri lain dari konflik yang terjadi di Indonesia adalah bukan hanya yang bersifat
terbuka (manifest conflict) tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah konflik yang
tersembunyi (latent conflict) antara berbagai negara.
3. Sumber Politik
Ide–ide humanisme daan demokrasi mulai bangkit Kembali di eropa pada masa
Renaisans (sekitar 1300-1700M). Kolonialisme Eropa, khususnya kehadiran Belanda
di Indonesia membawa 2 sisi mata uang peradaban barat: sisi penindas, imperialisme-
kapitalisme dan sisi demokratis-humanis. Penindasan politik dan eksploitasi ekonomi,
imperialisme dan kapitalisme, sering kali bekerja sama dengan kekuatan feudal tanah
dan rakyat, memupuk sikap menindas, kolonial dan anti-feodal diantara para perintis
kemerdekaan nasional. Tahan penindasan.
Dalam kurun waktu sejarah sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, jelas terlihat
bahwa penyelenggaraan demokrasi telah mengalami dinamikanya sendiri. Indonesia
telah mengalami praktik demokkrasi yang berbeda dari waktu ke waktu. Beberapa ahli
berbagi pendapat mereka. Sebagai contoh, Budiarjo (2008) menyatakan bahwa dilihat
6

dari sejarah perkembangan demokrasi Indonesia hingga tahun, era orde baru dapat
dibagi menjadi 4 periode, yaitu:2
a. Masa Republik Indonesia I (1945-1959) yang dinamakan masa demokrasi
konstitusional yang menonjolkan peranana parlemen dan partai-partai, karena itu
dinamakann Demokrasi Parlementer.
b. Masa Republik Indonesia II (1959-1965) yaitu masa Demokrasi Terpimpin yang
banyak penyimpangan dari demokrasi konstitusional yang secara formal
merupakan landasan dan penunjukan beberapa aspek demokrasi rakyat.
c. Masa Republik Indonesia III (1965-1998) yaitu masa demokrasi Pancasila.
Demokrasi ini merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan system
presidensial.
d. Masa Republik Indonesia IV (1998-sekarang) yaitu masa reformasi yang
menginginkan tegaknya demokrasi di Indonesia sebagai koreksi terhadap praktik-
praktik politik yang terjadi pada masa Republik Indonesia.
D. Fungsi dan Peran Legislatif dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah
Setelah reformasi 98 terjadi, perubahan titik sentrum politik di indoonesia yang
tadinya kekuasaan lebih besar pada eksekutif menjadi pada legislative. Perubahan ini
menjadi perubahan fungsi dan peran Lembaga-lembaga pemerintah yang termasuk DPRD.
Fungsi dan peran ini pada dasarnya yang tadinya DPRD bagian dari eksekutif
berubah menjadi legislatife murni, konsekuensinya terjadi perubahan pada legislative dan
eksekutif dimana posisi legislatife sedikit lebih unggul dari eksekutif, karena apa yang
dilakukan eksekutif adalah perintah dari legislattif.
Fungsi dan peran legislatife dijelaskan pada empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi perwakilan
2. Fungsi anggaran
3. Fungsi pembuatan peraturan daerah
4. Fungsi pengawasan
Dari hasil penelitian dan analisis ditemukan bahwa fungsi perwakilan DPRD
ditandai dengan masih tingginya tingkat keluhan yang disampaikan oleh masyarakat
kepada lembaga legislatif daerah yang menunjukan bahwa fungsi diemban lembaga ini

2
https://www.studocu.com/id/document/universitas-pendidikan-indonesia/pendidikan-pancasila-dan-
kewarganegaraan/sumber-historis-sosial-dan-politik-demokrasi-pancasila/45435545
7

selaku penyalur aspirasi masyarakat masih dirasakan belum sesuai dengan harapan
masyarakat.
Sikap anggota Dewan dalam merespon aspirasi dari masyarakat belum maksimal.
Fungsi dan peran anggota DPRD dalam pembuatan peraturan daerah (Perda) terlihat bahwa
peran eksekutif masih dominan, sehingga anggota DPRD lebih berfungsi untuk
mengesahkan apa yang telah disepakati. Dalam proses pemuatan APBD, tahapan-tahapan
yang dilalui hanya bersifat formal. Peran dari pihak eksekutif lebih dominan, sehungga
pada setiap rapat paripurna yang berkaitan dengan proses pembuatan APBD, anggota
Dewan hanya tinggal mengesahkan apa yang sudah disepakati sebelumnya melalui
pertemuan informal yang dilakukan sebelmunya.
Dalam praktiknya fungsi pengawasan belum berjalan sesuai efektif yang dapat
dilihat dari keluaran kebijakan didaerah yang lebih mencerminkann produk pemerintah
daripada realisasi keinginan rakyat melalui badan perwakilannya, sementara persetujuan
rakyat melalui DPRD lebih untuk memenuhi tata cara politik semata. Namun demikian,
DPRD juga telah banyak melakukan koreksi atas pelaksanaan tugas eksekutif di
Kabupaten.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos dari Bahasa Yunani demos artinya
kekuasaan ditangan rakyat
2. Ciri khas demokrasi Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa
B. Saran
Saran kami adalah manusia biasa terkadang berbuat kesalahan maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari Anda semua, guna membuat makalah kami menjadi
lebih baik.

8
DAFTAR PUSTAKA
Mahfud MD, M. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia: Studi Tentang Interaksi Politik
dan Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sanusi, A. 2006. Model Pendidikan Kewarganegaraan Menghadapi Perubahan dan Gejolak
Sosial. Bandung: CICED.

Anda mungkin juga menyukai