BUKU JAWABAN TUGAS MATA KULIAH
TUGAS 3
Nama Mahasiswa : HADI
Nomor Induk Mahasiswa/ NIM : 043776945
Kode/Nama Mata Kuliah : LOGIKA (ISIP4211)
Kode/Nama UPBJJ : 47 PONTIANAK
Masa Ujian : 2021/22.2 (2021.2)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TERBUKA
Pada Tugas 3 ini merupakan evaluasi tentang Penalaran Oposisi dan Silogisme Beraturan. Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penalaran oposisi dan bentuk penalaran oposisi sebagai
penyimpulan langsung?
2. Lalu, berikan dua contoh setiap bentuk penalaran oposisi?
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan silogisme beraturan dan bentuk silogisme beraturan
sebagai penyimpulan tidak langsung?
4. Lalu, berikan dua contoh setiap bentuk silogisme beraturan?
jawaban
1. Penalaran oposisi adalah Penalaran dalam logika pertentangan dua pernyataan dengan term
yang sama, yang didefinisikan pertentangan antara dua pernyataan atas dasar pengolahan term
yang sama. Pertentangan di sini diartikan juga dengan hubungak logik, yaitu hubungan yang di
dalamnya terkandung adanya suatu penilaian benar atau salah terhadap dua pernyataan yang
diperbandingkan. Adapun dua pernyataan yang diperbandingkan itu keduanya berbentuk
pernyataan yang terdiri dua term sebagai subjek dan predikat yang menghasilkan penyimpulan
langsung.
2.
a. Benarkah pengertian identitas sebagai bangsa Indonesia pada generasi muda berbeda dengan
generasi tua? Benar
b. Identitas bangsa yang dirasakan oleh generasi muda dan generasi tua mengalami perbedaan
(distinction) dalam praktiknya. Globalisasi telah memberikan ruang “antara”, sehingga
konstruksi identitas “antara” tumbuh di kalangan generasi muda, bukan penipisan rasa identitas
sebagai bangsa.
c. Dalam studi budaya dan studi poskolonial, poskolonialisme merupakan upaya rekonstruksi diri,
yang menjelaskan bahwa “identitas bangsa Indonesia” dikonstruksi di dalam konteks antar-
budaya. (Benar)
3. Silogisme beraturan adalah silogisme lengkap yang terdiri dari dua proposisi yang berupa premis
mayor dan premis minor, dan sebuah konklusi.
4.
a. Relasi antara habitus, kapital budaya, dan ranah menghasilkan praktik dengan strategi, sesuai
dengan formula {(habitus) (capital)} + field = practice (Bourdieu, 1984: 101)
b. Gus Dur bersama The Wahid Institute mereproduksi misi plural and peaceful Islam.yang
dipraktikkan melalui habitus dengan kapital budaya di dalam ranah (field) pendidikan kritis-
emansipatoris
c. Konsepsi habitus Bourdieu itu menjelaskan Gus Dur sebagai cendikiawan, budayawan, dan
politikus memiliki skemata sebagai wujud dari habitus yang mempunyai kapital budaya,
ekonomi dan politik