0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan155 halaman

Acara Agama Hindu I: Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Buku pedoman ini membahas tentang acara agama Hindu secara umum. Acara agama Hindu merupakan penerapan atau pelaksanaan hidup beragama umat Hindu yang bersifat beragam dan bervariasi sesuai dengan konsep ke-Tuhan-annya yang menganut paham Theisme Atwaita serta memperhatikan adat istiadat setempat. Bab-bab selanjutnya akan membahas tentang berbagai jenis upacara agama Hindu seperti Yadnya, Dewa Yad

Diunggah oleh

Anto Wijayanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan155 halaman

Acara Agama Hindu I: Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Buku pedoman ini membahas tentang acara agama Hindu secara umum. Acara agama Hindu merupakan penerapan atau pelaksanaan hidup beragama umat Hindu yang bersifat beragam dan bervariasi sesuai dengan konsep ke-Tuhan-annya yang menganut paham Theisme Atwaita serta memperhatikan adat istiadat setempat. Bab-bab selanjutnya akan membahas tentang berbagai jenis upacara agama Hindu seperti Yadnya, Dewa Yad

Diunggah oleh

Anto Wijayanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ACARA AGAMA HINDU I

OLEH:
DR. DRS. I MADE GIRINATA, M.AG.
NIP. 19630609 199403 1 002

INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI


DENPASAR

1
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan

Yang Maha Esa, serta didorong oleh keinginan yang luhur, maka penyusunan

bahan ajar mata kuliah Acara Agama Hindu I ini dapat diselesaikan.

Penulis yakin bahwa tulisan ini tidak akan dapat memenuhi harapan para

pembaca dan jauh dari sempurna yang disebabkan karena segala keterbatasan

yang ada pada penulis. Namun demi terwujudnya tugas sebagai tenaga pengajar

untuk memiliki buku pedoman sesuai bidang keahlian maka buku pedoman ini

harus kami selesaikan. Untuk itu demi kesempurnaan buku ini dan untuk

selanjutnya, sumbang pikiran, saran dan kritik yang konstruktif sangat kami

harapkan dari semua pihak.

Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam tulisan ini banyak

terdapat kekeliruan yang sudah tentu tidak disengaja.

Om Santih-Santih Santih Om.

Penyusun,

(Drs. I Made Girinata, M.Ag)


NIP. 19630609 199403 1 002

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB. I TINJAUAN UMUM ACARA AGAMA HINDU ......................... 1


1.1 Pengertian Acara Agama Hindu ................................................. 2
1.2 Kedudukan dan Peranan Acara dalam Agama Hindu ................ 3
1.3 Ruang Lingkup Bahasan Acara Agama Hindu .......................... 5
BAB. II YADNYA .................................................................................... 6
2.1 Pengertian Yajnya ..................................................................... 6
2.2 Tujuan Yajna .............................................................................. 6
2.3 Kedudukan Yajna ....................................................................... 6
2.4 Macam-Macam dan Jenis-Jenis Yajna ....................................... 8
2.5 Sifat-Sifat Yajna ......................................................................... 11
2.6 Sarana Yajna ..........................................................................................
11
BAB. III DEWA YAJNA ........................................................................... 56
3.1 Pengertian Dewa Yajna ............................................................. 56
3.2 Tujuan Dewa Yajna .................................................................. 62
3.3 Jenis-Jenis Pelaksanaan Upacara Dewa Yajna ......................... 66
BAB. IV RSI YAJNA ............................................................................... 90
4.1 Pengertian Rsi Yajna ............................................................... 90
4.2 Tujuan Rsi Yajna ..................................................................... 94
4.3 Pelaksanaan Upacara Rsi Yajna .............................................. 96
BAB. V PITRA YAJNA .......................................................................... 111
5.1 Pengertian Upacara Pitra Yajna .............................................. 111
5.2 Tujuan Upacara Pitra Yajna .................................................... 117
5.3 Pelaksanaan Upacara Pitra Yajna .......................................... 118
5.4 Ngaben Adalah Upacara Pitra Yajna ..................................... 123

3
BAB. VI MANUSA YAJNA .................................................................... 127
6.1 Pengertian Manusa Yajna ...................................................... 127
6.2 Tujuan Upacara Manusa Yajna ................................................ 130
6.3 Pelaksanaan Upacara Manusa Yajna ....................................... 131

4
BAB I
TINJAUAN UMUM ACARA AGAMA HINDU

Pelaksanaan suatu agama adalah bertitik tolak dari kepercayaan manusia


kepada Tuhan. Oleh karena itu maka pelaksanaan suatu agama tak bisa lepas
daripada kepercayaan agama yang bersangkutan kepada ajaran ke-Tuhan-annya.
Sekalipun setiap agama itu percaya terhadap adanya Tuhan, namun isi
kepercayaannya itu tidaklah sama untuk semua agama.
Jelasnya yang dimaksud dengan isi kepercayaan kepada Tuhan itu adalah
ajaran ke-Tuhan-an suatu agama itu sendiri yaitu bagaimana agama itu
mempercayai atau memandang keberadaan Tuhan-Nya. Ajaran ke Tuhan-an atau
pandangan suatu agama kepada Tuhan dalam kenyataannya tidak semua sama,
sekalipun sama-sama percaya pada adanya Tuhan. Karena adanya perbedaan
ajaran ke-Tuhanan-an itulah yang menyebabkan adanya perbedaan karakteristik
dari masing-masing agama.
Agama Hindu sesuai dengan ajaran ke-Tuhanannya dalam pustaka suci
Weda menganut paham ke-Tuhan-an yang dapat dinamakan “paham Theisme
Atwaita” yaitu kepercayaan kepada Tuhan yang tunggal dengan nama dan wujud
yang banyak. Tuhan yang tunggal menampakkan diri dalam berbagai perwujudan.
Ia Yang Esa berada dimana-mana memenuhi segala, tapi juga mengatasi segala.
Agama Hindu percaya tidak saja kepada perwujudan Tuhan Yang Tunggal, tapi
juga percaya bahwa Tuhan sebagai hakikat yang tak berwujud (Nirguna
Brahman). Tuhan tidak saja berada di Surga tapi juga di dunia ini dan di mana-
mana memenuhi segala dan sekaligus mengatasi segala. Tuhan tidak saja sebagai
ayah, tapi juga sebagai ibu, teman atau sahabat, sebagai raja, sebagai tamu,
sebagai adik dan sebagainya. Tuhan dalam agama Hindu tidak punya lawan dan
kawan karena semua ini adalah penampilan Beliau sendiri di luar.
Ajaran atau konsepsi ke-Tuhan-an yang demikian itulah melahirkan
adanya pelaksanaan atau penampilan agama Hindu yang beraneka ragam dan
bervariasi. Sehingga dengan demikian kita lihat bahwa umat Hindu dalam hidup
keberagamannya sangat beragam, antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dewa
yang dipuja bermacam-macam, caranya memuja juga beragam, tempat

5
pemujaannya juga bervariasi. Meskipun tata pelaksanaan upacaranya sangat
beragam dan bervariasi dalam penampilannya, namun tetap sama dan satu dalam
prinsip kepercayaannya.
Di samping karena menganut konsepsi ke-Tuhan-an yang berbeda,
munculnya keberagaman dalam hidup umat Hindu juga disebabkan karena sifat
agama Hindu yang senantiasa memberi tempat yang layak pada adat istiadat dan
budaya setempat dimana umat Hindu itu berada. Dengan demikian maka adanya
keberagaman atau bermacam-macam dalam tata kehidupan beragama itu
merupakan ciri khas yang sekaligus menjadi identitas agama Hindu itu sendiri,
dimana agama menyatu dengan adat-istiadat budaya setempat.
Bagian yang nampak secara riil dan beragam itu adalah apa yang disebut
dengan “Acara Agama Hindu” yang merupakan penerapan atau peleksanaan
hidup beragama.

1.1 Pengertian Acara Agama Hindu


Pertama-tama kata acara dalam hubungannya dengan kata acara agama
Hindu harus dibedakan dengan kata acara sebagaimana lazimnya dipakai dalam
bahasa Indonesia seperti dalam kata: acara TV RI, acara seminar, acara pidana,
acara makan-makan dan sebagainya. Kata acara dalam kaitannya dengan kata
acara agama Hindu adalah kata yang berasal dari bahasa Sanskerta yang dapat
diartikan :
a. Perbuatan atau tingkah laku yang baik.
b. Adat-istiadat.
c. Tradisi atau kebiasaan yang merupakan tingkah laku manusia baik
perseorangan maupun kelompok masyarakat yang didasarkan atas
kaidah-kaidah hukum yang ajeg.
Jadi menyimak dari pengertian itu, bahwa acara pada prinsipnya adalah
merupakan kebiasaan atau tradisi keberagaman Hindu. Acara sebagai kebiasaan
dan tradisi dalam bahasa Sanskerta secara konotatif memiliki makna yang sama
dengan kata drsta, yang selanjutnya berkembang menjadi beberapa jenis drsta
yakni:

6
a. Sastra drsta, adalah suatu tradisi atau drsta agama Hindu yang bersumber
pada Ssumber-sumber tertulis yang terdapat pada pustaka-pustaka suci
atau sastra agama Hindu.
b. Desa Drsta, adalah tradisi agama Hindu yang telah menjadi tradisi desa
yang berlaku dalam suatu wilayah desa tertentu (Desa mawa cara). Tradisi
ini biasanya tak tersirat dan tersurat dalam pustaka tertentu namun diyakini
dan melembaga bagi pendukungnya.
c. Loka drsta, adalah tradisi agama Hindu yang berlaku secara umum dalam
suatu wilayah tertentu.
d. Kuna drsta (purwa drsta), adalah tradisi agama Hindu yang bersifat turun
temurun dan diikuti secara terus menerus sejak lama. Orang takut untuk
melanggarnya, sudah tidak tahu dan tidak ingat sejak kapan tradisi itu
mulai, sepanjang relevan terus diikuti namun bila sudah tidak relevan
dapat berubah.
e. Kula drsta, adalah tradisi agama Hindu yang berlaku bagi kelompok
keluarga tertentu seperti tradisi yang berlaku di antara kelompok yang
telah menerima diksa (Pandita).

1.2 Kedudukan dan Peranan Acara dalam Agama Hindu


Acara agama Hindu adalah salah satu bagian integral yang tak dapat
dipisahkan dari ajaran agama Hindu secara keseluruhan yang meliputi: Tattwa,
Susila dan Acara Agama. Ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisakan antara yang
satu dengan yang lainnya. Dari ketiga aspek tersebut maka acara agama termasuk
ke dalam aspek ke tiga (3). Acara agama menyangkut suatu yang sangat kompleks
dan merupakan refleksi daripada ajaran agama Hindu itu sendiri yang dapat
dilaksanakan secara riil dalam kehidupan sehari-hari. Karena acara merupakan
refleksi dan praktek dari ajaran agma Hindu sehingga wajarlah nampak bahwa
yang mendominasi agama Hindu adalah upacara agama dan dilaksanakan penuh
semarak. Namun ingat bahwa kesemarakan bukanlah merupakan jaminan bagi
orang untuk dapat dipandang sebagai orang yang beragama jika belum disertai
dengan pendalaman akan arti. Tetapi bukan berarti kesemarakan itu tidak perlu,

7
justru sangat penting untuk menjaga kesinambungan daripada pelaksanaan ajaran
agama asalkan disertai dengan pemahaman.
Terkait dengan kedudukan daripada Acara Agama, dalam kitab
Manawadharma Sastra (II.6) disebutan :
Weda khilo dharma tulam smrti
Cila ca tad widam, acaracca iwa
Sadhunamat manastustirewaca

Artinya :

Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu),


kemudian barulah Smrti, selanjutnya Sila (kebiasaan yang baik dari orang
yang menghayati Weda), emudian Acara (tradisi-tradisi) dan akhirna
atmanastusti (rasa puas diri).

Uraian di atas menunjukkan bahwa kedudukan Acara Agama Hindu adalah


merupakan salah satu sumber ajaran agama Hindu yang secara berurutan
adalah :
1. Weda (Sruti)
2. Smrti
3. Sila
4. Acara (sadacara)
5. Atmanasusti.
Bahwa sesuatu yang belum diatur secara jelas dalam Weda sebagai sumber
pertama dan utama, akan diatur dalam Smrti, selanjutnya yang tidak diatur dalam
Smrti tentang tatacara keberagamaan maka akan diatur dalam Acara. Tetapi jika
alam acara toh juga tidak diatur maka tentulah akan diatur dalam atmanastusti
(rasa puas diri).
Sedangkan peranan acara agama adalah memberi tuntunan pada umatnya
untuk melaksanakn ajaran agama dalam kehidupan beragama secara riil.
Masyarakat pada umumnyatela mengeahui dan melaksanaan acara gama daripada
mengetahui filsafa (tattwa) agamanya. Dengan demikian acara agama di samping
sebagai penerapan agama secara riil dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga
melengkapi aturan-aturan tata keberagaan yang belum diatur dalam Weda,
sekaligus memberi identitas bagi agama Hindu itu sendiri.

8
1.3 Ruang Lingkup Bahasan Acara Agama Hindu
Acara agama Hindu sesungguhnya mencakup bidang yang sangat luas
(kompleks), melingkupi segala aspek mengenai penerapan atau aplikasi dari
agama Hindu itu sendiri. Namun secara garis besarnya ruang lingkup pokok-
pokok bahasan acara agama Hindu dapat dirumuskan dalam beberapa hal
yakni:
a. Ajaran tentang Yadnya.
b. Ajaran tentang hari-hari suci keagamaan.
c. Ajaran tentang tempat-tempat suci (pemujaan).
d. Ajaran tentang orang-orang suci.
Dari pokok-pokok bahasan ini selanjutnya dapat kita jelaskan ke dalam
berbagai bentuk penerapan atau aplikasi dari agama Hindu itu sendiri yang dapat
diuraikan pada pokok bahasan berikutnya.

9
BAB II

YADNYA

2.1 Pengertian
Acara agama sebagai refleksi dari ajaran agama Hindu tidak bisa lepas
daripada Yadya, karena apa yang diwujudkan dalam bentuk aktifitas acara agama
berangkat dari hakekat yadnya. Karena yadnya itu sendiri berarti pemujaan,
persembahan atau korban suci baik material maupun non material yang didasari
atas ketulus-ikhlasan dan suci murni. Jiwa yadnya terletak pada semangat
berkorban dan keikhlasan untuk tujuan yang luhur.
Dasar yadnya adalah Tri Rna yang selanjutnya dilaksanakan ke dalam lima
(5) pokok jenis yadnya yang disebut Panca Yadnya.

2.2 Tujuan Yadya


1. Untuk membebaskan diri manusia dari ikatan dosa
2. Untuk membebaskan diri dari ikatan karma
3. Sebagai suatu jalan untuk mencapai sorga
4. untuk mencapai kelepasan.

2.3 Kedudukan Yadnya


Yadnya menduduki tempat yang penting dalam agam Hindu, dalam Atharwa
Weda (XII, 1.1) dinyatakan yadnya adalah salah satu bagian dari hakikat Dharma
yang menegakkan bumi.
Satyam brhad rtam ngram diksa,
Tapo brahma yajna prthivim dharayanti
Artinya :
1. Satya
2. Rta
3. Diksa
4. Tapa
5. Brahma dan

10
6. Yadnya
Ke enam (6) hal di atas dapat dipandang sebagai hal yang menegakkan
bumi jika dilaksanakan secara tulus ikhlas.
Satya,
Satya berarti kebenaran, dalam weda disimbulkan sebagai nti ke-Tuhan-an
(savita satya dharma). Dewata mempunyai kebenaran sebagai hukum bagi
kebenaran-Nya, Dewata-dewta itu sebagai perwujudan kebenaran. Kta satya
dalam arti ke-Tuhan-an dipergunakan sebagai sifatyang lazimnya dipegunakan
ersama degan kata Sat sama dengan Zat yang sering diterjemahkan dengan Yang
Maha Ada, sebagai hakekat sifat benar daripada Tuhan yang bersifat mutlak atau
absolut, seperti dalam kata Om Tat Sat dan Sat Cit Ananda. Om adalah satya, Sat
Cit Ananda berarti Tuhan bersifat satya (kebenaran), Tuhan bersifat citta (pikiran)
dan Tuhan bersifat Ananda (kebahagiaan).
Rta,
Rta, berarti hukum abadi yang merupakan bentuk ukum Tuhan yang berupa
hukum murni yang bersifat absolut dengan trancedental. Tuhan juga isebut
Ritawan karena Tuha adalah pencipta Rta itu sendiri.Ra adalah hukum alam
semesta dan juga ukum moral. Alam semesta dengan segala isinya tunduk pada
Rta, manusia di samping harus tunduk pada hukum alam juga patuh pada hukum
moral karena manusa adalah mahluk bermoral.
Diksa,
Diksa adalah inisiasi yaitu upacara penyucian atau pentasbihan,. diksa, tapa
dan yadnya dianggp merupakan satu rangkain pengertian yang arti dan fungsinya
sam sebagai sarana untuk sampai pada kesucian. Diksa dapat dilakukan melalui
brata, dengan brata orang akan didiksa untuk menjadi orang diksita sehingga
dapat ngaloka pala sraya.
Tapa
Landasan Dharma yang ke 4 adalah Tapa, yang berarti penguasaan atas
nafsu dan melakukan hidup suci. Untuk dapat hidup baik dan suci maka seseorang
harus dapat menguasai dirinya sendiri melalui penmguasaan/ pengendalian Panca
Indriya dn pikiran. Tapa merupakan awal untuk suatu tujuan yang mulia. Tapa

11
juga dapat diartikan sebagai ajaran kesadaran untuk menghukum diri sendiri atas
kesalahan yang telah diperbuat.
Brahma
Brahma adalah objek doa dan pujian sebagai landasan Dharma yang ke 5,
karena arti dasar Brahma adalah Doa. Mantram-mantram dalam Weda adalah doa
sehingga buku Weda juga disebut dengan buku doa. Doa adalah Ketuhanan yang
digambarkan sebagai kenyataan yang tak berwujud. Orang yang menguasai doa
dan mencari Brahman disebut Brahmana.
Yajna
Yajna adalah bagian akhir dari landasan Dharma dalam menegakkan bumi.
Wrhaspati Tattwa menjelaskan bahwa yajna merupakan salah satu bentuk
pengamalan daripada Dharma yakni:
1. Sila
2. Yajna
3. Tapa
4. Dana
5. Prawarajya
6. Bhiksu
7. Yoga.
Agastya Parwa juga menyebutkan bahwa Yajna itu merupakan salah satu
bagian dari pelaksanaan Prawrti Kadharman atau Prawrti Marga yaitu suatu jalan
untuk mencapai kebahagiaan hidup dengan pelaksanaan: Tapa, Yajna dan Krti.
Sedangkan Nirwrti Kadharman atau Nirwrti Marga adalah jalan untuk mencapai
tujuan hidup dengan melaksanakan Yoga dan Samadhi.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa Yajna mempunyai kedudukan
sebagai bagian dari pelaksanaan Dharma.

2.4 Macam-Macam/ Jenis-Jenis Yajna


Beberapa sumber menjelaskan jenis-jenis yajna yang juga disebut dengan
Panca Maha Yajna atau Panca Yajna seperti :
Manawa Dharmasastra III. 69-70 menjelaskan :

12
a. Brahma Yajna yaitu belajar dan mengajar Weda
b. Pitra Yajna adalah upacara menghaturkan tarpana dan air
c. Dewa Yajna adalah upacara mempersembahkan minyak susu
d. Bhuta Yajna adalah upacara bali
e. Nri Yajna adalah menerima tamu dengan ramah.
Tasam kramena sarwasam,
Niskrtyastham maharsi bhih,
Panca kirpta mahayajnah,
Pratyaham grhamedhinam.
(M.D.S. III.69)

Artinya :

Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian ke lima alat itu
para Maharsi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar tiap
harinya melakukan panca yajna.

Adhyapanam brahma yajnah,


Pitr yajnastu tarpanam,
Homo daiwo balibhaurto,
Nryajno’ tithi pujanam
(M.D.S. III.70)

Artinya :

Mengajarkan dan belajar adalah yajna bagi Brahmana, upacara


menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur, upacara
dengan minyak dan susu adalah korban untuk para dewa, upacara bali
adalah korban untuk bhuta, dan penerimaan tamu dengan ramah adalah
korban untuk manusia.

Lima macam yajna menurut Bhagawadgita IV.28 adalah:


a. Drwya Yajna adalah persembahan dengan benda-benda material
b. Tapa Yajna adalah dengan melaksanakan tapa
c. Yoga yajna adalah dengan melaksanakan yoga
d. Swadhyaya Yajna adalah dengan mempelajari kitab suci
e. Jnana Yajna adalah dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dravyayajnas tapoyajna,
Yogayajnas tatha pare,

13
Svadhyayajnanayajnas ca,
Yatayyah samsitavratah.
(Bg.Gita.IV.28).

Artinya:

Yang lainnya lagi memberikan sebagai korban benda kekayaannya atau


sifat tapanya atau latihan batinnya, sedangkan yang lainnya yang
berpikiran terkendalikan dan pemegang sumpah yang keras memberikan
pelajaran dan pengetahuannya sebagai korban.

Panca Yajna menurut Agastya Parwa :

a. Dewa Yajna adalah pemujaan dengan mempersembahkan minyak


kepada Bhatara Siwagni
b. Rsi Yajna adalah pemujaan atau penghormatan kepada para Pendeta
atau beliau yang mengetahui asal-usul kelahiran ini (sangkan paraning
dumadi).
c. Pitra Yajna adalah upacara kematian
d. Bhuta Yajna adalah upacara tawur dan pemujaan terhadap tumbuh-
tumbuhan maupun binatang
e. Manusa Yajna adalah memberikan makan kepada orang lain.

Kunan ikan yajna lima pratyekanya, lwirnya; dewayajna, rsiyajna,


pitrayajna, bhutayajna, manusayajna, nahan tan pancayajna ri loka,
dewayajna naranya taila pwa krma ri bhattara siwagni, makagelaran in
mandala rinbhatara; yyeka dewayajna naranya. Rsiyajna naranya
kapujan san pandita mwan san wruh ri kalinan in dadi wwan; ya rsiyajna
naranya.pitryajna naranya tileman bwat hyan siwasraddha; yeka
pitrayajna naranya, bhutayajna naranya tawur mwan kapujan in tuwuh
ada pamunwan kunda wulan makadi walikrama, ekadasa-dewata
mandala; ya bhutayajna naranya. Aweh amanan in karaman, ya
manusayajna naranya, ika ta limaan wiji ri sedan nin lokacara
manabhayasa ika makabheda lima.

Artinya :

Yajna itu lima jenisnya, yaitu; dewayajna, rsiyajna, pitryajna,


manusayajna, bhutayajna. Itulah pancayajna di masyarakat. Dewayajna
adalah persembahan minyak kepada Bhatara Siwagni, yang ditaruh di
tempat Bhatara. Itulah yang disebut dewayajna. Rsiyajna adalah

14
penghormatan kepada para pandita dan orang yang mengetahui hakekat
kelahiran menjadi manusia. Itulah Rsiyajna. Pitryajna ialah upacara
kematian yang dipersembahkan kepada Siwa sebagai penguasa upacara
kematian, itulah Pitryajna. Bhutayajna adalah tawur dan penghormatan
kepada sarwa bhuta pamungwan, tempat api pemujaan, wulan, terutama
walikrama (Panca walikrama), wilayah dewa-dewa yang sebelas. Itulah
Bhutayajna. Manusayajna adalah memberikan makan kepada masyarakat.
Itulah lima jenis upacara yang umum dilaksanakan orang, lima jenisnya.

2.5 Sifat-Sifat Yajna

Kitab Bhagawad Gita XVII.11-14 menyebutkan ada tiga jenis sifat yajna
yakni:
a. Yajna yang bersifat satwika, adalah yayja yang baik
b. Yajna bersifat rajasika, adalah yajna yang bernafsu
c. Yajna bersifat tamasika, adalah yajna yang bodoh.

2.6 Sarana Yajna


Sesungguhnya. dalam melaksanakan upacara agama Hindu ataupun
pelaksanaan ritualisnya memerlukan banyak jenis sarananya. Pemakaian jenis-
jeni s sarana serangkaian pelaksanaan yajna dapat pula disebut dengan sadhana.
Namun yang lebih luas dikenal dalam praktek yajna bagi kalangan masyarakat
Hindu disebut dengan Upakara. Jadi Upakara adalah segala sesuatu yang dapat
menyebabkan karya itu (yajna) selesai sempurna. Atau dengan lain perkataan
bahwa upakara itu adalah segala macam peralatan yang diperlukan untuk
melakukan upacara, terutama dalam melaksanakan Panca Maha Yajna, sarana
itu sebagai simbol atau lambang-lambang sebagai pengganti untuk
menyampaikan ekspresi antara pemuja dengan yang dipuja. Jadi upakara atau
sarana merupakan ibarat bagi orangorang yang bisu. (Agama Hindu II: 164).
Adapun yang menjadi istilah mengenai sarana upacara agama tersebut,
sebenarnya bukan merupakan hal yang menyulitkan namun yang terpenting
adalah bagaimana umat Hindu dapat menggunakan sarana yang ada dan sarana
yang dimiliki itu dipersembahkan dengan hati yang tulus sebagai suatu
persembahan yang suci yang ditujukan ke hadapan yang dipujanya. Pada sisi

15
lain terkadang juga ada yang menyebutkan dengan nama bebantenan atau
sesajen. Dengan demikian bahwa sarana upacara yajna, apakah dapat disebut
sadhana, upakara, bebanten, atau sesajen, hal ini adalah wajar saja, karena
variasi dalam istilah penyebutan tersebut juga merupakan ciri khas/identitas dari
Acara Agama Hindu, Hal semacam ini sering diberikan penegasan keberagaman
dalam kebersamaan. Yang terpenting dalam pemahaman hakikat dan maknanya
tidak berbeda, tetapi justru mengandung persepsi dan tujuan yang sama.

2.6.1 Arti dan fungsi api dalam upacara agama Hindu.


Salah satu sarana dalam upacara agama Hindu adalah api. Penggunaan api
sebagai sarana dalam upacara agama Hindu sangat banyak dijumpai sesuai dengan
jenis yajna yang dipersembahkan dan fungsinya masing-masing. Jenis api yang
dipergunakan dalam kaitannya dengan upacara agama bukanlah jenis api yang
khusus sebagai api sakral. Api sakral merupakan api yang suci yang diperoleh
melalui pemujaan dengan mantra-mantranya.
Dalam pelaksanaan upacara agama bahwa sarana api banyak digunakan,
seperti: dhupa, dipa, api, takep, pasepen, dan lain-lainnya. Dhupa atau dupa adalah
sebagai nyala bara yang berisi wangi-wangian a t a u astanggi yang dipakai dalam
upacara dan untuk menyelesaikan upacara. Dipa adalah api yang nyalanya sebagai
lampu yang terbuat dari minyak kelapa, yang merupakan alat penting dalam
upacara agama. Api takep adalah api sebagai sarana upacara dengan nyala bara
yang terbuat dari kulit kelapa yang sudah kering atau sabut. Api takep ini biasanya
dibuat sedemikian rupa dari dua bilah sabut kering dan pada bagian tengahnya
ditaruh api yang telah membara, lalu salah satu bilah sabut itu dicakupkan
(ditangkepkan) sehingga api menjadi nyala bara. Pasepan adalah api sebagai
nyala bara yang ditaruh di atas tempat tertentu atau dulang kecil yang diisi dengan
potongan kayu yang dibuat kecil-kecil dan kering. Biasanya dipilih potongan kayu
yang mengeluarkan bau yang harum, seperti: kayu cendana, kayu menyan, kayu
majegau, dan lainnya. Penggunaan dupa, api takep dan pasepan biasanya
mengeluarkan asap, sedangkan penggunaan dupa biasanya mengeluarkan nyala
yang terang, semua sarana api tersebut memiliki makna tertentu.

16
Ada ditegaskan bahwa dhupa merupakan lambang akasa tattwa, sedangkan
dipa merupakan lambang sakti tattwa. Dijelaskan pula tentang arti dhupa dan dipa,
dikatakan "wijil ing dhupa sakeng wisma, dipa sakeng Ardha candra landepi
sembah", yang artinya: bahwa tajamnya sembah sakti itu (dengan) dhupa yang
tercipta dari Wisma (sarwa alam) dan dipa yang terdiri dari Ardha Candra (bulan
sabit) atau dengan istilah lain bahwa terwujudnya cipta pujaan itu akan dapat
diintensifkan dengan mempergunakan dhupa dan dipa itu; (Wedaparikrama: 103).
Dari penegasan tersebut sungguh sangat penting artinya sarana api itu dalam
upacara agama. Penggunaan api sebagai sarana upacara agama juga disebut dengan
agni. Peranan api dalam upacara agama sangat penting sekali, seperti: api adalah
pengantar upacara yang menghubungkan antara manusia dan Tuhan (Ida Sang
Hyang Widhi Wasa), Agni adalah Dewa yang mengusir raksasa dan membakar
habis semua mala sehingga menjadikannya suci, Agni adalah pengawas moral dan
saksi yang abadi, Agnilah yang menjadi pimpinan upacara yajna yang sejati
menurut Weda (Wedaparikrama: 44 - 45).
Apabila sarana api belum ada dalam upacara agama, maka suatu
persembahan dapat dikatakan belum lengkap, karena dengan api umat Hindu
dapat melaksanakan persembahan atau korban suci dengan sempurna, sarana api
untuk penyucian, sarana api dapat menghalau roh-roh jahat atau mendatangkan
pengaruh-pengaruh yang baik karena api sebagai pengantar, sebagai pimpinan
upacara, dan sebagai saksi upacara agama Hindu.
Api sebagai sarana upacara agama yang dipentingkan adalah api yang
mengeluarkan asap yang berbau harum dan sangat dihindari penggunaan api yang
terbuat dari lilin, oleh karena lilin itu tidak mengeluarkan bau yang harum.
Sedangkan kalau dhupa dan dipa serta yang lainnya memang sudah dibuat khusus
agar dapat berbau harum atau wangi yang dilengkapi dengan kemenyan, gula, kulit
duku, kayu cendana, kayu majegau, dan lain-lainnya.
Selanjutnya berdasarkan sastra-sastra agama Hindu ada beberapa jenis api,
antara lain:
a. api yang ada di dapur
b.api yang ada pada diri manusia

17
c. api yang ada pada matahari.
Semua jenis api tersebut di atas sangat membantu kehidupan manusia, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktivitas tertentu, termasuk juga yang
berkaitan dengan kehidupan sosial budaya. dan keagamaan atau spritual.
Kemudian dalam kitab suci Sarasamuccaya sloka 59 disebutkan jenis api
yang disebut Sang Hyang Tryagni, sebagai berikut:
".... mangelema amuja ring sang hyang tryagni ngaranira sang hyang apuy
tiga, pratyekani ahawaniya, garhaspatya, citryagni, ahawanidha ngaranira
apuy ning asuruhan, rumateng i pinangan garhaspatya ngaranira apuy ning
winarang, apan agni, apan agni saksika kramaning winarang i kalani
wiwaha, citagni ngaranira apuy ning manunu sawa, nahan ta sang hyang
tryagni ngaranira ...."
Artinya:
".... taat mengadakan pujaan kepada tiga api suci, yang disebut Tryagni:
yaitu tiga api suci perinciannya adalah: ahawaniya, garhaspatya, dan citagni,
ahawaniya artinya api tukang masak untuk memasak makanan, garhaspatya
artinya api upacara perkawinan, itulah api yang dipakai saksi waktu
perkawinan dilangsungkan; citagni artinya api untuk membakar mayat,
itulah yang disebut api suci ...."
Dari kutipan sloka tersebut menyebutkan tiga jenis api suci yang disebut Tri
Agni, antara lain :
a. Ahawaniya yaitu api yang dipergunakan untuk memasak;
b. Garhaspatya yaitu api upacara dalam perkawinan;
c. Citagni yaitu api yang dipergunakan dalam upacara pembakaran mayat.

Ketiga jenis api suci tersebut atau triagni merupakan sarana yang sangat
penting dan banyak dipergunakan dalam pelaksanaa upacara agama terutama
dalam pelaksanaan Panca Yajna sesuai dengan jenis dan tingkatan yajna serta
fungsi dari sarana api dalam upacara agama Hindu Hindu.

18
Api dalam istilah ajaran agama Hindu juga disebut dengan Apuy, Agni,
Wahni. Sedangkan ajaran Tri Murti atau tiga wujud Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
bahwa api merupakan sumber kehidupan kekuatannya untuk menciptakan segala
isi alam semesta, baik dalam bhuwana agung dan bhuwana alit dengan dewanya
adalah Dewa Brahma, dengan warnanya adalah merah atau abang (bamadewa)
yang dalam asta dala terletak pada arah daksina atau selatan.
Dalam naskah Agustya Parwa ada ditegaskan tentang pentingnya penggunaan
dhupa dalam upacara agama, yang berbunyi:
"
Kunan ya tanon kita wwan sugih paripurna pomah-omahnya, wahu enak
denya mukti sukha, mogha ta ya ka tawan, rinampas, dinol, sinangguh
sadosa an tanpa dosa, ika ta wwan mankana rin loka ahu pahanah sadab
havat, manke sila nika nuni: agelem amuja ri bhattara, ika ta bhaktinya ri
bhattara ya tikamuhara sukha ri battara, kunan tapan tanpasep ya nuni riya n
pamuja, anaisthiki phala ni raksana pakena nin dhupa rumaksa phala nin
puja dlana".
Artinya:
Kita lihat orang kaya, keluarganya tidak kekurangan suatu apa, sementara ia
menikmati kebahagiaannya dengan penuh kesenangan, maka iapun ditawan orang,
dirampas, dijual, dituduh berbuat dosa walaupun sesungguhnya ia tidak berdosa.
Orang yang demikian di dunia, demikian tingkah lakunya dahulu: gemar memuja
Bhatara yang menyebabkan bhatara menjadi suka cita. Namun karena pemujaannya
itu dahulu tanpa dilengkapi dengan dupa, maka usahanya itu kehilangan makna
upacara agama, sebab tujuan adanya dupa itu ialah untuk menjaga pahala
pemujaan itu kelak.
Berikut ini beberapa uraian yang menegaskan betapa banyak fungsi api
dalam upacara agama Hindu, baik sebagai sarana persembahyangan maupun
sebagai sarana pokok yajna atau korban suci.
Adapun fungsi api dalam kaitannya dengan upacara agama Hindu adalah :
1. Api sebagai pendeta pemimpin upacara.
Hal ini dimaksudkan bahwa api dapat menuntun umat Hindu untuk menuju
pada arah kesucian, selalu ada pada jalan yang benar (dharma).

19
Api sebagai lambang menuntun umat, hal ini banyak ditegaskan dalam kitab
suci agama Hindu.

"
Agne naya supatharaye asman, wismani dena wayunani widwan, yuyudhy
asmay juhara am, enobhuyistham to nama uktim widhena".
Artinya:
O Tuhan, kuat laksana api, maha kuasa tuntunlah kami semua, segala yang
hidup ke jalan yang baik, segala tingkah laku menuju kepada-Mu yang
bijaksana, jauhkan dari jalan yang tercela yang jatuh dari pada-Mu, baik
penghormatan maupun kata-kata yang hamba lakukan; (Isa Upanisad, 18).

Dalam sloka tersebut di atas ada penegasan yang berbunyi "Agne naya" yang
artinya api penuntun atau api pemimpin dalam melaksanakan korban suci yang
dilaksanakan oleh umat Hindu.
Kemudian dalam kitab suci Rg Weda Mandala I ada pula ditegaskan bahwa
sebagai pemimpin upacara atau purohito, yang berbunyi:
"Om Agnimile purohitam yajnasya dewamrtwijam, hotaram ratna dhatanam".
Artinya:
Kami puji agni, Pendeta utama, Dewa Pendeta Korban, Pemuja, murah hati.
2. Api sebagai perantara Pemuja dan Yang dipuja.
Menghormat dan memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa beserta
manifestasinya memerlukan kesucian hati atau ketulusan dari pemujanya.
Di samping unsur kesucian juga sarana api dapat sebagai sarana atau perantara
untuk menyatukannya, agar yajna itu tidak sia-sia.
"Agniwayu rawibhyastu trayam brahma sanataram, dudoha yajsiddyartha,
mrgyajuh samalaksanam" (Mds. I, 23).
Artinya :
Sesungguhnya Ia ciptakan ajaran ketiga Weda yang abadi (trayo brahma) dari
api (agni), angin (wayu), dan matahari (Rawi) untuk dijadikan dasar
melaksanakannya yadnya.

20
Kemudian mari kita simak beberapa sloka dalam kitab suci Bhagavadgita sloka
IV, 24 dan 25 yang menegaskan bahwa api sebagai sarana upacara untuk
menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja, yang berbunyi:

"Brahma ‘rpanam brahma havir,


bramagnau brahmana hutam,
brahmai ‘va tena gantavyam,
brahma karma samadhina", (Bhagavadgita, IV, 24).

Artinya:
Dipujanya Brahman persembahannya Brahman
oleh Brahman dipersembahkan dalam api Brahman
dengan memusatkan meditasinya kepada Brahman
dalam kerja is mencapai Brahman.

"Daivam eva ‘pare yajnam


yoginah paryupasate
brahmagnav apare yajnam
yajnenai ‘vo ‘pajuhvati", (Bhagavadgita, IV, 25).
Artinya :
Beberapa yogi memuja dewata, yang lain mempersebahkan sajian, dengan jalan
membaktikan pemujaan ini ke dalam api brahman.
Kedua sloka suci di atas telah menegaskan bahwa api sebagai sarana utama
untuk menjadi perantara a n t a r a pemuja dengan yang dipuja. Makna Brahman
adalah sebagai Tuhan yang dipuja oleh umat. Makna Hawir merupakan lambang
atau wujud dari persembahan umat yang berupa mentega yang dipersembahkan
dalam api upacara serta huta adalah persembahan yang dilakukan dengan
melakukan pembakaran homa. Kemudian ditegaskan pula bahwa yogi itu
merupakan umat dengan penuh konsentrasi mempersembahkan yajnanya atau
sajiannya yang dilengkapi dengan sarana api Brahman.

21
3. Api sebagai pembasmi segala kekotoran dan pengusir roh jahat.
Menyimak makna sloka Bhagavadgita IX, 26: mengingatkan umat beserta
dengan manifestasinya itu, perlu mempersiapkan diri dengan suasana yang suci
secara lahir dan batin. Demikian pula dalam pemakaian api sebagai sarana upacara,
maka diperlukan sarana api yang telah suci. Atau sarana yang akan digunakan
perlu disucikan terlebih dahulu, mengingat fungsi api adalah sebagai pembasmi
segala kekotoran dan pengusir roh jahat. Dalam mantra astra mantra dengan jelas
ada yang menegaskan sebagai berikut:
"Om Am dhupa - dipa astraya namah", (Wedaparikrama :102), yang artinya:
Om, sujud kepada A(m), dhupa (dan) dipa, astra (itu). Atau dapat pula diartikan:
Om Sang Hyang Widhi dengan sinar suci Mu sucikan diri hamba, (Arti dan fungsi
Sarana Persembahyangan : 69).
Dari mantra tersebut maknanya adalah perlunya menciptakan kesucian diri
dan kesucian sarana yang dipergunakan dalam beryajna, agar kita dapat terhindar
dari segala kekotoran dan hal-hal yang jahat.
Selanjutnya dalam kitab suci Rg Weda Mandala I sukta 12 sloka 5, 7, dan 10
menegaskan bahwa dengan sarana api dapat menumpas segala musuh, dapat
melenyapkan segala kesedihan dan kemelaratan, serta dengan sarana api dapat pula
menyucikan upakara-upakara yajna yang dipersembahkan. Berikut ini mari kita
simak makna sloka tersebut :
"
Ghrtahawana didiwah prati sma risato daha, agne twam raksaswinah". (Rg
Weda Mandala I, 12, 5), yang artinya:
O, Agni yang bercahaya, kepadamu minyak suci disiapkan menyala,
menumpas musuh yang dilindungi setan.
"Kawiwagnimupa stuhi satyadharmanamadware, Dewaniwacatanam", (Rg
Weda Mandala I, 12, 7), Agni kami puji Engkau dalam yajna, Pendeta yang selalu
berbuat benar. Dewa yang melenyapkan sedih.
"Sa nah pawaka didiwo 'gne dewam iha waha, upa yajnam hawicca nah",
(Rg Weda, Mandala I, 12, 10),
Artinya;
Bawalah yang demikian itu kepada persembahan korban kami, agni, Pen-

22
sucikan, Undanglah Dewa-Dewa pada persembahan kami.
Kalau kita perhatikan dalam pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga,
setelah caru dipersembahkan kemudian sore harinya dilakukan pengerupukan
dengan membawa obor menuju keliling desa dan mengelilingi rumah-rumah sambil
menyemburkan mesiu, yang maknanya adalah untuk menetralisir kekuatan bhuta kala
yang semula bersifat jahat/pengganggu manusia kemudian berubah sifat guna
menolong dan membantu kehidupan manusia.
Dalam lontar Sunarigama ada menerangkan antara lain:
"Telasing acaru tumuli ngerupuk ya tika ngemantukan sarwa bhuta kala
kabeh mwang umu ndurakena sasab merana, sarana obor-obor dening geni
saperakpak, semburni, masuwi, mantra sarwa tetulak penyengker agung,
iderin umah kadening geni ika".
Artinya:
Setelah selesai melaksanakan caru, lalu melaksanakan ngerupuk yaitu
mengembalikan semua bhuta kala dan menghalau penyebab penyakit, caranya:
obor-obor dengan api daun kelapa kering, semburkan mesuwi, dimantrai
dengan mantra penolak batas terbesar, mengelilingi rumah dengan api
tersebut.

Dengan berkeliling sebanyak tiga kali sambil membawa obor tersebut


bertujuan untuk mengusir roh jahat dan tentunya tidak lagi menganggu kehidupan
manusia.
Selain itu ada lagi penggunaan api upacara yang disebut api tetimpung.
Bentuk api tetimpug ini dibuat sedemikian rupa dari potongan batang bambu
muda sejumlah tiga batang dan masing-masing ujung ruasnya dibiarkan.
Kemudian dalam rangkaiannya dengan yajna, potongan bambu itu lalu dibakar
dengan api sehingga dapat mengeluarkan bunyi letupan/suara yang meledak dan
suara ledakan inilah yang dinamai tetimpug. Tujuannya adalah mementingkan
apinya ditambah suara ledakan dengan fungsi bahwa api sebagai pembasmi
kekotoran dan pengusir roh-roh jahat. Penggunaan jenis sarana api tetimpug ini
biasanya dilakukan pada saat mabyakala atau mabyakawon serta ada pula dalam

23
rangkaian upacara bhuta yajna.

4. Api sebagai saksi upacara dalam kehidupan.


Semua sarana api digunakan dalam upacara agama baik yang berupa dhupa,
dipa, api takep, pasepan, api tetimpug, dan yang sejenisnya merupakan saksi
upacara atau pemimpin upacara. Dalam umat Hindu melakukan persembahyangan,
maka api dhupalah yang dipakai saksinya, sedangkan asapnya melambangkan
arahnya jalan pikiran untuk menyembah Hyang Widhi menuju ke arah akasa
dengan penuh kesucian.
Kemudian dalam penggunaan Sanggar surya yang ditempatkan di bagian
sudut yang mengarah Gunung dan Sinar Matahari, juga merupakan saksi dalam
upacara, oleh karenanya disebut dengan Sanggar Pesaksi yang fungsinya sebagai
lambang stana Dewa Siwa Raditya yang turut menyaksikan pelaksanaan upacara.
Sanggar surya terkadang juga dinamai Sanggar Tawang, kata Tawang (bahasa
kawi) yang artinya: langit. Dengan penggunaan Sanggar Tawang berarti kekuatan
api Brahman (Raditya/Matahari) yang dipancarkan melalui akasa/langit juga
merupakan saksi dalam pelaksanaan upacara yajna.
"Om Adityasya-paramjyoti, rakta tejo namo stute, cweta-pangkaja
madhayaste. Bhaskaraya namo stute. Om Pranamya Bhaskara dewam, sarwa klesa
winacanam. Pranamyaditya-Ciwartham, mukti-mukti-warapradam.
Om rang ring sah Parama Ciwadityaja", (Upadeca: 77).
Yang artinya :
Hyang Widhi, hamba sembah Hyang Widhi dalam manifestasi sinar surya
yang berkilauan cahaya-Mu Engkau putih suci, bersemayam di tengah-tengah
laksana teratai, Engkaulah, Bhaskara (sumber cahaya), yang hamba puja selalu.
O Hyang Widhi, Cahaya sumber segala sinar, hamba menyembah-Mu agar
segala dosa dan kotoran yang ada pada jiwa hamba menjadi sinar binasa. Karena
Dikau adalah sumber bhukti dan mukti. kesejahteraan hidup jasmani dan rohani.
Hamba memuja-Mu, O Hyang Widhi Paramaciwa-Aditya.
Demikianlah sebuah mantra suci yang sering mengiringi persembahyangan
yang ditujukan kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang

24
Hyang Aditya yang menguasai apinya matahari sebagai pancaran api Brahman
yang turut menyaksikan persembahan berupa yajna, dengan harapan agar segala
penderitaan, kekotoran hamba-Nya dapat terhapuskan, serta dianugerahkan
kesejahteraan lahir dan batin.
Selain uraian di atas yang telah banyak membahas tentang fungsi api sebagai
sarana upacara Yanja, maka berikut ini berdasarkan sumber kitab suci Weda
menegaskan beberapa fungsi dan kedudukan api sebagai sarana upacara yajna,
antara lain:
a. Api (agni) berfungsi sebagai Dewa yang paling utama;
b. Api yang berfungsi sebagai saksi dalam sumpah dan persembahyangan;
c. Api berfungsi sebagai pendeta (Purohito) yang akan melakukan tugas-
tugas kependetaan dalam upacara yang dilakukan oleh manusia;
d. Api sebagai ahli upacara, ahli Weda (Jata Weda) yang memberi inspirasi
kepada para pendeta dan para Resi menggubah mantra;
e. Api (Agni) berfungsi sebagai duta atau utusan yang siap menerima
perintah dari yajmana untuk mendatangkan para Dewa yang dikehendaki
hadir dalam upacara;
f. Api (agni) berfungsi sebagai mulut para Dewa dan semua kekuatan yang
tidak kelihatan untuk menerima sesajen yang dipersembahkan untuk
disantap;
g. Api sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan bagi orang berumah
tangga karena fungsinya di dapur;
h. Agni berfungsi sebagai penjaga dan mengusir roh-roh yang akan
mengganggu jalannya upacara;
i. Agni berfungsi sebagai pemberi tenaga atau kekuatan kepada yang
memakainya;
j. Api sebagai sarana penyuci benda-benda keramik atau logam mulia
lainnya;
k. Agni sebagai sarana penolak bala dan balik sumpah agar tidak mengenai
diri dan lain-lainnya (Agama Hindu II, Gd. Pudja, M.A., S.H., 167 - 168).

25
Demikianlah sangat banyak sesungguhnya uraian-uraian yang
mengetengahkan tentang arti dan fungsi api sebagai sarana upacara agama Hindu
yang termuat dalam berbagai sastra/kitab suci agama Hindu, namun dalam modul
ini hanya diuraikan secara sederhana.

2.6.2 Arti dan Fungsi Air dalam Upacara Agama


Dalam kaitannya dengan pelaksanaan yajna atau upacara agama Hindu
bahwa air bukan lagi berfungsi sebagai air biasa, tetapi air yang fungsinya sebagai
sarana upacara agama memiliki fungsi sakral yang sering disebut dengan air suci.
Sarana yang berupa apapun yang kita miliki dan yang kita persembahkan
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, hendaknya harus
diingat selalu, agar sarana persembahan dimaksud diperoleh dan dipersembahkan
dengan penuh ketulusan dan kesucian. Hal ini ada ditegaskan dalam kitab suci
Bhagavadgita Bab IX sloka 26 yang berbunyi sebagai berikut:

"
Patram pusham phalam toyam
yo me bhaktya prayaccahati
tad aham bhaktyauphritam
asnami prahyatatmanah"

Artinya:
Siapa saja yang sujud kepada Aku dan persembahan sehelai daun,
sekuntum bunga, sebiji buah-buahan,
seteguk air, Aku terima sebagai bakti
persembahan dari orang yang berhati suci.

Menyimak makna sloka di atas, maka sarana upacara agama yang kita
persembahkan sebenarnya bukan dari jumlahnya yang banyak dan melimpah, serta
sifatnya yang mengikat, namun yang perlu mendapat perhatian utama adalah dasar
dsari persembahan itu sendiri yaitu kesucian hati.
Apabila persembahan hanya dengan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji

26
buah-buahan, dan dengan seteguk air yang disertai dengan kesucian dalam
beryajna, maka persembahan yang demikian diterima oleh Tuhan. Sesungguhnya
dalam memuja kebesaran Tuhan dengan tanpa saranapun juga diterima asalkan si
pemuja dapat menumbuhkan suasana kesucian diri.
Dalam penegasan sloka di atas, bahwa persembahan air sebagai sarana
upacara agama disebut dengan Toyam.
Toyam atau disebut pula toya merupakan air suci yang dipergunakan
sebagai sarana persembahan. Kemudian dalam kaitannya dengan fungsinya
sebagai sarana persembahan atau sarana upacara agama juga disebut dengan istilah
Tirtha.
Penggunaan istilah Toyam dan Tirtha adalah sebagai sarana yajna yang
sama-sama memiliki nilai kesucian. Jadi toyam dan tirtha adalah air suci yang
secara khusus dipergunakan dalam kaitannya dengan upacara keagamaan yang
memiliki kekuatan magis dan kekuatan religius yang bersumber dari kekuatan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan penggunaan air dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari
atau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang fungsinya air biasa
disebut dengan odaka atau odakam. Dalam sehari-harinya manusia sangat
membutuhkan sekali air. Air juga merupakan sumber kehidupan, sumber
kebersihan, sumber kesehatan bagi manusia. Air sebagai sumber kehidupan bagi
manusia juga disebut dengan Amrtha. Dengan adanya air, maka manusia dapat
hidup dengan bersih, sehat, dan dapat mencapai ketenteraman.
Kata tirtha dapat pula berarti permandian atau sungai, kesucian atau setitik
air, toya atau air suci, sungai yang suci, permandian/sungai/air suci, tempat
perziarahan, mengunjungi tempat-tempat suci, bersuci dengan air, air suci,
permandian, tempat mandi atau tempat yang dapat diseberangi, (Arti dan fungsi
Sarana Persembahyangan, Drs. I Kt. Wiana: 91). Demikianlah makna air dalam
fungsinya sebagai tirtha atau air spci yang digunakan dalam upacara yajna.
Kemudian kalau kita perhatikan Kitab Suci Bhagavadgita ada yang
menegaskan bahwa dengan melalui persembahan atau korban suci dapat
memberikan suatu sumber kehidupan berupa air atau hujan. Dengan demikian, di

27
satu sisi air merupakan sarana yajna yang kita persembahkan ke hadapan Tuhan,
dan di lain sisi melalui yajna/persembahan kita mendapatkan anugerah Tuhan
berupa air atau hujan.
Berikut ini mari kita renungkan sloka yang berbunyi:
Annad bhawanti bhutani
parjanyad annasambhawah,
yajnad bhawati parjanjo
yajna karma samu samudbhawab"; (Bhagavadgita, III, 14).

Artinya:
Adanya makhluk hidup karena makanan,
adanya makanan karena hujan,
adanya hujan karena yajna,
adanya yajna karena karma.

Sloka suci tersebut mengingatkan kita bahwa air merupakan sarana yang
diperlukan dalam beryajna dan dengan yajna umat memohon anugerahnya berupa
air kehidupan dalam wujud air hujan. Singkatnya, pahala dari beryajna adalah
anugerah air kehidupan, sehingga manusia dalam kehidupannya menjadi sehat dan
selamat. Demikian pula tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur, hewan dan
binatang dapat hidup dengan baik.
Adapun syarat-syarat untuk memohon tirtha air suci ketentuannya adalah:
a. pemohon harus sudah lahir batin;
b.berpakaian yang khusus untuk hal-hal yang suci;
c. menghadap ke arah terbit matahari atau gunung setempat;
d.kedua tangan diangkat sampai ke atas kepala dengan memegang suatu
tempat khusus untuk air suci berisi bunga dalam air itu dan dupa sudah
dinyalakan dipegang; (Upadeca; 82).

Tirtha atau air suci kalau kita perhatikan dari cara memperolehnya dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu :

28
a. Tirtha yang dibuat sendiri oleh Sulinggih/Pandita;
b.Tirtha yang didapatkan melalui memohon oleh Pemangku, Pinandita /
Dalang Balian / SangYajmana.

Tirtha biasanya diperoleh atau dibuat oleh Pandita ataupun Pinandita yang
telah memiliki kewenangan untuk memimpin upacara agama Hindu. Apabila telah
berstatus Sulinggih dengan ketentuan bahwa orang suci itu telah mediksa dan
ngeloka pala sraya serta yang berstatus pinandita dengan ketentuan telah
melakukan pewintenan. Sedangkan yang lainnya agar tetap memperhatikan
ketentuan-ketentuan dalam memohon tirtha sebagaimana telah diterangkan di
depan.
Selanjutnya macam-macam tirtha kalau kita perhatikan dalam kaitannya
dengan pelaksanaan Panca Yajna, maka jenisnya dapat dibedakan menjadi:
a. Tirtha Pembersihan;
b.Tirtha Pengelukatan;
c. Tirtha Wangsuhpada/banyun cokor/kekuluh;
d.Tirtha Pemahan;
e. Tirtha Penembak;
f. Tirtha Pengentas; (Wiana, 1987: 94).

Jenis-jenis tirtha tersebut di atas, biasanya dipergunakan dalam rangkaian


upacara Panca Yajna, seperti: tirtha pemahan, penembak, pengentas untuk upacara
Pitra Yajna dan tirtha pembersihan, pengelukatan, dan wangsuh pada hampir
untuk semua yajna.
Dalam kaitannya dengan persembahyangan dan sehabis menghaturkan
sembah dilanjutkan dengan mohon/nunas tirtha dengan ketentuan dipercikkan ke
seluruh tubuh masing-masing tiga kali, diminum tiga kali, dan diraupkan
sebanyak tiga kali. Adapun maknanya adalah sebagai penyucian sabda, bayu dan
idep.
Pada saat dipercikkan diiringi puja mantra;
a. Om Budha Pawitra ya namah;

29
b.Om Budha Maha Tirtha ya namah;
c. Om Sanggya Maha Toya ya namah;

Pada saat diminum tiga kali diiringi doa yaitu:


a. Om Brahma Pawaka;
b.Om Wisnu Amerta;
c. Om Iswara Jenyana.

Dan pada saat diraupkan diiringi mantra yaitu:


a. Om Ciwa Sampurna ya namah;
b.Om Sadha Ciwa ya namah;
c. Om Parama Ciwa ya namah.

Ketiga sasaran pemercikan tirtha tersebut di atas pada diri manusia, tentunya
bermakna agar manusia memperoleh kesucian diri.

Adapun jenis tirtha yang dimaksudkan seperti tersebut di atas, ada tiga jenis
antara lain:
a. Tirtha Kundalini/Tirtha pada saat dipercikkan ke anggota badan yang
bermakna penyucian badan atau sthula sarira;
b.Tirtha Kamandalu/Tirtha pada saat diminum yang bermakna untuk
penyucian kekotoran dari perkataan atau suksma sarira;
c. Tirta Pawitra Jati/Tirtha pada saat diraupkan yang bermakna kesucian
dalam kekuatan hidup; (Wijaya, 1981,87 - 88).

Dalam pustaka Purwa Bhumi ada disebutkan lima jenis Tirtha yang terdapat
di lima gunung atau Panca Giri, sebagai berikut :
a. Tirtha Sveta Kamandalu di Gunung Indrakila, dijaga oleh Indra dan
Sang Hyang Iswara atau Sadyojata;
b. Tirtha Ganga Hutasena di Gunung Gandhamadana, dijaga oleh
Bamadewa;

30
c. Tirtha Ganga Suddha-Mala di Gunung Pgat atau Udaya, dijaga oleh
Tatpurusa.
d. Tirtha Ganga Amrta-Sanjivani di Gunung Rsymukka dijaga oleh
Aghora;
e. Tirtha Ganga Amrta-jiva di Gunung Kailasa dijaga bersama
Ardhanareswari; (Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, 1981,100 - 101).

Kelima jenis Tirtha atau Panca Tirtha yang didapat di lereng Panca Giri,
merupakan kelompok tirtha atau air suci yang digunakan untuk menyucikan Bhuta
dan Kala, terutama pada saat hari raya Nyepi, dan juga dilakukan menjelang
upacara-upacara penting lainnya dalam rangkaian pelaksanaan yajna yang
dilaksanakan oleh umat Hindu.
Memperhatikan tentang arti air dalam upacara agama dan jenis air yang
disebut air suci atau tirtha sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka dalam
uraian berikut ini akan dibahas mengenai fungsi air suci atau tirtha, antara lain:

1. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian atau pembersihan.


Setiap sarana persembahan atau yajna yang kita haturkan hendaknya terlebih
dahulu disucikan agar persembahan itu dapat diterima dengan penuh kesucian.
Maka dalam hal ini yang menjadi sarana untuk menyucikannya biasanya
digunakan sarana berupa air suci atau tirtha, oleh karena air suci atau tirtha
sebagai lambang penyucian atau pembersihan. Namun demikian sebelumnya
airpun yang digunakan sebagai penyucian hendaknya disucikan pula.
Berikut ini mari kita simak makna doa suci yang digunakan untuk memohon
air suci atau tirtha, dengan doa sebagai berikut:
"Om Anantasana ya namah,
Om Padmasana ya namah,
Om, i, ba, sa, ta, a,
Om, ya, na, ma, siwa,
Mang Ang Ung namah,
Om Aum Dewapratista ya namah,

31
Om Sa ba ta a i,
Om Nama siwaya,
Ang Ung Mang namah,
Om Gangga Saraswati Sindhu, Wipasa Kausikinadi,
Yamuna maha srestha sarayu ca mahanadi,
Om Ganggadewi mahapunya, Ganggasahasramedhini,
Gangga tarangga samyukte, Ganggadewi namo'stute.
Om Gangga mahadewi tadupama-mrtanjiwani,
Ungkaraksara bhuwana-padamrta-manohara,
Om Utpatika surasanca, utpati tawa ghorasca,
Utpati sarwa-hitanca, utpatiwa sriwahinam".
Artinya:
Hamba memuja tempat (asana). Ia yang tanpa akhir.
Hamba memuja tempat (asana). Ia yang suci, bagai teratai. Semoga Hyang
Widhi dengan kekuatannya yang menguasai sepuluh penjuru alam ini
melindungi dan membangkitkan kekuatan suci (utpati). Hamba memuja
kemahakuasaan Hyang Widhi dalam manifestasi Trisakti (Ang Ung Mang). .
Hamba memuja Hyang Widhi yang bersemayam di tempat ini (di air suci).
Semoga Hyang Widhi dengan kekuatannya yang menguasai sepuluh alam
melindungi dan menegakkan kekuatan suci (sthiti) ini. Hamba memuja
kemahakuasaan Hyang Widhi dalam manifestasi Trisakti (Ang Ung Mang).
Hamba memuja Dikau O Gangga, Saraswati, Sindhu, Wipasa, Kausiki,
Yamuna, Sarayu; tujuh sungai suci yang agung dan membahagiakan. Hamba
memuji Dikau, Dewi Gangga yang mahasuci, Gangga sumber ribuan ilmu
pengetahuan, yang bersatu dalam riak gelombangnya Gangga. Dewi Gangga
yang maha indah, Dikau adalah maha gaib dan merupakan air suci kehidupan
abadi. Dalam aksara suci Dikau adalah aksara U di dalam alam dari kaki-Mu
mengalir amerta yang membahagiakan makhluk. O Hyang Widhi,
ciptakanlah (dalam air suci ini) kenikmatan rasa, kekuatan suci serta
ciptakan kegunaan dan bawakan kewibawaan untuk kesejahteraan semua
makhluk.

32
Demikianlah suatu doa suci yang biasa digunakan untuk pemujaan memohon air
suci atau tirtha. Karena fungsinya sebagai penyucian, makasarana yajna yang dijadikan
persembahan menjadi terbebas dari segala kekotoran yang ada pada sarana yang tersebut
baik secara fisik maupun spritual. Demikian juga sang Yajmana atau orang yang beryajna,
tentunya juga terbebas dari segala hal yang menyebabkan dirinya menjadi tidak suci.
Tirtha yang fungsinya sebagai sarana penyucian juga untuk memberikan
pengelukatan atau penyucian terhadap sesajen dan alat-alat kelengkapan upacara. Tirtha
yang fungsinya untuk menyucikan sajen atau banten disebut dengan Tirtha Pangresikan
Banten.
Cara memohon Tirtha Pangeresik Banten ini dapat dilakukan oleh Sulinggih atau
Pedanda. Juga dapat dilakukan oleh Pemangku sendiri yang langsung membuatnya, yang
dilakukannya dengan Ngayat Bhatara atau Ratu Ayu Tukang Banten yang bersthana di
suatu Pura tertentu. Kemudian dapat juga dilakukan dengan mengucapkan puja-japa-
mantra, seperti dengan mantra Apsudeva, yang bunyinya:
"Om Apsu deva-pavitrani, Ganga-devi namo'stute
sarva-klesa-vinasanam, toyena parisuddhyate.
sarva papa vinasini, sarva, roga, vimocane
sarva-klesa-vinasanam, sarva-bhogam avapnuyat.
Om Sri-kare sa-pahut-kare, rosa-dosa-visanam
Siva-lokam maha-yaste, mantre manah pada kelah
Siddhim tri-sandhya sa-phala, sakala-mala-kalahar
Sivamrta-mangalan ca, nadinindam namah Sivaya.

Artinya:
Om Dewata Penyuci penjiwa Air
Dewi Ganga dimuliakanlah nama-Mu
Engkau musnahkan semua noda
Bersih tanpa noda berkat air-Mu
Om Dewi pemusnah semua kejahatan
membendung serangan berbagai penyakit
dengan pemusnahan noda-noda

33
Siapapun akan mendapat kebahagiaan

Om ditunjang oleh Siwa


hancurlah semua dosa dan noda
dari alam Siwa engkau bersumber
mengucurkan Amrta, menyucikan semuanya
yang memuja Siwa, dengan pikiran,
dengan mantra, dengan puja Tri-Sandhiya,
semua penyakitpun sirna!

Kemudian kalau memohon tirtha untuk menyucikan Banten caru dapat


diucapkan mantra Siva-Stava, berikut ini:
"Om atitaya sarve, nistula nistuvahapi
deva-sangha va devanam, etebhyas tat namo namah svaha!
Om Guhyati-ghuya-gpta tvam, grhya papam krtam
mama siddhir bhavatu tasyeha, tad-vikaram ksamasva me".

Artinya:
Om Deva Maha Kuasa
Engkau tiada bandingan, kekal, luhur, didampingi Dewa-dewa yang lain,
kepada semuanya itu hamba sujud, sujud! Om Engkau Penjaga tersembunyi,
yang paling tersembunyi, mohon diterima cacat-cela perbuatan hamba
sempurnakan hamba di sini, ampunkan pelanggaran di dalam upacara itu,
(Tim Penyusun, 1981: 43 - 45).

2. Tirtha Berfungsi Sebagai Pengurip atau Penciptaan.


Dengan memercikkan tirtha sebuah yajna menjadi persembahan yang memiliki
nilai spiritual dan menjadi suci adanya. Tirtha juga dapat memberikan kehidupan
pada yajna yang kita persembahkan serta dapat memiliki nilai magis. Yajna yang
suci dapat mendatangkan dan menyatukan kehidupan manusia dengan alam Tuhan

34
atau dengan Hyang Pencipta. Dengan menyungguhkan persembahan seolah-olah
Tuhan terasa hadir di hadapan yang menyembah-Nya.
Berikut ini mari kita simak mantra Gayatri dalam kitab suci Rg Weda Mandala I
Sukta 3, sloka 10, 11, 12, dan Sukta 5, sloka 6, antara lain:
"Pawaka nah Saraswati wajebhirwajiniwati, yajnam wastu dhiyawasuh",
(R.W. I, 3, 10).
Artinya:
Dengan keagungan, pencinta kidung, semoga Saraswati berkenan, Dengan cinta
sejati mendatangi persembahan kami.
"Codayitri Sunrtanam Cetanti Sumatinam, Yajnam Dadhe Saraswati", (R.W.I,
3, 11).
Artinya:
Pembawa kidung yang manis pencipta pikiran yang agung, Saraswati
terimalah persembahan kami.
"Maho arnah Saraswati Pra cetayati ketuna, dhiyo wicwawi Rajati", (R.W. I,
3,12).
Artinya:
Saraswati sungai perkasa, dengan cahaya-Mu menerangi alam, Dia menerangi
tiap pikiran suci. "
Twam sutasya pita ya sadyo wrddho ajayathah, Indra Jyaisthyaya Sukrato",
(R.W., II, 5, 6).
Artinya:
Engkau tumbuh segera menjadi kuat, lahir untuk minum air Soma, Indah
perkasa, melebihi semua.

Dari mantra-mantra suci di atas menegaskan tentang fungsi air suci atau
tirtha yang sekaligus menjadi sarana yajna yang dapat memberikan daya cipta
yang tinggi untuk mengundang kedatangan atau kehadiran Tuhan pada
umatnya, dapat menciptakan suasana, perilaku, perkataan, dan pikiran yang
serba suci menuju pada keterangan yang abadi, sehingga karena tirtha yang

35
suci itulah dapat tumbuh dan melahirkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan
sesama manusia atau umat Hindu.

3. Tirtha Berfungsi sebagai Pemelihara.


Dalam kehidupan ini sesungguhnya mengharapkan adanya ketenangan,
kenyamanan, kesejahteraan dalam hidup ini. Secara lahir dan batin diupayakan
untuk tercapainya suatu kebahagiaan yang abadi dan yang berkesinambungan.
Termasuk juga ciptaan yang lainnya di alam semesta ini memerlukan
kesinambungan dan kelestariannya. Antara suatu kehidupan dengan kehidupan
yang lainnya ada yang memelihara dan dipelihara, ada yang melindungi dan ada
yang dilindungi, serta ada yang diawasi dan ada yang mengawasi.
Dengan demikian bahwa dalam kehidupan di dunia ini senantiasa adanya
kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya: manusia dapat
hilang hausnya oleh karena ada air yang diminumnya, tumbuh-tumbuhan
menjadi segar dan tidak layu, oleh karena telah disiram dengan air, dan binatang
dapat hidup dengan nyaman dan gemuk, berkat karena air yang membantu dan
memelihara kehidupannya. Begitulah manfaat dan fungsi air bagi kehidupan di
dunia ini. Dan dalam kaitannya dengan pelaksanaan yajna, bahwa air terutama
air suci atau tirtha juga berfungsi sebagi pemelihara. Dalam Tri Murti, Dewa
Wisnu sebagai penguasa air guna untuk memelihara (stithi) semua ciptaan
Tuhan, dan demikian pulalah Dewa Indra sebagai penguasa hujan, yang dapat
memberikan air kehidupan dan air kesuburan, oleh karena air merupakan
lambang kemakmuran.
Berikut ini beberapa mantra dalam Rg Weda, ada menegaskan, sebagai
berikut:
"
Purutamam purunamicanam waryanam,
Indram some saca sute", (R.W.I, bagian kedua, 5, 2).
Artinya:
Kepadanya yang memiliki segala-galanya, Dewa Kebaikan, Indra dengan
menuangkan air soma.

36
"Sutapane suta ime cucayo yanti
witaya, Somaso dadhayacirah, (R.W. I,
2, 5, 5).

Artinya:
Mendekatlah kepada peminum soma, untuk kebahagiaannya, air suci ini, soma
dengan mentega.

Kedua mantra tersebut sebagai Dewa Indra menganugerahkan air suci untuk
memelihara kehidupan dan untuk menemukan kebahagiaannya.
Kemudian dalam mantra berikut juga ada dijelaskan tentang fungsi air sebagai
pemelihara kehidupan, yang berbunyi:
"Rtasya Dewa, anu wrata gurbhuwat Paristidyaurna bhuma, wardhantimapah,
panwa susiawan", (R.W. XII, 65, 2).
Artinya:
Dewa-dewa mencari jalan suci, berkumpul seluas langit itu sendiri. Air
menghidupi semua yang tumbuh, lahir mulia, menurut hukum alam (Rta).
Air yang dijadikan sebagai sarana upacara agama memiliki fungsi yang
bermacam-macam dan cara memperolehnyapun bermacam-macam pula, asalkan
memenuhi syarat kesucian, seperti: air dari mata air, air ledeng, air sumur, air pada
tempat-tempat yang khusus yang bersih, air kelapa, dan sebagainya.
Dalam upacara piodalan pada suatu Pura atau tempat bahwa air suci atau tirtha
biasanya diperoleh dengan melalui ngukup yaitu dengan mengasapi air yang akan
dijadikan tirtha dengan asap harum-haruman beserta pujanya.
Kalau diperhatikan secara umum, air sebagai sarana upacara agama atau air
dalam kaitannya sebagai upacara ritual dapat dipergunakan, antara lain:
a. sebagai alat penyuci segala sarana upacara dalam fungsinya sebagai
tirtha pembersihan;
b. sebagai tirtha amrta atau sumber kehidupan;
c. sebagai wasuh pada yang disebut acamanya dan padyargha;
d. sebagai air penyuci roh orang meninggal dalam fungsinya sebagai tirtha

37
pengentas;
e. sebagai air minum untuk tarpana dan juga untuk keperluan minum
sehari-hari.

Demikianlah beberapa uraian tentang arti dan fungsi air sebagai sarana
upacara agama Hindu, tentunya uraian ini masih sederhana yang memerlukan
penyempurnaan baik dari segi isinya dan mutunya.

2.6.3 Arti dan Fungsi Bunga dalam Upacara Yajna

Bunga merupakan sarana pokok dan sangat banyak digunakan dalam


membuat yajna. Sarana berupa bunga memiliki peranan yang sangat penting untuk
kelengkapan dan kesempurnaan suatu persembahan atau yajna, baik yang
digunakan untuk pelaksanaan yajna setiap hari atau nitya karma, maupun untuk
keperluan yajna dalam waktu-waktu tertentu atau naimitika karma. Kalau kita
perhatikan kaitannya dengan pelaksanaan Panca Yajna, bunga banyak digunakan
untuk membuat banten atau sesajen atau upakara yajna.
Kemudian dalam kepentingan yang lainnya, bunga juga dipakai sebagai
suatu hiasan untuk menumbuhkan suasana keindahan dan menciptakan suasana
kenyamanan dalam suatu kegiatan tertentu, baik dalam lingkungan keluarga,
aktivitas kemasyarakatan, kegiatan hiburan, kegiatan hari raya Nasional, kegiatan
pesta perkawinan, kunjungan pada tempat-tempat tertentu, dan sebagainya.
Dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini yang sangat
pesat, kebutuhan akan bunga semakin banyak digunakan oleh masyarakat,
walaupun dalam penggunaannya tidak berkaitan dengan kepentingan upacara
agama. Sungguh tidak mengherankan sekali, bunga dalam dinamika terakhir ini
dapat dijadikan sumber devisa Negara Indonesia dalam peranannya sebagai
sumber komoditi ekspor nonmigas, contohnya: jenis bunga anggrek dan bunga
jenis yang lainnya, Dui hasil ekspor bunga ke luar negeri terbukti negara Indonesia
dapat mendatangkan sumber penghasilan yang sangat memuaskan.

38
Kemudian dalam perkembangan sektor Pariwisata saat ini yang mengalami
dinamika yang sangat pesat di wilayah Nusantara tercinta ini, bahwa bunga
diperlukan dalam jumlah yang sangat besar, yang digunakan untuk perhiasan meja
tamu dalam suatu hotel berbintang maupun nonbintang, restoran, ruang pertemuan
yang bersifat Nasional maupun Internasional. Tidak saja itu, bunga juga banyak
melengkapi hiasan taman-taman desa, bahkan untuk tanam dalam pekarangan
rumah penduduk, serta bunga juga menghiasi taman pada suatu tempat pemujaan,
seperti: Sanggah, Pemerajan, Taman Pura, dan sebagainya.
Bilamana kita menyempatkan diri untuk sejenak melihat kesibukan suatu
pasar (khususnya yang di Bali), banyak para pedagang yang kita jumpai, dan yang
tidak mau ketinggalan adalah para pedagang bunga, yang memberikan pelayanan
pada pembeli untuk memenuhi sarana yajnanya.
Sungguh banyak manfaat dan kegunaan bunga dalam kehidupan bagi
manusia. Demikian juga halnya dalam kaitannya dengan kehidupan bagi umat
Hindu, bunga memiliki nilai religius, nilai spritual, dan nilai kesucian yang sangat
tinggi. Bunga yang digunakan untuk keperluan yajna atau persembahan, bukannya
bunga yang sembarangan atau bunga yang diperoleh asal ada dan asal dapat, tetapi
bunga yang dipilih khusus sesuai dengan sumber-sumber sastra suci dalam ajaran
Agama Hindu.
Menyimak makna sebuah sloka suci dalam kitab suci Bhagavadgita Bab IX -
26 (dapat dibaca pada halaman 3 dan 4 di depan), ada ditegaskan tentang
penggunaan bunga sebagai sarana dalam upacara yajna. Dalam sloka tersebut ada
tersurat kata puspam yang maksudnya adalah bunga yang digunakan sebagai
sarana suci dalam upacara yajna. Istilah lain dari bunga adalah puspa, kembang,
dan ada juga menyebut nama kusuma.
Puspa atau kembang merupakan wujud benda yang disuguhkan sebagai cara
menunjukkan perasaan yang dapat memberikan kepuasan. Puspa atau kembang
merupakan sarana untuk menyampaikan cetusan hati dan rasa bakti kepada Hyang
Widhi Wasa yang mempersembahkan yajna sebagai wujud upakaranya.
Sebagai landasan utama dalam menghaturkan persembahan adalah ketulusan
atau kesucian hati yang disertai dengan cinta kasih. Walaupun persembahannya

39
sederhana yaitu dengan sekuntum bunga, apabila landasan kesucian dan cinta kasih
yang menyertainya, maka persembahan yang demikianlah yang diterima oleh
Hyang Widhi.
Kemudian sebaliknya, apabila memiliki kemampuan untuk
mempersembahkan yang serba banyak, serba mewah, serba meriah, serba semarak,
juga tidak ada salahnya, sepanjang semua persembahan tersebut merupakan
persembahan yang terhormat, persembahan yang dilandasi oleh rasa ikhlas dan
suci, tentulah baik pahalanya, karena Hyang Widhi dapat menerima persembahan
tersebut yang disertai dengan kesadaran yang tinggi, bukan sifatnya pamrih yang
semata-mata untuk menerima balasannya. Juga bukan merupakan suatu
persembahan yang sifatnya paksaan. Suatu persembahan akan dapat diterima dan
berpahala dengan terpuji, bilamana kesederhanaan serta kesemarakan disertai oleh
pendalaman maknanya dan berlandaskan pada konsep kebenaran atau dharma.
"Memang di dalam kitab Rg. Weda kita jumpai teori yayna, di mana Maha
Purusa dalam penciptaan di dunia ini. Ia lakukan melalui yajna dan yang
dipergunakan sebagai yajna adalah badannya sendiri. Pengorbanan yang tertinggi
adalah kurban yang dilakukan dengan mengorbankan diri sendiri. Tetapi kalau
diperhatikan lebih lanjut, apapun juga yang dijadikan kurban dalam upacara yajna itu
adalah tidak lain dari pada-Nya, karena Maha Purusa pada permulaan ciptaannya
menjadikan semua ini dengan jalan berkurban yang berasal dari dirinya sehingga
dengan demikian dunia dan seisi alam ini identik dengan-Nya.
Di dalam mantra Wedaparikrama, ada mantra untuk puspa aksata dan
gandha, masing-masing berbunyi sebagai berikut:
"Om Puspa-dantaya namah (puspa).
Om kum Kumara wijaya naham (aksata).
Om Cri gandhecwari-amrtebhyo namah swaha (gandha).

Yang dimaksud dengan puspa-danta ialah Ciwa, gelar diberikan kepada


Ciwa. Dari mantra di atas, penggunaan kembang atau bunga bukan lagi sebagai
alat, tetapi sebagai lambang Siwa yang tidak berbeda dari pada-Nya.

40
Aksata atau bij i-bij ian berupa beras adalah lambangbenih (biji). Kumara
adalah putra Siwa. Aksata adalah basil satu ciptaan yang tidak lain dari pada
ciptaan-Nya.
Gandha adalah bau harum, yang berasal dari kembang atau bunga dan biji-
bijian itu. Gandha adalah sifat yang tidak terpisah. Gandha diumpamakan sebagai
amrta (lambang kehidupan yang abadi). Gandha adalah amrta yang didalam
mantra diatas dihubungkan dengan Siwa sebagai Iswara”, (baca Wedaparikrama,
Gde Pudja, M.A., S.H.: 46 - 47).
Dari mantra di atas yaitu mantra puspa, perlu diingat bahwa puspa
dimaksudkan sebagai wujud dari Sang Hyang Puspadanta merupakan gelar Sang
Hyang Siwa atau Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, adanya bunga puspa
sebagai lambang Siwa dan adanya bunga atau puspa sebagai sarana persembahan
atau sarana pemujaan ke hadapan Hyang Widhi (Bhagavadgita, IX, 26).
Berdasarkan sumber-sumber Sastra Agama Hindu ada menegaskan perlunya
melakukan persembahan dengan sarana yang dibenarkan oleh ajaran agama Hindu
serta yang memiliki nilai kesucian.
Dengan demikian perlu dipilih bunga yang baik untuk digunakan sebagai
persembahan atau sarana pemujaan maupun dipakai sebagai sarana upacara yajna
secara umum, antara lain: bunga yang mekar, bunga yang harum baunya, bunga
yang indah warnanya, bunga yang tidak mudah layu, bunga yang dalam keadaan
segar atau bunga yang baru dipetik, bunga yang tidak tua atau kering, serta bunga
yang lainnya yang memenuhi syarat-syarat kesucian. Perlu diingat, bunga sebagai
sarana dalam upacara yajna sebelum digunakan hendaknya terlebih dahulu
diperciki tirtha pengelukatan agar terbebas dari segala kekotoran dan malapetaka.
Jenis-jenis bunga yang baik untuk digunakan sebagai persembahan adalah jenis
bunga yang dapat menghindari umatnya dari perbuatan-perbuatan dosa atau mala
petaka, antara lain :

1. Dalam Kekawin Siswaratri Kalpa, menyebutkan sebagai berikut:


" Menur, kenyeri arja kacubung, saha waduri putih, lawan kutat. Asoka saha naga
puspa hana tanguli bakula kalak macampaka, saroja biru, bang, putih. Sahananing

41
kusuma halapan ing samangkana. Makadi semining majarja, sulasih panakaraning
anggar cana sira".
Yang artinya:
Menuh, kenyiri, gambir raja, kecubung, serta meduri putih dan bunga kutat,
asoka serta bunga cempaka. Seroja biru, merah, putih semuanya bunga-bunga
hendaknya dipetik yang demikian. Sebagai pelaksanaan memuja pagi-pagi, bunga
sulasih, sebagai sarana memuja beliau (Siwa).

a. Dalam Lontar Wariga Cemet, ada juga menjelaskan tentang bunga yang
dibolehkan sebagai-sarana upacara agama (upacara penebusan atma)
serangkaian dengan upacara Pitra yajna, antara lain: Bunga Jepun, Sari, Sincer,
Pucuk Pasat, Tulud Hyuh, Kwanta, Soka Keling, Kenyiri Putih, Gambir Lima,
Kabari Walanda Syulan, Tiga Kancu, Sedap malam, anggrek Wulan,
Kamrakan, Gunggung Cina, Mawar, Pucuk dadu, Tunjung Bang, Jepun
Sudamala, Seruni Putih, Anggrek Madu, Sarikonta, Temen, Sempol, Pucuk
Susun, Soka Natar, Kuranta, Kembang Kuning, Cempaka Keling, bunga
Gambir, Tunjung, Lungsur, Panca Galuh, Grayas, Sandat, Sokasti, Cempaka
Kuning, Cempaka Putih, Katrangan, Bunga Parijata, Pucuk Bang Lamba,
Teleng Biru, Menuh Susun, Angsana Wungu, Teleng Putih, Dause Gde, Medori
Putih, Sulasih Harum, Tunjung Tutur, Sudhamala, Tunjung Nilawati, Grana
Petak, Gadung, dan bunga Monasuli ergilo.

c. Dalam Naskah Siwagama dan menegaskan beberapa bunga yang dibolehkan


untuk digunakan sebagai sarana upacara yajna, terutama untuk membuat
"
Puspalingga" serangkaian upacara Pitra Yajna yakni untuk memuja upacara
Pitara dan roh suci leluhur, terutama dalam upacara atma Wedana (Memukur
atau Nyekah), antara lain: Bunga Medori Putih dan Bambu buluh.

d. Dalam naskah Dasanama, menyebutkan tentang bunga yang memiliki mutu


yang baik yang hendaknya dipilih sebagai sarana upacara yajna adalah bunga
Tunjung atau bunga teratai.

42
Bunga Teratai atau bunga Tunjung dikatakan merupakan bunga yang terbaik
yang juga disebut Raja Kusuma atau rajanya bunga-bungaan. Ditegaskan pula,
apabila bunga Teratai/Tunjung tidak ada, dapat pula memakai bunga jenis yang
lainnya, asalkan bunga penggantinya memiliki warna yang sesuai, suci, bersih dan
tidak layu. Di samping itu juga ada jenis bunga yang memiliki nilai yang utama
dalam upacara yajna adalah bunga Ratna. Bunga Ratna sebagai bunga yang utama
untuk memuja Tuhan/ Hyang Widhi Wasa atau sarana utama dalam upacara
keagamaan. Bunga yang memiliki nilai keutamaan merupakan bunga yang dapat
menarik daya pesona yang memandangnya, dengan demikian bunga yang demikian
itulah yang dapat digunakan sebagai sarana pemujaan.
Demikianlah sekilas uraian mengenai jenis bunga yang baik dan bunga yang
diperkenankan untuk digunakan sebagai sarana upacara yajna. Berikut ini akan
dikemukakan pula beberapa uraian yang membahas tentang jenis bunga yang
dilarang dalam penggunaannya sebagai sarana upacara yajna berdasarkan ajaran
agama Hindu yakni:
a. Dalam Naskah Agastya Parwa, menegaskan:
"
Kalinanya: nihan ikan kembah tan yogya pujakena rin bhatara; kembah
huleren, kemban rurutan inunduh, kembah semuten, kemban laywan - laywan
naranya alewan mekar - kembah mungah rin sema. Nahan ta lwir nin kemban tan
yogya pujakena de nika san sattwika. Kemban uttama ta pujaken ira, maran
saphala rupa nira, apan magawe ya janma lawan rupa ikan wwan tuhaganamuja
naranya".
Yang artinya:
Inilah bunga yang tidak dapat untuk dipersembahkan kepada Bhatara, bunga
yang berulat, bunga yang jujur tanpa diguncang, bunga yang berisi semut, bunga
yang layu yaitu bunga yang liwat masa mekarnya, bunga yang layu yaitu bunga
yang liwat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan. adalah jenis-jenis
bunga yang tidak patut dipersembahkan agar supaya wajahnya sesuai dengan.yang
diharapkan, sebab orang yang selalu memuja tersebut akan membentuk kelahiran
dan wajahnya.

43
Dalam sumber yang sama, berikut ini menegaskan bagaimana keutamaan
bunga yang kita persembahkan sebagai sarana pemujaan. Adapun bunyi sloka
sebagai berikut:
"Kunan ikan stri mahala tanpa pirak, tanpa janma, tan wruh maniwi swami,
mogha kinasihan denin laki wisesa manke sila nika nuni: Jnanabhaktis to nathe
ya, bhakti maswami nuniweh ri dewata ika nuni, ndatan tepet bhakti niki, tan
upakara phala nin bhaktinya resep. Dumehnya wirupa mwan tanpa janma. Tan
wruh amahelepa silanya nuni, agelem amujeken kemban tan yogya pujakena, tan
aradin, olah bwat jawanya, apan samanke kemban tan yogya pujakena rin
bhattara".
Yang artinya:
Wanita buruk rupa, tidak kaya, tidak bangsawan, tidak bisa melayani suami,
tetapi disayangi oleh laki-laki utama.
Perbuatannya dahulu demikian; ia itu bakti kepada suami, bakti kepada
bhatara, tetapi baktinya tidak tepat, karena tanpa upakara. Itulah yang
menyebabkan ia buruk rupa dan tidak bangsawan, sifatnya dahulu ialah tidak tahu
menjadikan tingkah lakunya sopan dahulu (ia) gemar mempersembahkan bunga yang
tidak patut dipersembahkan, tidak bersih dalam mengolah biji-bijiannya, karena
kembang yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara.

Menyimak makna sloka tersebut di atas, maka dapat ditegaskan di sini,


walaupun sungguh besar rasa bakti ke hadapan Hyang Widhi dan kepada sesama
ciptaan-Nya, tetapi rasa bakti tersebut tidak disertai dengan wujud persembahan
berupa upakara yajna, maka kuranglah bermakna cetusan rasa bakti itu. Demikian
pula selanjutnya walaupun sudah mewujudkan rasa bakti itu kepada Hyang Widhi
dengan persembahan upakara yajna, tetapi persembahan yang kita haturkan ke
hadapan-Nya tidak pada tempatnya, mempersembahkan hal-hal yang tidak patut
dipersembahkan, mempersembahkan sarana yajna yang tidak suci, persembahannya itu
camah (kotor), mempersembahkan sarana yajna dari hasil jarahan (yang bukan
miliknya), termasuk juga di sini mempersembahkan bunga/kembang/puspa/sekar yang
tidak baik sesuai dengan landasan dharma, maka tidak ada maknanya persembahan

44
tersebut. Perlu diingat bahwa rasa bakti ke hadapan Tuhan tentunya melalui sarana
upakara yajna yang memiliki nilai kesucian sesuai dengan jenis dan makna dari
yajna itu sendiri.

b. Dalam naskah Siwagama, ada menegaskan tentang bunga yang tetap baik
atau dilarang penggunaannya sebagai sarana upacara yajna, khususnya dikaitkan
dengan pelaksanaan Dewa Yajna dalam fungsinya untuk sarana memuja
kebesaran Hyang Widhi, antara lain: bunga turuk umung atau bunga kedukduk,
yang konon menurut mitologinya disebut dengan bunga lalat, baunya yang tidak
harum dari bunga tersebut kotor atau tidak suci.

c. Menurut Naskah Yama Purwana Tattwa, menyebutkan mengenai bunga yang


dilarang memakainya yaitu bunga yang keadaannya caman atau bunga yang
tidak suci, seperti bunga yang digigit belalang, bunga yang ada bekas dimakan
ulat. Bunga yang seperti itu dilarang dari pemakainya untuk membuat puspa
linga maupun untuk yajna yang lainnya.

d. Dalam naskah Aji Janantaka, menegaskan mengenai jenis bunga yang


dilarang penggunaannya sebagai sarana dalam pemujaan. Sesuai naskah tersebut
jenis bunga yang dilarang, antara lain jenis bunga jempiring alit dan jenis bunga
salikonta. Kedua jenis bunga tersebut konon menurut miologinya tidak mendapat
waranugeraha dan tidak mohon pengelukatan Hyang Siwa, sehingga mendapat
kutukan untuk dilarang digunakan dalam penggunaannya sebagai sarana
pemujaan ke hadapan Hyang Widhi.

Demikian beberapa sumber yang menyebutkan jenis-jenis bunga yang


diusahakan atau dilarang untuk tidak digunakan sebagai sarana upacara yajna,
karena alasan tidak memiliki kesucian, tidak segar, layu, dan bekas dimakan ulat,
serta alasan lainnya.
Dalam beberapa naskah keagamaan ada dijumpai penjelasan mengenai bunga
yang memiliki arti dan makna tertentu, seperti bunga sebagai perlambang restu

45
dari Hyang Widhi Wasa, bunga perlambang jiwa alam pikiran, dan bunga
merupakan sarana upacara keagamaan atau sarana upacara yajna yang dilaksanakan
oleh umat Hindu.
Penjelasan mengenai bunga sebagai perlambang restu dari Hyang Widhi
dijumpai dalam beberapa naskah keagamaan, seperti:
a. Dalam Kekawin Ramayana, adanya Bunga Gandha Kusuma perlambang
restu Hyang Widhi terhadap Sang Rama ketika berperang menumpas
ketidakbenaran atau adharma, maka Sang Rama direstui dengan dijatuhi hujan
bunga yang harum baunya.

b. Dalam kakawin Arjuna Wiwaha, ada menegaskan dalam keberhasilan Sang


Arjuna melakukan tapa, brata, yoga dan semadhi dan sebagai bukti Hyang
Widhi merestui tapanya, maka secara tibatiba berhamburan hujan bunga Puspa
Warsa yaitu hujan bunga sebagai lambang Dewa Siwa (Hyang Widhi) telah
merestui tapanya Sang Arjuna dengan mendapatkan anugerah Panah Pasupati,
yang merupakan senjata lambang kekuatan dharma untu menumpas
ketidakbenaran atau adharma.

c. Dalam naskah Sumanasantaka menceritakan tentang bidadari Dewi Harini


yang diutus Dewa Indra untuk menggoda tapanya Bhagawan Trenawindu.
Dewi Harini menjelma menjadi Dewi Induwati, namun sayang misinya untuk
menggoda tidak berhasil serta mendapat kutukan Bhagawan Trenawindu
sehingga tidak berhasil ke sorga kemudian kawinlah Dewi Induwati dengan
Sang Aja hingga berputra laki bernama Sang Dasaratha.
Sampai pada batas waktunya telah berakhir kutukan Dewi Induwati untuk
kembali ke sorga, maka melalui Bhagawan Narada dengan perantara bunga
dijatuhkan pada Dewi Harini dan berhasillah terlepas kutukannya serta
kembali ke sorga lagi.

d. Dalam cerita Wana Parwa yang mengisahkan Prabhu Nala dengan


permaisurinya Dewi Damayanti. suasana kebingungan yang mencekam

46
Prabhu Nala sampai-sampai Dewi Damayanti ditinggalkan. Namun berkat
kesucian, kesetiaan, serta cinta kasihnya sangat mendalam pada Prabhu Nala,
maka sang permaisuri melakukan swadharma dengan baik walaupun ditinggal
pergi suaminya. Suatu ketika bertemu pulalah Prabhu Nala dengan Dewi
Damayanti, tetapi kesuciannya masih dicurigai dan masih disangsikan, karena
lama ditinggal pergi. Ketika kesangsiannya sedang memuncak datanglah Dewa
Angin memberikan kesaksiannya yang menyatakan Dewi Damayanti masih suci
dan masih setia dengan Prabhu Nala dengan persaksian hujan bunga sebagai
saksi dan restu para Dewa di kahyangan bahwa memang benar Dwi
Damayanti masih suci dan setia pada prabhu Nala.

e. Dalam kidung Aji Kembang bahwa Dewata Nawa Sanga dilambangkan bunga
Tunjung atau teratai yang berwama Sembilan sesuai dengan arah Asta
Aiswarya atau Asta Dala, seperti: Dewa Iswara arah timur dengan lambang
bunga tunjung putih, Dewa Mahesora arah tenggara dengan lambang bunga
tunjung dadu, Dewa Brahma arah selatan dengan lambang bunga tunjung
merah, Dewa Rudra arah barat daya dengan lambang bunga tunjung jingga,
Dewa Mahadewa arah barat dengan lambang bunga tunjung kuning, Dewa
Sangkara arah barat laut dengan lambang bunga tunjung wilis atau bunga
tunjung hij au, Dewa Wisnu arah utara dengan lambang bunga tunjung hitam,
Dewa Sambhu arah timur laut dengan lambang bunga tunjung biru, dan Dewa
Siwa arah tengah dengan lambang bunga tunjung lima warna atau panca
warna. Penggunaan kidung Aji Kembang yang memiliki makna suci ini
biasanya dinyanyikan saat pelaksaan upacara Pitra Yajna.

f. Dalam naskah Dwijendra Tattwa menjelaskan bunga teratai yang berwarna


tiga, seperti: bunga teratai warna putih pada arah timur, bunga teratai warna
hitam arah utara, dan bunga teratai warna merah arah selatan. Ketiga jenis
bunga teratai tersebut sebagai lambang Sang Hyang Tri Murti.

Kemudian bunga juga sebagai lambang jiwa dan alam pikiran manusia. Dalam

47
rangkaian upacara Pitra Yajna kita menjumpai adanya penggunaan Sekarura yang
merupakan campuran bunga, uang kepeng, dan betas kuning. Sekarura yang ini
biasanya ditaburkan mulai dari mayat itu diberangkatkan, dalam perjalanan sampai
di setra. Sesungguhnya makna dari sekarura ini adalah lambang ungkapan
perasaan atau hati nurani antara orang yang meninggalkan dengan orang yang
ditinggalkan.
Menyimak kisah cerita Hariwangsa, ada dikisahkan tentang ketulusan dan
cetusan kasih Prabhu Kresna terhadap Dewi Rukmini dengan memberikan
sekuntum bunga sebagai lambang kasihnya yang suci murni dan tiada duanya.
Selanjutnya ada pula sebagai suatu ketegasan mengenai bunga melambangkan
jiwa kepahlawanan dengan bunga kembang sepatu merah atau wirakusuma yaitu
bunga yang gagah berani.
Sedangkan mengenai arti atau makna bunga sebagai sarana keagamaan atau
sarana upacara yajna, sangat penting artinya dan memiliki makna yang sangat
mulia, seperti: makna religius atau makna spiritual serta makna kesucian.
Penggunaan sarana bunga dalam upacara yajna sangat banyak kita jumpai. Dalam
berbagai upakara atau bebanten, bunga merupakan sarana pokok dan mengandung
makna tersendiri sesuai dengan jenis upakara atau wujud bantennya.
Adapun beberapa upakara yang menggunakan bunga sebagai sarananya,
antara lain: Canang Genten yang menggambarkan Hyang Widhi dalam
manifestasinya sebagai Hyang Tri Murti. Masing-masing sarananya memiliki arti
tertentu, seperti: reringgitan menggambarkan kelanggengan atau kesungguhan
hati, pelawa menggambarkan ketenangan/kesuian hati, sirih melambangkan
Hyang Wisnu, Kapur melambangkan Hyang Siwa, buh pinang menggambarkan
penunggalan dengan Hyang Widhi Wasa, bunga menggambarkan hati yang tulus
iklas dan suci, dan pandan harum menggambarkan daya tarik atau rangsangan untuk
memusatkan pikiran ke arah kesucian dalam memuja Hyang Widhi Wasa (baca
Upakara Yajna, Ny. Gst. Ag. Mas Putra, 11 - 12).
Jenis-jenis upakara/banten yang lainnya lagi, seperti: Canang
Lengawangi/Barutwangi, Canangsari, Canang Gantal, Canang Tabungan, Canang
Pangeraos, Canang Payasan, Canang Pangresikan, Penyeneng, Daksina, Canang

48
Meraka, Dapetan, Peras, Pengulapan alit, Pengambean, Tumpeng Penyeneng,
Tumpeng Caru, Prayascita Sakti, Soroan, Byakaonan, dan jenis upakara lainnya
dalam Panca Yajna.
Dalam persembahyangan bersama ataupun persembahyangan yang dilakukan
secara perseorangan, biasanya mempergunakan kwangen yang terbuat dari sebuah
kojong dari daun pisang atau daun kelapa muda/janur yang di dalamnya diisi
porosan silih asih, dihiasi dengan bunga, pelawa, cili, serta diisi uang kepeng.
Masing-masing perlengkapan itu mengandung arti, tangan simbol ongkara, kojong
simbol arda candra, uang simbol windu dan bunga atau juga pelawa simbol nada.
Dalam persembahyangan bersama/perseorangan biasanya melakukan sembah-
sembah secara umum sebanyak lima kali yang disebut Panca Sembah. Adapun
rincian Panca Sembah antara lain :
a. Sembah Puyung atau Sembah dengan cakupan tangan kosong yang
tujuannya memohon ketenangan dan kesucian jiwa.
b. Sembah yang kedua dengan memakai bunga ditujukan pada Hyang Siwa
Raditya yaitu manifestasi Hyang Widhi sebagai matahari untuk
menyaksikan, untuk mengantarkan sembah kita. Bunga yang digunakan
adalah bunga yang berwarna merah atau bunga lainnya.
c. Sembah yang ketiga dengan memakai bunga atau kwangen ditujukan ke
hadapan Hyang Widhi untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan
hidup.
d. Sembah yang keempat dengan memakai kwangen ditujukan ke hadapan
Hyang Widhi untuk memohon wara nugraha-Nya.
e. Sembah kelima adalah sembah tangan kosong, dengan tujuan untuk
menghaturkan rasa terima kasih atas, anugerah-Nya.

Sebelum persembahyangan dimulai, maka semua sarana yang diperlukan


dalam Panca sembah hendaknya dipersiapkan dengan lengkap dan yang memenuhi
persyaratan kesucian. Yang perlu dipersiapkan antara lain: dupa, bunga, kwangen,
tempat tirtha, dan yang lainnya yang berkenan dengan pelaksanaan
persembahyangan. Bila persembahyangan itu dilakukan secara perseorangan

49
dapat dilakukan sendiri sesuai dengan urutannya. Namun apabila dipimpin oleh
Pandita atau Pinandita, maka kita tinggal mengikuti tuntunan serta puja dari
Pandita atau Pinandita tersebut.
Secara lengkap urutan persembahyangan dimulai dari asasan atau sikap duduk
yangbaik (padmasana untuk pria dan wajrasana untuk wanita), pranayama yaitu
teknik pengaturan nafas yang baik ke arah kesucian (menarik nafas/puraka, kara
sodhana yaitu penyucian tangan kanan dan kiri, penyucian sarana sembahyang
(dupa, kwangen, dan bunga) serta menyucikan mulut, melakukan trisadhya
bersama, melakukan panca sembah (baca uraian di depan), mohon tirtha, mohon bija,
dan persembahyangan telah usai. Untuk membangkitkan dan menumbuhkan
suasana kesucian dalam sembahyang dapat pula diiringi dengan gita atau nyanyian
keagamaan (dapat berupa kidung atau yang sejenisnya), terutama saat
menghaturkan sembah dan saat nunas tirtha. Sedangkan mengenai doa pujaannya
dapat Anda baca buku Tuntunan Muspa bagi umat Hindu oleh I Gusti Ketut Kaler,
buku Weda (kulit kuning) oleh Tim Penyusun dan peneliti Naskah dan buku Hindu
Depag RI, buku Upadeca tentang ajaran-ajaran Agama Hindu oleh PHDI Pusat,
buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan oleh Drs. I Kt. Wiana, buku
Wedaparikrama oleh Gede Pudja, M.A., S.H., dan buku sumber lainnya yang
berguna bagi Anda menunaikan dharma agama dan dharma negara.
Dalam fungsinya sebagai sarana upacara yajna, maka bunga untuk sarana
persembahan, sarana untuk memuja Hyang Widhi, sarana untuk menumbuhkan
suasana kesucian, sarana untuk dapat mengkonsentrasi diri, dan sebagai
kelengkapan membuat bebanten atau upakara.
Perlu diingat bahwa bunga mempunyai dua fungsi yaitu:

a. Sebagai wujud atau simbol Siwa atau Hyang Widhi (atau Sang Hyang
Puspadanta), seperti tercermin dalam mantra berikut ini: Om puspa dantaya
namah", (Wedaparikrama 46). Dalam sembahyang bunga diletakkan pada
ujung kedua jari paling atas (puncak) dan cakupan tangan berada di atas
ubun-ubun. Setelah usai menyembah bunga ditaruh di atas ubun-ubun atau
juga bisa disumpangkan di telinga yang bermakna sebagai simbol Siwa atau

50
Hyang Widhi.
b.Sebagai sarana persembahan atau pemujaan, karena bunga dipakai bebanten
atau sarana upakara yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi beserta
manifestasinya dan roh suci leluhur (baca Bhagavadgita IX - 26).

Memperhatikan tentang arti dan fungsi bunga dalam upacara yajna, maka
sesungguhnya makna dari upakara yajna atau bebanten yang dipersembahkan
sebagai sarana pemujaan, antara lain: merupakan cetusan hati manusia (umat
Hindu) untuk menyatakan terima kasihnya kepada Hyang Widhi, di mana
perasaannya itu diwujudkan dengan isi dunia, yang berupa: air, api, bunga, buah-
buahan, dan sebagainya; merupakan perwujudan Hyang Widhi Wasa dengan
manifestasinya; merupakan alat konsentrasi dan juga upakara yajna atau bebanten
merupakan pelajaran untuk memuja Hyang Widhi Wasa dengan kemahakuasannya
untuk menuntun dan memberikan anugerah kepada umat Hindu.

2.6.4 Arti dan Fungsi Daun dalam Upacara Yajna

Menyimak makna sebuah sloka dalam kitab suci Bhagavadgita, tepatnya pada
Bab IX sloka nomor 26 (bunyi) slokanya baca uraian di depan, maka daun juga
merupakan salah satu sarana dalam upacara yajna. Penggunaan daun sebagai
sarana upacara yajna atau sarana pemujaan sesuai dengan bunyi slokanya disebut
dengan patram yaitu wujud persembahan berupa daun yang memiliki nilai
kesucian, yang dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi. Sarana berupa daun
juga dikenal dengan sebutan plawa yaitu jenis daun-daunan dari suatu tumbuhan
tertentu yang juga bunganya dipakai sebagai sarana upacara yajna. Jenis daun atau
plawa yang digunakan sebagai sarana yajna bukannya diperoleh secara
sembarangan, tetapi diperoleh secara khusus yang telah ditanam pada suatu
tempat yang suci pula, seperti: tanaman bunga yang ada di halaman satu Pura,
halaman Pemerajan, serta di sekitar tempat-tempat tertentu yang dipandang suci
atau yang tidak mencemarkan jenis tumbuhan yang nantinya digunakan sebagai
sarana upacara yajna.

51
Persembahan berupa daun atau plawa yang diutamakan adalah nilai kesuciannya
atau ketulusikhlasan dalam mempersembahkannya. Atau dengan kata lain kecil
dalam persembahan namun besar dalam makna. Persembahan yang demikian
disebut dengan "nistaning uttama atau siddhaning don".
Persembahan yang kecil dan sederhana belum tentu bernilai atau tidak
berpahala, begitu pula sebaliknya persembahan yang serba banyak atau mewah akan
bernilai mulia atau berpahala utama, yang jelas tidak demikian. Persembahan yang
banyak dan mewah yang tidak dilandasi dengan ketulusan dan kesucian, maka
tidak bermutulah persembahan tersebut. Apalagi yang beryajna itu suasananya
ricuh, kelut, resah, sedih, selalu bentrok, dalam hatinya duka, maka sia-sialah
persembahan itu.
Jika mampu mempersembahkannya hanya dengan seteguk, sebiji, sekuntum,
termasuk juga hanya dengan sehelai daun, yang diiringi rasa bakti, rasa iklas, hati
yang suci, rasa cinta kasih yang mendalam, suasana yang tenang dan tentram, maka
persembahan yang demikian itulah diterima Hyang Widhi, (resapilah makna sloka
Bhagavadgita IX - 26).
Dalam praktek yajna yang dilakukan oleh umat Hindu baik yang bersifat nitya
karma maupun yang bersifat naimitika karma, maka dalam mewujudkan dan
kesempurnaan yajnanya, daun sering digunakan dan bahkan bukan hanya satu jenis
daun, tetapi beragam menurut kebutuhan yajna itu. Adapun jenis-jenis daun yang
diperlukan sebagai sarana upacara yajna, antara lain :
a. daun beringin
b. daun bilwa
c. daun perancak
d. daun dadap
e. daun rumput, seperti: padang lepas, alang-alang, dan yang lainnya.
f. daun pandan arum
g. daun pudak
h. daun pohon puring
i. daun enau
j. daun kelapa muda atau janur

52
k. daun nenas
l. daun andong
m. daun kayu tulak
n. daun kayu sisih
o. daun kayu sari
p. daun pisang
m. daun tingkih
n. daun salak
o. daun temen
p. daun sudamala
q. dan lain sebagainya termasuk juga jenis plawa.

Jenis-jenis daun tersebut di atas, ada yang sering penggunaannya dan ada
juga yang jarang dipakai dan semata-mata bukannya kurang antara daun yang
satu dengan jenis daun yang lainnya kurang berguna. tetapi didasarkan atas
kebutuhan dan jenis yajna yang dipersembahkan.
Secara umum jenis-jenis daun yang digunakan sebagai sarana upacara yajna
merupakan simbol kesucian serta ketulusan dalam beryajna.
Kemudian kalau kita perhatikan penggunaan daun beringin merupakan daun
yang paling umum digunakan sebagai lambang kesucian, lambang agni, dan
sebagai alas untuk kesucian, baik dalam upacara Dewa Yajna, Pitra Yajna,
maupun pelaksanaan yajna yang lainnya. Juga daun Bilwa juga digunakan sebagai
sarana yajna terutama dalam memuja Hyang Siwa. Selanjutnya kalau kita perhatikan
sebuah canang yaitu Genten, maka pada canang tersebut terdapat sarana berupa
pelawa, sirih, daun pandan umum, bunga, dan sebagainya. Masing-masing sarana
tersebut bermakna yang sangat utama, pelawa sebagai simbol atau melambangkan
Hyang Wisnu (sedangkan Hyang Siwa dan Hyang Brahma digunakan kapur dan
buah pinang), daun pandan harum simbol daya tarik atau rangsangan untuk
memusatkan pikiran ke arah kesucian, serta bunga menggambarkan hati yang
tulus iklas dan suci.

53
Dalam upakara yajna ada dikenal porosan silih asih. Dalam porosan silih asih
ini terdapat sarana daun sirih yang bermakna penghormatan kepada Hyang Widhi.
Mengingat unsur-unsur yang ada dalam porosan silih asih itu seperti: pinang, daun
sirih, dan kapur, ini mengandung makna sebagai lambang pemujaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti.
Pada "kwangen" yang terdiri dari kojong yang terbuat dari daun pisang, porosan
silih asih (buah pinang, daun sirih, dan kapur), bunga, pelawa, cili (jejahitan dari
daun kelapa muda/janur berbentuk muka manusia), serta uang kepeng bolong
(yang berasal dari unsur-unsur panca datu seperti: emas, perak, tembaga, timah,
besi, dan dewasa ini penggunaan uang kepeng bolong dapat diganti dengan uang
logam sebagai alat tukar yang sah dapat dibaca Himpunan Keputusan Seminar
Kesatuan Tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu. Wujud kwangen sebagai
simbol Ongkara atau Aksara suci Hyang Widhi. Masing-masing unsurnya memiliki
simbol tertentu dapat dibaca penjelasan sebelumnya.
Dalam membuat daksina kita jumpai penggunaan pelawa peselan yaitu
campuran dari lima jenis daun buah-buahan yang juga disebut daun pancapala ,
seperti: daun durian simbol warna putih, daun manggis simbol warna merah, daun
ceroring/duku simbol warna kuning, daun mangga simbol campuran warna-warna.
Kelima daun tersebut (pelawa peselan atau daun pana-pala) kalau kita perhatikan
dari segi warnanya dapat bermakna pemujaan terhadap Panca Dewata yaitu Dewa
Iswara arah timur, Dewa Brahma arah selatan, Dewa Mahadewa arah barat, Dewa
Wisnu arah utara, dan dewa Siwa pada posisi tengah (madya). Pada daksina ada
penggunaan daun sirih yang disebut Base Tampel atau Sirih Tampel, bentuknya
menggambarkan orang-orang sedang bersembahyang.
Dalam melaksanakan upacara Pewiwahan (Manusa Yajna), ada digunakan
daun dadap beserta batangnya yang terdiri dari dua cabang dan masing-masing
cabang diikat dengan benang, diisi dengan uang kepeng berjumlah sebelas, diisi
dengan kwangen, kemudian ditancapkan agak berjauhan, lalu kedua mempelai
melangkahi dan diinjak hingga putus benang putihnya, ini disebut dengan
"Pepegatan". Upacara ini biasanya dilakukan di halaman depan pintu masuk rumah

54
atau lebuh yang juga merupakan rangkaian upacara mekala-kala.

Pepegatan bermakna melepaskan masa brahamcari atau masa remaja menuju


masa Grahasta atau berumah tangga. Sedangkan mekala-kala bermakna untuk
menghilangkan keletehan atau kekotoran dari kedua mempelai, agar dapat
membina bahtera kehidupan rumah tangga yang baik dan sejahtera.
Pada Banten Penyeneng kita jumpai penggunaan daun dadap yang disebut
"Tepung Tawar". Sarana ini terbuat dari daun dapdap kunir dan berasam yang telah
ditumbuk (tidak terlalu halus) dan ditaruh pada sebuah kojong yang merupakan
sarana kelengkapan Banten Penyeneng. Makin tepung tawar adalah untuk
pensucian diri dan terbebas dari kekotoran.
Daun yang lainnya banyak digunakan sebagai sarana upacara agama, seperti:
daun kelapa muda (janur) dan daun enau (ron). Kedua jenis daun ini biasanya
digunakan untuk membuat alas banten/ taledan, kojong/tangkih, tamas (alas
banten yang bentknya bulat), membuat canang, seperti: canang Genten, Canang
LengawangiBurutwangi, Canang Sari, Canang Gantal, dan jenis canang yang
lainnya, membuat Lamak, membuat Cenigaan, membuat Sampyan, membuat
tamiang, dan jenis upakara yang lainnya. Dalam penggunaan jenis daun janur dan
daun enau ini biasanya dikerjakan oleh para wanita/ para ibu anak diwujudkan
menjadi jenis upakara atau bebanten yang diinginkan, dengan melakukan
tetuwasan atau reringgitan sedemikian rupa yang mengadung nilai seni, indah, dan
nilai spiritual. Dari segi penggunaannya sebagai sarana upacara yajna tersebut di
atas, daun janur dan daun enau bermakna kesucian dalam beryajna. Sedangkan
reringgitan/tetuwasan pada banten bermakna atau menggambarkan tentang
kelanggengan serta kesungguhan hati.
Kemudian dalam banten Mabyakala/Mabyakaon dijumpai adanya penggunaan
Lis serangkaian dengan upacara dalam Panca Yajna. Lis ini terbuat dari daun
janur, daun andong merah, daun kayu tulak, daun kayu sisih, daun dapdap, serta
perlengkapan yang lainnya sesuai dengan desa, kala, patra. Lis digunakan untuk
mencipratkan atau memercikan tirtha atau air suci. Lis memiliki makna untuk
sarana penyucian diri guna menjauhkan kekuatan negatif yang mengganggu

55
manusia dan tentunya mendapatkan kekuatan dan kesucian lahir dan batin. Dalam
tingkatan upacara yang lebih besarbiasanya digunakan Lis Ageng/Lis Gede.
Sedangkan dalam upacara biasa/kecil digunakan Lis Alit atau Lis Padma.

Demikian secara sederhana diuraikan beberapa jenis daun yang digunakan


sebagai sarana upacara yajna, yang memiliki arti/makna/simbol tertentu sesuai
dengan jenis upakara yajna yang dipersembahkan serta disesuaikan pula dengan
desa, kala, dan patra atau situasi setempat dengan mengikuti keluwesan dan
kesucian dari pada yajna yang dihaturkan kehadapan Hyang Widhi Wasa oleh
umat Hindu dimanapun berada. Perlu diingat bahwa sarana persembahan berupa
daun, bilamana tidak akan mengurangi makna yajna itu, dengan pertimbangan
bahwa kesucian dan ketulusanlah yang menjadi dasar utama dari persembahan itu.
Berikut ini ada beberapa daun sesuai dengan penggunaannya dalam upacara
yajna antara lain:
a. sebagai sarana untuk kelengkapan dan kesempurnaan suatu yajna yang
dipersembahkan.
b. sebagai sarana untuk dapat mengkonsentrasikan diri dan sarana untuk memuja
Hyang Widhi beserta manifestasinya.
c. sebagai suatu cetusan hati nurani yang suci diiringi dengan rasa bakti untuk
dipersembahkan ke hadapan-Nya.
d. sebagai sarana untuk menyampaikan rasa terima kasih ke hadapan Hyang
Widhi atas anugerah-Nya.
e. sebagai sarana penyucian diri lahir batin guna terbebas dari kekotoran dan
mara bahaya.

2.6.5 Arti dan fungsi buah-buahan atau biji-bijian dalam Upacara Yajna
Buah-buahan dan biji-bijian juga merupakan sebagai sarana dalam upacara
Yajna. Jenis buah-buahan dan biji-bijian banyak digunakan oleh umat Hindu
sebagai persembahan dan sebagai wujud rasa terima kasih kehadapan Hyang
Widhi, yang Maha pengasih dan maha pemberi. Apa yang kita miliki itulah yang
dipersembahkan. Hasil karya berupa buah dan biji-bijian, sebenarnya merupakan

56
anugerah Tuhan, dan perlu disadari bahwa segala yang ada merupakan ciptaan-
Nya. Sarana persembahan berupa buah-buahan dan biji-bijian hendaknya
dipersembahkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selalu dalam
keadaan sukla atau suci. Diusahakan agar tidak mempersembahkan suatu sarana
yajna yang bukan milik sendiri, apalagi memperoleh sarana persembahan
dengan jalan kekerasan atau hasil curian, sudah tentu hal seperti ini sangat
bertentangan dengan ajaran Agama Hindu.
Sesuai dengan bunyi sloka Bhagavadgita IX - 26, ada penegasan mengenai
sarana persembahan berupa buah-buahan atau biji-bijian yang tersirat dalam kata
"phalam". Kata Phalam berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya sebiji buah-
buahan. Dari kata phala ini, maka ada jenis buah-buahan, antara lain: phala
gantung, phala bungkah, dan phala wija.
Yang dimaksud phala gantung adalah jenis buah-buahan dari suatu pohon
tertentu, seperti: buah kelapa, buah pisang, buah mangga, buah rambutan, buah
durian, buah apel, buah manggis, buah pinang, buah wani, buah salak, dan jenis
buah-buahan yang lainnya.
Kalau phala bungkah adalah suatu hasil yang diperoleh dari suatu tanaman
tertentu. Jenis phala bungkah ini berupa umbi-umbian, seperti: umbi ketela
pohon, umbi ketela rambat, umbi keladi, umbi kentang, umbi kunyit, umbi jahe,
umbi kencur, umbi lengkuas, maupun jenis umbi yang lainnya. Sedangkan
phalawija adalah suatu hasil yang berupa biji-bijian, seperti: jagung, padi, kacang-
kacangan, dan sebagainya.
Di antara jenis buah-buahan yang paling sering digunakan sebagai sarana
upacara yajna, seperti: buah kelapa, buah pisang, dan buah pinang. Jenis buah
kelapa merupakan jenis buah yang serba guna, oleh karena daunnya berguna
untuk yajna, buahnya yang muda (kelungah) berguna sebagai sarana tirtha,
batangnya dan yang lainnya berguna bagi kehidupan manusia. Apalagi buahnya
yang telah matang, dalam yajna sangat diperlukan sekali, seperti untuk
perlengkapan daksina bahwa kelapa menggambarkan bumi. Kemudian kaitannya
dengan Panca warna, ada lima kelapa yang sesuai dengan arah timur, selatan,
barat, utara dan tengah, dengan menggunakan jenis kelapa, antara lain: kelapa

57
bulan, selapa ulang, kelapa gading, kelapa dan kelapa ulung, dan kelapa sudamala.
Kelima jenis kelapa tersebut memiliki makna warna Panca Dewata yaitu warna
putih untuk Dewa Iswara, warna merah untuk Dewa Brahma, warna kuning untuk
Dewa Mahadewa, warna hitam untuk dewa Wisnu, dan warna Panca Warna untuk
dewa Siwa. Sedangkan buah pinang juga sering digunakan, seperti pada proses
silih asih bahwa buah pinang melambangkan Hyang Brahma. Adapun buah pisang
dan buah-buahan yang hanya banyak digunakan sebagai sarana upakara yajna,
untuk membuat berbagai jenis upakara yang diperlukan termasuk untuk membuat
"gebogan", canang mereka, dan sebagainya.
Sedangkan penggunaan biji-bijian berupa kacang-kacangan bisa dibuat
rerasmen yang terdiri dari jenis kacang-kacangan, sesaur/serundeng, telur, ikan
teri, sambal, semuanya itu digoreng, biasanya ditambah terung, mentimun, dan
garam, rerasmen ini sebagai simbol sumber kehidupan. Penggunaannya dilakukan
pada hari raya Galungan, Kuningan, dan lain-lainnya. Persembahan ini
menujukkan cinta kasih dan rasa bakti ke hadapan Hyang Widhi.
Pada banten suci dan daksina, ada dijumpai penggunaan biji-bijian yang
disebut "Biji Ratus" yaitu campuran dari lima jenis biji-bijian, yang masing-
masing mempunyai warna yaitu: godem warnanya hitam, jawa warnanya putih,
jagung nasi warnanya merah, jagung biasa warnanya kuning, dan jali-jali warnanya
campuran atau berwarna-warni, kemudian biji ratus ini dibungkus.
Dalam banten Penyeneng dan sehabis sembahyang dijumpai _adanya
penggunaannya biji-bijian yang disebut wija atau bija. Bija berasal dari biji beras
yang telah bersih dicampur dengan bungabungaan diiris-iris halus dan air cendang
atau terkadang juga dicampur dengan air kunir. Bija sebagai lambang benih
kehidupan atau sumber kehidupan. Demikian pula dalam tetandingan banten
daksina biasanya diiris beras sebagai lambang sumber makanan pokok atau
sumber kehidupan. Daksina merupakan perwujudan Hyang Widhi beserta
manifestasinya. Adapun fungsinya adalah sebagai tanda terima kasih kita
kehadapan Hyang Widhi maupun kepada yang muput yajna itu.
Selanjutnya pada Penjor Upacara kita menggunakan phala bungkah, phala
gantung, serta biji-bijian, seperti: padi, pisang, ketela, jagung, buah-buahan, serta

58
diisi pula kain, sampian penjor dan porosnya. Tujuan pemasangan Penjor Upacara
dengan segenap sarana perlengkapannya adalah sebagai swadharma umat Hindu
untuk mewujudkan rasa terima kasih dan rasa bakti kehadapan Hyang Widhi dalam
prabhawa-Nya sebagai Sang Hyang Giripati. Bilamana ada penjor tanpa
menggunakan sarana upacara seperti tersebut di atas itu dinamai penjor-penjoran
dan tidak digunakan dalam rangkaian pelaksanaan upacara yajna.

Adapun fungsi buah-buahan atau biji-bijian adalah sebagai sarana upacara


yajna dan sebagai cetusan rasa bakti dan terima kasih kehadapan Hyang Widhi
atas anugerahnya.

59
BAB III
DEWA YAJNA

3.1 Pengertian Dewa Yajna


Sebagaimana kita yakini dan kita percayai bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa
(Tuhan Yang Maha Esa) merupakan pencipta seluruh alam semesta dengan segala
isinya termasuk pula umat manusia. Dalam ajaran Agama Hindu penjelasan
seperti ini dapat dijumpai dalam kitab Suci Weda, yang berbunyi sebagai berikut :
"purusa ewedam
sarwam
yad bhutam yasca bahwyam
uta'mrtatwas yecam
yudam'nena'ti rohati".

(Rg Weda X. 89.2)

Artinya:
Sang Hyang Widhi adalah pencipta alam semesta, baik yang telah ada maupun
yang akan ada, Sang Hyang Widhi adalah yang kekal abadi, yang hidup tanpa
makan.

Selanjutnya pula bahwa Sang Hyang Widhi dapat menciptakan alam semesta
ini didasarkan atas Yajna. Kata Yajna berasal dari akar kata "Yaj" (yang berasal
dari bahasa Sansekerta) yang artinya berkorban. Jadi, kata Yajna berarti
pengorbanan yang dilandasi keikhlasan hati atau ketulusan hati tanpa mengharapkan
adanya pembalasan. Kalau kita simak salah satu bait seloka dalam kitab suci
Bhagawadgita, tentang hal ini ada ditegaskan yaitu:

"sahayajnah prajah srstwa


puro'waca prajapatih
anena prasawisyadhwam

60
esa we'stw istakamadhuk".
(Bhagawadgita III. 10)
Artinya :
Pada zaman dahulu kala Prajapati/Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam
semesta dan manusia atas dasar Yajna dan bersabda: "dengan ini engkau akan
berkembang dan akan menjadi Kamadhuk bagi keinginanmu".

Kamadhuk adalah sapi Dewa Indra yang dapat memberikan/memenuhi segala


keinginan dan dalam hal ini yang dimaksud adalah bumi tempat manusia hidup.
Kutipan seloka di atas menjelaskan bahwa alam semesta diciptakan atas
dasar Yajna dan untuk kelangsungan hidup alam semesta dan manusia, maka manusia
(umat Hindu) wajib memelihara dan melestarikan alam ini atas dasar Yajna pula.
Begitulah besar sekali manfaat serta pentingnya kita melaksanakan Yajna termasuk
di sini melaksanakan Dewa Yajna dengan hati yang tulus ikhlas pula.
Mengingat bahwa pelaksanaan Yajna tersebut sangat penting sekali dalam
kehidupan keagamaan umat Hindu, maka lebih jauh kalau kita .simak kitab suci
Manawadharmasastra, ada dijumpai seloka yang menegaskan tentang beberapa jenis
Yajna yang disebut dengan Panca Yajna, dengan rincian sebagai berikut:
"adhyapanam brahma
yajnah pitr yajnastu
tarpanam
homo daiwo balibhaurto
nryajno 'tithi pujanam".

(Manawadharmasastra, I11.70)
Artinya:
Mengajar dan belajar adalah Yajna bagi Brahmana, menghaturkan terpana dan
air suci adalah Yajna untuk leluhur, menghaturkan minyak dan susu adalah
Yajna untuk para Dewa, mempersembahkan Bali adalah Yajna untuk Bhuta,
dan penerimaan tamu dengan ramah adalah Yajna untuk manusia.

61
"
dewatatithi bhrtyanam
pitr rnam atmanas ca yah
na nirwapati pancanam
ucchwasanna sa jwati

(Manawadharmasastra, I11.72)

Artinya:
Tetapi ia yang tidak memberikan persembahan kepada kelima macam tadi,
yaitu kepada para Dewa, para tamunya, mereka yang harus pelihara, para
leluhur, dan ia sendiri, pada hakikatnya ia tidak hidup walaupun bernafas.

Kemudian dalam kitab suci Agastya Parwa ada pula menjelaskan rincian
Panca Yajna termasuk juga pengertian Dewa Yajna, yang bunyinya sebagai
berikut :
Kunang ikang yajna lima pratekanya, lwirnya: dewa yajna, rsi yajna,
pitrayajna, bhuta yajna, manusa yajna. Nahan tang panca yajna ring loka.
Dewa Yajna ngaranya taila pwa krama ri bhattara Siwagni, maka gelaran
ring mandala ring bhattara, yeka dewa yajna ngaranya, ... dan
seterusnya", (Agastya Parwa, 35.b.).

Artinya:

Adapun yang disebut Panca Yajna, perinciannya sebagai berikut:


Dewa Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna.
Demikianlah Panca Yajna di dalam masyarakat. Dewa Yajna adalah
persembahan wijen ke hadapan Bhattra Siwagni, yang dipersembahkan di
atas altar pemujaan, itu disebut Dewa Yajna ... dan seterusnya.

Dari beberapa kutipan seloka di atas, maka dengan jelas kita dapat menyimak
makna atau pengertian Dewa Yajna. Dalam seloka Manawadharmasastra tersebut

62
di atas ditegaskan bahwa Dewa Yajna adalah suatu persembahan yang ditujukan
kepada para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tentunya persembahan yang dimaksudkan adalah suatu persembahan yang
disuguhkan dengan penuh keikhlasan atau ketulusan hati. Demikian jugalah
halnya yang ditegaskan dalam kitab Agastya Parwa, bahwa Dewa Yajna adalah
suatu persembahan yang ditujukan pada para Dewa, jugs ke hadapan para
bhattara Siwagni sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
disuguhkan di atas altar pemujaan.
Melaksanakan Yajna atau pengorbanan atau persembahan yang dilandasi
hati yang suci merupakan suatu kewajiban dalam hidup manusia, dan hal ini
jangan sampai dilalaikan oleh umat sedharma (umat Hindu).

"rsi yajnam dewa yajnam


bhuta yajnam ca sarwada,
nryajnam pitra yajnam ca
yatha sakti na hapayet".
(Manawadharmasastra, IV. 21.)

Artinya:
Hendaknya jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi Yajna,
Dewa Yajna, Bhuta Yajna Manusa Yajna, dan Pitra Yajna.

Dengan demikian bahwa Dewa Yajna adalah Yajna yang ditujukan sebagai
penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa. Istilah Dewa
mengandung arti sebagai sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan dalam hal ini
disebut Dewata. Juga kata Dewa berasal dari akar kata Div yang artinya sinar,
sehingga Dewa itu sebagai sebutan untuk segala jenis makhluk Tuhan yang
dijadikan sinar sucinya (dewa) atau makhluk cahaya.
Dalam ajaran Agama Hindu bahwa Dewa merupakan wujud sifat
kemahakuasaan yang bersifat khas atau khusus. Ini berarti bahwa Tuhan tidak
memegang peranan, justru adanya dan bentuk sifat kemahakuasaan itulah yang

63
diibaratkan sebagai salah satu bentuk kekuasaan Tuhan. Dewa merupakan
bentuk perwujudan kekuasaan Tuhan, karena itu cara penghormatannya yang
dikaitkan pada salah satu sifat kekuasaan Tuhan akan menimbulkan cara
penghormatan yang berlainan pula. Dalam hal ini harus diingat pula bahwa
walaupun Dewa-dewa itu banyak, tetapi apabila kita sampai pada pemujaan
Tuhan, maka yang dipuja sesungguhnya adalah Tuhan Yang Maha Esa itu juga.
Hal ini ditegaskan dalam kitab suci Weda yaitu pada kitab suci Rg Weda, X.
121. 8, yang bunyinya sebagai berikut (terjemahannya) :

"Siapakah sesungguhnya Dewata yang kita sembah dengan segala


persembahan ini? Ia, yang kemuliaannya menguasai banjir, pemberi
kekuatan spiritual dan menyebabkan ia dipuja, Ia Yang Maha Esa, itulah
Dewa di atas segala Dewa-dewa".

Dengan demikian bahwa Dewa Yajna adalah pemujaan atau sembahyang


yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada segala bentuk
perwujudan (manifestasinya) atau pemujaan serta persembahan kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa dan sinar-sinar Suci-Nya yang disebut Dewa-Dewi.
Adanya pemujaan kehadapan Dewa-dewi atau para dewa, karena beliau yang
dianggap mempengaruhi dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini.
Sebagaimana halnya matahari menerangi serta mempengaruhi kehidupan di
dunia dengan sinarnya, demikian pula Ida Sang Hyang Widhi menerangi serta
mengatur gerak kehidupan di alam semesta dengan sinar-sinar suci-Nya.
Sebenarnya tidak dapat dipungkiri bahwa setiap umat sedharma senantiasa
menginginkan hasil di dunia ini yang tentunya dibarengi dengan pelaksanaan
Yajna atau mengadakan persembahan atau pemujaan kepada para Dewa,
sedangkan bagi mereka yang sudah melepaskan keinginan duniawi akan
memusatkan persembahannya atau pemujaannya ke hadapan Ida Sang Hyang
Widhi. Berikut ini ada ditegaskan dalam kitab suci Bhagawadgita Bab IV
seloka 12 yakni:

64
"
kanksantah karmanam siddhim
yajantha ih devatah
ksipram hi manuse loke
siddhir bhavati karmaja".

Artinya:
Mereka yang menginginkan hasil dari pekerjaannya di atas dunia ini
menyembah para dewa, karena hasil dari sesuatu pekerjaan adalah mudah
sekali didapat di atas dunia ini.

"daivam eva para Yajnam


Yoginah paryupasate
brahmagnav apace Yajnam
Yajnenai 'vo'vajuvhati'

(Bhagavadgita, IV.25)
Artinya:
Beberapa para yogin beryadnya hanya kepada para Dewa. Tetapi yang
lainnya beryadnya dengan Yadnya-yadnya sendiri di dalam api dari
Brahman (Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan).

Sehingga dengan adanya pemujaan maupun persembahan ke hadapan para


dewa dapat menumbuhkan kesadaran para sedharma (umat Hindu) untuk
melaksanakan upacara Dewa Yajna. Serta dengan adanya pemujaan terhadap para
dewa serta Ida Sang Hyang Widhi dapat menyebabkan adanya upacara dewa
Yajna itu sendiri bagi umat Hindu di mana pun berada di jagat raya ini, walaupun
dalam pelaksanaannya tidak terlalu mengikat yang tentunya disesuaikan dengan

65
tradisi atau adat-istiadat setempat, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip
ajaran kitab suci Weda.

3.2 Tujuan Dewa Yajna


Setiap pelaksanaan upacara Yajna dalam agama Hindu memiliki maksud dan
tujuannya yang tertentu. Upakara sebagai sarana dalam pelaksanaan suatu upacara
agama memiliki makna-makna tertentu pula yang digambarkan secara simbolis
melalui bagian bahan, bentuk atau wujud maupun warna tertentu yang digunakan.
Makna Nyasa atau simbolis yang dibawakan oleh masing-masing upakara
disesuaikan pula dengan maksud dan tujuan secara umum daripada upacara yang
dilaksanakan.
Dalam pelaksanaan upacara Dewa Yajna secara umum menggunakan
sarana berupa upakara-upakara yang memiliki makna antara lain:
a. Sebagai lukisan rasa angayu bagia atau rasa terima kasih yang ingin
dicetuskan ke hadapan Sang Hyang Widhi, atas segala anugerah yang telah
kita nikmati. Seperti halnya yang telah kita lukiskan dalam sarana sesajen,
dalam hal ini banten dapetan, canang sari, dan lain-lain.

b. Sebagai lukisan permohonan, misalnya permohonan untuk memperoleh


umur panjang dilukiskan dalam sesajen/banten sesayut dirgayusa.

c. Sebagai lukisan permohonan maaf atau mohon maaf untuk diampuni atas
segala kesalahan atau kekeliruan yang telah diperbuat, seperti yang
dilukiskan dalam bentuk sejajen/benten guru piduka.

d. Sebagai sarana untuk melukiskan atau menggambarkan secara simbolis


wujud Tuhan yang akan disembah atau yang dipuja saat itu. Sarana
sesajen/banten yang digunakan sebagai simbolisnya biasanya digunakan
sarana banten berupa daksina tapakan palinggih.

66
e. Untuk melukiskan suatu harapan yang berkaitan dengan sikap mental dalam
memuja atau menyembah Tuhan Yang Maha Esa, misalnya ketulusan,
keheningan, dan kesucian hati yang patut dipersembahkan dalam memuja
Tuhan, dilukiskan dalam wujud upakara seperti canang sari maupun bunga-
bungaan yang serba harum dan segar.

f. Merupakan wujud persembahan, nampaknya paling banyak dijumpai


khususnya dalam kaitannya dengan upakara Dewa Yajna termasuk juga
Yajna yang lainnya.

Demikianlah utamanya makna yang terkandung dalam berbagai upakara


serangkaian dengan pelaksanaan Yajna termasuk juga di sini pelaksanaan Dewa
Yajna, dan perlu disadari bahwa Sang Hyang Widhi menciptakan manusia beserta
makhluk hidup lainnya berdasarkan atas Yajna, maka hendakklah manusia hidup
selalu dapat memelihara dan mengembangkan dirinya juga atas dasar Yajna,
sebagai jalan yang benar untuk mengembalikan hutang terutama hutang berupa
Dewa Rnam yaitu hutang yang harus dikembalikan ke hadapan Tuhan dan para
dewa.
Kalau kita simak seloka Bhagavadgita Bab III, nomor 11, maka dengan jelas
diisyaratkan kepada kita betapa pentingnya dan sangatlah mulianya yang
terkandung dalam pelaksanaan Dewa Yajna, yang ditegaskan sebagai berikut:

"
devan bhavayata nena
te deva bhavayantu vah
parasparam
bhawayantah

67
sreyah para avap
syatha"

Artinya:
Dengan ini (Yajna) kamu berbakti kepada Hyang Widhi dan dengan ini [ula
para Dewa (Hyang Widhi) memelihara dan mengasihi kamu, jadi dengan saling
memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan yang mahatinggi.

Kalau kita bandingkan dengan aspek samskara dan yajna itu sendiri, maka dari
masing-masing aspek itu mempunyai tujuan masing-masing. Di mana samskara
atau karma yang lebih mempunyai pengertian sifat perbuatan keagamaan yang
tampak secara lahiriah atau ritualia, yang antara lain tujuannya:
a. Tujuan yang sifatnya umum dan superstisi (kepercayaan) meliputi: Hal untuk
melenyapkan pengaruh yang kurang baik; Mengundang atau menambahkan
pengaruh-pengaruh yang baik dan yang memberi kekuatan. Untuk memperoleh
tujuan material; dan sebagai pernyataan umum yang dimaksud menurut tujuan
upacara itu sendiri.

b. Tujuan yang bersifat moral yakni suatu yajna yang juga bertujuan untuk
pembinaan moral. misalnya untuk pensucian jasmaniah dan batin, tetapi juga
untuk mengembangkan sifat-sifat seperti: sifat pengampun atau welas asih,
sifat tahan uji, sifat bebas dari iri hati, sifat-sifat yang membina kesucian
rohani, sifat-sifat wajar dan tenang dalam menghadapi segala cobaan atau
rintangan, dan sifat-sifat liberal, suka berdana punia, dan tidak loba.

c. Yang bertujuan untuk pengembangan kepribadian yaitu sebagai salah satu


tujuan yajna yang bertujuan untuk membina kepribadian yang mandiri. Ini
berarti bahwa yajna mengandung arti mendidik dan membudayakan tingkah
laku manusia agar tercipta suasana kesucian, keagungan dan kemuliaan.

d. Yang bertujuan untuk spiritual, karena Yajna juga mengandung pengertian

68
untuk tujuan spiritual atau kerohanian.

Dapat dikatakan bahwa Yajna merupakan lembaga ritualia dan bertujuan


untuk melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara langsung
ataupun tidak langsung. Yajna juga sebagai upaya untuk penyucian atau
prayascita. Yajna merupakan wujud ekspresi pikiran dalam bentuk budaya,
sehingga tujuan pokok daripada yajna antara lain:
a. Untuk menyebarluaskan ajaran kitab suci Weda
b. Sebagai sarana untuk menyeberangkan atma untuk mencapai moksa
c. Sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yang
Maha Esa
d. Sebagai sarana untuk menciptakan suasana kesucian dan penebusan dosa.
e. Sebagai sarana untuk menciptakan keseimbangan atau keselarasan antara
tujuan jasmani dan rohani.
f. Sebagai sarana mendidik yang bersifat praktis dalam tata laku pengamalan
ajaran agama.

Dari uraian di atas, sesungguhnya upacara Dewa Yajna merupakan


persembahan sebagai perwujudan bakti manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa
dengan berbagai manifestasinya. Baktinya itu diwujudkan untuk mengucapkan
atau menyampaikan rasa terima kasih melalui sarana upakara-upakara, serta
baktinya mempunyai tujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan
terhadap hamba-Nya dan memohon kasih-Nya agar hamba-Nya itu
mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan mencapai kerahayuan dan
menempuh hidup dan kehidupan di alam raya ini.
Jadi, tujuan utama upacara Dewa Yajna adalah:
1. Menyampaikan hormat dan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
anugerah dan nikmat yang diberikan setiap hari yang diwujudkan dalam
bentuk tri sandhya dan pada hari-hari tertentu.
2. Memohon perlindungan, berkah, kesejahteraan, umur panjang, kesaksian,
kemuliaan, bimbingan, petunjuk-petunjuk yang dibenarkan, keselamatan

69
untuk diri sendiri (keluarga, orang lain yang meminta, dan semua makhluk
hidup), kesucian, kesempurnaan, keberhasilan dalam segala usaha, dan
kekuatan lahir dan bathin.
3. Menyampaikan rasa terima kasih dan rasa puja-puji syukur atas limpahan
anugerah Tuhan.
4. Serta tujuan yang lainnya dari masing-masing rangkaian upacara Dewa Yajna
dan tujuan yang dapat menyenangkan kita bersama.

3.3 Jenis-jenis Pelaksanaan Upacara Dewa Yajna


Upacara Dewa Yajna merupakan persembahan atau korban suci yang tulus
iklas ke hadapan Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta semua
manifestasinya dengan jalan cinta bakti sujud memuja dan mengikuti segala
ajaran-ajarannya yang suci serta melakukan tirtha yatra (mengadakan
kunjungan keagamaan ke tempat-tempat suci). Dewa Yajna ini dilaksanakan di
Sanggar Pemerajan dan di Pura-pura. Secara garis besarnya pelaksanaannya
dapat dibedakan menjadi:
a. Dengan membuat sesajen dan persembahyangan
b. Memelihara bangunan suci tempat kita melaksanakan Yajna
c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran sucinya, serta melakukan
penyucian diri lahir batin (sauca dan tirtha yatra).

Dengan membuat sajen itu tidak diperlukan secara besar-besaran atau yang
serba mewah yang maksudnya hanya untuk menghilangkan atau menutupi rasa
malu saja atau sebaliknya ingin menunjukkan rasa yang sombong. Namun
terkadang banyak terjadi salah pengertian bahwa dalam beryajna diperlukan
sarana yang serba banyak, mewah, besar-besar, dan yang lainnya. Hal itu
amatlah keliru atau suatu anggapan yang salah, yang terpenting sebenarnya
adalah bagaimana kita sebagai umat dapat mempersembahkan sajen yang kita
buat dapat memenuhi inti/hakikat/makna dari sajen atau Yajna itu yang tiada
lain adalah:
a. Simbol Brahma ialah berupa agni (dupa) sebagai saksi dan pengantar

70
persembahyangan kita.
b. Simbol Siwa adalah bunga yang segar dan harum sebagai sarinya bumi yang
kita persembahkan dan juga sebagai pernyataan rasa terima kasih atas
anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang dilimpahkan kepada. umat sedharma
(umat Hindu).
c. Simbul Wisnu ialah air suci (tirtha sebagai alat pembersihan atau penyucian
jiwa). Dari keseluruhan persembahan ke hadapan Sang Hyang Widhi
tentunya timbul dari hati yang tulus ikhlas dan penuh kesucian. Hal ini ada
dinyatakan dalam kitab suci Bhagawadgita, IX, 26, yang bunyinya sebagai
berikut:

"patram puspam phalam toyam


yo me bhaktya prayachati
tad aham bhaktyupahritam
asnami prayatatmanah"

Artinya :
Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum
bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, Aku terima sebagai bakti
persembahan dari orang yang berhati suci.

Setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air adalah
persembahan yang bersifat simbolik, yang terutama adalah hati suci, pikiran
terpusatkan dan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada-Nya. Jadi, jelaslah
bahwa di dalam membuat sajen itu tidak tergantung pada besarnya upakara, tetapi
yang penting ialah inti Yajna dan hati yang tulus ikhlas.
Selanjutnya dalam upaya pemeliharaan tempat suci atau memelihara Pura, dan
dalam pemeliharaan bangunan suci tersebut tidak dapat terlepas dengan rangkaian
Yajna atau Dewa Yadnya, sebab walaupun bagaimana besarnya, indahnya,
peliknya sajen yang kita persembahkan, juga bagaimanapun mewahnya pakaian
yang kita pakai, kalau tempat suci kita sebagai tempat memuja (Pura) itu rusak dan

71
kotor tentu batin kita tidak merasa hening dan suci, hal semacam itu sangat pincang
dan tidak mantap (hidmat), oleh karena itu pun sinar suci tidak mungkin akan
tercapai, sebab sinar suci dari Tuhan baru akan didapat di tempat yang suci. Maka
dari itu pemeliharaan dan pembangunan tempat suci (Pura) itu perlu diperhatikan
betul-betul, supaya jalannya pelaksanaan upacara Dewa Yajna sesuai dengan
jalannya ajaran-ajaran agama Hindu dengan baik dan hidmat.
Kemudian daripada itu melaksanakan Dewa Yajna dengan cara membuat
banten haturan (sajen) dan dengan memelihara bangunan suci (pura), dengan
mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Tuhan (Weda), dengan
melaksanakaan penyucian lahir batin (asucilaksana), serta kunjungan ke tempat-
tempat suci (tirtha yatra), termasuk juga pelaksanaan Dewa Yajna, karena
bermasuk untuk memperoleh penerangan dan sinar-sinar sucinya Tuhan. Karena
sinar suci akan kita peroleh bila lahir batin kita jernih dan suci.
Adapun cara-cara pelaksanaan upacara Dewa Yajna sebagai berikut:
a. Tempatnya di Pura atau di tempat yang baik, bersih, dan mempunyai suasana
kesucian bila untuk melaksanakan Puja Trisandhya dapat dilakukan dalam
rumah ataupun di luar rumah di tempat yang dianggap bersih dan wajar.
b. Adanya Sanggar Surya sebagai syarat minimal yaitu sebagai pengganti
Padmasana tempat beristananya Sang Hyang Widhi (Tuhan).
c. Adanya sesajen atau suguhan yang terbuat dari bahan terutama yang terbuat
dari api (dupa), air bersih (tirtha), dan bunga yang masih segar dan harum-
haruman.
d. Tempat-tempat sajen dibuat seindah mungkin sesuai dengan bahan yang ada
dengan seni budaya setempat, tetapi agar dapat menimbulkan suasana
kesucian.
e. Diantarkan dengan puja dan doa sulinggih atau pemuka agama setempat.
f. Disudahi dengan sembahyang serta diakhiri dengan memohon air suci (tirtha)
yang dipercikkan dan diminum masing-masing tiga kali.

Selanjutnya upacara Dewa Yajna dalam pelaksanaannya dapat dibedakan


menjadi beberapa kelompok sebagai berikut :

72
1. Upacara yang tergolong upacara peringatan hari-hari suci keagamaan atau
peringatan hari-hari raya keagamaan yang secara umum dilaksanakan oleh
seluruh Umat Hindu, seperti halnya: Purnama, Tilem, Kliwon, hari raya
Saraswati, hari raya Galungan, hari raya Kuningan, hari raya Nyepi, hari raya
Siwaratri, Upacara Ngusabha Desa, Upacara Ngusabha Nini, dan lain-
lainnya.
2. Upacara penyucian serta penyelesaian terhadap bangunan tempat suci atau
tempat pemujaan (Pura), misalnya Melaspas, dan sebagainya.
3. Upacara peringatan disucikannya bangunan tempat pemujaan (Pura) yang
disebut dengan "Piodalan"

Berikut ini akan diuraikan upacara yang tergolong pelaksanaan Dewa Yajna
sesuai dengan maknanya masing-masing.

a. Purnama, Tilem dan Kliwon


Pada hari Purnama (bulan penuh), Tilem (bulan Mati), dan Kliwon
merupakan hari-hari yang dianggap baik oleh umat Hindu untuk melakukan
penyucian lahir batin dan pemujaan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, para
Dewa, serta menyampaikan rasa terima kasih kehadapan unsur-unsur kekuatan alam
yang telah membantu kehidupan di dunia ini. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan
melaksanakan yoga semadhi, tapa, brata, ataupun menghaturkan sesajen di tempat-
tempat pemujaan dan di halaman Pura. Sesajen-sesajen yang umum dipersembahkan
adalah berupa canang, terkecuali pada Kajeng Kliwon dapat ditambah dengan segehan.
Banten ini dipersembahkan.pada kekuatan alam yang ikut menjaga ketenteraman
keluarga atau rumah tangga yang dikenal dengan Penunggun Karang atau Pengijeng.
Sedangkan segehan kepel dan segehan cacahan yang nasinya berwarna putih atau
manca warna atau nasi berwarna lima, dihaturkan di halaman yang ditujukan kepada
para Bhutakala. yaitu:
Menghaturkan segehan/suguhan bertempat di halaman Sanggar/Merajan ditujukan
kehadapan Sang Bhuta.
Menghaturkan segehan/suguhan yang bertempat di halaman rumah ditujukan ke

73
hadapan Sang Butha Bucari.
Menghaturkan segehen/suguhan yang bertempat di halaman luar/ di jabaan ditujukan
ke hadapan Sang Durga Bucari serta yang bertempat pada pengapit lawang
hanya menghaturkan canang yang ditujukan kehadapan Sang Hyang Durga
Dewi. Demikianlah sekilas mengenai pelaksanaaan upacara pada Hari
Purnama, Tilem, dan Kliwon atau Kajeng Kliwon.

b. Rabu Kliwon Sinta


Saat hari Rabu Kliwon Sinta atau juga dapat disebut Buda Kliwon Sinta
merupakan peringgatan hari raya Pagerwesi untuk memohon ke hadapan Tuhan
dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Paramesti Guru (Dewa Siwa) beserta
dengan Dewa yang lainnya saat melakukan yoga untuk memberikan perlindungan
(kekuatan iman) kepada semua umatnya, termasuk pula segenap tumbuh-
tumbuhan beserta makhluk lainnya agar mencapai kesejahteraan di dunia ini. Pada
dasarnya yoga bertujuan untuk memperoleh kesucian diri sendiri, sehingga
dapatlah terwujud keseimbangan dan kesempurnaan hidup, oleh karena manusia
adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Mulia, maka sepatutnyalah manusia
dapat mengikuti perbuatan para Dewa yaitu mewujudkan serta memelihara
kesejahteraan dunia atau di alam semesta ini. Mengingat pada hari raya Pagerwesi
ini merupakan saat yang tepat bagi umat dan juga para sujana untuk melakukan
yoga dan semadhi dalam usaha untuk mewujudkan kesejahteraan dan
kesempurnaan hidup, baik bagi dirinya sendiri maupun sesama ciptaan Tuhan,
selain itu secara umum masyarakat diwajibkan menghaturkan Yajna pada tempat-
tempat pemujaan.

c. Tumpek Landep
Dinamakan Tumpek karena peringatannya jatuh pada hari Sabtu wara Kliwon,
sehingga perayaan yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon disebut Tumpek. Juga
halnya bahwa Tumpek Landep merupakan perayaan yang jatuhnya pada hari
Sabtu wara Kliwon wuku Landep, merupakaan saat untuk memuja Dewa Siwa
terutama dengan sebutan Sang Hyang Pasupati. Tuhan dalam sebutannya sebagai

74
Sang Hyang Pasupati adalah sebagai penguasa yang memberi kejayaan pada sarwa
landep atau benda-benda lancip. Pengertian landep di sini tidak hanya terbatas pada
alat-alat perang berupa keris, tombak, serta alat-alat yang dibuat dari besi saja atau
baja dan sejenisnya, tetapi juga meliputi semua alat yang digunakan untuk
mempertahankan hidup bagi diri manusia yakni pikirannya. Tetapi yang
terpenting maknanya dalam upacara ini adalah pemujaan ke hadapan Sang Hyang
Widhi dengan sebutan Sang Hyang Pasupati, dapat menuntun pikiran manusia ke
arah jalan yang baik dan memberikan kejayaan serta mencapai keberhasilan dalam
hidup maupun kehidupannya.
Upacara pada saat Tumpek Landep ini dapat dilaksanakan pada tempat
pemujaan (Sanggar Kemulan) dan juga pada senjata atau alat-alat yang dipandang
perlu, pada saat itu dilaksanakan upacara mabyakala (menghilangkan kekotoran
atau gangguan yang merusak). Sedangkan pemukaan yang ditujukan ke hadapan
Sang Hyang Pasupati dapat dilaksanakan pada tempat pemujaan (di Merajan)
maupun pada tempat penyimpanan senjata atau alat tersebut. Sebelum diupacarai,
maka terlebih dahulu senjata-senjata dibersihkan selanjutnya disuguhkan sajen
byakala dan prayascita yang diikuti oleh anggota keluarga. Persembahan yang
disuguhkan ke hadapan Sang Hyang Siwa Raditia, Sang Hyang Guru (di Sanggar
Kemulan) dan Sang Hyang Pasupati bertujuan untuk memohon kejayaan serta
keberhasilan dalam perjuangan hidup sesuai dengan dharma sebagai manusia.

d. Tumpek Wariga
Dua puluh lima hari sebelum hari raya Galungan, maka dikenal dengan
perayaan Tumpek Wariga yang jatuhnya pada hari Sabtu Kliwon Wariga,
merupakan saat yang baik untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam
manifestasinya sebagai Dewa Sangkara, yang merupakan sinar suci Tuhan untuk
memelihara tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan dapat
tumbuh dengan baik, berkembangbiak dengan baik, berbunga, berbuah, dan
berdaun yang lebat sesuai dengan kegunaannya. Melaksanakan pemujaan
kehadapan manifestasi Tuhan yaitu Dewa Sangkara, maka yang dijadikan
objeknya adalah segala tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan manfaat atau

75
yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia, seperti halnya: pohon kelapa,
pohon wani, pohon durian, pohon manggis, pohon nangka, pohon duku, pohon
rambutan, pohon mangga, dan tumbuhan lainnya.
Tumpek Wariga sering pula dikenal dengan nama Tumpek Pengarah,
Tumpek Ngatag, Tumpek Penguduh, dan Tumpek Bubuh. Oleh karena umat
Hindu pada saat Tumpek Wariga tersebut menyuguhkan sajen yang berupa
bubur dan bubur mengandung makna spiritual yaitu dapat memberikan kehidupan
atau menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang telah ditanamnya. Setiap tumbuhan
diberikan suguhan sajen dengan harapan dapat menghasilan dengan baik.
Lebih jauh bahwa Tumpek Wariga pelaksanaannya bertujuan untuk
menghaturkan rasa terima kasih ke hadapan Sang Hyang Widhi/Dewa Sangkara,
yang telah menciptakan tumbuh-tumbuhan serta memohon agar tumbuh-
tumbuhan dimaksud dapat tumbuh dengan baik dan tentunya lingkungan
tumbuhan tersebut menjadi asri dan lestari.
Pelaksanaan upacara Tumpek Wariga ini bertempat pada pohon yang akan
diupacarai yan sebelumnya telah ditempeli sapsap, caniga, dan dapat dilengkapi
dengan kain serta dibuatkan tempat sajen. Upacara yang akan disuguhkan
berupa sajen dan tirtha dihaturkan pada tempat tersebut, dilanjutkan dengan
pengeresikan atau pembersihan, penyeneng, tirtha pengelukatan, serta sajen-
sajen lainnya. Kemudian bubur dioleskan atau ditempelkan pada batang pohon
tertentu yang penting-penting selanjutnya di bawah pohon disuguhkan segehan
dan tetabuhan. Seteleh selesai pelaksanaan upacara. maka banten peras dilebarkan
(pertanda upacara telah selesai) dan banten penyeneng digantungkan pada pohon
yang bersangkutan.

e. Hari Raya Galungan


Hari Raya ini jatuh pada hari Rabu Kliwon Dunggulan, tetapi kegiatan-
kegiatannya dapat dimulai dari hari Kamis Wage Sungsang sampai dengan hari
Rabu Kliwon Pahing yang dikenal dengan Pegatuakan.
Adapun rangkaian dari hari raya Galungan sebagai berikut:

76
1. Sugihan Jawa
Sugihan Jawa jatuh pada Hari Kamis Wage Sungsang yaitu enam hari sebelum
hari raya dan merupakan hari penyucian terhadap tempat-tempat suci dan
perumahan. Penyucian dilaksanakan secara sekala dan niskala. Secara sekala
dilaksanakan pembersihan di sekitar tempat-tempat suci atau tempat pemujaan
seperti di halaman Pura, Pemerajan, Sanggar Kemulan, dan Perumahan. Jika
dipandang perlu juga membersihkan sarana atau alat yang sudah kotor sekali atau
menggantinya dengan alat yang baru terutama bagi sarana yang telah usang.
Selanjutnya dilaksanakan pula pembersihan secara niskala yaitu dengan
menghaturkan sajen ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu berupa sajen
Perebuan seperti pada Padmasana atau di sekitar Pura, menyuguhkan segehan serta
tetabuhan.
Setelah selesai melaksanakan pererebuan, barulah dilanjutkan dengan sajen
yang lainnya dan diikuti dengan persembahyangan bersama sekalian mohon tirtha
dan selesailah pelaksanaan upacara Sugihan Jawa.

2. Sugihan Bali
Datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari) yaitu sehari setelah Sugihan
Jawa, yang jatuhnya pada hari Jumat Kliwon Sungsang. Saat ini merupakan saat
yang baik untuk melaksanakan penyucian terhadap diri sendiri atau bhuwana alit.
Upacara Sugihan Bali ini dilaksankan dengan mohon tirtha pengelukatan pada
Sang Sadaka atau Sulinggih seusai persembahyangan.
Setelah pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, maka rangkaian
pelaksanaan hari Raya Galungan meliputi: upacara Penyekeban, upacara
Penyajahan, upacara Penampahan, puncak perayaan Galungan, upacara Pemaridan
Guru, upacara Ulihan, dan upacara Pemacekan Agung.

3. Hari Penyekeban
Tiga hari menjelang Galungan yaitu pada hari Minggu Pahing Dunggulan
disebut hari Penyekeban. Pada hari ini Sang Hyang Tiga Wisesa yang berwujud Sang
Kala Tiga turun ke dunia untuk mengganggu manusia atau menggoda umatnya yang

77
tidak mampu mengendalikan dirinya. Yang disebut Sangkala Tiga adalah wujud
krodanya Sang Hyang Rudra. Oleh karena itu setiap umathendaknya selalu
waspada dan berusaha menyucikan serta mengendalikan dirinya dari berbagai
godaan dan kesusahan (pratyaksa anyekung ikang adnyana nirmala). Saat ini baik
sekali untuk melaksanakan tapa, brata, yoga, semadhi terutama bagi umat yang
mampu (para sujana, sulinggih, dan yang lainnya) melaksanakannya. Sedangkan
umat yang lainnya dapat melakukan kegiatan spiritual yang wujudnya berupa
persiapan menyediakan dan menyimpan buah-buahan untuk kepentingan Yajna
dan pada saat itulah mereka dapat mengkonsentrasikan diri menuju ke arah
kesucian ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa guna mereka dapat
terhindar dari gangguan dan cobaan dari Sang Kala Tiga. Memang di lain pihak
Sang Kala Tiga bukan semata menganggu kehidupan manusia, tetapi juga
bertujuan untuk menguji kekuatan imannya dalam menegakkan dharma
(kebenaran dan kebajikan). Apabila umatnya terlena akan ajaran kebenaran
(dharma) ataupun melanggar norma-norma agama Hindu, maka Tuhan turun
menampakkan diri melalui awataranya di dunia guna menuntun umat manusia
ke arah yang benar.
Jadi, makna dari Penyekeban sangatlah mulia sekali dalam tujuan hidup
manusia yakni sebagai usaha untuk mengendalikan diri agar dapat menegakkan
dharma yang merupakan perahu (pengantar) untuk mencapai kehidupan yang lebih
sempurna.

4. Hari Penyajahan Galungan


Jatuhnya pada hari Senin Pon Dunggulan. Pada saat ini umat mulai
mempersiapkan diri untuk membuat sajen/banten dengan harapan bahwa kegiatan
ini dapat lebih meningkatkan daya konsentrasi diri ke hal-hal yang bersifat suci
guna dalam kewaspadaan selalu terkendali menundukkan atau mengalahkan Sang
Kala Tiga, tentunya agar tidak menggona umat manusia tetapi selalu memberikan
perlindungannya.
Secara umum umat biasanya mempersiapkan diri untuk membuat jajan,
membuat kacang-kacangan, saur, serundeng, serta membuat jejahatan sekaligus

78
menata sesajen untuk hari-hari Galungan. Pada hari penyajahan ini pulalah
diusahakan sekali agar tidak terjadi pertengkaran, karena makna utama penyajahan
tiada lain adalah kesungguhan atau keseriusan hati untuk menyambut Galungan.
Melakukan kerja atau usaha yang positif guna mempersiapkan diri menyambut
perayaan Galungan adalah suatu hal yang mulia dan terpuji, karena juga dapat
memusatkan pikiran yang tertuju pada Ida Sang Hyang Widhi, hal ini ditegaskan
dalam kitab suci Bhagawadgita, IV. 24, yang berbunyi:
"Brahma 'rpanam brahma havir
brahmagnau brahmana hutam
brahmai va tena gantavyam
brahmakarma samadhina"

Artinya:
Dipujanya Brahman, persembahannya
Brahman oleh Brahman dipersembahkan
dalam api Brahman dengan memusatkan
meditasinya kepada Brahman
dalam kerja ia mencapai Brahman.

Justru itu ciptakanlah suasana yang tenteram, kedamaian, kesabaran, dan


pengendalian diri untuk mengalahkan godaan yang timbul dalam diri.

5. Hari Penampahan Galungan


Sehari sebelum perayaan Galungan dilaksanakan perayaan Penampahan Galungan
yang jatuhnya pada hari Selasa Wage Dunggulan. Pada saat ini dilaksanakan
kegiatan memotong hewan, seperti: babi, ayam, itik, dan hewan yang lainnya
sebagai sarana Yajna. Hari Penampahan Galungan ini bermakna untuk
menaklukkan godaan Sang Kala Tiga, serta menjauhkan segala sifat-sifat
negatif. agar tercipta keharmonisan, ketenteraman, dan kesejahteraan bhuwana
agung dan bhuwana alit. yang secara simbolis diwujudkan dengan kemenangan
dharma (satyam eva jayate na anrtam).

79
Pada saat ini pula dilaksanakan pemasangan busana, gantungan-gantungan
serta perlengkapan lainnya untuk hari esoknya. Kemudian sore harinya
dilakukan pemasangan Penjor Galungan sebagai simbol cetusan rasa terima
kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi. Penjor Galungan ini dilengkapi dengan
sanggarnya, sampyan, lamak, gantung-gantungan, tetandingan dengan pala
bungkah, pala gantung. buah-buahan, jajan, dan hiasan lainnya. Sedangkan
mengenai upakaranya dapat disuguhkan sajen berupa: byakala, prayascita,
sesayut, dan suguhan segehan agung serta nasi sasahan berwarna putih lima,
sembilan tanding warna merah, empat tanding warna hitam dengan ikatannya
berisi urab-uraban, kemudian diisi canang genten, toya anyar, dupa, dan
tetabuhan.

6. Hari Raya Galungan


Setelah semua persiapan menyambut perayaan Galungan telah dapat
dilaksanakan pada hari-hari sebelumnya, maka tibalah saatnya pada hari Rabu
Kliwon Dunggulan sebagai puncak perayaan. Hari Raya Galungan datangnya
setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari. Pada hari inilah merupakan
perayaan kemenangan dharma melawan adharma. Kemenangan dharma dapat
berarti telah terlaksananya kewajiban dan pekerjaan-pekerjaan yang baik, yang
bermanfaat bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi masyarakat, dan juga bagi
bangsa Indonesia tercinta dalam upaya turut mensukseskan pembangunan
Nasional. Bagi umat Hindu pekerjaan-pekerjaan yang baik itu merupakan
suatu Yajna, sebab Yajna merupakan perbuatan dari Ida Sang Hyang Widhi
Wasa yang hams diikuti oleh sedharma (umat Hindu). Oleh sebab itu dalam
perayaan hari raya Galungan, maka persembahan Yajna mengandung tujuan yang
utama yang telah dilaksanakan oleh setiap umat.
Melaksanakan Yajna dengan materi yang berbeda-beda tetapi Sang Hyang
Widhi tetap menerimanya, berikut ini ada ditegaskan dalam Bhagawadgita
yaitu:

"ye yatha mam praphadyante

80
tams tathai'va bhajamy aham
mam vartma'nuvartante
manushyah patha sarvasah".

Artinya:
Dengan jalan bagaimanapun orang-orang mendekati
dengan jalan yang sama itu Aku memenuhi keinginan mereka,
melalui banyak jalan manusia mengikuti jalanku, o Partha.

Dari kutipan di atas tentunya dapat memberikan semangat untuk berusaha


beryajna yang sebanyak-banyaknya sesuai kemampuannya yang diwujudkan
berupa sesajen-sesajen yang ditujukan ke hadapan Hyang Widhi, para Dewa,
leluhur, semua makhluk yang dianggap membantu dalam kehidupan.
Persembahyangan dilaksanakan dengan tujuan untuk memusatkan pikiran
menuju kesucian dan menghilangkan sifat keragu-raguan dan memacu sifat
keberanian dan kebenaran. Mengingat bahwa pada hari raya Galungan juga
dikenal sebagai kemenangan dharma atau pawedalan jagat. Pelaksanaan
perayaan sedapat mungkin agar dilaksanakan sejak pagi hari.
Adapun jenis sesajen yang dihaturkan pada tempat pemujaan meliputi:
tumpeng penyajaan, jerimpen Dewa, ajuman, canang meraka, pesucian, canang
burat wangi, dan yang lainnya disesuaikan dengan keadaan masing-masing.
Sedangkan pada tempat-tempat yang lainnya, seperti di perumahan, subak, di
ladang, hewan peliharaan, disesuaikan dengan desa, kala, patra.
Sehari setelah hari raya Galungan yaitu pada jari Kamis Umanis Dunggulan,
lebih dikenal dengan nama Umanis Galungan. Pada saat ini umat sedharma yang
mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan kekeluargaan juga bersama
anggota keluarga yang lainnya saling kunjung-mengunjungi berbagi suka atas
keberhasilannya menegakkan dharma, selalu mencapai kejayaan dalam
usahanya, serta pada kesempatan ini satu dengan yang lainnya saling memohon
maaf atas segala kekeliruan yang telah diperbuatnya, baik yang timbul dari
pikiran, perkataan, maupun perbuatan yang tentunya dapat mengganggu

81
ketenteraman pihak lain.

7. Hari Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung


Beberapa hari setelah hari raya Galungan yaitu pada hari Sabtu Pon
Dunggulan disebut hari Pemaridan Guru yang bertujuan untuk penyucian
terhadap diri sendiri dengan jalan memohon tirtha pebersihan dan dilanjutkan
dengan mohon sisa Yajna. Sisa Yajna berupa tumpeng guru untuk dimakan
bersama sanak keluarga yang maknanya agar seluruh anggota keluarga
mendapatkan kebahagiaan lahir batin dari Hyang Guru yang dipuja di tempat
pemujaan masing-masing keluarga.
Pada saat ini dihaturkan sajen ketupat banjotan dan ketupat dampulan,
banten meraka, wangi-wangian serta memohon tirtha pebersihan.
Kemudian pada hari Minggu Wage Kuningan tibalah hari Ulihan. Makna
dan hakikat hari Ulihan ini adalah suatu saat kembalinya para Dewata menuju
Kahyangan dan tentunya kita sebagai umatnya senantiasa dianugerahi
kesejahteraan dan umur panjang dalam menempuh masa hidup di dunia ini.
Lima hari setelah hari raya Galuangan yaitu pada hari Senin Kliwon
Kuningan merupakan hari Pemacekan Agung. Saaat ini merupakan tonggak
batas antara permulaan dan berakhirnya kegiatan hari Galungan yakni 30 (tiga
puluh) hari ke depan dan ke belakang, yang dimulai dari hari Tumpek Wariga
dan berakhir pada Rabu Kliwon Pahang.
Upacara Pemacekan Agung ini tujuannya untuk mengembalikan Sang Bhuta
Galungan beserta para pengikutnya kembali ke asalnya masing-masing. Saat ini
disuguhkan Segehan Agung yang memakai penyambleh ayam samalulung.
Adapun pelaksanaan pada sore hari bertempat di depan pintu masuk pekarangan
atau lebih.

8. Hari Kuningan
Suatu upacara untuk menyongsong hari Kuningan, maka persiapannnya
dimulai sejak hari Rabu Pahing Kuningan yaitu tiga hari sebelum hari Kuningan

82
dilaksanakan pemujaan kehadapan Dewa Wisnu dengan mempersembahkan sajen
di tempat-tempat pemujaan.
Kemudian pada hari Jumat Wage Kuningan merupakan hari penampahan
Kuningan sekalian mempersiapkan sajen dan sarana lainnya untuk keesokan
harinya.
Pada hari Sabtu Kliwon Kuningan tibalah hari raya Kuningan yaitu sepuluh
hari setelah Galungan.. Pada hari ini para Dewa serta pitara melakukan penyucian
serta menikmati persembahan yang dipersembahkan dan kemudian kembali ke
kahyangan dengan memberkahi kekayaan, kejayaan, kedamaian (kedirgayusan)
kepada umatnya. Sajen yang dipersembahkan berisi yang berwarna kuning, lauk-
pauk, dan wayang-wayangan. Sedangkan tamiang kolem digantungkan pada
bangunan-bangunan, baik bangunan tempat tinggal maupun tempat pemujaan.
Persembahan sajen endongan yang dilakukan pada hari raya Kuningan
bermakna sebagai bekal yang dipersembahkan oleh manusia menuju ke kahyangan.
Sedangkan tamiang kolem bermakna untuk melindungi manusia dan tempat-
tempat pemujaan, tempat tinggalnya, agar tidak diganggu oleh para bhuta kala
atau kekuatan lainnya yang dapat mengacaukan ketenteraman umatnya, dengan
harapan kedamaian dan kebenaran tetap ditegakkan.
Penggunaan bija kuning mempunyai persamaan dengan nasi kuning yaitu
untuk penyucian terhadap Dewi Durga serta buta kala lainnya.
Pelaksanaan persembahan dilakukan pada pagi hari yang dimulai dengan
pembersihan tempat pelaksanaan upacara dan menghaturkan saj en pengeresikan,
dilanjutkan pemasangan sarana perlengkapan busana pelinggih serta menghaturkan
sesajen pada masing-masing pemujaan yang dihaturkan ke hadapan Sang Hyang
Widhi Wasa beserta manifestasinya, juga ke hadapan Sang Dumadi untuk
memohon berkahnya melalui persembahyangan bersama dengan sanak keluarga,
agar memperoleh perlindungan, keselamatan, kesehataan jasmani dan rohani untuk
selalu tabah dalam menghadapi hidup ini.

9. Rabu Kliwon Pahang atau Upacara Akhir Galungan


Rangkaian pelaksanaan hari raya Galungan berakhir pada hari Rabu Kliwon

83
Pahang yang dikenal dengan nama Buda Kliwon Pegatwakan. Pegatwakan
maknanya bahwa rangkaian upacara Galungan sudah berakhir. Secara etimologis
kata pegatwakan berasal dari kata pegat dan wakan. Kata pegat artinya putus atau
bebas, wakan atau warah artinya bicara. Makna pegatwakan maksudnya
berakhirlah rangkaian atau runtutan Galungan dan bebas dari pantangan-
pantangan yang berlaku saat itu sesuai warah-warah Hyang Widhi dalam
manifestasinya Hyang Durga.
Antara wuku Dunggulan sampai dengan Rabu Kliwon Pahang disebut
Nguncal balung yang lamanya tiga puluh lima hari. Nguncal artinya melepas.
Balung artinya fulang. Jadi. Nguncal balung artinya melepas atau membuang
tulang atau melepaskan kekuatan atau telah dilepasnya kekuatankekuatan sifat-
sifat kala dari Sang Hyang Kala Tiga, baik dalam wujud Purusa maupun pradhana
yang tujuannya untuk kembali ke alam somia yaitu alam ketenangan. Secara sekala
semua sarana upakara diambil dilepas kembali, seperti lamak, candiga, gantung-
gantungan, tamiang, endongan, dan sebagainya dikumpulkan dan dibakar, abunya
dimasukkan pada sebuah kelapa gading (kelapa yang berkulit kuning) yang muda
dan dikasturi kemudian ditanam di tengah-tengah halaman rumah sebagai simbol
kekuatan hidup.
Mengenai uparakanya seperti tumpeng, ajuman, canang lenga wangi, canang
burat wangi, kwangen, dan segehan manca warna.
Pelaksanaannya dimulai membersihkan sarana upakara yang telah dipakai,
dilanjutkan menghaturkan sajen di Sanggar Penjor yang ditujukan ke hadapan Sang
Hyang Tiga Wisesa, kemudian penjor dapat dicabut sekalian dibakar serta abunya
ditanam di halaman rumah dengan memohon ke hadapan Ibu Pertiwi agar
memberikan perlindungan, keselamatan, dan kekuatan hidup. Sebagai acara
terkahir adalah melaksanakan persembahan yang bersama mohon tirtha serta bija.
Dengan berakhirnya pelaksanaan upacara pegatwakan maka berakhir pulalah
rangkaian upacara hari raya Galungan. Pelaksanaan seperti ini secara berkala
dirayakan setiap enam bulan sekali atau setiap dua ratus sepuluh hari sekali.
Perlu diingat bahwa dari semua rangkaian hari raya Galungan yang telah
diuraikan di atas mengandung makna yang luhur dalam upaya meningkatkan

84
pembinaan mental spiritual umat sedhrama, guna terwujudnya umat yang tangguh
dan tahan uji serta penuh tanggung jawab dalam menunaikan dharma agama dan
dharma negara.

f. Tumpek Uye
Tumpek Uye jatuh pada hari Sabtu Kliwon Uye yang lebih dikenal dengan
sebutan Tumpek Kandang Pada saat ini merupakan saat untuk melakukan hal
kebaikan kepada segala jenis binatang dan perbuatan ini adalah sebagai perwujudan
rasa timbal balik antara manusia dengan binatang yang telah banyak membantu
manusia. Manusia wajib melakukan hal yang baik terhadap binatang, dengan
demikian binatang-binatang yang ada tidak akan terjadi kepunahan atau
kelangkaan. Umat Hindu secara tradisi wajib menselaraskan kehidupan binatang
melalui persembahan Yajna-yajna pada hari Tumpek Kandang tersebut. Secara
sekala kita memelihara kehidupan binatang dengan membuatkan kadang,
memberikan makan, membersihkan kotorannya dengan maksud agar binatang
tersebut cepat besar dan menghasilkan, kalau sudah menghasilkan yangbanyak maka
kehidupan manusia pun menjadi tenteram dan bahagia. Suguhan upacara Nyaag
yaitu memberikan makan berupa ketupat, lauk-pauk yang ada pada sajen tersebut.
Upacara Tumpek Kandang tergolong pelaksanaan Dewa Yajna karena yang
dipuja adalah Sang Hyang Rare Angon yaitu Hyang Siwa dalam manifestasinya
sebagai pengembala. Namun secara kenyataan dapat digolongkan dalam
pelaksanaan Bhuta Yajna, karena umat berupaya menselaraskan kehidupan
binatang itu sendiri dengan jalan memelihara binatang atau mengandangkannya
secara teratur.

g. Hari Tumpek Wayang


Setiap hari Sabtu Kliwon Wayang umat Hindu melaksanakan perayaan hari
Tumpek Wayang, karena saat ini merupakan hari yang baik untuk menghaturkan
rasa bakti ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang
Hyang Iswara.

85
Sang Hyang Iswara sebagai penguasa bunyi-bunyian yang bernilai seni
budaya dan yang berkaitan dengan upacara keagamaan seperti halnya: gong,
gender, angklung, gambang, wayang, genta, dan lain-lainnya yang bersifat sakral.
Saat ini biasanya umat menghaturkan upacara puja wali dengan maksud dapat
memberikan kedamaian batin serta dapat membangkitkan semangat dan kegairahan
hidup dalam suasana penuh kesucian. Perayaan Tumpek Wayang juga dikenal
dengan nama Tumpek Ringgit.

h. Hari Saraswati
Setiap hari Sabtu Umanis Watugunung diperingati hari raya Saraswati.
Perayaan Saraswati merupakan peringatan turunnya ilmu pengetahuan. Pemujaan
yang ditujukan ke hadapan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Kata Saraswati berasal dari kata Saras artinya sesuatu yang mengalir,
percakapan, kata-kata atau pengetahuan dan wati artinya yang memiliki. Jadi,
Saraswati bermakna Dewanya kata-kata, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Perayaan Saraswati umumnya dirayakan oleh seluruh umat Hindu, para
pelajar, guru-guru, cendekiawan, warga masyarakat baik di sekolah-sekolah,
kantor-kantor, rumah-rumah maupun dalam lingkungan masyarakat setempat.
Upacara pemujaan Saraswati dilaksanakan pada pagi hari atau sebelum
tengah hari dan apabila dilaksanakan pada siang hari adalah kurang bermanfaat,
karena Hyang Saraswati sudah kembali ke tempatnya. Pula sebelum tengah hari
tidak diperkenankan untuk membaca dan menulis mantra atau kesusastraan,
dimaksudkan agar Hyang Saraswati senantiasa menganugerahkan sinar
pengetahuan sucinya pada kita. Dewi Saraswati diwujudkan dengan aksara "OM
Kara" dan dipersonifikasikan sebagai wanita cantik bertangan empat memegang
wina, genitri, kropak, di sekitarnya ada merak dan angsa. Adapun makna simbolis
yang terkandung di dalamnya adalah:
- Wanita cantik bermakna bahwa ilmu pengetahuan memberi daya tarik dan
disenangi oleh setiap orang.
- Bertangan empat maknanya adalah sebagai kekuatan atau kemampuan untuk
menjangkau segala arah.

86
- Kropak atau cakepan maknanya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci.
- Wina bermakna bahwa pengetahuan itu dapat memberikan rasa indah,
menarik, estetis.
- Genitri bermakna bahwa pengetahuan itu tiada habis-habisnya untuk
dipelajari, karena tiada berawal dan tiada berakhir.
- Angsa bermakna sebagai suatu ketenangan dan kewaspadaan atau dengan
pengetahuan dapat meningkatkan ketenangan dan kesadaran atau
kewaspadaan diri.
- Burung Merak sebagai lambang keagungan, kewibawaan, martabat yang
mulia yang dapat membantu dan membahagiakan makhluk ciptaan Tuhan.

Semua kitab suci, buku-buku, lontar-lontar, maupun buku pengetahuan


lainnya dikumpulkan pada suatu tempat untuk diupacarai dengan maksud agar
Hyang Saraswati memberikan sinar sucinya dengan menganugerahkan
pengetahuan suci. Setelah upacara selesai maka pada hari Minggu Pahing Sinta
dilanjutkan dengan upacara Banyu Pinaruh yang bertujuan untuk penyucian diri
lahir batin. Biasanya dilakukan penyucian secara lahir dengan mandi di sungai,
danau, laut, di tempat-tempat yang suci atau dengan menggunakan air
kumkuman. Sedang penyucian batinnya yaitu dengan mohon tirtha Saraswati.
Pelaksanaan perayaan Saraswati telah berakhir yang dilanjutkan dengan mohon
surudan yang maknanya bahwa kita mendapatkan anugerah kebijaksanaan dan
terbebas dari kebodohan.

i. Upacara Siwaratri
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang
Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang
Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu, karena pada
hari tersebut Sang Hyang Siwa sedang beryoga. Sehubungan dengan itu umat
Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri,
pemusatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa dalam usaha menemukan

87
kesadaran diri atau atutur ikang atma ri jatinya, dan hal ini diwujudkan dengan
melaksanakan brata Siwaratri.
Adapun Brata Siwaratri terdiri dari:
- Yang tergolong pelaksanaaan utama seperti: Monabrata yaitu berdiam diri
dan tidak berbicara sambil memusatkan pikiran ke hadapan Hyang Siwa.
Upawasa yaitu berusaha untuk tidak makan dan tidak minum.
Jagra atau Tan Aturu/Tan Mrema yaitu selalu berjaga, begadang, tidak tidur
sambil mempelajari ajaran agama Hindu dan memusatkan pikiran pada hal-
hal kesucian.
- Yang tergolong pelaksanaan madhya adalah upawasa dan jagra.
- Sedangkan yang tergolong pelaksanaan nista adalah jagra.

Dari beberapa pelaksanaan Brata Siwaratri di atas dapat dilaksanakan sesuai


dengan kemampuan yang sifatnya tidak memaksa atau mengikat, di sini
dituntut kesadaran diri dari masing-masing umat Hindu dalam melaksanakan
brata tersebut dan tentunya pula disesuaikan dengan situasi setempat atau desa
kala patra.
Mengenai waktu pelaksanaan hari Siwaratri jatuh pada hari Catur dasi
krsnapaksa bulan Magha atau pada Panglong ping 14 sasih Kapitu.
Bulan Magha atau sasih Kapitu ini merupakan malam yang tergelap dalam
satu tahun dan umat Hindu diingatkan untuk dapat menemukan kesadaran dirinya
walaupun saat itu merupakan malam yang tergelap.
Lebih jauh bahwa Siwaratri merupakan malamnya Siwa sebagai suatu saat
yang baik memberikan penghormatan ke hadapan Hyang Siwa. Dewa Siwa
dalam kekuatannya sebagai melebur atau pralina; untuk mencapai kesucian atau
kesadaran diri yang memberikan harapan untuk bahagia. Kata Ratri artinya
malam dan juga diartikan kegelapan. Jadi, Siwaratri suatu malam untuk
melenyapkan kegelapan hati menuju jalan yang terang atau benar.
Upacara Siwaratri bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada manusia
untuk menyadari bahwa dalam dirinya selalu ada pertarungan antara sifat
kebenaran dan ketidakbenaran atau sifat kedewataan dan sifat keraksasaan (Suri

88
Sampad dan. Asuri Sampad). Atau kalau dikaitkan dengan perilaku manusia
maka adanya pertentangan antara perbuatan yang baik dengan perbuatan yang
buruk (subhakarma dan asubhakarma).
Namun demikian manusia selalu berharap dan berusaha agar Tuhan Yang
Maha Esa (Hyang Siwa) selalu melindungi umatnya agar dapat memperkecil
perbuatan asubhakarma (kegelapan) dan memperkecil pula perbuatan yang
bertentangan dengan dharma. Oleh karena itu, sebaik-baik manusia pasti pernah
berbuat dosa selama hidupnya. Menyadari hal itu, perayaan Siwaratri berbuat
dimaksudkan memberikan motivasi pada setiap umat Hindu untuk selalu sadar
dengan berusaha semaksimal mungkin menghindari perbuatan dosa dan tidak
tertutup jalan untuk kembali sadar berbuat dharma. Sebab manusia yang
diterima oleh Tuhan adalah manusia yang volume perbuatan dharmanya jauh
lebih besar dari perbuatan adharmanya. Siwaratri memotivasi manusia agar tidak
berputus asa dan kembali pada jalan dharma. Pintu dharma terbuka lebar bagi
manusia yang menyadari akan perbuatannya yang keliru.

j. Upacara Hari Raya Nyepi


Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru Saka yang jatuh pada
penanggal apisan sasih kedasa (eka sukla paksa waisak) sehari setelah Tilem
Kesanga (Panca Dasi Krsna Paksa Caitra). Penyucian Bhuwana Agung dan
Bhuwana Alit (makrokosmos dan mikrokosmos) untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya
kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan
sundaram (keharmonisan/keindahan).
Untuk merayakan hari raya Nyepi atau Tahun Baru Saka, maka ada dua
kegiatan penting, yaitu: upacara Melasti dan upacara Pecaruan. Lebih lanjut dalam
modul ini hanya dibicarakan mengenai pelaksanaan upacara melasti yang ada
kaitannya dengan upacara Dewa Yajna. Sedangkan mengenai upacara pecaruan
merupakan pelaksanaan upacara Bhuta Yajna yang nantinya akan diuraikan dalam
modul berikutnya.
Sebagaimana dimaklumi bahwa rangkaian perayaan hari raya Nyepi

89
dimulai dengan acara melasti yang dikenal juga dengan nama melis atau
mekiyis. Upacara melasti ini mempunyai makna untuk menyucikan Area,
Pratima, Nyasa atau Pralingga, karena kesemua sarana ini sebagai media
untuk memusatkan pikiran dalam rangka memuja Sang Hyang Widhi, para
Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari, Leluhur. Upacara melasti ini dilaksanakan tiga
atau empat hari sebelum had raya Nyepi. Pada saat melasti inilah semua Arca,
Bratima dan yang lainnya disucikan ke laut atau ke mata air terdekat yang
dianggap suci seperti: danau, sungai, atau tempat pesucian khusus yang ada
sesuai dengan tradisi setempat. Upacara Melasti maknanya yaitu melenyapkan
penderitaan masyarakat dan kekotoran dunia serta untuk memperoleh air suci
kehidupan di tengah-tengah lautan.

Setelah acara melasti dilaksanakan, maka Sang Hyang Widhi, para Dewa-
Dewi, Bhatara-Bhatari diistanakan di pura atau di bale agung yang secara
simbolis dengan menstanakan arca, pratima, nyasa atau pralingga tersebut dan
lamanya nyejer sampai dengan telah dilaksanakannya upacara Bhuta Yajna
yaitu sehari sebelum Nyepi.
Saat sehari sebelum hari raya Nyepi juga dikenal pengerupukan, yang secara
simbolis diwujudkan dengan pelaksanaan meobor-obor dan mengarak ogoh-ogoh
keliling desa dan juga di sekitar pekarangan rumah sebagai simbolis untuk
mengusir para bhuta kala atau makhluk jahat yang mengganggu kehidupan
manusia.
Kemudian pada puncak hari raya Nyepi, maka seluruh umat Hindu wajib
melaksanakan catur brata nyepi atau melaksanakan tapa, brata, yoga, dan
semadhi, Adapun caturbrata nyepi yang dimaksudkan yaitu:
a. Amati Geni yakni tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
b. Amati Karya yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan
meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
c. Amati Lelungaan yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas
diri/introspeksi diri.
d. Amati Lelangaan yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan

90
pemusatan pikiran terhadap Isang Sang Hyang Widhi Wasa.

Catur brata nyepi ini dilaksanakan selama sehari penuh atau selama 24 jam.
Sehari setelah perayaan Nyepi, maka dilanjutkan dengan Ngembak Agni (labuh
brata/lebar puasa) sebagai hari selesainya melakukan berbagai bentuk brata atau
upawasa.
Pada saat Ngembak Agni ini umat melaksanakan kunjungan untuk
"
Upaksama" (saling memaafkan) dan melaksanakan dharma santi baik dalam
lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga
dapat dilakukan dengan melakukan kunjungan dalam keluarga dan
menyampaikan ucapan selamat tahun baru atas terbinanya kerukunan dan
perdamaian dalam keluarga. Mengenai pelaksanaannya dapat dilaksanakan pada
saat ngembak agni dan beberapa hari sesudah itu. Selanjutnya dharma santi
dalam lingkungan masyarakat ataupun pada instansi tertentu disesuaikan
dengan tradisi setempat. Pelaksanaan dalam lingkungan masyarakat dapat diisi
kegiatan dharma wacana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung, kekawin,
pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan bersama, pentas
seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan dana punia kepada yang
patut menerimanya.

k. Upacara Ngusaba Nini dan Ngusaba Desa


Di sini perlu juga kami ketengahkan uraian tentang "ngusaba nini ngusaba
desa" yang juga merupakan salah satu kegiatan upacara Dewa Yajna. Walaupun
pelaksanaan upacara Ngusaba Nini dan NgusNa Desa masih dirasakan belum
populer bagi umat Hindu di Indonesia, maka ada baiknya juga kami uraikan
sekilas mengenai makna pelaksanaannya.
Upacara Ngusaba Nini merupakan suatu perayaan/peringatan yang dilakukan
pada tempat pemujaan yang berhubungan dengan masalah pertanian atau subak.
Upacara selamatan untuk lahan pertanian yang basah terutama yang
menghasilkan padi dan yang lainnya disebut dengan Ngusaba Nini. Sedangkan
yang berkenaan dengan upacara selamatan pada lahan kering (ladang) dikenal

91
dengan nama Ngusaba Desa. Upacara Ngusaba Nini dan Ngusaba Desa bertujuan
agar kegiatan pertanian dapat menghasilkan dengan baik dan tidak diganggu
oleh segala hama dan penyakit yang dapat merugikan pertanian, seperti: tikus,
walang sangit, ulat, wereng, dan hama serta penyakit lainnya. Pelaksanaan
upacara ngusaba nini dan ngusaba desa memiliki keterkaitan yang bertujuan
agar terwujud kesucian terus-menerus yang tentunya bumi atau wilayah
pertanian itu dapat menjadi subur dan dapat menghasilkan dengan baik.
Ngusaba Desa dapat juga diartikan sebagai suatu upacara yang berfungsi untuk
penyucian/samskara terhadap karang desa itu sendiri termasuk juga perumahan-
perumahan yang ada di dalamnya. Adapun pendukung pelaksanaan upacara ini
adalah kerama desa atau warga desa itu sendiri yang pelaksanaannya langsung
di Pura Desa. Sedangkan Ngusaba Nini adalah suatu rangkaian upacara
selamatan pada suatu pura yang satu dengan yang lainnya ke hadapan Hyang
Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri (saktinya Dewa Wisnu) sebagai
penguasa kesuburan dan kemakmuran. Dewa Wisnu sebagai lambang kesuburan
dan kemakmuran yang diwujudkan dengan Dewa Nini atau Bhatari Sri yang
selalu dipuja oleh umat Hindu khususnya para petani.
Mengenai pelaksanaan upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini agar
dipilih waktu-waktu yang baik, seperti pada Purnama Kedasa (10) yang dikenal
dengan nama Merthabumi, karena pada saat ini air terus mengalir atau murah
serta saat itu hasil pertanian menghasilkan dengan baik. Juga pada Tilem dan
Purnama sasih Kapat (4) merupakan juga hari yang baik sekali, sedangkan
pada sasih Kasa (1) adalah madya (sedang), tetapi kalau pada saat sasih Desta
(11) dan Sada (12) adalah saat yang paling buruk yang disebut Durghamerta
yang menyebabkan munculnya hama dan penyakit terus-menerus. Hari baik
buruknya inilah perlu diperhatikan, jangan sampai dilanggarnya.

1. Upacara Melaspas
Upacara Melaspas merupakan rangkaian dari mendirikan adanya bangunan-
bangunan suci yaitu dengan mempersembahkan sesajen-sesajen pada bangunan
tersebut, yang bertujuan untuk menyucikan semua bangunan dan menstanakan Dewa

92
atau Bhatara-Bhatari yang dimaksud, atau juga ingin mempertemukan adanya
unsur sekala (nyata) dengan unsur niskala (tidak nyata). Sebagai unsur
sekalanya berupa bangunan dan pada penyungsungnya sedangkan unsur
niskalanya adalah Ida Bhatara-Bhatari yang distanakan.
Upacara Melaspas ini sebelumnya sudah dilaksanakan peletakan batu
pertama serta oleh Sulinggih atau Pandita dilakukan pemendeman atau pengisian
pedagingan. Setelah persiapan sesajen yang akan disuguhkan ditempatkan di
sekitar bangunan suci, maka dilanjutkan dengan menghaturkan upacara
pesaksian ke surya, nunas tirtha pengelukatan/pebersihan dan melakukan
pengurip-uripan. Semua bangunan diperciki tirtha dilanjutkan dengan pemujaan
pemakuhan (pendirian bangunan suci) dan juga pemujaan pemelaspasan
(penyucian), kemudian dilanjutkan dengan sembahyang bersama sekaligus
mohon tirtha.

m. Upacara Piodalan
Upacara Piodalan merupakan rangkaian upacara peringatan kembali untuk
memuja manisfestasi Ida Hyang Widhi pada suatu pura atau tempat-tempat
pemujaan tertentu yang pelaksanaannya dilakukan setiap waktu yang telah
ditentukan (setiap enam bulan atau setahun sekali).
Upacara Piodalan bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih atau
rasa angayubagia atas keselamatan dan kesejahteraan yang dianugerahkan
Tuhan melalui persembahan sesajen-sesajen.
Upacara piodalan pada tempat suci tertentu biasanya dituntun langsung
oleh Sulinggih (oleh Pandita dan Pinandita) Pura setempat.

93
BAB IV
Rsi Yajna

4.1 Pengertian Rsi Yajna


Melaksanakan persembahan yang tulus ikhlas dan penuh kesucian yang
dikenal dengan istilah Yajna, hal ini perlu disadari bahwa manusia pada
hakikatnya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
maka sewajarnyalah kita wajib melaksanakan Yajna dimaksud baik ke hadapan
Tuhan Yang Maha Pencipta, ke hadapan para Rsi atau orang-orang suci, ke
hadapan sesama manusia, ke hadapan para leluhur, dan juga ke hadapan para
makhluk bawahan yang ada di alam raya ini. Menyadari akan hat tersebut maka
melalui Yajna ini telah dikodratkan oleh Tuhan ketika menciptakan manusia di
dunia, hal ini ditegaskan dalam kitab suci Bhagawadgita, III,10 yang berbunyi:

"Sahayajna prajah sristwa


puro'waca prajapatih
anena prasawisya dhiwam
esa wo' stwista kamadhuk"
Artinya:
Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan Tuhan telah menciptakan manusia
melalui Yajna dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana
lembu perahan yang memerah susunya karena keinginanmu (sendiri).

Dari bait sloka Bhagawadgita di atas mengingatkan kepada kita betapa


pentingnya kewajiban umat untuk beryajna termasuk di sini melaksanakan
persembahan atau korban suci kepada orang-orang suci atau para marsi yang
disebut Rsi Yajna.
Mengingat melaksanakan persembahan yang tulus ikhlas merupakan hal
yang penting dan merupakan kewajiban yang mulai baik oleh umat Hindu tanpa
mengenal apakah usianya masih muda atau tua, pria atau wanita, suami atau istri,

94
yang kaya ataupun miskin, maka di sini dituntut kesadarannya yang tinggi dengan
penuh kebersamaan.

"Prajanartha striyah
srstah samtanartham ca
manawah
tasmat sadharano
dharmah srutau patnya
sahaditah".
(M. Dh. S. IX, 96).

Artinya:
Untuk menjadi ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki
diciptakan. Karena itu upacara ditetapkan dalam Weda untuk dilaksanakan
oleh suami (pria) bersama dengan istri (wanita).

Dari sloka di atas, ternyata manusia adalah ciptaan Tuhan. Ia diciptakan


dengan jenis kelaminnya dan masing-masing jenis kelamin menyandang peran
tertentu. Dalam kebersamaan antara pria dan wanita, maka diharapkan akan
dapat menunjang kehidupannya termasuk melaksanakan upacara keagamaan,
seperti: Dewa Yajna, Rsi Yajna, dan Yajna-yajna yang lainnya.
Selanjutnya dalam kitab suci Manawadharmasastra ada ditegaskan
mengenai beberapa Yajna yang dilaksanakan oleh umat Hindu sebagai berikut.
"rsi yajnam dewa yajnam
bhuta yajnam ca sarwada
nryajnam pitra yajnam ca
yatha sakti na hapayet".
(Manawadharmasastra, IV, 21).

Artinya:

95
Hendaknya jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi Yajna, Dewa
Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna, dan Pitra Yajna.
Menyimak bait sloka di atas, maka pelaksanaan upacara Rsi Yajna merupakan
salah satu upacara Yajna dari beberapa Yajna yang ada. Selanjutnya dalam kitab
suci Agastya Parwa dij umpai keterangan tentang rincian Panca Yajna yang juga
menguraikan hakikat dari Rsi Yajna, yang berbunyi:
"Kunang ikang yajna lima pratekanya, lwirnya: dewa yajna, rsi yajna,
pitra yajna, bhuta yajna, manusa yajna. Nahan tang panca yajna ring loka.
Dewa Yajna ngaranya taila pwa krama ri bhattara Siwagni, maka gelaran
ring mandala ring bhattara, yeka Dewa Yajna ngaranya, rsi yajna ngaranya
kapujan sang pandita mwang sang wruh ri kalingan ing dadi wwang ya rsi
ngaranya; ..."
(Agastyaparwa, 35. b)

Artinya:
Adapun yang disebut Panca Yajna, perinciannya, sebagai berikut: Dewa
Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna. Demikianlah
Panca Yajna di dalam masyarakat. Dewa Yajna adalah persembahan wijen
ke hadapan Bhattara Siwagni, yang dipersembahkan di atas altar pemujaan,
itu disebut Dewa Yajna. Rsi Yajna adalah penghoramatan kepada para
pendeta, mengetahui hakikat hidup menjelma sebagai manusia.

Dalam kutipan sloka di atas diingatkan kepada kita seluruh sedharma untuk
dapat melakukan suatu usaha yang bersifat positif ataupun kebaikan kepada para
pendeta atau orang suci agama Hindu sesuai dengan kemampuan yang ada dan
sesuai pula dengan keadaan masing-masing.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Pendeta/pandita adalah rohaniwan Hindu
yang tergolong Dwijati. Pendeta/Pandita atau disebut pula Sulinggih. Sulinggih
itu mempunyai kedudukan yang khusus dalam agama Hindu yang hanya bisa
didapat dengan memenuhi syarat-syarat dan melalui upacara pediksaan
(penyucian) menurut sasana dan ketentuan-ketentuan Parisada Hindu Dharma

96
Indonesia (PHDI). Pada dasarnya orang yang telah didwijati diberikan berbagai
sebutan tergantung pada ketentuan keluarga dan wamsanya. Ada yang disebut
pedanda, rsi, bhagawan, bujangga, empu, dan dukuh. Semua dwijati itu
mempunyai kedudukan yang sama/sejajar dalam pandangan agama Hindu.
Keseluruhannya termasuk pendeta karena semua gelar dwijati itu baru oleh
dipakai setelah melalui proses upacara diksa.
Selanjutnya di dalam kitab suci Yajur Veda XX, 25 diuraikan tentang
diksa, sebagai berikut:
"Dengan melakukan brata seseorang memperoleh diksa,
Dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina,
Dengan daksina seseorang melaksanakan sraddha
Dan dengan sraddha seseorang memperoleh satya."

Brata adalah suatu janji diri untuk melaksanakan patangan-pantangan


keagamaan agar mendapat kesucian atau dwijati. Daksina adalah pendapatan
yang suci karena didapatkan dari perbuatan suci dan terhormat. Sraddha artinya
keyakinan atau keikhlasan untuk mengabdi pada Sang Hyang Widhi. Satya
adalah kebenaran yang tertinggi. Jadi, Rsi Yajna adalah korban suci yang tulus
ikhlas untuk kesejahteraan para rsi atau punia yang berjiwa suci serta
mengamalkan segala ajaran rsi.
Rsi Yajna juga sering disebut Brahma Yajna, intinya adalah yajna yang
ditujukan kepada Rsi atau Brahma yaitu bagi mereka yang dianggap sebagai
penerima wahyu dan penggubah Weda.
Setiap umat Hindu berpegang kepada Weda dan memiliki pandangan hidup
berdasarkan Weda. Umat Hindu menjadi manusia yang berbudaya dan berbudi
pekerti yang luhur atau manusia Indonesia seutuhnya adalah juga karena Weda.
Oleh karena itu, maka setiap umat Hindu merasakan memiliki hutang (rsi rnam)
kepada para maha rsi atau para Brahma. Brahma adalah dewa yang dianggap
berkuasa atas weda serta menyampaikan ajaran itu melalui para maha rsi, oleh
karena itu bahwa brahma atau maha rsi sanga besar jasanya terhadap kemajuan
dan peningkatan taraf hidup umat manusia. Dan j a s a -jasa para rsi itulah kita

97
wajib untuk memberikan persembahan atau penghormatan sebagai balas budi
yang baik dengan selalu ingat akan kewajiban untuk melaksanakan Yajna
kepada para maha rsi. Hal-hal inilah yang mendorong umat Hindu untuk tetap
hormat dan memberikan persembahannya dengan melaksanakan Rsi Yajna.
Rsi adalah orang suci yang telah memberikan tuntunan hidup untuk menuju
kebahagiaan lahir bathin baik di dunia dan di akhirat. Orang suci yang demikian,
secara berkesinambungan turun ke dunia untuk memberikan tuntutan kepada
umat manusia. Pemujaan dan penghormatan tidak hanya terbatas kepada para
rsi yang telah lampau, tetapi dilaksanakan pula kepada yang meneruskan tugas
dan ajaran beliau. Dengan demikian bahwa Rsi Yajna adalah upacara
penghormatan serta pemujaan yang ditujukan kepada para rsi atau orang-orang
suci agama Hindu.
Selanjutnya mengenai uraian yang berkenaan dengan bagaimana tujuan dan
pelaksanaannya, berikut ini akan diuraikan secara sekilas dalam modul ini.

4.2 Tujuan Rsi Yajna


Segala sesuatu yang dilaksanakan yang berkaitan dengan persembahan atau
pengorbanan yang suci dan tulus ikhlas, maka sudah tentu mempunyai makna
tertentu pula. Persembahan itu merupakan sesuatu yang bersifat kebaikan atau
yang menyenangkan orang lain yang kita persembahkan seperti halnya kepada
para rsi atau orang-orang suci. Apa pun wujudnya persembahan itu baik yang
mempunyai nilai materi maupun yang mengandung nilai spiritual yang dilandasi
oleh dharma, hal demiki an dapat dikatakan sebagai suatu Yajna. Pelaksanaan
berbagai Yajna tentunya mempunyai tujuan. Secara umum tujuan pelaksanaan
Yajna adalah untuk menebus atau membayar utang (kewajiban) kita sebagai umat
Hindu.
Sebagaimana yang ditegaskan dalam ajaran agama Hindu bahwa kelahiran
kita sebagai manusia mempunyai tiga kewajiban atau utang yang tentunya
hendaknya ditunaikan atau ditebus sesuai dengan swadharmanya masing-masing
serta situasi di mans kita berada. Adapun ketiga utang yang dimaksudkan yang
dikenal dengan nama tri rnam (tiga hutang/kewajiban) yaitu:

98
a. Dewa Rna yaitu merupakan utang/kewajiban yang ditujukan ke hadapan Sang
Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, atas terciptanya dunia ini
beserta isinya, juga atas perlindungan dan pemeliharaan-Nya. Dalam
kaitannya dengan pelaksanaan Yajna, biasanya Dewa Rnam ini ditebus
dengan pelaksanaan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna.
b. Pitra Rnam yaitu kewajiban atau utang jasa dan pemeliharaan secara lahiriah
kepada para leluhur. Pitra Rnam dapat ditunaikan atau dibayar melalui
pelaksanaan Pitra Yajna dan Bhuta Yajna.
c. Rsi Rnam yaitu utang berupa ilmu pengetahuan kepada maha rsi atau
pandita (pedanda) yang senantiasa mengabdikan diri demi kesejahteraan
umat dan membentuk manusia yang berkepribadian luhur, cakap, dan
memiliki etika (susila). Rsi Rnam dapat ditunaikan dengan melaksanakan
Rsi Yajna yaitu suatu korban suci yang tulus ikhlas untuk kesejahteraan para
rsi (pembina rohani) serta dengan mempelajari dan mengamalkan ajaran
kebenaran.

Mengingat rsi rnam merupakan utang kepada para maha rsi dan orang-orang
suci agama Hindu yang dibayar dengan pelaksanaan rsi Yajna, maka dari itu
tujuan melaksanakan upacara rsi Yajna adalah untuk membayar utang kepada para
maha rsi/orang suci agama Hindu.
Kalau kita kenang jasa-jasa atau pengabdian para maha rsi atau orang suci
agama Hindu yang begitu mulianya dalam upaya untuk menyelamatkan umat dari
berbagai kegelapan, kebodohan, penderitaan, kesalahan, dan berbagai bencana,
maka betapa pentingnya dan sangat mulianya usaha umat Hindu untuk dapat
beryajna dengan tulus guna terwujudnya jalan yang terang, manusia yang
cerdas, tercapainya kesejahteraan, mencapai usaha-usaha yang benar/kebajikan,
serta mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
Secara sederhana dapat dikemukakan di sini beberapa harapkan dalam
melaksanakan upacara Rsi Yajna, antara lain :
a. Sebagai persembahan untuk mencapai kesucian lahir batin.
b. Untuk menyampaikan rasa bakti dan terima kasih ke hadapan para maha rsi

99
atau orang suci agama Hindu atas jasa-jasa dan pengabdian yang begitu
besar demi kesejahteraan umatnya.
c. Untuk mengenang kembali jasa-jasa yang luhur para rsi/orang suci.
d. Untuk menjalin rasa kebersamaan dan persatuan yang tulus antara sesama
umat dengan para rsi/ orang suci guna kesinambungan agama Hindu.

4.3 Pelaksanaan Upacara Rsi Yajna


Persembahan yang ditujukan ke hadapan para rsi banyak dijumpai dalam
kehidupan beragama bagi umat Hindu. Persembahan yang tulus ikhlas tersebut
disebut Yajna. Kewajiban beryajna bagi umat Hindu ke hadapan para rsi dan
juga orang suci pelaksanaannya dapat ditempuh dengan berbagai cara, seperti :

a. Menobatkan calon sulinggih (mediksa) menjadi orang suci agama (sulinggih)


Sebagaimana telah diungkapkan secara sekilas di depan bahwa diksa atau
mediksa adalah pensucian atau penyucian, yang juga dikenal dengan nama
pentasbihan atau inisiasi.Diksa atau mediksa merupakan suatu cara untuk
melewati satu fase kehidupan yang baru, dari fase yang belum sempurna
dalam dunia yang lebih sempurna. Dengan diksa itulah seseorang itu akan
dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan, karena dengan melalui diksa itu
akan dapat mempelajari sifat Tuhan itu.
Dengan telah didiksanya seseorang maka ia menjadi diksita yang berwenang
untuk melakukan upacara loka palasraya yaitu sebagai orang suci tempat mohon
petunjuk-petunjuk kerohanian dan sebagai o r an g suci yang dimohon untuk
menyelesaikan upacara agama Hindu. Secara umum gelar atau sebutan orang
yang telah mediksa dan ngeloka pala sraya dikenal dengan nama Pedanda, Rsi,
Mpu, Bujangga, dan Dukuh.
Pendeta atau pandita berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya orang
pandai, cendekiawan, orang bijaksana, sarjana, sujana, dan pendeta. Jadi pendeta
atau pandita adalah orang suci atau rohaniawan Hindu yang telah medwijati
melalui upacara diksa. Dwijati artinya lahir dua kali, pertama dilahirkan oleh ibu
bapak (guru rupaka), kedua dilahirkan pula dan diakui anak oleh seorang guru

100
pengajian nabhe). Oleh karena diksa itu merupakan penyucian seorang walaka
menjadi pandita, maka pandita/ sulinggih itu hendaknya menaati dan memiliki
sesana dan brata tertentu yang mesti ditaati dalam hidupnya. Adanya upacara
diksa-pariksa ini membuktikan bahwa pandita itu telah menjadi orang suci
dengan diksanya (penyuciannya) dan adanya pantangan-pantangan/brata pandita
(pariksa). Bagi yang telah memenuhi persyaratan umur bila belum didiksa
dikenal sebagai walaka dalam tingkatan rohani. Sedangkan yang telah
mediksa/dwijati statusnya sebagai sulinggih untuk melakukan sesananya
okapalasraya, guruloka, dan juga dapat menjadi nabhe. Sulinggih/pandita
dituntut untuk memiliki kesiapan lahir batin untuk melakukan Wedadyana dan
Wedaraksana yaitu mempelajari weda dan menjaga weda. Di samping itu juga
melakukan tirta yatra ke tempat pemujaan (kahyangan jagat dan dang
kahyangan) untuk menyucikan diri.
Adapun syarat-syarat mediksa atau calon sulinggih yaitu :
1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari (yang tidak
berumah tangga).
2. Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya).
3. Apabila yang sudah mempunyai pasangan suami istri yang sah.
4. Memiliki kepribadian yang tenang dan bijaksana.
5. Selalu berpedoman kepada kitab suci Weda.
6. Jika telah berumur minimal 40 tahun.
7. Paham dalam bahasa Kawi, Sansekerta, Indonesia, memiliki pengetahuan
umum, dan mendalami intisari ajaran-ajaran agama Hindu.
8. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai dengan sesana.
9. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana.
10. . Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabhenya yang akan
menyucikan.
11. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun
swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan.

101
12. Telah melalui proses diksa-pariksa yang dinyatakan dengan surat oleh
pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten/Propinsi
setempat.

Kemudian juga diperlukan adanya calon nabhe uang akan menyucikan calon
sulinggih untuk dapat menjadi sulinggih. Mengenai syarat-syarat yang
diperlukan menjadi calon nabhe antara lain:
1. Seseorang yang selalu dalam keadaan bersih dan sehat, baik lahir maupun
batin.
2. Mampu melepaskan diri dari ikatan keduniawian.
3. Memiliki kepribadian yang tenang dan selalu bijaksana.
4. Selalu berpedoman pada ajaran-ajaran dalam kitab suci Weda.
5. Memiliki pemahaman dan mengerti tentang Catur Weda.
6. Mampu membaca Sruti dan Smerti.
7. Teguh melaksanakan dharma sadhana (sering berbuat amal jasa dan
kebajikan).
8. Teguh melaksanakan tapa dan brats.

Dalam upacara diksa ini biasanya dilaksanakan amati raga yaitu suatu makna
simbolis dan spiritual bahwa calon diksita dianggap melepaskan badan kasarnya
dan kemudian akan lahir kembali sebagai dwijati dengan badan yang baru. Juga
dilakukan amati aran yaitu suatu rangkaian upacara diksa pada saat calon diksita
mengganti namanya dari nama walaka menjadi nama sulinggih, seperti pedanda,
maha rsi, bujangga, dan dukuh. Selanjutnya juga dilakukan amati sasana yaitu
suatu sasana sewaktu walaka tidak boleh dilakukan lagi setelah sulinggih,
misalnya sewaktu walaka melakukan kegiatan bertani, berkebun ataupun
berjualan, maka kalau sudan berstatus sulinggih hal itu tidak lagi dilaksanakan.
Amati wesa artinya adanya penggantian atribut walaka diganti dengan atribut
sulinggih, misalnya busana walaka diganti dengan busana sulinggih.
Mengenai kewenangan sulinggih yaitu memiliki wewenang untuk
memimpin atau memuput upacara yadnya (karma yadnya), karena pandita

102
dianggap telah memiliki ilmu kerohanian yang tinggi. Lembaga tertinggi umat
Hindu yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia dalam keputusan Mahasabha II
tahun 1968 menetapkan wewenang pandita untuk menyelesaikan segala upacara
Panca Yajna umat Hindu, memberikan tuntunan keagamaan untuk
memantapkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu. Walaupun
pandita dalam menyelesaikan upacara keagamaan merupakan wewenangnya.
maka dalam batas-batas tertentu pandits juga melimpahkan wewenangnya kepada
pinandita (pemangku) di masing-masing parahyangan atau melaksanakan
upacara piodalan di pura-pura dalam tingkatan "madudus alit".
Kemudian masih menyangkut tentang wewenang pandita bahwa dalam
Lontar Ekapratama ada dijelaskan pula tentang wewenang Tri Sadhaka yaitu:
Pendeta Siwa, Pendeta Budha, dan Pendeta Bujangga, sesungguhnya beliau
bersaudara. Pendeta Siwa bertugas untuk amretista akasa artinya menyucikan
alam atas atau swah loka. Pendeta Budha bertugas amrestistapawana artinya
menyucikan atmosfir atau alam tengah (Bwah Loka). Sedangkan Pendeta Buj
angga bertugas untuk amrestista sarwa prani yaitu menyucikan semua makhluk
hidup di alam bawah atau Bhur Loka. Biasanya ketiga pendeta ini
menyelesaikan upacara secara bersama-sama, seperti upacara tawur kesanga.
Selanjutnya juga pandita itu berpedoman pada sasana panita yaitu pedoman
tingkah laku atau norma-norma kesusilaan yang luhur dari pada rsi atau pandita,
seperti yang ada diuraikan dalam pustaka Silakrama. Wretisasana, Siwasasana,
dan pustaka yang lainnya. Dalam Silakrama ditegaskan bahwa pandita hendaknya
berpedoman pada lima petunjuk tingkah laku untuk mencapai kesucian rohani,
seperti: ahimsa yakni tidak membunuh, brahmacari yakni tidak mau beristri,
satya yakni tidak berdusta, awyawaharika yakni tidak suka bertengkar, tidak
berjual beli, tidak menunjukkan kecapakan dan berdosa, dan asteya yakni tidak
mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak mendapat persetujuan kedua
pihak. Kelima perilaku pandita di atas dikenal dengan nama Panca Yama Brata.
Selain itu ada juga lima petunjuk tingkah laku yang tingkatannya lebih tinggi
lagi yang dikenal dengan Panca Niyama Brata, antara lain: akroda yakni tidak
suka marah, gurususrusa yakni mendengarkan atau memperhatikan ucapan-

103
ucapan guru, Sauca yakni memelihara kebersihan lahir batin, aharalagawa yakni
makan yang serba ringan dan tidak semau-maunya saja, apramada yakni selalu
tekun dan berketetapan hati untuk menekuni dan melaksanakan ajaran
kependetaan serta tidak berbohong/tidak angkuh.
Selain hal yang tersebut di atas juga ada ajaran dasa sila yakni sepuluh
pedoman dalam berperilaku bagi para sulinggih, diantaranya drti artinya selalu
berpikir bersih, ksama yakni suka mengampuni, dama yakni pandai menasihati
diri sendiri, asteya yakni tidak mencuri atau curang, sauca yakni
berpakaian/berbadan yang bersih dan berjiwa suci, indriyanigraha yakni selalu
mengendalikan geraknya dasa indrya, hrih yakni mempunyai rasa malu, widya
yakni suka belajar menuntut ilmu, satya yakni jujur dan taat pada janji, dan
akrodha yakni penyabar dan tidak suka marah.
Masih ada lagi yakni Catur Paramita (empat perilaku yang luhur) antara lain:
maitri artinya selalu mengembangkan sifat-sifat suka bersahabat, karuna artinya
selalu ada belas kasihan pada mereka yang menderita, mudita artinya bersimpati
terhadap orang yang mendapat kebahagiaan, dan upeksa artinya suka melupakan
kesalahan dan dosa-dosa orang lain kepada dirinya. Dari sekian banyak sasana
pandita yang tersebut di atas juga ada dikenal dengan Tri Kaya Parisudha yakni
tiga perilaku yang suci dan benar, di antaranya: manacika yakni dapat berpikir
yang suci dan benar, wacika yakni dapat berwacana yang suci dan benar, dan
kayika yakni dapat melaksanakan perbuatan atau karma yang baik dan benar.
Tidak saja semua sasana di atas yang dijadikan pedoman namun juga ada
pantangan yang lainnya berupa kewaspadaan dalam hal makanan minuman.
Kesucian para pandita perlu tetap terpelihara dengan tidak makan makanan yang
berlebih-lebihan/bermewah-mewahan serta hendaknya dijauhi minum-minuman
yang keras yang dapat memabukkan. Juga dihindari untuk mengunjungi tempat-
tempat yang dilarang aagi pandita, agar tidak meruntuhkan harkat atau harga
diri sebagai orang suci agama Hindu.
Berikut ini ada beberapa pustaka yang menegaskan bagaimana sasana
pandita/sulinggih antara lain:
"nadattamicchenna pivecaa madyam

104
prananna hinsenna vadecca mithyam
parasya daran manasapi necched
yah swargamicched grhavat pravestum".
(Sarasamuccaya, 19.256).

Artinya:
Dan lagi jangan hendaknya mengambil kalau belum ada perjanjian, jangan
engkau minum-minum yang memabukkan, jangan melakukan pembunuhan
jangan berdusta dalam berkata-kata, jangan menginginkan istri orang lain
jika ingin akan pulang ke alam sorga.
"artham
mahantamasadya
vidyamaicvaryameva ca,
vicaredasamunnaddham
yah
sa pandita ucyate".
(Sarasamuccaya, 25, 310)
Artinya:
Maka orang seperti ini keadaannya mempunyai kewibawaan/kekayaan
yang berlimpah-limpah yang didapatnya, ia terpelajar dan disegani
(dihormati), jaya dan berkekuasaan, tidak berhati sombong, tidak tergopoh-
gopoh (sabar), tidak berangasan/tidak kasar, orang yang demikian itu
pandita namanya.

"Aharalaghawa ngaranya adangana ring pinangan, tan pinangan asing


dinalih camah ring loka, kunang yan amangan asing dinalih camah de sang
sudha brata, tan brahmana saiwasogata ngaranya, janmatuccha ngaranya,
yeka pataka, tan waning tumampuh ring kawah temahaninniya".
(Slokkantara, 15, 41).

Artinya :

105
Aharalaghawa namanya, serba ringan dengan apa yang dimakan, segala yang
disebut tidak suci atau kotor di dunia tidaklah dimakan, maka bila dimakan
segala yang disebut tidak suci oleh orang yang suci yang melakukan brata,
tidak brahmana Siwa Buddha namanya, manusia hina namanya. berdosalah
ia pasti jatuh di dalam neraka akhirnya.

Perlu diingat oleh seluruh sedharma bahwa dalam kehidupan sehari-hari


pada dasarnya wujud pelaksnaan Yajna kehadapan para rsi atau rsi Yajna dapat
diwujudkan dengan cara menghormati para pendeta dan wajib mendukung atau
menciptakan suasana yang dapat mendorong para pendeta untuk dapat melakukan
swa dharmanya dengan baik, guna dapat terciptanya suasana beragama yang
mantap. Selain itu juga dengan mengikuti berbagai ajaran-ajaran kesucian atau
kerohanian para rsi atau pandita dengan membaca kitab suci weda dan kitab suci
yang lainnya. Atau dapat pula dengan mempersembahkan atau menghaturkan
daksina pada pandita dengan penuh ketulusan, karena dengan menghaturkan
daksina berarti memberikan persembahan yang terhormat dalam bentuk arta
benda pada pandita.
Dari uraian-uraian di atas, di sini dikemukakan sekilas tentang pelaksanaan
upacara mediksa. Bermula dengan upacara mejauman atau berkunjung pada calon
nabhe. Mohon doa restu kepada segenap sanak keluarga baik yang tua maupun
yang muda serta sisyanya atau masyarakat sekitarnya. Di lanjutkan dengan
asucilaksana/membersihkan diri dengan upacara spiritual di parahyangan jagat
dan pemerajan calon nabhe (mapinton). Sebagai upacara puncak yakni upacara
mati raga dan upacara andi yang tempatnya pada parahyangan (merajan) dengan
berpakaian serba putih untuk didiksa. Sebagai acara pokok dari pelaksanaan
upacara diksa ini langsung dituntun oleh Pedanda Nabhe dengan segenap
rangkaiannya hingga urutan upacara sampai berakhir.
Apabila pandita melakukan lokapalasraya setelah mendapat izin dari pedanda
nabhe dilanjutkan dengan tirtha yatra. Bila terjadi pelanggaran atau amurub
sasana sulinggih dapat dicabut oleh nabhe parisadha, dan pemerintah.

106
b. Dengan membangun tempat pemujaan para sulinggih
Suatu cara atau jalan untuk menghormati para orang suci agama Hindu
memang ditempuh dengan berbagai pelaksanaan yuang mengarah pada kesucian
dan kebenaran. Cara yang dapat dibenarkan dalam pelaksanaan Rsi Yajna
misalnya dengan membangun tempat pemujaan untuk para sulinggih atau orang
suci agama Hindu.
Sebagaimana diketahui bahwa tempat pemujaan itu merupakan suatu areal
tertentu di mana terdapat beberapa pelinggih atau bangunan suci untuk melakukan
pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi, dewa-dewa atau roh suci leluhur.
Pendirian suatu tempat pemujaan beserta dengan pelinggih-pelinggihnya
dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan agama. Misalnya menentukan arealnya,
tata letak pelinggih-pelinggih di dalamnya, upacara penyuciannya dan lain-
lainnya. Ketentuan agama dalam mendirikan suatu tempat pemujaan harus
dipenuhi sehingga suatu tempat pemujaan layak digunakan sebagai tempat
memuja Tuhan dan manifestasinya serta roh suci leluhur. Tempat pemujaan
adalah menurut pengertian agama Hindu dikenal sebagai tempat suci (Pura).
Tuhan memang ada dimana-mana namun dalam melakukan persembahyangan
diusahakan tidak di sembarang tempat, apalagi yang melakukan pemujaan
tersebut berstatus sebagai pandita / sulinggih /orang suci, maka selayaknya
dibangunkan tempat pemujaan untuk melakukan penyucian diri dan dalam
upaya memberikan pembinaan dan tuntunan kepada umat.
Tempat pemujaan adalah sebagai tempat bagi umat memusatkan segala
potensi dirinya untuk dapat menghayati keberadaan Tuhan, dan tempat pemujaan
sebagai lambang dari tri bhuwana yakni jeroan (halaman paling dalam pura)
sebagai simbol dari swah loka, jaba tengah (halaman tengah) sebagai simbol
Bhuwah loka, dan jaba sisi (halaman paling luar) adalah simbol dari Bhur loka.
Secara umum bahwa fungsi tempat pemujaan adalah sebagai sarana untuk
memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan untuk memuja roh suci leluhur
dalam segala tingkatannya. Secara khusus bagi para sulinggih berfungsi untuk
meningkatkan kesucian dan meningkatkan kualitas diri sulinggih juga sebagai
media meningkatkan kualitas umat, baik sebagai makhluk individu maupun

107
sebagai makhluk sosial. Tempat pemujaan merupakan tempat untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan, meningkatkan persatuan dan kesatuan umat,
menumbuhkan rasa kebersamaan umat dengan orang suci/ pandita, untuk
membangkitkan kekuatan kesucian diri untuk dapat mengejati diri baik sebagai
orang suci maupun sebagai umat secara keseluruhan.
Dengan demikian bahwa dengan membangun tempat pemujaan untuk para
sulinggih berarti telah memberikan penghormatan dan rasa bakti ke hadapan para
sulinggih/pandita sebagai wujud pelaksanaan Rsi Yajna.

c. Dengan menghaturkan dana punia kepada para sulinggih


Sesuai dengan ajaran agama Hindu bahwa setiap umat Hindu diwajibkan
untuk melakukan dana punia. Dana punia berasal dari kata dana artinya
pemberian, punia artinya selamat, baik, bahagia, indah, dan suci. Jadi dana punia
artinya pemberian yang baik dan suci.
Oleh karena usaha berdana punia itu merupakan perbuatan yang mulia dan
terpuji, maka tidak ada salahnya kita sebagai sedharma untuk melaksanakan dana
punia tersebut dengan penuh keikhlasan dan penuh dengan hati yang tulus ke
hadapan para pandita/sulinggih/rsi/orang suci dan jugs kepada siapa pun yang
membutuhkan, tentunya akan mendapatkan hasil/pahala.
Jenis arta kekayaan yang dapat disedekahkan itu tentunya disesuaikan dengan
kemampuan dan harta benda yang dimilikinya, yang penting dapat melakukan
pemberian atau bersedekah pada yang memerlukan atau orang suci. Adapun harta
yang disedekahkan/dipunyakan itu jenisnya berbeda-beda seperti: tanah, ajaran
sastra, ajaran agama, ilmu pengetahuan, benda-benda duniawi/material, arta benda
kekayaan, bahkan ada yang dikenal atidana yakni persembahan anak gadis yang
cantik dan ayu. Tidak hanya yang tersebut di atas tadi namun dipandang perlu ada
yang dikenal dengan mahatidana yakni persembahan jiwa raga. Kesemua jenis
pemberian di atas menurut ajaran agama Hindu akan mendatangkan hasil/pahala
yang besar dan tidak henti-hentinya mendapatkan kebahagiaan, bahkan kelak di
akhirat memperoleh tempat yang mulia yaitu di alam surga.
Menurut sastra agama Hindu yang berkewajiban melaksanakan dana punia

108
seperti: para penguasa negara/pemerintah, para pemuka agama dan pemuka
masyarakat, penyelenggara Yajna (sang yajamana), saudagar, banija, usahawan,
orang-orang yang mampu, setiap umat Hindu, bagi umat yang berpenghasilan
tetap, dan bagi umat yang berpenghasilan tinggi/besar.
Sedangkan yang berhak menerima dana punia dimaksud adalah: para guru
rohani/nabhe, dangacarya (sulinggih), orang miskin yang terlantar, orang cacat,
orang yang terkena musibah/terkena bencana alam, tatakala membangun tempat
pemujaan/tempat suci/parahyangan (pura), lembaga-lembaga lembaga keagamaan,
para penderita di rumah sakit, dan penghuni pasraman atau lembaga pendidikan
tertentu.
Dalam kitab suci Manawadharmasastra diuraikan tentang berdana punia.
"Rajato dhanam wicchet samsidam snatakah ksudha, yajyan tewasorwapina
twanyata iti sthitih".
Artinya :
Bagi seorang yang berumah tangga, bila mampu, hendaknya ia bersedekah
makanan kepada mereka yang tidak memasak makanan dan bagi makhluk-
makhluk lainnya yang memerlukan makanan.

Demikian hakikat dana punia dalam kitab Manawadharmasastra I V , 33


tersebut di atas. Kemudian dalam sloka IV, 226 menyebutkan :

Craddayestam ca purtam niyam kuryada tandritah, craddakrte hyaksaye te


bhawatah swagatairdhanaih.

Artinya:
Hendaknya tanpa jemu-jemunya ia berdana dengan mempersembahkan
sesajen dan melakukan sedekahan dengan penuh rasa keimanan dan
kepercayaan, karena sesajen dan sedekahan (dana) yang dilakukan dengan
penuh keimanan dan kepercayaan dan memperolehnya dengan cara yang halal,
ia akan memperoleh pahala yang setinggi-tingginya (moksa).

109
Selanjutnya dalam kitab suci Sarasamusccaya ada ditegaskan mengenai hakikat
dana punia yang berbunyi :
"Amatsaryam budhah prahudarnam dharama ca samyamam, avasthitena
nityam hi tyage tyasadyate cubham"

Artinya:
Yang disebut dana (sedekah) kata sang pandita, ialah sifat tidak dengki (iri
hati), dan yang taat berbuat kebajikan (dharma), sebab jika tetap terus-menerus
begitu, senantiasa akan diperolehnya keselamatan, sama pahalanya dengan
amal saleh yang berlimpah-limpah. (Sloka Sarasmuccaya 170).

Dan dalam sloka Sarasamuccaya 172 juga ada ditegaskan:


"Na danadduskarataram trisu lokesu vidyate, arse hi mahati trsnaca ca
krcchrena labhyate".
Artinya:
Adapun harta itu adalah untuk disedekahkan dan karena itu tidaklah ada
gunanya menggembar-gemborkan orang-orang kaya, karena kekayaan itu
tidak ada gunanya (kecuali disedekahkan), karena harta adalah untuk
disedekahkan dan bila tidak disedekahkan demikian, maka ia adalah berdosa
menimbulkan kemiskinan.

d. Menaati dan mengamalkan ajaran-ajaran para sulinggih


Sebagai yang telah diuraikan di depan bahwa wujud pelaksanaan Rsi Yajna
memang dapat di laksanakan dengan berbagai pelaksanaan, seperti juga halnya
untuk menaati dan mengamalkan segala ajaran-ajaran para sulinggih. Para
sulinggih tersebut merupakan guru kerohanian bagi segenap umat Hindu. Guru
kerohanian ini nantinya memberikan pentunjuk-petunjuk yang benar dalam
mengarungi samudera kehidupan. Tanpa adanya guru kerohanian, maka hidup ini
menjadi gelap tanpa arah sehingga apa yang menjadi harapannya senantiasa
terbengkalai. Diumpamakan sebagai seorang siswa jikalau siswa itu belajar tanpa
guru maka sangatlah tipis sekali harapannya untuk mencapai kesuksesan atau

110
keberhasilan dalam menuntut ilmu (hidup sebagai brahmacari). Dalam ajaran
agama Hindu disebutkan adanya sisya maka ada pula acarya. Antara sisya (siswa)
dan acarya (guru) ini hendaknya terjalin komunikasi yang selaras dan sejalan.
Untuk dapat tercapainya harapan dalam menuntut ilmu itu sendiri, maka
siswa dituntut untuk selalu mentaati, mengamalkan, serta berbakti pada ajaran-
ajaran guru. Siswa selalu taat dan berbakti pada ajaran gurunya disebut dengan
nama Guru susrusa. Sama juga halnya di sini bahwa umat Hindu semestinya dapat
menaati, menghormati, mengamalkan ajaran-ajaran dari para sulinggih.
Mengingat sulionggih itu adalah orang suci umat Hindu. Kapan lagi swadharma
kita sebagai umat Hindu untuk menghormati dan menaati ajaran sulinggih itu.
Karena usaha untuk menaati dan menghormati tersebut juga merupakan wujud
pelaksanaan rsi yajna. Selanjutnya hormat dan taat serta bakti kepada guru
termasuk juga sulinggih dilakukan dengan jalan tunduk, patuh, mengikuti
pelajaran yang telah diberikan oleh sulinggih.
Dalam ajaran guru bakti itu pada tiga hal yang harus dan patut dilakukan
oleh seorang siswa terhadap gurunya antara lain:
Kita harus hormat dan bakti ke hadapan guru, kita harus rajin dan tekun
mempelajari pelajaran yang diajarkan oleh guru, dan kita harus taat
melaksanakan perintah dan petunjuk-petunjuk guru.
Sebagaimana kita ketahui bahwa guru itu berperanan untuk mencetak para
generasi yang memiliki wawasan yang luas, mau berusaha, berani membela
kebenaran, dan mengabdikan diri terhadap masyarakat, bertanggung jawab,
memiliki pendirian yang tangguh, dan yang lainnya. Demikian juga halnya
sulinggih itu dalam upaya meningkatan kesadaran umat untuk dapat menghayati
dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya dengan baik dan benar. Memang
usaha-usaha untuk membina mental dan moral umat yang tangguh dan utuh tidak
gampang, namun memerlukan daya upaya yang jitu dan dituntut kesungguhan hati
para pembina agama termasuk para sulinggih/pandita untuk pengupayakannya.
Untuk maksud tersebut, maka perlu adanya kesadaran yang tinggi antara umat
dengan para pembina agama. tentunya agar terjalin saling pengertian, saling
menghormati, saling menaati satu dengan yang lainnya.

111
Dalam ajaran agama Hindu ada dikenal catur guru yakni empat guru mesti
dihormati atau ditaati antara lain: Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa
(Guru Swadhyaya), Orang tua/Ibu Bapak di rumah (guru Rupaka), Guru pengajar
di sekolah termasuk juga pandita atau para resi (guru pengajian), dan aparat
pemerintah (guru wisesa).
Dalam kitab suci Sarasamuccaya ada ditegaskan sebagai berikut:
"Upadhayayam pitaram mataram ca ye'bhidruhyanti manasa karmana va, tes
am papam bhrunahattyavisistam nanyastasmat papaklrccastiloke".
(Sarasamuccaya, 234).

Artinya :
Ada orang yang berkhianat kepada guru yang mengajarnya, kepada ibu
bapaknya dengan jalan perbuatan, perkataan, dan pikiran, orang yang demikian
sifatnya amatlah besar dosanya, lebih besar dari dosanya (seseorang yang
melakukan) brunaha, bhrunaha artinya menggugurkan kandungan, singkatnya
sangat besar dosa orang itu.

Ada lagi ditegaskan dalam sloka nomor 238 yang berbunyi sebagai berikut :
"Samyan mithyaprawrtte va vartitavyam guraviha, guruninda
nihantyayurmanusyanam na samsayah".

Artinya :
Lagi pula, jangan sekali-kali seseorang mengumpat kepada guru walaupun
perbuatan beliau keliru, adapun yang harus diusahakan baik-baik
berperilakulah yang layak kepada guru agar berhasil melakukan pengabdian
beliau, akan menyebabkan umur pendek dan dosa jika menghina beliau itu.

Kemudian ada lagi penegasan betapa pentingnya kita menghormati guru


sesuai yang disebutkan dalam kitab Silakrama yaitu :
"Nihan to silakramaning aguron-guron, haywa tan bhakti ring guru, haywa
himaniman, haywa tan sakti ring sang guru, haywa tan sadhutuhwa, haywa

112
nikelana sapatuduhing sang guru, haywangideki wayangan sang guru,
haywanglungguhi palungguhaning sang guru".
Artinya:
Inilah tata tertib berguru (menuntut ilmu), janganlah tidak bakti terhadap guru,
janganlah mencaci maki guru, jangan segan kepada guru, jangan tidak tulus,
jangan menentang segala perintah guru, jangan menginjak bayangan guru,
jangan menduduki tempat duduk guru.

Menyimak kesemua bait-bait sloka di atas mengingatkan kepada kita betapa


mulianya jasa-jasa termasuk juga para rsi/sulinggih. Untuk itu kita wajib
mengindahkan dan tetap menghormati segala ajarannya. Ajaran guru yang baik
tentunya akan dapat membahagiakan kehidupan ini.

e. Membantu pendidikan agama bagi calon sulinggih


Sebagai wujud penghormatan terhadap pelaksanaan Rsi Yajna, maka dapat
pula diupayakan melalui usaha-usaha untuk mengembangkan materi-materi ajaran
agama dengan pembinaan dan pendidikan, termasuk di sini membantu
memberikan pendidikan agama terhadap calon sulinggih. Kalau kita perhatikan
perkembangan pendidikan agama untuk calon sulinggih dewasa ini memang
sudah dirintis oleh pemerintah bersama lembaga tertinggi umat Hindu yaitu
Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat telah menyelenggarakan pembinaan dan
pendidikan agama bagi calon pandita ataupun yang sudah berstatus pandita, yang
biasanya diselenggarakan di Widya Mandala Denpasar selama tiga bulan sekalian
dengan pelaksanaan tirta yatranya ke parahyangan untuk penyucian diri.
Mengingat pembangunan kehidupan umat Hindu semakin semarak dan
mendalam sesuai dengan derap kemajuan zaman dan pembangunan bangsa
Indonesia. Semuanya ini memerlukan pembinaan dan pendidikan dalam berbagai
kehidupan beragama Hindu, termasuk bidang kesulinggihan yang jumlahnya
semakin langka. Untuk hal tersebut telah diupayakan melalui pembinaan dan
pendidikan calon sulinggih. Adapun tujuan yang ingin diharapkan adalah untuk
dapat menghasilkan calon sulinggih yang memiliki pengetahuan dan keterampilan

113
dasar kesulinggihan yang berwawasan luas serta berorientasi ke masa depan.
Sebagai kelanjutan dari pendidikan tersebut hingga didwijati sebagai seorang
sulinggih, maka wajib mengikuti segala ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan calon sulinggih,
maka materi-materi pendidikan yang diberikan meliputi kelompok dasar,
kelompok inti, dan kelompok penunjang.
Materi-materi pendidikan agama bagi calon sulinggih diharapkan agar dapat
dipahami dan diterapkan sesuai sasana sulinggih, baik yang menyangkut materi
kelompok dasar, seperti: Pancasila, bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan
Agama; yang menyangkut materi kelompok inti, seperti: Weda, Upanisad,
Dharsana, Itihasa, Bhagawadgita, Purana, Tantrayana, Saiwasidhanta, Pujastuti,
Sesana (lokapalasraya), dan Acara Agama Hindu; serta materi dalam kelompok
penunjang, seperti: bahasa Jawa Kuno, Bahasa Sansekerta, Bahasa Inggris, Hukum
Hindu/Adat, Sosiologi Agama Hindu, Psikologi Agama, Dharma Wacana, Dharma
Gita, dan Yoga.
Dengan penyajian materi-materi pendidikan agama sebagaimana tersebut di
atas, tentunya dapat meningkatkan para sulinggih dalam menunaikan
swadharmanya untuk menuntun dan membina umat Hindu, sehingga manusia
Indonesia yang utuh serta kerukunan umat beragama dapat terwujud. Demikianlah
berbagai upaya/pelaksanaan untuk menghormati para resi/sulinggih serangkaian
dengan pelaksanaan Rsi Yajna bagi umat Hindu.

114
BAB V
Pitra Yadnya

5.1 Pengertian Upacara Pitra Yajna


Tuhan Yang Maha Esa adalah maha kuasa. Tuhan juga sebagai maha
pencipta. Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan-Nya. Seperti halnya
tumbuh-tumbuhan, binatang, dan juga tennasuk manusia. Manusia diciptakan
oleh Tuhan ke dunia ini agar dapat berbuat kebaikan yang sebanyak-banyaknya
untuk kepentingan dharma dan juga untuk membela kebenaran yang bersumber
pada ajaran-ajaran agama Hindu yaitu kitab suci Weda. Manusia hidup selalu
bermasyarakat dan hidup bersama-sama. Manusia tidak bisa hidup menyendiri
dan selalu bergantung satu dengan yang lainnya. Manusia berupaya untuk dapat
membangun dirinya sendiri. Tidak hanya untuk dirinya sendiri namun juga demi
pembangunan Nasional Indonesia yang sedang digalakkan oleh pemerintah
dewasa ini. Pembangunan hendaknya dilakukan secara menyeluruh dan
seimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan nonfisik. Bangsa
Indonesia ingin mewujudkan negara yang makmur yang mampu mensejahterakan
dan membahagiakan rakyatnya. Sampai kapan bangsa Indonesia akan berhenti
membangun? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk diberikan jawahan. Mengapa
demikian? Karena bangsa Indonesia termasuk di sini umat Hindu dituntut untuk
selalu berkarya dan berkarma (subhakarma) sesuai dengan swadharmanya
masing-masing. Jadi, umat Hindu takkan henti-hentinya untuk membangun
atau berkarma guna terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur sesuai
dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Mampukah bangsa Indonesia untuk dapat mewujudkan tahapan
pembangunan untuk mencapai tinggal landas? Yang jelas umat Hindu tetap
memberikan dukungan dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk
menyukseskan pembangunan Nasional termasuk pembangunan di bidang agama
atau pembangunan nonfisik, semoga selalu sukses!
Berbicara mengenai pembangunan bidang agama, maka umat Hindu
mengupayakannya sedini mungkin. Seperti halnya dengan menghayati dan

115
mengamalkan ajaran agama Hindu, termasuk di sini melaksanakan persembahan
(Yajna). Dalam kehidupan bermasyarakat manusia wajib memasyarakatkan
pelaksanaan Yajna. Yajna dalam artian tidak saja hanya mempersembahkan
wujud materi atau arta benda, namun juga bisa diupayakan dengan menumbuhkan
kehidupan yang harmonis dalam masyakarat. Dalam masyarakat manusia ingin
memenuhi keperluan hidupnya dan keperluan hidup ini agar tercapai. hendaknya
manusia tidak saling berbenturan tetapi hendaknya saling hormat menghormati
satu dengan yang lainnya. Untuk hal tersebut manusia wajib hormat dan bakti
kepada sesama yang dilandasi dengan keluhuran budi.
Berikut ini mari kita renungkan sejenak sebagaimana yang diisyaratkan dalam
Kekawin Niti Sastra, yang menegaskan sebagai berikut :
"
Kramaning dadi wwang ana ring bhuwana pautanganta ring praja, ri sirang
munindra nguniweh sang atiti gamaneka sambraman, athawa muwah
swapita rahyang amara rena yogya kingkingen, panahurta ring pitara
potraka luputakening yamalaya".
(Niti Sastra, IX, 2).

Artinya:
Manusia di atas dunia ini mempunyai kewajiban terhadap sesamanya,
Orang yang suci, apalagi tamu, wajib diperlakukan dengan hormat,
Terlebih-lebih kewajiban kita terhadap orang tua, orang-orang suci, dan
dewa-dewa, harus selalu diingat, Sebagai anak kita berkewajiban
melepaskan nenek moyang kita dari tempat kediaman Betara Yama.

Dengan demikian bahwa dalam hidup ini manusia telah diwajibkan untuk
menghormati sesama, baik tamu, orang tua, orang-orang suci, maupun para
Dewa. Dalam hidup bermasyarakat penghormatan terhadap semua yang tersebut
di atas dapat dilaksanakan, dan ini berarti bahwa hidup bermasyarakat ialah
karena untuk menunaikan kewajiban hidup termasuk di sini melaksanakan
upacara Pitra Yajna, walaupun dengan memberikan penghormatan terhadap
sesama dan juga orang tua.

116
Dalam kehidupan berumah tangga atau berkeluarga, maka yang menjadi tujuan
utama adalah agar keluarga yang bersangkutan mempunyai keturunan atau
sentana. Keturunan itulah nantinya yang akan menyelamatkan dan memberikan
persembahan serta penghormatan terhadap orang tuanya, baik yang masih hidup
maupun yang telah meninggal. Bagaimanapun melarat dan sengsaranya orang
tua itu, maka wajib si anak itu untuk bersikap hormat dan bakti terhadap orang
tuanya sendiri. Sungguh nista sekali bagi seorang anak atau putra itu yang tidak
mau menghormati atau bersikap angkuh terhadap orang tuanya.
Selanjutnya tentang swadharma atau kewajiban bagi seorang anak terhadap
orang tuanya ada ditegaskan dalam kitab Niti Sastra, sebagai berikut:
"Tingkahing Suta manuting bapa gawenya mwang guna pindanen", (sargah I,
bait 12, kalimat baris 1),
Artinya:
Kewajiban (sikap, tingkah laku dan perbuatan) seorang anak, patutlah
mentaati orang tua dengan berpedoman kepada perbuatan baiknya.
"Tan mangkang jana-putra winwang iniwo tan sah rinaksenamer", (sargah I,
bait 13, kalimat baris keempat),
Artinya:
Sebab bukanlah selalu berbuat baik yang menjadi kewajiban bagi seorang
anak yang benar-benar sadar akan pemeliharaan orang tuanya terhadap
dirinya.
"Ring jadmadika meta citta reseping sarwa prajangenaka",
Artinya:
Maka dari itu, seorang anak yang menghendaki hidup utama, patut
mengusahakan kesejahteraan orang tua atau keluarga.

"Yan ing putra suputra sadhu gunawan memadangi kula wandhu wandhawa",
ialah anak yang disebut sadhu gunawan, yakni anak yang dapat memberikan
kebahagiaan keluarganya.

117
Dengan demikian jelaslah bahwa seorang anak atau putra yang baik (suputra),
bijaksana, dan pandai adalah mampu menerangi seluruh keluarganya. Dalam
ajaran agama Hindu bahwa seorang anak di dalam hidupnya harus dapat berbuat
sesuatu terhadap orang tuanya, artinya di samping bersikap hormat, kasih sayang,
dan melindungi ketika masih hidup, juga harus menolong atau menyelamatkan
arwah-arwah mereka (orang tuanya) atau leluhurnya dari neraka (penderitaan). Ini
disebabkan oleh anak mempunyai utang budi (pitra rnam) kepada orang tua atau
leluhurnya. Orang tua (bapak dan ibunya) yang melahirkan sehingga anak dapat
hidup, serta orang tualah yang memeliharanya. Tidak ada kasih sayang yang
melebihi dari kasih sayang orang tua. Oleh karena itu seorang anak harus dapat
membalas budi baik orang tua dengan menolong dan menyelamatkan orang tua
dari penderitaan dan kesengsaraan.
Bila anak berbuat baik terhadap orang tua, tentu ada pahalanya sebagaimana
ada dinyatakan dalam Sarasamuccaya yang berbunyi :
"Abhivadanacilasya nityam vrddhopasevinah, catvari tasya vardhante
kirtirayuryaco balam", (Sarasamuccaya, 250),
Artinya:
Akan pahala hormat bakti terhadap orang tua, adalah empat jenis hal yang
bertambah, perinciannya: kirti, ayusa, bala, yasa; kirti artinya pujian tentang
kebaikan, ayusa artinya hal hidup (kehidupan), bala artinya kekuatan, yasa
artinya peninggalan yang baik (jasa), kesemuanya itulah yang bertambah
sempurna sebagai pahala hormat bakti terhadap orang tua.

Menyimak makna ayat suci di atas, maka betapa besarnya pahala seorang anak
yang bakti dan hormat terhadap orang tuanya. Ia akan mendapatkan empat jenis
kemuliaan, seperti: pujian tentang kebaikan, kehidupan, kekuatan, dan nama baik
yang ditinggalkan.
Selanjutnya ada pula dinyatakan bagaimana pahala seorang anak yang
berbakti terhadap orang tuanya, berikut ini ada ditegaskan dalam Lontar putra
sasana, sebagai berikut:

118
"Mapa palaning suputra, paripurna darmayukti, subageng rat sularja, ambek
Santa sadu budi, kinasihaning sasami, pada ngakwasanak tuhu, sami trsna sih
umulat, apan wus pinastyeng Widhi, wang suputra, unggul ring sameng
tumitah",
Artinya:
Adapun pahala seorang suputra, yang sempurna dan berbuat dharma
termasyur susila dan bagus hatinya, damai dan berbudi mulia, setiap orang
mengasihinya, sama-sama mengaku keluarga, semua jatuh hati melihatnya,
oleh karena Tuhan telah memastikan orang yang suputra unggul di antara
semua makhluk.
Demikianlah utamanya kalau seorang putra selalu bakti, hormat, dan
memberikan persembahan terhadap orang tuanya.
Pemahaman mengenai upacara Pitra Yajna, dalam ajaran agama Hindu ada
ditegaskan sebagai berikut:
"Adh yapanam brahma yajnah
pity yajnastu tarpanam
homo daiwo balibhaurto
nryajno "tithi pujanam", (Manawadharmasastra, III, 70).
Artinya:
Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana, menghaturkan tarpana dan air
suci adalah yajna untuk leluhur, menghaturkan minyak dan susu adalah yajna untuk
para dewa, mempersembahkan bali adalah yajna untuk bhuta, dan penerimaan
tamu dengan ramah adalah yajna untuk manusia.

Dalam kitab Agastya Parwa ada ditegaskan pula:


"Kunang ikang yajna lima pratekanya, lwirnya: dewa yajna, rsi yajna,
pitryajna, bhuta yajna, manusa yajna. Nahan tang panca yajna ring loka.
Dewa Yajna ngaranya taila pwa krama ri bhattara Siwagni, maka gelaran
ring mAndala ring bhattara, yeka dewa yajna ngaranya, Rsi yajna ngaranja
kapujan sang pandita mwang sang wruh ri kalinganing dadi wwang, ya rsi

119
yajna ngaranya, pitra yajna ngaranya tileman bwat Hyang Siwasraddha, yeka
pitra yajna ngaranya ...",
(Agastya Parwa, 35. b.),
Artinya:
Adapun yang disebut Panca Yajna, perinciannya, sebagai berikut:
Dewa Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna.
Demikianlah Panca Yajna di dalam masyarakat. Dewa Yajna adalah
persembahan wijen ke hadapan Bhattara Siwagni, yang dipersembahkan di
atas altar pemujaan, itu disebut Dewa Yajna. Rsi Yajna adalah penghormatan
kepada para pendeta, mengetahui hakikat hidup menjelma sebagai manusia,
itu disebut Rsi Yajna. Pitra Yajna adalah persembahan kepada leluhur dan
Dewa Siwa, itu disebut Pitra Yajna.

Kemudian dalam Manawadharmasastra mengingatkan untuk tetap


melaksanakan yajna atau persembahan yang merupakan suatu kewaj iban sebagai umat
Hindu yang tidak boleh dilupakan, dengan slokanya berbunyi:
"
rsi yajnam dewa yajnam
bhuta yajnam ca sarwada
nryajnam pitra yajnam ca
yatha sakti na hapayet".
(Manawadharmasastra, IV. 21).

Artinya:
Hendaknya jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi Yajna, Dewa
Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna, dan Pitra Yajna.

Dari beberapa kutipan sloka di atas, maka kita sebagai manusia menyadari
betapa besarnya jasa orang tua yang telah memeliharanya dan membimbingnya
sejak kecil hingga menjadi orang yang berguna dalam hidup ini, kita memiliki
utang jasa pada orang tua, dan utang itu mesti dibayar baik pada saat orang
tua masih hidup maupun setelah meninggal dengan melaksanakan upacara Pitra

120
Yajna, sebagai wujud bahwa swadharma sebagai wujud bahwa swadharma
sebagai anak telah dilaksanakan.
Dengan demikian bahwa Pitra Yajna adalah suatu penyaluran tenaga
(sikap, tingkah laku, perbuatan) atas dasar suci (iklas) yang ditujukan pada
leluhur, untuk keselamatan bersama. Atau persembahan/korban suci yang
tulus iklas kepada para leluhur yang telah meninggal dan pada orang tua yang
masih hidup.

5.2 Tujuan Upacara Pitra Yajna


Sebagaimana pelaksanaan upacara untuk para Dewa dan para Rsi atau orang
suci agama yang telah diuraikan dalam modul sebelumnya, maka upacara Pitra
Yajna juga sama halnya yaitu mengandung makna tertentu yaitu sebagai
persembahan yang tulus iklas ke hadapan para leluhur atau orang tua yang telah
meninggal dengan berbagai rangkaian upacaranya.

Kalau kita perhatikan hakikat pelaksanaan yajna yang dilaksanakan oleh


umat Hindu bertujuan untuk menembus atau membayar utang atau menunaikan
kewajiban agama yang meiliki nilai kesucian. Adanya tri rnam yang merupakan
kewajiban bagi umat Hindu untuk menebusnya dengan berbagai persembahan
yang iklas, seperti halnya kepada orang tua atau leluhur kita. Persembahan
pada leluhur dimaksudkan agar dapat melepaskan segala penderitaan yang
pernah dialaminya pada masa kehidupan di dunia ini.
Perwujudan rasa hormat umat Hindu kepada para leluhur diwujudkan dengan
usaha membebaskan Sang Atma dari ikatan jasmani, ikatan duniawi, dan
meningkatkan kesuciannya, agar bisa mendapatkan tempat yang baik di alam
akhirat atau mencapai surga (swah loka). Salah satu usaha yang dapat
ditempuh adalah dengan menyelenggarakan upacara-upacara yang bersifat
penyucian yang diakhiri dengan memperalina, yang dikenal dengan Upacara
Pitra Yajna.
Jadi, yang menjadi tujuan dari pelaksanaan upacara Pitra Yajna adalah:
a. Memberikan persembahan yang iklas pada para leluhur.

121
b. Untuk menyelamatkan orang tua atau roh leluhur kita.
c. Untuk mengembalikan jasad atau badan wadag ini ke alam asalnya yaitu
Panca Maha Bhuta sepert: perthiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.
d. Menyucikan roh orang tua yang telah meninggal sehingga dari preta
berubah menjadi Pitara.

Demikian beberapa tujuan dari pelaksanaan upacara Pitra Yajna dan


mengenai tingkatan upacaranya lebih lanjut akan diuraikan dalam bahasan
berikut ini.

5.3 Pelaksanaan Upacara Pitra Yajna


Melaksanakan upacara Pitra Yajna sebagaimana yang telah disinggung
sekilas pada bahasan di depan itu merupakan kewajiban bagi sanak keluarga
atau keturunannya. Boleh dikatakan bahwa seorang putra wajib melaksanakan
persembahan berupa upacara Pitra Yajna baik pada saat orang tua masih hidup
maupun setelah orang tua meninggal dunia. Kewajiban dari bagi seorang putra
ini terhadap orang tuanya disebut Suta Kirtya.

Tatkala orang tua masih hidup, maka anak (putra) itu hendaknya menaruh rasa
belas kasihan, menyayangi dengan tulus, memberikan pertolongan, selalu
membahagiakan orang tua, memberikan jaminan hidup untuk orang tua, dan yang
lainnya untuk kebahagiaannya di dunia ini. Berikut ini mari kita simak makna
ajaran kitab suci Manusmerti yang menyatakan sebagai berikut:
"Jayornityam priyam kuryat acar yaya ca sarvada, terveva trisu tustesu tapah
sarvam sampayate",
(Manusmerti, II, 228).
Artinya:
Hendaknya kita selalu mempersenang kedua orang tua (ibu dan bapak) dan
juga guru pengajian (guru yang memberikan pengetahuan), Andaikata kita
dapat mempersenang orang tua (ibu dan bapak) dan guru pengajian itu
maka semua tapa akan berhasil.

122
Ajaran di atas mengingatkan kita untuk selalu berbakti dan
membahagiakan orang tua semasa orang tua masih hidup, sehingga kita
sebagai keturunannya senantiasa dapat mencapai kesuksesan.

Selanjutnya apabila orang tua telah tiada atau meninggal, maka seorang anak
juga tetap menunaikan kewajibannya untuk beryajna sesuai dengan kemampuan
dan tingkatan yajna yang akan dilaksanakan. Tingkatan yajna yang dimaksudkan
di sini tentunya tidak terlepas dari situasi setempat yakni desa, kala, dan patra.
Kalau memiliki kemampuan materi yang lebih dapat dipilih tingkatan yang lebih
besar, jika kemampuannya sedang laksanakanlah tingkatan pitra yajna yang
menengah, dan jika kemampuan yang dimiliki kecil dapat ditempuh jalan yang
ringan. Walaupun ada pilihan tingkat yang besar, menengah, dan kecil, namun
yang terpenting adalah persembahan yang berdasarkan kesucian lahir dan batin
dari yang menghaturkan persembahan itu. Tidak dibenarkan melakukan yajna
bilamana dalam hatinya kesal, ragu-ragu, dan duka.
Upacara Pitra Yajna secara garis besarnya dibedakan menjadi dua bagian
yaitu: dengan dikuburkan (dipendem) maupun pembakaran mayat (diaben), dan
keduanya itu dalam proses pelaksanaannya hampir lama.
Sedangkan tata cara atau tingkatan Pitra Yajna yakni ada lima bagian, seperti;
Sawa Prateka, Sawa Wedana, Asti Wedana, Swasta, dan Atma, Wedana.
Mengenai tata cara pelaksanaan Sawa Prateka atau penyelesaiaan orang
meninggal adalah seperti ,erikut ini. Dimulai pada saat menghembuskan nafas
penghabisan diusahakan sanak keluarga sudah ada di samping orang tua atau
keluarganya yang meninggal dengan mendoakan melalui ucapan mantra pralina
yakni :
Om A to Sa Ba I, Om Wa Si Ma Ya Mang Mg Ung.
Murchantu Swargantu Moksantu Shamantu Mg Ksama
Sampurnaya namah Swaha",
Artinya:
Semoga tenang dalam menghembuskan nafas terakhir, dalam perjalanan ke
surga dan semoga mencapai moksa, semoga sempurna semuanya.

123
Setelah ucapan doa usai, maka jenazah ditidurkan di tempat yang aman,
posisinya tengadah, tangan diletakkan di atas perut, kakinya diluruskan, mata
dan mulutnya ditutup/dikatupkan, bagian tubuh jenazah digosok dengan air
cendana agar tidak kaku, namun dewasa ini terkadang ada yang disuntik
dengan cairan formalin agar tidak berbau (busuk), selanjutnya seluruh bagian
tubuh mayat ditutupi kain putih yang sukla (bersih). Biasanya sebelum mayat
itu dimandikan, maka perlu dipersiapkan perlengkapan-perlengkapan, seperti:
kain putih atau kasa secukupnya, peti mayat atau keranda yani sesuai dengan
ukuran mayat yang telah disasapi, balai tempat memandikan mayat atau
pepaga disiapkan lubang kuburan yang dipilih pada setra desa adatnya
masing-masing atau sesuai tradisi setempat, mempersiapkan peralatan untuk
memandikan mayat yakni air yang bersih atau air kembang kumkuman,
sabwangi, sikat gigi beserta pasta gigi, minyak wangi untuk rambut, sampo
untuk berkeramas, handuk untuk mengeringkan bagian tubuh mayat, sisir,
bedak, cermin, pisau untu membersihkan kukunya, serta obat seperlunya
apabila pada bagian tubuh mayat ada luka-lukanya Disiapkan sajen tarpana
dan bubur pirata yang diletakkan di sisi mayat. Juga sajen yang lainnya untuk
disuguhkan ke hadapan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Hyang Prajapati
(daksina, ajuman, peras serta mohon tirta pangentas pada sulinggih dan tirta dari
parahyangan bisa dari kahyangan tiga atau kahyangan lainnya sesuai keadaan
setempat.
Setelah perlengkapan di atas dapat disiapkan, maka dilanjutkan dengan
memandikan mayat atau sawa yang dipimpin oleh pandita atau pinandita
setempat yang diiringi puja: "Om Asucir wasucir wapi, sarwa kamagato piwa,
chinta yed dewam isanam sabah yab yan tarah sucih", yang artinya: Bila
seorang telah suci atau asal ia menghilangkan segala keinginan pada saat
memusatkan pikirannya kepada Hyang Widhi, maka sucilah ia lahir batin.
Terkadang juga diiringi nyanyian keagamaan pada saat memand tersebut.
Mengenai tata cara memandikan mayat yaitu dengan membersihkan
seluruh anggota tubuh dan dibaringkan di atas pepaga. Setelah selesai

124
membersihkan dengan air kumkuman, berkeramas, menggosok giginya, dan
membersihkan anggota badan yang lainnya selanjutnya dibedaki, diperciki
dengan tirta pengelukatan, tirta pebersihan di bagian kepala, diminumkan,
dan sisanya dipercikkan mulai dari kepala sampai ke seluruh badannya.
Kemudian diisi kwangen di kepala, di dada, di hulu hati, di tangan kanan dan
kiri, dan pada kedua kakinya. Kedua ibu jari tangan dan ibu jari kaki diikat
menjadi satu selanjutnya mayat dibungkus dengan kain putih (kasa)
secukupnya, pada saat ini semua keluarga menyembahnya, jika
pembungkusan mayat telah berakhir lalu dibaringkan lagi di pembaringan
yang telah disiapkan menunggu yang ditentukan oleh pandita atau pinandita
memimpin upacara pitra yajna dengan tetap disuguhkan sajen tarpana. Bila
sudah saatnya, maka dapat dikuburkan (mendem sawa) maupun dilakukan
upacara pembakaran mayat (di aben).
Baik pada saat memandikan mayat, mengantarkan mayat sampai di setra, serta
saat memendem mayat di setra, maka sanak keluarga dapat mengiringinya
dengan nyanyian keagamaan ( kekawin atau juga bisa dengan membacakan
ayat-ayat suci yang terdapat dalam kitab suci Bhagavadgita, Sarasamuccaya,
maupun kitab suci lainnya), dengan maksud bahwa melalui nyanyian suci
mendoakan agar roh suci leluhur mencapai kebahagiaan di alam akhirat atau
dapat mencapai moksa menuju surga.
Berikut ini mari kita simak makna beberapa sloka yang dapat dijadikan
renungan kesucian tatkala melaksanakan upacara Pitra Yajna, bagaimana
sesungguhnya hakikat hidup atau menjelma menjadi manusia, pengaruh
perbuatan baik manusia, hakikat kematian bagi manusia, dan bagaimana
renungan saat kematian manusia itu.
a. "Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, asubhesu samavistam
subhesveva karayet" (Sarasamuccaya, 2), yang artinya: Di antara semua
makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat
melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah ke dalam perbuatan
baik, segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahalanya)
menjadi manusia.

125
b. "Surupatamatmagunam ca vistaram kulanvayam dravyasamred-
dhisancayam, naro hi sarwan labhate yathakretam sadasubhenatmakrtena
karmana", (Sarasamuccaya, 21), yang artinya: Maka orang yang melakukan
perbuatan baik, kelahirannya dari surga kelak menjadi orang yang rupawan,
gunawan, muliawan, hartawan, dan berkekuasaan, buah hasil perbuatan
yang baik, di dapat olehnya.
c. "Dehino 'smin yatha dehe kaumaram yauwanam jara, tatha dehantara
praptir dhiras tatra na muhyati", (Bhagavadgita, II, 13.), yang artinya:
Sebagaimana halnya jiwa itu ada pada masa kecil, masa muda, dan masa tua
demikian juga dengan didapatinya badan yang baru, orang yang bijaksana
tidak akan tergoyahkan.
d. "Om ity ekaksarambrahma wyaharam mam anusmaran, yah prayati tyajan
deham sa yati paramam gatim", (Bhagavadgita, VIII, 13.) yang artinya: Ia
yang mengucapkan Om, aksara tunggal yaitu Brahman, dan mengingatkan
Aku sewaktu ajal akan meninggal badan jasmani, is akan pergi menuju
tempat yang tertinggi.
e. "Mam upatya punarjanzna duhkhalayam asaswatam, na 'pnuwanti
mahatmanah samsiddhim paramam gatah", (Bhagavadgita, VIII, 15.),
yang artinya: Setelah sampai kepada-Ku mereka yang berjiwa besar ini
tidak lagi menjelma ke tempat yang penuh duka di dunia yang tak kekal ini
dan mereka tiba pada kesempurnaan tertinggi.
Beberapa ayat suci di atas dapat dibacakan atau dinyanyikan dengan penuh
keheningan dan hidmat agar pelaksanaan upacara dapat berlangsung tertib dan
lancar yang membangkitkan suasana kesucian.
Setelah tiba di setra terlebih dahulu dilakukan permakluman ke hadapan
Hyang Prajapati, Hyang Ibu Pertiwi, maupun Sedahan Setra. Sebelum mayat
dipendam (dikubur) usungan mayat diputarkan tiga kali arah ke kiri seperti yang
telah dilakukan di perjalanan khususnya di perempatan atau pertigaan jalan
menuju setra, ini mengandung makna utpethi, stithi, dan pralina. Usungan mayat
yang dibungkus dengan peti sedikit dibuka untuk diperciki tirta yang diperlukan
dan dapat ditutup kembali selanjutnya mayat diturunkan ke lubang mayat yang

126
telah disediakan, di mana bagian kepala mayat diletakkan pada arah hulu serta
posisinya dimiringkan seterusnya sudah bisa ditimbun oleh sanak keluarga dengan
menggunakan tangan dan timbunan berikutnya diteruskan dengan menggunakan
cangkul hingga permukaan berbentuk gundukan dan di atasnya diisi sajen-sajen
yang telah disiapkan diiringi puja mantra agar atma orang yang meninggal dapat
mencapai tujuannya. Dengan demikian berakhirlah pelaksanaan sawa prateka
(upacara kematian) yang bermula dari saat hembusan nafas terakhir hingga
mendem sawa (penguburan mayat). Upacara kematian ini juga dikenal dengan
upacara Antyesti Samskara. Selanjutnya uraian mengenai pelaksanaan
pembakaran mayat yang dikenal dengan nama Ngaben atau pelebon akan
dibahas berikut ini.

5.4 Ngaben Adalah Upacara Pitra Yajna


Upacara Ngaben merupakan tingkatan dalam suatu upacara pitra yajna.
Dalam upacara Ngaben yang diutamakan adalah pengembalian badan wadah
manusia ke unsur asalnya yaitu Panca Maha Bhuta, seperti yang berasal dari
unsur tanah kembali ke tanah (pertiwi), yang berasal dari unsur air kembali ke
air (apah), yang berasal dari unsur panas kembali ke panas (teja), yang berasal
dari unsur udara (bayu), dan yang berasal dari unsur akasa kembali ke akasa
(eter). Ngaben mengandung makna sebagai upacara pembakaran mayat agar
menjadi abu. Upacara Ngaben merupakan penyelesaian terhadap jasmani orang
yang telah meninggal menurut ajaran agama Hindu. Upacara Ngaben disebut
pula Upacara Pelebon atau Atiwa-tiwa. Istilah tiwah sampai sekarang digunakan
di daerah Toraja dan Pedalaman Kalimantan.
Adapun jenis upacara Ngaben yaitu: upacara Sawa Wedana, upacara Asti
Wedana, Upacara Swasta, dan upacara Ngelungah.

1. Upacara Sawa Wedana


Upacara Sawa Wedana adalah upacara ngeseng sawa (membakar mayat) cara
langsung di mana mayat orang yang meninggal dibawa ke setra untuk pelaksanaan
pembakarannya. Mengenai pelaksanaannya sama dengan proses pelaksanaan

127
pembakarannya. Mengenai pelaksanaannya sama dengan proses pelaksanaan sawa
prateka (upacara kematian), namun sebelum mayat digeseng atau dibakar perlu
dipersembahkan bubur pirata putih kuning dua tanding, canang tujuh tanding,
dan beras catur warna (merah, putih, kuning, dan hitam) yang ditaruh di atas dada
mayat dan di bagian kepala mayat diperciki tirta penembak/pemanah, tirta
pengelukatan, tirta pangentas, dan tirta dari kahyangan. Selanjutnya mayat siap
untuk dibakar dengan api suci (api yang mendapat puja/mantra dari pandita atau
pinandita yang memimpin upacara. Setelah menjadi abu kemudian direka
(dibuat wujud manusia) yang diisi dengan perlengkapan kwangen yang berjumlah
dua puluh dua, masing-masing ditaruh di ubunubun sebuah, dahi sebuah, ulu Kati
sebuah, dikerongkongan sebuah, pusat sebuah, antara pusat dengan kemaluan
sebuah, antara kemaluan dengan pantat sebuah, mata dua buah, telinga dua buah,
hidung dua buah, mulut sebuah, ... (kemaluan) sebuah, kaki dua buah, tangan dua
buah, perut sebuah, pantat sebuah,…..(pelepasan) sebuah. Mengenai sajen yang
dipersiapkan adalah daksina pejati untuk di Prajapati. bubur pirata, nasi angkeb,
ketupat panjang, diuskamaligi, banten arepan, rantasan, bunga dan canang sari.
Sanak keluarga melanjutkan untuk persembahyangan bersama yang diantar puja
sulinggih. Selanjutnya abu dimasukkan ke dalam kelapa gading yang dibungkus
dengan kain kuning dan hiasan bunga untuk dihanyutkan ke laut atau ke sungai
yang bermuara ke laut dengan sajen yang diperlukan: seperti daksina, peras, dan
wangi-wangian. Dengan selesainya nganyut, maka proses pelaksanaan Sawa
Wedana telah usai, namun tahapan berikutnya dilanjutkan dengan upacara Atma
Wedana atau Nyekahi Mukur/Maligia atau ada juga dikenal upacara Ngerorasin.

2. Upacara Asti Wedana


Asti Wedana merupakan upacara ngeseng sawa/membakar mayat tersebut di
mana mayatnya telah pernah dikubur sebelumnya. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengupacarai tulangnya kalau kemungkinan itu didapat. Tata pelaksanaannya
adalah dengan mengadakan permakluman di Prajapati dan Pura Dalem dengan
menghaturkan sajen berupa peras, penyeneng, daksina, suci, segehan dan canang.
Sebagai simbul dari yang akan diaben dibuatkan tegteg, dilanjutkan dengan

128
upacara ngulapin di Merajapati, sajen yang disuguhkan seperti: peras, daksina,
pengulapan, sesayut, segehan, dan canang sari. Kemudian dilaksanakan upacara
Ngangkid (menggali tulang), dengan persembahan sajen berupa: suci, peras,
penyeneng, daksina, punjung, dan segehan. Sebelum dilakukan penggalian tulang
maka ada upacara penyemblihan ayam bulu hitam dengan sajennya: daksina,
peras, dan suci.
Setelah tulang-tulang didapatkan terus dibakar di setra sampai menjadi abu
dan dimasukkan ke dalam kelapa gading yang selanjutnya untuk dihanyut ke sungai
yang bermuara ke laut atau langsung dihanyutkan ke laut, yang prosesnya sama
dengan upacara Sawa Wedana.

3. Upacara Swasta
Swasta merupakan upacara ngeseng sawa di mana mayat dari seseorang yang
tidak mungkin dapat ditemukan lagi, karena meninggalnya seperti tenggelam,
hanyut, atau karena terlalu lama dikubur sehingga tak diingat lagi, sehingga mayat
tersebut dapat diwujutkan dengan membuat kusa sarira (jalinan daun alang-
alang), air, dan yang lainnya. Kusa sarira ini diwujudkan seperti tubuh manusia,
kalau menggunakan toya sarira ditambah dengan bunga-bungaan yang diiringi puja
mantra pandita atau pinandita. Wujud kusa sarira itu dibakar yang pelaksanaannya
sama dengan upacara Sawa Wedana seperti yang telah diuraikan di depan.

4. Upacara Ngelungah
Ngelungah juga merupakan upacara Pitra Yajna, karena yang diupacarai adalah
arwah dari anak-anak yang telah meninggal, khususnya anak-anak yang belum
tanggal giginya. Sedangkan anak-anak yang telah tanggal giginya upacaranya
sama dengan upacara untuk orang dewasa.
Adapun tata cara pelaksanaannya yaitu: dengan mempermaklumkan ke Pura
Dalem dengan menghaturkan canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telur
bekasem, segehan putih kuning, dan banten peras, daksina, canang, ketupat untuk
persembahan di Mrajapati, sebagai permakluman di Sedahan Setra disuguhkan
canang meraka, ketupat kelanan. Kemudian piuning pada lubang/bangbang

129
disuguhkan sorohan, pengambean, pengulapan, peras, daksina, kelungah nyuh
gading yang disurati Om Tara. Perlu diingat bahwa upacara Ngelungah ini tak
dilakukan ngeseng sawa hanya dipendem saja termasuk sajen-sajen yang
dipersembahkan juga ditimbun.

5. Upacara Atma Wedana/Nyekah/Maligia/Mukur/Ngerorasin


Upacara Atma Wedana atau sejenisnya, merupakan kelanjutan dari upacara
ngaben. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan atma, agar dapat kembali ke
asalnya atau bersatu dengan Hyang Widhi Wasa.
Pelaksanaan upacara Atma Wedana ini adalah dirumah atau tempat yang telah
ditentukan, sebagai simbul atma dibuatkan puspa sarira atau toya sarira yang diisi
harum-haruman dan bunga-bungaan dan telah dipujai. Sarana sajen yang
diperlukan seperti daun, buah, bunga, air dan api. Setelah puspa sarira dibakar
yang diiringi puja sulinggih, maka seluruh keluarga sembahyang bersama untuk
menyembah Hyang Widhi dan Sang Pitara. Kemudian abu puspa sarira itu
dihanyut ke laut atau sungai yang bermuara kelaut. Dengan demikian upacara
Atma Wedana telah berakhir, dengan harapan roh leluhur dapat mencapai surga
atau moksa. Demikianlah pelaksanaan upacara pitra yajna yang bermula dari
proses sawa prateka sampai pada upacara Atma Wedana.

130
BAB VI
Manusa Yajna

6.1 Pengertian Manusa Yajna


Kehidupan sebagai manusia melaksanakan yajna merupakan suatu kewajiban
yang mesti dilaksanakan. Untuk melaksanakan yajna memerlukan adanya kesiapan
lahir dan batin, dalam artian hendaknya dilandasi oleh adanya kesucian secara lahir
maupun batin. Memang kehidupan manusia tak terlepas dari penderitaan dan
kesengsaraan, juga tidak terlepas dari segala tantangan serta kekotoran yang menimpa
diri manusia. Justru itu manusia ingin membebaskan dan melepaskan segala
penderitaan dan kekotoran melalui pelaksanaan yajna atau pengorbanan yang tulus
ikhlas termasuk ke hadapan sesama manusia.
Menjelma menjadi manusia selalu ada pada jalan suka maupun duka. Jalan
kehidupan yang demikian harus dihadapi penuh ketabahan dan penuh kesabaran
dengan melakukan usaha-usaha yang menuju pada kebaikan dan kebenaran
(dharma). Bagaimana usaha atau perilaku kita sebagai manusia untuk selalu
berbuat di atas jalan yang benar dan suci. Perbuatan yang baik merupakan
kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki dirinya dari kesengsaraan. Dalam
ajaran agama Hindu ada ditegaskan bahwa manusia mengalami kehidupan atau
kelahiran yang berulang-ulang yang disebut punarbhawa. D.engan adanya
kelahiran manusia yang berulang-ulang juga sebagai suatu penderitaan. Untuk itu
usahakan agar penderitaan itu dapat terlepas dengan lebih banyak berbuat kebenaran
yang mengarah pada kesucian. Perbuatan baik dan suci merupakan perbuatan yang
diajarkan dan dibenarkan oleh agama yang berupa kebajikan (dharma) atau
disebut pula subhakarma. Perbuatan baik yang nantinya mengantarkan manusia
menuju jalan bersatu dengan Hyang Widhi Wasa (mencapai moksa). Sedangkan
perbuatan yang buruk adalah segala perbuatan yang menyimpang atau
bertentangan dengan ajaran agama misalnya kesombongan, kecongkakan
(adharma) yang akan mengantarkan manusia menuju ke jalan sesat (neraka). Hasil
perbuatan yang baik dan buruk tentunya meninggalkan bekas dari perbuatan itu
sendiri. Bekas perbuatan itulah disebut karma wasana. Bagaimanapun caranya

131
agar bekas perbuatan yang buruk itu dapat sirna dan yang masih tertinggal adalah
bekas perbuatan yang baik saja. Untuk itu suatu cara yang dapat diusahakan sesuai
dengan ajaran agama Hindu adalah melakukan perbuatan yang benar dan suci seperti
halnya melaksanakan upacara manusa yajna.
Sebelum menguraikan tentang makna atau pengertian manusa yajna itu, yang
secara umum lebih menekankan nilai spiritual melalui sarana yajna, maka secara
lahirnya tentunya perlu diupayakan melalui perbuatan yang baik (susila), yang
dalam ajaran agama Hindu disebut Tri Kaya Pari sudha atau tiga perbuatan yang
harus disucikan. Ketiga perbuatan yang harus disucikan itu adalah berkata-kata
yang benar dan suci, berbuat yang benar dan suci, dan berpikirlah yang benar
dan suci.
Ajaran tata susila agama Hindu mengajarkan agar manusia dapat berkata-
kata yang benar dan suci yang disebut Wacika Parisudha. Bahwa dengan kata-
kata yang benar dan suci kita mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan.
Berikut ini dalam kitab Niti Sastra ditegaskan sebagai berikut:
"Wasita nimittantan manemu laksmi,
wasita nimittatanta pati kapangguh,
wasita nimittanta menemu duhka,
wasita nimittanta manemu mitra", (Niti Sastra, V, 3.).
Yang artinya:
Oleh perkataan engkau akan mendapat bahagia,
Oleh perkataan engkau akan mendapat kesusahan,
Oleh perkataan engkau akan memperoleh sahabat.

Selanjutnya kitab Sarasamuccaya ada menegaskan pula:


"Asatpralapan parusyam paisunyam anrtam tatha, catvari vaca rajendra na
jalpennanucintayet", (Sarasamuccaya, 75), yang artinya:
Inilah yang tidak patut timbul dari perkataan (wak) empat banyaknya, masing-
masingnya, perkataan yang jahat, perkataan kasar menghardik, perkataan yang
mempitnah, dan perkataan bohong, itulah keempatnya supaya dijauhkan dari
kata-kata itu, jangan diucapkan, juga tidak terpikir untuk diucapkan. Dari sloka-

132
sloka di atas, maka sungguh pentingnya perkataan yang suci itu (wak
parisudha), sehingga dapat menyenangkan atau membahagiakan sesama
manusia, sedangkan perbuatan yang jahat, buruk perlu dikendalikan agar tidak
menyinggung perasaan orang lain.
Begitu pula terhadap perilaku atau perbuatan manusia, agar mengarah pada
perbuatan yang baik dan benar yang berdasarkan dharma (subha karma) agar
mencapai kebahagiaan dan kemuliaan. Manusia mempunyai kesempatan yang
sebanyak-banyaknya untuk berbuat baik (kayika pari sudha) supaya hidup ini
tidak sia-sia, tetapi penuh makna.
Selain manusia dapat berkata-kata dan berperilaku yang benar dan suci,
maka manusia juga tak terlepas dari pikir.an yang benar dan suci (manacika
parisudha), karena pikiran yang benar dan suci sangat berperan penting bagi bagi
kelangsungan hidup manusia. Memang untuk mengendalikan pikiran yang
mengarah pada kebenaran dan kesucian tidaklah gampang, sunguh menyulitkan
bagi manusia. untuk itu usaha untuk mengendalikannya bermaksud untuk
menyenangkan dan membahagiakan din sendiri maupun manusia yang lain.
Seperti halnya dalam melaksanakan upacara yajna, dalam hal ini upacara
manusa yajna perlu dilandasi dengan hati dan pikiran yang tenang dan suci atau
tidak sedang kalut.
Tentang hakikat pikiran yang benar dan suci (manacika parisudha), berikut
ini dalam kitab Sarasamuccaya ada ditegaskan:
"
Duragam bahudaghami prarthanasamsayatmakam, manah suniyatam yasya
sasukhi pretya vechaca", (Sarasamucaya, 81), yang artinya: Demikianlah
hakikatnya pikiran, tidak menentu jalannya banyak yang dicita-citakan, terkadang
berkeinginan, terkadang penuh keragu-raguan, demikianlah kenyataannya. Jika
ada orang yang dapat mengendalikan pikiran, pasti orang itu memperoleh
kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia lain.
"Mano hi mulam sarvesam indriyanampra vartate, subhasubhasvavasthasu
karyam tat suvyavasthitam", (Sarasamuccaya, 80), yang artinya: Sebab pikiran itu
namanya sumbernya indriya, ialah yang menggerakkan perbuatan baik buruk itu,
karena itu, pikiranlah yang patut segera diusahakan pengendaliannya.

133
Menyimak manna sloka-sloka di atas, maka ketiga perilaku manusia baik
perkataan, perbuatan, dan pikiran sedapat mungkin untuk menuju pada kebenaran
dan kesucian guna dapat menyatukan diri dengan Hyang Widhi (Moksa). Dalam
upacara manusa yajna mengenai unsur kebersihan itu biasanya menggunakan
sarana yang bernama tirta, seperti tirta pengelukan, pemersihan, pedudusan, dan
yang sejenis dengan itu. Dengan tirta bermakna sebagai penyucian lahir batin
manusia, tentunya yang telah mendapat puja mantra sulinggih atau pandita.
Dalam Silakrama ada ditegaskan:
"Adbhir gatrani sudhyanti manah satyena sudhyanti, widyatapobhyam
bhrtatma buddhir jnanena sudhyati", yang artinya:
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh
dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
Ini berarti bahwa unsur kebersihan, kemurnian, dan kesucian diri manusia
sangat penting artinya dalam kaitannya dengan upacara manusa yajna.
Dari uraian di atas, maka yang dimaksud dengan upacara Manusa Yajna
adalah suatu upacara persembahan yang tulus iklas atau suci untuk memelihara
hidup dan membersihkan lahir batin manusia, mulai dari terwujudnya jasmani di
dalam kandungan sampai akhir hidup manusia itu. Atau dengan perkataan lain
bahwa upacara Manusa Yajna adalah korban suci yang tulus iklas untuk
keselamatan keturunan serta kesehteraan manusia lainnya dengan dana punia serta
usaha kesejahteraan lainnya yang ditujukan untuk kesempurnaan hidup manusia.
Juga sebagai usaha untuk memelihara, mendidik, dan menyucikan secara spiritual
terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir
hidupnya.

6.2 Tujuan Upacara Manusa Yajna


Upacara manusa yajna merupakan upacara kesucian untuk manusia. Melalui
pelaksanaan upacara manusa yajna diharapkan untuk dapat mencapai kesucian
lahir dan batin. Apabila kesucian ini dapat dicapainya, tentunya ketenangan dan
kenyamanan hidup yang berupa kesejahteraan dan kebahagiaan dapat diwujudkan
atau moksartham jagat hita ya ca iti dharma.

134
Dalam pelaksanaan upacara manusa yajna ini, tujuan yang diharapkan antara
lain:
a. Untuk menjadikan lahir dan batin manusia yang diupacarakan dapat menjadi
suci.
b. Untuk mendidik secara lahir dan batin, agar manusia itu mencapai
kesempurnaan secara lahir dan batin.
c. Untuk meningkatkan status manusia dari satu tingkat ke tingkat yang lebih
tinggi atau dapat mencapai kematangan/kedewasaan baik secara fisik maupun
spiritual.
d. Untuk menjadikan manusia itu mencapai kesempurnaan, sehingga dapat
menghubungkan diri dengan pencipta-Nya yaitu Tuhan Yang Maha Esa atau
Hyang Widhi Wasa.
e. Untuk memberikan perlindungan secara spiritual, untuk menghindari dan
menjauhkan adanya rintangan atau godaan-godaan yang ingin mengganggu
kehidupan manusia.
f. Untuk meningkatkan budi daya manusia sehingga mencapai kemuliaan,
keluhuran, dan penuh tanggung jawab atau terciptanya manusia Indonesia
seutuhnya.

Demikianlah utamanya makna dan tujuan pelaksanaan upacara manusa yajna


yang pada intinya merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu dalam usaha
untuk menyucikan diri lahir batin.

6.3 Pelaksanaan Upacara Manusa Yajna


Berbicara mengenai pelaksanaan yajna khususnya pelaksanaan Manusa Yajna,
ada pelaksanaan nitya karma (setiap hari), seperti puja Tri Sandhya. Ada
naimitika karma yakni pelaksanaan yajna pada waktu-waktu tertentu, misalnya
ngotonin, dan juga ada kamya karma yakni suatu pelaksanaan yajna yang bersifat
wajib bagi setiap umat Hindu untuk melaksanakan yajna sesuai dengan
kemampuannya masing-masing dan tradisi setempat, tentunya didasari oleh
keiklasan. Bagi umat Hindu, melaksanakan upacara manusa yajna itu ada

135
berjenis-jenis , di antaranya :

a. Upacara Magedong-gedongan (bayi dalam kandungan)


Proses terjadinya kehamilan bagi si ibu disebabkan oleh adanya pertemuan
atau terjadinya pembuahan antara sel telur (ovum) atau "kama ratih/swanita" si
ibu dengan sel sperma (spermatozoom) atau "kama Jaya/sukla" si ayah. Dengan
adanya pertemuan itulah maka terjadi kehamilan dalam kandungan si ibu
hingga lama-kelamaan janin/"kama reka" itu semakin membesar dan hingga
pada umur 5 bulan (± 6 bulan kalender) sudah berwujud menjadi manusia
walaupun masih serba kecil. Janin yang ada dalam kandungan terdiri empat
unsur jasad yang memeliharanya, seperti: yeh nyom/air ketuban merupakan
cairan yang melindungi si bayi, lamad atau lemak yang membungkus si bayi,
darah yang mengedarkan makanan serta air untuk bayi, serta ari-ari sebagai
tempat melekatnya tali pusat untuk mengisap makanan bagi si bayi. Pada saat
berumur lima bulan inilah dilaksanakan upacara magedong-gedongan yang
tujuannya adalah untuk pembersihan lahir dan batin si bayi yang masih dalam
kandungan, memohon agar si ibu yang mengandung dan anak yang
dikandungnya menjadi selamat, juga memohon agar anak yang lahir kemudian
berguna bagi dirinya sendiri, orang tua, masyarakat, dan negaranya. Atau
dengan kata lain agar menjadi anak yang suputra, bila yang lahir seorang anak
laki agar memiliki jiwa ksatriya atau berani membela kebenaran, jika yang lahir
seorang anak perempuan agar menjadi istri utama dan setia atau jujur.
Dalam masa kehamilan ini si ibu hendaknya taat pada pantangan-pantangan
dan tak terpengaruh oleh adanya perkataan, perbuatan, dan pikiran yang kurang
baik yang menganggu ketenangan, hal ini bisa diarahkan dengan mengikuti
nasihat yang berguna, membaca cerita, membaca kitab suci weda, dan hal
lainnya yang dapat membangkitkan suasana kegembiraan, yang tentunya akan
mempengaruhi sifat si anak yang masih dalam kandungan.
Mengenai jenis upakara yang diperlukan yaitu: untuk tingkat yang kecil
seperti: byakala dan prayascita sebagai pebersihan, dan sesayut, pengambiyan,
peras, peyeneng, dan sesayut pemahayu tuwuh, sebagai tataban; Sedangkan

136
untuk tingkat yang lebih besar, upakaranya: byakala prayascita dan
pengelukatan sebagai pebersihan, serta untuk tataban sama seperti di atas
dengan ditambah banten pagedongan matah.

Adapun tata cara pelaksanaannya yaitu: dilaksanakan di halaman pintu


gerbang (lebuh) yang menggunakan dua batang/cabang kayu dedap yang diikat
benang hitam, si istri mengusung ceraken, tangan kanan menjinjing daun
kumbang yang berisi air dan ikan, sedang si suami tangan kirinya memegang
benang, tangan kanannya memegang gelanggang, segehan diperciki untuk roh
jahat, dan yang laki/suami berjalan memegang benang 3ambil menusuk daun
kumbang yang berisi air yang dijinjing oleh si istri sampai keluar ikan dan
airnya.

b. Upacara Bayi Lahir


Dengan lahirnya bayi dalam kehidupan berumah tangga merupakan hal yang
istimewa dan dengan kelahiran anak itu pula, maka sempurnalah kehidupan
sebagai suami-istri. Kehadiran si bayi di hadapan ayah dan ibu merupakan suatu
kebanggaan dan kebahagiaan yang penuh makna bagi suami-istri itu sendiri.
Yang perlu mendapat perhatian pada saat bayi lahir adalah cara perawatan
terhadap ari-ari. Ari-ari agar dibersihkan dengan air bersih atau air kumkuman
kemudian dimasukkan ke dalam sebutir kelapa yang telah dikupas dan dibelah
dua airnya (dibuang), bagian atasnya diisi tulisan "ongkara" (Om), bagian
bawahnya ditulisi "Ongkara, Angkara , Ahkara" (Om, Ang, dan Ah), juga diisi
duri, wangiwangian, bunga-bungaan, dan sirih, selanjutnya dibungkus dengan
kain putih lalu ditanam di halaman pintu rumah, kalau bayi laki ditanam di
sebelah kanan dan kalau bayi perempuan ditanam di sebelah kiri halaman pintu
rumah, dengan pujanya sebagai berikut: "Om Sang Hyang Ibu Pertiwi Rumaga
Bayu, Rumaga Amertha, Sanjiwani, Amertani ikang sarwa tumuwuh ... (nama
bayi) moga dirgha yusa, poma, poma, poma.
Yang artinya:

137
Ya Yuhan dalam wujud sebagai Ibu Pertiwi yang merupakan sumber
penghidupan memberikan hidup dan kebahagiaan bagi semua mahluk
(nama bayi ... ), semoga sehat walafiat dan panjang umur.
Di atas timbunan ari-ari diisi batang buluh untuk siraman air dan pAndan
wong sebagai penolak marabahaya yang ingin mengganggu si bayi.
Mengenai upakara untuk si bayi: dapetan, raka-raka, lauk-pauk, canang sari,
penyeneng, ajuman putih kuning, dan air suci. Sedangkan untuk catur sanak
adalah segehan kepel empat warna dan manca warna serta canang sari.

c. Upacara Kepus Puser


Pada saat tali pusat bayi sudah lepas (kepus) dibuatkan upacara penyucian
bagi si bayi dan catur sanak (empat saudara si bayi) serta tali pusatnya disimpan
dalam ketupat diisi rempah-rempah sintok, mesui, cengkeh, dan yang lainnya agar
tidak busuk, dan digantungkan pada tempat tidur si bayi. Mulai saat itulah si bayi
dibuatkan banten Kumara yaitu tempat memuja Sang Hyang Kumara yang
distanakan di pelangkiran Kumara dan setiap saat dibuatkan banten atau
sajennya supaya si bayi selamat. Sajen yang diperlukan seperti: dapetan,
sodaan/ajuman, banten kumara, panelah-nelahan, canang sari, atau kalau keadaan
tak memungkinkan cukup dibuatkan ajuman, canang sari dan air suci.

d. Upacara Ngelepas Hawon/Upacara 12 Hari


Saat setelah bayi berumur dua belas hari dibuatkan upacara : Ngelepas
hawon" merupakan saat untuk memberikan nama bagi si bayi (namadheya),
tujuan upacara ini adalah untuk menyucikan diri bayi agar selamat. Pada
upacara ini si bayi dilukat dengan tirta pengelukatan dan disembahyangkan.
Demikian pula sang catur sanak si bayi ditingkatkan statusnya, sehingga
menjadi rajapti, banaspati, anggapati, dan banaspati raja. Mengenai
upakaranya yaitu: peras, canang sari, ajuman, dan tirta.

e. Upacara Tutug Kambuhan (Upacara Saat Bayi Berumur 42 Hari)


Upacara Tutug Kambuhan merupakan rangkaian manusa yajna untuk

138
melakukan penyucian terhadap ibu si bayi yang bermakna spiritual,
dimaksudkan agar dapat melakukan kegiatan kesucian, misalnya memasuki
tempat-tempat suci atau tempat pemujaan lainnya. Juga bertujuan untuk
memberikan perlindungan serta mohon kekuatan agar si bayi sehat dan selamat.
Saat ini bayi sudah dapat dibawa ke luar rumah. Upacara ini juga disebut
Upacara Mecolongan. Saat ini juga dilakukan melubangi telinga si bayi, bila
bayi itu perempuan.
Upacara tutug kambuhan ini juga bertujuan untuk mengembalikan
kekuatan-kekuatan yang membantu catur sanak dalam kandungan, dalam proses
pertumbuhan, penyempurnaan jasmani serta keselamatan si bayi. Kekuatan yang
dimaksudkan adalah nyama bajang, seperti: bajang colong, bajang bukal, bajang
yeh, bajang tukad, bajang ambengan, bajang pahpah, bajang lengis, bajang
dodot, dan lain-lainnya. Setelah bayi lahir nyama bajang ini tidak mempunyai
tugas lagi, tetapi kadang-kadang sering mengganggu si bayi. Upakara yang
diperlukan yaitu: byakala, prayascita, dengan tirta pengelukatan, dan
pebersihan, untuk si bayi, sedang untuk bayi buatkan banten kumara, dapetan
dan segehan.
Mengenai tata cara pelaksanaannya, terlebih dahulu si ibu dan si ayah (orang
tua si bayi) mabyakala dan maprayascita, kemudian si bayi diupacarai
dimohonkan tirta pengelukatan di dapur, di pemandian, di pemerajan, dan di
pelangkiran.

f. Upacara Nyambutin atau Upacara Tiga Bulan


Setelah si bayi berumur seratus lima hari, maka dibuatkan upacara yang
bernama upacara Nyambutin. Adapun tujuannya adalah untuk memohon
kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Hyang
Surya, Candra, dan Bhatara Guru, agar si bayi diberikan kekuatan lahir batin,
mulai saat ini si anak diajarkan menyentuh tanah. Anak sudah dapat
menginjakkan kakinya di tanah agar Ibu Pertiwi memberikan waranugerahanya
untuk melindungi dan mengasuh si anak atau tidak mengganggunya. Saat ini
juga dilakukan penegasan pemberian nama si anak. Pada upacara nyambutin

139
atau upacara Netelunin, pelaksanaan upacara yang dilakukan yaitu:
pengelepasan, penyambutan, banten kumara, tataban, atau yang lebih besar
ditambah pulegembal, canang daksina, dan banten kumara. Tempat pelaksanaan
upacara ini yaitu di Sanggar Kumalan. Bila tempat ini belum ada disesuaikan
dengan keadaan setempat.

g. Upacara pacara Satu Oton Ngotonin (Saat Bayi Berumur 210 Hari)
Apabila si bayi/anak sudah berumur dua ratus sepuluh hari terhitung sejak
hari lahirnya, maka diadakan suatu rangkaian upacara manusa yajna yang disebut
Upacara Satu Oton atau Ngotonin.
Pada upacara ini dilakukan pemotongan rambut yang pertama untuk si bayi
dan pada bagian ubun-ubun (Siwadwara) rambutnya masih ditinggalkan sedikit
karena masih lemah.
Upacara ngotonin ini juga sebagai upacara untuk peringatan hari kelahiran si
bayi. Upacara ini bertujuan untuk mohon perlindungan, keselamatan dan
penyucian. Sedangkan sarana banten yang dibuatkan seperti: dapetan sodaan,
jejanganan, pengambean, banten sambutan, canang daksina, banten kumara, dan
sebagaimana disesuaikan dengan desa kala patra.

h. Upacara Tumbuh Gigi atau Upacara Ngempugin


Bila si bayi sudah tumbuh gigi dibuatkan upacara Ngempugin. Upacara ini
dilakukan pada pagi hari. Tujuan upacara ini adalah untuk mohon keselamatan
dan perlindungan ke hadapan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Surya,
Brahma, dan Sri.

i. Upacara Makupak
Upacara Makupak ini dilaksanakan pada saat pertama kali gigi si anak telah
tanggal atau maketus. Pada saat ini si anak mulai disiapkan untuk mempelajari
ilmu pengetahuan, oleh karena itu badan mereka perlu disucikan dengan suatu
upacara yang disebut pabeakalan dan prayascita. Pada saat si anak telah tanggal
giginya, maka tugas dari Hyang Kumara untuk mengasuh si anak telah dianggap

140
selesai, dan tidak perlu lagi dibuatkan banten Kumara pada tempat tidur.
Kalau sudah dilaksanakan upacara Makupak, maka anak sudah mulai
dipersiapkan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan pada setiap otonom
berikutnya dapat dilengkapi dengan pabiyakalaan, sesayut, dan tatebasan.

j. Upacara Munggah Deha/Teruna atau Raja Sewala (Meningkat Dewasa)


Sebagai tanda kedewasaan bagi seorang laki-laki adalah suaranya mulai
membesar (ngembakin), sedangkan tanda kedewasaan bagi seorang wanita adalah
untuk pertama kalinya dia mengalami datang bulan (menstruasi).
Untuk meningkat dewasa ini (raja sewala) lebih banyak mengandung suatu
pengharapan ke hadapan Sang Hyang Semara Ratih beserta para widiadara
widiadari, agar beliau tidak menyesatkan orang yang bersangkutan, tetapi
senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan secara gaib, sehingga ia dapat
mengendalikan diri dalam menghadapi masa pancaroba. Pada umumnya upacara
ini dititik beratkan pada anak perempuan, hal ini kemungkinan disebabkan karena
perempuan memiliki pribadi yang lemah, dan perempuanlah dijadikan ukuran
keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu keluarga, tegak runtuhnya harga
diri/martabat keluarga.
Berikut ini dalam kitab suci Bhagavadgita ada ditekankan:
"Kulaksaye pranasyanti kuladharmah sanatanah, dharme naste kulam kritsnan
adharmo ubhibhavaty uta", (Bhagavadgita, I. 40), yang artinya:
Keluarga yang di dalam keadaan keruntuhan. dharmanya menemui ajalnya,
jika dharma menemui ajalnya, seluruh keluarga diliputi oleh perasaan
adharma.
"Adharmabhibhavat krisna
pradusyanti kulastriyah
strisu dustasu warneya
jayate warnamsamkarah". (Bhagavadgita, I.41). yang artinya: Dan jika
adharma meliputi suasana, O Krisna, maka para wanita dari kaum
keluarga itu menjadi jatuh moralnya dan bila para wanita moralnya
jatuh, O Krisna, maka terjadilah kekacauan alam manusia.

141
Oleh karena demikian, maka dalam pelaksanaan upacara munggah
deha/teruna (Raja sewala), wanita yang diutamakan untuk dimohonkan
kerahayuannya ke hadapan Hyang Semara Ratih.
Sarana banten yang dibuatkan dalam pelaksanaan upacara raja sewala ini
adalah byakala, prayascita, tataban seadanya, sesayut tabuh rah (kalau anak
perempuan) dan sesayut ngeraja singa (kalau anak laki), canang sari, dan tirta (air
suci).

k. Upacara Mapandes (Upacara Potong Gigi)


Upacara mapandes atau upacara potong gigi juga dikenal dengan nama
metatah atau mesangih, upacara ini merupakan salah satu rangkaian dari
upacara manusa yajna yang patut dilaksanakan oleh setiap umat Hindu. Upacara
ini mengandung pengertian yang mendalam bagi kehidupan umat Hindu yaitu:
pergantian perilaku untuk menjadi manusia sejati yang telah dapat
mengendalikan diri dari godaan pengaruh sad ripu; memenuhi kewajiban orang
tuanya terhadap anaknya untuk menemukan hakikat manusia yang sejati; dan
untuk dapat bertemu kembali kelak di surga antara anak dengan orang tuanya
setelah sama-sama meninggal dunia.
Upacara mapandes ini bertujuan untuk menghilangkan kekotoran diri dalam
wujud kala, bhuta, dan pisaca serta raksasa dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh
watak sad ripu, sehingga dapat menemukan hakikat manusia yang sejati; untuk
dapat bertemu kembali dengan arwah orang tua yang telah suci di surga,.untuk
menghindari hukuman di alam neraka nanti, yang dijatuhkan oleh Bhatara
Yamadhipati berupa menggigit pangkal bambu petung; untuk memenuhi
kewajiban orang tuanya kepada anaknya, guna menemukan hakikat manusia
sejati.
Upacara potong gigi dilaksanakan segera setelah meningkat dewasa atau
sebelum upacara wiwaha atau kawin, sehingga apabila kemudian mereka kawin
akan terjadi pertemuan sukla-swanita (sel telur dengan sperma) yang telah
disucikan. Namun banyak juga pelaksanaan upacara mapandes ini

142
dilaksanakan bersamaan dengan upacara wiwaha. Hal ini dilakukan karena ada
upacara yang lainnya belum sempat dilakukan termasuk potong gigi, namun
sudah terburu cepat mawiwaha. Juga dimaksudkan untuk dapat menghemat biaya,
sehingga beberapa tingkatan upacara manusa yajna dilakukan sekalian. Demi
menghemat biaya terkadang juga melaksanakannya pada saat upacara
memukur (rangkaian upacara pitra yajna), namun juga tak jarang dilakukan
secara kolektif atau bersama-sama.
Upacara mapandes ini dilakukan terhadap anak laki yang telah meningkat
dewasa serta anak perempuan jika telah datang bulan. Dalam upacara ini gigi
yang dipotong berjumlah enam buah pada bagian atas yang terdiri dari empat
buah gigi seri dan dua buah gigi taring, secara rohaniah dipotongnya gigi bagian
atas berjumlah enam buah dapat bermakna untuk mengurangi kekotoran dan
musuh dalam diri atau sad ripu, masing-masing: kama (keinginan), krodha
(kemarahan), loba (ketamakan), moha (kemabukan), mada (congkak), dan
matsarya (iri hati).
Keenam sifat (sad ripu) itu sering menyesatkan dan menjerumuskan manusia
ke lembah kesengsaran di dunia dan akhirat. Tetapi secara lahiriah pemotongan
gigi itu dapat pula dianggap untuk mencapai keindahan, kecantikan, dan lain-
lainnya.

Pelaksanaan upacara mapandes ini pemujaan ditujukan ke hadapan Hyang


Semara Ratih (Dewa Kama) sebagai lambang cinta kasih. Dewa Kama dalam
wujudnya sebagai Ardanareswari mempunyai nama yang banyak, seperti: Dewa
Anangga dengan saktinya Dewi Kamini, Hyang Smara dengan saktinya Dewi
Svetari, dan Dewa Kamadewa dengan saktinya Dewi Ratih.
Dalam pelaksanaan upacara Mapandes ini biasanya dibuat bale gading yang
dihias dengan bunga-bungaan yang berwarna serba kuning sebagai berstananya
Dewa Kama beserta kekuatannya yaitu Dewi Ratih.
Mengenai sajen yang diperlukan seperti: byakala, prayascita, pengelukatan,
canang daksina, tataban, dan yang lainnya. Sedangkan perlengkapan yang
perlu disediakan adalah: sebuah balai-balai yang masih baru (sukla),

143
dilengkapi dengan bantal, kasur, seperai, dan tikar yang berisi gambaran
semara ratih, sebuah bale gading seperti keterangan di atas, sampiah tegteg,
kelapa gading yang dikasturi/ditulisi ardhanareswari (gambar Semara Ratih).
Kelapa gading itu sebagai tempat ludah dan tempat singgang gigi yang telah
terpakai, yang nantinya usai upacara kelapa gading ini ditanam di belakang
Sanggah Kemulan. Singgang gigi terbuat dari tiga potong cabang dadap, dan tebu
malem/tebu ratu yang panjangnya kira-kira 1 cm. Diperlukan juga pengilap
dari cincin, kikir, pahat, cermin, pengurip-urip dari induk kunir, semua
perlengkapan itu ditaruh di atas bokoran, tempat sirih, tembakau, pinang,
gambir, dan kapur. Disediakan kain secukupnya sebagai penutup dada. Di
belakang dipan disediakan banten tetingkeb yang akan diinjak pada saat turun
atau potong gigi telah usai. Terkadang uga dapat dipakai segehan agung. Perlu
diingat, sajen untuk pemimpin upacara yakni: peras, daksina, jauman,
punia/sesari.

l. Upacara Wiwaha (Upacara Perkawinan)


Upacarra pawiwahan/perkawinan merupakan upacara persaksian baik ke
hadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang
tersebut telah mengikatkan diri sebagai suami dan segala akibat perbuatannya
menjadi tanggung jawab mereka bersama. Upacara ini merupakan pembersihan
terhadap sukla-swanita serta penyucian lahir batinnya. Adanya rangkaian
penyucian ini untuk menghindari pengaruh buruk atau gangguan bhuta kala,
sehingga kalau keduanya bertemu terjadi pembuahan dan terbentuk manik/janin
yang bersih, sehat, dan selamat. Dengan demikian diharapkan manik/janin
dijiwai oleh roh yang suci dan baik, kemudian lahir seorang anak yang berguna
dalam masyarakat atau yang menjadi idaman orang tuanya.
Perlu dikemukakan pula bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara
seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Juga sebagai suatu pranata sosial yang lengkap, yang
mencakup adanya tata cara sakramental, porma. lisma, dan hal-hal lainnya sebagai

144
suatu bagian dari tujuan hidup manusia yang dilakukan dalam tingkat hidup
grahasta asrama. Atau, sebagai suatu hubungan antara seorang laki-laki dengan
seorang wanita yang diakui oleh undang-undang yang menyangkut hak dan
kewajiban tertentu yang mengikat kedua belah pihak dalam hubungannya dengan
anak-anak yang lahir akibatnya. Dengan demikian bahwa perkawinan itu
merupakan suatu hubungan jasmani dan rohani yang dibenarkan atau diatur dalam
hukum agamanya masing-masing, termasuk juga di sini dalam ajaran agama
Hindu.
Tujuan perkawinan yaitu suatu penyucian jasmani dan rohani untuk
memperoleh keturunan yang suputra untuk membayar utang orang tua, dan untuk
menjalankan kewajiban untuk kawin dan mempunyai keturunan sesuai dengan
ajaran agama Hindu yang merupakan peristiwa yang mulia.
Secara garis besarnya bahwa pelaksanaan upacara perkawinan dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu :
a. Upacara medengen-dengenan (pekala-kalaan) adalah upacara yang penting
atau acara pokok dalam upacara perkawinan, karena dalam upacara inilah
dilakukan pembersihan secara rohaniah terhadap bibit-bibit kedua mempelai
dan persaksian atas perkawinannya, baik ke hadapan Hyang Widhi Wasa dan
masyarakat, oleh karena itu pelaksanaannya sedapat mungkin tidak tertunda.
b. Upacara natab dan mapejati (mejauman) merupakan penyempurnaan dalam
perkawinan. Tujuannya adalah untuk pembersihan lahir batin kedua
mempelai, memberikan bimbingan hidup, dan menentukan status salah satu
pihak. Pelaksanaannya kadang-kadang tertunda beberapa tergantung keadaan.
Adapun bantennya yaitu: banten padengen-dengen (pekala-kalaan), banten
tataban, banten pejati, tataban pulegembal, sesayut nganten, dan segehan
cacahan warna lima, api takep, dan tetabuhan.

Mengenai tata cara upacara medengen-dengenan yaitu: dimulai dengan


mabyakala dan maprayascita. kemudian mempelai diupacarai di sanggah Kemulan
dengan banten padengen-dengenan. Setelah pemimpin upacara memberi puja maka
kedua mempelai bersembahyang sekalian dilakukan pembersihan dengan

145
menggunakan sisig, keramas segau, tepung tawar, dan sebagainya, lalu diberikan
pengelukatan dilanjutkan dengan natab banten padengen-dengenan. Kemudian
kedua mempelai mengelilingi Sanggar Kemulan, Sanggar Pesaksi, tiap kali
melewati kala sepetan kakinya disentuhkan sebagai simbul pembersihan sukla-
swanita dan dirinya. Setelah tiga kali, lalu penganten yang laki berbelanja
sedangkan yang perempuan menjual segala yang ada pada tempat jualannya, waktu
berjalan penganter yang laki memikul tegen-tegenan dan yang perempuan
menjungjung sok belanjaan. Pelaksanaan upacara jual beli ini sebagai simbolis
tercapainya kata sepakat kedua mempelai untuk memperoleh keturunan.
Dilanjutkan dengan "merobek tikar" atau tikeh dadakan, di mana mempelai wanita
memegang tikar dan mempelai laki merobek dengan keris yang berada pada
penegtegan. Hal itu sebagai tanda "telah robeknya keperawanan/selaput dara di
gadis", kedua mempelai akhirnya memutus benang yang terlentang pada cabang
dadap sebagai tanda bahwa mereka telah melampui masa remajanya dan
memasuki kehidupan sebagai suami istri/hidup berumah tangga (grahasta asrama
Dilanjutkan dengan penanaman pohon kunir, andong dan keladi di belakang
sanggar Kemulan serta berganti pakaian seusai mandi. Sore harinya dilakukan
upacara melukat, mejaya-jaya, dan natab dapetan seadanya, dan akhirnya
mepejati atau ngaba jaja. Upacara mepejati ini bertujuan untuk menyatakan
bahwa mulai saat itu si gadis tidak lagi menjadi tanggung jawab dan hak waris
keluarganya. Dengan demikian tata pelaksanaan upacara perkawinan atau
wiwaha telah berakhir.
Selanjutnya di sini akan dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan
perkawinan, seperti halnya syarat-syarat perkawinan baik syarat fisik maupun
syarat agama, larangan perkawinan, sistem perkawinan, prosedur pencatatan
perkawinan, hak dan kedudukan suami istri, kewajiban suami, kewajiban istri,
kewajiban anak, serta kekayaan suami istri.
Untuk tercapainya harapan yang diinginkan dalam membina rumah tangga,
maka ada beberapa persyaratan baik syarat fisik maupun syarat agama. Yang
menjadi syarat fisik antara lain: pertama, hendaknya didasari oleh cinta sama
cinta (persetujuan kedua belah pihak), kedua, telah dewasa, yang laki minimal

146
berumur 19 tahun, yang wanita minimal berumur 16 tahun, namun dewasa ini
umur sekian masih terlalu muda, secara umum umur yang cocok/ideal yaitu yang
laki berumur 25 tahun, yang wanita berumur 20 tahun. Sebagai syarat ketiga,
sehat lahir dan batin, keempat, tidak sedang terikat oleh satu perkawinan.
Jika semua persyaratan di atas dipenuhi oleh kedua mempelai, sebenarnya
mengandung sasaran tertentu, yaitu memperoleh keturunan yang baik yang
disebut suputra, mewujudkan suasana bahagia dalam keluarga, serta membina
keluarga yang kekal. Berikut ini ada sloka yang menegaskan bahwa perkawinan
itu supaya kekal atau langgeng, dengan kata lain sekali melangsungkan
perkawinan selamanya menjadi kekal dalam ikatan perkawinan itu.
"Anyonyasyawayabhicaro bhawedamaranantikah, esa dharmah samasena
sneyah stripumsayoh parah", (Manawadharmasastra, IX. 101), yang artinya:
Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati,
singkatnya, ini harus dianggap hukum yang tertinggi bagi suami dan istri . "Tatha
nityam yateyatam stripumsau tu kritakriyau, yatha nabhi caretam tau
wiyuktawitaretaram", (Manawadharmasastra, IX, 102), yang artinya: Hendaknya
laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan
dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya
melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain.
Dari kutipan sloka di atas, bahwa perkawinan yang kekal hendaknya menjadi
tujuan dari suami istri, hendaknya dapat menumbuhkan dan memelihara
kesetiaan di antara suami istri agar tidak terjadi pertengkaran dan perceraian.
Selanjutnya syarat-syarat perkawinan menurut ajaran agama Hindu yaitu:
Pertama, kedua mempelai telah menganut agama Hindu, jika salah seorang
mempelai tidak beragama Hindu, maka perkawinannya belum dapat disahkan
menurut hukum Hindu, terlebih dahulu harus mengubah status keagamaannya
melalui upacara sudhi wadani dan selanjutnya baru diajar secara bertahap tentang
ajaran agama Hindu; kedua, adanya unsur persaksian baik kepada manusia
(manusa saksi), leluhur (pitra saksi), dan kehadapan Tuhan (Dewa/Widhi
saksi); ketiga, dalam perkawinan dinyalakan api yang juga dimaksud sebagai
saksi (api dalam upacara perkawinan disebut "Grhaspati"); keempat, adanya unsur

147
penyucian. terutama penyucian terhadap sukla-swanita (sel sperma dan sel
telur) yang merupakan cikal bakal keturunan, agar memperoleh keturunan yang
baik (suputra). Kelima, yang mengesahkan perkawinan tersebut adalah
Pendeta/Sulinggih atau petugas khusus untuk itu, yang dilakukan dihadapan para
saksi.
Mengenai larangan atau pantangan dalam perkawinan, maka dalam Undang-
undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 dalam pasal 8 ada dimuat sebagai
berikut: pertama, berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas ke
bawah (vertikal), seperti kawin dengan ayah/ibu, kakek/nenek, anak, dan
sebagainya; kedua, berhubungan darah dalam garis keturunan yang
menyamping (horizontal), seperti: kawin dengan saudara ayah/ibu, saudara
kakek/nenek, saudara kandung, dan lain-lain; ketiga, berhubungan samenda,
umpama dengan mertua, menantu, anak tiri, ibu/ayah tiri, dan sebagainya;
keempat, berhubungan susuan, seperti: dengan orang tua susuan, anak susuan,
saudara susuan, paman/ bibi susuan, dan sebagainya; dan kelima, berhubungan
saudara dengan istri, atau sebagai bibi ataukah kemenakan dari istri. Ketentuan
terakhir ini ditujukan bagi mereka yang memiliki istri lebih dari satu. Adanya
persyaratan larangan ini juga bertujuan yang baik yaitu untuk dapat memperoleh
keturunan yang baik, untuk itu melakukan perkawinan yang masih ada
hubungan darah itu dilarang/dihindari. Mengenai larangan perkawinan ini dalam
kitab suci Manawadharma sastra (Bab III dan IX, sloka 5 dan 187), yang
menyatakan: "perkawinan dapat dilakukan oleh seseorang bila wanita yang akan
dikawini tidak mempunyai hubungan sapinda (kekeluargaan) baik melalui garis
keturunan ibu ataupun bapak; dan penentuan sapinda dihitung sampai tiga
tingkat dari yang meninggal.
Secara tradisi maka larangan dalam perkawinan itu juga dikenal dengan
nama gamya, seperti: gamya gamana atau larangan kawin dengan saudara;
gurwa gamana atau larangan kawin dengan guru; gana gamana atau larangan
kawin dengan binatang; dan paradara gamana atau larangan kawin dengan istri
orang lain. Menurut keimanan Hindu, bila terjadi perkawinan gamya dipandang
dapat mencemarkan yang bersangkutan maupun alam secara keseluruhan. Jika

148
ada yang terjadi seperti itu maka umat mengadakan upacara penyucian atau
pebersihan secara rohani baik terhadap pelakunya maupun terhadap bumi ini.
Selanjutnya mengenai sistem perkawinan itu dapat ditempuh sesuai tradisi
umat Hindu setempat maupun sesuai dengan ketentuan yang ada dalam kitab suci.
Kalau dalam tradisi Hindu kita kenal ada beberapa sistem dalam perkawinan,
seperti: pertama sistem meminang (mepadik) yakni terjadinya perkawinan
dengan persetujuan kedua pihak mempelai, baik pihak keluarga perempuan
maupun pihak keluarga laki saling memberikan restu dan persetujuan; kedua,
sistem ngerangkat (ngerorod) yakni terjadinya perkawinan tanpa adanya
persetujuan keluarga kedua belah pihak, maka dalam perkawinan ini diambil
jalan pintas dengan pelarian serta minta perlindungan pada pihak ketiga;
ketiga, sistem nyentana (matrilokal) yakni terjadinya perkawinan dengan cara
yang hormat yang didahului dengan meminang oleh pihak keluarga
perempuan, hal ini terjadi mengingat dalam keluarga perempuan itu tidak
mempunyai keturunan laki-laki. Kemudian dalam kitab suci
Manawadharmasastra III, 21 disebutkan:
"Brahmo daiwastathaiwarsah prajapatyastathasurah, gandarwo raksasas saiwa
paisacasca astamo dhamah", yang artinya: Kesemua itu adalah Brahma,
Daiwa, Rsi (Arsa), Prajapati, Asura, Gandharwa, Raksasa, dan Paisaca
(Pisaca).
Dari kedelapan sistem perkawinan itu ada lima sistem yang dibenarkan atau
yang baik dilaksanakan di antaranya: pertama, Brahma wiwaha yakni
perkawinan antara seorang wanita dengan seorang pria yang ahli weda dan
mulia; kedua, Daiwa wiwaha yakni perkawinan antara seorang pria dengan
seorang wanita, di mana yang laki sebagai pendeta; ketiga, Arsha wiwaha yakni
perkawinan yang dilakukan di mana pihak keluarga wanita menerima
pemberian atas kebaikan keluarganya; keempat, Prajapati wiwaha yakni
perkawinan yang telah mendapat persetujuan orang tua, yang sebelumnya telah
diberikan nasihat, agar kedua mempelai menunaikan kewajibannya dengan
baik; kelima, Gandharwa wiwaha yakni perkawinan yang dilakukan dasar cinta
sama cinta dari kedua mempelai; dan juga ada tiga sistem yang kurang baik

149
seperti, pertama, Asura wiwaha yakni perkawinan yang dilakukan dengan
memberikan harta benda yang dimiliki sesuai kemampuannya; kedua, Raksasa
wiwaha yakni perkawianan yang dilakukan dengan jalan memaksa calon
istrinya; dan ketiga, Paisaca wiwaha yakni perkawinan yang di lakukan dengan
perkosaan atau dengan guna-guna dan mabuk-mabukan.
Sedangkan mengenai prosedur pencatatan perkawinan sesuai dengan peraturan
yang berlaku yaitu dengan jalan mempermaklumkan kepada petugas/pegawai
pencatat sepuluh hari sebelum acara perkawinan dilangsungkan baik secara
tertulis maupun lisan, dilanjutkan dengan pengisian formulir di Kantor Catatan
Sipil (Kancapil) setempat dengan melampiri surat-surat yang diperlukan seperti:
kopi KTP, salinan Akte Kelahiran/Surat Kenai Lahir, keterangan identitas kedua
mempelai, surat keterangan sudhi wadani bagi calon yang semula non Hindu,
serta surat lainnya yang diperlukan, saksi-saksi dan zchirnya dengan
ditandatangani surat/Akte Perkawinan berarti telah sah sebagai pasangan suami
istri dan sah pula tercatat di Kancapil masing-masing.
Selanjutnya mengenai hak dan kedudukan suami istri, antara lain : bahwa
antara suami dan istri memiliki hak dan kedudukan yang seimbang dalam
masyarakat, sama-sama berhak untuk melakukan perbuatan hukum, suami
sebagai kepala rumah tangga dan istri sebagai ibu rumah tangga, wajib saling
mencintai, saling menghormati, selalu setia, saling memberi satu dengan yang
lain, suami wajib melindungi istri dan memberikan segala sesuatu sesuai
dengan kemampuan, serta si istri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan
sebaik-baiknya.
Menyinggung mengenai tugas dan kewajiban suami dalam keluarga, maka
dalam kitab suci Manawadharmasastra ada ditegaskan :
"Aswantantrah striyah karyah, purusaih swairdiwanisam wisayesu
casajjantyah atmanowase", Nanawadharmasastra, IX. 2), yang artinya:
Siang malam wanita harus dilindungi, dia tergantung dari pada laki-laki
dalam keluarga mereka, dan kalau ia terikat akan kesenangan indria, ia
harus selalu dalam pengawasan seseorang.

150
"Yadrsambhajatehi stri, sitam cute tathawidham, tasmat prajah
wisuddhyartham striyamrajsat prayatnathah", (Manawadharmasastra, IX. 9.)
yang artinya:
Sebagaimana suami tempat istri menggantungkan dirinya, demikian pula
anak laki-laki yang ia lahirkan, demikian pula hendaknya suami harus
menjaga istrinya agar terpelihara kesucian keturunannya.

Dengan memperhatikan kutipan sloka di atas, maka secara garis besar yang
menjadi tugas dan kewajiban suami dalam keluarga, antara lain:
a. Suami wajib melindungi istri dan anak-anaknya serta memperlakukan
istrinya dengan wajar dan hormat. Mereka wajib memelihara kesucian
hubungannya dengan saling mempercayai sehingga terjamin kerukunan dan
keharmonisan dalam kehidupan bersuami-istri atau berumah tangga.
b. Suami hendaknya menyerahkan harta kekayaan dan menugaskan istrinya
untuk mengurus harta rumah tangga, urusan dapur, urusan agama
dilaksanakan bersama.
c. Suami wajib menjamin kehidupan istrinya serta memberikan nafkah rumah
tangganya terutama bila dalam suatu urusan atau ketika ia harus
melaksanakan tugas ke luar daerah.
d. Suami wajib menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka
sama-sama menjamin kesucian keturunannya serta menjauhkan diri dari
segala unsur-unsur yang mengakibatkan perceraian.
e. Suami hendaknya selalu merasa puas dan bahagia bersama dengan istrinya
karena dalam rumah tangga kalau suami istri merasa puas, maka rumah tangga
itu akan terpelihara dan berkesinambungan.
f. Suami wajib menjalankan dharma grajastain dengan baik, baik dharma
terhadap keluarga (kula dharma), terhadap masyarakat dan bangsa (wamsa),
serta wajib mengawinkan anak-anaknya pada waktunya.
g. Suami wajib melaksanakan sradha agama terhadap anak-anak
(keturunannya serta melaksanakan kewajiban Panca Yajna seperti
melaksanakan upacara Pitra Yajna terhadap arwah suci leluhurnya.

151
Sedangkan tugas dan kewajiban istri dalam keluarga, sebagai berikut:
a. Sebagai seorang istri atau wanita diusahakan agar tidak bertindak sendiri-
sendiri tanpa pertimbangan suaminya.
b. Seorang istri atau wanita harus pandai-pandai membawa diri, mengatur,
memelihara rumah tangga dengan baik dan ekonomis.
c. Istri harus setia pada suaminya dan hendaknya selalu berusaha tidak
melanggar ketentuanketentuan yang telah disiapkan untuk dipatuhi sesuai
hukum suci dan jika dilanggarnya, maka amat besarlah dosanya.
d. Istri harus selalu mengendalikan pikiran, perkataan, dan tingkah lakunya
dengan selalu mengingat suaminya.
e. Istri berkewajiban memelihara rumah tangga dengan baik penuh
kedamaian.

Kemudian dalam berumah tangga dapat dikatakan sempurna jika telah


memiliki putra atau sentana. Putra inilah yang menyelamatkan orang tuanya.
Dengan demikian kewajiban anak adalah :
a. Mematuhi dan menghormati kedua orang tuanya dengan penuh kasih
sayang.
b. Wajib memelihara orang tua sesuai dengan kemampuannya serta
melaksanakan sradha atau yadnya menurut ajaran agama Hindu.
c. Anak berhak mewarisi hak milik/harta benda warisan orang tuanya.
Yang dapat dikatakan sebagai harta perkawinan adalah semua harta
benda/kekayaan yang diperoleh selama dalam perkawinan serta dalam
pengeluaran keuangan rumah tangga diusahakan diatur bersama-sama. Jadi, yang
termasuk harta benda/kekayaan suami istri yaitu: harta benda yang diperoleh
selama perkawinan menjadi milik bersama (guna kaya bersama), harta bawaan
dari suami istri merupakan hadiah atau warisan.
m. Upacara Mewinten
Upacara Mewinten adalah upacara inisiasi untuk dapat diperbolehkan
mempelajari kitab suci Weda. Selain mewinten juga dikenal upacara

152
Upanayana yaitu suatu upacara mohon restu agar pada masa brahmacari dapat
diperkenankan mempelajari kitab suci Weda.
Tujuan upacara ini adalah untuk mohon perlindungan dan bimbingan para
Dewa yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan, seperti Bhatara Guru atau
Siwa, Dewa Gana, Dewi Saraswati, dan sebagainya. Jenis sajen yang
dipersembahkan adalah sajen saraswati, tataban, prayascita, dan peras.
Apabila seseorang telah mewinten, maka statusnya adalah sebagai pemangku
atau pinandita serta diwajibkan untuk memenuhi ketentuan yaitu: biasanya
diusahakan berambut panjang, kalau hendak dicukur boleh dicukur sendiri atau
dari keluarga sendiri, setiap memimpin upacara wajib memakai usana
pemangku, tidak diperkenankan makan daging sapi atau babi, tidak
diperkenankan ikut mengambil mayat dan makan sajen yang disediakan sebagai
tarpana dan yang sejenisnya, diharapkan setiap hari untuk bersuci laksana dan
menjalankan trisandhya secara tertib dan berusaha menyucikan diri lahir batin,
dan selalu memperhatikan tata krama memasuki tempat-tempat suci dan ke
Pura.
Pemangku adalah tergolong rohaniwan Hindu yang masih pada tingkat ekajati.
Mengenai keadaan diri, upakara pewintenan, dan agem-agemam seorang
pemangku disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya pada wilayahnya
masing-masing.

153
DAFTAR PUSTAKA

Anandakusuma, Sri Reshi, 1987: Dharma Sastra, CV. Kayu Mas, Denpasar.
Arwati, Dra. Ni Made, Sri, 1990: Hari Raya Galungan, Pemda Tk.I Bali.
Gunadha, Drs. I.B, 1990: Cuntaka, Pemda TK.I, Bali.
Kadjeng, I Nyoman, 1988: Sarasamuscaya, PT. Daya Praza Press.
Kaler, I Gusti Ketut, 1989: Tuntunan Muspa Bagi UmatHindu, Pemda Bali.
Kaler, I Gusti Ketut, Cudamani Pawiwahan/Perkawinan dalam Agama Hindu di
Bali, Percetakan Bali.
Kemenuh, Ida Pedanda, Gde Putra, 1969: Upacara Yadnya dalam Agama Hindu,
Dinas Agama Kabupaten Buleleng.
Mardiwarsito, 1971: Kamus Kawi Indonesia, Jakarta.
Natih, Drs. I Ketut, 1987: Sosiologi, Yayasan Wisma Karma, Jakarta.
Natih, Drs. I Ketut, 1978: Antyesti Samskara (Upacara Kematian), Depag, RI.
Pudja, Gde, M.A., S.H, 1971: Bhagawadgita, Dirjen Bimas Hindu dan Budha,
Depag RI, Jakarta.
Pudja, Gde, M.A., S.H,1967: Manawa Dharmasastra, Proyek Penerbitan Kitab
Suci Hindu dan Budha, Dirjen Bimas Hindu dan Budha Depag RI,
Jakarta.
Pudja, Gde, M.A.,1985: Agama Hindu II, Mayasari, Jakarta.
Pudja, Gde, M.A., 1985: Sarasamuscaya, Departemen Agama RI, Jakarta.
Pudja, Gde, M.A., 1977: Wedaparikrama, Departemen Agama RI, Jakarta.
Pudja, Gde, M.A., 1979: Weda Mandala I, Departemen Agama RI, Jakarta.
Pudja, Gde, M.A., 1963: Sosiologi Hindu Dharma, Yayasan Pura Pita Maha,
Jakarta.
Punyatmadja, Drs. I>B. Oka, 1983: Silakrama, Pemda TK.I Bali.
Purwita, Ida Bagus Putu, 1990: Upacara Ngaben, Pemda, TK.I, Bali.
Purwita, Ida Bagus Putu, 1989: Upacara Potong Gigi, Pemda, TK.I, Bali.
Purwita, Ida Bagus Putu, 1990: Upacara Mamukur, Pemda, TK.I, Bali.

154
Putra, I Gusti Agung Gde, 1981: Upacara Atiwa-Tiwa (Ngaben), Kanwil Depag,
Propinsi Bali.
Putra, I Gusti Agung Gde, 1981: Cudamani Upacara Mapandes (Pitong Gigi) dan
Atiwa-Tiwa (Ngaben), Percetakan Bali.
Putra, Ny. I Gst. Ag. Mas, 1984: Upakara Yadnya, Kanwil Departemen Agama
Propinsi Bali.
Putra, Ny. I Gst. Ag. Mas, 1984: Alat-Alat Upacara, Kanwil Departemen Agama
Propinsi Bali.
Putra, Ny. I Gst. Ag. Mas, 1988: Panca Yadnya, Yayasan Dharma Sarathi,
Jakarta.
Sura, Drs. I Gede, 1987: Pelajaran Agama Hindu II, Yayasan Wisma Karma,
Jakarta.
Titib, Drs. I Made, 1986: Weda Walaka, Dharma Nusantara Bahagia.
Titib, Drs. I Made, 1990: Pedoman Upacara Suddhi Wadani, Pemda, TK I, Bali..
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, 1981: Weda, Departemen Agama RI.
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, 1978: Upadeca, Departemen Agama RI.
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, 1978: Catur Yadnya, Pemda TK.I Bali.
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, Himpunan Seminar Kesatuan Tafsir
Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV, Pemda TK.I, Bali.
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, 1976: Agastya Parwa, Transkrip Lontar,
Gedong Kirtya, Singaraja.
Tim Penyusun dan Peneliti Naskah, Gagelaran Pamangku, Pemda, TK.I, Bali
Wiana, Drs. I Ketut, 1987: Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan, Wisma
Karma, Jakarta.
Wiana, Drs. I Ketut, 1985: Acara III, Mayasari, Jakarta.
Wijaya, I Gede, 1981: Upacara Yadnya Agama Hindu, Setia Kawan.

155

Common questions

Didukung oleh AI

Bunga dalam upacara agama Hindu berfungsi sebagai sarana suci yang digunakan untuk menyampaikan cetusan hati dan rasa bakti kepada Hyang Widhi Wasa. Pemilihan bunga sangat istimewa dan tidak sembarangan; bunga yang dipilih harus sesuai dengan ajaran sastra suci dan memiliki nilai kesucian tinggi, seperti bunga yang mekar, harum, dan segar. Ketulusan atau kesucian hati dalam mempersembahkan bunga sangat penting agar diterima oleh Hyang Widhi .

Bunga memiliki nilai budaya dan spiritual yang penting dalam berbagai kegiatan di Indonesia, terutama di kalangan umat Hindu. Sebagai bagian dari upacara yajna atau persembahan, bunga berfungsi sebagai simbol keikhlasan dan kesucian kepada Hyang Widhi (Tuhan). Bunga yang digunakan dalam upacara religius dipilih dengan hati-hati berdasarkan jenis dan kesucian yang ditetapkan oleh ajaran agama, seperti tercantum dalam Bhagavadgita yang menyatakan pentingnya persembahan yang tulus . Selain itu, bunga berfungsi untuk menciptakan suasana keindahan dan kenyamanan dalam berbagai kegiatan sosial seperti pernikahan dan perayaan hari raya . Penggunaan bunga dalam upacara keagamaan seperti dalam Dewa Yajna juga melambangkan penghormatan dan rasa syukur kepada Tuhan . Upakara yang melibatkan bunga, seperti Canang, digunakan untuk menyampaikan rasa terima kasih dan memohon berkat dari Tuhan, menjadikannya bagian integral dalam praktik spiritual .

Mantra memainkan peran penting dalam penggunaan bunga sebagai persembahan dalam agama Hindu dengan memberikan kekuatan simbolis dan makna spiritual dalam upacara yajna. Bunga, sebagai lambang kesucian dan keindahan, digunakan dalam persembahan untuk menyuarakan rasa hormat dan bakti kepada Hyang Widhi. Mantra puspa, seperti "Om Puspa-dantaya namah," menggambarkan bunga sebagai manifestasi Siwa, menegaskan nilai religius dan spiritual yang melekat dalam penggunaannya . Persembahan bunga yang dibarengi dengan mantra menggugah suasana kesucian dan mengungkapkan pengabdian suci kepada Tuhan, serta menghormati roh leluhur . Kualitas bunga yang digunakan harus memenuhi standar tertentu, seperti kesegarannya dan baunya yang harum, untuk memastikan kesucian dan keabsahan ritual . Penggunaan bunga dalam upacara yajna juga menjadi sarana konsentrasi, memudahkan fokus dalam pemujaan, dan memberikan daya tarik estetis pada ritual .

Konsep persembahan dalam ajaran Hindu mengedepankan keikhlasan dan kesucian hati. Bunga digunakan dalam ritual sebagai medium yang sederhana namun sarat makna, menunjukkan bahwa apa pun yang dipersembahkan, jika diiringi dengan ketulusan, diterima oleh Hyang Widhi. Sebaliknya, persembahan yang mewah namun tanpa keikhlasan tidak mendapatkan pahala yang sama. Persembahan bunga menekankan pentingnya ketulusan hati dalam upacara yajna .

Bunga yang ideal untuk digunakan dalam upacara yajna menurut ajaran Hindu harus memenuhi kriteria kesucian, kesegaran, dan tidak layu. Bunga harus dipetik dalam kondisi segar, harum, dan indah warnanya, serta tidak tua atau kering . Selain itu, bunga harus mewakili nilai-nilai religius dan spiritual, dan disucikan dengan tirtha pengelukatan sebelum digunakan agar terbebas dari kekotoran . Beberapa jenis bunga yang baik untuk yajna termasuk Menuh, Kenyiri, Meduri Putih, Asoka, Cempaka, dan Seroja dalam berbagai warna . Bunga Tunjung atau Teratai juga disebut sebagai bunga terbaik dan dikenal sebagai Raja Kusuma . Namun, bunga yang tidak harum, digigit serangga, atau layu tidak boleh digunakan .

Yajna dalam agama Hindu merupakan suatu upacara pemujaan dan pengorbanan suci baik material maupun non-material yang didasari oleh ketulusan dan kemurnian hati. Ini merupakan ungkapan kesungguhan dalam berkorban dengan tujuan mencapai tujuan spiritual yang lebih tinggi seperti membebaskan diri dari karma atau untuk kelepasan . Yajna dibagi dalam beberapa jenis, salah satunya adalah Panca Yajna yang meliputi Dewa Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Bhuta Yajna, dan Manusa Yajna . Bunga memiliki peran penting dalam pelaksanaan yajna, digunakan sebagai bagian dari sesajen atau upakara yang dipersembahkan. Bunga yang digunakan bukanlah sembarang bunga, melainkan dipilih dengan cermat sesuai petunjuk sastra suci Hindu. Pemilihan bunga ini berfungsi sebagai sarana suci dalam upacara yajna, dengan simbolisme yang kaya akan nilai religius, spiritual, dan kesucian . Dalam Bhagavad Gita, bunga (puspam) disebut sebagai salah satu persembahan yang diterima jika dihantarkan dengan ketulusan dan cinta kasih .

Hari Raya Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma. Ini menandai pelaksanaan yajna yang dianggap sebagai kemenangan kebenaran. Umat Hindu mempersembahkan berbagai yajna sebagai bentuk penunaian kewajiban agama dan mempererat hubungan spiritual dengan Dewata. Perayaan ini melibatkan serangkaian ritus keagamaan mulai dari penyucian diri hingga perayaan bersama keluarga .

Bunga dalam penggambaran Dewata menurut mantra Hindu berfungsi sebagai lambang Dewata itu sendiri. Misalnya, dalam mantra Wedaparikrama, puspa atau bunga digunakan sebagai lambang Siwa. Puspa menggambarkan kehadiran dan keberadaan Dewata dalam upacara yajna, dan berfungsi sebagai representasi dari Siwa yang berperan sebagai Iswara dalam pemberian berkah kepada umat .

Bunga memiliki peran penting dalam budaya dan ekonomi Indonesia. Dalam budaya, bunga digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, seperti banten atau sesajen. Secara ekonomi, bunga merupakan salah satu komoditi ekspor yang signifikan, memberikan devisa bagi negara seperti melalui ekspor bunga anggrek. Di sektor pariwisata, bunga juga diperlukan dalam jumlah besar sebagai dekorasi .

Pelaksanaan upacara Pitra Yajna membantu umat Hindu dalam menghayati kewajiban kepada leluhur dengan memberikan persembahan ikhlas kepada leluhur yang telah meninggal. Upacara ini bertujuan untuk menyelamatkan roh leluhur, melepaskan dari ikatan duniawi, dan menempatkannya di surga. Hal ini merupakan pengamalan swadharma sebagai anak yang dilakukan dengan persembahan yang meliputi berbagai rangkaian upacara, mencerminkan pelunasan utang kepada leluhur .

Anda mungkin juga menyukai