0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
330 tayangan175 halaman

Profil Wilayah Kabupaten Gowa 2022

Dokumen tersebut memberikan gambaran umum mengenai kondisi geografis, administrasi, dan topografi Kabupaten Gowa. Kabupaten Gowa terletak di Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah sekitar 1.883 km2 yang terbagi atas 18 kecamatan dan 167 desa/kelurahan. Topografi wilayahnya bervariasi mulai dari dataran rendah hingga tinggi dengan ketinggian antara 0-1000 mdpl dan kemiringan lereng antara datar hingga sangat curam.

Diunggah oleh

Edi Verdilla
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
330 tayangan175 halaman

Profil Wilayah Kabupaten Gowa 2022

Dokumen tersebut memberikan gambaran umum mengenai kondisi geografis, administrasi, dan topografi Kabupaten Gowa. Kabupaten Gowa terletak di Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah sekitar 1.883 km2 yang terbagi atas 18 kecamatan dan 167 desa/kelurahan. Topografi wilayahnya bervariasi mulai dari dataran rendah hingga tinggi dengan ketinggian antara 0-1000 mdpl dan kemiringan lereng antara datar hingga sangat curam.

Diunggah oleh

Edi Verdilla
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

PROFIL WILAYAH/KOMPILASI DATA


A. Tinjaun Wilayah Perencanaan
1. Tinjaun Makro Kawasan
a. Aspek Fisik Dasar
1) Kondisi Geografis
Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian
selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 10 km
dari Ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan, terletak di antara 50
5’ - 5 0 34.7’ Lintang Selatan (LS) dan 120 33 19’-130.
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kota Makassar dan
Kab.Maros
- Sebelah Selatan : Berbatasan langsung dengan
Kab.Takalar dan Kab.Jeneponto
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kota Makassar dan
Kab. Takalar
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kab.Sinjai, Kab
Bulukumba dan Kab.Bantaeng
Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian
selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 10 km
dari Luas wilayah Kab. Gowa sekitar 1.883,33 km² atau
sekitar 3,01% dari luas wilayah Sulawesi Selatan, terbagi
dalam 18 kecamatan yang meliputi 167 desa/kelurahan. Dari
18 kecamatan di Kabupaten Gowa dibagi menjadi 2 golongan
kecamatan berdasarkan sebagian besar wilayah, yaitu
kecamatan dataran rendah dan kecamatan dataran tinggi.Luas
kecamatan bervariasi dengan tingkat kelerengan daerah yang
bervariasi dari dataran rendah hingga dataran tinggi.Terdapat
9 kecamatan yang terletak di dataran rendah dan 9 kecamatan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


22
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
di dataran tinggi. Ibu kota Kabupaten Gowa adalah
Sungguminasa, yang meliputi seluruh wilayah Kawasan
Perencanaan, sebagian Kecamatan Pallangga, dan 2 (dua)
Kelurahan di wilayah Kecamatan Bontomarannu.
Tabel 3.1
Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Gowa
Luas kecamatan Jumlah
No. Kecamatan Kelurahan/
Luas (Km2) % Desa
1 Bontonompo 30,39 1,61 14
2 Bontonompo S. 29,24 1,55 9
3 Bajeng 60,09 3,19 14
4 Bajeng Barat 19,04 1,01 7
5 Pallanga 48,24 2,56 16
6 Barombong 20,67 1,10 7
7 Somba Opu 28,09 1,49 14
8 Bontomarannu 52,63 2,79 9
9 Pattalassang 84,96 4,51 8
10 Parangloe 221,26 11,75 7
11 Manuju 91,90 4,88 7
12 TinggiMoncong 142,87 7,59 7
13 Tombolo Pao 251,82 13,37 9
14 Parigi 132,76 7,05 5
15 Bungaya 175,53 9,32 7
16 Bontolempangan 142,46 7,56 8
17 Tompobulu 132,54 7,04 8
18 Biringbulu 218,84 11,62 11
Sumber Data : Kabupaten Gowa dalam Angka 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


23
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.1
Peta Administrasi Kabupaten Gowa

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


24
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
2) Topografi dan Kemiringan Lereng
Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar merupakan daerah
dataran tinggi yaitu sekitar 72,26%. Ada 8 wilayah
Kecamatan yang merupakan dataran tinggi yaitu Parangloe,
Manuju, Tinggi Moncong, Tombolo Pao, Bungaya,
Bontolempangan, Tompo Bulu dan Biring Bulu. Kondisi
topografi atau ketinggian tempat di Kabupaten Gowa cukup
bervariasi antara 0 sampai diatas 1000 meter dari permukaan
laut (mdpl).
Berdasarkan data kemiringan lereng yang diperoleh,
Kabupaten Gowa memiliki kemiringan lereng yang
bervariatif mulai dari daerah landai bergelombang dan sangat
curam.Beberapa Wilayah Kecamatan dengan kategori sangat
curam adalah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong,
Bungaya, Bontolempangan dan Tompobulu. Daerah
Kabupaten Gowa memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS)
Jene’berang yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten
Gowa.Dengan aliran sungai sepanjang 90 Km. Dan luas
daerah aliran sungai sekitar 881 Km. Untuk memaksimalkan
daerah aliran sungai Je’neberang maka dibuat DAM Bili-bili,
yang berfungsi sebagai daerah penyalur aliran air sehingga
pemanfaatan air sungai jeneberang dapat dioptimalkan dan
dimaksimalkan untuk kebutuhan masyarakat.
Daerah aliran sungai (DAS) lain adalah Je’netallasa,
Pa’bundukang, Malino, Cadika, Pallappakang. Anak sungai-
sungai ini berlanjut ke sungai yang akhirnya bermuara ke
Samudra Indonesia ataupun selat.Makassar.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


25
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.2
Kondisi dan Luas Kemiringan Lereng di Kabupaten Gowa
Kemiringan Total Luas
Kecamatan
>40 0-8 15-25 25-40 8-15 (Ha)
Kec.Bajeng - 5.253,89 - - - 5.253,89
Kec.Bajeng B. - 1.903,02 - - - 1.903,02
Kec.Barombong - 2.898,41 - - - 2.898,41
Kec.Biringbulu 217,58 3.237,55 8.290,04 4.077,65 6.394,05 22.216,87
Kec.Bontolempang 49,99 1.350,58 4.001,27 799,12 3.626,18 9.827,15
Kec.Bontomarannu - 3.877,90 97,26 - 598,82 4.573,97
Kec.Bontonompo - 3.931,73 - - - 3.931,73
Kec.Bontonompo S. - 3.404,73 - - - 3.404,73
Kec.Bungaya 1.308,36 672,42 6.351,03 4.688,86 21.650,66
Kec.Manuju - 2.002,56 - 1.500,01 2.829,31 9.824,44
Kec.Palangga - 5.276,18 - 5.276,18
Kec.Parangloe 378,93 7.896,28 - 1.388,48 4.982,75 18.635,16
Kec.Parigi 791,47 1.089,47 - 1.301,82 1.355,24 6.787,66
Kec. Patalassang - 6.901,81 439,05 - 852,50 8.193,36
Kec. Somba Opu - 2.968,01 - - - 2.968,01
Kec.Tinggi moncong 1.350,04 839,40 7.133,99 6.635,31 2.875,16 18.833,90
Kec. Tombolo Pao 3.208,49 1.424,09 5.995,79 4.433,94 5.937,30 20.999,61
Kec. Tompobulu 1.545,02 1.928,05 2.856,82 2.931,62 3.540,44 12.801,95
Grand total 8.849,87 56.856,08 47.175,16 29.418,98 37.680,61 179.980,70
Sumber Data : Kabupaten Gowa dalam Angka 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


26
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.2
Peta Topografi Kabupaten Gowa

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


27
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
3) Klimatologi
Wilayah kabupaten Gowa menurut klasifikasi iklim Koppen
beriklim muson tropis dengan dua musim yang dipengaruhi
oleh pergerakan angin muson, yaitu musim penghujan dan
musim kemarau. Musim kemarau di wilayah Gowa
disebabkan oleh hembusan angin muson timur–tenggara yang
bersifat kering dan tidak banyak membawa uap air dan terjadi
pada periode Mei hingga Oktober. Sementara itu, musim
penghujan di wilayah kabupaten ini diakibatkan oleh
hembusan angin muson barat laut–barat daya yang bersifat
basah dan lembab. Musim penghujan di wilayah Gowa
berlangsung pada periode November hingga April dengan
bulan terbasah adalah Januari yang curah hujan bulanannya
lebih dari 500 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah
kabupaten Gowa berkisar pada angka 2.000–3.000 mm per
tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 100–180 hari
hujan per tahun. Suhu udara di wilayah kabupaten Gowa
berkisar pada angka 22°–33 °C dengan tingkat kelembapan
nisbi ±81%.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


28
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.3
Peta Curah Hujan Kabupaten Gowa

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


29
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
4) Geologi dan Jenis Tanah
Geologi Struktur geologi batuan Kabupaten Gowa yang
memiliki karakteristik geologi yang kompleks dicirikan oleh
adanya jenis satuan batuan yang bervariasi akibat pengaruh
struktur geologi. Beberapa jenis batuan yang dapat ditemukan
di Kabupaten Gowa pada umumnya antara lain:
- Batuan epiklastik gunungapi (batupasir andesitan,
batulanau, konglomerat dan breksi)
- Batu gamping kelabu hingga putih berupa lensa-lensa
besar
- Batu gamping temburu
- Batu pasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf,
sisipan lava bersisipan andesit-basa batupasir,
konglomerat,tufa, batulanau, batulempung, batugamping,
napal
- Batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih,
batulanau malih dan pualam, setempat batulempung
malih
- Granit,grano diorite,dionit dan aplit
- Hasil erupsi parasite
- Konglomeratt, sedikit batu pasir glokonit dan serpih
- Lava andesit dan basal, dan latit kuarsa
- Napal diselingi batulanau gampingan dan batu pasir
gampingan
- Napal, kalkarenit, batugamping koral bersisipan dengan
tuf dan batupasir, setempat dengan konglomerat
- Serpih coklat kemerahan, sepi napalan kelabu,
batugamping, batupasir kuarsa, konglomerat,
batugamping dan setempat batu bara.
Struktur geologi sangat mempengaruhi pola penyebaran
batuan dan keterdapatan bahan galian Hasil penelitian

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


30
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
terdahulu berupa Pemetaan Geologi Lapangan dalam Sekala
1:250.000 yang dilakukan oleh Rab. Sukamto dan Supriatna
1982 berupa peta Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng
dan Sinjai diperoleh bahwa sifat fisik, tekstur, atau ukuran
butir, serta genesa dan batuan penyusunnya maka jenis tanah
di kabupaten Gowa diklasifikasikan dalam 4 (empat) tipe:
- Alluvial Muda merupakan endapan aluvium (endapan
aluvial sungai, pantai dan rawa) yang berumur kuarter
(resen) dan menempati daerah morfologi pedataran
dengan ketinggian 0-60 m dengan sudut kemiringan
lereng <3% tekstur beraneka mulai dari ukuran
lempung,lanau,pasir,lumpur,kerikil,hingga
kerakal,dengan tingkat kesuburan yang tinggi.
- Regosol adalah tanah hasil lapukan dari batuan
gunungapi dan menempati daerah perbukitn vulkanik,
dengan ketinggian 110-1.540m dengan sudut kemiringan
lereng >15%. Sifat-sifat fisiknya berwarna coklat hingga
kemerahan, berukuran lempung lanauan – pasir
lempungan, plastisitas sedang, agak padu, tebal 0,1-2,0
m.
- Litosol merupakan tanah mineral hasil pelapukan batuan
induk, berupa batuan beku (intrusi) dan/atau batuan
sedimen yang menempati daerah perbukitan intrusi
dengan ketinggian 3-1.150 m dan sudut lereng <70%.
Kenampakan sifat fisik berwarna coklat kemerahan,
berukuran lempung, lempung lanauan, hingga pasir
lempungan, plastisitas sedang-tinggi, agak padu, solum
dangkal, tebal 0,2-4,5 m.
- Mediteran merupakan tanah yang berasal dari pelapukan
batugamping yang menempati daerah perbukitan karst,
dengan ketinggian 8-750 m dan sudut lereng >70%.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


31
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Kenampakan fisik yang terlihat berwarna coklat
kehitaman, berukuran lempung pasiran, plastisitas
sedang-tinggi, agak padu, permeabilitas sedang, rentan
erosi, tebal 0,1-1,5 m.
Berdasarkan jenis tanah tersebut, memberikan pengaruh
terhadap Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Gowa
didominasi oleh jenis tropudults, dystropepts dan utrandepts,
sedangkan yang paling kecil adalah jenis tanah rendolis. Jenis
tanah tersebut tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Gowa.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


32
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.4
Peta Geologi Kabupaten Gowa

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


33
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.5
Peta Jenis Tanah Kabupaten Gowa

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


34
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
5) Hidrologi
Keadaan Hidrologi di Kabupaten Gowa umumnya
dipengaruhi oleh sumber air yang berasal dari Sungai
Saddang dan anak sungai serta mata air dengan debit yang
bervariasi. Hulu Sungai Saddang yang merupakan sungai
terpanjang di Sulawesi Selatan merupakan satu daerah aliran
sungai (DAS) Jeneberang berada di Kabupaten Gowa
merupakan sumber air bersih dan pertanian di Kabupaten
Gowa dan Kabupaten Takalar. Disatu sisi keberadaan sungai-
sungai tersebut sangat potensi dikembangkan bagi
kepentingan pariwisata , misalnya arum jeram dan wisata
rafting. Kondisi hidrologi Kabupaten Gowa secara umum
adalah sebagai berikut;
a) Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada
kedalaman 40-100 meter.
b) Air permukaan, air permukaan pada umumnya berupa
sungai dan genangangenangan. Dalam hal ini, hidrologi di
Kabupaten Gowa untuk berbagai kepentingan harus
dilakukan secara bijaksana dengan kelestariannya harus
tetap dijaga.
b. Potensi Sumber Daya Manusia
Dengan luas daratan Gowa sebesar 1883,33 kilometer persegi,
kepadatan penduduk Gowa sebanyak 406 jiwa per kilometer
persegi pada SP2020. Angka ini lebih besar dari hasil SP2000
yang mencatat kepadatan penduduk Gowa sebanyak 272 jiwa
per kilometer persegi dan hasil SP2010 yang mencapai 347 jiwa
per kilometer persegi.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


35
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.3
Jumlah Penduduk Kecamatan Menurut Jenis Kelamin di
Kabupaten Gowa
Jenis Kelamin Persentase
Kecamatan Jumlah
Laki-Laki Perempuan (Persen)
Bontonompo 21,914 23,084 44,998 5.88
Bontonompo Sel 15,612 16,506 32,118 4.19
Bajeng 35,881 36,185 72,066 9.41
Bajeng Barat 13,238 13,401 26,639 3.48
Pallangga 63,517 64,320 127,837 16.69
Barombong 22,455 22,737 45,192 5.90
Somba Opu 77,391 78,717 156,108 20.38
Bontomarannu 20,352 20,664 41,016 5.36
Pattallassang 15,042 15,212 30,254 3.95
Parangloe 9,209 9,419 18,628 2.43
Manuju 7,240 7,351 14,591 1.91
Tinggimoncong 11,953 11,379 23,332 3.05
Tombolo Pao 15,224 14,555 29,779 3.89
Parigi 6,380 6,909 13,289 1.74
Bungaya 8,221 8,521 16,742 2.19
Bontolempangan 7,303 7,478 14,781 1.93
Tompobulu 14,037 14,356 28,393 3.71
Biringbulu 14,905 15,168 30,073 3.93
anal 379,874 385,962 765,836 100.00
Sumber data : Kabupaten Gowa dalam Angka 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


36
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Kecamatan Menurut Umur di Kabupaten Gowa
tahun 2020
Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah Total
0–4 31 451 30 335 61 786
5–9 31 537 29 931 61 468
10–14 35 108 33 398 68 506
15–19 34 433 32 757 67 190
20–24 35 148 33 549 68 697
25–29 33 363 33 522 66 885
30–34 29 347 30 828 60 175
35–39 27 508 29 335 56 843
40–44 26 191 28 069 54 260
45–49 24 118 25 691 49 809
50–54 20 708 21 920 42 628
55–59 17 223 18 321 35 544
60–64 13 021 13 482 26 503
65–69 9 131 10 051 19 182
70–74 5 525 6 362 11 887
75+ 6 062 8 411 14 473
Kabupaten Gowa 379 874 385 962 765 836
Sumber : Kabupaten Gowa dalam Angka 2021
c. Potensi Sumber Daya Alam
Kabupaten Gowa merupakan daerah yang memiliki potensi
besar disektor sumber daya alam,). Gowa yang terdiri atas
dataran rendah dan dataran tinggi memang memiliki potensi
SDA yang cukup besar. Potensi besar ini menjadi hal strategis
sebagai sumber pemasukan daerah. Gowa selain memiliki area
tambang luas, juga terdapat bendungan atau waduk Bilibili yang
telah memberikan sejumlah inspirasi kehidupan masyarakat.
Tidak hanya itu saja sektor lain juga cukup memberikan
masukan yang besar bagi pembangunan daerah yakni pertanian,
tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perikanan,

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


37
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
peternakan, kehutanan dan pertambangan, semua itu menjadi
potensi besar dari melahirkan kontribusi bagi daerah. jenis
komoditi yang di kembangkan pada sub sektor perkebunan
yakni : Markisa Jenis komoditi yang di kembangkan pada sub
sektor pertanian yakni padi sawah,jagung,ubi kayu,ubi
jalar,kacang tanah dan palawija Jenis komoditi yang di
kembangkan pada sub sektor tanaman hortikultura sayuran
antara lain : kentang, kubis, sawi, bawang daun dan buncis
Sektor peternakan yang di kembangkan masyarakat di
Kabupaten Gowa terdiri atas jenis ternak besar dan ternak
ungags,jenis ternak besar Kerbau,Sapi,dan kambing.jenis ternak
kecil : ayam dan itik.
d. Potensi Sumber Daya Buatan
Sumber daya Buatan (SDB) Adalah sumber daya alam yang
telah di tingkatkan daya gunanya untuk memenuhi kebutuhan
manusia dan kepentingan Negara. Pemanfaatan suatu sumber
daya buatan akan mengurangi eksploitasi sumber daya alam
sehingga tetap dapat menjaga keseimbangan ekosistem suatu
wilayah. Sumber daya buatan terdiri dari sawah, waduk,
bendungan dan perkebunan.
2. Tinjaun Kawasan Perencanaan
a. Kondisi Fisik Dasar
Kondisi fisik dasar Kawasan Perencanaan terdiri dari
1) Administrasi dan Letak Geografis
Kawasan Perencanaan memiliki Luas wilayah 23.61 km2 atau
2.361 Ha (1,49% dari luas wilayah kabupaten Gowa), dengan
batas administrasi :
a) Sebelah Utara Kota Makassar
b) Sebelah Timur Kecamatan Bontomarannu
c) Sebelah Selatan Kecamatan Pallangga dan Kabupaten
Takalar

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


38
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
d) Sebelah Barat Kecamatan Pallangga dan Kota
Makassar.
Tabel 3.5
Jumlah Penduduk Menurut Kelurahan,Luas Wilayah dan
Kepadatan Penduduk di Kawasan Perencanaan 2021
Jumlah Kepadatan
No Kelurahan Luas (Km²)
Penduduk Penduduk
1 Pandang-pandang 2,16 7.136 3.304
2 Sungguminasa 1,46 7.577 5.190
3 Tompobalang 1,8 12.376 6.876
4 Batangkaluku 1,3 14.067 10.821
5 Tamarunang 2,16 16.957 7.850
6 Romangpolong 2,71 9.684 3.573
7 Bonto-Bontoa 1,61 13.162 8.175
8 Kalegowa 1,21 2.829 2.338
9 Katangka 1,36 9.764 7.179
10 Tombolo 2,06 16.183 7.856
11 Paccinongan 3,71 26.449 7.129
12 Samata 1,44 9.985 6.934
Jumlah 22,98 146.169 77.225
Sumber data : Kecamatan Somba Opu dalam Angka 2021
Untuk informasi administrasi dan letak geografis Kawasan
Perencanaan dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


39
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.6
Peta Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


40
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
2) Kondisi Curah Hujan
Kondisi klimatologi Kawasan Perencanaan dapat diketahui
dengan melihat kondisi klimatologi atau cuaca secara umum
di Kawasan Perencanaan. Secara umum, Kabupaten Gowa
dan Kawasan Perencanaan khususnya memiliki kondisi
klimatologi yaitu beriklim tropis. Musim hujan terjadi pada
Bulan Desember sampai Bulan Juni, sedangkan musim
kemarau terjadi pada Bulan Juli sampai Bulan Desember.
Keadaan ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi
dengan musim peralihan (pancaroba) pada bulan-bulan
tertentu. Kawasan Perencanaan termasuk wilayah yang
memiliki iklim tropis yang sederhana yaitu Kemarau dan
Curah hujan di Kabupaten Gowa yaitu 237,75 mm dengan
suhu 27°C. Intensitas curah hujan yang terdapat di Kawasan
Perencanaan berkisar antara 2000-4000 mm/tahun.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


41
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.7
Peta Curah Hujan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


42
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
3) Kondisi Topografi dan Kemiringan Lereng
Keseluruhan wilayah Kawasan Perencanaan memiliki
Kondisi Topografi yang merupakan daerah datar, sebagai
berikut:
Tabel 3.6
Kawasan Topografi Kawasan Perencanaan
Bukan Pantai
Kawasan
Kelurahan Pantai Kawasan
Puncak/ Dataran
lembah
Lereng
Pandang-padang - - - √
Sungguminasa - - - √
Tompobalang - - - √
Batangkaluku - - - √
Tamarunang - - - √
Romangpolong - - - √
Bonto Bontoa - - - √
Kalegowa - - - √
Katangka - - - √
Tombolo - - - √
Paccinongan - - - √
Samata - - - √
Sumber data : Kecamatan Somba Opu dalam Angka 2020
Adapun itu hasil Topografi di Kawasan Perencanaan,Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta 3.8.
Kelerengan merupakan ukuran kemiringan lahan relative
terhadap bidang datar yang secara umum dinyatakan dalam
persen atau derajat. Di Kawasan Perencanaan memiliki
kemiringan lereng 0-2 dan 25-40% di setiap Kelurahannya.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta 3.9.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


43
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.8
Peta Topografi di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


44
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.9
Peta Kemiringan Lereng di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


45
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
4) Kondisi Geologi dan Struktur Tanah
Jenis tanah yang terdapat di Kawasan Perencanaan adalah
tanah Alluvial yang merupakan endapan aluvium (endapan
aluvial sungai, pantai dan rawa) yang berumur kuarter (resen)
dan menempati daerah morfologi pedataran dengan
ketinggian 0-60 m dengan sudut kemiringan lereng.
Tabel 3.7
Jenis Tanah Kawasan Perencanaan
No Kelurahan Kelerengan
1 Pandang Pandang Alluvial
2 Sungguminasa Alluvial
3 Tompobalang Alluvial
4 Batangkaluku Alluvial
5 Tamarunang Alluvial
6 Romangpolong Alluvial
7 Bonto Bontoa Alluvial
8 Kalegowa Alluvial
9 Katangka Alluvial
10 Tombolo Alluvial
11 Paccinongan Alluvial
12 Samata Alluvial
Sumber data : Kecamatan Somba Opu dalam Angka 2021
Adapun untuk lebih jelasnya tentang Kondisi Geologi di
Kawasan Perencanaan bisa dilihat di Peta 3.10

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


46
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.10
Peta Geologi di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


47
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.11
Peta Jenis Tanah di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


48
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
5) Kondisi Hidrologi
Keadaan Hidrologi di Kawasan Perencanaan umumnya
dipengaruhi oleh sumber air yang berasal dari Sungai
Saddang dan anak sungai serta mata air dengan debit yang
bervariasi. Hulu Sungai Saddang yang merupakan sungai
terpanjang di Sulawesi Selatan merupakan satu daerah aliran
sungai (DAS) Jeneberang berada di Kawasan Perencanaan
merupakan sumber air bersih dan pertanian di Kawasan
Perencanaan. Disatu sisi keberadaan sungai-sungai tersebut
sangat potensi dikembangkan bagi kepentingan pariwisata,
misalnya arum jeram dan wisata rafting. Kondisi hidrologi
Kawasan Perencanaan secara umum adalah sebagai berikut;
Air tanah, air tanah pada umumnya terdapat pada kedalaman
40-100 meter. Air permukaan, air permukaan pada umumnya
berupa sungai dan genangan-genangan. Dalam hal ini,
hidrologi di Kawasan Perencanaan untuk berbagai
kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan
kelestariannya harus tetap dijaga. Potensi sumberdaya air di
Kawasan Perencanaan selain dipengaruhi oleh kondisi
klimatologi wilayah, juga dipengaruhi oleh beberapa aliran
sungai yang melintas pada beberapa kawasan. Potensi
sumberdaya air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
kegiatan pertanian dan sumber air baku untuk kebutuhan
lainnya. Potensi sumberdaya air di wilayah Kawasan
Perencanaan yang telah termanfaatkan oleh penduduk dalam
kehidupan kesehariannya untuk berbagai keperluan
bersumber dari air tanah dangkal (air permukaan dan air
tanah dalam air tanah dangkal/permukaan dapat berupa air
sungai, sumur, rawa-rawa, bendungan, mata air dan lain
sebagainya, sedangkan potensi air tanah dalam dengan
pemanfaatan air melalui pengeboran.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


49
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Kondisi Fisik Buatan
1) Penggunaan Lahan
Penggunaan Lahan merupakan aktivitas manusia pada dan
dalam kaitannyadengan lahan, yang biasanya tidak secara
langsung tampak dari citra. Berikut adalah tabel penggunaan
lahan di kawasan perencanaan :
Tabel 3.8
Penggunaan Lahan di Kawasan Perencanaan
No. Jenis Fasilitas Luas (Ha)
1 Sawah Irigasi 576,9
2 Lahan Kosong 112,93
3 Semak Belukar 40,57
4 Ladang 58,6
5 Permukiman 1572,3
Jumlah 2361,3
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa penggunaan lahan
yang lebih dominan di kawasan perencanaan kami pada
tahun 2021 yaitu Kawasan Permukiman sedangkan
penggunaan lahan yang rendah yaitu Kawasan Ladang.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


50
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.12
Peta Pengunaan Lahan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


51
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
2) Kondisi Sarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat
dan berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan
pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
Berdasarkan hasil survei sarana atau fasilitas di Kawasan
Perencanaan, antara lain :
a) Permukiman
Permukiman adalah bagian dari lingkungan Hunian
yang terdiri atas lebih dari satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan
perdesaan. Dari lima kebutuhan hidup manusia
pangan, sandang, permukiman, pendidikan, dan
kesehatan, terlihat bahwa permukiman menempati
posisi yang sentral, dengan demikian peningkatan
permukiman akan meningkatkan pula kualitas hidup.
Gambar 3.1
Sarana Permukiman di Kawasan Perencanaan
Tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021


b) Perdagangan dan Jasa
Perdagangan dan jasa berdasarkan UU No.7 Tahun
2014 tentang perdagangan diartikan sebagai tatanan
kegiatan yang terkait dengan transaksi barang dan /atau
jasa didalam negeri dan melampaui batas wilayah
negara dengan tujuan pengalihan hak atas barang/atau

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


52
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
jasa untuk memperoleh imbalan atau kompensasi.
Selain itu, terdapat 8 jenis sarana perdagangan yaitu
berupa pasar rakyat, pusat perbelanjaan, toko swalayan,
gunang, perkulakan, pasar lelang komoditas, pasar
berjangka dan 12 jenis jasa yang dapat diperdagangkan
yaitu jasa bisnis, jasa distribusi, jasa komunikasi, jasa
pendidikan, jasa pendidikan, jasa lingkungan hidup,
jasa keuangan, jasa kontruksi, dan teknik terkait, dan
jasa kesehatan.
Tabel 3.9
Sarana Perdagangan dan Jasa di Kawasan
Perencanaan
Fasilitas Perdagangan dan Jumlah Unit
Jasa
Toko 365
Pertokoan 63
Pasar 6
Bank 27
Total 461
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu,2021
Gambar 3.2
Sarana Perdagangan dan Jasa di Kawasan Perkotaan
Somba Opu Opu Tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


53
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
400 365

300

200

100 63
27
6
0

Warung Pertokoan Pasar Bank

Diagram 3.1
Sarana Perdagangan dan Jasa di Kawasan
Perencanaan
c) Perkantoran
Perkantoran merupakan tempat atau ruangan
penyelenggaraan kegiatan pengumpulan, pencatatan,
pengolahan, penyimpangan, dan pendistribusian atau
penyampaian data/informasi. Kantor juga sering
diartikan pemusatan kegiatan peng umpulan, kegiatan
yang bersifat administrative atau tepatnya kegiatan-
kegiatan yang bersifat manajerial dan fasilitatif.
Gambar 3.3
Sarana Perkantoran di Kawasan Perencanaan tahun
2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021


d) Sarana Kesehatan
Dalam UU no. 23 Tahun 1992 pasal 1 tentang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa,

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


54
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Upaya kesehatan
adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan Fasilitas pelayanan kesehatan atau
fasilitas kesehatan adalah setiap lokasi yang
menyediakan pelayanan.
Tabel 3.10
Sarana Kesehatan di Kawasan Perencanaan
Fasilitas Kesehatan Jumlah Unit
Rumah Sakit Umum 2
Rumah Sakit Bersalin -
Politeknik/Balai Pengobatan 15
Puskesmas 2
Apotik 57
Total 73
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu,2021
Gambar 3.4
Sarana Kesehatan di Kawasan Perencanaan tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


55
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

60 Rumah Sakit
50 Umum
40
Rumah Sakit
30 Bersalin
20
10 Politeknik/B
alai
Puskesmas
0 Pengobatan

Diagram 3.2
Sarana Kesehatan di Kawasan Perencanaan

e) Fasilitas Peribadatan
Tempat peribadatan adalah sebuah tempat yang
digunakan oleh umat beragama untuk beribadah
menurut ajaran agama atau kepercayaan mereka
masing-masing.
Tabel 3.11
Fasilitas Beribadatan di Kawasan Perencanaan
No Fasilitas Peribadatan Jumlah Unit
1 Mesjid 164
2 Langgar/Surau 15
3 Gereja 5
Jumlah 184
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu, 2021
Gambar 3.5
Fasilitas Peribadatan di Kawasan Perkotaan Somba
Opu tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


56
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

200
Masjid
150

100 Langgar/Su
rau
50
Gereja
0

Diagram 3.3
Fasilitas Peribadatan di Kawasan Perencanaan

f) Fasilitas Olahraga
Fasilitas Olahraga adalah suatu tempat yang digunakan
untuk melaksanakan kegiatan olahraga. Adapun kondisi
yang terkait fasilitas olahraga di Kawasan Perencanaan
sudah dikategorikan baik karena Nampak dari
bangunan gedung olahraga yang besar dan bersih serta
fasilitasnya lengkap.
Tabel 3.12
Fasilitas Olahraga di Kawasan Perencanaan
No Jenis Fasilitas Jumlah
1 Lapangan Sepak Bola 9
2 Lapangan Voli 9
3 Lapangan Bulu Tangkis 11
4 Lapangan Tenis 11
5 Lapangan Tenis Meja 9
6 Lapangan Futsal 10
7 Kolam Renang 10
8 Lapangan Bela Diri 10
9 Lapangan Bilyard 10
10 Lapangan Kebugaran (Senam, 8
Fitnes)
11 Lapangan Basket 12

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


57
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
No Jenis Fasilitas Jumlah
Total 109
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu, 2021
Gambar 3.6
Fasilitas Olahraga di Kawasan Perencanaan tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

15 12
11 11 10 10 10 10
9 9 9 8
10
5
0

Sepak Bola Voly Bulu Tangkis


Tenis Tenis Meja Futsal
Kolam Renang Bela Diri Bilyard
Gym Basket

Diagram 3.4
Sarana Olahraga di Kawasan Perencanaan

g) Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah fasilitas yang digunakan
untuk mendukung kegiatan belajar dalam mencapai
tujuan pendidikan.
Tabel 3.13
Sarana Pendidikan di Kawasan Perencanaan
Jenis Fasilitas Status Jumlah
Pendidikan Negeri Swasta Unit
TK - 57 57
SD 39 9 47

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


58
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Jenis Fasilitas Status Jumlah
Pendidikan Negeri Swasta Unit
Madrasah Ibtidaiyah - 3 3
(MI)
SMP 4 12 16
Madrasah 1 7 8
Tsanawiyah (MTs)
SMA 3 10 13
Madrasah Aliyah
- 6 6
(MA)
SMK 2 6 8
Perguruan Tinggi 1 7 8
Jumlah 166
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu, 2021
Gambar 3.7
Sarana Pendidikan di Kawasan Perencanaan tahun
2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

60

40

20

TK SD SMP SMA PERGURUAN TINGGI

Diagram 3.5
Sarana Pendidikan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


59
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
h) Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri Pu
No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan
Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area
memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang
penggunaanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah
maupun yang sengaja ditanam. Adapun visualisasi
sarana RTH yang ada dikawaasan perencanaan sebagai
berikut
Tabel 3.14
Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan
Perencanaan

No Fasilitas RTH Jumlah Unit


1 Taman dan Lapangan 3
2 Pemakaman Umum 6
Jumlah 9
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu, 2021
Gambar 3.8
Sarana RTH di Kawasan Perencanaan tahun 2021

Sumber : Hasil Observasi Lapangan 2021

10
Pemakaman

5
Taman dan
Lapangan
0

Diagram 3.6
Sarana Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


60
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.13
Peta Kondisi Sarana Permukiman di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


61
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.14
Peta Kondisi Sarana Perdagangan dan Jasa di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


62
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.15
Peta Kondisi Sarana Perkantoran di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


63
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.16
Peta Kondisi Sarana Kesehatan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


64
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.17
Peta Kondisi Fasilitas Peribadatan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


65
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.18
Peta Kondisi Fasilitas Olahraga di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


66
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.19
Peta Kondisi Sarana Pendidikan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


67
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.20
Peta Kondisi Sarana Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


68
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
3) Kondisi Prasarana
Prasarana merupakan suatu fasilitas yang mampu menunjang
pelaksanaan suatu proses ataupun kegiatan. Prasarana adalah
kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan, kawasan, kota,
atau wilayah (spatial space) sehingga memungkinkan ruang
tersebut sebagaimana mestinya. Berdasarkan hasil survei
terdapat beberapa prasarana di Kawasan Perencanaan, antara
lain :
a) Jaringan Drainase
Drainase adalah lengkungan atau saluran air di
permukaan atau di bawah tanah, baik yang terbentuk
secara alami maupun dibuat manusia. Dalam bahasa
Indonesia, drainase bisa merujuk pada parit di
permukaan tanah atau gorong – gorong dibawah tanah.
Drainase berperan penting untuk mengatur suplai air
demi pencegahan banjir.
Drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum
yang di butuhkan masyarakat kota dalam rangka
menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih dan
sehat. Prsarana drainase berfungsi untuk mengalirkan
air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan
bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan.
Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan
air permukaaan, dan genangan air sehinggah tidak ada
akumulasi air tanah.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


69
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Gambar 3.9
Jaringan Drainase di Kawasan Perencanaan tahun
2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


70
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.21
Peta Kondisi Jaringan Drainase Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


71
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b) Jaringan Air Bersih
Air bersih adalah air yang layak di gunakan untuk
keperluan keluarga atau rumah tangga karena telah
memenuhi syarat. Air bersih merupakan salah satu
kebutuhan manusia untuk memenuhi standar kehidupan
manusia secara sehat.Ketersediaan air yang terjangkau
dan berkelanjutan menjadi bagian terpenting bagi setiap
individu baik yang tinggal di perkotaan maupun di
perdesaan. Oleh karena itu, ketersediaan air dapat
menurunkan water borne disease sekaligus dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun
sampai dengan tahun 2000, berdasarkan data
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, baru
sekitar 19% penduduk Indonesia di mana 45% nya
adalah penduduk perkotaan yang dapat menikmati air
bersih dengan sistem perpipaan. Sedangkan di daerah
perdesaan, berdasarkan data yang sama, hanya sekitar
10% penduduk desa yang menggunakan system
perpipaan, 50% menggunakan system non perpipaaan,
dan sisanya sebesar 49% penduduk desa menggunakan
air yang bersumber dari sumur gali, dan sumber air
yang tidak terlindungi. Air bersih merupakan bagian
penting dalam kehidupan manusia, sehingga
ketersediaan air bersih sangat berpengaruh bagi
kehidupan manusia. Pengaruh dari ketersediaan air
bersih tidak hanya pada kebutuhan rumah tangga, tetapi
berpengaruh pada sektor sosial, ekonomi, maupun
fasilitas umum, seiring dengan tingkat pertumbuhan
penduduk.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


72
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.15
Sumber Air Minum di Kawasan Perencanaan
Sumber Air Minum Jumlah
Air Kemasan Bermerek -
Air Isi Ulang 14
Ledeng Dengan Meteran -
Ledeng Tanpa Meteran -
Sumur Bor atau Pompa -
Sumur -
Mata Air -
Sumber : BPS Kecamatan Somba Opu 2021

Diagram 3. Banyaknya Kelurahan Menurut Sumber Air Minum Sebagian


Besar keluarga di Kecamatan Somba Opu 2021

Jumlah
15
10
5
0
Air Kemasan Air Isi Ulang Ledeng Dengan Ledeng Tanpa
Bermerek Meteran Meteran

Jumlah

Gambar 3.10
Jaringan Air bersih di Kawasan Perencanaan tahun
2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


73
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.22
Peta Kondisi Jaringan Air Bersih Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


74
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
c) Jaringan Listrik
Jaringan listrik adalah sistem listrik yang terdiri dari
hantaran dan peralatan listrik yang terhubung satu sama
lain untuk menyalurkan tenaga listrik. Menurut UU
No.30 Tahun 2009 tentang ketenagalistrikan,
ketenegalistrikan adalah segala sesuatu yang
menyangkut penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik
serta usaha penunjang tenaga listrikk.Tenaga listrik
adalah suatu bentuk energi sekunder yang
dibangkitkan, ditransmisikan, dan didistribusikan untuk
segala macam keperluan, tetapi tidak meliputi listrik
yang dipakai untuk komunikasi, elektronika, atau
isyarat. Jaringan listrik di Kawasaan Perencanaan
semuanya sudah di kategorikan baik. Peningkatan
pelayanan prasarana listrik tentu akan meningkatkan
daya tarik suatu wilayah, sehingga permukiman di
wilayah tersebut akan berkembang, baik jumlah
maupun polanya. Terkait dengan kondisi tegangan
menengah memiliki kondisi baik terlihat dari kondisi
fisik maupun fungsinya. Letak dari saluran udara
tegangan tinggi mengikuti jalur jalan arteri dan jalan
kolektor sedangkan saluran udara tegangan menengah
mengikuti jalur jalan local. Semua masyarakat di
Kawasan Perencanaan seluruhnya sudah menggunakan
listrik yang bersumber dari PLN, namun dominan
masyarakat menggunakan meteran listrik pascabayar
dibandingkan dengan meteran listrik prabayar atau
meteran token.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


75
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

Sumber: Bps Kecamatan Somba Opu 2021

Diagram3.7 Banyaknya Keluarga Menurut Kelurahan Dan Jenis


Pengguna Listrik Di Kecamatan Somba Opu 2021

Gambar 3.11
Jaringan Listrik di Kawasan Perencanaan tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


76
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.23
Peta Kondisi Jaringan Listrik di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


77
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
d) Jaringan Telekomunikasi
Jaringan telekomunikasi adalah rangkaian perangkat
telekomuniksi dan kelengkapannya yang di gunakan
dalam melakukan aktivitas telekomunikasi. Jaringan
telekomunikasi merupakan bagian dari kegiatan
penyelenggara telekomunikasi yang telah diatur oleh
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik
Indonesia.
Jumlah Menara dan Operator Layanan Telkomunikasi menurut Kelurahan di
Kecamatan Somba Opu,2021

Gambar 3.12
Jaringan Telekomunikasi di Kawasan Perencanaan
tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


78
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.24
Peta Kondisi Jaringan Telekomunikasi Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


79
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
e) Jaringan Persampahan
Sampah adalah material sisa yang dibuang sebagai hasil
dari proses produksi, baik itu industri maupun rumah
tangga. Defenisi lain dari sampah adalah sesuatu yang
tidak diinginkan oleh manusia setelah proses
penggunaannya berakhir.Adapun yang di maksud
material sisa adalah sesuatu yang berasal dari manusia,
hewan, ataupun tumbuhan yang sudah tidak terpakai.
Wujud dari sampah tersebut biasa dalam bentuk padat,
cair, ataupun gas.
Gambar 3.13
Jaringan Persampahan di Kawasan Perencanaan
tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


80
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.25
Peta Kondisi Jaringan Persampahan Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


81
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
f) Prasarana Air Limbah
Air limbah adalah air yang telah mengalami penurunan
kualitas karena pengaruh manusia. Air limbah
perkotaan biasanya di alirkan yang telah di olah di
lepaskan ke badan air penerima melalui saluran
pengeluaran. Air limbah, limbah perkotaan dapat
tercampur dengan berbagai kotoran seperti feses
maupun urine.
Gambar 3.14
Prasarana Air Limbah di Kawasan Perencanaan
tahun 2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


82
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.26
Peta Kondisi Jaringan Air Limbah Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


83
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
g) Prasarana Transportasi
Menurut UU RI no.38 Tahun 2004, jalan sebagai salah
satu prasarana transportasi merupakan unsur penting
dalam pengembangan kehidupan berbangsa dan
bernegara, dalam pembinaan persatuan dan kesatuan
bangsa,wilayah Negara dam fungsi masyarakat sertas
dalam memajukan kesejahteraan.
Gambar 3.15
Prasana Transportasi di Kawasan Perencanaan tahun
2021

Sumber : Hasil observasi lapangan 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


84
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.27
Peta Jaringan Jalan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


85
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
c. Kondisi Sosial dan Kependudukan
1) Perkembangan Jumlah Penduduk
a) Sebaran Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di Kawasan Perencanaan berjumlah
1.562 km². Untuk lebih lengkapnya seperti pada
penjelasan berikut :
Tabel 3.15
Kepadatan Penduduk Menurut Kelurahan di Kawasan
Perencanaan
Kepadatan Penduduk
Kelurahan
per km²
Pandang Pandang 3 304
Sungguminasa 5 190
Tompobalang 6 876
Batangkaluku 10 821
Tamarunang 7 850
Romangpolong 3 573
Bonto Bontoa 8 175
Kalegowa 2 338
Katangka 7 179
Tombolo 7 856
Paccinongan 7 129
Samata 6 934
Jumlah 1 562
Sumber data : Kecamatan Somba Opu dalam Angka 2021
b) Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Pada tahun 2020 total penduduk di Kawasan Perencanaan
adalah 146.169 jiwa, terdiri dari 72.440 laki-laki dan
73.729 perempuan. Nilai rasio jenis kelamin di Kawasan
Perencanaan sebebesar 98. Untuk lebih lengkapnya seperti
pada penjelasan berikut:

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


86
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.16
Jumlah Penduduk Kelurahan Menurut Jenis Kelamin di
Kawasan Perencanaan tahun 2020
Rasio
Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah Jenis
Kelamin
Pandang
3 501 3 635 7 136 96
Pandang
Sungguminasa 3 710 3 867 7 577 96
Tompobalang 6 129 6 247 12 376 98
Batangkaluku 7 000 7 067 14 067 99
Tamarunang 8 507 8 450 16 957 101
Romangpolong 4781 4 903 9 684 98
Bonto-Bontoa 6 551 6 611 13 162 99
Kalegowa 1 359 1 470 2 829 92
Katangka 4 812 4 952 9 764 97
Tombolo 8 068 8 115 16 183 99
Paccinongan 13 096 13 353 26 449 98

Samata 4 926 5 059 9 985 97


Jumlah 72 440 73 729 146.169 98
Sumber data : Kecamatan Somba Opu dalam Angka 2021
c) Penduduk Menurut Agama
Berdasarkan data Kecamatan Somba Opu Tahun 2021
jumlah penduduk di Kawasan Perencanaan dirinci
berdasarkan Agama dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.17
Penduduk Menurut Agama di Kawasan Perencanaan
No Agama Jumlah Penduduk
1 Islam 11 4233
2 Kristen Protestan 16554
3 Kristen Katholik 14323
4 Hindu 6422
5 Budha 3498
6 Kong Huchu 1348
Total 156378
Sumber : Kecamatan Somba Opu Tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


87
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
d) Penduduk Menurut Pendidikan
Berdasarkan data Kecamatan Somba Opu Tahun 2021
jumlah penduduk di Kawasan Perencanaan dirinci
berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 3.18
Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan di Kawasan
Perencanaan
No Pendidikan Jumlah Penduduk
1 Belum Sekolah 13765
2 Tidak/belum tamat SD 9757
3 Tamat SD 15761
4 Tamat SLTP 16722
5 Tamat SLTA 24634
6 Sarjana Muda (D3) 3996
7 Sarjana (S1) 6802
8 Pasca Sarjana (S2) 1868
9 Pasca (S3),dll 203
10 Tamat AK/PT,dll 709
Jumlah 94217
Sumber : Kecamatan Somba Opu tahun 2021

Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk menurut


pendidikan di dominasi oleh penduduk yang tamat
SLTA/SMA dan yang paling sedikit yaitu penduduk Pasca
(S3).
e) Penduduk Menurut Pekerjaan
Berdasarkan data Kecamatan Somba Opu Tahun 2021
Kawasan Perencanaan dirinci berdasarkan jenis pekerjaan
dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


88
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.19
Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan di Kawasan
Perencanaan
No Pendidikan Jumlah Penduduk
1 Petani 2666
2 Pelajar/Mahasiswa 22131
3 Pegawai Swasta 6026
4 Pedagang 2062
5 Pegawai Negri Sipil 4057
6 TNI/ABRI 832
7 Buruh Swasta 8730
8 Pengrajin 177
9 Penjahit 206
10 Tukang Kayu 575
11 Dokter 92
12 Sopir/Pengemudi 557
13 Pengusaha 2863
14 Pegawai BUMN 1585
15 Tidak Kerja 13988
16 dll 6195
Jumlah 72742
Sumber : Kecamatan Somba Opu 2021
Berdasarkan tabel diatas bahwa jumlah penduduk
berdasarkan pekerjaan di dominasi oleh penduduk yang
belum bekerja sebanyak 13.988 jiwa.
d. Kondisi Ekonomi
Mengenai kondisi ekonomi suatu daera berkaitan erat dengan
PDRB daerah tersebut. Berikut merupakan data PDRB Kabupaten
Gowa 5 tahun terakhir yaitu tahun 2016-2020.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


89
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.20
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Gowa Atas Dasar Harga
Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2016 - 2020 (Milyar rupiah)

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Milyar Rupiah)


No. Lapangan Usaha
2016 2017 2018 2019 2020
1 Pertanian. Kehutanan. dan Perikanan 4796,25 5173,38 5558,32 5655,58 5943,99
2 Pertambangan dan Penggalian 660,11 752,07 871,13 1009,87 1043,47
3 Industri Pengolahan 1025,81 1154,82 1240,12 1420,32 1353,25
4 Pengadaan Listrik dan Gas 17,95 22,56 24,98 26,14 27,25
Pengadaan Air. Pengelolaan Sampah.
5 Limbah dan Daur Ulang 17,75 19,49 21,60 23,15 24,63
6 Konstruksi 1611,44 1834,92 2148,13 2487,30 2503,09
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
7 Mobil dan Sepeda Motor 1806,23 2116,44 2425,50 2745,92 2714,68
8 Transportasi dan Pergudangan 258,24 282,19 309,87 351,20 343,25
Penyediaan Akomodasi dan MakanMinum
9 365,78 417,35 467,97 517,15 476,02
10 Informasi dan Komunikasi 1203,07 1351,28 1524,25 1718,64 1910,64
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 412,60 440,64 476,99 503,29 522,86
12 Real Estate 1320,04 1446,37 1580,47 1712,99 1801,61
13 Jasa Perusahaan 17,54 19,58 22,26 25,02 22,79
Administrasi Pemerintahan. Pertahanan dan
14 Jaminan Sosial Wajib 856,20 918,47 995,96 1200,77 1218,53
15 Jasa Pendidikan 608,39 678,72 763,38 828,21 885,00
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 279,73 314,56 352,81 390,88 448,89
17 Jasa lainnya 214,00 249,81 288,28 322,44 291,92
Jumlah 15471,11 17192,66 19071,98 20938,87 21531,88
Sumber data: Kabupaten Gowa dalam Angka 2021
1) Pendapatan Perkapita
Berdasarkan data PDRB Kabupaten Gowa yang ada diatas
dapat disimpulkan bahwa secara umum pendapatan perkapita
Kabupaten Gowa yang didalamnya meliputi Kawasan
Perencanaan yaitu 1,8juta. Pendapatan perkapita di hasilkan
dari PDRB harga konstan dibagi dengan jumlah penduduk.
2) Kecenderungan Perubahan Struktur Ekonomi
Dengan melihat data PDRB Kabupaten Gowa 5 tahun
terakhir seperti yang ada diatas dapat disimpulkan bahwa
kecenderungan perubahan ekonomi Kabupaten Gowa yang
didalamnya meliputi Kawasan Perencanaan mengalami

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


90
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
peningkatan 5 tahun terakhir ini. Dan yang paling dominan di
tahun terakhir yaitu Perdangan besar dan eceran dengan nilai
2714,68 miliyar dan yang paling terendah jasa perusahaan
dengan nilai 22,79.
e. Kondisi Kelembagaan
1) Kelembagaan Pemerintah
Kelembagaan pemeritah yang terdapat di lokasi perencanaan
yaitu sebagai berikut :
a) Kecamatan
Kecamatan juga dipandang sebagai Perangkat Daerah
dari Kabupaten/Kota (Perangkat Daerah adalah unsur
pembantu kepala daerah dan DPRD dalam
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah, berdasarkan ketentuan Pasal 209
ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pememerintahan Daerah yang menyatakan bahwa:
“Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas:
sekretariat daerah, sekretariat DPRD, inspektorat, dinas,
badan; dan Kecamatan.”
Jadi berdasarkan uraian-uraian tersebut, dapat dipahami
bahwa dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan di
Negara Kesatuan Republik Indonesia posisi Kecamatan
berkedudukan sebagai perangkat daerah kabupaten/kota
sekaligus penyelenggara pemerintahan umum (lihat
pengertian wilayah administratif pada pasal 1 angka 13
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pememerintahan Daerah). Sebagai perangkat daerah,
Camat melaksanakan sebagian kewenangan Bupati/Wali
Kota yang dilimpahkan dan sebagai penyelenggara
pemerintahan umum, Camat secara berjenjang
melaksanakan tugas Pemerintah Pusat di Wilayah

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


91
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Kecamatan. Di lokasi perencanaan terdapat satu kantor
camat yaitu kantor camat Somba Opu yang terletak di
Kelurahan Bonto-Bontoa.
b) Kantor Urusan Agama
Keputusan Menteri Agama No. 517 Tahun 2001 tentang
Penataan Organisasi Kantor Urusan Agama Kecamatan,
tugas KUA adalah melaksanakan sebagian tugas Kantor
Departemen Agama Kabupaten dan Kota dibidang
Urusan Agama Islam dalam wilayah Kecamatan.
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, maka KUA
melaksanakan fungsi: menyelenggarakan statsistik dan
dokumentasi, menyelenggarakan surat menyurat,
kearsipan, pengetikan, dan rumah tangga KUA
Kecamatan; dan melaksanakan pencatatan nikah, rujuk,
mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul
maal dan ibadah sosial, kependudukan dan
pengembangan keluarga sakinah sesuai dengan
kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam
berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Di lokasi perencanaan Kantor Urusan Agama (KUA)
terdapat di Jl. Mesjid Raya, Kelurahan Sungguminasa,
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
c) Polsek
Secara umum Polsek sebagai delegasi Polri terdepan di
tingkat Kecamatan memilki peran sentral sebagai
pelaksana teknis yang langsung bersentuhan dengan
masyarakat, wujud dan peran tersebut dapat dilihat dan
dirasakan langsung mulai dari pelosok pedalaman
sampai pelayanan Polsek di wilayah Perkotaan, esensi
kehadiran Polsek merupakan implementasi dari Program
– program Polri dan Polda. Di lokasi perencanaan Kantor

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


92
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Polsek terdapat di Jl. Malino, Kelurahan Tompobalang,
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
2) Kelembagaan Masyarakat
Adapun kelembagaan masyarakat yang terdapat di lokasi
perencanaan yaitu sebagai berikut :
a) Rukun Tetangga (RT)
RT (Rukun Tetangga) adalah organisasi yang ada di
lingkungan masyarakat dengan proses pembentukanya
dilakukan berdasarkan kedekatan alam tempat tinggal
yang bisa disebut saling bertetangga. Sehingga dalam hal
ini setiap anggota-anggota RT terdiri dari para kepala
keluarga yang saling bertetangga satu sama lainnya.
Adapun untuk beberapa tugas dan fungsi adanya Rukun
Tetangga dalam kehidupan masyarakat, antara lain adalah
sebagai berikut; membina kerukunan hidup, membentuk
program kerja, membantu kelancaran adminsitrasi
kependudukan. Di lokasi perencanaan terdapat total 444
RT yang terdiri dari 23 RT dari kelurahan Pandang
Pandang, 21 RT dari kelurahan Sungguminasa, 30 RT dari
Tompobalang,32 RT dari kelurahan batangkaluku, 74 RT
dari kelurahan Tamarunang, 39 RT dari kelurahan
Romangpolong, 22 RT dari kelurahan Bonto bontoa, 9 RT
dari kelurahan Kalegowa, 23 RT dari kelurahan Katangka,
50 RT dari kelurahan Tombolo, 93 RT dari kelurahan
Paccinongan dan 28 RT dari kelurahan Samata.
b) Rukun Warga (RW)
Rukun Warga adalah suatu lembaga masyarakat yang
berfungsi untuk melayani masyarakat yang bertempat di
wilayah kerjanya. Pembentukan lembaga tersebut
ditentukan oleh musyawarah yang dilakukan ketua RT
sebagai bentuk hak dan kewajiban RT. Rukun Warga

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


93
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
berfungsi untuk membantu peningkatan kelancaran tugas
pemerintah, baik dari segi pelayanan maupun
pembangunan, di tingkat kelurahan. Lembaga ini juga
yang ikut berperan dalam melestarikan nilai-nilai
bermasyarakat yang berdasarkan kegotongroyongan dan
kekeluargaan. Tentunya membina masyarakat bukan suatu
tugas yang mudah karena setiap RW terdiri dari dari
minimal 3 (tiga) RT dan maksimal 10 (sepuluh) RT
dimana masing-masing RT terdiri dari minimal 10
(sepuluh) KK (Kartu Keluarga) dan maksimal 50 (lima
puluh) KK. Di lokasi perencanaan terdapat total 127 RT
yang terdiri dari 10 RW dari kelurahan Pandang Pandang,
8 RW dari kelurahan Sungguminasa, 11 RW dari
Tompobalang, 8 RW dari kelurahan batangkaluku,14 RW
dari kelurahan Tamarunang, 13 RW dari kelurahan
Romangpolong, 5 RW dari kelurahan Bonto bontoa,4 RW
dari kelurahan Kalegowa, 8 RW dari kelurahan
Katangka,13 RW dari kelurahan Tombolo, 25 RW dari
kelurahan Paccinongan dan 8 RW dari kelurahan Samata.
c) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga disingkat PKK,
adalah organisasi kemasyarakatan yang memberdayakan
wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan
Indonesia. PKK terkenal akan "10 program pokok"-nya.
10 Program Pokok PKK pada hakikatnya merupakan
kebutuhan dasar manusia, yaitu: Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila, Gotong Royong, Pangan,Sandang,
Perumahan dan Tatalaksana Rumah Tangga, Pendidikan
dan Keterampilan, Kesehatan, Pengembangan Kehidupan
Berkoperasi, Kelestarian Lingkungan Hidup dan
Perencanaan Sehat.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


94
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
d) Lembaga Adat
Pengertian lembaga adat menurut Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman
Penataan Lembaga Kemasyarakatan, Lembaga Adat
adalah Lembaga Kemasyarakatan baik yang sengaja
dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan
berkembang di dalam sejarah masyarakat atau dalam suatu
masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah hukum
dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut,
serta berhak dan berwenang untuk mengatur, mengurus
dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan
yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan
hukum adat yang berlaku.
Lembaga Adat berfungsi bersama pemerintah
merencanakan, mengarahkan, mensinergikan program
pembangunan agar sesuai dengan tata nilai adat istiadat
dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam
masyarakat demi terwujudnya keselarasan, keserasian,
keseimbangan, keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Lembaga adat berfungsi sebagai alat kontrol
keamanan, ketenteraman, kerukunan, dan ketertiban
masyarakat, baik preventif maupun represif, antara lain:
Menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan; dan
Penengah (Hakim Perdamaian) mendamaikan sengketa
yang timbul di masyarakat.
e) Linmas
Pengertian Satuan Perlindungan Masyarakat dapat
ditemukan pada Peraturan menteri Dalam Negeri Nomor
10 Tahun 2009 tentang Penugasan Satuan Perlindungan
Masyarakat Dalam Penanganan Ketenteraman, Ketertiban,
Dan Keamanan Penyelenggaraan Pemilihan Umum pada

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


95
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
pasal 1 butir 1 yaitu : Satuan Perlindungan Masyarakat
yang selanjutnya disebut Satuan Linmas adalah warga
masyarakat yang disiapkan dan dibekali pengetahuan serta
keterampilan untuk melaksanakan kegiatan penanganan
bencana guna mengurangi dan memperkecil akibat
bencana, serta ikut memelihara keamanan, ketentraman
dan ketertiban masyarakat, kegiatan sosial
kemasyarakatan. Tugas Linmas :
• Mengumpulkan dan menganalisa data dan informasi
satuan perlindungan.
• Masyarakat serta pengamanan swakarsa.
• Menyusun prosedur tetap, petunjuk teknis dan
pelaksanaan satuan perlindungan masyarakat serta
pengamanan swakarsa.
• Mengidentifikasi dan menyusun usulan sarana
prasarana satuan perlindungan masyarakat dan
pengamanan swakarsa.
• Menyusun kebutuhan satuan perlindungan masyarakat
yang bertugas di TPS dan teknis pelaksanaan
pembekalan pada pemilu.
• Menyiapkan satuan perlindungan masyarakat dalam
rangka mendukung pengamanan penyelenggaraan
pemilu.
• Menyiapkan dan melakukan kesiapsiagaan satuan
perlindungan masyarakat untuk penugasan, pencarian,
pertolongan dan penyelamatan korban bencana;
• Mengkoordinasikan dan bekerjasama dengan instansi
terkait dalam pengembangan satuan perlindungan
masyarakat.
• Membuka pos pantau bencana sebagai media
informasi satuan perlindungan masyarakat.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


96
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
• Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala
Bidang.
B. Analisis Mikro Wilayah ( Kawasan Perencanaan)
1. Analisis Potensi dan permasalahan
Untuk mengetahui potensi dan permasalahan yang ada di Kawasan
Perencanaan, kami menggunakan analisis deskriptif. Dimana analisis
deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau
masalah agar lebih mudah dipahami. Berikut merupakan potensi dan
permasalahan yang ada di Kawasan Perencanaan :
a. Potensi Kawasan Perencanaan Adapun potensi yang ada di
Kawasan Perencanaan kami yaitu :
1) Sebagai Pusat Kegiatan Nasional
2) Sebagai Ibukota Kabupaten Gowa
3) Sektor Pariwisata
Pada lokasi perencanaan terdapat Wisata Makam Syekh Yusuf
dan Makam Sultan Hasanuddin, Mesjid Tua Katangka dan
Obyek Wisata Balla Lompoa dan Makam Arung Palakka yang
menjadi objek wisata bagi masyarakat setempat maupun daerah
sekitarnya. Dimana dengan adanya objek wisata ini dapat
memberikan pemasukan terhadap pemerintah daerah di
Kawasan Perencanaan dengan adanya tarif restribusi yang harus
dibayar oleh pengunjung di saat berkunjung. Objek wisata
tersebut harus terus ditingkatkan aksesibilitasnya, di tingkatkan
pelayanan dan juga promosinya agar lebih menarik pengunjung
dari daerah lain.
4) Sektor Perdagangan dan jasa
Berdasarkan RTRW Kabupaten Gowa, dimana pada lokasi
perencanaan terdapat Pasar Induk Regional dan Lokal
Mamminasata yang menjadi peruntukan pusat perbelanjaan yang
dapat melayani berbagai kegiatan ekonomi baik dari masyarakat
di wilayah tersebut maupun dari wilayah sekitarnya.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


97
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Permasalahan di Kawasan Perencanaan Adapun potensi yang ada
di Kawasan Perencanaan kami yaitu :
1) Adanya okupansi lahan dan kurang optimalnya pengendalian di
sempadan sungai meningkatkan risiko bencana banjir
2)
2. Analisis struktur Wilayah Penelitian
a. Analisis sistem pusat pelayanan;
Untuk menentukan sistem pusat pelayanan yang ada di Kawasan
Perencanaan kami menggunakan analisis skalogram. Dimana
keluaran dari anallisis skalogram adalah hierarksi pusat
pelayanan di Kawasan Perencanaan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.21
Analisis Skalogram
Fasilitas Pendidikan Fasilitas Kesehatan Fasilitas Peribadatan
No Kelurahan ∑ Penduduk Kelengkapan Rangking
A₁ A₂ A₃ A₄ A₅ B₁ B₂ B₃ B₄ B₅ C₁ C₂ C₃ C₄ C₅
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 21

1 Pandang Pandang 7 136 1 3 1 2 0 0 6 0 0 5 9 0 0 0 18 7 IV

2 Paccinongan 26 449 10 7 1 2 2 0 11 0 0 2 27 1 0 0 18 9 II
3 Tompobalang 12 376 5 2 1 1 0 0 2 0 0 1 13 0 3 0 18 8 III
4 Batangkaluku 14 067 4 3 2 2 1 1 5 0 0 0 17 3 1 0 18 10 I

5 Tamarunang 16 957 8 4 0 0 0 0 3 0 0 1 15 2 0 0 18 6 V

6 Romangpolong 9 684 5 4 2 2 1 0 5 1 0 1 16 2 0 0 18 10 I

7 Bonto Bontoa 13 162 6 6 2 2 1 0 6 0 0 3 15 1 0 0 18 9 II


8 Kalegowa 2 829 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 18 2 VII
9 Katangka 9 764 3 5 0 0 0 0 2 0 0 0 9 1 0 0 18 5 VI
10 Tombolo 16 183 5 6 1 1 3 0 5 0 0 1 19 2 0 0 18 9 II
11 Sungguminasa 7 577 5 5 5 1 0 0 8 1 0 1 7 2 1 0 18 10 I
12 Samata 9 985 4 1 1 0 0 1 4 0 0 0 15 1 0 0 18 7 IV
Jumlah 146169 57 46 16 8 10 2 57 2 0 15 164 15 4 0 18 92
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Keterangan :
A₁ = TK B₁ = Rumah sakit C₁ = Masjid
A₂ = SD B₂ = Apotik C₂ = Surau/Langgar
A₃ = SMP B₃ = Puskesmas C₃ = Gereja
A₄ = SMA B₄ = Posyandu C₄ = Pura
C₅ = Vihara
A₅ = PT B₅ = Poliklinik

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


98
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.22
Analisis Persebaran Penduduk
Kepadatan Penduduk Jumlah Kepadatan
Luas Luas Wilayah % Lahan Ʃ
No Kelurahan (jiwa/km²) Bangunan Bangunan/km²
Wilayah(km²) Terbangun Terbangun Penduduk
Kotor Bersih (Unit) Kotor Bersih
Pandang
1 216 214080 4,88 7136 33,0 0,033 1427,2 6,61 0,0067
Pandang
2 Paccinongan 146 227310 5,18 7577 51,9 0,033 1515,4 10,38 0,01
3 Tompobalang 180 371280 8,47 12376 68,8 0,033 2475,2 13,75 0,0067
4 Batangkaluku 130 422010 9,62 14067 108,2 0,033 2813,4 21,64 0,0067
5 Tamarunang 216 508710 11,60 16957 78,5 0,033 3391,4 15,70 0,0067
6 Romangpolong 271 290520 6,63 9684 35,7 0,033 1936,8 7,15 0,0067
7 Bonto Bontoa 161 394860 9,00 13162 81,8 0,033 2632,4 16,35 0,0067
8 Kalegowa 121 84870 1,94 2829 23,4 0,033 565,8 4,68 0,0067
9 Katangka 136 292920 6,68 9764 71,8 0,033 1952,8 14,36 0,0067
10 Tombolo 206 485490 11,07 16183 78,6 0,033 3236,6 15,71 0,0067
11 Sungguminasa 371 793470 18,09 26449 71,3 0,033 5289,8 14,26 0,0067
12 Samata 144 299550 6,83 9985 69,3 0,033 1997 13,87 0,0067
Jumlah 2298 4385070 100,00 146169 772,3 0,400 29233,8 154,45 0,08
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Tabel 3.23
Analisis Tingkat Keurbanan
Luas Terbangun Kepadatan Penduduk Kelengkapan
Kepadatan Bangunan Tabel
No Kelurahan (Ha) Bersih fasilitas
Nilai
% Kls Nilai Pddk/Ha Kls Nilai Bangunan/Ha Kls Nilai Ʃ Kls Nilai
Pandang
1 4,88 R 1 0,033 R 1 1427,2 T 5 7 S 3 10
Pandang
2 Paccinongan 5,18 R 1 0,033 R 1 1515,4 T 5 10 T 5 12
3 Tompobalang 8,47 R 1 0,033 R 1 2475,2 T 5 8 S 3 10
4 Batangkaluku 9,62 R 1 0,033 R 1 2813,4 T 5 10 T 5 12
5 Tamarunang 11,6 S 3 0,033 R 1 3391,4 T 5 6 R 2 11
6 Romangpolong 6,63 R 1 0,033 R 1 1936,8 T 5 10 T 5 12
7 Bonto Bontoa 9 R 1 0,033 R 1 2632,4 T 5 9 S 3 10
8 Kalegowa 1,94 R 1 0,033 R 1 565,8 T 5 2 SR 1 8
9 Katangka 6,68 R 1 0,033 R 1 1952,8 T 5 5 R 2 9
10 Tombolo 11,1 S 3 0,033 R 1 3236,6 T 5 9 S 3 12
11 Sungguminasa 28,1 T 5 0,033 R 1 5289,8 T 5 9 S 3 14
12 Samata 6,83 R 1 0,033 R 1 1997 T 5 7 S 3 10
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


99
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.24
Pusat Pelayanan
Total Nilai Orde Pusat
No. Kelurahan Kekotaan
(Skor) Sub Sistem

1 Sungguminasa 14 Orde I Pusat Pelayanan Kota


2 Paccinongan 12
3 Batangkaluku 12 Sub Pusat Pelayanan
Orde II
Kota
4 Romangpolong 12
5 Tombolo 12
6 Tamarung 11
7 Pandang Pandang 10 Pusat Pelayanan
8 Tompobalang 10 Orde III
Kecamatan
9 Bonto Bontoa 10
10 Samata 10
11 Katangka 9 Pusat Pelayanan
Orde IV
12 Kalegowa 8 Kelurahan
Sumber : Hasil Analisi Tahun 2021

Berdasarkan hasil analisis Skalogram maka dapat disimpulkan


bahwa yang merupakan Pusat Pelayanan Kota di Kawasan
Perencanaan yaitu Kelurahan Sungguminasa kerena pada
Kelurahan Sungguminasa mendominasi kelengkapan fasilitas
dan juga mendominasi kepadatan bangunan yang ada di
Kawasan Perencanaan, yang merupakan Sub Pusat Pelayanan
Kota yaitu Kelurahan Paccinongan, Kelurahan Batang Kaluku,
Kelurahan Romang Polong, dan Kelurahan Tombolo, pusat
pelayanan kecamatan yaitu Kelurahan Tamarung, Kelurahan
Pandang Pandang, Kelurahan Tompobalang, Kelurahan Bonto
Bontoa, dan Kelurahan Samata, karena pada kesepuluh
kelurahan ini peringkat kedua mendominasi kelengkapan
fasilitas yang dapat membantu Kelurahan Sungguminasa untuk
melayani di kawasan yang ada di Kawasan Perencanaan dalam
skala yang lebih kecil dari pusat kegiatan wilayah yaitu pusat
pelayanan kelurahan antara lain Kelurahan Kalegowa dan
Kelurahan Katangka untuk melayani wilayah kelurahan/desa.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


100
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.28
Peta Pusat Pelayanan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


101
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Analisis sistem jaringan jalan;
Untuk mengetahui sistem jaringan jalan di Kawasan
Perencanaan kami menggunakan analisis interaksi model
gravitasi. Analisis ini digunakan untuk mencari wilayah mana
yang berpotensi kuat dalam pertumbuhannya. Adanya interaksi
antara daerah menunjukkan eratnya hubungan antara wilayah 1
dengan wilayah 2 sebagai konsekuensi interaksi daerah dalam
teori pusat pertumbuhan. Dalam tulisan ini, kekuatan interaksi
dihitung berdasarkan ibukota kecamatan dan kelurahan
disekitarnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 3.25
Hasil Perhitungan Interaksi Model Gravitasi Antar Wilayah
Ibukota Jarak Besar
Kelurahan Jumlah Penduduk
Kecamatan (km) Interaksi
Pandang Pandang 2,4 7 136 434.609
Sungguminasa 1 7 577 1.107.522
Tompobalang 2,1 12 376 861.422
Batangkaluku 0,8 14 067 2.570.199
Tamarunang 2,9 16 957 854.685
Somba Romangpolong 3,6 9 684 393.194
146.169
Opu Bonto-Bontoa 0,9 13 162 2.137.640
Kalegowa 1,6 2 829 258.445
Katangka 2,2 9 764 648.724
Tombolo 1,3 16 183 1.819.579
Paccinongan 1,5 26 449 2.577.349
Samata 4,9 9 985 297.856
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Hasil perhitungan interaksi gravitasi antara kelurahan
Paccinongan menunjukkan angka tertinggi. Hal ini
menggambarkan tingkat interaksi yang terjadi antara kedua
kelurahan merupakan yang tertinggi. Mobilitas antara kedua
kelurahan tersebut merupakan yang tertinggi. Tentunya,
implikasi dari mobilitas yang tersebut yaitu interaksi kegiatan
ekonomi antara kedua kelurahan tersebut tinggi. Disamping
itu, faktor jarak antara kedua kelurahan yang dekat

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


102
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
mempermudah akses berpindah dan beraktivitas antar
kelurahan.
2. Analisis sistem penggunaan lahan (land use)
a. Analisis v simpangan antara pola ruang RTRW dan kondisi
eksisting
Analisis simpangan antara pola Ruang RTRW dan kondisi
Eksisting. Dalam peraturan RTRW memuat rencana-rencana
arahan pemanfaatan ruang dan pola ruang, akan tetapi
disebagian daerah di Indonesia kondisi eksisting di lapangan
belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan didalam peraturan RTRW. Dalam RTRW Kabupaten
Gowa Tahun 2012-2032 di Kawasan Perencanaan ditetapkan
sebagai kawasan pendayagunaan sumberdaya alam Berdasarkan
kondisi eksisting yang ada di Kawasan Perencanaan saat ini,
sebagian besar program yang ada di RTRW sudah terlaksana,
sebagai contoh, yaitu Pembuatan Batu Bara.
Penggunaan lahan adalah pola penggunaan lahan yang meliputi
persediaan tanah, peruntukan tanah dan penggunaan tanah serta
pemeliharaannya. Perencanaan Tata Ruang mencakup
perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang meliputi
tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna
sumber daya alam lainnya. Dari total luas wilayah yang dimiliki
kawasan perencanaan somba opu seluas 2.361 Ha. Maka dapat
dirincikan dalam berbagai jenis-jenis pola penggunaan lahan
yang ada di wilayah Kawasan Perencanaan sebagai berikut:

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


103
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.26
Analisis Simpangan Penggunaan Lahan di Kawasan
Perencanaan
Guna Lahan Guna Lahan
Luas (Ha) Luas (Ha)
Eksisting RTRW
Lahan Kosong 113 Pertanian 62
Permukiman 1572 Kebun 62
Sawah 577 Sawah 886
Semak Belukar 41 Lahan Kosong 800
Tegalan/Ladang 58 Semak Belukar 470
Kebun 0 Sungai 81
Jumlah 2361 Jumlah 2361
Sumber : Hasil Analisis tahun 2021
Tingkat pengolahan pemanfaatan lahan di Kawasan Perencanaan
Somba Opu dari lahan terbuka menjadi lahan untuk
permukiman, sarana dan prasarana dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat dan peningkatan aksebilitas di Kawasan
Perencanaan Somba Opu.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


104
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.29
Pengunaan Lahan Eksisting di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


105
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.30
Penggunaan Lahan RTRW

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


106
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Analisis tutupan lahan dan run off yang ditimbulkan
Pesatnya pertumbuhan pembangunan infrastruktur kota seperti
jalan, jembatan, perumahan dan pembangunan yang lainnya
menuntut adanya ketersediaan lahan. Hal ini dapat menyebabkan
degrahasi lahan semakin meningkat. Oleh karena itu
mempertahankan dan meningkatkan kemampuan lahan dalam
meresapkan air merupakan salah satu kunci menjaga kelestarian
lingkungan. Limpasan (runoff) merupakan unsur yang sangat
penting karena pengelolaan DAS pada asasnya adalah
pengaturan hubungan antara intensitas hujan dan limpasan, serta
pengaturan hubungan antara intensitas hujan dan limpasan, serta
pengaturan air permukaan. Penggunaan lahan pada Kecamatan
Somba Opu didominasi oleh lahan terbuka sehingga sehingga
aliran air yang mengalir diatas permukaan inflasi kapasitas
tanah dapat menegendalikan limpasan unsur penting dalam
siklus air yang merupakan penyebab salah satunya terjadinya
erosi. Untuk mempertahankan ruang-ruang yang berpotensi
kedepannya terdukung dengan kondisi RTH yang ada di
Kecamatan Somba Opu.
c. Analisis kepemilikan tanah
Status tanah di lokasi perencanaan pasti mengalami perubahan
yang cukup signifikan. Informasi mengenai status tanah sangat
terbatas mengingat status tanah tersebut mempunyai tingkat
perlindungan yang berbeda untuk diketahui oleh umum.Oleh
karena itu untuk memberikan gambaran mengenai status tanah
di lokasi perencanaan maka pengklasifikasiannya dibagi menjadi
3 macam status tanah yaitu hak milik, hak pakai, dan hak guna
bangunan.
1) Tanah Hak Milik Tanah hak milik merupakan hak untuk
menikmati kegunaan suatu lahan dengan leluasa dan untuk
berbuat bebas terhadap lahan tersebut dan fungsinya dengan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


107
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
kedaulatan sepenuhnya. Tanah hak milik biasanya ditemukan
di kawasan perumahan formal Serta beberapa rumah
dikawasan perkampungan juga ada yang memiliki status
tanah hak milik.
2) Tanah Hak Pakai Tanah hak pakai adalah hak untuk
menggunakan dan/atau memungut hasil dari :
a) Tanah yang dikuasai langsung oleh Negara, yang memberi
wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam
keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang
memberikannya, atau
b) Tanah milik orang lain dalam perjanjian dengan pemilik
tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau
perjanjian pengolahan tanah. Selain itu, hak pakai juga
dapat diberikan atas tanah dengan hak pengelolaan, yang
diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional atau
pejabat yang ditunjuk berdasarkan usul pemegang hak
pengelolaan.
c) Tanah Hak Guna Bangunan (HGB) Tanah Hak Guna
Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan
miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30
tahun. Atas permintaan pemegang hak dan dengan
mengingat keperluan serta keadaan bangunan-
bangunannya, jangka waktu HGB dapat diperpanjang
dengan waktu paling lama 20 tahun. Yang dapat
mempunyai HGB adalah warga negara Indonesia dan
badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia
dan berkedudukan di Indonesia. HGB dapat beralih dan
dialihkan kepada pihak lain.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


108
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.27
Tabel Kepemilikan Tanah di Kawasan Perencanaan
Luas Luas Presentase
No Kelurahan Status Tanah
(Ha) (Ha) (%)
Hak Guna
0,82 0,06
Bangunan
Hak Milik 12,01 0,91
Kel. Pandang
1 83 Hak Pakai 2,57 0,20
pandang
Kosong 1,84 0,14
Belum
57,77 4,39
Terklasifikasi
Hak Guna
1,17 0,09
Bangunan
Hak Milik 16,12 1,22
Hak Pakai 2,13 0,16
2 Kel. Bonto-bontoa 65
Wakaf 0,02 0,00
Kosong 3,42 0,26
Belum
55,32 4,20
Terklasifikasi
Hak Guna
4,59 0,35
Bangunan
Hak Milik 24,38 1,85
3 Kel. Batangkaluku 103 Hak Pakai 3,31 0,25
Kosong 3,06 0,23
Belum
61,44 4,66
Terklasifikasi
Hak Guna
0,71 0,05
Bangunan
Hak Milik 5,75 0,44
4 Kel. Kalegowa 40 Hak Pakai 0,02 0,00
Kosong 0,17 0,01
Belum
14,96 1,14
Terklasifikasi
Hak Guna
0,53 0,04
Bangunan
Hak Milik 14,62 1,11
5 Kel. Katangka 54 Hak Pakai 1,88 0,14
Kosong 1,87 0,14
Belum
44,79 3,40
Terklasifikasi
Hak Guna
34,05 2,58
Bangunan
6 Kel. Paccinongan 452
Hak Milik 46,7 3,55
Hak Pakai 0,45 0,03

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


109
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Luas Luas Presentase
No Kelurahan Status Tanah
(Ha) (Ha) (%)
Kosong 12,18 0,92
Belum
138,95 10,55
Terklasifikasi
Hak Guna
3,33 0,25
Bangunan
Hak Milik 14 1,06
Kel.
7 526 Hak Pakai 23,81 1,81
Romangpolong
Kosong 3,93 0,30
Belum
21,31 1,62
Terklasifikasi
Hak Guna
9,05 0,69
Bangunan
Hak Milik 20,96 1,59
8 Kel. Samata 416 Hak Pakai 1,33 0,10
Kosong 4,44 0,34
Belum
62,09 4,71
Terklasifikasi
Hak Guna
0,63 0,05
Bangunan
Hak Milik 20,18 1,53
9 Kel. Sungguminasa 85 Hak Pakai 11,9 0,90
Kosong 16,17 1,23
Belum
55,22 4,19
Terklasifikasi
Hak Guna
23,48 1,78
Bangunan
Hak Milik 45,83 3,48
10 Kel. Tamaruang 221 Hak Pakai 0,18 0,01
Kosong 10,8 0,82
Belum
206,29 15,66
Terklasifikasi
Hak Guna
2,38 0,18
Bangunan
Hak Milik 15,6 1,18
11 Kel. Tombolo 216 Hak Pakai 4,3 0,33
Kosong 3,08 0,23
Belum
64,59 4,90
Terklasifikasi
Hak Guna
8,22 0,62
Bangunan
12 Kel. Tompobalang 100
Hak Milik 13,33 1,01
Hak Pakai 1,96 0,15

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


110
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Luas Luas Presentase
No Kelurahan Status Tanah
(Ha) (Ha) (%)
Kosong 5,01 0,38
Belum
76,25 5,79
Terklasifikasi
Sumber : Kantor Pertanahan Kabupaten Gowa tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


111
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.31
Kepemilikan Tanah di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


112
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

3. Analisis kedudukan dan peran Kawasan dalam wilayah yang


lebih luas
Salah satu pertimbangan penyusunan tujuan penataan ruang adalah
melihat dari arahan pencapaian yang ditetapkan dalam Rencana
Umum Tata Ruang (RUTR) yang lebih makro terhadap wilayah
perencanaan. Rencana Umum Tata Ruang menjadi payung bagi
RDTR yang merupakan Rencana Rinci Tata Ruang. Terdapat
beberapa Rencana Umum Tata Ruang pada tingkat makro yang dikaji,
antara lain:
a. Perpres No. 55 Tahun 2011 tentang RTR KSN Mamminasata
b. Perda Provinsi Sulawesi Selatan No. 9 Tahun 2009 tentang
RTRW Provinsi Sulawesi Selatan 2009-2029
c. Perda Kabupaten Gowa No. 15 Tahun 2012 tentang RTRW
Kabupaten Gowa Tahun 2012-2032

Arahan kebijakan pencapaian peran dan fungsi berdasarkan RUTR


tersebut dapat dilihat sebagai berikut ini :
a. RTR KSN Mamminasata berperan sebagai kawasan perkotaan
penunjang sekitar Kota inti Makassar fungsimya, Pusat
pemerintahan kabupaten dan/atau kecamatan, pusat perdagangan
dan jasa skala regional; pusat pelayanan olah raga; pusat
pelayanan kesehatan; pusat pelayanan sistem angkutan umum
penumpang dan angkutan barang regional; pusat kegiatan
pariwisata.
b. RTRWP Provinsi Sulawesi Selatan 2009-2029 berperan sebagai
PKN Mamminasata, tidak disebutkan arahan fungsi dalama
RTRWP
c. Perda Kab. Gowa No. 15 Tahun 2012 tentang RTRW Kab. Gowa
Tahun 2012 – 2032 berperan sebagai PKN Maminasata (kawasan
sekitar kota inti) KSK Sosial Budaya - Kota Budaya Terpadu,
funginya yaitu Perdagangan regional terpadu, Perkantoran

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


113
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
pemerintahan, Perkantoran swasta, Olahraga skala Kabupaten,
Kesehatan skala regional,Permukiman perkotaan, dan Cagar
budaya.
4. Analisis sumber daya alam dan fisik atau lingkungan WP;
a. Analisis sumber daya air
Sumber daya air merupakan sumber daya alam yang tidak hidup
(abiotik) namun dapat diperbaharui (renewable resources). Air
adalah salah satu sumber alam paling penting bagi makhluk
hidup namun sering menjadi permasalahan dalam
keberadaannya, peredaran/ sirkulasinya dan penyebarannya.
Selain itu karena sifat-sifatnya, air sangat mudah terkontaminasi
dengan zat-zat kimia lainnya melalui pencemaran lingkungan.
Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi melalui sistem
pengelolaan yang efektif dan efisien sehingga terjadi
kemanfaatannya secara berkelanjutan sampai ke generasi
mendatang.
Untuk sumber daya air di Kawasan Perencanaan di katakan
cukup baik untuk menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari
maupun untuk aktivitas pertanian dan aktivitas-aktivitas lainnya.
Intesitas untuk ketersediaan air bersih di Kawasan Perencanaan
sebagian besar menggunakan PDAM namun masih ada beberapa
rumah yang menggunakan sumur galian untuk menunjang
kehidupan sehari-hari.
b. Analisis sumber daya tanah
Tanah bersifat dinamis, dimana tanah mengalami perkembangan
setiap waktunya. Tanah merupakan suatu benda alami yang
terdapat di permukaan kulit bumi yang tersusun dari bahan-
bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan
hewan. Tanah dapat dikelompokkan berdsarkan ciri-ciri atau
sifat yang dimilikinya. Adapun Jenis Tanah yang terdapat di
Kawasan Perencanaan itu semua jenis tanahnya alluvial yang

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


114
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
merupakan endapan alluvium (endapan aluvial sungai,pantai dan
rawa) dan menempati daerah morfologi pendataran dengan
ketinggian 0-60 m dengan sudut kemiringan lereng. Tidak ada
bentuk pasti dari tanah jenis ini. Hal ini dikarenakan aluvial
merupakan hasil jadi suatu proses. Akan tetapi, jika dasar
danaunya rata, maka aluvial yang terbentuk akan cenderung rata.
Sifat kedua dari tanah jenis ini adalah tingkat PH yang berada di
ambang batas aman. Sifat dari tanah aluvial yang pertama adalah
tingkat mineral yang cukup tinggi. kadar PH dari sebagian besar
area aluvial di Indonesia berkisar di angka 6. Dan Manfaat dari
Tanah Alluvial itu sendiri kemudahan dalam melakukan irigasi,
kaya akan sumber mineral, cenderung mudah diolah, dan dapat
menyerap air secara maksimal. Tanah aluvial banyak
dimanfaatkan sebagai daerah pertanian, perkebunan kelapan,
palawija, jagung kedelai, ketela pohon dan umbi-umbian. Jenis
Tanah ini tersebar di Semua Kawasan Perencanaan.
c. Analisis topografi dan kelerengan
Kawasan delinasi perencanaan di Kecamatan Somba Opu secara
umum berada di ketinggian 0 sampai 2000 meter diatas
permukaan laut (mdpl). Kemiringan lereng Deliniasi Kawasan
Perencanaan Perkotaan Parangloe yaitu antara 0 sampai 15%.
Berarti dapat disimpulkan bahwa kawasan deliniasi perencanaan
di Kecamatan Somba Opu merupakan daerah yang terletak pada
daerah Landai. sehingga pembangunan dalam kawasan selama
ini cenderung mengikuti relief tanah yang datar dengan tingkat
kemiringan yang datar dan tidak curam. Berdasarkan dari
kondisi topografi dan kemiringan lereng yang dimiliki oleh
Kawasan Perencanaan Perkotaan tersebut, dapat diketahui
kawasannya memiliki daya dukung lahan yang cukup baik,
karena kurangnya penghambat sehingga sangat sesuai untuk
lahan terbangun. Hal inilah yang menyebabkan tingginya

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


115
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
pembangunan permukiman, jasa serta fasilitas lainnya, sehingga
terjadi perubahan pemanfaatan lahan dari lahan pertanian
menjadi lahan terbangun. Dengan kondisi topografi dan
kelerengan yang menguntungkan di kawasan deliniasi Somba
Opu akan menambah tingkat pembangunan dan pengembangan
lahan di kawsan perencanaan.
d. Analisis geologi lingkungan
Karakteristik batuan di Kawasan Delinasi perencanaan
perkotaan Somba Opu terdiri dari batuan lava, breksi,tufa dan
konglomerat dan dimoninasi oleh batuan kerikil, pasir, lempung,
lumpur, dan batu gamping/koral Merupakan batuan sedimen
merupakan batuan sedimen yang terdiri atas batu pasir tufaan
yang bersilangan dengan tufa, batu lanau dan batuan vulkanik.
Batuan sedimen ini terendap tidak bersesuaian menutupi
Formasi Tonasa di laut dangkal pada zaman Miosen Tengah dan
Akhir. Umumnya formasi ini mengeras kuat dan sebagian
kurang padat, berlaapis dengan tebal antara 4 cm – 100 cm.
Tufanya berbutir halus hingga lapili; tufa lempungan berwrna
merah mengandung banyak mineral biotit; konglomerat dan
breksinya terutama berkomponen andesit dan basal dengan
ukuran antara 2 cm – 40 cm; batugamping pasiran dan batupasir
gampingan mengandung pecahan koral dan mollusca;
batulempung gampingan kelabu tua dan napal mengandung
foram kecil dan mollusca. Fosil-fosil yang ditemukan pada
satuan ini menunjukkan kisaran umur Miosen tengah-Miosen
Akhir (N.9 – N.15) pada lingkungan neritik. Ketebalan satuan
sekitar 5.000 meter, menindih tidak selaras batugamping
Formasi Tonasa (Temt) dan Formasi Mallawa (Tem), mendatar
berangsur berubah jadi bagian bawah daripada Formasi Walanae
(Tmpw); diterobos oleh retas, sill dan stock bersusunan basal
piroksin, andesit dan diorit.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


116
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
e. Analisis klimatologi
Klimatologi ilmiahnya didefinisikan sebagai kondisi cuaca yang
dirata-ratakan selama periode waktu yang panjang. Adapun
kondisi curah hujan yang ada di Kawasan Perencanaan
perkotaan Somba Opu yaitu berkisar antara 2000-4000 mm
dengan jumlah hari hujan berkisar antara 100–180 hari hujan per
tahun. Seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, Kawasan
Perencanaan perkotaan Somba Opu juga memiliki dua musim,
yaitu musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim
kemarau dimulai pada Bulan Juni hingga September, sedangkan
musim hujan dimulai pada Bulan Desember hingga Maret.
Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah
melewati masa peralihan, yaitu Bulan April-Mei dan Oktober-
November. Sedangkan suhu udara (temperatur udara) adalah
suhu panas / dinginnya udara di suatu tempat pada waktu
tertentu, yang dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya panas
matahari yg diterima di bumi. Pada tahun 2020, rata-rata suhu
tertinggi terjadi di bulan Oktober yaitu 17,4 sedangkan rata-rata
suhu yang terendah terjadi dibulan februari yaitu 12,6 dari
masing-masing hasil maksimal dan minimalnya.
f. Analisis sumber daya alam
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia, Selain itu, sumber daya alam juga penting sebagai
tempat tinggal manusia.
Adapun kekayaan sumber daya alam di Kawasan Perencanaan
memiliki komoditi yang beragam seperti padi sawah,jagung,ubi
kayu,ubi jalar,kacang tanah dan palawija.Pada potensi sub sektor
peternakan Kawasan Perencanaan meliputi jenis ternak besar
dan kecil seperti sapi,kambing dan kerbau sedangkan jenis
ternak unggas meliputi ayam dan itik.dan pada sub sektor

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


117
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
tanaman hortikultura sayuran antara lain: Kentang, kubis, sawi,
bawang daun dan buncis
6. Analisis sosial budaya;
Sosial budaya terdiri dari dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial
berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat sekitar.
Sedangkan budaya berasal dari kata bodhya yang artinya pikiran dan
akal budi. Budaya juga diartikan sebagai segala hal yang dibuat
manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung
cinta dan rasa. Jadi kesimpulannya adalah sosial budaya merupakan
segala hal yang di ciptakan manusia dengan pikiran dan budinya
dalam kehidupan bermasyarakat. Analisis sosial budaya di Kawasan
Perencanaan di bagi menjadi dua, yaitu :
a. Karakteristik (Sosial)
Kawasan Perencanaan Somba Opu merupakan salah satu
wilayah yang menjadi pusat kegiatan yang ada di Kabupaten
Gowa. Jumlah penduduk pada Kawasan Perencanaan sebanyak
167.539 jiwa, dimana rata-rata karakteristik di wilayah
perencanaan bersifat modernisasi. Berdasarkan hasil observasi
dilokasi perencanaan, dimana masyarakatnya mayoritas
menggunakan alat-alat modern dalam melakukan setiap
kegiatannya, selain daripada itu sebagian masyarakat pada lokasi
perencanaan masih kuat dan erat rasa persaudaraannya serta
saling membantu satu dengan yang lain. Jadi dapat disimpulkan
bahwa di Kawasan Perencanaan karakteristik budayanya masih
menganut sistem gotong royong.
b. Kultur (Budaya)
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang ada di
Kawasan Perencanaan sebagian besar masyarakat yang ada di
Kawasan Perencanaan merupakan penduduk asali Kabupaten
Gowa. Dimana salah satu budaya yang masih ada di Kabupaten
Gowa sampai sekarang yaitu tradisi Appalili. Tradisi Appalili

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


118
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
merupakan tradisi yang ada semenjak zaman kerajaan dan masih
dipertahankan hingga saat ini dimana tradisi Appalili ini
bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian karena seperti di
ketahui juga bahwa salah satu potensi Kawasan Perencanaan
yaitu di bidang pertanian. Tradisi Appalili sendiri seperti satu
musyawarah yang dilakukan masyarakat untuk mendiskusikan
program pertanian apa saja yang benar-benar bermanfaat bagi
para petani.
7. Analisis kependudukan;
a. Estimasi Perkembangan Penduduk
Perkembangan jumlah penduduk wilayah Perkembangan jumlah
penduduk wilayah Kabupaten Gowa dalam lima tahun terakhir
(2016-2020) menunjukkan angka pertumbuhan yang signifikan.
Naiknya angka pertumbuah penduduk di Kecamatan Somba
Opu kemungkinan dipengaruhi oleh faktor alami perkembangan
penduduk, disamping itu faktor potensi Kabupaten Gowa
sebagai kawasan pertanian dan perdagangan yang mendorong
masyarakat untuk bermukim.
Tabel 3.28
Perkembangan Jumlah Penduduk 5 Tahun Terakhir
di Kawasan Perencanaan
No Tahun Jumlah Penduduk
1. 2016 153.572
2. 2017 256.897
3. 2018 162.160
4. 2019 167.539
5. 2020 146.169
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Somba Opu 2016-2020
Berdasarkan pada tabel di atas maka dapat diketahui bahwa
jumlah penduduk diKawasan Perencanaan mengalami
peningkatan tiap tahunnya dengan jumlah penduduk pada tahun
2016 sebanyak 153.572 jiwa sampai pada tahun 2020 meningkat

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


119
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
menjadi 146.169 jiwa. Sehingga berdasarkan data diatas maka
dapat dilakukan proyeksi jumlah penduduk 20 tahun kedepan
per 5tahun menggunakan metode analisis bunga berganda.Untuk
lebih jelasnya perkiraan jumlah penduduk Kawasan Perencanaan
dapat dilihat sebagai berikut.
Rumus:
Pt = Pn (1+r)n
Keterangan :
Pt : ∑Tahun akan datang
Pn : ∑Tahun awal
r : Rata – rata pertumbuhan
n : ∑Tahun Proyeksi
Tabel 3.29
Proyeksi Penduduk di Kawasan Perencanaan tahun
2026-2041
Jumlah Penduduk
Kecamatan Kelurahan
2026 2031 2036 2041
Pandang-Pandang 7.493 7.867 8.261 8.674
Sungguminasa 7.956 8.354 8.771 9.210
TompoBalang 12.995 13.645 14.327 15.043
Batang Kaluku 14.770 15.509 16.284 17.099
Tamarunang 17.805 18.695 19.630 20.611
Romang Polong 10.168 10.677 11.210 11.771
Somba Opu
Bonto-Bontoa 13.820 14.511 15.237 15.998
Kalegowa 2.970 3.119 3.275 3.439
Katangka 10.252 10.765 11.303 11.868
Tombolo 16.992 17.842 18.734 19.671
Pacinongan 27.771 29.160 30.618 32.149
Samata 10.484 11.008 11.559 12.137
Jumlah 153.476 161.152 169.209 177.670
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Berdasarkan hasil perhitungan analisis proyeksi penduduk
metode geometrik dapat disimpulkan bahwa pada 20 tahun
yang akan datang (2041), Penduduk Kawasan Perencanaan
akan berjumlah 177.670 Jiwa.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


120
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.32
Proyeksi Penduduk 2026 Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


121
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.33
Proyeksi Penduduk 2031 Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


122
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.34
Proyeksi Penduduk 2036 Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


123
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.35
Proyeksi Penduduk 2041 Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


124
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Analisis Kualitas Penduduk
Kualitas penduduk ditentukan dengan dependency ratio.
Dependency Ratio adalah angka yang menyatakan perbandingan
antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur dibawah 15
tahun dan 50 tahun keatas) dengan banyaknya orang yang
termasuk usia produktif (umur 15 - 50 tahun). Angka beban
tanggungan dapat di rumuskan sebagai berikut :

Keterangan:
- DR = rasio beban tanggungan (dependency ratio)
- P0-14 = jumlah penduduk usia 0-14 tahun
- P15-64 = jumlah penduduk usia 15-64 tahun
- P65+ = jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas
Inteval Kelas Dependency Ratio:
< 50 Rendah
51-58 Sedang
>69 Tinggi
Penyelesaian:
DR= (37.819+105.076)/(3.274)x100
=142.895/41028x100
=348,286
Hasil analisis dependency ratio yaitu 348,286 artinya termasuk
kategori Sedang artinya persentase dependency ratio yang
Sedang menunjukkan Tidak rendah maupun Tinggi atau cukup
yang ditanggung penduduk produktif untuk membiayai
penduduk yang belum produktif dan tidak produktif.
8. Analisis ekonomi dan sektor unggulan
Untuk menganalisis keadaan ekonomi dan sektor unggulan di
Kawasan Perencanan kami menggunakan analisis shift share dan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


125
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
analisis LQ. Dimana Analisis shift share merupakan salah satu analisis
kegiatan ekonomi yang bersifat kuantitatif untuk dapat
mengidentifikasi faktor penyebab pertumbuhan dari sisi tenaga kerja
ataupun pendapatan suatu wilayah.
a. Analisis Shift Share
Prof. Meier (dalam Adisasmita, 2005: 205) mendefinisikan
pembangunan ekonomi sebagai proses kenaikan pendapatan riil
perkapita dalam suatu jangka waktu yang panjang. Tujuan
ekonomi pembangunan yaitu jika dari ilmu ekonomi
pembangunan adalah untuk meneliti berbagai faktor yang
menyebabkan ketertinggalan pembangunan di Negara
berkembang, sehingga dengan mengetahui faktor tersebut yang
menghambat pembangunan dapat diketahui bagaimana cara
yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas pembangunan
di negara berkembang. Dengan demikian, diharapkan kemajuan
bisa tercapai di Negara yang bersangkutan.
Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu wilayah dapat dilihat
dari perubahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Peranan masing-masing sektor terhadap pembentukan PDRB
suatu daerah mencerminkan kecenderungan struktur ekonomi
daerah tersebut. Perubahan struktur perekonomian yang terjadi
umumnya bergerak dari sektor pertanian menuju industri dan
selanjutnya ke sektor jasa (Makmun dan Irwansyah, 2013).
Analisis sektor unggulan menggunakan metode analisis shift-
share. Metode analisis shift - share digunakan untuk mengetahui
kinerja perekonomian kabupaten, pergeseran struktur, posisi
relatif sektor-sektor ekonomi dan identifikasi sektor-sektor
“unggul” kabupaten dalamkaitannya dengan perekonomian
acuan (nasional atai provinsi) dalam dua atau lebih titik waktu.
Keunggulan metode ini banyak digunakan untuk memperoleh
gambaran lebih rinci mengenai pergeseran struktur ekonomi.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


126
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Selain itu, metoda ini dapat pula digunakan untuk
menemukenali sektor-sektor yang posisi relatifnya lemah tetapi
dianggap strategis. Teknik ini banyak digunakan dalam
menganalisis dampak pertumbuhan regional, khususnya
pertumbuhan lapangan kerja diterapkan untuk menggambarkan
tren pertumbuhan historis, memperkirakan pertumbuhan
regional dan menganalisis efek dari inisiatif kebijakan serta
mengembangkan perencanaan strategis untuk komunitas (Rice
dan Horton, 2010).
Tabel 3.30
Nilai PDRB Kabupaten Gowa dan Kabupaten PDRB Provinsi
Sulawesi Selatan tahun 2019-2020
DATA KABUPATEN DATA PROVINSI
GOWA SULAWESI SELATAN
NO LAPANGAN USAHA
PDRB PDRB
PDRB 2019 PDRB 2020
2019 2020
Pertanian, Kehutanan dan
1 375,14 385,23 6,66 6,61
Perikanan
2 Pertambangan dan Penggalian 49,51 50,06 1,72 1,73
3 Industri Pengolahan 91,14 85,35 4,48 4,29
4 Pengadaan Listrik dan Gas 2,53 2,66 0,03 0,03
5 Pengadaan Air 1,81 1,97 0,04 0,04
6 Kontruksi 153,02 153,61 4,12 4,19
Perdagangan Besar dan Eceran;
7 173,27 169,56 5,14 4,98
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8 Transportasi dan Pergudangan 20,4 19,35 1,2 0,94
Penyediaan Akomodasi dan Makan
9 35,42 31,7 0,49 0,43
Minum
10 Informasi dan Komunikasi 158,11 175,3 2,33 2,59
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 29,66 30,87 1,12 1,15
12 Real Estate 102,45 107,08 1,13 1,17
13 Jasa Perusahaan 1,71 1,52 0,15 0,14
Administrasi Pemerintahan,
14 Pertahanan dan Jaminan Sosial 74,11 73,9 1,44 1,44
Wajib
15 Jasa Pendidikan 63,43 67,33 1,84 1,95
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 25,72 28,38 0,67 0,74
17 Jasa Lainnya 20,88 18,7 0,48 0,42
18 PDRB/PDB 1378,31 1402,58 33,06 32,82

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


127
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
DATA KABUPATEN DATA PROVINSI
GOWA SULAWESI SELATAN
NO LAPANGAN USAHA
PDRB PDRB
PDRB 2019 PDRB 2020
2019 2020
PERTUMBUHAN PDRB/PDB 0,87 -0,36
Sumber : BPS Kabupaten Gowa dan Provinsi Sulawesi Selatan
Tabel 3.31
Perubahan PDRB Kab.Gowa atas Harga Konstan (Rp Juta
Rupiah)
DATA KABUPATEN
GOWA
NO LAPANGAN USAHA PERUBAHAN
PDRB PDRB
2019 2020
1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 375,14 385,23 10,09
2 Pertambangan dan Penggalian 49,51 50,06 0,55
3 Industri Pengolahan 91,14 85,35 -5,79
4 Pengadaan Listrik dan Gas 2,53 2,66 0,12
5 Pengadaan Air 1,81 1,97 0,16
6 Kontruksi 153,02 153,61 0,58
Perdagangan Besar dan Eceran;
7 173,27 169,56 -3,71
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8 Transportasi dan Pergudangan 20,4 19,35 -1,05
Penyediaan Akomodasi dan Makan
9 35,42 31,7 -3,72
Minum
10 Informasi dan Komunikasi 158,11 175,3 17,19
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 29,66 30,87 1,21
12 Real Estate 102,45 107,08 4,64
13 Jasa Perusahaan 1,71 1,52 -0,18
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
14 74,11 73,9 -0,21
dan Jaminan Sosial Wajib
15 Jasa Pendidikan 63,43 67,33 3,91
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 25,72 28,38 2,67
17 Jasa Lainnya 20,88 18,7 -2,18
18 PDRB/PDB 1378,31 1402,58 24,26
Sumber : Hasil Analisi Tahun 2021
Tabel 3.32
Hasil Analisis

NO LAPANGAN USAHA KPN KPP KPK PN

1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan -0,01 0 0,04 0,03

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


128
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

NO LAPANGAN USAHA KPN KPP KPK PN

2 Pertambangan dan Penggalian -0,01 0,01 0,01 0,02


3 Industri Pengolahan -0,01 -0,04 -0,02 -0,06
4 Pengadaan Listrik dan Gas -0,01 0,03 0,02 0,06
5 Pengadaan Air -0,01 0,07 0,02 0,1
6 Kontruksi -0,01 0,02 -0,01 0,01
Perdagangan Besar dan Eceran;
7 -0,01 -0,02 0,01 -0,01
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8 Transportasi dan Pergudangan -0,01 -0,21 0,16 -0,04
Penyediaan Akomodasi dan Makan
9 -0,01 -0,11 0,01 -0,1
Minum
10 Informasi dan Komunikasi -0,01 0,12 0 0,12
11 Jasa Keuangan dan Asuransi -0,01 0,03 0,02 0,05
12 Real Estate -0,01 0,05 0,01 0,05
13 Jasa Perusahaan -0,01 -0,09 -0,01 -0,1
Administrasi Pemerintahan,
14 -0,01 0,01 0 0
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
15 Jasa Pendidikan -0,01 0,06 0 0,07
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial -0,01 0,11 0 0,11
17 Jasa Lainnya -0,01 -0,11 0,02 -0,1
18 PDRB/PDB -0,01 0 0,02 0,02
Sumber : Hasil Analisis tahun 2021
Tabel 3.33
Nilai Absolut KPN,KPP dan KPK
NILAI ABSOLUT
NO LAPANGAN USAHA
KPN KPP KPK PN

1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan -0,01 0 0,04 0,03


2 Pertambangan dan Penggalian -0,01 0,01 0,01 0,02
3 Industri Pengolahan -0,01 -0,04 -0,02 -0,06
4 Pengadaan Listrik dan Gas -0,01 0,03 0,02 0,06
5 Pengadaan Air -0,01 0,07 0,02 0,1
6 Kontruksi -0,01 0,02 -0,01 0,01
Perdagangan Besar dan Eceran;
7 -0,01 -0,02 0,01 -0,01
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


129
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
NILAI ABSOLUT
NO LAPANGAN USAHA
KPN KPP KPK PN

8 Transportasi dan Pergudangan -0,01 -0,21 0,16 -0,04

Penyediaan Akomodasi dan Makan


9 -0,01 -0,11 0,01 -0,1
Minum
10 Informasi dan Komunikasi -0,01 0,12 0 0,12
11 Jasa Keuangan dan Asuransi -0,01 0,03 0,02 0,05
12 Real Estate -0,01 0,05 0,01 0,05
13 Jasa Perusahaan -0,01 -0,09 -0,01 -0,1
Administrasi Pemerintahan,
14 -0,01 0,01 0 0
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

15 Jasa Pendidikan -0,01 0,06 0 0,07

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial -0,01 0,11 0 0,11


17 Jasa Lainnya -0,01 -0,11 0,02 -0,1
18 PDRB/PDB -0,01 0 0,02 0,02
Sumber : Hasil Analisis tahun 2021
Tabel 3.34
Hasil Analisis Grafik

No. ANALISA GRAFIK SEKTOR EKONOMI

1. Pertambangan dan Penggalian


2. Pengadaan Listrik dan Gas
3. Pengadaan Air
4. Informasi dan Komunikasi
KUADRAN I
5. Jasa Keuangan dan Asuransi
6. Real Estate
7. Jasa Pendidikan
8. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
9. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
Perdagangan Besar dan Eceran;
10. KUADRAN II
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
11. Transportasi dan Pergudangan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


130
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

No. ANALISA GRAFIK SEKTOR EKONOMI

Penyediaan Akomodasi dan Makan


12.
Minum
13. Jasa Lainnya
14 Kontruksi
KUADRAN III Administrasi Pemerintahan,
15. Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib
16. Industri Pengolahan
KUADRAN IV
17. Jasa Perusahaan
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Berdasarkan analisis diatas yang merupakan sektor unggulan di
Kabupaten Gowa yang di dalamnya memuat Kawasan
Perencanaan yaitu pertambangan dan pengendalian,seperti
diketahui bahwa salah satu potensi kabupaten Gowa adalah
dalam sektor pertambangan dan pengendalian karena pada
wilayah ini masih banyak kawasan yang merupakan kawasan
pertambangan dan penggalian, pengadaan air seperti kita ketahui
bahwa kabupaten Gowa memiliki bendungan Bili-Bili yang
menjadi pasokan air bukan hanya untuk Kabupaten Gowa tetapi
juga untuk Kota Makassar, Pengandaan listrik dan gas,
informasi dan komunikasi, real estate, karena di Kabupaten
Gowa saat ini telah dilakukan pembangunan perumahan, Jasa
Pendidikan yang mana di Kabupaten Gowa sendiri memiliki
fasilitas pendidikan yang lengkap dan terakhir jasa kesehatan
dan kegiatan sosial.Yang termasuk sektor agak unggul salah
satunya yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan sektor
mundur yaitu salah satunya Kontruksi terakhir sektor agak
mundur yaitu industri pengolahan dan Jasa Perusahaan.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


131
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
b. Analisis LQ
Sektor basis yaitu sektor atau kegiatan ekonomi yang melayani
baik pasar di daerah tersebut maupun luar daerah. Secara tidak
langsung daerah mempunyai kemampuan untuk mengekspor
barang dan jasa yang dihasilkan oleh sector tersebut kedaerah
lain.Sektor basis suatu wilayah dapat diketahui dengan
menggunakan analisis Location Quotient (LQ). LQ digunakan
untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor
basis atau unggulan dengan cara membanding perannya dalam
perekonomian daerah tersebut dengan peranan kegiatan atau
industri sejenis dalam perekonomian regional (Emilia, 2006).
Sektor ekonomi potensial atau sector ungggulan dapat diartikan
sebagai sektor perekonomian atau kegiatan usaha yang produktif
dikembangkan sebagai potensi pembangunan serta dapat
menjadi basis perekonomian suatu wilayah dibanding sektor-
sektor lain dalam suatu keterkaitan baik secara langsung maupun
tidak langsung (Tjokroamidjojo,1993).Sektor ekonomi dapat
dikatakan sebagai sector potensial jika memenuhi beberapa
kriteria sebagai berikut :
1) Merupakan sektor ekonomi yang dapat menjadi sektor basis
wilayah, sehingga semakin besar barang dan jasa yang dapat
diekspor maka semakin besar pula tingkat pendapatan yang
diperoleh suatu wilayah.
2) Memiliki kemampuan daya saing (competitive advantage)
yang relative baik dibanding sector sejenis dari wilayah lain.
Perkembangan sektor ini akan merangsang perkembangan
sektor- sektor lain baik yang terkait langsung maupun tidak
langsung yang pada akhirnya akan memberikan dampak
positif terhadap perekonomian wilayah.
3) Adapun studi lokasi yang dipilih ialah pada Kabupaten
Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dimana untuk data yang

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


132
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
dipakai ialah data sekunder yang diambil dari instansi BPS
yaitu terkait PDRB atas dasar harga konstanseri 2010
berdasar sektor lapangan usaha dengan rentang tahun 2015 –
2019. Rumus untuk menghitung nilai Location Quotient (LQ)
adalah sebagai berikut :

Dimana :
Si = Jumlah buruh sektor kegiatan ekonomi i di daerah yang
diselidiki
S = Jumlah buruh seluruh sektor kegiatan ekonomi di daerah
yang diselidiki
Ni = Jumlah sektor kegiatan ekonomi i di daerah acuan yang
lebih luas, di mana daerah yang di selidiki menjadi
bagiannya
N = Jumlah seluruh buruh di daerah acuan yang lebih luas
Dari perhitungan Location Quotient (LQ) suatu sektor,
kriteria umum yang dihasilkan adalah :
1. Jika LQ > 1, disebut sektor basis, yaitu sektor yang tingkat
spesialisasinya lebih tinggi dari pada tingkat wilayah
acuan
2. Jika LQ < 1, disebut sektor non-basis, yaitu sektor yang
tingkat spesialisasinya lebih rendah dari pada tingkat
wilayah acuan
3. Jika LQ = 1, maka tingkat spesialisasi daerah sama dengan
tingkat wilayah acuan.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


133
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.35
Location Question (LQ) berdasarkan PDRB atas dasar harga
konstan sector lapangan usaha Tahun 2016 – 2020
LOCATION QUATIENT SEKTOR
NO LAPANGAN USAHA KABUPATEN GOWA BASIS/NON
2016 2017 2018 2019 2020 BASIS
1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,52 1,60 1,61 1,64 1,64 BASIS
2 Pertambangan dan Penggalian 0,49 0,55 0,61 0,66 0,72 NON BASIS
3 Industri Pengolahan 0,43 0,45 0,45 0,46 0,44 NON BASIS
4 Pengadaan Listrik dan Gas 1,95 1,96 1,87 1,78 1,91 BASIS
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
5 1,10 1,09 1,17 1,18 1,15 BASIS
Limbah dan Daur Ulang
6 Konstruksi 0,86 0,85 0,84 0,83 0,78 NON BASIS
Perdagangan Besar dan Eceran;
7 0,84 0,80 0,81 0,80 0,80 NON BASIS
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8 Transportasi dan Pergudangan 0,40 0,36 0,37 0,40 0,41 NON BASIS
Penyediaan Akomodasi dan Makan
9 1,72 1,65 1,67 1,63 1,54 BASIS
Minum
10 Informasi dan Komunikasi 1,61 1,60 1,54 1,56 1,53 BASIS
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 0,64 0,63 0,66 0,60 0,62 NON BASIS
12 Real Estat 2,06 2,13 2,12 2,12 2,14 BASIS
13 Jasa Perusahaan 0,27 0,27 0,26 0,25 0,23 NON BASIS
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
14 1,27 1,22 1,10 1,18 1,20 BASIS
dan Jaminan Sosial Wajib
15 Jasa Pendidikan 0,81 0,79 0,77 0,76 0,76 NON BASIS
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,88 0,88 0,90 0,88 0,77 NON BASIS
17 Jasa lainnya 1,00 1,02 0,97 0,98 0,95 NON BASIS
Sumber : Hasil Analisis tahun 2021
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka
Kabupaten Gowa memiliki beberapa sektor lapangan
usaha yang masuk kedalam sektor basis dan juga sektor
non basis. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan,
sektor pengadaan listrik dan gas, sektor pengadaan air,
sektor penyediaan akomodasi, sektor informasi dan
komunikasi, sektor real estate, sektor administrasi
pemerintahan dan sektor jasa lainnya menjadi sektor basis
dimana LQ > 1 yang artinya sektor yang tingkat
spesialisasinya lebih tinggi dari pada tingkat wilayah
acuan.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


134
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
9. Analisis transportasi (pergerakan)
a. Analisis sistem kegiatan
Sistem kegiatan yang berlangsung di Kawasan Perencanaan
Kecamatan Somba Opu yaitu sepanjang jalan kolektor, yaitu
Pendidikan, perkantoran, industri, pertokoan, selain itu terdapat
pula sistem kegiatan pada jalan lokal hanya permukiman dan
pedagang kecil.Sistem kegiatan terkait dengan tata guna lahan
yang meliputi permukiman, pusat pendidikan, perbelanjaan,
perkantoran dan lain-lain. Masing-masing tata guna lahan
tersebut, akan menghasilkan pola kegiatan berupa pergerakan
orang maupun barang,besarnya pergerakan yang terjadi
dipengaruhi oleh jenis kegiatan.
b. Analisis sistem jaringan jalan
Jaringan jalan bagi kegiatan ekonomi, sosial dan kebutuhan
memiliki fungsi yang sangat penting terutama dalam rangka
kemudahan mobilitas pergerakan serta tingkat pencapaian
(aksesibilitas) baik dalam penyediaan bahan baku, pergerakan
manusia dan pemasaran hasil-hasil produksi. Kawasan
Perencanaan ini termasuk dalam satuan kawasan pengembangan
(SKP) yang diarahkan dalam pengembangan sektor pertanian,
industri, pariwisata, perdagangan, dan jasa.
Jaringan jalan yang baik untuk banyak kegiatan harus
memperhitungkan lebar, kapasitas dan jumlah kendaraan yang
akan melalui jalan tersebut, sehingga dapat diantisipasi sejak
awal, guna mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan jalan
dan kemacetan. Peningkatan akses jaringan jalan sangat di
butuhkan untuk meningkatkan aksesibilitas dalam pemenuhan
pengembangan disetiap sektor. Berdasarkan hasil observasi
kondisi lebar dan kapasitas jaringan jalan yang ada di Kawasan
Perencanaan cukup mendukung dalam proses pengembangan di
setiap sektor dan untuk kondisi jalan arterinya sendiri dalam

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


135
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
keadaan cukup baik tetapi dari segi lebarnya masih
dikategorikan sempit untuk standar jalan arteri. Berdasarkan
RTRW Kabupaten Gowa pasal 13 ayat 2 jalan arteri primer
yang merupakan sistem jaringan jalan nasional pada Kawasan
Perencanaan yang ada di Kabupaten Gowa meliputi:
- Jalan Sultan Hasanuddin sepanjang 1,770 kilometer
- Jalan Andi Mallombassang sepanjang 0,776 kilometer
- Jalan KH. Wahid Hasyim sepanjang 1,194 kilometer
- Jalan Usman Salangke sepanjang 0,769 kilometer
Pada Kawasan Perencanaan ini dari segi jenis jaringan jalan
yang ada yaitu jalan arteri primer dan jalan sekunder, selebihnya
hanya jalan lokal dan lingkungan. Sedangkan berdasarkan jenis
permukaan jalannya terdapat jalan aspal, beton, dan paving blok.
c. Analisis sistem pergerakan
Analisis pergerakan ialah alur pergerakan masyarakat di
Kawasan Perencanaan dari Hunian ke Fasilitas-fasilitas lainnya.
Masyarakat yang bergerak ke fasilitas perkantoran dan
pendidikan rata-rata berangkat pada pukul 07.00 – pukul 16.00
dengan menggunakan moda angkutan mobil dan motor,
sedangkan masyrakat yang berpergian ke fasilitas lainnya selain
dari fasilitas perkantoran dan sebagian pendidikan menggunakan
moda angkutan motor dan beberapa masyarakat juga jalan kaki
dikarenakan jarak dari hunian ke fasilitas sangat dekat, jadi
warga memilih untuk jalan kaki.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


136
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.36
Peta Sistem Pergerakan di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


137
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
10. Analisis sumber daya buatan
Analisis sumber daya buatan yang ada di Kawasan Perencanaan
teridiri dari dua analisis yaitu sebagai berikut :
a. Analisis Sarana
Sarana merupakan fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
penyelengaraan dan pengembangan ekonomi, sosial dan budaya.
Di Kawasan Perencanaan analisis sarana meliputi :
1) Sarana Permukiman
Bertambahnya jumlah penduduk akan mendorong
permintaan permukiman dan perumahan yang tentunya akan
terjadi perubahan penggunaan lahan menjadi kawasan
terbangun, hunian-hunian yang dibangun oleh masyarakat
secara pribadi berkembang disepanjang sisi jaringan jalan
dengan membentuk pola secara linear.Pembangunan
perumahan dan permukiman di Kawasan Perencanaan dibagi
dalam 3 (tiga) tipe kavling yaitu :
- Tipe A luas tanah 750 m2 (25 x 30) dengan
perbandingan 10%
- Tipe B luas tanah 500 m2 (20 x 25) dengan
perbandingan 30%
- Tipe C luas tanah 150 m2 (10 x 15) dengan
perbandingan 60%
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk Kawasan Perencanaan
diketahui bahwa pada Tahun 2041 jumlah penduduk
sebesar 177.670 jiwa dengan asumsi bahwa setiap rumah
dihuni oleh 5 (lima) orang yang terdiri dari ayah, ibu 3
(tiga) orang anak. Adapun perkiraan kebutuhan perumahan
dan permukiman di Kawasan Perencanaan pada tahun 2041,
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


138
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.36
Estimasi Kebutuhan Sarana Permukiman di Kawasan Perencanaan Tahun
2026-2041
Jumlah Kebutuhahn Kebutuhan
No Tahun Tipe
Penduduk(Jiwa) Permukiman(Unit) Ruang(Ha)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Tipe Besar
3070 230,21
(25 x 30)
Tipe Sedang
9209 460,43
1 2026 (20 x 25) 153.476
Tipe Kecil
18417 276,26
(10 x 15)
Jumlah 2251 240,55
Tipe Besar
3223 241,73
(25 x 30)
Tipe Sedang
9669 483,46
2 2031 (20 x 25) 161.152
Tipe Kecil
19338 290,07
(10 x 15)
Jumlah 32230 1015,26
Tipe Besar
3384 253,81
(25 x 30)
Tipe Sedang
10153 507,63
3 2036 (20 x 25) 169.209
Tipe Kecil
20305 304,58
(10 x 15)
Jumlah 33842 1066,02
Tipe Besar
3553 266,51
(25 x 30)
Tipe Sedang
10660 533,01
4 2041 (20 x 25) 177.670
Tipe Kecil
21320 319,81
(10 x 15)
Jumlah 35534 1119,32

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


139
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan kebutuhan
perumahan dan permukiman pada tahun 2041 di Kawasan
Perencanaan yaitu total 355.534 unit yang terdiri dari
3.553 unit type besar, 10.660 type sedang dan 213.320
type kecil dengan kebutuhan luas lahan sebesar 1119,32
Ha.
2) Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan merupakan wadah atau tempat untuk
melakukan proses kegiatan belajar mengajar, baik yang
formal maupun non formal agar pencapaian tujuan
pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur efektif
dan efisien. Sarana pendidikan merupakan segala sesuatu
(alat dan barang) yang memfasilitasi (memberikan
kemudahan) dalam menyelenggarakan kegiatan
pendidikan.
a) Standarisasi Perencanaan
• Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK)
Jenjang pendidikan formal pertama ini diperuntukkan
bagi penduduk yang berusia 5-6 tahun. Berdasarkan
standar kebutuhan 1 unit STK memiliki 2 ruang kelas
terdiri dari 40 murid setiap ruang kelas dengan jumlah
penduduk pendukung 1000 jiwa, radius pelayanan
minimal 500 meter, kebutuhan ruang 2.400 m2 dan
ditempatkan di tengah-tengah kelompok permukiman.
• Sekolah Dasar (SD)
Kebutuhan satu unit Sekolah Dasar (SD)
membutuhkan penduduk pendukung 1.600 jiwa, yang
diperuntukkan bagi penduduk usia 6 -12 tahun, yang
terdiri dari 6 ruang kelas dengan kemampuan ruang
kelas 40 murid dan kebutuhan lahan 7.200 m2 yang

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


140
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
dapat dilengkapi 1(satu) ruang guru dan perpustakaan
serta lapangan olahraga. Lokasi jenis fasilitas ini
sebaiknya berada di tengah kelompok permukiman
dengan radius pencapaian maksimum 1000 meter.
• Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Jumlah penduduk pendukung minimal 4.800 jiwa
untuk 1(satu) unit SLTP, dengan luas lahan tiap unit
5.400 m2. Adapun jenis fasilitas ini diperuntukkan
bagi penduduk berusia 13 – 15 tahun/lulus SD, hal ini
sesuai program pemerintah yaitu program wajib
belajar 9(sembilan) tahun. Penempatan lokasi fasilitas
ini sebaiknya disatukan dengan lapangan olahraga dan
taman serta dekat dengan jalan kolektor/jalan utama.
• Sekolah Lanjutan Tingkat atas
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, diperuntukkan bagi
sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau sederajat, dengan
jumlah penduduk pendukung adalah sama dengan
penduduk pendukung SLTP yaitu 4.800 jiwa bagi
penduduk yang berusia 16 - 18 tahun. Luas kebutuhan
lahan 1(satu) unit SLTA adalah 5.400 m2. Setiap satu
unit terdapat 6 ruang kelas dengan kapasitas 40 orang
dan dipakai 2 kali sehari. Kriteria penempatan fasilitas
ini sebaiknya disatukan dengan taman dan lapangan
olahraga.
b) Estimasi Kebutuhan
• TK
Taman kanak-kanak (TK) adalah jenjang pendidikan
anak usia dini (usia 6 tahun) dalam bentuk formal.
Berdasarkan standarisasi perencanaan Sekolah Taman
Kanak- Kanak dapat melayani 1600 jiwa, hasil
analisis estimasi kebutuhan sekolah taman kanak-

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


141
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
kanak di Kawasan Perencanaan dan sekitarnya untuk
kebutuhan 20 tahun kedepan dibutuhkan 85 unit
dengan alokasi lahan pembangunan 425.000 m2
untuk proyeksi tahun 2041.
• Sekolah Dasar
Jumlah penduduk pendukung untuk 1 unit SD
minimal 4.800 jiwa dengan standar luas lahan 2.000
m2. Berdasarkan hasil analisis estimasi kebutuhan
sarana pendidikan khususnya untuk SD di Kawasan
Perencanaan menunjukkan bahwa untuk 20 tahun
kedepan dibutuhkan 64 unit Sekolah Dasar (SD)
dengan alokasi pembangunan seluas 128.000 m2,
sebagaimana kebutuhan akan fasilitas Sekolah Dasar
setiap tahunnya mengalami pertambahan kebutuhan
hingga tahun 2041.
• Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Berdasarkan analisis estimasi kebutuhan sarana
pendidikan untuk SMP di Kawasan Perencanaan
Somba Opu terdapat 21 Unit SMP yang jika
disesuaiakan dengan jumlah penduduk pada waktu
perencanaan 20 tahun kedepan berjumlah 177.670
jiwa maka estimasi kebutuhan sarana mengalami
pertambahan berjumlah sekitar 21 unit.
• Sekolah Menengah Atas (SMA)
Berdasarkan hasil analisis estimasi kebutuhan sarana
pendidikan khususnya SMA di Kawasan Perencanaan
membutuhkan 24 unit agar mampu menampung
penambahan jumlah penduduk 20 tahun kedepan
dengan alokasi penambahan lahan seluas 300.000 m2.
Untuk lebih jelasnya tentang analisis estimasi jumlah
kebutuhan sarana pendidikan, sebagaimana pada tabel

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


142
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
berikut:
Tabel 3.37
Estimasi Kebutuhan Sarana Pendidikan di Kawasan Perencanaan
Tahun 2021-2041
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Fasilitas
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan Ruang
Penduduk Pendidikan
Pendukung lahan(m2) (m2)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


TK 1.250 500 57 65 32500
1 2026 153.476 SD 1.600 2.000 47 48 96000
SMP/MTs 4.800 9.000 16 15 135000
SMA/MAN 4.800 12.500 13 18 225000
Jumlah 133 138 488500
TK 1.250 500 57 71 35500
2 2031 161.152 SD 1.600 2.000 47 53 106
SMP/MTs 4.800 9.000 16 17 153000
SMA/MAN 4.800 12.500 13 20 250000
Jumlah 133 161 544500
TK 1.250 500 57 78 39000
3 2036 169.209 SD 1.600 2.000 47 58 116000
SMP/MTs 4.800 9.000 16 19 171000
SMA/MAN 4.800 12.500 13 22 275000
Jumlah 133 177 601000
TK 1.250 500 57 85 425000
4 2041 177.670 SD 1.600 2.000 47 64 128000
SMP/MTs 4.800 9.000 16 21 189000
SMA/MAN 4.800 12.500 13 24 300000
Jumlah 133 194 659500
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Bersasarkan tabel diatas kondisi eksisting saat ini saran
pendidikan berjumlah 133 unit dan untuk estimasi saran
pendidikan pada tahun 2041 dibutuhkan penambahan
194 unit.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


143
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
3) Sarana Kesehatan
Sarana Kesehatan merupakan aspek penunjang
terwujudnya kesempurnaan aksebilitas suatu wilayah,
karena dapat dikatakan bahwa fasilitas kesehatan itu mutlak
ada dalam suatu wilayah. Dengan adanya sarana
kesehatan, masyarakat dapat terlayani dalam hak
pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.
a) Strandarisasi Perencanaan
• Rumah Sakit Wilayah
Rumah sakit berfungsi untuk memberikan pelayanan
dibidang kesehatan untuk lingkup kabupaten atau
makro wilayah, kriteria penempatan berada di
Ibukota kabupaten. Berdasarkan standar perencanaan
kebutuhan Rumah Sakit dengan jumlah penduduk
pendukung 240.000 jiwa, dengan luas lahan yang
dibutuhkan 172.800 m2.
• Puskesmas
Puskesmas sebagai salah satu wadah pelayanan
kesehatan tingkat kecamatan yang berfungsi untuk
memberikan pelayanan kesehatan kepada penduduk
berupa upaya pencegahan, penyembuhan dan
pendidikan. Adapun jumlah penduduk pendukung
untuk sarana ini adalah 30.000 jiwa, dengan luas
lahan yang dibutuhkan 2.400 m2 dan kriteria
lokasinya sebaiknya berdekatan dengan pelayanan
fasilitas pemerintahan.
• Apotik
Salah satu wadah kesehatan yang berfungsi untuk
melayani penyediaan obat-obatan penduduk adalah
apotik. Dimana keberdaan fasilitas kesehatan tersebut
sangat diperlukan berada di tengah-tengah lingkungan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


144
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
permukiman penduduk. Jumlah penduduk pendukung
adalah 10.000 jiwa dan luas lahan yang dibutuhkan
700 m2 dengan lokasi menyatu dengan rumah tinggal.
b) Estimasi Kebutuhan
• Rumah Sakit
Berdasarkan hasil analisis estimasi kebutuhan untuk
sarana kesehatan khususnya Rumah Sakit di
Kecamatan Somba Opu berjumlah 2 Unit . Perkiraan
untuk 20 tahun kedepan fasilitas Rumah Sakit yang
ada saat ini sudah cukup mampu untuk melayani
estimasi penambahan penduduk yang direncanakan
untuk tahun 2041.
• Puskesmas Pembantu
Eksisting sarana kesehatan berupa puskesmas
dikecamatan Somba Opu belum ada, berdasarkan
hasil analisis kebutuhan sarana ini menunjukkan
bahwa mulai dari tahun 2021-2041 secara keseluruhan
membutuhkan 5 unit puskesmas sebagai balai
pengobatan masyarakat sesuai dengan estimasi jumlah
penambahan penduduk 20 tahun kedepan sebanyak
177.670 , dengan kebutuhan lahan 1.500 m2.
• Posyandu
Dari hasil analisis kebutuhan sarana posyandu di
Kawasan Perencanaan Somba Opu membutuhkan
124 unit untuk dapat menampung penambahan
penduduk 20 tahun kedepan, dengan membutuhkan
penambahan lahan 8520 m2 , dimana untuk saat ini
belum ada sarana posyandu yang tersedia.
• Apotik
Untuk sarana kesehatan khusunya Apotik saat ini di
Kawasan Perencanaan Somba Opu berjumlah 57 unit

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


145
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
dengan luas lahan 30.000 m2, berdasarkan hasil
analisis estimasi sarana kesehatan berupa Apotik saat
ini sudah mampu menopang pertumbuhan penduduk
diKawasan Perencanaan 20 tahun kedepan.
Tabel 3.38
Estimasi Kebutuhan Sarana Kesehatan Kawasan Perencanaan
Tahun 2021-2041
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Fasilitas
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan Ruang
Penduduk Kesehatan
Pendukung lahan(m2) (m2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Posyandu 1.250 60 - 122 7320
Klinik 30.000 3000 - 5 15000
1 2026 Puskesemas 30.000 300 - 5 1500
153.476
Pembantu
Puskesmas 120.000 1000 2 - -
Rumah Sakit 240.000 172800 2 - -
Apotik 30.000 250 57 - -
Jumlah 61 132 23820
Posyandu 1.250 60 - 128 7680
Klinik 30.000 3000 - 5 15000
2 2031 Puskesemas 30.000 300 - 5 1500
161.152
Pembantu
Puskesmas 120.000 1000 2 - -
Rumah Sakit 240.000 172800 2 - -
Apotik 30.000 250 57 - -
Jumlah 61 138 23820
Posyandu 1.250 60 - 135 8100
Klinik 30.000 3000 - 5 15000
3 2036 Puskesemas 30.000 300 - 5 1500
169.209
Pembantu
Puskesmas 120.000 1000 2 - -
Rumah Sakit 240.000 172800 2 - -

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


146
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Fasilitas
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan Ruang
Penduduk Kesehatan
Pendukung lahan(m2) (m2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Apotik 30.000 250 57 - -
Jumlah 61 155 24600
Posyandu 1.250 60 - 142 8520
Klinik 30.000 3000 - 5 15000
4 2041 Puskesemas 30.000 300 - 5 1500
177.670
Pembantu
Puskesmas 120.000 1000 2 - -
Rumah Sakit 240.000 172800 2 - -
Apotik 30.000 250 57 - -
Jumlah 61 152 24600
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Berdasarkan tabel diatas kondisi esksisting sarana
kesehatan di Kawasan Perencanaan berjumlah tidak ada
unit posyandu dan untuk 20 tahun ke depan tepatnya
pada tahun 2041 yang paling dominan dibutuhkan
penambahan 142 unit posyandu untuk melayani
kebutuhan kesehatan masyarakat yang ada di Kawasan
Perencanaan.
4) Sarana Peribadatan
Sarana Peribadatan merupakan tempat untuk menjalankan
ibadah umat beragama secara berjamaah untuk memenuhi
kebutuhan rohani.
a) Standarisasi Perencanaan
• Mushollah
Jumlah penduduk pendukung minimal 250 jiwa untuk
1 (satu) unit mushollah, dengan luas lahan tiap unit 45
m2.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


147
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
• Masjid
Jumlah penduduk pendukung minimal 2500 jiwa
untuk 1 (satu) unit mesjid, dengan luas lahan tiap unit
300 m2.
• Sarana Ibadah Agama Lain
Jumlah pendukung penduduk disesuaikan dengan
kebiasaan penganut agama setempat dalam melakukan
ibadah agamanya.
b) Estimasi Kebutuhan
• Mushollah
Penduduk pendukung untuk fasilitas Peribadatan
Musholla berjumlah 250 jiwa, berdasarkan hasil
analisis estimasi kebutuhan 20 tahun kedepan
fasilitas yang ada saat ini sudah dapat mencukupi
untuk penambahan penduduk yang di rencanakan.
• Mesjid
Berdasarkan hasil analisis estimasi kebutuhan
fasilitas Peribadatan di Kawasan Perencanaan
Somba Opu kondisi eksisting Masjid sebanyak 164
Unit. Untuk 20 tahun yang akan datang mulai dari
tahun 2021-2041 sesuai dengan jumlah
penambahan penduduk yang fasilitas peribadatan
khususnya masjid dibutuhkan pertambahan sekitar
546 unit.
• Gereja
Jumlah pendukung penduduk disesuaikan dengan
kebiasaan penganut agama setempat dalam
melakukan ibadah agamanya.
Untuk lebih jelasnya tentang analisis estimasi
jumlah kebutuhan sarana peribadatan, sebagaimana
pada tabel.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


148
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.39
Estimasi Kebutuhan Sarana Peribadatan di Kawasan Perencanaan
Tahun 2021-2041
Ketententuan SNI
Jumlah Fasilitas Kebutuhan
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan
Penduduk Peribadatan Ruang (m²)
Pendukung lahan(m²)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Musholla 250 100 164 449 44900
1 2026 153.476 Mesjid 30.000 3000 15 - -
Gereja 2.500 500 5 56 28000
Jumlah 184 505 72900

Musholla 250 100 164 480 48000


2 2031 161.152 Mesjid 30.000 3000 15 - -
Gereja 2.500 500 5 59 29500
Jumlah 184 539 77500
Musholla 250 100 164 512 51200
3 2032 169.209 Mesjid 30.000 3000 15 - -
Gereja 2.500 5 62 31000
Jumlah 184 574 82200
Musholla 250 100 164 546 54600
4 2041 177.670 Mesjid 30.000 3000 15 - -
Gereja 2.500 500 5 66 33000
Jumlah 184 612 87600
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Berdasarkan tabel diatas kondisi eksisting sarana
peribadatan di Kawasan Perencanaan saat ini
berjumlah 184 unit dan di perlukan penambahan
sarana peribadatan di estimasikan musholla sebanyak
546 unit untuk 20 tahum kedepan. Hal ini dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat yang
ada di Kawasan Perencanaan.
5) Sarana RTH
Ruang terbuka merupakan komponen berwawasan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


149
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
lingkungan, yang mempunyai arti sebagai suatu landscape,
hardscape, taman atau ruang rekreasi dalam lingkup
urban. Peran dan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)
ditetapkan dalam Instruksi Mendagri no. 4 tahun 1988,
yang menyatakan "Ruang terbuka hijau yang populasinya
didominasi oleh penghijauan baik secara alamiah atau
budidaya tanaman, dalam pemanfataan dan fungsinya
adalah sebagai areal berlangsungnya fungsi ekologis dan
penyangga kehidupan wilayah perkotaan.
Tabel 3.40
Estimasi Kebutuhan RTH di Kawasan Perencanan Tahun 2021-2041
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Eksis
No Tahun Fasilitas RTH Penduduk Luas Kebutuhan Ruang
Penduduk ting
Pendukung lahan(m2) (m2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Taman dan
30.000 100 3 2 200
1 2026 153.476 Lapangan
Pemakaman
120.000 3000 6 - -
Umum
Jumlah 9 2 200
Taman dan
30.000 100 3 2 200
2 2031 161.152 Lapangan
Pemakaman
120.000 3000 6 - -
Umum
Jumlah 9 2 200
Taman dan
30.000 100 3 2 200
3 2036 169.209 Lapangan
Pemakaman
120.000 3000 6 - -
Umum
Jumlah 9 2 200
Taman dan
30.000 100 3 2 200
4 2041 Lapangan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


150
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
177.670 Pemakaman
120.000 3000 6 - -
Umum
Jumlah 9 2 200
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa


kebutuhan ruang terbuka hijau di Kawasan Perencanaan
untuk 20 tahun kedepan dibutuhkan lahan seluas 15.200
m²,untuk taman/lapangan dibutuhkan lahan seluas 200 m²
dengan penambahan sarana sekitar 2 unit .
6) Sarana Perdagangan dan Jasa
Sarana perdagangan dan niaga ini tidak selalu berdiri
sendiri dan terpisah dengan bangunan sarana yang lain.
Dasar penyediaan selain berdasarkan jumlah penduduk
yang akan dilayaninya, juga mempertimbangkan
pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok
lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait
dengan bentukan grup bangunan / blok yang nantinya
terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan
penempatan penyediaan fasilitas ini akan
mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait
dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk
melayani pada area tertentu.
a) Standarisasi Perencanaan
• Warung/Toko
Jumlah Penduduk Pendukung minimal 250 jiwa untuk
1 unit Warung dengan luas lahan tiap unit minimal
100m²
• Pertokoan
Jumlah Penduduk Pendukung minimal 6.000 jiwa
untuk 1 unit Pertokoan dengan luas lahan minimal
3.000m²

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


151
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
• Pasar Lingkungan
Jumlah Penduduk Pendukung minimal 30.00 jiwa
untuk 1 unit Pertokoan dengan luas lahan minimal
10.000m²
• Pusat Perbelanjaan dan niaga
Jumlah Penduduk Pendukung minimal 120.000 jiwa
untuk 1 unit Pertokoan dengan luas lahan minimal
36.000m²
• Bank
Sarana pelayanan umum berupa bank memiliki
jumlah penduduk pendukung berjumlah 120.000 jiwa,
dengan luas lahan 1.000 m² . Penempatan sarana ini
sebaiknya di tengah-tengah pusat kota.
b) Estimasi Kebutuhan
• Warung/Toko
Eksisting untuk fasilitas toko saat ini di Kawasan
Perencanaan Somba Opu berjumlah 365 unit ,
berdasarkan hasil analisis estimasi sarana yang
dibutuhkan untuk 20 tahun kedepan dari tahun 2021-
2041 dibutuhkan 345 unit, dengan kebutuhan lahan
seluas 34.500 m².
• Pertokoan
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan untuk sarana
pertokoan di Kecamatan Somba Opu jumlah eksisting
terdapat 63 unit. Estimasi kebutuhan untuk fasilitas
pertokoan dibutuhkan 63 unit untuk menopang
kebutuhan masyarakat 20 tahun kedepan dengan
estimasi penambahan penduduk sekitar 177.670 m².
• Pasar
Berdasarkan hasil analisis estimasi kebutuhan sarana
perdagangan pasar umum di Kawasan Somba Opu

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


152
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
dan sekitarnya, sarana pasar yang ada saat ini yaitu 6
unit, dari estimasi kebutuhan untuk 20 tahun kedepan
fasilitas pasar saat ini sudah cukup mampu menopang
kebutuhan masyarakat, dengan luas lahan 300 m² per
unit sesuai dengan standar perencanaan.
• Bank
Estimasi fasilitas bank yang dibutuhkan untuk 20
tahun kedepan sekitar 26 unit, dengan kebutuhan
lahan sekitar 26.000 m², dimana bangunan yang
tersedia saat ini masih berjumlah 27.
Tabel 3.41
Estimasi Kebutuhan Sarana Perdagangan dan Jasa di Kawasan Perencanaan
Tahun 2021-2041
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Fasilitas
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan Ruang
Penduduk Perdagangan
Pendukung lahan(m²) (m²)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Toko 250 100 365 248 24800
1 2026 153.476 Pertokoan 6.000 3000 63 - -
Pasar 30.000 300 6 - -
Bank 120.000 1000 27 - -
Jumlah 461 248 24800
Toko 250 100 365 279 27900
2 2031 161.152 Pertokoan 6.000 3000 63 - -
Pasar 30.000 300 6 - -
Bank 120.000 1000 27 - -
Jumlah 461 279 27900
Toko 250 100 365 311 31100
3 2036 169.209 Pertokoan 6.000 3000 63 - -
Pasar 30.000 300 6 - -
Bank 120.000 1000 27 - -
Jumlah 461 311 31100
Toko 250 100 365 345 31100

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


153
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Ketententuan SNI Kebutuhan
Jumlah Fasilitas
No Tahun Penduduk Luas Eksisting Kebutuhan Ruang
Penduduk Perdagangan
Pendukung lahan(m²) (m²)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
4 2041 177.670 Pertokoan 6.000 3000 63 - -
Pasar 30.000 300 6 - -
Bank 120.000 1000 27 - -
Jumlah 461 345 31100

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021


Berdasarkan tabel diatas kondisi eksisting sarana
perdagangan dan jasa di Kawasan Perencanaan saat ini
berjumlah 461 unit dan yang paling dominan di
perlukan penambahan sarana Toko di estimasikan
sebanyak 345 unit untuk 20 tahun kedepan.
b. Analisis Prasarana
Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang
utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan,
proyek,dsb). Adapun beberapa yang termuat dalam analisi
prasarana di Kawasan Perencanaan sebagai berikut:
1) Prasarana Jaringan Air Bersih
Ketersediaan air bersih dari PDAM pada saat ini sudah
tersedia di Kawasan Perkotaan Kecamatan Somba Opu dan
Sekitarnya dimana masyarakat juga memanfaatkan sumur
galian dan sumur bor. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa ketersediaan air bersih di Kawasan Perencanaan dan
Sekitarnya sudah terlayani. Akan tetapi seiring dengan
perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat,
sehingga dilakukan kajian analisis tingkat kebutuhan air
bersih hingga tahun perencanaan 2041 dengan harapan
bahwa pada Kawasan Perkotaan Kecamatan Somba Opu
dan Sekitarnya dimasa yang akan datang dapat lebih

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


154
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
terlayani sumber air bersih dengan tingkat pemakain yang
dibutuhkan. Dimana dimasa yang akan datang kebutuhan air
bersih untuk berbagai kebutuhan sangat penting serta
semakin bertambah pula seiring dengan pertumbahan
jumlah penduduk perkotaan.
Standar Kebutuhan Air Bersih, Kebutuhan air adalah jumlah
air yang dipergunakan secara wajar untuk keperluan pokok
mausia (domestik) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang
memerlukan air. Besarnya pemakaian oleh masyarakat
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat hidup,
pendidikan,tingkat ekonomi dan kondisi sosial. Macam
kebutuhan air bersih umumnya dibagi atas kebutuhan
domestik dan non domestik.
- Konsumsi Unit SR (liter/org/hari):120 liter/org/hari
- Konsumsi Unit HU (liter/org/hari):30 liter/org/hari
- Konsumsi Unit Non-Domestik adalah 20 % dari
total kebutuhan domestic
- Kehilanga Air : 20%
- SR:HU adalah 70:30
Tabel 3.42
Proyeksi Kebutuhan Prasarana Air Bersih di Kawasan Perencanaan Tahun
2026-2041
No Keterangan Satuan 2026 2031 2036 2041
I. Kebutuhan Domestik
1 Jumlah Penduduk Jiwa 153476 161.152 169.209 177.670

2 Unit Rumah Asumsi (Jiwa) 30695 32230 33842 35534


Sambungan Rumah
3 Liter/Orang/Hari 4.604.280 4.834.560 5.076.270 5.330.100
(150 Ltr)
Hidran Umum (30
4 Liter/Orang/Hari 920.856 966.912 1.015.254 1.066.020
Ltr)
Sambungan Rumah
5 Liter/Hari 21487 112806,4 118446,3 124369
(70 %)
6 Hidran Umum (30 %) Liter/Hari 9209 9669 10153 10660

Jumlah Kebutuhan Domestik Liter/Hari 5.525.136 5.801.472 6.091.524 6.396.120

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


155
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
No Keterangan Satuan 2026 2031 2036 2041

Kehilangan (20 %) Liter/Hari 1.326.033 1.392.353 1.461.966 1.535.069


D + ND Liter/Hari 6.630.163 6.961.766 7.309.829 7.675.344
II. Kebutuhan Non
Domestik (20% dari Liter/Hari 1.105.027 1.160.294 1.218.305 1.279.224
Kebutuhan Domestik)
III.Total Kebutuhan / hari Liter/Hari 7.956.196 8.354.120 8.771.795 9.210.413
IV. Konversi (m3/ hr) Liter/Hari 7956 8354 8772 9210
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021

Hasil analisis menunjukan bahwa kebutuhan air bersih di


Kawasan Perencanaan sampai akhir tahun perencanaan
2041 dengan jumlah perhitungan penduduk dari hasil
perhitungan menggunakan metode alamiah sebanyak
177.670 jiwa agar dapat melayani kebutuhan air bersih
domestik sebesar 7.675.344 L/H dan kegiatan non domestik
sebesar 1.279.224 L/H.
2) Prasarana Jaringan Listrik
Standar Kebutuhan Listrik Penggunaan standarisasi
kebutuhan listrik digunakan untuk menghitung estimasi
kebutuhan dimasa yang akan datang. Standar yang
digunakan untuk estimasi kebutuhan adalah:
- Perumahan dengan golongan tipe Besar adalah 2.200
Va/Watt,tipe sedang adalah 1.300 Va/Watt dan tipe
kecil sebesar 900 VA/Watt.
- Fasilitas perdagangan dan perkantoran
membutuhkan suplay energi listrik sesuai standar
yakni 60 watt/m² atau 25% dari kebutuhan rumah
tangga.
- Fasilitas sosial dan pelayan umum untuk kegiatan
pendidikan,kesehatan dan peribadatan dan pelayanan
umum meliputi pos keamanan dan balai pertemuan.
Standar kebutuhan energi listrik untuk fasilitas

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


156
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
tersebut adalah 60 watt/m² atau 25 % dari kebutuhan
rumah tangga.
- Penerangan jalan membutuhkan 10% energi listrik
dari total kebutuhan rumah tangga.
- Perkiraan kehilangan energi listrik dalam transmisi
diperkirakan 30% dari total energi listrik yang
dibutuhkan. Kebutuhan Non Domestik. Kebutuhan
non domestik terdiri dari kegiatan sosial, ekonomi
dan pelayanan umum seperti pendidikan, kesehatan,
peribadatan, perdagangan, balai pertemuan,
penerangan jalan dan lain-lain. Total kebutuhan
listrik untuk seluruh kegiatan tersebut adalah 30%
dari kebutuhan rumah tangga.
Hasil analisis menunjukan bahwa kebutuhan listrik
kawasan perkotaan Di Kecamatan Somba Opu
sampai tahun 2041 menggunakan metode alamiah
sebanyak 20.872 KK agar dapat melayani kebutuhan
listrik domestik sebesar 43.900.22 watt dan non
domestik sebesar 13.170.067,5 watt. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 3.43
Proyeksi Kebutuhan Prasarana Listrik di Kawasan Perencanaan Tahun
2026-2041
2026 Kebutuhan 2031 Kebutuhan 2036 Kebutuhan 2041 Kebutuhan
Tipe Rumah Rumah Rumah Rumah
No Asumsi
Rumah Listrik Listrik Listrik Listrik
KK KK KK KK
(Watt) (Watt) (Watt) (Watt)
I. Kebutuhan Domestik

1 Tipe Kecil 900 2527200 437 393156 552 496440 776 698607
2808
Tipe
2 1300 4056 5272800 5679 7382596 7968 10358348 1121 1457586
Sedang

Tipe 4174403
3 2200 6864 15101768 9610 21143056 1348 2966524 18975
Besar 2

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


157
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
2026 Kebutuhan 2031 Kebutuhan 2036 Kebutuhan 2041 Kebutuhan
Tipe Rumah Rumah Rumah Rumah
No Asumsi
Rumah Listrik Listrik Listrik Listrik
KK KK KK KK
(Watt) (Watt) (Watt) (Watt)
1372 15726, 4390022
Jumlah 22901768 28918808 9868 13821312 20872
8 24 5
II. Kebutuhan Non Domestik
Fasilitas Sosial
1 4580353,6 5783761,6 2764262,4 8780045
Ekonomi (20%)

Penerangan Jalan 4390022,


2 2290176,8 2891880,8 1382131,2
(10%) 5
1317006
Jumlah 6870530,4 8675642,4 4146393,6
7,5
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
3) Prasarana Jaringan Telekomunikasi
Mengingat pentingnya prasarana ini serta
mempertimbangkan perkembangan wilayah Perencanaan
pada masa yang akan datang, maka diperlukan peningkatan
pelayanan prasarana telekomunikasi. Salah satu alternatif
dalam peningkatan pelayanan prasarana telekomunikasi di
Kecamatan Binamu adalah dengan mengembangkan BTS
(Based Tranceiver Station). Untuk memperkirakan
kebutuhan telepon di Kecamatan Binamu akan digunakan
asumsi sebagai berikut:
- Kebutuhan telepon untuk rumah tipe besar dengan
target pelayanan 80%.
- Kebutuhan untuk tipe rumah tipe Sedang dan Kecil
dengan target pelayanan 20%.
- Kebutuhan telepon untuk kegiatan sosial ekonomi
sebesar 30% dari total kebutuhan domestik.
- Kebutuhan telepon untuk telepon umum sebesar 10%
dari total kebutuhan domestik.
Kemajuan teknologi menciptakan satu inovasi baru
yang memudahkan seseorang untuk melakukan komunikasi
tanpa terbatas oleh dimensi spasial yang berbeda. Telepon

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


158
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
merupakan sarana yang penting dalam mengatasi
keterbatasan berhubungan dengan wilayah yang berbeda.
Untuk mendukung sarana tersebut perlu direncanakan suatu
jaringan telekomunikasi yang baik dalam hal kuantitas,
kualitas dan distribusinya. Jaringan telekomunikasi
merupakan salah satu infrastruktur yang memiliki arti
penting dalam mendukung kehidupan, keberlangsungan dan
pertumbuhan ekonomi dan sosial suatu masyarakat atau
komunitas. Arti penting tersebut antara lain sebagai salah
satu stimulan dan indikator pertumbuhan wilayah. Jaringan
telekomunikasi juga memiliki peranan penting dalam
pengembangan kualitas masyarakat, terutama dalam segi
sosial dan kebudayaan. Umumnya jaringan telekomunikasi
tersebut terdapat pada fasilitas perkantoran, perdagangan
dan jasa serta sebagian lingkungan perumahan. Untuk
memenuhi kebutuhan layanan telepon, perlu ditambah
kapasitas layanan dengan mempertimbangkan laju
pertumbuhan penduduk, meningkatnya taraf pendapatan
masyarakat dan kebutuhan akan informasi dan komunikasi.
Untuk mengantisipasi kebutuhan akan telekomunikasi di
masa yang akan datang, perlu dilakukan proyeksi guna
mengetahui perkiraan kebutuhan sambungan telepon.
Sebagai dasar perkiraan kebutuhan sambungan telepon
digunakan pendekatan sebagai berikut :
- Proyeksi kebutuhan sambungan telepon untuk
kebutuhan domestik dilakukan berdasarkan proyeksi
kebutuhan rumah.
- Kebutuhan Domestik, kebutuhan untuk rumah skala
besar target pelayananya adalah 80%, kebutuhan
rumah tipe sedang dan kecil target pelayanannya
adalah 20%.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


159
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
- Kebutuhan Non Domestik, kebutuhan Non Domestik
terdiri dari kebutuhan untuk kegiatan sosial ekonomi
sebesar 30% dan kebutuhan telepon umum sebesar
10% dari kebutuhan domestik.
Tabel 3.44
Proyeksi Kebutuhan Prasarana Jaringan Telekomunikasi
di Kawasan Perencanaan Tahun 2026-2041
No Kebutuhan Saluran Telefon 2026 2031 2036 2041
Kebutuhan Domestik
Rumah Besar (80%) 2.456 2.578 2.707 2.842
1
Rumah Sedang & Kecil (20%) 5.525 5.801 6.092 6.396
Jumlah Kebutuhan Domestik 7.981 8.380 8.799 9.238
Kebutuhan Non Domestik
Kegiatan Sosial & Ekonomi (30
2 2.394 2.514 2.640 2.772
%)
Telepon Umum (10%) 798 838 880 924
Jumlah Kebutuhan Non Domestik 433 3.192 3.352 3.520
Total Kebutuhan 11.174 11.732 12.318 12.934
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021

Dari hasil analisis menunjukan bahwa kebutuhan


jaringan telepon di Kecamatan Somba Opu sampai akhir
tahun perencanaan 2041 membutuhkan saluran telepon
sebanyak 12.934 unit yang terdiri dari 9.238 unit untuk
kebutuhan domestik dan 3.695 untuk kebutuhan non
domestik.
4) Prasarana Jaringan Drainase
Pengelolaan drainase perkotaan yang berkalanjutan
sangatlah penting dalam peningkatan kualitas permukiman,
dimana drainase merupakan pengaliran dari buangan limbah
cair yang bersumber dari limbah rumah tangga, air buangan
dan pengaruh pasang surutnya air sungai yang kesemuanya
diatur dalam suatu sistem pengaliran dengan mengutamakan
tinggi permukaan tanah (kontur tanah) sehingga pengaliran
air limbah dapat mengalir dengan baik ke saluran drainase

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


160
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
pembuang dengan semaksimal mungkin.Pasang surut
mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap sistem
drainase di wilayah perkotaan, khususnya untuk daerah
yang datar dengan elevasi muka tanah yang tidak cukup
tinggi, masalah yang dihadapi antara lain :
- Terjadinya genangan di kawasan-kawasan yang
elevasinya berada di bawah muka air pasang.
- Terhambatnya aliran-aliran air/banjir pada saluran
yang langsung berhubungan dengan sungai (yang
berpengaruh terhadap pasang surut) akibat naiknya
permukaan air pada saat air pasang.
- Drainase sistem tidak dapat bekerja dengan penuh
sehingga perlu bantuan pompa dan pada outlet-outlet
yang berfungsi untuk mencegah masuknya air sungai
pada saat pasang.
- Bangunan untuk air khususnya terbuat dari metal
mudah berkarat dan rusak akibat terkena air sungai.
Tidak adanya pintu-pintu air untuk mengatasi pengaliran
sungai (DAS). Kondisi jaringan drainase yang ada di
Kawasan Perencanaan Kecamatan Somba Opu untuk
sekarang ini bisa dikatakan sudah cukup baik, hanya saja
ada sebagian jaringan drainasenya yang masih rusak akibat
kurangnya kesadaran masyarakat untuk merawat dan
membersihkan jaringan drainasenya. Kerusakan drainase
tersebut menyebabkan tersumbat di jalur drainase di
karenakan terhambat oleh sampah masyarakat yang
membuang di drainase dan sehingga menyebabkan
genangan air di mana-mana, sehingga perlu dilakukannya
pembenahan dan penambahan luas jaringan drainasenya
untuk mencegah terjadinya genangan ketika musim hujan
tiba di masa yang akan datang,dan drainase yang terhabat

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


161
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
oleh sampah harus di bersihkan singga dapat memperlancar
aliran air di drainase tersebut.
Berdasarkan status pengalirannya, drainase di Kecamatan
Somba Opu dibedakan atas:
- Drainase Primer merupakan drainase utama yang
berfungsi sebagai tumpahan air dari drainase sekunder
dan tersier. Drainase ini juga merupakan aliran-aliran
sungai utama yang ada di Kecamatan Somba Opu.
- Drainase Sekunder Merupakan wadah pengaliran dari
drainase tersier ke drainase primer. Drainase sekunder
ini dapat berupa anak sungai dari drainase primer.
- Drainase Tersier Drainase yang merupakan wadah
pengaliran yang umumnya merupakan saluran
pembuangan rumah tangga yang berada di lingkungan
permukiman maupun perkotaan.
Pengembangan sistem drainase pada Kecamatan Binamu
yaitu dengan menggunakan saluran beton pracetak (U–
Ditch). Pemilihan jenis konstruksi tersebut didasari pada
kondisi lahan yang terbatas, memudahkan penentuan
elevasi kemiringan, pemeliharaan cukup mudah,
kekuatan lebih terjamin dari pasangan batu, waktu
pelaksanaan relatif lebih cepat.
5) Prasarana Jaringan Persampahan
Penanganan terhadap sampah memerlukan perhatian yang
cukup besar mengingat jumlah sampah yang akan terus
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk
kota, serta dampak yang ditimbulkannya apabila tidak
ditangani secara tepat terhadap kota itu sendiri. Selain
pengangkutan dan pengelolaan sampah, penyediaan dan
lokasi pembuangan sampah merupakan kebutuhan bagi
wilayah kota. Adapun dalam melakukan perhitungan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


162
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
volume timbulan sampah didasarkan pada beberapa faktor,
yaitu besarnya peningkatan tingkat pelayanan tiap tahun dan
peningkatan jumlah penduduk. Dominasi komposisi sumber
sampah untuk Kawasan Perkotaan Kecamatan Somba Opu
dan Sekitarnya diperkirakan tidak akan berubah terutama
dalam waktu dekat, karena pola hidup masyarakat dalam
mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan belum
dapat dirubah dalam jangka pendek.Jadi dengan
bertambahnya jumlah penduduk akan terjadi penambahan
volume sampah.
Proyeksi jumlah timbulan sampah pada 20 tahun mendatang
di Kawasan Perkotaan Kecamatan Somba Opu dan
Sekitarnya diperlukan untuk dapat memberikan acuan
dalam peningkatan pelayanan yang efektif dan efisien
dalam penanganan dan pengelolaan sampah yang
dihasilkan. Standar yang digunakan dalam perhitungan
proyeksi jumlah timbulan sampah pada di wilayah
perencanaan adalah sebagai berikut:
- Rumah tangga menghasilkan sampah sebesar 2
lt/hari
- Perdagangan, untuk tiap pasar diperkirakan
menghasilkan sampah sebanyak 25 % dari sampah
produksi rumah tangga sedangkan untuk
perdagangan lainnya menghasilkan 5 % dari sampah
rumah tangga.
- Jalan, menghasilkan sampah sebanyak 10 % dari
sampah rumah Tangga Lain-lain diasumsikan 5 %
dari sampah produksi rumah tangga
Sampah adalah suatu produk atau hasil dari kegiatan
manusia dan alam yang tanpa pengolahan tertentu menjadi
tidak berguna dan dapat menurunkan tingkat kesehatan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


163
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
lingkungan. Untuk mengetahui proyeksi timbulan sampah
di Kecamatan Somba Opu, maka data yang digunakan
adalah data jumlah penduduk berdasarkan hasil proyeksi
hingga tahun 2041. Kegiatan pengelolaan persampahan
ditujukan untuk mengendalikan pengumpulan dan
pembuangan atau penumpukan sampah untuk menghasilkan
lingkungan yang bersih, sehat dan aman. Kegiatan
pengelolaan dan penanganan persampahan dilakukan di
daerah permukiman, perdagangan dan jasa, pendidikan,
industri, dan sarana umum dan lain-lain.
Tabel 3.45
Proyeksi Kebutuhan Prasarana Jaringan Persampahan di
Kawasan Perencanaan Tahun 2026-2041
No Keterangan Satuan 2026 2031 2036 2041
1 Jumlah Penduduk Jiwa 153.476 161.152 169.209 177.670
2 Jumlah Rumah Tangga KK 30.695 32.230 33.842 35.534
3 Standar Produksi Sampah M3/org/hari 0,3
4 Produksi Sampah M3/hari 4.680 6.552 9.194 12.937
5 Kebutuhan Gerobak Sampah 2 M3 23.021 24.173 25.381 26.651
6 Kebutuhan Bak Sampah Kecil 6 M3 7.674 8.058 8.460 8.884
7 Kebutuhan Bak Sampah Besar 12 M3 3837 4029 4230 4442
8 TPS Kontainer Besi 10 M3 4.604 4.835 5.076 5.330
9 Truk Terbuka 7 M3 6.578 6.907 7.252 7.614
10 Dump – Truck 8 M3 5.755 6.043 6.345 6.663
11 Arm – Roll Truck 10 M3 4.604 4.835 5.076 5.330
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Dari hasil tabel analisis di atas menunjukan bahwa
kebutuhan prasarana persampahan di Kecamatan Somba
Opu sampai akhir tahun perencanaan 2041 terdiri dari
26.651 gerobak sampah, 8.884 bak sampah kecil, 4.442 bak
sampah besar, 5.330 TPS Kontainer Besi, 7.614 unit truk
terbuka, 6.663 unit dump-truck, dan 5.330 unit arm-roll
truk.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


164
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
6) Prasarana Jaringan Air Limbah
Saat ini pengelolaan air limbah domestik dilakukan dengan
sistem setempat/on-site, baik secara individu maupun
komunal. Limbah yang dikelola hanya limbah yang berasal
dari WC (black water), yaitu untuk rumah menengah ke atas
dengan menggunakan tangki septik, sedangkan untuk yang
menengah ke bawah masih menggunakan cubluk,
sedangkan penduduk yang belum memiliki fasilitas sanitasi
masih membuang langsung ke badan air/drainase. Kawasan-
kawasan permukiman dan sektor kegiatan yang tumbuh di
Kecamatan Somba Opu pada umumnya pembuangan air
limbah dilakukan langsung ke saluran-saluran air yang
bermuara pada aliran sungai-sungai. Pembuangan air
limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestic (rumah
tangga) tersebut ke badan air dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak
memenuhi baku mutu limbah. Dari hasil analisis kebutuhan
prasarana limbah pada 20 tahun yang akan datang di
Kecamatan Binamu dimana kebutuhan akan prasarana air
limbah tahun 2040 dibutuhkan 1 MCK = 100 jiwa sesuai
standar yang berlaku IPAL di arahkan di jalan lingkungan
(median jalan) dengan 50 kk per ipal komunal. Kebutuhan
prasarana limbah akan selalu bertambah padat tiap tahunnya
karena dilihat dari pertumbuhan penduduk dan kebutuhan
akan prasarana limbah tersebut kedepannya. Untuk
kebutuhan mobil tinja untuk 20 tahun yang akan datang
masih termasuk dalam kategori memadai. Hal-hal yang
yang harus diperhatikan saat pembangunan septic tank agar
tidak mencemari air dan tanah sekitarnya adalah :
- Jarak minimal dari sumur air bersih sekurangnya 10
m;

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


165
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
- Untuk membuang air keluaran dari septic tank perlu
dibuat daerah resapan dengan lantai septic tank
dibuat miring kearah ruang lumpur;
- Septic tank direncanakan utuk pembuangan kotoran
rumah tangga dengan jumlah air limbah antara 70-90
% dari volume penggunaan air bersih;
- Waktu tinggal air limbah didalam tangki
diperkirakan minimal 24 jam;
- Besarnya ruang lumpur diperkirakan untuk dapat
menampung lumpur yang dihasilkan setiap orang
rata-rata 30-40 liter/orang/tahun dan waktu
pengambilan lumpur diperhitungkan 2-4 tahun;
- Pipa air masuk kedalam tangki hendaknya selalu
lebih tinggi kurang lebih 2.5 cm dari pipa air keluar;
- Septic tank harus dilengkapi dengan lubang
pemeriksaan dan lubang penghawaan untuk
membuang gas hasil penguraian.
Tabel 3.46
Proyeksi Kebutuhan Prasarana Jaringan Limbah di
Kawasan Perencanaan Tahun 2026-2041
No Keterangan Satuan 2026 2031 2036 2041
1 Jumlah Penduduk Jiwa 153.476 161.152 169.209 177.670
2 Jumlah Rumah Tangga KK 30.695 32.230 33.842 35.534
Penduduk Yang Terlayani Septic
Asumsi Terlayani
3 Tank 85% 130.455 136.979 143.828 151.020
Asumsi Terlayani
4 Penduduk Yang Terlayani MCK 15% 23.021 24.173 25.381 26.651
Kebutuhan Septic Tank Untuk Unit (1 Septic Tank
5
Keluarga = 1 KK) 3.120 4.368 6.129 8625
Unit (1 MCK = 100
6 Kebutuhan MCK
Jiwa) 230 242 254 267
Lumpur Tinja Domestik Yang lt/hari (30 lt x jlh
7 Dihasilkan pddk)/365 Hari 12.614 13.245 13.908 14.603
8 Lumpur Non Tinja 1t/hari (20%Tinja) 2523 2649 2782 2921
9 Total Jumlah Lumpur lt/hari 15.137 15.894 16.689 17.524
Unit (Kapasitas 4
10 Kebutuhan Mobil Tinja 1 1 1 1
M)
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


166
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
11. Analisis Cagar Budaya
Beragam makna dapat ditemui pada setiap cagar budaya. Cagar
budaya yang masih dapat ditemui dalam wilayah kerja Balai
Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan salah satunya
adalah tinggalan dari Kerajaan Gowa.
Kerajaan Gowa diawali dengan adanya sembilan kerajaan-kerajaan
kecil, yang disebut dengan Kasuwiyang Salapang. Namun sering
terjadi perselisihan di antara kerajaan-kerajaan ini. Keadaan ini
berlangsung hingga munculnya “tomanarung”. Tomanurung
kemudian diangkat menjadi Raja Gowa pertama. Kerajaan Gowa
mulai dikenal dunia di akhir abad 16 dan awal abad ke 17. Kerajaan
Gowa mencapai puncak keemasan diawali pada masa pemerintahan
Sultan Alauddin, Raja Gowa ke XIV.
a. Masjid Katangka
Masjid Katangka berlokasi di Jalan Syekh Yusuf, Kelurahan
Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi Selatan.
Mesjid Tua Katangka merupakan mesjid pertama dan tertua di
Gowa yang dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV
(Sultan Alauddin) pada tahun 1603. Penamaan mesjid ini dari
nama Syufi Kharismatik yang dipuja masyarakat Sulawesi
Selatan. Syufi tersebut adalah Syeh Yusuf Al Makkasari yang
merupakan kerabata raja Gowa. Luas bangunan 212,7 m² dan
dikelilingi pagar besi, dengan tiang pagar dari tembok. Arsitektur
bangunan merupakan campuran bangunan Makassar dan Islam.
Dalam bangunan terdapat tiang soko guru, mimbar dan mihrab.
Pintu masuk menuju ke beranda mesjid hanya sebuah terletak di
muka. Pada dinding depan sebelah kiri-kanan pintu terdapat
hiasan kerawang yang berfungsi sebagai lubang angin. Di beranda
ini terdapat tembok dan di bagian atasnya berkerawang dari
keramik yang semula dipergunakan pembatas tempat wudhu.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


167
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tiga buah pintu masuk ke ruang tengah tempat sholat memiliki
hiasan tulisan Arab dan berbahasa Makassar. Tulisan ini terdapat
di ambang pintu bagian atas. Atap mesjid bertingkat tiga dari
bahan genteng. Antara atap mesjid tingkat dua dan tiga terdapat
pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di
keempat sisinya. Di puncak mesjid terdapat mustaka.
b. Kompleks Makam Sultan Hasanuddin
Kompleks Makam Sultan Hasanuddin berada pada puncak bukit
Tamalate yang termasuk Kelurahan Katangka Kecamatan Somba
Opu Kabupaten Gowa. Lokasi ini sangat mudah dijangkau dari 2
arah. Dari Jalan syekh Yusuf hanya berjarak sekitar 1 km dan dari
arah Jln Pallantikang hanya berjarak 1,5 km.
Di areal Kompleks makam ini terdapat 14 buah makam yang
sebahagian besar merupakan makam bekas Raja-Raja Gowa.
Bentuk Makamnya berupa makam bentuk punden berundak
dengan sistem susun timbun yang merupakan cungkup makam,
serta bentuk kubah dan bentuk sederhana hanya berupa jirat/kijing
persegi empat dengan sistem papan batu.
1) Sultan Alauddin, Raja Gowa ke XIV
I Mangngarangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung
Sultan Alauddin “Tumenanga ri Gaukanna” merupakan
Raja Gowa yang pertama kali memeluk agama Islam.
Beliau lahir pada tahun 1586 dan meninggal pada tanggal
15 Juni 1639. Pada masa pemerintahannya, beliau dibantu
oleh Raja Tallo yaitu Sultan Abdullah. Saat itu, kerajaan
Gowa berkembang menjadi kerajaan Maritim. Beliau
meninggal setelah menjadi Raja selama 46 tahun yang
kemudian digantikan oleh anaknya yaitu, Sultan
Malikussaid.
2) Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke XV

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


168
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng
Lakiung Sultan Malikussaid “Tumenanga ri Papanbatuna”
merupakan Raja Gowa ke XV. Beliau lahir pad tanggal 11
Desember 1605 dan meninggal pada tanggal 6 November
1653. Sultan Malikussaid memerintah selama 14 tahun. Di
bawah kepemimpinannya, Kerajaan Gowa berkembang
pesat. Selama kepemimpinannya Sultan Malikussaid kerap
kali mengajak Hasanuddin yang masih berusia remaja
untuk menghadiri perundingan-perundingan penting. Hal
ini tiada lain dilakukan untuk mengajarkan Sultan
Hasanuddin tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan
strategi peperangan.
3) Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke XVI
c. Makam Sultan Hasanuddin
I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng
Bontomangape Sultan Hasanuddin “Tumenanga ri Balla
Pangkana” merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid.
Beliau lahir pada tanggal 12 Januari 1631. Sultan Hasanuddin
memerintah pada masa kejayaan Kerajaan Gowa karena Gowa
merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang
menguasai jalur perdagangan. Namun, saat itu Belanda sedang
berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah.
Kondisi ini menyebabkan timbulnya pertikaian dan memicu
terjadinya konflik bersenjata antara Kerajaan Gowa dan kompeni
Belanda, apalagi setelah meninggalnya Mangkubumi Kerajaan
Gowa Karaeng Pattingngalloang dan digantikan oleh Karaeng
Karunrung yang tidak kenal kompromi dengan sikap Belanda
yang sangat licik semakin mempercepat timbulnya perang antara
Kerjaaan Gowa dengan kompeni Belanda.
Akibat kalah melawan Belanda, Sultan Hasanuddin kemudian
mengundurkan diri dari takhta kerajaan pada 23 Juni 1669 dan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


169
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
beliau wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Beliau memerintah dari
tahun 1653-1669. Atas jasa perjuangannya melawan penjajahan
Belanda, maka pemerintah menganugerahi penghargaan sebagai
Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 087/TK/1973
tertanggal 6 November 1973.
d. Balla Lompoa
Balla Lompoa adalah istana kediaman raja Gowa, secara harfiah
berarti rumah besar. Balla Lompoa berada di tengah
Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi
Selatan, tepatnya di Jalan Sultan Hasanuddin No 48. Lokasi itu
merupakan situs budaya dalam sebuah komplek yang luasnya
sekitar tiga hektar. Di bagian belakangnya terdapat tembok batu
alam yang tebal dan pintu kayu yang lebar dan kokoh, sedangkan
di bagian depannya berpagar permanen yang rendah dan halaman
yang terbuka. Di samping bangunan Balla Lompoa terdapat
bangunan Istana Tamalate yang ukurannya jauh lebih besar yang
dibangun pada era kepemimpinan Bupati Gowa Syahrul Yasin
Limpo pada tahun 1980-an. Lokasi Balla Lompoa berjarak
kurang lebih 3 kilometer dari Kota Makassar. Arus lalu lintas ke
lokasi itu sangat lancar karena berada di jalur yang dilewati pete-
pete (angkot). Kawasan ini berada di empat persimpangan jalan,
sehingga akses untuk memasuki lokasi tersebut dapat melalui ke
empat pintu gerbang. Pintu gerbang utama berada di jalan KH.
Wahid Hasyim, pintu gerbang kedua berada di bagian belakang
Balla Lompoa yaitu Jalan Andi Mallombassang, pintu gerbang
ketiga berada di Jalan Habibu Daeng Kulle dan pintu gerbang
keempat berada di Jalan A. Baso Erang.
Balla lompoa dibangun tahun 1936 setelah diangkatnya Raja
Gowa ke-XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng
Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir
Muhibuddin. Balla Lompoa adalah kediaman raja sekaligus

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


170
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Pembangunan
istana dan pusat kegiatan pemerintahan dilakukan sebagai
penolakan terhadap salah satu ayat Perjanjian Bungaya yang
menyatakan bahwa gerbang-gerbang dan tembok pertahanan raja
Gowa harus dimusnahkan dan raja Gowa tidak boleh lagi
mendirikan bangunan tanpa izin kompeni. Raja Gowa tidak
boleh mendirikan perkampungan, rumah dan sebagainya sampai
jauhnya satu hari perjalanan dari pinggir laut, juga dilarang
mendirikan benteng-benteng atau kubu-kubu pertahanan. Yang
dipertahankan oleh Belanda hanya Benteng Ujung Pandang yang
kemudian berganti nama menjadi Fort Rotterdam.
e. Makam Syekh Yusuf
Makam Syekh Yusuf Merupakan salah satu objek wisata di
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Syekh Yusuf Wafat
pada tanggal 23 Mei 1699 di Kaap (Afrika Selatan), kemudian
dimakamkan pada tanggal 6 April 1705 di kampung halamannya
Lakiung, Kabupaten Gowa. Syekh Yusuf dikenal sebagai salah
satu tokoh penyebar agama Islam di Kabupaten Gowa.Makam
Syekh Yusuf terletak berdekatan dengan Benteng Somba
Opu yang merupakan peninggalan Raja Gowa ke-9 Daeng
Matanre Karaeng Tumapa pada abad ke-16. Sebagai bagian dari
sejarah Indonesia,Syekh Yusuf Tajul Khalwati Al-Makassari
memiliki tempat istimewa dalam sejarah Indonesia. Ia mendapat
gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995, atas perannya sebagai
pemimpin perlawanan terhadap koalisi VOC dalam Perang
Saudara Kesultanan Banten (1680-1683).Ulama bergelar Tuanta
Salamaka ri Gowa tersebut adalah tokoh kelima dari Sulawesi,
serta kedua asal Sulawesi Selatan, yang diberi pengakuan
tertinggi negara atas jasa perlawanan terhadap penjajah.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


171
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
f. Makam Arung Palakka
Makama Arung Palakka adalah kompleks pemakaman yang
terletak di Kampung Bontobiraeng, Kelurahan Katangka,
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Di dalam kompleks
terdapat 21 jumlah makam tua yang masih dapat dikenali
namanya. Situs makam ini digunakan sebagai situs pemakaman
raja Kerajaan Bone ke-XIV (1667-1696) yang bernama La
Tenritatta' Arung Palakka yang wafat pada tanggal 6 April 1698.
Selain itu, terdapat makam sultan Kesultanan Gowa ke-XX yaitu
Sultan Ismail (1709-1711) yang wafat pada tanggal 1 April 1724.
Kompleks makam juga memiliki makam dari para kerabat Arung
Palakka. Tokoh-tokoh lain yang dimakamkan di tempat tersebut
adalah Sitti Hawa, Tumenanga ri Bontobiraeng Karaeng
Pattingalloang yang wafat pada 17 September 1654 dan Karaeng
Matowaya. Sedangkan makam-makam lainnya tidak diketahui
namanya.
12. Analisis kelembagaan
a. Kelembagaan Pemerintah
Terdapat beberapa kelembagaan pemerintah di Kecamatan
Somba Opu yaitu Kecamatan dipimpin oleh seorang camat
yang dalam melaksanakan tugas-tugasnya ia akan dibantu oleh
perangkat-perangkat lainnya, seperti halnya di Kecamatan
Somba Opu seorang camat memiliki kedudukan dan
bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota melalui
Sekretaris Daerah. Atau bisa dikatakan bahwa organisasi
kecamatan berfungsi serta bertanggung jawab untuk membantu
tugas-tugas Bupati dalam mengoptimalkan berbagai kegiatan
pemerintah, pembangunan, serta pembinaan kemasyarakatan
yang berada di linkup wilayah kecamatan. seorang camat akan
dibantu oleh seorang sekretaris (sekcam) dalam
mengembangkan segala tugas-tugasnya. Sekretaris camat

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


172
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
merupakan pimpinan sekretariat kecamatan yang bertanggung
jawab kepada camat. Di Kawasan Perencanaan memiliki 2
kepala subbagian (kasubag), yaitu :
- Kasubag perencanaan dan keuangan, tugas pokok adalah
memimpin, merencanakan, mengatur, mengawasi, serta
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan terkait urusan
perencanaan dan keuangan.
- Kasubag Umum dan kepegawaian, tugas pokok adalah
memimpin, merencanakan, mengatur, melakukan
koordinasi, serta pengawasan terhadap kegiatan
pengelolaan administrasi, baik administrasi umum,
perlengkapan, maupun kepegawaian
Selain itu, dalam rangka mewujudkan penataan ruang yang
dapat mengakomodasi kebutuhan ruang bagi masyarakat yang
sesuai dengan kondisi, karakteristik dan daya dukung kawasan
yang terus berkembang, maka diperlukan program dalam rangka
mendukung perkembangan di Kawasan Perencanaan.
b. Kelembagaan Masyarakat
Untuk kelembagaan yang ada di Kecamatan Somba Opu
terdapat beberapa lembaga kemasyarakatan yaitu :
- PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga)
Pkk merupakan organisasi kemasyarakatan yang
memberdayakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam
pembagunan.Gerakan PKK merupakan gerakan nasional
dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari
bawah,yang pengelolaannya dari,oleh dan untuk
masyarakat.pemebrdayaan keluarga meliputi segala
upaya bimbingan,pembinaan dan pemberdayaan agar
keluarga dapat hidup sejahtera,maju dan mandiri.

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


173
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
- RT
Rukun Tetangga, untuk selanjutnya disingkat RT atau
sebutan lainnya adalah lembaga yang dibentuk melalui
musyawarah masyarakat setempat dalam rangka
pelayanan pemerintahan dan kemasyarakatan yang
ditetapkan oleh Pemerintah Desa atau Lurah.
- RW
Rukun Warga, untuk selanjutnya disingkat RW atau
sebutan lainnya adalah bagian dari kerja lurah dan
merupakan lembaga yang dibentuk melalui musyawarah
pengurus RT di wilayah kerjanya yang ditetapkan oleh
Pemerintah Desa atau Lurah.
13. Analisis pembiayaan pembangunan
Analisis pembiayaan pembangunan dilakukan untuk mengidentifikasi
besar pembelanjaan pembangunan, alokasi dana terpakai, dan sumber-
sumber pembiayaan pembangunan yang terdiri dari :
- Pendapatan asli daerah
- Pendanaan oleh pemerintah
- Pendanaan dari pemerintah provinsi
- Investasi swasta dan masyarakat
- Bantuan dan pinjaman luar negeri
- Sumber-sumber pembiyaan lainnya
Analisis pembiayaan juga menghasilkan perkiraan besaran kebutuhan
pendanaan untuk melaksanakan rencana pembangunan wilayah kota
yang diterjemahkan dalam usulan program utama jangka menengah
dan jangka panjang.
Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan
RDTR terkait rencana pemanfaatan ruang (program utama).

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


174
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Tabel 3.47
Perhitungan Rasio Kemandirian di Kabupaten Gowa
Rasio Kemandirian
Tahun Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Transfer
Daerah
1 2 3 4
2021 Rp.198.482.604.336,00 Rp. 1.552.399.635.456 127%
Rata- rata Rasio Kemandirian Daerah 127%
Sumber : Hasil Analisi Data Tahun 2021
Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap
sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung
arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak
ekstern semakin rendah dan demikian pula sebaliknya, Dalam hal ini
pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan Pendapatan Asli
daerah guna membiayai pembangunan.
Tabel 3.48
Derajat Desentralisasi di Kabupaten Gowa
Rasio Derajat
Tahun Total Pendapatan Asli Daerah Total Penerimaan Daerah
Desentralisasi
1 2 3 4
2021 Rp1.841.411.192.535 Rp353.000.000.000 521%
Rata- rata Rasio Kemandirian Daerah 521%
Sumber : Hasil Analisis tahun 2021
Derajat Desentralisasi Fiskal adalah kemampuan pemerintah daerah
dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli daerah guna membiayai
pembangunan. Derajat Desentralisasi Fiskal, khususnya komponen
PAD dibandingkan dengan TPD.
Tabel 3.49
Ketergantungan Keuangan Daerah di Kabupaten Gowa
Rasio
Tahun Pendapatan Transfer Total PAD Ketergantungan
Keuangan Daerah
1 2 3 4
2021 Rp1.552.399.635.456 Rp1.841.411.192.535 843%
Rata- rata Rasio Kemandirian Daerah 843%
Sumber : Hasil Analisi Tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


175
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Berdasarkan tabel diatas, maka terlihat bahwa sumber-sumber
penerimaan daerah saat ini hanya pajak daerah yang memberikan
kontribusi terbesar, namun secara umum sumber- sumber
penerimaan daerah tersebut yang akan digunakan untuk
pembiayaan pembangunan daerah di Kabupaten Gowa, termasuk
didalamnya yaitu Kecamatan Somba Opu.
Oleh sebab itu Kabupaten Gowa perlu meningkatkan penerimaan
khususnya dari PAD sehingga dapat meningkatkan kemampuan
keuangannya dan menciptakan kemandirian fiskal bagi Kabupaten
Gowa, khususnya di Kecamatan Somba Opu. Selain itu pemerintah
perlu mengalokasikan belanja sesuai dengan prioritas dan untuk
pembangunan, sehingga tercipta kesempatan untuk bekerja bagi
masyarakat dan meningkatkan penghasilan masyarakat serta
kesejahteraannya.
14. Analisis Rawan Bencana
Bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 dibagi menjadi 3 jenis,
yaitu Bencana Alam,Bencana Non Alam, dan Bencana Sosial
a. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, di
antaranya gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
b. Bencana Non Alam adalah bencana yang diakibatkan oeh
peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain
berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic, dan
wabah penyakit.
c. Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh manusia
yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan terror.
Dan di Kawasan Perencanaaan yaitu Kecamatan Somba Opu,
Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan hanya satu jenis bencana alam
yang pada umumnya terjadi yaitu banjir. Kerawanan banjir yang

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


176
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
terjadi di kecamatan somba opu dengan didasarkan pada faktor-
faktor alam yang mempengaruhi banjir antaralain faktor
meteorologi (intensitas curah hujan, distribusi curah hujan,
frekuensi dan lamanya hujan berlangsung) dan karakteristik daerah
aliran sungai (kemiringan lahan/kelerengan, ketinggian lahan,
tekstur tanah dan penggunaan lahan).

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


177
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.37
Peta Rawan Bencana di Kawasan Perencanaan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


178
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
15. Analisis SKL
Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) merupakan analisis untuk
melihat tingkat kemampuan lahan yang dapat dikembangkan untuk
kegiatan budidaya perkotaan. Penyusunan Analisis SKL merujuk
kepada Pedoman dari Permen PU No. 20 tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan. Analisis Kemampuan
Lahan merupakan indeks komposit dari beberapa SKL antara lain :
a. SKL Morfologi
b. SKL Kemudahan dikerjakan
c. SKL Kestabilan Lereng
d. SKL Kestabilan Pondasi
e. SKL Ketersediaan Air
f. SKL untuk Drainase
g. SKL Terhadap Erosi
h. SKL terhadap Bencana Alam
Sebagai berikut penjelasan Analisis di atas:
a. Analisis SKL Morfologi
Tujuan analisis SKL Morfologi adalah memilah bentuk
bentang alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan
perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai
dengan fungsinya. Dalam analisis SKL Morfologi melibatkan
data masukan berupa peta morfologi dan peta kelerengan
dengan keluaran peta SKL Morfologi dengan penjelasannya.
Morfologi berarti bentang alam, kemampuan lahan dari
morfologi rendah berarti kondisi morfologi suatu kawasan
kompleks. Morfologi kompleks berarti bentang alamnya
berupa gelombang, pegunungan. Akibatnya, kemampuan
pengembangannnya sangat rendah sehingga sulit
dikembangkan dan atau tidak layak dikembangkan. Lahan
seperti ini sebaiknya direkomendasikan sebagai wilayah
lindung atau budi daya yang tak berkaitan dengan manusia,

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


179
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
contohnya untuk wisata alam. Morfologi tinggi tidak bisa
digunakan untuk peruntukan. Ladang dan sawah. Sedangkan
kemampuan lahan dari morfologi tinggi berarti kondisi
morfologi tidak kompleks. Ini berarti tanahnya datar dan
mudah dikembangkan sebagai tempat permukiman dan
budidaya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
Tabel 3.50
Hasil SKL Morfologi
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Kemampuan Lahan dari Morfologi Tinggi 2090
2 Kemampuan Lahan dari Morfologi Cukup 271
Total 2361
Sumber Data : Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Morfologi disajikan pada Peta 3.38
b. Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan
Tujuan analisis SKL Kemudahan Dikerjakan adalah untuk
mengetahui tingkat kemudahan lahan di wilayah dan/atau
kawasan untuk digali/dimatangkan dalam proses
pembangunan/ pengembangan kawasan. Dalam analisis ini
membutuhkan masukan berupa peta topografi, peta
morfologi, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta
penggunaan lahan eksisting, dengan keluaran peta SKL
Kemudahan Dikerjakan dan penjelasannya. Sebelum
melakukan analisis SKL Kemudahan Dikerjakan, terlebih
dahulu harus diketahui penjelasan dari data yang terlibat
dalam analisa yaitu jenis tanah. Dalam analisis ini, akan
ditinjau faktor pembentukan tanah dari aspek waktu
pembentukkannya di mana tanah merupakan benda alam
yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian
yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadi
semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


180
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal
mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Beradasarkan dari
hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terdapat satu kelas
SKL kemudahan dikerjakan, yaitu kemudahan dikerjakan
tinggi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah
ini :
Tabel 3.51
Hasil SKL Kemudaha Dikerjakan
No Klasifikasi Luas (Ha)
Kemudahan dikerjakan
1 2361
tinggi
Total 2361
Sumber data: Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Kemudahan Dikerjakan
disajikan pada Peta 3.39
c. Analisis SKL Kestabilan Lereng
Kestabilan Lereng Tujuan analisis SKL Kestabilan Lereng
adalah untuk mengetahui tingkat kemantapan lereng di
wilayah pengembangan dalam menerima beban. Dalam
analisis ini membutuhkan masukan berupa peta topografi,
peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta
hidrogeologi, peta curah hujan, peta bencana alam
(kerentanan gerakan tanah) dan peta penggunaan lahan,
dengan keluaran peta SKL Kestabilan Lereng dan
penjelasannya. Sebelum melakukan analisis SKL Kestabilan
Lereng, terlebih dahulu harus diketahui penjelasan dari data
yang terlibat dalam analisa yaitu jenis tanah. Kestabilan
lereng artinya wilayah tersebut dapat dikatakan stabil atau
tidak kondisi lahannya dengan melihat kemiringan lereng di
lahan tersebut. Bila suatu kawasan disebut kestabilan
lerengnya rendah, maka kondisi wilayahnya tidak stabil
Tidak stabil artinya mudah longsor, mudah bergerak yang
artinya tidak aman dikembangkan untuk bangunan atau

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


181
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
permukiman dan budidaya. Kawasan ini bisa digunakan
untuk hutan, perkebunan . Sebenarnya satu SKL saja tidak
bisa menentukan peruntukkan lahan apakah itu untuk
pertanian, permukiman, dil. Peruntukkan lahan didapatkan
setelah dilakukan overlay terhadap semua SKL. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.52
Hasil SKL Kestabilan Lereng
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Kestabilan Lereng Tinggi 2086

3 Kestabilan Lereng Cukup 275


Total 2361
Sumber data: Hasil Analisis Tahun 2021

Adapun hasil analisis SKL Kestabilan Lereng disajikan


pada Peta 3.40
d. Analisis SKL Kestabilan Pondasi
Tujuan analisis SKL Kestabilan Pondasi adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan lahan untuk mendukung
bangunan berat dalam pengembangan perkotaan, serta jenis-
jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan.
Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa peta SKL
kestabilan lereng, peta jenis tanah, peta kedalaman efektif
tanah, peta hidrogeologi dan peta penggunaan lahan eksisting
dengan keluaran peta SKL Kestabilan Pondasi dan
penjelasannya. Sebelum melaksanakan analisis SKL
Kestabilan pondasi, harus diketahui terlebih dahulu sifat
faktor pendukungnya terhadap analisis kestabilan pondasi
meliputi jenis tanah. Kestabilan pondasi artinya kondisi
lahan/wilayah yang mendukung stabil atau tidaknya suatu
bangunan atau kawasan terbangun. SKL ini diperlukan untuk
memperkirakan jenis pondasi wilayah terbangun. Kestabilan
pondasi tinggi artinya wilayah tersebut akan stabil untuk

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


182
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
pondasi bangunan apa saja atau untuk segala jenis pondasi.
Berdasarkan dari kajian analisis tersebut, dimana terdapat 2
kestabilan pondasi, yakni daya dukung dan ketabilan pondasi
cukup dan daya dukung dan kestabilan pondasi sedang.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.53
Hasil SKL Kestabilan Pondasi
No Klasifikasi Luas (Ha)
Daya dukung dan Kestabilan
1 2338
Pondasi Tinggi
Daya dukung dan Kestabilan
2 23
Pondasi Cukup
Total 2361
Sumber data: Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Kestabilan Pondasi disajikan pada
Peta 3.41
e. Analisis SKL Ketersedian Air
Tujuan analisis SKL Ketersediaan Air adalah untuk
mengetahui tingkat ketersediaan air dan kemampuan
penyediaan air pada masing-masing tingkatan, guna
pengembangan kawasan. Dalam analisis Ini membutuhkan
masukan berupa peta morfologi, peta kelerengan, peta curah
hujan, peta hidrogeologi, peta jenis tanah dan peta
penggunaan lahan eksisting dengan keluaran peta SKL
Ketersediaan Air dan penjelasannya. sebagaimana pada
kajian analisis dimana SKL Ketersediaan Air wilayah
perencanaan terbagi menjadi 2 yaitu cukup dan tinggi. Untuk
lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.54
Hasil SKL Ketersediaan Air
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Ketersedian Air Tinggi 2097

2 Ketersedian Air Cukup 264

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


183
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Total 2361
Sumber: Hasil Analisis Tahun 2021

Adapun hasil analisis SKL Ketersediaan Air disajikan pada


Peta 3.42
f. Analisis SKL untuk Drainase
Tujuan analisis SKL untuk Drainase adalah untuk mengetahui
tingkat kemampuan lahan dalam mengalirkan air hujan secara
alami, sehingga kemungkinan genangan baik bersifat lokal
maupun meluas dapat dihindari. Dalam analisis ini
membutuhkan masukan berupa peta morfologi, peta
kemiringan lereng, peta topografi, peta jenis tanah, peta curah
hujan, peta kedalaman efektif tanah, dan penggunaan lahan
eksisting dengan keluaran peta SKL untuk Drainase dan
penjelasannya. Berdasarkan hasil analisis dimana SKL Drinase
wilayah perencanaan terdiri dari satu yaitu tinggi. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.55
Hasil SKL Drainase
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Ketersedian Air Tinggi 1344

2 Ketersedian Air Cukup 1017


Total 2361
Sumber data: Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Drainase disajikan pada Peta 3.43
g. Analisis SKL terhadap Erosi
Tujuan analisis SKL Terhadap Erosi adalah untuk
mengetahui daerahdaerah yang mengalami keterkikisan
tanah, sehingga dapat diketahui tingkat ketahanan lahan
terhadap erosi serta antispasi dampaknya pada daerah yang
lebih hilir. Dalam analisis ini membutuhkan masukan berupa
peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta
hidrogeologi, peta curah hujan dan peta penggunaan lahan
eksisting dengan keluaran peta SKL Terhadap Erosi dan

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


184
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
penjelasannya. Berdasarkan hasil analisis dimana SKL
terhadap erosi wilayah perencanaan terdiri dari satu yaitu
kategori kurang. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel 3.56
Hasil SKL Terhadap Erosi
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Erosi Cukup 264

2 Erosi Kurang 2097


Total 2361
Sumber data: Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Terhadap Erosi disajikan pada
Peta 3.44
h. Analisis SKL terhadap Bencana Alam
Tujuan analisis SKL terhadap Bencana Alam adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menerima
bencana alam khususnya dari sisi geologi, untuk
menghindari/mengurangi kerugian dari korban akibat
bencana tersebut. Dalam analisis ini membutuhkan masukan
berupa peta peta morfologi, peta kemiringan lereng, peta
topografi, peta jenis tanah, peta curah hujan, peta bencana
alam (kerentanan gerakan tanah) dan peta penggunaan lahan
eksisting dengan keluaran peta SKL Terhadap Bencana Alam
dan penjelasannya. Analisis SKL terhadap Bencana Alam
juga mengikutsertakan analisis terhadap jenis tanah yang
sama dengan SKL Terhadap Erosi. Untuk lebih jelasnya,
sebagaimana pada tabel berikut ini.
Tabel 3.57
Hasil SKL Terhadap Bencana Alam
No Klasifikasi Luas (Ha)
Potensi Bencana Alam
1 2356
Tinggi
Total 2361
Sumber: Hasil Analisis Tahun 2021

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


185
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Adapun hasil analisis SKL Becana Alam disajikan pada Peta
3.45
i. Satuan Kemampuan Lahan
Klasifikasikan kemampuan lahan untuk pengembangan
Kawasan Perencanan dimaksudkan untuk mengetahui
gambaran tingkatan kemampuan lahan dari aspek
kemampuan lahan. Klasifikasi kemampuan lahan untuk
pengembangan di daerah studi dimaksudkan untuk
mengetahui gambaran tingkatan kemampuan lahan dari 9
variabel penyusun kategori kemampuan lahan. Variabel
tersebut antara lain adalah morfologi, kemudahan dikerjakan,
kestabilan lereng, kestabilan pondasi, ketersediaan air,
drainase, erosi, pembuangan limbah dan bencana.
Pengklasifikasikan kemampuan lahan untuk pengembangan
kawasan dilakukan dengan cara mengoverlay setiap satuan
kemampuan lahan yang telah diperoleh hasil pengkalian nilai
akhir (tingkatan kemampuan lahan paada setiap SKL) dengan
bobotnya secara satu persatu sehingga diperoleh peta jumlah
nilai akhir dikalikan bobot seluruh SKL secara kumulatif.
Hasil pengalian nilai akhir dengan bobot setiap satuan, dalam
analisis ini disebut dengan istilah skor (Skor=nilai_akhir x
Bobot). Adapun bobot dari masing satuan kemampuan lahan
(SKL) adalah sebagai berikut :
Tabel 3.58
Kriteria Kemampuan Lahan
Kelas Kemampuan
Nilai Total Keterangan
Lahan
Kemampuan
0-6 Zona E
Pengembangan Rendah
Kemampuan
6-15 Zona D
Pengembangan Kurang
Kemampuan
16-25 Zona C
Pengembangan Sedang
Kemampuan
26-35 Zona B
Pengembangan Cukup

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


186
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Kemampuan
36-45 Zona A
Pengembangan Tingii
Sumber : Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2007 Pedoman Teknik
Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam
Penyusunan Rencana Tata Ruang
Tabel 3.59
Kemampuan Lahan di Kawasan Perencanaan
No Klasifikasi Luas (Ha)
Kemampuan Pengembangan
1 2361
Sangat Tinggi
ftz 2361
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2021
Adapun hasil analisis SKL Kawasan Perencanaan disajikan
pada Peta 3.46

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


187
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.38
Peta SKL Morfologi di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


188
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.39
Peta SKL Kemudahan di Kerjakan di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


189
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.40
Peta SKL Kestabilan Lereng di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


190
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.41
Peta SKL Kestabilan Pondasi di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


191
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.42
Peta SKL Ketersedian Air di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


192
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.43
Peta SKL Terhadap Erosi di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


193
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.44
Peta SKL untuk Drainase di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


194
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA
Peta 3.45
Peta SKL terhadap Bencana Alam di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


195
PERENCANAAN
KOTA
BERBASIS
PERDAGANGAN
DAN JASA

Peta 3.46
Peta Kemampuan Lahan di Kawasan Delinasi

Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Bosowa 2022


196

Anda mungkin juga menyukai