MATERI KULIAH
HUKUM DAN MASYARAKAT
SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2020/2021
GARIS BESAR MATERI PERKULIAHAN HUKUM DAN
MASYARAKAT.
1. Penjelasan 3 istilah yang berkaitan dengan Hukum dan
Masyarakat.(law and society; sociological jurisprudence; dan
sociology of law).
2. 3 konsep dasar (perspektif) didalam mempelajari (ilmu) hukum.
3. Basis sosial dari Hukum. (Paul Bohannan dan Vinogradoff)
4. Hukum dan Struktur sosial. Disini akan diperkenalkan berbagai
pemikiran dari beberapa ahli, yang secara khusus membahas
mengenai kaitan antara hukum dengan struktur sosial; yaitu antara
lain (primary dan secoundariy rules of obligation----menurut HLA
HART), perkembangan hukum yang makin rasional birokratik---
Max Weber, tahapan perkembangan masyarakat menurut
Gianfranco Poggi, masyarakat prismatik dari Fred W. Rigs,
5. Teori-teori sosiologi Hukum---sebagai dasar untuk pisau analisis,
mengenai hubungan antara hukum dan sub sistem lainnya dalam
masyarakat (teori Sibernetika dari Talcott Parson, Fungsi Integrasi
dari Hukum oleh Harry C Bredemeier)
6. Hubungan antara Hukum dan Ekonomi (dengan meminjam
konstruksi berpikir dari Parson. Diberikan illustrasi dengan contoh-
contoh kongkrit.
7. Hubungan Hukum dan Politik (dengan meminjam konstruksi
berpikir dari Nonet dan Selznick, yang secara khusus membahasa
mengenai hubungan keduanya, yaitu—tiga modalitas hukum:
tipologi hukum represif, tipologi hukum otonom dan tipologi
hukum responsif).
8. Bekerjanya Hukum dalam mayarakat. (teori tentang bekerjanya
hukum menurut William J. Chambliss dan Robert B. Seidman—
dengan pengembangan lebih mendalam kearah bagaimana
proses pembuatan hukum di lembaga legislatif sebagai---proses
perumusan kebijakan publik (Model ”Kotak Hitam” Estonian.
9. Penegakan hukum. (Faktor-faktor yang mempengaruhi atau
menentukan efektivitas/ keberhasilan penegakan hukum)
10. Penegakan hukum di Pengadilan. Kedudukan dan Fungsi
pengadilan, wewenang pengadilan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi masuknya perkara ke pengadilan, dan faktor-faktor
yang mempengruhi (menyumbang) terhadap putusan hakim
(pengadilan).
11. Bekerjanya hukum di Kepolisian. Kedudukan dan fungsi Kepolisian
dalam SPP dan dalam sistem hukum di Indonesia. Karaktreistik
bekerjanya Polri.
12. Pemolisian dalam konteks masyarakat yang berubah (strategi
penegakan hukum dalam era reformasi)
Dalam kaitannya dengan mata kuliah Hukum dan Masyarakat, kita
mengenal ada 3 istilah yang sangat erat kaitannya dengan hal ini,
yang juga dipakai untuk nama journal Internasional. Istilah-istilah
tersebut antara lain :
LAW AND SOCIETY ; (Hukum dan Masyarakat), dimana kajian-
kajiannya adalah membahas kaitan (interaksi dan interrelasi) antara
hukum dan masyarakat.
SOCIOLOGY OF LAW; (Sosiologi Hukum), ilmu sosiologi yg
mengarahkan perhatiannya khusus kepada fenomena hukum.
Analisisnya berangkat dari teori-teori sosial.
SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE; (Ilmu hukum yang
sosiologis), yaitu ilmu hukum yg melihat juga fenomena sosial (non
hukum) yang mepengaruhi bekerjanya hukum. Analisisnya berangkat
dari konsep/teori2 hukum. Tokoh utamanya adalah Roscoe Pound.
3 KONSEP DASAR (PERSPEKTIF) DIDALAM MEMPELAJARI
(ILMU) HUKUM.
I. Hukum kita kaji /pelajari/ identifikasi/ definisikan sebagai
perwujudan (kongkretisasi) nilai2 (values) yang ada dalam
masyarakat. Yang menjadi pusat perhatian (pokok persoalan)
dalam perspektif ini adalah : apakah benar bahwa HUKUM (dalam
hal ini----perUUan, hukum positip) yang ada dalam suatu negara
(contoh:Indonesia), benar2 telah mencerminkan /mewujudkan
nilai2 yg ada dalam masyarakat atau tidak? Atau dengan kata
lain: Bagaimana nilai2 (Values) yang ada dalam masyarakat itu
ditransformasikan ke dalam hukum positip (PerUUan). Oleh
karena itu, metode di dalam mempelajarinya adalah bersifat idealis
/ideologis, artinya, metode ini senantiasa mengukur/ menilai hukum
dari ukuran2 ideal----yaitu mewujudkan nilai.
II. Hukum dilihat/ dikaji/ didefinisikan sebagai seperangkat sistem
peraturan (perundang undangan) yang abstrak dan otonom. Yang
menjadi pusat perhatian (pokok persoalan) dalam perspektif ini
adalah PerUUan itu sendiri dengan segala kompleksitasnya.
Metode didalam mempelajarinya : juridis normatif dan atau normatif
analitis, artinya hukum itu dilihat sebagai petunjuk tingkah laku
yang ada dalam masyarakat, yang harus ditaati. Normatif analitis
artinya: norma hukum itu digunakan untuk memotret/menganalisis
perilaku masyarakat. Jadi norma hukum digunakan sebagai
ukuran/ pedoman untuk menilai perilaku masyarakat. (Ingat
pendapat dari Willem Zevenbergen (Belanda): di dalam norma
hukum terkandung dua jenis patokan). Yang menjadi roh/ jiwa dari
konsep dasar ini adalah ---------teori hukum murni dari Hans
Kelsen.
III. Hukum dilihat sebagai sarana/alat/ tool untuk mengatur
masyarakat. Yang menjadi fokus perhatian/ pokok persoalan
adalah mengenai efektivitas hukum (keberhasilan hukum). Apakah
hukum sebagai sarana untuk mengatur masyarakat, berhasil atau
tidak/ efektif atau tidak? Kalau hukum itu efektif (berhasil), berarti
hukum itu diterima oleh masyarakat, hukum ditaati dan digunakan
sebagai sarana/ sandaran/ pedoman didalam menyelesaikan
persoalan yg terjadi diantara mereka. Oleh karena itu hukum
menjadi fungsional, tidak disfungsional. Karena hukum ditaati,
digunakan oleh masyarakat,----maka hukum itu menjadi perilaku
yang melembaga, yang secara nyata (riil) benar-benar ada dalam
masyarakat. Oleh karena itu, metode di dalam mempelajarinya
bersifat sosiologis-empiris. Artinya metode ini senantiasa melihat
hukum itu di dalam masyarakat (law in society,--- law in action)
yaitu dalam bentuk perilaku nyata yang teramati (empiris). Oleh
karena itu konsepnya adalah law as behavior.
Realitas yang kita temui dalam kehidupan nyata sehari-hari,---- seringkali
terjadi diskrepansi (ketidaksesuaian) antara law in the books dengan law in
society/ law in action.
BASIS SOSIAL HUKUM..
Basis sosial hukum adalah masyarakat, tempat dimana hukum itu
bekerja/beroperasi------ mulai dari hukum itu dibuat (proses pembuatan
hukum) sampai dengan pelaksanaan /penegakan hukum.
Menurut PAUL VINOGRADOFF:
Hukum tumbuh dari praktek-praktek yang dijalankan oleh anggota-anggota
masyarakat dalam mengadakan hubungan antara yang seorang dengan yang
lain. Praktek-praktek tersebut tidak berpedoman pada norma-norma dari
suatu sistem hukum tertentu, tetapi didasarkan pada pertimbangan memberi
dan menerima dalam hubungan yang diukur dengan pertimbangan kepatutan
atau kepantasan (based on a give and take consideration in the reasonable
social intercourse).
Contoh: Hukum keluarga; Hukum Waris, hk kontrak, hk pasar modal, semua
berasal dari kebiasaan-kebiasaan dalam mengadakan hubungan antara
anggota masyarakat.
Menurut PAUL BOHANAN (ahli antropologi):
Memperhatikan perkaitan antara hukum dengan kebiasaan. Bohanan
membedakan secara tajam antara norma dan kebiasaan. Norma adalah ----
aturan, baik yang dituangkan dengan jelas maupun tidak, yang menyatakan
mengenai apa yang seharusnya dilakukan dalam hubungan antara manusia
dengan manusia. Sedangkan kebiasaan adalah-----seperangkat norma
sebagaimana tersebut di atas, yang secara nyata dilakukan dalam praktek
sehari-hari.
Menurut Bohanan: ciri-ciri yang terdapat dalam definisi tentang hukum,
dapat dijumpai semuanya pada kebiasaan. Bedanya hanya---- kebiasaan itu
tetap berada dalam keadaan semula, sedangkan Hukum diciptakan kembali
secara khusus oleh badan dalam masyarakat (lembaga legsilatif---modern)
ke dalam bentuk yang lebih khusus, lebih sempit dan lebih jelas. Dalam
bentuknya yang demikian ini, kebiasaan lalu dikatakan memiliki ciri hukum
(legal character) sehingga hukum merupakan pelembagaan kembali dari
kebiasaan (reinstitutionalization).
HUKUM DAN STRUKTUR MASYARAKAT.
Pembahasan mengenai hukum dan struktur sosial (masyarakat),
sebenarnya banyak menekankan pada pembicaraan mengenai
perkembangan hukum dikaitkan dengan perkembangan masyarakat. Ada
banyak teori yang bisa dikemukakan mengenai hal ini, yg memberikan
penekanan yang berbeda-beda. Akan tetapi ada beberapa teori yang
menurut hemat penulis sangat relevan dikemukakan untuk mengenalkan
berbagai pemikiran para ahli, yang sebenarnya mencerminkan pemikiran-
pemikiran yang cukup spesifik. Diantara beberapa teori itu adalah :
1. Teori yang dikemukakan H.L.A HART (primary dan secondary rules of
obligation).
2. Perkembangan hukum dikaitkan dengan perkembangan masyarakat,
menurut Max Weber (hukum berkembang makin rasional).
3. Perkembangan hukum dikaitkan dengan perkembangan masyarakat
menurut Gianfranco Poggi (feodalisme, stande staat, civil society
dst?).
Menurut Max Weber (1954) kecenderungan umum dalam perkembangan
hukum modern adalah menjadi makin rasional. Secara teoretis,
perkembangan hukum melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pengadaan hukum melalui pewahyuan (revelation) secara
kharismatik. Pengadaan hukum secara demikian itu terjadi
melalui apa yang disebut law prophets atau nabi-nabi hukum.
Ia berpendapat bahwa cara pengadaan hukum seperti inilah
yang benar-benar dapat disebut sebagai pengadaan hukum
yang kreatip, yaitu menciptakan sesuatu dari nol. Pengadaan
hukum seperti dilakukan oleh ahli hukum sekarang ini,
bagaimanapun orisinilnya, tetap bertolak dari kaidah-kaidah
hukum yang sudah ada sebelumnya. (Weber, 1954: 320).
2. Penciptaan dan penemuan hukum secara empiris oleh para
legal-honoratiores, yaitu penciptaan hukum oleh para
kautelarsjuristen (cautelary-jurisprudence). Cara ini
mengandung suatu seni dan ketrampilan untuk menciptakan
dan melakukan inovasi hukum. Dalam hal ini Weber hendak
menunjuk pada pengadaan hukum yang tidak begitu saja jatuh
dari keadaan entah berantah seperti pada tahap sebelumnya,
melainkan hukum tercipta melalui teknik-teknik dan ketrampilan
tersendiri. Dalam penciptaan ini ia terikat pada preseden.
3. Pembebanan (imposition) hukum oleh kekuatan-kekuatan
sekuler dan atau teokratis. (yaitu hukum gereja dan atau hukum
yang berasal dari raja-raja/ bangsawan/ penguasa lokal--- yang
menunjukkan adanya pluralitas hukum).
4. Tahap yang terakhir adalah penggarapan hukum secara
sistematis dan penyelenggaraan hukum yang dijalankan secara
professional oleh orang-orang yang mendapatkan pendidikan
hukum----secara ilmiah dalam bentuk logis-formal.
Perkembangan tersebut dimulai dari munculnya hukum melalui
prosedur hukum yang primitif, berupa gabungan dari formalisme
yang magis dan irrasionalitas yang terjadi melalui pewahyuan.
Perkembangan ini bergerak ke arah cara-cara yang makin
spesialistis dan sistematisasi hukum logis rasional.
Perkembangan hukum sebagaimana diuraikan di atas,
hendaknya dikaitkan kepada tipe-tipe dasar dari kekuasaan yang
sah, dalam masyarakat yaitu :
1. Kharismatis : yaitu yang bertumpu pada kesetiaan, pada
keistimewaan yang menonjol dari seseorang, dan kepada
tatanan yang dikeluarkan oleh orang yang menjadi
sanjungan kesetiaan itu.
2. Tradisional : yaitu didasarkan pada kepercayaan yang telah
mapan dan melembaga mengenai tradisi turun temurun;
termasuk kepercayaan kepada legitimasi dari mereka yang
menjalankan kekuasaan atas dasar tradisi itu.
3. Rasional : yaitu kekuasaan yang bertumpu pada
kepercayaan terhadap kesahihan pola-pola dari kaidah-
kaidah normatip dan terhadap hak dari mereka yang
memiliki otoritas untuk mengeluarkan perintah-perintah.
Pengorganisasian masyarakat : Perkembangan/ penyelenggaraan hukum
Tiga tipe dasar kekuasaan yg sah
1. Kekuasaan kharismatis-------- 1. Pengadaan hk melalui pewahyuan secara
kharismatis melalui law prophets.
2. Kekuasaan Tradisional--------- 2. Pengadaan hukum secara empiris oleh
Kautelarsjuristen.
3. Kekuasaan rasional------------- 3. Pengadaan hk melalui pembebanan dari
atas
yaitu oleh kekuasaan sekuler dan /
teokratis.
4. Pengadaan hk melalui penggarapan
hukum
secara sistematis, dijalankan secara
profesional.
TEORI-TEORI SOSIOLOGI HUKUM.
Teori Sibernetika dari Talcott Parsons.
Teori Sibernetika dari Talcott Parsons, yang dikualifikasikan sebagai teori
yang struktural-fungsional ini merupakan teori besar yang termasuk dalam
grand theory, yang murni dikembangkan dalam ilmu sosial (yaitu sosiologi).
Karena teori ini merupakan teori besar, maka seringkali digunakan sebagai
pijakan oleh teoretisi pada masa itu dan masa berikutnya,---untuk
mengembangkan teori-teori tengahan.
STRUKTUR FUNGSI
Lingkungan: Realitas
Tingkat informasi tinggi (kontrol)
Tertinggi (kondisikan
Sub Sistem Budaya Mempertahankan pola/nilai-nilai
Sub Sistem Sosial Integrasi
Sub Sistem Politik Mencapai Tujuan
Sub Sistem Ekonomi Adaptasi
Lingkungan: Fisik
Organik Tingkat Energi Tinggi (Kondisikan)
Ket: ke atas berarti hierarki yang
mengkondisikan dan ke bawah
berarti hierarki yang mengontrol.
Menurut Talcott Parsons, masyarakat merupakan sebuah sistem besar
yang di dalamnya terdiri dari sub-sub sistem (bagian-bagian dari sistem),
yaitu: sub sistem budaya, sub-sistem sosial, sub-sistem politik dan sub-
sistem ekonomi. Sub-sistem sub sistem ini mempunyai fungsi primernya
masing-masing yaitu: sub sistem budaya mempunyai fungsi primer
mempertahankan pola; sub sistem sosial mempunyai fungsi primer ---
melakukan integrasi; sub sistem politik mempunyai fungsi primer---mencapai
tujuan dan sub sistem ekonomi mempunyai fungsi primer---melakukan
adaptasi. Diantara berbagai sub sistem yang ada dalam masyarakat ini,
antara satu dengan lainnya----saling terkait dan saling berhubungan,
membentuk sebuah sistem. (Ingat Sistem: yaitu keseluruhan yang terdiri dari
bagian-bagian, dimana antara bagian yang satu dengan bagian yang lain
saling terkait /interdependensi dan saling berhubungan,----membentuk
sistem---dengan orientasi kepada tujuan besar yg ingin dicapai).
Pertanyaan logis yang kemudian muncul adalah : bagaimana hubungan
diantara sub-sistem sub-sistem yang ada dalam masyarakat?
Ada dua arus (aliran/pergerakan), yaitu arus energi dan arus informasi.
Arus energi (yang bersifat mengkondisikan) bergerak/mengalir dari sub-
sistem dengan tingkat konsentrasi energi tinggi yaitu sub-sistem ekonomi----
bergerak kearah sub-sistem dengan tingkat konsentrasi energi yang lebih
rendah, yaitu sub-sistem politik, terus mengalir ke sub-sistem sosial, dan
terakhir ke sub-sistem budaya. Sebaliknya arus informasi (yang bersifat
mengontrol)----mengalir/bergerak dari sub-sistem yang mempunyai tingkat
kandungan informasi (paling) tinggi—(yaitu sub-sistem budaya) ke arah sub-
sistem dengan tingkat kandungan informasi yang lebih rendah, yaitu sub-
sistem sosial; terus mengalir/bergerak ke arah sub-sistem politik dan teakhir
ke sub-sistem ekonomi. Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa sub-
sistem ekonomi---merupakan sub-sistem yang mempunyai tingkat
konsentrasi energi paling tinggi, tetapi memiliki tingkat kandungan informasi
paling rendah. Sedangkan sub-sistem budaya----merupakan sub-sistem yang
mempunyai tingkat kandungan informasi paling tinggi, akan tetapi kandungan
energinya paling rendah. Dari arus informasi yang bersifat mengontrol
(mengendalikan-persuasif) ini kita dapat mengetahui bahwa, sub-sistem
budaya yang lebih dekat dan kaya akan nilai-nilai----memberikan informasi,
petunjuk, bimbingan (mengarahkan) bagaimana manusia dan masyarakat
mencapai kebaikan (kesalihan) dan kedamaian (kebahagiaan) dalam
kehidupan, sehingga kehidupan bermasyarakat benar-benar membawa
kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dari arus energi yang bersifat
mengkondisikan, kita dapat mengetahui bahwa manusia sebagai
organisme hidup---untuk bisa eksis--survive (bertahan hidup) dan
beradaptasi, manusia terdorong/berusaha untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (fisik-
biologis dan kebutuhan lainnya) inilah manusia bergerak/ melakukan aktivitas
ekonomi. Melalui wadah (institusi) ekonomi inilah pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan dan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, dapat
diselenggarakan dengan lebih terorganisir dengan baik.
Menurut Talcott Parsons, perilaku manusia/ seseorang/ individu dalam
masyarakat tidak boleh/bisa dilihat sebagai semata-mata perilaku biologis
yang bebas, akan tetapi harus dilihat sebagai perilaku yang berstruktur
(bermakna). Perilaku seseorang harus dilihat (ditempatkan) dalam kerangka
sosial yang luas, yang terbagi dalam sub-sistem sub-sistem di atas. Perilaku
seseorang di dalam masyarakat senantiasa dipengaruhi, ditentukan,
dibatasi oleh dua lingkungan dasar yaitu :lingkungan fisik organik dan
lingkungan realitas tertinggi (ultimate reality). Perilaku seseorang/ individu
dalam masyarakat senantiasa merupakan respons/ reaksi/ jawaban terhadap
kondisi nyata yang dihadapi seseorang dan sekaligus pengaruh bekerjanya
lingkungan relitas tertinggi yaitu bekerjanya nilai-nilai dalam diri seseorang.
Contoh: (1)sewaktu saya masih jadi mhs (anak kos---yg termasuk golongan
bangsawan---malam lembur belajar?) kuliah humas jam 06.30, tapi dosen
jam 06.15 sudah masuk ruang. Berangkat kuliah ga sempat sarapan pagi,
kepala pusing, badan gemetaran hampir pingsan) masuk RM, dompet
tetinggal.. (2) Fenomena munculnya anak jalanan pada masa krisis ekonomi
1998-2004
Mengapa teori Sibernetika ini diberikan kepada sdr para penstudi hukum?
Padahal teori ini tidak menyinggung sama sekali mengenai hukum.
Karena teori ini merupakan teori yang memberikan penggambaran secara
lengkap mengenai perilaku manusia (individu) di dalam masyarakat, dengan
semua perkaitannya. Sedangkan konsep dasar yang dipakai dalam mata
kuliah ini (Hukum dan Masyarakat) adalah konsep dasar yang ke 3, yang
senantiasa melihat hukum sebagai law in society, law in action-----dan---
sesungguhnya itu adalah law as behavior. Oleh karena itu, teori ini sangat
relevan dengan perspektif ini.
Apa hikmah (pelajaran) yang dapat dipetik dari memahami teori ini? Kita
dapat mengambil pelajaran, bahwa diantara berbagai sub-sistem yang ada
dalam masyarakat, sesungguhnya saling terkait dan saling berhubungan.
Oleh karena itu, hukum (yang bisa dikualifikasikan sebagai sub-sistem) dalam
masyarakat, juga senantiasa terkait dan berhubungan dengan sub-sistem
sub-sistem sebagaimana diuraikan dalam teori Sibernetik Parson. Oleh
karena itu, dalam pembicaraan lebih lanjut nanti, kita akan mengkaji
beberapa topik pembicaraan yang menarik, seperti: (a) bagaimana hubungan
antara hukum dan ekonomi; (b) bagaimana hubungan antara hukum dan
politik; (c) bagaimana hubungan antara hukum dan sistem budaya dan
sebagainya.
FUNGSI INTEGRASI HUKUM.
Pengembangan lebih lanjut teori Sibernetik Parson, dilakukan oleh
Harry C. Bredemeier. Dengan mendasarkan pada konsep dari Parson ini, dia
menggambarkan terjadinya proses pertukaran antara sub-sistem sub-sistem
dalam masyarakat, yaitu :
Masukan dari fungsi proses bentuk keluaran
INPUT OUT PUT
Fungsi Adaptasi Penertiban kepentingan-
Penertiban/pengorganisasian
(Sub sistem Ekonomi) kepentingan yang tidak
sesuai
Fungsi Integrasi
Sub-sistem sosial
Yang diwakilkan
Fungsi mengejar tujuan pada hukum, dalam pengesahan/ pembatalan
(sub-sistem politik) hal ini pengadilan tujuan-tujuan
masyarakat
Yg Telah dirumuskan
sbg hukum
Fungsi mempertahankan
pola keadilan
(sub-sistem budaya)
Ragaan : Fungsi Integrasi Hukum
OLEH : HARRY C. BREDEMEIER
Dari peragaan atau pemetaan sebagaimana digambarkan diatas, kita
dapat mengetahui bahwa hukum sebenarnya menduduki posisi sentral.
Hukum mempunyai kedudukan atau peranan yaitu: mengingtegrasikan,
menyatukan atau mengkoordinasikan berbagai macam kepentingan dan
hubungan-hubungan di dalam masyarakat, sehingga menjadi hubungan yang
produktif, tidak kontra produktif. Berbagai kepentingan yang ada dalam
masyarakat, baik itu kepentingan individu maupun kelompok, baik yang
menyangkut kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya dan
lain sebagainya, semuanya dikoordinasikan (disatukan atau diintegrasikan)
oleh hukum, sehingga tidak ada kepentingan-kepentingan yang terdistorsi.
Semua kepentingan diakomodasikan dan diakui oleh hukum sehingga
terlindungi dan bisa diwujudkan dalam lalu lintas kehidupan yang adil
(keadilan).
Kepentingan-kepentingan ekonomi dari setiap orang atau kelompok tidak
selalu sama, bahkan seringkali bertentangan. Tabrakan-tabrakan
kepentingan ekonomi dalam masyarakat seringkali menimbulkan konflik-
konflik dan ketidak adilan. Oleh karena itu untuk meminimalkan resiko dan
memaksimalkan terpenuhinya kepentingan semua, maka hukum
menjalankan fungsi integrasi yaitu menyatukan, mengkoordinasikan berbagai
kepentingan yang ada dalam masyarakat sehingga menjadi hubungan-
hubungan yang produktif. (contoh : Pengajuan penggabungan perusahaan
yang dilakukan oleh Bill gate pemilik perusahaan software computer Microsoft
kepada pengadilan di AS- oleh hakim permohonan tersebut)
HUBUNGAN HUKUM DAN EKONOMI.
(Analisis mengenai hubungan antara hukum dan ekonomi dengan meminjam
konstruksi berpikir sibernetik dari Talcott Parson).
Hubungan antara hukum dan ekonomi sangat erat dan bersifat timbal
balik. Hukum merupakan conditio sine qua non atau sesuatu yang harus ada
terlebih dahulu untuk berjalannya proses ekonomi dalam masyarakat. Artinya
proses-proses ekonomi (kreatif) dalam masyarakat, mensyaratkan terlebih
dahulu adanya tertib sosial (baca: hukum). Tanpa adanya tertib sosial
(hukum; yang memberikan perlindungan, menjamin) proses-proses ekonomi
kreatif tidak akan dapat berkembang dengan baik.(Contoh : adanya UU Hak
atas Kekayaan Intelektual----akan memberikan perlindungan terhadap proses
ekonomi kreatif. Hasil-hasil dari proses ekonomi kreatif benar-benar diberikan
perlindungan, sehingga memacu orang/ masyarakat untuk berlomba
berkreasi---dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat).
Hubungan timbal balik antara hukum dan ekonomi dapat digambarkan
sebagai berikut : (1) pengaruh hukum terhadap ekonomi yaitu; hukum
mempengaruhi (bahasa Parson : mengontrol, mengendalikan) ekonomi
melalui aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang diciptakan. Apa yang boleh
dan tidak boleh dilakukan di dalam proses-proses ekonomi dalam masyarakat
(suatu negara), banyak dipengaruhi, dikontrol, dikendalikan (ditentukan) oleh
hukum. Contoh : pasal 33 UUD 45 yang mengatur mengenai perekonomian,
khususnya mengenai hak menguasai negara atas kekayaan alam dan
pemanfaatannya. (Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya---dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat).
Sebaliknya (2) ekonomi mempunyai pengaruhnya yang sangat besar
(bahasa Parson: mengkondisikan) terhadap hukum (dan bekerjanya hukum).
Ekonomi merupakan pra-kondisi (prasyarat) bagi dijalankannya hukum,
artinya pertimbangan ekonomi sangat menentukan mengenai bekerjanya
hukum. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari,--- orang untuk taat atau
tidak taat pada hukum; patuh atau tidak patuh pada hukum dan bahkan orang
menggunakan atau tidak menggunakan hukum----seringkali dilandasi motif-
motif ekonomi yaitu untung-rugi. Dalam hal ini, kita bisa mengetahui bahwa
seseorang mentaati hukum itu tidak selalu didasari alasan (motif) bahwa
hukum itu memang seharusnya ditaati, tetapi orang juga bisa mentaati hukum
atau mematuhi hukum atas dasar tujuan-tujuan yang lain, misalnya motif
ekonomi tadi. Sebagai contoh : (1) Penelitian mengenai bekerjanya UU
Lingkungan Hidup.(2) Hasil penelitian dari Prof. Stewart Maccaulay (guru
besar Hukum Kontrak) dari AS, yang meneliti mengenai kebiasaan-kebiasaan
dalam komunitas bisnis di AS.
HUBUNGAN HUKUM DAN POLITIK.
Hubungan hukum dan politik-----sangat erat dan bersifat timbal balik. Bahkan
hubungan itu bisa digambarkan seperti dua sisi mata uang, bisa dibedakan
tetapi tidak bisa dipisahkan. Hubungan timbal balik ini bisa dideskripsikan
sebagai berikut : (1) di satu sisi, ---hukum mempengaruhi ( bhs Parson:
mengontrol, mengendalikan) politik melalui kaidah-kaidah atau aturan-aturan
yang diciptakan. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses-
proses politik dalam suatu negara/ masyarakat,----banyak ditentukan oleh
hukum atau dikembalikan pada hukum. Contoh: saya pernah mimpi jadi
presiden (jaman presiden Gus Dur). Sebaliknya (2) politik mempunyai
pengaruhnya yang sangat besar terhadap hukum atau bekerjanya hukum----
(dari pembuatan hukum sampai dengan penegakan hukum). Politik
merupakan kondisi bagi dijalankannya hukum. Dalam sejarah perjalanan
hukum kita dapat menyaksikan bahwa peran apa yang diberikan di pundak
hukum, banyak ditentukan oleh politik. Contoh : Analisis dari Prof. Daniel S.
Lev mengenai tempat dan peranan hukum adat (---yaitu dimasukkan dalam
sistem hk positif Bld) pada pada masa penjajahan Belanda (pada masa
landlijk stelsel----yaitu adanya kebijakan reformasi dibidang hukum
pertanahan/agraria; dan pada masa culture stelsel ---- yaitu pada masa
terjadinya kebijakan tanam paksa, untuk mendukung dan membeayai politik
imperialisme Belanda) ---(lihat SR:1985:72). Disini tempat dan peranan
hukum (adat) ditentukan oleh politik. Pada masa pemerintahan Orba,
dimana penyelesaian kasus-kasus korupsi (yang dilakukan oleh pejabat
publik), yang sebenarnya masuk dalam ranah/wilayah hukum, akan tetapi
ditarik ke ranah politik, sehingga peranan hukum banyak ditentukan oleh
politik (Presiden Soeharto, sebagai Ketua dewan pembina Golkar---partai
mayoritas tunggal). Inilah yang sering saya kemukakan---bahwa selama orde
baru, kita tidak pernah membangun budaya (penegakan) hukum, tetapi
budaya kekuasaan (dalam hal ini---kasus korupsi cukup diselesaikan dengan
satu kalimat oleh Presiden Soeharto), artinya hukum ditundukkan oleh
politik/kekuasaan. (Juga proses pelengseran----------impeachment----------
presiden Abdurrahman Wahid---adalah merupakan proses politik semata,
yang menganulir dan mendistorsi peranan hukum---yang seharusnya. Dalam
hal ini hukum tunduk pada politik, yaitu MPR, yang mengatas-namakan
rakyat).
Sementara itu, dengan meminjam konstruksi berpikir yang dikembangkan
oleh Philippe Nonet dan Phillip Selznick; hubungan hukum dan politik
dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran mereka yaitu : adanya tiga
modalitas hukum.
1) tipologi Hukum Represif. Ciri-cirinya:
tipologi hukum yang represif ini merupakan tipe hukum yang menindas
(disebut represif), dimana tujuan utama hukum adalah ketertiban. Muara
dan tujuan utama hukum adalah semata-mata masyarakat menjadi tertib.
Karena itu ketertiban masyarakat akan dicapai dan dipertahankan dengan
segala cara. Dalam kondisi seperti ini hukum ditundukkan oleh politik/
kekuasaan. Hukum itu didaya-gunakan oleh penguasa untuk
mempertahankan status quo. Dalam tahapan perkembangan hukum yang
represif ini, peraturannya sangat rinci, sangat kuat mencengkeram ke
bawah tapi ke atas sangat lemah. Diskresi sangat meluas dan tidak
terkontrol. Kritik terhadap kekuasaan/hukum dianggap tidak loyal dan
karena itu akan terus ditekan.
2) tipologi hukum otonom. Adapun ciri-cirinya: tujuan utama hukum adalah
keabsahan. Oleh karena itu setiap tindakan pemerintah maupun warga
negara harus berdasarkan hukum. Pada tahapan perkembangan ini
hukum tidak lagi tunduk (sub-ordinat) pada politik, hukum sejajar
dengan politik, hukum sudah mampu melindungi integritas dirinya.
3) tipologi hukum responsif. Adapun ciri-cirinya :
II. BEKERJANYA HUKUM.
Ketika kita berbicara mengenai hukum, pada permulaannya kita akan
bicara hukum dalam pengertian UU atau hukum positip dengan
konsekuensi metodologis yaitu--- bersifat yuridis-normatif dan atau
normatif analitis.. Ini sebuah keniscayaan. Akan tetapi pembicaraan
mengenai hukum ini secara pelan tapi pasti akan bergeser (dan
meningkat) kepada pembicaraan mengenai bekerjanya hukum, dan pada
akhirnya akan berpuncak pada pembicaraan mengenai penegakan
hukum.
Pada tataran pembicaraan awal, kita dapat membicarakan hukum
sebagai kaidah, sebagai norma dan hukum positip (sistem perundang-
undangan) dengan pendekatan yuridis-normatif. Akan tetapi setelah kita
berbicara mengenai berkerjanya hukum ----apalagi mengenai penegakan
hukum, tidak bisa lain kecuali kita bergeser dari sudut pandang
(perspektif) yuridis normatif ke dalam perspektif sosiologis, yaitu melihat
law in action, law in society, yang dimensinya bersifat sosiologis empiris.
Tata hukum merupakan seperangkat norma-norma, yang menunjukkan
apa yang harus dilakukan atau apa yang harus terjadi. Dilihat dari sudut
proses bekerjanya maka kita melihat terjadinya regenerasi norma-norma
hukum. Proses ini juga sering disebut sebagai proses kongkretisasi,
dimana norma-norma dengan isi yang lebih umum (lazimnya disebut
sebagai hukum in abstracto) diturunkan (break-down) menjadi lebih
khusus (kongkrit, yang disebut sebagai hukum in concretto). Dengan
demikian maka bangunan tata hukum lalu dilihat sebagai suatu susunan
yang berjenjang (stufenbau). Dalam ilmu hukum dogmatis bekerjanya
hukum lalu dihubungkan dengan masalah penerapan hukum, penafsiran,
pembuatan konstruksi, dan sebagainya.
Bekerjanya hukum dalam perspektif yuridis dimulai pada saat hukum
ditetapkan /diundangkan dalam lembaran negara. UU (yang dibuat oleh
lembaga legislatif) yang bersisi perintah dan larangan yang ditujukan
kepada masyarakat yang menjadi adresat hukum, memberikan rambu-
rambu mengenai apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang bersifat
imperatif. UU ini juga sekaligus memberikan perintah (norma sekunder)
kepada lembaga penegak hukum untuk melakukan aktivitas penerapan
sanksi, jika ada anggota masyarakat yang tidak mentaati perintah hukum
tersebut.
Apabila kita bergeser dari pembicaraan secara normatif-dogmatis,
untuk kemudian melihat bekerjanya hukum sebagai suatu pranata di
dalam masyarakat, maka kita akan menyaksikan gambar yang berbeda
dari uraian sebagaimana di atas. Bekerjanya hukum dalam perspektif
sosiologis bisa dilihat dalam bagan sebagaimana dikonstruksikan oleh
William J. Chambliss dan Robert B. Seidman.
BEKERJANYA HUKUM DALAM MASYARAKAT.
MENURUT WILLIAM J. CHAMBLISS DAN ROBERT B. SEIDMAN
Kekuatan-Sosial dan
Personal
Lembaga Pembuat
Tuntutan Hk. (legislatif)
DPR+Presiden:
umpan balik
umpan balik Norma Norma
Lembaga Penerap Kegiatan Penerapan
Sanksi/ Penegak Hk Masy./ adresat
Sanksi hk/ Pemegang
peran
, Dewan SDA
umpan balik
Kekuatan-kekuatan Kekuatan-kekuatan
Sosial dan Personal Sosial dan Personal
III. PENEGAKAN HUKUM.
Penegakan hukum adalah merupakan suatu proses, yaitu proses
perwujudan ide-ide hukum yang abstrak (ide tentang: keadilan, kepastian
hukum, kemanfaatan sosial; Radbruch, 1961 ;36) menjadi kenyataan dalam
masyarakat. Untuk mewujudkan hukum sebagai ide-ide itu ternyata
dibutuhkan suatu organisasi yang sangat kompleks. Negara yang harus
campur tangan dalam perwujudan hukum yang abstrak itu ternyata harus
mengadakan berbagai macam badan untuk keperluan tersebut. Kita
mengenal adanya kantor hukum seperti : pengadilan, kejaksaan, kepolisian,
pemasyarakatan dan lain-lainnya, juga badan perundang-undangan. Badan
yang tampak sebagai organisasi yang berdiri sendiri-sendiri tersebut pada
hakekatnya mengemban tugas yang sama, yaitu mewujudkan hukum atau
menegakkan hukum dalam masyarakat. Kita juga bisa mengatakan, bahwa
tanpa dibuatnya organisasi-organisasi tersebut, hukum tidak bisa dijalankan
dalam masyarakat.
Melalui organisasi serta proses-proses yang berlangsung di dalamnya,
masyarakat menerima perwujudan dari tujuan-tujuan hukum. Keadilan,
misalnya, kini tidak lagi merupakan konsep yang abstrak, melainkan benar-
benar diberikan kepada anggota masyarakat dalam bentuk pengesahan
sesuatu aksi (tindakan) tertentu. Kepastian hukum menjadi terwujud melalui
keputusan-keputusan hakim yang menolak tindakan-tindakan main hakim
sendiri yang dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat. Ketertiban dan
keamanan menjadi sesuatu yang nyata melalui tindakan-tindakan polisi yang
diorganisir oleh badan kepolisian, dan sebagainya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penegakan Hukum.
1. Peraturan (hukum)nya. Agar supaya penegakan hukum berhasil
dengan baik, maka peraturannya harus lengkap dan rumusannya
harus jelas/tegas, sehingga tidak multi tafsir.
2. Lembaga penegak hukum. Kewenangannya harus jelas dan tegas,
tidak overlapping. Kewenangan yang tidak jelas (rancu) akan
mengakibatkan terjadinya keragu-raguan dan akan menjaadi
hambatan dalam penegakan hukum.
3. SDM Penegak Hukum. Harus tersedia secara memadai, baik secara
kualitas maupun kuantitas.
4. Sumber daya lain yang menunjang kelancara penegakan hukum,
seperti---:sumber daya fisik (Gedung/kantor ,ruang sidang, peralatan,
alat transporatsi, alat komunikasi dll) termasuk ketersediaan--- sumber
daya keuangan yang cukup, akan mempengaruhi keberhasilan
penegakan hukum.
5. Budaya (hukum) Masyarakat. Nilai-nilai (keyakinan), pola pikir, sikap
dan perilaku masyarakat yang mempengaruhi bekerjanya hukum.
6. Komunikasi Hukum, yaitu penyampaian informasi hukum kepada
masyarakat yang menjadi adresat hukum. Hal ini mendesak (sangat
perlu) dilakukan karena dua alasan : (a) Bahasa hukum (yg digunakan
untuk menyampaikan norma hk—sangat spesifik---dunia yg esoterik),
pada umumnya sulit untuk dipahami masyarakat awam hukum, (b)
sekarang ini sedang terjadi ”banjir” peraturan/hukum, artinya banyak
Undang-undang yang diproduksi oleh legislatif, yang tidak mudah
diikuti, bahkan oleh sarjana hukum juga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi (menyumbang) terhadap putusan hakim .
1. Bahan. Bahan yang masuk ke pengadilan adalah berupa perkara,
termasuk substansi perkara maupun para pihak yang terlibat. Para
pihak, maupun tersangka/terdakwa ini secara yuridis adalah sama
(equality under the law) tetapi secara sosiologis tidak equal.
2. Kebijakan yang dipilih. Kebijakan yang dipilih ini berkaitan erat dengan
orientasi kekuasaan kehakiman yang dipilih oleh negara/pemerintah.
Kebijakan ini biasanya dituangkan dalam UU yang mengatur tentang
kekuasaan kehakiman. Dalam suatu kurun waktu, kebijakan dalam
kekuasaan kehakiman bisa berubah susuai dengan kondisi politik dan
kebutuhan masyarakat, dan ini bisa berbeda dengan kebijakan yang
dipilih pada kurun waktu yang lain.
3. Sosialisasi pribadi hakim, yaitu berkaitan dengan latar belakang
pendidikan dan pengalaman masa kecil hingga dewasa (pendidikan
oleh lingkungan) yang dilalui oleh seorang hakim--- yang
mempengaruhi (membentuk) kepribadian seorang (hakim). Misal:
hakim yang terlahir dari keluarga yang sangat taat beribadah akan
beda kualitas putusannya dengan hakim yang kehidupannya sama
sekali sekuler.
4. sosialisasi profesional hakim, yaitu berkaitan dengan latar belakang
pendidikan (pendidikan profesi hk) seorang hakim. Contoh : hakim
Indonesia (SH produk dari FH), dan hakim di AS.
5. Kendala keadaan. Ini berkaitan dengan keadaan-keadaan tertentu di
masyarakat , yang dihadapi oleh seorang hakim dalam menjalankan
pekerjaannya. Contoh : tekanan dari pihak tertentu dalam proses
peradilan (kasus Bom Bali Amrozi CS yang mendapatkan tekanan
dengan melalui opini internasional oleh Australia, AS; juga dalam
kasus penyelundupan Narkoba di Bali oleh Schapelle Corby- warga
Australia, negara tersebut juga berusaha melakukan tekanan2 melalui
berbagai saluran).
6. Kendala organisasi.
UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH : HUKUM DAN MASYARAKAT
KELAS : (A) NON-REGULER
WAKTU : 60 MENIT.
Dosen : Abdul Jalil
Petunjuk : Pilih 6 soal, diantara 7 soal yang ada
Anda boleh menjawab tidak urut.
Tulisan yang tidak jelas/ tidak terbaca, dapat merugikan
Sdr.
1. Jelaskan mengenai 3 konsep dasar (perspektif) di dalam mempelajari
hukum dan konsekuensi metodologis di dalam mempelajarinya.
2. Lakukan analisis terhadap problematik hukum aktual,yang
menggambarkan hubungan antara hukum dan Ekonomi. Gunakan
teori Sibernetika Parson sebagai kerangka berpikir.
3. Berikan analisis sdr, mengenai problematik hukum aktual, yang
menggambarkan hubungan antara hukum dan politik.