Pengangkatan Dan Pemindahan Serta Pemberhentian Pegawai
Pengangkatan Dan Pemindahan Serta Pemberhentian Pegawai
Disusun Oleh:
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah mata kuliah Administrasi
Keuangan Publik. Tidak lupa shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita nabi besar
Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan kelak syafa'at nya di yaumul kiamah.
Penulisan makalah berjudul “Administrasi Keuangan Negara dan Anggaran Negara”
dapat diselesaikan karena bantuan dari beberapa anggota saya. Kami berharap makalah ini
dapat memberi manfaat bagi semua pihak untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam
pembahasan kami, khususnya bagi penulis.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memerlukan penyempurnaan, terutama
pada bagian isi. Kami menerima segala bentuk kritik dan saran pembaca demi penyempurnaan
makalah. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, kami memohon maaf.Demikian
yang dapat kami sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberi manfaat.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Pustaka ii
Bab I Pedahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
Bab II Pembahasan 3
Kesimpulan 15
Daftar Pustaka 16
BAB I
PENDAHULUAN
D. LATAR BELAKANG
Pegawai Negeri merupakan sebuah aparatur pemerintahan yang
keberadanaanya sangat dibutuhkan dalam hal penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan. Pegawai Negeri memiliki peranan penting yang sangat mendukung
eksistensi pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang baik dan pengayoman
terhadap masyarakat. Pembinaan Pegawai Negeri harus terus dilaksanakan demi
diperolehnya aparatur yang mampu dan tanggap dalam melaksanakan tugas serta
fungsinya sehingga diharapkan dapat tercapai suatu pemerintahan yang baik seperti
yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 juga disebutkan
bahwa Pegawai Negeri terdiri dari: 1. Pegawai Negeri Sipil 2. Anggota Tentara
Nasional Indonesia 3. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia Pegawai Negeri
Sipil terdiri pula dari: 1. Pegawai Negeri Sipil Pusat. 2. Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Untuk mendukung terselenggaranya tugas pemerintahan, baik di pusat maupun di
daerah maka dalam pengadaan Pegawai Negeri Sipil perlu dilakukan dengan sebuah
mekanisme dan menejemen yang baik pula. Oleh karena itu salah satu mekanisme yang
diterapkan dalam hal pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah disesuaikan dengan
kebutuhan yang diperlukan dalam sebuah instansi pemerintahan.
Masalah manajemen kepegawaian sipil telah banyak menyimpan persoalan,
apalagi setelah pengelolaannya didesentralisasi, maka banyak terjadi kebingungan dan
ketidakefektifan pengelolaan kewenangan kepegawaian sipil di Indonesia. 1
Menejemen Pegawai Negeri Sipil diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan pembangunan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kebijakan
menejemen Pegawai Negeri Sipil berada pada presiden selaku kepala pemerintahan,
dengan demikian segala pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai
Negeri Sipil dilakukan oleh presiden. Untuk kelancaran pelaksanaan pengangkatan,
pemindahan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, presiden dapat mendelegasikan
sebagian wewenangnya kepada pejabat pembina kepegawaian baik pusat maupun
daerah.2 Penambahan jumlah Pegawai Negeri Sipil menimbulkan sebuah masalah baru,
dengan dilakukanya penambahan jumlah Pegawai Negeri Sipil di beberapa daerah
justru membebani kondisi keuangan daerah.
Hal ini terjadi karena laju penambahan jumlah pegawai lebih cepat dibanding
laju pendapatan daerah. Sehingga Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang
seharusnya untuk mencukupi beberapa bidang seperti pembangunan, pendidikan,
kesehatan dan lain sebagainya harus dihabiskan setengahnya lebih untuk mencukupi
gaji dari Pegawai Negeri Sipil.
E. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimaa mekanisme pengangkatan pegawai sipil ?
2. Bagaimaa mekanisme pemindahan pegawai sipil ?
3. Bagaimaa mekanisme pemberhentian pegawai sipil ?
F. TUJUAN
Agar mengetahui bagaimana mekanisme pengangkatan, pemindahan, serta
pemberhetian pegawai daerah.
BAB II
PEMBAHASAN
Dari ketentuan tersebut di atas, bukan berarti Kepala Daerah dengan sewenang-
wenang dapat mengangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah mulai dari penetapan
perencanaan formasi, pengadaan, pengangkatan, penempatan, penggajian,
kesejahteraan sampai dengan pemberhentian pegawai negeri sipil daerah, harus melalui
proses dan prosedur yang panjang, serta perlu dianalisa terlebih dahulu secara matang,
sehingga mulai dari perencaanan sebagai unsur yang mengawali seluruh kegiatan
administrasi kepegawaian, dan dari berbagai masukan dianalisis secara mendalam
untuk memperoleh alternatif-alternatif yang terbaik, berapa jumlah dan jenis tenaga
yang diperlukan. Dalam mencari perencanaan yang baik, diperlukan penelitian sebagai
proses awal dalam menganalisa situasi yang ada berupa data dan fakta relevan guna
menunjang pelaksanaan admnistrasi, khususnya dalam pelaksanaan fungsi administrasi
kepegawaian.
Polemik bagi Kepala Daerah selaku Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah hanya
sebatas mengajukan usul persetujuan formasi pengadaan PNS Daerah melalui
rekomendasi Gubenur, dan juga merupakan wewenang pada Pemerintah Pusat dengan
pendelegasian wewenang kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi, pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara serta Menteri
Keuangan.
Pengkajian dari ketentuan mengenai wewenang penetapan formasi pengadaan ASN
(Pegawai Negeri Sipil) yang berada pada Pemerintahan Daerah dimaksudkan adalah
untuk mengatasi masalah agar tidak terjadi kesenjangan pendanaan dari pemerintah
kepada masing-masing daerah, sebab sebagian pendanaan kepegawaian daerah
(Pegawai Negeri Sipil Daerah) berasal dari pendapatan APBN yang diberikan melalui
Dana Alokasi Umum (DAU), sebagaimana ditetapkan berdasarkan Undang- Undang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan
Pemerintahan Daerah, hal ini pun Pemerintah Pusat juga mengambil kebijakan
mengenai penetapan formasi dengan harus memperhatikan kemampuannya dalam hal
pembiayaan gaji PNS Daerah dan perlu diperhatikan adanya keseimbangan pendanaan
dengan daerah lainnya.
Melalui penetapan formasi yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat terkait
dengan masalah rekrutmen karena beban anggaran yang tersedia, mengakibatkan pula
di Pemerintahan Kabupaten/Kota tidak dapat merekrut pegawai secara optimal,
akibatnya adalah sering kali dalam proses penerimaan pegawai sampai dengan
pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Daerah tidak dapat mengumumkan kebutuhan atau
lowongan secara luas.dari berbagai permasalahan yang ada tersebut, Kepala Daerah
dalam menentukan negeri sipil di Pemerintahan Daerah, berupaya menyelesaikan
dengan cara, apabila ada formasi atau lowongan sesuai dengan usulan formasi dan
anggaran dana yang memadai dapat merekrut pegawai dengan cara mengumumkan
melalui media massa atau media elektronik, akan tetapi apabila formasi penerimaan
sampai dengan pengangkatan pegawai tidak memungkinkan, maka cara yang ditempuh
hanya melalui pengumuman secara terbatas, melalui instansi/lembaga yang relevan,
Dinas Tenaga Kerja, atau langsung ke sumber lainnya. Dengan cara ini diharapkan
pendaftar/pelamar dapat diseleksi tidak terlalu besar dan dapat memilih sumber daya
manusia yang berkualitas.
Tujuan Mutasi
Adapum Tujuan mutasi yang terkandung dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun
1999, tentang pokok-pokok Kepegawaian adalah sebagai berikut :
a) peningkatan produktivitas kerja;
b) pendayagunaan pegawai;
c) pengembangan karier;
d) penambahan tenaga-tenaga ahli pada unit-unit yang membutuhkan;
e) pengisian jabatan-jabatan lowongan yang belum terisi;
f) sebagai hukuman.
Jenis Mutasi
Menurut Nawawi (2003: 138) mutasi ada tiga macam yakni :
1) Mutasi pegawai karena keinginan organisasi, hal ini dapat terjadi karena beberapa
sebab yaitu :
a) Kebutuhan untuk menyesuaikan sementara, misalnya seseorang tidak masuk
kerja.
b) Mengatasi keadaan darurat karena fluktuasi volume pekerjaan.
c) Kebutuhan latihan, misalnya rotasi jabatan.
d) Kebutuhan ploeg pekerjaan.
2) Mutasi dapat digolongkan atas dasar maksud/ tujuan dari mutasi, atas dasar tujuan
mutasi, dimaksudkan mutasi perlu dilakukan akan kebutuhan organisasi tidak
terjadi penumpukkan jumlah pegawai, hal ini dapat dibedakan menjadi:
a) Production transfers merupakan mutasi pegawai dari jabatan satu kejabatan
yang sama dalam lingkungan organisasi yang berbeda.
b) Replacement transfer yakni mutasi pengawai yang sudah lama dinasnya kepada
jabatan yang sama di departement yang lain untuk mengantikan pegawai yang
sedikit masa dinasnya dan diberhentikan.
c) Versatility transfer merupakan mutasi pegawai agar pegawai yang bersangkutan
dapat melakukan pekerjaan atau ahli dalam berbagai lapangan pekerjaan.
d) Remedial transfer adalah mutasi pegawai dari suatu jabatan ke jabatan yang lain
atau yang sama dalam departement yang berlainan dengan maksud ia dapat
bekerja sama dengan rekan-rekan sepekerjaannya atau atasannya.
3) Mutasi dapat digolongkan atas dasar lamanya pegawai tersebut memangku
jabatannya yang baru. Berdasarakan hal ini mutasi dapat digolongkan kepada dua
macam yaitu:
a) Temporary transfers atau mutasi sementara yaitu mutasi yang dilakukan hanya
untuk sementara saja.
b) Permanent transfers artinya mutasi seorang pegawai untuk memangku jabatan
yang baru untuk selama-lamanya samapi tiba waktunya pegawai tersebut
dimutasikan ketempat yang lain atau dipromosikan ke jabatan yang baru.
Mutasi pegawai merupakan proses pemindahan fungsi, tanggungjawab dan status
kepegawaian PNS guna memenuhi kebutuhan pegawai di unit atau bagian yang
membutuhkan sebagai suatu pembinaan dan pengembangan karir yang dilakukan untuk
meningkatkan prestasi kerja pegawai.
Dapat disimpulkan bahwa efektivitas pelaksanaan mutasi pegawai adalah suatu
keadaan yang menunjukan suatu keberhasilan dari dilaksanakannya suatu proses
pemindahan fungsi, tanggungjawab dan status kepegawaian PNS guna memenuhi
kebutuhan pegawai di unit atau bagian yang membutuhkan sebagai suatu pembinaan
dan pengembangan karir untuk melaksanakan rencana yang telah ditentukan sebagai
upaya peningkatan prestasi kerja pegawai.
Untuk mengetahui apakah pelaksanaan mutasi pegawai dilakukan efektif atau tidak
maka perlu dilakukannya pengukuran efektivitasnya adapun menurut Siagian (2001:
24) efektif atau tidaknya dapat dijelaskan melalui yaitu; (a) kejelasan tujuan yang
hendak dicapai; (b) kejelasan strategi pencapaian tujuan, (c) proses analisis dan
perumusan kebijakan yang mantap; (d) perencanaan yang matang; (e) penyusunan
program yang tepat; (f) tersedianya sarana dan prasarana kerja; (g) pelaksanaan yang
efektif dan efisien; (h) sistem pengawasan dan pengendalian.
Untuk itu dalam mengukur seberapa efektif pelaksanaan mutasi pegawai dalam
rangka meningkatkan pengembangan dan pembinaan PNS di Badan Kepegawaian
Daerah Kabupaten Mandailing Natal maka adapun yang dapat menjadi tolak ukurnya
yaitu; (1) pencapaian tujuan, pencapaian tujuan yang hendap dicapai; (2) perencanaan;
perencanaan yang matang dalam melakukan kegiatan; (3) Strategi, adanya jalan atau
cara yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran
yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan
organisasi; (4) Pengawasan, pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik
mengingat sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut
terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.
3. MEKANISME PEMBERHENTIAN PEGAWAI SIPIL
Pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil adalah pemberhentian yang
mengakibatkan yang bersangkutan kehilangan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Ada 3 jenis pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (“PNS”) menurut Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (“UU ASN”) sebagai berikut:
1. Diberhentikan dengan hormat, PNS diberhentikan dengan hormat karena:
a. meninggal dunia;
b. atas permintaan sendiri;
c. mencapai batas usia pensiun;
d. perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan
pensiun dini; atau
e. tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas
dan kewajiban.
2. Diberhentikan tidak dengan hormat, PNS diberhentikan tidak dengan hormat
karena:
a. Melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan
jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan
dan/atau pidana umum;
c. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik; atau
d. Dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan pidana penjara
paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana.
3. Diberhentikan sementara. Sementara itu, untuk jenis ketiga diatur dalam Pasal 88
UU ASN berikut ini:
PNS diberhentikan sementara, apabila:
a. Diangkat menjadi pejabat negara;
b. Diangkat menjadi komisioner atau anggota lembaga nonstruktural; atau
c. Ditahan karena menjadi tersangka tindak pidana.
Pengaktifan kembali PNS yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.
Dasar Hukum
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri
Sipil.
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979 terntang Pemberhentian Pegawai
Negeri Sipil
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun
Janda/Duda Pegawai
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1966 tentang Pemberhentian/Pemberhentian
Sementara Pegawai Negeri
Surat Edaran Kepala BKN Nomor 04/SE/1980 tentang Pemberhentian Pegawai
Negeri Sipil
Surat Edaran Kepala BKN Nomor 04/SE/1987 tentang Batas Pensiun Pegawai
Negeri Sipil
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2004 tentang Larangan Pegawai Negeri
Sipil Menjadi Anggota Partai Politik.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kebijakan manajemen Pegawai Negeri Sipil berada pada presiden selaku kepala
pemerintahan, sesuai dengan pasal 25 Undang-Undang nomor 8 Tahun 1974, sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang nomor 43 Tahun 1999, mengenai Pengangkatan,
pemindahan dan pemberhentian. Untuk kelancaran pengangkatan, pemindahan dan
pemberhentianmaka Presiden dapat mendelegasikan kewenangannya kepada Pejabat Pembina
Kepegawaian Pusat, Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah serta Kepala Badan Kepegawaian
Negara.
Kewenaangan yang diberikan oleh Presiden baik pada Pejabat Pembina Kepegawaian
Pusat maupun Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah untuk mengangkat, memindahkan
maupun memberhentikan harus diawasi dan dikendalikan agar tidak terjadi penyimpangan
yang ada, atau disalahgunakan, sehingga tidak sesuai dengan tujuan kewenangan itu sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Asshiddiqie, Jimly, “Otonomi Daerah dan Parlemen Di Daerah”, Jakarta: Makalah, 2007.
Boli Sabon, Max, “Hukum Otonomi Daerah Bahan Pendidikan untuk Pendidikan Tinggi”,
Hartini, Sri, dkk. “Hukum Kepegawaian di Indonesia”, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Mangkunegara, Anwar Prabu AA. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.