Makalah NSTEMI
Makalah NSTEMI
Disusun oleh :
Syukur allhamdulilah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan kardiovaskular dengan judul :
asuhan keperawatan pada pasien dengan acute coronary syndrome NSTEMI.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang dengan tulus memberi doa saran dan kritik sehingga makalah ini
dapat selesai tepat waktu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang penulis miliki oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak
Penulis
DAFTAR ISI
Table of Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii
BAB I...........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II.........................................................................................................................................4
TINJAUAN TEORI...................................................................................................................4
A. Konsep Dasar Acute coronary syndrome NSTEMI.....................................................4
1. Definisi.........................................................................................................................4
2. Anatomi fisiologi.........................................................................................................5
3. Etiologi........................................................................................................................8
4. Klasifikasi....................................................................................................................9
5. Manifestasi klinik.....................................................................................................10
6. Patofisiologi...............................................................................................................11
7. Pemeriksaan diagnostic............................................................................................15
8. Penatalaksanaan.......................................................................................................16
9. Komplikasi................................................................................................................19
B. Konsep dasar asuhan keperawatan.............................................................................20
BAB III......................................................................................................................................27
PENUTUP.................................................................................................................................27
A. Kesimpulan...................................................................................................................27
B. Saran.............................................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................29
ii
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan terminology yang digunakan pada
keadaan gangguan aliran darah coroner parsial hingga total ke miokard secara akut.
Gangguan aliran darah ke miokard pada ACS bukan disebabkan oleh
penyempitan yang statis namun terutama akibat pembentukan thrombus di
dalam arteri coroner yang sifatnya dinamis (Rilantono 2018). ACS adalah
kumpulan dari gejala yang menunjukan iskemik miokardi al akut yang meliputi
Unstable Angina Pectoris UAP), Non-ST Elevation Myocardial Infarction
(NSTEMI), dan ST Elevation yocardial Infarction (STEMI) (Zègre-hemsey,
Burke, & Devon, 2018 dalam (Sulastri, Trisyani, and Mulyati 2020). ACS
terjadi akibat adanya sumbatan oleh penumpukan lipid di alam dinding pembuluh
darah yang berkembang menjadi plak aterosklerosis (Santos-Gallego et al.,
2014 dalam (Sulastri, Trisyani, and Mulyati 2020)
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Memberikan gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien
yang mengalami Acute Coronary Syndrome NSTEMI
2. Tujuan khusus
a) Mampu menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
yang mengalami Acute Coronary Syndrome NSTEMI yang meliputi :
1) Pengkajian keperawatan pada pasien yang mengalami Acute Coronary
Syndrome NSTEMI
2) Penetapan diagnosis keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
3) Perencanaan keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
4) Implementasi keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
5) Evaluasi keperawatan pada pasien yang mengalami Acute Coronary
Syndrome NSTEMI
BAB II
TINJAUAN TEORI
2. Anatomi fisiologi
Sistem peredaran darah terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan saluran limfe.
Jantung merupakan organ pemompa besar yang memelihara peredaran melalui
seluruh tubuh. Arteri membawa darah dari jantung. Vena membawa darah ke
jantung. kapiler menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya dan
merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan buangan. Disini juga terjadi
pertukaran gas dalam cairan ekstraseluler dan interstisial.
6
Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga, basisnya diatas,
dan puncaknya dibawah. Apeksnya (puncaknya) miring kesebelah kiri. Berat jantung
kira-kira 300 gram.
Kedudukan jantung yaitu jantung berada didalam toraks, antara kedua paru-paru
dan dibelakang sternum, dan lebih menghadap ke kiri daripada ke kanan. Lapisan
Jantung terdiri atas 3 lapisan yaitu : 1. Epikardium merupakan lapisan terluar,
memiliki struktur yang samma dengan perikardium viseral. 2. Miokardium,
merupakan lapisan tengah yang terdiri atas otot yang berperan dalam menentukan
kekuatan kontraksi. 3. Endokardium, merupakan lapisan terdalam terdiri atas
jaringan endotel yang melapisi bagian dalam jantung dan menutupi katung jantung.
Katup atrioventrikular, memisahkan antara atrium dan ventrikel. Katup ini
memungkinkan darah mengalir dari masing –masing atrium ke ventrikel saat diastole
ventrikel dan mencegah aliran balik ke atrium saat sistole ventrikel. Katup
atrioventrikuler ada dua, yaitu katup triskupidalis dan katup biskuspidalis. Katup
triskupidalis memiliki 3 buah daun katup yang terletak antara atrium kanan dan
ventrikel kanan. Katup biskuspidalis atau katup mitral memiliki 2 buah dauh katup
dan terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri. Katup semilunar, memisahkan
antara arteri pulmonalis dan aorta dari ventrikel. Katup semilunar yang membatasi
ventrikel kanan dan arteri pulmonaris disebut katup semilunar pulmonal. Katup yang
membatasi ventikel kiri dan aorta disebut katup semilunar aorta. Adanya katup ini
memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis
atau aorta selama sistole ventrikel dan mencegah aliran balik ke ventrikel sewaktu
diastole ventrikel. Ruang jantung : jantung memiliki 4 ruang, yaitu atrium kanan,
atrium kiri, ventrikel kiri, dan ventrikel kanan. Atrium terletak diatas ventrikel dan
saling berdampingan. Atrium dan ventrikel dipisahkan oleh katup satu arah. Antara
organ rongga kanan dan kiri dipisahkan oleh septum.
Fisiologi jantung Siklus jantung adalah rangkaian kejadian dalam satu irama
jantung. Dalam bentuk yang paling sederhana, siklus jantung adalah kontraksi
bersamaan kedua atrium, yang mengikuti suatu fraksi pada detik berikutnya karena
kontraksi bersamaan kedua ventrikel. Sisklus jantung merupakan periode ketika
7
jantung kontraksi dan relaksasi. Satu kali siklus jantung sama dengan satu periode
sistole (saat ventrikel kontraksi) dan satu periode diastole (saat ventrikel relaksasi).
Normalnya, siklus jantung dimulai dengan depolarisasi spontan sel pacemarker dari
SA node dan berakhir dengan keadaan relaksasi ventrikel. Pada siklus jantung,
sistole(kontraksi) atrium diikuti sistole ventrikel sehingga ada perbedaan yang berarti
antara pergerakan darah dari ventrikel ke arteri. Kontraksi atrium akan diikuti
relaksasi atrium dan ventrikel mulai ber kontraksi. Kontraksi ventrikel menekan
darah melawan daun katup atrioventrikuler kanan dan kiri dan menutupnya. Tekanan
darah juga membuka katup semilunar aorta dan pulmonalis. Kedua ventrikel
melanjutkan kontraksi, memompa darah ke arteri. Ventrikel kemudian relaksasi
bersamaan dengan pengaliran kembali darah ke atrium dan siklus kembali. Curah
jantung merupakan volume darah yang dipompakan selama satu menit.
Curah jantung ditentukan oleh jumlah denyut jantung permenit dan stroke
volume. Isi sekuncup ditentukan oleh :
1) Beban awal (pre-load)
a) Pre-load adalah keadaan ketika serat otot ventrikel kiri jantung
memanjang atau meregang sampai akhir diastole. Pre-load adalah jumlah
darah yang berada dalam ventrikel pada akhir diastole.
b) Volume darah yang berada dalam ventrikel saat diastole ini tergantung
pada pengambilan darah dari pembuluh vena dan pengembalian darah
dari pembuluh vena ini juga tergantung pada jumlah darah yang beredar
serta tonus otot.
c) Isi ventrikel ini menyebabkan peregangan pada serabut miokardium
d) Dalam keadaan normal sarkomer (unit kontraksi dari sel miokardium)
akan teregang 2,0 µm dan bila isi ventrikel makin banyak maka
peregangan ini makin panjang.
e) Hukum frank starling : semakin besar regangan otot jantung semakin
besar pula kekuatan kontraksinya dan semakin besar pula curah jantung.
pada keadaan preload terjadi pengisian besar pula volume darah yang
masuk dalam ventrikel.
8
3. Etiologi
Acute coronary syndrome disebabkan oleh aterosklerosis yaitu proses
terbentuknya plak yang mempengaruhi lapisan arteri, mengakibatkan
pembentukan bekuan darah akibat aterosklerosis dan dengan demikian
9
4. Klasifikasi
Menurut (PERKI 2018) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan biomarka jantung,
Acute Coronary Syndrome dibagi menjadi:
a. ST elevation MIOCARD INFARCT (STEMI) Infark miokard akut
dengan elevasi segmen ST akut (STEMI) merupakan indikator
kejadian oklusi total pembuluh darah arteri coroner. Keadaan ini
memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran
darah dan reperfusi miokard secepatnya, secara medikamentosa
menggunakan agen fibrinolitik atau secara mekanis melalui intervensi
coroner perkutan primer. Diagnosis STEMI ditegakan jika terdapat
keluhan angina pectoris akut disertai elevasi segmen ST yang persisten
di 2 sadapan yang bersebelahan. Inisiasi tata laksana revaskularisasi
tidak perlu menunggu hasil peningkatan biomarka jantung.
5. Manifestasi klinik
Kriteria diagnosis definitif pasien ACS berdasarkan Indonesian Heart
Asosiation dalam Jurnal (Rizal Dwi 2018)yaitu
a. Nyeri dada angina (angina tipikal), menurut (Association, 2013)
dalam (Ridwan, Yusni, and Nurkhalis 2020) yaitu nyeri dan rasa tidak
nyaman merupakan gejala utama gangguan jantung dan seringkali
digambarkan sebagai: rasa tertekan, diremas, terbakar, ketat, atau
penuh, biasanya dimulai di area dada, di belakang tulang dada, pola
nyeri biasanya menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung
b. EKG dengan gambaran elevasi yang diagnostic untuk NSTEMI ,
depresi ST, atau inversi T yang diagnostic sebagai keadaan iskemia
miokard, atau LBBB baru/persangkaan baru
c. Biomarka jantung yag meningkat
d. Kelelahan, (Firza 2017) arteri koroner merupakan pembuluh darah
yang mensuplai jantung dengan darah. Arteri koroner lebih
spesifiknya memberikan oksigen yang terdapat dalam darah ke otot
jantung yang terdapat di dinding jantung. Oksigen ini akan digunakan
untuk respirasi otot jantung agar jantung dapat terus memompa darah
ke seluruh bagian tubuh. Jika oksigen tidak dapat disalurkan dengan
baik ke otot jantung, maka jantung akan menjadi lemah, organ lain
11
6. Patofisiologi
Menurut (Firza 2017) faktor-faktor seperti usia, genetika, merokok, diabetes
tipe 2, hipertensi, kadar kolesterol tinggi akan menyebabkan endapan
lipoprotein pada tunika intima pembuluh darah yang ada dibagian dalam.
Endapan lemak dapat merusak sel endothelium yang terdapat dibagian
intima pembuluh darah. Maka penumpukan lemak tersebut dapat berevolusi
menjadi plak fibrosa akibatnya adalah dapat timbul bekuan darah yang lebih
besar yang dapat menyumbat pembuluh darah dinamakan thrombosis,
kemudian dari thrombosis dapat menyebabkan lesi komplikasi atau
adanya robekan pada pembuluh darah karena penumpukan plak sehingga
menyebabkan aterosklerosis. Aterosklerosis adalah tersumbatnya arteri
karena penumpukan plak kolesterol dan dapat menghambat aliran darah
ke tubuh sehingga terjadi penyempitan obstruksi coroner sehingga
menyebabkan penurunan suplai darah ke miokard sehingga mengalami
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, menurut (PERKI
2018) obstruksi subtotal yang disertai vasokontriksi yang
dinamis dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis
12
ruptur plaque
7. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Moch. Bachrudin, Gipta Galih Widodo, Siti
Mainuna 2012) :
a. Pemeriksaan Marka Jantung
Menurut (PERKI,2015) pemeriksaan troponin I/T adalah standard baku
emas dalam diagnosis NSTEMI, di mana peningkatan kadar marka
jantung tersebut akan terjadi dalam waktu 2 hingga 4 jam. enggunaan
troponin I/T untuk diagnosis NSTEMI harus digabungkan dengan kriteria
lain yaitu keluhan angina dan perubahan EKG. Diagnosis NSTEMI
ditegakkan jika marka jantung meningkat sedikit melampaui nilai
normal atas (upper limit of normal, ULN).
b. Thorax Foto
Foto thorax pada penderita angina pectoris biasanya normal. Foto
thorax lebih sering menunjukan kelainan pada penderita dengan riwayat
infark miokard atau penderita dengan nyeri dada yang berasal bukan dari
jantung.
c. Electrocardiogram
Menurut (Mutarobin 2018) hal yang perlu diketahui dan dipahami
pada gambaran EKG yaitu perubahan pada segmen ST, gelombang T dan
gelombang [Link] segmen ST dapat dilihat dari ada atau
tidaknya peningkatan segmen ST. Peningkatan segmen ST
dikelompokkan dalam infark Q (STEMI) sedangkan segmen ST yang
tidak ada peningkatan dikelompo kan dalam infark non Q atau UAP
/NSTEMI. Pengelompokkan ini memerlukan penanganan yang berbeda.
Perubahan gambaran EKG pada UAP dan NSTEMI berupa depresi
segmen ST > 0,05 mV,gelombang T terbalik > 0,2 mV. Perubahan
gambaran EKG pada IMA meliputi hiperakut T, ST elevasi yang di
ikuti terbentuknya gelombang Q patalogis, kembalinya segmen ST
16
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan NSTEMI memiliki prinsip utama yaitu
mengebalikan aliran darah koroner untuk menyelamatkan jantung
dari infark miokard, membatasi luasnya infark miokard dan
mempertahankan fungsi jantung (Morton 2011) Menurut (PERKI, 2015)
17
9. Komplikasi
Komplikasi dari NSTEMI menurut (Nurafif dan Amin Huda 2015) adalah
sebagai berikut: adalah perluasan infark dan iskemia pasca infark,
aritmia (sinus bradikardi, supraventricular takiaritmia, aritmia ventricular,
gangguan konduksi), disfungsi otot jantung (gagal jantung kiri, hipotensi
dan syok), infark ventrikel kanan, rupture miokard, aneurisma entrikel
kiri, perikarditis, dan thrombus mural.
c. Riwayat pengobatan
Pengkajian pengobatan harus dituliskan nama dari obatnya dan pasien
mengerti kegunaan dan efek samping dari obat tersebut. Adapun obat
–obat yang dapat mempengaruhi system kardiovaskuler seperti:
anticonvulsant, antidepressant, antipsychotics, cerebral stimulants,
cholinergics, estrogens, nonnarcotic analgesics dan antipyrektics, oral
contraceptives, sedatives.
e. Pola persepsi
hidup sehat Menanyakan faktor resiko utama seperti peningkatan serum
lipid, merokok, kurang aktivitas dan obesitas, penggunaan alkohol,
pengelolaan setres, riwayat alergi dan bagaimana reaksi alergi pada
obat, konfrimasi penyakit darah yang berhubungan dengan keturunan.
i. Pemeriksaan fisik
Menurut (Majid 2018)
B1 (Breathing)
Klien terlihat sesak nafas, frekuensi napas melebihi normal, dan
mengeluh sesak nafas disebabkan oleh kenaikan tekanan darah diastolic
ventrikel kiri yang meningkatkan tekanan vena pulmonalis.
B2 (Blood)
Pada inspeksi, adanya jaringan parut pada dada klien, keluhan lokasi
nyeri biasanya di daerah subternal atau diatas pericardium. Penyebaran nyeri
dapat meluas di dada. Pada palpasi, denyut nadi perifer lemah, thrill
23
2. DiagnosisKeperawatan
Berdasarkan manifestasi klinis, riwayat penyakit dan pengkajian data
diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang bisa timbul menurut (S. PPNI
2017) adalah :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (iskemia
b. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas miokardial; perubahan frekuensi, irama, konduksi
listrik perubahan structural (misal kelainankatup, aneurisme ventricular
24
d. Perfusi perifer tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah pada level
kapiler yang dapat menganggu metabolism tubuh (S. PPNI 2017
Tujuan :perfusi jaringan perifer klien menjadi efektif, dibuktikan
dengan Kriteria hasil:
kekuatan nadi perifer meningkat, warna kulit pucat menurun,
pengisian kapiler membaik.
26
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan klien
agar kriteria hasil dapat tercapai, Implementasi yang dilakukan pada pasien
dengan ACS NSTEMI meliputi: memonitor tanda –tanda vital dan balance
cairan, mengidentifikasi keluhan dan karakteristik nyeri, memonitor faktor
yang menyebabkan ia mudah lelah dan sesak nafas, memantau frekuensi
dan irama jantung, memonitor hasil rekaman EKG dan enzim jantung,
mengidentifikasi perilaku gelisah, memonitor pola tidur klien, memberikan
terapi obat dan oksigen jika perlu.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan suatu proses
berkelanjutan dan dilakukan secara terus menerus untuk
menilai efek dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dan
dilakukan sesuai dengan perkembangan klien Acute Coronary Syndrom
NSTEMI sudah teratasi atau belum teratasi. Evaluasi yang diharapkan pada
pasien ACS NSTEMI yaitu Keluhan nyeri akut menurun, klien tampak
meringis menurun, pada penurunan curah jantung ejection fraction
meningkat, gambaran EKG aritmia menurun, pada ansietas klien tampak
cemas sudah teratasi, pada intolerasni aktivitas jarak berjalan meningkat,
keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dan pada perfusi perifer
menjadi efektif
27
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengkajian keperawatan
Pada pasien ACS keluhan utama yang dirasakan antara lain: fatique,
retensi cairan, pulse yang tidak teratur, dyspnea, nyeri dada, sakit kepala,
kelelahan. Pengkajian yang utama dilakukan dengan mengajukan
serangkaian pertanyaan mengenai kelemahan fisik secara PQRST, dan
dilakukan pemeriksaan fisik system kardiovaskular.
2. Penetapan diagnose keperawatan
Berdasarkan manifestasi klinis, riwayat penyakit dan pengkajian data
diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang bisa timbul menurut (S. PPNI
2017) adalah : Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
(iskemia), Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas miokardial; perubahan frekuensi, irama, konduksi
listrik perubahan structural (misal kelainankatup, aneurisme ventricular,
Anisetas berhubungan dengan ancaman actual terhadap inegritas biologis,
Intoleransi aktivitas berhubungan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen,
Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran arteri atau vena.
3. Perencanaan keperawatan
Perencanaan keperawatan disesuaikan berdasarkan masing-masing diagnose
keperawatan pada pasien ACS
4. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan klien
agar kriteria hasil dapat tercapai, Implementasi yang dilakukan pada
pasien dengan ACS NSTEMI meliputi: memonitor tanda –tanda vital dan
29
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber -
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
30
DAFTAR PUSTAKA
AHA (American Heart. n.d. High Blood Pressure. America: American Heart
association
Black, J. M., and J. H. Hwaks. 2014. Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Klinis
Untuk Hasil Yang Diharapkan (Penerjemah Mulyanto J., Dkk) . Edisi 8.
8th ed.
Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat, A. Azis limul dan Uliyah, Musrifatul. 2016. Buku Ajar Ilmu Keperawatan
Dasar
Jakarta: Salemba Medika.
Iskandar, Herlina, I Made Sutarna, and Anita Joeliantina. 2012. “Pengaruh Teknik
Relaksasi Napas Dalam Terhadap Nyeri Dada the Effect of Deep Breath
31
Moch. Bachrudin, Gipta Galih Widodo, Siti Mainuna, Ns. Tanty Wulan Dari.
2012. Terapi 63 Modalitas Keperawatan Kardiovaskuler. Edited by Cetakan 1. V
Trans Info Media.
Morton, Patricia Gonce. 2011. Keperawatan Kritistle. 8th ed. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Nurafif dan Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & Nanda. 2nd ed. Yogyakarta: Mediaction Publishing.
PERKI. 2018. “Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut 2018.” Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
.
PPNI, SDKI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SLKI D P P. 2019. “Standar Luaran Keperawatan Indonesia.” In , 1st
ed. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.
Ridwan, Muhammad, Yusni, and Nurkhalis. 2020. “Analisis Karakteristik Nyeri Dada
Pada Pasien Sindroma Koroner Akut Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Zainoel Abidin Banda Aceh.” Journal of Medical Science 1, no. 1: 21–26.
Rizal Dwi, Nanda Nur. 2018. “Sindrom Koroner Akut.” Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia 99: 1–13.
SIKI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. 2nd ed. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.