0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan3 halaman

Diskusi 3

Perbuatan PT sebagai pendamping PKH yang tidak menyalurkan bantuan kepada KPM dan malah menggunakan dana untuk kepentingan pribadi merupakan tindak pidana korupsi sesuai definisi Poerwadarmina. Unsur-unsur pidana korupsi yang diterapkan meliputi penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri secara melawan hukum dan merugikan negara.

Diunggah oleh

Yeni rahman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan3 halaman

Diskusi 3

Perbuatan PT sebagai pendamping PKH yang tidak menyalurkan bantuan kepada KPM dan malah menggunakan dana untuk kepentingan pribadi merupakan tindak pidana korupsi sesuai definisi Poerwadarmina. Unsur-unsur pidana korupsi yang diterapkan meliputi penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri secara melawan hukum dan merugikan negara.

Diunggah oleh

Yeni rahman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

a. Kaitkan kasus di atas dengan definisi korupsi dari Poerwadarmina!

Definisi Korupsi Dari Poerwadarmina


Kata korupsi  artinya  adalah kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan
dan ketidak jujuran”(S. Wojowasito-WJS Poerwadarminta: 1978). Arti lainnya adalah perbuatan
yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya” (WJS
Poerwadarminta: 1976). Dengan demikian  Menurut Poerwadarmina, pengertian tindak pidana
korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan
sebagainya yang dapat dikenakan sanksi hukum atau pidana.

Analisa Kasus
Dari kasus yang ada diketahui bahwa seorang perempuan pendamping PKH bernisial PT (28)
telah melakukan tindak pidana dengan modus tidak memberikan Kartu Keluarga Sejahtera
(KKS) pada sekitar 37 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH di Kabupaten Malang. Dengan
rincian 16 KPM tidak pernah diberikan KKS. Serta, 17 KKS tetap aktif padahal KPM tidak ada di
tempat atau meninggal dunia. Sementara 4 KKS, bantuannya dicairkan, tapi dana hanya
diberikan sebagian kepada KPM. Perbuatan PT tersebut telah berlangsung selama 5 lima tahun
sejak 2016 sampai 2021 yang mana akibat dari perbuatannya tersebut telah merugikan negara
sebanyak Rp. 450,- juta.

Pembahasan
Jika dikaitkan dengan defenisi korupsi dari Poerwadarmina, maka perbuatan PT adalah suatu
kejahatan yakni perbuatan jahat yang melanggar hukum, yang bertentangan dengan norma dan
nilai. Dalam hal ini dapat saya jabarkan bentuk kejahatan yang dilakukan oleh PT antara lain
mengambil hak yang bukan menjadi miliknya atau kepunyaan orang lain tanpa izin dalam hal ini
ada 16 KPM yang tidak pernah diberikan KKS, kemudian penipuan terhadap pemerintah yang
mana data 17 KKS yang didaftarkan oleh PT ternyata sudah tidak ada di tempat atau bahkan
telah meninggal dunia, selain itu adanya kecurangan dalam memberikan dana sebagian kepada
4 KKS yang mana sisanya dinikmati oleh PT. Selain itu, secara keseluruhan kecurangann yang
dilakukan oleh PT adalah bentuk dari tindak pidana Penggelapan Uang. Yang mana PT secara
dengan sengaja dan melawan hukum atas barang yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan
orang lain yang dipercayakan padanya. Yang mana penggelapan merupakan suatu tindakan
tidak jujur dengan menyembunyikan barang/harta orang lain oleh satu orang atau lebih tanpa
sepengetahuan pemilik barang dengan tujuan untuk mengalih-milik (pencurian), menguasai,
atau digunakan untuk tujuan lain. Dalam hal ini PT secara dengan sengaja dan melawan hukum
telah memanfaatkan KKS yang dipercayakan diurus olehnya untuk kepentingan pribadi dan
atas perbuatannya tersebut telah menyebabkan kerugian kepada negara sejumlah Rp. 450,-
juta. Kejahatan dalam bentuk kecurangan-kecurangan dan penggelapan uang tersebut adalah
bentuk tindak pidana korupsi sebagaimana yang yang didefenisikan oleh Poerwadarmina.

b. Diskusikan unsur-unsur tindak pidana korupsi yang mengikuti pada kasus di atas!

Dari kasus diatas, diketahui pelaku dijerat dengan pasal 2 ayat 1 sub pasal 3 sub pasal 8 UU
Nomer 20 Tahun 2001 atas perubahan UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK). Berikut unsur pasal demi pasal tindak pidana korupsi yang
dikenakan kepada pelaku PT:
1. Pasal 2 Ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 jo. 20 Tahun 2001
“Setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi yang merugikan keuangan Negara atau perekonomian
Negara, dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).”

2. Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 jo. 20 Tahun 2001


“Setiap orang yang sengaja menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan izin, kesempatan atau sarana yang ada karena jabatan atau
kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana
dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 ( satu) tahun dan
paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000 (lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”

3. Pasal 8 UU No. 31 Tahun 1999 jo. 20 Tahun 2001


“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah), pegawai
negeri atau pegawai negeri lain yang menjalankan suatu pekerjaan umum secara terus
menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat
berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga
tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan
perbuatan tersebut.”

Analisis unsur pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UUPTPK sebagai berikut:
 Setiap Orang, setiap orang disini mengacu pada tersangka yakni seorang perempuan
pendamping PKH bernisial PT (28).
 Secara melawan hukum, perbuatan PT secara formil sangat bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan, kepercayaan pemerintah yang diberikan kepadanya
sebagai pendamping PKH sebagai sarana sambung tangan bantuan dari pemerintah
ke masyarakat miskin malah secara dengan sengaja digunakan tidak untuk
diperuntukkan semestinya tapi untuk kepentingan pribadi. Dan secara materiil
perbuatan PT juga menunjukan ketidak sesuaian dan ketidak adilan yang mana data
yang diberikan tidak sesuai di lapangan, bantuan tidak disalurkan maupun bantua yang
disalurkan hanya sebagian dan sebagiannya lagi digunakan untuk kepentingan pribadi.
 Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi,
Dana bansos dikorupsi digunakan untuk memperkaya diri sendiri dengan membeli
laptop, televisi, mesin printer, lemari es, kompor dan dispenser. Selain itu dana bansos
juga digunakan untuk membantu biaya pengobatan ibu kandungnya yang sakit.
 Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, atas perbuatannya
melakukan korupsi selama 5 tahun yakni sejak tanggal 12 September 2016 sampai 10
Mei 2021 negara mengalami Total kerugian yang ditaksir mencapai Rp450 juta.
 Penyalahgunaan Kewenangan, kesempatan atau Sarana, PT yang diberikan
kewenangan sebagai pendamping PKH tidak menjalankan tugasnya sebagaimana
mestinya. Melainkan kewenanyan yang diberikan kepadanya tersebut digunakan untuk
kepentingan dan keuntungan pribadi.

Analisis unsur Pasal 8 UUPTPK


Pegawai Negeri dalam pasal ini meliputi: a. pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalm
Undang-undang tentang kepegawaian; b. pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam
Kitab Undang-undang Hukum Pidana; c. orang yang menerima gaji atau upah dari
keuangan negara atau daerah; d. orang yang menerima gaji atau upah dari suatu
korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah;e. orang yang
menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang memanfaatkan modal atau fasilitas dari
negara atau masyarakat.
Dalam hal ini tersangka PT termasuk dalam pegawai negeri yang menerima gaji atau upah
dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah. Dimana
dalam menjalankan tugasnya sebagai pedamping PKH selama lima tahun, PT telah
dengan sengaja telah menggelapkan uang bansos yang harusnya disalurkan kepada
masyarakat yang membutuhkan dengan memanfaatkan jabatannya sebagai pendamping
PKH.

Sumber referensi:
 Hendarso, Yoyok. 2022. Sosiologi Hukum. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
(Modul 2 KB 1 Hal. 2.7)
 Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2001 atas perubahan Undang-Undang Nomor 31 tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK)

Anda mungkin juga menyukai