Artikel 2
Artikel 2
Kampar
A. Latar Belakang
Secara umum, Good Governance adalah pemerintahan yang baik. Dalam versi World
Bank, Good Governance adalah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid
dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun
secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan politican
framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha. Hal ini bagi pemerintah maupun swasta di Indonesia
ialah merupakan suatu terobosan mutakhir dalam menciptakan kredibilitas publik dan untuk
Good Governance di Indonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan sistem
pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good Governance
merupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan
tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah berjalan selama 15 tahun ini,
penerapan Good Governance di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai
dengan cita – cita Reformasi sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran
dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi yang merupakan dua produk utama Good
Governance.
Akan tetapi, Hal tersebut tidak berarti gagal untuk diterapkan, banyak upaya yang
dilakukan pemerintah dalam menciptakan iklim Good Governance yang baik, diantaranya ialah
1
memudahkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan kebijakan dan dalam
proses pengawasan pengelolaan APBN dan BUMN. Oleh karena itu, hal tersebut dapat terus
menjadi acuan terhadap akuntabilitas manajerial dari sektor publik tersebut agar kelak lebih baik
pelaksanaan Good governance pun banyak yang dibentuk. Hal ini sangatlah berbeda jika
dibandingkan dengan sektor publik pada era Orde Lama yang banyak dipolitisir pengelolaannya
dan juga pada era Orde Baru dimana sektor publik di tempatkan sebagai agent of development
bukannya sebagai entitas bisnis sehingga masih kental dengan rezim yang sangat menghambat
dalam sistem pemerintahan saja akan tetapi hal tersebut mampu membawa dampak positif
terhadap badan usaha non-pemerintah yaitu dengan lahirnya Good Corporate Governance.
Dengan landasan yang kuat diharapkan akan membawa bangsa Indonesia kedalam suatu
Menurut UNDP (1997), good governance memiliki sepuluh prinsip utama, yaitu
partisipasi publik, aturan hukum (rule of law), transparansi, daya tanggap pelayanan, berorientasi
konsensus, kesetaraan (equity), efektivitas dan efisiensi, akuntabilitas, bervisi strategis, dan
saling keterkaitan antara seluruh prinsip tersebut. Good governance menekankan pentingnya
interaksi sinergis dan setara antara 3 pilar: negara, sektor swasta dan masyarakat madani (civil
society).
Untuk menciptakan good governance diperlukan upaya yang komprehensif, serius, dan
2
institusi negara yang diharapkan berada di garda terdepan dalam mewujudkan good governance.
Harapan ini wajar dipandang dari posisinya yang strategis dalam pengelolaan sektor publik.
B. Rumusan Masalah
Kampar?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mewujudkan konsep good governance di Kecamatan Siak Hulu
Kabupaten Kampar.
2. Untuk menjelaskan kaitan dari prinsip-prinsip good governance dalam pelayanan publik
D. Tinjauan Pustaka
Semangat reformasi telah mewarnai pendayagunaan aparatur Negara dengan tuntutan
untuk mewujudkan administrasi Negara yang mampu mendukung kelancaran dan keterpaduan
pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan Negara dan pembangunan, dengan
menanggulangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), sehingga tercipta pemerintahan yang
bersih dan mampu menyediakan public goods and services sebagaimana yang diharapkan oleh
masyarakat.
Negara dalam melaksanakan penyediaan public goods and services disebut governance
3
(pemerintah atau kepemerintahan), sedangkan praktek terbaiknya disebut ”good governance”
(kepemerintahan yang baik). Agar “good governance” dapat menjadi kenyataan dan berjalan
dengan baik, maka dibutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak yaitu pemerintah dan
masyarakat. Good governance yang efektif menuntut adanya “alignment” (koordinasi) yang baik
dan integritas, professional serta etos kerja dan moral yang tinggi. Dengan demikian penerapan
tantangan tersendiri.
aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan Negara. Dalam rangka hal
tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan system pertanggungjawaban yang tepat, jelas,
dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara
berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab serta bebas KKN. Perlu diperhatikan
pula adanya mekanisme untuk meregulasi akuntabilitas pada setiap instansi pemerintah dan
memperkuat peran dan kapasitas parlemen, serta tersedianya akses yang sama pada informasi
Pemerintah adalah lembaga beserta aparaturnya yang mempunyai tanggung jawab untuk
pemerintah, masyarakat dan swasta dalam posisi yang sejajar dan saling control.
pemerintahan yang bersih, demokratis dan efektif. Selain itu kepemerintahan yang baik
4
merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara sector pemerintah,
Istilah “government” dan “governance” seringkali dianggap memiliki arti yang sama
yaitu cara menerapkan otoritas dalam suatu organisasi, lembaga atau negara. Government atau
pemerintah juga adalah nama yang diberikan kepada entitas yang menyelenggarakan kekuasaan
pemerintahan dalam suatu negara. Istilah “governance” sebenarnya sudah dikenal dalam literatur
administrasi dan ilmu politik sejak Woodrow Wilson memperkenalkan bidang studi tersebut
kira-kira 125 tahun yang lalu. Tetapi selama itu governance hanya digunakan dalam konteks
Wacana tentang “governance” dalam pengertian yang hendak kita perbincangkan dalam
makalah ini -- dan yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai tata-pemerintahan,
“good governance” dalam berbagai program bantuannya. Oleh para teoritisi dan praktisi
baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan ada juga
Perbedaan paling pokok antara konsep “government” dan “governance” terletak pada
bagaimana cara penyelenggaraan otoritas politik, ekonomi dan administrasi dalam pengelolaan
urusan suatu bangsa. Konsep “pemerintahan” berkonotasi peranan pemerintah yang lebih
makna bagaimana cara suatu bangsa mendistribusikan kekuasaan dan mengelola sumberdaya dan
5
berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Sejatinya, konsep governance harus dipahami
sebagai suatu proses, bukan struktur atau institusi. Governance juga menunjukkan inklusivitas.
Menurut Leach & Percy-Smith (2001) government mengandung pengertian seolah hanya
sementara sisa dari “kita” adalah penerima yang pasif. Sementara governance meleburkan
perbedaan antara “pemerintah” dan “yang diperintah” karena kita semua adalah bagian dari
proses governance. Dengan kata lain, dalam konsep governance terkandung unsur demokratis,
adil, transparan, rule of law, partisipatif dan kemitraan. Mungkin difinisi yang dirumuskan IIAS
adalah yanag paling tepat menangkap makna tersebut yakni “the process whereby elements in
society wield power and authority, and influence and enact policies and decisions concerning
Mudahnya, dapat kita bilang bahwa governance merupakah seluruh rangkaian proses
kemudian berfokus pada aktor-aktor dan struktur atau sistem, baik formal maupun informal,
yang terlibat dalam proses pembuatan dan pengimplementasian sebuah keputusan. Pemerintah
hanyalah salah satu aktor tersebut, sementara aktor-aktor lain diluar pemerintah dan militer biasa
dikelompokkan sebagai bagian dari civil society. Demikian juga, struktur formal pengambilan
keputusan yang dimiliki pemerintah (rapat kabinet, sidang paripurna, dialog dengan warga, dsb.)
hanya merupakan salah satu struktur yang mempengaruhi pengambilan dan pengimplementasian
6
istiadat, mafia, KKN, dsb.) yang dapat mempengaruhi pelaksanaan maupun individu-individu
pada konsensus, akuntabilitas, transparansi, responsif, efektif dan efisien, ekuiti (persamaan
ideal, konsep ini diharapkan dapat memastikan pengurangan tingkat korupsi, pandangan kaum
minoritas diperhitungkan dan suara dari mereka yang paling lemah dalam masyarakat didengar
dalam proses pengambilan keputusan. Ia juga responsif terhadap masa kini dan kebutuhan
1. Participation
Partisipasi oleh pria dan wanita adalah kunci good governance. Partisipasi dapat langsung
maupun melalui institusi perwakilan yang legitimate. Partisipasi harus informatif dan
terorganisir. Ini mensyaratkan adanya kebebasan berasosiasi dan berekspresi di satu sisi dan
2. Rule of law
Good governance memerlukan sebuah kerangka legal atau hukum dan peraturan yang
terutama bagi kaum minoritas. Proses enforcement hukum yang imparsial membutuhkan
lembaga peradilan yang independen dan kepolisian yang juga imparsial dan tidak korup.
7
3. Transparency
dilakukan dalam tata cara yang mengukuti hukum dan peraturan. Ia juga berarti bahwa informasi
tersedia secara bebas dan dapat diakses langsung oleh mereka yang akan dipengaruhi oleh
keputusan tersebut. Informasi yang tersedia haruslah dalam bentuk dan media yang mudah
dimengerti.
3. Responsiveness
Good governance memerlukan institusi dan proses didalamnya yang mencoba untuk
4. Consensus oriented
Ada lebih dari satu aktor dan banyak sudut pandang dalam suatu komunitas. Good
dalam rangka mencapai sebuah konsensus umum dalam masyarakat yang merupakan
kepentingan atau keputusan yang terbaik yang dapat dicapai untuk seluruh masyarakat. Ini
memerlukan perspektif luas dan jangka panjang mengenai apa yang diperlukan untuk
pengembangan manusia secara berkesinambungan. Ini hanya dapat dicapai melalui pemahaman
yang baik atas konteks historis, kultural dan sosial di komunitas atau masyarakat tersebut.
anggotanya merasa bahwa mereka memiliki kepentingan didalamnya dan tidak merasa
dikucilkan dari mainstream masyarakat tersebut. Ini memerlukan semua kelompok, terutama
yang paling lemah, memiliki kesempatan untuk meningkatkan atau mempertahankan keberadaan
mereka.
8
6. Effectiveness and efficiency
Good governance berarti bahwa output dari seluruh proses dan institusi tepat sasaran atau
sesuai dengan kebutuhan masyarakat disamping efisien dalam pemanfaatan sumber daya untuk
melakukannya. Konsep efisiensi dalam konteks good governance juga mencakup penggunaan
7. Accountability
Akuntabilitas adalah salah satu kebutuhan utama dalam good governance. Tidak hanya
untuk institusi pemerintahan, melainkan juga sektor swasta dan organisasi-organisasi civil
society harus bisa diakun oleh publik dan stakeholders-nya. Secara umum, sebuah organisasi
atau institusi bertanggung jawab pada pihak-pihak yang dipengaruhi oleh tindakan-tindakan atau
agar mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya terjangkau.
menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal & bertanggung jawab.
9
6. Transparansi: Menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat
7. Kesetaraan: Memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk
meningkatkan kesejahteraannya.
8. Wawasan ke Depan: Membangun daerah berdasarkan visi & strategis yang jelas &
10. Penegakan Hukum: Mewujudkan penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa
pengecualian, menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat.
Menurut UNDP, prinsip-prinsip good governance atau tata kepemerintahan yang baik
meliputi:
1. Partisipasi. Artinya bahwa setiap warga negara baik langsung maupun melalui
2. Hukum (rule of law). Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu,
4. Ketanggapan (responsiviness), yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-
prosedur harus ditujukan untuk melayani stakeholder secara baik dan aspiratif.
10
5. Berorientasi pada konsensus. Good governance menjadi perantara kepentingan-
kepentingan yang berbeda untuk kemudian diambil pilihan terbaik untuk kepentingan
6. Kesetaraan (equity). Semua warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk
di depan hukum.
7. Efektifitas dan efisiensi, yaitu terkait dengan penggunaan sumber-sumber daya secara
1. Wawasan ke depan (Visionary) yang menunjukkan adanya kejelasan dan ketepatan visi,
2. Keterbukaan dan transparansi, ditampilkan dengan tersedianya akses dan informasi yang
5. Supremasi hukum, ditampilkan dengan kepastian dan penegakan hukum dan sanksi bagi
pelanggarnya.
berorganisasi, kesempatan yang sama untuk setiap warga negara untuk terlibat aktif
11
7. Profesionalisme dan transparansi, ditampilkan dengan kinerja yang baik, taat azas, kreatif
9. Efisien dan efektif, terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan yang tepat guna dan
berdaya guna.
10. Desentralisasi, ditampilkan dengan kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam
14. Komitmen pada pasar yang fair, yaitu tidak ada monopoli, berkembangnya masyarakat,
Gambar 1
Kerangka Berpikir Perlunya Akuntabilitas Menuju Good Governance
Langkah
Manajemen Organisasi Akuntabilitas Good
Strategi
Perubahan Masa Depan Menuju GG Governance
Perubahan
Struktur, Sistem
dan Budaya
Organisasi Masa
Depan
E. Metode Penelitian
Untuk menghimpun data yang diperlukan, maka dipergunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut, pertama observasi, peneliti mengobservasi atau melihat apa yang sedang
12
berlangsung di lapangan. Peneliti mengunjungi lokasi penelitian, mengunjungi pertemuan-
pertemuan atau mengunjungi lokasi kegiatan yang sedang berlangsung. Yang kedua, wawancara
atau Diskusi Kelompok Terarah, wawancara adalah salah satu alat utama yang digunakan dalam
kelompok dan mencatat jawabannya. Ini dilakukan untuk mendiskusikan topik tertentu secara
rinci dengan sejumlah kecil orang yang sesuai dengan pengalaman dan kecenderungan mereka.
Yang ketiga, studi kepustakaan, studi ini dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang
berguna dalam perumusan teori dan landasan bagi penganalisaan data primer, serta untuk
menelaah data melalui literatur yang tersedia, karya ilmiah dan berbagai dokumen yang
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah mengandalkan hasil wawancara
antara peneliti dengan informan yang dengan sengaja peneliti tentukan sesuai dengan kebutuhan
informasi yang diperlukan. Kemudian observasi untuk melihat dan menganalisa kejadian-
kejadian dilapangan. Selanjutnya, menyeleksi data-data yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan
dan mengelompokkan data sesuai dengan jenis dan bentuknya. Kemudian diolah dan dianalisis
kebenarannya.
13
F. Jadwal Pelaksanaan
Penelitian akan dilaksanakan selama 9 bulan meliputi beberapa aspek kegiatan antara lain
persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan, dengan jadwal pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
Tabel. 1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Bulan
No. Jadwal Penelitian
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Persiapan :
1. • Penyusunan proposal
X
• Pengusulan proposal
Studi pendahuluan :
2. X
• Observasi lapangan
Penelitian lapangan :
3. X
• Pengumpulan data
Pengolahan data :
4. • Analisa data X X X X X
• Penarikan kesimpulan
Penyusunan laporan :
• Laporan sementara
5. X
• Seminar
• Laporan akhir
14
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mewujudkan Konsep Good Governance di Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Good governance (tata kelola pemerintahan yang baik) merupakan isu yang marak
dibicarakan belakangan ini. Camat Siak Hulu menunjukkan perhatian besar dalam menciptakan
tata kelola pemerintahan yang baik ini di Kecamatan Siak Hulu. Camat bersama dengan segenap
aparaturnya berupaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari kolusi, korupsi, dan
nepotisme. Isyarat ke arah ini antara lain terlihat dari reformasi birokrasi dan program prioritas
Kecamatan Siak Hulu, yang diarahkan untuk peningkatkan akuntabilitas kinerja dan pelayanan
publik.
optimisme maupun pesimisme berbagai kalangan. Yang optimis menaruh keyakinan terhadap
peluang mewujudkannya. Sementara yang pesimis menganggapnya sebagai hal muluk yang sulit
diimplementasikan.
literatur ilmu politik, administrasi, dan kebijakan publik, ia merupakan paradigma pengelolaan
sektor publik yang terinspirasi dari konsep yang dikembangkan di sektor bisnis, yaitu good
corporate governance (tata kelola perusahaan yang baik). Proses pengadopsian good corporate
governance ke sektor publik, ditandai salah satunya oleh lahirnya konsep “pemerintahan
wirausaha” (reinventing government) yang diintrodusir oleh Osborne dan Gaebler (1992).
Bersamaan dengan itu, paradigma good governance kemudian kerapkali digunakan sebagai
kriteria keberhasilan pembangunan suatu negara atau pemerintahan tak terkecuali Kecamatan
Siak Hulu.
15
Pada prinsipnya, sebagaimana aparatur pemerintah umumnya, banyak aparatur
pemerintah yang juga mendambakan terwujudnya good governance. Mereka akan lebih merasa
nyaman dan aman berada dalam lingkungan kerja yang menjunjung prinsip-prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik. Besarnya harapan di kalangan eksternal dan internal birokrasi
pemerintah dalam mewujudkan good governance merupakan modal berharga. Meski demikian,
harapan tersebut harus berhadapan dengan kendala-kendala birokrasi yang tidak mudah diatasi.
Sistem dan lingkungan kerja birokrasi pemerintah secara apologetik sering dituding
sebagai biang keladi penghambat terwujudnya good governance di Kecamatan Siak Hulu. Fakta-
fakta penghambat terwujudnya good governance di Kecamatan Siak Hulu adalah rendahnya
pengembangan karir yang mengabaikan merit system (sistem yang mengacu pada prestasi kerja),
menuntut peran besar pemerintah. Berkaitan dengan sistem gaji/insentif finansial misalnya,
tentulah tergantung kepada kebijakan pemerintah. Penerapan law enforcement, punishment and
reward, dan merit system yang konsisten juga ditentukan oleh political will pemerintah atau
dalam pengelolaan birokrasi secara amanah tersebut, aparatur pemerintah pun semestinya turut
berperan aktif. Sering kali aparatur pemerintah terperangkap dan terlena dengan status quo
Ada beberapa upaya praktis dan konkret yang dapat dilakukan aparatur Kecamatan Siak
16
1. Aparatur Kecamatan Siak Hulu berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja secara
profesional. Artinya, menjalankan tugas dan fungsi sebaik-baiknya sesuai dengan job
description (tugas yang ditetapkan), baik dalam pelayanan publik maupun dalam aktivitas
birokrasi lainnya;
menempuh pendidikan formal lanjutan serta secara reguler mengikuti berbagai diskusi,
3. Terbuka terhadap ide, gagasan, dan pemikiran baru. Adalah sifat kebanyakan orang untuk
bersikap taken for granted (menerima sesuatu yang berlaku sebagai keniscayaan). Sikap
4. Memanfaatkan segala kesempatan untuk berperan menciptakan kondisi yang lebih baik.
Hal ini terkait erat dengan otoritas seseorang. Sebagai staf, di samping dapat dengan
menampilkan kinerja terbaik, juga dapat melalui kontribusi pikiran yang konstruktif
dalam proses pengambilan keputusan. Sementara itu, atasan dapat memainkan peran yang
pemerintah sering menjadi “yes man” terhadap atasannya karena tidak memilik integritas
atau sekedar mencari selamat. Ada juga yang bersikap demikian karena pemahaman yang
keliru atas makna loyalitas. Padahal, pemikiran berbeda yang positif belum tentu akan
diabaikan atasan. Selain itu, juga tidak jarang menjadi alternatif yang lebih baik dan dapat
17
6. Membangun networking (jejaring kerja) dengan rekan sejawat, individu, dan kelompok
yang memiliki komitmen terhadap perubahan. Menjadi single fighter dalam upaya
perubahan adalah mustahil. Keikutsertaan banyak orang membuat upaya tersebut menjadi
Upaya-upaya yang tersebut dilakukan dengan tekad dan komitmen kuat, sehingga
menimbulkan kesadaran dan aksi kolektif di kalangan aparatur pemerintah Kecamatan Siak
Hulu. Ibarat bola salju, ia akan terus menggelinding sehingga kian lama kehadiran dan
pengaruhnya kian membesar. Ia meninggalkan jejak dan preseden yang menjadi lampu penerang
Konsep Good Governance sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh aparatur pemerintah
di Kecamatan Siak Hulu, namun demikian masih banyak yang rancu memahami konsep Good
Pemerintahan. Tata pemerintahan disini bukan hanya dalam pengertian struktur dan manajemen
lembaga yang disebut eksekutif, karena pemerintah (government) hanyalah salah satu dari tiga
aktor besar yang membentuk lembaga yang disebut governance. Dua aktor lain adalah private
sektor (sektor swasta) dan civil society (masyarakat madani). Karenanya memahami governance
adalah memahami bagaimana integrasi peran antara pemerintah (birokrasi), sektor swasta dan
civil society dalam suatu aturan main yang disepakati bersama. Lembaga pemerintah harus
mampu menciptakan lingkungan ekonomi, politik, sosial budaya, hukum dan keamanan yang
kondusif. Sektor swasta berperan aktif dalam menumbuhkan kegiatan perekonomian yang akan
memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, sedangkan civil society harus mampu
berinteraksi secara aktif dengan berbagai macam aktifitas perekonomian, sosial dan politik
18
Mewujudkan konsep good governance aparatur pemerintah kecamatan Siak Hulu
melakukan dengan mencapai keadaan yang baik dan sinergi dengan sektor swasta dan
masyarakat sipil dalam pengelolaan sumber-sumber alam, sosial, lingkungan dan ekonomi.
Prasyarat minimal untuk mencapai good governance adalah adanya transparansi, akuntabilitas,
partisipasi, pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, dan keadilan. Kebijakan publik yang
dikeluarkan oleh pemerintah harus transparan, efektif dan efisien, serta mampu menjawab
ketentuan dasar keadilan. Sebagai bentuk penyelenggaraan negara yang baik maka Camat Siak
Konsep good governance dapat diartikan menjadi acuan untuk proses dan struktur
hubungan politik dan sosial ekonomi yang baik. Human interest adalah faktor terkuat yang saat
ini mempengaruhi baik buruknya dan tercapai atau tidaknya sebuah negara serta pemerintahan
yang baik. Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan bahwa setiap manusia
nasional bahkan internasional. Dalam rangka mewujudkan setiap kepentingan tersebut selalu
terjadi benturan. Begitu juga dalam merealisasikan apa yang namanya “good governance”
benturan kepentingan selalu lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak dan sekat antar individu
dan kelompok yang membuat sulit tercapainya kata “sepakat”. Good governance pada dasarnya
adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya
yang dapat dipertanggungjawabkan secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh
pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu
negara. Negara berperan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dengan sistem
peradilan yang baik dan sistem pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban kepada publik.
19
lingkungan, dan pembangunan manusia. Good governance menyentuh 3 (tiga) pihak yaitu pihak
pemerintah (penyelenggara negara), pihak korporat atau dunia usaha (penggerak ekonomi), dan
masyarakat sipil (menemukan kesesuaiannya). Ketiga pihak tersebut saling berperan dan
mempengaruhi dalam penyelenggaraan negara yang baik. Sinkronisasi dan harmonisasi antar
pihak tersebut menjadi jawaban besar. Namun dengan keadaan Indonesia saat ini masih sulit
Dengan berbagai statement negatif yang dilontarkan terhadap pemerintah atas keadaan
Indonesia saat ini. Banyak hal mendasar yang harus diperbaiki, yang berpengaruh terhadap clean
Peran pemerintah yang sangat berpengaruh, maka integritas dari para pelaku
pemerintahan cukup tinggi tidak akan terpengaruh walaupun ada kesempatan untuk melakukan
Jangan menjadi dianggap lumrah setiap hambatan dan masalah yang dihadirkan oleh
politik. Bagi terwujudnya good governance konsep politik yang tidak/kurang demokratis yang
berimplikasi pada berbagai persoalan di lapangan. Maka tentu harus segera dilakukan perbaikan.
Krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila tidak teratasi akan
Masyarakat yang solid dan berpartisipasi aktif akan sangat menentukan berbagai
20
merupakan perwujudan riil good governance. Masyarakat juga menjalankan fungsi pengawasan
yang efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Namun jika masyarakat yang
belum berdaya di hadapan negara, dan masih banyak timbul masalah sosial di dalamnya seperti
konflik dan anarkisme kelompok, akan sangat kecil kemungkinan good governance bisa
ditegakkan.
5. Sistem Hukum
merupakan faktor penting dalam penegakan good governance. Kelemahan sistem hukum akan
berpengaruh besar terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan. Good governanance tidak
akan berjalan dengan baik di atas sistem hukum yang lemah. Oleh karena itu penguatan sistim
hukum atau reformasi hukum merupakan kebutuhan mutlak bagi terwujudnya good governance.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sedang berjuang dan mendambakan
terciptanya good governance. Namun, keadaan saat ini menunjukkan bahwa hal tersebut masih
sangat jauh dari harapan. Kepentingan politik, KKN, peradilan yang tidak adil, bekerja di luar
kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa masalah yang membuat
pemerintahan yang baik masih belum bisa tercapai. Untuk mencapai good governance dalam tata
maka tiga pilarnya yaitu pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil hendaknya saling menjaga,
saling support dan berpatisipasi aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sedang
dilakukan
21
Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di
dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu
semua unsur prinsip-prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah ini, prinsip-
prinsip good governance diurai satu persatu sebagaimana tertera di bawah ini:
1. Partisipasi Masyarakat
Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik secara
langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka.
Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk di dalamnya
3. Transparansi
Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan,
lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan
informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
22
5. Berorientasi pada Konsensus
terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok
masyarakat, dan bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur.
6. Kesetaraan
kesejahteraan mereka.
warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin.
8. Akuntabilitas
masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang
berkepentingan. Bentuk pertanggung jawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya tergantung
9. Visi Strategis
Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata
pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang
dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki
23
pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif
tersebut.
Menerapkan praktik good governance dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan
kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Salah satu pilihan strategis untuk
Ada beberapa pertimbangan mengapa pelayanan publik menjadi strategis untuk memulai
Pelayanan publik sebagai penggerak utama juga dianggap penting oleh semua aktor dari
unsur good governance. Para pejabat publik, unsur-unsur dalam masyarakat sipil dan dunia usaha
sama-sama memiliki kepentingan terhadap perbaikan kinerja pelayanan publik. Ada tiga alasan
penting yang melatar-belakangi bahwa pembaharuan pelayanan publik dapat mendorong praktik
good governance di Indonesia. Pertama, perbaikan kinerja pelayanan publik dinilai penting oleh
stakeholders, yaitu pemerintah , warga, dan sektor usaha. Kedua, pelayanan publik adalah ranah
dari ketiga unsur governance melakukan interaksi yang sangat intensif. Ketiga, nilai-nilai yang
selama ini mencirikan praktik good governance diterjemahkan secara lebih mudah dan nyata
misalnya prosedur pelayanan yang bertele-tele, ketidakpastian waktu dan harga yang
menyebabkan pelayanan menjadi sulit dijangkau secara wajar oleh masyarakat. Hal ini
menyebabkan terjadi ketidakpercayaan kepada pemberi pelayanan dalam hal ini birokrasi
sehingga masyarakat mencari jalan alternatif untuk mendapatkan pelayanan melalui cara tertentu
yaitu dengan memberikan biaya tambahan. Dalam pemberian pelayanan publik, disamping
24
permasalahan diatas, juga tentang cara pelayanan yang diterima oleh masyarakat yang sering
melecehkan martabatnya sebagai warga Negara. Masyarakat ditempatkan sebagai klien yang
membutuhkan bantuan pejabat birokrasi, sehingga harus tunduk pada ketentuan birokrasi dan
kemauan dari para pejabatnya. Hal ini terjadi karna budaya yang berkembang dalam birokrasi
selama ini bukan budaya pelayanan, tetapi lebih mengarah kepada budaya kekuasaan.
barangkali bukan merupakan hal yang baru. Namun keterkaitan antara konsep good-governance
(tata-pemerintahan yang baik) dengan konsep public service (pelayanan publik) tentu sudah
cukup jelas logikanya publik dengan sebaik-baiknya. Argumentasi lain yang membuktikan
betapa pentingnya pelayanan publik ialah keterkaitannya dengan tingkat kesejahteraan rakyat.
Inilah yang tampaknya harus dilihat secara jernih karena di negara-negara berkembang
kesadaran para birokrat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat masih
sangat rendah.
3. Masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, banyaknya praktek KKN, dan masih
5. Meningkatnya tuntutan penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik antara lain
transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik serta taat pada hukum;
25
7. Rendahnya kinerja sumberdaya manusia dan kelembagaan aparatur; sistem kelembagaan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam buku van walt yang berjudul changing
public services values mengatakan bahwa para birokrat bekerja dalam sebuah bermuatan nilai
dan lingkungan yang yang didorong oleh sejumlah nilai. nilai-nilai ini yang menjadi pijakan
Terkait dengan pernyataan tersebut ada beberapa nilai yang harus dipegang teguh para
formulator saat mendesain suatu maklumat pelayanan. beberapa nilai yang dimaksud yakni
1. Kesetaraan
2. Keadilan
3. Keterbukaan
5. Partisipasi
7. Efesiensi
8. Efektifitas
Dengan metode tersebut penerapan prinsip good governance dalam pelayanan publik
akan berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip good governance yang telah diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik, pada dasarnya
yang dekat dengan masyarakat dan dalam memberikan pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan
26
terselenggaranya pelayanan publik yang baik, hal ini sejalan dengan esensi kebijakan
desentralisasi dan otonomi daerah yang ditujukan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah
non perizinan) menjadi strategis, dan menjadi prioritas sebagai kunci masuk untuk melaksanakan
kepemerintahan yang baik di Indonesia. Salah satu pertimbangan mengapa pelayanan publik
menjadi strategis dan prioritas untuk ditangani adalah, karena dewasa ini penyelenggaraan
pelayanan publik sangat buruk dan signifikan dengan buruknya penyelenggaraan good
governance. Dampak pelayanan publik yang buruk sangat dirasakan oleh warga dan masyarakat
pemerintah atau pemerintah daerah, selama ini didasarkan pada paradigma rule government
didasarkan pada pendekatan prosedur dan keluaran (out put), serta dalam prosesnya
pendekatan legalitas. Penggunan paradigma rule government atau pendekatan legalitas, dewasa
ini cenderung mengedepankan prosedur, hak dan kewenangan atas urusan yang dimiliki
27
Pendidikan, Kesehatan dan Hukum (administrasi) adalah tiga komponen dasar pelayanan
publik yang harus diberikan oleh penyelenggaran negara (pemerintah) kepada rakyat. Hingga
saat ini, pelayanan tersebut tampak belum maksimal. Kondisi iklim investasi, kesehatan, dan
pendidikan saat ini sangat tidak memuaskan, sebagai akibat tidak jelasnya dan rendahnya
pelayanan, birokrasi yang terkesan berbelit-belit serta rendahnya tingkat kepuasan masyarakat.
a. Kebijakan dan keputusan yang cenderung menguntungkan para elit politik dan sama
b. Kelembagaan yang dibangun selalu menekankan sekedar teknis-mekanis saja dan bukan
c. Kecenderungan masyarakat yang mempertahankan sikap nrima (pasrah) apa adanya yang
telah diberikan oleh pemerintah sehingga berdampak pada sikap kritis masyarakat yang
tumpul.
pribadi.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu unsur pertama, adalah organisasi
pemberi (penyelenggara) pelayanan yaitu Pemerintah Daerah, unsur kedua, adalah penerima
28
layanan (pelanggan) yaitu orang atau masyarakat atau organisasi yang berkepentingan, dan unsur
ketiga, adalah kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima layanan (pelanggan).
1. Unsur pertama menunjukkan bahwa pemerintah daerah memiliki posisi kuat sebagai
(regulator) dan sebagai pemegang monopoli layanan, dan menjadikan Pemda bersikap statis
dalam memberikan layanan, karena layanannya memang dibutuhkan atau diperlukan oleh
orang atau masyarakat atau organisasi yang berkepentingan. Posisi ganda inilah yang
menjadi salah satu faktor penyebab buruknya pelayanan publik yang dilakukan pemerintah
daerah, karena akan sulit untuk memilah antara kepentingan menjalankan fungsi regulator
2. Unsur kedua, adalah orang, masyarakat atau organisasi yang berkepentingan atau
memerlukan layanan (penerima layanan), pada dasarnya tidak memiliki daya tawar atau
tidak dalam posisi yang setara untuk menerima layanan, sehingga tidak memiliki akses
untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Posisi inilah yang mendorong terjadinya
komunikasi dua arah untuk melakukan KKN dan memperburuk citra pelayanan dengan
3. Unsur ketiga, adalah kepuasan pelanggan menerima pelayanan, unsur kepuasan pelanggan
pelayanan publik yang berorienntasi untuk memuaskan pelanggan, dan dilakukan melalui
berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi bangsa, perlu dijamin berkembangnya
kreativitas dan oto-aktivitas masyarakat bangsa yang terarah pada pemberdayaan, peningkatan
29
kesejahteraan masyarakat serta ketahanan dan daya saing perekonomian bangsa. Dalam rangka
itu, sistem penyelenggaraan negara baik di pusat maupun di daerah-daerah, perlu memperhatikan
Pertama, pemberdayaan. Dalam pada itu, aparatur pemerintah dalam mengemban tugas
pembangunan, tidak harus berupaya melakukan sendiri. Sesuatu yang sudah bisa dilakukan oleh
masyarakat, jangan dilakukan oleh pemerintah. Apabila masyarakat atau sebagian dari mereka
belum mampu atau tidak berdaya, maka harus dimampukan atau diberdayakan (empowered).
Kedua, pelayanan. Hal tersebut memerlukan perubahan perilaku yang antara lain dapat
dilakukan melalui pembudayaan kode etik ("code of ethical conducts") yang didasarkan pada
dukungan lingkungan ("enabling strategy") yang diterjemahkan ke dalam standar tingkah laku
yang dapat diterima umum, dan dijadikan acuan perilaku aparatur pemerintah baik di pusat
maupun di daerah-daerah.
samping mematuhi kode etik, aparatur dan sistem manajemen publik harus mengembangkan
keterbukaaan dan sistem akuntabilitas, serta bersikap terbuka untuk mendorong para pimpinan
dan seluruh sumber daya manusia di dalamnya berperan dalam mengamalkan dan
melembagakan kode etik dimaksud, serta dapat menjadikan diri mereka sebagai panutan
masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan pertanggungjawaban kepada masyarakat dan negara.
kemitraan, selain (1) memerlukan keterbukaan birokrasi pemerintah, juga (2) memerlukan
langkah-langkah yang tegas dalam mengurangi peraturan dan prosedur yang menghambat
kreativitas dan otoaktivitas mereka, serta (3) memberi kesempatan kepada masyarakat untuk
30
pengawasan pembangunan. Pemberdayaan dan keterbukaan akan lebih mendorong akuntabilitas
dalam pemanfaatan sumber daya, dan adanya keputusan-keputusan pembangunan yang benar-
benar diarahkan sesuai prioritas dan kebutuhan masyarakat, serta dilakukan secara riil dan adil
good and services dengan mengembangkan pola kemitraan dan kebersamaan, dan bukan semata-
mata dilayani.
berpartisipasi ditingkatkan.
partisipasi dan kemitraan dalam manajemen pembangunan, dan memberikan penekanan pada
desentralisasi dalam proses pengambilan keputusan agar diperoleh hasil yang diharapkan dengan
cara yang paling efektif dan efisien dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam hubungan ini perlu
pembangunan yang hakiki adalah peningkatan kapasitas perorangan dan kelembagaan ("capacity
building"). Jangan diabaikan pula penyebaran informasi mengenai berbagai potensi dan peluang
pembangunan nasional, regional, dan global yang terbuka bagi daerah; serta privatisasi dalam
dan dunia usaha menjadi pelaku utamanya, terwujudnya kemitraan, dan modernisasi dunia usaha
terutama usaha kecil dan menengah yang terarah pada peningkatan mutu dan efisiensi serta
31
produktivitas usaha amat penting, khususnya dalam pengembangan dan penguasaan teknologi
antara usaha besar, menengah, dan kecil, peranan pemerintah ditujukan ke arah pertumbuhan
yang serasi. Pemerintah berperan dalam menciptakan iklim usaha dan kondisi lingkungan bisnis,
kemitraan antarskala usaha besar, menengah, dan kecil dalam produksi dan pemasaran barang
dan jasa, dan dalam berbagai kegiatan ekonomi dan pembangunan lainnya, serta pengintegrasian
usaha kecil ke dalam sektor modern dalam ekonomi nasional, serta mendorong proses
pertumbuhannya.
dilaksanakan dengan pelimpahan kewenangan yang luas kepada daerah Kabupaten/Kota Madya,
dan Daerah Provinsi berperan lebih banyak dalam pelaksanaan tugas dekonsentrasi, termasuk
kelembagaan sangat diperlukan dalam mewujudkan format otonomi daerah yang baru tersebut,
termasuk kemampuan dalam proses pengambilan keputusan. Ini adalah langkah yang tepat,
keputusan yang tidak terpusat, tetapi tersebar sesuai dengan fungsi, dan tangung jawab yang ada
di daerah.
kewenangan yang selama ini ditangani oleh pemerintah pusat, diserahkan kepada pemerintah
daerah. Langkah-langkah serupa perlu diikuti pula oleh organisasi-organisasi dunia usaha,
32
keputusan bisnis bisa pula secara cepat dilakukan di daerah. Dengan kata lain desentralisasi perlu
33
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang sedang berjuang dan mendambakan
clean and good governance. Untuk mencapai good governance dalam tata pemerintahan di
Indonesia, maka prinsip-prinsip good governance hendaknya ditegakkan dalam berbagai institusi
supremasi hukum, transparasi, peduli dan stakeholder, berorientas pada consensus, kesetaraan,
efektifitas dan efisiensi, akuntabilitas, dan visi strategis. Sehingga apa yang didambakan
Indonesia menjadi negara yang Clean and good governance dapat terwujud dan hilangnya
faktor-faktor Kepentingan politik, KKN, peradilan yang tidak adil, bekerja di luar kewenangan,
dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa masalah yang membuat pemerintahan
yang baik masih belum bisa tercapai. Masyarakat dan pemerintah yang masih bertolak berlakang
untuk mengatasi masalah tersebut seharusnya menjalin harmonisasi dan kerjasama mengatasi
Good governance sebagai upaya untuk mencapai pemerintahan yang baik tercermin
dalam berbagai bidang yang memiliki peran yang peting dalam gerak roda pemerintahan di
3.2 Saran
Dengan melaksanakan prinsip-prinsip good governance maka tiga pilarnya yaitu pemerintah,
korporasi, dan masyarakat sipil saling menjaga, support dan berpatisipasi aktif dalam
34
masyarakat menjadi bagian penting tercapainya good governance. Tanpa good governance sulit
bagi masing-masing pihak untuk dapat saling berkontribusi dan saling mengawasi. Good
governance tidak akan bisa tercapai apabila integritas pemerintah dalam menjalankan pemerintah
tidak dapat dijamin. Hukum hanya akan menjadi bumerang yang bisa balik menyerang negara
dan pemerintah menjadi lebih buruk apabila tidak dipakai sebagaimana mestinya. Konsistensi
pemerintah dan masyarakat harus terjamin sebagai wujud peran masing-masing dalam
pemerintah. Setiap pihak harus bergerak dan menjalankan tugasnya sesuai dengan kewenangan
masing-masing.
35
DAFTAR PUSTAKA
Agus Surjono, dkk, 2008, Paradigma, Model, Pendekatan Pembangunan, dan Pemberdayaan
UNIBRAW, Malang.
Amin Ibrahim, 2004, Pokok-Pokok Analisis Kebijakan Publik, Mandar Maju, Bandung.
Ryaas Rasyid, 2002, Makna Pemerintahan, Penerbit PT Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Sedarmayanti, 2003, good governance (kepemerintahan yang baik) dalam rangka otonomi
daerah, Penerbit Mandar Maju, Bandung.
http://www.banyumaskab.go.id/berita-378-pelaksanaan-good-governance--di-indonesia.html
http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/01/pelaksanaan-prinsip-prinsip-good.html
http://blog.umy.ac.id/stratasatu/2012/06/30/penerapan-konsep-good-governance-dalam-proses-
manajemen-perkotaan/
http://lismaaja.blogspot.com/2011/12/jurnal-penerapan-prinsip-prinsip-good.html
36