0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan9 halaman

Sejarnus

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang merupakan bangunan bersejarah yang dahulu merupakan istana Kesultanan Palembang. Bangunan ini memiliki arsitektur khas yang merupakan kombinasi gaya kolonal Belanda dan Palembang. Kini bangunan ini berfungsi sebagai museum yang menampilkan koleksi sejarah Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan masa kolonial.

Diunggah oleh

Rafi Aditya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan9 halaman

Sejarnus

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang merupakan bangunan bersejarah yang dahulu merupakan istana Kesultanan Palembang. Bangunan ini memiliki arsitektur khas yang merupakan kombinasi gaya kolonal Belanda dan Palembang. Kini bangunan ini berfungsi sebagai museum yang menampilkan koleksi sejarah Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan masa kolonial.

Diunggah oleh

Rafi Aditya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

sMuseum Sultan Mahmud Badaruddin II

Palembang

Sekilas bangunan tampak seperti rumah dua tingkat ini tampak mewah.

Bangunan ini memiliki peninggalan sejarah mengenai Palembang. Bangunan

Palembang yang memiliki corak bangunan tempo dulu yang diberi nama

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, yang berada di Jalan Sultan

Mahmud Badaruddin Il No.2, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I,

Palembang, Sumatera Selatan. Terletak persis seberang Sungai Musi, bangunan

ini tidak berubah dari awal didirikan hingga sekarang. Arsitektur bangunannya

sendiri termasuk unik karena merupakan kombinasi dari masa kolonial Belanda

dan gaya asli istana Palembang.


Sultan Mahmud Badaruddin II adalah penguasa Palembang sejak 1803

sampai 1821. Museum ini pernah menjadi istana Kesultanan Palembang

Darussalam. Awalnya disebut sebagai Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto

Lamo, bangunan ini bersama dengan Masjid Agung Palembang dibangun pada

masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I. Pada abad ke -

17 Belanda datang ke Palembang sehingga istana diduduki oleh tentara

kolonial.

Menjelang perang Palembang I tahun 1819, pemerintah Hindia Belanda

mendaratkan pasukannya sebanyak 200 orang di Palembang dan

menempatkannya di Keraton Kuto Lamo. Saat perang hari pertama meletus, 11

Juni 1819, tentara Belanda ditembaki dan dihalau hingga lari ke kapal-kapal

yang berada di sungai Musi depan BKB. Pada perang ini, dari sekitar 500

tentara Belanda yang tersisa dan selamat sekitar 350 orang. Begitu Sultan

Mahmud Baddarudin II menyerah dan ditangkap pada perang Palembang III

tahun 1821 sehingga bersama keluarganya Sultan dibuang ke Ternate, pasukan

Belanda melakukan perampasan, perusakan, pembongkaran dan

penghancuran terhadap aset kesultanan, termasuk bangunan yang ada di

Benteng Kuto [Link] pembongkaran yang dilakukan terhadap rumah

limas para Pangeran serta bangunan lain hingga ke halaman Masjid Sulton itu,

dilakukan pula terhadap fondasi Keraton hingga sedalam 3 meter.

Pada tahun 1823, Belanda mulai merekonstruksi reruntuhan bangunan


melakukan pembangunan di bekas tapak Benteng Kuto Lamo secara bertahap.

Rumah yang dibangun ini diperuntukkan bagi komisaris kerajaan Belanda

(regeering commisaris) di Palembang, yaitu Yohan Isaac van Sevenhoven,

seorang advokat fiskal yang menggantikan posisi Herman Warner Muntinghe.

Pada tahun 1824, tahap pertama rumah dikenal sebagai Gedung Siput itu

selesai dibangun. Setelah itu bagian bangunan terus dilakukan penambahan.

Sekarang ini selain difungsikan sebagai museum, bangunan tersebut juga

digunakan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang.

Terdapat sejumlah koleksi sejarah yang bisa dinikmati oleh pengunjung

museum. Mulai dari peninggalan kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan

Palembang. Bisa dikatakan museum ini menjadi potret masa lalu kota

Palembang tempo dulu. Di dalam museum tidak begitu luas namun cukup

memuat informasi tentang kota Palembang. Disetiap koleksi diberi keterangan

sehingga memudahkan pengunjung untuk tahu koleksi apa yang sedang

dilihat. Selain itu ada juga diperlihatkan peralatan menenun kain songket.

Songket merupakan kain khas asli Palembang dan harganya bisa sampai jutaan

tergantung tingkat kerumitan dari motif songket.

Meskipun telah mengalami renovasi, bentuk asli bangunan tidak berubah.

Perubahan hanya dilakukan pada bagian dalam bangunan dengan menambah

sekat-sekat dan penutupan pintu-pintu penghubung.


MUSEUM TEKSTIL PALEMBANG

Kawasan Talang Semut, termasuk di dalamnya JI. Dipenogoro terkenal

sebagai komplek perumahan pejabat Belanda. Salah satu bangunan khas zaman

kolonial Belanda tersebut kini dijadikan Museum Tekstil Sumsel. Usia

bangunan bekas kediaman residen dan bekas gedung BP7 yang berada di Jl.

Diponegoro ini mencapai satu abad. Dengan usia tersebut, gedung museum

tekstil sudah bisa dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya.

Bangunan ini diyakini masih memiliki arsitektur asli. Bangunan kokoh,

atap yang tinggi, dengan halaman luas. Membuat kesan kenyamanan penghuni

begitu terjaga. Khas gedung kolonial Belanda.


Bangunan ini dikelilingi oleh taman yang lumayan luas. Terdapat dua

banguna yang terpisah, bangunan pertama untuk museum sedangkan bangunan

yg kedua untuk tempat membatik dan kegiatan seni yang lain. Gedung museum

berbentuk huruf "L" dan memanjang. Di bagian depan bangunan terdapat

pelontar meriam dan patung sepasang pengantin yang memakai pakaian adat

Palembang yang terbuat dari tembaga.

Bangunan ini memiliki plafon yang tinggi, sehingga tanpa alat pendingin

ruangan ini sudah cukup nyaman. Itulah salah satu ciri bangunan kolonial

Belanda. Banguna yang mengadaptasi iklim tropis. Pintu-pintu di museum

dibuat tinggi dengan sekat-sekat tempat sirkulasi udara. Terdapat tiga pintu

yang menghadap ke taman. Satu pintu utama dan dua lagi pintu samping.

Menurut catatan sejarah, pada masa penjajahan dulu gedung museum itu

digunakan sebagai tempat tinggal pejabat tinggi kolonial Belanda. Tahun

2007/2008, gedung itu menjadi kantor BP7, dan pernah pula menjadi kantor

kejaksaan tinggi, kantor pembantu gubernur dan kantor Litbang Sumsel dan

juga menjadi kantor BKN, hingga rumah dinas Ketua DPRD Sumsel. Hingga

akhirnya,5 November 2008 ketika [Link],[Link] menjadi

Gubernur, gedung dijadikan museum tekstil Sumsel.


Pembangunan Museum Tekstil Sumsel mulai diprakarsai mulai tahun

2007. Awalnya dicetuskan pasangan mantan Gubernur [Link] Oesman serta

istrinya Maphilinda. Sebelum diresmikan, beberapa kali pasangan tersebut

memantau gedung yang dulunya merupakan bekas kantor BP7 tersebut.

Pencetusan museum ini berawal dari keinginan untuk melestarikan hasil

budaya. Berupa tekstil tradisional Sum-Sel yang sangat terkenal, dari songket,

gebeng, jumputan hingga batik, yang dulunya berfungsi sebagai lambang

kekuasan, kejayaan, kemakmuran dan pemenuh estetika.

Sempat dikelola Dinas Pendidikan, museum kemudian dikelola di bawah

dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel. Koleksi yang dipamerkan selama ini,

dari tekstil zaman prasejarah, tekstil zaman Hindu-Budha, tekstil zaman

kesultanan dan kolonial, tekstil masa pendudukan Jepang, industrialisasi tekstil

masa kemerdekaan, teknologi pembuatan tekstil di Sum-Sel, ragam hias tenun

tradisional, tenun songket, tajung'gebeng hingga jumputan.

KANTOR LEDENG
Bangunan yang saat ini dijadikan kantor wali kota Palembang ini awalnya merupakan menara air
yang dibangun oleh Belanda untuk didistribusikan ke wilayah kota di Palembang. Gedung ini memiliki
ketinggian 35 m dan luas 250 m2. Gedung ini dirancang oleh Ir. S. Snujif. Pada tahun 1929 gedung ini
mulai dibangun hingga rampung pada tahun 1930. Gedung ini beralamat di Jl. Merdeka No.1, 22 Ilir,
Kec. Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113.

Bangunan ini memiliki gaya desain de stijl, yaitu memiliki bentuk dasar kotak dengan atap datar.
Biaya yang dikeluarkan pemerintah kolonial saat itu untuk membangun menara air adalah seharga 1 ton
emas, harga ini sendiri 1/3 dari nilai yang pernah ditetapkan oleh Ir. Th. Karsten pembuat master plan
kota Palembang yaitu sebesar 3 ton emas.

Pendistribusian airnya pada saat itu dikenal dengan sistem gravitasi setinggi 35 meter. Bak
tampungnya berkapasitas 1200 m3 merupakan cara yang efektif pada saat itu untuk pendistribusian air
sampai ke daerah kolonial dan daerah pasar 16 ilir, segaran dan sekitarnya. Menara Ledeng ini dibuat
sebagai upaya pemerintah kota Palembang saat itu (masih di bawah kekuasaan Belanda) untuk
menyediakan air bersih.

Pada masa itu, Sungai Musi dijadikan satu-satunya pemenuhan kebutuhan warga kota
Palembang akan air yang pada akhirnya membuat pemerintah kolonial masa itu merasa perlu
memberikan air bersih bagi warganya . Maklum, pada masa itu, Sungai Musi keadaannya sudah mulai
tidak steril dan higienis. Karena sering digunakan untuk mencuci baju, beras, makanan, hingga mandi.
Menara air ini digunakan untuk memberikan air bersih bagi warga Belanda yang tinggal di Jalan Tasik
saat ini, dan Dempo.
Tingkat pertama bangunan ini dulunya digunakan sebagai pusat pemerintahan Gementee
Palembang dan tingkat paling atas untuk menara air. Pada saat Zaman Penjajahan Jepang (1942-1945)
gedung ini dijadikan sebagai Syuco-kan atau Kantor Residen Palembang jaman Jepang, lalu di jadikan
balai kota hingga tahun 1956, gedung ini juga pernah menjadi saksi bisu aksi heroism pemuda
Palembang saat Kemerdekaan RI diproklamasikan dimana pemuda saat itu mengibarkan bendera merah
putih di empat penjuru sisi Kantor Ledeng pada 17 Agustus 1945, hingga akhirnya sejak 21 Agustus 1963
Kantor Ledeng (Menara Air) digunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Kota Praja Palembang
(Kantor Walikota Palembang) atau tempat berkantor orang nomor satu di Palembang sampai saat ini.

GEDUNG JACOBSON VAN DEN BERG

Gedung Jacobson Van den Berg adalah gedung milik perusahaan yang bernama sama, Jacobson Van
Den Berg. Perusaan ini didirikan di Den Haag pada tanggal 1 Juli 1860 dan tumbuh menjadi salah satu dari 5
perusahaan terbesar Belanda di massanya. Gedung ini berada di tepi sungai Sekanak, dan pertigaan jalan
Depaten Baru dan jalan Sekanak (hook) yang berada pada tata guna lahan campuran . Pembangunan
kantor ini kurang diketahui pasti kapan berdirinya, estimasi pembangunannya mungkin berada di
sekitaran abad ke-19.

Pada zaman dahulu, Jacobson Van Den Berg bergerak di bidang asuransi dan perdagangan ekspor-
impor dengan kantor cabang yang tersebar di seluruh dunia, diantaranya di New York, Rio de Jainero, Sao
Paolo, Singapura, Hongkong, Tokyo, sydney dan Batavia (Jakarta). Setelah membangun kantor di Jakarta pada
tahun 1934, Jacobson Van Den Berg lalu membuka cabang lain di beberapa kota termasuk Palembang, di kota
inilah Jacobson Van Den Berg membeli karet dan kopi untuk dijual di luar negeri.

Kantor NV Jacobson Van Den Berg & Co di Palembang yang memiliki 2 lantai dan Luas 106 m2
tersebut sempat terbengkalai ketika Jepang menguasai Indonesia. Jacobson Van Den Berg berhasil
mendapatkan dan menggunakan kantornya tersebut kembali setelah pasukan Jepang secara keseluruhan
Meninggalkan Indonesia pada tahun 1947. Hanya saja, di awal tanun 1950-an, pemerintah Indonesia
melakukan nasionalisasi di hampir semua peninggalan Belanda, gedung tersebut juga termasuk salah satu
yang akhirnya dimiliki oleh pemerintah.

Dinding bangunan ini setelah ditinggalkan sudah terlihat kusam dan berdebu akibat kurangnya
perawatan. Di akhir tahun 2018, tampilan gedung ini sudah direvitalisasi sehingga sekarang gedung ini sudah
terlihat lebih cerah, dengan cat warna baru. Warna bangunan yang dahulu putih sekarang tidak tampak lagi,
kini bangunan tersebut sudah di cat ulang dengan warna kuning khaki, coklat dan biru yang membuat gedung
itu lebih segar.

Anda mungkin juga menyukai