0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan20 halaman

Makalah Penatausaha Keuangan

Makalah ini membahas tentang penatausahaan keuangan daerah yang mencakup asas-asas umum, pelaksanaan, penatausahaan penerimaan dan pengeluaran. Tujuannya adalah mengetahui prinsip dan pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah untuk mengelola keuangan secara akuntabel dan transparan sesuai peraturan perundang-undangan.

Diunggah oleh

Muhammad Syarif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan20 halaman

Makalah Penatausaha Keuangan

Makalah ini membahas tentang penatausahaan keuangan daerah yang mencakup asas-asas umum, pelaksanaan, penatausahaan penerimaan dan pengeluaran. Tujuannya adalah mengetahui prinsip dan pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah untuk mengelola keuangan secara akuntabel dan transparan sesuai peraturan perundang-undangan.

Diunggah oleh

Muhammad Syarif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PENATAUSAHA KEUANGAN

Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Publik


Dosen Pengampu : H. Djupiansyah Ganie, SE., [Link]

Disusun Oleh:
Muhammad Syarif : 20610101
Nabela : 20610000
Wiliyanti Asry : 20610182

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT., Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang kami haturkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya kepada kami sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penatausaha Keuangan.
Adapun makalah tentang Penatausaha Keuangan ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dengan bantuan berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini, untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu kami sadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasanya maupun dari segi lainnya.
Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka
selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberikan saran dan kritik kepada
kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah tentang
Penatausaha Keuangan ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga
dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

Berau, 25 Oktober 2022

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................i

Daftar Isi...........................................................................................................ii

BAB 1 : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................2

BAB 2 : PEMBAHASAN
A. Bagaimana Siklus Manajemen Pendapatan Daerah..............................3
B. Apa Sumber-Sumber Pendapatan Daerah.............................................6
C. Bagaimana Prinsip Dasar Manajemen Penerimaan Daerah..................7
D. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Pendapatan Daerah.............9
E. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Dana Peimbangan.............12

BAB 3 : KESIMPULAN
A. Kesimpulan.........................................................................................20

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengelolaan keuangan daerah meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah,

asas umum, struktur APBD serta rancangan sistem informasi akuntansi keuangan

daerah yang dimulai dari tata cara penyusunan, penetapan, pelaksanaan, perubahan,

pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD), pengelolaan kas, penatausahaan keuangan daerah, akuntansi keuangan

daerah dan pembinaan serta pengawasan pengelolaan keuangan daerah.

Penatausahaan keuangan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pengelolaan keuangan daerah, baik menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No.55

Tahun 2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan

Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya maupun Peraturan Menteri

Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan

kemudian disempurnakan dengan terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri No.59

Tahun 2007. Penatausahaan keuangan daerah mencakup asas umum penatausahaan

keuangan, pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah, penatausahaan penerimaan,

penatausahaan pengeluaran serta penatausahaan pendanaan dan tugas pembantuan.

Penatausahaan keuangan daerah di Indonesia telah banyak mengalami perubahan

seiring dengan semangat reformasi manajemen keuangan pemerintah untuk mencapai

keberhasilan otonomi daerah. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya paket peraturan

perundangan di bidang keuangan negara beserta peraturan-peraturan turunannya yang

juga telah banyak mengalami revisi dan penyempurnaan.

4
Penggunaan sistem informasi diperlukan untuk mendukung seluruh kegiatan

pengelolaan keuangan sehingga semua tahapan kegiatan dapat diterjemahkan ke

dalam aplikasi secara terintegrasi dengan baik, penulis merasa perlu membuat suatu

rancangan sistem informasi Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Bendahara

Pengeluaran pada Satuan Kerja Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Menteri

Dalam Negeri Nomor 55 Tahun 2008 yang berorientasi Obyek dengan Unified

Modelling Language(UML).Karena UMLmenawarkan sebuah standar untuk

merancang model sebuah sistem. Dengan menggunakan UML, kita dapat membuat

model untuk semua jenis aplikasi piranti lunak, dimana aplikasi tersebut dapat

berjalan pada piranti keras, sistem operasi dan jaringan apapun, serta ditulis dalam

bahasa pemrograman apapun.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Penatausaha Keuangan itu?

2. Apa saja Prinsip Penatausaha Keuangan?

3. Bagaimana Pelaksanaan Penatausaha Keuangan?

4. Bagaimana Memudahkan Pengelolaan Penatausaha Keuangan?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui Bagaimana Penatausaha Keuangan.

2. Mengetahui Prinsip Penatausaha Keuangan.

5
3. Memahami Pelaksanaan Penatausaha Keuangan. .

4. Memahami Pengelolaan Penatausaha Keuangan.

6
BAB II

PEMBAHASAN

Penatausahaan keuangan daerah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
Pengelolaan Keuangan Daerah, baik menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005 maupun berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Uraian tentang penatausahaan keuangan daerah
mencakup hal-hal sebagai berikut: (a) asas umum penatausahaan keuangan daerah; (b)
pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah; (c) penatausahaan penerimaan; dan (d)
penatausahaan pengeluaran.

A. Asas Umum Penatausahaan Keuangan Daerah

Asas-asas umum Penatausahaan Keuangan Daerah menurut kedua peraturan


perundang- undangan tersebut di atas menyebutkan bahwa:

1. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan/ pengeluaran


dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/ barang/kekayaan
daerah, wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;

2. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan


dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBD
bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan
surat bukti tersebut;

3. Semua penerimaan dan pengeluaran dana pemerintahan daerah harus dianggarkan


dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh
Bendahara Umum Daerah;

4. Untuk setiap pengeluaran dana atas beban APBD, harus diterbitkan Surat
Keputusan Otorisasi (SKO) oleh Kepala Daerah atau surat keputusan lain yang
berlaku sebagai surat keputusan otorisasi;
7
5. Kepala Daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, dan pejabat lainnya
dilarang melakukan pengeluaran dana atas beban anggaran daerah untuk tujuan
lain dari yang telah ditetapkan.

Sedangkan, Asas-asas umum penatausahaan keuangan daerah sesuai pasal 184


Permendagri 13 tahun 2006 diatur sebagai berikut :

a. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendaharawan


penerimaan/pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai
uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan penetausahaan sesuai
dengan peraturan yang berlaku
b. Pejabat yang menandatangi dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan
dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas
pelaksanaan APBD bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang
timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud.

B. Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah

Dalam proses pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah diatur mengenai
pelaksanaan pemungutan, penerimaan-penerimaan daerah, serta pelaksanaan penyaluran
pengeluaran daerah yang biasa disebut pengurusan APBD. Pelaksanaan APBD menganut
system pengurusan yang dapat dibedakan atas dua bentuk pengurusan sebagai berikut :

1. Pengurusan administrasi yaitu wewenang untuk mengadakan tindakan-tindakan dalam


rangka penyelenggaraan rumah tangga daerah yang membawa akibat pengeluaran-
pengeluaran yang membebani anggaran daerah.
2. Pengurusan Kebendaharawan, yaitu wewenang untuk menerima, menyimpan,
membayar atau mengeluarkan uang dan barang serta berkewajiban
mempertanggungjawabkan kepada kepala daerah.

Kegiatan penatausahaan keuangan mempunyai kepentingan pengendalian terhadap


pelaksanaan anggaran dan belanja daerah, mengingat adanya otorisasi yang telah diberikan
melalui penetapan kedalam peraturan daerah dan pengesahannya oleh pejabat yang berwenang,
anggaran, sepanjang yang berkenaan dengan pelaksanaan.

8
Didalam pelaksanaan APBD dalam rangka mempertanggungjawabkan pelaksanaan dari
pengurusan keuangan yang dilaksanakan oleh bendaharawan belum seperti yang diharapkan. Hal
ini terlihat dengan gejala-gejala sebagai berikut :

1. Masih tercatat kesalahan-kesalahan pencatatan pada buku kas umum.


2. Terlambatnya pengiriman SPJ yang menyebabkan kelancaran penyediaan dana pada
unit kerja sering terlambat, penatausahaan pada bagian keuangan tidak dapat tepat
waktu.
3. Pengendalian keuangan tidak dapat dilaksanakan dengan baik, karena data keuangan
belum dapat siap setiap saat dibutuhkan dalam arti angka-angka tertera didalam buku
belum tentu benar.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kurangnya efektivitas pelaksanaan APBD khususnya


dalam pelaksanaan anggaran belanja daerah yang dikelola oleh bendaharawan baik rutin maupun
pembangunan untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu suatu penatusahaan keuangan daerah
yang efektif. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara permecahan masalah
yang dapat diharapkan untuk mewujudkan suatu penatausahaan keuangan daerah yang efektif
yang merupakan salah satu fungsi dalam pelaksanaan APBD.

Pelaksanaan APBD yang diwujudkan dalam pengurusan administrasi dan pengurusan


bendaharawan akan mengakibatkan adanya arus dokumen, arus barang, dan arus uang. Dengan
adanya arus dokumen, arus barang dan arus uang inilah perlu adanya penatausahaan keuangan.

Tata usaha memegang peran penting karena melalui tata usaha segala keterangan yang
menyangkut kegiatan organisasi secara teratur dicatat dan [Link] keterangan yang
berupa angka-angka dan kata-kata merupakan unsur data yang kemudian data tersebut diolah
sedimikian rupa sehingga menjadi informasi yang dapat digunakan oleh orang yang
membutuhkannya.

Pada prinsipnya penyusunan anggaran merupakan suatu bagian proses perencanaan laba dan
pengendalian yang menyeluruh. Anggaran yang telah disusun menurut prosedur yang telah
ditetapkan tentu akan terealisasikan. Pelaksanaan realisasi anggaran akan melibatkan berbagai
sumber dari organisasi pemerintahan. Setelah anggaran direalisasikan kemudian dibuat
laporannya sehingga dapat digunakan untuk melihat dan menilai efektivitas pelaksanaan
anggaran.

9
Efektivitas adalah hubungan antara keluaran suatu pusat pertanggungjawaban dengan
sasaran yang harus dicapai.

Efektivitas pelaksanaan anggaran merupakan kesesuaian antara keluaran (Output) dengan


tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya. Untuk dapat dilakukan dengan cara membandingkan
antara anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasi dari pelaksanaan anggaram tersebut.
Semakian kecil penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara anggaran dengan realisasinya
maka semakin efektif pula pelaksanaan anggaran. Untuk mencapai efektivitas pelaksanaan
anggaran diperlukan suatu pengelolaan yang memadai. Pengelolaan meliputi perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan dimana ketiga hal tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Tata cara atau prosedur pelaksanaan system penatausahaan keuangan daerah sangat penting
dalam penyelenggaraan pemerintahan didaerah mengingat perkembangan volume kegiatan dari
tahun ke tahun terus meningkat yaitu dengan melakukan :

1. Mempersiapkan buku-buku untuk pencatatan kegiatan pelaksanaan anggaran belanja


2. Pencatatan dalam buku kas umum dan buku kepala/buku pembantu
3. Pengolahan tanda-tanda bukti untuk menyusun surat pertanggungjawaban
4. Penyimpanan uang dan dokumen-dokumen

Jadi peranan penatausahaan keuangan daerah dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan


APBD adalah untuk melihat perkembangan volume kegiatan baik beban anggaran rutin ataupun
anggaran pembangunan dari tahun ke tahun dalam penyelenggaraan pemerintahan didaerah.

Untuk kepentingan pelaksanaan APBD, maka sebelum dimulainnya suatu tahun


anggaran Kepala Daerah sudah harus menetapkan pejabat-pejabat berikut ini:

1. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Penyediaan Dana (SPD);

2. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Permintaan


Pembayaran (SPP);

3. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM);

4. Pejabat yang diberi wewenang mengesahkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ);

5. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Perintah Pencairan


Dana (SP2D);

6. PejabaPejabat fungsional untuk tugas bendahara penerimaan/pengeluaran;

10
7. Bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah,
belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, belanja tak

terduga, dan pengeluaran pembiayaan pada SKPD;

8. Bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu; dan

9. Pejabat-pejabat lainnya yang perlu ditetapkan dalam rangka pelaksanaan APBD.

Pejabat pelaksana APBD lainnya mencakup:

1. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD} yang diberi


wewenang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD;

2. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) SKPD yang diberi wewenang


melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program yang sesuai dengan
bidang tugasnya;

3. Pejabat yang diberi wewenang menandatangani surat bukti pemungutan


pendapatan daerah;

4. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani bukti penerimaan kas dan
bukti penerimaan lainnya yang sah; dan

5. Pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran.

Suatu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa penetapan pejabat oleh kepala
daerah tersebut dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan penetapan pejabat lainnya dalam
rangka pelaksanaan APBD dapat didelegasikan oleh kepala daerah kepada kepala SKPD.

Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA)
SKPD, Kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada
SKPD sebagai pejabat penatausahaan keuangan SKPD (PPK-SKPD) PPK-SKPD tidak boleh
merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah,
bendahara, dan/atau PPTK, PPK-SKPD bertugas untuk :

1. Meneliti kelengkapan SPP yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran


2. Melakukan verifikasi SPP

11
3. Menyiapkan surat perintah membayar (SPM)
4. Melakukan verifikasi harian atas penerimaan
5. Melaksanakan akuntansi SKPD
6. Menyiapkan laporan keuangan SKPD

Hal-Hal yang berkaitan dengan penatausahaan keuangan desa, antara lain :

1. Kaur keuangan sebagai pelaksana fungsi kebendaharaan wajib melakukan penatausahaan


terhadap seluruh penerimaan maupun pengeluaran
2. Kaur keuangan sebagai pelaksana fungsi kebendaharaan wajib mempertanggungjawabkan
penerimaan uang yang menjadi tanggung jawabnya melalui laporan pertanggungjawaban
penerimaan kepada kepala desa paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya
3. Kaur pelaksana kegiatan anggaran bertanggung jawab terhadap tindakan pengeluaran
yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan dengan mempergunakan buku
pembantu kas kegiatan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan anggaran
desa.
Penatausahaan keuangan dilakukan oleh kaur keuangan sebagai pelaksana fungsi ini ke
bendahara berkewajiban memiliki nomor pokok wajib pajak pemerintah desa
Kaur keuangan dilarang :
a. Membuka rekening atas atas nama pribadi dibank dengan tujuan pelaksanaan APB
Desa
b. Menyimpan cek dan surat beharga, kecuali telah diatur melalui pertaturan
perundang0undangan.

Dalam melakukan penatausahaan , Kaur keuangan wajib membuat buku pembatu kas umu
yang menimal terdiri dari :

a. Buku Pembantu Bank


Merupakan catatan penerimaan dan pengeluaraan melalui rekening kas desa
(penarikan, penyetoran, transfer dan lain-lain)
b. Buku Pembantu Pajak
Merupakan catatan penerimaan potongan pajak dan pengeluaran setoran pajak
(khususnya dalam kaitannya bendahara desa sebagai wajib pungut)
c. Buku Pembantu Panjar
Merupakan catatan pemberian dan pertanggungjawaban uang panjar

12
Selain ketiga buku pembantu kas umum tersebut diatas, Kaur keuangan dapat membuat
buku pembantu kas umum hanya berguna memudahkan proses penatausahaan seperti misalnya
buku pembantu kas tunai.

C. Penatausahaan Penerimaan

Menurut ketentuan dari Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 yang dimaksud


dengan penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Semua penerimaan
daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan
dianggap sah setelah Kuasa Bendahara Umum Daerah menerima nota kredit.

Penerimaan daerah yang disetor ke rekening kas umum daerah dilaksanakan melalui
cara- cara sebagai berikut:

1. Disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga;

2. Disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan, dan/atau kantor pos oleh pihak
ketiga; dan

3. Untuk benda berharga seperti karcis retribusi yang dipakai sebagai tanda
bukti pembayaran oleh pihak ketiga maka penyetorannya dilakukan dengan cara
penerbitan tanda bukti pembayaran retribusi tersebut yang disahkan oleh PPKD.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa untuk kepentingan pelaksanaan


APBD dan/atau penatausahaan keuangan daerah, kepala daerah perlu menetapkan
pejabat fungsional untuk tugas bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran.
Untuk itu bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan
terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung
jawabnya dan harus melaporkannya kepada pengguna anggaran atau kuasa pengguna
anggaran melalui PPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

13
Penatausahaan atas penerimaan dilaksanakan dengan menggunakan buku
kas, buku pembantu per rincian obyek penerimaan dan buku rekapitulasi
penerimaan harian. Sedangkan bukti penerimaan dan/atau bukti pembayaran
yang diperlukan untuk penatausahaan anggaran adalah:

1. Surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah);

2. Surat ketetapan retribusi (SKR);

3. Surat tanda setoran (STS);

4. Surat tanda bukti setoran; dan

5. Bukti penerimaan lainnya yang sah.

Penatausahaan penerima anggaran terbagi atas penerimaan pendapatan dan


penerimaan atas beberapa jenis penerimaan pembiayaan.

Penerimaan Desa disetor ke rekening kas desa dengan cara :

1. Disetor langsung kebank oleh pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah


Daerah Kabupaten/Kota
2. Disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh
pihak ketiga
3. Disetor oleh kaur keuangan untuk penerimaan yang diperoleh oleh pihak ketiga

14
D. Penatausahaan Pengeluaran

Art i dari pengeluaran daerah seperti dimaksudkan dalam peraturan perundang-


undangan terkait adalah semua arus uang yang keluar dari kas daerah. Hal-hal
yang berhubungan dengan penatausahaan pengeluaran adalah: (i) penyediaan
dana; (ii) permintaan pembayaran; (iii) perintah membayar; (iv) pencairan
dana; dan (v) pertanggungjawaban penggunaan dana.

15
BAB III

KESIMPULAN

Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah SIPKD adalah aplikasi terpadu yang
dipergunakan sebagai alat bantu pemerintah daerah yang digunakan meningkatkan
efektvitas impelementasi dari berbagai regulasi bidang pengelolaan keuangan daerah yang
berdasarkan pada asas efesiensi, ekonomis, efektif, transparan, akuntabel, dan auditable.
Aplikasi ini juga merupakan salah satu manifestasi aksi nyata fasilitasi dari kementerian
dalam negeri kepada pemerintah daerah dalam bidang pengelolaan keuangan daerah dalam
rangka penguatan persamaan persepsi system dan prosedur pengelolaan keuangan daerah
dalam penginterorestasian dan pengimplementasian berbagai peraturan perundang-
undangan.

Dalam kehidupan bernegara yang semakin terbuka, Pemerintah selaku perumus dan
pelaksana kebijakan APBN berkewajiban untuk terbuka dan bertanggung jawab terhadap
seluruh hasil pelaksanaan pembangunan. Salah satu bentuk tanggung jawab itu diwujudkan
dengan menyediakan informasi keuangan yang komprehensif kepada masyarakat luas,
termasuk informasi keuangan daerah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi
yang demikian pesat guna mendorong terwujudnya pemerintahan yang bersih, transparan,
serta mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif.

Pemerintah bertugas menyelenggarakan system informasi pengelolaan Keuangan


Daerah (SIPKD) guna menjawab kebutuhan informasi keuangan oleh masyarakat public,
sedangkan pemerintah daerah wajib menyampaikan data /informasi yang berkaitan dengan
keuangan daerah kepada pemerintah yang disebut dengan Sistem Informasi keuangan
daeran (SIKD). SIPKD yang dikembangkan dengan basis teknologi informasi, didesain
sedemikian rupa agar bias menjadi sarana untuk pengumpulan, Pengolahan, penyajian, dan
refrensi, serta proses komunikasi data/Informasi keuangan daerah antara departemen
keuangan dan departemen dalam negeri dengan pemeritah daerah dan para pemilik atau
pengguna informasi keuangan daerah lainnya.

16
Pelaksanaan dan Penatausahaan keuangan daerah mencakup proses-proses sebagai
berikut :

 Pelaksanaan dan Penatausahaan Kas Umum Daerah


 Pelaksanaan dan Penatausahaan Kas Transitoris
 Penyiapan DPA-SKPD
 Anggaran Kas dan Surat penyediaan Dana (SPD)
 Pelaksanaan dan Penatausahaan Belanja Daerah

Dalam Penatausahaan pendapatan daerah , Bendahara penerimaan /Bendahara

Penerimaan Pembantu harus melakukan pengendalian atas penerimaaan dan penyetoran

atas penerimaan yang menjadi kewenangannya.

Bendahara penerimaan pada SKPD wajib menyelengggarakan pembukuan terhadap

seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya

dengan ketentuan :

 Pengendalian atas penerimaan dan penyetoran pendapatan daerah

 Dalam melakukan pembukuan tersebut, bendahara penerimaan menggunakan

dokumen-dokumen tertentu sebagai dasar pencatatan

 Prosedur pembukuan dapat dikembangkan dalam 3 Prosedur, antara lain :

1. Pembukuan atas pendapatan yang diterima secara tunai

2. Pembukuan atas pendapatan yang diterima melalui rekening bendahara

penerimaan

3. Pembukuan atas pendapatan yang diterima melalui kas umum daerah

17
Siklus manajemen pendapatan daerah terdiri dari :

a. Identifikasi sumber-sumber pendapatan daerah

b. Administrasi Pendapatan daerah

c. Koleksi/ pemungutan pendapatan daerah

d. Pencatatan akuntansi pendapatan daerah

e. Alokasi pendapatan daerah

1. Prinsip dasar dalam membangun sistem manajemen penerimaan daerah yang baik

a. Perluasan basis penerimaan

b. Pengendalian atas kebocoran pendapatan

c. Peningkatan efisiensi administrasi pendapatan

d. Peningkatan transparasi dan akuntabilitas manajemen pendapatan daerah

2. Untuk memperluas basis penerimaan, pemerintah daerah perlu melakukan

identifikasi pembayar pajak/retribusi dan menjaring wajib pajak/ retribusi baru,

mengevaluasi tariff pajak/retribusi, meningkatkan basis data objek pajak/ retribusi

dan meningkatkan disiplin dan moralitas pegawai yang terlibat dalam

pemungutan pendapatan.

3. Untuk mengurangi kebocoran pendapatan, pemerintah daerah perlu melakukan

audit pendapatan, memperbaiki sistem akuntansi penerimaan daerah, membangun

sistem penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) yang memadai dan

meningkatkan disiplin dan moralitas pegawai yang terlibat dalam pemungutan

pendapatan.

18
4. Untuk mengoptimalisasi penerimaan daerah, selain melakukan optimalisasi PAD,

pemerintah daerah perlu mengoptimalkan penerimaan dari dana perimbangan,

khususnya dana bagi hasil.

19
DAFTAR PUSTAKA
1
Chelsea, Jay. “MAKALAH SIKLUS PENDAPATAN.” Accessed October 28, 2022.
[Link]
2
“Modul 4 MKD Manajemen Pendapatan Daerah - Modul 4 Mata Kuliah Manajemen Keuangan
Daerah Topik : - StuDocu.” Accessed October 28, 2022.
[Link]
modul-4-mkd-manajemen-pendapatan-daerah/13702426.

20

Anda mungkin juga menyukai