Nama / NIM : Nadia / 18/424723/SP/28271
Novi Umami / 18/427182/KU/20787
Nuragny M.P.S.A / 19/439535/SA/19679
Mata Kuliah : Psikologi Kebencanaan dan Krisis
Dosen Pengampu : Prof. Drs. Koentjoro, [Link]., Ph.D.
Asisten Dosen : Nevi Kurnia Arianti
Rani Attiqah Gusbet
Dampak COVID-19 Sebagai Pandemi di Indonesia
(Diajukan untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Psikologi Kebencanaan dan Krisis)
Abstrak
Tulisan ini akan membahas terkait bagaimana COVID-19
berlangsung serta akibat yang terdampak di masyarakat. Seperti yang
diketahui bahwa pandemi sudah berada di Indonesia bahkan dunia
selama lebih dari satu tahun. Hal ini tentu saja berdampak dikehidupan
sehari-hari, mulai dari perubahan sistem bekerja, beraktifitas dan lain-
lain. Bahkan kondisi yang dihadirkan oleh pandemi juga berdampak
bagi kesehatan mental seseorang, Maka dari itu, tulisan ini akan
mencoba menjelaskan terkait kondisi yang berlangsung di masyarakat
selama berhadapan dengan COVID-19.
Pendahuluan
Pada 31 Desember 2019 WHO Republik Rakyat China mengenali adanya penularan
wabah antar manusia di Wuhan, China melalui pernyataan media sebagai ‘viral pneumonia ’.
Sejak saat itu, WHO dan berbagai lembaga terus melaksanakan penelitian terhadap virus yang
menyebabkan wabah yang begitu cepat menyebar ini. Pada 10 Januari 2020, WHO melaporkan
bahwa wabah tersebut disebabkan oleh novel corona virus atau virus corona baru yang
menyebabkan penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome. Akhirnya, pada 11 Februari 2020,
WHO memberi nama penyakit yang disebabkan virus tersebut COVID-19. Kasus demi kasus
terus melonjak dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Satu bulan kemudian, tepatnya pada 11
Maret 2020, COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi karena telah menginfeksi berbagai negara di
dunia, tak terkecuali Indonesia. Demam, batuk, dan mialgia atau kelelahan merupakan gejala
umum yang didapati oleh masyarakat yang terinfeksi. Beberapa gejala spesifik yaitu batuk
berdahak, sakit kepala, hemoptisis (batuk yang mengandung darah) dan diare. Komplikasi yang
dialami pasien termasuk sindrom gangguan pernapasan akut, cedera jantung akut, dan infeksi
bakteri sekunder (Huang, dkk., 2020). Pemerintah dengan tanggap melakukan berbagai cara
untuk menangani pasien bersamaan dengan membatasi penyebaran penularan COVID-19. Tak
bisa dipungkiri apabila tenaga kesehatan dan berbagai rumah sakit sempat kewalahan akibat
melonjaknya kasus positif dan para pasien yang membutuhkan bantuan. Namun, disamping
ranah kesehatan, masalah sosial juga terdampak akibat adanya pembatasan kegiatan sosial.
Selain itu, fokus pemerintah menangani pandemi COVID-19 mengalihkan perhatian masyarakat
dari psikososial yang akan ditanggung setiap individu (Ridlo, 2020). Hingga saat ini, Indonesia
masih berhadapan dengan dampak pandemi COVID-19 baik dari bidang kesehatan maupun
sosial.
Pandemi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pandemi adalah wabah yang berjangkit
serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Contoh saat ini adalah virus Corona
telah diakui menyebar luas hampir ke seluruh dunia. WHO juga mengatakan kondisi pandemi
merujuk pada situasi pertumbuhan penyakit yang berkembang secara eksponensial. Hal ini
tampak dari cepatnya penyebaran COVID-19 yang berawal dari China hingga ke seluruh dunia.
Artinya, pandemi suatu penyakit ini menunjukkan tingkat pertumbuhan penularan atau
penyebaran yang meroket, dan setiap hari kasus tumbuh lebih dari hari sebelumnya. Dinyatakan
sebagai pandemi, virus tidak ada hubungannya dengan virologi, kekebalan populasi, atau
keparahan penyakit. Ini berarti virus mencakup wilayah yang luas, yang mempengaruhi beberapa
negara dan populasi. WHO mendefinisikan pandemi, epidemi, dan endemi berdasarkan tingkat
penyebaran penyakit. Jadi, perbedaan antara epidemi dan pandemi bukanlah pada tingkat
keparahan penyakitnya, tetapi sejauh mana penyebarannya. Pandemi penyakit akan melintasi
batas-batas internasional, yang bertentangan dengan epidemi regional.
Masalah Sosial
Lebih dari satu tahun lamanya, masyarakat terpaksa harus hidup dengan bayang-bayang
ancaman dari covid-19. Tidak hanya harus terancam dari segi kesehatan, seolah tak puas
menghancurkan kehidupan masyarakat, COVID-19 juga mencoba meluluh-lantahkan
perekonomian negara. Terlihat dari bagaimana penurunan ekonomi yang harus dialami oleh
beberapa Negara, termasuk juga Indonesia. Hal ini menyebabkan kebingungan bagi beberapa
pihak dalam menghadapi permasalahan akibat dari pandemi, mengenai aspek mana yang lebih
dulu harus diperbaiki. Jika terfokus pada aspek kesehatan, maka perekonomian akan semakin
memburuk dan kemudian akan menghadirkan masalah lain lagi yang tidak kalah rumitnya.
Sedangkan jika memfokuskan pada perbaikan ekonomi, catatan kasus positif COVID-19 akan
terus mengalami kenaikan.
Banyaknya masalah social yang muncul akibat dari kondisi yang disebabkan virus
mematikan ini, tidak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Dengan perubahan
social yang sangat cepat ini tentu saja menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan untuk
menyesuaikan diri. Terlihat dari banyaknya perusahaan yang memberhentikan para pekerjanya
selama pandemic. Warga yang menjadi pengangguran mendadak tentu saja akan mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan keadaan. Tidak hanya dari segi pekerjaan, terkait kelangkaan
barang, disorganisasi dan disfungsi social juga menjadi daftar masalah yang disebabkan oleh
pandemic (Pane, 2021).
Dari pemerintah sendiri juga harus menghadapi berbagai masalah, baik itu yang berkaitan
dengan rakyatnya, maupun terkait kondisi internal pemerintahan. Dengan penurunan ekonomi
yang terjadi, pemerintah tentunya dipaksa untuk memutar otak untuk memecahkan masalah yang
terjadi, bagaimana ekonomi dapat stabil atau bahkan meningkat. Sedangkan di sisi lain mereka
juga memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak
oleh pandemi. Tentu saja hal ini akan membuat pemerintah akan semakin gagap menghadapi
masalah-masalah akibat pandemi.
Dampak Bagi Kesehatan Mental
Perubahan yang diakibatkan oleh pandemic, pada nyatanya sangat berbahaya bagi
kondisi mental seseorang. Bahkan terdapat kemungkinan efek samping masalah mental yang
berkepanjangan meskipun pandemic setelah selesai (Savage, 2020). Dengan disuguhkan berita-
berita mengenai keganasan dari virus ini, tentu saja bukan hal tidak mungkin akan menyebabkan
ketakutan yang berlebihan kepada orang yang melihatnya. Hal ini dapat kita rasakan pada diri
sendiri, bagaimana kemudian kita akan lebih “gila” akan kebersihan. Bahkan untuk
menggunakan fasilitas umum terasa seperti sedang membongkar tong sampah, karena merasa
sangat “kotor” dan berpotensi dihinggapi berbagai bakteri serta virus. Hal ini merupakan salah
satu gejala atau ciri-ciri salah satu masalah mental, yaitu OCD (Obsessive-Compulsive
Disorder).
Tidak hanya merubah seseorang berpotensi mengidap OCD karena takut terjangkit virus.
Dengan diterapkan sistem belajar online pada faktanya juga berpengaruh bagi kesehatan mental
seseorang. Meskipun harus diakui bahwa sebelum pandemic pun persoalan belajar dan
banyaknya tugas selalu berhasil mengganggu mental seseorang, namun di masa pandemic hal ini
bertambah serius. Salah satu masalah psikologis yang paling banyak dialami oleh
mahasiswa akibat pembelajaran secara daring ialah kecemasan (Yanti dan Bimmaharyanto,
2021). Melihat bagaimana terkurungnya mahasiswa dari kebiasan mereka, dimana sebelumnya
mereka masih dapat berinteraksi dengan teman-teman secara langsung, namun sekarang hanya
bisa dilakukan secara online melalui aplikasi. Tentu saja hal ini tidak sama dengan saat bertemu
secara langsung, rasa bosan yang terus menghampiri akan membuat mereka akan lebih mudah
untuk melakukan tindakan impulsive. Hal ini sebagai pengalihan dari kecemasan yang mereka
alami.
Melihat bagaimana pandemi membuat segala hal berubah secara mendadak, sudah
menjadi hal yang wajar jika menyebabkan banyak tekanan yang dialami oleh setiap orang.
Perubahan ini tentu saja memancing respon kaget dari masyarakat, istilah culture shock sangat
sesuai untuk menggambarkan kondisi masyarakat di saat pandemi ini. Bagaimana kemudian
mereka harus menyesuaikan diri untuk melaksanakan protokol kesehatan, berdiam di rumah,
menerapkan kebiasaan baru, dan beberapa hal lainnya. Pada praktiknya, culture shock ini dapat
memberikan dampak yang sangat serius bagi kesehatan mental. Dimulai dari rasa putus asa,
kecemasan dan ketakutan terhadap suatu hal, hingga depresi (Hashina, 2021).
Kesimpulan
Dampak pandemi COVID-19 di Indonesia sangat berdampak pada bidang sosio-ekonomi
hingga pada kesehatan mental. Mulai dari pemutusan kerja secara sepihak (PHK), Work From
Home (WFH), PSBB, dan masih banyak lagi. Masyarakat berlomba-lomba untuk berusaha
mencukupi kebutuhan ekonomi ditengah pandemi dengan usaha sebisanya, karena seperti yang
telah dijelaskan diatas, jika masyarakat hanya memikirkan kesehatan tentunya masyarakat tidak
bisa memenuhi kebutuhan untuk hidup. Pemerintah wajib berperan besar dalam integrasi
kebujakan penanggulangan pandemi COVID-19 ini, karena dengan adanya suatu kepemimpinan
atau kita ibaratkan sebagai satu komando, masalah pandemi ini dapat berakhir. Karena bisa kita
ketahui juga, pandemi bersifat regional maka kita juga harus bergerak secara bersama-sama
dibawah satu pemimpin untuk menghadapi pandemi ini. Pandemi COVID-19 yang ada di
Indonesia juga menjadikan masyarakat untuk melek terhadap peduli sesama. Dapat kita amati
sejak pandemi COVID-19 ini masuk ke Indonesia, tak jarang lembaga sosial dan kesehatan ikut
berperan untuk merangkul masyarakat tolong menolong melampaui ras, suku, kebudayaan
mereka untuk menghadapi virus pandemi ini.
Daftar Pustaka
Huang, C., Wang, Y., Li, X., Ren, L., Zhao, J., Hu, Y., Zhang, L., Fan, G., Xu, J., Gu, X., Cheng,
Z., Yu, T., Xia, J., Wei, Y., Wu, W., Xie, X., Yin, W., Li, H., Liu, M., … Cao, B. (2020).
Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The
Lancet, 395(10223), 497–506. [Link]
Ridlo, I. A., & Zein, R. A. (2015). Arah Kebijakan Kesehatan Mental: Tren Global dan Nasional
serta Tantangan Aktual. Buletin Penelitian Kesehatan.
[Link]
Hashina, Nika Halida. (4 April 2021). Penyebab Culture Shock pada Seseorang dan Contohnya.
Diakses dari [Link]
pada tanggal 11 Oktober 2021.
Pane, Murty Magda. (8 Januari 2021). PANDEMI COVID-19 DAN PERMASALAHAN
SOSIAL (1). Diakses dari [Link]
19-dan-permasalahan-sosial-1 pada tanggal 11 Oktober 2021.
Savage, Maddy. (6 November 2020). Dampak psikologis akibat pandemi Covid-19 diduga akan
bertahan lama. Diakses dari [Link] pada
tanggal 11 Oktober 2021.
Yanti, Ni Komang Wijiani & Bimmaharyanto, D. E. (2021). Dampak Pandemi Covid-19 pada
Kesehatan Psikologis Mahasiswa dalam Proses Pembelajaran. Health Care Media, 5(1),
39–46.