0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
258 tayangan17 halaman

Dimensi Kemanusiaan dalam Bimbingan Konseling

Dimensi sosial saya kurang berkembang sehingga menyebabkan saya mengalami masalah dalam berinteraksi dengan orang lain. 2. Bagaimana anda dapat mengembangkan dimensi tersebut agar masalah yang anda alami dapat teratasi?
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
258 tayangan17 halaman

Dimensi Kemanusiaan dalam Bimbingan Konseling

Dimensi sosial saya kurang berkembang sehingga menyebabkan saya mengalami masalah dalam berinteraksi dengan orang lain. 2. Bagaimana anda dapat mengembangkan dimensi tersebut agar masalah yang anda alami dapat teratasi?
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERKULIAHAN

Minggu Ke-2

1
Materi Lanjutan:

Mengapa perlu ada


Bimbingan dan Konseling?

2
3. Dimensi Kemanusiaan
Manusia dianugerahi 5 potensi (dimensi) dalam dirinya:

Dimensi keFitrahan (Dimfit): setiap mns lahir dengan kefitrahan (Suci)


Dimensi keIndividualan (Dimin): setiap manusia memiliki perbedaan
Dimensi keSosialan (Dimsos): setiap manusia memerlukan orang lain
Dimensi keSusilaan (Dimsus): kehidupan mns tidak acak, ttp mengikuti aturan-
aturan tertentu
Dimensi keberAgamaan (Dimag): iman dan takwa → hidup tidak hanya di dunia
tetapi juga akhirat

Dimensi Kemanusiaan sebagai sesuatu yang hakiki yang dimiliki manusia, perlu
DIKEMBANGKAN dan DISELARASKAN

Pengembangan segenap potensi yang ada pada diri secara optimal mengarah
pada aspek-aspek kehidupan yang positif.
(bakat, minat, sifat, karakter, kemampuan, dsb.)

Sumber Kajian: Buku Prayitno. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional. 2017: 9
Buku Prayitno. Konseling Profesional yang Berhasil. 2017: 18 3
Buku Prayitno & Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. 2004: Hal. 12-20
3. Dimensi Kemanusiaan (Lanjutan)
TAMPILAN KEHIDUPAN MANUSIA : PANCADIMENSIA
1. Dimensi Kefitrahan : berbicara tentang kebenaran, kesucian
dan keluhuran
2. Dimensi Keindividualan : berbicara tentang potensi dan
perbedaan
3. Dimensi Kesosialan : berbicara tentang komunikasi dan
kebersamaan
4. Dimensi Kesusilaan : berbicara tentang nilai dan moral
5. Dimensi Keberagaman : berbicara tentang iman dan taqwa
(Prayitno)

Dimensi Kemanusiaan
dalam istilah lain disebut juga dengan
Zona Kehidupan Manusia (Pancazona)
Sumber Kajian: Buku Prayitno. Konseling Profesional yang Berhasil. 2017: 18
4
Buku Prayitno. Wawasan Profesional Konseling. 2009: Hal. 21
Kemampuan manusia dalam
Menyikapi pembangunan dan perkembangan
zaman melalui pemahaman Hakikat
Manusia dirinya dan Pengembangan 5
Dimensi Manusia yang dimilikinya:
MEMBENTUK DIRI
MENJADI:

“Manusia Seutuhnya”
Yaitu Kualitas manusia sbg makhluk yang
paling indah, makhluk mulia, makhluk yang
paling tinggi derajatnya, serta makhluk
yang mampu mengembangkan secara
optimal kelima dimensi kemanusiaan
Sumber Kajian: Buku Prayitno & Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. 2004: Hal. 20-24
5
“Manusia Seutuhnya”

Adalah manusia yang mampu menciptakan kesenangan dan


kebahagiaan bagi DIRINYA SENDIRI dan LINGKUNGANNYA

Berkat:
Pengembangan optimal segenap potensi yang ada pada dirinya
(DIMIN), seiring dengan pengembangan suasana kebersamaan
dengan lingkungan sosialnya (DIMSOS), sesuai dengan yang
berkebenaran (DIMFIT) dan aturan yang berlaku (DIMSUS), dan
segala sesuatunya senantiasa dikaitkan dengan
pertanggungjawaban atas segenap aspek kehidupannya di
dunia terhadap kehidupan di akhirat kelak (DIMAG).
Sumber Kajian: Buku Prayitno & Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. 2004: Hal.620
“Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain
yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan pendidikan.”
(UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 6)

Konselor adalah Pendidik,


tugas utamanya adalah secara penuh menyelenggarakan
usaha pendidikan dengan segenap unsur teori, praksis,
dan praktiknya.

Sehingga landasan keilmuan dan keprofesionalan


konselor tidak lain adalah keilmuan dan keprofesionalan
pendidikan.
Sumber Kajian: Buku Prayitno. Landasan Keilmuan dan Keprofesionalan Bimbingan dan Konseling.
2018: Hal. 1 7
Upaya Pendidikan, demikian juga Konseling, dilakukan untuk
mengembangkan dan membentuk manusia seutuhnya. Berlangsung DARI
MANUSIA, UNTUK MANUSIA, DAN OLEH MANUSIA (disingkat DUOM)
-Prayitno, 2016-

Dari Manusia?
Karena pendidikan/konseling diawali dari pemikiran manusia tentang
kesejatian manusia yang menjadi dasar seluruh upaya
pendidikan/konseling.
Untuk Manusia?
Agar manusia mampu mewujudkan Harkat Martabat Manusia (HMM)
seutuhnya dengan pengembangan 3 komponen: Hakikat Manusia
(Pancacitra), Potensi Dasar Manusia (Pancadaya), dan Dimensi
Kemanusiaan (pancazona)
Oleh Manusia?
Upaya pendidikan/konseling dilaksanakan oleh manusia yaitu manusia
yang benar-benar mampu secara profesional melaksanakan upaya
pendidikan/konseling.

Upaya pendidikan bermacam-macam, tetapi arahnya satu, yaitu:


MEMULIAKAN KESEJATIAN MANUSIA = MENJUNJUNG HMM
Sumber Kajian: Buku Prayitno. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional. 2017: Hal. 7-8
Buku Prayitno. Landasan Keilmuan dan Keprofesionalan Bimbingan dan Konseling. 2018: Hal. 826
Diharapkan menghasilkan kondisi kehidupan
yang DBMSB - DA
1. D : Damai
2. B : Berkembang
3. M : Maju
4. S : Sejahtera
5. B : Bahagia

= Dunia dan Akhirat =


Caranya?
Melalui pendidikan/konseling
Sumber Kajian: Buku Prayitno. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional. 2017: Hal. 9
9
Dengan menggerakkan:
Dinamika Kehidupan
BMB3 - - 5 As
❑ Berpikir, agar menjadi Cerdas
❑ Merasa, agar perasaan menjadi Terkemas
❑ Bersikap, agar sikap yang terbentuk
didasarkan pada kondisi Mawas yang luas dan
matang.
❑ Bertindak, agar tindakan dilakukan dengan
Tangkas
❑ Bertanggung jawab, agar mampu bertanggung
jawab sampai Tuntas
10
Sumber Kajian: Buku Prayitno. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional. 2017: Hal. 11
Serta menerapkan
PRINSIP TJS
(TIGA JADI SATU)

Ilmiah

Amaliah

Imaniah

Sumber Kajian: Buku Prayitno. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional. 2017: Hal. 14
11
Sehingga terwujud
kehidupan manusia dengan
Lima-I, yaitu pribadi yang
menampilkan ciri-ciri:

1. Iman dan Takwa,


2. Individual,
3. Interaksi,
4. Inisiatif, dan
5. Industrius.

Sumber Kajian: Buku Prayitno. Landasan Keilmuan dan Keprofesionalan Bimbingan dan Konseling.
2018: Hal. 3
Buku Prayitno. Wawasan Profesional Konseling.2009: Hal. 8-9 12
5 (LIMA) JENIS KEBENARAN dalam BMB3:

1. Kebenaran yang Mutlak, rujukannya adalah firman


Tuhan.
2. Kebenaran yang sebenar-benarnya benar, rujukannya
adalah hasil penelitian.
3. Kebenaran yang dibenarkan, rujukannya adalah
peraturan yang berlaku.
4. Kebenaran yang dibenar-benarkan, rujukannya adalah
alasan yang dibuat-buat.
5. Kebenaran benarnya sendiri, rujukannya adalah maunya
sendiri.

Dalam ber-BMB3 (Berpikir, Merasa, Bersikap, Bertindak,


dan Bertanggungjawab) diharapkan manusia mengacu
pada kebenaran yang pertama, kedua, dan ketiga dan
TIDAK mengacu pada kebenaran yang keempat dan kelima.

Sumber Kajian: Buku Prayitno. Pelayanan Profesional Konseling yang Berhasil. 2015: Hal. 51-52
13
DEFINISI SABAR
dalam lima kondisinya : TMJ3

1. Terimalah yang sedikit dengan


kesyukuran yang tinggi
2. Maafkan yang menyulitkan
3. Jangan membebani, kalau bisa
meringankan
4. Jangan mencela, menghina, dan
semacamnya, kalau bisa memuji
5. Jangan marah
(Prayitno)

14
CATATAN:
Gunakan Masalah yang anda tuliskan di tugas mandiri 1 sebagai acuan dalam menjawab pertanyaan no. 1
dan 2

1. Setelah mempelajari tentang dimensi manusia, analisislah dimensi apa yang kurang berkembang
sehingga anda mengalami masalah tersebut?
2. Jelaskan mengapa menurut anda dimensi tersebut menjadi salah satu faktor terjadinya masalah tersebut.
3. Setelah anda mempelajari materi pertemuan ke-2, lakukan analisis BMB3 berikut:
- Apa yang anda pikirkan tentang dimensi kemanusiaan?
- Apa yang anda rasakan setelah mempelajari dimensi kemanusiaan?
- Sikap apa yang muncul pada diri anda setelah mempelajari dimensi kemanusiaan?
- Apa yang akan anda lakukan sebagai individu setelah memperlajari dimensi kemanusiaan?
- Tanggung jawab apa yang ada pada diri anda setelah mempelajari dimensi kemanusiaan?
4. Berikan contoh-contoh dalam kenyataan hidup sehari-hari perwujudan masing-masing dimensi
kemanusiaan yang berorientasi pada:
a. Perwujudan positif, yaitu yang mengarah kepada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
b. Perwujudan negative, yaitu yang mengarah kepada kerusakan dan kesengsaraan.

(teknis pengerjaan tugas diserahkan kepada


masing-masing Dosen Pengampu MK Dasar-Dasar Pelayanan BK)
15
Prayitno, Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Prayitno. 2009. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP.
Prayitno. 2015. Pelayanan Profesional Konseling yang Berhasil. Bogor: PT
Grha Cipta Media.
Prayitno. 2017. Konseling Profesional yang Berhasil. Depok: Rajawali Pers.
Prayitno. 2017. Arah Persiapan dan Praktik Pelayanan Konseling Profesional.
Padang: Jurusan BK FIP UNP.
Prayitno. 2018. Landasan Keilmuan dan Keprofesionalan Bimbingan dan
Konseling. Padang: UNP.

16
PERSIAPAN
PERKULIAHAN
MINGGU DEPAN
1. Pelajari tentang Sejarah perkembangan BK di
Amerika dan di Indonesia agar minggu depan
dapat memberikan respons saat dosen
bertanya tentang sejarah perkembangan BK.
2. Minggu depan akan ada tugas membuat mind
mapping atau menceritakan kembali atau
membuat resume Sejarah perkembangan BK
(Opsional dosen).

17

Anda mungkin juga menyukai