0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan4 halaman

Tugas 3 Haper

Teks tersebut menjelaskan tiga jenis upaya hukum yang tersedia dalam hukum acara perdata Indonesia, yaitu upaya hukum biasa (banding dan kasasi), upaya hukum luar biasa (verzet, derden verzet, dan peninjauan kembali), serta alasan pentingnya memberikan upaya hukum kepada pihak yang tidak puas dengan putusan hakim.

Diunggah oleh

Jannah Friska
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan4 halaman

Tugas 3 Haper

Teks tersebut menjelaskan tiga jenis upaya hukum yang tersedia dalam hukum acara perdata Indonesia, yaitu upaya hukum biasa (banding dan kasasi), upaya hukum luar biasa (verzet, derden verzet, dan peninjauan kembali), serta alasan pentingnya memberikan upaya hukum kepada pihak yang tidak puas dengan putusan hakim.

Diunggah oleh

Jannah Friska
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Berikan analisis Anda terhadap macam-macam upaya hukum yang ada pada Hukum
Acara Perdata ?
Jawab : Upaya hukum dibedakan antara upaya hukum terhadap upaya hukum biasa
dengan upaya hukum luar biasa.
1. Upaya hukum biasa
Merupakan upaya hukum yang digunakan untuk putusan yang belum berkekuatan
hukum tetap. Upaya ini mencakup:
a. Perlawanan/verzet
b. Banding
c. Kasasi
Pada dasarnya menangguhkan eksekusi. Dengan pengecualian yaitu apabila putusan
tersebut telah dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu atau
uitboverbaar bij voorraad dalam pasal 180 ayat (1) HIR jadi meskipun dilakukan
upaya hukum, tetap saja eksekusi berjalan terus.
2. Upaya hukum luar biasa
Dilakukan terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan pada
asasnya upaya hukum ini tidak menangguhkan eksekusi. Mencakup:
a. Peninjauan kembali (request civil)
b. Perlawanan pihak ketiga (denderverzet) terhadap sita eksekutorial

2. Berikan pendapat Anda mengenai perlunya upaya hukum diberikan kepada pihak
berperkara terhadap putusan hakim ?
Jawab : Upaya hukum merupakan upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada
seseorang atau badan hukum untuk hal tertentu untuk melawan putusan hakim sebagai
tempat bagi pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang dianggap tidak
sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak memenuhi rasa keadilan, karena hakim juga
seorang manusia yang dapat melakukan kesalaha/kekhilafan sehingga salah
memutuskan atau memihak salah satu pihak. Kemudian pada saat putusan sudah
diputuspun, bisa jadi nantinya ada bukti-bukti baru yang belum sempat ditemukan
pada persidangan sebelumnya, sehingga bisa dibuktikan kembali seperti pada
peninjauan kembali atas putusan kasasi.

3. Jelaskan secara rinci upaya hukum melawan putusan yang Anda ketahui ?
Jawab : 1. UPAYA HUKUM BIASA
a. Banding
Banding merupakan lembaga yang tersedia bagi para pihak yang tidak menerima atau
menolak putusan pengadilan pada tingkat pertama, ketentuan dimaksud diatur dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Peraturan Peradilan Ulangan di Jawa
dan Madura yang mencabut ketentuan banding yang terdapat pada Herziene
Inlandsche Reglement (HIR) . Namun demikian, untuk ketentuan banding bagi
yurisdiksi pengadilan tingkat banding di luar Jawa dan Madura ketentuan tersebut
masih diatur dalam Pasal 199 sampai dengan Pasal 205 Rechtsglement
Buitengewesten (RBg).
Pengajuan banding dapat dilakukan dalam rentang waktu selama 14 (empatbelas) hari
kalender, terhitung keesokkan hari dari hari dan tanggal putusan dijatuhkan dan
apabila hari ke 14 (empatbelas) tersebut jatuh pada hari libur maka dihitung pada hari
kerja selanjutnya.
b. Kasasi
Sebagaiamana lembaga banding, lembaga kasasi ini merupakan lembaga yang
tersedia bagi para pihak yang tidak menerima atau menolak putusan pengadilan pada
tingkat banding dan atau sutau lembaga yang disediakan bagi pihak yang tidak
menerima atau menolak penetapan pengadilan pada tingkat pertama terkait perkara
permohonan. Ketentuan mengenai kasasi ini diatur dalam Pasal 20 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan diatur
pula dalam Pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun
1985 telah beberapa kali dirubah dan terakhir Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

2. UPAYA HUKUM LUAR BIASA


a. verzet
Sesuai Pasal 129 HIR/153 RBg tergugat/para tergugat yang dihukum
dengan verstek berhak mengajukan verzet atau perlawanan dalam waktu 14
(empatbelas) hari setelah tanggal pemberitahuan putusan verstek itu kepada
tergugat/para tergugat semula jika pemberitahuan tersebut langsung disampaikan
sendiri kepada yang bersangkutan. Dan, apabila putusan itu tidak langsung
diberitahukan kepada tergugat sendiri dan pada waktu aanmaning (peringatan)
tergugat hadir, maka tenggang waktunya sampai hari kedelapan
sesudah aanmaning (peringatan) dan, apabila tergugat tidak hadir pada
waktu aanmaning maka tenggang waktunya adalah hari kedelapan sesudah sita
eksekusi dilaksanakan (Pasal 129 Ayat [2] jo Pasal 196 HIR dan Pasal 153 Ayat [2] jo
Psal 207 RBg).
b. derden verzet
Perlawanan pihak ketiga terhadap sita eksekusi dan atau sita jaminan tidak hanya
terhadap suatu benda yang padanya melekat hak milik melainkan juga hak-hak
lainnya. Pihak pelawan harus dilindungi karena Ia bukan pihak berperkara namun
dalam hal ini kepentingannya telah tersentuh oleh sengketa dan konflik kepentingan
dari penggugat dan tergugat. Untuk dapat mempertahankan dimuka dan meyakinkan
pengadilan dalam mengabulkan perlawanannya maka Ia harus memiliki alas hak yang
kuat dan dapat membuktikan bahwa benda yang akan disita tersebut adalah haknya.
Dengan demikian, maka Ia akan disebut sebagai pelawan yang benar dan terhadap
peletakan sita akan diperintahkan untuk diangkat. Perlawanan pihak ketiga ini
merupakan upaya hukum luar biasa tetapi pada hakikatnya lembaga ini tidak menunda
dilaksanakannya eksekusi.
Perlawanan pihak ketiga terhadap sita jaminan
baik conservatoir ataupun revindicatoir tidak diatur baik dalam HIR, RBg ataupun Rv,
ketentuan mengenai hal tersebut didapatkan dari yurisprudensi putusan Mahakamah
Agung tanggal 31 Oktober 1962 No.306 K/Sip/1962 dalam perkara CV. Sallas dkk
melawan PT. Indonesian Far Eastern Pasifik Line.
c. peninjauan kembali
Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan dalam waktu 180 (seratus
delapanpuluh) hari kalender, dalam hal:
1) apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan
yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang
kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu, adalah sejak diketahui kebohongan
atau tipu muslihat atau sejak putusan hakim pidana memperoleh kekuatan hukum
tetap, dan tetap diberitahukan kepada para pihak yang berperkara;
2) apabila setelah perkara diputus ditemukan surat-surat bukti yang bersifat
menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan, adalah sejak
ditemukan surat-surat bukti, yang hari serta tanggal ditemukannya harus dinyatakan di
bawah sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang;
3) apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang
dituntut, apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa
dipertimbangkan sebab-sebabnya, dan apabila antara pihak-pihak yang sama
mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh pengadilan yang sama atau
sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain,
adalah sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan
kepada para pihak yang berperkara;
4) apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan
yang nyata, adalah sejak putusan yang terakhir dan bertentangan itu memperoleh
kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan kepada para pihak yang berperkara;
dan
terhadap permohonan peninjauan kembali yang diajukan melampaui tenggang waktu
180 (seratus delapanpuluh) hari tersebut, tidak dapat diterima dan berkas perkara
dimaksud tidak perlu dikirimkan ke Mahkamah Agung, maka selanjutnya
pengembalian berkas kepada yang bersangkutan harus disertai dengan Penetapan
Ketua Pengadilan Negeri yang menyatakan bahwasanya berkas tidak dapat diterima
oleh karena telah melewati batas waktu yang telah ditentukan undang-undang

referensi :
Upaya Hukum dalam Hukum Acara Perdata diakses dari
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/2296/Upaya-Hukum-dalam-Hukum-
Acara-Perdata.html
Upaya Hukum Perdata diakses dari https://pn-
karanganyar.go.id/main/index.php/tentang-pengadilan/kepaniteraan/kepaniteraan-
perdata/719-upaya-hukum-perdata

Anda mungkin juga menyukai