MAKALAH KIMIA TEKNIK
Tentang Kelarutan Senyawa (Ksp)
Dosen Penguji : Femi Earnestly,S.Si.,M.Si.,Ph.D
Disusun Oleh Kelompok 5
Aulia Amanda Manochi NIM (22180053)
Muhammad Nurdin NIM (22180082)
Joko Sutrisno NIM (22180004)
Hafizur Rahman NIM (22180092)
Muhammad Tegar Zoelsiputra NIM (22180044)
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT
TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas kelompok kami tentang”KELARUTAN
SENYAWA”Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
turut memberikan kontribusi dalam penyusunan tugas kelompok ini. Tentunya, tidak akan bisa
maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan
maupun tata bahasa penyampaian dalam tugas kelompok ini. Oleh karena itu, kami dengan
rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki tugas
kelompok ini.
Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi
untuk pembaca.
DAFTAR ISI
COVER……………………………………………………………………..
KATA PENGANTAR……………………………………………………...
DAFTAR ISI………………………………………………………………..
BAB I: PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang ………………………………………………………….
1.2Rumusan Masalah ………………………………………………………
1.3Tujuan Penulisan …………………………………………………..........
BAB II: PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kelarutan ………………………………................................
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan ………………….......................
2.3 Hasil Kali Kelarutan ( Ksp ).....................................................................
2.4 Pengaruh Ion Senama dan Pembentukan Kompleks Terhadap Kelarutan
2.5 Fungsi dan manfaat hasil kali kelarutan(Ksp).........................................
BAB III: PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………….........
3.2 Saran…………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelarutan merupakan salah satu sifat fisiko kimia senyawa obat yang penting dalam
meramalkan absorpsi obat dalam saluran cerna. Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil
dalam air seringkali menunjukkan ketersediaan hayati rendah dan kecepatan disolusi merupakan
tahap penentu pada proses absorpsi obat. Salah satu contoh obat dengan sifat fisiko kimia yang
kurang baik adalah trimethoprim. Trimethoprim mempunyai kelarutan sangat rendah dalam dan
menurut Biopharmaceutical Classification System, trimethoprim diklasifikasikan kedalam obat
kelas II yang berarti mempunyai kelarutan yang rendah dan permeabilitas yang tinggi.
Trimethoprim bekerja menghambat enzim dihidrofolat reduktase untuk reduksi dari dihidrofolat
menjadi tetrahidrofolat. Dengan demikian bakteri kekurangan asam di- dan tetrahidrofolik
esensial dalam biosintesis . Trimethoprim digunakan melalui berbagai rute seperti intramuskular,
intravena dan oral serta memiliki tolerabilitas gastrointestinal tinggi dan efek samping yang
rendah, namun kelarutan dalam air yang rendah dari trimethoprim mengurangi ketersediaan
hayati dengan formulasi oral.
Trimethoprim bersifat basa dengan mereaksikan trimethoprim dengan asam akan terjadi
pembentukan garam. Pada beberapa penelitian telah dilakukan modifikasi dalam upaya
memperbaiki kelarutan dari trimethoprim, diantaranya pembentukan multikomponen kristal
trimethoprim dengan nikotinamida dan pembentukan komplek inklusi trimethoprim dengan
siklodesktrin, dimana dapat memberbaiki sifat fisiko kimia dari trimethoprim. Pembentukan
multikomponen kristal tidak hanya tergantung pada bahan obat saja, tapi juga pada zat tambahan
atau koformer untuk memungkinkan terjadinya interaksi antara gugus fungsional keduanya
sehingga terbentuk ikatan non kovalen, terutama ikatan hidrogen . Asam sitrat termasuk dalam
golongan senyawa organik yang dikenal sebagai asam trikarboksilat karena mengandung tiga
gugus karboksil. Asam sitrat mudah larut dalam air dan asam lemah. Multikomponen kristal
dapat mengubah sifat fisiko kimia obat, termasuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat,
sehingga dapat meningkatkan ketersediaan hayati suatu obat yang memiliki kelarutan yang
kurang baik . Pada penelitian ini dilakukan preparasi multikomponen kristal trimethoprim
dengan menggunakan asam sitrat sebagai koformer dan hasil yang diharapkan adalah kelarutan
trimethoprim menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitasnya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah berisi pertanyaan-pertanyaan penting yang terkait dengan sub-bab
yang akan dibahas pada BAB II Pembahasan. Rumusan masalah dituliskan dengan poin-poin
sebagai berikut:
a. Pengertian kelarutan
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan
c. Kelarutan(s) dan hasil kali kelarutan(Ksp)
d. Pengaruh ion senama terhadap kelarutan
e. Fungsi dan manfaat hasil kali kelarutan(Ksp)
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan berisi pernyataan-pernyataan penting yang berisi jawaban dari rumusan
masalah. Tujuan penulisan dituliskan dengan poin-poin sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengertian kelarutan
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan
c. Untuk mengetahui kelarutan(s) dan hasil kali kelarutan(Ksp)
d. Untuk mengetahui pengaruh ion senama terhadap kelarutan
e. Serta untuk mengetahui fungsi serta manfaat hasil kali kelarutan(Ksp)
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat
terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent) Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.
Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan
apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih
dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible.
Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan
bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak
klorida dalam air. Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut,
walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar tidak ada bahan yang
terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk
menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.
Dalam kondisi tertentu, kesetimbangan kelarutan daat terlampaui hingga menghasilkan
apa yang disebut sebagai larutan supersaturasi, yang bersifat metastabil.[2] Metastabilitas kristal
dapat pula mengarah pada perbedaan yang terlihat dalam jumlah zat kimia yang terlarut
bergantung pada bentuk atau ukuran partikel kristalin. Suatu larutan supersaturasi secara umum
mengkristal ketika 'bibit' kristal muncul dan kesetimbangan secara cepat terjadi. Fenilsalisilat
adalah salah satu zat yang teramati ketika meleleh secara sempurna dan kemudian didinginkan di
bawah titik fusinya
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan
Kelarutan suatu senyawa elektrolit dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut
antara lain suhu, konsentrasi, dan pengaruh penambahan ion senama.
a. Suhu
Kenaikan suhu akan memberikan tambahan energi untuk memutuskan ion-ion dari
senyawa elektroiitnya. Oleh karena itu, semakin tinggi suhu, semakin mudah suatu elektrolit
larut.
b. Konsentrasi
Semakin besar konsentrasi ion-ion yang terdapat dalam larutan akan memperbesar hasil
perkalian konsentrasi ion-ion dalam larutan. Hasil perkalian konsentrasi ion-ion ini apabila
mampu melewati harga Ksp, elektrolit tersebut akan rfiudah mengendap dan sukar larut.
c. Pengaruh Penambahan Ion Senama
Elektrolit-elektrolit yang terdiri atas ion logam yang sama seperti AgCI, AgNO 3,
Ag2CrO4,AgBr, dan Ag3PO4 dikatakan mempunyai ion senama, yaitu ion perak (Ag+). Demikian
juga dengan AgCI, NaCI, CaCI2, dan AICI3 juga dikatakan memiliki ion senama yaitu ion
klorida (Cl–).
d. Sifat Pelarut
Garam-garam organik lebih mudah larut dalam air dibanding garam-garam anorganik.
e. Pengaruh pH
Kelarutan dari garam-garam yang berasal dari asam lemah bergantung pada larutannya.
Contoh asam oksalat, saat dilarutkan ke dalam air akan melepaskan ion H + dan ion C2O24–. Ion
H+ dari air akan bergabung dengan ion oksalat C2O24– membentuk asam oksalat kembali
H2C2O4 sehingga menambah kelarutan garamnya.
f. Pengaruh Hidrolisis
Apabila garam dari asam lemah dilarutkan ke dalam air, akan menghasilkan ion
H+ sehingga jumlah ion H+ dalam air bertambah. Kation dari garam mengalami hidrolisis
sehingga menambah kelarutan garam tersebut.
g. Efek Kompleks
Kelarutan suatu garam yang sedikit larut dalam suatu larutan lain dapat menghasilkan
senyawa kompleks. Senyawa kompleks ini terbentuk dari kation garam dengan atom pusat dari
senyawa lain, misal seperti dalam persamaan reaksi berikut.
AgCI(s) + 2NH4OH(aq) → Ag(NH3)2CI(aq) + 2H2O(ℓ)
Ag(NH3)2CI merupakan senyawa kompleks yang terbentuk dari AgCI. AgCI sedikit larut
dalam air. Saat AgCI bersenyawa dengan NH4OH membentuk Ag(NH3)2CI, kelarutan AgCI
menjadi bertambah karena dalam senyawa kompleks tersebut konsentrasinya bertambah.
Suatu elektrolit, dalam larutannya membentuk kesetimbangan. Adanya penambahan ion
senama ke dalam larutan elektrolit tersebut akan mengakibatkan terjadinya pergeseran
kesetimbangan ion- ion di dalam larutan ke arah pembentukan molekulnya kembali. Pergeseran
ini mengakibatkan berkurangnya ion-ion dalam larutannya. Dengan semakin sedikitnya ion
mengakibatkan elektrolit tersebut sukar larut.
Contoh:
Ca(OH)2(s) ↔ Ca2+(aq) + 20H–(aq)
Jika ke dalam elektrolit tersebut ditambahkan suatu larutan yang mempunyai ion senama
dengan ion OH– misalnya NaOH, konsentrasi ion OH– akan bertambah. Berdasarkan asas Le-
Chatelier, kesetimbangan tersebut akan bergeser ke arah pembentukan moiekul Ca(OH) 2 yang
sukar larut.
Adanya ion sejenis dalam larutan menyebabkan konsentrasi salah satu ion meningkat
sehingga konsentrasi ion yang lain lebih,kecil. Hal ini menyebabkan hasil kali kelarutan sama
dengan Ksp-nya. Ksp merupakan batas maksimal hasil kali konsentrasi ion dalam larutan jenuh
elektrolit yang sukar larut dalam air.
2.3 Kelarutan (s) dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Bahasan mengenai kelarutan (s) dan hasil kali kelarutan (ksp) memuat pengetahuan
tentang kemampuan garam-garam dapat larut dalam air. Di mana kemampuan dari beberapa
garam untuk larut dalam air memiliki perbedaan. Ada garam yang mudah larut dalam air seperti
NaCl (natrium klorida), ada garam yang sukar larut dalam air seperti AgCl (perak klorida).
Faktor yang menyebabkan suatu zat dapat terlarut atau tidak dalam air dalah kepolaran dan
ikatan hidrogen. Air merupakan pelarut polar sehingga dapat melarutkan zat yang juga bersifat
polar. Air dapat melarutkan zat-zat yang dapat membentuk ikatan hidrogen dalam air. Beberapa
zat dalam kehidupan sehari-hari ada yang mudah larut dalam air adalah gula, garam, dan vetsin.
Beberapa zat yang tidak larut dalam air adalah kloroform (CHCl3), benzena (C6H6), dan heksana
(C6H14).
a.Kelarutan (s)
Sejumlah garam dapat larut dalam zat pelarut dengan banyak zat terlarut yang berbeda.
Larutan hanya dapat melarutkan sedikit zat terlarutu pada garam yang sukar larut dalam air.
Sedangkan untuk garam yang mudah larut, pelarut dapat dapat melarutkan lebih banyak zat
terlarut. Dengan kata lain, ada sejumlah maksimum garam sebagai zat terlarut yang dapat
dilarutkan ke dalam air. Jumlah maksimum zat terlarut (mol) yang dapat terlarut dalam pelarut
disebut kelarutan.
Simbol kelarutan biasanya adalah huruf s (solubility) dengan satuan M (molaritas). Besar
nilai kelarutan menunjukkan konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan. Misalnya, diketahui
kelarutan (s) AgCl sama dengan 1,25 × 10‒5 mol per liter. Artinya, jumlah maksimum AgCl yang
dapat larut dalam 1 liter air (larutan) adalah 1,25 × 10‒5 mol.
Semakin besar nilai kelarutan (s) berarti mudah larut atau sulit mengendap.
Kebalikannya, semakin kecil nilai kelarutan (s) artinya sukar larut atau mudah mengendap.
Ada beberapa persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung besar kelarutan.
Penggunaan persamaan didasarkan pada informasi yang diketahui atau diberikan pada soal.
Rumus untuk menghitung besar kelarutan terdapat pada persamaan-persamaan berikut.
Keterangan:
s = kelarutan
ρ = massa jenis larutan
% = persentase atau kadar larutan
Mr = massa molekul larutan
gram = massa zat terlarut
V = volume
b.Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Hasil kali kelarutan (Ksp) adalah suatu tetepan atas hasil kali konsentrasi ion-ion pangkat
koefisien. Konsentrasi larutan adalah hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.
Garam-garam yang sukar larut seperti AgCl dan BaSO4 jika dimasukkan dalam air murni lalu
diaduk akan terlarut. Meskipun banyak zat terlarut dari bagian garam-garam tersebut hanya
sedikit sekali. Karena garam-garam tersebut merupakan elektrolit maka garam yang terlarut akan
terionisasi. Sehingga dalam larutan akan terbentuk suatu keseimbangan.
Dari kesetimbangan reaksi ion yang dihasilkan kemudian dapat diperoleh persamaan hasil kali
kelarutan (Ksp). Secara umum, cara mendapatakan Ksp pada garam diperoleh seperti bentuk
Contoh mendapatkan persamaan hasil kali kelipatan untuk beberapa garam diberikan seperti
berikut.
AgCl (s) ⇄ Ag+ (aq) + Cl‒ (aq)
Ksp AgCl = [Ag+][Cl‒]
Ag2SO4 (s) ⇄ 2Ag+ (aq) + SO42‒ (aq)
Ksp Ag2SO4 = [Ag+]2[SO42‒]
Al(OH)3 (s) ⇄ Al3+ (aq) + 3OH‒ (aq)
Ksp Al(OH)3 = [Al3+][OH‒]3
Hasil kali kelipatan (Ksp) menjadi batas maksimal hasil kali konsentrasi ion-ion dalam
larutan jenuh elektrolit yang sukar larut dalam air. Artinya, hasil kali konsentrasi ion pangkat
koefisien dalam larutan yang sukar larut dalam air. Besar perhitungan Ksp dapat digunakan
untuk mengetahui kondisi larutan jenuh (< Ksp), tepat jenuh (= Ksp), dan mengendap (> Ksp).
c. Hubungan Kelarutan (s) dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Percampuran dari dua zat akan menghasilkan endapan atau belum dapat diketahui melalui
perbandingan hasil kali konsentrasi ion-ion yang dicampurkan (Qc) dengan Ksp. Ada tiga
kondisi yang dapat terjadi yaitu tidak mengendap (belum jenuh), tepat akan mengendap (tepat
jenuh), dan sudah mengendap (jenuh).
Terjadi pengendapan: Qc > Ksp
Tepat jenuh: Qc = Ksp
Belum jenuh (tidak mengendap): Qc < Ksp
Sebagai contoh perhatikan kondisi seperti soal di bawah.
Soal:
Sebanyak 10 mL larutan CaCl2 0,2 M dicampurkan dengan 10 mL larutan NaOH 0,02 M. Jika
diketahui Ksp Ca(OH)2 = 8 × 10‒6 maka selidikilah apakah terjadi endapan?
Penyelesaian:
Menghitng kelarutan [Ca2+] dan [OH‒]:
Menghitung Qc untuk Ca(OH)2:
Qc = [Ca2+][OH‒]2
Qc = 10‒1 × (10‒2)2
= 10‒1 × 10‒4
= 10‒5
Diperoleh hasil Qc = 10‒5 dan Ksp Ca(OH)2 = 8 × 10‒6, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Qc > Ksp. Artinya, jika nilai Qc > Ksp maka larutan akan mengendap.
d.Hubungan Ksp dengan pH
Harga pH sering digunakan untuk menghitung Ksp suatu basa yang sukar larut.
Sebaliknya, harga Ksp suatu basa dapat digunakan untuk menentukan pH larutan (James E.
Brady, 1990).
Contoh:
Jika larutan MgCl2 0,3 M ditetesi larutan NaOH, pada pH berapakah endapan Mg(OH) 2
mulai terbentuk? (Ksp Mg(OH)2 = 3 × 10–11)
Jawab:
e. Penggunaan Konsep Ksp dalam Pemisahan Zat
Harga Ksp suatu elektrolit dapat dipergunakan untuk memisahkan dua atau lebih larutan
yang bercampur dengan cara pengendapan. Proses pemisahan ini dengan menambahkan suatu
larutan elektrolit lain yang dapat berikatan dengan ion-ion dalam campuran larutan yang akan
dipisahkan. Karena setiap larutan mempunyai kelarutan yang berbeda-beda, maka secara
otomatis ada larutan yang mengendap lebih dulu dan ada yang mengendap kemudian, sehingga
masing-masing larutan dapat dipisahkan dalam bentuk endapannya.
Misalnya pada larutan jenuh MA berlaku persamaan:
Ksp = [M+] [A–]
Jika larutan itu belum jenuh (MA yang terlarut masih sedikit), sudah tentu harga [M+][A–]
lebih kecil daripada harga Ksp. Sebaliknya jika [M+][A–] lebih besar daripada Ksp, hal ini berarti
larutan itu lewat jenuh, sehingga MA akan mengendap.
Jika [M+] [A–] < Ksp, maka larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan)
Jika [M+] [A–] = Ksp, maka larutan tepat jenuh (tidak terjadi endapan)
Jika [M+] [A–] > Ksp, maka larutan lewat jenuh (terjadi endapan)
Contoh:
Jika dalam suatu larutan terkandung Pb(NO3)2 0,05 M dan HCl 0,05 M, dapatkah terjadi
endapan PbCl2? (Ksp PbCl2 = 6,25 × 10–5)
Jawab:
[Pb2+] = 0,05 M
[Cl–] = 0,05 M
[Pb2+] [Cl–]2 = 0,05 × (0,05)2
= 1,25 × 10–4
Oleh karena [Pb2+][Cl–]2 > Ksp PbCl2, maka PbCl2 dalam larutan itu akan mengendap.
f. Contoh Soal Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Penelitian terhadap suatu sumber air yang melalui pipa besi menunjukkan bahwa setiap
10 liter air terlarur 18 mg Fe(OH)2. Diketahui Ar Fe = 56, O = 16, dan H = 1 maka hasil kali
kelarutan Fe(OH)2 adalah ….
A. 3,2 × 10‒5
B. 4,0 × 10‒10
C. 3,2 × 10‒12
D. 4,0 × 10‒13
E. 3,2 × 10‒14
Pembahasan:
Berdasarkan keterangan yang diberikan pada soal dapat diperoleh informasi-informasi seperti
berikut.
Volume: v = 10 ℓ = 10.000 mℓ
Massa: gr = 18 mg = 1,8 × 10‒2 gram
Mr Fe(OH)2 = Ar Fe + 2 × Ar O + 2 × Ar H
= 56 + 2 × 16 + 2 × 1
= 56 + 32 + 2 = 90
Menghitung besar kelarutan (s) Fe(OH)2:
Kesetimbangan reaksi ion:
Fe(OH)2 (s) ⇄Fe2+ (aq) + 2OH‒ (aq)
Hasil kali kelarutan Fe(OH)2:
Ksp Fe(OH)2 = [Fe2+][OH‒]2
Ksp Fe(OH)2 = s × (2s)2 = s × 4s2 = 4s3
Substitusi nilai s = 2 × 10-5 pada persamaan Ksp Fe(OH)2:
Ksp Fe(OH)2 = 4s3
= 4 × (2 × 10-5)3
= 4 × 8 × 10-15 = 3,2 × 10-14
Jadi, hasil kali kelarutan Fe(OH)2 adalah 3,2 × 10‒14 M3.
2.4 Pengaruh Ion Senama terhadap Kelarutan
Pengaruh ion senama terhadap kelarutan adalah adanya ion senama dari zat-zat garam
dalam suatu kesetimbangan larutan elektrolit yang sukar larut menyebabkan kelarutannya
berkurang sehingga menyebabkan larutan makin sukar larut.
Adanya penambahan zat yang mengandung ion sejenis (senama) maka akan menyebabkan
kelarutan zat mengalami penurunan (berkurang) dari kelarutan sebelumnya. Dengan kata lain zat
tersebut akan semakin banyak yang mengendap. Hal ini sesuai dengan konsep kesetimbangan
bahwa jika konsentrasi zat ditingkatkan maka kesetimbangan akan bergeser dari zat yang
ditambahi konsentrasinya.
a.Contoh Soal Pengaruh Ion Senama terhadap Kelarutan
Kelarutan Ag2CrO4 dalam air adalah 10–4M. Hitunglah kelarutan Ag2CrO4 dalam
larutan K2CrO4 0,01 M!
Jawaban:
Ksp Ag2CrO4 = 4 s3 = 4 (10–4)3 = 4 × 10–12
Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42–]
4 × 10–12 = [Ag+]2 × 10–2
[Ag+] = 2 × 10–5 M
Ag2CrO4 ⟶ 2 Ag+ + CrO42–
Karena koefisien Ag2CrO4 bernilai setengah dari Ag+ maka didapatkan,
Kelarutan Ag2CrO4 = 1/2 × 2 × 10–5 = 10–5 M
Jadi, kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan K2CrO4 adalah 10–5 M.
b.Pengaruh Ion Senama Pada Kelarutan, Contoh Soal, dan Pembahasannya
Pengaruh konsentrasi ion senama pada sifat kelarutan suatu zat akan terlihat.
Penambahan ion senama bisa mengurangi kelarutan suatu zat.
Artinya, semakin banyak ion senama di dalam larutan, zat-zat terlarut semakin sulit
untuk larut. Jika demikian, pasti akan muncul banyak endapan.
Berdasarkan asas Le Chatelier, kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang
ditambahkan. Dengan demikian, penambahan ion senama akan memicu banyaknya endapan,
atau memperkecil kelarutan.
Selain itu perlu kita pahami bahwa, penambahan ion senama tidak akan mengubah tetapan hasil
kali kelarutan (Ksp) selama tidak ada perubahan suhu.
Jika dalam suatu larutan elektrolit terdapat ion senama (sejenis). Misalkan pada AgCl
jenuh. Perhatikan larutan AgCl jenuh. Pada saat AgCl dilarutkan dalam air, maka akan terbentuk
reaksi kesetimbangan, yaitu
AgCl(s) ↔ Ag+(aq) + Cl– (aq)
Adanya penambahan larutan AgNO3 akan memperbesar konsentrasi ion Ag+ karena
AgNO3 juga akan terionisasi dan menghasilkan ion Ag+ .
Reaksi yang terjadi, yaitu : AgNO3(aq) ↔ Ag+(aq) + NO3– (aq)
Sementara itu penambahan ion sejenis (Ag+ ) akan menggeser ke setimbangan ke kiri.
Pergerseran ke kiri meyebabkan kelarutan AgCl berkurang. Akan tetapi tidak mempengaruhi
harga tetapan hasil kali kelarutan jika suhu tidak berubah.
Contoh soal.
Soal nomor
Jika diketahui Ksp AgCl pada suhu 25o C adalah 2.10-10. Berapakah kelarutan AgCl
dalam larutan NaCl 0,2 M?
Pembahasan :
Diketahui : Ksp AgCl = 2.10⁻¹⁰
[NaCl] = 0,2 M
Ditanya : kelarutan (s) AgCl ?
Jawab :
Dimisalkan kelarutan AgCl dalam alrutan NaCl 0,1 M = n mol/L
AgCl(s) ⟶ Ag+(aq) + Cl– (aq)
s M s M s M
NaCl(s) ⟶ Na+(aq) + Cl– (aq)
0,2 M 0,2 M 0,2M
Di dalam sistem terdapat
[Ag+] = s mol/L
[Cl– ] = (s + 0,2) mol/L
Karena [Cl– ] yang berasal dari AgCl sangat sedikit dibandingkan [Cl – ] yang berasal dari
NaCl, maka [Cl– ] yang berasal dari AgCl dapat diabaikan sehingga diperoleh
Ksp AgCl = [Ag⁺] [Cl⁻]
2.10⁻¹⁰ = (s) (s)
2.10⁻¹⁰ = (s) (0,2)
s = 2.10⁻¹⁰ / 0,2
s = 10⁻⁹
Jadi kelarutan AgCl dalam larutan NaCl 0,1 M adalah 10⁻⁹ mol/L
2.5 Fungsi dan Manfaat Hasil kali kelarutan (Ksp)
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat memberikan
informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air.
Semakin besar harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat padat dapat digunakan unuk meramalkan terjadi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yangmengandung ion-ion dari senyawa sukar larut dicampurkan. Untuk
meramalkan terjadi tidaknya endapan AxBY jika larutan yang mengandung ion Ay+ DAN
Bx- dicampurkan digunakan konsep hasil kali ion hasil kali ion (Qsp) berikut ini.
Qsp AxBy = [Ay+]x [Bx-]y
· Jika Qsp > Ksp maka akan terjadi endapan AxBy
· Jika Qsp = Ksp maka mulai terjadi larutan jenuh AxBy
· Jika Qsp < Ksp maka belum terjadi larutan jenuh maupun endapan AxBy
a.Hubungan Kelarutan (s) dengan Tetapan Hasil Kali Kelarutan(Ksp)
Oleh karena s dan Ksp sama-sama dihitung pada larutan jenuh, maka antara s dan Ksp
ada hubungan yang sangat erat. Jadi, nilai Ksp ada keterkaitannya dengan nilai s.
Secara umum hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) untuk
larutan elektrolit AxBy dapat dinyatakan sebagai berikut.
Contoh:
Pada suhu tertentu, kelarutan AgIO3 adalah 2 × 10–6 mol/L, tentukan harga tetapan hasil kali
kelarutannya!
Jawab:
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat
terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent) Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.
Faktor -faktor yang mempengaruhi kelarutan sbb: suhu,konsentrasi,pengaruh
penambahan ion senama,sifat pelarut,pengaruh pH,pengaruh hidrolisis,efek kompleks.
Fungsi dan Manfaat Hasil kali kelarutan (Ksp)
Harga hasil kali kelarutan (Ksp) suatu senyawa ionik yang sukar larut dapat memberikan
informasi tentang kelarutan senyawa tersebut dalam air.
Semakin besar harga Ksp suatu zat, semakin mudah larut senyawa tersebut.
Harga Ksp suatu zat padat dapat digunakan unuk meramalkan terjadi tidaknya endapan
suatu zat jika dua larutan yangmengandung ion-ion dari senyawa sukar larut dicampurkan
3.2 SARAN
Diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai materi senyawa dan kelarutan agar dapat
memahami lebih rinci tentang materi tersebut,serta memahami rumus rumus yang ada di dalam
materi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Kelarutan
https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/kelarutan-dan-faktor-yang-memengaruhinya-
11640/
https://blog.edukasystem.com/kelarutan-dan-hasil-kali-kelarutan/
https://www.quipper.com/id/blog/mapel/kimia/kelarutan-dan-hasil-kali-kelarutan-kimia-
kelas-11/
https://roboguru.ruangguru.com/forum/jelaskan-tentang-fungsi-manfaat-dari-nilai-ksp-
_FRM-CH1VL3CU