0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan11 halaman

Etnomatematika: Perhitungan Hari Suci Hindu dan Banten

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang etnomatematika pada perhitungan hari suci Agama Hindu dan bentuk-bentuk banten. 2. Perhitungan hari suci Agama Hindu di Bali umumnya menggunakan konsep KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) berdasarkan sistem wewaran dan pawukon. 3. Bentuk-bentuk banten pada Agama Hindu dijumpai dalam bentuk-bentuk datar.

Diunggah oleh

Anto Wijayanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan11 halaman

Etnomatematika: Perhitungan Hari Suci Hindu dan Banten

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang etnomatematika pada perhitungan hari suci Agama Hindu dan bentuk-bentuk banten. 2. Perhitungan hari suci Agama Hindu di Bali umumnya menggunakan konsep KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) berdasarkan sistem wewaran dan pawukon. 3. Bentuk-bentuk banten pada Agama Hindu dijumpai dalam bentuk-bentuk datar.

Diunggah oleh

Anto Wijayanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Widyadari DOI: 10.5281/zenodo.

6390854
Vol. 23 No. 1 (April 2022)
e-ISSN: 2613-9308 p-ISSN: 1907-3232
Hlm. 13 - 23

ETNOMATEMATIKA: APLIKASI MATEMATIKA PADA PERHITUNGAN


HARI SUCI AGAMA HINDU DAN BANTEN

Gede Ngurah Oka Diputra1*, I Wayan Sudiarta2, Ni Made Serma Wati3


1,2,3
IKIP Saraswati
diputrabagus@[Link] ; sudiarta097@[Link] ; serma.wati93@[Link]

ABSTRACT
Mathematics and culture are two interrelated things. Mathematics in culture is known as
ethnomathematics. Ethnomathematical objects that are around us can be used to carry out
mathematics learning. We can find mathematical concepts in a particular culture, for example in
the calculation of Hindu religious holy days and the forms of offerings. Calculation of Hindu holy
days Religious holidays for Balinese Hindus are generally calculated based on wewaran and
pawukon with the application of the concept of the Corruption Eradication Commission. While
in Banten, various forms of offerings are found in the form of flat shapes. The method used in this
writing is a literature study, namely data collection techniques by conducting a review study of
books, literatures, notes, and reports that have to do with the problem being solved.

Keywords: Wewaran, Pawukon, Banten

ABSTRAK
Matematika dan budaya adalah dua hal yang saling berkaitan. Matematika dalam budaya dikenal dengan
istilah etnomatematika. Objek etnomatematika yang ada di sekitar kita dapat dimanfaatkan untuk
melaksanakan pembelajaran matematika. Kita dapat menemukan konsep matematika pada suatu budaya
tertentu, misalnya pada perhitungan hari suci Agama Hindu dan bentuk-bentuk banten. Perhitungan hari
suci Agama Hindu Hari raya keagamaan bagi umat Hindu Bali umumnya dihitung berdasarkan wewaran
dan pawukon dengan penerapan konsep KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil). Sedangkan pada banten
ditemukan berbagai bentuk banten berupa bangun datar. Metode yang digunakan dalam penulisan
ini adalah Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi
penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang
ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.

Kata Kunci : Wewaran, Pawukon, Banten

PENDAHULUAN pengetahuan matematika informal yang


Matematika dan budaya adalah dua telah diperoleh siswa dan kehidupan
hal yang berkaitan erat. Tapi terkadang masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
matematika dilihat sebagai sesuatu yang Lingkungan dapat menjadi sumber
tidak terkoneksi dengan kehidupan sehari-- masalah matematika dalam kehidupan
hari. Padahal dalam mengajarkan nyata. Lingkungan tersebut salah satunya
matematika formal (matematika sekolah), berupa budaya. Matematika dalam budaya
guru sebaiknya memulai dengan menggali dikenal dengan istilah etnomatematika.

13
Bishop (1994) menyatakan bahwa Wasa. Banten ini mempunyai berbagai
matematika merupakan suatu bentuk bentuk yang juga merupakan objek
budaya. Matematika sebagai bentuk etnomatematika.
budaya, sesungguhnya telah terintegrasi Berdasarkan uraian di atas
dalam seluruh aspek kehidupan mengenai keterkaitan matematika dan
masyarakat. Etnomatematika dapat dibagi budaya dan potensi budaya dalam
menjadi enam kegiatan mendasar yang pendekatan pembelajaran matematika,
selalu dapat ditemukan pada sejumlah maka kami bertujuan untuk menggali
kelompok budaya. Keenam kegiatan etnomatika pada perhitungan hari suci
matematika tersebut adalah aktivitas: Agama Hindu dan berbagai bentuk banten
menghitung/membilang, penentuan lokasi, menjadi perlu dan penting untuk dilakukan.
mengukur, mendesain, bermain, dan
menjelaskan. METODE PENELITIAN
Di Bali mayoritas penduduknya Metode yang digunakan dalam
memeluk Agama Hindu. Umat Hindu Bali penulisan ini adalah Studi kepustakaan
memiliki sistem kalender sendiri yang adalah teknik pengumpulan data dengan
berbeda dengan sistem penanggalan hari mengadakan studi penelaahan terhadap
raya Hindu di India dan Nepal. Hari raya buku-buku, literatur-literatur, catatan-
keagamaan bagi umat Hindu Bali catatan, dan laporan-laporan yang ada
umumnya dihitung berdasarkan wewaran hubungannya dengan masalah yang
dan pawukon, kombinasi antara Triwara, dipecahkan.
Pancawara, Saptawara, dan Wuku.
Perhitungan hari raya suci umat Hindu ini HASIL DAN PEMBAHASAN
merupakan salah satu objek Aplikasi KPK pada Perhitungan Hari
etnomatematika. Suci Agama Hindu
Pada hari raya suci Agama Hindu, Hari suci adalah hari yang istimewa,
umat hindu akan menghaturkan banten. karena pada hari-hari suci para Dewa
Banten adalah persembahan dan sarana beryoga untuk menyucikan alam semesta
bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri beserta isinya. Beryadnya pada saat hari
dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. suci nilainya sangat baik dibandingkan hari
Merupakan wujud rasa terimakasih, cinta, biasanya dan hari suci sering disebut hari
dan bakti pada Ida Sang Hyang Widhi raya karena pada saat hari suci ini

14
diperingati dan dirayakan dengan khusus mengunakan kelipatan 7 yaitu
dan istimewa. pergantian hari setiap 7 hari.
Berdasarkan hasil pengamatan, Adapun hari suci yang berdasarkan
perhitungan hari suci Agama Hindu wewaran, yaitu:
menggunakan konsep KPK (Kelipatan a. Kajeng Kliwon, yaitu kombinasi antara
Persekutuan Terkecil). Hari raya Tri Wara dan Panca Wara.
keagamaan bagi umat Hindu Bali Perhitungannya:
umumnya dihitung berdasarkan wewaran KPK dari 3 dan 5
dan pawukon. 3 5
3
1 5
5
Berdasarkan Wewaran 1 1
Hari suci yang berdasarkan wewaran
merupakan kombinasi antara Tri Wara, KPK dari 3 dan 5 adalah 3 x 5= 15
Panca Wara, dan Sapta Wara. Jadi, Kajeng Kliwon dilaksanakan 15 hari
• Tri Wara memiliki arti Tri yaitu tiga dan sekali.
Wara artinya hari. Tri Wara yaitu (1) a. Buda Kliwon, yaitu kombinasi antara
Pasah, (2) Beteng, (3) Kajeng. Panca Wara dan Sapta Wara.
Perhitungan Tri Wara mengunakan Perhitungannya:
kelipatan 3 yaitu pergantian hari setiap 3 KPK dari 5 dan 7
hari. 5 7
5
• Panca Wara memiliki arti Panca yaitu 1 7
lima dan Wara artinya hari. Panca Wara 7
1 1
yaitu (1) Umanis, (2) Paing, (3) Pon, (4)
Wage, (5) Kliwon. Perhitungan Panca KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7=35
Wara mengunakan kelipatan 5 yaitu Jadi, Buda kliwon dilaksanakan 35 hari
pergantian hari setiap 5 hari. sekali.
• Sapta Wara memiliki arti Sapta yaitu b. Buda Wage, yaitu kombinasi antara
tujuh dan Wara artinya hari. Sapta Wara Panca Wara dan Sapta Wara.
yaitu (1) Redite, (2) Soma, (3) Anggara, Perhitungannya:
(4) Buda, (5) Wraspati, (6) Sukra, (7) KPK dari 5 dan 7
5 7
Saniscara. Perhitungan Sapta Wara 5
1 7
7
1 1

15
suci yang berdasarkan pawukon
KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7= 35 dilaksanakan 210 hari sekali.
Jadi, Buda Wage dilaksanakan 35 hari Adapun hari suci yang berdasarkan
sekali. wewaran, yaitu:
c. Saniscara Umanis, yaitu kombinasi a. Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan
antara Panca Wara dan Sapta Wara. pada Buda Kliwon Wuku Sinta.
Perhitungannya: Pagerwesi adalah hari raya untuk
KPK dari 5 dan 7 memuja Sang Hyang Widhi Wasa
5 7 dengan Prabhawanya sebagai Sang
5
1 7 Hyang Pramesti Guru yang sedan
7
1 1 beryoga disertai oleh para Dewa dan
Pitara demi kesejahteraan dunia
KPK dari 5 dan 7 adalah 5 x 7= 35 dengan segala isinya dan demi
Jadi, Saniscara Umanis dilaksanakan 35 kesentosaan kehidupan semua
hari makhluk.
b. Hari Raya Tumpek Landep
Berdasarkan Pawukon dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
Hari suci yang berdasarkan pawukon Wuku Landep. Tumpek Landep
yaitu hari suci yang jatuh pada wuku. wuku adalah hari untuk memuja Sang
tertentu. Terdapat 30 wuku yaitu (1) Sinta, Hyang Pasupati (Sang Hyang Siwa),
(2) Landep, (3) Ukir, (4) Kulantir, (5) Tolu, yaitu Dewa penguasa senjata.
(6) Gumbreg, (7) Wariga, (8) Warigadian, Dilakukan upacara pemujaan di
(9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) “prapen” (tempat membuat senjata,
Dungulan, (12) Kuningan, (13) Langkir, sarana transportasi). Tujuan upacara
(14) Medangsia, (15) Pujut, (16) Pahang, ini adalah agar semua alat-alat tersebut
(17) Krulut, (18) Merakih, (19) Tambir, bertuah dan berfungsi sebagaimana
(20) Medangkungan, (21) Matal, (22) Uye, mestinya.
(23) Menail, (24) Prangbakat, (25) Bala, c. Hari Raya Tumpek Wariga
(26) Ugu, (27) Wayang, (28) Kelawu, (29) dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
Dukut, (30) Watugunung. Wuku Wariga. Disebut pula hari
Satu (1) wuku berlangsung selama 7 hari, Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah,
dan banyaknya wuku yaitu 30. Jadi, hari Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh.

16
Upacara selamatan kepada Sang g. Hari Raya Tumpek Wayang
Hyang Sangkara, sebagai dewa dilaksanakan pada Saniscara Kliwon
penguasa tumbuh-tumbuhan agar Wuku Wayang. Hari ini adalah puja
menghasilkan hasil yang melimpah. walinya Sang Hyang Iswara (dewa
d. Hari Raya Galungan dilaksanakan penguasa kesenian). Tempat
pada Buda Kliwon Wuku Dungulan. menghaturkan sesajen adalah pada
Pada Hari Raya Galungan umat Hindu wayang, gong, gambang, dan alit-alat
menghaturkan persembahan- seninya. Makna dari hari raya ini
persembahan yang serba utama adalah sebagai pelestarian dibidang
kepada semua manifestasi Sang seni, agar kesenian tidak punah dan
Hyang Widhi Wasa. Karena supaya kesenian itu berkembang dan
dilaksanakan dengan suasana paling metaksu (berkharisina).
ramai dan paling meriah sehingga hari h. Hari Raya Saraswati dilaksanakan
raya Galungan disebut dengan hari pada Saniscara Umanis Wuku
“Pawedalan Jagat” atau hari “Otonan Watugunung. Hari raya untuk
Gumi”. memuliakan atau memuja Sang
e. Hari Raya Kuningan dilaksanakan Hyang Widhi Wasa dalam
pada Saniscara Wuku Kuningan. Pada manifestasinya sebagai “Dewaning
hari ini umat Hindu melakukan Pengeruh” yaitu Dewa penguasa ilmu
persembahyangan kepada para dewa; pengetahuan suci (Weda). Dari ilmu
para leluhur dengan menghaturkan pengetahuan yang diturunkan oleh
sesajen yang berisi nasi yang berwama Dewi Saraswati inilah timbul berbagai
kuning sebagai simbolis kemakmuran. ciptaan-ciptaan baru.
f. Hari Raya Tumpek Kandang
dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Bentuk Bangun Datar pada Banten
Wuku Uye. Pada hari ini umat Hindu Banten (upakara) adalah
menghaturkan persembahan kepada persembahan dan sarana bagi umat Hindu
Dewa penguasa ternak yaitu Sang untuk mendekatkan diri dengan Ida Sang
Hyang Rare Angon, dengan tujuan Hyang Widhi Wasa. Ada tiga sifat banten
agar ternak selamat dan bertambah yaitu bersifat Nista, Madya maupun Utama
banyak hasilnya. sesuai dengan kebutuhan upacaranya pada
salah satu pelaksanaan upacara dalam salah

17
satu yadnya pada Panca Yadnya. konsep bangun datar segiempat pada
Berdasarkan hasil eksplorasi, pengamatan ceper (Gambar 2).
dan dokumentasi banten memiliki beberapa
bentuk bangun datar. Dalam pembahasan Gambar 2
ini disajikan bentuk bangun datar pada Konsep Persegi pada Ceper
banten dan konsep matematika yang
S R
menjelaskan bentuk-bentuk tersebut,
0

diantaranya :
P Q
1. Ceper

Berdasarkan analisis pada Gambar 2,


maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat konsep persegi pada ceper ini.
A. sifat-sifat dan rumus persegi yang
dapat ditemukan pada pemodelan
Gambar.1 ceper sesuai pada Gambar 2 yaitu
Pemodelan Geometri pada Ceper
sebagai berikut.
a. Sifat - sifat persegi
i. PQ = QR = RS = SP
ii. m<P = m<Q = m<R = m<S =
90o
iii. PO = OR = QO = OS
iv. Mempunyai 4 simetri putar

Ceper pada Gambar 1 dapat dan 4 simetri lipat, sehingga

dimodelkan secara giometri seperti dapat menempati bingkainya

pada bagian bawah Gambar 1. Dari dengan 8 cara

gambar tersebut, dapat di ketahui b. Rumus Persegi

bahwa pemodelan tersebut berbentuk i. Keliling Persegi

bangun datar yang memiliki empat Kll = s + s + s + s

sisi. Berdasarkan hal tersebut, =4xs

penelitian selanjutnya menganalisis ii. Luas Persegi


L = s x s = s2

18
2. Tangkih Gambar 4.
Konsep Segitiga pada Tangkih

Berdasarkan analisis pada Gambar 4, maka


dapat disimpulkan bahwa terdapat konsep
segitiga pada tangkih ini. Adapun sifat-sifat
Gambar 3. dan rumus segitiga yang dapat ditemukan
Permodelan Geometri pada Tangkih pada pemodelan tangkih sesuai pada
Gambar 4 yaitu sebagai berikut.
a. Sifat - sifat segitiga sembarang
1) Panjang ≠ AB ≠ BC ≠ AC
2) Besar <A ≠<B ≠<C
3) Tidak memiliki simetri lipat
4) Mempunyai 1 buah simetri putar
b. Rumus segitiga
1) Keliling Segitiga
Tangkih pada Gambar 3 dapat
Kll = AB+BC+AC
dimodelkan secara geometri seperti pada
2) Luas Segitiga
bagian bawah Gambar 3. Dari gambar
1
tersebut, dapat di ketahui bahwa 𝐿= 𝑥𝑎𝑥𝑡
2
pemodelan tersebut berbentuk bangun
datar yang memiliki tiga sisi.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian
selanjutnya menganalisis konsep bangun
datar segitiga pada tangkih (Gambar 4)

19
3. Tamas Gambar 6.
Konsep Lingkaran pada Tamas

Berdasarkan pada Gambar 6, maka


terdapat konsep lingkaran pada tamas ini.
Adapun sifat-sifat daa rumus lingkaran
yang dapat ditemukan pada pemodelan
tamas sesuai pada Gambar 6 yaitu sebagai

Gambar 5. berikut.
Pemodelan Geometri pada Tamas a. Sifat-sifat lingkaran
1) Lingkaran merupakan kurva
tertutup sederhana
2) Lingkaran mempunyai garis
tengah (diameter) yang

Tamas pada Gambar 5 dapat dimodelkan panjangnya 2 kali jari-jari

secara giometri seperti pada bagian bawah 3) Lingkaran mempunyai titik

Gambar 5. Dari gambar tersebut, dapat di pusat

ketahui bahwa pemodelan tersebut 4) Jani-jari lingkaran adalah jakak

berbentuk bangun datar yang berbentuk dari titik pusat ke tepi lingkaran

lingkaran. Berdasarkan hal tersebut, 5) Tidak mempunyai titik sudut

penelitian selanjutnya menganalisis atau besar sudutnya 360 derajat

konsep bangun datar lingkaran pada tamas 6) Mempunyai simetri lipat yang

(Gambar 6) tidak terhingga


7) Mempunyai simetri putar yang
tidak terhingga
b. Rumus Lingkaran
1) Diameter lingkaran
𝑑 = 2𝑥𝑟
2) Keliling lingkaran

20
Kll =π x d muda dan berwarna putih kekuningan)
=2xπxr dengan semat (lidi dari bahan bambu)
22 selanjutnya diisi berbagai motif hiasan
π= atau 3,14
7
serta dihias dengan tepi berupa daun ron
3) Luas lingkaran (daun enau yang sudah hijau tua).
1 Jahitan tersebut membentuk suatu
𝐿= 𝑥 π x d2
4 bentuk persegi panjang. Materi bangun
= π x r2
datar yang dimanfaatkan dari jejahitan
4. Lamak
lamak salah satunya adalah
mengidentifikasi unsur-unsur lamak
yang sesuai dengan unsur-unsur persegi
panjang
Unsur-unsur persegi panjang pada
Lamak 1. Memiliki dua pasang sisi
yang sejajar dan sama panjang 2.
Memiliki empat sudut siku siku 3.
Diagonalnya memotong di tengah-
tengah sama panjang Lamak sangat
Gambar 7. mewakili bangun persegi panjang
Konsep Persegi panjang pada Lamak
dengan unsur-unsurnya yang sama
dengan persegi panjang. Sehingga dapat
ditentukan pula keliling dan luas lamak
tersebut. Keliling lamak diketahui sama
halnya dengan keliling persegi panjang
yang dapat dihitung dengan rumus:
keliling = 2( panjang + lebar). Keliling
Lamak adalah jejahitan yang sering
lamak tersebut ditunjukkan dengan tepi
digunakan masyarakat Hindu di Bali
lamak yang terbuat dari daun ron,
khusus pada acara suci tertentu,
sehingga untuk mengetahui keliling
terutama upacara piodalan. Lamak
lamak, dapat dilakukan dengan
merupakan salah satu jejahitan yang
menghitung potongan panjang dan
dibuat dengan menjahit beberapa
potongan ambu (daun enau yang masih

21
lebar daun ron untuk tepi lamak Ceniga merupakan salah satu
tersebut. jejahitan yang sering digunakan pada
Luas lamak juga dapat dihitung hari raya Galungan, Kuningan, dan
dengan ketentuan luas persegi panjang. berbagai hari suci besar lainnya bagi
Luas persegi panjang dapat dihitung umat Hindu. Ceniga sering dibuat dari
dengan rumus: luas = panjang  lebar . perpaduan bahan janur, selepan (janur
Luas lamak memberikan penafsiran yang sudah hijau), ataupun dengan ron.
banyaknya potongan janur yang Ceniga biasanya disusun dengan tiga
diperlukan. Sama halnya dengan potongan janur yang dikaitkan dan
bangun datar persegi panjang, lamak dibentuk agar bagian bawah lebih lebar,
sebagai peraga bangun persegi panjang sedangkan bagian atasnya agak runcing
dapat menunjukkan simetri lipat dan namun tidak membentuk sudut (datar).
simetri putar yang dimiliki persegi Hasil jahitan potongan janur tersebut
panjang. akan membentuk trapezium.
Unsur-unsur trapesium sama kaki
5. Ceniga pada ceniga
1. Memiliki sepasang sisi berhadapan
yang sejajar
2. Memiliki dua sisi berhadapan yang
sama panjang
3. Sudut-sudut yang berdampingan
sama besar
Pembelajaran matematika yang dapat

Gambar 8. dipetik dari jejahitan ini adalah ciri-ciri


Konsep Trapesium sama kaki pada bangun trapesium khususnya trapesium
Ceniga
sama kaki. Beberapa ciri trapesium
sama kaki adalah memiliki empat sisi
dengan sepasang sisi sejajar, dan
sepasang sisi berhadapan yang sama
panjang. Selain ciri-ciri trapesium,
dapat pula ditentukan keliling serta luas
trapesium. Keliling trapesium

22
ditentukan dengan menjumlahkan berbagai bentuk banten berupa tangun
panjang sisi-sisi trapesium, sedangkan datar.
luas trapesium ditentukan dengan: Luas Dalam mengajarkan matematika
1 formal (matematika sekolah), guru
= x(a + b) xt . Selain keliling dan luas,
2 sebaiknya memulai dengan menggali
pembelajaran matematika yang dapat pengetahuan matematika informal yang
dipelajari dari bangun ceniga tersebut telah diperoleh siswa dari kehidupan
adalah tentang simetri lipat serta simetri masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
putar bangun trapesium. Simetri lipat Lingkungan dapat menjadi sumber
dan simetri putar yang dimiliki masalah matematika dalam kehidupan
trapesium pada bentuk ceniga adalah nyata. Lingkungan tersebut salah satunya
satu simetri lipat, dan satu simetri putar. berupa budaya.

SIMPULAN DAN SARAN


DAFTAR RUJUKAN
Matematika dan budaya adalah dua
Bishop, J.A (1994). Cultural Conflicts in
hal yang saling berkaitan. Matematika
the Mathematics Education of
dalam budaya dikenal dengan istilah Indigenous People. Clyton, Viktoria:
Monash University.
etnomatematika. Objek etnomatematika
Hardiarti,Sylviyani.(2019).
yang ada di sekitar kita dapat dimanfaatkan Etnomatematika: Aplikasi Bangun
Datar Segiempat pada Candi Muaro
untuk melaksanakan pembelajaran
Jambi.
matematika. [Link]
tions/[Link]
Kita dapat menemukan konsep
Maharaja, S. B. K. T (2007). Matematika
matematika pada suatu budaya tertentu, Veda. Surabaya: Penerbit Paramita
Puspadewi, Rahayu dkk (2018). Analisis
misalnya pada perhitungan hari suci
Etnomatematika Jejahitan Bali dalam
Agama Hindu dan bentuk-bentuk banten. Pembelajaran Bangun Datar.
Denpasar : Jurnal Bakthi Saraswati
Perhitungan hari suci Agama Hindu Hari
Sudarsana, Ida Bagus Putu. (2010).
raya keagamaan bagi umat Hindu Bali Himpunan Tetandingan Upakara
Yadnya. Denpasar: Anom Yayasan
umumnya dihitung berdasarkan wewaran
Dharma Acarya
dan pawukon dengan penerapan konsep Wijaya. (2019). Hari Suci Agama
[Link]//[Link]
KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil).
/2013/02/[Link]
Sedangkan pada banten ditemukan

23

Anda mungkin juga menyukai