Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal.
14 – 35)
CILI DALAM UPACARA DEWA YADNYA DI DESA PEJATEN, KEDIRI,
TABANAN (Kajian Teologi Perempuan)
Oleh:
Ida Ayu Tary Puspa
Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar
Abstract
Cili is ninipantunis the worship of the fertility goddessDewi Sri, a powerful
embodiment of Lord Vishnu, as practiced daily by the farmers in the Pejaten village of
Kediri District, Tabanan Regency.
The study concludes that Ciliis the embodiment of the Goddess Sri Vishnu as
worshiped in the sacred ceremony Yadnyawhich suggests that Balinese Hindus worship
the goddess as an expression of feminism.
Keywords : Cili, Dewa Yadnya Ceremon , Theology Feminims
Abstrak
Cili adalah pantun nini sebagai perwujudan dari Dewa Wisnu, Dewi Sri.
Penyembahan dewi kesuburan diwujudkan oleh petani di Desa Pejaten Kediri,
Kabupaten Tabanan. Untuk petani / agraris maka mereka berada di pertanian setiap hari.
Dengan latar belakang tersebut, maka masalah dapat dirumuskan sebagai
berikut: 1) bagaimana membentuk Cili jender adalah upacara Dewa Yadnya di Desa
Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan? , 2) Apa fungsi dari Cili dalam
upacara dewa yadnya di desa Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan ?, dan 3) Apa arti
dari teologi perempuan di Cili dalam upacara dewa yadnya di desa Pejaten , kecamatan
Kediri Kabupaten , Tabanan? Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperkaya
dan melestarikan tradisi dalam upacara dan menghormati perempuan. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi 1) teori agama, 2) teori fungsionalisme
struktural, teori simbol, dan 4) teori gender.
Dalam penelitian ini hasil dapat disajikan; berikut: 1) Cili dalam gender upacara
Dewa yadnya adalah upacara di pertanian mulai dari penanaman benih , mengambil
padi, diupacarai di jineng, dan upacara negtegang padi dalam upacara Ngenteg Linggih,
2) Fungsi Cili dalam upacara Dewa Yadnya antara agama lainnya fungsi, etika, dan
pelestarian sosial budaya, 3) arti teologi, kesetaraan gender, estetika, dan simbolis.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Cili adalah perwujudan dari Dewi
Sri Vishnu disembah dalam upacara Yadnya dewa suci yang memberi arti bahwa umat
Hindu juga menyembah feminisme dewi.
Kata kunci: Cili, Upacara Dewa Yadnya, Teologi Feminim
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 14
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
PENDAHULUAN diwujudkan dalam bentuk persembahan
Berdasarkan Keputusan atau yadnya. Persembahan tersebut
Pesamuhan Agung Parisada Hindu dihayati sebagai manifestasi kongkret
Dharma Indonesia tahun 2010 tentang agama. Ketiganya merupakan satu
Pola Pembinaan Umat Hindu Indonesia, kesatuan yang saling memberi fungsi atau
Agama Hindu memiliki tiga kerangka sistem agama secara keseluruhan.
dasar yaitu (1) Tattwa, (2) Susila, dan (3) Pelaksanaan yadnya tidak dapat
Acara. Tattwa adalah esensi ajaran atau dilepaskan atau selalu didasarkan pada
ajaran yang hakiki. Pendalaman ajaran susila dan tattwa. Apabila salah satu dari
keTuhanan dalam agama Hindu disebut ketiga kerangka dasar tersebut diabaikan,
dengan Brahma Widya. Pendalaman maka akan terjadi ketidakseimbangan
ajaran agama melalui Tattwa adalah untuk pada sistem agama tersebut. Untuk itulah
menambah keyakinan yang akan dijadikan dibutuhkan perhatian dan komitmen
tuntunan hidup memberikan pandangan terhadap ketiganya agar proporsional
yang lebih luas dan memiliki makna yang dalam ruang dan waktu. Sebelumnya
esensi bagi yang mendalaminya. Susila Tattwa, Susila, dan Upacara dikenal pula
disebut pula tata susila atau etika yakni sebagai tiga kerangka Agama Hindu,
seperangkat nilai, norma, prilaku yang namun Upacara memiliki pengertian
bersumber secara langsung maupun tidak yang lebih sempit dibandingkan dengan
langsung dari Tattwa. Acara adalah Acara.
rangkaian kegiatan umat Hindu yang Dalam menjalankan aktivitas
dipakai sebagai media atau alat agamanya penduduk yang beragama
menyampaikan pikiran dalam upaya Hindu di pulau Bali tidak terlepas dari
menghubungkan diri dengan Tuhan yang kegiatan ritual masyarakat, pemujaan
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 15
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan pinggang ramping serta berbudi luhur
segala manesfestasinya dilaksanakan akan tercetus ucapan “jegegne cara cili”,
hampir setiap saat, dimulai dari kegiatan artinya cantiknya seperti cili. Jadi jelasnya
yang dilakukan di rumah masing-masing bahwa cili tidak dapat dipisahkan dengan
hingga bersifat teritorial. Dalam perempuan yang mempunyai sifat seperti
menunjukkan hormat kepada-Nya mereka di atas.
tidak lupa menghaturkan sesajen sebagai Cili dengan penggambaran sebagai
sarana yang sekaligus pula merupakan seorang perempuan merupakan simbol
perwujudan rasa terimakasih umat kepada Dewi Sri sebagai sakti Wisnu yang
Tuhan. Sajen yang dipersembahkan ini melambangkan kesuburan. Di Desa
terdiri dari makanan, buah-buahan yang Pejaten masyarakat masih menekuni
ditata dengan rapi serta dengan berbagai pekerjaan sebagai petani. Mereka akan
bentuk hiasan yang dibuat dari nasi, melakukan upacara mabiyukukung di
tepung maupun daun-daunan yang sawah dengan menghaturkan banten
berwarna-warni. Pada salah satu bentuk kepada Dewi Sri dan membuat gantung-
ini terdapat suatu hiasan yang juga gantungan berupa cili. Di samping itu
merupakan simbol seorang perempuan masyarakat petani saat panen akan
dengan pinggang ramping, hiasan kepala menempatkan padi dan sri kekili di jineng
yang sedikit melebar. Bentuk simbul ini untuk penghormatan kepada Dewi Sri
sering disebut cili. sebagai Dewi yang memberikan
Pada masyarakat Hindu di Bali cili kesuburan dan kemakmuran bagi umat
adalah simbol kecantikan. Bahkan telah Hindu. Untuk upacara lain adalah dengan
merupakan tradisi di Bali bahwa apabila negtegang manik galih pada waktu
seseorang melihat gadis cantik dengan menyelenggarakan upacara ngenteg
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 16
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
linggih. Dengan demikian, penelitian ini penelitian yang temuan-temuannya tidak
akan difokuskan pada upacara Dewa diperoleh melalui prosedur statistik dan
Yadnya. Selain sebagai petani, maka bentuk hitungan-hitungan lainnya, dengan
masyarakat di desa Pejaten ini juga contoh berupa penelitian tentang
menekuni pekerjaan industri yaitu kehidupan, riwayat, dan prilaku
sebagai perajin genteng, jambangan untuk seseorang, di samping juga tentang
hiasan di atap rumah, termasuk dalam hal peranan organisasi, pergerakan sosial, atau
ini menerima order pembuatan cili dari hubungan timbal balik.
tanah liat. Selanjutnya Branen (2004:11)
Berdasarkan uraian di atas, maka mengemukakan bahwa dalam penelitian
permasalahan dalam penelitian ini adalah tradisi kualitatif, peneliti menggunakan
bagaimana bentuk, fungsi, dan makna diri mereka sebagai instrumen, mengikuti
teologi perempuan dalam cili pada asumsi-asumsi kukltural. Dalam hal ini
upacara Dewa Yadnya di Desa Pejaten, peneliti diharapkan fleksibel dan reflektif,
Kediri, Tabanan. tetapi tetap mengambil jarak, dalam upaya
METODE PENELITIAN untuk mencapai wawasan imajinatif ke
Pendekatan yang digunakan dalam dunia responden. Tradisi dan pendekatan
penelitian mengenai Cili dalam Upacara yang digunakan dalam penelitian ini
Dewa Yadnya di Desa Pejaten, menurut pandangan peneliti memiliki
Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan ketepatan untuk menggali dan
(Kajian Teologi Perempuan) mendapatkan hasil penelitian yang lebih
menggunakan pendekatan kualitatif. mendalam.
Menurut Strauss dan Corbin (2003:4) Dengan demikian, maka penelitian
bahwa pendekatan kualitatif adalah jenis kualitatif dengan design penelitian
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 17
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
terfokus pada observational case study. menganalisis data secara induktif atau
Dalam design penelitian ini cara berangkat dari hal-hal khusus yang
pengumpulan data yang utama adalah berhasil dikumpulkan, dan (5)
dengan participation observation. mementingkan peran makna, dimana
Penelitian kualitatif pada umumnya sesuatu prilaku atau gejala bisa banyak
dilawankan dengan penelitian kuantitatif. mempunyai arti. Menurut Kirk dan Miller
Seperti dijelaskan Zamroni (1992:81-89), (1986:9) penelitian kualitatif adalah tradisi
penelitian kualitatif secara umum tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial
memiliki karakteristik : (1) mempunyai yang secara fundamental bergantung atas
latar belakang alamiah yang mana peneliti pengamatan pada manusia dalam
sendiri menjadi instrumen inti, dimana kawasannya sendiri dan berhubungan
peneliti lebih banyak mempergunakan dengan orang-orang tersebut dalam
waktu di daerah penelitian untuk bahasanya dan dalam peristilahannya.
mengamati dan memahami permasalahan Berdasarkan karakter atau ciri-ciri
secara mendalam. Peneliti dibantu dengan tersebut, maka penelitian kualitatif pada
alat bantu berupa alat perekam seperti umumnya bertujuan untuk
tape, (2) bersifat deskriptif, dimana data mengembangkan konsep atau
yang dikumpulkan lebih banyak berupa mengembangkan pemahaman dari suatu
kata atau gambar daripada data dalam fenomena, dalam hal ini Cili dalam
wujud angka-angka. Laporan yang ditulis Upacara Dewa Yadnya di Desa Pejaten ,
sering mengambil kutipan data dalam Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan
rangka menunjukkan pentingnya sesuatu yang dikaji dari teologi perempuan.
yang dihadapi, (3) menekankan proses Penelitian ini diarahkan untuk
daripada produk, (4) cenderung menelaah secara holistik fenomena Cili
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 18
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
dalam Upacara Dewa Yadnya di Desa bangsa Indonesia, sebelum menerima
Pejaten. Telaahan dilakukan dengan pengaruh kebudayaan Hindu (Widia dkk.,
mengamati bentuk cili melalui proses 1990 : 5).
pembuatannya dalam upacara Dewa Secara umum cili memang
yadnya. Selanjutnya akan diteliti fungsi mengungkap fungsi sebagai hiasan, tetapi
cili dalam upacara Dewa Yadnya serta terdapat makna tertentu yang ingin
mengungkap makna teologi perempuan disampaikan secara komunikatif oleh
yang terkandung dalam cili yang orang yang membuatnya. Begitu pula
digunakan dalam upacara Dewa Yadnya orang yang melihat bentuk cili awalnya
akan memperhatikan bentuknya, lalu
PEMBAHASAN selanjutnya akan mampu menangkap
Bentuk Pen-genderan Cili dalam pesan yang ingin disampaikan oleh
Upacara Dewa Yadnya
pembuatnya. Pertama-tama mereka
Cili merupakan bagian dari seni
menunjuk pada keteraturan susunan
rupa atau bentuk yang mana bentuk cili
bagian dari bentuk seni atau aspek bentuk,
dalam seni rupa apapun menyerupai wajah
keselarasan unsur maupun pola yang
perempuan dengan muka runcing, hiasan
mempersatukan bagian-bagiannya atau
kepala lebar dan kadang-kadang runcing,
aspek teknik. Akan tetapi disamping itu
telinga memakai anting-anting besar
yang lebih penting adalah sesuatu yang
dinamai subeng dan bentuk pinggang
bersangkutan dengan aspek isi atau makna
ramping dari pinggang sampai dengan
maupun pesan yang dikandungnya (Hadi,
kaki ditutupi dengan kain sehingga bentuk
2006 : 264).
kaki kurang jelas. Sebenarnya bentuk-
Cili memegang peranan yang
bentuk cili ini merupakan perwujudan
sangat penting pada setiap upacara yang
Dewi Sri yang telah dikenal oleh seluruh
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 19
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Dalam b.Upacara Mawinih, yaitu
suatu upacara yang dilaksanakan untuk penancapan kayu/carang dadap di tempat
memuja Bhatari Sri, dalam rangkaian yang akan ditanami padi. Menurut
upacara panen padi, maka berturut-turut keyakinan umat Hindu pohon dapdap
dilakukan upacara, yaitu setelah padi dilambangkan sebagai penolak hama atau
berumur 3 bulan, pada waktu padi menolak segala yang merusak secara
dikatakan sedang hamil dilakukan upacara nyata dan terhindar dari hama. Tujuan
mebiyakukung (mebiyu kukung) Sebelum upacara ini untuk memohon kselamatan
upacara mabiyukukung, maka ada agar padi yang ditanamnya dapat tumbuh
rangkaian upacara sebelumnya yang dengan baik dan memberikan hasil yang
dilaksanakan oleh petani di Pejaten yaitu bagus
a.Nuasen, artinya mencari hari c.Upacara Mamula, yaitu upacara
baik. Untuk memulai mengerjakan sawah menanam benih padi. Tujuan upacara ini
diadakan upacara nuasen yang tujuannya adalah memohon kepada Dewi Sri agar
untuk memohon ke hadapan Bhatari Uma tanaman padinya tumbuh dengan baik dan
agar apa yang dilakukan umatnya terhindar dari hama.
mendapatkan kerahayuan di bumi ini. d.Upacara Kakambuhan waktu
Tujuan upacara ini merupakan padi berumur 42 hari. Upacara ini
permakluman kepada Ida Sang Hyang merupakan upacara peringatan dan
Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewi penyucian terhadap roh atau jiwa yang
Sri agar memberikan kekuatan maupun lahir kembali. Tujuannya untuk memohon
kesucian terhadap tanah yang akan keselamatan dan agar tanaman padi dapat
dikerjakan atau digarap tumbuh dengan subur tanpa diganggu oleh
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 20
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
hama/penyakit dan dapat menghasilkan yang melaksanakan upacara
padi yang bagus. mabiyukukung. Selanjutnya sarana
e.Upacara Ngiseh (pematangan upacara yang disiapkan di rumah dibawa
benih) bertujuan untuk memohon ke ke tempat pelaksanaan upacara
hadapan Dewi Sri agar Beliau mabiyukukung beserta tirta dari ulunsuwi.
memberikan kekuatannya terhadap benih Banten untuk di sanggah surya diletakkan
buah padi supaya menjadi kental berisi di sanggah surya dan untuk di bawah
Selsnjutnya barulah dilakukan diletakkan rujak-rujakan..Pemilik sawah
upacara mebiyukukung dengan tujuan kemudian ngayabang banten yang berada
agar terjadi pembuahan dengan baik, di sanggah surya kemudian banten yang
sehingga menghasilkan padi yang baik di bawah. Selanjutnya memercikkan tirta
pula. Pada upacara mabiyukukung ini ulunsuwi ke setiap sudut-sudut sawah
dibuatkan perwujudan seorang wanita yang tujuannya untuk memohon agar
yang dinamai cili, dibuat dari daun lontar nantinya padi yang tumbuh memberikan
dengan bentuk alat kelamin perempuan, hasil yang baik dan tidak diserang hama
yang dilengkapkan suatu lafal berbunyi penyakit. Setelah selesai memercikkan
“Psu, Psu, Jrom, bolehlah mebutoh”. tirta, banten yang berada di sanggah surya
Upacara mabiyukukung didahului dengan di surud begitu pula dengan banten yang
nunas tirta d Pura Ulunsuwi dengan berada di bawah, termasuk dalam hal ini
sarana upacara canang sari dan gabah rujak-rujakan diioleskan pada pohon padi
secukupnya. Canang sari ini akan sebanyak tiga kali. Rujak-rujakan ini
dihaturkan oleh pemangku di sana bertujuan untuk memenuhi keinginan
selanjutnya tirta yang di-tunas akan Batara Sri agar Beliau memberikan
diantar langsung oleh pemangku ke rumah anugerah bulir padi yang bagus dan
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 21
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
menghasilkan buah dengan baik. akan didahului oleh upacara-upacara
Selanjutnya dua hari sebelum mengetam, sebagai berikut
padi akan dibuatkan suatu perwujudan 1.Upacara Nyangket, upacara ini
yang bernama nini pantun (Dewi dilaksanakan sebelum petani melakukan
Padi) menyerupai wajah seorang panen padi di sawah. Upacara ini
perempuan dengan 54 tangkai padi dan bertujuan memohon izin dan
seorang perwujudan laki-laki 108 tangkai penghormatan pada Dewi Sri sebagai
padi, kedua perwujudan itu kemudian Dewi kesuburan dan kemakmuran karena
dikawinkan di lumbung padi. akan melaksanakan kegiatan panen padi.
Cili atau Cau yang dibuat di sawah Diawali dengan mengambil padi di sawah
pada waktu akan mengetam padi dan yang akan dipanen sebanyak 1 ikat kecil,
merupakan perwujudan bentuk Dewi Sri kemudian padi tersebut dihiasi dengan
yang dianggap orang sebagai dewi kain putih kuning, bunga dan hiasan
pertanian dan dewi kesuburan (Goris, lainnya layaknya pratima, dan selanjutnya
1954,38). Sebagai manifestasi dari Dewi dibawa ke rumah dan di-linggih-kan di
Sri, maka cili memegang peranan yang jineng. Padi yang di-linggah-kan tersebut
sangat penting dalam upacara di Bali, biasa disebut Nini Pantun. Dalam tradisi
tetapi dalam kaitan upacara ini Dewi Sri agama Hindu di Bali kata pantun adalah
lebih dikenal dengan sebutan Cili. sebutan lain dari padi atau padi yag masih
Bentuk pen-genderan Cili dalam memiliki batang (katik padi). Nini pantun
upacara ngelinggihang Bhatara Sri dalam dipercayai sebagai simbolisasi dari Dewi
upacara ngadegang Batara Sri yang Sri. Setelah Nini Pantun distanakan di
pelaksanaannya dilakukan pada jineng ini jineng barulah petani dapat melaksanakan
kegiatan panen di sawah. Adapun upakara
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 22
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
yang digunakan pada upacara ini pejati, telur dadar. Di bawah jineng dihaturkan
canang gantal, canang lenge wangi, dan nasi satu bakul, olahan daging ayam, jajan
segehan putih kuning Berbagai sarana Bali (jaja bungan duren, bangsah, dan
upacara nyangket tersebut digunakan bungan temu. Jumlah jajan itu sesuai
dalam pelaksanaannya dengan hati yang dengan urip pangideran, urab barak dan
tulus iklas. putih, tuak satu guci yan tidak disaring.
2.Mretenin Pantun, dalam lontar 3.Mantenin Pantun, upacara
Ciwa Gama disebutkan bahwa Ida Batara mantenin padi (pantun) adalah salah satu
Sri adalah Dewinya Padi dan disimbolkan runtutan upacara penting yang
sebagai wadu (istri/wanita), itu sebabnya dilaksnakan di jineng sebelum padi
Beliau disebut Dewinya Padi. Upacara ini tersebut diolah atau dikonsumsi, karena
dilakukan pada saat padi yang sudah di menurut kepercayaan masyarakat agraris,
panen di sawah dibawa pulang ke rumah bahwa sebelum padi diupacarai tidak
dan akan ditaruh di jineng belum boleh menurunkan padi dari jineng.
dikonsumsi. Upacara mretenin pantun ini Upacara ini sebagai ucapan syukur kepada
tujuanya adalah sebagai ucapan syukur Dewi Sri atas hasil panen yang sudah
akan hasil panen yang berhasil dan diproleh
memohon izin kepada Dewi Sri yang Upakara yang disiapkan dalam
melinggih di jineng agar menjaga padi upacara ini adalah priuk tanah yang di
secara niskala di jineng tersebut. dalamnya diisi nasi, garam, dan telur
Ada pun upakara yang dihaturkan rebus lalu ditutup. Periuk tersebut dihiasi
pada upacara ini adalah canang lenga dengan tanaman merambat yaitu rambat
wangi burat wangi, tirta, dan dupa. . tebel-tebel, rotan, dan don kayu sugih
Selain itu ada tumpeng putih hitam dan sebagai pelengkap banten adalah canang
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 23
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
gantal esuai urip pengeidran, lenge wangi maupun dikonsumsi oleh pemilik padi.
burat wagi, canang tubungan, nyahnyah Dalam upoacara kecil ini menggunakan
gringsing, dan kacang komak. Setiap sarana atau banten sebagai berikut: nasi
sudut atap jineng dihiasi dengan sasapt, segenggam (agembel), dagingnya
gegantungan yang bentuknya memang sebisanya (sakasidan), bumbu-bumbuan,
seperti cili. Setiap tiang (saka) dihiasi merica, ginten. Pelengkapnya adalah
dengan pelekir dilengkapi dengan canang lenga wangi burat wangi. Tujuan
tumbuhan rambat dendeng ai, rotan, sri upacara ini dilaksanakan adalah memohon
bemben dan diselipkan porosan di izin kepada Bhatari Sri bahwa padi akan
dalamnya. Di depan pintu jineng dihiasi diturunkan dari jineng untuk diolah atau
dengan penjor dan kain baru putih kuning dikonsumsi. Dalam lontar Sundarigama
(sukla). Bentuk cili ini terdapat pada alat- disebutkan bahwa ngodalin padi pada hari
alat sajen yang paling sederhana sampai soma wuku sinta (soma ribek) yang
bentuk yang paling unik seperti bentuk ditujukan kepda Bhatari Sri agar panen
sasap, duras, penyeneng, sampian berikutnya hasilnya lebih baik dari hari
gantung dan pada bentuk lamak. Pada sekarang. Kepercayaan masyarakat pada
bentuk sasap terlukis hanya bentuk hari soma ribek tersebut adalah tidak
gambar muka, yang dilengkapi dengan boleh menjual beras, apabila hal tersebut
mulut, hidung, dan kening. dilanggar, maka dipercaya akan terkena
4.Nedunang Pantun, merupakan kutukan dari Bhatari Sri.
salah satu upacara menurunkan padi dari Pada hari soma ribek ini yang
lumbung (jineng) yang akan dipakai, dipercayai sebagai hari Bhatari Sri bagi
diolah maupun dikonsumsi oleh pemilik masyarakat yang tidak memiliki jineng,
padi dari jineng yang akan dipakai, diolah maka akan pula mengupacarai beras yang
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 24
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
dimiliki di rumah, sesajennya berupa seperti sasap dilengkapi dengan gantung-
banten soma ribek yang tertata dalam gantungan menyerupai cili, dan rarapan.
sebuah ceper. Di dalam ceper tersebut Banten tersebut dihaturkan di jineng
diisi dengan bantal, tape, tebu, raka-raka, dengan prosesi yang tidak terlalu besar
dan canang juga dilengkapi dengan karena upacaranya sangat sederhana.
tangkih yang terdiri dari jaja kukus putih Selanjutnya bentuk Cili yang
kuning, rerasmen dan juga tipat sari. paling sempurna dan lengkap adalah alat
Kepercayaam masyarakat pada hari itu upacara yang dinamai lamak. Lamak ini
adalah mohon kerahayuan dan rejeki yang ada bermacam-macam dari yang paling
bersumber pada beras sebagai bahan sederhana dinamai lamak ituk, sampai
pangan agar hemat dan mesari. lamak nganten, dan lamak pada upacara
5.Ngodalin Bhatari Sri, Ekadasa Rudra di Besakih Selain sebagai
pelaksanaannya tetap dilakukan di jineng Dewi kesuburan, Dewi Sri juga dipuja
yang datangnya setiap enam bulan sekali sebagai dewi keberuntungan, para
pada hari wraspati paing wuku tambir. pemujanya sebagian besar pedagang,
Upacara ini dilaksanakan untuk petani dan masyarakat agraris pada
menghormati hari Bhatari Sri yang wajib umumnya ( Titib. 2003: 354). Dengan
dilaksanakan oleh petani karena Beliau demikian menjadi sangat jelas bila cili
yang memberikan anugerah dan dipergunakan sebagai simbol Dewi Sri
menentukan keberhasilan petani dalam dikarenakan Indonesia merupakan negara
melaksanakan pekerjaannya sebagai agraris.
seorang petani. Upakara yang dihaturkan
Fungsi Cili dalam Upacara Dewa
pada upacara ini adalah banten pejati,
Yadnya
hiasan-hiasan yang dipasang di jineng
Fungsi Religius
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 25
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
Cudamani (1991:41) mengatakan dan keseimbangan dalam hidup tidak akan
bahwa religi merupakan suatu bentuk tercapai.
kepercayaan yang timbul di luar Dalam Bhagawadgita III.11 disebutkan:
kemampuan manusia yang terdiri atas Devām bhāvayatānena
te devā bhāvayantu vah,
unsur-unsur dasar yaitu: sistem keyakinan, prasparam bhāvayantah
śreyah param avāpsyatha
sistem ritual dan upacara, emosi
Terjemahannya:
keagamaan, peralatan ritual, upacara serta Adanya para dewa adalah karena
ini (yajna)
umat agama.. dengan demikian religi Semoga mereka menjadikan
engkau demikian,
adalah adanya suatu kepercayaan yang Dengan saling memberi engkau
akan memperoleh kebajikan
muncul dalam diri manusia mengenai utama (Pudja, 1999:85)
adanya suatu kekuatan yang luar biasa di Dalam pelaksanaan upacara yajna
luar kemampuan manusia sehingga di Desa Pejaten maka umat melaksanakan
manusia menunjukkan respon (berbuat yang disebut panca yadnya. Dalam hal ini
religius) dalam hidupnya. penggunaan upakara selalu menyertai
Umat Hindu meyakini bahwa sebuah upacara. Termasuik dalam hal ini
segala perbuatan, karma, pekerjaan- penggunaan cili. Hampir dalam setiap
pekerjaan yang baik dan mulia merupakan upacara yadnya selalu dibuat lamak,
suatu yajna. Dalam beryajna harus gebogan, dan upacara besar menggunakan
dilandasi dengan hati yang bersih serta pulagembal/sarad. terlebih dalam upacara
tulus ikhlas, karena dipersembahkan Dewa Yadnya. Dalam upacara
kehadapan Sang Hyang Widhi dengan menghormati dewi padi yaitu Dewi Sri
segala manisfestasi-Nya. Tanpa adanya akan dibuat cili. Semua sarana itu adalah
yajna atau korban suci yang dilakukan sebagai wujud bhakti kepada sang
secara tulus ikhlas, maka keharmonisan pencipta yaitu Ida Sang Hyang Widhi
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 26
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
Wasa dalam manifestasi sebagai sakti sebagaimana dalam kitab Sarasamuccaya
Dewa Wisnu.. sloka 160 dijelaskan:
Fungsi Etika
Silam pradhanam puruse tadyas
Etika yang merupakan bagian dari yeha pranasyati
Na tasya jivitenartho
tiga kerangka agama Hindu yang identik duhsilamkinprayojanam
dengan susila merupakan adat kebiasaan,
Terjemahannya:
yaitu norma-norma yang dianut oleh
Susila itu adalah yang paling
kelompok, golongan, atau masyarakat utama pada titisan sebagai manusia,
jika ada perilaku (tindakan) titisan
tertentu, baik mengenai perbuatan yang sebagai manusia itu tidak susila,
apakah maksud orang itu dengan
baik maupun perbuatan yang buruk. Oleh hidupnya, dengan kekuasaan,
dengan kebijaksanaan, sebab sia-
karena itu manusia harus mampu sia itu semuanya (hidup, kekuasaan, dan
kebijaksanaan ) jika tidak ada
mengatur hidupnya dalam bertingkah penterapan kesusilaan pada perbuatan
(praktek susila) (Kajeng, dkk,
laku, karena dengan etika atau kesusilaan
1999:128).
hubungan yang baik dan harmonis antara
Oleh karena itu pikiran, perkataan,
individu, kelompok, golongan dan
dan perbuatan yang baik harus
masyarakat akan dapat terwujud. Etika
dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama.
dalam agama Hindu disebut dengan susila
Dalam upacara Dewa Yadnya, etika atau
yang artinya perbuatan yang baik dan
kesusilaan selalu diwujudkan, baik dalam
mulia. Selain berbuat yang baik, maka
pikiran, perkataan, maupun dalam
dengan susila umat Hindu diharapkan pula
perbuatan. Etika dalam berpikir
memiliki pikiran dan perkataan yang baik
(manacika) tercermin dalam pembuatan
pula. Susila merupakan pedoman yang
cili, yang paling utama diituntut oleh niat
perlu dilaksanakan untuk mewujudkan
dan pikiran yang suci, tulus ikhlas serta
tingkah laku yang baik dan mulia,
penuh dengan rasa kasih, sehingga
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 27
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
upacara dapat berjalan dengan kondusif. kemasyarakatan. Fungsi sosial berkenaan
Etika dalam berkata-kata (wacika) dengan upacara atau ritual yaitu upacara
tercermin dalam pembuatan cili yang yadnya yang menggunakan sarana
dilandasi dengan kata-kata (komunikasi) upakara dengan cili, merupakan fungsi
yang sopan dan hormat. Etika dalam solidaritas sosial karena dalam proses
perbuatan (kayika) tercermin dalam pembuatannya melibatkan orang-orang di
persiapan, pengumpulan, pembuatan, dalam masyarakat tersebut. Sebagaimana
sampai pengerjaan cili, supaya diperoleh diketahui bahwa manusia selain sebagai
dari usaha yang baik dan suci berdasarkan makhluk individu, juga sebagai makhluk
aturan-aturan yang berlaku sehingga sosial yang dalam hidupnya tidak bisa
maksud dan tujuan dari pelaksanaan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
upacara yadnya dapat terwujud. Manusia hanya dapat hidup dengan
Fungsi Sosial sebaik-baiknya badan manusia hanya akan
Di samping memiliki fungsi mempunyai arti, apabila ia hidup bersama
religius, etis, cili dalam upacara Dewa manusia lainnya di dalam masyarakat.
Yadnya juga memiliki fungsi sosial yaitu Sebagaimana yang diuraikan dalam kitab
seberapa besar pengaruhnya dalam hal ini Sarasamuccaya 4 : menjelma menjadi
pranata-pranata sosial manusia sangat utama dan mulia karena
(keluarga,masyarakat) dalam proses memiliki tiga unsur berupa Tri Pramana
pelaksanaannya dan berapa lama (waktu) yaitu Sabda, Bayu, dan Idep. Sabda
dapat dijadikan sebagai wahana interaksi (suara) adalah kemampuan untuk
sosial oleh masyarakat pendukungnya. berbicara sebagai alat komunikasi. Bayu
Secara sosiokultural, pelaksanaan upacara (kekuatan) adalah tenaga untuk
keagamaan melibatkan aktivitas melakukan segala aktifitas, dan Idep
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 28
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
(pikiran) adalah kemampuan untuk Makna Teologi
memilih dan memilah mana yang baik dan Berkaitan dengan cili dalam
buruk atau benar dan salah. Ketiga Upacara Dewa Yadnya, pandangan
keutamaan tersebut tidak sama masing- tentang ketuhanan yakni Tuhan yang
masing individu. Menyadari akan tunggal (Esa) bermanifestasi menjadi
kekurangannya itu, maka manusia Dewa dan dalam menjalankann cakra
memerlukan bantuan serta memberi yadnya Beliau didsmpingi sakti yang
pertolongan orang lain. Manusia sangat berwujud Dewi yang dipuja oleh umat
memerlukan pengertian, kasih sayang, Hindu, yang mana perwujudan Dewi
harga diri, dan tanggapan-tanggapan dapat dilakukan dengan membuat sarana
emosional yang sangat penting artinya upacara berupa bentuk cili yang
bagi pergaulan dan kelangsungan menggambarkan tentang perempuan
hidupnya. seperti cili pada lamak, cili dalam
Fungsi Pelestarian Budaya gebogan, cili dalam wujud Sri Sedana, cili
Upacara tradisional merupakan salah
dalam wujud sri kekili, cili dalam wujud
satu unsur kebudayaan yang
sri pada upacara biyukukung, cili dalam
memcerminkan nilai-nilai luhur budaya
bentuuk jaja cacalan pada banten pula
bangsa yang perlu digali, dikembangkan,
gembal dan sarad, cili dalam gantung-
dienkulturasikan, mampu
gantungan baik yang terbuat dari janur,
ditransformasikan pada generasi penerus
ron maupun pis bolong. Pandangan ini
sebagai manusia yang berbudi luhur.
dapat diibaratkan yakni Tuhan Yang
Upacara maupun upakara mengandung
Maha Esa dipersonifikasikan seperti
unsur-unsur konkret dan unsur abstrak.
matahari dan sinarnya sebagai Dewa dan
Makna Teologi Perempuan Cili dalam
Upacara Dewa Yadnya Dewi. Berapa banyak sinar matahari itu,
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 29
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
begitu pula banyak Dewa Dewi. Jika budaya yang berusaha membuat
matahari tersebut tidak ada maka secara kaumperempuan menjadi subordinat kaum
otomatis sinar-sinarnya tidak ada. Kita laki-laki..Munculnya gerakan sosial yang
dapat menyebutkan bahwa matahari dikenal dengan sebutan frminisme
panas, tetapi sebenarnya matahari belum bertujuan untuk menelaahposisi
pernah menyentuh tubuh kita secara perempuan di dalam masyarakat dan
langsung, sedangkan yang menyebabkan untuk memperjuangkan kepentingan
panas adalah sinarnya, sehingga bagi mereka (Barker, 2004:404).
sebagian umat Hindu lebih sering memuja Markandeya Purana menguraikan
Tuhan yang personal (Dewa dan Dewi) betapa mulia dan saktinya seorang wanita.
dari pada yang impersonal. Di samping mengangkat derajat sejajar
Makna Kesetaraan dan Keadilan dengan kaum laki-laki, wanita juga
Gender mencapai puncak derajatnya dengan
Dikatakan bahwa kaum wanita menyelamatkan suaminya. Belajar dari
yang sanggup menganmbil alih peranan peradaban devata, bahwa seorang Dewi
kaum laki-laki, malahan terlihat lebih menyelamatkan para Dewa.
unggul dari kaum laki-laki karena yang Wanita (ibu) “sakti” bagi kaum
dihadapi adalah para raksasa (musuh laki-laki (suami). Tanpa sakti, maka
paradewa-dewa) yang nota bena laki-laki kehidupan manusia tidak akan
semuanya.. Inilah ikon-ikon perjuangan berkembang. Demikian halnya Dewa-
feminisme atau tanda dalam menuntut Dewa lainnya seperti Dewa Wisnu
kesetaraan gender. Persoalannya selama saktinya adalah Dewi Sri guna
ini wanita tidak setara dengan kaum laki- menciptakan kesuburan dan Dewa Siva,
laki, rupanya memang ada fenomena saktinya adalah Dewi Durga untuk proses
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 30
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
pengembalian segala kehidupan kepada Saraswati, dan Dewi Uma
asalnya. Lingga dan Yoni yang Parvati..Kedudukan wanita dalam
merupakan symbol purusa dan pradana agama Hindu sungguh terhormat.
sudah dijlaskan di depan yaitu dalam Wanita merupakan benteng
menggambarkan symbol tersebut dalam terakhir moralitas. Apabila
upakara seperti gebogan, yang mama moralitas wanita merosot, akan
bagian gebogan yang terdiri dari buah- merosot pula moral keturunannya.
buahan dan jajan adalah lambang purusa Hal ini dinyatakan dalam
yaitu lingga, dan dulang atau bokorannya Bhagawad Gita I.40:
adalah lambang pradana atau perempuan. adharmabhibavat krsna
Perempuan mempunyai peran pradusyanti kula striyah strisu
penting dalam sejarah peradaban. dustasu varsneya, jayate varna-
Banyak tokoh-tokoh dunia berhasil sankarah. Artinya “ O, Krisnha,
dalam karir kepemimpinannya apabila hal-hal yang bertentangan
karena wanita berada di dengan dharma merajalela dalam
belakangnya yang mampu keluarga, kaum wanita dalam
memberikan inspirasi maupun keluarga ternoda, dan dengan
spirit. Dalam kehidupan sehari- merosotnya kaum wanita, lahirlah
hari masyarakat memberikan keturunan yang tidak diinginkan,
penghargaan yang besar kepada wahai putra keluarga Vrsni”.
wanita. Masyarakat melakukan Dalam Veda disebutkan bahwa Tuhan
pemujaan kepada Dewi yang dapat bersabda “Wanita aku turunkan untuk
membantu kehidupan manusia di menjadi ibu dan laki-laki aku turunkan
dunia ini seperti Dewi Sri, Dewi untuk menjadi Bapak”. Dengan demikian,
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 31
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
maka wanita memiliki kedudukan sebagai Pembuatan banten oleh seseorang
ibu sebagai sebuah kedudukan yang memberikan nilai estetis kepada seorang
terhormat karena hal itu mengalir dengan yang membuatnya, seseorang bukan saja
sendirinya sesuai kecenderungan sifat- termotivasi oleh pelaksanaan dari pada
sifat alam dan orang-orang suci. upacara yajńa semata akan tetapi
Menurut pandangan ajaran Hindu digerakkan oleh nilai estetis yang ada
wanita dan pria sama-sama diciptakan dalam diri seseorang, terdapat perasaan
oleh Sang Hyang Widhi, jadi wanita senang yang lahir dari dalam hati sanubari
bukan dilahirkan dari tulang rusuk kanan yang paling dalam oleh si pembuat
adam. Hal tersebut sesuai yang termuat di upakara (banten), yang juga berfungsi
dalam Manawa Dharmasastra I.32 untuk mebangkitkan rasa estetis seseorang
dinyatakan bahwa wanita dan laki-laki yang terlibat di dalamnya, yang memiliki
sama-sama ciptaan Tuhan. suatu perasaan religius yang sudah lama
Dengan demikian, maka dalam dirindukannya, sepertinya ingin selalu
Hindu kedudukan perempuan sungguh dalam suasana religius.
terhormat dan mulia. Umat Hindu tidak Makna Simbolik
hanya elakukan pemujaan terhadap Dewa, Ajaran suci Veda disampaikan
tetapi juga terhadap saki Beliau dalam kepada umat dalam berbagai macam
penelitian nini adalah sakti Dewa Wisnu bahasa, baik tulis maupun lisan. Salah
yaitu Dewi Sri yang diwujudkan dengan satunya adalah bahasa “mona”. Mona
Cili yang tidak lain adalah nini pantun itu artinya diam namun banyak
sendiri yang memberikan kesuburan dan menyampaikan informasi tentang
kemakmuran kepada umat Hindu. kebenaran. Mona atau banten adalah
Makna Estetis bahasa agama yang diwujudkan dalam
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 32
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
bentuk lambang, dalam lontar Yajna simbol-simbol untuk menjangkau
Prakrti disebutkan Banten Pinaka keberadaan yang abstrak tersebut.
Raganta Tuwi Artinya lambang dirimu Sedangkan menurut teori Cassirer,
atau lambang diri kita, Pinaka Warna eksistensi cili sebagai designator untuk
Rupaning Ida Battara artinya lambang menampilkan roh itu sendiri. Sarana
kemahakuasaan Tuhan dan Pinaka Anda upacara yang berwujud cili sesungguhnya
Bhuwana artinya lambang alam semesta merepresentasikan nilai-nilai spiritual
(Wiana, 2001:1). yang menggambarkan dunia makna.
Cili dalam upacara Dewa Yadnya Simpulan
Dari uraian di depan, maka dapat
secara implisit, memiliki makna atau nilai-
disimpulkan hal-hal sebagai berikut
nilai simbolik. Hal tersebut sangat relevan
.Bentuk pen-genderan cili dalam
dengan teori simbolik Kant yang
upacara Dwa Yadnya dapat dilihat dalam
menyatakan bahwa dimensi simbol
upacara mabiyukukung, ngelinggihang
merupakan penggambaran tidak langsung
Dewi sri, dan negtegang beras pada waktu
melalui analog. Cili yang digunakan
upaara ngenteg linggih. Pada masing-
sebagai sarana upacara yadnya di desa
masing upacara Dewa Yadnya itu cili
Pejaten merupakan bentuk penggambaran
muncul sebagai simbol perempuan baik
(ilustrasi) secara tidak langsung dari yang
itu muncul dalam lamak, gantung-
berbentuk abstrak menurut konsep sastra
gantungan, daksina, sri kekilik, sri
yang digunakan sebagai acuan
bemben, gebogan, pula gembal, teterag,
pelaksanaan upacara tersebut. Mengingat
sampian penjor. Bentuk penjenderannya
kemampuan manusia sangat terbatas
adalah pelukisan secara simbolis cili
untuk memahami hal-hal yang abstrak,
sebagai lambang Dewi Sri yang
maka perlu diwujudkan dalam bentuk
merupakan sakti Dewa Wisnu sebagai
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 33
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
pendamping Dewa yang memberikan Hadi, Y. Sumandiyo. 2006. Seni dalam
Ritual Agama. Yogyakarta:
kekuatan atau energi dalam
Penerbit Buku Pustaka.
berkehidupan.Fungsi cili dalam upacara
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori
Antropologi I. Jakarta :
Dewa Yadnya antara lain adalah fungsi
Universitas Indonesia
Press.
religius, sosial, pelestarian budaya, etika.
Maswinara, I Wayan. 2007. Dewa Dewi
Hindu. Surabaya: Paramita.
Makna teologi perempuan cili antara lain
Moleong, Lexy. 2003. Metode
Penelitian Kualitatif. Bandung:
makna teologi, makna perjuangan kradilan
PT Remaja Rosdakarya.
Parrinder, Geoffrey. 2005. Teologi
dan kesetaraam gender, makna setetika,
Seksual Yogyakarta: LKIS.
Pendit, Nyoman S. 1993. Hindu dalam
makna dimbolik.
Tafsir Modern. Jakarta: Yayasan
Dharma Sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Puspa, Ida Ayu Tary. 2011. Sakti dalam
Purana sebuah Kajian Gender.
Denpasar: IHDN. Hasil Penelitian
Abdullah, Irwan. 1997. Sangkan Paran
yang belum diterbitkan
Gender. Yogyakarta : Pustaka
Redig, I Wayan. 2008. Ikonografi Sakti
Pelajar.
dalam Siwaisme sebuah
Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender, dan
Fenomena Persoalan Gender
Reproduksi Kekuasaan.
dalam Pusaka Budaya dan Nilai-
Yogyakarta: Terawang Press.
Nilai Religiusitas. I Ketut
Anonim. 1968. Upadesa : Tentang Ajaran-
Setiawan (Ed). Denpasar: Fakultas
ajaran Agama Hindu. Denpasar:
Sastra Unud.
Yayasan Hindhu Dharma.
Ritzer, George. 2003. Teori Sosial
Branen, Julia. 2004 Memadu Metode
Postmodern (Terj. Muhamad
Penelitian Kualitatif dan
Taufik). Yogyakarta: Kreasi
Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka
Wacana.
Pelajar Offset.
Sardi Martin. 1983. Agama
Debroy, Bibek dan Dipavali Debroy.
Multidimensional.
2001. Visnu Purana. Terjemahan
Bandung:Alumni.
Oka Sanjaya. Surabaya: Paramita.
Tim Penyusus. 1985. Himpunan
Etty, M. 2004. Perempuan Memutus Mata
Keputusan Seminar Kesatuan
Rantai Asimetri. Jakarta:
Tafsir terhadap Aspek-aspek
Gramedia.
Agama Hindu I-XV. Denpasar:
Fakih, Mansour. 2007. Analisis Gender
PHDI Pusat.
dan Transformasi Sosial.
Titib, I Made. 2001. Teologi dan Simbol-
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Simbol dalam Agama Hindu.
Offset.
Surabaya: Paramita.
Goris, R. 1954. Bali, Atlas Kebudayaan.
Wiana, I Ketut. 2000. Makna Upacara
Jakarta. Yadnya dalam Agama Hnidu I.
Surabaya: Paramita.
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 34
Cili Dalam Upacara... (Ida Ayu Tary Puspa, hal. 14 – 35)
Widia, Wayan, dkk. 1990. Cili sebagai
Lambang Dewi Kesuburan di
Bali. Denpasar: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Wijayananda, Ida Mpu Jaya. 2003.
Tetandingan lan Sorohan
Bebanten. Surabaya: Paramita.
Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama 35