PENINGKATAN KINERJA LAYANAN ORGANISASI PUBLIK
MELALUI PENERAPAN MANAJEMEN STRATEJIK
Oleh :
Nama : RUSLAN EFENDI
Nim : 530050172
UNIVERSITAS TERBUKA
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU ADMINISTRASI
UPBJJ-UT PALANGKA RAYA
2021
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulilah senantiasa kami panjatkan puja dan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
saya dapat menyelesaikan paper ini guna memenuhi tugas mata kuliah
pemerintahan daerah dengan judul : “Peningkatan Kinerja Layanan Organisasi
Publik Melalui Penerapan Manajemen Stratejik”.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan paper ini tidak terlepas dari
bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik
sehingga paper ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari paper ini masih jauh dari sempurna dikarenakan
keterterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Oleh karena itu
saya mengharapkan segala bentuk saran serta masukan, bahkan kritik yang
membangun dari berbagai pihak. Akhirnya saya berharap semoga paper ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.
Nanga Bulik, November 2021
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar belakang................................................................................................3
B. Rumusan masalah...........................................................................................4
BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN............................................................
A. Analisis SWOT..............................................................................................5-6
B. Manajemen Strategik Organisasi Pulik Pemerintahan...................................6-9
C. Pembahasan....................................................................................................9-11
BAB III PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan....................................................................................................12
B. Saran...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era penerapan tata kelola organisasi yang berkualitas, suatu
organisasi publik yang bersifat non profit oriented dituntut untuk
meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja. Pencapaian kualitas layanan
serta peningkatan kinerja organisasi mengarah pada pencapaian good
governance. Organisasi publik juga memerlukan pengelolaan dan
manajemen yang baik agar mencapai kualitas layanan. Keberhasilan
layanan organisasi publik diukur melalui efektivitas dan efisiensi dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu organisasi publik
harus menetapkan indikator-indikator dan target pengukuran kinerja yang
berorientasi kepada masyarakat. Menurut Mulyadi (2001) manajemen
merupakan serangkaian proses yang terdiri atas perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan
(controlling) dan penganggaran (budgeting). Setiap organisasi harus
menjalankan setiap tahapan manajemen untuk mencapai tujuan. Seringkali
suatu organisasi mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan karena
kurangnya kemampuan memanajemeni organisasi dengan baik, sehingga
banyak organisasi yang kurang mampu menerapkan manajemen stratejik
layaknya di perusahaan non publik atau privat. Pada perusahaan privat,
manajemen stratejik merupakan upaya untuk merumuskan visi, misi dan
strateji yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Kemampuan
menerapkan manajemen stratejik yang diterapkan perusahaan ternyata
dapat membawa perusahaan mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Hal
tersebut mendasari organisasi publik mulai menerapkan manajemen
stratejik di seluruh aspek kegiatannya. Manajemen stratejik merupakan
serangkaian proses manajerial untuk membentuk visi, misi, strateji,
penyusunan tujuan, penciptaan strateji mewujudkan dan melaksanakan
strateji dan kemudian sepanjang waktu melakukan penyesuaian dan
koreksi terhadap visi, tujuan strateji dan pelaksanaan tersebut. Agar
manajemen stratejik dapat diterapkan dengan baik, seluruh komponen
organisasi harus dilibatkan baik dari pimpinan puncak maupun para
bawahan. Tanggung jawab pelaksanaan manajemen stratejik berada di
tangan pimpinan puncak untuk menerapkan proses manajemen dengan
sebaik-baiknya. Pelaksanaan manajemen stratejik di organisasi publik
tentunya berbeda dengan perusahaan privat pada umumnya dikarenakan
perbedaan karakteristik kedua organisasi tersebut. Organisasi sektor publik
tidak menekankan tujuan organisasi pada pencarian laba tetapi lebih pada
pelayanan yang berkualitas. Penilaian kualitas layanan harus memenuhi
ukuran 3E yaitu ekonomis, efektif dan efisien dan mengutamakan
penerapan analisis Strength, Weakness, Opportunity dan Threat (SWOT).
Penerapan manajemen stratejik dapat dilakukan pada organisasi publik
pemerintahan maupun non pemerintahan dengan menyesuaikan
karakteristik organisasi yang bersangkutan.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana peningkatan layanan organisasi publik melalui manajemen
strategik dalam implementasinya?
2. Bagaimana penerapan manajemen strategik dalam peningkatan
kualitas layanan organisasi publik?
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu alat dalam manajemen
stratejik untuk menentukan kekuatan (strength), kelemahan (weakness),
kesempatan (opportunity) dan ancaman (threat) dalam organisasi. Analisis
SWOT penting dalam penyusunan strateji organisasi agar dapat mencapai
tujuan dengan efektif dan efisien. Walaupun analisis SWOT dianggap
sebagai suatu hal yang penting namun kadang kala manajer menghadapi
masalah dalam analisis ini. Masalah– masalah penentuan analisis SWOT
menurut Bawono (2007) tersebut adalah :
a. The Missing link Problem, masalah ini timbul karena hilangnya
unsur keterkaitan, yaitu gagalnya menghubungkan evaluasi
terhadap faktor internal dan evaluasi terhadap faktor eksternal.
Kegagalan tersebut akan berimbas pada lahirnya suatu keputusan
yang salah yang mungkin saja untuk menghasilkannya sudah
memakan biaya yang besar.
b. The Blue Sky Problem, masalah ini identik dengan langit biru
dimana langit yang biru selalu membawa kegembiraan karena
cuaca yang cerah. Hal ini menyebabkan pengambil keputusan
kadang terlalu cepat dalam menetapkan sesuatu keputusan tanpa
mempertimbangkan ketidakcocokan antara faktor internal dan
faktor eksternal sehingga meremehkan kelemahan organisasi yang
ada dan membesar besarkan kekuatan dalam organisasi.
c. The Silver Lining Problem, masalah yang berkaitan dengan
timbulnya suatu harapan dalam kondisi yang kurang
menggembirakan. Hal ini timbul karena pengambil keputusan
mengharapkan sesuatu dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Masalah akan timbul apabila pengambil keputusan meremehkan
pengaruh dari ancaman lingkungan tersebut.
d. The all Things To All People Problem, suatu falsafah yang dimana
pengambil keputusan cenderung untuk memusatkan perhatian pada
kelemahan organisasinya. Sehingga banyak waktu yang dihabiskan
hanya untuk memeriksa kelemahan yang ada dalam organisasi
tanpa melihat kekuatan yang ada dalam organisasi tersebut.
e. The Putting The Cart Before The Horse problem, Mereka memulai
untuk menetapkan strateji dan rencana tindak lanjut sebelum
menguraikan secara jelas terhadap pilihan stratejinya.
B. Manajemen Strategik Organisasi Publik Pemerintahan
Manajemen Stratejik Organisasi Publik Pemerintahan Pelayanan
publik harus mendapatkan perhatian yang serius oleh pemerintah daerah.
Pelayanan publik secara langsung ataupun tidak langsung akan
berpengaruh pada kualitas kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah
dengan pelayanan publik yang berkinerja tinggi akan memungkinkan
peningkatan akses masyarakat terhadap berbagai pelayanan yang diberikan
oleh pemerintah daerah. Demikian pula, pelayanan yang berkualitas akan
dapat mendorong lancarnya roda perekonomian di pusat dan daerah,
sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Konsekuensi bagi pemerintah daerah dalam kaitan dengan pelayanan ini,
adalah peningkatan kinerja lembaga pelayanan publik di daerah. Lembaga
pelayanan publik yang berkinerja tinggi ini mutlak harus ada, sebagai
critical success factor bagi terwujudnya masyarakat daerah yang sejahtera.
Dengan demikian, jika pemerintah daerah menghendaki kesejahteraan
yang lebih baik pada masyarakatnya, maka kinerja lembaga pelayanan
publik mereka harus ditingkatkan. Dalam kondisi yang berbeda,
ketidakhadiran kinerja tinggi pada lembaga pelayanan publik di daerah
akan berdampak negatif bagi kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Lembaga pelayanan publik di daerah menjalankan peran dan fungsinya
untuk mewujudkan masyarakat daerah yang sejahtera. Dalam kondisi
demikian, maka kegagalan dalam pemberian pelayanan yang berkualitas
akan lebih mungkin terjadi daripada keberhasilan untuk memberikan
pelayanan yang memuaskan publik. Praktek penyampaian pelayanan
publik oleh lembaga pelayanan publik di daerah sekarang ini masih
banyak menerima berbagai kritik tentang kualitas pelayanan tersebut,
khususnya kualitas pelayanan yang bersifat administratif.
Manajemen stratejik, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai
proses untuk membangun dan melaksanakan rencana untuk mencapai
tujuan jangka panjang dengan memperhitungkan variabel-variabel internal
dan faktor-faktor eksternal (Kaplan, 1996). Berdasarkan definisi ini, dapat
ditarik beberapa pemahaman tentang manajemen stratejik. Pertama,
manajemen stratejik adalah suatu proses, yang di dalamnya terdapat
beberapa unsur yang membentuk siklus berkesinambungan. Dalam
manajemen stratejik, hasil dari suatu unsur akan menjadi input atau
memberi feedback bagi unsur yang lain. Kedua, proses menghasilkan
suatu rencana (plan) atau dengan kata lain dalam manajemen stratejik
terdapat proses perencanaan. Ketiga, manajemen stratejik juga meliputi
unsur pelaksanaan dan monitoring dari rencana yang sudah disusun.
Keempat, Dalam manajemen stratejik terdapat tujuan jangka panjang yang
akan dicapai melalui perencanaan dan pelaksanaan rencana tersebut, dan
kelima, dalam manajemen stratejik, lingkungan internal dan eksternal
menjadi pertimbangan utama dalam perumusan rencana dan pelaksanaan
rencana.
Manajemen stratejik mencakup unsur-unsur utama yang meliputi:
perumusan tujuan jangka panjang, analisis lingkungan, penyusunan
rencana, pelaksanaan rencana, dan monitoring rencana. Berikut ini
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam manajemen stratejik yaitu:
a. Perumusan tujuan jangka panjang.
Pada tahap ini organisasi merumuskan visi, gambaran organisasi
yang akan diwujudkan di masa depan atau mencerminkan kemana
organisasi akan dibawa. Selain itu, organisasi juga menetapkan
misi dan sasaran-sasaran yang akan dicapai organisasi baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Analisis lingkungan
Analisis ini dilakukan agar organisasi memperoleh informasi yang
memadai tentang kondisi lingkungan eksternal dan sumberdaya
internalnya. Dengan analisis ini selanjutnya organisasi dapat
memanfaatkan peluang dan tantangan yang berasal dari luar serta
kekuatan dan kelemahan internal untuk pencapaian tujuan
organisasi.
c. Penyusunan rencana
Untuk menetapkan strateji, organisasi perlu menyusun prioritas dari
sejumlah isu-isu stratejik yang akan dituju dan kemudian
menetapkan hasil (result) sebagai patokan kinerja organisasi. Hasil-
hasil tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan
strateji atau rencana aksi.
d. Pelaksanaan rencana
Strateji yang telah ditetapkan kemudian dilaksanakan. Dalam tahap
ini, organisasi harus didukung oleh sumber daya dan komitmen
yang tinggi agar kapasitas organisasi memadai untuk mewujudkan
sasaran yang telah ditetapkan.
e. Monitoring
Melalui monitoring ini, organisasi dapat mengevaluasi kinerja dan
membuat penyesuaian berdasarkan pengalaman dan perubahan
kondisi lingkungan.
Bagi lembaga pelayanan publik di daerah, penerapan manajemen
stratejik dimulai dengan mengadopsi konsep manajemen stratejik yang
sudah dikembangkan oleh sektor private tersebut dan tidak perlu
membangun bentuk manajemen stratejik yang baru. Manajemen stratejik
untuk lembaga pelayanan publik di daerah tetap mencakup kelima unsur
tersebut di atas, sehingga lembaga pelayanan publik di daerah kemudian
harus memiliki visi, misi, tujuan dan strateji untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Evaluasi terhadap kinerja pencapaian tujuan juga
dilakukan, agar dapat diperoleh feed back dalam proses manajemen
stratejik, sehingga tujuan peningkatan kualitas pelayanan publik dapat
diwujudkan.
C. Pembahasan
Perumusan strateji pada organisasi publik bertujuan untuk
menetapkan visi, misi dan tujuan organisasi. Perumusan strateji dapat
dilakukan secara bertahap dengan menggunakan analisis eksternal dan
analisis internal yang terdapat dalam lingkungan organisasi. Analisis
eksternal terdiri dari analisis lingkungan makro dan mikro. Analisis
lingkungan makro bertujuan mengidentifikasi peluang dan ancaman makro
yang berdampak terhadap value yang dihasilkan organisasi kepada
pelanggan. Obyek pengamatan dalam analisis ini adalah antara lain:
kekuatan politik dan hukum, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi,
kekuatan sosial, faktor demografi. Analisis eksternal mikro diterapkan
pada lingkungan yang lebih dekat dengan institusi yang bersangkutan.
Dalam dunia perusahaan, lingkungan tersebut adalah industri di mana
suatu perusahaan termasuk di dalamnya seperti: kekuatan tawar pemasok,
ancaman pendatang baru, kekuatan tawar pembeli, ancaman produk atau
jasa pengganti. Analisis internal ditujukan untuk merumuskan kekuatan
dan kelemahan perusahaan. Kekuatan suatu perusahaan antara lain:
kompetensi yang unik, sumberdaya keuangan yang memadai, ketrampilan
yang unggul, citra yang baik, keunggulan biaya, kemampuan inovasi
tinggi. Sedangkan kelemahan perusahaan antara lain: tidak ada arah
strateji yang jelas, posisi persaingan yang kurang baik, fasilitas yang
rusak, kesenjangan kemampuan manajerial, lini produk yang sempit, citra
yang kurang baik, dan sebagainya. Strateji dapat dirumuskan di tingkat
organisasi, lembaga atau departemen, maupun bagian fungsional. Pada
saat penyusunan strateji, masing-masing unsur dalam suatu organisasi
dapat mengajukan rancangan program dan rancangan anggaran untuk satu
atau beberapa periode yang akan datang. Penyusunan anggaran bertujuan
untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan sekaligus menentukan
penggunaan sumber daya yang diperlukan dan dinotasikan dalam bentuk
angka. Setelah strateji disusun kemudian disetujui oleh dewan komite
penyusun strateji serta disahkan oleh pimpinan puncak, tahap selanjutnya
adalah pelaksanaan strateji sesuai dengan rencana yang ditetapkan semula.
Pelaksanaan strateji harus dipantau untuk kemudian dikendalikan dan
dievaluasi. Tahap evaluasi meliputi membandingkan kinerja pelaksanaan
dengan rencana semula. Pemantauan meliputi kegiatan mengukur kinerja,
membandingkan kinerja, melakukan tinjauan ulang, memberi penghargaan
dan mengidentifikasi hasil yang dicapai, mempelajari pengalaman,
menyesuaikan dan merevisi strateji, dan melakukan perbaikan. Suatu
organisasi dapat membangun strateji dimulai dari pernyataan apa yang
harus dilakukan organisasi untuk mencapai keberhasilan. Strateji
merupakan pengejawentahan dari misi dan hasil penilaian dasar-dasar
organisasi. Strateji menyatakan langkah-langkah dan tindakan apa saja
yang harus dilakukan oleh organisasi untuk mencapai misi organisasi yang
sesuai dengan kekuatan dan kelemahan organisasi. Dalam suatu organisasi
yang pertama kali dibentuk adalah tujuan strateji utama organisasi,
misalnya tujuan utama dari suatu organisasi publik adalah peningkatan
kualitas pendidikan dan kualitas layanan jasa bagi masyarakat. Setelah
tujuan stratejis utama dibentuk selanjutnya dibentuk tujuantujuan stratejis
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya untuk
mencapai peningkatan kualitas pendidikan maka tujuan-tujuan stratejis
yang perlu dilakukan antara lain peningkatan kualitas pendidikan,
menurunkan biaya pendidikan, dan lainnya. Dalam membentuk strateji,
organisasi harus mempertimbangkan pendekatan apa saja yang bisa
digunakan untuk menjalankan strateji tersebut, termasuk juga menganalisis
apakah strateji tersebut bisa dijalankan, berapa banyak sumber daya yang
dibutuhkan dan apakah strateji tersebut mendukung organisasi mencapai
misinya. Kesuksesan organisasi dalam menjalankan stratejinya tidak lepas
dari peran serta bawahan dan para karyawan. Agar strateji dapat
diimplementasikan dengan baik oleh para bawahan, maka perlu dilakukan
sosialisasi visi, misi, strateji dan tujuan perusahaan serta kebijakan
perusahaan. Pemahaman dan kesatuan tekat untuk memajukan organisasi
serta mencapai peningkatan layanan merupakan modal dasar suksesnya
manajemen strateji organisasi. Sebaik apapun strateji yang diterapkan oleh
organisasi harus dapat diikuti oleh seluruh komponen organisasi tersebut.
Setelah didukung oleh seluruh komponen organisasi, langkah selanjutnya
adalah mempersiapkan infrastruktur, sarana dan prasarana serta
penggunaan teknologi informasi guna menunjang terlaksananya strateji.
Penerapan manajemen stratejik pada organisasi publik pemerintahan lebih
komplek dibandingkan dengan organisasi publik non pemerintahan. Hal
ini disebabkan oleh kompleksitas tugas dan tanggungjawab organisasi
pemerintah serta struktur organisasi yang berjenjang dari pemerintah pusat
hingga pemerintah daerah. Namun sayangnya, masih sedikit organisasi
pemerintah yang menerapkan manajemen stratejik. Oleh karena itu, untuk
mencapai good governance seharusnya organisasi pemerintah sudah dapat
menerapkan manajemen stratejik dengan baik. Kuatnya hukum yang
mengikat organisasi pemerintah dalam menjalankan manajemen stratejik
merupakan jaminan terciptanya tata kelola pemerintahan dan peningkatan
kualitas layanan kepada masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kualitas layanan organisasi publik merupakan dambaan dari
seluruh masyarakat sebagai pihak yang mendapatkan layanan barang dan
jasa yang dihasilkan oleh organisasi publik. Untuk menerapkan
manajemen stratejik suatu organisasi harus dapat merumuskan visi, misi,
tujuan dan strateji yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Penerapan strateji dalam organisasi memerlukan peran serta dan dukungan
dari semua komponen organisasi baik dari pimpinan puncak sampai ke
bawahan. Selain itu sebagai organisasi publik yang mempunyai
pertanggungjawaban secara luas pada masyarakat perlu juga
mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang berada
dalam lingkungan organisasi, agar organisasi dapat merumuskan strateji
yang akan dilakukan. Dengan penerapan strateji yang memadai diharapkan
dapat meningkatkan kinerja dan layanan organisasi publik.
B. Saran
Sebuah organisasi publik seharusnya terus berupaya meningkatkan
kualitas pelayanan kepada masyarakat serta melakukan evaluasi melalui
manajamen stratejik pada sektor layanan publik agar terus berbenah untuk
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Bawono, Icuk Rangga, 2007, Manajemen Stratejik Sektor Publik: Langkah
Tepat Menuju Good Governance, Manajemen Pembangunan” No.
58/II/Tahun XVI.
Kaplan, Robert S and Norton, David P (1996), Balanced Scorecard,
Jakarta, Erlangga.
Mardiasmo, 2000, Reformasi Pengelolaan Keuangan Publik Menuju
Akuntabilitas Publik, Makalah yang disampaikan dalam Kongres
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISES), Makasar 21-23 April 2000
Hal 248-265.
Mulyadi, 2001, Balanced Scorecard, Alat Manajemen Kontemporer untuk
Pelipatganda Kinerja Keuangan Perusahaan, Edisi ke-2, Cetakan ke-
1, Salemba Empat, Jakarta.
Rohm, Howard, 2010, A Balancing Act: Developing and Using Balanced
Scorecard, available at http:\\www.performance-measurement.net.,
posted 25 Agustus.
Salusu. J, 2003, Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi
Publik dan Organisasi Non Profit, Rasindo, Jakarta.