Tugas Makalah Dosen Pembimbing
Teori dan Riset Kepribadian Kontemporer Rita Susanti,S.Psi., M.A.
“Teori Kepribadian Psikoanalisis Sigmund Freud dan The Big Five Personality”
Disusun Oleh
Kelompok 6
Ahmad Fakhrul Rahman 12060117593
Annisatul Fathonah 12060122000
Dewi Ayu Lestari 12060122774
Nurkhoiriyah Febriani 12060120575
Salmia Cahaya Fitri 12060122450
Triana Puspa Ningtyas 12060121860
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF
KASIM RIAU
2022/2023
TEORI KEPRIBADIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
A. Sejarah Psikoanalisis
Sigmund Freud merupakan seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran
psikoanalisis dalam psikologi. lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang
sekarang terkenal sebagai bagian dari Republik Ceko. Menganalisis dirinya sendiri melalui
studi tentang mimpinya sendiri, sebuah proses yang terus dia lakukan selama sisa
hidupnya. Ketika dia memulai, dia menulis kepada seorang teman bahwa “Sabar utama
yang saya sibukkan adalah diri saya sendiri” (dikutip dalam Kandel, 2012, hlm. 63).
Selama periode inilah ia melakukan karya paling kreatifnya dalam mengembangkan teori
kepribadiannya. Melalui penjelajahan mimpinya, dia menyadari, untuk pertama kalinya,
seberapa besar rasa permusuhan yang dia rasakan terhadap ayahnya. Dia mengingat
kerinduan seksual masa kecilnya untuk ibunya dan memimpikan keinginan seks terhadap
putri sulungnya. Dengan demikian, ia merumuskan banyak teorinya seputar konflik
neurotik dan pengalaman masa kecilnya, yang disaring melalui interpretasi mimpinya.
Saat dia mengamati dengan cermat, "Pasien yang paling penting bagi saya adalah orang
saya sendiri" (Freud dikutip dalam Gay, 1988, hlm. 96).
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang disebar luas kan oleh Sigmund Freud dan para
pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud,
pendiri psikoanalisis, merupakan orang pertama ,berupaya merumuskan psikologi
manusia. Ia fokus pada totalitas kepribadian manusia.
Lahirnya Aliran Psikoanalisis pada tahun 1890an hingga di 1939 ia tutup usia, dokter
berkebangsaan Austria bernama Sigmund Freud mengembangkan metode psikoterapi
yang dikenal dengan nama psikoanalisis. Pemahaman Freud tentang pikiran didasarkan
pada metode penafsiran, introspeksi, dan pengamatan klinis, serta terfokus pada
menyelesaikan konflik alam bawah sadar, ketegangan mental, dan gangguan psikis
lainnya.
Istilah psikoanalisis gunakan dalam hubungan dengan Freud saja, jadi “psikoanalisis”
dan “psikoanalisis” Freud sama maknanya. Ketika pengikut Freud menyimpang dari
ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri, mereka juga meninggalkan istilah
psikoanalisis dan memilih suatu nama baru untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh
yang terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama
“psikologi analitis” (en: Analitycal psychology) dan “psikologi individual” (en: Individual
psychology) bagi ajaran masing-masing.
Menurut Freud psikoanalisis memiliki tiga makna Bertens 1979 yaitu:
1. Untuk memperlihatkan suatu metoda penelitian terhadap proses-proses psikis
yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah;
2. Untuk memperlihatkan suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan jiwa
yang dialami pasien neurosis;
3. Untuk memperlihatkan semua pengetahuan psikologis yang dihasilkan melalui
metoda dan teknik tersebut.
Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan mempelajari perilaku manusia dalam
kehidupan sehari hari. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunanai
Kuno : “ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang artinya ilmu)
sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari
tentang jiwa.
Kepribadian merupakan keseluruhan cara suatu individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain. Kepribadian biasa nya dideskripsikan sebagai sifat yang bisa diukur
dan ditunjukkan oleh seseorang.
Psikoanalisis merupakan teori bahwa motif tidak sadar mengendalikan sebagian besar
perilaku. Freud tertarik pada hipnotis dan penggunaannya untuk menolong penderita
penyakit mental.kemudian Freud meninggalkan hipnotis untuk asosiasi bebas dan analisis
mimpi guna mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai “obat dengan berbicara”.
Jadi , Psikologi Kepribadian Psikoanalisis adalah bidang studi psikologi mempelajari
perilaku manusia dalam kehidupan sehari hari, psikologi kepribadian berkaitan erat
dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari
perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam
berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Yang dipengaruhi oleh bawah alam sadar,
sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan,
impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam
alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
B. Pengertian Psikoanalisis
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para
pengikutnya, sebagai studi tentang fungsi dan perilaku psikologis manusia. Pada awalnya
istilah psikoanalisis hanya digunakan dalam kaitannya dengan Freud, sehingga
"psikoanalisis" dan "psikoanalisis Freud" memiliki arti yang sama. Jika beberapa pengikut
Freud kemudian menyimpang dari ajarannya dan berpisah, mereka juga meninggalkan
istilah psikoanalisis dan memilih nama baru untuk menunjukkan ajaran mereka. Contoh
terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama "psikologi
analitis" (bahasa Inggris: psikologi analitis) dan "psikologi individu" (bahasa Inggris:
psikologi individu) untuk ajaran mereka masing-masing.
Psikoanalisis memiliki tiga aplikasi:
1. Metode penelitian pikiran.
2. Ilmu yang sistematis tentang perilaku manusia.
3. Metode pengobatan penyakit psikologis atau emosional.
Teori psikoanalitik dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang
sebagai teknik terapi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara tentang
kepribadian, terutama dalam hal struktur, dinamika, dan perkembangannya
C. Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu sadar, prasadar,
dan tidak sadar. Sampai tahun 1920-an, teori konflik psikologis hanya melibatkan ketiga
unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud memperkenalkan tiga model struktural
lainnya, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak menggantikan
struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental, terutama dalam fungsi dan tujuannya
(Awisol, 2005:17).
Freud berpendapat bahwa kepribadian adalah suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur,
yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam bahasa Inggris dinyatakan sebagai Id, the
Ego, dan Super Ego), yang masing-masing memiliki asal, aspek, fungsi. , prinsip operasi
dan peralatan itu sendiri.
1) Identitas
Gagasan Freud sebelumnya tentang ketidaksadaran (walaupun ego dan
superego juga memiliki aspek bawah sadar). Id adalah reservoir bagi naluri
dan libido (energi psikis yang dimanifestasikan oleh naluri). Id adalah struktur
kepribadian yang kuat karena ia memasok semua energi untuk dua komponen
lainnya. Karena id adalah penampung naluri, ia secara vital dan langsung
berhubungan dengan pemuasan kebutuhan tubuh. Seperti yang kita lihat
sebelumnya, ketegangan dihasilkan ketika tubuh berada dalam keadaan
membutuhkan, dan orang tersebut bertindak untuk mengurangi ketegangan ini
dengan memuaskan kebutuhan. Id tidak memiliki kesadaran akan realitas. Kita
mungkin membandingkan id dengan bayi yang baru lahir yang menangis dan
dengan panik melambaikan kaki dan tangannya ketika kebutuhannya tidak
terpenuhi tetapi yang tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana
menghasilkan kepuasan. Bayi yang lapar tidak dapat menemukan makanannya
sendiri. Satu-satunya cara id dapat mencoba untuk memuaskan kebutuhannya
adalah melalui tindakan refleks dan pengalaman fantasi atau halusinasi yang
memenuhi keinginan, yang disebut Freud sebagai pemikiran proses primer.
2) Ego
Ego tidak menghalangi kepuasan id. Sebaliknya, ia mencoba untuk
menunda, menunda, atau mengarahkannya kembali untuk memenuhi tuntutan
realitas. Ia merasakan dan memanipulasi lingkungan dengan cara yang praktis
dan realistis dan dikatakan beroperasi sesuai dengan prinsip realitas. (Prinsip
realitas bertentangan dengan prinsip kesenangan, yang dengannya id
beroperasi. Fungsi pengendalian dan penundaan ego ini harus dilakukan terus-
menerus. Jika tidak, impuls id mungkin mendominasi dan menggulingkan ego
rasional. Seseorang yang dikendalikan oleh id dapat dengan mudah menjadi
bahaya bagi masyarakat, dan mungkin berakhir di perawatan atau di penjara.
Freud berpendapat bahwa kita harus melindungi diri kita sendiri agar tidak
dikendalikan oleh id dan mengusulkan berbagai mekanisme bawah sadar
untuk mempertahankan ego.
3) Super Ego
Tidak mewakili gambaran lengkap Freud tentang sifat manusia. Ada
juga perangkat kekuatan ketiga—perangkat perintah atau keyakinan yang kuat
dan sebagian besar tidak disadari—yang kita peroleh di masa kanak-kanak:
gagasan kita tentang benar dan salah. Dalam bahasa sehari-hari kita menyebut
moralitas internal ini sebagai hati nurani. Freud menyebutnya superego.
Superego tidak berusaha untuk kesenangan (seperti yang dilakukan id)
maupun untuk pencapaian tujuan yang realistis (seperti yang dilakukan ego).
Ia berusaha semata-mata untuk kesempurnaan moral. Id menekan faksi
kepuasan, ego mencoba menundanya, dan superego mendesak moralitas di
atas segalanya. Seperti id, superego tidak mau berkompromi dengan
tuntutannya.
4) Kecemasan: Ancaman terhadap Ego
Freud menjadikan kecemasan sebagai bagian penting dari teori
kepribadiannya, dengan menyatakan bahwa kecemasan merupakan dasar bagi
perkembangan semua perilaku neurotik dan psikotik. Dia menyarankan bahwa
prototipe dari semua kecemasan adalah trauma kelahiran. Apa yang dimaksud
Freud dengan ini adalah bahwa orang tersebut, tanpa memandang usia,
direduksi menjadi keadaan tidak berdaya seperti yang dialami pada masa bayi.
Dalam kehidupan dewasa, ketidakberdayaan kekanak-kanakan ditampilkan
kembali sampai tingkat tertentu setiap kali ego muncul terancam. Freud
mengusulkan tiga jenis kecemasan yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
a. Kecemasan Realita
Jenis kecemasan pertama, yang merupakan asal dari yang lain,
adalah kecemasan realitas (atau kecemasan objektif). Ini melibatkan
rasa takut akan bahaya nyata. Kecemasan realitas melayani tujuan
positif membimbing perilaku kita untuk melarikan diri atau melindungi
diri kita sendiri dari bahaya yang sebenarnya. Ketakutan kita mereda
ketika ancaman itu tidak ada lagi. Namun, ketakutan berbasis realitas
ini dapat dibawa ke ekstrem.
b. Kecemasan Neurotik
Kecemasan neurotik memiliki dasar di masa kanak-kanak,
dalam konflik antara kepuasan naluriah dan kenyataan. Anak-anak
sering dihukum karena terang-terangan mengekspresikan impuls
seksual atau agresif. Oleh karena itu, keinginan untuk memuaskan id
tertentu yang menimbulkan kecemasan.
c. Kecemasan moral
Kecemasan moral adalah fungsi dari seberapa baik superego
berkembang. Seseorang dengan hati nurani penghambat yang kuat
akan mengalami konflik yang lebih besar daripada seseorang dengan
seperangkat pedoman moral yang kurang ketat. Seperti kecemasan
neurotik, kecemasan moral memiliki beberapa dasar dalam kenyataan.
Contohnya ketika anak-anak dihukum karena melanggar kode moral
orang tua mereka, dan orang dewasa dihukum karena melanggar kode
moral masyarakat. Perasaan malu dan bersalah dalam kecemasan
moral timbul dari dalam; itu adalah hati nurani kita yang menyebabkan
ketakutan dan kecemasan. Freud percaya bahwa superego menuntut
pembalasan yang mengerikan untuk pelanggaran prinsip-prinsipnya.
Kecemasan berfungsi sebagai pengingatan kepada seseorang bahwa ada
sesuatu yang salah dalam kepribadiannya. Kecemasan menginduksi ketegangan
dalam organisme dan demikian menjadi dorongan ( seperti rasa lapar atau haus)
bahwa individu termotivasi untuk memuaskan.
FIVE FACTOR MODEL DARI KEPRIBADIAN ( THE BIG FIVE PERSONALITY)
A. Definisi big five Personality
Teori ini dikemukakan oleh seorang Psikolog terkenal yaitu Lewis Goldberg. Big Five
Personality ialah pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian
manusia melalui trait yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah
dibentuk menggunakan analisis faktor. Big Five Personality atau Teori kepribadian lima
besar. Teori ini merupakan pendekatan dalam ilmu psikologi kepribadian yang
menjelaskan kepribadian manusia melalui trait yang disusun dari lima buah kepribadian
yang terbentuk dengan analisis-analisis faktor yang ada.
Menurut Weiten (2011), kepribadian merupakan keistimewaan individu pada ciri-ciri
perilaku yang bersifat konsisten. Kepribadian merupakan pola sifat yang relatif lebih
permanen dan karakteristik unik yang konsisten dalam perilaku seseorang (Feist & Feist,
2009).
Five Factor Model (FFM) dari kepribadian adalah model konseptual yang terdiri dari
lima dimensi dasar kepribadian yang pisah dan tampak sebagai konsep yang universal bagi
semua orang (Matsumoto & Juang, 2004). Five Factor Model juga dikenal sebagai The
Big Five. Five Factor Model dari kepribadian terbagi atas 5 dimensi, yaitu:
1) Neurotis (Neuroticism)
Orang yang mempunyai trait neurotis yang besar akan lebih merasa cemas,
mudah marah, mengasihani diri sendiri, sadar diri, emosional dan rentan untuk
terkena gangguan stres (Feist & Feist, 2009). Orang dengan trait neurotis yang
besar akan merasakan kecemasan dan ketegangan sehingga mereka takut untuk
melakukan kesalahan (John & Srivastava, 1999). Ex: Maka ketika siswa SMA
mengalami kecemasan akan cenderung meningkatkan dimensi personal conflict
sehingga ketika ingin memilih jurusan siswa merasa kurang yakin, merasa takut,
kurang mampu menentukan ketika dihadapkan beberapah pilihan program studi.
2) Ekstraversi (Ekstraversion)
Mereka yang memiliki nilai yang tinggi pada ciri ekstraversi akan lebih
cenderung untuk menyayangi, periang, aktif berbicara, mudah bergabung,
menyenangkan dan berinteraksi dengan lebih banyak orang dibanding mereka yang
introversi (Feist & Feist, 2009). mereka juga cenderung penuh semangat,
antusias,Dominan, ramah, dan komunikatif (Friedman & Schustack, 2012). (Feist
& Feist, 2009)., mereka juga cenderung penuh semangat, antusias, dominan,
ramah, dan komunikatif (Friedman & Schustack, 2012).
Contohnya siswa dengan extraversion tinggi akan tertarik dengan banyak hal,
termasuk tertarik dengan banyak jurusan dan pilihan karier, sehingga kurang dapat
fokus pada satu karier tertentu. Ia juga akan cenderung mengalami konflik dalam
menentukan kariernya karena minatnya yang banyak terhadap jurusan yang ada.
Dengan demikian, seseorang dengan nilai extraversion tinggi akan cenderung
mengalami kebimbangan karier.
3) Keterbukaan (Openness)
Ciri ini membedakan antara individu yang memilih variasi dibandingkan
dengan individu yang menutup diri serta individu yang mendapatkan kenyamanan
dalam hubungan mereka dengan hal-hal dan orang-orang yang mereka kenal (John
& Srivastava, 1999). Orang yang terbuka pada pengalaman cenderung mencari
perbedaan dan pengalaman yang bervariasi dan berbeda (Feist & Feist, 2009).
Mereka juga umumnya terlihat imajinatif, menyenangkan, kreatif, dan artistik
(Friedman & Schustack, 2012).
Contohnya ketika siswa SMA yang memiliki ciri karakteristik ini akan
mencari informasi terlebih dahulu mengenai jurusan atau program studi yang akan
dipilihnya. Ia juga mampu mencari informasi mengenai beberapa alternatif ketika
tidak mendapatkan jurusan yang akan dijadikan pilihan utama, sehingga cenderung
lebih mudah untuk mendapatkan solusi ketika memilih karier yang akan dipilih.
Oleh karena itu, pribadi dengan trait openness to experience yang tinggi cenderung
memiliki kebimbangan karier yang rendah.
4) Kemufakatan (Agreeableness)
Orang-orang dengan dimensi kemufakatan (agreeableness) yang tinggi
cenderung mempercayai orang lain, murah hati, mudah menerima, selalu
mengalah, menghindari konflik dan baik hati (Feist & Feist, 2009). Mereka juga
cenderung ramah, kooperatif dan hangat (Friedman & Schustack, 2012).
Kemufakatan juga merujuk pada kualitas orientasi interpersonal seseorang dimulai
dari perasaan peduli hingga perasaan permusuhan dalam pikiran, perasaan, dan
tindakan (John & Srivastava, 1999).
Contohnya siswa dengan karakteristik agreeableness tinggi lebih rentan
percaya terhadap informasi dan menerima masukan dari orang lain seperti teman,
orangtua, guru mengenai pilihan jurusan yang akan dipilihnya. Hal ini membuat
seseorang dengan nilai agreeableness tinggi cenderung mengalami kebimbangan
dalam kariernya karena mempertimbangkan banyak masukan dari luar.
5) Kesungguhan (Conscientiousness)
Faktor kelima adalah kesungguhan (conscientiousness) yang mendeskripsikan
orangorang teratur, terkontrol, terorganisir, berambisi, fokus pada hasil, dan
disiplin. Secara umum, mereka yang memiliki skor yang tinggi akan cenderung
pekerja keras, cermat, tepat waktu dan tekun (Feist & feist, 2009). Mereka juga
umumnya berhati-hati, dapat diandalkan, teratur, dan bertanggung jawab
(Friedman & Schustack, 2012).
Contohnya ketika siswa SMA kelas XII yang memiliki ciri karakteristik
conscientiousness ketika memilih program studi dapat fokus pada jurusan yang
menjadi tujuannya, mampu mempersiapkan secara disiplin mengenai jurusan yang
akan dipilih. Ia pun dapat menakar kemampuan dirinya sehingga menjadi lebih
yakin dengan keputusan yang diambil (Pecjak & Kosir, 2007).
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang
Arnissa 2013.Hubungan antara Lima Faktor Kepribadian (The Big Five Personality) dengan
Makna Hidup pada Orang dengan Human Immunodeficiency Virus Jurnal Psikologi
Klinis dan Kesehatan Mental Vol. 02 No. 1,
Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Hill.
Kuntojo. 2015. Psikologi perkembangan. Yogyakarta: Diksi
Koeswara, E. 2001. Teori kepribadian. Bandung: PT Eresco.
Salma, Novika , Sari , 2018 Hubungan Tipe Kepribadian Berdasarkan Big Five Theory
Personality dengan Kebimbangan Karier pada Siswa SMA Jurnal Psikogenesis, Volume
6, No.1
Schultz, Duane P. Sydney Ellen Schultz. 2017. Theorise Of Personality. Amerika Serikat:
Universitas Florida Selatan.
Sujanto, Agus, Lubis, Halem, Hadi, Taufik. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi
Aksara