0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Analisis Kasus Aborsi: Mata Kuliah Hukum Kesehatan

Kasus aborsi ilegal yang mengakibatkan kematian dilakukan oleh bidan terhadap pasien setelah disuntik obat perangsang. Bidan dituntut berdasarkan undang-undang kesehatan dan KUHP atas tuduhan pembunuhan. Kasus ini menunjukkan bahaya tindakan medis yang dilakukan di luar standar profesi.

Diunggah oleh

Luse Loviani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Analisis Kasus Aborsi: Mata Kuliah Hukum Kesehatan

Kasus aborsi ilegal yang mengakibatkan kematian dilakukan oleh bidan terhadap pasien setelah disuntik obat perangsang. Bidan dituntut berdasarkan undang-undang kesehatan dan KUHP atas tuduhan pembunuhan. Kasus ini menunjukkan bahaya tindakan medis yang dilakukan di luar standar profesi.

Diunggah oleh

Luse Loviani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS KASUS ABORSI

Mata Kuliah Hukum Kesehatan

Dosen Pengampu : Sartika Dewi [Link]

Oleh :

DICKY MUHAMMAD GIBRAN

HK22B

PROGRAM PRODI ILMU HUKUM


UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG
2022/2023
Jalan H.S Ronggo Waluyo Sirnabaya, Puseurjaya, Telukjambe Timur, [Link],
Jawa Barat 41361
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

B. Identifikasi masalah pada kasus aborsi

BAB 2

KRONOLOGIS KASUS ABORSI

KEDIRI - Kasus aborsi yang berujung kematian terjadi Kediri. Novila Sutiana
(21), warga Dusun Gegeran, Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Jawa Timur,
tewas setelah berusaha menggugurkan janin yang dikandungnya. Ironisnya, korban
tewas setelah disuntik obat perangsang oleh bidan puskesmas.
Peristiwa naas ini bermula ketika Novila diketahui mengandung seorang bayi
hasil hubungannya dengan Santoso (38), warga Desa Tempurejo, Kecamatan
Wates, Kediri. Sayangnya, janin yang dikandung tersebut bukan buah perkawinan
yang sah, namun hasil hubungan gelap yang dilakukan Novila dan Santoso.
Santoso sendiri sebenarnya sudah menikah dengan Sarti. Namun karena sang
istri bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong, Santoso kerap tinggal
sendirian di rumahnya. Karena itulah ketika bertemu dengan Novila yang masih
kerabat bibinya di Ponorogo, Santoso merasa menemukan pengganti istrinya.
Ironisnya, hubungan tersebut berlanjut menjadi perselingkuhan hingga membuat
Novila hamil 3 bulan.
Panik melihat kekasihnya hamil, Santoso memutuskan untuk menggugurkan
janin tersebut atas persetujuan Novila. Selanjutnya, keduanya mendatangi Endang
Purwatiningsih (40), yang sehari-hari berprofesi sebagai bidan di Desa Tunge,
Kecamatan Wates, Kediri. Keputusan itu diambil setelah Santoso mendengar
informasi jika bidan Endang kerap menerima jasa pengguguran kandungan dengan
cara suntik.
Pada mulanya Endang sempat menolak permintaan Santoso dan Novila
dengan alasan keamanan. Namun akhirnya dia menyanggupi permintaan itu dengan
imbalan Rp2.100.000. Kedua pasangan mesum tersebut menyetujui harga yang
ditawarkan Endang setelah turun menjadi Rp2.000.000. Hari itu juga, bidan Endang
yang diketahui bertugas di salah satu puskesmas di Kediri melakukan aborsi.
Metode yang dipergunakan Endang cukup sederhana. Ia menyuntikkan obat
penahan rasa nyeri Oxytocin Duradril 1,5 cc yang dicampur dengan Cynaco Balamin,
sejenis vitamin B12 ke tubuh Novila. Menurut pengakuan Endang, pasien yang
disuntik obat tersebut akan mengalami kontraksi dan mengeluarkan sendiri janin
yang dikandungnya.
"Ia (bidan Endang) mengatakan jika efek kontraksi akan muncul 6 jam
setelah disuntik. Hal itu sudah pernah dia lakukan kepada pasien lainnya," terang
Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Didit Prihantoro di kantornya, Minggu (18/5/2008).
Celakanya, hanya berselang dua jam kemudian, Novila terlihat mengalami
kontraksi hebat. Bahkan ketika sedang dibonceng dengan sepeda motor oleh
Santoso menuju rumahnya, Novila terjatuh dan pingsan karena tidak kuat menahan
rasa sakit. Apalagi organ intimnya terus mengelurkan darah.
Warga yang melihat peristiwa itu langsung melarikannya ke Puskemas Puncu.
Namun karena kondisi korban yang kritis, dia dirujuk ke RSUD Pare Kediri.
Sayangnya, petugas medis di ruang gawat darurat tak sanggup menyelamatkan
Novila hingga meninggal dunia pada hari Sabtu pukul 23.00 WIB.
Petugas yang mendengar peristiwa itu langsung menginterogasi Santoso di
rumah sakit. Setelah mengantongi alamat bidan yang melakukan aborsi, petugas
membekuk Endang di rumahnya tanpa perlawanan. Di tempat praktik sekaligus
rumah tinggalnya, petugas menemukan sisa-sisa obat yang disuntikkan kepada
korban. Saat ini Endang berikut Santoso diamankan di Mapolres Kediri karena
dianggap menyebabkan kematian Novila.
Lamin (50), ayah Novila yang ditemui di RSUD Pare Kediri mengaku kaget
dengan kehamilan yang dialami anaknya. Sebab selama ini Novila belum memiliki
suami ataupun pacar. Karena itu ia meminta kepada polisi untuk mengusut tuntas
peristiwa itu dan menghukum pelaku.
Akibat perbuatan tersebut, Endang diancam dengan pasal 348 KUHP tentang
pembunuhan. Hukuman itu masih diperberat lagi mengingat profesinya sebagai
tenaga medis atau bidan. Selain itu, polisi juga menjeratnya dengan UU Kesehatan
nomor 23 tahun 1992. Belum diketahui secara pasti sudah berapa lama Endang
membuka praktik aborsi tersebut. (Hari Tri Wasono, 2008)

BAB 3

ANALISIS KASUS ABORSI

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia abortus didefinisikan sebagai terjadi


keguguran janin; melakukan abortus sebagai melakukan pengguguran (dengan
sengaja karena tak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu).
Aborsi yang dilegalkan diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 15, sedangkan Pembaharuan
Undang - Undang Kesehatan yaitu UU No.36 tahun 2009  tentang Kesehatan,
dijelaskan pula pada Pasal 75 ayat 2 dan pasal 76.
Pada kasus di atas dijelaskan  bahwa terjadi suatu aborsi tetapi jenis aborsi
illegal. Kasus diatas berawal dari pasangan yang melakukan hubungan gelap
(perselingkuhan) yang mengakibatkan sang wanita hamil, Pria dan wanita sepakat
untuk menggugurkan kandungan yang berumur 3 bulan itu ke bidan. Bidan
menyanggupi untuk melakukan aborsi tersebut dengan imbalan Rp 2.000.000,00.
Semua ahli madya kesehatan wajib mengucap sumpah janji ketika lulus dari
pendidikan. Salah satu isi sumpah janji tersebut yaitu untuk melaksanakan tugas
sabaik-baiknya menurut undang-undang yang berlaku.  Tetapi pada kasus ini bidan
E melanggar sumpah tersebut. Bidan dengan sengaja dan adanya niat memberikan
suntikan oxytocin duradril 1,5 cc yang dicampur dengan cynano balamin. Hal ini
mengakibatkan perdarahan hebat pada wanita tersebut dan berakhir dengan
kematian.
Kasus aborsi di atas termasuk kasus pidana, karena adanya aduan dari ayah
korban yang meminta kepada polisi untuk mengusut tuntas peristiwa itu dan
menghukum pelaku. Kasus ini mengakibatkan bidan E terjerat pasal 348 KUHP
tentang pembunuhan daan melanggar Undang Undang Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 1992 atau pada Undang-undang yang baru yaitu Undang-undang
Kesehatan No 36 tahun 2009.
Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 bidan E
bisa dijerat dengan Pasal 80 dengan ketentuan dipidana dengan penjara paling lama
15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah), sedangkan menurut pembaharuan Undang Undang Republik
Indonesia No.36 tahun 2009 dijerat dengan pasal 194 dengan ketentuan dipidana
dengan penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

A. Teori yang berkaitan dengan kasus aborsi


B. Peraturan perundang-undang yang berkaitan dengan kasus
C. Sudut pandang dari penulis (mahasiswa)

BAB 4

PENUTUP

A. Kesimpulan

Malpraktik aborsi yang tidak aman dan ilegal masih banyak dilakukan di sekitar kita, bahkan
oleh tenaga kesehatan sekalipun. Sebagai contoh dari kasus di atas, diketahui bahwa
seorang bidan dengan sengaja telah melakukan praktik aborsi kepada salah satu pasiennya,
dimana bidan itu sadar betul kalau tindakan tersebut adalah bukan kewenangannya.
Tindakan aborsi mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai
standar profesi medis. Risiko yang mungkin timbul antara lain, perdarahan, infeksi pada alat
reproduksi, rupture uteri, bahkan bisa sampai terjadi kematian. Pasal-pasal yang mengatur
tentang tindakan aborsi pun tidak sedikit, dengan berbagai ancaman hukuman, namun hal
ini tidak menyurutkan niat para oknum tenaga medis untuk tetap melakukan praktik aborsi
yang ilega

B. Saran
Semua tenaga kesehatan, baik dokter, bidan ataupun yang lainnya harus
memahami betul apa-apa yang menjadi kewenangannya dan apa-apa pula
yang bukan menjadi kewenangan dari profesinya. Peraturan per Undang-
undangan yang telah disusun sedemikian rupa dan diadakan pembaharuan,
janganlah hanya dianggap sebagai peraturan tertulis semata, namun harus di
patuhi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA

Guntoro, Maulidina Nafiah (2021) Undergraduate (S1) thesis, Universitas Muhammadiyah


Malang.

[Link]
solo-jadi-tersangka-abors

Dadang Hawari. 2006. Aborsi Dimensi Psikoreligi. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia : Jakarta. Halaman 60.

Anda mungkin juga menyukai