Teori Alam Semesta & Bumi
Teori Alam Semesta & Bumi
Konsep Bumi
Dosen Pengampu :
Sri Purwanti S.Pd., M.Si
Disusun Oleh :
M.Iqram Meidika 2214016088
Fahdila Avrillia 2214016092
Elva Kartika S. 2214016091
Salsabila Damayanti 2214016097
M. Aditya Heriyanto 2214016101
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2023
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul “Teori Terbentuknya Alam Semesta, Tata Surya, beserta Konsep Bumi
. Adapun tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen
pengajar mata kuliah Ilmu Kealamiahan Dasar dan juga untuk menambah wawasan bagi para
pembaca dan penulis. Kami ucapkan terima kasih kepada Sri Purwanti S.Pd., M.Si. yang
telah memberikan arahan terkait tugas makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau, kami
mungkin tidak akan dapat menyelesaikan tugas ini sesuai format yang telah ditentukan.
Kami menyadari, makalah yang telah kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................3
3.1 Kesimpulan....................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut KBBI kata “Alam” memiliki arti segala yang ada di langit dan bumi.
Sedangkan, kata “Semesta” berarti seluruh, segenap, semuanya yang ada di alam dan bersifat
universal. Membicarakan mengenai konsep penciptaan alam semesta seperti tidak ada
ujungnya. Para fisikawan dan ahli filsuf dari masa Yunani kuno hingga filsuf muslim telah
mengemukakan pendapatnya mengenai proses penciptaan alam semesta, mulai dari Tales
yang berpendapat bahwa proses alam semesta ini berawal dari air. Sedangkan pendapat alin
mengatakan bahwa alam semesta berawal dari api (Atabik, 2015). Pengertian alam semesta
mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos merupakan benda-benda
yang memiliki ukuran sangat kecil, seperti atom, elektron, sel, dan sebagainya. Sebaliknya,
makrokosmos merupakan benda-benda dengan ukuran yang sangat besar, seperti bintang,
planet, dan galaksi.
Para ahli bidang astronomi menggunakan istilah alam semesta dalam menafsirkan
tentang ruang angkasa dan benda-benda langit yang terdapat di dalamnya. Bumi sebagai
tempat tinggal makhluk hidup menjadi urutan ketiga dalam tata surya yang bersama planet-
planet lainnya mengitari matahari. Sejarah bumi yang berkaitan dengan perkembangan planet
bumi terbentuk sampai sekarang. Hampir semua cabang ilmu alam telah berkontribusi pada
pemahaman peristiwa atau kejadian di bumi yang sudah lampau. Usia bumi sendiri
diperkirakan sepertiga dari usia alam semesta. Dalam kurun waktu itu, telah banyak terjadi
perubahan besar secara biologis dan geologis. Makalah ini akan membahas cakupan yang
cukup luas tentang proses alam semesta beserta dengan tata surya yang ada di dalamnya
termasuk bumi.
1
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tahapan terbentuknya sebuah alam semesta
2. Untuk mengetahui konsep serta kedudukan bumi di dalam alam semesta
3. Untuk mengetahui proses terjadinya tata surya
2
BAB II
PEMBAHASAN
Alam semesta memiliki berbagai aneka misteri, baik dalam penciptaannya maupun
dalam perkembangannya. Alam semesta ini terbentuk menjadi susunan galaksi bima sakti
yang memiliki ukuran terkecil di bawah atom hingga ukuran paling besar yang tidak bisa
digambarkan. Para Ilmuwan percaya bahwa alam semesta bermula dari titik yang sangat
kecil, panas, berat, dan juga padat dengan energi besar yang terdapat didalamnya. Kemudian,
titik kecil itu meledak dengan sangat dahsyat sehingga muncul berbagai bentuk galaksi.
Selain itu, para ahli juga mengungkapkan bahwa alam semesta ini ada karena ketiadaan
akibat dari goncangan vakum yang membuatnya memiliki energi yang besar dalam
singularitas dan menyimpan tekanan yang negatif. Hal ini menyebabkan terjadinya dorongan
keluar sari singularitas (Mardiah, 2018).
Alam diartikan sebagai “the universe; world; condition; state of being”, yang
memiliki arti “alam semesta; dunia; keadaan; wujud dari Negara bagian”. Alam juga
diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di langit maupun di bumi. Alam berasal dari bahasa
Arab “al-‘alam; al-‘ilm, al-‘alamah” yang memiliki satu arti dengan ilmu. Sedangkan alam
dalam bahasa Yunani disebut dengan “cosmos” yang berarti harmonis atau serasi. Disebut
harmonis atau serasi karena alam mini berada dalam tata aturan dan hukum yang teratur.
(Cicilia et al., 2019).
3
Galaksi adalah sekumpulan bintang-bintang yang memiliki jumlah keseluruhannya
tidak kurang dari 100 Milyar, termasuk diantaranya matahari. Matahari menjadi pusat tata
surya kita saat ini. Bentuk sekumpulan bintang-bintang yang berada di dalam galaksi
menyerupai lensa cembung dan pipih atau cakram dengan garis tengah sepanjang 100 tahun
cahayanya juga memiliki ketebalan 10 tahun cahaya. Posisi matahari sebagai pusat tata surya
berada pada jarak 30 tahun cahaya dari pusat galaksi. Perhitungan jarak sebagaimana
dijelaskan di atas, dapat digambarkan sebagai berikut ; Dalam 1 detik cahaya dapat
menempuh jarak sejauh 300.000 km sedangkan, jarak bumi ke matahari = 8 . 1/3 menit
cahaya atau 500 detik cahaya. Berarti jarak bumi dengan matahari = 500 x 300.000 = 150 juta
km.
Adapun berbagai macam teori tentang terbentuknya alam semesta yaitu sebagai berikut:
Teori ini berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksi-galaksi, karena
pengembungan alam yang berlangsung terus menerus digantikan oleh materi yang baru saja
tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap berada dalam keadaan tidak berubah (stady
state), artinya bahwa materi secara terus menerus tercipta diseluruh alam semesta. Teori ini
sama sekali tidak menyebutkan peristiwa awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang.
Tidak ada awal maupun akhir karena materi diperbaharui secara terus menerus di satu tempat
sementara di tempat lain dihancurkan.
Teori ini berpendapat bahwa ada suatu siklus di jagat raya. Satu siklus mengalami satu
masa ekspansi dan satu masa kontraksi. Satu siklus diperkirakan berlangsung selama 30
milyar tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi serta berbagai bintang di
dalamnya. Ekspansi ini diakibatkan oleh adanya reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya
membentuk unsur-unsur lain yang komplek. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan
bintang-bintang yang telah terbentuk meredup dan unsure-unsur yang telah terbentuk
menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Disebut juga
Oscillating Theory (teori mengembang dan memampat).
4
3. Teori Big – Bang
Keberadaan awal pada peristiwa besar ini melengkapi ketidaktahuan manusia tentang
awal mula alam semesta dan merupakan bahan dari spekulasi sesungguhnya yang
mempunyai dasar kuat. Teori ini mengasumsikan sekitar 15 milyar tahun lalu dimulai dari
ledakan yang dahyat dan dilanjutkan dengan pengambangan alam semesta. Point penting dari
semua peristiwa ini adalah waktu, materi , energi dan ruang merupakan satu keterpaduan.
Kejadian ini bukan ledakan biasa tetapi cukup memenuhi semua peristiwa dari ruang dengan
semua partikel yang menjadi embrio alam semesta yang mendesak keluar dari masing-masing
yang lain.
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi dan Gold. Mereka berpendapat bahwa waktu
diciptakannya alam semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada, dengan
kata lain alam semesta tidak pernah bermula dan tidak pernah berakhir ( mengingatkan kita pada Al-
Razi yang menyatakan materi itu kekal). Pada setiap saat ada partikel-partikel tersebut kemudian
mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Karena
partikel yang dilahirkan lebih besar dari pada yang lenyap, maka jumlah materi makin bertambah dan
mengakibatkan pemuaian alam semesta. Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritik pada 10
milyar tahun lagi. Tetapi dalam kurun waktu 10 milyar ini akan dihasilkan kabut-kabut baru. Menurut
teori ini 90 % materi alam semesta adalah oksigen, Dari hydrogen ini akan membentuk helium dan zat
lainnya.
(https://statik.unesa.ac.id/profileunesa_konten_statik/uploads/geofish/file/fec984cf-ff1a-
4ff8-aa5e-f77c48c1fbf2.pdf)
Sains modern berpendapat bahwa cosmos terjadi dari sekumpulan gas yakni hydrogen dan sedikit
helium yang berputar secara perlahan pada zaman yang sangat kuno. Kumpulan gas tersebut
kemudian terbagi menjadi beberapa potongan dengan jumlah banyak dari dimensi dan kelompok yang
sangat besar. Ahli astrofisika memperkirakan bahwa dimensi tersebut 1 milyar sampai dengan 100
milyar kali besarnya matahari dan besarnya matahari adalah 300.000 kali besarnya bumi. Angka-
angka itu memberikan gambaran kepada kita tentang sekelompok gas yang awal mula kemudian
melahirkan galaksi.
5
Menurut Fowler (1957) sekitar 12.500 juta tahun lalu galaksi bhima sakti masih berbentuk kabut
gas hydrogen yang sangat panas. Kemudian, ia berotasi sehingga bentuknya menjadi bulat dan
bertambah berat. Akibatnya ia mengadakan konstraksi dan pada bagian masa luarnya yang memiliki
kadar berat jenis besar banyak yang tertinggal dan kemudian membentuk bintang-bintang yang secara
lambat laun juga melakukan konstraksi sambil memancarkan energi potensialnya berupa kalor
sehingga perlahan-lahan suhunya menjadi turun. Setelah ribuan tahun, bentuk bintang-bintang itu ada
yang hampir tetap seperti matahari kita.
Teori terjadinya tata surya mula-mula dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) seorang ahli filsafat
bangsa Jerman dan Pierre Simon Lapace (1796) seorang ahli fisika bangsa Perancis. Keduanya
berpendapat bahwa tata surya berasal dari kabut, sehingga disebut teori Kabut Kant-Laplace, dalam
alqur’an menjelaskan bahwa penciptaan langit itu berasal dari asap (kabut), Qur’an surat Fussilat ayat
11. Artinya ; Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,
lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan
suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab Kami datang dengan suka hati. Kant dan Laplace
sekalipun memiliki kesamaan dalam menjelaskan asal tata surya tetapi mereka berbeda dalam
menjelaskan proses pembentukan tata surya, sebagaimana dijelaskan di bawah ini :
Immanuel Kant : Ia berpendapat bahwa tata surya itu berasal dari gumpalan kabut gas panas
yang berputar pada porosnya. Kemudian kabut itu menjadi padat dan atas dasar prinsip tarik
menarik dan tolak menolak dari bagian-bagian kabut yang memadat itu dipusatnya
membentuk inti yang menjadikannya matahari, sedangkan bagian-bagian lainnya bersatu lalu
memisahkan diri dari yang lainnya dan menjadilah planet-planet. Dengan demikian planet-
planet tersebut terbentuk bersamaan dengan matahari.
Laplace : Ia berpendapat bahwa tata surya berasal dari nebula atau kabut gas pijar bercampur
dengan debu yang berputar pada porosnya. Akibat percepatan rotasinya, kabut semakin
mengecil dan bentuknya menjadi seperti cakram (pipih). Karena percepatannya makin besar,
keadaan kabut menjadi tidak stabil dan terlepas membentuk sebuah cincin gas, lalu memadat.
Pemadatan itu berlangsung secara terus menerus, kemudian membuat ketidakstabilan baru
sehingga membentuk cincin gas yang baru dan memadat lagi dan seterusnya. Cincin itu
membentuk planet, sedangkan yang masih panas menjadi matahari.
6
2. Teoti Tidal atau Pasang Surut
Teori ini dikemukakan oleh James H. Jeans dan Harold Jeffres pada tahun 1919. Menurut teori ini
ratusan juta tahun lalu terdapat sebuah bintang yang bergerak mendekati matahari dan kemudian
menghilang. Pada waktu itu sebagian matahari tertarik dan lepas. Dari bagian matahari yang lepas
inilah kemudian terbentuk planet-planet.
Menurut teori ini, kemungkinan dahulu matahari merupakan sepasang bintang kembar. Karena
suatu sebab membuat salah satu bintang meledak, dan oleh gaya tarik gravitasi bintang yang satunya
(matahari sekarang), pecahan tersebut tetap berada di sekitar dan beredar mengelilinginya.
Pada tahun 1950 G.P Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang ditemui di luar
tata surya dan menyuarakan penyempurnaan atas teori-teori yang telah dikemukakan yang
membayangkan matahari serta semua planet-planet berasal dari gas purba yang terdapat di
ruang angkasa. Pada saat ini terdapat banyak kabut gas dan diantara kabut itu terlihat di
dalamnya proses melahirkan bintang. Kabut gas yang tampak tipis-tipis di ruang angkasa itu,
karena gaya tarik gravitasi antar molekul dalam kabut itu perlahan akan memampatkan diri
menjadi massa yang semakin lama semakin padat. Pemadatan ini dimungkinkan oleh sifat
gas semacam itu selalu terjadi gerakan.
Selanjutnya gerakan itu semakin lama menjadi gerakan berputar yang memipihkan dan
memadatkan gas kabut itu. Satu atau dua gumpalan materi memadat di tengah. Sedang
gumpalan yang kecil akan melesat dilingkungan sekitarnya. Gumpalan yang memadat
ditengah menjadi matahari sebagai pusat, sedangkan gumpalan-gumpalan yang kecil menjadi
sebuah planet. Matahari yang menjadi pusat begitu padat mulai menyala dengan api nuklir
yang selanjutnya api itu mendorong gas yang masih membungkus planet menjadi sirna.
Sehingga, planet sekarang terlihat telanjang tinggal terasnya. Tapi wujud planet yang jauh
dari matahari kurang terpengaruh sehingga tampak menjadi planet yang besar dengan diliputi
kabut.
https://stie-igi.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/MODUL-IAD-PERTEMNUAN-10.pdf
7
2.5 Bumi Sebagai Suatu Planet
Bumi adalah suatu planet daratan (land planet), artinya bumi tersusun dari batuan bukan
tersusun dari gas berukuran raksasa seperti planet Jupiter, dan Bumi juga merupakan planet
daratan terbesar ke empat dari planet-planet daratan yang ada, baik dari segi ukuran maupun
masanya.
Bentuk dari planet Bumi sebenarnya tidaklah berbentuk seperti bola yang bulat sempurna,
melainkan agak sedikit lonjong atau berbentuk oval, dimana lengkungan Bumi yang berada
disepanjang sumbu kutub utara dan kutub selatan hampir mendatar seperti halnya yang ada
disekitar ekuator. Bentuk lengkungan yang relatif hampir mendatar ini tidak lain disebabkan
oleh rotasi Bumi dan pendataran yang ada di bagian kedua kutub bumi menyebabkan
diameter Bumi diekuator lebih panjang 43 km dibandingkan dengan diameter yang
terdapat di kedua kutub Bumi.
Kerak bumi atau Crush merupakan kulit bumi bagian luar (permukaan bumi). Tebal
lapisan kerak bumi mencapai 70 km dan merupakan lapisan batuan yang terdiri dari batu-
batuan dan masam. Lapisan ini menjadi tempat tinggal bagi seluruh makhluk hidup. Suhu di
bagian bawah kerak bumi mencapai 1.100 derajat Celcius. Lapisan kerak bumi dan bagian di
bawahnya hingga kedalamn 100 km dinamakan litosfer. Kerak dean mantel dibatasi oleh
Mohorovivic Discontinuity. Susunan kerak bumi yaitu terdiri dari feldsfar dan mineral silikat.
Lapisan bagian atas kerak bumi yang berada di daerah daratan, biasanya dilapisi oleh
tanah. Tanah, yang terdiri dari kandungan partikel batuan yang telah tertimpa cuaca, dan juga
mengandung banyak zat organik yang berasal dari pembusukan makhluk hidup pada
zaman purba.Tanah menjadi pendukung kehidupan tanaman di bumi dan juga binatang
karena termasuk makanan hewan, baik langsung berasal dari tanaman maupun tidak.
8
2. Selimut atau selubung bumi (mantle)
Nama lain lapisan ini adalah astenosfer. Selimut atau selubung merupakan lapisan
yang terletak di bawah lapisan kerak bumi. Tebal selimut bumi mencapai 2.900 km dan
merupakan lapisan batuan padat. Selimut bumi terdiri dari campuran berbagai bahan yang
bersifat cair, padat dan gas dengan suhu yang tinggi. Suhu di bagian bawah selimut bumi
mencapai 3.000 derajat celcius. Mantel atau selimut bumi inilah yang membungkus inti bumi.
Adapula komposisinya yang kaya akan magnesium. Mantel bumi terdiri atas dua, yaitu
mantel atas yang memiliki sifat plastis hingga semiplastis dengan kedalaman sampai 400 km
sedangkan, mantel bagian bawah memiliki sifat padat dengan kedalaman hingga 2.900 km.
Inti bumi yang terdiri dari material cair, dengan penyusun utama yaitu logam besi (90
%),nikel (8 %), dan lain-lain yang terdapat pada kedalaman 2900-5200 km. Lapisan ini
dibedakan menjadi dua yaitu lapisan inti luar (outer core) dan lapisan inti dalam (innner
core). Lapisan inti luar tebalnya sekitar 2.000 km dan terdiri atas besi cair yang suhunya
mencapai 2.200 derajat Celcius. Adapun inti bagian dalam yang merupakan pusat bumi
berbentuk seperti bola dengan diameter sekitar 2.700 km. Inti dalam ini terdiri dari nikel dan
besi yang suhunya mencapai 4.500 derajat Celcius. Pada penelitian geofisikia, inti bumi
memiliki material dengan berat jenis yang sama dengan berat jenis meteorit logam yang
terdiri atas material besi dan nikel. Sehingga para ahli percaya inti bumi tersusun dari
beberapa senyawa besi dan nikel. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
karakteristik lapisan bumi paling dalam (inti) memiliki sifat pejal atau keras yang diselubungi
dengan lapisan cair yang relatif kental, sedangkan pada bagian luar atau atasnya berupa
litosfer yang bertekstur pejal dan keras pula.
Berdasarkan susunan kimianya, bumi dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni
bagian padat (lithosfer) yang terdiri atas tanah dan batuan,bagian cair (hidrosfer) yang terdiri
dari berbagai bentuk ekosistem perairan seperti laut, danau, dan sungai juga bagian udara
(atmosfer) yang menyelimuti keseluruhan permukaan bumi serta bagian yang ditempati oleh
berbagai jenis organisme (biosfer). Keempat komponen tersebut berinteraksi secara aktif
antara satu dengan yang lain, seperti dalam siklus biogeokimia dari berbagai unsur kimia
9
yang ada di bumi, proses transfer panas dan perpindahan materi padat. Dari empat macam
susunan kimia yang terdapat pada bumi yang bisa dijelaskan yakni dua yaitu:
1. Atmosfer
Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi secara menyeluruh dengan
ketebalan lebih dari 650 km. Gerakan udara dalam atmosfer terjadi terutama karena adanya
pengaruh pemanasan sinar matahari serta perputaran bumi. Fungsi atmosfer pada perputaran
bumi ini akan mengakibatkan bergeraknya massa udara, sehingga terjadinya perbedaan
tekanan udara di berbagai tempat di dalam atmosfer yang dapat menimbulkan arus angin.
Pada lapisan atmosfer juga terdapat kandungan berbagai jenis gas. Berdasarkan volumenya,
jenis gas yang paling banyak terkandung berturut-turut adalah nitrogen (N2) sebanyak 78,08
%, oksigen (O2) sebanyak 20,95%, argon sebanyak 0,93 %, serta karbon dioksida (CO2)
sebanyak 0,03%. Berbagai jenis gas lainnya juga terkandung dalam atmosfer, tetapi dalam
konsentrasi yang jauh lebih rendah, misalnya neon (Ne),helium (He),kripton (Kr),hidrogen
(H2),xenon (Xe),ozon (O3), metan dan uap air.
2. Hidrosfer
Air di permukaan bumi, meliputi ; laut, sungai, danau, rawa,salju, es dan glister
Air di udara, meliputi ; uap air, kabut,dan berbagai macam awan
Air di dalam tanah, meliputi ; air tanah,air kapiler,geiser dan artois
Jumlah air di bumi tidak bertambah dan juga tidak berkurang, namun wujud dan
tempatnya sering kali mengalami perubahan. Perubahan wujud air (padat,cair,dan gas)
membentuk suatu siklus atau daur yang disebut siklus atau daur hidrologi. Siklus hidrologi
adalah proses perputaran air, seperti proses tejadinya hujan dari air yang menguap menjadi
awan, dan apabila sudah mencapai titik jenuh awan tersebut akan jatuh dalam bentuk air
hujan begitu seterusnya. Dalam siklus hidrologi air mengalami perubahan bentuk.
10
3. Litosfer
Lapisan ini terletak di atas lapisan pengantara dengan ketebalan 1200 km, berat jenisnya
rata-ratanya sekitar 2,8 gr/cm3. Suhu di bagian kerak bumi mencapai sekitar 1.050º C.
Litosfer juga sering disebut sebagai lapisan batuan pembentuk kulit bumi atau crust . Litosfer
berasal dari dua kata yaitu katalithos yang berarti batu dan katasfhere atau sphaira dengan
arti bulatan atau lapisan. Dapat disimpulkan bahwa Litosfer dimaknai sebagai suatu
lapisan batuan pembentuk kulit bumi. Dengan kata lain, litosfer merupakan bagian dari
lapisan bumi paling atas dengan ketebalan kurang lebih dari 70 km yang tersusun dari batuan
penyusun kulit bumi. Kulit bumi atau litosfer terdiri atas :
Lapisan sial (si – silica – al – aluminium) – Yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas
logam silisium dan aluminium, dengan senyawanya yang berbentuk SiO2 dan Al2o3. Dalam
lapisan ini antara lain terdapat batuan sedimen, granit, andesit yang merupakan jenis batuan
metamorf dan batuan lain di daratan benua. Lapisan sial disebut juga sebagai lapisan kerak
yang bersifat padat dan kaku dengan ketebalan rata-rata kurang lebih 35 km.
Kerak benua – Merupakan benda padat yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian
atasnya dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai
benua. Kerak benua terdiri dari kandungan mineral berupa Si, Al. Memiliki ketebalan sekitar
30-80 km (Condie,1982) dan rata-rata 35 km, sedangkan berat jenisnya yaitu sekitar 2,85
mg/cc. Biasanya kerak benua disebut juga sebagai lapisan granitis karena terdiri dari susunan
batuan yang berkomposisi batuan granit.
Kerak samudera – Merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut bagian atas
yang kemudian di bawahnya terdapat batuan-batuan vulkanik dan yang paling bawah
tersusun dari batuan beku gabro dan peridotit. Kerak inilah yang memempati samudra. Kerak
samudra terdiri atas mineral yakni Si,Fe,Mg. Ketebalan kerak samudra ini sekitar 5-15 km
(Condie,1982). Berat jenisnya rata-rata sebanyak 3 mg/cc. Nama lain dari kerak samudra
yaitu lapisan basaltis karena penyusunnya berupa batuan yang berkomposisi basalt.
Perbedaan dari kedua kerak ini bukan hanya terletak dari ketebalan dan berat jenisnya
saja, namun juga terdapat pada perbedaan umur. Umur tertua yang ditemukan batuan kerak
samudra diketahui sekitar 200 juta tahun yang lalu. Namun, umur itu belum apa-apa jika
dibandingkan dengan umur kerak benua yang telah ditemukan pada 3800 juta tahun yang
lalu. Adapula lapisan sima, yaitu lapisan kulit bumi yang disusun oleh logam-logam silisium
11
dan megnesium dalam bentuk senyawa siO2 dan Mgo. Lapisan ini memiliki berat jenis lebih
besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral
ferromagnesium dan batuan basalt. Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan
mempunyai ketebalan rata-rata 65 km.
(https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/struktur-bumi)
4. Biosfer
BAB III
12
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sampai saat ini belum ada teori yang benar-benar tepat untuk menggambarkan suatu bukti
dari terbentuknya alam semesta, tata surya dan bumi. Namun, setalah dari berbagai penelitian
yang telah di lakukan oleh para ahli yang bertujuan untuk mengetahui proses atau
terbentuknya alam semesta, tata surya dan bumi ini dapat simpulkan bahwa dari sekian
banyak teori-teori yang di kemukakan oleh para ilmuwan ternyata ilmuan modern menyetujui
bahwa teori ledakan maha dahsyat (teori big-bang) di mana teori ini merupakan salah satu
teori yang memberikan penjelasan masuk akal dan dapat di buktikan asal mula alam semesta
dan bagaimana alam semesta muncul.
Sudah semestinya kita sebagai manusia harus menjaga segala yang ada di alam semesta
beserta isinya. Sebaiknya ilmu pendidikan yang kita pergunakan tidak terlepas dari jalur
keilmuan. Demikianlah yang akan terjadi jika kita bertanya tentang alam semesta, kita tidak
akan pernah puas karena sifat penasaran kita. Seringkali kita mendapati suatu pertanyaan
mengenai terebentuknya alam semsesta, dan jawaban-jawaban yang telah diberikan membuat
hati kita kagum, heran, takzim dan sampai pada tingkat suatu perenungan bahwa betapa luar
biasa kuasa Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini.
DAFTAR PUSTAKA
13
SE, MM, A. S. (2020). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IGI.
14