Pidato Perpisahan!
Kesan dan Pesan Kelas 12*
MA ya’abidi** ……….*
T.P. : …../…..*
Baik, terimakasih atas waktu yang telah diluangkan kepada saya oleh pembawa acara
untuk menyampaikan pesan dan kesan. Dan sebelum itu, sambutlah salam dan sapa saya
ASSALAMUALLAIKUM WR WB
Pertama-tama, yang terhormat Bapak Kepala Sekolah MA YA’ABIDI : BAPAK USTAD
JUMHUDI SHOLEH [Link].I [Link]*
Yang saya hormati, Bapak kepala MTS YA’ABIDI : BAPAK MAKHRUS ALI S.E
Yang saya hormati, Bapak kepala MI MIFTAHUL HUDA : BAPAK USTAD
[Link] [Link].I
Yang saya hormati, KETUA KOMITE MA YA’ABIDI : Bapak H ABDUL AZIZ
Yang saya hormati, Bapak dan Ibu Guru dan Pegawai dan Staf TU MA YA’ABIDI,
Yang saya hormati, Seluruh Orangtua kami yang berkenan hadir pada saat ini,
Yang saya hormati, Para tamu Undangan
Yang saya hormati, Pengurus OSIS MA YA’ABIDI, serta
Yang tak terlupakan teman-teman se-angkatan, dan terlebih-lebih kepada adik-adik yang
kami banggakan.
Orang tua kami, guru-guru tercinta dan teman-teman seperjuangan yang saya
banggakan, Puji dan syukur kita panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
berkat dan pertolongan-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul ditempat
yang sederhana ini dalam rangka “Doa Syukuran Sekaligus Pamitan Kelas 9 MTS
YA’ABIDI dan 12 MA YA’ABIDI”, meski kita semua sudah sama tahu bahwa tatap muka
diantara kita pada hari ini bisa jadi acara tatap muka yang terakhir kalinya.
Jujur, perasaan saya saat ini cukup sulit untuk digambarkan dengan terperinci. Sedikitnya
saya merasa geli! Geli melihat wajah teman-teman yang dulunya terlihat pucat tanpa
riasan apapun, kini terasa asing dengan wajah penuh semangat. Saya sedikit nervous,
ketika dulunya belajar dalam kelas dengan satu guru saja, kini semuanya berkumpul
dalam tempat ini. Tapi dibalik semua itu, saya sangat terharu! Terharu karena dalam
acara ini saya bisa mengenal wajah-wajah pahlawan yang membesarkan kami sebagai
generasi penerus. Mengingat masa kemarin, ada begitu banyak kenangan yang
terlewatkan, bahkan saya tidak menyangka tinggal menghitung hari lagi teman-teman
semuanya akan menanggalkan seragam putih abu-abu kebanggaan kita, rasanya baru
kemarin kita masih kelas XII.
Teman-teman seperjuangan yang penuh semangat, memang pada kenyataannya, mungkin
setelah momen ini berakhir, (teman-teman semua sudah saling meninggalkan orangtua,
kakak, adik bahkan tempat kelahiran yang kita banggakan ini)***, yang berarti untuk
selanjutnya di antara kita sudah tidak akan ada lagi canda, sedih, ribut dalam kelas,
kesalahpahaman diantara kita, dimarahi guru, tidur saat belajar, bahkan bolos, tidak
berkumpul dan bersatu disetiap hari kita lagi, baik didalam maupun diluar kelas. Teman-
teman sekalian, tak ada lagi kata nyontek PR diantara kita, sudah tak bisa lagi
menjadikan kegiatan pengembangan diri seperti OSIS, Pramuka, pmr sebagai alasan
semata untuk menghindari pekerjaan rumah. Ya, sangat tepat, kami sering menjadikan
momen itu untuk selfie bareng teman di pantai, nongkrong sana-sini dan sebagainya.
Hadirin yang saya hormati, hari ini adalah kesempatan bagi kita para siswa dan siswi
untuk saling memperbaiki hubungan. Sudah tak bisa lagi ditutupi, kami sebagai anak dan
murid sering melawan setiap nasehat yang dilontarkan pada kami, tidak memperdulikan
apa yang seharusnya kami perdulikan, bahkan kami sering menutup telinga dengan
rangkaian kalimat yang berulang kali diucapkan. Tanpa sadar, kami sering
mencerminkan sikap buruk kami di rumah terhadap bapak/ibu guru kami.
Jujur, kata-kata kasar itu sering keluar dari bibir anak didik kalian ini ketika beliau
berusaha mengarahkan kami ke arah yang benar. Sekali lagi saya jujur, ini bukan
pengakuan, tapi sebuah kenyataan.
Bosan? Iya benar kami tak jarang merasa bosan dengan tiap kata bapak/ibu. Terkadang
kami berpikir apa gunanya belajar di sekolah? Belajar soal Logaritma, Vocabulary,
Trigonometri, Persamaan Reaksi, Tenses, Akuntansi, menelaah pendapat para filsafat
hingga ke akar-akarnya, apa gunanya belajar semua itu hingga celana kami pada bolong
bagian belakangnya?
Hadirin yang terhormat, seperti yang telah diperkirakan, semua dijalani dengan penuh
masa abu-abu, dimana kami masih belum sadar akan pentingnya semua nasehat dari
orang tua dan guru-guru kami, masa dimana kami masih belum kenal betul arti dari kata
“Sukses”. Semua itu terselimuti oleh kenangan dimana kami belum menghargai semua
perjuangan bapak/ibu. Namun sejatinya, kami anak-anak kalian penasaran, dalam hati
kami ingin melihat air mata haru bapak/ibu yang ikut tersenyum bahagia melihat kami
kelak menjadi sosok yang pantas untuk dibanggakan.
Saya mewakili teman-teman semuanya, ingin mengucapkan permohonan maaf yang
sebesar-besarnya, maafkan kami bapak/ibu, kami telah banyak salah kepada para beliau,
dan ucapan terima kasih yang tidak ada henti-hentinya kepada guru-guru yang tak
pernah menyerah mendidik kami, memberikan kami dan mengajarkan kami banyak hal
dari bagaimana menghadapi hidup ini dan menjadi seorang anak yang tidak tahu menjadi
tahu, dari tak berakhlak menjadi berakhlak. Kami tak bisa memberikan benda atau
apapun yang berharga seperti berlian, hanya doa dari kami semua untuk ibu dan bapak
agar Allah S.W.T. memberikan bapak/ibu kesehatan, umur panjang, dan semua yang
terbaik didunia maupun diakhirat. Tetaplah menjadi sosok pahlawan tanpa lencana untuk
anak didik bapak/ibu. Sekali lagi maafkan kami dan terimakasih ibu dan bapak guru.
Mohon doa restu untuk kami semua agar menjadi orang yang berguna untuk sesama dan
sukses dikehidupan yang sesungguhnya.
Teruntuk Orang Tua kami yang telah membesarkan kami, terimakasih ayah, terima kasih
ibu, kami bisa menduduki bangku sekolah karna berkat usaha dan perjuangan beliau. Tak
bisa kami pungkiri, kami masih dan sangat membutuhkan dukungan dari bapak dan ibu
kami untuk melanjutkan anak-anakmu ini ke jenjang yang lebih tinggi. Kita semua
percaya bahwa tidak ada yang menginginkan terjadinya perpisahan, namun terkadang
terdapat situasi tertentu yang mengharuskan perpisahan itu terjadi. Untuk itu, doakanlah
kami Pak, Bu, agar segala ujian yang kami tempuh dapat membuahkan hasil yang tidak
membuat malu almamater sekolah yang dulu kami kenakan.
Pesan kami kepada adik-adik sekalian, tetaplah kiranya kalian berjuang untuk menjadi
siswa yang bisa mengharumkan nama baik sekolah kita tercinta ini. Rajinlah
kalian untuk mengikuti semua kegiatan pengembangan diri yang ada. Pulang
sore, tahan lapar, panas hujan, lembur kerjakan PR, capek biarkanlah itu
semua. Sebab semuanya itu untuk kepentinganmu dimasa depan. Janganlah
kiranya seperti kami yang memanfaatkan itu semua sebatas untuk berleha-leha.
Jadilah sosok yang dapat dibanggakan. Dari kami yang duluan lahir dan
menamatkan diri sebelum kalian.
Dan buat teman-teman se-angkatan, tetaplah jadi Pejuang, dan tetap semangat ketika
kegagalan menekan kandas angan-angan yang telah kita rakit sejak awal. Merah bukan
berarti harus menangis, dan Hijau bukan berarti mesti bahagia. Ingat Semua itu baru
permulaan, ibarat Lampu Lalu Lintas, Hijau berarti “Selamat dan maju terus semoga
berjalan dengan sukses perjuangannya”, dan Merah berarti “Maaf, anda harus
menunggu karna masih belum waktunya untuk melaju mengejar mimpi”. Menunggu
bukan berarti tidak berusaha. Intinya jangan terlalu terlena dengan yang belum pasti, dan
marilah kita saling membantu dan berjuang bersama.
Sekian kesan dan pesan mewakili se angkatan ya,abidi, jika ada kata-kata yang kurang
berkenan mohon untuk dimaafkan, seperti Pepatah mengatakan “Jika ada jarum yang
patah, jangan disimpan di dalam peti. Jika ada kata yang salah, jangan simpan di dalam
hati”.
Sekian dan Terimakasih, …..*
“Selamat Pagi/Siang/Sore*”.