0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan259 halaman

Peningkatan Menulis Aksara Jawa SD

Skripsi ini membahas upaya meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan subjek 13 siswa. Hasilnya menunjukkan peningkatan keterampilan menulis siswa sebesar 58,3% pada siklus I dan 83,3% pada siklus II.

Diunggah oleh

Kamiel Slasher
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan259 halaman

Peningkatan Menulis Aksara Jawa SD

Skripsi ini membahas upaya meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan subjek 13 siswa. Hasilnya menunjukkan peningkatan keterampilan menulis siswa sebesar 58,3% pada siklus I dan 83,3% pada siklus II.

Diunggah oleh

Kamiel Slasher
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS AKSARA

JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE


TEAMS GAMES TOURNAMENT DI KELAS V SD NEGERI
NGLENGKING SLEMAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Falkutas Ilmu Pendidikan


Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Oleh
Elia Arsiati Jani Wilyadi
NIM 12108241025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
JULI 2016

i
ii
iii
iv
MOTTO

1. Ilmu itu murah dan mudah. Kemauan untuk belajar itulah yang mahal dan

susah. -Prie GS-

2. “Every student can learn, just not on the same day, or the same way”

(Setiap siswa dapat belajar, tidak di hari yang sama, atau dengan cara yang

sama) -George Evan-

v
PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur atas penyelesaikan penulisan skripsi ini, maka

kupersembahkan Tugas Akhir Skripsi ini kepada:

1. Kedua orang tuaku yang telah memberikan kasih sayang, dukungan baik

secara moril maupun materiil, serta yang selalu mendoakanku.

2. Almamater UNY yang telah menjadi tempat untuk menimba ilmu.

3. Nusa dan bangsa

vi
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS AKSARA
JAWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
TEAMS GAMES TOURNAMENT DI KELAS V SD NEGERI
NGLENGKING SLEMAN

Oleh:
Elia Arsiati Jani Wilyadi
NIM 12108241025

ABSTRAK

Menulis aksara Jawa masih dirasa sulit bagi siswasehingga siswa pasif
dalam pembelajaran. Hal tersebut menjadikan keterampilan menulis aksara Jawa
rendah, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan
menulis aksara Jawa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games
Tournament di kelas V SD Negeri Nglengking Sleman.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan
menggunakan model Kemmis dan Taggart. Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas V SD Negeri Nglengking yang berjumlah 13 siswa. Penelitian ini terdiri dari
duasiklus. Setiap siklus melalui empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan,(3) observasi, (4) refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan teknik observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan
adalah deskriptif kualitatif dan deskripsi kuantitatif.
Hasil penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan model
TeamsGames Tournament dapat meningkakan keterampilan menulis aksara Jawa
pada kelas V SD Negeri Nglengking. Terdapat peningkatan keterampilan menulis
siswa pada siklus I sebesar 58,3% dan meningkat menjadi 83,3%. Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa kelas V yang berjumlah 13
siswa sebesar 11,41%.

Kata kunci: keterampilan menulis, aksara Jawa, model Teams Games Tournament

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan

hidayah-Nya, sehingga proses penyusunan skripsi yang berjudul “Upaya

Meningkatkan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Melalui Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Teams Games Tournament di Kelas V SD Negeri Nglengking

Sleman” dapat terselesaikan. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Keberhasilan skripsi ini dapat terwujud berkat bimbingan, bantuan, dan kerjasama

dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih saya berikan kepada:

1. Rektor UNY yang telah mengijinkan penulis untuk kuliah di PGSD FIP UNY.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY yang telah memberikan ijin dalam

pelaksanaan penelitian untuk menyusun skripsi.

3. Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar FIP UNY yang telah menyetujui dan

memberikan ijin penelitian.

4. Dosen Pembimbing Akademik yang telah membantu penulis dalam

permasalahan akademik.

5. Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan sabar dan pengertiannya dalam

memberikan bimbingan selama penyusunan skripsi ini.

6. Bapak/Ibu dosen yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat, serta seluruh

karyawan FIP UNY yang telah memberikan pelayanan untuk kelancaran

penulisan skripsi ini.

7. Kepala Sekolah SD Negeri Nglengking yang telah memberikan ijin penelitian

dan bantuan selama penelitian berlangsung.

viii
8. Guru Bahasa Jawa kelas V SD Negeri Nglengking atas kerjasama dan

bantuannya selama pelaksanaan penelitian.

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungan demi

terselesaikannya penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

10. Siswa kelas V SD Negeri Nglengking atas partisipasi aktif dalam kegiatan

pembelajaran selama penelitian berlangsung.

11. Bapak, Ibu, dan keluargaku atas dukungan, doa, dan kasih sayang yang selalu

diberikan.

12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak

senantiasa diharapkan oleh penulis. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis pribadi dan pembaca.

Yogyakarta, 18 Juli 2016

Penulis

ix
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iv
MOTTO ...................................................................................................... v
PERSEMBAHAN ....................................................................................... vi
ABSTRAK .................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ................................................................................ viii
DAFTAR ISI ............................................................................................... x
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................... 6
C. Batasan Masalah ......................................................................... 7
D. Rumusan Masalah....................................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ........................................................................ 7
F. Manfaat Penelitian ...................................................................... 8
G. Definisi Operasional ................................................................... 9

BAB II KAJIAN TEORI


A. Deskripsi Teori ........................................................................... 10
1. Pembelajaran Bahasa Jawa ................................................... 10
2. Aktivitas Belajar Siswa ........................................................ 15
3. Keterampilan Menulis Aksara Jawa ..................................... 17
4. Model Pembelajaran Kooperatif ........................................... 24
a. Pengertian Model Pembelajaran ..................................... 24
b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif ................... 23
c. Manfaat Pembelajaran Kooperatif .................................. 28
d. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif ................................ 28
x
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament . 28
a. Pengertian Model pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) ......................................................... 30

b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams


Games Tournament ......................................................... 31
6. Karakteristik Siswa Usia Kelas Lanjut ................................. 37
B. Penelitian yang Relevan ............................................................. 39
C. Kerangka Pikir ............................................................................ 40
D. Hipotesis Tindakan ..................................................................... 42

BAB III METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian ........................................................................... 43
B. Desain Penelitian ........................................................................ 44
C. Setting Penelitian ........................................................................ 46
1. Tempat penelitian ................................................................. 46
2. Waktu penelitian ................................................................... 46
D. Subjek dan Objek Penelitian....................................................... 47
1. Subjek Penelitian .................................................................. 47
2. Objek Penelitian ................................................................... 47
E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 47
F. Prosedur Penelitian ..................................................................... 49
G. Instrumen Penelitian .................................................................. 56
H. Teknik Analisi Data .................................................................... 60
I. Indikator Keberhasilan ............................................................... 63

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Deskrisi Penelitian Tahap Awal ................................................. 64
B. Pelaksanaan Tindakan ................................................................ 68
1. Penelitian Siklus I ................................................................. 68
2. Penelitian Siklus II ............................................................... 97
C. Pembahasan ................................................................................ 123
D. Keterbatasan Penelitian .............................................................. 126

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ..................................................................................... 127
xi
B. Saran ................................................................................................ 128
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 129
LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 131

xii
DAFTAR TABEL

hal
Tabel 1 Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar ............................... 14
Tabel 2 Aksara Legena dan Pasangannya ............................................... 20
Tabel 3 Sandhangan Bunyi Vokal........................................................... 21
Tabel 4 Sandhangan Konsonan Penutup Suku Kata (Panyigeg) ............ 22
Tabel 5 Sandhangan Wyanjana ............................................................... 23
Tabel 6 Fase-fase Dalam Pembelajaran Kooperatif ................................ 26
Tabel 7 Skor individu dalam Turnamen .................................................. 35
Tabel 8 Skor Tim dalam Turnamen ......................................................... 35
Tabel 9 Papan Skor Individu ................................................................... 36
Tabel 10 Papan Skor Kelompok ................................................................ 36
Tabel 11 Kisi-Kisi Instrumen Lembar Observasi Guru Pelaksanaan
Pembelajaran Model Pembelajaran Teams Games Tournament 57
Tabel 12 Kisi-Kisi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas belajar bahasa
Jawa Siswa Kelas V Menggunakan Model Pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT) ......................................................... 58
Tabel 13 Kisi-kisi Post-test Keterampilan Menulis aksara Jawa .............. 58
Tabel 14 Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis aksara Jawa ............... 59
Tabel 15 Kriteria Penilaian keterampilan menulis aksara Jawa ................ 60
Tabel 16 Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran Bahasa Jawa ...... 62
Tabel 17 Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran Aktivitas Siswa ..... 63
Tabel 18 Kriteria Hasil Aktivitas Siswa .................................................... 63
Tabel 19 Nilai Pre-test Pra Tindakan Menulis Aksara Jawa Kelas V ...... 65
Tabel 20 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Pertama ................ 67
Tabel 21 Pembagian Kelompok untuk Turnamen I................................... 74
Tabel 22 Hasil Nilai yang Diperoleh Kelompok pada Turnamen I ........... 76
Tabel 23 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Kedua .................. 80
Tabel 24 Pembagian Kelompok untuk Turnamen .................................... 82
Tabel 25 Hasil Nilai yang Diperoleh Kelompok pada Turnamen II ......... 82
Tabel 26 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I ............... 85
Tabel 27 Kriteria Presentase Skor ............................................................. 86
Tabel 28 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I .............. 87

xiii
Tabel 29 Rekapitulasi Nilai Post-test Siswa Siklus I ................................ 92
Tabel 30 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pre-test dan Post-test Siklus I 93
Tabel 31 Refleksi Hasil Siklus I ................................................................ 97
Tabel 32 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Ketiga .................. 102
Tabel 33 Pembagian Kelompok untuk Turnamen III ................................ 103
Tabel 34 Hasil nilai yang diperoleh kelompok pada Turnamen III ........... 104
Tabel 35 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Keempat .............. 107
Tabel 36 Pembagian Kelompok untuk Turnamen IV ................................ 109
Tabel 37 Hasil Nilai yang diperoleh kelompok pada Turnamen IV .......... 110
Tabel 38 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II 111
Tabel 39 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ............. 113
Tabel 40 Hasil Belajar Siklus II ................................................................ 118
Tabel 41 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pre-test, Post-test Siklus I dan
Siklus II ...................................................................................... 120

xiv
DAFTAR GAMBAR

hal
Gambar 1 Penempatan siswa dalam Meja Turnamen ............................. 34
Gambar 2 Alur Kerangka Pikir ............................................................... 41
Gambar 3 Desain Penelitian Model Kemmis dan Mc Taggart ............... 44
Gambar 4 Hasil Tingkat Ketuntasan Pre-test Menulis Aksara Jawa ...... 66
Gambar 5 Hasil Tingkat Ketuntasan Post-test Menulis Aksara Jawa
Siklus I.................................................................................... 93
Gambar 6 Perbandingan Nilai Menulis Aksara Jawa Siswa pada Pretest
dan Post-test ........................................................................... 94
Gambar 7 Perbandingan Presentase Ketuntasan Siswa Pra Siklus dengan
Siklus I.................................................................................... 95
Gambar 8 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II 113
Gambar 9 Diagram hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II 118
Gambar 10 Hasil Ketuntasan Post-test Menulis Aksara Jawa Siklus II ... 119
Gambar 11 Perbandingan Hasil Tingkat Ketuntasan Post-test Menulis
Aksara Jawa Siklus I dan II .................................................... 120
Gambar 12 Perbandingan Nilai Membaca Aksara Jawa pada Pre-test,
Post-test Siklus I, dan Post-test Siklus II ............................... 122
Gambar 11 Perbandingan Presentase Ketuntasan Siswa Pra siklus, Siklus I,
dan Siklus II ........................................................................... 123

xv
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1 Data Subyek Penelitian ........................................................ 131
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ....................... 133
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ..................... 153
Lampiran 4 Soal Post-test Siklus I .......................................................... 169
Lampiran 5 Soal Post-test Siklus II ......................................................... 172
Lampiran 6 Hasil Post-test Siklus I ......................................................... 174
Lampiran 7 Hasil Post-test Siklus II........................................................ 176
Lampiran 8 Rekapitulasi Hasil Nilai Siklus I dan II ............................... 178
Lampiran 9 Aturan Turnamen Akademik ............................................... 179
Lampiran 10 Bagan Pertandingan Turnamen 1 ........................................ 180
Lampiran 11 Teknik Penyekoran Individu Siswa Turnamen I ................. 181
Lampiran 12 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen I ............ 183
Lampiran 13Bagan Pertandingan Turnamen II ......................................... 184
Lampiran 14 Teknik Penyekoran Individu Siswa Turnamen II ................ 185
Lampiran 15 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen II ........... 187
Lampiran 16Bagan Pertandingan Turnamen III ....................................... 189
Lampiran 17 Teknik Penyekoran Individu Siswa Turnamen III .............. 190
Lampiran 18 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen III.......... 192
Lampiran 19 Bagan Pertandingan Turnamen IV ...................................... 194
Lampiran 20 Teknik Penyekoran Individu Siswa Turnamen IV .............. 195
Lampiran 21 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen IV ......... 197
Lampiran 22 Hasil Menulis aksara Jawa Siswa ........................................ 199
Lampiran 23 Lembar Observasi Kegiatan Guru ....................................... 203
Lampiran 24 Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa ......................... 206
Lampiran 25 Hasil Observasi Guru pada Siklus I Pertemuan 1................ 209
Lampiran 26 Hasil Observasi Guru pada Siklus I Pertemuan 2................ 212
Lampiran 27 Hasil Observasi Guru pada Siklus II Pertemuan 1 .............. 215
Lampiran 28 Hasil Observasi Guru pada Siklus II Pertemuan 2 .............. 218
Lampiran 29 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
Pertemuan 1 ........................................................................ 221

xvi
Lampiran 30 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
Pertemuan 2 ........................................................................ 224
Lampiran 31 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
Pertemuan 1 ........................................................................ 227
Lampiran 32 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
Pertemuan 2 ........................................................................ 230
Lampiran 33 Dokumentasi Penelitian ....................................................... 233
Lampiran 34 Surat Ijin Penelitian ............................................................. 237

xvii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan suatu proses yang membuat orang belajar.

Kegiatan pembelajaran disekolah merupakan bagian dari kegiatan pendidikan

yang bertujuan untuk mencerdaskan siswa. Pendidik harus benar-benar mampu

menarik perhatian peserta didik agar dapat memfokuskan pikirannya sehingga

dapat melakukan aktivitas belajar secara optimal dan memperoleh hasil belajar

seperti yang diharapkan.

Keberhasilan suatu pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa

dalam mengikuti proses pembelajaran seperti tingkat pemahaman, penguasaan

materi, partisipasi aktif siswa serta prestasi belajar. Semakin tinggi tingkat

pemahaman siswa, penguasaan materi, partisipasi aktif, serta prestasi belajar yang

dicapai siswa maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Perlu

kita ketahui, bahwa hakikat pembelajaran yang efektif bukan hanya terletak pada

hasil yang dicapai oleh peserta didik, namun proses dari pembelajaran itu sendiri

juga merupakan hal yang penting,bagaimana proses pembelajaran yang efektif

mampu memberikan pemahaman yang baik, pengetahuan baru, kecerdasan,

ketekunan, kesempatan, perubahan perilaku dan dapat mengaplikasikannya dalam

kehidupan mereka. Hal tersebut juga senada dengan pendapat E. Mulyasa (2002:

32) yang mengatakan:

“pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau


setidak-tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik
fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping
menunjukan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar,
dan rasa percaya diri sendiri”.

1
Setiap proses pembelajaran, peranan guru selaku pendidik bertugas

membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan mudah dalam

menerima apa yang diajarkan oleh guru. Guru bukan hanya menjadi pusat dari

kegiatan pembelajaran, namun keterlibatan aktif menjadi hal yang tidak kalah

pentingnya agar dapat memancing siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan

belajar mengajar. Guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyelenggaraan

kegiatan pembelajaran, diantaranya adalah dengan menguasai materi,

menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran sehingga kegiatan belajar

mengajar lebih variatif. Muhammad Annas (2014: 4) berpendapat, menciptakan

kelas yang kooperatif menjadi bagian penting dari tugas guru. Tujuan

pembelajaran dicapai tidak hanya oleh dan untuk siswa saja tetapi dicapai bersama

sama antara guru dengan siswa. Siswa selaku peserta didik berusaha untuk

mencari informasi, memecahkan masalah, dan mengemukakan pendapatnya. Inti

dari proses pendidikan adalah proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.

Perbaikan mutu pendidikan harus dimulai dengan menata dan meningkatkan mutu

pembelajaran yang ada di kelas, salah satunya pada mata pelajaran bahasa Jawa.

Setiap mata pelajaran memiliki kekhususan atau spesifikasi muatandan

tujuan yang berbeda. Bahasa Jawa diajarkan dalam rangka melestarikan bahasa

dan budaya yang mulai tergerus oleh kemajuan jaman. Pelestarian nilai–nilai

budaya yang adiluhung atau tinggi nilainya harus dilakukan sebagai upaya

memelihara kekayaan budaya nasional Indonesia, oleh sebab itu pembelajaran

bahasa Jawa menjadi penting untuk diberikan kepada siswa sebagai bagian dari

upaya menjaga nilai budaya bangsa Indonesia. Bahasa Jawa adalah salah satu

Mulok dalam struktur kurikulum ditingkat pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan

2
SMA/MA/SMK, bahkan di Propinsi Yogyakarta menjadi mulok wajib bagi semua

jenjang pendidikan. Pada Kurikulum Muatan Lokal bahasa Jawa 2010,

pembelajaran bahasa Jawa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan para

peserta didik dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa dengan

baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan.

Bahasa Jawa di Sekolah Dasar terdiri dari beberapa standar kompetensi

diantaranya mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra.

Setiap aspek meliputi empat keterampilan, yaitu mendengarkan, berbicara,

membaca dan menulis. Menulis merupakan kemampuan berbahasa yang

digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung karena tanpa bertatapan

muka dengan teman bertutur atau berbicara. Keterampilan menulis pada

pembelajaran bahasa Jawa, siswa tidak hanya diajarkan cara menulis huruf

alphabet namun siswa juga harus trampil menulis aksara Jawa. Aksara Jawa

merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa Jawa, bagi siswa pelajaran bahasa

Jawa cukup sulit untuk dipelajari.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siswa-siswi

kelas V yang berjumlah 13 siswa, pembelajaran bahasa Jawa di SD Negeri

Nglengking, menghadapi beberapa permasalahan. Masalah dihadapi terletak pada

rendahnya keterampilan menulis aksara Jawa. Jika diberi kesempatan untuk

bertanya, hanya 2 siswa yang mengajukan pertanyaan, sebagian siswa hanya

berbisik-bisik dengan teman lainnya bahkan sebagian besar hanya diam.

Kepasifan siswa juga ditunjukan saat pembelajaran aksara Jawa. Siswa mau

menulis materi yang disampaikanjika guru menginstruksikan untuk menulis

materi, sedangkan sebagian siswa yang tidak menulis asyik berbicara dengan

3
teman. Siswa mengaku jika saat latihan menulis kata dalam aksara Jawa masih

melihat tulisan guru di papan tulis, lalu siswa ditugasi untuk menulis. Hal ini juga

menunjukan bahwa guru masih menggunakan metode konvensional saat kegiatan

belajar mengajar. Berdasarkan wawancara dengan dua perwakilan siswa kelas V

didapatkan bahwa beberapa siswa kesulitan mengingat aksara Jawa karena jumlah

aksara yang banyak belum termasuk dengan pasangannya.

Keadaan tersebut juga didukung dengan hasil belajar yang diperoleh siswa

untuk materi menulis aksara Jawa jauh dari rata-rata. Guru melakukan penilaian

untuk tiga aspek yaitu: 1) menulis aksara legena atau aksara tanpa pasangan

dengan rata-rata siswa 57,5 dan 2) menulis kalimataksara Jawa beserta

pasangannya rata-rata 60. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SD tersebut

yaitu 65. Hasil yang diperoleh siswa dalam menulis aksara Jawa masih kurang

dari 65, hal tersebut juga mengindikasikan hasil belajar siswa yang rendah

dibawah KKM. Sebagian besar siswa belum hafal aksara Jawa legena terlebih jika

menggunakan pasangannya.

Sikap siswa yang demikian disebabkan karena metode pembelajaran yang

digunakan guru untuk mengajarkan menulis aksara Jawa kurang variatif, yang

mengakibatkan siswa merasa bosan. Masalah ini juga dikemukakan oleh Mubiar

Agustis (2011: 17) berpendapat bahwa yang menjadi masalah sampai saat ini

adalah masih banyak guru-guru menggunakan metode ceramah dan bersifat satu

arah, guru berbicara sedangkan siswa mendengarkan. Selain itu sikap dari guru

yang tidak dapat menyatu dengan siswa. Seharusnya seorang guru dapat

berhubungan baik dengan siswa-siswa agar siswanya merasa senang dengan guru

dan tidak merasa jenuh serta pasif. Namun dalam hal ini tidak dapat sepenuhnya

4
menyalahkan pada guru, guru di SDN Nglengking sudah berusaha untuk

memaksimalkan pembelajaran bahasa Jawa yang dalam satu minggu 2 jam

pelajaran dengan menambah 1 jam pada mata pelajaran lain. Media dan sumber

belajar bahasa Jawa relatif kurang sehingga beberapa materi pembelajaran yang

mestinya menarik jika memakai media, justru menjadi membosankan karena

hanya berisi ceramah dari guru.

Deskripsi singkat di atas, dapat digambarkan bahwa pengetahuan akan

menulis aksara Jawa, yang merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia, bagi

anak-anak Jawa usia sekolah dasar itu sendiri dapat dikatakan memprihatinkan.

Untuk meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa siswa, khususnya pada

Bahasa Jawa salah satu salah satunya dengaan menggunakan model pembelajaran

yang dapat memunculkan minat belajar siswa yaitu Teams Games Tournament

(TGT).

Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang

beranggotakan 3 sampai 4 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin,

suku kata atau ras yang berbeda. Senada dengan pendapat Miftahul Huda (2013:

198), model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran kooperatif

dengan membentuk kelompok-kelompok kecil maksimal anggota setiap tim

adalah 4 siswa yang heterogen, baik dalam hal akademik, jenis kelamin, ras,

maupun etnis. Inti dari model ini adalah adanya game dan turnamen akademik.

Teams Games Tournament (TGT) melibatkan aktivitas seluruh siswa dan terdapat

unsur permainan dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar dengan permainan

yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament

5
memungkinkan peserta didik dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, kejujuran,

kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar juga rasa percaya diri bagi

peserta didik. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar yang sangat

tertarik dengan permainan. Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran

Teams Games Tournament (TGT ) ini dapat meningkatkan keterampilan menulis

akara Jawa siswa SD.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa, penggunakan model

pembelajaran Teams Games Tournament dalam penelitian ini dapat menguji

kesiapan siswa dalam menjawab pertanyaan yang pada akhirnya mereka dituntut

untuk aktif dalam pembelajaran. Penulis merasa tertarik untuk meneliti

permasalahan yang berkenaan dengan judul skripsi “UPAYA MENINGKATKAN

KETERAMPILAN MENULIS AKSARA JAWA MELALUI MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT DI

KELAS V SD NEGERI NGLENGKING SLEMAN”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas dapat

diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Hasil belajar menulis aksara Jawa siswa yang rendah kurang dari 65.

2. Pembelajaran menulis aksara Jawa pada umumnya kurang bervariasi

sehingga siswa cepat merasa bosan.

3. Rendahnya minat siswa untuk belajar menulis aksara Jawa karena materi

yang banyak dalam waktu satu minggu 2 jam pelajaran.

6
C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, peneliti

membatasi masalah sebagai ruang lingkup dari penelitian ini yaitu masih

rendahnya keterampilan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD Negeri

Nglengking pada pembelajaran bahasa Jawa.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah

dikemukakan maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran

menulis aksara Jawa melalui model Teams Games Tournament di siswa

kelas V SD Negeri Nglengking?

2. Bagaimanakah meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa melalui

model Teams Games Tournament di siswa kelas V SD Negeri

Nglengking?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang, pembatasan masalah, dan rumusan masalah di

atas, tujuan penelitian ini adalah:

1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menulis aksara

Jawa melalui model Teams Games Tournament di siswa kelas V SD

Negeri Nglengking.

2. Meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa melalui model

kooperatif tipe Teams Games Tournament di kelas V SD Negeri

Nglengking.

7
F. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan di SD Negeri Nglengking memiliki beberapa

manfaat, yaitu sebagai berikut.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan

keilmuan dalam bidang pendidikan khususnya tentang penerapan model

pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa

siswa kelas V SD Negeri Nglengking.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru

1) Hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh guru sebagai

acuhan dalam mengembangkan variasi metode atau model

pembelajaran.

2) Bahan informasi tentang penggunaan model pembelajaran yang

tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa.

3) Memberikan pengalaman dan wawasan baru dalam menerapkan

metode belajar dan penelitian tindakan kelas.

b. Bagi Siswa

1) Siswa memperoleh pengalaman baru melalui penerapan model

pembelajaran Teams Game Tournament (TGT).

2) Siswa dapat meningkatkan serta mengoptimalkan keterampilan

menulis aksara Jawa pada pembelajaran bahasa Jawa.

8
c. Bagi Sekolah

1) Memberikan sumbangan positif dalam usaha meningkatkan mutu

pendidikan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Jawa.

2) Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi

pengembangan sekolah, utamanya untuk peningkatan kualitas

proses pembelajaran di sekolah.

d. Bagi Peneliti

1) Penelitian ini memberikan pengetahuan serta masukan bagi

peneliti yaitu bagaimana meningkatkan keterampilan menulis

aksara Jawa melalui model Teams Games Tournament.

G. Definisi Operasional

1. Keterampilan Menulis aksara Jawa

Keterampilan menulis merupakan keterampilan menuangkan ide,

gagasan, perasaan dalam bentuk bahasa tulis sehingga orang lain yang

membaca dapat memahami isi tulisan tersebut dengan baik. Aksara Jawa atau

carakan adalah huruf yang bersifat silabis yaitu setiap huruf mewakili satu

suku kata. Jadi menulis aksara Jawa adalah pengalih-hurufan dari abjad latin

ke aksara Jawa.

2. Model Pembelajaran Teams Games Tournament

Model pembelajaran Teams Games Tournament adalah salah satu tipe

model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-

kelompok yang heterogen yang diawali dengan penyajian materi, kerka

kelompok, melakukan permainan, tournament dan diakhiri dengan pemberian

soal.

9
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Pembelajaran Bahasa Jawa

Bahasa Jawa di Sekolah Dasar merupakan bagian dari kurikulum

Muatan Lokal (Mulok) terdiri dari beberapa standar kompetensi diantaranya

mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra.

Pembelajaran muatan lokal Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa diarahkan agar

peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa

Jawa dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta

menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra dan budaya Jawa (Tim

Kurikulum Mulok DIY, 2010: 1). Pembelajaran bahasa Jawa berdasarkan

Kurikulum 2010 juga lebih menekankan kepada pendekatan komunikatif

yaitu pembelajaran yang mempermudah para siswa agar lebih akrab dalam

pergaulan dengan menggunakan bahasa Jawa dan melatih siswa untuk lebih

senang berbicara menggunakan bahasa Jawa yang benar dan tetap sesuai

dengan situasinya.

Pada dasarnya pembelajaran bahasa Jawa pada saat ini diharapkan

agar para siswa lebih menyenangi budaya bangsa khususnya Budaya Jawa.

Menumbuhkan cipta, rasa dan karsa, siswa akan diajak untuk mengenal dan

lebih mencintai budaya sendiri, serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari-

hari. Pembelajaran bahasa Jawa yang kreatif dan menyenangkan khususnya

dalam penerapan unggah-ungguh dapat dimanfaatkan sebagai wahana

pembentukan watak pekerti bangsa dan mampu mengaplikasikan dalam

10
kehidupan sehari-hari serta internalisasi diri dalam budaya Jawa yang

adhiluhung. Jika seorang guru mampu dengan benar mengajarkan dan

mengeplikasikan ilmu dalam pembelajaran bahasa Jawa, maka siswa akan

lebih memiliki budi pekerti yang baik.

Pembelajaran bahasa Jawa dapat menjadi salah satu alat pembentuk

sikap, watak dan perilaku peserta didik agar sesuai dengan budaya bangsa.

Indikator dari keberhasilan tersebut adalah kemampuan siswa dalam

mengaplikasikan hasil pembelajaran bahasa Jawa, terlihat dari perubahan

tingkah laku, tata karma halus budi bahasanya dan menjadi insan yang

beradab.

Tim Kurikulum Mulok DIY (2010: 1) berpendapat bahwa mata

pelajaran Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berfungsi sebagai berikut:

1) Sarana membina rasa bangga terhadap bahasa Jawa.


2) Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka
pelestarian dan pengembangan budaya Jawa.
3) Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4) Sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Jawa yang baik dan benar
untuk berbagai keperluan dan menyangkut berbagai masalah.
5) Sarana pemahaman budaya Jawa melalui kesusasteraan Jawa

Berdasarkan beberapa poin fungsi mata pelajaran bahasa Jawa di atas,

pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar dijadikan sarana untuk

mengenalkan bahasa Jawa kepada siswa. Setelah siswa mengenal dan

memahami bahasa dan sastra Jawa, diharapkan tumbuh rasa bangga dalam

diri siswa terhadap bahasa Jawa. Siswa tidak akan malu dan rendah diri

menggunakan bahasa Jawa untuk berinteraksi ataupun untuk tujuan yang

lainnya ketika rasa suka dan rasa bangga telah tertanam dalam dirinya. Selain

itu, pembelajaran bahasa Jawa juga dijadikan sarana untuk melestarikan nilai-

11
nilai luhur dalam bahasa dan sastra Jawa dengan cara meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa daerah

tersebut.

Pembelajaran bahasa Jawa juga dijadikan sebagai wahana penanaman

watak dan pekerti bangsa akan membutuhkan kepandaian guru dalam

mengemas menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan

menyenangkan, berdaya guna dan berhasil agar mampu mengintegrasikan

nilai-nilai unggah-ungguh dan budi pekerti luhur seperti, tahu sopan santun,

tata krama berbahasa, dan bisa menempatkan diri di tengah pergaulan umum.

Sesuai fungsi pokok Pembelajaran bahasa Jawa yakni komunikasi, edukasi,

dan cultural, maka untuk memenuhi fungsi tersebut.

Tujuan dari muatan lokal Bahasa, Sastra dan Bahasa Jawa

sebagaimana dikutip dalam Kurikulum Muatan Lokal dari Disdikpora DIY

(2010:2) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1) Berkomunkasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika dan unggah
ungguh yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Jawa sebagai sarana
berkomunikasi dan sebagai lambang kebanggaan serta identitas daerah.
3) Memahami bahasa Jawa dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif
untuk berbagai tujuan.
4) Menggunakan bahasa Jawa dan meningkatkan kemampuan intelektual,
serta kematangan emosional dan sosial.
5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra dan budaya Jawa untuk
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa.
6) Menghargai dan membanggakan sastra Jawa sebagai khazanah budaya
dan intelektual Indonesia.

Beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

bahasa Jawa dalam mata pelajaran Bahasa, sastra, dan Budaya Jawa berfungsi

sebagai sarana yang menumbuhkan rasa bangga dan lebih senang akan

12
budaya bangsa khususnya Budaya Jawa. Apabila siswa SD sudah mampu

untuk menumbuhkan cinta pada pembelajaran bahasa Jawa, siswa diajak

untuk mengenal dan lebih mencintai budaya sendiri, serta mempraktikkan

dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah

dasar adalah untuk memperoleh keterampilan dan kemampuan dalam

penerapan pembelajaran Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.

Ruang lingkup pembelajaran bahasa Jawa di SD merupakan luasnya

bahan ajar atau pokok bahasan dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah

dasar. Berdasarkan kurikulum muatan lokal mata pelajaran bahasa, sastra, dan

budaya Jawa Sekolah Dasar Daerah Istimewa Yogyakarta (Tim, 2010: 2)

ruang lingkup mata pelajaran bahasa Jawa mencakup kompetensi kemampuan

berbahasa, kemampuan bersastra, kemampuan berbudaya yang meliputi

aspek-aspek mendengarkan, berbicara, menyimak, dan membaca.

Muatan lokal bahasa Jawa diajarkan sejak kelas I sekolah dasar.

Alokasi waktu untuk muatan lokal bahasa Jawa di sekolah dasar adalah 2 x

45 menit. Adapun Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa Jawa (dalam

Sedya Santosa, 2011: 9) meliputi:

a. Menyimak: memahami wacana lisan sastra dan nonsastra dalam rangkan


budaya Jawa. Pokok-pokok pembelajaran menyimak antara lain
mendengarkan kata/kalimat/paragraf berupa bahasa, sastra ataupun
budaya Jawa seperti unggah-ungguh atau cerita.
b. Berbicara: mengungkapkan gagasan wacana lisan sastra dan nonsastra
dalam kerangka budaya Jawa. Pokok-pokok kegiatan pembelajaran
berbicara antara lain pengucapan, lafal, dan intonasi bahasa Jawa sesuai
kaidah yang benarserta pemakaian ragam bahasa atau unggah-ungguh
basa yang tepat.
c. Membaca: memahami wacana tulis sastra dan nonsastra dalam kerangka
budaya Jawa. Pokok-pokok pembelajaran membaca bahasa Jawa antara
lain adalah membaca dongeng, tembang, dan aksara Jawa.

13
d. Menulis: mengungkapkan gagasan wacana tulis sastra dan nonsastra
dalam kerangka budaya Jawa. Pokok-pokok pembelajarannya antara lain
menuliscerita dalam bahasa Jawa, geguritan, aksara Jawa, dan lain-lain.

Pokok bahasan bahasa Jawa pada setiap kelas berbeda-beda.

Meskipun begitu, pokok bahasan tersebut berkesinambungan setiap jenjang

pendidikan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang

tertulis dalam kurikulum bahasa Jawa yang digunakan. Standar kompetensi

merupakan kemampuan minimal siswa yang menggambarkan penguasaan

pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dicapai. Sedangkan

kompetensi dasar adalah kemampuan yang harus dikuasai siswa sebagai

rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam pembelajaran (Tim, 2010: 2).

Suwardi Endraswara (2009: 5-6) berpendapat bahwa pembelajaran

bahasa Jawa seharusnya meliputi lima kompetensi, yaitu (1) kompetensi budi

pekerti dan unggah-ungguh, (2) kompetensi membaca dan menulis aksara

Jawa, (3) kompetensi lambang Jawa, (4) kompetensi sesorah, (5) kompetensi

menulis sastra dan non sastra. Kelima kompetensi tersebut diturunkan dalam

silabus dengan memerhatikan jenjang pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, indikator yang akan dicapai dalam

penelitian ini adalah keterampilan menulis aksara Jawa. Penelitian ini

dilakukan di kelas V semester 2. Berikut ini adalah standar kompetensi dan

kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Jawa kelas V semester 2 berdasarkan

kurikulum muatan lokal Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa SD (Tim, 2010: 11).

Tabel 1 Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Menyimak
5 Memahami wacana lisan 5.1 Memahami wacana lisan gotong
sastra dan nonsastra dalam royong yang dibacakan atau
kerangka budaya Jawa. melalui berbagai media.
14
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Berbicara
6 Mengungkapkan gagasan 6.1 Menceritakan watak tokoh
wacana lisan sastra dan wayang.
nonsastra dalam kerangka
budaya Jawa.
Membaca
7 Memehami wacana tulisan 7.1 Membaca wacana tulis
sastra dan nonsastra dalam pendidikan.
kerangka budaya Jawa. 7.2 Membaca dan memahami
geguritan pendidikan.
7.3 Membaca kalimat beraksara
Jawa.
8 Menulis
Mengungkapkan gagasan 8.1 Menulis kerangka kegiatan
wacana tulis sastra dan sosial dengan ejaan yang benar.
nonsastra dalam kerangka 8.2 Menulis kalimat beraksara Jawa
budaya Jawa. yang menggunakan pasangan.

Berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran

bahasa Jawa kelas V semester 2 di atas, penelitian ini difokuskan pada standar

kompetensi menulis yaitu menulis beraksara Jawa yang menggunakan

sandhangan dan pasangan.

2. Aktivitas Belajar Siswa

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan

kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Sardiman (2006:

100) menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat

fisik maupun mental. Aktivitas yang melibatkan fisik maupun mental terjadi

dalam sebuah pembelajaran. Senada dengan pendapat tersebut, Oemar

Hamalik (2009: 179) menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan

yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas

belajar merupakan kegiatan atau tindakan baik fisikmaupun mental yang

dilakukan oleh individu untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan


15
dalam diri dalam kegiatan pembelajaran. Aktivitas belajar akan menjadikan

pembelajaran yang efektif. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan dan

keterampilan saja. Namun, guru harus mampu membawa siswa untuk aktif

dalam belajar.

Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran beraneka ragam. aktivitas

dalam belajar yang digolongkan oleh Paul [Link] (Sardiman, 2011: 101)

adalah sebagai berikut.

a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca,


memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b. Oral Activities, seperti menyatakan merumuskan, bertanya, memberi
saran,berpendapat, diskusi, interupsi.
c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan,
diskusi, musik, pidato.
d. Writing Activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan,
menyalin.
e. Drawing Activities, menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f. Motor Activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, berkebun, beternak.
g. Mental Activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat,
memecahkan soal, menganalisis, mengambil keputusan.
h. Emotional Activities, seperti misalnya, merasa bosan, gugup, melamun
berani, tenang.

Penggolongan aktivitas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belajar

siswa sangat kompleks. Aktivitas belajar bahasa Jawa siswa dapat dilihat

berdasarkan indikator yang menunjukkan adanya aktivitas belajar menurut

pendapat di atas. Indikator aktivitas dalam kegiatan pembelajaran bahasa

Jawa di kelas antara lain.

a. Visual activities: memperhatikan penjelasan guru tentang materi aksara

Jawa dan mengemukakan pengetahuan awal tentang materi aksara Jawa.

b. Oral Activities: mengemukakan pengetahuan awal tentang materi aksara

Jawa, bertanya kepada guru jika ada materi yang belum dipahami, diskusi,

16
mengerjakan LKS, dan mempresentasikan hasil diskusi.

c. Listening Activities: mendengarkan penjelasan guru tentang aturan

turnamen akademik.

d. Motor Activities: membentuk kelompok.

e. Mental Activities: menanggapi teman yang sedang memaparkan hasil

diskusi dan menghitung skor yang diperoleh individu maupun kelompok.

3. Keterampilan Menulis Aksara Jawa

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa

yang yang menjadi tujuan setiap pengajaran bahasa di sekolah. Dalman

(2013: 1) berpendapat menulis dapat berarti menurunkan atau melukiskan

lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami

oleh seseorang. Menulis merupakan suatu aktivitas komunikasi yang

menggunakan bahasa sebagai medianya. Wujudnya berupa tulisan yang

terdiri atas rangkaian huruf yang bermakna dengan semua kelengkapannya,

seperti ejaan dan tanda baca. Pendapat tersebut juga disampaikan oleh Saleh

Abbas (2006: 125) yang mengemukakan bahwa keterampilan menulis adalah

kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak

lain dengan melalui bahasa tulis. Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan

ialah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.

Menurut Henry Guntur Tarigan (2008: 3) keterampilan menulis adalah

salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang

dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara

tatap muka dengan pihak lain. Sama halnya dengan pendapat-pendapat di atas

bahwa menulis dijadikan sebagai alat komunikasi secara tidak langsung

17
sehingga pembaca tulisan harus dapat memahami dan mengerti maksud dari

tulisan tersebut.

Menulis merupakan suatu keterampilan berkomunikasi atau

penyampaian pesan kepada orang lain secara tertulis atau tidak langsung yang

diwujudkan dalam bentuk rangkaian lambang-lambang/simbol-simbol grafis

yang dapat dimengerti oleh penulis dan dipahami oleh orang lain yang

membacanya. Menulis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menulis

aksara Jawa.

Aksara Jawa merupakan abjad Jawa yang terdiri atas dua puluh

aksarapokok yang bersifat silabik, Hesti Mulyani (Darusuparata 2002: 5).

Aksara Jawa berbeda dengan abjad latin yang sering digunakan dalam

berkomunikasi secara lisan maupun tertulis. Abjad latin bersifat alpabetic,

yaitu memerlukan vokal sebagai pembantubunyi, sedangkan aksara Jawa

bersifat syllabaric yang mampu berbunyi walaupun berdiri sendiri.

Keterampilan menulis aksara Jawa yang dimaksud dalam penelitian

ini adalah suatu keterampilan menyampaikan pesan tertulis atau tidak

langsung dan diwujudkan dalam rangkaian lambang huruf carakan yang dapat

dimengerti oleh pembaca. Menulis aksara Jawa pada hakikatnya sama dengan

pengalih-hurufan dariabjad latin ke aksara Jawa. Menulis aksara Jawa

menuntut adanya pemahaman, ketelitian, dan latihan yang teratur. Hal ini

bertujuan supaya dapat menghasilkan tulisan aksara Jawa dengan baik dan

benar. Tulisan yang baik dalam menulis aksara Jawa dapat dilihat pada

ketepatan penulisan aksara Jawa beserta perangkatnya sesuai dengan kaidah

penulisan yang berlaku.

18
Mengacu pada pengertian menulis yang dikemukakan di depan,

menulis aksara Jawa berarti suatu kegiatan menurunkan lambang-lambang

grafis berupa aksara Jawa. Aksara Jawa memiliki 20 huruf utama yang

disebut aksara legena atau aksara telanjang dan memiliki vokal dasar "a".

Aksara ini sudah dapat membentuk kata/kalimat tanpa diberi imbuhan apapun

selama kata atau kalimat tersebut bervokal “a”.Setiap aksara pokok

mempunyai aksara pasangan yang berfungsi sebagai penghubung suku kata

tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya (Tim Penyusun Pedoman

Penulisan Aksara Jawa, 2003: 5). Sedangkan aksara pasangan digunakan

sebagai cara untuk mematikan huruf yang diberi pasangan digunakan untuk

mematikan huruf di tengah kata atau kalimat (apabila untuk mematikan huruf

diakhir kalimat adalah menggunakan pangkon).

a. Aksara Jawa Legena beserta Pasangan

Aksara legena merupakan aksara yang masih murni atau belum

menggunakan sandhangan. Aksara legena berjumlah dua puluh. Aksara

legena juga dinamakan dentawyanjana. Kata denta artinya gigi dan

wyanjana artinya aksara. Jadi, arti sebenarnya kata dentawyanjana yaitu

aksara suara gigi. Namun, pada umumnya dentawyanjana diartikan

sebagai urutan aksara Jawa yang dimulai dari aksara legena (ha) hingga

(nga)‟. Penelitian ini memfokuskan pada keterampilan menulis aksara

Jawa yang menggunakan pasangan. Berikut ini adalah penjelasan

mengenai aksara Jawa dan pasangannya serta aksara sandhangan yang

berfungsi sebagai pengubah bunyi aksara Jawa. Berikut ini merupakan

aksara legena dan pasangannya.

19
Tabel 2 Aksara Legena dan Pasangannya
Nama Bentuk Pasangan Nama Bentuk Pasangan
Aksara Aksara aksara Aksara
ha pa
a ......H p ......P

na dha
n N
......N
...... d D
.....D
.....

ca ja
c C
.....C
....... j .....JJ....

ra ya
r R
.....R
....... y Y
....Y
.....

ka nya
k K
......K
...... v .....V.....

da ma
f F
......F
...... m M
.....M
.....

ta ga
t T
......T
...... g G
.....G
.....

sa ba
s .....S b B
.....B
.....

wa tha
w W
......W
...... q Q
.....Q
.....

la nga
l L
.......L
..... z Z
.....Z
.....

Catatan:
1) Aksara pasangan ha, sa, dan pa ditulis di belakang aksara konsonan

akhir suku kata di depannya. Aksara pasangan selain yang disebutkan itu

ditulis di bawah aksara konsonan akhir suku kata di depannya.

2) Aksara ha, ca, ra, wa, dha, ya, tha, dan nga tidak dapat diberi aksara

pasangan atau tidak dapat menjadi aksara sigegan (aksara konsonan

penutup suku kata). Di dalam hal ini aksara sigegan ha (a ) diganti

20
wignyan ( h), aksara sigegan ra ( r ) diganti layar ( /), aksara sigegan nga

( z ) diganti cecak ( = ), dan hampir tidak ada suku kata yang berakhir

sigeganca, wa, dha, ya, tha.

b. Sandhangan

Sandhangan yaitu tanda yang digunakan untuk mengubah atau

memberi suara pada huruf atau pasangan. Vokal a di dalam bahasa Jawa

mempunyai dua macam varian, yaitu / ç / dan / a /. Vokal a dilafalkan /ç/,

seperti o pada kata bom, pokok, tolong, tokoh di dalam bahasa Indonesia.

Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata: pas, ada, siapa, dan semua, di

dalam bahasa Indonesia. Sandhangan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (a)

sandhangan bunyi vocal (sandhangan swara) dan (b) sandhangan konsonan

penutup suku kata (sandhangan panyigeg wanda).

1) Sandhangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara)

Sandhangan swara berfungsi untuk mengubah bunyi vokal suatu

aksara legena/carakan jika dipasangkan dengan sandhangan swara.

Sandhangan swara ada 5 buah, yaitu:

Tabel 3 Sandhangan Bunyi Vokal


Nama Bentuk Bunyi Contoh
Wulu i Pipi siti
.....i
p ip i s it i

pepet e Metu telu


.....e
m et ut el u

21
Nama Bentuk Bunyi Contoh
Suku u Kuku putu
......u
k uk up ut u

Talingtarung o Moro Poso


[ .....o
[ m o[ r o[ p o[ s o

Taling ȇ Kene rene


[ ........
[k [ n [r [ n

Penulisan sandhangan pada aksara Jawa terikat pada aturan

penulisan, diantaranya adalah sebagai berikut. (i) sandhangan wulu

terletak di sebelah kiri sandangan lainnya; (ii) sandhangan suku pada

pasangan ka (k), ta (t), la (l), bentuk pasangan dirubah seperti aksara

legena; (iii) sandhangan taling tarung mengapit aksara legena, sehingga

taling tarung yang melekat pada pasangan ditulis pada aksara yang mati

dan pasangannya.

2. Sandhangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeg

Wanda)

Sandhangan panyigeg wanda adalah sandhangan yang

berfungsiuntuk menutup suku kata. Ada 4 jenis sandhangan panyigeg

wanda, yaitu:

Tabel 4Sandhangan Konsonan Penutup Suku Kata(Panyigeg)


Nama Bentuk Bunyi Contoh
Layar -r Layar mabur
...../....
m y /m b u/

Wighyan -h Tengah sawah


.....h
t ez hs w h

22
Nama Bentuk Bunyi Contoh
Cecak -ng Kolang kaling
......=
...
[ k ol =
k l i+
=

Pangkon Aksara Tuku bebek


.......\ mati
t uk u[ b [ b k \

3) Sandhangan Wyanjana

Sandhangan Wyanjana merupakan sandhangan yang diucapkan

bersama huruf yang diberi sandhangan. Ada tiga jenissandhangan

pambukaning wanda, yaitu:

Tabel 5 Sandhangan Wyanjana


Nama Wujud Contoh
Cakra Putra
...]
p ut ]

Keret Kreneng
....}
k }n _

Pengkal Setya
.....-
s et - a

Penulisan sandhangan pada aksara Jawa terikat pada aturan

penulisan, diantaranya adalah sebagai berikut. (i) sandhangancecak ditulis

di dalam pepet; (ii) selain untuk mematikan huruf, sandhanganpangkon

juga dapat digunakan untuk pengganti pada lingsa (koma) jika pangkon

diberi lingsa; (iii) pangkon digunakan supaya penulisan aksara Jawa tidak

bersusun tiga. Aturan penggunaan sandhangan dalam penulisan aksara

Jawa, sandhangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan

le yang bukan sebagai pasangan. Hal ini karena suku kata re dan le yang

23
bukan pasangan dilambangkan dengan x (pa cerek) dan le yang bukan

pasangan dilambangkan dengan 2 (nga lelet) (Tim, 2003: 20).

Berdasarkan Kompetensi Dasar Muatan Lokal Bahasa Jawa DIY,

materi pembelajaran aksara Jawa untuk kelas V SD yang digunakan dalam

model pembelajaran ini yaitu memahami kata, frasa, klausa dan kalimat

beraksara Jawa legena, yang bersandhangan dan berpasangan. Hal tersebut

dilakukan agar siswa mampu menulis kalimat sederhana menggunakan aksara

Jawa yang bersandhangan dan berpasangan.

4. Model Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian Model Pembelajaran

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran

dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat

kemampuan yang berbeda. Sugiyanto (2008: 35) berpendapat pembelajaran

kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berfokus

pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam

memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Sedangkan

Robert E. Slavin (dalam Isjoni 2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah

suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-

kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4 orang dengan struktur

kelompok heterogen. Pembelajaran kooperatif para siswa akan duduk

bersama dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang untuk menguasai

24
materi yang disampaikan oleh guru dan saling melakukan diskusi dan kerja

sama.

Arif Rohman (2009: 186) juga berpendapat pembelajaran kooperatif

(Cooperative learning) adalah model pembelajaran yang menekankan pada

saling ketergantungan positif antar individu siswa, adanya tanggung jawab

perseorangan, tatap muka, komunikasi intensif antar siswa, dan evaluasi

proses kelompok. Saling ketergantungan positif antar individu siswa

menunjukan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terjadi kerjasama dan

diskusi antar anggota kelompok yang dipimpin atau diarahkan oleh guru. Hal

senanda juga disampaikan oleh Agus Suprijono (2009: 54) “Pembelajaran

kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja

kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau

diarahkan oleh guru”. Istilah kooperatif dalam hal ini bermakna lebih luas,

yaitu menggambarkan keseluruhan proses sosial dalam belajar dan mencakup

pula pengertian kolaboratif.

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di

atas, makadapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif

(cooperative learning) adalah model pembelajaran yang memanfaatkan

kelompok kecil dari kerjasama anggota antara 2 sampai 5 orang yang

anggotanya bersifat heterogen, dalam memecahkan masalah yang diarahkan

oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif, proses pembelajarannya tidak harus

belajar dari guru kepada siswa, namun siswa dapat saling membelajarkan

25
sesama teman siswa lainnya. Berbeda dengan model-model pembelajaran

yang lain, model ini lebih menekankan pada proses kerja sama dalam bentuk

kelompok. Berikut ini merupakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif.

Menurut Agus Suprijono (2012: 65), sintak model pembelajaran kooperatif

terdiri dari 6 (enam) fase.

Tabel 6 Fase-fase dalam Pembelajaran Kooperatif


Fase Kegiatan guru
Fase 1 : Present goals and set Menjelaskan tujuan pembelajaran dan
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa siap belajar
mempersiapkan siswa
Fase 2 : Present information Mempresentasikan informasi kepada
Menyajikan informasi siswa secara verbal
Fase 3 : Organize students Memberikan penjelasan kepada siswa
intolearning teams tentang tata cara pembentukan tim
Mengorganisir siswa ke dalam belajar dan membantu kelompok
tim-tim belajar melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : Assist team work Membantu tim-tim belajar selama siswa
andstudeny mengerjakan tugasnya
Membantu kerja tim dan belajar.
Fase 5 : Test on the materials
Menguji pengetahuan siswa mengenai
Mengevaluasi materi pembelajaran atau kelompok
kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase 6 : Provide recognition Mempersiapkan cara untuk mengakui
Memberikan pengakuan atau usaha dan prestasi individu maupun
penghargaan. kelompok.

1) Fase pertama

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan atau mengondisikan

siswa sebelum pembelajaran dimulai. Guru menyampaikan apa tujuan dari

pembelajaran tersebut dan mengondisikan siswa agar siap dalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini penting untuk dilakukan

karena siswa harus memahami dengan jelas prosedur dan aturandalam

pembelajaran.

26
2) Fase kedua

Guru menyampaikan informasi kepada siswa tentang materi yang

diajarkan. Penyampain informasi ini penting karena merupakan bagian isi

dari akademik.

3) Fase ketiga

Guru harus menjelaskan bahwa siswa harus saling bekerja sama

didalam kelompok. Penyelesaian tugas kelompok harus merupakan tujuan

kelompok. Tiap anggota kelompok memiliki peran individual untuk

mendukung tercapainya tujuan kelompok. Fase ketiga ini guru harus benar-

benar mengawasi dan membimbing siswa agar siswa lain tidak saling

tergantung.

4) Fase keempat

Guru perlu mendampingi tim-tim belajar, mengingatkan tentang

tugas-tugas yang dikerjakan siswa dan waktu yang dialokasikan. Pada fase

ini bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, pengarahan, atau

meminta beberapa siswa mengulangi hal yang sudah ditunjukkan.

5) Fase kelima

Guru melakukan evaluasi pembelajaran. Evaluasi ini dilakukan

untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi-materi yang

telah di ajarkar maupun dibahas oleh guru.

6) Fase keenam

Guru mempersiapkan struktur reward yang akan diberikan kepada

siswa. Variasi reward dapat dicapai tanpa tergantung pada apa yang

dilakukan orang lain. Struktur reward kompetitif adalah jika siswa diakui

27
usaha individualnya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Struktur

reward kooperatif diberikan kepada tim meskipun anggota tim-timnya saling

bersaing.

c. Manfaat Pembelajaran Kooperatif

Sadker (dalam Miftahul Huda, 2011: 66) menjabarkan beberapa

manfaat pembelajaran kooperatif seperti berikut ini.

1) Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif


akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.
2) Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan
memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih
besar untuk belajar.
3) Adanya pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada
teman-temannya, dan diantara mereka akan terbangun rasa
ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses
belajar mereka nanti.
4) Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa
terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan
etnik yang berbeda-beda.

Pembelajaran kooperatif juga memiliki manfaat yang penting bagi

siswa yaitu meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif

memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan

teman satu tim untuk mencerna materi pembelajaran. Tujuan yang lain yaitu

meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi belajar, belajar kooperatif

dapat membina kebersamaan, peduli satu sama lain, tenggang rasa, tertanam

sikap saling menghargai satu sama lainnya, serta menumbuhkan budi

pekerti antarsiswa dan siswa dengan gurunya untuk keberhasilan tim saat

berlangsungnya diskusi maupun turnamen dalam kelompok.

d. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif menurut Robert E. Slavin (dalam

Isjoni 2009: 11-26) ada berbagai macam tipe, yaitu Student Teams

28
Achievement Division (STAD), Team Game Tournament (TGT), Jigsaw

II, Cooperative Integrated Readingand Composition (CIRC), Team Assisted

Individualization (TAI), Group Investigation, Learning Together, Complex

Instruction, dan Structure Dyadic Methods. Nur Asma (2006: 51) juga

menyebutkan macam-macam model pembelajaran kooperatif yaitu sebagai

berikut.

1) Student Teams-Achievement Divisions (STAD).


2) Teams Games-Tournament (TGT).
3) Team-Assisted Individualization (TAI).
4) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
5) Group Investigation (GI).
6) Jigsaw.
7) Co-Op Co-Op

Macam-macam model pembelajaran kooperatif menurut Miftahul Huda

(2011: 134), yaitu.

1) Mencari Pasangan (Make a Match).


2) Bertukar Pasangan.
3) Berpikir-Berpasangan-Berpikir (Think-Pair-Share).
4) Berkirim salam dan soal.
5) Kepala Bernomor (Numbered Heads Together)
6) Kepala Bernomor Terstruktur (Structured Numbered Heads).
7) Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray).
8) Keliling Kelompok.
9) Kancing Gemerincing.
10) Keliling Kelas.
11) Lingkaran Dalam-Lingkaran Luar (Inside-Outside Circle).
12) Tari Bambu.
13) Jigsaw.

Dalam penelitian ini model pembelajaran kooperatif yang digunakan

yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament.

Berdasarkan penjelasan tentang manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa,

model Teams Games Tournament ini sesuai diterapkan dalam pembelajaran

menulis aksara Jawa di kelas V. Model Teams Games Tournament ini sangat

29
sesuai dengan karakteristik siswa yang suka berkelompok dengan teman

sebaya, memiliki rasa ingin tahuyang kuat, dan memandang nilai sebagai

ukuran prestasi. Adanya pembagian kelompok dalam model Teams Games

Tournament sesuai dengan karakteristik siswa yang suka berkelompok

dengan teman sebaya. Hal ini akan membuat siswa saling bertukarinformasi

serta saling mengajari satu sama lain. Adanya kompetisi dan penghargaan di

akhir kegiatan akan membuat siswa tertantang untuk mendapatkan nilai

terbaik yaitu dengan mengerjakan soal yang diberikan dengan sebaik

mungkin.

5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)

a. Pengertian Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

Menurut Robert E. Slavin (dalam Isjoni 2009: 54) model

pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) secara umum sama saja

dengan STAD kecuali satu hal yaitu TGT menggunakan turnamen akademik,

dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para

siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang

kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Belajar dengan game

yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa dapat

belajar lebih santai disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran,

persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut Nur Asma (2006: 54), model

pembelajaran Teams Games-Tournament adalah suatu model pembelajaran

yang didahului dengan penyajian materi pembelajaran oleh guru dan diakhiri

dengan memberikan sejumah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan-

30
pertanyaan yang diajukan oleh guru digunakan untuk melakukan permainan

(game) dan turnamen.

Berdasarkan pengertian beberapa ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa model pembelajaran Teams Games Tournament adalah salah satu tipe

model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-

kelompok yang heterogen yang diawali dengan penyajian materi, melakukan

permainan, tournament dan diakhiri dengan pemberian soal.

b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games

Tournament (TGT)

Menurut Robert E. Slavin (2005: 172-174), langkah-langkah

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games

Tournament (TGT) terdiri dari lima langkah yaitu:

1) Class – Presentation (Penyajian/Presentasi Kelas)

Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan materi aksara Jawa

dalam penyajiankelas, biasanya dilakukan dengan pembelajaran langsung,

diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus

benar-benarmemperhatikan dan memahami materi yang disampaikan

guru, materi yang disampaikan dalam menulis aksara Jawa dalah menulis

kata, frasa, klausa, dan kalimat sederhana. Penjelasan yang dilakukan

guru setiap pertemuan berbeda indikator, karenaakan membantu siswa

dalam membuat kalimat atau paragraf jika dilakukan secara bertahap.

Guru menjelaskan materi berdasarkan dan disesuaikan dengan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran.

31
2) Team (Kelompok)

Setiap kelompok terdiri dari 4 orang siswa yang anggotanya

heterogen dilihat dari hasil akademik siswa dan jenis kelaminnya. Fungsi

kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman

kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok

agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game dan turnamen.

Pada tahap ini siswa belajar bersama dengan anggota kelompoknya untuk

menyelesaikan tugas dan soal yang diberikan. Siswa diberikan kebebasan

untuk belajar bersama dan saling membantu dengan teman dalam

kelompok untuk mendalami materi pelajaran. Selama belajar kelompok,

guru berperan sebagai fasilitator dengan mengarahkan siswa yang

mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas, serta memandu

berfungsinya kelompok belajar.

3) Games (Permainan)

Game dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa

dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Game yang digunakan pada

penelitian ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana. Pertanyaan-

pertanyaan ini akan dikerjakan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS).

Pertemuan pertama mengerjakan LKS “papan ukara”, pertemuan kedua

mengerjakan melengkapi frasa, pertemuan ketiga membuat klausa, dan

pertemuan keempat menyusun kalimat.

4) Tournament (Pertandingan/Kompetisi)

Kelompok turnamen berbeda dengan kelompok game. Setiap

anggota kelompok game mewakili kelompoknya untuk melakukan

32
turnamen. Kelompok turnamen terdiri dari tiga siswa. Fungsi kelompok

adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan

lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja

dengan baik dan optimal pada saat game. Pada tahap ini setiap siswa

diberi soal berjumlah 3 butir untuk dikerjakan secara bergantian. Soal

yang dikerjakan menyesuaikan dengan materi yang dibahas pada

pertemuan tersebut.

Turnamen dilaksanakan pada akhir pembelajaran setelah guru

melakukan presentasi kelas dan kelompok sudahmengerjakan lembar

kerja. Aturan dalam turnamen ini dalam satu permainan terdiri dari

kelompok pembaca, kelompok penantang I, kelompok penantang II, dan

seterusnya. Kelompok pembaca bertugas mengambil kartu bernomor,

mencari pertanyaan pada lembar permainan, membaca pertanyaan, dan

memberi jawaban. Kelompok penantang I bertugas menyetujui pembaca

atau memberi jawaban berbeda. Sedangkan penantang II bertugas

menyetujui atau memberi jawaban berbeda dan melakukan cek lembar

jawaban. Masing-masing kelompok daritingkat akademik tertinggi

sampai tingkat terendah dikelompokkan bersama siswa dari kelompok

lain yang mempunyai tingkat akademik sama untuk membentuk satu

kelompok turnamen yang homogen. Siswa dari masing-masing kelompok

bertanding untuk menyumbangkan poin tertinggi bagi kelompoknya.

Dalam turnamen ini, siswa yang memiliki kemampuan akademik sedang

atau rendah dapat menjadi siswa yang mendapat poin tertinggi bagi

kelompoknya. Poin dari perolehan setiap anggota kelompok

33
diakumulasikan dalam poin kelompok. Berikut ini gambar penempatan

siswa dalam meja turnamen.

TIM A

A-1 A-2 A-3 A-4


Tinggi Sedang Sedang Rendah

Meja Meja Meja Meja


Turnamen Turnamen Turnamen Turnamen
1 2 3 4

B-1 B-2 B-3 B-4 C-1 C-2 C-3 C-4


Tinggi Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah

TIM B TIM C

Gambar 1 Penempatan siswa dalam Meja Turnamen


Robert E. Slavin (2005: 168)
5) Team – Recognize (Penghargaan Kelompok)

Penghargaan kelompok diberikan atas dasar rata-rata poin

kelompok yang diperoleh dari game dan turnamen. Guru kemudian

mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan

mendapat hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang

ditentukan. Team mendapat julukan sesuai poin yang diperoleh. Setelah

mengikuti game dan turnamen, setiap kelompok akan memperoleh poin.

Rata-rata poin kelompok yang diperoleh dari turnamen akan digunakan

34
sebagai penentu penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok dapat

berupa hadiah, sertifikat, dan sebagainya.

Tabel 7 Skor individu dalam Turnamen, Robert E. Slavin (2005: 175)


Pemain Skor
Pemain skor tertinggi 60
Pemain skor tengah atas 40
Pemain skor tengah bawah 30
Pemain skor terendah 20

Skor individu ini digunakan untuk mengakumulasikan skor turnamen

dengan anggota kelompok lain, sehingga skor turnamen akhir didapatkan dari

jumlah skor individu setiap anggota kelompok. Anggota kelompok bertugas untuk

mencari skor individu melalui turnamen.

Tabel 8 Skor Tim dalam Turnamen, Robert E. Slavin (2005: 175)


Kriteria Rata-rata Tim Penghargaan
40 Tim Baik
50 Tim Sangat Baik
60 Tim Super

Berdasarkan tabel penilaian di atas, maka teknik penyekoran dalam

turnamen dibedakan menjadi 2 yaitu skor individu dan skor kelompok. Skor

individu nantinya akan digabungkan dengan anggota satu tim dalam kelompok

untuk dijadikan nilai kelompok. Berikut merupakan papan penilaian individu.

35
Tabel 9 Papan Skor Individu
Meja Turnamen I
Nama Nama siswa No pertanyaan Jumlah Skor
kelompok (inisial) pertanyaan
yang
1 2 3 4 5 dst terjawab

Ketentuan penilaian untuk individu dalam turnamen menurut Robert E Slavin

(2005: 134) sebagai berikut:

1. Setiap siswa mengerjakan soal sejumlah 3 soal atau sesuai dengan jumlah
siswa yang berada dalam meja turnamen tersebut.
2. Nomor soal yang dikerjakan berdasarkan undian, siswa yang mendapatkan
undian tertinggi dalam satu meja tersebut akan menjadi pembaca soal dan
soal yang dibaca berdasarkan nomor undian tersebut.
3. Jika ada satu huruf aksara jawa (legena, sandhangan, maupun pasangan)
yang salah atau kurang tepat dalam penulisan maka jawaban untuk soal
tersebut dianggap salah, agar memudahkan penilaian bagi siswa dan
disesuaikan dengan skor pada Teams Games Tournament.
4. Setiap nomor yang benar dalam menjawab akan mendapatkan nilai 20. Jika
benar semua ketiganya mendapatkan nilai 60.
Skor individu yang telah dikumpulkan dalam turnamen kemudian dimasukan

dalam papan skor kelompok untuk menentukan kelompok terbaik. Berikut papan

skor kelompok.

Tabel 10 Papan Skor Kelompok


Kelompok .....................
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen yang diperoleh
Absen

Jumlah skor kelompok


Rata-rata skor selompok
(tim ................)

36
6. Karakteristik Siswa Usia Kelas V (Lanjut)

Piaget (dalam Dwi, 2004 : 41) mengemukakan bahwa masa umur 7-11

tahun termasuk dalam tahap operasional konkret, yaitu kemampuan berfikir

secara logis meningkat. Anak mampu mengklasifikasikan, memilih,

mengurutkan, dan mengorganisasikan fakta untuk menyelesaikan masalah.

Masa usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa

keserasihan bersekolah. Siswa kelas V termasuk dalam tahap operasional

konkret. Karakteristik utama siswa sekolah dasar kelas V adalahmereka

menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi danbidang,

di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalamkognitif dan

bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak. Menurut

Suyati (1992: 14–16) karakteristik anak umur 10-13 tahun atau kelas 5-6

adalah sebagai berikut.

1) Karakteristik Sosial dan Emosional


a) Bersamaan dengan proses kematangan fisik, emosinya pada waktu
itutidak stabil.
b) Karena hasrat bergabung dan adanya perbedaan cara menimbulkan
salah paham antara anak satu dan lainnya.
c) Anak usia ini mudah timbul takjub.
d) Anak-anak usia ini emosi biasa berontak.
e) Mempunyai tanggapan positif terhadap penghargaan dan puji-pujian.
f) Anak-anak masa ini mempunyai pandangan kritis terhadap tindakan
orang dewasa.
g) Rasa kebanggaan berkembang.
h) Setiap hal yang dikerjakan, menginginkan adanya penghargaan atau
pengenalan.
i) Ingin pengenalan atau penghargaan dari kelompok.

2) Karakteristik Mental
a) Anak-anak masa ini lebih gemar bermain-main dengan
mempergunakan bola.
b) Anak-anak lebih berminat dalam permainan-permainann berregu
atau berkelompok.
c) Anak-anak sangat terpengaruh apabila ada kelompok yang menonjol
atau mencapai prestasi tinggi.

37
d) Sementara anak masa ini mudah putus asa, karena itu usahakan
bangun kembali atau bangkit kembali apabila tidak berhasil dalam
mencapai sesuatu.
e) Dalam melakukan sesuatu usaha, selalu berusaha mendapat
persetujuan dari guru terlebih dahulu.
f) Anak-anak masa ini pada umumnya memperhatikan soal waktu,
karena itu berusaha bekerja tepat pada waktunya.

Sejalan dengan hal tersebut, Syamsu Yusuf (2007: 25) berpendapat

jika masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar umur 10 sampai 12 tahun memiliki

sifat khas sebagai berikut.

1) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal


ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan
pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
2) Amat realistik, ingin mengetahui, ingin belajar.
3) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepadahal-hal dan mata
pelajaran khusus.
4) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang
dewasa untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannnya.
Selepas umur tersebut anak pada umumny menghadapi tugas-tugas
dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya.
5) Pada masa ini anak memandang nilai (angka raport) sebagai ukuran tepat
mengenai prestasi sekolah.
6) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya biasanya
untui dapat bermain bersama-sama.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai karakteristik siswa kelas V di

atas, model Teams Games Tournament sesuai untuk diterapkan dalam

pembelajaran menulis aksara Jawa adalah yang bisa membuat siswa aktif

berinteraksi dan bertukar informasi dengan teman-teman sebayanya. Selain itu

pembelajaran harus dikemas dengan adanya penghargaan atau pemberian nilai

sebagai penguatan. Satu hal yang tidak terlupakan lagi adalah pembelajaran harus

dikemas dengan menarik dan menyenangkan, serta bermakna. Oleh karenanya,

model Teams Games Tournament merupakan salah satu model yang sesuai untuk

diterapkan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa di kelas V.

38
B. Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang

dilakukan sekarang sekaligus dijadikan rujukan oleh peneliti karena berorientasi

pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament,

yaitu.

1. Skrispi Agniyawati (2014) yang berjudul “Peningkatan Keterampilan

Menulis Aksara Jawa Kelas V SD N Ngetal dengan Menggunakan Metode

Tipe Teams Games Tournaments (TGT)”. Hasil penelitian menunjukan

penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournaments

(TGT) dapat meningkatkan keaktifan belajar Menulis AksaraJawa SD N

Ngetal kelas V. Melalui pengamatan dan analisis data diperoleh hasil sesuai

dengan indikator tingkat keterampilan belajar menulis aksara Jawayaitu pada

siklus I sebesar 60 % dan siklus II sebesar 80 %. Mengalami peningkatan

sebesar 20 %.

2. Skripsi Indri Puspita (2014) yang berjudul Peningkatan Keterampilan

Menulis Aksara Jawa dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Teams

Games Tournament Pada Peserta Didik Kelas III Sd Negeri Kragilan 2

Sragentahun 2014. Hasil dari penelitian menunjukan nilai indikator

keterampilan menulis aksara jawa yaitu ketepatan bentuk tulisan pada pra

siklus 58,88%, siklus I 70%, siklus II 82,22%. Keutuhan tulisan pada pra

siklus 57,22%, siklus I 69,17%, siklus II 80,83%. Kerapian letak tulisan pada

pra siklus 50%, siklus I 72,5%, siklus II 82,5%. Pola tulisan pada pra siklus

62,50%, siklus I 72,5%, siklus II 81,25%. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa model kooperatif tipe teams games tournament dapat

39
meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa peserta didik kelas III SD

Negeri Kragilan 2 Sragen tahun 2014.

Berdasarkan penelitian yang relevan di atas tentunya penelitian ini

mempunyai sudut pandang yang berbeda terutama terletak pada subjek

penelitian. Dari kedua penelitian yang sudah dilakukan, subjeknya adalah

kelas II dan III. Kelas-kelas tersebut merupakan kelas rendah, sedangkan

yang akan peneliti lakukan pada kelas V atau kelas tinggi. Sehingga aspek-

aspek yang akan diteliti terutama pada materi ajar berbeda karena untuk kelas

V siswa akan belajar bukan hanya aksara Legena saja namun sudah

menggunakan pasangannya.

C. Kerangka Pikir

Kegiatan belajar diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental,

sebagai suatu wujud reaksi. Proses belajar mengajar di sekolah terutama pada

mata pelajaran Bahasa Jawa yang dianggap sulit oleh siswa karena materi

yang banyak salah satunya pada menulis aksara Jawa, perlu melibatkan siswa

secara aktif dalam belajarnya, maka guru juga dituntut untuk aktif dalam

mengajarnya, yakni suatu keseimbangan antara keaktifan belajarnya siswa

dan keaktifan mengajarnya guru. Oleh karena itu, proses pembelajaran

merupakan suatu kegiatan yang integral antara siswa sebagai pelajar dan guru

sebagai pengajar.

Langkah yang diperlukan untuk mengatasi hal-hal tersebut hendaknya

guru lebih kreatif untuk memberi motivasi kepada siswa. Pembelajaran

Bahasa Jawa harus disajikan dalam suasana yang menarik dan menyenangkan

sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan berpartisipasi. Guru hendaknya

40
dapat berinovasi terutama dalam hal metode dan media pembelajaran. Salah

satu alternatif metode yang dapat dipilih untuk meningkatkan aktivitas belajar

dan keterampilan menulis aksara Jawa siswa adalah dengan menggunakan

model pembelajaran Teams Games Tournament. Model pembelajaran Teams

Games Tournament ini siswa dapat belajar dengan cara yang menyenangkan,

yaitu dengan bermain. Kelompok peraih nilai tertinggi akan mendapatkan

penghargaan kelompok. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak Sekolah

Dasar yang suka bermain dan mendapatkan [Link] teori

yang telah diuraikan di atas maka kerangka pikir dari peneliti dapat

digambarkan seperti bagan berikut ini.

Dalam proses kegiatan belajar menulis aksara Jawa, guru


menggunakan metode ceramah dan kurang menvariasi
pembelajaran.

Aktivitas belajar siswa dan keterampilan menulis aksara


Jawa rendah.

Perencanaan tindakan dengan menggunakan model


pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament

Pelaksanaan tindakan

Keterampilan menulis Aksara Jawa siswa pada


mata belajaran Bahasa Jawa meningkat.

Gambar 2 Alur Kerangka Pikir

41
D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah

dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games

Tournament (TGT) dapat meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa

pada siswa kelas V SDN Nglengking Sleman.

42
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan

Kelas (classroom action research). Menurut Pardjono dkk (2007: 12), Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu jenis penelitian tindakan yang dilakukan

guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Guru kelas

merupakan orang yang tahu akan kondisi dan situasi di dalam kelasnya. Penelitian

tindakan dilakukan dengan cara: a) merencanakan, b) melaksanakan, c)

mengamati, serta d) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif

dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa

dapat meningkat.

Bentuk penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian tindakan kelas

secara kolaborasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 7) tindakan kelas secara

kolaborasi, yaitu pihak yang melakukan tindakan adalah guru mata pembelajaran

itu sendiri, sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya

proses tindakan adalah peneliti dan bukan seorang guru yang sedang melakukan

tindakan. Kolaboratif artinya peneliti berkolaborasi atau berkerja sama dengan

guru mata pelajaran bahasa Jawa, yang tergabung dalam satu tim untuk

melakukan penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan–kekurangan

dalam praktik pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas dilakukan karena ada kepedulian bersama

terhadap situasi pembelajaran kelas yang perlu ditingkatkan. Secara singkat dalam

PTK, secara bersama–sama dan harus melaksanakan tiga aspekpenting yaitu

43
menyusun rencana tindakan bersama–sama, bertindak mengamati secara

individual bersama–sama dan melakukan refleksi bersama–sama pula.

B. Desain Penelitian

Desain penelitian menurut Mc. Millan (dalam Ibnu Hadjar 1999: 102)

adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh

bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian. Pada penelitian

tindakan kelas ini peneliti menggunakan desain penelitian model Kemmis dan Mc

Taggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari tiga

rangkaian pembelajaran kooperatif tipe Time Games Tournament. Setiap siklus

terdapat tahapan-tahapan, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action),

pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).

Gambar 3 DesainPenelitian Model Kemmis dan Mc Taggart


(Pardjono, dkk., 2007: 22)

44
Berikut keterangan dari masing-masing tahapan:

a. Perencanaan Tindakan (planning)

Pada tahapan ini, dilakukan identifikasi awal pada permasalahan yang ada

di kelas dan penyusunan rencana tindakan. Tahap perencanaan berupa

penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model kooperatif

tipe Teams Games Tournament yang akan digunakan sebagai pedoman dalam

pelaksanaan proses pembelajaran. Penyusunan instrumen penelitian berupa materi

ajar, lembar observasi, tes hasil belajar dan penetapan indikator keberhasilan

ketercapaian peningkatan hasil belajar dan aktivias belajar siswa.

b. Pelaksanaan tindakan (action)

Tahap tindakan dilaksanakan oleh guru berdasarkan isi rancangan yang

telah disusun. Tahap pelaksanaan tindakan berupa penerapan model kooperatif

tipe Teams Games Tournament selama proses pembelajaran.

c. Pengamatan (observation)

Tahap observasi dilaksanakan selama pelaksanaan tindakan berlangsung.

Pada tahapan ini, peneliti dan observer mengambil data aktivitas belajar siswa dan

kegiatan guru dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams

Games Tournament selama pembelajaran. Pengambilan data dilakukan melalui

pengamatan aktivitas belaja siswa dan kegiatan guru melaksanankan model

pembelajaran kooperatif tipe Teams Gmes Tournament sesuai instrumen

penelitian.

45
d. Refleksi (reflecting)

Tahap refleksi merupakan kegiatan mencermati dan menganalisis

secara keseluruhan tindakan yang telah dilakukan. Analisis dilakukan

berdasarkan data yang telah dikumpulkan selama observasi. Tahap ini juga

mengevaluasi kendala dan hambatan yang ada selama proses pembelajaran

yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan

pelaksanaan siklus berikutnya.

C. Setting Penelitian

Setting penelitian merupakan lokasi, kondisi, dan situasi dimana peneliti

melakukan penelitian. Seperti yang telah dikemukakan oleh Pardjono dkk, (2007:

67), Setting penelitian adalah situasi, kondisi dan tempat di mana responden

melakukan kegiatan secara alami yang dipandang sebagai analisis dalam

penelitian. Setting penelitian yang digunakan pada penelitian tindakan kelas

adalah sebagai berikut.

1. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Nglengking,

pada mata pelajaran tahun ajaran 2015/2016 yang beralamatkan di

Nglengking, Sendangrejo, Minggir, Sleman.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian pada semester genap semester 2 tahun ajaran2015/2016.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2016. Waktu

disesuaikan dengan jadwal pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa

sesuai kesepakatan bersama pihak sekolah SD Negeri Nglengking dan

dilakukan dengan 2 siklus.

46
D. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di SD Negeri Nglengking

tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 13 siswa terdiri dari 6 siswa laki-laki dan

7 siswa perempuan. Teknik pengambilan subjek penelitian dilakukan dengan

purposive sampling yaitu teknik pengambilan subjek penelitian dengan

pertimbangan tertentu. Alasan mengambil subjek penelitian kelas V karena siswa

kelas tersebut aktivitas dalam pembelajaran masih rendah, pencapaian hasil unjuk

kerja juga masih banyak yang di bawah KKM, dan kesulitan dalam menerima

pelajaran bahasa Jawa.

2. Objek Penelitian

Obyek penelitian adalah sumber diperolehnya data dari penelitian yang

dilakukannya. Dalam penelitian tindakan kelas ini obyek penelitiannya adalah

peningkatan aktivitas belajar siswa dan keterampilan menulis aksara Jawa melalui

model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament di SD Negeri

Nglengking Sleman.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan cara,

yaitu: observasi, dokumentasi, dan tes menulis aksara Jawa.

1. Observasi

Observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk

memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Efek dari suatu

intervensi (action) terus dimonitor secara reflektif, Suharsimi Arikunto, dkk

(2007: 127). Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang

47
penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament dan

aktivitas belajar siswa dalam proses belajar bahasa Jawa. Pengumpulan data

melalui observasi dilakukan oleh peneliti bersama dengan guru sebagai objek

observasi pada kelas yang akan dijadikan sampel untuk mendapatkan

gambaran secara langsung kegiatan belajar siswa [Link] dengan

teknik pengumpulan data yang digunakan tersebut, maka instrumen

pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi.

2. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-

barangtertulis. Suharsimi Arikunto (2010: 274) mengatakan metode

dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data mengenai

hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.

Data penelitian yang diperoleh dari studi dokumentasi berupa foto-

foto yang memberikan gambaran secara konkret mengenai aktivitas siswa

selama mengikuti proses pembelajaran, serta data berupa dokumen-dokumen

lain. Dokumen-dokumen tersebut misalnya data hasil belajar siswa pada

semester sebelumnya sebagai dasar untuk menentukan jumlah kelompok

dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament.

3. Tes Keterampilan Menulis

Tes peningkatan keterampilan menulis yaitu tes yang digunakan untuk

mengukur peningkatan seseorang dalam kegaiatan menulis aksara Jawa. Tes

dilakukan sesudah para siswa mempelajari materi yang telah diajarkan dan

kemudian dilakukan tes.

48
F. Prosedur Penelitian

Pada penelitian tindakan kelas ini prosedur penelitian merupakan tahapan-

tahapan yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data-data tentang

kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dan kompetensi yang dicapai siswa

pada mata pelajaran bahasa Jawa dengan pembelajaran kooperatif tipe Teams

Games Tournament (TGT). Secara rinci tahapan-tahapan yang akan dilakukan

adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra Tindakan

Kegiatan yang dilakasanakan pada tahap ini yaitu:

a. Observasi Awal

Observasi awal yaitu pengamatan lapangan terhadap siswa yang

akan dijadikan subjek penelitian dan mengamati pelaksanaan.

Pembelajaran bahasa Jawadi kelas. Pengamatan ini dilakukan untuk

mencari permasalahan yang ada di dalam kelas tersebut sehingga peneliti

dapat menentukan langkah penelitian selanjutnya. Langkah selanjutnya

yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada tentang

pelaksanaan pembelajaran bahasa Jawa di kelas V yang

dilakukan oleh guru dan siswa SD Negeri Nglengking.

2) Merencanakan pelaksanaan pemecahan masalah.

3) Mendiskusikan dengan guru tentang rencana tindakan meliputi:

a) Menyusun perangkat pembelajaran berupa Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP disusun oleh peneliti

dengan pertimbangan dari dosen dan guru yang

49
bersangkutan. RPP ini berguna sebagai pedoman guru

dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.

Sebelum RPP digunakan oleh guru, maka RPP diuji

validitas dan reliabilitas terlebih dahulu untuk mengetahui

apakah RPP yang disusun sudah valid dan reliable sebelum

digunakan untuk penelitian. RPP divalidasi oleh ahli model

pembelajaran.

b) Menyusun lembar observasi untuk mengetahui pelaksanaan

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams

Games Tournament (TGT) dan aktivitas belajar siswa pada

mata pelajaran bahasa Jawa. Lembar observasisebelum

digunakan untuk penelitian diuji validitas dan reliabilitas

untuk mengetahui apakah lembar observasi sudah valid dan

reliable sebelum digunakan untuk penelitian. Lembar

observasi divalidasi oleh ahli instrumen penelitian.

c) Menyusun soal tes untuk mengukur tingkat keterampilan

menulis aksara Jawa siswa. Soal tes tersebut dibuat dalam

bentuk essay, hal ini sesuai dengan tujuan dari penelitian

yaitu meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa.

b. Penentuan Kolaborator

Penelitian tindakan yang akan dilakukan membutuhkan

kolaborator yang mampu diajak bekerja sama secara langsung yaitu guru

Bahasa Jawa SD Negeri Nglengking , kolaborator antara peneliti dengan

50
guru untuk menghindari munculnya pandangan individualistik dengan

tujuan penelitian tindakan.

2. Tahap Tindakan

Tahap ini merupakan pelaksanaan dari semua rencana yang

telahdibuat. Seluruh tindakan dilakukan oleh guru sebagai kolaborator

peneliti. Tindakan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan belajar

bahasa Jawa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

Teams Games Tournament. Adapun implementasinya adalah sebagai berikut.

a. PraSiklus

Tahap pra siklus adalah tahap dimana siklus belum dimulai. Tahap

pra siklus dilakukan guna mengetahui kondisi awal dari subjek

penelitian. Pada tahap ini peneliti mengamati bagaimana jalannya

proses belajar mengajar di dalam kelas dapat berlangsung dan

menganalisis hal apa saja yang menyebabkan munculnya kelemahan-

kelemahanseperti halnya siswa kurang aktif dalam mengikuti proses

belajar mengajar dan rendahnya keterampilan menulis aksara Jawa

siswa.

b. Siklus I

Kegiatan yang dilakukan meliputi:

1) Perencanaan

Pada tahap ini, dilakukan penyusunan rencana tindakan berupa

penyiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT, yang meliputi:

(a) Peneliti dan guru menggali data awal karakteristik siswa

untuk memetakan para siswa berdasarkan keterampilannya

51
dan membagi siswa secara heterogen menjadi kelompok-

kelompok.

(b) Peneliti menyusun instrumen pengumpulan data, meliputi:

(i) Instrumen untuk mengobservasi guru dalam kegiatan

pembelajaran TGT (observing teacher).

(ii) Instrumen untuk observasi aktivitas belajar siswa

(observing students).

(iii) Instrumen penilaian keterampilan menulis aksara Jawa.

2) Tahap Tindakan

Pada tahap ini, dilaksanakan implementasi pembelajaran

kooperatif tipe TGT sesuai dengan rencana tindakan, kegiatan

yang dilakukan adalah sebagai berikut.

(a) Pendahuluan

(i) Salam pembuka dan doa

(ii) Presensi

(iii) Memberikan motivasi kepada siswa agar semangat

sebelum mengikuti pembelajaran

(iv) Memberikan apersepsi dengan menghubungan materi

yang akan diajarkan dengan kehidupan.

(v) Menyampaikan tujuan, garis besar pembelajaran serta

informasi pembelajaran yang akan dibahas dan akan

diterapkannya model pembejaran kooperatif tipe Teams

Games Tournament.

52
(b) Pelaksanaan

(i) Menyampaikan materi penulisan aksara jawa

menggunakan pasangannya. Pada awal pembelajaran,

guru menyampaikan materi dalampresentasi kelas,

biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung,baik

dengan ceramah atau diskusi yang dipimpin oleh guru.

Padasaat presentasi berlangsung, siswa harus benar-

benar memperhatikan dan memahami materi yang

disampaikan oleh guru.

(ii) Siswa dibagi dalam kelompok berdasarkan nilai sebelum

tindakan, setiap kelompok terdiri dari 4 siswa, satu siswa

mendapat peran pemimpin (ketua) bagi anggota

kelompoknya. Pada saat diskusi berlangsung, seluruh

anggota sebaiknya berbicara dengan suara yang pelan,

tidak boleh meninggalkan tugas selama bekerja dalam

kelompok, mendiskusikan tugas secara bersama-sama,

jika ada suatu pertanyaan di dalam kelompok tersebut.

Jika pertanyaan tidak bisa terjawabkan oleh salah satu

teman kelompok, bisa meminta penjelasan dari guru.

(iii) Melakukan permain setelah melakukan diskusi.

Permainan berupa tugas kelompok yaitu mengerjakan

tugas yang diberikan oleh guru berupa LKS. Dalam LKS

tersebut ada 5 butir soal yang harus dikerjakan oleh

anggota kelompok masing-masing. Tiap individu di

53
dalam kelompok diharapkan untuk mengerjakan satu

soal pertanyaan.

(iv) Melakukan turnamen yang biasanya dilakukan pada

akhir materi pembelajaran yang sedang dibahas dan

setelah siswa melakukan belajar dalam kelompok.

Turnamen ini berfungsi untuk mengetahui kelompok

mana yang bisa mendapatkan nilai yang terbaik.

Turnamen disini merupakan suatu pertandingan antar

kelompok yang berbeda. Siswa berebut untuk menjawab

pertanyaan dari guru. Masing-masing siswa dalam

kelompok harus benar-benar siap untuk menjawab

pertanyaan karena akan mempengaruhi skor yang akan

didapatkan.

(v) Penghargaan terhadap kelompok setelah mampu dan

mendapatkan nilai tertinggi mengikuti model TGT.

Kelompok mendapatkan sertifikat penghargaan atau

bentuk penghargaan lainnya sesuai dengan kriteria yang

telah ditentukan. Pemberian penghargaan kelompok

dapat ditentukan berdasarkan skor kelompok yang

didapat yaitu dengan menjumlah poin yang diperoleh

pada skor lembar turnamen setiap anggotanya, dan

kemudian dicari skor rata-rata.

(vi) Melakukan observasi yang dilaksanakan bersamaan

dengan tahap tindakan. Pada tahap ini peneliti

54
mengadakan pengamatan atas dampak danhasil dari

pelaksanaan tindakan, yaitu keterampilan menulis aksara

Jawa siswadalam proses pembelajaran. Keterampilan

menulis aksara Jawa siswa tampak dariketepatan dan

kebenaran menulis aksara Jawa.

(vii) Data yang diperoleh pada observasi kemudian dianalisis

hasilnya untuk melihat peningkatan keterampilan

menulis dan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran

menulis aksara jawa dengan menggunakan model

Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT, kemudian dilakukan

diskusi antara peneliti dan guru. hasil evaluasi tersebut

akan diperoleh tingkat keberhasilan pembelajaran bahasa

Jawa dengan menerapkan model pembelajarantipe TGT.

Permasalahan yang muncul itulah yang akan dijadikan

sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang untuk

memperbaiki rancangan yang akan dilaksanakan pada

siklus selanjutnya sehingga mencapai suatu hal yang

maksimum.

(c) Penutup

(i) Guru dan siswa secara bersama-sama menyimpulkan

kegiatan pembelajaran.

(ii) Guru memberikan evaluasi pembelajaran dan hasilnya

diserahkan kepada guru.

(iii) Guru memberikan pesan dan amanah kepada siswa.

55
(iv) Guru menutup pembelajaran dengan berdoa dan salam

penutup.

2. Siklus 2

Tahap-tahap dan kegiatan pada siklus kedua pada dasarnya sama

dengan siklus pertama, hanya yang membedakan adalah

tindakannya. Pada siklus kedua ini tindakan ditentukan berdasarkan

hasil refleksi siklus pertama.

G. Instrumen Penelitian.

Instrumen pada umumnya dibedakan menjadi dua macam yaitu instrumen

yang berbentuk tes untuk mengukur prestasi belajar dan instrumen nontest untuk

mengukur sikap. Instrumen dalam penelitian tindakan kelas ini terbagi menjadi

tiga, yaitu: lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas

belajar siswa, dan tes pencapaian hasil belajar siswa.

1. Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran

Observasi dalam penelitian dilakukan untuk mengamati jalannya

pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Observasi digunakan

untuk mengumpulkan data tentang segala sesuatu yang terjadi selama

berlangsungnya tindakan penelitian melalui penerapan model

pembelajaran Teams Games Tournament, antara lain, meningkatkan

aktivitas belajar siswa dan keterampilan menulis aksara Jawa siswa.

Adapun kisi-kisi instrumen observasi dalam pelaksanaan

pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Teams Games

Tournament adalah sebagai berikut.

56
Tabel 11 Kisi-Kisi Instrumen Lembar Observasi Guru dalam
Pelaksanaan Pembelajaran Model Pembelajaran Teams Games
Tournament.
No Aspek yang diamati Jumlah No.
butir Butir
1. Membuka pelajaran 3 1,2,3
2. Menyampaikan materi ajar 2 4,5
3. Memberikan siswa kesempatan untuk bertanya 1 6
mengenai hal-hal yang belum dipahami.
4. Membimbing siswa membentuk kelompok 1 7
5. Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan 1 8
6. Membimbing siswa mengerjakan LKS sebagai 1 9
game.
7. Melakukan pembahasan LKS dan penilaian 2 10,11
8. Menjelaskan aturan turnamen. 1 12
9. Membimbing dan mengawasi siswa melakukan 1 13
turnamen.
10. Melakukan penilaian/penyekoran akhir dari game 1 14
dan turnamen siswa
11. Memberikan penghargaan kepada kelompok yang 1 15
memiliki nilai tertinggi.
12. Membimbing siswa dalam menyimpulkan materi 1 16
yang telah dipelajari
13. Menutup pembelajaran. 2 17,18
Jumlah 18

Kisi-kisi tersebut di atas sesuai dengan Peraturan Menteri

PendidikanNasional Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2007 tentang

Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

2. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Selain lembar Observasi pelaksanaan pembelajaran, juga

disiapkan lembar observasi aktivitas belajar siswa yang digunakan untuk

mengetahui seberapa besar aktivitas belajar siswa selama pembelajaran

dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament

berlangsung. Aktivitas belajar siswa diukur dari seberapa besar peran dan

partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berikut adalah kisi-kisi

lembar observasi aktivitas belajar siswa.

57
Tabel 12 Kisi-Kisi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas belajar bahasa
Jawa Siswa Kelas V Menggunakan Model Pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT).
No Aspek yang diamati Jumlah No
butir Butir
1. Mengemukakan pengetahuan awal tentang materi 1 1
aksara Jawa.
2. Memperhatikan penjelasan guru tentang materi 2 2,3
aksara Jawa.
3. Bertanya kepada guru jika ada materi yang belum 1 4
dipahami siswa.
4. Membentuk kelompok dengan bimbingan guru. 1 5
5. Berdiskusi mengerjakan LKS yang berupa game. 2 6,7
6. Mempresentasikan hasil diskusi 1 8
7. Menanggapi teman yang sedang memaparkan hasil 1 9
diskusi.
8. Mendengarkan penjelasan guru tentang aturan 1 10
turnamen akademik.
9. Melakukan turnamen akademik 11
10. Menghitung skor yang diperoleh dari individu 1 12
maupun kelompok.
Jumlah 12

3. Lembar Penilaian Keterampilan Menulis Aksara Jawa

Penilaian keretampilan menulis aksara Jawa digunakan pada

penelitian ini adalah tes tertulis. Bentuk tes yang diberikan berupa soal

individual. Soal individu berupa soal yang berisi kata, frasa, klausa, dan

kalimat sederhana. Alat tes yang digunakan berisi lembar soal menulis

kalimat sederhana aksara Jawa. Berikut merupakan kisi-kisi pembuatan

soal tes keterampilan menulis aksara Jawa.

Tabel 13 Kisi-kisi Post- test Keterampilan Menulis Aksara Jawa.


No Indikator Jumlah No
soal soal
1. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 1,2
bersandhangan panyigeg, swara, dan wyanjana.
2. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 3,4
berpasangan.
3. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 5,6
bersandhangan dan berpasangan.

58
No Indikator Jumlah No
soal soal
4. Menulisfrasa menggunakanaksaraJawa yang 2 7,8
bersandhangan panyigeg, swara, dan wyanjana.
5. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa yang 2 9,10
bersandhangan dan berpasangan
6. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang 2 1,2
bersandhangan panyigeg, swara, dan wyanjana.
7. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang 3 3,4,5
bersandhangan dan berpasangan.
8. Menulis kalimat sederhana menggunakan aksara 2 7,8
Jawa yang bersandhangan.
9. Menulis kalimat sederhana menggunakan aksara 3 9,10
Jawa yang bersandhangan dan berpasangan.

Pedoman penilaian keterampilan siswa dalam menulis aksara Jawa

dengan menggunakan Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games

Turnament dijadikan sebagai patokan guru dalam memberikan penilaian

menulis aksara Jawa siswa. Setiap guru bahasa memilik pedoman

tersendiri dalam menilai hasil menulis aksara Jawa yang dilakukan oleh

siswa. Peneliti bersama guru membuat pedoman penilaian keterampilan

menulis aksara Jawa. Pedoman penilaian ini menggunakan skor yang

dikategorikan sangat baik, baik, cukup dan kurang. Adapun pedoman

penilaian menulis aksara Jawa sebagai berikut.

Tabel 14 Pedoman Penilaian Keterampilan Menulis Aksara Jawa


Aspek Skor
4 3 2 1
Menulis kata, Apabila 4 suku Apabila 3 suku Apabila 2 suku Apabila 1suku
frasa, dan kata pada kata, kata pada kata, kata pada kata, kata, frasa,
klausa frasa, dan frasa, dan frasa, dan dan klausa
menggunakan klausa dengan klausa dengan klausa dengan dengan
aksara Jawa menggunakan menggunakan menggunakan menggunaka
yang sandhangan sandhangan sandhangan sandhangan
bersandhangan panyigeg, panyigeg, panyigeg, panyigeg,
panyigeg, swara, dan swara, dan swara, dan swara, dan
swara, dan wyanjana wyanjana wyanjana wyanjana
wyanjana. ditulis dengan ditulis dengan ditulis dengan ditulis dengan
benar. benar benar benar.

59
Aspek Skor
4 3 2 1
Menulis Apabila 4 kata Apabila 3 kata Apabila 2 kata Apabila 1 kata
kalimat pada kalimat pada kalimat pada kalimat pada kalimat
sederhana beraksara Jawa beraksara Jawa beraksara Jawa beraksara
menggunakan yang yang yang Jawa yang
aksara Jawa menggunakan menggunakan menggunakan menggunakan
yang sandhangan sandhangan sandhangan sandhangan
bersandhangan. swara, swara, swara, swara,
panyigeg ditulis panyigeg ditulis panyigeg ditulis panyigeg
dengan benar. dengan benar. dengan benar. ditulis dengan
benar.
Menulis Apabila 4 kata Apabila 3 kata Apabila 2 kata Apabila 1 kata
kalimat pada kalimat pada kalimat pada kalimat pada kalimat
sederhana beraksara Jawa beraksara Jawa beraksara Jawa beraksara
menggunakan yang yang yang Jawa yang
aksara Jawa menggunakan menggunakan menggunakan menggunakan
yang sandhangan sandhangan sandhangan sandhangan
bersandhangan dan dan dan dan
dan berpasangan berpasangan berpasangan berpasangan
berpasangan ditulis dengan ditulis dengan ditulis dengan ditulis dengan
benar. benar. benar. benar.

Pedoman penilaian menulis aksara Jawa tersebut disesuaikan dengan

materi ajar yang ada di SD Negeri Nglengking. Pedoman penilaian tersebut

juga bertujuan untuk mempermudah guru dalam memberikan penilaian menulis

aksara Jawa yang dilakukan oleh siswa karena jumlah aksara Jawa yang

berbeda di setiap soal, sehingga dibuat pedoman penilaian menulis aksara Jawa.

Tabel 15 Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis aksara Jawa


No Kategori Nilai
1. Sangat baik 85-100
2. Baik 75-84
3. Cukup 65-74
4. Kurang <65
Sumber. Penilaian SD Negeri Nglengking

H. Teknik Analisis Data

Pada penelitian tindakan kelas, analisis data yang dilakukan oleh peneliti

telah dilakukan sejak awal penelitian. Analisis tersebut dilakukan pada setiap

aspek dan proses kegiatan penelitian. Pada waktu dilakukan pencatatan lapangan

60
melalui observasi atau pengamatan tentang kegiatan pembelajaraan di kelas,

peneliti akan langsung menganalisis situasi atau suasana kelas. Pada pelaksanaan

penelitian tindakan kelas ini, data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif

yaitu mengklasifikasikan data menjadi dua kelompok yaitu data kualitatif dan

kuantitatif.

a. Teknik Analisis Data Kualitatif

Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif.

Data kualitatif diperoleh dari instrumen nontes berupa lembar observasi

dan catatan lapangan. Data kualitatif, yaitu data yang berupa informasi

berbentuk kalimat yang menggambarkan ekspresi siswa terhadap mata

pelajaran, pandangan atau sikap siswa terhadap metode belajar yang baru,

aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran, perhatian dan antusiasme,

motivasi, dan lain-lain. Data kualitatif ini dianalisis dengan teknik

analisis deskriptif kualitatif yang mencangkup hasil pengamatan

observasi dan catatan lapangan. Analisis data kualitatif digunakan untuk

mendeskripsikan tindakan yang telah dilakukan dalam meningkatkan

keterampilan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD Negeri Nglengking

menggunakanmodel kooperatif tipe Teams Games Tournament.

b. Teknik Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif berupa hasil belajar keterampilan menulis aksara

Jawa secara kognitif, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis

deskriptif dengan menentukan presentasi ketuntasan belajar dan mean

(rata-rata) kelas. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam

bentuk presentasi dan angka dengan mengacu pada referensi.

61
1) Rumus untuk menghitung persentase ketuntasan belajar adalah

sebagai berikut.

∑ � �
P= %
∑ ℎ

P = Presentase ketuntasan siswa

Sumber: Riduwan (2006: 70)

2) Penilaian keterampilan menulis aksara Jawa.

Keterangan:

X = Nilai rata-rata

∑X = Jumlah semua nilai siswa

∑N = Jumlah siswa Sumber: Riduwan (2006: 104)

Penghitungan presentase dengan menggunakan rumus di atasharus

sesuai dan memperhatikan kriteria ketuntasan belajar siswaKelas V di SD

Negeri Nglengking yang dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu

tuntas dan tidak tuntas dengan kriteria sebagai berikut.

Tabel 16 Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran Bahasa Jawa.


Kriteria Ketuntasan Kualifikasi
≥65 Tuntas
<65 Tidak tuntas
Sumber. KKM SD Negeri Nglengking

Nilai ketuntasan belajar mata pelajaran bahasa Jawa di SD Negeri

Nglengking adalah ≥65. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila 75%

dari jumlah siswa mendapatkan nilai ≥65.

62
Tabel 17 Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran Aktivitas Siswa
No Tingkat Keberhasilan Predikat Keberhasilan
1. 86 - 100% Sangat tinggi
2. 71 - 85% Tinggi
3. 56 - 70 % Sedang
4. 41 - 55 % Rendah
5. < 40% Sangat rendah
Rentang 15%
Sumber: Zainal Aqib (2009: 41)

Setelah diperoleh nilai hasil aktivitas siswa dan kinerja guru, kemudian nilai

observasi tersebut dikategorikan dengan kriteria hasil observasi pada tabel di

bawah ini.

Tabel 18 Kriteria Hasil Aktivitas Siswa


Tingkat Keberhasilan Kategori
N>80 Sangat Aktif
61-80 Aktif
41-60 Cukup Aktif
21-40 Kurang Aktif
<20 Pasif
Sumber. Suharsimi Arikunto (2007: 44)

I. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan setiap siklus dinyatakan berhasil apabila terjadi

perubahan proses yang ditunjukan dengan adanya peningkatan aktivitas

belajar dan keterampilan menulis aksara Jawa pada siswa. Penelitian ini

dikatakan berhasil apabila jumlah siswa mencapai peningkatan aktivitas

belajar dan keterampilan menulis aksara Jawa ≥75%. KKM ditentukan

dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan Kompetensi Dasar menulis

kalimat aksara Jawa, daya dukung sekolah dan keterampilan guru, serta

dengan mempertimbangkan keterampilan siswa.

63
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian Tahap Awal (Pra Siklus)

Penelitian ini diawali dengan mencari data nilai keterampilan menulis

Aksara Jawa siswa kelas V SD N Nglengking Minggir, Kabupaten Sleman

sebelum melaksanakan penelitian pada siklus I. Kegiatan dilanjutkan dengan

tindakan awal, yaitu melakukan wawancara dengan guru serta siswa dan observasi

pembelajaran keterampilan menulis aksara Jawa tanpa menerapkan model

pembelajaranTeams Games Tournament untuk mengetahui ada tidaknya

peningkatan keterampilan menulis aksara Jawa pada siswa kelas V. Penelitian

tahap awal dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang nantinya

digunakan sebagai pembanding data penelitian yang diperoleh sesudah penerapan

model pembelajaran Teams Games Tournament.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi ditemukan bahwa materi

Bahasa Jawa yang menjadi kesulitan bagi siswa-siswi kelas V adalah menulis

aksara Jawa serta. Aksara Jawa dianggap sulit oleh siswa karena banyaknya

jumlah aksara belum dengan pasangan maupun sandhangan dan guru tidak

memiliki banyak waktu untuk mengajarkan aksara Jawa. Guru dalam

pembelajaran juga masih menggunakan metode konvensional, sehingga proses

pembelajaran bersifat monoton dan siswa cenderung pasif. Akibatnya hasil belajar

yang dicapai siswa dalam pembelajaran menulis aksara Jawa masih rendah. Guru

juga menjelaskan bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan dalam menulis

aksara Jawa. Peneliti kemudian melakukan pre-test menulis aksara Jawa kepada

64
setiap siswa yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menulis

aksara Jawa. Berikut ini adalah data nilai pre-test menulis aksara Jawa di kelas V.

Tabel 19 Nilai Pre-test Pra Tindakan Menulis Aksara Jawa Kelas V


No Nama siswa Nilai keterangan
(Inisial) Tuntas Tidak
Tuntas
1. SW - - -
2. LRA 12.5 - 
3. ADP 90  -
4. EMS 85  -
5. FFH 50 - 
6. FNA 70  -
7. MRR 95  -
8. NVA 60 - 
9. NA 60 - 
10. PDMS 47,5 - 
11. SDR 27,5 - 
12. SAK 57,5 - 
13. SNS 90  -
Jumlah 745 5 7
Rata-rata 62,08
Nilai Tertinggi 95 - -
Nilai Terendah 12,5
Ketuntasan 41,7% 58,3 %

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa baru 5 siswa yang telah

memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sedangkan 7 siswa lainnya

belum memenuhi KKM. Presentase untuk tingkat ketuntasan sebesar 41,7% dan

yang tidak tuntas 58,3%. Berikut ini adalah diagram batang mengenai hasil pre-

test menulis aksara Jawa siswa kelas V SD N Nglengking

65
Nilai Menulis Aksara Jawa Pre-test
Siswa Kelas V
70,0%
Presentase Ketuntasan

60,0%
50,0%
40,0%
30,0%
20,0%
10,0%
0,0%
Tuntas Tidak Tuntas
Pra Siklus 41,7% 58,3%

Gambar 4 Hasil Tingkat Ketuntasan Pre-test Menulis Aksara Jawa

Berdasarkan gambar di atas, siswa yang telah memenuhi KKM baru 5

siswa, yaitu ADP, EMS, FNA, MRR, dan SNS. Nilai rata-rata kelas dihitung

darijumlah keseluruhan nilai siswa adalah 62.08. Sebanyak 5 (41,7%) mendapat

nilai di atas nilai kriteria ketuntasan minimal, sedangkan 7 (58,3%) siswa

mendapatkan nilai kurang dari 65. Hasil rata-rata seluruh kelas menunjukan

bahwa nilai untuk menulis aksara Jawa masih di bawah Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM) yaitu 65. Nilai 65 merupakan nilai kriteria ketuntasan minimal

pada mata pelajaran bahasa Jawa yang ditetapkan sekolah, dengan melihat hasil

yang diperoleh siswa, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya

meningkatkan kemampuan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD N Nglengking

dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament sehingga

ketuntasan kelas dapat tercapai, yaitu setidak-tidaknya 75% dari jumlah

keseluruhan siswa dengan nilai ≥ 65. Jika belum mendapatkan 75% maka

pembelajaran tersebut dikatakan belum mencapai kriteria ketuntasan.

66
Data yang diperoleh dari melakukan pre-test, dijadikan peneliti dalam

menentukan kelompok belajar siswa pada pertemuan pertama siklus I. Siswa

dibentuk dalam beberapa kelompok asal. Pembentukan kelompok asal secara

heterogen (berdasarkan jenis kelamin dan tingkat kemampuan akademiknya). Hal

ini dimaksudkan untuk mengajarkan siswa saling menerima perbedaan dan

menjadikan perbedaan itu sebagai suatu kekuatan. Pembentukan kelompok asal

dalam kegiatan pembelajaran pertama dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 20 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Pertama


Kategori Kode Jenis Nilai Tes Nama kelompok
Siswa Kelamin Awal
Siswa MRR L 95 Gareng
berkemampuan
SNS L 90 Bagong
akademik tinggi.
ADP P 90 Semar
Siswa EMS P 85 Gareng
berkemampuan
FNA L 70 Bagong
akademik sedang I
NA P 60 Semar
Siswa NVA P 60 Gareng
berkemampuan
SAK P 57,5 Bagong
akademik sedang II
FFH L 50 Semar
Siswa PDMS P 47,5 Gareng
berkemampuan
SDR P 27,5 Bagong
akademik rendah I
LRA L 12,5 Semar
Siswa SW L - Gareng
berkemampuan
akademik rendah II

67
B. Pelaksanaan Tindakan

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, yaitu siklus I dan siklus

II. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 23, 30, 6, dan 8 April 2016. Siklus I

terdiri dari dua pertemuan, siklus II terdiri dari dua pertemuan. Penentuan jumlah

pertemuan pada setiap siklus disesuaikan dengan silabus Bahasa Jawa yang

digunakan oleh guru kelas V SD Negeri Nglengking. Berikut ini pemaparan

mengenai hasil penelitian tindakan siklus I dan siklus II yang dilakukan di SD

Negeri Nglengking.

1. Penelitian Siklus I

a. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan disusun dan dilakukan agar penelitian tindakan

dapatterlaksana dengan lancar. Berikut ini adalah beberapa hal yang

dilakukan penelitibersama guru dalam kegiatan perencanaan.

1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi

yang telah disepakati oleh peneliti dan guru yaitu menulis kalimat

sederhana beraksara Jawa menggunakan pasangan. RPP disusun

disesuaikan dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model

pembelajaran Teams Ganes Tournament. RPP yang telah disusun

kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. RPP yang telah

disusun selanjutnya dijadikan pedoman dalam melaksanakan

pembelajaran bahasa Jawa di kelas.

2) Menyiapkan soal dan kunci jawaban untuk pre-test dan post-test, serta

soal yang akan dicantumkan dalam kartu soal dan kartu jawaban yang

digunakan dalam pembelajaran bahasa Jawa menggunakan model

68
pembelajaran Teams Games Tournament, baik untuk sikuls I maupun II.

Soal yang dibuat kemudian dikonsultasikan pada dosen pembimbing dan

guru kelas.

3) Peneliti menyiapkan hadiah yang diberikan sebagai bentuk penghargaan

terhadap kelompokyang menang, yang telah berpartisipasi dalam

pelaksanaan pembelajaran TGT.

4) Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa yang

digunakan sebagai pedoman pengamatan selama proses pembelajaran

bahasa Jawa menggunakan model Teams Games Tournament

berlangsung. Lembar observasi guru dan siswa digunakan untuk

mengamati keterlaksanaan model Teams Games Tournament dalam

pembelajaran.

5) Mempersiapkan kamera untuk dokumentasi.

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Pelaksanaan siklus I terdiri dari dua kali pertemuan. Setiap pertemuan

dilakukan pada hari Sabtu disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran Bahasa Jawa

di kelas V SD Negeri Nglengking. Observasi dilakukan dengan berpedoman pada

lembar observasi yang telah disiapkan. Pertemuan pertama siklus I dilaksanakan

pada hari Sabtu tanggal 23 April 2016 mulai pukul 07.00 – 08.20 WIB. Jumlah

siswa yang hadir sebanyak 12 siswa, 1 siswa tidak hadir karena sudah hampir satu

bulan tidak berangkat sekolah, namun masih berstatus siswa di SD N Nglengking.

Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti berperan sebagai observer dibantu

dengansatu teman sejawat, sedangkan yang memberi pembelajaran adalah guru

bahasa Jawa. Berikut ini deskripsi dari pelaksanaan tindakan siklus I.

69
1) Siklus I Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu 23 April

2016. Durasi waktu pembelajaran setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit yaitu

pukul 07.00 – 8.10 WIB. Guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai

dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Adapun proses

pembelajarannya adalah sebagai berikut.

a) Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran bahasa Jawa dimulai setelah siswa

melakukan Tadarus. Hal pertama yang dilakukan oleh guru setelah

membuka pelajaran adalah mengondisikan kelas agar siap mengikuti

pembelajaran. Guru kemudian melakukan apersepsi dengan

menunjukkan menceritakan cerita Ajisaka yang merupakan sejarah dari

Hanacara. Pada saat guru menceritakan Ajisaka, salah satu siswa yaitu

ADP sudah mengetahui cerita tersebut dan guru memintanya untuk

menceritakan. Guru selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran

yaitu agar siswa mampu menulis kalimat sederhana Aksara Jawa yang

bersandhangan dan berpasangan. Selain itu guru juga memberikan

gambaran mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games

Tournament (TGT). Pertemuan pertama pada siklus I ini, materi

difokuskan pada menulis kata aksara Jawa menggunakan sandhangan

dan pasangan terlebih dahulu. Proses kegiatan menulis kalimat beraksara

Jawa dilakukan secara bertahap dimulai dari kata, frasa, klausa, dan

terakhir kalimat sederhana.

70
b) Kegiatan Inti

(1) Presentasi Kelas

Kegiatan inti diawali dengan guru bersama siswa bertanya

jawab macam-macam aksara Jawa, sandhangan, dan pasangan. Ada

2 siswa yaitu LRA dan SDR belum hafal semua aksara Jawa. Guru

menunjukan media aksara Jawa beserta pasangannya agar

mempermudah siswa dalam menghafalnya. Kegiatan selanjutnya

siswa diberikan contoh kata menggunakan aksara Jawa yang

bersandhangan panyigeg dan swara yaitu sawah (s w h ), uwong

(a u[ w =
o ), dan marang (m r = ). Guru kemudian memberikan

contoh penggunaan pasangan aksara Jawa legena tanpa sandhangan,

yaitu pada kata pandhawa (p n D


w . Guru juga menerangkan bahwa

penulisan pasangan aksara Jawa ada yang ditulis di samping aksara

legena yaitu pasangan aksara ha, sa, pa (H , S , dan P ) sementara

yang lainnya dituliskan pada bawah aksara legena.

Perwakilan siswa diminta oleh guru untuk maju menuliskan

kata menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan

berpasangan. Dua orang siswa yaitu ADP dan SNS masing-masing

71
menuliskan kata kanthi (k n Q
i ) serta mendhong ([ m [ n D
=
o ), kedua

siswa tersebut benar dalam menuliskan aksara Jawa.

(2) Team (Pembentukan Kelompok)

Guru selanjutnya membagi siswa secara heterogen menjadi

tiga kelompok yang telah disusun. Masing-masing kelompok

beranggotakan empat siswa dan meminta siswa supaya posisi duduk

harus berkelompok sesuai dengan kelompoknya untuk mengerjakan

tugas dari guru.

(3) Game (Mengejakan LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berupa [Link] Kerja

Siswa (LKS) pada pertemuan pertama siklus I masing-masing

kelompok mencari kata yang ada dalam papan “tembung”. Kata-kata

yang harus ditemukan siswa berupa nama tempat, nama wayang,

maupun salah satu tembang macapat. Kata-kata yang sudah dicari

kemudian ditulis dalam aksara Jawa. Guru memberi waktu kepada

setiap kelompok 10 menit untuk berdiskusi menyelesaikan soal yang

berjumlah 5 butir. Guru membimbing dan mengawasi jalannya

diskusi serta menjawab beberapa pertanyaan siswa yang masih

kebingungan dengan bagaimana menemukan kata dalam papan

tembung. Guru sesekali mengingatkan sisa waktu diskusi karena ada

beberapa siswa yang mengganggu kelompok lain ketika sedang

mengerjakan.

72
Siswa bersama guru membahas hasil LKS bersama dan

menawarkan kepada siswa siapa yang ingin maju untuk menuliskan

hasil diskusinya bersama kelompok. Ada 5 siswa yang maju untuk

menuliskan hasil jawabannya yaitu ADP, EMS, NA, FFH, dan SDR.

ADP mendapatka kata dhandhanggula namun kelompok tersebut

salah dalam menuliskan pasangangan d n F


=
g ul pasangan da

tersebut kurang tepat digunakan karena kata dhandhanggula

menggunakan pasangan dha, yang benar d n D


=
g ul . EMS, NA,

FFH, DAN SDR masing–masing menuliskan kata nama wayang

Gatotkaca (g [ t ot K
c ), Pangandaran (p z n F
r n \ ), Sidomukti

(s i[ f om uk T
i), dan Purworejo (p u/[ w ox [ j o). Pada kata

Purworejo, siswa sudah paham bahwa huruf aksara rê r e diganti

dengan huruf pa ceret menjadi x . Siswa telah diajarkan terlebih

dahulu oleh guru kelas. Siswa diminta untuk menghitung nilai yang

mereka peroleh. Setiap nomor yang benar akan mendapatkan nilai 4

73
sesuai dengan pedoman penilaian menulis kalimat aksara Jawa. LKS

kemudian dikumpulkan pada guru.

(4) Turnamen Akademik

Kegiatan yang dilakukan setelah siswa mengerjakan LKS

berupa game, siswa melakukan turnamen akademik yang dipandu

oleh guru bahasa Jawa. Guru terlebih dahulu menjelaskan aturan

turnamen akademik. Anggota kelompok akan bertanding dengan

masing-masing anggota dari kelompok lain dengan kemampuan

akademik yang setara. Mereka bertanding di meja turnamen. Meja

turnamen yang disediakan ada empat. Berikut merupakan pembagian

meja turnamen.

Tabel 21 Pembagian Kelompok untuk Turnamen I


Meja turnamen 1 Meja turnamen 2 Meja turnamen 3 Meja turnamen 4
(siswa (siswa (siswa (siswa
berkemampuan berkemampuan berkemampuan berkemampuan
akademik tinggi) akademik sedang akademik sedang akademik rendah)
I) II)
MRR EMS NVA PDMS
SNS FNA SAK SDR
ADP NA FFH LRA
SW

Siswa yang berada dalam meja turnamen 1,2,3, maupun 4

mendapat peran masing-masing. Ada yang bertugas sebagai

pembaca soal sekaligus pembuka kunci jawaban, penantang I,

pantang II, dan seterusnya sesuai dengan jumlah anggota. Pembaca

soal bertugas membacakan soal, mengerjakan soal, kemudian

membuka jawaban sedangkan penantang I atau II bertugas

memgerjakan soal. Soal yang disediakan sesuai dengan undian yang

74
dilakukan sebelum memulai turnamen. masing-masing siswa

mendapatkan nomor undian, nomor tersebut merupakan nomor soal

yang akan dibawa ke meja turnamen. Siswa yang mendapatkan

nomor tertinggi bertugas untuk membacakan soal terlebih dahulu

dilanjutkan dengan nomor tertinggi ke dua, dan seterusnya. Setiap

meja turnamen yang berisi tiga siswa akan mengerjakan tiga soal

sesuai dengan nomor undian. Soal yang sudah dikerjakan langsung

diberikan nilai/poin. Poin tersebut nantinya akan dikumpulkan

dengan anggota lain sesuai dengan kelompok awal. Siswa berlomba-

lomba mengumpulkan poin yang banyak. Turnamen akademik ini

diawasi oleh guru, dibantu dengan peneliti. Peneliti juga membantu

siswa dalam mengoreksi maupun menilai. Guru memberi waktu

kepada 10 menit untuk bertanding dan mengingatkan sisa waktu.

Siswa yang sudah selesai mengerjakan soal turnamen akan

kembali ke kelompok masing-masing dan menjumlahkan seluruh

nilai yang diperoleh. Kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi

mendapatkan penghargaan dari guru. Pertemuan pertama siklus I,

kelompok yang berhasil memperoleh nilai terbaik adalah kelompok

Gareng. Turnamen ini dapat mengukur kemampuan siswa dalam

menulis aksara Jawa karena dilakukan secara individual. Siswa yang

belum mampu menulis aksara Jawa dengan baik dan benar akan

terlihat. Hasil nilai yang diperoleh oleh siswa sebagai berikut.

75
Tabel 22 Hasil Nilai yang Diperoleh Kelompok pada Turnamen I
Kelompok Nama Skor Skor Rata-rata keterangan
Siswa Total Skor
(Inisial)
Gareng MRR 60
EMS 40
NVA 40 180 45 Tim Baik
PDMS 40
SW -
Bagong SNS 40 160
FNA 60 40 Tim Baik
SAK 40
SDR 20
Semar ADP 60 140
NA 40 35 Tim Baik
FFH 40
LRA 0

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa semua

kelompok mendapat julukan sebagai ”Tim Baik”, namun kelompok

Gareng mendapatkan total nilai yang tertinggi yaitu 180 dengan rata-

rata 45 dibandingkan dengan kelompok lain. Kelompok Bagong

menjadi juara kedua dan disusul oleh Kelompok Semar.

(5) Penghargaan Tim

Guru memberikan penghargaan terhadap tim yang

memenangkan turnamen pada pertemuan pertama. Perhargaan

terhadap kelompok tersebut berupa hadiah yang sudah disiapkan

oleh guru. Guru hanya membarikan hadiah kepada kelompok yang

memiliki total nilai tertinggi. Hal tersebut dimaksudkan agar

kelompok lain yang belum mendapatkan nilai tertinggi berlomba-

lomba memenangkan turnamen pada pertemuan selanjutnya.

76
c) Kegiatan Penutup

Guru bertanya kepada siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan

menyimpulkan pembelajaran yang telah [Link] memberi

motivasi kepada siswa untuk terus belajar menulis aksara Jawa. Pelajaran

kemudian ditutup dengan doa dan salam.

2) Siklus I Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 April 2016.

Durasi waktu pembelajaran setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit yaitu pukul

07.00-08.20 WIB. Adapun proses pembelajarannya adalah sebagai berikut.

a) Kegiatan Awal

Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan semua

siswa menjawab dengan kompak. Guru mengondisikan siswa terlebih

dahulu sebelum pembelajaran dimulai karena suasana kelas masih gaduh.

Guru selanjutnya memberikan apersepsi dengan bernyanyi bersama siswa

lagu “Hanacaraka”. Guru selanjutnya menyampaikan tujuan

pembelajaran yaitu agar siswa mampu menulis frasa Aksara Jawa yang

bersandhangan dan berpasangan. Selain itu guru juga memberikan

gambaran mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games

Tournament (TGT).

b) Kegiatan Inti

(1) Presentasi Kelas

Sebelum pembelajaran bahasa Jawa dimulai siswa dijelaskan

terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan frasa. Frasa merupakan

77
gabungan dua kata atau lebih yang di antara kedua kata itu tidak ada

yang berkedudukan sebagai predikat dan hanya memiliki satu makna.

Guru kemudian memberikan contoh frasa dalam bahasa Jawa

yaitu Gajah Mungkur(g j h m u=


k u/ ). Gajah Mungkur tersebut

berpola sebagai subyek saja atau dalam bahasa Jawa disebut jejer

dan tidak ada predikatnya. Siswa mulai memahami apa yang

dimaksud dengan frasa, dibuktikan dengan guru meminta tiga siswa

untuk mencari frasa. ADP menjawabJangan Gori ( j z [ n G


o r i),

MRK menjawab Gunung Merapi (g un u= m er p i), dan EMS

menjawab Kali Oyo (k l i [ a o[ y o ). Guru memberikan contoh

lagi secara bertahap. Pertama guru memberikan contoh frasa yang

bersandhangan tanpa berpasangan, yaitu lagi nyapu (l g i v p u ),

frasa tersebut mengandung unsur predikat saja atau wasesa dalam

bahasa Jawa. Kedua guru memberikan contoh frasa yang

bersandhangan serta berpasangan. Siswa meminta tiga siswa maju

untuk menuliskan apa yang diperintahkan oleh guru. Frasa tersebut

78
adalah sendal jepit (s en F
l Jep it \ ), pasar kembang (p s / k em B
=
),

dan buku tulis (b uk u t ul is \ ), sedangkan siswa yang maju

adalah FFH, SDR, dan MRR. Kesalahan penulisan terjadi pada

penulisan pasar kembang yang telah dikerjakan oleh FFH, FFH

menuliskan (p s r K
em B
z \ ). Jika dibaca aksara Jawa tersebut juga

berbunyi pasar kembang, namun untuk aksara paten r , z ,a

digantikan dengan sandhangan bunyi konsonan atau disebut

sandhangan panyigeg. Siswa membetulkan hasil pekerjaannya.

Setelah guru menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa, guru

membentuk kelompok belajar untuk pertemuan kedua ini.

(2) Pementukan Kelompok (Tim)

Pembentukan kelompok yang dibuat oleh guru berdasarkan

hasil belajar siswa dari melakukan turnamen akademik. Kelompok

yang dibuat berbeda dengan kelompok pada pertemuan pertama.

Jumlah kelompok yang dibuat ada tiga dan masing-masing

kelompok berjumlah 4 siswa. Kelompok ini akan menjadi kelompok

awal untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) II.

79
Pembentukan kelompok asal dalam kegiatan pembelajaran kedua

dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 23 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Kedua


Kategori Kode Jenis Poin Nama kelompok
Siswa Kelamin Turnamen
Siswa FNA L 60 Gareng
berkemampuan
ADP L 60 Bagong
akademik tinggi.
MRR L 60 Semar
Siswa EMS P 40 Gareng
berkemampuan
FFH P 40 Bagong
akademik sedang I
SNS P 40 Semar
Siswa PDMS P 40 Gareng
berkemampuan
NA P 40 Bagong
akademik sedang II
SAK P 40 Semar
Siswa NVA L 40 Gareng
berkemampuan
SDR P 20 Bagong
akademik rendah I
LRA L 0 Semar
Siswa SW L - Gareng
berkemampuan
akademik rendah II

(3) Game

Lembar Kerja Siswa (LKS) pada pertemuan kedua siklus I

masing-masing kelompok melengkapi frasa belum lengkap. Soal

untuk LKS ini berjumlah 5 butir. Guru membimbing dan mengawasi

diskusi yang dilakukan oleh siswa sertamengingatkan siswa agar

tepat waktu dalam mengerjakannya. Guru bersama siswa membahas

LKS dan masing-masing kelompok mengirimkan perwakilannya

untuk maju menuliskan hasi pekerjaan kelompok. Dari 5 butir soal

yang dikerjakan oleh siswa, 2 kelompok yaitu kelompok Bagong dan

80
kelompok Semar berhasil menjawab dengan benar semua soal,

sedangkan kelompok Gareng salah satu pada soal nomor 3 yaitu

Minggu Esok. Kelompok Bagong menjawab Minggu Esok (m e=


g u

[a [ s ok \ ), jawaban yang benar adalah ( m i=


g u

[ a [ s ok \ ). Kelompok Bagong salah pada bagian penggunakan

sandhangan pepet yang seharusnya wulu. Lembar LKS yang sudah

dibahas kemudian dikumpulkan kembali pada guru.

(4) Turnamen Akademik

Kegiatan yang dilakukan setelah siswa mengerjakan LKS

berupa game, siswa kembali melakukan turnamen akademik yang

dipandu oleh guru bahasa Jawa. Guru terlebih dahulu menjelaskan

aturan turnamen akademik. Aturan akademik sama seperti

pertemuan pertama dan digunakan untuk pertemua selanjutnya.

Anggota kelompok akan bertanding dengan masing-masing anggota

dari kelompok lain dengan kemampuan akademik yang setara.

Turnamen dilakukan di meja turnamen. Pembagian kelompok pada

pertemuan kedua didasarkan pada hasil turnamen I. Berikut

merupakan pembagian kelompok pada turnamen II.

81
Tabel 24 Pembagian Kelompok untuk Turnamen II
Meja turnamen 1 Meja turnamen 2 Meja turnamen 3 Meja turnamen 4
(siswa (siswa (siswa (siswa
berkemampuan berkemampuan berkemampuan berkemampuan
akademik tinggi) akademik sedang akademik sedang akademik rendah)
I) II)
FNA EMS PDMS NVA
ADP FFH NA SDR
MRR SNS SAK LRA
SW

Pembagian tugas masing-masing siswa sama halnya dengan

pertemuan pertama ada yang berperan pembaca soal, penantang I,

maupun penantang II. Soal-soal yang terdapat pada kartu soal

turnamen berisi tentang frasa, hal ini disesuaikan dengan materi

yang diajarkan pada pertemuan kedua. Guru mengatur jalannya

turnamen dibantu dengan peneliti. Guru memberikan waktu 10

menit dalam turnamen ini dengan masing-masing siswa menjawab

3 soal. Setelah soal berhasil dijawab, siswa bersama peneliti

melakukan penilaian. Penilaian ini nantinya akan digabungkan

dengan nilai kelompok awal. Jika turnamen sudah selesai masing-

masing siswa kembali kekelompoknya masing-masing untuk

mengumpulkan semua nilai. Berikut ini merupakan hasil penilaian

pada turnamen kedua.

Tabel 25 Hasil Nilai yang Diperoleh Kelompok pada Turnamen II


Kelompok Nama Skor Skor Rata-rata keterangan
Siswa Total Skor
(Inisial)
Gareng FNA 60
EMS 40
PDMS 60 200 50 Tim Sangat Baik
NVA 40
SW -

82
Kelompok Nama Skor Total Rata-rata Keterangan
Siswa skor Skor
(Inisial)
Bagong ADP 60
FFH 40 160 40 Tim Baik
NA 40
SDR 20
Semar MRR 60
SNS 60 180 45 Tim Baik
SAK 40
LRA 20

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa satu kelompok

mendapat julukan sebagai ”Tim Sangat Baik”, yaitu Kelompok

Gareng, sedangkan untuk kelompok Semar dan Bagong

mendapatkan julukan Tim Baik. Hal tersebut menunjukan bahwa

pemanang dari turnamen pada pertemuan kedua ini adalah kelompok

Gareng dengan skor rata-rata 50. Kelompok Semar dan Bagong

masing-masing mendapatkan skor rata-rata 45 serta 40.

(5) Penghargaan Tim

Guru memberikan penghargaan terhadap kelompok yang

memenangkan turnamen pada pertemuan kedua. Perhargaan

terhadap kelompok tersebut berupa hadiah yang sudah disiapkan

oleh guru. Guru hanya membarikan hadiah kepada kelompok yang

memiliki total nilai tertinggi. Hal tersebut dimaksudkan agar

kelompok lain yang belum mendapatkan nilai tertinggi berlomba-

lomba memenangkan turnamen pada pertemuan selanjutnya.

Sebelum pembelajaran diakhiri siswa diminta untuk kembali ke

tempat duduk masing-masing, dan guru mengajak siswa kembali

83
bernyanyi lagu “hanacara”, agar siswa kembali bersemangat dalam

menulis aksara Jawa.

c) Kegiatan Penutup

Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran pada pertemuan

kedua yaitu tentang frasa aksara Jawa. Kemudian guru melakukan post test

I. Jumlah soal yang ada dalam post-test I ada 10 butir, 5 butir soal siswa

diminta menulis kata beraksara Jawa yang berpasangan dan

bersandhangan, sedangkan 5 butir soal berisi menulis frasa beraksara

Jawa. Soal tersebut dikerjakan dalam waktu 15 menit dan dikerjakan

secara mandiri. Post-test dilakukan untuk mengetahui kemampuan

membaca aksara Jawa siswa setelah diberi tindakan berupa pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournament.

Siswa diberikan motivasi oleh guru yang masih belum lancar

menulis agar jangan berkecil hati. Guru berpesan agar siswayang belum

bisa minta diajari oleh yang sudah lancar menulis aksara Jawa. Guru juga

berpesan kepada siswa yang sudah lancar menulis aksara Jawa agar tetap

giat berlatih menulis aksara Jawa dan maumengajari temannya yang belum

lancar menulis. Pembelajaran kemudian ditutup dengan berdoa dan salam.

c. Hasil Observasi Siklus I

Observasi dilakukan untuk mengamati jalannya pembelajaran bahasa Jawa

materi menulis aksara Jawa menggunakan model Teams Games Tournament.

Adapun yang diamati adalah aktivitas guru dalam memberikan pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournament, aktivitas siswa, dan hasil belajar

84
setelah dilakukan penelitian pada siklus I. Hasil observasi siklus I dapat

dipaparkan sebagai berikut.

1) Hasil Observasi terhadap Guru

Observasi terhadap guru dilakukan bersamaan dengan

dilaksanakannya tindakan pada siklus pertama. Aktivitas guru yang diamati

adalah kegiatan yang dilakukan guru mulai dari persiapan sebelum

pembelajaran, kegitan awal pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran, hingga

kegiatan akhir pembelajaran. Aktivitas yang diamati disesuaikan dengan

indikator-indikator yang terdapat dalam pedoman observasi guru. Berikut ini

merupakan rekapitulasi hasil observasi aktivitas guru mengajar pada siklus I.

Tabel 26 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus I


No Aktivitas yang diamati Skor Keterlaksanaan
Pertemuan I Pertemuan II
1. Guru membuka pelajaran 4 4
dengan doa dan salam.
2. Guru melakukan apersepsi 3 4
3. Guru menyampaikan tujuan 2 3
pembelajaran
4. Guru menggali pengetahuan 2 3
awal siswa tentang materi
aksara Jawa.
5. Guru menjelaskan materi 3 3
aksara Jawa
6. Guru memberikan kesempatan 3 4
kepada siswa untuk bertanya
apabila ada hal yang belum
dipahami
7. Guru membentuk kelompok 4 4
secara heterogen.
8. Guru menjelaskan kegiatan 2 3
yang akan dilakukan.
9. Guru membagikan lembar LKS 4 4
berupa game.
10. Guru membimbing siswa 3 4
melakukan diskusi kelompok.

85
No Aktivitas yang diamati Skor Keterlaksanaan
Pertemuan I Pertemuan II
11. Guru meberikan kesempatan 3 3
kepada siswa untuk membahas
hasil diskusi.

12. Guru menjelaskan aturan 3 2


turnamen akademik.
13. Guru membimbing siswa 3 3
melakukan turnamen
akademik.
14. Guru menghitung waktu 2 3
turnamen apabila turnamen
sudah selesai.
15. Guru melakukan penyekoran 2 3
hasil turnamen dan game
siswa.
16. Guru memberikan penghargaan 4 4
pada tim yang memiliki jumlah
nilai tertinggi.
17. Guru memberikan kesimpulan. 1 2
18. Guru menutup pembelajaran 4 4
Jumlah 52 60
Presentase keterlaksanaa guru 72,2 % 83,3 %
Rata-rata keterlaksanaan siklus I 77,75 %

Presentase keterlaksanaan model Teams Games Tournament oleh guru

pada pertemuan pertama adalah 72,2 % dan pertemuan kedua 83,3%. Rata-

rata keterlaksanaan model Teams Games Tournament pada siklus I ini adalah

77,75%. Hasil observasi tersebut kemudian disesuaikan dengan lima kriteria

skor sebagai berikut.

Tabel 27 Kriteria Presentase Skor


Kriteria Presentase
Sangat Baik 81%-100%
Baik 61%-80%
Cukup 41%-60%
Kurang 21% - 40%
Sangat Kurang 0% - 20%

86
Berdasarkan tabel kriteria presentase skor di atas, dapat disimpulkan

bahwa proses pembelajaran bahasa Jawa materi menulis kata dan frasa aksara

Jawa menggunakan model Teams Games Tournament telah terlaksana dengan

baik. Kegiatan mengajar yang dilakukan guru baik pada pertemuan pertama

dan kedua, termasuk dalam kategori baik meskipun skor belum mencapai

100%.

2) Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Observasi aktivitas siswa dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa

apakah sudah sesuai dengan langkah model pembelajaran Teams Games

Tournament yang diterapkan atau belum. Berikut ini adalah rekapitulasi hasil

observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I.

Tabel 28 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I


No Aktivitas yang diamati Presentase siswa dengan Rata-rata
Indikator yang muncul (%) (%)
Pertemuan I Pertemuan II
1. Siswa mengemukakan 70,8 68,7 69,75
pengetahuan awalnya tentang
materi aksara Jawa.

2. Siswa memperhatikan 70,8 75 72,9


penjelasan guru tentang materi
aksara Jawa.
3. Siswa mencatat materi 50 81,2 65,5
pelajaran yang disampaikan
guru di buku tulis masing-
masing.
4. Siswa bertanya kepada guru 72,9 79,1 76
apabila ada pelajaran yang
belum dipahami.
5. Siswa membentuk kelompok 77,1 75 76,05
heterogen dengan bimbingan
guru
6. Siswa berdiskusi mengerjakan 66,7 68,7 67,7
soal game (LKS).
7. Siswa menuliskan hasil diskusi 68,7 75 71,85
pada lembar kerja LKS.

87
No Aktivitas yang diamati Presentase siswa dengan Rata-rata
Indikator yang muncul (%) (%)
Pertemuan I Pertemuan II
8. Siswa mempresentasikan hasil 58,3 77,1 67,7
diskusi.
9. Siswa menanggapi teman yang 58,3 72,9 65,6
sedang memaparkan hasil
diskusi.
10. Siswa mendengarkan 68,7 70,8 69,75
penjelasan guru tentang aturan
turnamen akademik.
11. Siswa melakukan turnamen 70,8 72,9 71,85
akademik.
12. Siswa menghitung skor yang 60.4 68,7 64,55
diperoleh dari individu maupun
kelompok.
Rata-rata 66,13 73,76 69,94

Indikator pertama adalah siswa mengemukakan pengetahuan awalnya

tentang materi aksara Jawa. Ada 70,8 % siswa yang mampu mengemukakan

pengetahuan awalnya tentang aksara Jawa pada pertemuan pertama, 68,7%

siswa pada pertemuan kedua. Berdasarkan catatan lembar observasi siswa

yang mampu mengemukakan pengetahuan awalnya tentang aksara Jawa

dengan baik adalah SDR, ADP, FFH, dan SNS. Pada pertemuan kedua

mengalami penurunan preserntase. Indikator kedua adalah siswa

memperhatikan penjelasan guru tentang materi aksara Jawa. 70,8% siswa

memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan pertama dan sebanyak 75%

siswa pada pertemuan kedua. Ada kenaikan jumlah rata-rata siswa yang mau

memperhatikan penjelasan guru dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua.

Indikator ketiga adalah siswa mencatat materi pelajaran yang disampaikan

guru di buku tulis masing-masing. Pada pertemuan pertama siswa yang mau

mencatat materi pelajaran sebanyak 50% dan sebanyak 81,2% pada

88
pertemuan kedua. Berdasarkan catatan yang ada, kebanyakn siswa tidak mau

mencatat apa yang sudah dijelaskan oleh guru pada pertemuan pertama,

sehingga indikator aktivitas siswa ketiga tidak hasil yang baik.

Indikator keempat adalah siswa bertanya kepada guru apabila ada

pelajaran yang belum dipahami. Ada 72,9% siswa pada pertemuan pertama

yang mau bertanya kepada guru dan sebanyak 79,1% siswa pada pertemuan

kedua. Pada umumnya siswa bertanya kepada guru bagaimana menuliskan

pasangan yang benar. Indikator kelima adalah siswa membentuk kelompok

heterogen dengan bimbingan guru. Pada pembelajaran pertama maupun

kedua siswa sudah mampu membentuk kelompok yang telah ditetapkan oleh

guru, namun ada beberapa siswa yang susah untuk bergabung dengan

kelompoknya, sehingga rata-rata siswa yang dapat membentuk kelompok

heterogen di pertemuan pertama sebanyak 77,1% menurun dipertemuan

kedua dengan rata-rata 75%. Indikator yang keenam adalah siswa berdiskusi

mengerjakan soal game (LKS). Indikator ini melihat sejauh mana siswa

mampu bekerja sama dalam kelompok. Ada 66,7% siswa yang mampu

berdiskusi baik dengan anggota kelompoknya. Tidak semua anggota

kelompok dapat bekerja dalam kelompoknya, banyak yang membuat gaduh di

kelas dan tidak mau ikut mengerjakan. Sedangkan di pertemuan kedua ada

68,7% yang bisa berdiskusi kelompok. Kenaikan rata-rata pada pertemuan

pertama dan kedua tidaklah tinggi, hal ini menunjukan belum semua siswa

dapat bekerjasama dalam kelompok.

Indikator ketujuh adalah siswa menuliskan hasil diskusi pada Lembar

Kerja Siswa (LKS). Indikator ini terkait dengan indikator nomor 6. Karena

89
banyak siswa yang mampu berdiskusi kelompok dengan baik maka rata-rata

yang diperoleh siswa pada pertemuan pertama sebanyak 68,7% dan

mengalami kenaikan yang cukup tinggi menjadi 75% pada pertemuan kedua.

Indikator kedelapan adalah siswa mempresentasikan hasil diskusi. Siswa

harus mendapatkan motivasi telebih dahulu sebelum mau maju untuk

menuliskan hasil pekerjaan kelompok di papantulis. Guru akan

menambahkan nilai jika ada yang mau maju. Sehingga pada pertemuan

pertama sebanyak 58,3% siswa yang bersedia mempresentasikan, sedangkan

pada pertemuan kedua karena guru sudah memberikan penguatan maka naik

cukup tinggi yaitu sebanyak 75% siswa. Indikator kesembilan adalah

menanggapi teman yang sedang memaparkan hasil diskusi. Siswa

memperhatikan apa yang ditulis siswa lain di papan tulis apabila dalam

penulisannya terjadi kesalahan. Ada 58,3% siswa yang memperhatikan

presentasi dari kelompok lain pada pertemuan pertama dan ada 72,9% siswa

pada pertemuan kedua.

Indikator kesepuluh adalah siswa mendengarkan penjelasan guru

tentang aturan turnamen akademik. Setelah siswa mengerjakan LKS siswa

melakukan turnamen akademik. Dalam turnamen akademik terdapat aturan

yang harus dipatuhi oleh siswa. Sebanyak 68,7% siswa mendengarkan

dengan baik aturan yang dijelaskan oleh guru pada pertemuan pertama dan di

pertemuan kedua sebanyak 70,8%. Siswa mengalami kesulitan memahami

aturan yang sudah diberikan oleh guru. Indikator kesebelas adalah siswa

melakukan turnamen akademik. Siswa melakukan turnamen akademik

dengan penuh antusias, 70,8% siswa pada pertemuan pertama dan 72,9%

90
pada pertemuan kedua. Indikator yang terakhir atau kedua belas adalah siswa

menghitung skor yang diperoleh dari individu maupun kelompok. Siswa

mengalami kesulitan dalam menghitung skor. Sehingga banyak siswa yang

dibantu oleh guru dan peneliti. Ada 60,4% siswa yang mampu menghitung

skor turnament pada pertemuan pertama. Pertemuan kedua ada 68,7% siswa

yang melakukannya dengan baik. Walaupun mengalami kenaikan yang tidak

cukup tinggi, namun beberapa siswa sudah mampu menghitung skor

turnamen secara mandiri tanpa bantuan guru maupun peneliti. Rata-rata

seluruh indikator observasi yang dilakukan untuk mengamati aktivitas belajar

siswa yaitu 69,94%. Hasil tersebut menunjukan bahwa aktivitas pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournament yang dilakukan oleh siswa,

masih jauh dari harapan yaitu lebih dari 75%.

Observasi siswa pada siklus I dapat disimpulkan bahwa aktivitas

siswa selama proses pembelajaran TGTmenunjukkan pada saat pembelajaran,

perhatian siswa tertuju pada materi, diskusi kelompok, game dan turnamen.

Siwa mampu mempresentasikan materi, mengerjakan tugas, menjawab

pertanyaan, interaksi dalam kelompok dan mengemukakan pendapat

meskipun belum maksimal. Guru perlu mengoptimalkan pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournament.

3) Hasil Belajar Siswa

Observasi hasil belajar dilakukan untuk menelaah hasil belajar siswa

setelah diberi [Link] pembelajaran pada siklus I sudah berjalan

cukup baik. Post-test pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan kedua yaitu

pada tanggal 30 Mei 2016 dengan menggunakan soal menulis kata dan frasa

91
yang berjumlah 10 butir soal. Hasil dari post-test siklus I dapat dilihat sebagai

berikut.

Tabel 29 Rekapitulasi Nilai Post-test Siswa Siklus I


No Nama Siswa (Inisial) Nilai Keterangan
Tuntas Tidak Tuntas
1. SW - - -
2. LRA 30 - 
3. ADP 95  -
4. EMS 97,5  -
5. FFH 57,5 - 
6. FNA 85  -
7. MRR 100  -
8. NVA 87,5  -
9. NA 95  -
10. PDMS 62,5 - 
11. SDR 45 - 
12. SAK 62,5 - 
13. SNS 92,5  -
Jumlah 896 7 5
Rata-rata 74,58
Nilai Tertinggi 100 - -
Nilai Terendah 15
Ketuntasan - 58,3% 41,7%

Berdasarkan data di atas, ada 7 siswa yang telah memenuhi kriteria

ketuntasan minimal (KKM) yaitu dengan perolehan nilai ≥ 65. Presentase

ketuntasan pada siklus I ini adalah 58,3%, sedangkan siswa yang belum

memenuhi KKM ada 41,7% atau 5 siswa. Nilai terendah siswa pada post-test

siklus I adalah 30,00 yang diperoleh oleh LRA, sedangkan nilai tertinggi

adalah 100 yang diperoleh oleh MRR. Data di atas dapat digambarkan dalam

diagram batang sebagai berikut.

92
Nilai Post-test Menulis Aksara Jawa
Siswa Kelas V Siklus I
70,0%
60,0%
Presentase Tetuntasan

50,0%
40,0%
30,0%
20,0%
10,0%
0,0%
Tuntas Tidak Tuntas
Siklus I 58,3% 41,7%

Gambar 5 Hasil Tingkat Ketuntasan Post-test Menulis Aksara Jawa Siklus I

Data nilai post-test di atas kemudian dibandingkan dengan data nilai

yang diperoleh siswa pada saat pre-test untuk mengetahui seberapa besar

peningkatan yang terjadi setelah diberi tindakan. Berikut ini adalah

perbandingan nilai siswa sebelum diberi tindakan (pre-test) dengan nilai

setelah diberi tindakan (post-test).

Tabel 30 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pre-test dan Post-test Siklus I


No Nama Siswa (Inisial) Nilai Pre-test Nilai Post-test
1. SW - -
2. LRA 25 30
3. ADP 90 95
4. EMS 85 97,5
5. FFH 50 57,5
6. FNA 70 85
7. MRR 95 100
8. NVA 60 87,5
9. NA 60 95
10. PDMS 47,5 62,5
11. SDR 27,5 45
12. SAK 57,5 62,5
13. SNS 90 92,5
Jumlah 757,5 911
Nilai Tertinggi 95 100

93
Nilai terendah 25 30
Rata-rata 63,12 75,92
Ketuntasan 41,7 58,3
Kenaikan presentase
ketuntasan 20,35%

Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa semua siswa

mengalami kenaikan nilai setelah diberi tindakan menggunakan model

pembelajaran Teams Games Tournament. Nilai terendah saat pre-test adalah

25 sedangkan pada post-test30 nilai terendah ini masih diperoleh oleh siswa

yang sama yaitu LRA. Nilai tertinggi siswa juga diperoleh oleh orang yang

sama yaitu MRR dengan nilai 95 pada pre-test dan 100 pada post –test. Siswa

yang telah memenuhi KKM pada saat pre-test dan post-test juga meningkat

20,13% siswa. Perbandingan data pre-test dengan data post-test di atas dapat

dilihat dalam diagaram batang berikut ini.

Perbandingan Nilai Menulis Aksara


Jawa Pre-test dan Post-test
120
100
80
60
40
20
0
Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata
Pre-test 25 95 62,08
Post-test 30 100 74,58

Gambar 6 Perbandingan Nilai Menulis Aksara Jawa Siswa pada Pre-test dan
Post-test

94
Berdasarkan gambar perbadingan di atas menyebutkan bahwa hasil

pre-test dan post-test mengalami kenaikan walaupun belum signifikan.

Selisih rata-rata pada hasi di atas adalah 12,50, artinya dari nilai pre-test

mengalami kenaikan 12, 50 menjadi 74,58 pada post-test pertama. Presentase

ketuntasan pada pra-siklus sebesar 41,70% mengalami kenaikan pada siklus 1

sebesar 58.30%. Perbandingan presentasi ketuntasan pra siklus dan siklus 1

dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

Pra Siklus
41,70%
Siklus I
58,30%

Gambar 7 Perbandingan Presentase Ketuntasan Siswa Pra Siklus dengan


Siklus I

d. Refleksi Hasil Tindakan Siklus I

Tahap refleksi merupakan tahap dimana peneliti dan guru melakukan

refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Peneliti dan guru

melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran selama siklus I dengan

berpedoman pada data hasil observasi yang pada saat pelaksanaan tindakan siklus

I. Berdasarkan data hasil observasi siklus I yang telah terkumpul, peneliti

95
menemukan beberapa masalah yang menjadi bahan refleksi pada tindakan siklus I,

yaitu sebagai berikut.

1) Beberapa siswa tidak memerhatikan ketika guru menyampaikan materi.

2) Guru masih banyak menggunakan kata-kata maupun kalimat yang tidak

baku sehingga siswa pun ada yang menggunakan kata-kata maupun

kalimat tidak baku ketika berkomunikasi dengan guru.

3) Beberapa kelompok ada yang masih menggantungkan pengerjaan soal

pada satu orang.

4) Suasana kelas gaduh ketika proses pengoreksian jawaban dan

penghitungan skor turnamen.

5) Beberapa siswa masih kesulitan membedakan aksara Jawa dha (d )

denganwa (w ) serta penerapan penggunakan sandhangan. Kata atau

frasa yang seharusnya bersandhangan tetapi siswa menggunakan

pasangan.

6) Siswa yang maju atau mampu menjawab pertanyaan dari guru kurang

bervariasi.

7) Siswa kurang memperhatikan waktu dalam mengerjakan soal LKS,

sehingga waktu untuk turnamen menjadi lebih singkat.

8) Apabila guru meminta siswa untuk menuliskan kata atau frasa di papan

tulis tidak dituliskan aksara Latinnya terlebih dahulu.

96
Berdasarkan pada hasil refleksi siklus I, maka pembelajaran masih

belum optimal. Peneliti dan guru kelas perlu menyusun kembali rencana

tindakan perbaikan pada siklus berikutnya yaitu siklus II. Tindakan yang

perlu dilaksanakan sebagai upaya perbaikan pada siklus II adalah sebagai

berikut.

Tabel 31 Refleksi Hasil Siklus I


No Refleksi Siklus I
1. Guru terlebih dahulu membuat suasana kelas kondusif sehingga siswa
bisa fokus ketika guru menyampaikan materi.
2. Guru lebih baik lebih memperhatikan apa yang diucapkannya agar
tidak ditirukan oleh siswa.
3. Guru sebaiknya juga memperhatikan siswa yang kurang aktif,
walaupun siswa tersebut tidak menunjukan keaktifannya, guru harus
memintannya untuk lebih aktif dengan salah satunya diminta maju ke
depan.
4. Guru harus disiplin waktu pengerjaan tugas siswa dengan baik,
walaupun waktu sudah selesai tapi pekerjaan siswa belum selesai,
guru tetap menghentikannya.
5. Setiap siswa diberi lembar kerja siswa agar tidak ada siswa yang
menggantungkan pengerjaan hanya pada satu orang siswa.
6. Siswa dilibatkan dalam pengoreksian jawaban yaitu dengan menyuruh
hanya perwakilan masing-masing kelompok menuliskan jawaban di
papan tulis, dan anggota kelompok lainnya harus duduk di tempat
duduknya masing-masing mengoreksi jawaban dari kelompok lain
begipula pada saat penghitungan skor turnamen. siswa yang
mendapatkan peran sebagai pengoreksi harus mengoreksi jawaban
temannya.
7. Jika siswa diminta maju untuk menuliskan aksara Jawa lebih baik jika
dituliskan aksara Latinnya.
8. Media yang digunakan dalam pembelajaran lebih digunakan atau
dimanfaatkan agar siswa tidak merasa bingung dengan aksara Jawa.

2. Penelitian Siklus II

a. Perencanaan Tindakan Siklus II

Perencanaan tindakan siklus II dibuat berdasarkan refleksi dari

pelaksanaansiklus I. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap perencanaan

tindakan siklus IIadalah sebagai berikut.

97
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi

yang telah disepakati oleh peneliti dan guru yaitu menulis klausa serta

kalimat aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan. RPP disusun

disesuaikan dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model

Teams Games Turnament. RPP yang telah disusun kemudian

dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. RPP yang telah disusun

selanjutnya dijadikan pedoman dalam melaksanakan pembelajaran

bahasa Jawa di kelas.

2) Menyiapkan media papan aksara Jawa dan semua perlengkapan yang

diperlukan dalam pembelajaran .

3) Menyiapkan kartu soal dan kartu jawaban serta Lembar Kerja Siswa

(LKS) yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan pertimbangan

dari dosen pembimbing dan guru kelas.

4) Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa

yangdigunakan sebagai pedoman pengamatan selama proses

pembelajaran bahasa Jawa menggunakan model Teams Games

Tournament. berlangsung. Lembar observasi guru dan siswa digunakan

untuk mengamati keterlaksanaan model Teams Games Tournament

dalam pembelajaran.

5) Peneliti menyiapkan hadiah yang diberikan sebagai bentuk penghargaan

terhadap kelompok yang menang, yang telah berpartisipasi dalam

pelaksanaan pembelajaran Teams Games Tournament.

6) Mempersiapkan kamera untuk mendokumentasikan kegiatan pembelajaran

saat proses pembelajaran berlangsung.

98
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus II terdiri dari dua

pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2016, sedangkan

pertemuan kedua dilaksanakan pada 9 Mei 2016. Berikut ini adalah pemaparan

hasil observasi selama siklus II.

1) Siklus II Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama pada siklus 2 dilaksanakan pada hari Jumat

tanggal 7 Mei 2016. Durasi waktu pembelajaran setiap pertemuan adalah 2 x

35 menit yaitu pukul 07.00 – 8.10 [Link] yang diajarkan mengenai

menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan panyigeg dan

swara serta berpasangan.

a) Kegiatan Awal

Guru membuka pembelajaran dengan salam dan menanyakan kabar

siswa. Suasana kelas masih gaduh ketika guru membuka pembelajaran. Guru

selanjutnya mengajak siswa untuk melakukan tepuk semangat untuk

memfokuskan perhatian siswa. Guru kemudian melakukan apersepsi dengan

melakukan tanya jawab dengan siswa. Guru selanjutnya memberitahukan

kepada siswa materi yang akan dipelajari dan manfaat mempelajarinya.

Penyampaian materi aksara Jawa pertemuan ini difokuskan pada menulis

klausa aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan. Manfaat dari

menulis kalusa agar mudah dalam menulis kalimat sederhana pada pertemuan

selanjutnya. Guru kemudian memulai pembelajaran.

99
b) Kegiatan Inti

(1) Presentasi Kelas

Guru mengulang materi sebelumnya dengan menanyakan tentang

menulis frasa aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan lalu

menuliskannya di papan tulis. Siswa selanjutnya diberikan penjelasan

tentang klausa. Klausa merupakan kelompok kata sekurang-kurangnya

terdiri dari subyek (jejer) dan predikat (wasesa) serta berpotensi menjadi

kalimat. Guru kemudian memberikan contoh klausa yang bersandhangan

yaitu maca buku (m c b uk u) dan Risa turu (r is t ur u). Saat guru

menjelaskan ada 1 anak yang bertanya pada guru yaitu ADP. ADP

bertanya “Nirina lagi sinau” merupakan sebuah klausa atau kalimat.

Guru menjelaskan bahwa itu bisa disebut klausa karena Nirina

merupakan subyek sedangkan predikatnya adalah lagi sinau. ADP

kemudian diminta untuk menuliskannya di papan tulis Nirina lagi sinau

(n ir in l g i s in a u). Penulisan aksara Jawa ADP benar dan guru

memberikan apresiasi terhadap siswa tersebut. Setelah menjelaskan

tentang menulis klausa yang bersandhangan kemudian siswa diberikan

contoh klausa berpasangan. Menulis klausa beraksara Jawa ini,

sebenarnya sama dengan menulis frasa karena klausa yang digunakan

oleh guru terdiri dari dua kata saja. Contoh klausa yang dituliskan di

100
papan tulis adalah Sinta ngumbahi (s in T z um B
ha i) dan nulis surat

(n ul is S ur t \ ).

Guru memberikan umpan balik ke siswa apakah ada yang

mempunyai contoh klausa. Siswa yang menunjukan jarinya cukup

banyak yaitu terdiri dari 6 siswa, sedangkan yang dipih oleh guru adalah

SDR, NVA, dan FFH. SDR memberikan contoh klausa adhik turu

(a d ik T
ur u ), NVA memberikan contoh ngombe susu ([ z o[ m B

s us u), dan FFH menuliskan bapak dhahar (b p k D


a / ). Ketiga siswa

tersebut menuliskan dengan benar, guru lalu meminta siswa lain untuk

memberikan tepuk tangan.

(2) Tim (Kerja Kelompok)

Kegiatan selanjutnya adalah guru membagi siswa ke dalam 3

kelompok yaitu kelompok Gareng, Semar, dan Bagong untuk

mengerjakan LKS III, yaitu menyusun klausa. Pembentukan kelompok

ini didasarkan hasil post-test I siswa. Pembentukan kelompok asal dalam

kegiatan pembelajaran ketiga dapat dilihat pada tabel berikut.

101
Tabel 32 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Ketiga
Kategori Kode Jenis Nilai Post- Nama kelompok
Siswa Kelamin test
Siswa MRR L 100 Bagong
berkemampuan
EMS P 97,5 Gareng
akademik tinggi.
ADP L 95 Semar
Siswa NA P 95 Bagong
berkemampuan
SNS P 92,5 Gareng
akademik sedang I
NVA P 87,5 Semar
Siswa FNA L 85 Bagong
berkemampuan
PDMS P 62,5 Gareng
akademik sedang II
SAK P 62,5 Semar
Siswa FFH L 57,5 Bagong
berkemampuan
SDR P 45 Gareng
akademik rendah I
LRA L 15 Semar
Siswa SW L - Bagong
berkemampuan
akademik rendah II

(3) Game (Kerja Kelompok)

Kelompok tersebut akan mengerjakan soal menyusun klausa.

Kata yang disediakan diminta untuk menyusun menjadi klausa yang

baik dan benar. Masing-masing kelompok diberikan waktu 10 menit

untuk mengerjakan 5 butir soal. Guru membimbing diskusi kelompok

dan terus mengingatkan waktu yang tersisa agar siswa tidak membuat

gaduh kelas. Setelah pekerjaan siswa selesai, guru bersama siswa

mengoreksi bersama-sama. Ada 5 siswa yang maju menuliskan

jawabannya, yaitu PDMS, SAK, LRA, FNA, dan SNS. Semua siswa

menjawab dengan benar mulai dari penulisan dan penggunakan

102
sandhangan maupun pasangan. Dari 3 kelompok yang ada kelompok

Bagong dan Semar benar semua, sedangkan kelompok Gareng salah

pada penulisan Menik pinter. Kelompok Gareng menuliskan

([ m n ik P in T
e/) seharusnya (m en ik P in T
e/). Mereka kurang tepat

dalam penggunakan sandhangan pepet dan [Link] yang sudah

dikerjakan dan diberi kemudian dikumpulkan ke guru bahasa Jawa.

(4) Turnamen Akademik

Kegiatan yang dilakukan siswa setelah mengerjakan LKS adalah

bermain turnamen akademik. Turnamen yang dilakukan sama dengan

turnamen sebelumnya dan masih menggunakan aturan. Siswa yang

bertanding di meja turnamen juga dilihat dari nilai post-test siswa.

Siswa yang berkemampuan akademik sama akan dijadikan dalam satu

meja turnamen. Berikut merupakan pembagian kelompok turnamen.

Tabel 33 Pembagian Kelompok untuk Turnamen III


Meja turnamen 1 Meja turnamen 2 Meja turnamen 3 Meja turnamen 4
(siswa (siswa (siswa (siswa
berkemampuan berkemampuan berkemampuan berkemampuan
akademik tinggi) akademik sedang akademik sedang akademik rendah)
I) II)
MRR NA PDMS FFH
EMS NVA FNA SDR
ADP SNS SAK LRA
SW

Turnamen akademik yang dilakukan oleh siswa sama dengan

pertemuan sebelumnya yang membedakan adalah anggota kelompok

bertanding. Tidak semua anak termasuk dalam siswa berkemampuan

akademik yang sama dengan pertemuan sebelumnya, sehingga lawan

103
bertandingnya pun ada yang berbeda. Aturan yang dilakukan juga

masih menggunakan aturan yang sama. Siswa diberikan waktu 15 menit

untuk melakukan turnamen. Guru mengawasi siswa saat melakukan

turnamen dibantu oleh peneliti dan observer, agar siswa mudah untuk

dikondisikan serta tidak mengulur waktu. Setelah turnamen selesai guru

bersama dengan siswa, peneliti, dan observer melakukan penilaian

terhadap hasil pekerjaan siswa, sehingga diperoleh nilai turnamen III

sebagai berikut.

Tabel 34 Hasil Nilai yang Diperoleh Kelompok pada Turnamen III.


Kelompok Nama Skor Skor Rata-rata keterangan
Siswa Total Skor
(Inisial)
Gareng EMS 60
SNS 60 50
PDMS 60 200 Tim Sangat Baik
SDR 20

Bagong MRR 60 Tim Sangat Baik


NA 60 220 55
FNA 60
FFH 40
SW -
Semar ADP 60
NVA 60 180 45 Tim Baik
SAK 40
LRA 20

Berdasarkan tabel di atas kelompok termasuk dalam tim sangat

baik yaitu kelompok Gareng dan Bagong, sedangkan kelompok Semar

termasuk tim baik. Kelompok Bagong dan Gareng yang termasuk tim

sangat baik masing-masing memperoleh skor 55 serta 50. Pemenang

dalam turnamen ini adalah kelompok Bagong. Guru meminta kelompok

Bagong untuk maju di depan kelas.

104
(5) Penghargann Kelompok

Guru memberikan penghargaan kelompok yang berhasil

menjadi kelompok terbaik. Hadiah yang diberikan oleh guru setiap

pertemuan berbeda namun dengan jumlah nominal yang sama.

berlomba-lomba memenangkan turnamen pada pertemuan selanjutnya.

Sebelum pembelajaran diakhiri siswa diminta untuk kembali ketempat

duduk masing-masing.

c) Kegiatan Penutup

Siswa menarik kesimpulan bersama guru dari hasil pembelajaran.

Guru memberi pujian bagi kelompok yang berturut-turut telah

mendapatkan nilai terbaik Guru juga memotivasi siswa untuk terus

berlatih dan tetap semangat belajar menulis aksara Jawa bagi kelompok

yang belum mendapatkan nilai baik. Pelajaran kemudian ditutup dengan

doa dan salam.

2) Siklus II Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua pada siklus 2 dilaksanakan pada hari Senin tanggal 9

Mei 2016. Penelitian dilaksanakan hari Senin karena pada hari Sabtu ruang

kelas akan digunakan latihan ujian kelas VI. Durasi waktu yang digunakan 2

x 35 menit, dimulai pukul 11.10-12.20. Materi yang diajarkan menulis

kalimat sederhana aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan.

a) Kegiatan Pendahuluan

Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam pembuka.

Tidak ada doa bersama karena dimulai pada jam terakhir. Siswa

selanjutnya diberikan tepuk semangat untuk mengecek kesiapan siswa

105
untuk membangkitkan motivasi dan semangat siswa dalam belajar. Siswa

diberikan informasi pembelajaran yang akan di pelajari yaitu menulis

kalimat bersandhangan dan berpasangan.

b) Kegiatan Inti

(1) Presentasi Kelas

Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan materi pelajaran

bahasa Jawa dengan materi yaitu menulis kalimat aksara Jawa yang

bersandhangan dan berpasangan. Pembelajaran dilakukan seperti

pertemuan sebelumnya yaitu siswa diajarkan menulis kalimat aksara

Jawa yang bersandhangan, kemudian baru berpasangan.

Presentasidilakukan guru dalam bentuk pengajaran langsung dengan

metodeceramah. Namun pada siklus kedua ini guru tidak begitu

banyak menjelaskan materi pelajaran karena materi pelajaran sudah

banyak dijelaskan pada pertemuan sebelumnya. Guru memberikan

contoh kalimat lemut bisa ngisep getih dan menawarkan pada siswa

siapa yang akan maju. NVA maju untuk menuliskan kalimat tersebut

( 2 m ut B
is z is ep G
et ih ), NVA sudah mengerti jika aksara (l e)

digantikan dengan nga lelet (2 ). Guru tak lupa memberikan apresiasi

pada NVA. Contoh kalimat selanjutnya adalah mubeng-mubeng dolan

deso dan yang ingin maju adalah FNA. FNA menuliskan kalimat

tersebut kurang tepat, karena menggunakan sandhangan yang berbeda

106
(m u[ b =
m u[ b = [ f ol [ n F
[ s o ). Penulisan yang benar adalah

(m ub e= m ub e= [ f [ s o ). Walaupun hasil pekerjaan FNA kurang

tepat, namun guru dan siswa tetap memberikan tepuk tangan sebagai

tanda apresiasi terhadap FNA.

(2) Pembentukan Tim

Kegiatan setelah guru menjelaskan menuliskan kalimat aksara

Jawa, siswa melakukan diskusi kelompok untuk membahas LKS

“nyusun ukara”. Guru menyediakan 5 butir soal yang berupa lima

kalimat beracak. Tugas siswa adalah membuat kalimat tersebut

menjadi kalimat yang baik sesuai dengan jejer-wasesa-lisan-

katrangan. Setiap kelompok terdiri dari 4 siswa heterogen. Berikut

merupakan kelompok untuk LKS IV.

Tabel 35 Pembentukan Kelompok Belajar Pertemuan Keempat


Kategori Kode Jenis Nilai Nama kelompok
Siswa Kelamin turnamen
Siswa NA P 60 Bagong
berkemampuan
FNA L 60 Gareng
akademik tinggi.
SNS P 60 Semar
Siswa MRR L 60 Bagong
berkemampuan
EMS P 60 Gareng
akademik Tinggi II
ADP L 60 Semar
Siswa PDMS P 60 Bagong
berkemampuan
NVA P 60 Gareng
akademik sedang
SAK P 40 Semar

107
Siswa FFH L 40 Bagong
berkemampuan
LRA L 20 Gareng
akademik rendah
SDR P 20 Semar
Siswa SW L - Bagong
berkemampuan
akademik rendah II

(3) Game mengerjakam LKS

Kelompok yang sudah menyelesaikan pekerjaannya diminta

untuk menunggu kelompok lain yang belum selesai. Guru terus

mengingatkan waktu pekerjaan kelompok. Guru juga memberikan

pengarahan terhadap siswa jika untuk mengerjakan soal-soal tersebut

sebaiknya menggunakan pola jejer-wasesa-lisan-katrangan, agar

kalimat yang dibuat masing-masing kelompok tidak berbeda.

Perwakilan masing-masing kelompok maju untuk menuliskan

jawabannya, dan selanjutnya akan dibahas bersama guru. Berdasarkan

pembahasan bersama guru, tidak ada kelompok yang salah dalam

mengerjakan soal LKS. Siswa diminta untuk menghitung nilai dan

mengumpulkan kepada guru.

(4) Turnamen Akademik

Kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan turnamen yang

terakhir atau keempat. Siswa diminta untuk bertanding menulis

kalimat beraksara Jawa. Sebelum guru memulai, guru membacakan

aturan turnamen seperti biasanya. Aturan yang dipakai masih tetap

sama dan tidak berbeda. Siswa yang termasuk dalam berkemampuan

108
akademik sama akan bertanding. Berikut merupakan pembagian

kelompok bertanding turnamen keempat.

Tabel 36 Pembagian Kelompok untuk Turnamen Akademik Pertemuan


Keempat.
Meja turnamen 1 Meja turnamen 2 Meja turnamen 3 Meja turnamen 4
(siswa (siswa (siswa (siswa
berkemampuan berkemampuan berkemampuan berkemampuan
akademik tinggi) akademik tinggi akademik sedang) akademik rendah)
II)
NA MRR PDMS FFH
FNA EMS NVA LRA
SNS ADP SAK SDR
SW

Masing-masing siswa menuliskan tiga kalimat beraksara Jawa,

dan langsung diberikan penilaian oleh guru, peneliti, dan observer.

Waktu yang diberikan untuk bertanding adalah 15 menit. Guru mengatur

jalannya turnamen yang dilakukan oleh siswa agar tidak gaduh, karena

pembelajaran yang dilakukan pada jam terakhir. Turnamen keempat ini

anak merasa bersemangat untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan

membawa kelompoknya ke dalam tim sangat baik, sehingga mereka

berhati-hati dalam menulikan aksara Jawa. Setelah turnamen selesai guru

bersama dengan siswa, peneliti, dan observer melakukan penilaian

terhadap hasil pekerjaan siswa, sehingga diperoleh nilai turnamen III

sebagai berikut.

Tabel 37 Hasil nilai yang diperoleh kelompok pada Turnamen IV


Kelompok Nama Skor Skor Rata-rata Keterangan
Siswa Total Skor
(Inisial)
Gareng FNA 60
EMS 60
NVA 40 180 45 Tim Baik
LRA 20

109
Bagong NA 60
MRR 60 200 50 Tim Sangat Baik
PDMS 20
FFH 60

Semar SNS 60
ADP 60 180 45 Tim Baik
SAK 20
SDR 40

Berdasarkan hasil turnamen yang dicapai oleh siswa pada

turnamen keempat ini, banyak siswa yang mengalami penurunan nilai

dari hasil turnamen ketiga. Mereka kurang teliti dalam penggunakan

sandhangan. Walaupun demikian satu kelompok yaitu kelompok Bagong

menjadi kelompok sangat baik dan memenangkan turnamen pada

turnamen keempat ini. Sedangkan kelompok Semar dan Gareng

memperoleh nilai yang sama yaitu dengan jumlah nilai 48, termasuk

dalam kategori kelompok baik. Guru tetap memberikan apresiasi kepada

siswa yang belum menang, agar tidak berkecil hati.

(5) Penghargaan Tim

Guru memberikan penghargaan kelompok yang berhasil

menjadi kelompok terbaik. Penghargaan kelompok dilakukan dengan

memberikan hadiah. Sebelum pembelajaran diakhiri siswa diminta

untuk kembali ketempat duduk masing-masing.

c) Kegiatan Penutup

Siswa menarik kesimpulan bersama guru dari hasil pembelajaran.

Siswa mengerjakan soal evaluasi. Setelah selesai semua dikumpulkan.

Guru memberikan pesan moral kepada siswa agar lebih giat dalam menulis

110
aksara Jawa bagi yang belum hafal. Pembelajaran kemudian ditutup

dengan salam dan doa.

c. Hasil Observasi Siklus II

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan observer terhadap proses

pembelajaran yang berlangsung pada siklus II ini diperoleh dari isian pada lembar

observasi. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan

oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran pada materi menulis klausa dan

kalimat sederhana beraksara Jawa dengan menerapkan sandhangan serta

pasangan. Berikut ini data hasil observasinya.

1) Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar

Aktivitas mengajar guru diamati untuk mengetahui apakah langkah

pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan langkah pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournament. Observer mengamati

aktivitas guru berpedoman dengan lembar observasi guru yang telah

disediakan. Berikut ini rekapitulasi hasil observasi aktivitas guru mengajar

pada siklus II.

Tabel 38 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II


No Aktivitas yang diamati Skor Keterlaksanaan
Pertemuan I Pertemuan II
1. Guru membuka pelajaran 4 4
dengan doa dan salam.
2. Guru melakukan apersepsi. 4 4

3. Guru menyampaikan tujuan 3 4


pembelajaran
4. Guru menggali pengetahuan 4 4
awal siswa tentang materi
aksara Jawa.
5. Guru menjelaskan materi 3 4
aksara Jawa
6. Guru memberikan kesempatan 3 4

111
kepada siswa untuk bertanya
apabila ada hal yang belum
dipahami
7. Guru membentuk kelompok 4 4
secara heterogen.
8. Guru menjelaskan kegiatan 4 3
yang akan dilakukan.
9. Guru membagikan lembar LKS 4 4
berupa game.
10. Guru membimbing siswa 3 4
melakukan diskusi kelompok.
11. Guru meberikan kesempatan 3 4
kepada siswa untuk membahas
hasil diskusi.

12. Guru menjelaskan aturan 3 3


turnamen akademik.
13. Guru membimbing siswa 3 4
melakukan turnamen
akademik.
14. Guru menghitung waktu 3 3
turnamen apabila turnamen
sudah selesai.
15. Guru melakukan penyekoran 3 4
hasil turnamen dan game
siswa.
16. Guru memberikan penghargaan 4 4
pada tim yang memiliki jumlah
nilai tertinggi.
17. Guru memberikan kesimpulan. 1 2
18. Guru menutup pembelajaran 4 4
Jumlah 60 67
Presentase keterlaksanaa guru 83,3 % 93,6 %
Rata-rata keterlaksanaan siklus I 88,45

Presentase keterlaksanaan model Teams Games Tournament oleh guru

pada pertemuan pertama adalah 83,3 % dan pertemuan kedua 93,6 %. Rata-

rata keterlaksanaan model Teams Games Tournament pada siklus I ini adalah

88,45 %. Apabila dilihat dari lima kategori skor maka pembelajaran

menggunakan model Teams Games Tournamen telah terlaksana dengan

sangat baik. Hal tersebut berarti bahwa semua langkah pembelajaran

112
menggunakan model Teams Games Tournament telah dilaksanakan oleh guru

dengan baik. Berikut ini diagram yang menggambarkan aktivitas guru pada

siklus I dan siklus II.

Aktivitas Guru
90,00%
88,00%
Presentase Ketuntasan

86,00%
84,00%
82,00%
80,00%
78,00%
76,00%
74,00%
72,00%
Siklus I Siklus II
Aktivitas Guru 77,75% 88,45%

Gambar 8 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II

2) Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Observasi aktivitas siswa pada siklus II dilakukan untuk mengamati

kegiatan belajar siswa selama pembelajaran bahasa Jawa menggunakan

model Teams Games Tournament. Pengamatan dilakukan dengan

berpedoman pada lembar observasi siswa yang telah dibuat sebelumnya.

Berikut ini adalah rekapitulasi hasil observasi aktivitas belajar siswa pada

siklus II.

Tabel 39 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II.


No Aktivitas yang diamati Presentase siswa dengan Rata-rata
Indikator yang muncul (%) (%)
Pertemuan I Pertemuan II
1. Siswa mengemukakan 75 79,7 77,35
pengetahuan awalnya tentang
materi aksara Jawa.

113
No Aktivitas yang diamati Presentase siswa dengan Rata-rata
Indikator yang muncul (%) (%)
Pertemuan I Pertemuan II
2. Siswa memperhatikan 91,7 93,8 92,75
penjelasan guru tentang materi
aksara Jawa.
3. Siswa mencatat materi 91,7 93,8 92,75
pelajaran yang disampaikan
guru di buku tulis masing-
masing.
4. Siswa bertanya kepada guru 77,1 91,7 84,4
apabila ada pelajaran yang
belum dipahami.
5. Siswa membentuk kelompok 79,7 95,8 87,75
heterogen dengan bimbingan
guru
6. Siswa berdiskusi mengerjakan 81,3 93.8 87,55
soal game (LKS).
7. Siswa menuliskan hasil diskusi 81,3 87,5 84,4
pada lembar kerja LKS.
8. Siswa mempresentasikan hasil 81,3 91,7 86,5
diskusi.
9. Siswa menanggapi teman yang 85,4 89,6 87,5
sedang memaparkan hasil
diskusi.

10. Siswa mendengarkan 89,6 93,8 91,7


penjelasan guru tentang aturan
turnamen akademik.
11. Siswa melakukan turnamen 83,3 93,8 88,55
akademik.
12. Siswa menghitung skor yang 79,7 91,7 85,7
diperoleh dari individu maupun
kelompok.
Rata-rata 83,09 91,39 87,24

Indikator pertama adalah siswa mengemukakan pengetahuan

awalnya tentang materi aksara Jawa Ada 75% siswa mengemukakan apa

yang mereka mengerti tentang aksara Jawa dan pembelajaran sebelumnya

pada pertemuan pertama dan 79,7% siswa pada pertemuan kedua.

Berdasarkan hasil yang telah dicapai siswa menujukan belum semua siswa

114
mampu mengemukakan pengetahuan awalnya tentang aksara Jawa.

Indikator kedua adalah siswa memperhatikan penjelasan guru tentang

materi aksara Jawa. Ada 91,7% siswa yang memerhatikan penjelasan guru

tentang menulis klausa aksara Jawa di pertemuan pertama, 93,8% siswa

mendengarkan penjelasan guru tentang menulis kalimat sederhana

beraksara Jawa di pertemuan kedua. Indikator ketiga adalah siswa

mencatat materi pelajaran yang disampaikan guru dibuku tulis masing-

masing. Sebanyak 91,7% siswa sudah mau mencatat apa materi yang

dijelaskan oleh guru di pertemuan pertama dan 93,8% siswa pada

pertemuan kedua. Siswa harus menunggu perintah dari guru untuk

mencatat, sehingga belum 100% siswa memiliki kesadaran mencatat.

Indikator keempat adalah siswa bertanya kepada guru apabila ada

pelajaran yang belum dipahami. Kemampuan bertanya siswa pada

pertemuan pertama siklus II masih rendah yaitu sebanyak 77,1% dan

mengalami kenaikan pada siklus II yaitu 91,7%. Indikator kelima yaitu

siswa membentuk kelompok heterogen dengan bimbingan guru. Anggota

kelompok dalam setiap pertemuan adalahberbeda namun guru tidak

mengalami kesulitan ketika membagi siswa kedalam kelompok heterogen.,

sehingga siswa juga mengikuti perintah dari guru untuk menempatkan diri

pada kelompok masing-masing. Pertemuan pertama sebanyak 79,7% siswa

dan mengalami kenaikan pada pertemuan kedua 95,8% siswa mampu

membentuk kelompok. Indikator keenam, ketujuh, dan kedelapan

berkenaan dengan game yang berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) berturut-

turut adalah berdiskusi, menuliskan hasil diskusi, dan mempresentasikan

115
hasil diskusi mengerjakan LKS. Pada pertemuan pertama indikator

keenam, ketujuh dan kedelapan mendapatkan presentase yang sama yaitu

81,3% siswa yang mampu melakukan indikator-indikator tesebut.

Sedangkan pertemuan kedua siswa yang berdiskusi mengerjakan LKS

dengan baik ada 93,8%. Ini menunjukan sebagian besar siswa sudah

mampu berdiskusi dengan baik. Indikator ketujuh ada 87,5% siswa

menuliskan hasil diskusinya pada lembar LKS. Siswa menulis aksara Jawa

dilakukan secara bergilir, walaupun masih ada yang belum mau menulis

ataupun tulisannya tidak jelas dibaca sehingga tidak mau untuk menulis.

Indikator kedelapan ada 91,7% siswa mempresentasikan hasil diskusi.

Indikator kesembilan adalah siswa menanggapi teman yang sedang

memaparkan hasil diskusi. Ada 85,4 siswa yang mau mennaggapi

temannya pada pertemuan pertama dan 89,6% siswa pada pertemuan

kedua. Indikator kesepuluh, sebelas, dan duabelas tentang melakukan

turnamen akademik. Indikator kesepuluh adalah siswa mendengarkan

penjelasan guru tentang aturan turnamen. Ada 89,6% siswa mendengarkan

dengan baik di pertemuan pertama dan meningkat pada pertemuan kedua

yaitu 93,8% siswa. Indikator kesebelah adalah melakukan turnamen

akademik. Ada 89,6 siswa melakukan turnamen akademik di pertemuan

pertama dan 93,8% siswa di pertemuan kedua. Siswa sering membuat

gaduh jika melakukan turnamen akademik. Indikator yang terakhir adalah

menghitung skor yang diperoleh dari individu maupun kelompok.

Sebanyak 79,7% siswa dipertemuan pertama dan juga meningkat

dipertemuan kedua yaitu 91,7% siswa. Anak masih mengalami kesulitan

116
dalam menentukan skor. Rata-rata seluruh indikator observasi yang

dilakukan untuk mengamati aktivitas belajar siswa yaitu 87,24. Hasil

tersebut menunjukan bahwa aktivitas pembelajaran menggunakan model

Teams Games Tournament yang dilakukan oleh siswa telah mencapai

kriteria ketuntasan dan meningkat cukup tinggi.

Pada observasi siswa siklus II dapat disimpulkan bahwa aktivitas

siswa selama proses pembelajaran menunjukkan bahwa pada saat

pembelajaran perhatian siswa tertuju pada materi, game dan turnamen.

Siswa mampu mengorganisasikan anggota kelompok dengan baik dengan

membagi tugas serta saling bertukar pendapat. Sehingga siswa dapat

mengerjakan setiap soal dengan lebih [Link] ini diagram yang

menggambarkan aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II

Aktivitas Siswa
100,00%
90,00%
Presentase Ketuntasan

80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Sikus I Siklus II
Aktivitas Siswa 66,13% 87,24%

Gambar 9 Diagram hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II

117
3) Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar didapat dari post-test yang dilakukan pada akhir siklusII.

Nilai post-test ditelaah untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberi

tindakan. Berikut ini adalah data nilai post-test pada siklus II.

Tabel 40 Hasil Belajar Siklus II


No Nama Siswa (Inisial) Nilai Keterangan
Tuntas Tidak Tuntas
1. SW - - -
2. LRA 42,5 - 
3. ADP 95  -
4. EMS 92,5  -
5. FFH 57,5 - 
6. FNA 95  -
7. MRR 100  -
8. NVA 100  -
9. NA 100  -
10. PDMS 87,5  -
11. SDR 67,5  -
12. SAK 80  -
13. SNS 97,5  -
Jumlah 1015 10 2
Rata-rata 84,58
Nilai Tertinggi 100 - -
Nilai Terendah 42,5
Ketuntasan - 83,3% 16,7%

Berdasarkan Tabel. di atas, ada 10 siswa yang telah memenuhi

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu dengan perolehan nilai ≥ 65

Presentase ketuntasan pada siklus II adalah 83,3% atau 10 siswa.

Siswayang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal adalah 16,7%

atau 2 orang siswa. Nilai terendah siswa pada post-test siklus II adalah

42,5 yang diperoleh oleh LAK, sedangkan nilai tertinggi adalah 100 yang

diperoleh oleh MRR, NVA, dan NA. Hasil tersebut memberikan gambaran

bahwa keterampilan menulis aksara Jawa pada siklus II sudah mencapai

118
target keberhasilan yaitu (83,3%). Oleh karena itu penelitian dicukupkan

sampai siklus II. Data di atas dapat digambarkan dalam diagram batang

sebagai berikut.

Siklus II
90,0%
Presentase Ketuntasan Siswa

80,0%
70,0%
60,0%
50,0%
40,0%
30,0%
20,0%
10,0%
0,0%
Tuntas Tidak Tuntas
Siklus II 83,3% 16,7%

Gambar 10 Hasil Ketuntasan Post-test Menulis Aksara Jawa Siklus II

Data presentase ketuntasan pada siklus II yang telah diperoleh

siswa kemudian dibandingkan dengan presentase tingkat ketuntasan Siklus

I. Berikut merupakan perbandingan ketuntasan siswa siklus I dan II.

119
Perbandingan Tingkat Ketuntasan Hasil
Belajar Siklus I dan Siklus II
100,0%
Presentase Ketuntasan

80,0%
60,0%
40,0%
20,0%
0,0%
Siklus I Siklus II
Tuntas 58,3% 83,3%
Tidak Tuntas 41,7% 16,7%

Gambar 11 Perbandingan Hasil Tingkat Ketuntasan Post-test Menulis


Aksara Jawa Siklus I dan II.

Data nilai post-test siklus II juga kemudian dibandingkan dengan

data nilai yang diperoleh siswa pada saat pra-tindakan dan pada saat post-

test siklus I. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar

peningkatan yang terjadi setelah ada perbaikan tindakan pada siklus II.

Berikut ini adalah perbandingan nilai siswa .

Tabel 41 Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pre-test, Post-test Siklus I dan


Siklus II
No Nama Siswa Nilai Pre-test Nilai Post-test Nilai Post-test
(Inisial) siklus I Siklus II
1. SW - - -
2. LRA 25 30 42,5
3. ADP 90 95 95
4. EMS 85 97,5 92,5
5. FFH 50 57,5 57,5
6. FNA 70 85 95
7. MRR 95 100 100
8. NVA 60 87,5 100
9. NA 60 95 100
10. PDMS 47,5 62,5 87,5
11. SDR 27,5 45 67,5

120
12. SAK 57,5 62,5 80
13. SNS 90 92,5 97,5
Jumlah 757,5 911 1015
Rata-rata 63,12 75,92 84,58
Nilai Tertinggi 95 100 100
Nilai Terendah 25 30 42,5
Ketuntasan 41,7% 58,3% 83,3%
Kenaikan
presentase 11,41%
ketuntasan
siklus I dan II

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa telah terjadi

peningkatan keterampilan menulis aksara Jawa pada siswa setelah diberi

tindakan. Rata-rata nilai siswa secara keseluruhan juga meningkat yaitu

63,12 pada pre-test pra-tindakan, 75,92 pada post-test siklus I, dan 84,58

pada post-test siklus II. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa juga

meningkat, yaitu 95,00 pada pre-test, 100 pada post-test siklus I, dan 100

pada saat post-test siklus II. Apabila dilihat dari nilai yang diperoleh siswa

pada siklus I dan siklus II, keterampilan menulis hampir semua siswa telah

mengalami peningkatan, hanya 1 anak yaitu EMS mengalami penurunan

nilai dari post-test I 97,5 turun menjadi 92,5. Nilai terendah siswa

mengalami di siklus II juga mengalami peningkatan yaitu dari 30,00

menjadi 42,5. Peningkatan nilai hasil tes menulis aksara Jawa siswa pada

pre-test pra-tindakan, post-test siklus I, dan post-test siklus II juga dapat

dilihat dalam diagram batang berikut ini.

121
Perbandingan Nilai pada Pra Tindakan, Siklus I,
dan Siklus II
Presentase Ketuntasan 120
100
80
60
40
20
0
Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata
Pra Tindakan 25 95 63,12
Siklus I 30 100 75,92
Siklus II 42,5 100 84,58

Gambar 12 Perbandingan Nilai Membaca Aksara Jawa pada Pre-test, Post-


test Siklus I, dan Post-test Siklus II

Berdasarkan hasil tabel perbandingan nilai pra-tindakan, siklus I,

dan siklus II menunjukan bahwa adanya kenaikan di setiap siklusnya.

Nilai terendah pada pra-tindakan 2, meningkat menjadi 35 di siklus I , dan

42,5 Siklus II. Nilai tertinggi yang diperoleh pada pra-tindakan 95,

mengalami kenaikan pada siklus I dan II dengan nilai 100. Rata-rata

terakhir pada siklus II mencapai 84,58. Perbandingan presentase pada

siklus I dan II dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

122
Pra Siklus;
41,7%
Siklus II;
83,3%

Siklus I;
58,3%

Gambar 13 Perbandingan Presentase Ketuntasan Siswa Pra siklus, Siklus I,


dan Siklus II.

d. Refleksi Siklus II

Refleksi dilakukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan pembelajaran

yang dilakukan sudah sesuai dengan yang direncanakan. Peneliti dan guru

melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran selama siklus II dengan

berpedoman pada data hasil observasi yang pada saat pelaksanaan tindakan siklus

II.

Berdasarkan hasil observasi telah dipaparkan di atas, pembelajaran pada

siklus II telah sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Guru telah terlebih dahulu

membuat suasana kelas menjadi lebih kondusif dengan melakukan beberapa tepuk

semangat sebelum pembelajaran dimulai. Hal ini dilakukan untuk memfokuskan

perhatian siswa sebelum masuk ke materi yang akan disampaikan. Guru juga

memberlakukan beberapa peraturan selama pembelajaran berlangsung sehingga

pembelajaran berlangsung lebih kondusif. Siswa juga telah dilibatkan oleh guru

ketika pengoreksian jawaban sehingga suasana gaduh saat pengoreksian jawaban

berkurang. Guru telah melaksanakan semua langkah pembelajaran menggunakan

123
model Teams Games Tournament, baik di pertemuan pertama maupun pertemuan

kedua. Berdasarkan hasil observasi terhadap hasil belajar siswa, 84,58%

siswatelah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal menulis aksara Jawa. Oleh

karena itu, penelitian tindakan ini dikatakan telah berhasil dan penelitian

dihentikan pada siklus II karena telah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian.

C. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis aksara

Jawa di SD N Nglengking Sleman. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Teams Games Tournament terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis

aksara Jawa pada pelajaran bahasa Jawa dengan materi menulis kata, frasa, klausa,

dan kalimat yang bersandhangan serta berpasangan. Penelitian tindakan kelas inii

dilakukan dalam 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan.

Hasil belajar menulis aksara Jawa pada prasiklus, siklus I dan siklus II selanjutnya

dibahas sebagai berikut.

Berdasarkan hasil observasi pada tahap pra tindakan, peneliti

menemukanpermasalahan yang terjadi di kelas V SD N Nglengking, yaitu

rendahnya keterampilan menulis aksara Jawa. Data hasil pre-test pra tindakan

menunjukkan bahwa 7 dari 12 siswa masih hadir belum memenuhi Kriteria

Ketuntasan Minimal(KKM) menulis aksara Jawa, yaitu ≥ 65. Rendahnya

keterampilan siswa disebabkan karena siswa masih kesulitan membedakan

beberapa huruf aksara Jawa, sandhangan, maupun pasangan. Selain itu, siswa

juga mengaku kurang tertarik belajar aksara Jawa karena setiap belajar aksara

Jawa siswa biasanya hanya diminta mengerjakan soal. Pembelajaran aksara Jawa

yang biasa dilakukan oleh guru adalah memberi tugas kepada siswa menulis

124
aksara Jawa. Setelah selesai mengerjakan guru menuliskan jawaban benar dan

pembelajaran selesai. Siswa menjadi kurang aktif selama proses pembelajaran

karena merasa kurang diperhatikan dan tidak mendapat tindak lanjut dari guru.

Kurangnya variasi metode pembelajaran membuat siswa mudah bosan dan kurang

tertarik mengikuti proses pembelajaran.

Seorang pendidik dikatakan berhasil jika pada suatu proses belajar

mengajar yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Slameto (2003:

60) faktor ekstern yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa salah

satunya adalah faktor sekolah yang meliputi metode mengajar guru. Hasil belajar

adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima suatu tahapan

pencapaian pengalaman belajar. Berdasarkan data hasil belajar siswa secara

umum pada penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model kooperatif tipe

TGT (Team Games Tournament) terjadi peningkatan hasil belajar siswa di setiap

[Link] belajar pada siklus I didapatkan 58,3% siswa yang tuntas dalam

mengerjakan soal post-test. Ini artinya sebanyak 7 siswa telah mencapai kriteria

ketuntasan yaitu ≥ 65. Pada siklus II, hasil belajar yang diperoleh dari

mengerjakan soal post-test meningkat yaitu 84,58% atau sebanyak 10 anak yang

sudah tuntas.

Peningkatan hasil belajar siswa yang selalu meningkat pada setiap siklus

karena setelah guru memberikan proses belajar mengajar, guru selalu mengadakan

refleksi untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekurangan pada siklus

sebelumnya dan peningkatan hasil belajar siswa ini disebabkan oleh model

pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament yang telah diterapkan.

125
Pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan model Teams Games

Tournament membuat siswa lebih aktif, menumbuhkan minat siswa untuk belajar

aksara Jawa, dan siswa tidak merasa bosan selama proses pembelajaran

berlangsung. Siswa dituntut untuk aktif berdiskusi dengan teman satu

kelompoknya untuk mengerjakan soal yang diberikan selama pembelajaran

menulis aksara Jawa menggunakan model Teams Games Tournamentagar

kelompoknya mendapat skor tertinggi. Maslichah Asy’ari (2006: 38) menjelaskan

bahwa usia anak sekolah dasar beradadi antara tahap praoperasional dan

operasional formal. Anak usia ini memiliki beberapa sifat, yaitu (1) rasa ingin

tahu yang kuat, (2) suka bermain atau senang dengan suasana yang

menggembirakan, mengatur dirinya, mengeksplorasi situasisehingga suka

mencoba-coba, (3) memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi,(4) akan

belajar efektif apabila merasa senang dengan situasi yang ada, dan (5)belajar

dengan cara bekerja dan suka mengajarkan apa yang dia ketahui kepada temannya.

Oleh karenanya guru perlu memilih metode pembelajaran yang sesuaidengan

karakteristik anak tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan model

Teams Games Tournament.

Penelitian tindakan menggunakan model Teams Games Tournament pada

mata pelajaran bahasa Jawa menulis aksara Jawa di kelas V SD N Nglengking

menunjukkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa siswa mengalami

peningkatan. Berdasarkan data yang didapat, nilai rata-rata menulis aksara Jawa

63,12 pada pre-test pra tindakan, 75,97 pada post-test siklus I, dan 84,58 pada

post-test siklus II. Hal tersebut menunjukkan bahwa model Teams Games

Tournamentefektif dalam meningkatkan keterampilan menulis aksara Jawa siswa.

126
D. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian tindakan di kelas V SD N Nglengking ini

sebagai berikut.

1. Terdapat satu siswa yang tidak berangkat sekolah mengikuti penelitian

dan dua siswa belum mencapai KKM (dibawah ≤ 65), sehingga peneliti

tidak melaksanakan kegiatan remidial ataupun pengayaan.

127
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan pada bab sebelumnya, peneliti dapat

menyimpulkan bahwa keterampilan menulis aksara Jawa siswa kelas V SD N

Nglengking mengalami peningkatan setelah model pembelajaran Teams

Games Tournament diterapkan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa di

kelas tersebut. Langkah pembelajaran menulis aksara Jawa menggunakan

model Teams Games Tournament dalam penelitian ini meliputi: presentasi

kelas atau guru menjelaskan materi, pembentukan kelompok, melakukan

game yang berupa Lembar Kerja Siswa, turnamen akademik dan pemberian

rekognisi atau penghargaan.

Peningkatan keterampilan menulis aksara Jawa dapat dilihat dari hasil

post-test siklus I dan post-test siklus II sebagai berikut.

1. Peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I 66,13% mengalami

peningkatan 87,24% pada siklus ke II. Hasil aktivitas guru sebesar

77,75% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 88,45%.

2. Peningkatan keterampilan menulis aksara Jawa siklus I memberikan hasil

rata-rata 75,92 dan persentase 58,3 %, mengalami peningkatan pada

siklus II hasil rata-rata 84,58 dengan presentase 83,3%. Dari hasil

tersebut, siswa sudah mencapai KKM pada siklus II.

127
B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka peneliti

mempunyai beberapa saran sebagai berikut.

1. Bagi Guru

a. Guru sebaiknya selalu melakukan pengelolaan atau manajemen kelas

yang baik, penataan meja kelompok harus teratur karena penataan

ruang merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan

pelaksanaan proses pembelajaran.

b. Akan lebih baik lagi jika pada saat menerapakan model

pembelajaranTeams Games Tournament yang akan datang, guru lebih

mempersiapkan games dan tournament yang berbeda dan lebih

perhatian menarik.

2. Bagi Siswa

a. Siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menggunakan model

Teams Games Tournament agar bisa lebih aktif serta memiliki rasa

ingin tahu yang tinggi agar memberikan hasil yang maksimal.

3. Bagi Pihak Sekolah

a. Pihak sekolah diharapkan dapat mendorong dan memberikan

dukungan kepada guru agar dapat mewujudkan pembelajaran

kooperatif dengan memberikan tambahan fasilitas dan sarana yang

mendukung untuk kegiatan pembelajaran seperti LCD, ruang kelas

yang memadai dan buku-buku referensi yang menunjang materi

pelajaran sehingga siswa tidak hanya mengandalkan guru dan modul

sebagai sumber belajar.

128
DAFTAR PUSTAKA

Agniyawati. (2014). Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa Kelas V SD


N Ngetal dengan Menggunakan Metode Tipe Teams Games Tournaments
(TGT). Skripsi. FBS Universitas Negeri Yogyakarta.

Agus Suprijono. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______. (2012). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi [Link]:


Pustaka Pelajar.

Arif Rohman. (2009). Memahami Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Mediatama.

Dalman. (2013). Keterampilan Menulis. Jakarta: Rajawali Pers.

Darusuprapta. (2002).Pedoman Penulisan Aksara [Link]: Yayasan


Pustaka Nusatama.

DISDIKPORA DIY. (2010). Kurikulum Muatan Lokal, SK dan KD Mata


Pelajaran Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Yogyakarta.

E. Mulyasa. (2002). Kurikulum Berbasasis Kompetensi: Konsep, Kerakteristik,


Implementasi. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Henry G Tarigan. (2008). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan


[Link]: Angkasa.

Ibnu Hadjar. (1999). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif


DalamPendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Indri Puspita. (2014). Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa dengan


Menggunakan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Pada
Peserta Didik Kelas III Sd Negeri Kragilan 2 Sragentahun 2014. Skripsi.
FKIP Universitas Negeri Semarang.

Isjoni. (2009) . Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan kecerdasan komunikasi


antarpeserta didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Maslichah Asy’ari. (2006). Penerapan Pendekatan Sains Teknologi


[Link]: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Miftahul Huda. (2011). Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan


[Link] : Pustaka Pelajar.

_______. (2013). Model-Model Pengajaran & Pembelajaran. Yogyakarta:

129
Pustaka Pelajar.

Muhammad Anas. (2014). Mengenal Metode Pembelajaran. Pasuruan: Pustaka


Hulva.
Nur Asma. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Departemen
PendidikanNasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Oemar Hamalik. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:. Bumi Aksara.

_______. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Pardjono, dkk. (2007).[Link]:Lembaga Penelitian


UNY.

Riduwan. (2006). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.

Saleh Abbas. (2006). Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif Di


SekolahDasar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

Sardiman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Slavin, E Robert. (2005). Cooperatif Learning. Terj. Nurulita Yusron. Bandung:


NusaMedia.

Sugiyanto. (2008). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia


Sertifikasi Guru Rayon 13.

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan


[Link]: Rineka Cipta.

_______. (2010). Prosedur penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (EdisiRevisi).


Jakarta : Rineka Cipta.

Suwardi Endraswara. (2009). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:


PustakaWidyautama.

Syamsu Yusuf. (2007). Psikologi Anak dan Perkembangan Remaja. Bandung:


Remaja Rosdakrya.

Tim Penyusun. (2003). Pedoman Penulisan Aksara Jawa. Yogyakarta: Yayasan


Pustaka Nusatama.

Zainal Aqib. (2009). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk Guru, SD, SLB, TK..
Bandung: Yrama Widya.

130
LAMPIRAN
Lampiran I Data Subyek Penelitian

Daftar Nama Siswa Kelas V


SD Negeri Nglengking

No Nama Siswa Laki-laki Perempuan


(Inisial)
1. SW 

2. LRA 

3. ADP 

4. EMS 

5. FFH 

6. FNA 

7. MRR 

8. NVA 

9. NA 

10. PDMS 

11. SDR 

10. SAK 

11. SNS 

131
Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


(RPP)

Satuan Pendidikan : SD Negeri Nglengking


Mata Pelajaran : Bahasa Jawa
Kelas/Semester : V/2
Siklus :I
Alokasi Waktu : 2 pertemuan
4 x 35 menit

A. Standar Kompetesi
8. Mengungkapkan gagasan wacana tulis sastra dan nonsastra dalam
kerangka budaya Jawa.

B. Kompetensi Dasar
8.2 Menuliskan kalimat beraksara Jawa yang menggunakan pasangan.

C. Indikator
1. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan panyigeg
dan swara.
2. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang berpasangan.
3. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan
berpasangan.
4. Menulisfrasa menggunakanaksaraJawa yang bersandhangan panyigeg
dan swara.
5. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan
danberpasangan.

132
D. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menulis kata
menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan panyigeg danswara
dengan benar.
2. Setelah melakukan diskusi kelompok, siswa dapat menulis kata
menggunakan aksara Jawa yang berpasangan dengan benar.
3. Setelah melakukan Teams Games Tournament, siswa dapat menulis kata
menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan dengan
benar.
4. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menulisfrasa
menggunakanaksaraJawa yang bersandhangan panyigeg danswara
dengan benar.
5. Setelah melakukan Teams Games Tournament, siswa dapat menulis frasa
menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan berpasangan dengan
benar.

*karakter siswa yang diharapkan : jujur disiplin, tekun, tanggungjawab,


kerjasama, toleransi, keberanian, kerja keras.

E. Materi Pembelajaran (terlampir)


Menulis kata, frasa beraksara Jawa dengan menggunakan sandhangan dan
pasangan.

F. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran


Pendekatan : PAKEM
Model : Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan permainan.

133
G. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi
waktu
Pembuk a. Siswa menjawab salam dari guru. 5 menit
aan b. Salah satu siswa memimpin berdoa untuk memulai
pembelajaran.
c. Guru mempresensi kehadiran siswa.
d. Siswa menanggapi apersepsi dari guru dengan
bercerita tentang “Ajisaka” yang merupakan asal-
usul aksara Jawa Hanacaraka
e. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai
kegiatan dan tujuan pembelajaran yang akan
dilakukan
Inti a. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai 50 menit
macam-macam aksara Jawa beserta pasangannya.
b. Guru meminta salah satu siswa untuk menulis 5
macamaksaraJawa.
c. Siswa yang lain menanggapi apabilaa dakesalahan
dalam penulisan.
d. Siswa diberikan contoh kata menggunakan aksara
Jawa yang bersandhangan dilanjutkan dengan
kata berpasangannya.
e. Siswa diberikan contoh oleh guru menulis kata
beraksara Jawa dengan menerapkan sandhangan
dan pasangan.
f. Guru membagi siswa ke dalam 3 kelompok secara
heterogen. Masing-masing anggota kelompok
berjumlah 4 siswa.
g. Siswa dibagikan LKS berupa game
h. Siswa berdiskusi mengerjakan LKS.
i. Siswa bersama guru membahas LKS.

134
j. Guru mengarahkan aturan turnamen .
k. Setiap perwakilan dari tiap kelompok diminta
untuk maju ke meja turnamen.
l. Pada meja turnamen ada yang bertugas sebagai
pembaca soal, penantang 1, penantang II.
m. Guru mengumumkan bahwa waktu untuk
turnamen telah selesai.
n. Siswa bersama guru menghitung skor yang
mereka peroleh pada saat turnamen..
o. Pemberian penghargaan pada kelompok yang
mendapatkan skor tinggi.
Penutup a. Siswa bersama guru menyimpulkan materi 15menit
pembelajaran yang diajarkan.
b. Siswa melakukan evaluasi pembelajaran.
c. Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari
materi yang telahdiajarkan dan materi selanjutnya.
d. Siswa diberikan pesan moral.
e. Siswa bersama guru berdoa.
f. Salam penutup.

2. Pertemuan Kedua
Kegiatan DeskripsiKegiatan Alokasi
Waktu
Pembuka a. Siswa menjawab salam dari guru. 5 menit
b. Salah satu siswa memimpin berdoa untuk
memulai pembelajaran.
c. Guru mempresensi kehadiran siswa.
d. Siswa menanggapi apersepsi dari guru dengan
menyanyikan lagu “Hanacaraka”.
e. Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai
kegiatan dan tujuan pembelajaran yang akan
dilakukan

135
a. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang 50 menit
materi sebelumnya yaitu menulis macam-macam
aksara Jawa dan kata dengan menerapkan
sandhangan-pasangan.
b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya sebelum mengajarkan materi
selanjutnya.
c. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang
menulisfrasa dengan sandhangan dan pasangan.
d. Beberapa siswa diminta maju kedepan untuk
menulis frasa aksara Jawa.
e. Guru membagi siswa ke dalam 3 kelompok secara
heterogen. Masing-masing anggota kelompok
berjumlah 4 siswa.
f. Siswa dibagikan LKS berupa game melengkapi
aksara Jawa.
g. Siswa berdiskusi mengerjakan LKS.
h. Siswa bersama guru membahas LKS.
i. Guru mengarahkan aturan turnamen.
j. Setiap perwakilan dari tiap kelompok diminta
untuk maju ke meja turnamen.
k. Pada meja turnamen ada yang bertugas sebagai
pembaca soal, penantang 1, penantang II.
l. Guru mengumumkan bahwa waktu untuk
turnamen telah selesai.
m. Siswa bersama guru menghitung skor yang
mereka peroleh pada saat turnamen..
n. Pemberian penghargaan pada kelompok yang
mendapatkan skor tinggi.
a. Siswa bersama guru menyimpulkan materi 15 menit
pembelajaran yang diajarkan.
b. Siswa melakukan evaluasi pembelajaran.

136
c. Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari
materi yang telah diajarkan dan materi
selanjutnya.
d. Siswa diberikan pesan moral.
e. Siswa bersama guru berdoa.
f. Salam penutup.

H. Sumber dan Media Pembelajaran


Sumber : Buku Trampil Basa Jawa 5 terbitan PT Tiga Serangkai
Media : Gambar aksara Jawa beserta pasangannya.

I. Penilaian (terlampir)
Indikator Jenis Instrumen
Penilaian Penilaian
1. Menulis kata menggunakan aksara Jawa Tes Isian
yang bersandhangan panyigeg dan swara
2. Menulis kata menggunakan aksara Jawa Tes Isian
yang berpasangan.
3. Menulis kata menggunakan aksara Jawa Tes Isian
yang bersandhangan dan berpasangan.
4. Menulisfrasa menggunakanaksaraJawa Tes Isian
yang bersandhangan panyigeg dan swara.
5. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa Tes Isian
yang bersandhangan dan berpasangan

J. Lampiran-lampiran
1. Lampiran materi.
2. Lampiran soal gamedan turnamen.
3. Lampiran soal evaluasi.

137
Sleman,16 April 2016
Mengetahui,

138
Lampiran
Materi

Pertemuan I
A. Macam-macam aksara Jawa Beserta Pasangannya.

Nama aksara Bentuk Pasangan Nama Bentuk Pasangan


aksara aksara Aksara
ha pa
a ......H p ......P

na dha
n N
......N
...... d D
.....D
.....

ca ja
c C
.....C
....... j .....JJ....

ra ya
r R
.....R
....... y Y
....Y
.....

ka nya
k K
......K
...... v .....V.....

da ma
f F
......F
...... m M
.....M
.....

ta ga
t T
......T
...... g G
.....G
.....

sa ba
s .....S b B
.....B
.....

wa tha
w W
......W
...... q Q
.....Q
.....

la nga
l L
.......L
..... z Z
.....Z
.....

Macam-macam sandhangan.
1. Sandhangan Swara (Bunyi Vokal)

Nama Bentuk Bunyi Contoh


Wulu i Pipi siti
.....i
p ip i s it i

pepet e Metu telu


.....e

139
m et ut el u

Suku u Kuku putu


......u
k uk up ut u

Talingtarung o Moro poso


[ .....o
[ m o[ r o[ p o

[s o

Taling ȇ Kene rene


[ ........
[k [ n [r [ n

2. Sandhangan Panyigeg (Bunyi Konsonan)

Nama Wujud Bunyi Contoh


Layar -r Layar mabur
...../....
m y /m b u/

Wighyan -h Tengah sawah


.....h
t ez hs w h

Cecak -ng Kolang kaling


.......+
...
[ k ol =
k l i+

Pangkon Aksara Tuku bebek


.......\ mati
t uk u[ b [ b k \

B. Menulis kata menggunakan aksara Jawa bersandhangan


Contoh Kata Aksara Jawa
manuk
m n uk \

Sirna
s i/n

140
uwong
a u[ w =
o

Marang
mr =

Sawah
s wh

C. Menulis kata menggunakan aksara Jawa berpasangan.

Contoh kata Aksara Jawa


pandhawa
p n D
w

Handaka
a n F
k

Sapta
s p T

Kandha
k n D

Ngasta
z s T

D. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan


berpasangan.
Contoh kalimat Bentuk aksara Jawa
mantu
mn T
u

141
Nandang
n n F
=

Rambutan
r mB
ut n \

Pangkat
p =
k t \

Prastawa
p ]s T
w

Pertemuan II
A. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa bersandhangan
frasa Bentuk aksara Jawa
Lagi nyapu
l g iv p u

Kowe kabeh
[ k o[ w k [ b h

Saka pasar
s k p s /

Gajah mungkur
g j hm u=
k u/

Telung piring
t el u=
p ir i=

142
B. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa dengan pasangan dan sandhangan.

Contoh frasa Bentuk aksara Jawa


Sendal jepit
s en F
l Jj ep it \

Buku tulis
b uk ut ul is \

Pasar kembang
p s /k em B
=

Sak piring
s k P ir i=

Pitung pincuk
p it u=
p in C
uk \

143
Lembar Kerja Siswa

Nama kelompok :

Panuntun gladen! 1.
2.
3.
4.

Coba golekna tembung ing papan


tembung iki. Banjur tulisen
nganggo aksara Jawa kanthi
bener. Jeneng tembung ing
papan ana tembung Macapat,
jeneng wayang, lan jeneng
panggonan utawa papan.

144
Papan tembung

P A N G A N D A R A N H I K
S G V A R I H S T W O P K C
N H I T B A A Q C N I M B T
K Q A O C G N J S K O C E Y
I I K T Z A D F I N K T R W
A W P K I K H M D B H T I A
H J U A N T A Y O N C X A Q
T U M C B I N W M K U N P T
I C T A A Q G U U B X R F I
R I S R E Q G C K I T H C S
L K N B C Z U A T K K L O N
B O T R O I L Z I B N M K I
D O F T T U A Z N K I N G D
O K O G V K P T S I K J U I
Y U J P U R W O R E J O H I
Tembung:

1. __________________ =

2. __________________ =

3. __________________ =

4. __________________ =

5. __________________ =

145
Kunci Jawaban

P A N G A N D A R A N H I K
S G V A R I H S T W O P K C
N H I T B A A Q C N I M B T
K Q A O C G N J S K O C E Y
I I K T Z A D F I N K T R W
A W P K I K H M D B H T I A
H J U A N T A Y O N C X A Q
T U M C B I N W M K U N P T
I C T A A Q G U U B X R F I
R I S R E Q G C K I T H C S
L K N B C Z U A T K K L O N
B O T R O I L Z I B N M K I
D O F T T U A Z N K I N G D
O K O G V K P T S I K J U I
Y U J P U R W O R E J O O I
Tembung:

1. Pangandaran =p z n F
r n \

2. Gatotkaca = g [ t ot K
c

3. Dhandhanggula = d n D
=
g ul

4. Sidomukti = s i[ f ok M
uk T
i

5. Purworejo = p u/[ w o x [ j o

146
Lembar Kerja Siswa

Nama Kelompok:
1.
2.
3.
4.

Panuntun Gladen!

Ing lembar soal ana 5 frasa sing durung pepak.

Tugasmu pepakana frasa aksara Jawa mau kanthi

bener. Saben nomer yen bener kabeh bijine 4.

Salah sak suku kata bijine 3. Salah 2 suku kata

bijine 2. Yen salah 3 bijine 1. Biji kabeh soal yen

bener 20. Jawaben kanthi bener!

147
1.
Sendal karet

s en F
a ................

2.
Maju mundur

m j u............F
u/

3.
Minggu esok

............[ a [ s o......

4.
Kembang mekar

k em B
=
m ..............

5.
Omah cilik
........................c il ik \

148
Kunci Jawaban.

1.
Sendal karet

s en F
a K
[r t \

2.
Maju mundur

m j um un F
u/

3.
Minggu esok
m i=
g u[ a [ s ok \

4.
Kembang mekar

k em B
=
m ek /

5.
Omah cilik

[ a om hc il ik \

149
Desain Kertu Pitakon Turnamen

Coba tulisen nganggo aksara

Jawa kanthi bener!

lanang

Desain Kertu Wangsulan Turnamen

Tulisen jawabane ing ngisor


iki!

150
Soal-soal dan kunci jawaban untuk turnamen 1.

Soal Kunci jawaban Soal Kunci jawaban


Panembahan p n em B
a n \ Aswatana a s W
t n

Panjenengan p n Jen ez n \ Senopati [ s [ n op t i

Gegandengan g eg [ n F
z n \ Maskumambang ms K
um m B
=

Pananjakan p n n Jk n \ Sangkuriang s =
k ur ia =

Nguwasani z uw s n i Pawiyatan p w iy t n \

Pangandikan p z n F
ik n \ Purwokerto p u/[ w ok e/[ t o

Adiluhung a f i l ua u=

151
Soal-soal dan Kunci Jawaban Turnamen 2

Soal Kunci jawaban


Minyak mambu m iv k M
mBu

Kembang mawar k em B
=
mw /

Gunung Lawu g un u=l w u

Lunga mancing l uz m n C
i=

Rambut lurus r m b ut L
ur us \

Anak pitik a n a P it ik \

Pinter banget p in T
e/b z et \

Jaran kepang j r [n K
p =

Kanggo bapak k =
[ g ob p k \

Bocah nakal [ b oc hn k l \

Pasar Senen p s / s e[ n n \

Andhap Asor a n D
p H [ s o/

Tempe goreng [ t [ m P [ g o[ r =

152
Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


(RPP)

Satuan Pendidikan : SD Negeri Nglengking


Mata Pelajaran : Bahasa Jawa
Kelas/Semester : V/2
Siklus : II
Alokasi Waktu : 2 pertemuan
4x 35 menit

A. Standar Kompetesi
9. Mengungkapkan gagasan wacana tulis sastra dan nonsastra dalam
kerangka budaya Jawa.

B. Kompetensi Dasar
a. Menuliskan kalimat beraksara Jawa yang menggunakan pasangan.

C. Indikator
6. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan
panyigeg dan swara.
7. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan
berpasangan.
8. Menulis kalimat sederhana menggunakan aksara Jawa yang
bersandhangan
9. Menulis kalimat sederhana menggunakan aksara Jawa yang
bersandhangan dan berpasangan.

D. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat menulis klausa
aksara Jawa yang bersandhangan panyigeg dan swara dengan benar.

153
2. Setelah mengikuti kegiatan Teams Games Tournament, siswa dapat
menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan
berpasangan dengan benar
3. Setelah mengikuti kegiatan diskusi, siswa dapat menulis kalimat
sederhana menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dengan benar.
4. Setelah mengikuti kegiatan Teams Games Tournament, siswa dapat
menulis kalimat sederhana yang bersandhangan dan berpasangan dengan
benar.
*karakter siswa yang diharapkan : jujur disiplin, tekun, tanggungjawab,
kerjasama, toleransi, keberanian, kerja keras.

E. Materi Pembelajaran (terlampir)


Menulis klausa dan kalimat sederhana yang bersandhangan dan berpasangan.

F. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran


Pendekatan : PAKEM
Model : Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan permainan

G. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi waktu
mbukaan a. Siswa menjawab salam dari guru. 5 menit
b. Salah satu siswa memimpin berdoa untuk
memulai pembelajaran.
c. Guru mempresensi kehadiran siswa.
d. Siswa menanggapi apersepsi dari guru
dengan menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh guru mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan materi yang akan
disampaikan.
e. Siswa mendengarkan penjelasan guru

154
mengenai kegiatan dan tujuan
pembelajaran yang akan dilakukan
a. Siswa mendengarkan penjelasan guru 50 menit
cara menulis klausa yang
bersandhangan.
b. Guru meminta salah satu siswa untuk
menulis klausa yang bersandhangan.
c. Siswa yang lain menanggapi apabila ada
kesalahan dalam penulisan.
d. Siswa diberikan contoh klausa
menggunakan aksara Jawa yang
bersandhangan dilanjutkan dengan
pasangannya.
e. Siswa diberikan contoh oleh guru
menulis klausa beraksara Jawa dengan
menerapkan sandhangan dan pasangan.
f. Guru membagi siswa ke dalam 3
kelompok secara heterogen. Masing-
masing anggota kelompok berjumlah 4
siswa.
g. Siswa dibagikan LKS berupa game.
h. Siswa berdiskusi mengerjakan LKS.
i. Siswa bersama guru membahas LKS.
j. Guru mengarahkan aturan turnamen.
k. Setiap perwakilan dari tiap kelompok
diminta untuk maju ke meja turnamen.
l. Pada meja turnamen ada yang bertugas
sebagai pembaca soal, penantang 1,
penantang II
m. Guru mengumumkan bahwa waktu untuk
turnamen telah selesai.
n. Siswa bersama guru menghitung skor

155
yang mereka peroleh pada saat turnamen.
o. Pemberian penghargaan pada kelompok
yang mendapatkan skor tinggi.
nutup a. Siswa bersama guru menyimpulkan 15 menit
materi pembelajaran yang diajarkan.
b. Siswa melakukan evaluasi pembelajaran.
c. Guru mengingatkan siswa untuk
mempelajari materi yang telah diajarkan
dan materi selanjutnya.
d. Siswa diberikan pesan moral.
e. Siswa bersama guru berdoa.
f. Salam penutup.

Pertemuan Kedua
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu
mbuka a. Siswa menjawab salam dari guru. 5 menit
b. Salah satu siswa memimpin berdoa untuk
memulai pembelajaran.
c. Guru mempresensi kehadiran siswa.
d. Siswa menanggapi apersepsi dari guru
dengan menyanyikan lagu “Hanacaraka”
e. Siswa mendengarkan penjelasan guru
mengenai kegiatan dan tujuan
pembelajaran yang akan dilakukan
Inti a. Siswa mendengarkan penjelasan guru
menit
tentang materi sebelumnya yaitu menulis
klausa menggunakan aksara Jawa yang
bersandhangan dan berpasangan.
b. Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya sebelum
mengajarkan materi selanjutnya.
c. Siswa mendengarkan penjelasan guru

156
tentang menulis kalimat sederhana
menggunakan aksara Jawa yang
bersandhangan dan dilanjutkan
berpasangan.
d. Beberapa siswa diminta maju kedepan
untuk menulis kalimat sederhana aksara
Jawa.
e. Guru membagi siswa ke dalam 3
kelompok secara heterogen. Masing-
masing anggota kelompok berjumlah 4
siswa.
f. Siswa dibagikan LKS berupa game
menyusun kata menjadi kalimat sederhana
g. Siswa berdiskusi mengerjakan LKS.
h. Siswa bersama guru membahas LKS.
i. Guru mengarahkan aturan turnamen
akademik.
j. Setiap perwakilan dari tiap kelompok
diminta untuk maju ke meja turnamen.
k. Pada meja turnamen ada yang bertugas
sebagai pembaca soal, penantang 1,
penantang II.
l. Guru mengumumkan bahwa waktu untuk
turnamen telah selesai.
m. Siswa bersama guru menghitung skor yang
mereka peroleh pada saat turnamen..
n. Pemberian penghargaan pada kelompok
yang mendapatkan skor tinggi.
Penutup a. Siswa bersama guru menyimpulkan materi 15 menit
pembelajaran yang diajarkan.
b. Siswa melakukan evaluasi pembelajaran.
c. Guru mengingatkan siswa untuk

157
mempelajari materi yang telah diajarkan
dan materi selanjutnya.
d. Siswa diberikan pesan moral.
e. Siswa bersama guru berdoa.
f. Salam penutup.

H. Sumber dan Media Pembelajaran


Sumber : Buku Trampil Basa Jawa 5 terbitan PT Tiga Serangkai
Media : Gambar aksara Jawa beserta pasangannya.

I. Penilaian (terlampir)
Indikator Jenis Penilaian Instrumen Penilaian
1. Menulis klausa menggunakan Tes Isian
aksara Jawa yang
bersandhangan panyigeg dan
swara.
2. Menulis klausa menggunakan Tes Isian
aksara Jawa yang
bersandhangan dan
berpasangan.
3. Menulis kalimat sederhana Tes Isian
menggunakan aksara Jawa
yang bersandhangan
4. Menulis kalimat sederhana Tes Isian
menggunakan aksara Jawa
yang bersandhangan dan
berpasangan.

158
J. Lampiran-lampiran
1. Lampiran materi.
2. Lampiran soal game dan turnamen.
3. Lampiran soal evaluasi.

Mengetahui,

159
Lampiran
Materi Pembelajaran

Pertemuan 3
A. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan.
Klausa yaitu kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan
predikat.
Contoh Bentuk aksara Contoh Bentuk aksara Jawa
Klausa Jawa klausa
Banyu mili Desone rame
b v um il i [ s o[ n r [ m

Bejo adus Sikile loro


b e[ j oa f us \ i[ l [ l o[ r o

Rini turu
r in it ur u

B. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa yang berpasangan.


Contoh klausa Bentuk aksara Jawa
Maca aksara
mc a k S r

Santa lara
s n T
l r

C. Menulis Klausa menggunakan aksara Jawa yang bersandhangan dan


berpasangan.
Contoh klausa Bentuk aksara Jawa
Sumanto mangan
s um a [ n T
om z n \

160
Manuk mabur
m n uk M
b u/

Adol minyak
a [ f ol M
iv k \

Astuti lunga
a s T
ut i l uz

Pertemuan 4
A. Menulis kalimat sederhana menggunakan aksara Jawa bersandhangan
ontoh kalimat ntuk aksara Jawa
Ani maca ana latar
a n im c a n l t /

Riang tuku sarung


r ia =
t uk us r u=

ni makani sapi
m /n im k n i s p i

B. Menulis kalimat sederhana yang berpasangan dan bersandhangan


Contoh kalimat Bentuk aksara Jawa
Aja mangan pinggir lawang
a j m z n P i=
g i/l w =

Karna perang karo arjuna


k /n p er =
k [ r oa /j un

Becik ketitik ala ketara


b ec ik K
et it ik H l k et r

161
Lampiran Permainan

Lembar Kerja Siswa

Nama kelompok:
1. ________________
2. ________________
3. ________________
4. ________________
_

Panuntun Gladen!

Coba gawekna lima klausa saka tembung-

tembung iki. Banjur tulisen nganggo aksara

Jawa kanthi bener. Menawa bener saben

nomer bijine 4. Sapa sing bener kabeh oleh

biji 20! Jawaben kanthi bener.

162
sregep tindhak macul

murni mangan ibu

pecel adhik nandur

kembang

Wangsulan:

Klausa Wujud aksara Jawa


1.

2.

3.

4.

5.

163
Lampiran permainan 2
Game 4 “Nyusun Ukara”

Jeneng kelompok:
1. ____________________
2. ____________________
3. ____________________
4. ____________________
_____

Panuntun Gladen!

Susunen ukara-ukara acak iki

supaya dadi ukara ingkang bener.

Banjur tulisen nganggo aksara

Jawa kanthi bener. Menawa bener

saben nomer bijine 20. Salah siji

15. Sapa sing bener kabeh oleh

biji 100!

164
“Nyusun Ukara”

Wangsulana kanthi bener!

Ukara Wujud aksara Jawa

1. Siti – bengi – mau – lunga

2. Dolan – kowe – keno – ora

3. Malang – bali – Aji – saka

4. Ing – tuku – toko – buku

5. Bayem – Puji – sayur – tuku

165
Kunci jawaban.

Ukara Wujud aksara Jawa


1. Siti – bengi – mau – lunga
s it i l uz m a ub ez i
Siti lunga mau bengi
2. Dolan – kowe – keno – ora
[ k o[ w [ a or k e[ n o[ f ol n \
Kowe ora keno dolan
3. Malang – bali – Aji – saka
a j ib l is k m l =
Aji bali saka Malang
4. Ing – tuku – toko – buku
t uk ub uk ua =
[ t o[ k o
Tuku buku ing toko
5. Bayem – Puji – sayur – tuku
P uj it uk us y u/b y em \
Puji tuku sayur bayem

166
Soal turnamen 3
Soal Bentuk aksara Jawa
Nembang jawi n em B
=j w i

Resti mumet [r s T
i m um et \

Ngangkat meja z =
k [t M
j

Mirna nangis m i/n n z is \

Nyerok sampah [ v [ r ok S m P h

Nutup kardus n ut up K
/f us \

Ngumbah piring z um B
h p ir i=

Harno dolan a /[ n o [ f ol n \

Nendang kursi n en F
=k u/s i

Mangan bubur mz n B
ub u/

Pindah omah p in F
h [ a om h

Ngobong kertas [ z o[ b =
o k /et s \

Tuku beras t uk ub e
r s \

167
Soal turnamen 4
Soal Bentuk aksara Jawa
Ibu nembe tumbas tigan a ib un e[ m Bt um B
s T
ig n \

Simbah kakung maos koran s im B


hk k u=
m [ a o[ s K
or n \

Linda lagi mangan bakwan l in F


l g im z n B
k W
n \

Tami weruh kucing putih t m iw er uhk uc i=


p ut ih

Doni jaga warung sate [ f on ij g w r u=


s [t

Aku oleh biji apik a k u[ a o[ l hb ij ia p ik \

Mancing ing waduk sermo m n i=


C
a i=w f uk S /e[ m o

Aku budhal menyang pasar a k ub ud l M


ev =
p s /

Coba kowe nembang jawa [ c ob [ k o[ w n em B


=j w

Tuku beras ning warung t uk ub e


r s N
i=
w r u=

Para siswa padha sinau p r s is W


p d s in a u

Mau bengi ana maling m a ub ez ia n m l i=

Aldi gawe kapal kertas a l F


ig [ w k p l K
e/t s \

168
Lampiran 4 Soal Post-test I

Soal Post-Test
Nama : ............................
No : ............................

Tulisen nganggo aksara Jawa!


1. Adhedhasar 6. Panempama
2. Amarsudi 7. Gemah ripah
3. Pancawala 8. Solah bawa
4. Pangaksama 9. Lele jumbo
5. Karmeswari 10. Candhi mendhut

Wangsulan:

169
Kunci jawab soal Post-test siklus 1

1. a d ed s /

2. a m /s uf i

3. p n C
wl

4. p z k S m

5. k [ ms W
r i

6. p n em P m

7. g em hr ip h

8. [ s ol hb w

9. [ l [ l j u[ m B
o

10. c n D
im en F
ut \

170
Penilaian Post-Test

No Indikator Jumlah No
soal soal
1. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 1,2
bersandhangan panyigeg danswara
2. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 3,4
berpasangan.
3. Menulis kata menggunakan aksara Jawa yang 2 5,6
bersandhangan dan berpasangan.
4. MenulisfrasamenggunakanaksaraJawayang 2 7,8
bersandhangan panyigeg danswara.
5. Menulis frasa menggunakan aksara Jawa yang 2 9,10
bersandhangan danberpasangan

Skor maksimal : 40

jumlah skor perolehan


Nilai = x %
skor maksimal

171
Lampiran 5. Soal Post-test II
Soal Post Test

Nama : ____________
No : ____________

Tulisen nganggo aksara Jawa!


1. Kucing turu 6. Wingi aku tuku buku
2. Mulang kelas 7. Karni sinau ana kamar
3. Tumbas tigan 8. Simbah nembe dhahar sekul
4. Ngumbah kaos 9. Pakdhe tindak dhateng kantor
5. Maos koran 10. Adhik banjur milah buku

Wangsulan:

172
Kunci jawaban post-test II

1. k uc i=
t ur u 6. w iz ia k ut uk ub uk u

2. m ul =
k el s \ 7. k /n is in a ua n k m /

3. t um B
s T
ig n \ 8. s im B
hn e[ m B
d a /s ek ul \

4. z um B
hk [ a os \ 9. p [ k D
t in F
k D
t e_k [ n T
o/

5. m [ a o[ s K
or n \ 10. a d ik B
n Ju/m il hb uk u

Lampiran Penilaian
No ndikator Jumlah butir No butir
1. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa 2 1,2
yang bersandhangan panyigeg danswara
2. Menulis klausa menggunakan aksara Jawa 3 3,4,5
yang bersandhangan dan berpasangan.

3. Menulis kalimat sederhana menggunakan 2 6,7


aksara Jawa yang bersandhangan.
4. Menulis kalimat sederhana menggunakan 3 8,9,10
aksara Jawa yang bersandhangan dan
berpasangan.

Skor maksimal : 40
jumlah skor perolehan
Nilai = x %
skor maksimal

173
Lampiran 6 Hasil Post-test I

174
175
Lampiran 7 Hasil Post-test II

176
177
Lampiran 8 Rekapitulasi Nilai Siswa Siklus I dan II

Rekapitulasi Nilai Siklus I dan II


No Nama Siswa Nilai Siklus I Nilai Siklus II
(Inisial)
1. SW - -
2. LRA 30 42,5
3. ADP 95 95
4. EMS 97,5 92,5
5. FFH 57,5 57,5
6. FNA 85 95
7. MRR 100 100
8. NVA 87,5 100
9. NA 95 100
10. PDMS 62,5 87,5
11. SDR 45 67,5
12. SAK 62,5 80
13. SNS 92,5 97,5
Rata-rata 75,92 84,58
Ketuntasan 58,3% 83,3%

178
Lampiran 9 Aturan Turnamen Akademik
Peraturan Permainan
Pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

1. Untuk memulai permainan dalam setiap meja turnamen menentukan dulu


pembaca soal dan pemain yang pertama dangan cara undian.
2. Pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi soal dan
diberikan kepada pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal bertugas
untuk membacakan soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut
menjawab atau menberikan jawaban kepada kelompok lain.
3. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan kartu soal yang dipilih
oleh pemain. Selanjutnya soal di jawab dengan mandiri oleh pemain, dan
penantangnya sesuai dengan waktu yang ditentukan.
4. Setelah waktu untuk menjawab selesai, maka pemain akan menyebutkan hasil
jawabanya.
5. Setelah soal di jawab benar, pemain tersebut mendapatkan nilai sesuai
angkayang skor yang tertera dalam kartu soal tersebut. Jika semua pemain
tidak dapat menjawab atau menjawab salah maka kartu di biarkan saja.
6. Permainan di lanjutkan pada kartu berikutnya sampai semua kartu soal habis
dibacakan, dimana posisi pemain di putar searah jarum jam agar peserta
dalam satumeja dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain dan penantang.
7. Setelah semua kartu selesai terjawab atau terbuka setiap pemain dalam satu
meja. Setiap pemain menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan
menghitung skor yang didapatkan.
8. Selanjutnya setiap pemain kembali ke kelompok asal dan melaporkan skor
yang diperoleh dan mengisikan pada tabel yang telah tersedia. Ketua
kelompok memasukan skor yang diperoleh anggotanya kemudian di hitung
jumlah skor yang di diperoleh dalam kelompoknya

179
Lampiran 10 Bagan Pertandingan Turnamen I

Pembagian Kelompok Turnamen 1

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3


“gareng” “bagong” “Semar”
MRR SNS ADP
EMS FNA NA
NVA SAK FFH
PDMS SDR LRA
SW

TIM Gareng

A-1 A-2 A-3 A-4 A-5


MRR EMS NVA PDMS SW

Meja Meja Meja Meja


Turnamen Turnamen Turnamen Turnamen
1 2 3 4

C-1 C-2 C-3 C-4


B-1 B-2 B-3 B-4
ADP NA FFH LRA
SNS FNA SAK SDR

TIM Bagong TIM Semar

180
Lampiran 11 Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik I

Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik I

a. Meja Turnamen I
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng MRR    3 60

Bagong SNS   2 40

Semar ADP   2 40

b. Meja Turnamen II
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng EMS   2 40

Bagong FNA    3 60

Semar NA   2 40

181
c. Meja Turnamen III
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng NVA   2 40

Bagong SAK   2 40

Semar FFH   2 40

d. Meja Turnamen IV
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng PDMS   2 40

Bagong SDR  1 20

Semar LRA 0 0

Gareng SW

182
Lampiran 12 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen Akademik I

Teknik Penyekoran setelah Turnamen I

a. Kelompok Gareng
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
7. MRR 60
4. EMS 40
8. NVA 40
10. PDMS 40
1. SW -
Jumlah skor kelompok 180
Rata-rata skor selompok 45
(tim baik)

b. Kelompok Bagong
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
13. SNS 40
6. FNA 60
12. SAK 40
13. SDR 20
Jumlah skor kelompok 160
Rata-rata skor selompok 40
(tim baik)

183
c. Kelompok Semar
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
3. ADP 60
9. NA 40
5. FFH 40
2. LRA 0
Jumlah skor kelompok 140
Rata-rata skor selompok 35
(tim baik)

Keterangan Penyekoran
Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan
40 Tim Baik
50 Tim Sangat Baik
60 Tim Super

Skor Tim dalam Turnamen


Robert E. Slavin (2005: 175)

184
Lampiran 13 Bagan Pertandingan Turnamen II

Pembagian Kelompok Turnamen II

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3


“gareng” “bagong” “Semar”
FNA ADP MRR
EMS FFH SNS
NVA NA SAK
PDMS SDR LRA
SW

TIM Gareng

A-1 A-2 A-3 A-4 A-5


FNA EMS NVA PDMS SW

Meja Meja Meja Meja


Turnamen Turnamen Turnamen Turnamen
1 2 3 4

B-1 B-2 B-3 B-4 C-1 C-2 C-3 C-4


ADP FFH NA SDR MRR SNS SAK LRA

TIM Bagong TIM Semar

185
Lampiran 14 Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik II

Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik II

a. Meja Turnamen I
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng FNA    3 60

Bagong ADP    3 60

Semar MRR    3 60

b. Meja Turnamen II
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng EMS   2 40

Bagong FFH   2 40

Semar SNS    3 60

186
c. Meja Turnamen III
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng PDMS    3 60

Bagong NA   2 20

Semar SAK   2 20

d. Meja Turnamen IV
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng NVA    3 60

Bagong SDR  1 20

Semar LRA  1 20

Gareng SW

187
Lampiran 15 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen Akademik II

Teknik Penyekoran setelah Turnamen II

a. Kelompok Gareng
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
6. FNA 60
4. EMS 40
8. NVA 60
10. PDMS 40
1. SW -
Jumlah skor kelompok 200
Rata-rata skor selompok 50
(tim sangat baik)

b. Kelompok Bagong
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
3. ADP 60
5. FFH 40
9. NA 40
13. SDR 20
Jumlah skor kelompok 160
Rata-rata skor selompok 40
(tim baik)

188
c. Kelompok Semar
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
3. ADP 60
9. NA 40
5. FFH 40
2. LRA 0
Jumlah skor kelompok 140
Rata-rata skor selompok 35
(tim baik)

Keterangan Penyekoran
Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan
40 Tim Baik
50 Tim Sangat Baik
60 Tim Super

Skor Tim dalam Turnamen


Robert E. Slavin (2005: 175)

189
Lampiran 16 Bagan Pertandingan Turnamen III

Pembagian Kelompok Turnamen III

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3


“gareng” “bagong” “Semar”
EMS MRR ADP
SNS NA NVA
PDMS FNA SAK
SDR FFH LRA

TIM Gareng

A-1 A-2 A-3 A-4


EMS SNS PDMS SDR

Meja Meja Meja Meja


Turnamen Turnamen Turnamen Turnamen
1 2 3 4

B-1 B-2 B-3 B-4 B-5 C-1 C-2 C-3 C-4

MRR NA FNA FFH SW ADP NVA SAK LRA

TIM Bagong TIM Semar

190
Lampiran 17 Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik III

Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik III

a. Meja Turnamen I
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng EMS    3 60

Bagong MRR    3 60

Semar ADP    3 60

b. Meja Turnamen II
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng SNS    3 60

Bagong NA    3 60

Semar NVA    3 60

191
c. Meja Turnamen III
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng PDMS    3 60

Bagong FNA    3 60

Semar SAK   2 40

d. Meja Turnamen IV
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng SDR  1 20

Bagong FFH   2 40

Semar LRA  1 20

Gareng SW

192
Lampiran 18 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen Akademik III

Teknik Penyekoran setelah Turnamen III

a. Kelompok Gareng
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
4. EMS 60
13. SNS 60
10. PDMS 60
11. SDR 20
Jumlah skor kelompok 200
Rata-rata skor selompok 50
(tim sangat baik)

b. Kelompok Bagong
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
7. MRR 60
9. NA 60
6. FNA 60
5. FFH 40
Jumlah skor kelompok 220
Rata-rata skor selompok 55
(tim sangat baik)

193
c. Kelompok Semar
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
3. ADP 60
8. NVA 60
12. SAK 40
2. LRA 20
Jumlah skor kelompok 180
Rata-rata skor selompok 45
(tim baik)

Keterangan Penyekoran
Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan
40 Tim Baik
50 Tim Sangat Baik
60 Tim Super

Skor Tim dalam Turnamen


Robert E. Slavin (2005: 175)

194
Lampiran 19 Bagan Pertandingan Turnamen IV

Pembagian Kelompok Turnamen IV

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3


“Gareng” “Bagong” “Semar”
FNA NA SNS
EMS MRR ADP
NVA PDMS SAK
LRA FFH SDR
SW

TIM Gareng

A-1 A-2 A-3 A-4


FNA EMS NVA LRA

Meja Meja Meja Meja


Tur Tur Tur Tur
nam na na nam

B-1 B-2 B-3 B-4 C-1 C-2 C-3 C-4 C-5


NA MRR FNA PDMS SNS ADP SAK SDR SW

TIM Bagong TIM Semar

195
Lampiran 20 Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik IV

Teknik Penyekoran Individu Siswa dalam Turnamen Akademik IV

a. Meja Turnamen I
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng FNA    3 60

Bagong NA    3 60

Semar SNS    3 60

b. Meja Turnamen II
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng EMS    3 60

Bagong MRR    3 60

Semar ADP    3 60

196
c. Meja Turnamen III
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng NVA    3 60

Bagong PDMS    3 60

Semar SAK   2 40

d. Meja Turnamen IV
Kelompok Nama Siswa No Pertanyaan Jumlah Skor
(Inisial) pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
terjawab
Gareng LRA  2 20

Bagong SDR   2 40

Semar FFH    3 60

Semar SW - -

197
Lampiran 21 Teknik Penyekoran Kelompok setelah Turnamen Akademik IV

Teknik Penyekoran setelah Turnamen IV

a. Kelompok Gareng
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
6 FNA 60
4 EMS 60
8. NVA 40
2. LRA 20
Jumlah skor kelompok 180
Rata-rata skor selompok 45
(tim baik)

b. Kelompok Bagong
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
9. NA 60
7. MRR 60
10. PDMS 20
5. FFH 60
Jumlah skor kelompok 200
Rata-rata skor selompok 50
(tim sangat baik)

198
c. Kelompok Semar
No Nama Siswa (Inisial) Skor Turnamen
Absen yang diperoleh
13. SNS 60
3. ADP 60
12. SAK 20
11 SDR 40
Jumlah skor kelompok 180
Rata-rata skor selompok 45
(tim baik)

Keterangan Penyekoran
Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan
40 Tim Baik
50 Tim Sangat Baik
60 Tim Super

Skor Tim dalam Turnamen


Robert E. Slavin (2005: 175)

199
Lampiran 22 Hasil Menulis Aksara Jawa Siswa
Menulis Kata Beraksara Jawa

200
Menulis Frasa Beraksara Jawa

201
Menulis Klausa Beraksara Jwa

202
Menulis Kalimat Sederhana Beraksara Jawa

203
Lampiran 23 Lembar Observasi Kegiatan Guru dalam Menerapkan Model TGT
Lembar Observasi Guru
Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games
Tournament
(TGT) di Kelas V SD Negeri Nglengking Sleman

Mata Pelajaran :
Hari/tanggal :
Siklus/Pertemuan ke :
Waktu :
Materi :

Petunjuk Pengisian :
1. Instrumen ini digunakan selama proses belajar menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament untuk memberikan
skor terhadap guru.
2. Berilah skor 1-4 pada kolom yang tersedia.
Keterangan:
4 = Guru dalam pembelajaran selalu sesuai dengan aspek yang diamati.
3 = guru dalam pembelajaran sering sesuai dengan aspek yang diamati.
2 = guru dalam pembelajaran jarang sesuai dengan aspek yang diamati.
1 = guru dalam pembelajaran tidak pernah sesuai dengan aspek yang diamati.
No Aspek yang diamati Skor Keterangan
4 3 2 1
1. Guru membuka pelajaran
dengan doa dan salam.
2. Guru melakukan apersepsi
3. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran
4. Guru menggali pengetahuan
awal siswa tentang materi
aksara Jawa.

204
No Aspek yang diamati Skor Keterangan
4 3 2 1
5. Guru menjelaskan materi aksara
Jawa
6. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya
apabila ada hal yang belum
dipahami
7 Guru membentuk kelompok
secara heterogen.
8. Guru menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan.
9 Guru membagikan lembar LKS
berupa game.
10. Guru membimbing siswa
melakukan diskusi kelompok.

11 Guru meberikan kesempatan


kepada siswa untuk membahas
hasil diskusi.
12. Guru menjelaskan aturan
turnamen akademik
13. Guru membimbing siswa
melakukan turnamen akademik.
14 Guru menghitung waktu
turnamen apabila turnamen
sudah selesai.
15. Guru melakukan penyekoran
hasil turnamen dan game siswa
16. Guru memberikan penghargaan
pada tim yang memiliki jumlah
nilai tertinggi.

205
No Aspek yang diamati Skor Keterangan
4 3 2 1
17. Guru memberikan kesimpulan
18. Guru menutup pembelajaran.
Jumlah Skor

Guru Kelas, Observer,

Dasimi Kristina, S. Pd Elia Arsiati Jani Wilyadi


NIP 195605201977012001 NIM 12108241025

206
Lampiran 24 Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa Menggunakan Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
(TGT) di Kelas V SD Negeri Nglengking Sleman

Mata Pelajaran :
Hari/tanggal :
Siklus/Pertemuan ke :
Waktu :
Materi :
Petunjuk Pengisian :
1. Instrumen ini digunakan selama proses belajar menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament untuk memberikan
skor terhadap aktivitas belajar siswa.
2. Berilah skor 1-4 pada kolom yang tersedia.
Keterangan:
4= Siswa dalam pembelajaran selalu sesuai dengan aspek yang diamati.
3= Siswa dalam pembelajaran sering sesuai dengan aspek yang diamati.
2= Siswa dalam pembelajaran jarang sesuai dengan aspek yang diamati.
1= Siswa dalam pembelajaran tidak pernah sesuai dengan aspek yang diamati.
Aspek yang No. Absen Keterangan
diamati 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Skor (4,3,2,1)
Siswa
mengemukakan
pengetahuan
awalnya tentang
materi aksara
Jawa.
Siswa
memperhatikan
penjelasan guru
tentang materi
aksara Jawa.

207
Aspek yang No. Absen Keterangan
diamati
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Skor (4,3,2,1)
Siswa mencatat
materi pelajaran
yang disampaikan
guru di buku tulis
masing-masing.
Siswa bertanya
kepada guru
apabila ada
pelajaran yang
belum dipahami.
Siswa membentuk
kelompok
heterogen dengan
bimbingan guru.
Siswa berdiskusi
mengerjakan soal
game (LKS).
Siswa menuliskan
hasil diskusi pada
lembar kerja LKS.
Siswa
mempresentasikan
hasil diskusi.
Siswa
menanggapi
teman yang
sedang
memaparkan hasil
diskusi.

208
Aktivitas yang No. Absen Keterangan
diamati 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Skor (4,3,2,1)
Siswa
mendengarkan
penjelasan guru
tentang aturan
turnamen
akademik.
Siswa melakukan
turnamen
akademik.
Siswa menghitung
skor yang
diperoleh dari
individu maupun
kelompok.
Skor

Guru Kelas, Observer,

Dasimi Kristina, S. Pd Elia Arsiati Jani Wilyadi


NIP 195605201977012001 NIM 12108241025

209
Lampiran 25 Hasil Observasi Guru pada Siklus I Pertemuan 1

210
211
212
Lampiran 26 Hasil Observasi Guru pada Siklus I Pertemuan 2

213
214
215
Lampiran 27 Hasil Observasi Guru pada Siklus II Pertemuan 1

216
217
218
Lampiran 28 Hasil Observasi Guru pada Siklus II Pertemuan 2

219
220
221
Lampiran 29 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 1

222
223
224
Lampiran 30 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Pertemuan 2

225
226
227
Lampiran 31 Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 1

228
229
230
Lampiran 32 Hasil Observasi Belajar Siswa Siklus II Pertemuan 2

231
232
233
Lampiran 33 Dokumentasi Pelaksanaan Tindakan

A. Pelaksanaan Tindakan Siklus I


1. Guru menjelaskan materi dan membimbing siswa

2. Bekerja Kelompok

3. Melakukan Turnamen Akademik

234
4. Penghargaan Terhadap Tim

B. Siklus II
1. Guru meminta siswa menuliskan aksara Jawa

2. Siswa berdiskusi dengan kelompok dan menuliskan jawabannya di papan


tulis.

235
3. Siswa melakukan Turnamen Akademik

4. Siswa mengerjakan soal post-test

236
Lampiran 34 Surat Ijin Penelitian

237
238
239
240

Anda mungkin juga menyukai