Nama : Dhelia Salma Putri R
Prodi/Kelas : PGMI_1A
NIM : 1212090037
Keseimbangan Indera-Akal-Hati
Orang Yunani sebenarnya belum benar-benar terlepas dari mitos yang dianut mereka
tatkala mereka mulai berfilsafat. Filsafat Thales, menurut para ahli masih banyak dipengaruhi
oleh mitos. Akan tetapi, pada filosof sofis, akal benar-benar telah menguasai jalan hidup orang
Athena. Orang Athena ternyata kurang waspada. Penghargaan mereka kepada akal terlalu tinggi
akibatnya agama mereka tinggalkan. Seandainya akal dapat memantapkan kehidupan, persoalan
tidak akan menjadi rumit. Akan tetapi, kenyataannya akal juga dapat "diakali". Maksudnya, yang
benar menurut akal ternyata dapat dan selalu lebih dari satu macam. Karena ukuran pada instansi
tertinggi adalah akal, dan akal ternyata bermacam-macam temuannya, maka dapat ditebak akibat
yang muncul, yaitu kekacauan nilai.
Pada Abad Pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal kalah total dan iman (agama
Kristen) menang mutlak. Keadaan ini seharusnya telah dapat diperhitungkan sebelum terjadi.
Sebabnya ialah Kitab Suci Kristen itu memang tidak menghargai akal. Filosofi filosofi penting
abadi\ ini semuanya mementingkan rasa (iman) ketimbang akal, bahkan ada yang menganggap
saya dan filsafat itu tidak ada gunanya dipelajari apalagi dikembangkan. akibatnya ialah filsafat
dan sains tidak berkembang kehidupan mundur dibandingkan dengan zaman Yunani. Karena
itulah Descartes tokoh utama dan pertama filsafat modern berusaha melepaskan filsafat dan saya
dari cengkraman gereja.
Meskipun esensinya sama dengan yang dihadapi oleh Socrates, argumen-argumen yang
dihadapi oleh Kant jauh lebih rumit dibanding. kan dengan argumen-argumen yang dihadapi oleh
Socrates. Sama dengan Socrates, tugas Kant adalah menyelamatkan sains dan agama dari
gangguan skeptisisme. Skeptisisme itu pada dasarnya sama dengan esensi filsafat sofisme yang
menganggap semua kebenaran itu relatif.
Untuk membuktikan kerelatifan filsafat cukup dilihat andalan kebenaran filsafat. andalan
kebenaran filsafat adalah kelogisan argumennya. Dalam hal ini argumen logika memang lurus
dilihat dari segi formatnya tetapi dalam operasinya argumen-argumen itu dapat menempuh
banyak jalan. Jalan atau alur argumen logis itu dapat saja sama benarnya atau sama logisnya dan
karena itu derajat Kebenaran konklusinya akan sama. akan tetapi isi konklusi itu dapat saja
berbeda bahkan berlawanan.
Sebagian teori sains tidak relatif, sebagian lagi relatif. Bukti-bukti empiris menjelaskan
hal itu. Lihatlah contoh harga beras tadi. Tidak seorangpun akan mengingkari, tidak aka ada
perbedaan pendapat bahwa bila hari hujan terus- menerus, harga beras akan naik. Mengapa?
Karena ada bukti-bukti yang empiris. Bukti-bukti itu dapat disaksikan oleh semua orang. Ini satu
alur pemikiran Sains dapat juga relatif bila teori sains tentang satu masalah lebih dari satu dan
teori itu berbeda atau bertentangan. Ini banyak contohnya dalam ilmu-ilmu sosial. Akhirnya
dapat saja terjadi seseorang memegang teori sains yang satu, yang lain memegang yang lain.
Selain itu, kerelatifan sains dapat berasal dari keterbatasan alat-alat ukur yang digunakan oleh
sains itu sendiri. Alat ukur dalam sains adalah benda-benda konkret, jadi Empiris.
Persoalan nya akan menjadi lain bila sains itu dijadikan andalan tertinggi dalam
kehidupan, kehidupan dan nasib digantungkan padanya. Untuk keperluan ini sains belum
mencukupi dan memang sains dibuat bukan untuk itu. Sains diciptakan untuk dijadikan alat
dalam kehidupan Bukan untuk gantungan, andalan kehidupan. pandangan hidup harus kuat. Baik
sains maupun filsafat tidak cukup untuk menduduki posisi tersebut, karena kereaktifannya dapat
dijadikan pegangan hidup, gantungan hidup, haruslah kebenaran-kebenaran yang sungguh-
sungguh a priori.
Manusia membawa sejak lahir kata hati atau suara hati yang bersifat imperatif. suara hati
itu ialah suara yang selalu mengajak menjadi orang baik. Suara hati itu merupakan antena ketiga
manusia. Manusia memiliki tiga antena: indera, akal, dan hati atau rasa. Daerah ketiga ini tidak
dapat dimasuki oleh antena kedua (akal), apalagi oleh antena pertama (indera). Bila sains masuk
ke daerah itu, ia akan hilang di dalam antinomi. Bila filsafat masuk, ia akan hilang di dalam
paralogisme. Ini kata Kant.
Di dalam Islam, misalnya, ada satu contoh yang baik untuk memperlihatkan salah satu
persoalan yang hanya dapat dipahami oleh suara hati, yaitu mengenai takdir atau nasib manusia.
Sekelompok ayat Al-Quran menyatakan bahwa nasib manusia ditentukan oleh Tuhan, bukan
oleh manusia, karena nasibnya telah ditakdirkan (ditentukan) sebelum ia lahir. Sekelompok ayat
Al-Quran yang lain menyatakan sebaliknya, nasib manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri.
Ayat-ayat itu menimbulkan dua arus besar dalam pemikiran Islam.
Sains berguna, filsafat berguna, iman berguna pada posisi atau daerah masing-masing.
Sains, filsafat, iman (hati) masing-masing mempunyai kebenaran sesuai dengan ukuran masing-
masing, sesuai dengan ukurannya masing-masing.
Menurut Al-Syaibani (1971: 130) Manusia mempunyai tiga kekuatan atau potensi yang
sama pentingnya, laksana sebuah segitiga yang sisi sisinya sama panjang. potensi yang dimaksud
adalah jasmani, akal dan roh. Kemajuan kebahagiaan dan kesempurnaan kepribadian manusia
banyak bergantung pada keselarasan ketiga potensi itu. Islam menurut Al-Syaibani tidak hanya
mengakui adanya ketiga potensi tersebut tetapi juga meneguhkan nya dan memantapkan
wujudnya. Manusia adalah jasmani bukan hanya akal dan bukan hanya roh. Manusia adalah
kesatuan semua itu yang saling melengkapi kesempurnaan manusia.
Potensi manusia itu dapat ditelusuri, misalnya dengan memperhatikan cara manusia
bereaksi lingkungannya. Stimulus yang bersifat empiris di reaksi dengan menggunakan alat-alat
jasmani, yaitu indera. Kalau ia ingin tahu rasa gula, ia mencicipinya dengan inderanya. Kalau ia
dihadapkan pada persoalan yang tidak empiris, tetapi masih di dalam daerah logis, ia reaksinya
dengan akalnya. Ia ditawari paham ateisme, umpamanya, maka ia menyusun argumen untuk
menerima atau menolaknya. Alasan-alasan yang dikemukakannya bersifat logis semata. Akan
tetapi, bila ia dihadapkan kepada objek yang tidak empiris dan tidak pula logis, maka ia
mereaksinya dengan hati
Potensi-potensi itu dapat dipahami lebih jelas bila kita memperhatikan cara manusia
memperoleh pengetahuan. Secara umum manusia memperoleh pengetahuan melalui tiga jalan,
masing-masing pada dasarnya melalui tiga potensi manusia. Pertama, potensi jasmani yang
berupa indera. Potensi ini dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan empiris. Di dalam
filsafat pengetahuan, cara memperoleh pengetahuan seperti ini disebut cara empirism.
Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini, dengan bantuan akal, disebut pengetahuan sains.
Pengetahuan sains memang tidak seratus persen empiris, tetapi dasar-dasarnya yang paling awal
dan paling akhir. tetap dapat dikembalikan kepada penginderaan empiris. Memperoleh
pengetahuan dengan cara ini berarti memperoleh pengetahuan dengan menggunakan paradigma
sains (scientific paradigm). Kedua, potensi akal. Potensi ini digunakan tatkala ingin memperoleh
pengetahuan tentang objek yang tidak dapat diindera (tidak empiris), tetapi dapat dipikirkan
secara logis. Melalui cara ini manusia memperoleh pengetahuan rasional atau pengetahuan logis.
Pengetahuan ini disebut pengetahuan filsafat. Di dalam filsafat pengetahuan, cara ini disebut cara
rasionalisme. Paradigma yang digunakan ialah paradigma logis (logical paradigm). Ketiga,
potensi hati (suara hati). Di dalam filsafat Kant, seperti yang diuraikan sebelum ini, potensi ini
disebut kategori imperatif atau moral yang absolut. Istilah hati yang digunakan di sini mewakili
suatu pengertian yang khusus. Dengan menggunakan potensi ini manusia dapat memperoleh
pengetahuan mistik. Pengetahuan mistik yang dimaksud ialah semua pengetahuan mengenai
daerah suprarasional (supralogis, gaib). Berbagai hal tentang agama, seperti iman, termasuk ke
dalam pengetahuan ini. Paradigmanya disebut saja paradigma mistis (mistical paradigm).
Dalam mencari pengetahuan filsafat, akal juga memerlukan bantuan indra. Sekurang-
kurangnya objek itu memberikan dorongan bekerja pada akal untuk memikirkan objek-objek
yang tidak empiris objek-objek dibalik fenomena. sulit dibayangkan seseorang akan
menghasilkan pengetahuan filsafat seandainya ia tidak mempunyai alat indra satupun. Potensi
kalbu juga tidak dapat bekerja sendirian. Ia memerlukan bantuan indera dan akal. Alam yang
tergelar, pemahaman tentang alam itu justru itulah antara lain yang menjadi pendorong terjadinya
perenungan qabliyah yang serius.
Objek-objek yang inderawi diketahui dengan menggunakan potensi jasmani (indera).
Hasilnya empiris, dapat diukur. Objek-objek yang diketahui dengan menggunakan akal logis
diketahui dengan menggunakan akal. Hasilnya filsafat yang kebenarannya diukur dengan
kelogisannya. Bila logis, pengetahuan itu benar; bila tidak logis, pengetahuan itu tidak benar.
Objek-objek yang suprarasional mungkin dapat diketahui dengan menggunakan potensi ketiga,
yaitu kalbu atau rasa (dzauq). Hasilnya ialah pengetahuan-pengetahuan yaitu keyakinan,
sebagian besar seni, kasyf, dan lain-lain. Ukurannya ialah dzauq itu tadi. Batas antara objek batas
seni, pengetahuan batin, indera dengan objek akal ialah empiris atau tidaknya objek itu, s antara
objek akal dengan objek dzauq (rasa) ialah logis atau tidaknya objek itu. Kant mengatakan batas
itu ialah bila objek itu berada daerah paralogisme, maka itu adalah objek kalbu (dzauq). Menurut
Kant. dalam objek yang di sana akan terjadi paralogisme bila akal logis digunakan ialah ruang,
waktu, kausalitas (ujungnya adalah Tuhan), dan alam gaib Al- Quran. Kitab yang diyakini oleh
orang Islam kebenarannya. menjelaskan juga adanya objek-objek tersebut.
Adanya objek indra, objek akal dan objek kalbu merupakan adanya tiga potensi yang
dimiliki manusia. Ketiga potensi manusia itu dapat diandaikan seperti antena. Siaran-siaran
empiris langsung ditangkap oleh antena yaitu indera. Misalnya ada siaran "tebu rasanya manis",
ini langsung pahami oleh antena 1. Datang siaran lain, "ada aturan yang mengharus un tebu
menyerap manis". Siaran ini dapat ditangkap oleh antena II; antena I tidak dapat menangkapnya.
Siaran ketiga, "pengatur itu adalah Tuhan Yang Maha Pintar". Tuhan Yang Maha Pintar itu hanya
dapat ditangkap oleh antena III. Manusia yang sempurna ialah manusia yang ketiga antenanya
bekerja sama pekanya. Karena itulah maka pendidikan barus berusaha menjadikan ketiga antena
itu sama pekanya. Perlu pengembangan jasmani (indera), akal, dan kalbu secara serentak dan
seimbang. Bagian yang perlu diuraikan ialah potensi kalbu karena potensi inilah yang saat ini
kurang sekali mendapat perhatian, juga di kalangan orang yang beragama, juga di kalangan
Muslim.
Sebenarnya di dalam hidup ini indera, akal, dan hati harus diperhatikan sekurang-
kurangnya sama besar kalau tidak dapat dikatakan hati lebih dipentingkan untuk diperhatikan.
Bila ingin sempurna. manusia harus didominasi secara seimbang oleh indera, akal, dan rasa (hati,
iman)-nya. Potensi itu masing-masing harus mendapat latihan secara serentak (simultan) dan
seimbang. Bila salah satu telah mendominasi lebih dari yang lain, maka kehidupan mulai
terancam; sejarah telah memperlihatkan hal itu. Orang yang beragama pun, bila agamanya tidak
mengembangkan ketiga potensi itu secara seimbang, maka agamanya dapat dikatakan kurang
utuh, dan orang itu pun akan berkembang secara parsial, berkembang tidak utuh. Akal yang
mendominasi, atau akal yang didominasi, akibatnya kurang-lebih akan sama merugikan manusia.
Manusia yang baik ialah manusia yang jasmani akal, dan kalbunya berkembang secara seimbang
di dalam tuntunan ajaran Tuhan Yang Maha Pintar