b.
volumetric
Metode volumetri atau titrimetri secara umum masih digunakan secara luas karena metode ini
merupakan metode yang handal dari segi teknis dan prinsip, murah dan mampu memberikan
ketepatan yang tinggi. Keterbatasan dari metode titrimetri adalah metodenya yang kurang
spesifik. Metode titrimetri menggunakan pengukuran volume, yaitu dengan cara sejumlah zat
yang dianalisis direaksikan dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui kadar atau
konsentrasinya secara teliti dan reaksinya berlangsung secara kuantitatif. Reaksi yang terjadi
tidak untuk dikhususkan bagi bahan tertentu saja, akan tetapi dapat mencakup semua bahan
dengan sifat yang sama atau hampir mirip secara umum. Misalnya, suatu reaksi asam basa dapat
berlangsung dalam titrasi tanpa memperhatikan apakah itu basa atau asam kuat maupun asam
basa lemah. Larutan standar diteteskan dari buret ke dalam larutan yang akan diteliti dalam
tempat (reaktor)nya, misal erlenmeyer. Proses mereaksikan dengan cara seperti ini disebut
dengan titrasi. Larutan baku yang diteteskan disebut dengan titran. Ketika reaksi telah selesai
disebut dengan titik ekivalen teoretis (stoikiometris) yang menyatakan bahwa bahan yang diuji
telah bereaksi dengan reagen lain secara kuantitas (jumlah) tertentu sebagaimana dinyatakan
dalam persamaan reaksi. Dalam melakukan suatu metode titrimetri banyak hal yang harus
diperhatikan. Kesetimbangan kimia, konsep stoikiometri dan termodinamika kimia menjadi tiga
hal yang sangat penting untuk dipahami sebelum melakukan teknik analisis titrasi. Ketiga hal
tersebut adalah dasar yang harus mutlak dipahami oleh seorang analis karena dalam suatu titrasi,
segala sesuatu yang berkaitan dengan titik ekivalen dan titik akhir titrasi, pengamatan,
perhitungan dan pengolahan data volume serta kurva titrasi menjadi sangat penting untuk
diperhatikan. Contoh analisis yang menggunakan teknik titrasi adalah penentuan konsentrasi
larutan Asam klorida melalui titrasi dengan larutan natrium hidroksida. Pada titrasi tersebut
hanya terjadi satu reaksi saja dan tidak ada produk samping, persamaan reaksinya adalah:
HCl + NaOH → NaCl + H2O; K=1x1014
Reaksi kedua reagen tersebut dapat berlangsung dengan cepat dan terjadi hampir sempurna
sesuai dengan perbandingan jumlah mol produk dan reaktannya, dinyatakan dalam nilai
konstanta kesetimbangan yang besar. Kasus lainnya, misalnya perhatikan reaksi antara Asam
borat dengan Natrium hidroksida (NaOH) berikut:
HBO2 + NaOH → NaBO2 + H2O; K= 6 x106
Reaksi Asam borat dengan Natrium hidroksida tersebut tidak habis bereaksi secara sempurna,
terlihat pada konstanta kesetimbangan reaksi yang hanya mencapai 6x106
1. Pengamatan dan Interpretasi Volume Hasil Titrasi
Pengamatan dalam metode titrimetri dilakukan dengan cara pengamatan volume. Jumlah analit
dalam suatu sampel dapat diketahui secara stoikiometris pada sebuah metode titrimetri melalui
jumlah volume titran. Tiap liter larutan standar berisi sejumlah berat/mol ekivalen senyawa baku.
Berat atau kadar suatu bahan yang diteliti dihitung dari volume larutan serta kesetaraaan mol
yang bereaksi dari reagennya. Di samping volume titran, massa titran juga dapat diketahui
dengan mengetahui massa jenisnya terlebih dahulu. Untuk mengamati volume secara akurat, alat
utama yang digunakan dalam metode ini salah satunya adalah buret. Kriteria buret yang cocok
dan baik digunakan untuk titrasi yaitu buret yang memiliki diameter dalam yang kecil sehingga
memudahkan dalam pengamatan meniskus cairan secara lebih presisi. Ketika volume titran
mencapai “yang diperlukan” untuk suatu analit bereaksi secara stoikiometris dengan titran maka
saat itulah titrasi dihentikan dan disebut titik ekivalen. Secara eksperimental, titik akhir titrasi
dapat diamati dengan perubahan warna/perubahan bentuk larutan yang diakibatkan oleh adanya
suatu indikator yang sengaja ditambahkan pada saat titrasi. Syarat reaksi kimia yang tepat untuk
berlangsung dalam analisis volumetri adalah:
a. Reaksinya harus cepat.
b. Reaksinya cukup sederhana sehingga dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang tepat.
c. Bahan yang dianalisis harus bereaksi sempurna dengan senyawa baku (standar) dan
perbandingan stoikiometrisnya bisa mencapai kesetimbangan/setara.
d. Perubahan yang terjadi harus tampak jelas saat titik ekivalen tercapai, baik perubahan secara
fisik maupun kimia.
e. Indikator diperlukan ketika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi agar pengamatan dengan
pengukuran daya hantar listrik (misalna untuk titrasi potensiometri atau konduktometri) dapat
dilakukan dengan tepat sasaran.
Kelebihan metode volumetri untuk penetapan kadar suatu zat antara lain:
a. Alatnya sederhana, cepat dan tidak memerlukan pekerjaan yang menjemukan, seperti
pengeringan dan penimbangan secara berulangulang.
b. Memiliki ketelitian hingga part per million (ppm), yaitu 1 bagian dalam 1000. Hal-hal yang
harus diperhatikan ketika analisis volumetri adalah sebagai berikut:
a. Alat pengukur volume seperti buret, pipet volume dan labu takar harus ditera secara
teliti (telah dikalibrasi).
b. Senyawa yang digunakan sebagai larutan baku atau sebagai standar harus senyawa
dengan kemurnian yang tinggi.
c. Indikator atau perangkat lain untuk mengetahui titik akhir (selesai)nya titrasi.
d. Neraca analitik yang akurat untuk menimbang bahan atau senyawa baku untuk membuat
larutan baku.
2. Titik Ekivalen dan Titik Akhir Titrasi
Kesetaraan kimia teoretis antar reagen dapat diketahui dari perhitungan persamaan
reaksinya. Hasil titrasi yang akurat bisa tercapai ketika jumlah larutan analit telah bereaksi secara
stoikiometris adalah dinyatakan ekivalen. Pada saat itulah disebut sebagai titik ekivalen.
Pengamatan dan penentuan berapa volume yang pasti untuk mencapai titik ekivalen adalah
sangat penting. Jumlah mol titran yang digunakan bisa diketahui dari volume yang digunakan
untuk mencapai titik ekivalen dikali dengan konsentrasi larutan titran. (mundriyastutik dkk,2021)
𝑚𝑜𝑙𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 = 𝑉𝑒𝑞𝑥𝐶𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 Veq= Volume titran saat titik ekivalen tercapai
Berakhirnya suatu titrasi harus disertai tanda yang muncul tepat saat reaksi kimia telah
berlangsung setimbang. Tanda yang terjadi misal tampak dari perubahan warna atau adanya
endapan (kekeruhan) yang dapat dilihat dengan jelas. Perubahan tersebut diamati dengan
sendirinya atau dengan bantuan larutan (zat lain) yang disebut dengan indikator. Momen saat
perubahan pertanda bahwa suatu titrasi harus berakhir disebut dengan titik akhir titrasi yang
dinyatakan dengan berapa jumlah volume larutan baku yang terpakai dari buret sebanyak sekian
miliLiter. Titrasi yang ideal adalah titrasi yang akurat, yaitu jika titik akhir titrasi persis sama
atau sangat mendekati (berimpit) titik ekivalen teoretis. Perbedaan antara titik akhir titrasi
dengan titik ekivalen dinyatakan dengan kesalahan titrasi, suatu kesalahan (error) dalam
pengukuran. Dalam kenyataan praktiknya selalu ada perbedaan kecil antara titik akhir titrasi
dengan titik ekivalen teoretis yang disebut dengan kesalahan titrasi, yaitu selisih sekian miliLiter
larutan baku. Oleh karena itu, untuk melakukan titrasi perlu pengulangan analisis 3 kali atau
lebih untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan titrasi tersebut. Pemilihan indikator juga harus
memperhatikan aspek kesesuaian reaksi kimia antar reagen agar kesalahan dalam analisis dapat
dihindari. (mundriyastutik dkk,2021)
3. Kurva Titrasi
Kurva titrasi dapat dibuat dengan tujuan sebagai alternatif untuk mengkoreksi suatu kesalahan
(error) pada titrasi. Suatu kurva titrasi dapat menunjukkan progress (perjalanan) suatu reaksi
dalam titrasi sebagai suatu fungsi volume. Kurva titrasi dapat memberikan gambaran secara
visual tentang bagaimana profil perubahan sifat atau karakter larutan seiring dengan penambahan
titran selama titrasi. Perubahan sifat larutan yang dapat diamati sesuai dengan jenis titrasi apa
yang dilakukan. Misal, pada titrasi asam basa maka sifat larutan yang dapat diamati seiring
penambahan volume selama titrasi adalah perubahan pH yang dapat diamati dengan alat ukur
pH. Dari kurva titrasi juga dapat diamati karakter indikator, apakah sesuai untuk suatu jenis
titrasi, ataukah justru menimbulkan kesalahan titrasi. Tentunya ini akan sangat berguna untuk
evaluasi pada teknik titrasi selanjutnya. (mundriyastutik dkk,2021)
4. Perhitungan dalam Titrasi
Dalam suatu analisis kuantitatif seperti halnya titrasi pasti diperlukan perhitungan yang tepat dan
presisi karena suatu analisis kuantitatif selalu berkaitan dengan angka. Teknik titrasi juga
dilakuan untuk tujuan standarisasi larutan. Standarisasi sebuah larutan pada dasarnya adalah
untuk mengetahui kadar atau konsentrasi sebuah larutan dengan tepat sehingga perlu digunakan
larutan baku (standar) lainnya yang sudah diketahui konsentrasinya secara pasti sebagai
pembanding. Berikut contoh perhitungan standarisasi sebuah larutan:
Standarisasi HCl dilakukan dengan menggunakan baku primer Natrium karbonat. Sebanyak
354,2 mg Natrium karbonat dilarutkan dalam air dan dititrasi dengan larutan HCl (larutan yang
akan distandarisasi) menggunakan indikator Metil orange. Titik akhir titrasi yaitu saat reaksi
membutuhkan volume HCl sebesar 30,23 mL. Hitunglah berapa normalitas HCl?
Jawab: Reaksi standarisasi HCl dengan Natrium karbonat menggunakan metil orange adalah:
Na2CO3 + 2 HCl → 2 NaCl + H2O + CO2
Dari reaksi tersebut diketahui bahwa tiap mol Natrium karbonat bereaksi dengan 2 mol HCl
(setara dengan 2 gram ekivalen ion H+ ) sehingga valensinya adalah 2. Sebagaimana diketahui
pada titik ekivalen:
mgrek HCl = mgrek Na2CO3
Volume HCL (mL) x N HCl = mmol Na2CO3 x valensi
mgnatrium karbonat
Volume HCL (mL) x N HCl = x valensi
bm natrium karbonat
sehingga :
mgnatrium karbonat x valensi 354,2 X 2
NHCl = ⟶ =0,2211 N (Achmad dan Abdul, 2006)
bm natrium karbonat x ml HCL 106 X 30,23
5. Indikator
Di dalam titrasi, maksud indikator adalah suatu senyawa yang sengaja ditambahkan ke dalam
sistem titrasi (ke dalam analit) yang bertujuan agar dapat memberikan tanda bahwa titrasi sudah
bisa dihentikan. Laju alir titran menuju analit (sampel) dapat dihentikan saat larutan analit yang
telah ditambahkan senyawa indikator mengalami perubahan dari keadaan awal, baik itu
perubahan warna, terjadi endapan, dan lain-lain. Senyawa indikator sebenarnya adalah molekul
yang dapat mengalami perubahan secara sifat fisik ketika suatu titrasi dilakukan. Pemilihan
indikator disesuaikan dengan jenis titrasi, reagen yang terlibat dalam titrasi yang dilakukan.
Perubahan sifat fisik yang dialami indikator disebabkan oleh perubahan dalam susunan atau
struktur molekulnya, yaitu berubah secara ionik, atau berubah secara konformasi, berubah secara
ikatan fisik bisa karena pH, pengaruh reagen lain x ekivalen : ekivalen (100%) x (: massa
sampel) x BM 10 dan lain-lain. Macam-macam indikator yang dikenal dalam dunia titrasi,
khususnya asam basa salah satunya adalah :
Indikator methyl orange warna pada ph asam berwarna merah warna pada ph basa berwarna
orange rentan ph (3,1- 4,4)
a. Titrasi balik
Titrasi kembali dilakukan untuk logam yang mengendap dengan hidroksida pada pH
yang diinginkan untuk titrasi, senyawa tidak larut seperti sulfat, kalsium oksalat, untuk
membentuk senyawa kompleks yang sangat lambat dan ion logam yang digunakan untuk
membentuk senyawa kompleks lebih stabil dengan larutan standar daripada dengan
indikator. Jika sudah stabil kemudian ditambahkan larutan baku berlebih lalu
ditambahkan buffer pada pH yang diinginkan. Larutan standar yang berlebih diatasi
dengan titrasi balik dengan menggunakan larutan standar ion logam. Penentuan titik akhir
titrasi pada titrasi balik dengan menggunakan bantuan indikator logam. (mundriyastutik
dkk,2021)
b. Titrasi subtitusi
Titrasi subtitusi ini dilakukan karena ion logam yang tidak bereaksi sempurna dengan
indikator maupun ion-ion logam yang membentuk kompleks yang lebih stabil dengan
pengkhelat, misal EDTA. Ion logam tersebut akan mampu mengganti ion logam lainnya
pada kompleks, misal ion logam Mg2+ atau Ca2+ pada Mg-EDTA atau Ca-EDTA
diganti dengan ion logam M+ . Indikator ang sering digunakan dalam titrasi substitusi,
yaitu indikator hitam eriokrom. (mundriyastutik dkk,2021)
c. Titrasi tidak langsung
Titrasi tidak langsung digunakan untuk menentukan kadar ion seperti anion yang tidak
bereaksi dengan pengkelat, sehingga perlu penambahan treatment pra titrasi. Contohnya
adalah ion barbiturat yang tidak dapat bereaksi dengan EDTA tetapi secara kuantitatif
dapat diendapkan dengan ion Hg2+ dalam keadaan basa sebagai ion kompleks.
Pengendapan ditandai dengan kelebihan Hg(II) sehingga endapan dapat disaring dan
dilarutkan kembali dengan larutan baku EDTA berlebih. Larutan baku Zn(II) digunakan
untuk menitrasi kelebihan EDTA menggunakan indikator yang sesuai untuk menentukan
titik akhir titrasi dan kadar kelebihan EDTA dapat dideteksi sehingga kadar barbiturat
dapat diketahui setelahnya. Reaksi lengkap dapat dilihat pada persamaan reaksi sebagai
berikut. (mundriyastutik dkk,2021)
Anion barbiturat (B- ) + Hg2+ → Kompleks Hg-B
Kompleks Hg-B + EDTA2- berlebih → B - + Hg-EDTA + EDTA2- berlebih
EDTA2- berlebih + Zn2+ → Zn-EDTA + 2 H + 42
Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan mengendapkan anion dengan kelebihan
logam yang sesuai dan kelebihan ion logam dalam filtrat dititrasi dengan larutan baku
EDTA. (mundriyastutik dkk,2021)
d. Titrasi alkalimetri
Prinsip titrasi alkalimetri dalam kaitannya dengan metode kompleksometri yaitu
menganalisis H + yang dibebaskan dari kompleks logam-EDTA dengan cara dititrasi
dengan larutan baku yang bersifat alkali (basa). Penentuan kadar logam dengan cara ini
dapat dilakukan dengan syarat kondisi larutan sebelum titrasi harus netral terhadap
indikator yang digunakan. Penentuan titik akhir titrasi menggunakan indikator asam-basa
atau dapat juga dilakukan secara potensiometri. Dalam Farmakope Indonesia disebutkan
bahwa titrasi kompleksometri umumnya digunakan untuk menetapkan kadar bismut
subkarbonat, bismut subnitrat, kalsium karbonat, kalsium klorida dan sediaan injeksinya,
kalsium glukonat, kalsium hidrogen pospat, kalsium hidroksida dan larutan tabletnya,
kalsium pantotenat, kalsium sulfat, magnesium karbonat, magnesium stearat, mangan
sulfat, zink klorida dan zink sulfat. (mundriyastutik dkk,2021)
5.1. Indikator titrasi kompleksometri Indikator yang digunakan untuk titrasi kompleksometri
umumnya adalah zat warna organik yang dapat membentuk kompleks stabil dengan ion.
Zat warna tersebut disebut dengan indikator metallokromik. Agar dapat digunakan sebagai
indikator dalam titrasi EDTA, maka kompleks logamindikator secara visual harus memiliki
warna yang berbeda dari indikator yang belum membentuk kompleks dengan logam.
Terlebih lagi, konstanta pembentukan kompleks logam-indikator harus lebih kecil
dibanding pembentukan kompleks logam-EDTA. Awalnya, indikator ditambahkan terlebih
dahulu ke dalam larutan analit membentuk warna tertentu dari kompleks logam-indikator.
Seiring dengan penambahan EDTA maka EDTA akan bereaksi terlebih dahulu dengan
molekul analit yang masih bebas (tidak membentuk kompleks dengan indikator).
Kemudian lama kelamaan EDTA dapat bereaksi penggantian analit dari kompleks logam-
indikator sehingga mempengaruhi warna larutan. Akurasi titik akhir titrasi tergantung dari
kekuatan kompleks logam-indikator dibanding kekuatan ikatan kompleks logam-EDTA.
Jika kompleks logam-indikator terlalu kuat maka perubahan warna terjadi setelah titik
ekivalen. Jika kompleks logam-indikator kekuatan 43 ikatnya lebih lemah maka titik akhir
titrasi akan tampak sebelum titik ekivalen. Hampir semua indikator metalokromik adalah
asam atau basa lemah. Konstanta pembentukan kompleks logam-indikator tergantung pada
pH larutan. Kekuatan kompleks logam-indikator sangat tergantung pengaturan pH saat
titrasi sehingga kesalahan titrasi dapat seminimal mungkin (mundriyastutik dkk,2021)
6. Titrasi Diazotasi
Titrasi diazotasi atau biasa disebut dengan nitrimetri merupakan cara analisa volumetri
dengan titrasi redoks yang didasarkan pada reaksi pembentukan garam diazonium dari gugus
amin aromatis bebas yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana asam nitrit ini diperoleh
dengan cara mereaksikan NaNO2 dengan suatu asam. Garam diazonium terbentuk dari hasil
reaksi antara senyawa yang mengandung gugus amin aromatis bebas, pada suhu di bawah 15°C
dalam senyawa asam. (mundriyastutik dkk,2021)
Contoh titrasi diazotasi adalah digunakan untuk menetapkan kadar senyawa antibiotik
sulfonamida dan senyawa anestetika lokal golongan asam amino benzoat. Titrasi diazotasi
digunakan dalam analisis senyawa-senyawa organik, khususnya untuk persenyawaan amina
primer. Contoh zat yang memiliki gugus amin aromatik primer adalah benzokain, parasetamol
sekunder, gugus nitroaromatik (misalnya:kloramfenikol), senyawa nitrosamine, amin alifatik,
senyawa dengan gugus hidrazida (INH=Isoniazid). Metode titrasi diazotasi dalam penetapan
kadar secara kuantitatif dengan menggunakan larutan baku NaNO2. (mundriyastutik dkk,2021)
Titrasi diazotasi mempunyai berat ekivalen sama dengan berat molekul karena 1 mol
senyawa amina aromatis bereaksi dengan 1 mol asam 44 nitrit pada suasana asam dan akan
membentuk garam diazonium. Pada titrasi diazotasi konsentrasi larutan lebih mudah dinyatakan
dengan molaritas (M). (mundriyastutik dkk,2021)
Syarat-syarat yang harus diperhatikan ketika titrasi diazotasi adalah:
a. Suhu Suhu untuk melakukan titrasi harus antara 5-15˚C. Untuk menjaga agar selama titrasi
berada pada suhu tersebut maka biasanya digunakan stabilitator yaitu dengan penambahan
KBr. Titrasi ini tidak dapat dilakukan pada suhu tinggi karena HNO2 yang terbentuk akan
menguap pada suhu tinggi, dan garam diazoniumnya akan terurai menjadi fenol.
(mundriyastutik dkk,2021)
b. Keasaman Pada titrasi ini diperlukan suasana asam, yaitu berlangsung pada pH= 2.
Kondisi asam tersebut bertujuan untuk mengubah NaNO2 menjadi HNO2 dan pembentukan
garam diazonium. (mundriyastutik dkk,2021)
c. Kecepatan reaksi Reaksi diazotasi berlangsung sangat lambat sehingga supaya reaksi
berlangsung sempurna maka titrasi harus dilakukan perlahan-lahan dan dilakukan
pengocokan yang kuat. Frekuensi tetesan pada awal titrasi diatur kurang lebih 1 mL/menit
dan ketika mendekati titik akhir titrasi menjadi 2 mL/menit karena asam nitrit terbentuk pada
suasana asam dan adanya KBr pada titrasi nitrimetri. KBr dapat mengikat NO2 untuk
membentuk nitrosobromid yang akan menghilangkan reaksi tautomerasi dari bentuk keto ke
bentuk enol sehingga dibutuhkan katalisator untuk mempercepat reaksi. Stabilisator suhu,
yaitu KBr digunakan untuk menjaga suhu agar tetap rendah (5-150C) untuk mengikat NO2
agar asam nitrit tidak terurai atau menguap. (mundriyastutik dkk,2021)
Penentuan titik akhir titrasi diazotasi dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a. Menggunakan indikator luar Penentuan titik akhir titrasi diazotasi tercapai jika
menggunakan indikator luar seperti pasta kanji-iodida atau kertas kanji-iodida. Caranya
adalah dengan penggoresan larutan yang dititrasi menggunakan pasta kanji iodida atau
kertas kanji iodida akan menghasilkan warna hijau toska atau biru. Hal ini disebabkan
oleh oksidasi iodida oleh udara. Kelebihan asam nitrit akan mengoksidasi iodida menjadi
iodium. Indikator kanji memberikan 45 kepekaan terhadap kelebihan 0,05-0,10 mL
natrium nitrit dalam 200 mL larutan. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan:
NaNO2 + HCl → HNO2 + NaCl
KI + HCl → KCl + HI
2 HI + 2 HONO → I2 + 2 NO + 2 H2O I2 + Kanji → kanji iod (biru)
Kekurangan indikator luar adalah harus memperkirakan jumlah titran yang
dibutuhkan terlebih dahulu sehingga harus sering melakukan pengujian apakah sudah
tercapai titik akhir titrasi atau belum.
b. Indikator dalam
enentuan titik akhir titrasi diazotasi dapat tercapai juga dengan menggunakan indikator
dalam yang terdiri atas campuran tropeolin OO dan metilen biru. Tropeolin OO
merupakan indikator asam basa yang berwarna merah jika dalam suasana asam dan
berwarna kuning jika dioksidasi dengan kelebihan asam nitrit sedangkan metilen biru
berfungsi sebagai pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi memberikan
perubahan warna dari ungu menjadi biru sampai hijau tergantung senyawa yang
digunakan untuk titrasi. Kekurangan pemakaian indikator dalam yaitu jika menggunakan
senyawa yang berbeda maka akan memberikan warna yang berbeda pula (mundriyastutik
dkk,2021)
c. Metode potensiometer
jenis reaksi nitritasi ini sangat praktis untuk analisis antibiotik sulfonamide dan anestetik
lokal turunan asam benzoat. Jenis reaksinya antara lain reaksi sulfanilamide dengan asam
nitrit. Reaksi diazotasi yang lain yaitu pada analisis suksinil sulfatiazol. Senawa tersebut
harus dihidrolisis terlebih dahulu sehingga diperoleh gugus amin aromatis bebas yang
bisa bereaksi dengan natrium nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium.
Senyawa yang mempunyai gugus nitro aromatis seperti kloramfenikol juga dapat
dianalisis secara nitrimetri setelah direduksi terlebih dahulu supaya menghasilkan amin
aromatis primer. Kloramfenikol mempunyai gugus nitro aromatis yang direaksikan
telebih dahulu dengan Zn/ HCl untuk menghasilkan senyawa amin aromatis pimer bebas
kemudian dilanjutkan bereaksi dengan asam nitrit untuk membentuk garan diazonium.
Pada Farmakope Indenesia diazotasi digunakan untuk menetapkan kadar benzokain,
primakuin fosfat, dan sediaan 46 tabletnya, prokain HCl, sulfasetamid, sulfametazin,
sulfadoksin, sulfametoksazol, tetrakain, dan tetrakain HCl (mundriyastutik dkk,2021)
Achmad, M dan Abdul, R. 2006. Pengantar Kimia Farmasi Analisis: Volumetri dan Gravimetri.
Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Mundriyastutik, Y., Maulida, I. D., Si, S., Sc, M., Retnowati, E., Si, M., & Farm, M. (2021).
Analisis Volumetri (Titrimetri). 28.