Jurnal Ecoprint
Jurnal Ecoprint
ABSTRACT
Ecoprint is one of the coloring techniques using natural dyes by transferring colors and shapes on fabric media
through direct contact. Ecoprint technique can also be done in media other than cloth, such as leather sheep.
The purpose of this study was to explore the ecoprint technique on sheep leather with 4 variations of treatment,
as well as determine the color fastness against rubbing through laboratory testing. Treatment variations
include: sheep leather steamed on high heat at 100 OC, sheep leather steamed at medium temperature 80 OC,
sheep leather steamed at medium flame with a temperature of 80 OC double blanket, and sheep leather steamed
on medium heat at 80O C blanket without closed plastic layer. The method used in this research is descriptive
qualitative and quantitative. The results showed that the ecoprint technique could be done on sheep leather
media. Visual observations that show ecoprints of sheep leather steamed on medium flame at 80 OC produce
motives and colors better than ecoprints of sheep leather steamed with 100 O C. high fire. The results of the
color fastness test against rubbing ecoprints of sheep leather steamed with fire large temperature of 100 o C,
quite good with values 3 and 4. The results of the color fastness test against rubbing ecoprints of sheep skin
steamed with medium heat temperature of 80O C, on average both with grades 4 and 4-5.
Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik, Oktober 2019
PENDAHULUAN
Ecoprint merupakan salah satu teknik pewarnaan menggunakan bahan pewarna alam. Teknik
pewarnaan pada ecoprint dilakukan dengan cara mentransfer warna dan bentuk pada media kain
ataupun media lain melalui kontak langsung. Ecoprint dipelopori pertama kali oleh India Flint
(Pressinawangi, 2014). Teknik Ecoprint lebih memanfaatkan bagian tanaman berupa daun dan bunga
sebagai sumber pewarna. Dye blanket ecoprint merupakan salah satu teknik ecoprint yang warna
latarnya diperoleh dengan cara mencelup blanket (selimut) kain dalam zat warna alam. Blanket
tersebut akan mentransfer warna ke media pada saat proses pengukusan.
Hasil pencetakan ecoprint ini sangat bervariasi sesuai dengan jenis tanaman, bagian tanaman
yang digunakan, lama pengolahan, kondisi pH, kualitas air, kandungan mineral dalam air, metode
pengolahan, jenis serat (selulosa, sintetis atau protein) dan lainnya (Lestari, 2017). Proses pembuatan
ecoprint secara umum terdiri dari tiga tahapan yaitu:
- Perlakuan awal bahan (kain dan daun/bunga)
- Proses pencetakan motif/ transfer warna dan bentuk
Ada beberapa cara yang digunakan pada proses pencetakan motif yaitu dengan cara dipukul
(pounding), direbus maupun dikukus (steaming).
- Fiksasi akhir (Chasanah, 2017).
Tannin merupakan komponen penting dalam proses ecoprint. Tidak semua jenis daun dapat
digunakan untuk proses ecoprint. Beberapa jenis daun dengan tannin cukup tinggi mudah
mengeluarkan warna. Beberapa daun memerlukan treatment terlebih dahulu. Treatment daun
dilakukan sebelum diproses ecoprint untuk membantu keluarnya warna dengan cara daun direndam
dalam larutan tertentu. Larutan yang digunakan untuk merendam daun antara lain larutan tunjung,
larutan cuka, larutan kapur dan larutan tawas. Masing-masing jenis larutan tersebut akan memberikan
nuansa warna yang berbeda. Jenis daun yang memerlukan proses perendaman antara lain daun jarak,
daun ketepeng kebo, daun eukaliptus, daun bodi, daun mindi, daun pepaya jepang, daun kalpataru,
dan lain-lain. Ada beberapa jenis daun yang dapat mengeluarkan warna tanpa perendaman yaitu daun
jati, daun jenitri, daun lanang dan daun kesumba.
Perlakuan awal bahan dilakuan untuk membuka pori-pori kain dan memasukkan unsur logam ke
dalam serat kain, agar warna dapat terserap lebih sempurna. Perlakuan awal kain terdiri dari:
- Pembasahan, dilakukan dengan cara merendam kain dalam larutan TRO selama 1 jam.
- Premordant/mordanting dilakukan dengan cara kain direndam dalam larutan tawas selama 1-
3 hari.
- Mordant-in yaitu kain dicelup dalam larutan tertentu supaya kain lembab, dilakukan sebelum
proses penataan daun dan bunga.
Pembuatan ecoprint melalui tahapan pencetakan motif yang dilakukan dengan cara dipukul, direbus,
atau dikukus. Waktu pengukusan atau perebusan selama 2 jam. Fiksasi akhir dilakukan setelah kain
dibuka dan dibiarkan diudara terbuka selama 5 hari, kemudian dicelup dalam larutan tawas, atau
tunjung, atau cuka. Langkah terakhir kain dicuci bersih dengan detergent ringan dan pelembut kain.
Dewasa ini teknik ecoprint mengalami perkembangan yang cukup pesat, karena selain hasilnya
yang unik dengan nilai seni tinggi, mudah dilakukan dan bahan yang digunakan ramah lingkungan.
Penelitian-penelitian tentang ecoprint yang sudah dilakukan antara lain:
1. Sedjati,D (2019) dalam “Mix Teknik Ecoprint dan Teknik Batik Berbahan Warna Tumbuhan
Dalam Penciptaan Karya Seni Tekstil”. Penelitian ini mengkolaborasikan teknik batik
dengan teknik ecoprint dalam penciptaan karya seni kriya tekstil dalam bentuk stola dan
scraft (Sedjati, 2019).
2. Murizar (2018) dalam“Eksplorasi Daun Jati Sebagai Zat Pewarna Alami Pada Kain Katun
Sebagai Produk Pashmina dengan Teknik Ecoprint”. Penelitian ini membandingkan hasil
ecoprint daun jati pada media kain katun dengan menggunakan 3 metode yaitu: metode
pukul (pounding), metode rebus dan kukus (steaming). Hasilnya, metode pukul daun jati
menghasilkan warna merah kecoklatan dan kuning kecoklatan, metode rebus dan kukus
menghasilkan warna merah muda keunguan. Hasil pewarnaa ecoprint dengan metode rebus
dan kukus fiksasi larutan tawas menunjukkan ketahanan warna yang paling baik (Murizar
fazruza, 2018).
3. Maharani (2018) dalam “Motif dan Pewarnaan Tekstil di Home Industry Kaine Art Fabric
Ecoprint Natural Dye”. Hasilnya,motif ecoprint termasuk dalam desain tekstil flora dari
bahan alam. Warna yang tercetak berbeda-beda,sesuai kandungan masing-masing tumbuhan,
bahan treatment dan bahan fiksasi. Motif hasil ecoprint pada bahan kain bernilai estetik yang
dapat digali dari wujudnya yaitu unsur dan prinsip seni rupa (Maharani, 2018).
4. Saraswati dan Sulandari (2018) dalam “Perbedaan Hasil Rok Pias Ecoprint Daun Jati
(Tectona grandis) Menggunakan Jenis dan Massa Mordan Tawas dan Cuka”.Hasil penelitian
ini: terdapat perbedaan hasil jadi rok pias ecoprint daun jati menggunakan jenis mordan
(tawas dan cuka) dengan massa mordan 75 gram dan 150 gram, ditinjau dari aspek
ketajaman warna dan kejelasan bentuk. Hasil pewarnaan terbaik yaitu jenis mordan tawas
dengan massa mordan 150 gram. Hasil ecoprint yang paling disukai yaitu pada mordan tawas
dengan massa mordan 150 gram, karena warnanya yang tajam dan bentuk yang baik
(Saraswati, 2018).
5. Pressinawangi,N dan Dian (2014) dalam “Eksplorasi Teknik Ecoprint dengan Menggunakan
Limbah Besi dan Pewarna Alami untuk Produk Fashion”.Penelitian ini mengunakan limbah
besi sebagai penghasil warnanya dan sebagai mordan pada pencelupan warna alamnya.
Hasilnya berupa lembaran kain dan fashion dengan corak unik (Pressinawangi, 2014).
Penelitian-penelitian tentang ecoprint yang sudah dilakukan semua menggunakan media kain,
dan belum sampai pada tahapan uji laboratorium. Teknik ecoprint awal munculnya memang
dilakukan pada media kain, seiring dengan berkembangnya kreatifitas manusia, kemudian
berkembang ecoprint dilakukan pada media selain kain.
Pada penelitian ini dilakukan eksplorasi teknik ecoprint pada kulit binatang, yaitu menggunakan
kulit domba sebagai media. Kulit domba dipilih karena kulit domba merupakan salah satu jenis kulit
binatang yang mempunyai tekstur yang lentur, tipis dan lembut sehingga sering digunakan untuk
produk-produk busana dan produk fashion misalnya, jaket, dress, rok, celana, tas dan lain-lain. Kulit
domba mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pori-pori kecil, tekstur halus karena pori-porinya kecil,
lentur (bila ditarik permukaannya tidak terasa kaku sehingga nyaman bila dipakai karena pemakai
dapat bergerak bebas), warna terang, dan tipis (Leather, 2019). Jenis kulit domba yang digunakan
adalah kulit domba setengah jadi (crust). Kulit crust (sintetic crust, chrome crust, vegetables crust)
adalah kulit yang disamak dengan dua macam zat penyamak atau lebih, tetapi tidak diproses lebih
lanjut dan mudah dibasahkan kembali apabila diperlukan (BBKKP, 2014). Kulit domba jenis crust
masih berwarna putih keabu-abuan sehingga masih dapat diproses warna lebih lanjut dengan teknik
ecoprint.
Tujuan penelitian untuk mengeksplorasi teknik ecoprint pada kulit domba yang dihasilkan dengan
4 variasi perlakuan, dan untuk mengetahui ketahanan luntur warna terhadap gosokan, melalui uji
laboratorium.
3
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data-data diperoleh
dengan melakukan studi literatur, studi lapangan dan percobaan. Metode pustaka digunakan untuk
mencari data literatur yang bersumber dari jurnal, buku, artikel maupun website yang terkait dengan
teknik ecoprint. Studi lapangan dilakukan dengan cara mengamati dan mengidentifikasi potensi alam
sekitar yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna dalam teknik ecoprint. Berdasarkan data-data yang
diperoleh selanjutnya dilakukan percobaan ecoprint pada kulit domba. Data hasil percobaan dianalisa
dengan cara pengamatan visual dan selanjutnya diuji laboratorium dengan parameter uji ketahanan
luntur warna terhadap gosokan.
Rancangan penelitian
Teknik ecoprint yang digunakan pada penelitian ini adalah dye blanket ecoprint dengan cara
dikukus dengan beberapa variasi perlakuan. Ada empat perlakuan pada penelitian ini yaitu:
1. Sampel 1: kulit domba dikukus pada api besar, mendidih dengan suhu 100 O C.
2. Sampel 2: kulit domba dikukus pada api sedang dengan suhu 80O C.
3. Sampel 3: kulit domba dikukus pada api sedang dengan suhu 80O C, dobel blanket.
4. Sampel 4: kulit domba dikukus pada api sedang dengan suhu 80 O C, blanket tanpa ditutup
plastik.
Prosedur Kerja
1. Menyiapkan kulit domba jenis crust.
2. Pre-Mordant kulit.
3. Mordan-in kulit.
4. Plastik seukuran kulit dibentangkan diatas bidang datar.
5. Sampel 1,2 dan 4: Kulit yang sudah tiris dibentangkan diatas plastik.
Sampel 3 menggunakan dobel blanket.
6. Daun dan bunga ditata diatas kulit sesuai keinginan.
7. Kulit ditutup dengan kain/blanket yang sudah dicelup dalam larutan warna.
8. Plastik dibentangkan diatas kain blangket. Sampel nomor 4 diatas blanket tidak diberi plastik
9. Kulit digulung padat dan ditali rapat dengan tali rafia.
10. Sampel 1 dikukus dengan api besar pada saat air sudah mendidih 100 O C, selama 1,5
[Link] 2,3 dan 4 dikukus dengan api sedang 80O C.
11. Gulungan dibalik setiap 30 menit.
4
12. Gulungan dikeluarkan dari panci setelah 1,5 jam, selanjutnya gulungan dibuka.
13. Daun dan bunga dibersihkan
14. Kondisi masih basah, kain dibentangkan dengan screen/pembidang, agar permukaan kulit
rata.
15. Fishing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kulit yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit domba setengah jadi jenis crust
sebanyak 4 lembar. Kulit crust masih berwarna putih keabu-abuan, karena belum melalui proses
pewarnaan. Tekstur kulit tipis, halus, lembut dan lentur. Sebelum diproses ecoprint, kulit dipre-
mordant dalam larutan 100 gram tawas/6 liter air hangat, direndam sempurna selama 3 hari,
kemudian ditiriskan. Proses selanjutnya kulit dimordant-in yaitu dicelup dalam larutan dengan
perbandingan 20 gram tawas: 15 cc cuka:15 gram soda abu: 3 liter air panas, celup selama 15 menit,
dan ditiriskan.
Kulit dibentangkan diatas bidang datar, dibawahnya dialasi plastik tipis seperti pada Gambar 1.
Daun dan bunga selanjutnya ditata diatas kulit yang sudah dialasi plastik. Daun yang digunakan antara
lain daun jati, daun lanang, dan daun jarak wulung. Bunga yang digunakan antara lain bunga kenikir,
bunga garbera, bunga krisan, bunga aster, bunga kamboja, bunga kuku macan dan bunga kertas.
Daun jarak wulung sebelumnya direndam dahulu dengan air hangat 50 O C selama 10 menit, kemudian
direndam dalam larutan tunjung 3 gram/liter. Sebelum ditata,daun jarak dilap dengan kain. Daun jati,
daun lanang dan semua jenis bunga tanpa treatment.
5
a. b. c.
Gambar 2. (a) Daun Jati (b).Daun jarak wulung (c) Daun lanang
a. b.
Gambar 3. (a) Bunga aster,bunga krisan, bunga garbera (b) Bunga kuku macan
6
Gambar 6. Sampel 3 Gambar 7. Sampel 4
Kain blanket dicelup dalam 2 liter zat warna tingi:200 cc larutan tawas dan diperas. Selanjutnya
kain dibentangkan sebagai selimut diatas kulit, ditepuk-tepuk agar bunga dan daun lebih melekat
dikulit. Bagian bunga yang masih menonjol dipukul pelan menggunakan palu kayu atau palu karet
supaya lebih rata.
Kulit digulung padat, diikat kuat dan rapat dengan tali rafia, selanjutnya dikukus selama 1,5 jam.
Gulungan dimasukkan dalam kukusan saat air sudah mendidih. Setelah gulungan dimasukkan, api
diatur sesuai rancangan penelitian agar suhu stabil. Setiap 30 menit sekali, gulungan dibalik agar
panas merata. Saat proses pengukusan ini kain blanket mentransfer warna ke kulit, sehingga warna
dasar kulit menjadi berwarna sesuai warna blanket.
Setelah 1,5 jam, gulungan diangkat,tunggu agak dingin kemudian gulungan dibuka. Daun dan
bunga dibersihkan. Motif daun dan bunga tercetak pada permukaan kulit. Ecoprint pada kulit tidak
memerlukan fiksasi akhir, karena kulit merupakan jenis protein dimana zat warna alam sudah terikat
pada permukaan kulit pada saat pengukusan. Kondisi masih basah, kulit dipentheng dengan
screen/pembidang dan tali selama 12 jam agar tekstur kulit rata. Tahap akhir, kulit difinishing akhir
dengan dicoating dan disetrika.
7
Gambar 9. Kulit digulung padat Gambar 10. Kulit setelah dikukus
Hasil
Tabel 1. Hasil ecoprint pada kulit domba
No Sampel Perlakuan Pengamatan visual
1 Kulit dikukus pada - Kulit sangat menyusut
api besar, mendidih - Saat dipentheng rapuh dan
100O C mudah sobek
- Kondisi kering, kulit
keras/kaku
- Warna paling tua dan paling
tajam dibandingkan dengan
semua sampel
- Motif bunga kenikir mblobor
sampai tembus ke bagian
sebaliknya.
- Hasil secara keseluruhan
kurang bagus.
8
3 Kulit dikukus pada - Kulit sedikit menyusut
api sedang 80O C - Saat dipenthang, masih lentur
dobel blanket dan kuat
- Kondisi kering, kulit sedikit
kaku.
- Warna bagus
- Motif bunga dan daun
tercetak indah, tetapi muncul
garis-garis putih dibagian
tengah kulit
- Hasil secara keseluruhan
cukup bagus.
Sampel selanjutnya diuji laboratorium dengan parameter uji ketahan luntur warna terhadap
gosokan.
Tabel 2. Hasil uji ketahanan luntur warna
Hasil Uji
Jenis Uji Metode Uji
Sampel Sampel Sampel
Sampel 3
1 2 4
Pembahasan
9
Ecoprint pada kulit domba menghasilkan motif-motif bunga dan daun yang tercetak indah dengan
garis-garis motif yang tegas dan warna-warna yang bervariasi. Daun lanang menghasilkan warna
kuning kunyit, daun jarak wulung menghasilkan warna hijau muda, daun jati menghasilkan warna
ungu kehitaman, bunga kuku macan mengahasilkan warna biru, bunga krisan putih menghasilkan
warna putih, bunga krisan kuning menghasilkan warna kuning muda, bunga krisan remix red and
ellow menghasilkan warna hijau, bunga garbera menghasilkan warna ping kecoklatan, bunga kertas
dan bunga kamboja menghasilkan warna kuning.
Sampel nomor 1 dikukus dengan api besar, air mendidih suhu 100 O C. Hasil secara visual, kulit
sangat menyusut, dan rapuh/mudah sobek dalam kondisi basah. Kondisi kering, kulit menjadi sangat
kaku. Warna dasar kulit coklat tua, paling tua diatara 4 sampel. Motif daun dan bunga tercetak dengan
jelas dengan warna-warna tua. Bunga kenikir tercetak dengan warna orange tua, mblobor tembus ke
bagian belakang kulit, sehingga mengurangi nilai keindahan motif. Daun jati tercetak dengan warna
hitam. Daun lanang menghasilkan warna kuning tua. Hal ini disebabkan suhu yang terlalu tinggi akan
merusak kulit domba. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan: nilai penodaan warna pada
kain kapas kering adalah 3 (cukup), pada kapas basah adalah 4 (baik). Ini berarti bahwa sampel nomor
1 mempunyai ketahanan luntur warna terhadap gosokan cukup baik.
Sampel nomor 2 dikukus dengan api sedang suhu 80 O C. Hasil secara visual, kulit menyusut, tapi
masih kuat dan lentur. Garis motif daun dan bunga tercetak dengan sangat tegas dan indah
menyerupai gambar tiga dimensi. Warna latar coklat tua kearah gelap sehingga lebih menonjolkan
motif daun dan bunga. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan: nilai penodaan warna pada
kain kapas kering adalah 4 (baik), pada kapas basah adalah 4 (baik). Ini berarti bahwa sampel nomor 2
mempunyai ketahanan luntur warna terhadap gosokan, baik.
Sampel nomor 3 dikukus dengan api sedang suhu 80 O C menggunakan dua blanket. Blangket
pertama posisi di bawah kulit, blanket kedua posisi di atas daun dan bunga. Tujuan dari blanket
pertama ini untuk mengurangi suhu panas kulit pada saat pengukusan. Hasil secara visual, kulit
sedikit menyusut, tapi masih kuat dan lentur. Motif bunga dan daun tercetak bagus dengan warna latar
coklat. Tetapi ditengah bidang kulit, muncul garis putih memanjang, sehingga mengurangi nilai
keindahannya. Garis putih ini muncul karena cara gulungnya yang kurang rapi, Penggunaan dua
blanket menjadikan lapisan menjadi lebih tebal sehingga harus lebih berhati-hati pada saat
menggulungnya. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan: nilai penodaan warna pada kain
kapas kering adalah 4 (baik), pada kapas basah adalah 4-5 (baik). Ini berarti bahwa sampel nomor 3
mempunyai ketahanan luntur warna terhadap gosokan, baik.
Sampel nomor 4 dikukus dengan api sedang suhu 80 O C, bagian atas blanket tidak memakai plastik.
Tujuan dari tidak memakai platik di atas blanket, untuk mengurangi suhu kulit pada saat proses
pengukusan. Hasil secara visual , kulit menyusut, tapi masih kuat dan lentur. Garis motif daun dan
bunga tercetak dengan sangat tegas dan indah. Warna latar coklat tua kearah cerah, paling cerah
diatara 4 sampel yang dibuat. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan: nilai penodaan
warna pada kain kapas kering adalah 4 (baik), pada kapas basah adalah 4-5 (baik). Ini berarti bahwa
sampel nomor 4 mempunyai ketahanan luntur warna terhadap gosokan, baik.
10
Ekoprint kulit domba yang dikukus dengan api sedang pada suhu 80 O C hasilnya lebih bagus
dibandingkan dengan ekoprint kulit domba yang dikukus dengan api besar suhu 100 O C, baik secara
visual maupun uji laboratorium.
Suhu pengukusan berpengaruh pada hasil ecoprint kulit domba. Ecoprint kulit domba yang dikukus
dengan api besar suhu 100O C secara visual hasilnya kurang bagus,ukuran banyak menyusut, tekstur
kaku, warna daun/bunga kearah gelap, dalam kondisi basah kulit mudah sobek. Hasil uji ketahanan
luntur warna terhadap gosokan ecoprint kulit domba yang dikukus dengan api besar suhu 100 O C,
cukup baik dengan nilai 3 dan 4. Ecoprint kulit domba yang dikukus dengan api sedang suhu 80 O C
secara visual hasilnya bagus,ukuran menyusut,tapi masih kuat dan lentur. motif dan warna
daun/bunga tercetak sangat bagus. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan ecoprint kulit
domba yang dikukus dengan api sedang suhu 80O C, baik dengan nilai dan 4-5.
Saran
Masih banyak yang perlu digali tentang teknik ecoprint pada kulit binatang. Variasi pembuatan
ecoprint juga ada bermacam-macam teknik. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tetang
ecoprint pada kulit domba dengan teknik berbeda, atau penelitian tentang ecoprint pada kulit binatang
jenis lain.
KONTRIBUSI PENULIS
Kontributor utama: Suryawati Ristiani
Kontributor anggota: Isnaini
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada teman-teman seksi pengujian Balai Besar Kerajinan
dan Batik yang telah membantu dalam proses uji laboratorium. Terimakasih kepada Tizania Jumputan
atas kerjasamanya dalam kegiatan ini. Terimkasih juga kami sampaikan kepada Balai Besar Kulit
Karet dan Plastik yang telah membantu dalam proses finishing. Terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dan mendukung kegiatan ini sampai terwujud dalam sebuah naskah tulisan.
DAFTAR PUSTAKA
BBKKP. (2014). Proses Penyamakan Kulit Ikan. Retrieved September 30, 2019, from
[Link] PENYAMAKAN KULIT IKAN PARI
Chasanah, A. M. (2017). Batik Ecoprint, yang Sederhana Jadi Barang Mahal. Retrieved Februari 23, 2018,
from [Link]
Leather, E. (2019). Retrieved September 30, 2019, from Jaket Kulit Sapi dan Domba Daftar Perbedaan Kulit
Sapi dan Domba: [Link]
Lestari, R. (2017). Ecoprint, Teknik Pewarnaan Alami yang Unik. Retrieved Februari 23, 2018, from
[Link]
Maharani, A. (2018). Motif dan Pewarnaan Tekstil di Home Industry Kain Art Fabric Ecoprint Natural Dye.
Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negri Yogyakarta.
11
Murizar fazruza, M. N. (2018). Eksplorasi Daun Jati Sebagai Zat Pewarna Alam pada Produk Phasmina
Berbahan Katun dengan Teknik Ecoprint. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga , 3 (3).
Pressinawangi, N. (2014). Eksplorasi Teknik Ecoprint dengan Menggunakan Limbah Besi dan Pewarna Alam
untuk Produk Fashion. Craft , 3 (1).
Saraswati, S. (2018). Perbedaan Hasil Rok Pias Ecoprint Daun Jati (Tectona Grandis) Menggunakan Jenis dan
Massa Mordan Tawas dan Cuka. Jurnal Tata Busana , 7 (2).
Sedjati, D. P. (2019). Mix Teknik Ecoprint dan Teknik Batik Berbahan Warna Tumbuhan dalam Penciptaan
Karya Seni Tekstil. Corak Jurnal Seni Kriya , 8 (1).
12