0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan30 halaman

Hasil Belajar Praktik Garnish Siswa

Dokumen tersebut membahas tentang hasil belajar praktik yang diukur melalui penilaian kinerja siswa setelah melaksanakan pembelajaran tertentu seperti garnish. Hasil belajar praktik mencakup perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa yang dapat diukur melalui tes objektif dan non objektif. Garnish merupakan salah satu kegiatan pembelajaran praktik di bidang boga.

Diunggah oleh

Tri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan30 halaman

Hasil Belajar Praktik Garnish Siswa

Dokumen tersebut membahas tentang hasil belajar praktik yang diukur melalui penilaian kinerja siswa setelah melaksanakan pembelajaran tertentu seperti garnish. Hasil belajar praktik mencakup perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa yang dapat diukur melalui tes objektif dan non objektif. Garnish merupakan salah satu kegiatan pembelajaran praktik di bidang boga.

Diunggah oleh

Tri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

`BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Deskripsi Teori

2.1.1 Hasil Paktik Garnish

2.1.1.1 Pengertian Hasil Praktik

Hasil belajar adalah sebuah proses pembelajaran yang diikuti oleh peserta

didik dimana nantinya akan mendapatkan hasil, Sukmadinata (2015)

mendefinisikan Hasil belajar praktik atau achievement merupakan realisasi atau

pemekaran dari kemampuan-kemampuan atau kecakapan-kecakapan potensial

(kapasitas) yang dimiliki seseorang. Menurut Dimyati & Mudjiono (2013: 3) “Hasil

belajar praktik merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak

mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil

belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya panggal atau puncak

proses belajar.”

Berdasarkan serangkaian beberapa pendapat yang telah disebutkan diatas,

dapat disimpulkan bahwa hasil belajar praktik merupakan suatu hasil yang

diperoleh siswa setelah melaksanakan proses belajar baik berupa nilai kognitif,

apketif maupun psikomotrik siswa. Hasil belajar praktik dalam penelitian ini

diperoleh dari nilai praktik siswa setelah melaksanakan Garnish.

Penguasaan hasil praktik oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik

perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun

keterampilan motorik.

Hasil belajar praktik merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta

didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek – aspek perubahan

8
9

perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Menurut

Gagne yang dikutip oleh Suprijono (2012) memaparkan bahwa hasil belajar terdiri

dari informasi verbal yang berupa pengetahuan, keterampilan, intelek, keterampilan

motorik, sikap dan siasat kognitif. Untuk mengetahui seberapa penyampaian hasil

belajar yang diperoleh individu (peserta didik) harus dilakukan suatu penilaian.

Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan

informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang

menggunakan instrumen tes maupun non tes.

Purwanto (2015) menambahkan bahwa hasil belajar dapat berupa

perubahan dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Bloom

yang dikutip oleh Sudjana (2016) membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: (1) ranah

kognitif, afektif, dan psikomotorik. Benjamin Bloom (dalam Poerwanti, 2008)

mengelompokkan kemampuan manusia ke dalam dua ranah (domain) utama, yaitu

ranah kognitif dan ranah non-kognitif. Ranah non-kognitif dibedakan menjadi dua

kelompok, yaitu ranah afektif dan ranah psikomotorik. Setiap ranah diklasifikasikan

secara berjenjang mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Ranah kognitif

berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu

pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan kreasi. Pengetahuan

(knowledge), pada jenjang ini siswa dituntut untuk dapat mengenali atau

mengetahui adanya konsep, fakta tanpa harus mengerti atau dapat

menggunakannya.

Menurut Bloom (Munthe, 2014), hasil belajar mencakup kemampuan

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

a) Domain Psikomotorik
10

Ranah psikomotor berorientasi pada keterampilan motorik atau

keterampilan tangan yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang

memerlukan koordinasi antara saraf dan otot.

Tabel 2.1 Ranah Psikomotor

Perubahan Kemampuan Internal Kata kerja


operasional
Perception • Menafsikan rangsangan Memilih
(Persepsi) • Peka terhadap rangsangan Membedaka
• Mendiskriminasikan n
Mempersiap
kan
Set • Berkonsentrasi Mengawali
(Kesiapan) • Menyiapkan diri (fisik) Mempersiap
kan
Menanggapi
Mempertunjukkan
Guided response • Meniru contoh Memprakti
(Gerakan kkan
terbimbing) Memainkan
Mengikuti
Mechanism • Berketerampilan Mengoprasi
(Gerakan • Berpegang pada pola kan
mekanis Membangu
terbiasa) n
Memasang
Membongk
ar
Memperbaiki
Complex overt • Berketrampilan (secara Mengoprasi
response lancar, luwwes, supel, kan
(Gerakan respons gesit, lincah) Membangu
kompleks) n
Memasang
Melaksana
kan
Adaptation • Menyesuaikan diri Mengubah
(Penyesuaian pola • Bervariasi Mengadap
gerakan) tasi
Membuat variasi
Organitation • Menciptakan sesuatu Meranca
(Kreativitas) yang baru ng
• Berinisiatif Menyusu
n
11

Mencipta
kan
Mengatu
r
Merencanakan
Sumber : (Munthe, 2014)

Selain itu, menurut Lindgren (Suprijono, 2015), hasil pembelajaran meliputi

kecakapan, informasi, pengertian dan sikap. Dengan demikian, dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan yang

mencangkup beberapa aspek, bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan

saja.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar praktik

adalah sebuah perubahan perilaku siswa secara nyata setelah mengalami proses

pembelajaran yang sesuai dengan tujuan belajar, di sekolah hasil belajar ini dapat

dilihat dari sejauh mana penguasaan siswa akan materi mata pelajaran yang

ditempuhnya. Proses pembelajaran yang maksimal memungkinkan untuk mencapai

hasil belajar yang maksimal. Hasil belajar siswa digunakan untuk memotivasi siswa

dan untuk perbaikan serta peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru

2.1.1.2 Cara Mengukur Hasil Belajar Praktik

Penilaian hasil belajar praktik adalah segala macam prosedur yang digunakan

untuk mendapatkan informasi mengenai unjuk kerja (performance) siswa atau seberapa

jauh siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Nara,dkk

2011). Agar guru mengetahui tingkat kemampuan siswa, maka guru harus menguji

hasil belajar praktik siswa tersebut dengan menggunakan lembar pengamatan yang

sudah disusun. Pengertian pengukuran hasil belajar praktik secara sederhana adalah

sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukam untuk memberikan angka-angka pada
12

suatu gejala, peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa

angka.

Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran terhadap

proses dan hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian dan proses

atau hasil belajar tersebut (Uno, 2013)

Pengukuran pada hasil belajar ini merupakan sebuah informasi berupa

angka yang diperoleh melalui proses tertentu menggunakan alat ukur yang objektif

untuk keperluan analisis dan interpretasi. Sehingga pengukuran dilakukan untuk

menaksir atau melihat capaian dari yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti

pembelajaran selama waktu tertentu. Arifin (2010) menyatakan pengukuran

merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu. Kata

sesuatu ini bisa berarti siswa, guru, gedung sekolah, meja belajar, whiteboard dan

sebagainya. Bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dapat dikategorikan

menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non objektif. Bentuk tes objektif yang sering

digunakan adalah bentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, dan uraian

objektif ( Mardapi, 2012).

Jadi dapat disimpulkan pengukuran merupakan kegiatan atau upaya yang

dilakukan untuk membandingkan sesuatu yang diukur dengan alat ukur atau

membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria serta jawaban atau interpretasi

yang berupa data kuantitas. Sehingga dapat diperoleh data tentang hasil dari

dilakukan pengukuran tersebut. Hasil dari pengukuran dapat mendiagnosis sebatas

mana ketercapaian sesuatu yang diukur itu, dengan kata lain pengukuran
13

2.1.1.3 Pembelajaran Boga Dasar

2.1.1.3.1 Pengertian dan Tujuan Garnish

Kegiatan mengukir buah dan sayur untuk menunjang penampilan dan hiasan

suatu makanan hidangan agar makanan yang disajikan menggugah selera makan

seseorang. Hiasan hidangan tersebut disebut dengan Garnish.

Garnish merupakan salah satu kompetensi dasar yang ada pada mata

pelajaran Boga Dasar kelas X di SMK Negeri 1 Beringin. Garnish makanan ini

membahas mengenai tentang pengertian garnish, fungsi garnish, jenis garnish,

syarat-syarat garnish, hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat garnish,

unsur-unsur penataan garnish, prinsip-prinsip pengaturan penataan garnish, teknik-

teknik mengukir, alat-alat yang digunakan dalam membuat garnish beserta

fungsinya, cara membuat hiasan garnish tersebut.

Garnish adalah hiasan untuk makanan. Hiasan dalam hal ini adalah segala

sesuatu yang umumnya bisa dimakan yang dibuat sedemikian rupa sehingga

menunjang penampilan suatu hidangan, sekaligus menggugah selera makan

seseorang (Hernanto, 2001). Pendapat lain dikemukakan oleh Pratiwi (2008),

garnish selain mempunyai arti menghias, juga memliki pengertian hiasan. Garnish

adalah bahan-bahan tambahan yang diletakkan pada bahan makanan pokok, yang

disajikan secara terpisah dan berfungsi sebagai hiasan yang menarik. Selanjutnya

pendapat yang dikemukakan oleh Idawati, dkk (2008), pembuatan garnish dalam

pengaplikasiannya harus memperhatikan estetika/penampilan yang sesuai untuk

disandingkan dengan hidangan tersebut. Dalam hal ini garnish yang dibuat

harus sesuai komposisinya dengan hidangan serta sesuai/singkron antara garnish

dengan hidangannya, misalnya pada hidangan kare tidak sesuai apabila


14

disandingkan dengan buah cherry, namun warna merah yang cerah bisa didapat dari

cabai sebagai garnish untuk hidangan kare.

Dari beberapa pengertian yang telah diuraikan, dapat ditarik kesimpulan

bahwa Garnish adalah buah atau sayuran yang dihias sedemikian rupa, di buat

secara indah dan menarik yang berfungsi sebagai hiasan pada makanan yang akan

disajikan agar dapat mengubah, mempercantik serta menunjang suatu hidangan

makanan sehingga mempunyai nilai penampilan yang lebih tinggi.

Menurut Idawati, dkk (2008), fungsi garnish di antaranya yaitu; (1)

Membuat hidangan tampak indah dan lebih menarik; (2) Menimbulkan selera

makan; (3) Menambah aroma dan rasa yang lezat.

Garnish dibagi menjadi 2 jenis :

1. Simple Garnish, adalah garnish yang terdiri dari sutu bahan atau lebih ,

biasanya terbuat dari sayur-sayuran, buah-buahan, cereal, atau makanan-

makanan yang sudah jadi, seperti Crouton, Bread, Tart dan sebagainya.

2. Composite Granish, adalah garnish yang terdiri dari macam-macam bahan

sebagai hiasan yang sesuai dengan makanan dasar. Bahan-bahan tersebut harus

mempunyai perpaduan rasa dan aroma dengan makanan pokok atau bahan

makanan pokok atau bahan satu dengan yang lainnya.

Syarat-syarat garnish dibagi menjadi 4 : (1) Edible : artinya dapat dimakan,

di buat bahan makanan. Ada juga beberapa garnish yang tidak dapat dimakan, tetapi

alangkah lebih baik jika garnish dapat dimakan; (2) Simple : sederhna dalam arti

tidak berlebihan baik dalam jumlah pengolahan , warna, rasa dan daya tarik

pemandangan; (3) Suitable : serasi dengan makanan utama yang dihias; (4)
15

Attractive : Garnish itu sendiri di buat menarik dan setelah di tambahkan pada

makanan lain juga menyebabkan makanan tersebut menjadi lebih menarik.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat garnish, yaitu :

(1) Kebersihan : kebersihan merupakan hal yang sangat penting dalam membuat

garnish dan perlu mendapatkan perhatian yang serius; (2) Kerapian : siapkan semua

bahan dan alat yang sudah direncanakan denga urutan yang sistematis; (3)

Keterampilan : piñata hiasan harus teramapil dan cekatan agar hiasan terjaga

kesegarannya dan tetap baik kondisinya (Misalnnya tidak berubah warna); (4)

Perencanaan yang matang : dalam perencanaan, sarana-sarana yang diperlukan

dalam penataan hidangan dituangkan dalam bentuk tulisan atau gambar sehingga

penataan mudah dilaksanakan sesuai dengan tujuan.

Menurut Lelly Fridiarty, dkk (2013), dalam menghias hidangan garnish, ada

beberapa unsur-unsur yang perlu diperhatikan, antara lain :

• Garis : mampu member kesan dinamis pada makanan

• Bidang : memnberi kesan statis

• Bentuk : berperan sangat dominan karena mempengaruhi atau memberi

kesan tertentu mengenai kualitas makanan yang dihidangkan

• Warna : Warna makanan merupakan unsur desain yang paling menonjol.

Warna menjadikan suatu hidangan tampak menarik perhatian dan

memberikan sauasana cita rasa. Setiapwarna memberikan kesan

tertentu. Misalnya : warna memrah orange memberikan kesan

segar karena warna ini mengarah pada gambaran buah-buahan

yang menyegarkan. Biru berkesan dingin, seolah-olah

mengandung arti yang mendalam. Contohnya, rasa dari bahan


16

bahan yang berasal dari umbi-umbian yang berwarna ungu anggur

ungu. Hijau selain memberi kesan segar juga dapat memberi

ketenangan,serta menggambarkan bahan-bahan yang dibuat dari

sayur dan buah-buahan segar.

• Tekstur : memberikan kesan yang menarik untuk dilihat.

• Ukuran : ukuran hiasan tergantung pada fungsi dan jenis pengunaannya.

Ukuran makanan yang akan dihiasjuga merupakan unsur yang

perlu diperhaikan karena erat kaitannya dengan media yang akan

ditempati. Dengan memperhatikan keduanya, tampilan hidangan

akan menjadi sedap dipandang.

• Value : gelap dan terangnya suatu hidangan dan hiasan akan terlihat oleh

adanya pencahayaan baik cahaya alam maupun cahaya buatan.

• Arah : pada penataan suatu hidangan dapat dirasakan adanya suatu arah

tertentu. Arah ini mampu menggerakkan rasa atau kesan dan titik

pandang. Antara makanan dan hiassan harus terdapat

keseimbangan.

Prinsip-prinsip pengaturan penataan yang perlu diperhatikan menurut Lelly

Fridiarti, dkk (2013) adalah :

• Keselarasan, harmoni dan kesesuaian antara bagian hiasan yang satu dengan

yang lain.

• Irama, komposisi antara hidangan dan penataan akan memberikan kesan gerak

tertentu sehingga dapat mempengaruhi suasana. Irama mempunyai makna

pengulangan, variasi, perbandingan dan bentuk yang teratur yang disesuaikan

dengan peranan dan kegunaannya.


17

• Kesatuan, bentuk suatu penataan makanan akan utuh apabila bagian yang satu

menunjang bagian yang lain artinya ada kecocokan, keselarasan, komposisi,

dan kekontrasan.

• Keseimbangan, keseimbangan di peroleh dengan mengelompokkan bentuk

dan warna pada makanan yang akan dihias hingga menghasilkan titik perhatian.

• Komposisi dan proporsi, komposisi adalah paduan semua unsur untuk

menimbulkan kesan selaras atau bertentangan, sedangkan proporsi adalah

perbandingan bagian yang satu dengan yang lain untuk menentukan focus

komposisi. Proporsi harus memenuhi prinsip : menarik, tepat dan pengaturan

yang seimbang, penataan akan indah dan enak dinikmati apabila memiliki

proporsi yang seimbang. Penataan akan indah dan enak dinikmati apabila

memiliki proporsi yang tepat. Untuk memperoleh proporsi yang tepat, sebelum

menata hidangan harus mengetahui terlebih dahulu media dan bidang yang

berkesinambungan, serta dimensi dari penempatan hiasan.

Dalam membuat Garnish, ada dua teknik ukir yag harus dipelajari, yaitu :

1. Teknik Iris Gergaji

Teknik iris gergaji adalah cara memotong yang berulang dengan gerakan

panjang dan pendek bervariasi. Contohnya pada waktu membuat irisan sayap bebek

dari buah melon.

2. Teknik Gerakan Pensil

Teknik ini digambar dengan pensil. Gambar pola terlebih dahulu dengan

membuat irisan dangkal. Kita mengenal dua macam garis yang penting dalam

menggambar yaitu “garis lurus” dan “garis lengkung”. Setelah pola diukir
18

terbentuk, pertegas dengan potongan yang lebih dalam dan mengambil daging buah

sisi luar pola.

Berikut adalah gambar alat yang sering digunakan dalam membuat garnish.

a. Pisau panjang berujung lancip: pisau ini digunakan untuk mengupas dan

memotong buah-buahan besar dan sayuran;

Gambar 2.1 Pisau Panjang Berujung Lancip Ukuran Besar


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

b. Pisau panjang berujung lancip dengan ukuran lebih kecil/pisau sedang: pisau

ini digunakan untuk mengupas atau memotong buah-buahan dan sayuran yang

lebih kecil. Dapat juga digunakan untuk mengukir;

Gambar 2.1 Pisau Panjang Berujung Lancip Ukuran Kecil/Sedang


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

c. Pisau lengkung (pisau ukir): pisau ini digunakan untuk mengukir buah-buahan

dan sayuran dengan cara menarik garis lengkung. Besar kecilnya pisau

tergantung juga dari besar kecilnya bentuk yang akan dibuat;

Gambar 2.3. Pisau Ukir


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
19

d. Pisau lurus berujung miring: pisau ini digunakan untuk mengukir aksen;

Gambar 2.4. Pisau Lurus Berujung Miring


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

e. Tusuk gigi dan tusuk sate: digunakan untuk menguatkan dan merekatkan buah

dan sayur pada waktu membentuk/merakit bunga atau bentuk lainnya;

Gambar 2.5. Tusuk Gigi dan Tusuk Sate


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

f. Peeler/pengupas kulit: alat ini digunakan untuk memudahkan mengupas kulit

wortel dan lobak. Pada posisi yang bergerigi dipakai untuk menyerut wortel

atau lobak. Gunaknya untuk mendapatkan efek gerigi pada daging buah;

Gambar 2.6. Peeler


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

g. Pengasah pisau: mengukir menggunakan pisau yang tajam, maka pengasah

pisau adalah salah satu bagian yang sangat penting. Karna itu disediakan

pengasah pisau saat menggarnish.


20

Gambar 2.7. Pengasah Pisau


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

h. Kuas dan pewarna makanan: kuas dan pewarna makanan digunakan untuk

mewarnai buah yang telah diukir. Gunakan pewarna makanan agar buah dan

sayur tetap aman jika ingin dikonsumsi.

Gambar 2.8. Kuas dan Pewarna Makanan


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Cara membuat beberapa macam hiasan atau garnish bagi pemula dari buah

dan sayuran untuk hidangan makanan dalam bentuk simple atau sederhana

diantaranya dari bahan timun, tomat, wortel,dan sebagainya Berikut contoh ukiran

dalam bentuk sederhana untuk hidangan makanan:

• Hiasan dari Timun (Craft Leaf)

• Bahan : Timun, air es.

• Alat yang digunakan : Pisau panjang berujung lancip dengan ukuran kecil,

gunting, baskom, talenan.

• Penerapan : Untuk menghias nasi tumpeng, nasi kuning, nasi goreng,

macam-macam lauk-pauk, seperti sambal goreng, opor, urapan, gulai dan

lain-lain.
21

• Pelaksanaan :

• Belah timun menjadi 3, namun ambil pada bagian sisinya saja.


• Potong timun menyerupai bentuk daun.

Gambar 2.9 Langkah 1 pembuatan hiasan dari timun (craft leaf)


(Sumber: Hernanto, 2001)
• Buatlah irisan dan guratan pada bagian punggung mentimun
menyerupai tulang daun.

Gambar 2.10 Langkah 2 pembuatan hiasan dari timun (craft leaf)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Buat lagi guratan dan sayatlah lagi menyerupai tulang daun.


• Kemudian potong kecil-kecil tepi daun mentimun, Rapihkan.

Gambar 2.11 hasil akirpembuatan hiasan dari timun (craft leaf)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Hiasan dari Timun (Craft Flower)

• Bahan : Timun, air es.

• Alat yang digunakan : Pisau panjang berujung lancip dengan ukuran kecil,

gunting, baskom, talenan.


22

• Penerapan : Untuk menghias nasi tumpeng, nasi kuning, nasi goreng,

macam-macam lauk-pauk, seperti sambal goreng, opor, urapan, gulai dan

lain-lain.

• Pelaksanaan :

• Belah timun menjadi 3


• Potong timun melintang diagonal.

Gambar 2.12 Langkah 1 pembuatan hiasan dari timun (craft flower)


(Sumber: Hernanto, 2001)
• Setelah jadi, buatlah 5 irisan, seperti jari tangan.

Gambar 2.13 Langkah 2 pembuatan hiasan dari timun (craft flower)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Irisan timun yang ganjil dilipat dan masukkan kearah sisi dalam timun.

Gambar 2.14 Hasil dari pembuatan hiasan dari timun (craft flower)
(Sumber: Hernanto, 2001)
23

• Hiasan dari Tomat (Bunga Mawar)

• Bahan : Tomat merah

• Alat yang digunakan : Pisau panjang berujung lancip dengan ukuran kecil

dan talenan.

• Penerapan : : Untuk menghias selada, piring hidangan seperti nasi goreng,

dll.

• Pelaksanaan :

(1) Cuci bersih tomat merah. Letakan diatas tatakan. Potong bagian bawah

tomat tidak sampai putus.

Gambar 2.15. Langkah 1 membuat hiasan dari Tomat (Bunga Mawar)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(2) Kuliti buah tomat dengan cara melingkar. Ambil satu arah dari bagian

atas kebawah dan mulai mengulitinya secara melingkar. Saat menguliti

tomat, ada baiknya anda dianjurkan untuk melakukannya secara

perlahan, selain itu jaga ketebalan saat menguliti agar tetap sama dan

kulit tidak putus ditengah-tenga.

Gambar 2.16. Langkah 2 membuat hiasan dari Tomat (Bunga Mawar)


(Sumber: Hernanto, 2001)
24

(3) Kemudian gulung melingkar ke arah dalam. Awali dari ujung ke ujung

hingga membentuk gulungan yang agak mekar seperti bunga mawar.

Gambar 2.17. Langkah 3 membuat hiasan dari Tomat (Bunga Mawar)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(4) Hiasan bunga mawar dati tomat siap untuk disajikan dihidangan

makanan.

Gambar 2.18. Hasil hiasan dari Tomat (Bunga Mawar)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Hiasan dari tomat (Bunga Teratai)


• Bahan : Tomat merah

• Alat yang digunakan : Pisau panjang berujung lancip dengan ukuran kecil

dan talenan.

• Penerapan : : Untuk menghias selada, piring hidangan seperti nasi goreng,

dll.

• Pelaksanaan :

a. Siapkan tomat merah segar, buat sayatan-sayatan berbentuk segitiga,


kira-kira setinggi 2/3 dari tinggi tomat

Gambar 2.19. Langkah 1 membuat sayatam (Bunga Teratai)


(Sumber: Hernanto, 2001)
25

b. Buka salah satu sayatan agar nantinya mahkota bunga tampak mekar

Gambar 2.20. Langkah 2 membuka salah satu sayatan (Bunga Teratai)


(Sumber: Hernanto, 2001)

c. Buat sayatan pada helaian mahkota bunga itu, sejajar dengan


sisi-sisi samping segitiga

Gambar 2.21. Langkah 3 membuat sayatan pada helai mahkota (Bunga Teratai)
(Sumber: Hernanto, 2001)

d. Buang kulit tomat bagian atas, lalu ulangi langkah kedua untuk helaian
mahkota bunga yang lain

Gambar 2.22 Langkah 4 buang kulit tomat bagian atas (Bunga Teratai)
(Sumber: Hernanto, 2001)

e. Rapikan bentuknya hingga tampak seperti bunga teratai, lalu


rendam dalam air dingin hingga mekar

Gambar 2.23. Langkah 5 setelah rapi, rendam dalam air (Bunga Teratai)
(Sumber: Hernanto, 2001)
26

f. Penerapan dapat digunakan sebagai hiasan pada hidangan


maincourse.

Gambar 2.24. Langkah 5 hasil akhir (Bunga Teratai)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Hiasan dari Wortel (Bunga Asoka)

• Bahan : Wartel

• Alat yang digunakan :Peeler, pisau panjang berujung lancip dengan ukuran

kecil, telenan, tusuk gigi, dan serbet.

• Penerapan : Untuk hiasan macam-macam lauk pauk dan hidangan nasi.

• Pelaksanaan :

(1) Cuci bersih wortel. Kupas kulit wortel menggunakan peeler, bentuk

ujung wortel meruncing seperti ujung pensil.

Gambar 2.25. Langkah 1 membuat hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(2) Buat mahkota bunga dengan menarik pisau mulai dari bagian atas

kearah ujung yang meruncing.


27

Gambar 2.26. Langkah 2 membuat hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(3) Sisihkan bagian ujung sekitar ½ cm atau ¼ cm bagian dari tinggi bunga

Gambar 2.27. Langkah 3 membuat hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(4) Buat mahkota lagi dengan cara yang sama hingga terbentuk bunga

dengan lima helai mahkota.

Gambar 2.28. Langkah 4 membuat hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(5) Potong bagian dalam wortel untuk mengupas bunga yang sudah

terbentuk. Tancapkan bunga kecil pada ujung batang wartel

menggunakan tusuk gigi dimulai dari sisi tengah kemudian sampai

mengelilingi bunga yang berada di tengah hingga penuh dan membentuk

rangkaian bunga yang bulat


28

Gambar 2.29 Langkah 5 membuat hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

(6) Hiasan bungan asoka siap untuk dijadikan hiasan untuk menunjang

penampilan pada makanan.

Gambar 2.30 . Hasil hiasan dari Wartel (Bunga Asoka)


(Sumber: Hernanto, 2001)

• Hiasan dari Wortel (Bunga Ketapang)

• Bahan : Wartel

• Alat yang digunakan :Peeler, pisau panjang berujung lancip dengan ukuran

kecil, telenan, tusuk gigi, dan serbet.

• Penerapan : Untuk hiasan macam-macam lauk pauk dan hidangan nasi.

• Pelaksanaan :

• Pilih wortel yang segar kemudian kupas tipis.


29

Gambar 2.31 Langkah 1 proses pembuatan hiasan dari Wortel (Bunga


Ketapang)
(Sumber: Hernanto, 2001)

• Bentuk kelopak bunga seperti huruf "V" dengan cara mencukilnya


hingga huruf "V" tampak menonjol.

Gambar 2.32 Langkah 2 proses pembuatan hiasan dari Wortel (Bunga


Ketapang)
(Sumber: Hernanto, 2001)

• Untuk membuat kelopak selanjutnya bentuk kelopak bawahnya, di


antara kelopak yang satu dengan yang lain.
• Membuat kelopak semakin ke bawah semakin mengecil atau
meruncing.
• Rendam dalam air es kemudian tusuk dengan tusuk gigi. Bunga
• ketepeng siap digunakan.

Gambar 2.33 Hasil hiasan dari Wortel (Bunga Ketapang)


(Sumber: Hernanto, 2001)
30

2.1.2 Media Youtube

2.1.2.1 Pengertian Media

Media merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar

mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan. Kata media berasal dari bahasa Latin

medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ’perantara’, atau, ‘pengantar’ (Arsyad,

2019: 3). Media juga merupakan komponen Sumber belajar atau wahana fisik yang

mengandung materi intruksional di lingkungan warga belajar yang dapat

merangsang warga belajar untuk belajar. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan

lingkungan sekolah merupakan media. Di lain pihak, National Education

Association memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik

tercetak maupun audio-visual dan peralatannya; dengan demikian, media dapat

dimanipulasi, dilihat, didengar atau dibaca (Arsyad, 2019: 4). Sedangkan menurut

Criticos yang dikutip oleh Daryanto (2014:4) media merupakan salah satu

komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju

komunikan.

Menurut kosakata, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar.

Secara terminologis, media pembelajaran dapat diartikan sebagai seluruh perantara

(dalam hal ini bahan atau alat) yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Misalnya, media radio, televisi, buku, majalah, surat kabar, internet,

dan sebagainya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

media adalah segala sesuatu benda atau komponen yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran,

perasaan, perhatian dan minat siswa dalam proses belajar.


31

Di sisi lain, media pembelajaran juga dapat dimaknai sebagai segala sesuatu

yang memungkinkan warga belajar dapat memperoleh pengetahuan atau

menciptakan pengetahuan, kecakapan, dan sikap. Di dalam perkembangan terkini,

media biasanya lebih disederhanakan lagi ke dalam dua klasifikasi, yakni perangkat

keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Contoh perangkat keras adalah

radio, televisi, overhead projector, LCD, komputer, manusia, tanah, air, udara,

tanaman, binatang, dan sebagainya. Contoh perangkat lunak adalah segala

informasi dalam pemrogaman komputer, e-learning, e-book, film, sandiwara,

diagram, bagan, grafik, rekaman dan sebagainya (Suryaman, 2009: 103).

Kedudukan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar ada dalam

komponen metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru

(Sudjana & Rivai, 2002: 1).

Selanjutnya, menurut Arsyad (2019: 6), mengemukakan ciri-ciri umum

yang terkandung dalam setiap batasan tentang media, yaitu:

1) Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal

sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat,

didengar, atau diraba dengan pancaindra.

2) Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal dengan

software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam

perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada warga

belajar.

3) Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.

4) Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik

di dalam maupun di luar kelas.


32

5) Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru

dan warga belajar dalam proses pembelajaran.

6) Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio,

televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video,

OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radi tape/kaset, video

recorder).

7) Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan

dengan penerapan suatu ilmu.

Berdasarkan uraian tentang media yang disampaikan di atas, dapat diketahui

bahwa media adalah seperangkat alat yang digunakan untuk membantu dan

memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan dari pembelajaran yang

diharapkan.

2.1.2.2 Media Belajar Youtube

Seiring perkembangan zaman yang membuat terjadinya persaingan dari segi

teknologi informasi. Youtube hadir dengan segala kemudahan-kemudahan yang di

berikan. YouTube adalah sebuah situs web berupa layanan video sharing populer

yang memungkinkan penggunanya memuat, menonton dan berbagi klip video

secara gratis. Sejak diluncurkan Desember 2005 dan diakuisisi oleh google pada

tahun 2006, pengguna YouTube terus meningkat mencapai lebih dari satu milyar

perhari (Wall Street Journal, 9 Juli 2008 dalam Burnett, Melissa, 2008).

Menurut Agazio & Bucklev (2008), YouTube merupakan layanan file

sharing berbasis web yang memungkinkan individu untuk membangun profil


33

publik, menentukan daftar pengguna lain untuk berbagi video serta untuk melihat

daftar koneksi/konten yang dibuat oleh orang lain.

Dalam pengaplikasian media belajar, Youtube dapat menampilkan dirinya

sebagai media belajar sesuai dengan keinginan penggunanya, di dalam Youtube

terdapat search engine yang dapat memudahkan pengguna untuk mencari data

hanya dengan mengetik kata atau kalimat yang diinginkan. Video yang

dikumpulkan untuk ditonton dari hasil unggahan kemudian diolah atau disusun

kembali agar menjadi sebuah video yang baru, didasarkan pada sitematika alur

pembelajaran dan maksud yang ingin dicapai maka, Youtube sebagai media belajar

telah berubah menjadi bahan ajar yang siap untuk digunakan sebagai alat bantu

pembelajaran demi mencapai tujuan pembelajaran.

2.1.2.3 Tujuan Penggunaan Media Belajar Youtube

Tujuan penggunaan youtube sebagai sumber belajar adalah untuk

menciptakan kondisi dan suasana pembelajaran yang menarik,menyenangkan dan

interaktif, dan menambah semangat belajar dari pesarta didik. Video pembelajaran

di youtube dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran interaktif di kelas, baik untuk

siswa maupun guru itu sendiri melalui presentasi secara online maupun offline.

(Sukarni:2012)

2.1.2.4 Kelebihan Youtube

Kelebihan YouTube sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Informatif karena YouTube dapat memberikan informasi termasuk

perkembangan ilmu dan tekhnologi.

b. Cost effective karena YouTube dapat diakses secara gratis.


34

c. Potensial karena situs ini sangat populer dan mampu memberikan edit

value terhadap pendidikan.

d. Praktis dan lengkap. YouTube dapat digunakan dengan mudah oleh

semua kalangan, selain itu juga terdapat fasilitas editing video.

e. Shareable karena link YouTube dapat dibagi diberbagai situs lainnya.

f. Interaktif. YouTube dapat memfasilitasi untuk diskusi dan tanya jawab.

2.1.2.5 Kekurangan Youtube

Menurut (Faiqah, Nadjib and Amir, 2016) Adapun kekurangan youtube

sebagai media belajar yaitu

a. Masih terdapat video yang tidak pantas dipertontonkan umum.

b. adanya ujjaran kebencian yang sering terjadi di dalam kolom

komentar

c. Koneksi jaringan, karena belum terpasangnya wifi disekolah sehingga

menyebabkan video di Youtube tidak dapat disaksikan secara

streaming.

d. Sikap instan, proses pencarian data atau informasi di Youtube terkesan

mudah sehingga jika tidak dikontrol atau dihimbau akan menimbulkan

sikap instan baik bagi siswa maupun bagi guru.

e. Waktu, terkadang durasi waktu penayangan (proses pembelajaran)

tidak sesuai dengan jumlah jam pelajaran, hal ini dapat mengakibatkan

proses pembelajaran seperti tergesa-gesa.

f. Kualitas Konten dan Video, tidak semua video dekorasi cake pada

Youtube memiliki kualitas yang baik pada saat di upload oleh user.

Proses pemilihan, pembuatan sangat mempengaruhi kualitas keduanya.


35

g. Proses pencarian sumber, jumlah video yang terdapat di situs youtube

sangatlah banyak namun tidak semua video cocok dengan materi

dekorasi cake yang sedang disampaikan, jadi Youtube juga

memerlukan keahlian guru dalam memilih video

2.2 Penelitian Relevan

Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah

Penelitian Wahyu (2015) dengan judul penelitian Hubungan Penggunaan Media

Pembelajaran Dengan Hasil Belajar PKN Pada Siswa Kelas X Dan XI di SMA

Muhammadiyah 1 Banjarmasin mengungkapan bahwa penggunaan media

pembelajaran oleh guru PKN di SMA Muhammadiyah 1 Banjarmasin

menunjukkan bahwa dari aspek bahan (materials) sebesar 11,85%, aspek alat

(device) sebesar 11,56%, aspek teknik sebesar 8,34%, dan aspek lingkungan

sebesar 6,49%. Hal ini berarti penggunaan media pembelajaran di SMA

Muhammadiyah 1 Banjarmasin termasuk dalam interval 0,00-20,00 (tabel 3.4)

maka termasuk dalam interpretasi sangat kurang. Hasil belajar Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) siswa kelas X dan XI di SMA Muhamamdiyah 1

Banjarmasin sebanyak 78,70% atau 85 siswa kelas X dan XI dari 108 siswa belum

memenuhi nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini berarti hasil belajar

siswa kelas X dan XI termasuk dalam kualifikasi kurang/rendah. Ada hubungan

antara media pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas X dan XI di SMA

Muhammadiyah 1 Banjarmasin.

Penelitian yang dilakukan oleh Wati,dkk (2016) dengan judul penelitian yaitu

Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Motivasi Belajar Mata Pelajaran

Ekonomi Siswa Kelas XI SMA mengungkapkan bahwa pemanfaatan sumber


36

belajar memiliki hubungan kuat dengan motivasi belajar, yaitu dengan koefisien

korelasi sebesar 0,610. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh t hitung 5,606

sedangkan t table 2,0057. Sehingga t hitung > t table (5,606 > 2,0057), maka Ha

diterima dan Ho ditolak.

Penelitian yang dilakukan oleh Supiani,dkk (2018) dengan judul penelitian

yaitu Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Hasil Pembelajaran

Geografi Siswa Kelas X SMA N 9 Pontianak menunjukkan bahwa Hasil penelitian

menunjukkan bahwa nilai rata-rata pemanfaatan sumber belajar adalah sekitar

71,62 atau 55,95%, dan nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah sekitar 73,83. Hasil

Rxy hitung yaitu 0,73 (X sosial 1 dan sosial 2 kelas) dan 0,54 (X sosial 3 dan sosial

4 kelas) dengan rtable (tingkat signifikan sekitar 5% dan dk = 27) yaitu 0,367

dengan berarti rxyhitung (0,73) > rtable (0.367) dan rxyhitung (0,54) > rtable

(0.367) dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ha diterima. Ini berarti terdapat

hubungan antara pemanfaatan sumber daya belajar dan hasil belajar mata pelajaran

geografi di kelas X di SMAN 9 Pontianak.

2.3 Kerangka Berpikir

Untuk mencapai tujuan pembelajaran ada banyak cara yang dapat

dilakukan oleh guru, salah satunya dengan mengekplorasi penggunaan media

belajar yang efektif dalam proses pembelajaran di kelas. dengan penggunaan

media yang tepat, tentu dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan

menimbulkan perubahan tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Dalam proses

belajar dikelas hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan adalah bagaimana

proses belajar tersebut harus benar-benar memperoleh hasil yang optimal.

Dengan demikian semakin baik penggunaan media belajar, maka akan semakin
37

tinggi pula hasil belajar siswa.

Begitu juga dengan hasil belajar garnish, Mata Pelajaran ini mewajibkan

guru untuk menampilkan berbagai jenis bentuk garnish dalam media sebanyak-

banyaknya agar siswa dapat lebih kreatif dan inovatif dalam pengetahuan garnish

tersebut. Dengan menggunakan media instagram ini para siswa dapat mengeksplor

aneka ragam dan cara bagaimana membuat garnish dengan berbagai bentuk yang

baik dan benar. Dengan situasi seperti ini siswa akan lebih bersemangat dalam

proses pembelajaran dan tidak merasa bosan, sehingga hasil belajar dapat

meningkat dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini diduga terdapat hubungan yang positif dan

signifikan antara penggunaan media youtube terhadap boga dasar Siswa Kelas X di

SMK Negeri 1 Beringin.

Anda mungkin juga menyukai