SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PLUS
NAHDLATUL ‘ULAMA SIDOARJO
TERAKREDITASI ‘A’
NSS : 402050201071 NIS : 400710 NPSN : 60702939
E-MAIL : [Link]@[Link] Website : [Link]
[Link] [Link] PERUM BLURU PERMAI (61218) SIDOARJO Telp. 031-8068547
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
BIMBINGAN KLASIKAL DARING (ONLINE)
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2020/2021
A Komponen Layanan Layanan Dasar
B Bidang Layanan Pribadi, Sosial
C Topik Layanan Penyebaran Berita Hoax
D Fungsi Layanan Pemahaman
E Tujuan Umum Siswa dapat mencegah penyebaran beita hoax
F Tujuan Khusus [Link] dapat menjelaskan pengertian berita hoax (C2)
[Link] dapat mendiskusikan bahaya berita hoax (C2)
[Link] dapat mengidentifikasi berita hoax (C4)
[Link] dapat mengkategorikan berita hoax dan fakta (C6)
[Link] dapat memproduksi video anti hoax (P3)
G Sasaran Layanan Siswa kelas X
H Materi Layanan Mencegah Penyebaran Berita Hoax
I Waktu 2 x 45 menit
J Sumber Modul kelas x dan Video korban hoax
K Metode / Teknik Ekspositori, Diskusi, Kolaborasi
L Media / Alat HP/Komputer yang terkoneksi dengan internet, Materi PPT,
video terkait materi yang diupload melalui youtube.
M Pelaksanaan tatap maya pertama
1. Tahap Awal / Pendahuluan
a. Pernyataan Tujuan 1. Guru bimbingan dan konseling mengucapkan salam,
menyapa peserta didik dengan kalimat yang membuat
siswa bersemangat dan mengajak berdoa melalui google
meet
2. Guru bimbingan dan konseling mempersilahkan mengisi
dan memandu absensi melalui link google form.
3. Guru memandu ice breaking / games sederhana
4. Guru bimbingan dan konseling menyampaikan
topik,tujuan dan proses kegiatan.
5. Guru bimbingan dan konseling Menjelaskan inti materi
dan penyebaran berita hoax
b. Penjelasan tentang 1. Guru bimbingan dan konseling memberikan arahan
langkah-langkah kegiatan tentang penyebaran berita hoax
2. Guru bimbingan dan konseling r menjelaskan tentang
cara mengidentifikasi dan mencegah berita hoax
c. Mengarahkan kegiatan Guru bimbingan dan konseling memberikan arahan
(konsolidasi) tentang cara mencegah penyebaran berita hoax.
Guru bimbingan dan konseling menyampaikan topic
dan materi berita hoax.
d. Tahap Peralihan (transisi) Konselor menanyakan kesiapan peserta didik atau
konseli dalam melaksanakan kegiatan tersebut
2. Tahap Inti
a. Kegiatan peserta didik Peserta didik mendengarkan penjelasan guru
bimbingan dan konseling tentang materi mencegah
penyebaran berita hoax.
Peserta didik mengajukan pertanyaan yg berkaitan
dengan materi layanan
Peserta didik mendiskusikan materi layanan dengan
teman dalam kelas daring dan dipandu oleh guru
bimbingan dan konseling.
b. Kegiatan guru BK atau Guru bimbingan dan konseling menyampaikan materi
Konselor cara mencegah penyebaran berita hoax.
Guru bimbingan dan konseling memfasilitasi tentang
pertanyaan peserta didik.
Guru bimbingan dan konseling mengajak seluruh
peserta didik untuk berdiskusi tentang cara mencegah
berita hoax
Guru bimbingan dan konseling memberikan peluang
kepada peserta untuk menanya dan menjawab
permasalahan yang didiskusikan.
Guru bimbingan dan konseling menayangkan video
pelaku hoax.
3. Tahap Penutup
a. Guru bimbingan dan konseling memberitahukan
kegiatan belajar akan berakhir
b. Peserta didik melakukan refleksi terhadap materi
layanan
c. Peserta didik yang tidak memahami akan ditindak
lanjuti melalui bimbingan kelompok
d. Guru bimbingan dan konseling menyimpulkan hasil
dari diskusi kelompok
e. Penugasan pembuatan video tiktok tentang pencegahan
penyebaran berita hoax untuk pertemuan kedua dengan
tema yang sama.
f. Guru bimbingan dan konseling menutup layanan dasar
dengan doa dan menyimpan rekaman video layanan
dasar secara online.
N Evaluasi
1. Evaluasi Proses Guru bimbingan dan konseling melakukan evaluasi dengan
memperhatikan proses yang terjadi kelas online
1. Mengadakan refleksi
2. Sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan :
(semangat/ kurang semangat/ tidak semangat)
3. Cara peserta didik menyampaikan pendapat atau
bertanya: ( sesuai dengan topic/kurang sesuai dengan
topic/tidak sesuai dengan topik)
4. Peserta didik memberikan penjelasan terhadap
pertanyaan konselor :( mudah dipahami/tidak mudah
dipahami/sulit dipahami)
2. Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti kegiatan klasikal ,antara lain :
1. Merasakan suasana pertemuan: (
menyenangkan/kurang menyenangkan/tidak
menyenangkan).
2. Topik yang dibahas :( sangat penting/kurang penting
/tidak penting).
3. Cara konselor menyampaikan : ( mudah dipahami/tidak
mudah dipahami/ sulit dipahami).
4. Kegiatan yang diikuti : ( menarik/kurang menarik/tidak
menarik untuk diikuti).
Mengetahui, Sidoarjo, 03 Mei 2021
Kepala Sekolah Guru BK / Konselor
Hj. Ummu Faizah, [Link] Mohammad Zakariya, [Link]
Lampiran : 1 Instrumen Penilaian
LEMBAR REFLEKSI DIRI (EVALUSASI PROSES)
Jawablah pertanyaan berikut dengan memberikan diskripsi selama proses bimbingan secara
online!
1. Hal apa yang ada rasakan ketika mengikuti bimbingan online ini?
......................................................................................................................................................
2. Menurut anda bagaimana sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan?
......................................................................................................................................................
3. Sudah sesuaikah pendapat peserta didik dengan topik yang dibahasa?
......................................................................................................................................................
4. Apakah peserta didik mampu menjelaskan dengan baik terhadap pertanyaan dari guru BK?
......................................................................................................................................................
LEMBAR REFLEKSI DIRI (EVALUSASI HASIL)
Pilihlah dengan cara mencentang ( √ ) pada kolom “sangat sesuai”, “sesuai”. Dan “tidak sesuai”
Sangat Tidak
REFLEKSI Sesuai
Sesuai Sesuai
Saya merasakan suasana yang menyenangkan
Menurut saya materi ini sangat menarik
Saya mudah memahami materi yang telah diberiikan
Saya merasa sangat perlu bantuan dari guru BK untuk lebih dapat
mandiri.
Lampiran : Materi layanan
MENANGKAL PENYEBARAN BERITA HOAX
A. Pengertian Berita HOAX
Secara etimologi, kata ‘hoax’ pertama kali diucapkan pada akhir abad ke 18
sebagai sebuah singkatan dari kata kerja ‘Hocus’ yang artinya ‘curang’, ‘membebani
pada’, atau ‘seringnya membut bingung dengan minuman keras yang dibius’. ‘Hocus’
adalah kependekan dari mantra magis hocus pocus’. (Robert Nares : 1822)
Adapun secara terminologi, Berita bohong atau yang lebih dikenal dengan sebutan
hoaks (hoax; hocus pocus) didefinisikan sebagai kebohongan yang dibuat secara sengaja
untuk menyamarkan kebenaran yang ada. Hoaks dimaknai sebagai upaya mengelabui
objek untuk memercayai atau menerima sesuatu yang keliru dan tidak masuk akal. Berita
yang mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber disebut hoax.
(Kemendikbud, 2019) Informasi yang sesat dan berbahaya karena menyesatkan persepsi
manusia dengan menyampaikan informasi palsu sebagai kebenaran disebut Hoax (Afriza
& Adisantoso, 2018). Dalam perkembangannya, hoaks dapat diartikan sebagai kabar
palsu yang sengaja disebar untuk mencari kehebohan publik.
B. Identifikasi berita hoax
1) Mengetahui sumber berita
Untuk mengenali hoax, masyarakat perlu terus diedukasi untuk bisa
mengidentifikasi secara sadar perihal berita sesat alias "hoax" yang kini masih
tersebar luas di dunia maya. Diantaranya dengan mengetahui situs atau domain
yang memberitakan. Ciri-ciri domain yang tidak dapat dipercaya antara lain:
a. Belum memiliki tim redaksi (jika itu situs berita).
b. Keterangan tentang siapa penulisnya tidak jelas (Halaman ABOUT - Untuk
situs Blog)
c. Tidak memiliki keterangan siapa pemiliknya.
d. Nomor telepon dan email pemilik tidak tidak tercantum. Sekalipun ada tapi
tidak bisa dihubungi
e. Domain tidak jelas
f. Tidak ada tanggal kejadiannya.
g. Tempat kejadiannya tidak jelas.
h. Penyebarannya (sharing) dilakukan oleh akun media sosial kloningan/ ghost/
palsu. Biasanya ciri-cirinya adalah sebagai berikut.
Foto profil cewek cantik.
Penampilan seksi dan vulgar.
Dilihat dari dindingnya, statusnya langka dan baru dibuat belakangan ini
(bukan id tua/ bukan id asli).
2) Deteksi berita hoax dari bahasa
Untuk mengetahui kebenaran berita bisa diketahui melalui kontens bahasa
yang digunakan. Ada beberapa ciri kontens berita hoax yang sering digunakan oleh
pelaku, antara lain :
a. Judul yang Provokatif
Judul seyogyanya merupakan intisari berita, sehingga isi berita dapat
diketahui secara singkat melalui pembacaan judul. Judul yang baik tidak
mengarah pada pembiasan berita, mengandung provokatif, dan berpotensi
menjadi masalah. Judul-judul pada berita bohong dirangkai sedemikian rupa
sehingga seolah-olah tampak sebagai sebuah kebenaran atau fakta yang baru
terungkap, tidak berimbang, partisan, dan mengandung unsur hasutan menjadi
ciri-ciri judul yang provokatif. Contoh Kontens hoax degan narasi judul
provokatif:
WAW HEBOH !!! BERITA PAGI INI : PERNYATAAN TERBARU
PANGLIMA TNI: KAMI AKAN HABISI SEMUA PKI DI
INDONESIA WALAU PRESIDEN JOKOWI MELARANG ,.. GATOT:
TETAP SAYA LAKUKAN WALAU RESIKO DIPECAT !!!
Judul tersebut diambil dari kutipan (yang seolah-olah berasal) dari
pernyataan Panglima TNI. Pemberitaan semacam ini dimanfaatkan untuk
memancing kemarahan para pendukung orang yang diberitakan dan lebih
berorientasi kepada adu domba dan penghasutan. Dalam konteks ini, Panglima
TNI diberitakan berani melanggar instruksi Presiden –yang sebenarnya tindakan
yang mustahil terjadi.
b. Pungtuasi yang Berlebihan
Pewarta berita yang baik tentu telah dibekali dengan ilmu-ilmu
jurnalistik, bahasa, dan komunikasi yang matang. Pewarta profesional tentu saja
memegang teguh prinsip-prinsip atau kode etik jurnalistik. Sebuah berita yang
terpercaya tentu melalui proses suntingan terlebih dahulu sebelum dinyatakan
layak terbit dan dipublikasikan sehingga keabsahan informasi terjaga, termasuk
dalam kesalahan tata tulis. Data-data yang ada menunjukkan bahwa hoaks
ditandai dengan hadirnya pungtuasi atau tanda baca yang digunakan secara
berlebihan, baik berupa tanda titik (.) maupun tanda seru (!). Contoh Kontens
hoax degan pungtuasi yang berlebihan :
Berita pagi hari ini yang menghebohkan dunia..!!! paus yohanes II,Atau
yang Akrab Dipanggil Sri Paus,Pimpinan Umat Katholik Sedunia Masuk
ISLAM,Sekitar jam 10 Tadi Pagi Dimasjidil Harham..TOLONG DI
SHARE !!!!
Pada contoh yang ditampilkan di atas dapat diamati hadirnya tanda baca
titik dan tanda seru yang berjumlah lebih dari satu. Tanda seru secara serempak
digunakan untuk mengakhiri kalimat pembuka pada ketiga data, baik dengan dua
atau tiga buah tanda seru. Tanda seru tersebut bahkan sebelumnya diawali oleh
dua atau tiga tanda baca titik. Kasus semacam ini melanggar kaidah Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
c. Kata yang Berunsur Imperatif
Berita bohong dapat diindikasikan dari munculnya kata-kata yang
berunsur imperatif, baik berupa suruhan maupun larangan. Kata-kata kerja
imperatif yang acap kali muncul misalnya “share”, “bagikan”, “like”,
“sebarkan”; dan kata yang digunakan untuk menyatakan ‘ketakjuban’ seperti
“aneh”, “heboh”, “waw”, “astaga” lazim digunakan pada berita palsu. Sebuah
berita yang baik tentunya tidak diukur dari berapa jumlah “like” atau komentar
yang didapatkan.
Kata-kata yang diawali dengan menggunakan kata tolong, silakan, mohon
juga menandai kata-kata yang bermakna perintah, suruhan, atau ajakan. Pada
contoh-contoh yang disajikan di bawah ini, tampak digunakannya kata “komen”,
“tolong sebarkan”, “sebarkan”, dan “silakan berbagi” yang tujuannya untuk
menyuruh. Contoh Kontens hoax dengan kata yang berunsur imperatif :
Kemarin di Thailand ditemukan 1 buah Mobil van berisi hampir 100
tubuh anak2 dlm keadaan meninggal dan dibungkus plastik. Semua tubuh
dalam keadaan TANPA ORGAN TUBUH! Mulai saat ini berhati-hatilah
dgn anak anda kemanapun dia pergi DAMPINGILAH! Baik sekolah dan
bermain, sindikat ini sdh menyebar ke pelosok pelosok di negara
manapun. Tolong sebarkan ini!. kita sebagai orangtua. Waspda!.
Ada beberapa tipe dalam penggunaan kata berunsur imperatif apabila
ditinjau dari lokasi penempatannya. Tipe pertama, kata imperatif ditempatkan di
awal narasi. Tipe kedua kata imperatif berada di bagian tengah narasi dan tipe
ketiga diletakkan di bagian akhir narasi.
d. Bahasa yang Nirbaku
Karena hoaks pada dasarnya bukan diproduksi oleh orang yang
berkompetensi di bidang jurnalistik, bahasa yang digunakan pun jauh dari
kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Bahasa yang digunakan pada umumnya
menggunakan kata-kata yang tidak baku, percampuran huruf kapital dan huruf
kecil pada beberapa kalimat, penyingkatan beberapa kata, serta susunan kalimat
yang tidak gramatikal. Contoh Kontens hoax dengan kata yang nirbaku :
Kerjasama dengan Tiongkok membuat rel kereta api cepat di Uni Emirat
Arab dapat hadiah jutaan pil Ekstasi…..
Jika ditinjau dari stuktur kalimatnya, tidak tergolong ke dalam stuktur
kalimat bahasa Indonesia. Subjek yang menjadi salah satu inti kalimat, tidak
ditemukan pada Narasi tersebut.
e. Bahasa yang Mengandung Sarkasme
Penggunaan kata-kata pedas untuk menyakiti orang lain, cemooh atau
ejekan kasar juga menjadi variasi ungkapan yang sering dimuat pada berita
hoaks. Bahasa-bahasa sarkasme atau yang lebih terkenal dengan “hate speech”
biasanya diusung oleh partisan-partisan yang fanatik terhadap golongan tertentu.
Contoh Kontens hoax dengan bahasa yang mengandung sarkasme:
Pegawai dilingkungan istana skr sdh mulai resah, krn sholat di masjid
Baiturahim istana selain jum’atan sdh tdk boleh ada yg sholat disitu, tdk
boleh ada suara adzan lagi kalau masuk waktu sholat, ini benar2 sdh
kelewatan komunis biadab.!
Kata biadab pada Narasi di atas memiliki makna ‘tidak tahu adat (sopan
santun); kejam’. Kata “biadab” dalam konteks ini digunakan untuk memaki atau
mengumpat.
C. Layanan Online Identifikasi Berita Hoax (Hoax Identifier)
Selain menggunakan cara diatas, ada juga cara yang tidak kalah efektif yang
bisa digunakan untuk mendekteksi hoax pada sebuah artikel, yakni melalui layanan
online. Ada beberapa situs yang bisa digunakan untuk megetahui kebenaran berita,
antara lain:
1) [Link]
Situs ini adalah andalan saya untuk memeriksa sebuah berita apa
tergolong sebagai hoax atau tidak. Pertama kali didirikan oleh organisasi
MAFINDO atau disingkat menjadi Masyarakat Anti Hoax Indonesia pada
November 2016.
Situs ini membagi berita kedalam beberapa kategori, misalnya kategori
manipulasi dimana isi konten dimanipulasi sedemikian rupa dari konten
aslinya, atau kategori klarifikasi berupa konten yang memuat informasi
klarifikasi, ada juga kategori misleading content atau disinformasi yakni sebuah
artikel yang mengulas konten tanpa ada rujukan yang valid, dan masih banyak
kategori lainnya.
Bagaimana situs ini mengidentifikasi dan menentukan sebuah berita
sebagai informasi hoax atau tidak ialah melalui proses verifikasi dan
perbandingan infomasi dari media lain. Sehingga keabsahan artikel yang
dimuat pada situs sangatlah valid dan faktual.
2) [Link]
Layanan ini juga tidak terlalu berbeda dengan dengan [Link],
namun [Link] merupakan layanan resmi yang dibangun oleh Pemerintah
Republik Indonesia dan dikelola oleh Digital Forensics Indonesia atau DFI.
Pada situs ini anda dapat mendeteksi sebuah berita termasuk hoax atau
bukan dengan menyalin seluruh isi konten dan menempelkanya pada kolom
yang disediakan untuk selanjutnya diperiksa oleh sistem apakah termasuk
sebagai berita hoax atau bukan.
D. Sanksi Hukum bagi Pelaku Hoax
Ada beberapa sanksi hukum yang dapat menjerat pelaku hoax melalui media
sosial, diantaranya:
1) UU ITE pasal 28 ayat 1
2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
3) UU Penghapusan Diskriminsi Ras Etnis
E. Berita Pelaku Video Hoax
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
REFERENSI
Afriza, A., & Adisantoso, J. (2018). Metode Klasifikasi Rocchio untuk Analisis
Hoax. Jurnal Ilmu Komputer Agri-Informatika, Volume 5 Nomor 1, 1-10.
Eric Kunto Aribowo, Menelusuri Jejak Hoaks Dari Kacamata Bahasa:
Bagaimana Mendeteksi Berita Palsu Sedini Mungki, (Malang: UM Press,
2017), Hlm. 4-8
Kemendikbud, K. (2019, Juni 25). Hasil Pencarian - KBBI Daring . Diambil
kembali dari [Link]
Ahyad, MR Marwan (2018). Analisis Penyebaran Berita Hoax di Indonesia.
Jurnal nasional, Volume 1 Nomor 1, 1-16.
Robert Nares, A>M., F.R.S., F.A.S., A Glossary; or Collection of Words,
Phrases, Names, and Allusions to Costums, Proverbs, &c. Which Have
Been Thought to Require Illustration In The Works of English Authors,
Particulary Shakespeare, (London: James Moyga, Greville Street, 1822)
Hal: 235
[Link]