Etnomatematika: Perhitungan Hari Suci Hindu dan Banten
Etnomatematika: Perhitungan Hari Suci Hindu dan Banten
6390854
Vol. 23 No. 1 (April 2022)
e-ISSN: 2613-9308 p-ISSN: 1907-3232
Hlm. 13 - 23
ABSTRACT
Mathematics and culture are two interrelated things. Mathematics in culture is known as
ethnomathematics. Ethnomathematical objects that are around us can be used to carry out
mathematics learning. We can find mathematical concepts in a particular culture, for example in
the calculation of Hindu religious holy days and the forms of offerings. Calculation of Hindu holy
days Religious holidays for Balinese Hindus are generally calculated based on wewaran and
pawukon with the application of the concept of the Corruption Eradication Commission. While
in Banten, various forms of offerings are found in the form of flat shapes. The method used in this
writing is a literature study, namely data collection techniques by conducting a review study of
books, literatures, notes, and reports that have to do with the problem being solved.
ABSTRAK
Matematika dan budaya adalah dua hal yang saling berkaitan. Matematika dalam budaya dikenal dengan
istilah etnomatematika. Objek etnomatematika yang ada di sekitar kita dapat dimanfaatkan untuk
melaksanakan pembelajaran matematika. Kita dapat menemukan konsep matematika pada suatu budaya
tertentu, misalnya pada perhitungan hari suci Agama Hindu dan bentuk-bentuk banten. Perhitungan hari
suci Agama Hindu Hari raya keagamaan bagi umat Hindu Bali umumnya dihitung berdasarkan wewaran
dan pawukon dengan penerapan konsep KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil). Sedangkan pada banten
ditemukan berbagai bentuk banten berupa bangun datar. Metode yang digunakan dalam penulisan
ini adalah Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi
penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang
ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.
13
Bishop (1994) menyatakan bahwa Wasa. Banten ini mempunyai berbagai
matematika merupakan suatu bentuk bentuk yang juga merupakan objek
budaya. Matematika sebagai bentuk etnomatematika.
budaya, sesungguhnya telah terintegrasi Berdasarkan uraian di atas
dalam seluruh aspek kehidupan mengenai keterkaitan matematika dan
masyarakat. Etnomatematika dapat dibagi budaya dan potensi budaya dalam
menjadi enam kegiatan mendasar yang pendekatan pembelajaran matematika,
selalu dapat ditemukan pada sejumlah maka kami bertujuan untuk menggali
kelompok budaya. Keenam kegiatan etnomatika pada perhitungan hari suci
matematika tersebut adalah aktivitas: Agama Hindu dan berbagai bentuk banten
menghitung/membilang, penentuan lokasi, menjadi perlu dan penting untuk dilakukan.
mengukur, mendesain, bermain, dan
menjelaskan. METODE PENELITIAN
Di Bali mayoritas penduduknya Metode yang digunakan dalam
memeluk Agama Hindu. Umat Hindu Bali penulisan ini adalah Studi kepustakaan
memiliki sistem kalender sendiri yang adalah teknik pengumpulan data dengan
berbeda dengan sistem penanggalan hari mengadakan studi penelaahan terhadap
raya Hindu di India dan Nepal. Hari raya buku-buku, literatur-literatur, catatan-
keagamaan bagi umat Hindu Bali catatan, dan laporan-laporan yang ada
umumnya dihitung berdasarkan wewaran hubungannya dengan masalah yang
dan pawukon, kombinasi antara Triwara, dipecahkan.
Pancawara, Saptawara, dan Wuku.
Perhitungan hari raya suci umat Hindu ini HASIL DAN PEMBAHASAN
merupakan salah satu objek Aplikasi KPK pada Perhitungan Hari
etnomatematika. Suci Agama Hindu
Pada hari raya suci Agama Hindu, Hari suci adalah hari yang istimewa,
umat hindu akan menghaturkan banten. karena pada hari-hari suci para Dewa
Banten adalah persembahan dan sarana beryoga untuk menyucikan alam semesta
bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri beserta isinya. Beryadnya pada saat hari
dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. suci nilainya sangat baik dibandingkan hari
Merupakan wujud rasa terimakasih, cinta, biasanya dan hari suci sering disebut hari
dan bakti pada Ida Sang Hyang Widhi raya karena pada saat hari suci ini
14
diperingati dan dirayakan dengan khusus mengunakan kelipatan 7 yaitu
dan istimewa. pergantian hari setiap 7 hari.
Berdasarkan hasil pengamatan, Adapun hari suci yang berdasarkan
perhitungan hari suci Agama Hindu wewaran, yaitu:
menggunakan konsep KPK (Kelipatan a. Kajeng Kliwon, yaitu kombinasi antara
Persekutuan Terkecil). Hari raya Tri Wara dan Panca Wara.
keagamaan bagi umat Hindu Bali Perhitungannya:
umumnya dihitung berdasarkan wewaran KPK dari 3 dan 5
dan pawukon. 3 5
3
1 5
5
Berdasarkan Wewaran 1 1
Hari suci yang berdasarkan wewaran
merupakan kombinasi antara Tri Wara, KPK dari 3 dan 5 adalah 3 x 5= 15
Panca Wara, dan Sapta Wara. Jadi, Kajeng Kliwon dilaksanakan 15 hari
• Tri Wara memiliki arti Tri yaitu tiga dan sekali.
Wara artinya hari. Tri Wara yaitu (1) a. Buda Kliwon, yaitu kombinasi antara
Pasah, (2) Beteng, (3) Kajeng. Panca Wara dan Sapta Wara.
Perhitungan Tri Wara mengunakan Perhitungannya:
kelipatan 3 yaitu pergantian hari setiap 3 KPK dari 5 dan 7
hari. 5 7
5
• Panca Wara memiliki arti Panca yaitu 1 7
lima dan Wara artinya hari. Panca Wara 7
1 1
yaitu (1) Umanis, (2) Paing, (3) Pon, (4)
Wage, (5) Kliwon. Perhitungan Panca KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7=35
Wara mengunakan kelipatan 5 yaitu Jadi, Buda kliwon dilaksanakan 35 hari
pergantian hari setiap 5 hari. sekali.
• Sapta Wara memiliki arti Sapta yaitu b. Buda Wage, yaitu kombinasi antara
tujuh dan Wara artinya hari. Sapta Wara Panca Wara dan Sapta Wara.
yaitu (1) Redite, (2) Soma, (3) Anggara, Perhitungannya:
(4) Buda, (5) Wraspati, (6) Sukra, (7) KPK dari 5 dan 7
5 7
Saniscara. Perhitungan Sapta Wara 5
1 7
7
1 1
15
suci yang berdasarkan pawukon
KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7= 35 dilaksanakan 210 hari sekali.
Jadi, Buda Wage dilaksanakan 35 hari Adapun hari suci yang berdasarkan
sekali. wewaran, yaitu:
c. Saniscara Umanis, yaitu kombinasi a. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan
antara Panca Wara dan Sapta Wara. pada Buda Kliwon Wuku Sinta.
Perhitungannya: Pagerwesi adalah hari raya untuk
KPK dari 5 dan 7 memuja Sang Hyang Widhi Wasa
5 7 dengan Prabhawanya sebagai Sang
5
1 7 Hyang Pramesti Guru yang sedan
7
1 1 beryoga disertai oleh para Dewa dan
Pitara demi kesejahteraan dunia
KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7= 35 dengan segala isinya dan demi
Jadi, Saniscara Umanis dilaksanakan 35 kesentosaan kehidupan semua
hari makhluk.
b. Hari Raya Tumpek Landep
Berdasarkan Pawukon dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
Hari suci yang berdasarkan pawukon Wuku Landep. Tumpek Landep
yaitu hari suci yang jatuh pada wuku. wuku adalah hari untuk memuja Sang
tertentu. Terdapat 30 wuku yaitu (1) Sinta, Hyang Pasupati (Sang Hyang Siwa),
(2) Landep, (3) Ukir, (4) Kulantir, (5) Tolu, yaitu Dewa penguasa senjata.
(6) Gumbreg, (7) Wariga, (8) Warigadian, Dilakukan upacara pemujaan di
(9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) “prapen” (tempat membuat senjata,
Dungulan, (12) Kuningan, (13) Langkir, sarana transportasi). Tujuan upacara
(14) Medangsia, (15) Pujut, (16) Pahang, ini adalah agar semua alat-alat tersebut
(17) Krulut, (18) Merakih, (19) Tambir, bertuah dan berfungsi sebagaimana
(20) Medangkungan, (21) Matal, (22) Uye, mestinya.
(23) Menail, (24) Prangbakat, (25) Bala, c. Hari Raya Tumpek Wariga
(26) Ugu, (27) Wayang, (28) Kelawu, (29) dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
Dukut, (30) Watugunung. Wuku Wariga. Disebut pula hari
Satu (1) wuku berlangsung selama 7 hari, Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah,
dan banyaknya wuku yaitu 30. Jadi, hari Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh.
16
Upacara selamatan kepada Sang g. Hari Raya Tumpek Wayang
Hyang Sangkara, sebagai dewa dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
penguasa tumbuh-tumbuhan agar Wuku Wayang. Hari ini adalah puja
menghasilkan hasil yang melimpah. walinya Sang Hyang Iswara (dewa
d. Hari Raya Galungan dilaksanakan penguasa kesenian). Tempat
pada Buda Kliwon Wuku Dungulan. menghaturkan sesajen adalah pada
Pada Hari Raya Galungan umat Hindu wayang, gong, gambang, dan alit-alat
menghaturkan persembahan- seninya. Makna dari hari raya ini
persembahan yang serba utama adalah sebagai pelestarian dibidang
kepada semua manifestasi Sang seni, agar kesenian tidak punah dan
Hyang Widhi Wasa. Karena supaya kesenian itu berkembang dan
dilaksanakan dengan suasana paling metaksu (berkharisina).
ramai dan paling meriah sehingga hari h. Hari Raya Saraswati dilaksanakan
raya Galungan disebut dengan hari pada Saniscara Umanis Wuku
“Pawedalan Jagat” atau hari “Otonan Watugunung. Hari raya untuk
Gumi”. memuliakan atau memuja Sang
e. Hari Raya Kuningan dilaksanakan Hyang Widhi Wasa dalam
pada Saniscara Wuku Kuningan. Pada manifestasinya sebagai “Dewaning
hari ini umat Hindu melakukan Pengeruh” yaitu Dewa penguasa ilmu
persembahyangan kepada para dewa; pengetahuan suci (Weda). Dari ilmu
para leluhur dengan menghaturkan pengetahuan yang diturunkan oleh
sesajen yang berisi nasi yang berwama Dewi Saraswati inilah timbul berbagai
kuning sebagai simbolis kemakmuran. ciptaan-ciptaan baru.
f. Hari Raya Tumpek Kandang
dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Bentuk Bangun Datar pada Banten
Wuku Uye. Pada hari ini umat Hindu Banten (upakara) adalah
menghaturkan persembahan kepada persembahan dan sarana bagi umat Hindu
Dewa penguasa ternak yaitu Sang untuk mendekatkan diri dengan Ida Sang
Hyang Rare Angon, dengan tujuan Hyang Widhi Wasa. Ada tiga sifat banten
agar ternak selamat dan bertambah yaitu bersifat Nista, Madya maupun Utama
banyak hasilnya. sesuai dengan kebutuhan upacaranya pada
salah satu pelaksanaan upacara dalam salah
17
satu yadnya pada Panca Yadnya. konsep bangun datar segiempat pada
Berdasarkan hasil eksplorasi, pengamatan ceper (Gambar 2).
dan dokumentasi banten memiliki beberapa
bentuk bangun datar. Dalam pembahasan Gambar 2
ini disajikan bentuk bangun datar pada Konsep Persegi pada Ceper
banten dan konsep matematika yang
S R
menjelaskan bentuk-bentuk tersebut,
0
diantaranya :
P Q
1. Ceper
18
2. Tangkih Gambar 4.
Konsep Segitiga pada Tangkih
19
3. Tamas Gambar 6.
Konsep Lingkaran pada Tamas
Gambar 5. berikut.
Pemodelan Geometri pada Tamas a. Sifat-sifat lingkaran
1) Lingkaran merupakan kurva
tertutup sederhana
2) Lingkaran mempunyai garis
tengah (diameter) yang
berbentuk bangun datar yang berbentuk dari titik pusat ke tepi lingkaran
konsep bangun datar lingkaran pada tamas 6) Mempunyai simetri lipat yang
20
Kll =π x d muda dan berwarna putih kekuningan)
=2xπxr dengan semat (lidi dari bahan bambu)
22 selanjutnya diisi berbagai motif hiasan
π= atau 3,14
7
serta dihias dengan tepi berupa daun ron
3) Luas lingkaran (daun enau yang sudah hijau tua).
1 Jahitan tersebut membentuk suatu
𝐿= 𝑥 π x d2
4 bentuk persegi panjang. Materi bangun
= π x r2
datar yang dimanfaatkan dari jejahitan
4. Lamak
lamak salah satunya adalah
mengidentifikasi unsur-unsur lamak
yang sesuai dengan unsur-unsur persegi
panjang
Unsur-unsur persegi panjang pada
Lamak 1. Memiliki dua pasang sisi
yang sejajar dan sama panjang 2.
Memiliki empat sudut siku siku 3.
Diagonalnya memotong di tengah-
tengah sama panjang Lamak sangat
Gambar 7. mewakili bangun persegi panjang
Konsep Persegi panjang pada Lamak
dengan unsur-unsurnya yang sama
dengan persegi panjang. Sehingga dapat
ditentukan pula keliling dan luas lamak
tersebut. Keliling lamak diketahui sama
halnya dengan keliling persegi panjang
yang dapat dihitung dengan rumus:
keliling = 2( panjang + lebar). Keliling
Lamak adalah jejahitan yang sering
lamak tersebut ditunjukkan dengan tepi
digunakan masyarakat Hindu di Bali
lamak yang terbuat dari daun ron,
khusus pada acara suci tertentu,
sehingga untuk mengetahui keliling
terutama upacara piodalan. Lamak
lamak, dapat dilakukan dengan
merupakan salah satu jejahitan yang
menghitung potongan panjang dan
dibuat dengan menjahit beberapa
potongan ambu (daun enau yang masih
21
lebar daun ron untuk tepi lamak Ceniga merupakan salah satu
tersebut. jejahitan yang sering digunakan pada
Luas lamak juga dapat dihitung hari raya Galungan, Kuningan, dan
dengan ketentuan luas persegi panjang. berbagai hari suci besar lainnya bagi
Luas persegi panjang dapat dihitung umat Hindu. Ceniga sering dibuat dari
dengan rumus: luas = panjang lebar . perpaduan bahan janur, selepan (janur
Luas lamak memberikan penafsiran yang sudah hijau), ataupun dengan ron.
banyaknya potongan janur yang Ceniga biasanya disusun dengan tiga
diperlukan. Sama halnya dengan potongan janur yang dikaitkan dan
bangun datar persegi panjang, lamak dibentuk agar bagian bawah lebih lebar,
sebagai peraga bangun persegi panjang sedangkan bagian atasnya agak runcing
dapat menunjukkan simetri lipat dan namun tidak membentuk sudut (datar).
simetri putar yang dimiliki persegi Hasil jahitan potongan janur tersebut
panjang. akan membentuk trapezium.
Unsur-unsur trapesium sama kaki
5. Ceniga pada ceniga
1. Memiliki sepasang sisi berhadapan
yang sejajar
2. Memiliki dua sisi berhadapan yang
sama panjang
3. Sudut-sudut yang berdampingan
sama besar
Pembelajaran matematika yang dapat
22
ditentukan dengan menjumlahkan berbagai bentuk banten berupa tangun
panjang sisi-sisi trapesium, sedangkan datar.
luas trapesium ditentukan dengan: Luas Dalam mengajarkan matematika
1 formal (matematika sekolah), guru
= x(a + b) xt . Selain keliling dan luas,
2 sebaiknya memulai dengan menggali
pembelajaran matematika yang dapat pengetahuan matematika informal yang
dipelajari dari bangun ceniga tersebut telah diperoleh siswa dari kehidupan
adalah tentang simetri lipat serta simetri masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
putar bangun trapesium. Simetri lipat Lingkungan dapat menjadi sumber
dan simetri putar yang dimiliki masalah matematika dalam kehidupan
trapesium pada bentuk ceniga adalah nyata. Lingkungan tersebut salah satunya
satu simetri lipat, dan satu simetri putar. berupa budaya.
23