0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
580 tayangan38 halaman

Makalah NSTEMI

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Acute Coronary Syndrome NSTEMI, meliputi pengertian NSTEMI, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, dan peran keperawatan dalam promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Diunggah oleh

Muhammad Yandi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
580 tayangan38 halaman

Makalah NSTEMI

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Acute Coronary Syndrome NSTEMI, meliputi pengertian NSTEMI, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, dan peran keperawatan dalam promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Diunggah oleh

Muhammad Yandi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEPERAWATAN KARDIOVASKULAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


ACUTE CORONARY SYNDROME NSTEMI

Disusun oleh :

Ahmad Maulana Farid (P17120019043)

JURUSAN PRODI DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA I
2022
KATA PENGANTAR

Syukur allhamdulilah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan kardiovaskular dengan judul :
asuhan keperawatan pada pasien dengan acute coronary syndrome NSTEMI.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang dengan tulus memberi doa saran dan kritik sehingga makalah ini
dapat selesai tepat waktu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang penulis miliki oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak

Depok , 17 Februari 2022

Penulis
DAFTAR ISI

Table of Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii
BAB I...........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II.........................................................................................................................................4
TINJAUAN TEORI...................................................................................................................4
A. Konsep Dasar Acute coronary syndrome NSTEMI.....................................................4
1. Definisi.........................................................................................................................4
2. Anatomi fisiologi.........................................................................................................5
3. Etiologi........................................................................................................................8
4. Klasifikasi....................................................................................................................9
5. Manifestasi klinik.....................................................................................................10
6. Patofisiologi...............................................................................................................11
7. Pemeriksaan diagnostic............................................................................................15
8. Penatalaksanaan.......................................................................................................16
9. Komplikasi................................................................................................................19
B. Konsep dasar asuhan keperawatan.............................................................................20
BAB III......................................................................................................................................27
PENUTUP.................................................................................................................................27
A. Kesimpulan...................................................................................................................27
B. Saran.............................................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................29

ii
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan terminology yang digunakan pada
keadaan gangguan aliran darah coroner parsial hingga total ke miokard secara akut.
Gangguan aliran darah ke miokard pada ACS bukan disebabkan oleh
penyempitan yang statis namun terutama akibat pembentukan thrombus di
dalam arteri coroner yang sifatnya dinamis (Rilantono 2018). ACS adalah
kumpulan dari gejala yang menunjukan iskemik miokardi al akut yang meliputi
Unstable Angina Pectoris UAP), Non-ST Elevation Myocardial Infarction
(NSTEMI), dan ST Elevation yocardial Infarction (STEMI) (Zègre-hemsey,
Burke, & Devon, 2018 dalam (Sulastri, Trisyani, and Mulyati 2020). ACS
terjadi akibat adanya sumbatan oleh penumpukan lipid di alam dinding pembuluh
darah yang berkembang menjadi plak aterosklerosis (Santos-Gallego et al.,
2014 dalam (Sulastri, Trisyani, and Mulyati 2020)

Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan penyebab utama kematian


diwilayah Asia-Pasifik, terhitung sekitar setengah dari angka kematian
secaraglobal (Ohira 2013). Penyakit jantung koroner Acute Coronary Syndrome
(ACS) menyumbang sekitar 7 juta kematian setiap tahun (Ohira, 2013; WHO, 2019
dalam jurnalSulastri, Trisyani, and Mulyati 2020). Selain itu, data menunjukkan
bahwa ACS menjadi penyebab utama kematian pada wanitadengan angka
kematian dan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria
(Kawamoto, Davis, Duvernoy, & Claire,2016 dalam jurnal Lilis dkk, Manfaat
Health Education pada Pasien cute Coronary Syndrom e (ACS) , 2020).Penyakit
ini diperkirakan akan mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030 (Susilo
2015) dalam (Tumade, B. Jim, E.L. & Joseph 201AD). Selain itu, data
menunjukkan bahwa ACS menjadi penyebab utama kematian pada wanita
dengan angka kematian dan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita
dibandingkan dengan pria (Kawamoto Kris R, Davis Melinda B, Duvernoy
2016) . Menurut (Riskesdas 2018) Indonesia termasuk dalam wilayah Asia-Pasifik
dimana pada tahun 2018 sebanyak 17,3 juta penduduk Indonesia meninggal
karena penyakit jantung dan 3 juta meninggal pada usia dibawah Usia 60
tahun.

Sesuai dengan patofisiologi pada pasien NSTEMI masalah keperawatan yang


sering muncul adalah Gangguan rasa nyaman nyeri dada, penurunan curah
jantung, cemas, intoleransi aktivitas, pola napas tidak efektif, Gangguan
perfusi perifer. Dalam penanganan pasien iskemia miokard akut, perawat
memiliki peran yang terdiri dari promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif. Peran promotif dan preventif dilakukan sebelum terjadi
serangan akut, yaitu dengan mengajarkan pola hidup sehat untuk
pasien jantung. Peran kuratif dan rehabilitatif dilakukan saat
terjadinya serangan akut pada pasien jantung yang harus mendapatkan
penanganan segera. Tindakan yang harus segera dilakukan pada pasien
NSTEMI diantaranya, tirah baring atau imobilisasi untuk mengurangi
beban kerja dan kebutuhan oksigen jantung
(Black, J. M., & Hawks, 2014)

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa penyakit


kardiovaskuler memiliki prevalensi dan angka kematian yang tinggi.
Maka, penulis tertarik untuk memahami lebih dalam kasus Acute
Coronary Syndrome(ACS) dengan ST Non Elevation Myocardial Infarction (N-
STEMI)

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Memberikan gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien
yang mengalami Acute Coronary Syndrome NSTEMI
2. Tujuan khusus
a) Mampu menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
yang mengalami Acute Coronary Syndrome NSTEMI yang meliputi :
1) Pengkajian keperawatan pada pasien yang mengalami Acute Coronary
Syndrome NSTEMI
2) Penetapan diagnosis keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
3) Perencanaan keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
4) Implementasi keperawatan pada pasien yang mengalami Acute
Coronary Syndrome NSTEMI
5) Evaluasi keperawatan pada pasien yang mengalami Acute Coronary
Syndrome NSTEMI
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Acute coronary syndrome NSTEMI


1. Definisi
Acute Coronary Syndrome ACS Suatu kondisi yang dikenal sebagai
sindrom koroner akut (SKA) terjadi akibat tersumbatnya aliran darah di
pembuluh darah koroner. Kondisi ini melibatkan tersumbatnya plak
ateroma yang terlepas sehingga mengganggu aliran darah. Akibatnya
seseorang akan merasakan gejala nyeri dada seperti ditindih benda berat,
menjalar ke tangan kiri hingga ke rahang, menembus ke punggung, mual
ataupun muntah, keringat dingin, serta dirasakan cukup lama akibat tidak
adanya suplai darah menuju sel otot jantung (PERKI 2018)

ACS adalah kumpulan dari gejala yang menunjukan iskemik miokardial


akut yang meliputi Unstable Angina Pectoris (UAP), Non-ST Elevation
Myocardial Infarction (NSTEMI), dan ST Elevation Myocardial
Infarction (STEMI) (Zègre-hemsey, Burke, & Devon, 2018 dalam (Sulastri,
Trisyani, and Mulyati 2020)

Perbedaan ketiga kondisi tersebut adalah aliran yang terhenti


sebagian atau sepenuhnya. Sebagai contoh pada keadaan UAP, aliran darah
masih dapat mencapai target walau dalam jumlah yang lebih sedikit dan
waktu yang lebih lama sehingga menimbulkan gejala. Pada NSTEMI ,
sumbatan yang dialami telah menyebabkan matinya sel-sel otot jantung
dalam jumlah tertentu. Namun sumbatan atau oklusi total kemungkinan
akan membuat STEMI dan akan muncul gambaran infark miokard akut
yang disertai elevasi segmen ST (STEMI) pada pemeriksaan
elektrokardiogram (EKG). (European Society of Cardiology. 2020 ESC
5

Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients


presenting without persistent ST-segment elevation (Collet et al. 2021).

2. Anatomi fisiologi

Sistem peredaran darah terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan saluran limfe.
Jantung merupakan organ pemompa besar yang memelihara peredaran melalui
seluruh tubuh. Arteri membawa darah dari jantung. Vena membawa darah ke
jantung. kapiler menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya dan
merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan buangan. Disini juga terjadi
pertukaran gas dalam cairan ekstraseluler dan interstisial.
6

Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga, basisnya diatas,
dan puncaknya dibawah. Apeksnya (puncaknya) miring kesebelah kiri. Berat jantung
kira-kira 300 gram.
Kedudukan jantung yaitu jantung berada didalam toraks, antara kedua paru-paru
dan dibelakang sternum, dan lebih menghadap ke kiri daripada ke kanan. Lapisan
Jantung terdiri atas 3 lapisan yaitu : 1. Epikardium merupakan lapisan terluar,
memiliki struktur yang samma dengan perikardium viseral. 2. Miokardium,
merupakan lapisan tengah yang terdiri atas otot yang berperan dalam menentukan
kekuatan kontraksi. 3. Endokardium, merupakan lapisan terdalam terdiri atas
jaringan endotel yang melapisi bagian dalam jantung dan menutupi katung jantung.
Katup atrioventrikular, memisahkan antara atrium dan ventrikel. Katup ini
memungkinkan darah mengalir dari masing –masing atrium ke ventrikel saat diastole
ventrikel dan mencegah aliran balik ke atrium saat sistole ventrikel. Katup
atrioventrikuler ada dua, yaitu katup triskupidalis dan katup biskuspidalis. Katup
triskupidalis memiliki 3 buah daun katup yang terletak antara atrium kanan dan
ventrikel kanan. Katup biskuspidalis atau katup mitral memiliki 2 buah dauh katup
dan terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri. Katup semilunar, memisahkan
antara arteri pulmonalis dan aorta dari ventrikel. Katup semilunar yang membatasi
ventrikel kanan dan arteri pulmonaris disebut katup semilunar pulmonal. Katup yang
membatasi ventikel kiri dan aorta disebut katup semilunar aorta. Adanya katup ini
memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis
atau aorta selama sistole ventrikel dan mencegah aliran balik ke ventrikel sewaktu
diastole ventrikel. Ruang jantung : jantung memiliki 4 ruang, yaitu atrium kanan,
atrium kiri, ventrikel kiri, dan ventrikel kanan. Atrium terletak diatas ventrikel dan
saling berdampingan. Atrium dan ventrikel dipisahkan oleh katup satu arah. Antara
organ rongga kanan dan kiri dipisahkan oleh septum.
Fisiologi jantung Siklus jantung adalah rangkaian kejadian dalam satu irama
jantung. Dalam bentuk yang paling sederhana, siklus jantung adalah kontraksi
bersamaan kedua atrium, yang mengikuti suatu fraksi pada detik berikutnya karena
kontraksi bersamaan kedua ventrikel. Sisklus jantung merupakan periode ketika
7

jantung kontraksi dan relaksasi. Satu kali siklus jantung sama dengan satu periode
sistole (saat ventrikel kontraksi) dan satu periode diastole (saat ventrikel relaksasi).
Normalnya, siklus jantung dimulai dengan depolarisasi spontan sel pacemarker dari
SA node dan berakhir dengan keadaan relaksasi ventrikel. Pada siklus jantung,
sistole(kontraksi) atrium diikuti sistole ventrikel sehingga ada perbedaan yang berarti
antara pergerakan darah dari ventrikel ke arteri. Kontraksi atrium akan diikuti
relaksasi atrium dan ventrikel mulai ber kontraksi. Kontraksi ventrikel menekan
darah melawan daun katup atrioventrikuler kanan dan kiri dan menutupnya. Tekanan
darah juga membuka katup semilunar aorta dan pulmonalis. Kedua ventrikel
melanjutkan kontraksi, memompa darah ke arteri. Ventrikel kemudian relaksasi
bersamaan dengan pengaliran kembali darah ke atrium dan siklus kembali. Curah
jantung merupakan volume darah yang dipompakan selama satu menit.
Curah jantung ditentukan oleh jumlah denyut jantung permenit dan stroke
volume. Isi sekuncup ditentukan oleh :
1) Beban awal (pre-load)
a) Pre-load adalah keadaan ketika serat otot ventrikel kiri jantung
memanjang atau meregang sampai akhir diastole. Pre-load adalah jumlah
darah yang berada dalam ventrikel pada akhir diastole.
b) Volume darah yang berada dalam ventrikel saat diastole ini tergantung
pada pengambilan darah dari pembuluh vena dan pengembalian darah
dari pembuluh vena ini juga tergantung pada jumlah darah yang beredar
serta tonus otot.
c) Isi ventrikel ini menyebabkan peregangan pada serabut miokardium
d) Dalam keadaan normal sarkomer (unit kontraksi dari sel miokardium)
akan teregang 2,0 µm dan bila isi ventrikel makin banyak maka
peregangan ini makin panjang.
e) Hukum frank starling : semakin besar regangan otot jantung semakin
besar pula kekuatan kontraksinya dan semakin besar pula curah jantung.
pada keadaan preload terjadi pengisian besar pula volume darah yang
masuk dalam ventrikel.
8

f) Peregangan sarkomet yang paling optimal adalah 2,2 µm. Dalam


keadaan tertentu apabila peregangan sarkomer melebihi 2,2 µm,
kekuatan kontraksi berkurang sehingga akan menurunkan isi sekuncup.
2) Daya kontraksi
a) Kekuatan kontraksi otot jantung sangat berpengaruh terhadap curah
jantung, makin kuat kontraksi otot jantung dan tekanan ventrikel.
b) Daya kontraksi dipengaruhi oleh keadaan miokardium, keseimbangan
elektrolit terutama kalium, natrium, kalsium, dan keadaan konduksi
jantung.
3) Beban akhir
a) After load adalah jumlah tegangan yang harus dikeluarkan ventrikel
selama kontraksi untuk mengeluarkan darah dari ventrikel melalui katup
semilunar aorta.
b) Hal ini terutama ditentukan oleh tahanan pembuluh darah perifer dan
ukuran pembuluh darah. Meningkatnya tahanan perifer misalnya akibat
hipertensi artau vasokonstriksi akan menyebabkan beban akhir.
c) Kondisi yang menyebabkan baban akhir meningkat akan mengakibatkan
penurunan isi sekuncup.
d) Dalam keadaan normal isi sekuncup ini akan berjumlah ±70ml sehingga
curah jantung diperkirakan ±5 liter. Jumlah ini tidak cukup tetapi
dipengaruhi oleh aktivitas tubuh.
e) Curah jantung meningkat pada waktu melakukan kerja otot, stress,
peningkatan suhu lingkungan, kehamilan, setelah makan, sedang kan saat
tidur curah jantung akan menurun.

3. Etiologi
Acute coronary syndrome disebabkan oleh aterosklerosis yaitu proses
terbentuknya plak yang mempengaruhi lapisan arteri, mengakibatkan
pembentukan bekuan darah akibat aterosklerosis dan dengan demikian
9

mempersempit lumen, mengurangi kontraktilitas miokard,yang engakibatkan


gangguan suplai darah. terjadi ketika bekuan darah pecah sebelum nekrosis
lengkap jaringan perifer (Asikin et al., 2016 dalam Muhibbah et al. 2019) .
Aterosklerosis koroner dapat menghalangi aliran darah ke jantung dengan
mempersempit lumen arteri secara bertahap, sehingga mengurangi suplai
darah, yang dapat menyebabkan iskemia miokard (Marshall K, 2011)

4. Klasifikasi
Menurut (PERKI 2018) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan biomarka jantung,
Acute Coronary Syndrome dibagi menjadi:
a. ST elevation MIOCARD INFARCT (STEMI) Infark miokard akut
dengan elevasi segmen ST akut (STEMI) merupakan indikator
kejadian oklusi total pembuluh darah arteri coroner. Keadaan ini
memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran
darah dan reperfusi miokard secepatnya, secara medikamentosa
menggunakan agen fibrinolitik atau secara mekanis melalui intervensi
coroner perkutan primer. Diagnosis STEMI ditegakan jika terdapat
keluhan angina pectoris akut disertai elevasi segmen ST yang persisten
di 2 sadapan yang bersebelahan. Inisiasi tata laksana revaskularisasi
tidak perlu menunggu hasil peningkatan biomarka jantung.

b. Non ST elevation miocard infarct (NSTEMI) dan Unstable angina


pectoris (UAP) Diagnosis NSTEMI dan UAP ditegakkan jika terdapat
keluhan angina pectoris akut tanpa elevasi segmen ST yang menetap
di 2 sadapan yang bersebelahan. Rekaman EKG saat presentasi
dapat berupa depresi segmen ST, inversigelombang T, gelombang
T yang datar, atau bahkan tanpa perubahan. UAP dan NSTEMI
dibedakan berdasarkan hasil pemeriksaan biomarka jantung. Biomarka
10

jantung yang lazim digunakan adalah high sensitivity troponin,


troponin atau CK-MB. Bila hasil pemeriksaan biomarka jantung
terjadi peningkatan bermakna, maka diagnosisnya infark miokard akut
tanpa elevasi 16segmen ST (NSTEMI), jika biomarka jantung
tidak [Link] secara bermakna maka diagnosisnya UAP . Pada ACS
nilai ambang untuk peningkatan biomarka jantung yang abnormal
adalah beberapa unit melebihi nilai normal atas (upper limits of normal)

5. Manifestasi klinik
Kriteria diagnosis definitif pasien ACS berdasarkan Indonesian Heart
Asosiation dalam Jurnal (Rizal Dwi 2018)yaitu
a. Nyeri dada angina (angina tipikal), menurut (Association, 2013)
dalam (Ridwan, Yusni, and Nurkhalis 2020) yaitu nyeri dan rasa tidak
nyaman merupakan gejala utama gangguan jantung dan seringkali
digambarkan sebagai: rasa tertekan, diremas, terbakar, ketat, atau
penuh, biasanya dimulai di area dada, di belakang tulang dada, pola
nyeri biasanya menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung
b. EKG dengan gambaran elevasi yang diagnostic untuk NSTEMI ,
depresi ST, atau inversi T yang diagnostic sebagai keadaan iskemia
miokard, atau LBBB baru/persangkaan baru
c. Biomarka jantung yag meningkat
d. Kelelahan, (Firza 2017) arteri koroner merupakan pembuluh darah
yang mensuplai jantung dengan darah. Arteri koroner lebih
spesifiknya memberikan oksigen yang terdapat dalam darah ke otot
jantung yang terdapat di dinding jantung. Oksigen ini akan digunakan
untuk respirasi otot jantung agar jantung dapat terus memompa darah
ke seluruh bagian tubuh. Jika oksigen tidak dapat disalurkan dengan
baik ke otot jantung, maka jantung akan menjadi lemah, organ lain
11

tidak mendapatkan nutrisi dan oskigen dari darah. Ketika penderita


melakukan aktivitas melelahkan seperti berolahraga arteri koroner
yang menyempit karena plak tidak dapat menyuplai darah sehingga
penderita dapat mengalami kelemahan / fatigue dan menyebabkan
penurunan aktvitas
e. Sesak nafas, (Majid 2018) klien tampak sesak nafas, frekuensi nafas
eningkat, mengeluh seperti tercekik dikarenakan pengerahan tenaga
dan disebabkan oleh kenaikan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri yang
meningkatkan tekanan vena pulmonalis. Ini terjadi karena terdapat
kegagalan peningkatan curah darah oleh ventrikel kiri pada saat
melakukan kegiatan fisik.

6. Patofisiologi
Menurut (Firza 2017) faktor-faktor seperti usia, genetika, merokok, diabetes
tipe 2, hipertensi, kadar kolesterol tinggi akan menyebabkan endapan
lipoprotein pada tunika intima pembuluh darah yang ada dibagian dalam.
Endapan lemak dapat merusak sel endothelium yang terdapat dibagian
intima pembuluh darah. Maka penumpukan lemak tersebut dapat berevolusi
menjadi plak fibrosa akibatnya adalah dapat timbul bekuan darah yang lebih
besar yang dapat menyumbat pembuluh darah dinamakan thrombosis,
kemudian dari thrombosis dapat menyebabkan lesi komplikasi atau
adanya robekan pada pembuluh darah karena penumpukan plak sehingga
menyebabkan aterosklerosis. Aterosklerosis adalah tersumbatnya arteri
karena penumpukan plak kolesterol dan dapat menghambat aliran darah
ke tubuh sehingga terjadi penyempitan obstruksi coroner sehingga
menyebabkan penurunan suplai darah ke miokard sehingga mengalami
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, menurut (PERKI
2018) obstruksi subtotal yang disertai vasokontriksi yang
dinamis dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis
12

jaringan otot jantung (miokard). Akibat dari iskemia


selain nekrosis adalah gangguan kontraktilitas miokardium karena
proses hibernating dan stunning (setelah iskemia hilang), distritmia dan
remodeling ventrikel (perubahan bentuk, ukuran dan fungsi
ventrikel) yang mana menyebabkan penurunan curah jantung (DX:
Penurunan Curah Jantung) dan penurunan kemampuan tubuh untuk
menyediakan energi, setelah itu pasien akan mengalami kelemahan
atau fatigue dan menyebabkan penurunan aktivitas (DX: Intoleransi
Aktivitas). Menurut (Black and Hwaks 2014) Iskemia juga menyebabkan
kebutuhan oksigen meningkat diikuti terjadinya metabolisme anaerob
(proses pemecahan glukosa yang tidak membutuhkan oksigen) prosesnya
pun diikuti dengan produksi asam laktat meningkat yang dapat
membahayakan tubuh dan merangsang nosiseptor (saraf eferan viseral
akan terangsang akibat iskemik) dan mengakibatkan nyeri kardial
yang akan menimbulkan rasa tertekan atau nyeri substernal yang
menjalar ke aksila dan turun kebawah kebagian bawah lengan (DX: Nyeri
Akut).
13
14

Kelainan metabolisme (lemak, koagulasi Faktor pencetus:


darah, dan keadaan biofisika/biokimia
dinding arteri ‒ Hiperkolesterolemia
‒ DM
‒ Merokok
aterosklerosis
‒ Hipertensi
‒ Usia Lanjut
akumulasi/penimbunan ‒ Kegemukan
ateroma/plak di intima arteri

ruptur plaque

aktivasi faktor dan


pembekuan dan platelet

pengeluaran tissue faktor

faktor VII a menjadi faktor VII a kompleks

faktor x menjadi faktor xa

produksi trombin Faktor pendukung:

terjadi adhesi dan agregasi Decom Cordis


proses inflamasi pembentukan trombus

aktivasi: makrofag, proteinase, penurunan aliran darah koroner


sel T limfosit, sitokin
mengganggu absorbsi nutrien dan oksigen
destabilitas plaque
iskemia pembuluh darah nekrotik

kebutuhan O2 NSTEMI tumbuh jaringan parut

lumen sempit dan kaku


metabolisme anaerob
kontraksi miokard
produksi as. laktat aliran darah tersumbat
vaokontriksi pembuluh darah
merangsang nosiseptor
TD naik
Angina pektoris Respon Psikologis
Cardiac Output penurunan perfusi jaringan
cemas/khawatir penurunan kemampuan tubuh
MK. Nyeri Akut gangguan perfusi organ ginjal Supply O2 ke paru
untuk menyediakan energi MK. Penurunan Curah Jantung
MK. Ansietas fitrasi glomerulus kebutuhan O2
kelemahan/fatigue
Retensi Na dan Air Kompensasi RR
MK. Intoleransi Aktivitas
Penurunan protein plasma takipnea/dispnea

menyerap cairan interstisial MK. Ketidakefektifan


Pola Napas
MK. Kelebihan Volume Cairan
15

7. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Moch. Bachrudin, Gipta Galih Widodo, Siti
Mainuna 2012) :
a. Pemeriksaan Marka Jantung
Menurut (PERKI,2015) pemeriksaan troponin I/T adalah standard baku
emas dalam diagnosis NSTEMI, di mana peningkatan kadar marka
jantung tersebut akan terjadi dalam waktu 2 hingga 4 jam. enggunaan
troponin I/T untuk diagnosis NSTEMI harus digabungkan dengan kriteria
lain yaitu keluhan angina dan perubahan EKG. Diagnosis NSTEMI
ditegakkan jika marka jantung meningkat sedikit melampaui nilai
normal atas (upper limit of normal, ULN).
b. Thorax Foto
Foto thorax pada penderita angina pectoris biasanya normal. Foto
thorax lebih sering menunjukan kelainan pada penderita dengan riwayat
infark miokard atau penderita dengan nyeri dada yang berasal bukan dari
jantung.
c. Electrocardiogram
Menurut (Mutarobin 2018) hal yang perlu diketahui dan dipahami
pada gambaran EKG yaitu perubahan pada segmen ST, gelombang T dan
gelombang [Link] segmen ST dapat dilihat dari ada atau
tidaknya peningkatan segmen ST. Peningkatan segmen ST
dikelompokkan dalam infark Q (STEMI) sedangkan segmen ST yang
tidak ada peningkatan dikelompo kan dalam infark non Q atau UAP
/NSTEMI. Pengelompokkan ini memerlukan penanganan yang berbeda.
Perubahan gambaran EKG pada UAP dan NSTEMI berupa depresi
segmen ST > 0,05 mV,gelombang T terbalik > 0,2 mV. Perubahan
gambaran EKG pada IMA meliputi hiperakut T, ST elevasi yang di
ikuti terbentuknya gelombang Q patalogis, kembalinya segmen ST
16

pada garis isoelektris dan inversi gelombang T. Perubahan ini harus


di temui minimal pada 2 sandapan yang berdekatan. Pada beberapa
kasus, EKG dapat memberikan gambaran yang normal atau perubahan
minor pada segmen ST atau ST depresi. (infark QW myocardial
infark atau infark non Q). Pada penderita dengan EKG normal namun
diduga kuat menderita IMA, pemeriksaan EKG 12 sandapan harus
diulang dengan jarak waktu yang dekat dimana diperkirakan telah
terjadi perubahan EKG. Pada keadaan seperti ini perbandingan
dengan EKG sebelumnya dapat membantu diagnosis
d. Ekokardiografi
Gambaran ekokardiografi yang mendukung adanya iskemia miokard
adalah penurunan gerakan dinding pada satu atau lebih segmen
ventrikel kiri, berkurangnya ketebalan dinding saat sistol atau lebih
segmen pada saat uji latih beban, hyperkinesia kompensasi pada segmen
dinding yang berkaitan atau yang tidak iskemia.
e. Coronary Angiography
Coronary Angiography merupakan pemeriksaan diagnostic untuk
mengevaluasi obstruksi pada arteri koronari. Indikasi coronary
angiography apabila pemeriksaan noninvasive tidak menunukan hasil yang
akurat pada pasien ACS, Pasien tidak berespon pada pengobatan medis,
unstabil angina, post infark angina, serangan angina saat istirahat,
pasien yang direncanakan terapi revaskularisasi (stenting, angioplasty).

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan NSTEMI memiliki prinsip utama yaitu
mengebalikan aliran darah koroner untuk menyelamatkan jantung
dari infark miokard, membatasi luasnya infark miokard dan
mempertahankan fungsi jantung (Morton 2011) Menurut (PERKI, 2015)
17

dalam penatalak sanaan NSTEMI ada beberapa terapi secara


farmakaologis yang diberikan antara lain :
a. Anti Iskemia
Penyekat beta (beta blocker). Keuntungan utama terapi penyekat beta
terletak pada efeknya terhadap reseptor beta-1 yang mengakibatkan
turunnya konsumsi oksigen miokardium. Terapi hendaknya tidak
diberikan pada pasien dengan gangguan konduksi atrio-ventrikler yang
signifikan,asma bronkiale, dan disfungsi akut ventrikel [Link] beta
direkomendasikan bagi pasien UAP atau NSTEMI, terutama jika
terdapat hipertensi dan/atau takikardia, dan selama tidak terdapat kontra
indikasi
b. Nitrat (ISDN, isosorbid 5 mononitrate, nitroglycerin).
Keuntungan terapi nitrat terletak pada efek dilatasi vena yang
mengakibatkan berkurangnya preload dan volume akhir diastolic ventrikel
kiri sehingga konsumsi oksigen miokardium berkurang. Efek lain dari
nitrat adalah dilatasi pembuluh darah koroner baik yang normal maupun
yang mengalami aterosklerosis
c. Calcium channel blockers (verapamil, diltiazem, nifedipine
gits, amplodiphine). Selain untuk menurunkan tekanan darah, antagonis
kalsium juga digunakan untuk menangani gangguan pada jantung dan
pembuluh [Link] dan amplodipin mempunyai efek vasodilator
arteri dengan sedikit atau tanpa efek pada SA Node atau AV Node.
Sebaliknya verapamil dan diltiazem mempunyai efek terhadap SANode
dan AV Node yang menonjol dan sekaligus efek dilatasi arteri. Semua
CCB tersebut di atas mempunyai efek dilatasi koroner yang seimbang.
Oleh karena itu CCB, terutama golongan dihidropiridin, merupakan
obat pilihan untuk mengatasi angina vasospastic
d. Anti platelet (aspirin, ticagrelor, clopidogrel). Jenis obat pengencer darah
untuk mencegah penggumpalan darah. Aspirin harus diberikan kepada
semua pasien tanda kontra indikasi dengan dosis loading 150-300 mg
18

dan dosis pemeliharaan 75-100mg setiap harinya untuk jangka


panjang, tanpa memandang strategi pengobatan yang diberikan
e. Ticagrelor direkomendasikan untuk semua pasien dengan risiko
kejadian iskemik sedang hingga tinggi (misalnya peningkatan troponin)
dengan dosis loading 180 mg, dilanjutkan 90 mg dua kali sehari.
Pemberian dilakukan tanpa memandang strategi pengobatan awal.
Pemberian ini juga dilakukan pada pasien yang sudah mendapatkan
clopidogrel (pemberian clopidogrel kemudian dihentikan)
f. Clopidogrel direkomendasikan untuk pasien yang tidak bisa
menggunakan ticagrelor. Dosis loading clopidogrel adalah 300 mg,
dilanjutkan 75 mg setiap hari
g. Antagonis reseptor glikoprotein IIb/IIIa. Dapat mencegah agregasi
trombosit
dengan memblokade ikatan fibrinogen pada reseptornya di
[Link] penghambat reseptor glikoprotein IIb/IIIa dapat
diberikan pada pasien IKP yang telah mendapatkan DAPT dengan
risiko tinggi (misalnya peningkatan troponin, trombus yang terlihat)
apabila risiko perdarahan rendah
h. Antikoagulan berfungsi mencegah penggumpalan darah. Obat ini dapat
bekerja dengan cara menghambat kerja protein yang terlibat dalam
proses pembekuan darah. Pemberian antikoagulan disarankan untuk
semua pasien yang mendapatkan terapi antiplatelet. Pemilihan
antikoagulan dibuat berdasarkan risiko perdarahan dan iskemia
i. Inhibitor ACE dan Penghambat reseptor angiotensin (Captopril,
ramipril, lisinopril, enalapril). Obat ini membuat dinding pembuluh
darah rileks sehingga tekanan darah dapat menurun.
j. Statin. Tanpa melihat nilai awal kolesterol LDL dan tanpa
mempertimbangkan modifikasi diet, inhibitor hydroxymethylglutary-
coenzyme A reductase (statin) harus diberikan pada semua
penderita UAP/NSTEMI, termasuk mereka yang telah menjalani terapi
19

revaskularisasi, jika tidak terdapat kontra indikasi. Terapi statin dosis


tinggi hendaknya dimulai sebelum pasien keluar rumah sakit, dengan
sasaran terapi untuk mencapai kadar kolesterol LDL <100 mg/dL (Kelas I-
A). Menurunkan kadar kolesterol LDL sampai <70 mg/dL mungkin untuk
dicapai.

Menurut The American College of Cardiology/American Heart (ACC/AH)


Cardiac nursing (2011) dalam (Mutarobin 2018) PCI adalah menggambarkan
kelompok atau kumpulan beberapa prosedur yang menggunakan tehnik
percutaneous untuk memperbaiki atau membuka kembali arteri koroner
yang menyempit, prosedur utamanya meliputi angioplasty, arterectomy dan
intra coronary stenting.
a. Primary PCI
Didefinisikan sebagai intervensi pada culprit vessel (pembuluh darah
yang terlibat serangan) dalam 12 jam setelah onset nyeri dada, tanpa
sebelumnya diberi trombolitik atau terapi lain untuk menghancurkan
sumbatan tersebut. Indikasi primary PCI dilakukan pada pasien STEMI
kurang dari 12 jam dengan LBBB, serta STEMI dengan komplikasi gagal
jantung severe.
b. Rescue PCI
Adalah tindakan PCI yang segera dilakukan pada pasien STEMI
pasca pemberian terapi fibrinolitik, tetapi terapi fibrinolitiknya gagal
mengembalikan aliran darah koroner yang tersumbat total (failed
fibrinolytic).
c. Elective PCI
Adalah tindakan perfusi yang dilakukan pada pasien dengan gejala
nyeri berulang dan pemasangan stent berulang.
20

9. Komplikasi
Komplikasi dari NSTEMI menurut (Nurafif dan Amin Huda 2015) adalah
sebagai berikut: adalah perluasan infark dan iskemia pasca infark,
aritmia (sinus bradikardi, supraventricular takiaritmia, aritmia ventricular,
gangguan konduksi), disfungsi otot jantung (gagal jantung kiri, hipotensi
dan syok), infark ventrikel kanan, rupture miokard, aneurisma entrikel
kiri, perikarditis, dan thrombus mural.

B. Konsep dasar asuhan keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan sekarang
Pada pasien ACS keluhan utama yang dirasakan antara lain: fatique,
retensi cairan, pulse yang tidak teratur, dyspnea, nyeri dada, sakit
kepala, kelelahan. Pengkajian yang utama dilakukan dengan
mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai kelemahan fisik secara
PQRST, yaitu:
1) Provoking Incident:
dapat dikembangkan sebagai pencetus timbulnya serangan jantung
atau menyatakan posisi nyeri dada yang dirasakan ada berkaitannya
dengan area lokasi jantung jantung pada area substernal kiri.
2) Quality of pain: kualitas
dari nyeri dada yang dirasakan oleh klien. Rentang skala nyeri yang
digunakan adalah dari skala 0 sampai dengan 10, yang artinya jika
hasil tingkat nyeri dada menunjukan skala nyeri dada angka 0
artinya klien tidak mengalami nyeri dada tipikal (atipikal angina),
tetapi jika dalam pengkajian skala nyeri dada tersebut menunjukan
angka yang bermakna sampai dengan lebih dari angka 7 maka
dikatakan adalah nyeri dada tipikal (tipikal angina).
3) Radiation: lokasi nyeri dada atau radiasi dari penjalaran nyeri
yang menggambarkan area aliran darah yang mengalami hambatan
21

tersebut, yaitu disebelah dada kiri dan menjalar kerahang,


lengan kiri sampai akhirnya kejari kiri dan punggung.
4) Severiti: gejala
nyeri dada yang khas seperti tertindih benda berat yang diikuti
keringat dingin dan sesak dan tercekik. Nyeri dada menjalar
kepunggung, leher dan lengan kiri sampai jari.
5) Time: Kejadian nyeri dada dapat terjadi terus menerus atau kadang-
kadang. Jika keluhan dada dirasakan kurang dari 20 menit (uap
/nstemi) dan jika nyeri dada di rasakan lebih dari 20 menit (stemi)
(Mutarabin, 2018).

b. Riwayat kesehatan masa lalu


Menanyakan kepada pasien adaya riwayat nyeri dada, nafas pendek,
alkoholik, anemia, demam rematik, sakit tenggorokan yang
disebabkan stretococus, penyakit jantung bawaan, stroke, pingsan
hipertensi, nyeri yang hilang timbul.

c. Riwayat pengobatan
Pengkajian pengobatan harus dituliskan nama dari obatnya dan pasien
mengerti kegunaan dan efek samping dari obat tersebut. Adapun obat
–obat yang dapat mempengaruhi system kardiovaskuler seperti:
anticonvulsant, antidepressant, antipsychotics, cerebral stimulants,
cholinergics, estrogens, nonnarcotic analgesics dan antipyrektics, oral
contraceptives, sedatives.

d. Riwayat pembedahan atau pengobatan lain Harus ditanyakan secara


spesifik penrawatan dirumah sakit yang berhubungan dengan
kardiovaskuler. Hasil data diagnostic yang pernah dilakukan selama
perawatan harus lebih dikaji. Harus dicatat dimana ECG dan foto rontgen
dapat dijadikan data dasar.
22

e. Pola persepsi
hidup sehat Menanyakan faktor resiko utama seperti peningkatan serum
lipid, merokok, kurang aktivitas dan obesitas, penggunaan alkohol,
pengelolaan setres, riwayat alergi dan bagaimana reaksi alergi pada
obat, konfrimasi penyakit darah yang berhubungan dengan keturunan.

f. Pola nutrisi metabolic


Sering merasa mual bahkan muntah, tidak nafsu makan, nyeri
pada ulu hati/epigastrium saat makan, diet tinggi kolesterol/lemak,
garam, kafein, minuman keras.
g. Pola eliminasi
Riwayat penyakit ginjal, penurunan frekuensi atau jumlah urine, urine
berwarna pekat.

h. Pola istirahat dan aktivitas


Pola hidup monoton, kelemahan, perasaan tidak berdaya setelah
latihan, kelelahan, nyeri dada bila bekerja, menjadi terbangun bila
nyeri, dyspnea saat bekerja, takikardi, penurunan tekanan darah.

i. Pemeriksaan fisik
Menurut (Majid 2018)
B1 (Breathing)
Klien terlihat sesak nafas, frekuensi napas melebihi normal, dan
mengeluh sesak nafas disebabkan oleh kenaikan tekanan darah diastolic
ventrikel kiri yang meningkatkan tekanan vena pulmonalis.
B2 (Blood)
Pada inspeksi, adanya jaringan parut pada dada klien, keluhan lokasi
nyeri biasanya di daerah subternal atau diatas pericardium. Penyebaran nyeri
dapat meluas di dada. Pada palpasi, denyut nadi perifer lemah, thrill
23

pada IMA tanpa komplikasi tidak ditemukan. Pada auskultasi, tekanan


darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup yang
disebabkan IMA. Bunyi jantung akibat kelainan katup pada IMA
biasanya tidak ditemukan tanpa komplikasi. Pada perkusi, batas jantung
tidak mengalami pergeseran.
B3 (Brain)
Menurut (Mutaqqin 2014) pada pemeriksaan keadaan umum klien infark
miokard akut biasanya didapatkan kesadaran baik atau compos mentis
dan akan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi
system saraf pusat.
B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Perlu memonitor oliguria pada klien dengan IMA karena itu adalah
tanda gejala syok kardiogenik.
B5 (Bowel)
Mengalami mual dan muntah. Pada palpasi abdomen ditemukan nyeri
tekan pada keempat bagian kuadran, penurunan peristaltik usus.
B6 (Bone)
Klien merasa mudah lelah, lemah, kesulitan untuk tidur, pola hidup
tidak banyak gerak, jadwal olahraga tidak teratur, takikardi, dyspnea
pada saat istirahat maupun aktivitas.

2. DiagnosisKeperawatan
Berdasarkan manifestasi klinis, riwayat penyakit dan pengkajian data
diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang bisa timbul menurut (S. PPNI
2017) adalah :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (iskemia
b. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas miokardial; perubahan frekuensi, irama, konduksi
listrik perubahan structural (misal kelainankatup, aneurisme ventricular
24

c. Anisetas berhubungan dengan ancaman actual terhadap inegritas biologis


d. Intoleransi aktivitas berhubungan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen
e. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran arteri atau vena.

3. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan menurut (SDKI 2018)


a. Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian ([Link] 2017)
Tujuan: nyeri terkontrol atau menurun, di buktikan dengan Kriteria
Hasil: Keluhan nyeri menurun, klien tampak meringis menurun, sikap
protektif terhadap nyeri menurun, kesulitan tidur menurun.
Intervensi :
Identifikasi terhadap nyeri termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, observasi reaksi
ketidaknyamanan secara non verbal, tentukan pengaruh nyeri
terhadap kualitas hidup, tentukan faktor yang dapat
memperburuk nyeri, lakukan evaluasi cara mengontrol nyeri
dengan klien dan tim kesehatan lain,berikan infromasi tentang nyeri,
termasuk penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan hilang,
ajarkan cara penggunaan terapi non farmakologis (distraksi,
relaksasi), kolaborasi dalam pemberian analgesik.

b. Penurunan curah jantung adalah ketidakadekuatan jantung memompa


darah untuk memenuhi kebutuhan metabolism tubuh (S. PNI 2017)
Tujuan: penurunan curah jantung dapat teratasi, dibuktikan
dengan Kriteri hasil:kek uatan nadi perifer meningkat, ejection fraction
meningkat, gambaran EKG aritmia menurun, keluhan lelah menurun,
ortopnea menurun, suara jantung S3,S4 menurun.
Intervensi : Auskultasi TD, monitor balance cairan, evaluasi kualitas
ankesamaan nadi sesuai indikasi, catat terjadinya S3 dan S4,
25

auskultasi bunyi napas, pantau frekuensi dan irama jantung, catat


adanya disritmia, catat respons terhadap aktivitas dan peningkatan
istirahat dengan tepat, berikan oksigen tam bahan sesuai indikasi, kaji
ulang EKG, kaji foto dada, pantau data laboratorium :contoh
enzim jantung, GDA, elektrolit, kolaborasi dalam pemberian obat.

c. Intoleransi Aktivitas adalah ketidak cukupan energi untuk melakukan


aktivitas sehari –hari (S. PPNI 2017)
Tujuan : kondisi klien stabil saat aktivitas, dibuktikan dengan
Kriteria Hasil : kemudahan melakukan aktivitas meningkat, jarak
berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas
menurun.
Intervensi : Dokumentasi frekuensi jantung, irama dan TD sebelum,
selama, sesudah aktivitas sesuai indikasi, hubungkan dengan laporan
nyeri dada/napas pendek, tingkatkan istirahat (tempat
tidur/kursi), berikan aktivitas senggang yang tidak berat,
batasi pengunjung dan/atau kunjungan oleh pasien,
anjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen,
contoh mengejan saat defekasi, jelaskan pola peningkatan bertahap
dari tingkat aktivitas, contoh bangun dari bila tak ada nyeri, ambulasi
dan istirahat selama 1 jam setelah makan, kolaborasi pemberian terapi
oksigen (O2).

d. Perfusi perifer tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah pada level
kapiler yang dapat menganggu metabolism tubuh (S. PPNI 2017
Tujuan :perfusi jaringan perifer klien menjadi efektif, dibuktikan
dengan Kriteria hasil:
kekuatan nadi perifer meningkat, warna kulit pucat menurun,
pengisian kapiler membaik.
26

Intervensi: Periksa sirkulasi perifer, identifikasi faktor resiko


gangguan sirkulasi, lakukan hidrasi, anjurkan berhenti merokok,
anjurkan berolahraga rutin,, anjurkan program rehabilitasi vaskuler

4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan klien
agar kriteria hasil dapat tercapai, Implementasi yang dilakukan pada pasien
dengan ACS NSTEMI meliputi: memonitor tanda –tanda vital dan balance
cairan, mengidentifikasi keluhan dan karakteristik nyeri, memonitor faktor
yang menyebabkan ia mudah lelah dan sesak nafas, memantau frekuensi
dan irama jantung, memonitor hasil rekaman EKG dan enzim jantung,
mengidentifikasi perilaku gelisah, memonitor pola tidur klien, memberikan
terapi obat dan oksigen jika perlu.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan suatu proses
berkelanjutan dan dilakukan secara terus menerus untuk
menilai efek dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dan
dilakukan sesuai dengan perkembangan klien Acute Coronary Syndrom
NSTEMI sudah teratasi atau belum teratasi. Evaluasi yang diharapkan pada
pasien ACS NSTEMI yaitu Keluhan nyeri akut menurun, klien tampak
meringis menurun, pada penurunan curah jantung ejection fraction
meningkat, gambaran EKG aritmia menurun, pada ansietas klien tampak
cemas sudah teratasi, pada intolerasni aktivitas jarak berjalan meningkat,
keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dan pada perfusi perifer
menjadi efektif
27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengkajian keperawatan
Pada pasien ACS keluhan utama yang dirasakan antara lain: fatique,
retensi cairan, pulse yang tidak teratur, dyspnea, nyeri dada, sakit kepala,
kelelahan. Pengkajian yang utama dilakukan dengan mengajukan
serangkaian pertanyaan mengenai kelemahan fisik secara PQRST, dan
dilakukan pemeriksaan fisik system kardiovaskular.
2. Penetapan diagnose keperawatan
Berdasarkan manifestasi klinis, riwayat penyakit dan pengkajian data
diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang bisa timbul menurut (S. PPNI
2017) adalah : Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
(iskemia), Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas miokardial; perubahan frekuensi, irama, konduksi
listrik perubahan structural (misal kelainankatup, aneurisme ventricular,
Anisetas berhubungan dengan ancaman actual terhadap inegritas biologis,
Intoleransi aktivitas berhubungan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen,
Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran arteri atau vena.
3. Perencanaan keperawatan
Perencanaan keperawatan disesuaikan berdasarkan masing-masing diagnose
keperawatan pada pasien ACS
4. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan klien
agar kriteria hasil dapat tercapai, Implementasi yang dilakukan pada
pasien dengan ACS NSTEMI meliputi: memonitor tanda –tanda vital dan
29

balance cairan, mengidentifikasi keluhan dan karakteristik nyeri,


memonitor faktor yang menyebabkan ia mudah lelah dan sesak nafas,
memantau frekuensi dan irama jantung, memonitor hasil rekaman EKG
dan enzim jantung, mengidentifikasi perilaku gelisah, memonitor pola tidur
klien, memberikan terapi obat dan oksigen jika perlu
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan suatu proses
berkelanjutan dan dilakukan secara terus menerus untuk
menilai efek dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
dan dilakukan sesuai dengan perkembangan klien Acute Coronary Syndrom
NSTEMI sudah teratasi atau belum teratasi. Evaluasi yang diharapkan pada
pasien ACS NSTEMI yaitu Keluhan nyeri akut menurun, klien tampak
meringis menurun, pada penurunan curah jantung ejection fraction
meningkat, gambaran EKG aritmia menurun, pada ansietas klien tampak
cemas sudah teratasi, pada intolerasni aktivitas jarak berjalan meningkat,
keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dan pada perfusi
perifer menjadi efektif

B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber -
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
30

DAFTAR PUSTAKA

Anies M. 2021. Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah . Cetakan [Link]:


Chrisna [Link]),

AHA (American Heart. n.d. High Blood Pressure. America: American Heart
association
Black, J. M., and J. H. Hwaks. 2014. Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Klinis
Untuk Hasil Yang Diharapkan (Penerjemah Mulyanto J., Dkk) . Edisi 8.
8th ed.
Jakarta: Salemba Medika.

Dokter, Perhimpunan, Spesialis Kardiovaskular, and Edisi Ketiga. 2015. Pedoman


Tatalaksana Sindrom Koroner Akut Edisi Ketiga.”

Firza, Maulana. 2017. Penyakit Jantung: Pengertian, Penanganan & Pengobatan,


[Link] II. KATAHATI, Yogyakarta.

Halimuddin, Halimuddin,. 2017. “Tekanan Darah Dengan Kejadian Infark Pasien


Acute Coronary Syndrome.” Idea Nursing Journal 7, no. 3: 30–36.

Hidayat, A. Azis limul dan Uliyah, Musrifatul. 2016. Buku Ajar Ilmu Keperawatan
Dasar
Jakarta: Salemba Medika.

Iskandar, Herlina, I Made Sutarna, and Anita Joeliantina. 2012. “Pengaruh Teknik
Relaksasi Napas Dalam Terhadap Nyeri Dada the Effect of Deep Breath
31

Relaxation Techniques Toward Chest Pain in Patients With Acute Myocardial


Infarct.”
Jurnal Keperawatan V, no. 3: 122–25
.
K, Marshall. 2011. “Acute Coronary Syndrome : Diagnosis, Risk Assessment and
Management,” 47–58.

Kawamoto Kris R, Davis Melinda B, Duvernoy, Claire S. 2016. “Acute


oronary
Syndromes: Differences in Men and Women.” Current Atherosclerosis Report 18, no.
73. [Link] -016-0629-7.

Majid, Abdul. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan


Sistem Kardiovaskular,. Jakarta: Pustaka Baru Press.

Moch. Bachrudin, Gipta Galih Widodo, Siti Mainuna, Ns. Tanty Wulan Dari.
2012. Terapi 63 Modalitas Keperawatan Kardiovaskuler. Edited by Cetakan 1. V
Trans Info Media.

Morton, Patricia Gonce. 2011. Keperawatan Kritistle. 8th ed. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

Muhibbah, Muhibbah, Abdurahman Wahid, Rismia Agustina, and Oski Illiandri.


2019. “Karakteristik Pasien Sindrom Koroner Akut Pada Pasien Rawat Inap
Ruang Tulip Di Rsud Ulin Banjarmasin.” Indonesian Journal for Health
Sciences3, no. 1: 6. [Link]

Mutaqqin, Arif. 2014. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular Fan Hematologi . Jakarta: Salemba Medika.
32

Mutarobin. 2018. “Modul Sistem Kardiovaskuler Acute Coronary Syndrome


(ACS).” Poltekkes Kemenkes Jakarta 1, 72.

Nurafif dan Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & Nanda. 2nd ed. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Nurhaliza, Siti. 2019. “Langkah-Langkah Perencanaan Dalam Asuhan Keperawatan


Di Rumah Sakit.” [Link]
Ohira, H. 2013. “Cardiovascular Disease Epidemiology in Asia: An Overview
Circulation” 77: 1646–52.

Organization, Word Health. 2019. “Catastrophic Health Expenditure on Acute


Coronary Events in Asia: A Prospective Study Retrived From.” 2019.

PERKI. 2018. “Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut 2018.” Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
.
PPNI, SDKI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SLKI D P P. 2019. “Standar Luaran Keperawatan Indonesia.” In , 1st
ed. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.

Ridwan, Muhammad, Yusni, and Nurkhalis. 2020. “Analisis Karakteristik Nyeri Dada
Pada Pasien Sindroma Koroner Akut Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
Zainoel Abidin Banda Aceh.” Journal of Medical Science 1, no. 1: 21–26.

Rilantono, Lily. L. 2018. Penyakit Kardiovaskular. Depok: Fakultas Kedokteran UI.64

Riskesdas. 2018. “Riset Kesehatan Dasar 2018.” 2018.


33

Rizal Dwi, Nanda Nur. 2018. “Sindrom Koroner Akut.” Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia 99: 1–13.

SIKI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. 2nd ed. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Perasatuan Perawat Nasional Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai