PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1109/MENKES/PER/IX/2007
TENTANG
PENYELENGGARAAN PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF
DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, yang bermutu,
bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan perlu dimanfaatkan berbagai upaya pelayanan
kesehatan, termasuk pengobatan komplementer alternatif ;
b. bahwa pengobatan komplementer-alternatif sebagaimana dimaksud pada huruf a telah banyak
diselenggarakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah dan swasta;
c. bahwa untuk melindungi pemberi dan penerima pelayanan pengobatan komplementer-alternatif
dipandang perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Penyelenggaraan Pengobatan
Komplementer-Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan ;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3821);
3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4431);
4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 Tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-
Undang (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 Tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3609);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara
Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3781);
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1186/Menkes /Per/XI/ 1986 Tentang Pemanfaatan
Akupunktur di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/Menkes/SK/VI/ 1999 Tentang Konsorsium Pelayanan
Medik;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277 /Menkes/SK/VIII/ 2003 Tentang Akupunktur;
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131 /Menkes/SK/11/2004 Tentang Sistem Kesehatan
Nasional;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes /SK/XI/ 2005 Tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Kesehatan RI;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/Menkes/Per /IV/ 2007 Tentang Izin Praktik Dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer
Alternatif Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
ВАВ I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini, yang dimaksud dengan :
1. Pengobatan Komplementer-Alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan
efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum diterima
dalam kedokteran konvensional.
2. Ilmu pengetahuan biomedik adalah ilmu yang meliputi anatomi, biokimia, histologi, biologi sel dan
molekuler, fisiologi, mikrobiologi, imunologi yang dijadikan dasar ilmu kedokteran klinik.
3. Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif yang selanjutnya disebut
SBR- TPKA adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan tenaga
pengobatan komplementer-alternatif.
4. Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif yang selanjutnya disebut ST-TPKA
adalah bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga kesehatan yang telah memiliki Surat Izin
Praktik/Surat Izin Kerja untuk pelaksanaan praktik pengobatan komplementer-alternatif.
5. Surat Izin Kerja Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif yang selanjutnya disebut SIK-TPKA
adalah bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga pengobatan komplementer-alternatif dalam
rangka pelaksanaan praktik pengobatan komplementer-alternatif.
6. Pengobatan adalah pelayanan kesehatan kepada perorangan, melliputi segala tindakan atau
perlakuan yang diberikan kepada pasien dalam upaya untuk promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif.
7. Sinergi pelayanan adalah penggabungan metoda pengobatan non konvensional dengan
pengobatan konvensional yang akan memberikan manfaat/khasiat pengobatan yang lebih baik
dibandingkan dengan manfaat satu jenis pengobatan saja.
8. Integrasi pelayanan adalah penyatuan/penggabungan sebagian atau seluruh aspek pengobatan
komplementer-alternatif pada pelayanan kesehatan di semua tingkatan fasilitas pelayanan
kesehatan, termasuk aspek regulasi, pembiayaan, serta kebijakan mengenai penyelenggaraan
pelayanan dan obat yang digunakan.
9. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
10. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh
Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
11. Tenaga kesehatan lainnya adalah tenaga kesehatan selain dokter dan dokter gigi, sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang melakukan pelayanan pengobatan komplementer-
alternatif.
12. Kompetensi adalah kemampuan seseorang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
(knowledge, skill, and professional attitude) minimal yang harus dikuasai individu untuk dapat
melakukan keg profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh
organisasi profesi.
13. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi kepada dokter atau dokter gigi tentang
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung
maupun tidak langsung.
14. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang
dapat digunakan untuk pelayanan pengobatan komplementer-alternatif.
15. Organisasi profesi adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia
(PDGI), serta wadah perkumpulan/perhimpunan dokter-dokter seminat dalam bidang pelayanan
pengobatan komplementer-alternatif dibawah IDI serta organisasi profesi di bidang kesehatan
lainnya.
BAB II
TUJUAN
Pasal 2
Tujuan pengaturan penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif adalah:
a. Memberikan perlindungan kepada pasien;
b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan;
c. memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dan tenaga pengobatan komplementer-alternatif.
BAB III
PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF
Pasal 3
Pengobatan komplementer-alternatif dilakukan sebagai upaya pelayanan yang berkesinambungan mulai
dari peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif),
dan atau pemulihan kesehatan (rehabilitatif).
Pasal 4
(1) Ruang lingkup pengobatan komplementer-alternatif yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik
meliputi:
a. Intervensi Tubuh dan Pikiran (Mind and body interventions);
b. Sistem Pelayanan Pengobatan Alternatif(Alternative Systems of Medical Practice);
c. Cara penyembuhan manual (Manual Healing Methods);
d. Pengobatan farmakologi dan Biologi (Pharmacologic and Biologic Treatments);
e. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan (Diet and Nutrition the Prevention and
Treatment of Disease); dan
f. Cara Lain Dalam Diagnosa dan Pengobatan (Unclassified Diagnostic and Treatment Methods).
(2) Jenis pelayanan pengobatan komplementer-alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
dapat dilakukan di Indonesia dan dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan ditetapkan
dengan Keputusan Menteri.
(3) Dalam penetapan kebijakan penyelenggaraan pengobatan komplementer - alternatif, Menteri dapat
membentuk suatu komite/kelompok kerja (Pokja) yang terdiri dari unsur Departemen Kesehatan,
organisasi profesi, praktisi, dan pakar dalam bidang pengobatan komplementer dan alternatif.
Pasal 5
(1) Pengobatan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan apabila
aman, bermanfaat, bermutu dan terjangkau, serta memiliki hasil pengkajian yang dilakukan oleh
institusi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku
(2) Dalam pelaksanaan pengobatan komplementer-alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan kesehatan komplementer-alternatif dengan
melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosa, terapi, dan
proses rujukan.
(3) Jenis pengobatan komplementer-alternatif yang dilaksanakan telah dilakukan pengkajian dan dapat
dipertanggungjawabkan.
(4) Pengaturan pengkajian pengobatan komplementer-alternatif ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Pasal 6
Dalam melakukan pengobatan komplementer-alternatif hanya dapat digunakan peralatan yang aman bagi
kesehatan dan sesuai dengan metode/keilmuannya.
Pasal 7
Penggunaan alat dan obat dalam pengobatan komplementer-alternatif harus memenuhi standar dan/atau
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Pasal 8
(1) Pelayanan pengobatan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi dan
mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan.
(2) Pelayanan pengobatan komplementer-alternatif harus dilaksanakan secara sinergi dan atau
terintegrasi sebagai berikut :
a. Didukung dengan peraturan, pembagian tugas, w ewenang, dan tanggung jawab untuk pelayanan
pengobatan komplementer-alternatif, serta adanya standar, akreditasi, dan sertifikasi untuk
masing-masing jenis pengobatan komplementer-alternatif yang dilaksanakan.
b. Pelaksana pengobatan komplementer-alternatif adalah dokter dan dokter gigi, serta tenaga
kesehatan lainnya yang teregistrasi dan memiliki surat tugas/SIK-TPKA sesuai ketentuan yang
berlaku, memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidang keahliannya, dan mendapat rekomendasi
dari organisasi profesi terkait.
c. Pembiayaan perlu ditata agar dapat tercakup dalam sistem pembayaran asuransi maupun
subsidi.