Oleh:
Prof. Dr. H. Benyamin Harits, M.S.
1
Isu Birokrasi
Pandangan mendua terdahap cara kerja aparatur
pemerintah:
1. Pandangan pertama: mengangap bahwa aparatur
pemerintah/ birokrasi pemerintah ibarat sebuah
parahu yang dapat menyelamatkan seluruh warga
masyarakat dari “bencana” (ekonomi maupun politik).
Solusi:
a. militer dan partai politik yang kuat.
b. birokrasi yang sehat.
c. dukungan kaum intelektual dari berbagai ahli.
d. teknologi yang lengkap.
2
2. Pandangan kedua, birokrasi pemerintah sering
menunjukkan gejala yang kurang menyenangkan
(bertindak canggung, kurang terorganisir, jelek
koordinasi, menyeleweng, otokratik, dan korup).
Kelemahan iniditunjukkan oleh adanya tindakan:
• Aparaturnya tidak menyesuaikan diri dengan
modernisasi.
• Orientasi pembangunan dan perilakunya tidak
inovatif dan tidak dinamis.
Solusi:
a. Dimulai dengan supremasi hukum.
[Link] administrasi/ birokrasi.
c. Memperbaiki infra/supra struktur pemerintah.
[Link] bangsa dengan pratiotisme ke luddosion
(pribadi, ahklak dan semangat kemandirian).
[Link] yang memihak rakyat (bukan kekuatan
ekonomi dan politik). 3
LINGKUP REFORMASI ADMINISTRASI
Pemahaman reformasi administrasi
meyangkut kemampuan administratif yang
meliputi:
1. Usaha-usaha untuk mengatasi masalah
lingkungan.
2. Perubahan struktur.
3. Perubahan institusi tradisional atau
perubahan tingkah laku individu/ kelompok.
4
Pengertian reformasi administrasi
• Tidak ada kesepakatan.
• Semua mengatakan baik dan bermanfaat.
* Menurut Gerald E. Caiden (1969) pemahaman reformasi
administrasi tidak diterima secara universal, malah jadi
bingung. Namun terdapat parameternya meliputi:
➢ penyempurnaan administrasi.
➢ pemeriksaan administratif.
➢ pengobatan terhadap segala macam ketidakberesan
administratif.
➢ sarana untuk menciptakan pemerintah yang lebih
bersih.
5
* Yehezkel Dror: “reformasi administrasi adalah
perubahan yang terencana terhadap aspek utama
administrasi”.
* Gerald Caiden mendefinisikan reformasi adminitrasi
sebagai: “The Artificial Inducement of Administrative
Transformastion Against Resistance” yang implikasinya
meliputi:
➢ kegiatan yang dibuat oleh manusia (man made),
tidak
➢ bersifat eksidental, otomatis maupun alamiah.
➢ merupakan suatu proses.
➢ resistensi beriringan dengan proses reformasi
administrasi.
6
* John S.T. Quah mengkritik “takrif” reformasi
administrasi dari Caiden karena mengandung 3
kelemahan, antara lain meliputi:
➢ tidak mengidentifikasi tujuan reformasi
administrasi.
➢ tidak memadai, karena istilah “administrative
transformation” merupakan istilah atau
konsepsi kabur dan tidak memberi penjelasan
tentang isi reformasi administrasi.
7
* Menurut Mosher
Isi reformasi administrasi adalah reorganisasi
administrasi yang merupakan instrumen utama dan
merupakan simbol dari penyempurnaan
administrasi.
Aspek lain dari reformasi administrasi adalah:
perubahan sikap, perilaku, dan nilai-nilai orang
yang terlibat dalam proses reformasi administrasi.
Dengan demikian reformasi administrasi meliputi 2
aspek:
aspek institutional,
aspek perilaku.
8
* Kelemahan ke 3 terhadap definisi Caiden ialah
“asumsinya yang terlalu disederhanakan”, yaitu
bahwa resistensi mengikuti proses reformasi
administrasi, karena: adanya ketidakpastian
dan ketidakamanan individu atau kelompok
yang menginginkan kemapanan atau “status
quo”.
9
* Keberatan Quah terhadap definisi Caiden adalah:
- Definisi tersebut tidak mengungkapkan tujuan
reformasi administrasi.
- Definisi tersebut tidak mendefinisikan secara cermat
isi maupun ruang lingkup reformasi administrasi.
- Resitensi bukan merupakan ciri khas dari reformasi
administrasi
* Menurut Quah:
Tujuan yang ingin dicapai dalam reformasi
administrasi adalah “untuk menyempurnakan kinerja
individu, kelompok dan institusi”.
10
* Reformasi administrasi bertujuan untuk memberi saran
tentang bagaimana caranya agar individu, kelompok dan
institusi dapat mencapai tujuan lebih efektif, ekonomis
dan lebih cepat.
* Dalam uraian mendalam Caiden, selanjutnya menyebut:
Reformasi administrasi untuk meningkatkan “kinerja”
atau “administrative health” yaitu suatu situasi dimana
administrasi tidak hanya mampu memenuhi segala
macam tuntutan yang diberikan kepadanya, akan tetapi
juga administrasi yang didalamnya tidak dijumpai
gelangat yang tidak baik.
11
3 Perspektif Sehat Tidaknya Administrasi
1. Ideal optimum, yakni derajat pencapaian
kesempurnaan administrasi.
2. Practical optimum, yakni pencapaian derajat
tertinggi dari suatu kinerja dalam kondisi
tertentu.
3. Satisficing optimum, yakni pencapaian derajat
kinerja yang memuaskan.
12
Peningkatan Kinerja Individu
Keterampilanya,
Kecakapan praktisnya,
Kompetensinya,
Pengetahuan dan informasinya,
Keluasan pengetahuan,
Sikap dan perilakunya,
Kebajikannya,
Kreativitasnya,
Moralitasnya, dll.
13
Ukuran Kinerja Kelompok
Kerjasamanya,
Keutuhannya,
Disiplinnya,
Loyalitasnya,
Tanggungjawabnya, dll.
14
Ukuran Kinerja Institusi
Hubungannya dengan institusi lain,
Fleksibelitasnya,
Adaptabilitasnya,
Pemecahan konflik, dll.
15
5 Alat Ukur Reformasi Administrasi
1. Penekanan baru terhadap program,
2. Perubahan sikap dan perilaku masyarakat dan
anggota birokrasi,
3. Perubahan gaya kepemimpinan yang mengarah
kepada komunikasi terbuka dan manajemen
partisipatif,
4. Penggunaan sumber daya yang lebih efisien,
5. Pengurangan penggunaan pedekatan legalistik.
16
Tujuan Internal Reformasi Administrasi
1. Efisiensi administrasi, dalam arti penghematan uang yang
dicapai melalui penyederhanaan formulir, perubahan prosedur,
penghilangan duplikasi dan kegiatan organisasi metode yang
lain.
2. Penghapusan kelemahan atau penyakit administrasi seperti:
korupsi, pilih kasih dan sistem pertemanan dalam sistem politik.
3. Pengenalan dan penggalakan merit system, pemrosesan data
melalui sistem informasi yang otomatis dan peningkatan
penggunaan pengetahuan ilmiah.
4. Menyesuaikan sistem administrasi terhadapmeningkatnya
keluhan masyarakat.
5. Mengubah pembagian pekerjaan antara sistem administrasi dan
sistem politik.
6. Mengubah hubungan antar sistem administrasi.
17
4 Pendekatan Reformasi Administrasi di Negara
Berkembang
1. Negara yang tidak menganut paham reformasi
administrasi dan lebih menyukai status quo.
2. Negara dengan pendekatan pragmatismurni
terhadapreformasi administrasi (pembaruan dengan
alakadarnya).
3. Negara-negara yang sangat keranjingan terhadap
reformasi administrasi dan melengkapinya dengan
seperangkat peralatan formal untuk isiannya dan
evaluasinya.
4. Negara-negara yang telah mengalami pembaruan yang
diperoleh dari luar.
18
Konteks Umum Reformasi Administrasi
1. Upaya tidak ada henti untuk selalu mencari dan menemukan
kembali format baru diberbagai bidang kehidupan dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Salah satu basis dari replikasi multi masalah dan keberhasilan atau
kegagalan selain desain organisasi dan SDM.
3. Suatu bentuk inovasi yang bukan hanya persoalan menginstal
beberapa bagian dari teknologi manajerial yang efektif di tempat
lain.
4. Keterlibatan dalam berbagai hubungan organisasi dengan individu,
kekuatan sosial, ekonomi, kultur nasional dan lingkungan serta
administrasi.
5. Salah satu penekanan dari lingkungan administrasi di negara
berkembang.
19
Peran Reformasi Administrasi
1. Sebagai daya penggerak secara simultan bagi
pertumbuhan ekonomi, teknologi,perilaku dan
ideologi pembangunan
2. Meminimalis rintangan utama administrasi dari
pada ekonomi.
3. Melalui administrasi sebagai alat perjuangan
manajerial administrasi.
20
Pendekatan Mendua Dari Reformasi Administrasi
1. Administrasi bersinonim dengan administrasi pemerintah dan
atau dengan birokrasi.
2. Adanya birokrasi sebagai alat penyimpangan para alit politik
dianggap suatu pencerahan yang ditransformasikan ke dalam
negara.
3. Adanya ketidakmampuan administrasi pemerintah dalam
mengimplementasikan program-program.
4. Adanya pengikisan administrasi pemerintah sebagai dampak
dari tranformasi bantuan asing.
5. Adanya pandangan bahwa kultur membuat
ketidakberfungsinya birokrasi.
21
4 Wahana Reformasi Administrasi
1. Sebagai hasil karya suatu pengetahuan yang menawarkan
nasihat praktis bagi administrasi.
2. Memandang secara utuh administrasi sebagai alat bantu
dalam proses pelayanan publik.
3. Sebagai pendekatan yang mutakhir dari administrasi
dalam konteks hubungan antara birokrasi, politik dan
organisasi dan lingkungannya.
4. Sebagai sarana kekuasaan dan politik, kebijakan, konflik
elit politik dan pusat serat analisis dalam administrasi.
22
Reformasi Administrasi di Indonesia
1. Diawali dengan krisis multi dimensi tahun 1997 dengan
ketidak adanya akuntabilitas, keterbukaan dan transparansi
Hari kebijakan di bidang politik dan bisnis
2. Tahun 1990-an sampal tahun 2000, adanya perkembangan
teknologi informasi dan transformasi yang berkelanjutan
kepada ekonomi, sosial dan budaya yang semakin mengglobal.
3. Giobalisasi menciptakan norma dan nilai baru yang
menuuntutperubahan drastis masyarakat sehingga ada
ketimpangan antara tuntutan dan harapan masyarakat dengan
administrasi publik sebagai pelayan masyarakat.
4. Reformasi administrasi sebagai Langkah awal dari administrasi
politik.
23
5 Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Reformasi
Administrasi di Indonesia
1. Sebagai desakan dan tuntutan dari pemerintah
melaksanakan good governance.
2. Tajamnya kritik masyarakat terhadap pelayanan publik.
3. Tuntutan masyarakat terhadap kinerja aparat yang keras
dalam situasi yang kurang menguntungkan.
4. Tuntutan masyarakat terhadap profesionalisme aparat
pemerintah dengan mengedepankan akuntabilitas dan
responsibility.
5. Tuntutan pada pemerintah untuk mendengar aspirasi
masyarakat.
24
Agenda Reformasi Administrasi
1. Pemutakhiran birokrasi.
2. Pembentukan lembaga pelatihan aparat.
3. Mendisain skema pembangunan kekuatan lokal.
25
Isu- isu Sumber Daya Manusia
1. Staff merupakan faktor yang paling berharga dalam
organisasi.
2. Dapat dijadikan isu untuk meningkatkan efektifitas dan
efesiensi yang lebih besar dalam birokrasi.
3. Pelatihan merupakan stratgi utama dalam Human
Resources Development (HRD).
4. Bentuk pelatihan dapat berupa: kursus panjang, kursus
singkat, kursus spesialisasi, workshop pelatihan luar
negeri, dalam negeri dan berbagai jenjang akademik.
5. Tujuannya memberikan skill, keyboarding sampai kepda
skill manajerial untuk pelayanan eksekutif.
26
Akuntabilitas Publik
1. Memberikan obyektifitas pada reformasi sektor publik.
2. Memberikan kekuatan pengarah yang memicu bagi para
aktor sebagai penanggungjawab kinerja pelayanan
publik.
3. Fokus pada regularitas di mana pelayanan publik harus
mengikuti aturan-aturan birokrasi.
4. Diarahkan kepada semua kasus untuk perbaikan kinerja
di sektor publik.
27
Hubungan Sektor Publik dan Swasta
1. Sebagai dasar keinginan untuk memprivatisasi sektor
publik.
2. Memfokus diri pada kesejahteraan sosial.
3. Kolaborasi antara pemerintah dan swasta, serta LSM
sebagai kesempatan mengakses pelayanan umum.
4. Sebagal syarat kompetensi untuk meningkatkan kualitas
pelayanan.
28
Reformasi birokrasi adalah upaya pemerintah
meningkatkan kinerja melalui berbagai cara dengan
tujuan efektivitas, efisien dan akuntabilitas
Reformasi birokrasi berarti:
Perubahan cara berpikir (pola pikir, pola sikap dan pola
tindak).
Perubahan penguasa menjadi pelayan.
Mendahulukan peranan dari wewenang.
Tidak berpikir hasil produksi tetapi hasil akhir.
Perubahan manajemen kinerja.
29
Reformasi birokrasi, mewujudkan pemerintahan yang
baik, bersih, transparan dan profesional, bebas korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) melalui:
Penataan kelembagaan, struktur organisasi ramping dan flat (tidak
banyak jenjang hierarkis dan struktur organisasi lebih dominan pemegang
jabatan profesional/fungsional dari pada jabatan struktural).
Penataan ketatalaksanaan, mekanisme, sistem dan prosedur
sederhana/rngkas, simpel, mudah dan akurat melalui optimalisasi
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta memiliki kantor,
sarana dan prasarana kerja memadai.
Penataan sumber daya manusia aparatur, agar bersih sesuai kebutuhan
organisasi dari segi kuantitas dan kualitas (profesional, kompeten,
beretika, berkinerja tinggi, dan sejahtera).
Akuntabilitas, kinerja berkualitas, efektif, efisien, dan kondusif.
Pelayanan dan kualitas pelayanan, pelayanan prima (cepat, tepat, adil,
konsisten, transparan, dan lain-lain), memuaskan pelanggan dan
mewujudkan Good Governance (kepemerintahan yang baik).
30
Menurut Sofyan Effendi, yang perlu diperhatikan
dalam melakukan reformasi sektor publik:
1. Reformasi sektor publik harus lebih diarahkan kepada peningkatan
kemampuan, profesionalisme, dan netralitas birokrasi publik guna
rnengurangi kekaburan peranan politik antara birokrat dan politisi.
Proses politisasi birokrasi dan birokratisasi politik yang terjadi sebagai
akibat dominasi dan hegemoni birokrasi dalam kehidupan politik perlu
dikurangi agar birokrasi publik yang profesional dapat tumbuh lebih
subur
2. Intervensi pemerintah yang terlalu besar dalam kegiatan ekonomi
terbukti mengandung penuh keterbatasan dan menyebabkan inefisiensi
besar. Karena itu sistem pemerintahan Praetorian yang sudah berjalan
sejak awal Orde Baru perlu ditinjau kembali, dan dinilai keampuhannya
secara lebih kritis sebagai penyelenggara pembangunan nasional bangsa
Indonesia. Untuk itu sektor publik, terutama birokrasi publik, harus
mengalami pergeseran nilai, dari otoriterianisme birokratis ke otonomi
demokratis, atau perubahan dari negara pejabat menjadi negara pelayan
31
Ada 3 (tiga) kecenderungan dalam implementasi
perubahan/reformasi birokrasi
1. Negara tetap mempertahankan ideological roots of Weberian
bureaucracy (akar ideologi birokrasi Weberian) yang bertitik tekan
kepada kekakuan dalam hierarki, status, kontrol dan otoritas.
Orientasi pada peraturan yang mengarah kepada sekedar tercapainya
efisiensi.
2. Adanya kecenderungan mengarahkan birokrasi kepada democratic
stage (panggung demokrasi) atau political govern (pemerintahan
politik), di mana orientasi peraturan/hukum sebagai alat/instrumen
untuk perubahan. Birokrasi lebih menitikberatkan kepada basil,
teamwork atau fleksibilitas daripada proses dan prosedur.
3. Adanya tuntutan birokrasi harus berorientasi pasar administrasi
publik, berarti penekanan kepada perbedaan kepentingan dan
kebutuhan masyarakat. Birokrasi harus menekankan fungsinya dalam
jalur warganegara sebagai pelanggan atau berorientasi pelanggan.
32
Perbaikan birokrasi publik antara lain
mengkaji ulang:
1. Fungsi pemerintah. Seiring semakin berkembangnya sistem
perekonomian pasar, maka peran dan fungsi pemerintah harus dikaji
ulang untuk disepakati bersama. Fungsi pemerintah hanya sebagai
pelindung masyarakat yang tidak kuat dalam mekanisme pasar
(miskin) dan menyediakan barang dan jasa yang tidak dapat
disediakan dengan mekanisme pasar.
2. Filosofi birokrasi publik. Untuk memperbaiki birokrasi, agar
birokrasi memiliki dasar pemikiran sama.
3. Struktur organisasi. Dari pengkajian ulani fungsi pemerintahan
yang telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi kehidupan bangsa
bemegara, Iingkungan strategis, maka organisasi birokrasi publik
perlu dibentuk dengan membagi habis fungsi pemerintahan, sehingga
tercipta struktur organisasi layak dan sesuai dasar pemikiran dan
fungsi pemerintahan.
33
Lanjutan ......
4. Revisi peraturan perundangan. Perlu penyesuaian peraturan
perundangan birokrasi publik, yang menyangkut berbagai
aspek dari eksistensinya sampai fungsi dan kewenangannya.
5. Kebijakan sumber daya aparatur. Sumber daya manusia
disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi dalam jabatan
pada struktur organisasi birokrasi publik yang telah
disempurnakan.
6. Manajemen perbaikan birokrasi. Perlu manajemen
profesional sebagai dasar perbaikan birokrasi publik yang
dituangkan dalam peraturan perundangan, termasuk
menentukan perbaikan pemimpin birokrasi publik.
34
Aspek Utama Membangun Birokrasi
1. Membangun visi birokrasi. Harus dilakukan melalui proses
internalisasi/institusionalisasi mulai tingkat nasional sampai tingkat
kabupaten/kota, sehingga para elit birokrasi memiliki kesatuan tujuan,
niat dan komitmen bersama membangun Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
2. Membangun manusia birokrasi. Aspek strategis pertama yang harus
dibenahi kualitas kepemimpinan birokrasi, melalui perkembangan
kepemimpinan, investasi paling bernilai dalam setiap institusi.
3. Membangun sistem birokrasi. Tiga aspek strategis yang harus
dibenahi:
a. Pembenahan struktur.
b. Menerapkan strategi yang tepat.
c. Pembenahan budaya organisasi.
4. Membangun lingkungan birokrasi. Organisasi publik disarankan
memperhitungkan pengaruh lingkungan: politik/ hukum, ekonomi,
sosial budaya dan teknologi.
35
Visi Dan Misi Reformasi Birokrasi
Visi reformasi: Terwujudnya pemerintahan yang
amanah atau terwujudnya tata kepemerintahan yang
baik.
Misi reformasi: Mengembalikan cita dan citra
birokrasi pemerintahan sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat serta dapat menjadi surf tauladan dan
panutan masyarakat dalam menjalani kehidupan
sehari-hari.
36
Tujuan Reformasi Birokrasi
1. Tujuan reformasi birokrasi secara umum: Mewujudkan
kepemerintahan yang balk, didukung oleh penyelenggara negara yang
profesional, bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme dan meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat sehingga tercapai pelayanan prima.
2. Tujuan reformasi birokrasi secara khusus antara lain:
1) Birokrasi bersih, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
2) Birokrasi efisien, tidak boros/hemat dalam penggunaan sumber
daya.
3) Birokrasi efektif, mampu mengemban tanggung jawab, dan
mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
4) Birokrasi produktif, mampu mengeluarkan keluaran yang sesuai
dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
5) Birokrasi sejahtera, digaji sesuai beban tugas, bobot dan tanggung
jawab jabatan serta status sosial Pegawai Negeri Sipil, dihargai
masyarakat.
37
Prinsip Reformasi Birokrasi
1. Peningkatan kinerja ditunjang profesionalisme sumber daya manusia.
2. Penghematan sumber daya organisasi: 5 M + 1 T (Man, Money, Material,
Methode, Machine, Time) (manusia, uang, material, metode, mesin,
waktu) dan lain-lain.
3. Bukan sekedar menaikkan gaji.
4. Remunerasi: bersifat nasional akan mengalami perbaikan secara
menyeluruh.
5. Tunjangan kinerja.
Diberikan kepada yang berprestasi.
Sebagai proyek percontohan ditentukan beberapa unit kerja yang
langsung melayani masyarakat.
6. Mengakhiri (tolak ukur penilaian basil reformasi birokrasi).
Perilaku koruptif (suap, menunda pelayanan, tidak disiplin dan
Iainnya).
PGPS (Pintar Goblok Penghasilan Sama).
802 (datang jam 8.00, pekerjaan kosong, pulang jam 2.00).
Pengangguran terselubung. 38
Sasaran Reformasi Birokrasi
1. Terwujudnya birokrasi profesional, netral, dan sejahtera,
mampu menempatkan diri sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat guna mewujudkan pelayanan masyarakat
yang lebih baik.
2. Terwujudnya kelembagaan pemerintah yang
proporsional, fleksibel, efektif, efisien di Iingkungan
pemerintah pusat dan daerah.
3. Terwujudnya ketatalaksanaan (pelayanan publik) yang
lebih cepat, tidak berbelit, mudah, dan sesuai kebutuhan
masyarakat.
39
Faktor Sukses Terpenting Reformasi Birokrasi
1. Komitmen pimpinan. Karena masih kentalnya budaya
paternalistik dalam penyelenggaraan pemerintahan di
Indonesia.
2. Kemauan diri sendiri. Selain komitmen pimpinan, perlu
kemauan dan keikhlasan penyelenggara pemerintahan
(birokrasi) untuk mereformasi diri sendiri.
3. Kesepahaman. Ada persamaan persepsi terhadap pelaksanaan
reformasi birokrasi terutama dari birokrat sendiri, sehingga
tidak terjadi perbedaan pendapat yang menghambat reformasi.
4. Konsistensi. Reformasi birokrasi harus dilaksanakan
bekelanjutan dan konsisten, sehingga perlu ketaatan
perencanaan dan pelaksanaan.
40
Reformasi birokrasi dalam praktik sebagai dasar inovasi,
lahir dari perencanaan besar, dengan kriteria:
1. Memiliki dampak yang dapat ditunjukkan dan
didemonstrasikan dalam meriingkatkan kualitas kehidupan
masyarakat.
2. Merupakan hasil kerjasama yang efektif antara sektor publik,
swasta dan masyarakat madani.
3. Berkelanjutan, secara sosial, budaya, ekonomi, dan Iingkungan.
4. Kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat (inspirasi akan
tindakan perubahan/perubahan publik).
5. Kesetaraan gender dan pengecualian sosial (inisiatif haws dapat
diterima dan direspons terhadap perbedaan sosial budaya).
6. Inisiatif dalam konteks global dan dapat ditransfer (pihak lain
dapat belajar dan dapat memperoleh keuntungan dan inisiatif ).
41
Strategi Reformasi Birokrasi antara lain:
1. Pembaharuan mind-set (pola pikir) dan culture-set
(budaya kerja)
Peningkatan penghasilan dengan prinsip pekerjaan
seimbang dengan imbalan.
Pengembangan budaya kerja (penerapan nilai budaya
pada tiap unit pelaksana pelayanan publik).
Internalisasi dan konkretisasi prinsip tata
kepemerintahan yang baik.
42
Lanjutan .....
2. Sistem manajemen pemerintahan
Penciptaan pola dasar organisasi pemerintah (unit pelaksana
pelayanan publik).
Perubahan dari manajemen ketatausahaan ke manajemen
sumber daya manusia aparatur.
Simplikasi dan otomatisasi tatalaksana, sistem prosedur dan
mekanisme pelayanan publik.
Perbaikan sistem pengelolaan aset/barang milik negara.
Pembaharuan sistem manajemen keuangan unit pelayanan
publik.
Perbaikan sistem pengawasan dan akuntabilitas aparatur.
43
Implementasi Reformasi Birokrasi di Indonesia
1. Adanya aktualisasi tata nilai dalam kehidupan
masyarakat.
2. Adanya tatanan (struktur) kelembagaan negara dan
masyarakat pada setiap tahun.
3. Adanya proses manajemen dalam dinamika kegiatan-
kegiatan, entitas publik dan privat.
4. Adanya posisi, hak dan kewajiban serta tanggungjawab
tertentu dari sumber daya aparatur yang berada pada
struktur dengan posisi yang dimiliki.
44
Catatan Akhir
1. Reformasi administrasi diperlukan oleh semua negara
berkembang untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan
justifikasi dari nilai uang, kualitas pelayanan yang baik,
meningkatkan produktifitas dan penyampaian hasil kerja yang
cepat dengan menggunakan berbagai pendekatan.
2. Upaya pemerintah untuk menerapkan berbagal teknik
reformasi administrasi yang dikelompokan dalam berbagai
paket, guna mengantisipasi perubahan dan merespon
pelanggan atau masyarakat, yang berkaitan dengan
restrukturisasi, akuntabllitas dan partisipasi.
3. Adanya kegagalan reformasi administrasi, karena proses
reformasi administrasi tidak memperhatikan para staf
pemangku kepentingan lainnya.
4. Minimnya,inisiatif dan komitmen pimpinan serta tidak adanya
sinergitas dengan lingkungan setempat. 45